You are on page 1of 22

KESIAPAN MAHASISWA EKONOMI ISLAM MENGHADAPI PASAR KERJA PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH (STUDI PADA PERGURUAN TINGGI

EKONOMI ISLAM)

Agni Alam Awirya, Indah Piliyanti Abstract The development of Islamic banking has expanded to the other sectors such as pawn, insurance, etc. Awareness that makes demands toward Islamic economics system brings a huge result to the development of this system itself. Then, Islamic economics system application in business implicates to the turning up of human resource need that specially master this system. Education is a direct path to prepare human resource mastering Islamic economics, as a reaction of the needs. Islamic Economics mastering is important when conventional study and skill cannot accommodate specific needs, which turn up because of model and system development in business. The objective of the research is is to find out availability human resource in Islamic economic to face labor market and business. Eight variabels is used for predict the readiness of human resource. There are underst, labor, sex, informal study, training, literature, lecture, award. The model of readiness tested using logistic regression method which is the main analysis tool used in this study. In this research the proposed model is: Readiness = f (underst, labor, sex, informal study, training, literature, lecture, award). The number of lecture and understanding of Islamic economics are hypothesized to have a positive correlation with the readiness variabel. Key words: human resources, logistic regression, Islamic economics Kategori : J2. Demand and Supply Labour.

1|Page

LATAR BELAKANG Pengenalan praktik ekonomi Islam di Indonesia, diawali oleh industry perbankan pada tahun 1992 berdasar pada UU No. 7 tahun 1998 tentang kemungkinan membuka bank dengan system bagi hasil. Bank Muamalat Indonesia merupakan pelopor pertama industry perbankan. Pada perkembangan sepuluh tahun terahir ini, bank syariah mengalamai peningkatan signifikan, setelah di berlakukan UU No. 10 tahun 1998 yang memuat dual banking system pada perbankan nasional. Data statistik perbankan syariah Bank Indonesia (BI), bulan Mei 2008 jumlah jaringan bank syariah terdiri dari 3 bank umum syariah, 28 unit usaha syariah (UUS) dan 120 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Pangsa pasar bank syariah terhadap total bank di Indonesia sebesar 2, 6% 1 . Selain industry perbankan, praktik bisnis syariah telah merambah pada industr lainnya: seperti asuransi syariah pada tahun 1994. Syarikat Takaful Indonesia merupakan pelopor industri asuransi syariah di tanah air. Pegadaian syariah meramaikan bisnis syariah di Indonesia sejak tahun 2003. Kemudian, pengembangan syariah di pasar modal diawali dengan penerbitan Jakarta Islamic Index kerjasama antara Bursa efek Jakarta dan Danareksa pada tahun 2000, kemudian diterbitkannya obligasi syariah pertama pada tahun 2002. Sebagai konsekuensi logis dari perkembangan bisnis syariah di Indonesia, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang menguasai bisnis syariah menjadi sebuah keniscayaan. Lembaga keuangan syariah, bank maupun lembaga keuangan lainnya memiliki perbedaan karakteristik dengan lembaga keuangan non syariah. Menurut perkiraan biro perbankan syariah BI, dalam jangka sepuluh tahun ke depan, dibutuhkan sekitar 10 ribu SDM yang memenuhi kualifikasi dan keahlian di bidang ekonomi syariah. 2 Perguruan tinggi sebagai agent of social change, merupakan tempat dimana harapan lahirnya SDM yang memiliki kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan dunia kerja muncul. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjawab kebutuhan SDM untuk segala bidang ilmu, termasuk bidang ekonomi Islam. Di Indonesia,
Statistik Perbankan Syariah,Bank Indonesia, Direktorat Perbankan Syariah bulan Mei 2008, lihat dalam www.bi.go.id.
2 1

Sharing, Majalah Ekonomi dan Bisnis Syariah, Edisi 17 Thn. II Mei 2008, hal. 56

2|Page

terdapat dua model perguruan tinggi yang membuka program studi ekonomi Islam. Pertama: perguruan tinggi umum yang membuka program studi ekonomi Islam, baik milik pemerintah maupun swasta seperti pada Universitas Islam Negeri, Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah di berbagai daerah. Kedua, perguruan tinggi khusus yang hanya menawarkan program studi ekonomi Islam, misalnya: Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, STEI Tazkia di Jakarta dan STEI di Yogyakarta. 3 Dari sini, ada dua aspek penting, yang menarik untuk diperbincangkan: pertama, aspek idealisme untuk mengembangkan system ekonomi Islam dalam kehidupan. Kedua, aspek pemenuhan hukum permintaan dan penawaran yang menciptakan pasar tenaga kerja setelah itu. Pendidikan ekonomi Islam adalah jalur langsung yang menyiapkan SDM yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus, ketika pendidikan tinggi yang ada saat ini, tidak compatible dengan system ekonomi Islam serta perkembangan bisnis syariah yang semakin meningkat. Sehingga, dalam konteks ini, ketersediaan pendidikan atau program studi ekonomi Islam tergantung pada keberadaan bisnis syariah. Konsekuensinya, kesiapan SDM dalam bidang ekonomi Islam adalah kunci perkembangan system ekonomi Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan erat antara bisnis, ketersediaan pendidikan ekonomi Islam, kesiapan SDM. Penelitian ini adalah studi pada dua perguruan tinggi tentang kesiapan mahasiswa program studi ekonomi Islam perguruan tinggi umum dan sekolah tinggi ekonomi Islam dalam menghadapi pasar tenaga kerja bidang ekonomi Islam.

Sebagai perbandingan, sebuah penelitian tahun 2005 di Yogyakarta, menyebutkan jumlah perguruan tinggi yang membuka program ekonomi Islam adalah lima institusi yang terdiri dari sekolah tinggi khusus maupun universitas, dari jenjang diploma sampai dengan strata dua. Selanjutnya lihat dalam Laporan Penelitian Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi Ekonomi Islam (Perspektif Lembaga Keuangan Syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta) Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia 2005, hal. 16

3|Page

RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang diatas, pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah: Sejauhmana kesiapan mahasiswa yang mengambil program studi ekonomi Islam menghadapi pasar tenaga kerja? Sedangkan, hubungan model ketersediaan pendidikan ekonomi Islam dan kesiapan SDM sebagai respon kebutuhan pasar tenaga kerja, dapat digambarkan sebagai berikut:
Kesiapan SDM khusus Ekonomi Islam SDM khusus Ekonomi Islam

Bisnis Syariah

Prodi Ekonomi Islam

Calon SDM Ekonomi Islam

Masyarakat

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kesiapan SDM dalam hal ini mahasiswa program studi ekonomi Islam dalam menghadapi pasar tenaga kerja khusus bisnis syariah. Manfaat Penelitian: 1. Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian dapat menjadi gambaran tentang kondisi kesiapan mahasiswa menghadapi pasar tenaga kerja, yang selanjutnya dari informasi tersebut, dapat dijadikan acuan bagi bidang akademik khususnya untuk mengevaluasi model dan strategi pendidikan ekonomi Islam masa yang akan datang. 2. Bagi institusi bisnis syariah, sumber informasi ini, dapat dijadikan masukan untuk kebijakan formulasi rekrutmen SDM.

4|Page

3. Bagi pengembangan studi ekonomi Islam, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori dan model bidang ilmu ekonomi Islam.

PENELITIAN TERDAHULU Penelitian tentang persediaan tenaga kerja telah banyak diteliti oleh para ahli ekonomi. Diantaranya adalah Horald Press, Gelard Galway dan Elderd Barnes pada tahun 2002 berjudul Teacher Labor Market, Condition in Canada: Balancing Demand and Supply. Penelitian ini membahas bagaimana keseimbangan antara kebutuhan guru dan persediaan pasar tenaga kerja guru. Kesimpulannya adalah perubahan demografi dan kondisi ekonomi suatu daerah membawa tantangan baru dalam memahami pasar tenaga kerja guru. Pihak yang berwenang dalam pemerintah, fakultas keguruan dan sekolah-sekolah yang berada di daerah menghadapi tantangan baru untuk keseimbangan antara penawaran dan permintaan guru untuk meraih kesejahteraan sosial. Peter Haan menulis dalam Discrete Choice Labor Supply: Conditional Logit vs Random Coefficient Models yang ditulis kembali pada tahun 2003 membahas tentang perkiraan persediaan tenaga kerja menggunakan SDM menggunakan kondisional logit dan model koefisien radom. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan model mana yang terbaik untuk meneliti persediaan tenaga kerja. Kesimpulannya, model koefisien random adalah lebih akurat untuk memperkirakan persediaan SDM berdasar pada data dari German Socioeconomic Panel (GSOEP). Awirya dan Martha (2007) berjudul Education Supply and Human

Recource Raediness in Islamic Economic as Reaction of Bussiness needs. Penelitian merupakan studi kasus pada salah satu sekolah tinggi ekonomi Islam di Jakarta tentang kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasar tenaga kerja di bidang ekonomi Islam sebagai respon atas perkembangan praktik ekonomi Islam di Indonesia. Empat variabel digunakan untuk memprediksi atau meramalkan kesiapan SDM. Variabel tersebut adalah: informasi, lama belajar, pendidikan informal, dan jenis kelamin. Dua variabel terahir sebagai variabel dummy yang digunakan sebagai pembagi. Model kesiapan SDM kemudian diuji dengan metode

5|Page

regresi logistik sebagai alat utama analisis yang di gunakan dalam penelitian ini. Informasi dan lama studi di hipotesiskan memiliki hubungan positif dengan variabel kesiapan. Dua variabel terahir di hipotesiskan memiliki tidak memiliki hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa hasil statistik deskriptif menunjukan bahwa tingkat pemahaman akan ilmu syariah berpengaruh terhadap tingkat kesiapan mahasiswa. Semakin lama mendapatkan pendidikan ekonomi Islam, juga meningkatkan tingkat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasar tenaga kerja bisnis syariah. Namun hasil tersebut tidak berlaku pada pengujian menggunakan statistik inferensial. Penelitian ini, menggunakan model dan rumus seperti yang dilakukan Awirya dan Martha (2007). Namun, terdapat penambahan variabel untuk memprediksi kesiapan mahasiswa dalam mengahadapi persaingan tenaga kerja bidang ekonomi Islam yaitu kesempatan magang, ketersediaan referensi dan dosen yang memadai, serta penghargaan yang pernah diterima mahasiswa.

TINJAUAN PUSTAKA A. Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Indonesia Jika merunut sejarah kebelakang, berbicara tentang lembaga keuangan Islam lazimnya di Indonesia disebut sebagai lembaga keuangan syariah (LKS), kita kembali pada tahun 1992. UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, menyebutkan dimungkinkannya berdiri bank dengan system bagi hasil. UU No. 7 tersebut, menjadi dasar beroperasinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai bank syariah pertama di Indonesia. Kemudian, UU No. 7 tahun 1992 disempurnakan dengan UU No. 10 tahun 1998 yang memungkinkan diterapkannya dual banking system dalam perbankan nasional. Akhirnya, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui pengesahan UU perbankan syariah pada tanggal 17 Juni 2008 lalu. UU perbankan syariah adalah payung hukum yang jelas bagi industry syariah di Indonesia agar mampu bersaing dengan sejajar dengan lembaga keuangan konvensional yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. LKS pada

6|Page

awalnya hanya bank syariah, namun saat ini, merambah pada industry lainnya seperti pegadaian syariah, asuransi syariah, bahkan perhotelan.

Bank Syariah Menurut UU No. 10 tahun 1998 pasal 1 ayat 3 dan 13 definisi bank syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah 4 . Sebagaimana bank konvensional, bank syariah juga mempunyai fungsi sebagai intermediasi keuangan antara dari unit surplus ke unit defisit. Dalam kegiatan operasional bank syariah, bank syariah menghindarkan diri dari praktik MAGRIB maisir, gharar, riba. Sebagai solusi ketiadaan bunga pada bank syariah, ada beberapa akad muamalah yang digunakan untuk meraih profit sebagai institusi bisnis, terdiri dari kegiatan penghimpunan dana (funding) maupun penyaluran dana (financing). Akadakad yang biasa digunakan, yaitu: Wadiah, Mudharabah, ijarah, Murabahah, musyarakah, qardh dan sebagainya 5 .

Pegadaian Syariah Pegadaian Syariah dapat diartikan sebagai: Perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan utang. Atau dapat pula diartikan akad/perjanjian utang piutang dengan menjadikan harta sebagai kepercayaan/penguat utang dan yang memberi pinjaman berhak menjual barang yang digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya. Awal berdirinya pegadaian syariah ini, dilatarbelakangi oleh keluarnya fatwa DSN-MUI No. 25 tahun 2000 yang memperbolehkan kegiatan gadai sesuai syariah dengan system ijarah (akad sewa tempat). Peluang ini, langsung direspon oleh Perum Pegadaian yang selama ini eksis dibidang jasa pegadaian di Indonesia. Maka, perum pegadaian tersebut meseponnya dengan
Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian yang berdasarkan hukum Islam (Alquran & Assunnah) antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain: Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil, penyertaan modal, jual beli, sewa menyewa, pengiriman uang dan berbagai jasa bank lainnya. Saat ini, referensi mengenai bank syariah beserta produk-produknya telah banyak diterbitkan.
5

7|Page

membentuk suatu divisi khusus pegadaian yang berbasis syariah dan pertama kali dibuka di Jakarta pada bulan November 2001. Dari data majalah Sharing, tahun 2006, perum pegadaian syariah tumbuh 40 % lebih besar dibanding kinerja pegadaian yang hanya tumbuh 15%.

Asuransi Syariah Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) 6 dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, memberi definisi tentang asuransi. Menurutnya, asuransi syariah (tamin, takaful, tadhamun) adalah usaha saling melindung dan tolong menolng diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aseet dan atau tabbaru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Premi pada asuransi syariah adalah sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta yang terdiri atas dana tabungan dan tabbaru. Dana tabungan adalah dana titipan dari peserta asuransi syariah (life insurance) dan akan mendapat alokasi bagi hasil (al-mudharabah) dari pendapatan investasi bersih yang diperoleh setiap tahun. Dana tabungan beserta alokasi bagi hasil akan dikembalikan kepada peserta apabila peserta yang bersangkutan mengajukan klaim, baik berupa klaim nilai tunai maupun klaim manfaat asuransi. Sedangkan, tabbaru adalah derma atau dana kebajikan yang diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi jika sewaktu waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat (life maupun general insurance).

Pasar Modal Syariah Pasar modal syariah adalah pasar dimana transaksi penawaran umum dan perdagangan efek syariah terjadi. Di pasar modal ini, perusahaan yang melakukan penawaran umum efek syariah disebut emiten. 7 .Pengembangan

6 7

Fatwa DSN MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Sumber Fatwa DSN-MUI No. 40/DSM-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal Syariah

8|Page

syariah di pasar modal diawali dengan penerbitan Jakarta Islamic Index kerjasama antara Bursa efek Jakarta dan Danareksa pada tahun 2000, kemudian diterbitkannya obligasi syariah pertama pada tahun 2002. Aturan atau regulasi yang melengkapi praktik syariah di pasar modal juga telah memadai dengan diterbitkannya Peraturan BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) No. IX. A. 13 dan 14 tentang penerbitan efek syariah dan akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah tanggal 23 November 2006 8 . Pasar modal syariah sampai dengan bulan Juli 2007 telah mengembangkan 21 emisi obligasi syariah/sukuk senilai Rp. 3, 174 triliun serta 24 danareksa dengan nilai aktiva besih Rp. 1,207 triliun.

B. Perbedaan LKS dengan Lembaga Keuangan Konvensional Sejarah berdirinya LKS di berbagai belahan dunia, baik bank syariah, pegadaian syariah, dan bisnis syariah lainnya pada dasarnya memiliki alasan teologis yang sama. Mengindari praktik Magrib maisir, gharar, riba dan praktik muamalah yang dilarang dalam Islam lainnya. Kaidah ushul fiqh dalam muamalah berprinsip: Al aslu fil asya-yai al-ibahah artinya bahwa segala transaksi bisnis diperbolehkan kecuali yang dilarang. Beberapa perbedaan mendasar antara ekonomi Islam dan konvensional, dapat dilihat dari beberapa sudut, yaitu: 1. Sumber (epistimologi) 9 2. Tujuan Kehidupan 10 3. Konsep harta sebagai wasilah (perantara) 11 .

Dalam Sharing, Majalah Ekonomi dan Bisnis Syariah Edisi 13 Thn II, Januari 2008, hal

16-17 Mustafa Edwin Nasution et.al , 2006. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Cetakan pertama, Kencana: Jakarta, hal. 8. Sumber hukum utama dalam Islam adalah Al Quran dan Hadits sebagai petunjuk bagi manusia di dunia
10 9

Ibid, hal. 9. Tujuan ekonomi Islam membawa pada konsep al-falah (kejayaan) dunia

dan akhirat Ibid, hal. 10. Dalam Islam kedudukan harta hanya sebagai perantara meraih al-falah bukan tujuan akhir.
11

9|Page

LKS dapat memiliki struktur yang sama dengan lembaga keuangan konvesional yang ada, namun, terdapat perbedaan utama dalam struktur organisasi. LKS memiliki sebuah dewan yang bertugas mengawasi dan memastikan bahwa produk-produk yang ditawarkan oleh LKS tidak bertentangan dengan syariah. Dewan Pengawas Syariah (DPS) di setiap LKS adalah pembeda utama struktur organisasi LKS dengan lembaga konvensional. Dalam lingkup lebih luas (nasional) DSN-MUI merupakan sebuah lembaga yang mengemban amanah untuk memastikan pelaksanaan produkproduk LKS sesuai syariah, mengeluarkan fatwa terkait dengan perkembangan bisnis syariah dan sebagainya. Perbedaan karakteristik tersebut, menuntut sumber daya manusia yang bekerja pada LKS yang ada. harus mengetahui serta memahami perbedaan prinsip, konsep serta operasional kerja antara LKS dan lembaga keuangan non syariah

C. Sumber Daya Manusia (SDM) pada LKS Melihat pesatnya perkembangan lembaga keuangan syariah di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia kebutuhan akan kesiapan SDM untuk menempati berbagai posisi pada LKS adalah sebuah keniscayaan. Namun sayangnya, masalah SDM masih menjadi masalah fundamental bagi LKS di Indonesia. Sebuah penelitian menunjukkan fenomena ini 12 SDM sebagai human capital 13 dalam sebuah institusi bisnis termasuk bisnis syariah memiliki peran strategis dalam menghadapi perkembangan
12

Misalnya hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga manajemen PPM di Jakarta yang menegaskan bahwa industry perbankan syariah di Indonesia bermasalah dengan SDM, sekanjutnya lihat dalam Republika, SDM UUS lemah Edisi 5 Agustus 2005 hal. 15. Kemudian, Adiwarman Karim, pakar ekonomi Islam di Indonesia pernah mengklaim bahwa SDM yang memiliki kualifikasi memadai dalam bidang syariah hanya berkisar antara 25-30 persen yang ada dilapangan LKS saat ini. Selanjutnya baca dalam Sharing, Majalah Ekonomi dan Bisnis Syariah Edisi 13 Thn II, Januari 2008 hal. 42 Pennings, Lee dan Wittleoostuijn (1998) mendefinisikan human capital dalam perusahaan sebagai knowledge dan skill yang dimiliki professional yang dapat digunakan untuk menghasilkan jasa professional. Dalam memproduksi dan menyampaikan superior product dibutuhkan knowledge dan skill yang terakumulasi dalam bentuk human capital. Selanjutnya lihat dalam Eunike Prapti LK, 2005Pengembangan Human Capital dan Social Capital sebagai Sumber Competitive Advantage. Jurnal Janavisi Vo. 8. No.2. ISSN: 1410-8372
13

10 | P a g e

bisnis yang cepat dan global. LKS memiliki perbedaan karakteristik dengan lembaga keuangan konvensional maka dibutuhkan SDM plus yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam bisnis syariah. Nilai-nilai luhur yang dimiliki LKS harus menular pada perilaku SDM pada LKS. Mengadopsi serta mengembangkan konsep human capital yang didefinisikan oleh Penning dan Wittleoostuijn (1998), maka profil SDM pada LKS harus memiliki knowedge dan skill khusus sejalan dengan karakteristik LKS tersebut. Antara lain: 1. Aspek Knowledge. Knowledge dapat disimpulkan sebagai sebuah pengetahuan yang terdiri dari informasi dan dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai persoalan dan mampu meningkatkan kinerja seseorang 14 . Knowledge yang harus dimiliki SDM syariah antara lain penguasaan terhadap Al-Quran dan As-sunnah khususnya tentang bisnis sebagai rujukan utama Islam. Penguasaan terhadap Fiqh Muamalah sebagai rujukan hukum ekonomi/muamalah. 2. Aspek Skill Skill atau ketrampilan yang harus dimiliki oleh SDM syariah antara lain: kemampuan mengemban amanah (khalifah), kemampuan berkomunikasi dengan baik (tabligh), kemampuan memasarkan dengan baik. Kemampuan menunjukkan pelayanan prima sebagai perwujudan ibadah. LKS bukan hanya menawarkan jasa, namun LKS menawarkan sejumlah value, maka, setiap SDM syariah harus mampu mentransformasikan ajaran agama dalam hal akhlaq kedalam ketrampilan melayani dan perilaku bekerja. Kedua aspek di atas, baik knowledge maupun skill tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Ketiadaan salah satu aspek dalam diri seorang karyawan akan berpengaruh pada kinerja prima SDM syariah.

Kesimpulan definisi ini disarikan dari definisi Knowledge oleh Spiegler (2003) dalam Urumsah. Selanjutnya lihat dalam Dekar Urumsah, 2006. Knowledge Sebagai Kunci Sumber Daya Manusia, Jurnal Kompak No. 1, Januari-Juni. hal. 18

14

11 | P a g e

METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah studi kasus pada dua perguruan tinggi yang memiliki program studi ekonomi Islam di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diambil dari hasil kuisioner yang dibagikan kepada mahasiswa program ekonomi Islam. Sedangkan data sekunder berasal dari referensi yang terkait dengan ekonomi Islam. Penelitian dilakukan pada dua perguruan tinggi yang memiliki karakteristik berbeda. Pada pendidikan di universitas, pengambilan sampel dilakukan salah satu universitas swasta di jawa tengah dan pengambilan sampel lainnya dilakukan di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam di Yogyakarta. Karakteristik Universitas mempunyai banyak fakultas dengan disiplin ilmu yang berbeda sehingga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjalin relasi dengan mahasiswa lainnya yang tidak mendalami ekonomi Islam. Sementara untuk sekolah tinggi ekonomi Islam hanya mempunyai satu disiplin ilmu saja sehingga ruang untuk menjalin relasi dengan mahasiswa dengan disiplin ilmu lainnya sedikit terbatas. Teknik pengambilan sampel adalah judgment sampling 15 . Dalam penelitian ini masing-masing sampel dari dua perguruan tinggi berjumlah 30 orang sehingga sampel sebanyak 60 orang.

Alat Analisis Data Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif menggunakan analisis tabulasi silang (cross tabulation) untuk menjelaskan faktor-faktor yang meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasar tenaga kerja di bidang ekonomi Islam. Statistik inferensial menggunakan regresi logistik untuk menguji apakah kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasar tenaga kerja secara statistik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pemahaman terhadap ekonomi islam dan tenaga kerja, jenis kelamin, infrastruktur pendidikan seperti dosen dan bahan bacaan serta faktor-faktor lainnya.

Nur Indriantono dan Bambang Supomo, 2002. Metode Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, cetakan kedua BPFE: Yogyakarta. hal. 131

15

12 | P a g e

Regresi Logistik Model Logit didasarkan pada fungsi probabilitas logistik kumulatif yang dispesifikasikan sebagai berikut:
Pi = F ( Z i ) = F ( + X i ) = 1 1 ........................(persamaan 3.1) = Zi ( + X i ) 1+ e 1+ e

Pada notasi ini e merepresentasikan basis dari logaritma natural. Pi adalah probabilitas apabila suatu individu melakukan suatu pilihan yang pasti dan dipengaruhi oleh Xi. Model logit dapat diestimasi dengan mengkalikan persamaan 3.1 dengan 1 + e-Zi untuk mendapatkan (1+ e-Zi)Pi = 1. Dengan membagi persaman tersebut dengan Pi dan memodifikasi angka 1 maka didapatkan: e-Zi = 1/Pi 1 = (1 Pi)/Pi Karena e-Zi = 1/ e-Zi maka e-Zi = Pi/(1 Pi) Logaritma natural pada kedua sisi akan menghasilkan Zi = log{Pi/(1 Pi)} atau log{Pi/(1 Pi)} = Zi = + Xi. Sehingga kita dapat mengestimasi model probabnilistik logit dengan notasi :
log Pi r /n r = log i i = log i = * + * X i + i 1 ri / ni ni ri 1 Pi

Pada penelitian ini, regresi logistik akan digunakan untuk melakukan analisis kesiapan mahasiswa sebagai fungsi dari pemahaman atas ilmu ekonomi islam, pemahaman atas pasar tenaga kerja, jenis kelamin, pendidikan tambahan (magang dan informal), ketersediaan tenaga pengajar, penghargaan dan tempat pendidikan formal. Notasi model logistik adalah sebagai berikut:

ProbConfidence = f (Underst, Labor, Sex, Informal, Magang, Literature, Lecture, Award) Dimana : 1. Confidence Kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pasar tenaga kerja. Variabel ini merupakan variabel dummy dengan kategori 1 siap dan kategori 0 tidak siap. 2. Understanding

13 | P a g e

Pemahaman mahasiswa terhadap ekonomi syariah, dibagi menjadi dua variabel yaitu underst1 dan underst2 yang masing-masing menunjukkan tingkatan pemahaman mahasiswa. 3. Labor Pemahaman mahasiswa terhadap pasar tenaga kerja, dibagi menjadi dua variabel yaitu labor1 dan labor2 yang masing-masing menunjukkan tingkatan pemahaman mahasiswa. 4. Sex Variabel dummy yang berisi jenis kelamin dengan kategori 1 laki-laki dab kategori 0 perempuan. 5. Informal Variabel dummy dengan kategori 1 pernah mendapatkan pendidikan informal dan 0 belum pernah. 6. Magang Variabel dummy dengan kategori 1 pernah magang di institusi syariah dan 0 belum pernah. 7. Literature Variabel dummy dengan kategori 1 tersedia cukup bahan bacaan di tempat pendidikan formal dan 0 tidak banyak bahan bacaan yang tersedia. 8. Lecture Variabel dummy dengan kategori 1 tersedia dosen ekonomi Islam yang memadai di tempat pendidikan formal dan 0 jumlah dosen tidak memadai.

9. Award Variabel dummy dengan kategori 1 pernah mendapatkan penghargaan di bidang ekonomi Islam dan 0 belum pernah.

Hasil Analisis Statistik Deskriptif Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa pada dua institusi pendidikan tinggi mempresepsikan kesiapan menghadapi pasar tenaga kerja pada tingkat yang tinggi yaitu di atas 7 dengan jumlah responden sebesar 78.33% (lihat tabel. 1). Hal ini mengindikasikan

14 | P a g e

kepercayaan diri mahasiswa cukup tinggi dan dapat menjadi bekal yang positif dalam menghadapi persaingan di dunia kerja. Tabel 1. Kesiapan Mahasiswa Level 5 - 7.5 7.6 - 10 n=60 Sumber: data primer diolah, 2008 Tahapan berikutnya dilakukan analisis tabulasi silang antara kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja (direpresentasikan oleh readiness) dengan pemahaman ilmu ekonomi syariah. Hasil tabulasi silang menunjukkan semakin tinggi tingkat pemahaman akan meningkatkan tingkat kesiapan mahasiswa (86,7% mahasiswa dengan tingkat kepahaman di atas 7,5 memiliki tingkat kesiapan di atas 7,5 dibandingkan dengan 63,2% pada tingkat kepahaman 2,6 6). Tabel 2. Kesiapan Mahasiswa berdasar Kepahaman Ilmu Ekonomi Islam
Kesiapan mahasiswa 2,6 - 6 Paham akan ilmu ekonomi Islam 6,1 -7,5 2,6 - 6 Count % within paham Count % within paham 7,6 - 10 Count % within paham 3 15,8% 1 3,8% 0 ,0% 6,1 -7,5 4 21,1% 3 11,5% 2 13,3% 7,6 - 10 12 63,2% 22 84,6% 13 86,7% Total 19 100,0% 26 100,0% 15 100,0%

% 21.67 78.33

Sumber: data primer diolah, 2008 Tabel 3 menunjukkan bahwa peningkatan prosentase responden dengan kesiapan tinggi berdasar pemahaman terhadap pasar tenaga kerja jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemahaman akan ilmu ekonomi Islam. Pada tingkat pemahaman pasar tenaga kerja di atas 7,5 sebanyak 90% di antaranya memiliki

15 | P a g e

tingkat kesiapan di atas 7,5. Hal ini menunjukkan indikasi awal bahwa pengetahuan terhadap pasar tenaga kerja memberikan pengaruh yang cukup tinggi bagi kesiapan menghadapi dunia kerja. Tabel 3. Kesiapan Mahasiswa berdasar Kepahaman Dunia Kerja
Kesiapan mahasiswa 2,6 - 6 Pasar tenaga kerja 2,6 - 6 Count % within duniakerja 6,1 -7,5 Count % within duniakerja 7,6 - 10 Count % within duniakerja 2 40,0% 2 13,3% 0 ,0% 6,1 -7,5 2 40,0% 4 26,7% 3 7,5% 7,6 - 10 1 20,0% 9 60,0% 37 92,5% Total 5 100,0% 15 100,0% 40 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008 Temuan yang menarik terlihat pada tabel 4. Kesiapan yang paling tinggi (93,3% dengan jumlah responden 28) justru berada pada mahasiswa yang duduk pada semester 6. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang tercermin dalam banyaknya semester yang sudah ditempuh justru menurunkan tingkat kesiapan mahasiswa. Semakin banyak jumlah semester yang ditempuh menunjukkan mahasiswa membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menyelesaikan studinya dengan kata lain kemampuan akademisnya barangkali relatif kurang bagus sehingga tingkat kesiapannya dalam menghadapi pasar tenaga kerja menurun.

16 | P a g e

Tabel 4. Kesiapan berdasarkan Jumlah Semester yang di Tempuh

Kesiapan mahasiswa 2,6 - 6 Semester 4,00 Count % within Semester 6,00 Count % within Semester 8,00 Count % within Semester 10,00 Count % within Semester 12,00 Count % within Semester 2 14,3% 2 6,7% 0 ,0% 0 ,0% 0 ,0% 6,1 -7,5 4 28,6% 0 ,0% 0 ,0% 3 75,0% 2 40,0% 7,6 - 10 8 57,1% 28 93,3% 7 100,0% 1 25,0% 3 60,0% Total 14 100,0% 30 100,0% 7 100,0% 4 100,0% 5 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008 Tabel 5 dan 6 menunjukkan perbedaan kesiapan mahasiswa pada perbedaan jenis kelamin dan pendidikan informal. Tabel 5 menunjukkan 87.9% dari total responden perempuan mempunyai tingkat kesiapan di atas 7.5 lebih tinggi dibandingkan responden laki-laki yang hanya sebesar 66.7%. Mahasiswa perempuan mempunyai kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Sedangkan pada tabel 6 justru seluruh responden tanpa pendidikan informal mempunyai tingkat kesiapan di atas 7,6. Namun demikian sedikitnya responden yang belum pernah menerima pendidikan informal menyebabkan hasil ini masih dapat diperdebatkan.

17 | P a g e

Tabel 5. Kesiapan Mahasiswa berdasar Jenis Kelamin


Kesiapan mahasiswa 2,6 - 6 Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Count % within Gender Count % within Gender 2 7,4% 2 6,1% 6,1 -7,5 7 25,9% 2 6,1% 7,6 - 10 18 66,7% 29 87,9% Total 27 100,0% 33 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008 Tabel 6. Kesiapan Mahasiswa berdasar Pendidikan Informal
Kesiapan mahasiswa 2,6 - 6 Pendidikan Informal Belum pernah Pernah Count % within Informal Count % within Informal 4 8,0% 0 ,0% 6,1 -7,5 9 18,0% 0 ,0% 7,6 - 10 37 74,0% 10 100,0% Total 50 100,0% 10 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008 Tabel 7 menunjukkan tingkat kesiapan mahasiswa antara Universitas dan Sekolah Tinggi tidak jauh berbeda yaitu 23 responden pada sekolah tinggi dan 24 responden pada universitas. Hal ini menunjukkan relatif ratanya kemampuan dan kepercayaan diri mahasiswa di kedua institusi pendidikan tersebut. Temuan ini diperkuat pada tabel 8. yang juga menunjukkan pemahaman terhadap ekonomi Islam yang hampir sama di kedua institusi tersebut yaitu 7 responden Sekolah tinggi dan 8 responden universitas mempunyai tingkat kesiapan di atas 7,5 serta 11 responden Sekolah Tinggi dan 15 responden Universitas memiliki tingkat kesiapan 6.1 7.5. Namun apabila dilihat dari pemahaman akan pasar tenaga kerja, mahasiswa universitas memiliki pemahaman yang lebih tinggi (23 responden universitas memiliki pemahaman pasar tenaga kerja lebih tinggi daripada responden sekolah tinggi yang hanya sebanyak 17 responden meskipun selisih ini tidak terlalu besar).

18 | P a g e

Tabel 7. Kesiapan Mahasiswa berdasar Asal Perguruan Tinggi

Kesiapan mahasiswa 2.6 -6 Perguruan Tinggi Universitas STEI Count % within sekolah Count % within sekolah 4 13,3% 1 3,3% 6.1 -7.5 3 10,0% 5 16,7% 7.6 -10 23 76,7% 24 80,0% Total 30 100,0% 30 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008

Tabel 8. Pemahaman Ekonomi Islam berdasarkan Institusi Pendidikan Tinggi


paham 2.6 - 6 Perguruan Tinggi Universitas STEI Count % within sekolah Count % within sekolah 12 40,0% 7 23,3% 6.1 -7.5 11 36,7% 15 50,0% 7.6 -10 7 23,3% 8 26,7% Total 30 100,0% 30 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008 Tabel 9. Pemahaman Pasar Tenaga Kerja berdasarkan Institusi Pendidikan Tinggi
duniakerja 2.6 - 6 Perguruan Tinggi Universitas STEI Count % within sekolah Count % within sekolah 3 10,0% 2 6,7% 6.1 -7.5 10 33,3% 5 16,7% 7.6 -10 17 56,7% 23 76,7% Total 30 100,0% 30 100,0%

Sumber: data primer diolah, 2008

19 | P a g e

Hasil Statistik Inferensial


Variabels in the Equation

B Step 1(a) underst1 underst2 labor1 labor2 sex informal literature magang lecture award school Constan t 1,230 2,417 3,521 3,004 1,334 -1,147 -1,586 -,661 2,737 -,743 -,085 -4,382

S.E. ,960 1,228 2,062 1,798 ,931 1,099 1,253 1,027 1,004 ,757 1,077 2,957

Wald 1,641 3,873 2,917 2,790 2,054 1,090 1,603 ,414 7,432 ,963 ,006 2,196

df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Sig. ,200 ,049 ,088 ,095 ,152 ,297 ,206 ,520 ,006 ,326 ,937 ,138

Exp(B) 3,422 11,209 33,821 20,157 3,797 ,318 ,205 ,516 15,434 ,476 ,919 ,013

a Variabel(s) entered on step 1: underst1, underst2, labor1, labor2, sex, informal, literature, magang, lecture, achieve, school.

Sumber: data primer diolah, 2008 Hasil estimasi menunjukkan hanya dua variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya pada tingkat signifikansi 5% dan dua variabel bebas berkaitan dengan pemahaman akan pasar tenaga kerja yang signifikan pada tingkat signifikansi 10%. Pada tingkat signifikansi 5% ketersediaan dosen dan pemahaman akan ekonomi islam yang tinggi secara statistik signifikan meningkatkan peluang mahasiswa siap menghadapi pasar tenaga kerja. Pada tingkat signifikansi 10% hanya pemahaman akan pasar tenaga kerja saja yang signifikan meningkatkan peluang mahasiswa siap menghadapi pasar tenaga kerja. Sementara variabel-variabel bebas lainnya tidak signifikan.

KESIMPULAN Tingkat kesiapan mahasiswa ekonomi Islam antara Universitas dan Sekolah Tinggi tidak jauh berbeda yaitu 23 responden pada sekolah tinggi dan 24 responden pada universitas. Hal ini menunjukkan relatif ratanya kemampuan dan kepercayaan diri mahasiswa di kedua institusi pendidikan tersebut.

20 | P a g e

Ketersediaan dosen dan pemahaman akan ekonomi islam yang tinggi secara statistik signifikan meningkatkan peluang mahasiswa siap menghadapi pasar tenaga kerja. Variabel lainnya tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan mahasiswa ekonomi Islam untuk menghadapi pasar tenaga kerja syariah.

REKOMENDASI Pihak perguruan tinggi perlu meningkatkan ketersediaan dosen yang memadai (memiliki kualifikasi di bidangnya) dan menyusun strategi agar mahasiswa memiliki tingkat pemahaman yang baik tentang ekonomi Islam pada umumnya, dan skill khusus pada bidang keuangan syariah. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi dapat diserap pasar tenaga kerja syariah sebagaimana mestinya.

21 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA Antonio, Muhamad Syafii, 2001. Bank Syariah dari Teori dan Praktik. Penerbit Gema Insani Press dan Tazkia Cendekia: Jakarta Awirya, Agni alam dan Fajar Luhur Martha, 2007. Education Supply and Human Recource Raediness in Islamic Economic as Reaction of Bussiness needs. Working paper Eunike Prapti LK, 2005. Pengembangan Human Capital dan Social Capital sebagai Sumber Competitive Advantage. Jurnal Janavisi Vo. 8. No.2, ISSN: 1410-8372 Haan, Peter. 2003. Discrete Choice Labor Supply: Conditional Logit vs Random Coefficient Models. German Institute of Economic Research: Germany Harold Press, Gerald Galway, and Eldred Barnes. 2002. Teacher Labor Market, Condition in Canada : Balancing Demand and Supply. School Business Affairs Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metode Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, cetakan kedua, PBFE: Yogyakarta Nasution, Mustafa Edwin et.al , 2006, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Cetakan pertama, Kencana: Jakarta Nachrowi, D. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri Pendekatan Populer dan Praktis Dilengkapi Teknik Analisis dan Pengolahan Data dengan Menggunakan Paket Program SPSS. PT Raja Grafindo: Jakarta Pindyck, Robert S and Daniel L. Rubinfeld. 1998. Econometric Models and Economic Forecasts. Fourth edition. Mc.Graw-Hill: Singapore Rifan, Ahmad Arif et al. 2005Kompetensi Lulusan Perguruan Tinggi Ekonomi Islam (Perspektif Lembaga Keuangan Syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta) Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia, tidak diterbitkan Sharing, Majalah Ekonomi dan Bisnis Syariah Edisi Khusus Thn.1 Oktober 2007, Edisi 13 Thn II, Januari 2008, Edisi 17 Thn. II Mei 2008 Urumsah, Dekar, 2006. Knowledge Sebagai Kunci Sumber Daya Manusia, Jurnal Kompak No. 1, Januari-Juni Varian, Hall R. 1992. Microeconomics Analysis. Third edition. W.W. Norton and Company: New York.

22 | P a g e