UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN

DESERTASI

Disusun Oleh : I WAYAN SUARJAYA NPM : 8900310053

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Administrasi Jakarta, 2007

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

TANDA PERSETUJUAN PEMBIMBING DISERTASI

Nama NPM

: I WAYAN SUARJAYA : 8900310053

Judul

: ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN

Dosen Pembimbing

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., ii 2007.

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

LEMBAR PENGESAHAN

Judul :

ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN
Oleh : I WAYAN SUARJAYA NPM : 8900310053

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PROMOTOR

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Ko-Promotor

Ko-Promotor

Dr. Surya Dharma, MPA

Dr.I Made Suwandi, M.Soc.Sc.

MENGETAHUI: KETUA PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., iii 2007.

MPA Ketua Pelaksana Promotor Ko-Promotor Ko-Promotor Anggota Penguji Anggota Penguji Anggota Penguji Anggota Penguji Analisis pelayanan . Irfan Ridwan Maskum..Dr.Dr. M.Azhar Kasim.. . I Wayan Suarjaya. Msi Prof. FISIP UI.I Made Suwandi..UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA TIM PENGUJI Prof. iv 2007.Soc. Mag.Dr. Muchlis Hamdi. Surya Dharma.Publ Prof..Sc Dr. Martani Huseini Dr.rer.MPA Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein Dr.Dr. MPA Prof. Eko Prasojo.

I Wayan Suarjaya. FISIP UI...PERNYATAAN ORISINILITAS Disertasi ini adalah hasil karya sendiri Dan seluruh sumber yang dikutif maupun dirujuk telah dinyatakan dengan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku I WAYAN SUARJAYA v Analisis pelayanan . . 2007...

they are State Administrative Village (desa Dinas) and Traditional Village (Desa pakraman).. the previous studies conducted are merely focused on analyzing some aspects of the village such as the governmental administration. economy. FISIP UI. Tabanan Regency xvii + 275 pages + Bibliography : 215 books + 7 Disertation + 27 Journal + 12 paper Research on villages have been done by esperts from diverse discipline. The objectives of this research are to describle public services provides by both types of villages.. culture and religion. (2) the theory of decentralitation and local government. These villages have their respective function and duties. vi 2007. have different historical backgrounds in terms of their formation. . The Previous experts have not yet done research on the public services in both types of villages. Tabanan Regency. The Method used in this research in a qualitative method. social culture and resources. In Bali Many similar researches have been conducted by both local and international experts. that give services to the public.UNIVERSITY OF INDONESIA FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCES DEPARTMENT OF ADMINISTRATIVE SCIENCE GRADUATE PROGRAM ABSTRACT I WAYAN SUARJAYA 89 003 3100 53 The Analysis of Public Services Art State Administrative Village Of Wongaya Gede. The State Administrative Village was first formed by the Colonial Government for its own bemefits. This present research is focused on analyzing public services by the State Administrative Village an The Tradisional Village in Wongaya Gerde Village. to analyze whether the public services geve by those villages can be synergized and how that can be done. politcs. Bali has two types of villages.. The theories used for the analyzis are (1) the theory of administration development and the empowerment of the society.. The State Administrative Village only gives services in the field of governmental administration Analisis pelayanan . (3) and the theory of public services. At the beginning. Those kinds of research have also been carried out in different places in Indonesia. However. local custom. The main duties and functions of the Traditional Village are to give services to the society especially in the field of the social aspect. The State Administrative Village and the Tradisional Village. The Traditional village is formed by the community for the community itself so it has a true autonomy. I Wayan Suarjaya.

During the reformation era. Analisis pelayanan . . (4) in the field security. The Study shows that the Traditional Village has more privilege position. (7) in the field of conflicts of custom. Security.. I Wayan Suarjaya. (5) In the field of economy. the Traditional Village is guided by the traditional law (Awig-awig). It is found that the are nine services provides by the State Administrative and Traditional Village. Because in carrying out in activities. government. and (8) in the field of government. (3) in the field of environment. Those services can be jointly provided by both types of village.. In giving public services both villages undergo difficulties. the regulation No. and economy. The fields that can be synergized in providing services to the society are in the field of religion. 32 Year 2003 was implemented and the existence of the Traditional Village was acknowledged for its role in giving public services in order to improve the welfare of the community. (1) in the field of religion. they are. From the era of old 0rder (Orde Lama) to the New Order (Orde Baru) the Traditional Village was marginalized. development. in the society because the society pays more respect to the Traditional Village in terms of the public services given to the society. Since the time decentralitation was introduced in Indonesia. () in the filed of society welfare. since the independence era.and other governmental duties. government used the State Administative Village as the centre of government in running the government Administration.vii 2007. The members of the society obey this traditional law because they feel that the social punishment is much severer then the punishment of paying fine. FISIP UI.. In this case regulation are needed to control the coordination and consultation between both types of villages so that both of the villages can live in harmony and they can avoid conflicts of interest.. This can be done through coordination and consultation in implementing those service programs. This is due to the introduction of the unifying concept of villages which was centrally regulated by the government. (2) in the field of development.

Sengketa Adat. bahwa Desa Dinas dan Desa Pakraman mempunyai 9 bidang pelayanan meliputi: (a). (c) Lingkungan hidup. Agama dan kearifan lokal. Penelitian tentang Desa telah banyak dilakukan oleh Para Pakar sesuai dengan Bidang Ilmu masing –masing. Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. (2) Tugas pokok dan fungsi dalam memberi pelayanan publik. (d) Pembangunan. Perekonomian. bila dikaji berdasarkan teori Stewart yang dikutip oleh Waluyo tidak semua teori partisipasi dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh perangkat Desa. teori pelayanan publik.Nya. teori Desentralisasi dan pemerintahan lokal.. (g) Kesejahteraan rakyat. I Wayan Suarjaya. (3) isu Demokrasi Politik Ekonomi.. yang menyatakan partisipasi masyarakat. Menganalisis pelayanan publik yang bisa disinergikan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman Pelayanan publik dianalisis dengan landasan teoritik. Berdasarkan hasil penelitian. Kedua.. Desa Pakraman memiliki otonomi asli. Masalah pokok yang diangkat dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman ? Bagaimana menyinergikan pelayanan publik. Tata Keagamaan. Budaya. Menurut pendapat masyarakat. dan yang ketiga Sinergi pelayanan publik. Sosial kemasyarakatan. ditemukan bahwa Desa dalam memberikan pelayanan. karena berkat rahmat dan karunia . belum ada yang menelitinya. b). terpusat pada empat isu: (1) isu ketatanegaraan dan kepemerintahan. dikaji berdasarkan landasan teori Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat. kemampuan Pengurus untuk mendorong masyarakat Bentuk partisipasi masyarakat dikaitkan teori Davis dan teori Khaeruddin. Berbagai penelitian tersebut juga berbeda dalam dimensi kurun waktu. Kedua analisis pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. dan fokusnya. Desa Dinas dan Desa Pakraman mempunyai karakteristik tersendiri baik ditinjau dari segi: (1) Historis terbentuknya. Kajian tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman .viii 2007. FISIP UI. masih kurangnya pendidikan dan pelatihan pelayanan publik. sejalan dengan pendapatnya Diessedorf. Partisipasi masyarakat. . (h) Pemerintahan (i). melaksanakan desentralisasi. locus. Hasil penelitian dipilah menjadi tiga. yang dilaksanakan oleh Desa maupun oleh pemerintah. Belum memiliki visi yang jelas. didorong Analisis pelayanan . (e). Hasil berbagai penelitian tentang Desa di Indonesia. Keamanan. pertama tentang karakteristik Desa Dinas dan Desa Pakraman. adalah metodologi Kualitatif. Desa Dinas.KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. ditinjau dari segi sistem pemerintahan teori Desentralisasi dan Pemerintahan Lokal. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan: Pertama. maka penelitian ini bertujuan untuk: Mendiskripsikan pelayanan publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini. (3) Wilayah. dan jenis pelayanan pulik yang mana saja yang dapat disinergikan ? Mengacu pada permasalahan sebagaimana dikemukakan tadi. (4) isu keterbatasan sumber daya. karya ilmiah dengan Pokok Bahasan “ ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PAKRAMAN dapat diselesaikan dengan baik.. Mendapatkan pelimpahan wewenang untuk mengatur masyarakat setempat dari Pemerintah atau Pemerintah Kabupaten. (f). terutama. (2) isu Adat. didukung sepenuhnya oleh masyarakat.

(3) bidang pemerintahan. Sebab obyek pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman adalah anggota masyarakat dan wilayah yang sama.. (5) politik. Pada bidang pelayanan yang sama . 32 tahun 2004. ix 2007. Jakarta. Kelima. (8) kepentingan bersama. apalagi keberadaan masyarakat saat ini sudah hetrogen tidak homogen lagi. (4) bidang sosial. perekonomian. Walaupun menangani bidang yang sama tetapi unit pelayanannya yang berbeda. Maka perlu adanya payung hukum yang mengatur Desa Dinas dan Desa Pakraman. (6) ekonomi. Desa Pakraman hanya melayani yang beragama Hindu saja. sedangkan Desa Dinas tunduk pada Undang-undang No. Dengan demikian mengingat dua Desa ini tidak mungkin digabung/disatukan. kemungkinan untuk manggabungkan Desa Dinas dan Desa Pakraman amat sulit karena sesungguhnya bidang tugasnya berbeda. sosial budaya dan agama dapat disinergikan. 3 tahun 2003. Hasi penelitan ini masih jauh dari sempurna mengingat. adat dan budaya.oleh delapan jenis. I Wayan Suarjaya. keterbatasan peneliti. pembangunan. jenis pelayanan oleh kedua Desa ini bidangnya sama. (3) kesadaran sendiri. Semoga amal baik dari berbagai pihak yang telah membantu memberikan kontribusi dalam penyelesaikan kuliah dan disertasi. (1).. baik dari segi waktu penelitian dan kekurangan data – data yang menunjang penelitian. Keempat. 7 Juli 2007 Penulis Analisis pelayanan . dapat disinergikan untuk lebih efisien dari segi biaya. dan (5) bidang agama. Tetapi kalau dikaji secara mendalam. Saat ini Desa Pakraman diatur berdasarkan Perda No.. mendapatkan pahala yang setimpa dari Tuhan Yang Maha Esa. FISIP UI. (2) bidang ekonomi. Maka dari itu sangat diharapkan bimbingan dan tutunan serta saran konstruktif dari berbagai pihak demi penyempurnaan disertasi ini. kekeluargaan. (4) kharisma pemimpin.. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. Ketiga. konsekuensinya adalah struktur tetap berbeda. tenaga dan waktu. . (7) bakat dan emosional. unsur pelayanan dalam bidang yang sama seperti keamanan. (2) ikatan organisasi.

........... Penduduk dan Mata Pencaharian..................................... BAB III METODE PENELITIAN…………………........ Jenis Pelayanan Publik………….................. Kriteria Pelayanan Publik................................. b................................... BAB I PENDAHULUAN…………….................………. Keberadaan Desa Dinas …................................. 2.......... Analisis Data…………. Jenis Penelitian……………….. DAFTAR BAGAN……………………......... Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaa Masyarakat... Karakteristik Desa………………........................... Letak dan Luas Wilayah…....... FISIP UI............................. ABSTRAK .....................................................................................…........................................................................................ Wilayah Desa Pakraman………......... Disain Penelitian………………........... 2. Kualitas Pelayanan Publik……............................................. a..................….................................... .............. a................................…................................................................. 1............................................... D.. D............................. i ii iii iv v vi viii x xii xiii xiv xiv 1 1 10 27 27 28 33 35 35 36 52 58 61 67 81 89 92 101 101 103 116 115 115 117 119 119 119 126 129 135 147 148 153 x Analisis pelayanan ...............................……...………… C.... Pelayanan Publik………. E................................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN……………..…………………….... LEMBAR PERSETUJUAN ................................ Sistematika Penelitian…...................... Desa Pakraman ............... A Pemilihan Obyek Penelitian……..............................................…………...... 2...........................… C................................................................................... LEMBAR PENGESAHAN ....... Latar Belakang ……………………….....…………...................... DAFTAR TABEL…..................... Teknik Pengumpulan Data……….......... Desentralisasi dan Pemerintahan Lokal............................... DAFTAR GAMBAR………………………. A.. Tujuan Penelitian……....................... Kerangka Pikir.................... LEMBAR ORISINIL ..............................................................………............……....... Budaya...........................……............... F.……………….............. E.....………...............................................................................………. Pemberdayaan Masyarakat ... Tahap Penelitian…………………............. Kehidupan Sosial...... D............................................... DAFTAR GRAFIK……………………....................................................................................... KATA PENGANTAR………………………………………........ DAFTAR ISI………………………………………………..... 2007.. A..... B.......... Permasalahan………………………........................………… B...........…………………............ C.…………........… c........................................ dan Agama............... Proposisi Teoritik .... BAB II LANDASAN TEORITIS………….................................... B..........................…………........................... d........................…….................. 3..........……………....................................………............ Administrasi Pembangunan .......... Desa Dinas .... I Wayan Suarjaya............................. F..…………………...... LEMBAR TIM PENGUJI .....................................DAFTAR ISI COVER ........................…….....…......................... 1....................... 1......... Signifikansi………………………………..... A....................................................................

............................ f..... 3.. Adat dan Budaya…....………… B...…………….............. Kesimpulan……………….. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keagamaan …………………. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Kesra……………........ Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Sengketa Adat….......…........… 7..... Awig – awig Desa Pakraman ….............…. Saran-saran………………………………........ 2......................... Hubungan Fungsional Desa Pakraman dan Desa Dinas………………………. Sinergi Bidang Keamanan…………….…..... Kerama / Penduduk…………….................. 3..........….... FISIP UI.....….......... 2.. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………............… 8. DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Lingkungan Hidup……..........................…................................... Sinergi Bidang Sosial………………........…….............b............................ B......….. Pelayanan Publik Oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas............... . 4........................ xi 2007...………….... Sinergi Bidang Ekonomi……………. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Sosial Kemasyarakatan…….. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Pemerintahan…..........…………............ Sinergi Bidang Pemerintahan……….................. 9...............………....…....... 1.................. Kahyangan Tiga………………......................................................…………………............... PelayananPublik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keamanan……...................................... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Perekonomian….... I Wayan Suarjaya................ 2..... C............ d... 10............ Keuangan ……...................... 6..............…................................ Struktur Desa Pakraman………..…........... Analisis Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman … 1.... 4.. A. Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas…..... 5......……………... Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas........... e.......…. PelayananPublik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Pembangunan…......... DAFTAR PUSTAKA……………………………. 3.. c.... 153 156 160 164 165 167 171 176 193 196 197 198 201 203 208 214 215 219 221 223 224 225 225 233 234 234 237 239 242 Analisis pelayanan ..... Sinergi Bidang Agama... Kelembagaan Desa Pakraman dan Desa Dinas………………………………….... 5................... 1.....

... Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2000 ............................………………… TABEL 12 Jumlah Sekolah dan Siswa………........ Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas……………………………...DAFTAR TABEL TABEL 1...................... TABEL 3............... Luas Wilayah Desa Dinas Wongaya Gede Menurut Penggunaan Tanah riil ( Hektar )........................ Unsur Desa Dinas dan Desa Pakraman......... TABEL 5........................................ Analisis pelayanan .... TABEL 7......………………… TABEL 11. Tahun 2000 ......................……... Unsur Tri Hita Karana Dalam Desa Pakraman dan Rumah Tangga……...... Kegiatan Pos Yandu dan Jenis Pelayanan Lepada Masyarakat……………………….......... I Wayan Suarjaya.... Tipologi Kelembagaan Masyarakat ..................... TABEL 6....................... TABEL 9................................................... TABEL 2.… TABEL 8.................................... Stuktur Wilayah Desa Wongaya Gede…............. TABEL 10............................. ........................xii 2007.............. Penduduk Desa Wongaya Gede Berdasarkan Jenis Kelamin. FISIP UI.................. Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Umat Beragama ....................................................... TABEL 4................... Struktur Wilayah Desa Dinas………................

..... Wilayah Desa Pakraman Sama Dengan Wilayah Desa Dinas………....………………...xiii 2007................ GAMBAR 4 Wilayah Desa Pakraman dalam Desa Dinas Wongaya Gede………………………........................ FISIP UI....... GAMBAR 5 Sumber Penyusunan Awig – Awig ….............. Wilayah Desa Pakraman Terdiri Atas Beberapa Desa Dinas………................................ GAMBAR 2........ I Wayan Suarjaya.........…………….. .......…................................. Analisis pelayanan ......………………..... GAMBAR 6 Sinergi Pelayanan Publik ……………............DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1... GAMBAR 3 Wilayah Desa Dinas Terdiri Atas Beberapa Desa Pakraman…….......

.................. FISIP UI..................................... Analisis pelayanan ..... .......... DAFTAR GRAFIK GRAFIK 1 Jumlah Kunjungan Masyarakat ke Puskesmas Pembantu Tahun 2004 .................. BAGAN 3 Struktur Desa Pakraman ..…………….................................... BAGAN 4 Pengaturan Kegiatan Desa .................................................... BAGAN 2 Struktur Desa Dinas Wongaya Gede…..........................xiv 2007.. I Wayan Suarjaya...................DAFTAR BAGAN BAGAN 1 Struktur Desa Dinas Dalam Sistem Pemerintahan................. BAGAN 5 Hubungan Struktural dan Fungsional Antara Desa Dinas Desa Pakraman dan Banjar Dengan Pola Satu Desa Dinas Mencakup Beberapa Desa Pakraman.......................

. Satuan-satuan tersebut dengan pelbagai nama. 65 3 Amrah Muslimin. Marga di Sumatra Selatan.591. . Menurut J. ialah pemilihan kepala desa dan pamong desa. hal 284. Pertama. 1 Dalam kaitannya dengan otonomi desa dikatakan oleh J. hal 11 4 JS. Dasan di Satuan-satuan Lombok. Nagari di Sumatra Barat. Bagi satuan masyarakat hukum adat di Jawa dan Madura diatur dengan sesuai dengan stb. 2007. 241 Analisis pelayanan . and enable local officials to cope with their main function.1941 No. Colonial Policy and Practice. New York University Press. Pemerintahan dan Administrasi Desa. 2 Bayu Suryaningrat.256 yang disebut Desa Ordonnantie . (b) peraturan Hoofd van Gewestelijke Bestuur dan (c) peraturan daerah otonom yang terbentuk dengan ordonnantie . Latar Belakang Di Indonesia terdapat satuan-satuan masyarakat hukum adat yang menyelenggarakan pemerintahan daerah. bahwa: Kepada desa dijamin dua hal. stb 1913 No.235 dan stb 1919 No. Satuan masyarakat hukum adat tersebut terdapat baik di dalam swapraja maupun di wilayah yang dikuasai langsung oleh Belanda ( direct gebied ). Schrieke sebagaimana dikutip Bayu Suryaningrat.217. Pengakuan Belanda terhadap satuan masyarakat tersebut di wilayah yang dikuasainya tertuang dalam pasal 71 Regeringsreglement 1854 yang kemudian diubah menjadi pasal 128 Indische Staatsregeling 1924. 3 Masyarakat hukum adat yang beraneka tersebut dalam disertasi ini disebut desa. Bandung: PT Mekar Djaya. the care of public welfare 4 Ordonans i Pemerintah Hindia Belanda mengakui otonomi desa dan membiarkannya sebagai “ the little republics ” di bawah kepalanya sendiri dan campur tangan Pemerintah Hindia Belanda kecil. Bagi satuan-satuan masyarakat hukum adat di luar Jawa dan Madura diatur dengan Inlandsche sesuai Gemeente Ordonnantie Buitengeweten. Kedua. Pasal tersebut mengakui otonomi satuan masyarakat hukum adat.J. Gubernur Jenderal diperintahkan untuk mempertahankan hak tersebut terhadap segala macam pelanggarannya. Jakarta: Timun Mas 1960. hal. masyarakat itu disebut oleh Pemerintah Hindia Inlandsche Belanda dahulu dengan istilah Gemeenten.1906 No. A Comparative Study of Burma and Netherlands Indie. peraturan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal dan pemerintah Gewest .83 jo stb. dengan persetujuan pemerintah Gewest . Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Republik Indonesia.both to strengthen the village community and to adapt it to the modern world. 1956. ialah wewenang untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya.. Penerbit Djambatan 1960.BAB I PENDAHULUAN A.. hal. ‘to stimulate social growth. Wolholf.Ordonnantie tersebut tidak diberlakukan pada masa penjajahan Jepang. dan Temukung di NTT.1910 No. Furnivall.490. Dikatakannya bahwa Inlandsche Gemeente Ordonnantie Java en Madoera . Gampong di Aceh. ordonansi tersebut dirancang untuk memperkuat satuan masyarakat hukum tersebut. 2 .J. 2 Pengaturan lebih lanjut bagi satuan-satuan masyarakat hukum adat tersebut dilakukan dengan ordonansi yang berbeda. Aturan-aturan ini kemudian diganti dengan stb. FISIP UI.. Jakarta.S Furnivall. Huta di Tapanuli. dengan memperhatikan 1 G. dengan Stb. untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri dengan memperhatikan (a) peraturan Gouverneur Generaal . 1976.. I Wayan Suarjaya. misalnya Desa di Jawa dan Bali.. artinya dari ordonansi atau reglemen dan aturan residen atau peraturan lokal.1938 No. Ichtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903–1908.

6 Furnivall. Bahkan dalam penjelasan undang-undang tersebut ditegaskan bahwa titik berat otonomi daerah diletakkan pada desa. . tetapi Belanda membiarkan desa tetap statis. dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.” 6 Pemerintah Desa dipandang sebagai “ pemelihara ( palladium ) perdamaian ”. Cetakan ke II.Dalam pembahasan rancangan undang-undang dasar. Soepomo berpendapat bahwa desa dengan susunannya yang asli perlu dihormati dan seperti daerah swapraja dijadikan daerah istimewa 7. hal 140 7 Sekrertariat Negara Republik Indonesia.. Op. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli. cit. and the increasing welfare and prosperity must be largely ascribed to the village government. 10 Gerald S. by adat rules which were in reality already dead. Sekretariat Negara RI. Decentralization in Indonesia: Legislative Aspects. 1957. bahwa: The desa is placed within the circle of modern government not drawn out of it as was the case in the past. 8 Ibid. 2007. 1992. Gadjah Mada University Press. Yamin berpendapat perlu pembahasan mengenai desa secara seksama di luar UUD: apakah pemerintah desa perlu diseragamkan di seluruh Indonesia atau akan tetap beraneka ragam diserahkan kepada DPR 8. I Wayan Suarjaya.22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. maka Undang Undang No.... 22 Tahun 1948 akan menggabungkan desa. hal 11 . Seperti dalam penjelasan Undang Undang No. Maryanov. Sementara M. FISIP UI. Sesuai dengan aspirasi pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 agar tercapai kemakmuran maka kemakmuran dimaksud harus dimulai dari desa. Penggabungan desa tersebut disarankan oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo sebagai desapraja dengan cara penyerahan wewenang di lapangan tatapraja ( staatsrechtelijke bevoegdheden ) kepada desapraja. 10 Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei 1945 – 19 Agustus 1945. Berbeda dengan kondisi di zaman Hindia Belanda. and that it often happened that the dead rules were brought to life again. 5 Belanda memegang prinsip bahwa: “the peace (rust) which had been so notable daerah otonom tingkat III di bawah kabupaten. pengaturan tentang desa tersebut dilakukan dengan Undangundang No. Perubahan Sosial di Yogyakarta. 4 .12 3 Analisis pelayanan . 22 Tahun 1948. seperti desa di Jawa dan Bali. Maryanov. That the village had been bound. Kebijakan ini ditempuh agar desa ditarik ke dalam lingkungan pemerintahan modern. It is perhaps appropriate to observe here that the struggle in Indonesian life for an adjustment between tradition and innovation is probably not going to be resolved by a clear out victory of one or the another. 9 Setelah proklamasi kemerdekaan.. hal 218.. negeri di Minangkabau. Penjelasan pasal 18 UUD 1945 butir II menjelaskan bahwa: Dalam teritoir Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende landschappen dan volksgemeenschappen .. djelaskan juga oleh Gerald S. dusun dan marga di Palembang dan sebagainya.. terdapat perbedaan pendapat antara Soepomo dan M. hal 153 Jumlah desa sangat banyak dan luasnya belum mencukupi untuk dijadikan daerah otonom terbawah. Jakarta. 1981. Dalam undang-undang ini desa dijadikan 5 Selo Soemardjan. New York: Cornell University. Risalah Sidang Badan of recent years. hal 78. under Dutch practices. walaupun Belanda mengerti bahwa desa adalah sendi negara. Yamin mengenai keberadaan desa di alam kemerdekaan. hal 150 9 Ibid.

FISIP UI.. 5 Analisis pelayanan . Tahun ke I nomor 2. Dalam penjelasan umum UU tersebut dikemukakan bahwa: a. memilih penguasanya dan mempunyai harta benda sendiri. Second. Undang Undang 1965/19 tidak membentuk baru Desapraja. Tahun ke II nomor 3. Bentuk Pemerintahan Desapraja. traditional customary law (adat) varies wedely across regions impinging heavily on such important resources at authority and status. dalam Swatantra. c. pemerintahan. It was unfortunate that the term desa was used in law 22. 1958 hal 178 13 J. 1957 hal 8 . hal 89. 19 Tahun 1965 juga dikritisi oleh Theodore M. diundangkan UU No... D. since the desa of Java has no exact counterpart elsewhere. or even desa in Bali 13 ada di seluruh Indonesia dengan berbagai macam nama menjadi Desapraja. Legge tentang pemakaian istilah desa. melainkan kelak dapat langsung dijadikan daerah administrasi dari Daerah Tingak III. First. 11 Otonomi desapraja supaya tetap seperti otonomi desa dahulu yang meliputi perundangundangan. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum lainnya yang tidak bersifat teritorial dan belum mengenal otonomi sebagaimana terdapat di berbagai bagian wilayah Indonesia (daerah administratif). peradilan dan bahkan pertahanan. It is a territoial unit very different in character from say Nagari of Minangkabau partly based on kindship or the Marga of South Sumatra. Central Authority and Regional Autonomy in Indonesia: A study in Local Administration 1956-1960. Dalam upaya pembentukan Dati III.. village-complex headmen who are descendants of earlier kings perceive their 14 Penjelasan Undang-Undang Nomer l9 tahun 1965. Pemerintah menghadapi kesulitan besar dalam pembentukan daerah otonom tersebut. Cornell University Press 1963. I Wayan Suarjaya. 12 Pembentukan desa sebagai Daerah Tingkat III ternyata tidak dapat terealisasikan. Menurut pasal 1 UU tersebut bahwa desapraja ialah kesatuan masyarakat hukum yang tertentu batas-batas daerahnya. berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Desapraja tidaklah merupakan suatu tujuan tersendiri. 6 .Dengan demikian desa hanya menjadi masyarakat hukum adat dalam rangka desentralisasi fungsional. New York. Legge. Smith. tidak dijadikan Desapraja. the villagecomplex (kelurahan) which subsumed several hamlets under one roof was not natural one and it took place in different regions at different times. b.9 12 Soetardjo Kertohadikoesoemo. There are a number of reasons for this. dalam Swatantra. 2007. melainkan mengakui ( constateren ) kesatuan-kesatuan masyarakat hukum yang telah Soetardjo Kertohadikoesoemo. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja. kepolisian. In the Luwu district of South Sulawesi. Ithaca. 14 Kebijakan penyeragaman desa yang ditempuh oleh Undang Undang No. Kelak bila telah tiba waktunya semua Desapraja harus ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat III dengan atau tanpa menggabungkannya lebih dulu mengingat besar kecilnya berbagai Desapraja itu. melainkan hanyalah sebagai bentuk peralihan untuk mempercepat terwujudnya Daerah Tingkat III dalam rangka Undang Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kesulitan yang dihadapi tercermin pada kritik J D. 11 Generalization concerning Indonesian village structure and functions are risky. Konsepsi Hatta.

Change and Productivity. Second. Nordic Institute of Asian Studies.. Dengan Undang-Undang No. he must seek approval from the sub-district for decisions on a wide range of matters. The village government became dependent on higher authorities for directives and funds. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dibangun hubungan yang jelas antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah Pusat. 15 First. the status of the village government in relation to the national and provincial governmental apparatus is still ambiguous in some cases. Fourth. The village head can no longer act independently of the sub-district chairman. The village administration has become miniature replicas of the central government. menstandardisasi variasi pemerintahan desa di Indonesia. whose members are approved by higher authorities (Schulte Nordholt 1987b:60). No. the autonomous Village Social Board was replaced by the Village Community Resilience Board (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa-LKMD). Third. Monograph Series. hal. I Wayan Suarjaya. that law was promulgated during the “old order” of President Sukarno and all three governors have deviated from it without fear of embarrassment. There has been pressure to make it part of the national administrative system by designating it the thrird level (tingkat III) of the decentralized system following the province (I) and the regency (II). untuk membawa berbagai urusan desa di bawah pengawasan dan kendali pemerintah yang lebih atas. The sub-district chairman can reject any decision he regards as conflicting with higher regulations.. The Village Community Resilience Board received its funding from the Department of the Interior and is under the jurisdiction of Regional Planning Bureaux (MacAndrews 1986) Third. the publik interest or Pancasila. ‘faithful and devoted to Pancasila and to the 1945 constitution’. 7 Analisis pelayanan . 68. Exemplary Centre. 16 Reformasi mengakibatkan yang melanda Indonesia pergeseran paradigma dalam Theodore M.Dalam masa Orde Baru. village councils were replaced by the Village Assembly (Lembaga Musyawarah Desa). FISIP UI. with members appointed by the village headman and approved by sub-district officials. Administrative Periphery: Rural Leadership and the New Order in Java. the village headman and his staff were made the government’s direct representatives in the village. while Indonesia does have a basic law for government at the village-complex level (Law No. 2007. Sub-district officials often attend Village Assembly meetings to ensure that decisions are in accord with the demands of higher authorities. Pertama. Kedua. 1995. 43.. 8 . but this change has not yet materialized except for some experimental attempts in Surakarta and Jogjakarta . Decicions taken by the Village Assembly must be approved by the sub-district office before they gain legal status. role and function in term far different from the Minangkabau trader who has become a village headman in West Sumatera. Desa-desa diseragamkan dan disinkronisasikan. enforcing decrees and policies determined from above. Smith.. The Indonesian Bureucracy: Stability. Hans Antlov mencatat dua tujuan resmi ditempuhnya kebijakan tersebut. Menurut Hans Antlov terdapat tiga komponen untuk mencapai tujuan tersebut. kebijakan penyeragaman desa makin ditingkatkan. 19 of 1965). hal 42 -43 15 16 Hans Antlov. dissertation.

Pengertian Desa dalam undangundang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum. dan peraturan Daerah setempat. Kebijakan yang tertuang dalam Undang-Undang No. Permasalahan Penelitian tentang desa. Kebijakan pemerintah bagi desa-desa dalam masyarakat tertentu yang menarik untuk dijadikan objek kajian yaitu Desa Pakraman dan Desa Dinas di Bali. yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa. I Nyoman. sedangkan Desa Dinas bekerja dengan hukum tertulis yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. 18 Sirtha. yang mempunyai tugas pelayanan publik .. I Wayan Suarjaya. Penelitian tersebut memberikan sumbangan yang besar untuk penelitian 17 Kerama Desa adalah anggota yang tercatat dalam Desa Pakraman sesuai dengan ketentuan peraturan dalam Awig – awig Desa setempat.. Serangkaian kebijakan yang tertuang dalam berbagai undang-undang tentang Desa berlaku secara nasional. 2007. 17 Pada mulanya Belanda mengakui Desa Pakraman melalui Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengeweten (IGOB ) . B. kampung. Sejak itu terjadi dua jenis Desa yang memberikan pelayanan publik di Bali. huta . Istilah desa dalam undang-undang yang baru disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. 10 . Dampak dari kebijakan nasional terhadap desa-desa tertentu acapkali berbeda. 9 Analisis pelayanan . Dalam perkembangan selanjutnya. Anggaran bagi kegiatan tersebut diperoleh dari warga / krama desa. FISIP UI.. telah banyak dilakukan dari perspektif keilmuan yang berbeda. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. dan fokusnya.. Desa Pakraman. Pada masa kemerdekaan lembaga kedinasan tetap berfungsi dalam pemerintahan desa menjadi Desa Dinas 18. otonomi asli. demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Desa Pakraman mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pada zaman sebelum penjajahan Belanda di Bali terdapat Desa Pakraman . bari dan marga . Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Fakultas Hukum Universitas Udayana. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah menjadi Undang. hal 4. Hal ini menarik untuk diteliti dari dimensi administrasi publik. diberdayakan dan dilestarikan serta dikembangkan. partisipasi. Dienst mempunyai tugas mewakili pemerintahan Hindia Belanda dalam melaksanakan pemerintahan kedinasan di Desa. sehingga berguna bagi masyarakat. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Desa adalah keanekaragaman.penyelenggaraan otonomi daerah.Hal yang diatur. Berbagai penelitian tersebut juga berbeda dalam dimensi kurun waktu. memberikan layanan dalam bidang keagamaan dan sosial budaya kepada masyarakat serta pembangunan. nusa dan bangsa. 22 Tahun 1999 diteruskan dengan Undang-Undang No. Dua jenis Desa tersebut hingga kini masih berlangsung. 3 Tahun 1997. locus. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. memberikan pengakuan terhadap Desa Adat yang ada. pada pemerintahan Hindia Belanda ( berdinas/bertugas ) yaitu dikenal istilah dienst seorang pejabat di desa. Desa Pakraman bekerja dengan hukum adat . Paradigma penyeragaman otonomi daerah berubah menjadi paradigma kemajemukan penyelenggaraan otonomi daerah melalui perubahan Undang-Undang No.Undang No.

Berbagai kebijakan dan pengaturan desa ditempuh secara sentralistik. dan seragam.. Hasil penelitian terdahulu akan disajikan sebagian dari penelitian-penelitian tersebut. pembangunan desa berarti pembangunan fisik dan kekayaan yang kemudian juga menjadi ukuran sukses bagi kehidupan masyarakat. IRE Press.ILD Jakarta 2005 hal. Penelitian ini kurang mengungkap peran desa dalam menyejahterakan warga desanya. adil. mandiri dan demokratis. Prakarsa Desentralisasi dan otonomi Desa. e. Kekeliruan dalam orientasi pembangunan desa. 21 Abdul Rosaki dkk. Hal ini didasari pada berbagai pertimbangan: a. tetapi pengakuan ini masih bersifat formalistik ketimbang substantif. 438. Penelitian Abdul Rosaki dkk. hal. Kekeliruan paradigma (cara pandang) terhadap desa. d. Konstitusi maupun regulasi negara memang telah memberikan pengakuan terhadap desa sebagai kesatuan masyarakat hukum ( self-governing community ). Erasmus University Rotterdam Hal. Orde Baru. b. maka Rosi mengemukakan perlunya Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa...disertasi ini. 20 Berbagai perubahan undang-undang yang mengatur desa semasa kemerdekaan. FISIP UI. Padahal Indonesia sudah lama masyarakat eneraponesiakan model perencanaan dari bawah Selama lima tahun terakhir ( bottom-up ). 22 11 Analisis pelayanan . 12 . otonom. melainkan menyerupai patahanpatahan proyek jangka pendek. Pasal 71 RR 1854 menegaskan tentang kedudukan dan otonomi desa. melaksanakan desentralisasi. 21 mengemukakan kegagalan kebijakan dan pengaturan tentang desa disebabkan kekeliruan dalam empat hal: a. Zaman Orde Lama. TIFA . Telaah Ibid. Dari sisi ekonomi politik. Selama lima tahun terakhir masalah desa tengah bergolak. Yogyakarta. 19 Setelah intervensi dan eksploitasi Belanda terhadap desa berlangsung mapan. b. Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia bertempat tinggal di desa. Mempertimbangkan pelbagai kegagalan tersebut. 2005 hal xi -xiii 19 c. Comparative Asian Studies Program Social Science Faculty.. 2007. yang menuntut desentralisasi dan otonomi desa 22. Masa Kini dan Masa Depan.. pemerintah kolonial mengeluarkan Regeringsreglement 1854.. Kebijakan pengaturan tentang Desa secara sentralistik banyak dikritisi dalam berbagai penelitian. desa (yang memiliki tanah dan penduduk) selalu menjadi medan tempur antara negara. dan masyarakat. Pemerintah dianggap tidak mengusung paradigma pembaruan desa untuk membawa perubahan desa menuju kondisi yang lebih sejahtera.Dalam Pasang Surut Otonomi Daerah. xvii – xix. I Wayan Suarjaya. Yan Breman. c. 1 20 Sutoro Eko. suara desa membahana di seluruh pelosok negeri. Berbagai peraturan dan kebijakan pihak kolonial merupakan intervensi yang intensif terhadap desa. Pasal tersebut menjadi landasan terbitnya Inlandsche Gemeente Ordonnantie dan Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengeweten . d. Desa jawa dan Negara Kolionial. Di tingkat desa. pengaturan tentang Desa cenderung menyeragamkan Desa. Design berbagai kebijakan dan program pembangunan desa tidak diterapkan secara berkelanjutan. kapital. Sketsa Perjalanan 100 Tahun. “ Otomomi Desa Masa Lalu. Penelitian Yan Breman menunjukkan bahwa desa di Jawa merupakan konstruksi kolonial. Secara historis desa-desa (atau nama lainnya) telah lama ada di Indonesia sebagai kesatuan self-governing masyarakat hukum atau community yang memiliki sistem pemerintahan lokal berdasarkan pranata lokal yang unik dan beragam.

Kajian mengenai Transformasi Ekonomi Politik Desa juga cenderung mengabaikan wacana desa dalam pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat. APMD Press. (7) pertumbuhan pemerataan dan keadilan. 13 Analisis pelayanan . 24 Abdul Rosaki dkk. keterbelakangan. Kedua. dilihat dari demografi yang menyatakan bahwa laju pendapatan penduduk mengikuti deret hitung. Disertasi.. (10) corporate social pembangunan sosial. dan lain-lain. Kecamatan Kadudampit menemukan perubahan konstelasi desa yang telah mendorong pembangunan baru dalam aspek posisi dan pengaruhnya di masyarakat 27. Jambi. kelompok elit desa yang posisinya semakin berkurang atau cenderung melemah. Ketiga. Op. Pertama. Perubahan tersebut terdiri atas pertama. kelompok elit desa yang posisinya semakin menguat pengaruhnya dalam pembentukan opini dan sikap masyarakat. dan adanya ketimpangan posisi dan peran desa. Setidaknya ada dua belas konsep pembaharuan desa yaitu: (1) desentralisasi. (12) modal sosial. 2007. Disertasi. Dalam mengisi keterbatasan penelitian Chandra dkk tersebut. Hasil penelitian tersebut meliputi berbagai perspektif. Dari perspektif administrasi publik penelitian Erwin Fahmi 28. STPMD. Kajian mengenai pembaharuan desa dikemukakan oleh Chandra dkk 25. Tetapi pendekatan budaya kemiskinan itu mengandung banyak kelemahan. Pandangan budaya kemiskinan menyebabkan kaum miskin tidak berdaya untuk berjuang sendiri mengatasi kemiskinan. Manifesto Pembaharuan Desa. yang harus dilihat untuk memahami kemiskinan 24. cit hal. (2) kontrol negara terhadap pasar. pembaharuan desa tidak mempunyai model tunggal dan mujarab. hal. hal. (9) ekonomi rakyat. hal xv. 117 28 Fahmi. Program Pengambilan Keputusan di Desa Gede Pangrango. (11) responsibility .. Kedua. sehingga dalam meningkatkan kesejahteraan patut didampingi dan dilindungi. APMD Press. fatalisme. (4) pertumbuhan berkelanjutan. Kecamatan Kadudampit. (5) di atas desa. Ketimpangan posisi dan peran desa misalnya dilihat dari berbagai sudut. Penelitian Iberamsyah di Desa Pangrango.. xxxi – xli.. Ada aktor negara dan modal di luar rakyat miskin. Dan Kontribusinya Bagi Administrasi Publik. Kedua. FISIP UI. I Wayan Suarjaya. yang mengatakan bahwa rendahnya kesejahteraan atau tingginya angka kemiskinan rakyat desa akibat dari kebodohan. Erwin. (3) demokratisasi yang membuat democratic governance development state . kelompok elit desa yang posisinya tetap bertahan seperti sebelum terjadi perubahan. 26 27 Foundation. Hasil penelitian Chandra dkk tersebut dinilai oleh Iberamsyah mengabaikan peranan elit dalam pembangunan desa 26. 2005. dari perspektif ekonomi politik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Iberamsjah Elit Desa Dalam Perubahan Politik Kajian Kasus Ibid. Lazarus Revassy 29. Para penganutnya tidak pernah melihat secara kritis bahwa rakyat miskin hidup dalam konteks struktur sosial. Indonesia. Persembahan 40 Tahun STPMD APMD. menunjukkan involusi dan 23 Sumarjono dalam Gregorius Sahdan. APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford marginalisasi desa. ketertinggalan. (6) pemberdayaan dan partisipasi. dari pandangan budaya ( culture ). kemalasan. sementara laju pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur jauh lebih cepat. Jawa Barat Pada Masa Awal Penerapan Otonomi Daerah 2000 – 2001. (8) Fair trade . 14 . Transformasi Ekonomi Politik Desa. ekonomi politik yang lebih besar darinya. xxxviii 25 Ade Chandra dkk dalam Sutoro Eko eds. Pengaturan Dan Pengurusan-Sendiri Di Desa Pulau Tengah. xiv – xv. Kabupaten Sukabumi. 2002. penelitian peranan elit dalam pembaruan desa dilakukan oleh Iberamsyah dari sudut ilmu politik.mengenai desa juga dilakukan oleh Sumarjono dkk 23 yang mengemukakan bahwa di desa telah terjadi mobilitas sosial tanpa tranformasi. Pertama. 2003 hal..

komuniti juga berimplikasi pada organisasi pengaturan dan pengurusan sendiri. Universitas Indonesia.(2) program-program pembangunan yang melekat dengannya. 15 Analisis pelayanan . masing-masing varian tadi dilihat sebagai perekat yang memberikan dukungan yang berarti sesuai dengan perannya masing-masing 33. Tiga varian tersebut mempunyai hubungan fungsional yang saling “mumpuni”. 2002 31 Fahmi. Keterbatasan penelitiannya adalah mengabaikan peranan administrasi desa dalam pelayanan publik di desa. 16 . Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Administrasi Pemerintahan Lokal Irian Jaya. Masing-masing (1) administrasi pemerintah lokal. Tarik ulur tiga varian di atas dalam perspektif pembangunan kesukuan dengan mengacu pada konflik sosial yang digelar di desa Harapan Kwamki Lama pada hakikatnya ingin mendeskripsikan secara sistemik atau holistik masing-masing varian. tenaga kerja (anak ladang).. dan rangsangan dari luar berupa terbukanya pasar. Selain memiliki aparat adat. cit.. 2002. (Kajian Tentang Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas). Pemberdayaan Organisasi Lokal Tingkat Desa Sebuah Studi Di Desa Harapan – Kwamki Lama. FISIP UI. dan varian kesukubangsaan. keluarga. 452. ketersediaan Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Op. Timika. Universitas Indonesia. Disertasi. Op. komuniti pada lingkungan yang menempatkan keselamatan dan kelangsungan hidup bersama sebagai tujuan kolektif tersebut 31. yang berada di desa HarapanKwamki Lama. Penelitian Erwin Fahmi menemukan bahwa pengaturan dan pengurusan-sendiri yang berjalan di desa Pulau Tengah Jambi. Kontinuumnya wilayah individu.. selain sampai tingkat tertentu barang/jasa privat dan toll goods. demikian pula halnya dengan varian suku bangsa. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. keluarga. Suku bangsa akan membangun hubungan antar suku bangsa dengan mengacu pada atribut dan 32 33 Fahmi. yaitu Depati Gento Rajo (DGR) dan perangkatnya. 2007. Lazarus. Artinya varian administrasi pemerintahan lokal akan berjalan secara efektif apabila mendapat dukungan dari varian-varian program pembangunan.dan Walujo Iman Isworo 30 akan melengkapi penelitian tentang desa. I Wayan Suarjaya. menyediakan barang/jasa dan CPR ( common-pool resources ). Ketika berbicara tentang efektifitas pemerintahan desa dalam kaitan dengan kepentingan umum ( publik goals ). Keunggulan penelitian Fahmi adalah difokuskan pada pengaturan dan pengurusan sendiri desa dalam menyediakan barang/jasa. Dasar hukum pengaturan dan pengurusan sendiri adalah DGR.. 30 Isworo.. 29 Revassy. Disertasi. hal. Revassy. Op. Universitas Indonesia. Kajian dinamika pengaturan dan pengurusansendiri menunjukkan bahwa reproduksi institusi anak ladang – induk semang (AL-IS) terjadi terutama karena desakan dari dalam yaitu keinginan untuk menarik manfaat dari proses komersialisasi dari proses pertanian yang berlangsung. v – vi. Demikian sebaliknya. dan (3) hakikat kesukuan.. 2002. Walujo Iman. varian program-program pembangunan akan berperan dengan baik apabila mendapat dukungan dan tanggapan dari varian administrasi lokal dan kesukubangsaan. Pengaturan dan pengurusan sendiri di desa Pulau Tengah juga berjalan karena keterlibatan warga adat. vi. hal. Kabupaten Mimika. hal. Penelitian Revassy mengenai Administrasi Pemerintahan Lokal di Papua menemukan tiga varian yang menjadi isu dominan. dan adanya komiditi yang relatif menguntungkan 32. baik penyepakatan aturan-main maupun pelaksanaannya.cit. cit. Bidang kelola yang luas ini dimungkinkan karena kontinuumnya wilayah privat – publik dan individu.

simbol sebagai upaya mencari jati diri atau identitasnya.. Organisasi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa sesuai Keppres No. hal. saling menghormati. Padahal karakteristik satu daerah dengan daerah lain tidak sama. meneliti tentang Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali ditinjau dari aspek hukum adat. Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kushandayani 36 di Semarang dari perspektif ilmu hukum. Perspektif Sosio – Legal. Op. Isworo. Organisasi lokal Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa yang mandiri atau dengan sebutan lain masih diperlukan keberadaannya. FISIP UI. 35 34 mengungkapkan. 473. norma sosial. Pustaka Bali Post. hal. tidak sesuai dengan konsep organisasi lokal dengan prinsip dari masyarakat.. otonomi desa bukanlah menunjuk pada otonomi pemerintah desa sematamata. 2004 hal. Sementara itu penelitian mengenai desa di Bali. hal. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa 37 38 Surpha. 2007. . Organisasi lokal LKMD belum berfungsi dengan baik karena kombinasi faktor kepemimpinan dan campur tangan birokrasi. bahwa esensi dari otonomi desa adalah manakala kewenangan pembuatan kebijakan sekaligus implementasinya ada di tangan desa. Semarang. dan paternalistik. Kelebihan dari penelitian ini adalah menekankan pentingnya modal sosial dalam kerangka otonomi desa. Penguatan modal sosial dilakukan melalui tiga komponen: jaringan sosial. Pelembagaan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat desa juga menunjukkan kemandirian. Otonomi Desa Berbasis Modal Sosial. Desertasi Program Doktor Ilmu Hukum. 219. transformasional. Op. Dimensi sosial masyarakat desa masih memiliki otonomi dalam melaksanakan tradisi nenek moyang sendiri. dan sanksi 37.. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. cit. Walujo Iman. 390 – 391. di samping belum terlaksanannya sub-sub elemen yang lain. Pemberdayaan masyarakat desa menuntut adanya tipe kepemimpinan partisipatif. Dalam realitasnya melalui sarana legal atau hukum (dalam bentuk perundang-undangan) pemerintah supra desa (terutama pemerintah kabupaten) mengatur dan menuntut ketaatan desa. Hal ini perlu dipertahankan dan selanjutnya diberdayakan. 18 . dari berbagai perspektif telah banyak dilakukan. 2006. Bagi masyarakat desa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. tetapi juga otonomi masyarakat desa dalam menentukan diri dan mengelola apa yang dimiliki untuk kesejahteraan sendiri. 36 Kushandajani. tumbuhnya emosiemosi positif bagi pembangunan desa yang lebih baik. Kenyataannya kebijakan keseragaman sangat dominan. 24 Ibid.28 tahun 1980. Universitas Diponogoro. cit. dalam meneliti Pemberdayaan Isworo 35 Organisasi Lokal Tingkat Desa menemukan terdapatnya hubungan antara elemen organisasi dengan elemen masyarakat. saling berbagi. Apabila mendapat dukungan dari varian administrasi pemerintahan lokal dan programprogram pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa.. Kegiatan-kegiatan sosial budaya itulah yang membentuk social capital masyarakat desa. oleh masyarakat serta untuk masyarakat. maka pembangunan akan berhasil 34. Melalui social capital terbentuk rasa saling percaya. I Wayan Surpha 38. Baik untuk kalangan masyarakat maupun tokoh masyarakat akan tetapi kadar hubungannya lemah. Eksistensi Desa Adat dan desa Dinas di Bali. I Wayan. I Wayan Suarjaya. Keterbatasannya adalah belum dikemukakan mengenai bagaimana pola pelayanan publik di Desa yang didasarkan pada modal sosial. Hasil penelitiannya Revassy. 17 Analisis pelayanan .

lebih banyak dilihat dari persepektif historis. I Gede. atau genealogis. 2007.22 tahun 1999. Munculnya desa ada empat 39 40 klasifikasi pokok yang mendorong yaitu. Diberlakukannya Undang-undang No. Pada masa kemerdekaan sampai dengan pemerintahan Orde Baru. mulai dari terbentuknya desa.. Pada masa pengaruh kekuasaan raja – raja Majapahit. pasang surut tugas pokok dan fungsi desa.. Denpasar. Desa Pakraman mendapat kesempatan dan peluang untuk tampil dalam memberikan pelayanan publik.(2) prinsip tinggal dekat atau teritorial. I Wayan Suarjaya. Pada mulanya sebelum kedatangan pemerintah Kolonial Belanda di Bali. hal 16 42 Ibid. 19 Analisis pelayanan . kedua jenis Desa tersebut diteruskan berjalan berdampingan. 41 Klasifikasi prinsip hubungan dari atas (pemerintah). Masuknya penjajahan Belanda. Tata cara Ibid. Ahli Antropologi James Danandjaya 43 melakukan penelitian tentang petani di Desa Trunyan Bali.490 jo Stb. Sejalan dengan penelitian tersebut di atas. 611. sampai dengan jaman reformasi. Kelemahannya belum mengangkat secara rinci pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. hal. 2003. Adanya upaya untuk penyeragaman desa di seluruh Indonesia. sesuai dengan Undang-Undang No. Desa Pakraman tumbuh dari bawah dibentuk dengan prinsip hubungan kekerabatan atau genealogis. (1) prinsip hubungan kekerabatan. desa dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan kolonial.681 39. dan (4) prinsip hubungan dari atas (raja) atau pemerintah. memenuhi kriteria munculnya Desa Dinas di Bali.. yaitu mengakui desa sesuai dengan hak asal-usulnya.. prinsip wilayah dan memiliki tujuan bersama. Penelitiannya mengungkapkan bahwa desa Trunyan adalah desa yang sangat tradisional. diuraikan tentang desa. Desa Perkembangan selanjutnya peranan Pakraman agak melemah karena adanya pengaturan secara sentralistik. mulai dari pembentukan desa. terjadi perubahan sistem pemerintahan. Desa Pakraman diatur berdasarkan awig-awig dan perarem sedangkan Desa Dinas diatur berdasarkan stb. dibentuk lembaga baru yang berfungsi untuk menangani pemerintah Kolonial dengan istilah Inlandsche gemeenten yang saat ini disebut dengan Desa Dinas. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Desa Pakraman di Bali Tinjauan Historis Kritis. Desa Dinas. 1989. hal. 20 . Jakarta. Dalam tulisan ini belum diuraikan tentang pelayanan publik oleh kedua jenis desa tersebut. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. 12 Ibid.. karena Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah kolonial. Hasil penulisan tentang desa tersebut. tugas pokok dan fungsi desa.1938 No.peranan Desa Pakraman dan Desa Dinas mengalami pasang surut. FISIP UI. pengaruh raja semakin kuat masuk ke dalam desa. hanya ada Desa Pakraman yang mengatur pemerintahan desa. hal. dan diberlakukannya Peraturan Daerah Bali Nomer 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman . Universitas Indonesia Press.5 tahun 1979. I Gede Parimartha menulis tentang Desa Pakraman dan Desa Dinas ditinjau dari segi historis. mulai sejak itulah ada dua jenis desa di Bali 42. Kedua lembaga itu dibiarkan hidup berdampingan. 14. Sejak pemerintahan Hindia Belanda. Desa ini mempunyai berbagai macam keunikan. 41 Parimartha. 40 Hasil penelitian tersebut hanya menitik beratkan pada kekuasaan serta pengaruh pemimpin Desa Pakraman dan Desa Dinas terhadap pemerintahan desa. (3) prinsip tujuan bersama. hal 24. 43 James Danandjaya. Memahami Desa Adat. dengan diberlakukannya Undang–Undang Nomer 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

lebih cepat melalui jalur bahasa agama. Kekhususan mengenai unsur-unsur kebudayaan Trunyan antara lain: sistem mata pencaharian. terutama perijinan. kekerabatan. membina dan mengembangkan adat dan budaya Bali yang dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana .7 No. Penelitian mengemukakan. 46 Agung. bahwa berdasarkan analisis SWOT. Berdasarkan letaknya yang jauh dari Ibu Kota Kabupaten. Semua unsur etnografis ini berkaitan. kemasyarakatan. dengan meletakkan secara khusus di bawah pohon Taru Menyan yang ada di Setra 44. hal 17 Suardana. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekowisata dan Kerajinan Rakyat. 49 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada sinergi yang baik antara Desa Pakraman dan Desa Dinas tetapi belum dikaji/diteliti tentang Pelayanan yang dilaksanakan oleh kedua desa tersebut. dan mempengaruhi tatanan hidup masyarakat setempat.. Kartu Tanda Penduduk (KTP) perpajakan dan administrasi pertanahan.. agama dan adat istiadat setempat. Studi kasus desa Ambengan Kabupaten Buleleng. 18 21 Analisis pelayanan . 22 . Jenis pelayanan publik yang dilayani. 2007.. Desa Pakraman berfungsi mengayomi. pola menetap dan sebagainya. Majalah Ilmiah pariwisata Universitas Udayana Denpasar Vol. Keunikan yang lebih spesifik adalah upacara perawatan jenazah yang sangat unik.. 2005 hal 13 49 Ibid. I Wayan Suarjaya. Keberhasilan pembangunan. Denpasar. DATI I Bali. yang artinya kuburan khusus untuk kerama Desa Pakraman setempat. Adapun arah pengembangannya melalui penyajian atraksi-atraksi seni budaya dengan memanfaatkan potensi Desa Adat berupa potensi budaya. hal 15 Ibid. Pemantapan Adat dalam Menunjang Usaha-Usaha Pembangunan. Peranan Bendesa prajuru dan Kepala Desa dengan beserta perangkatnya mendukung pengembangan Pariwisata Desa Ambengan. adat dan budaya setempat. kepercayaan. Dalam penelitian Setra bahasa bali. 1984. Proyek Pemantapan Lembaga Adat dan 44 tersebut ditekankan pula pentingnya pemantapan adat sebagai filter masuknya budaya asing. dilakukan oleh I Wayan Suardana 48 meneliti Pengembangan Desa Wisata berbasis ekowisata dan kerajinan rakyat (Studi Kasus Desa Ambengan Kabupaten Buleleng). Penelitian mengenai partisipasi masyarakat desa dalam pengembangan pariwisata di Desa Kemenuh dan Tenganan. I Wayan. upacara keagamaan. FISIP UI.1 2005 ISSN 1410-3729. Majelis Pembinaan Lembaga Adat Prop. (Pakraman) menyatakan bahwa Desa Adat mempunyai posisi yang lebih kuat dalam menunjang aspek pembangunan dibandingkan dengan peranan Desa Dinas. hal. serta menunjang pembangunan di segala bidang 47. Penelitian desa ditinjau dari perspektif pariwisata. Wisatawan dapat mempersiapkan diri sekaligus menetapkan pilihannya atas berbagai alternatif rangkaian atraksi untuk wisata yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman Ambengan. diteliti oleh Nyoman Sukma 47 48 Pengembangan Museum Subak. maka arah pengembangan pariwisata diselenggarakan dalam bentuk paket wisata. Peranan Desa Dinas lebih banyak dalam melakukan pelayanan di bidang administrasi dan pemerintahan. pengentasan buta angka dan aksara melalui sistem Banjar (perangkat terbawah dari Desa Pakraman ) menunjukan hasil yang optimal. 45 Agung dan Purwita 46 meneliti tentang Peranan Adat Dalam Menunjang Usaha-usaha Pembangunan .pengasuhan anak yang dipengaruhi oleh latar belakang etnografis seperti lingkungan hidup yang berupa habitat. AA dan IBP Purwita. hal 211. 45 Ibid. Desa Ambengan berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata dengan berbasis ekowisata. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan sistem Keluarga Berencana.

Penelitiannya mengemukakan bahwa pokok-pokok materi pada pembinaan Desa Pakraman diarahkan keharmonisan di kalangan tokoh-tokoh agama. Mencermati pelbagai hasil penelitian terdahulu. Ketiga. Yayasan Tifa. dapat dinyatakan bahwa. Disamping penelitian – penelitian yang disajikan tersebut. khususnya pemuda. hal. Pura Dalem dan Baleagung ). yakni: parhyangan (tempat suci : Pura Puseh. Jakarta. Desa Kemenuh pertama kali muncul dari pihak eksternal (LSM bidang pariwisata Bali) sehingga rasa ikut memiliki dari warga masyarakat agak kurang. I Wayan Suarjaya. Masalah pokok yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. 2007. pemerintahan. 24. 1984 Hal 22. dilaksanakan oleh Agung. AA. Majelis Pembina Lembaga Adat Prop. 50 Penelitian Desa Pakraman ditinjau dari aspek keagamaan. Majalah Ilmiah Pariwisata. keamanan dan kesejahteraan masyarakat yang dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana . Tingkat partisipasi dan tanggapan masyarakat di Desa Tenganan lebih menonjol dari pada masyarakat di Desa Kemenuh. Desa Pakraman mempunyai visi dan misi yang sama dalam menciptakan ketenteraman. Universitas Udayanan Denpasar 2005. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun. Kajian tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. adat dan lokalisme. Keunikannya adalah tradisi perawatan jenasah tidak dilakukan dengan membakar. Situasi dan kondisi sosial politik yang melatarbelakangi perkembangan Ekowisata di Desa Tenganan lebih menunjang. 50 RI. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor: a. dan keterbatasan sumber daya53. pawongan (anggota masyarakat). Isu dimaksud mengenai otonomi desa dari perspektif ketatanegaraan. Arsana 52 melakukan penelitian mengenai tata laksana dan pergaulan keluarga desa Adat Selunglung Sebayan Taka . hubungan yang harmonis di kalangan sesama umat manusia. 24 . agar masyarakat . IGKG. I Nyoman Sukma. karena memiliki kekhususan tradisi adat budaya yang unik. Pemilihan lokasi Penelitian Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede. pada pemilihan lokasi penelitian.Tata Laksana di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat Daerah Bali. keharmonisan antara manusia dengan alam. sedangkan pihak luar hanya berperan sebagai pendamping. Tingkat partisipasi dan tanggapan masyarakat pada kedua desa penelitian tersebut menunjukkan gejala yang berbeda. Materi Pembinaan Desa Adat. Bagaimana pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas ? Arsana..Arida. belum ada yang menelitinya. 53 Soetandyo Wignosubroto. studi kasus Desa Tenganan dan Desa Kemenuh. Sentralisasi dan Desentralisasi Pemerintahan masa Pra Kemerdekaan ( 1903 -1945 ) dalam. dan self – governing community) sebagai wilayah otonom pemerintahan yang paling bawah melahirkan berbagai isu. Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pengembangan Pariwisata.Dati I Bali. krama adat. Institute for Local Development..hal 35 51 Agung. ekonomi politik. dibandingkan desa lainnya. 14 . yang diwujudkan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup. dan palemahan (wilayah desa) 51. dan letak geograpisnya ada di pegunungan. kajian institusi lokal desa (local gavermment. Hal ini akan dijelaskan pula dalam metodologi penelitian. FISIP UI.. Suasana reformasi menciptakan masyarakat lebih terbuka dan bersedia menerima ide baru yang datang dari luar. hubungan manusia dengan Tuhan. 2005. 1990.39 23 Analisis pelayanan . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 52 Arida. Dalam penelitian tersebut dinyatakan kehidupan yang harmonis ditentukan oleh tiga unsur tata hubungan: Pertama . b. Inisiatif untuk mengembangkan Ekowisata di Desa Tenganan pertama kali muncul dari pihak masyarakat. Kedua. hal. yang telah menciptakan makhluk hidup serta alam semesta..

4. Hasil penelitian ini kiranya dapat mengkritisi teori dan sistem pelayanan publik yang telah ada dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan yang lebih optimal. 55 Undang-undang No. bahwa tujuan pemberian otonomi daerah adalah. untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat semakin baik. dalam rangka pengembangan ilmu administrasi publik. sementara itu Grindle M. Kerangka Pikir Dalam rangka menganalisis pelayanan publik.. l987. The Spirit Of Public Administration. Dalam undang – undang No. terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik oleh kesatuan organisasi pemerintahan terendah (desa). San Francisco. Hal yang sama diungkapkan oleh Savas. responsive dan equity. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah. efektivitas berhubungan dengan ketepatan.. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: a. dengan menambahkan ukuran equity. HG. Jossey-Bass Publishers. Bagaimana menyinergikan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dan jenis pelayanan pulik yang mana saja yang dapat disinergikan? C. pemerataan dan keadilan. Menganalisis pelayanan publik yang bisa disinergikan Pakraman dan Desa Dinas di Desa oleh Desa Wongaya Gede. 2007. Sebagai bahan masukan dalam mengungkapkan jenis pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas b. Tujuan Penelitian Mengacu pada permasalahan sebagaimana dikemukakan di atas. 22 tahun 1999 diperbaharui dengan UndangUndang No. terdapat teori dan konsep yang telah dikembangkan oleh para ahli antara lain: Frederickson.55 Pemberian otonomi daerah salah satu tujuannya adalah peningkatan kualitas pelayanan publik dan Frederickson. Mendeskripsikan pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas di Desa Wongaya Gede. hal.2. responsive berkaitan dengan daya tanggap pemberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2.. FISIP UI. Mengembangkan kehidupan demokrasi. dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 22 tahun l999 yang disempurnakan dengan undang – undang No. D. Disamping itu juga diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan partisipasi dalam pelaksanaan otonomi desa. economis. maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. dalam Getting Good Gavernment Capacity Building in the Public Sectors of Deploving Countreis. l967. efektif. Pradnya Pramita Jakarta hal.. 54 25 Analisis pelayanan .S. berkenaan dengan pelayanan publik. equity berkaitan dengan kesetaraan atau keadilan yang diterima oleh penerima layanan.Harvad University Press. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan economis berhubungan dengan biaya penyelenggaraan pelayanan. menambahkan ukuran responsive. Signifikansi Signifikansi teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan berupa sumbangan pemikiran.l997. Pelayanan publik secara teoritis diharapkan dapat meningkatkan pola pelayanan oleh aparatur pemerintah dari budaya yang dilayani menjadi budaya melayani masyarakat. 96. 26 . New York Harvad Institute for International Development. Bahan pemikiran mengenai aspek pelayanan yang dapat disinergikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas E. Signifikansi praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah Otonom dan Desa ( Desa Pakraman dan Desa Dinas) dalam upaya menyusun konsep dan strategi pelayanan publik agar dapat dilaksanakan lebih optimal. I Wayan Suarjaya.54 Kriteria efisien berhubungan dengan biaya. Savas dan Grindle yang terukur secara efisien.

Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Antar Daerah. Desa di sisi lain juga mempunyai posisi sebagai unit pemerintahan local (local government) seperti status yang dimiliki oleh Daerah. Pemberi pelayan publik di akar rumput. 2007. Pada sektor ketiga dalam penelitian ini diangkat pelayanan oleh grass root organization yakni organisasi yang tumbuh dari bawah.government organization (NGO)/grass root organization/civil institution (GRO). Roth. berdasarkan hak dan kewenangan asal-usul atau adat setempat. I Wayan Suarjaya. pemerintah/negara.. Pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah dewasa ini. maka paradigma yang digunakan adalah paradigma konstruktivisme (contructivism). dengan menggunakan landasan teori. 28 . Paradigma ini oleh Guba dan Lincoln sebagai seperangkat keyakinan mendasar (a set of basic beliefs)61. Konskwensi dari otonomi asli. Paradigma ini 58 Team penulis. Di satu sisi. Ygyakarta 2005. Oxford University Press.all. hal 3 60 Bhenyamin Hoessein. (2) desentralisasi dan pemerintahan lokal. maka local government juga bervariasi60. Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa. ketiga non Pelayanan publik oleh tiga sektor tadi adalah saling melengkapi dan membutuhkan kerjasama dalam mewujudkan pelayanan yang prima. Competing Paradigms in Qualitative Research. maka pelayanan publik di akar rumput menjadi tanggung jawab desa setempat58 Titik berat pelaksanaan desentralisasi ada di Daerah tingkat Kabupaten/Kota59. New York. Makalah yang disampaikan pada seminar sehari tentang Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah di Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara. bukan untuk menyuburkan ketergantungan masyarakat kepada pemerintah. SAGE Publications. local government dapat berarti pemerintah local. Menurut Bhenyamin Hoessein. pertama oleh Desa Pakraman sebagai self-governing community.. tetapi sebagai masyarakat setempat. Desa tidak mempunyai keleluasaan sebesar Daerah. LAN. Oppurtunities with Diminishing States and Rxpanding Market dalam Janvry. PT Raja Grafindo Persada. Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. 2001. (1) administrasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Norman. yang melekat pada desa.57. 1994.. dan Desa Dinas sebagai local government Mengingat tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan pelayanan publik oleh kedua desa tersebut. Market and Civil Organization. 30 59 Wijaya. hal. New Theories New Practices and Their Implication for Rural Development. Joko Purnomo. Variasi desa ditemukan juga di Bali. 56 Para pakar yang di maksud. Abdur Rozaki. hal 12. Oleh karena masyarakatnya berbeda-beda. Kajian mengenai analisis pelayanan publik oleh Desa Pakraman. dan Desa Dinas meneliti bagaimana pelayanan yang diberikan oleh ke dua desa tersebut. kedua sektor privat/swasta. dalam Norman K Denzin and Ivonna S Lincoln ed. Uphoff. Grassroots Organization and NGPs in Rural Development. kedua oleh Desa Dinas sebagai local government. tanggal 20 Nopember 2003. The Private Provision and Public Service in Developing Countries EDI Series in Economic Development Published 27 Analisis pelayanan . . hal l5 for the World Bank.. FISIP UI. Mac Millan Press LTD London. Anang Sabtoni. kesejahteraan masyarakat dalam bingkai prinsip-prinsip good government dan national unity. hal 5 61 Guba and Lincoln. karena alasan hitoris sosiologis. Kajian mengenai pelayanan publik dilakukan berdasarkan pendekatan kualitatif. Handbook of Qualitative Research. serta jenis pelayanan yang mungkin disinergikan. Alain de et. l99 57 Lembaga Administrasi Negara RI. Penerbit IRE Press. Posisi Desa tampak ganda dan ambigu. (3) pelayanan publik. Sutoro Eko. G. Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Desa tidak mempunyai posisi yang clear seperti posisi Daerah. mesti dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Cetakan pertama 2006. adanya Desa Pakraman sebagai self-governing community. bahkan posisi desa berada dalam yurisdiksi (control) Daerah.. London. Istilah local tidak diartikan sebagai daerah. Para pakar menyebutkan ada tiga sektor yang pertama sektor memberikan pelayanan publik56. sehingga tidak jelas dan sulit. serta menganalisis pelayanan yang bisa disinergikan. desa merupakan kesatuan masyarakat hukum (self-governing community) sehingga disebut mempunyai otonomi asli. State.

kemasyarakatan. analisis data. agama adat dan budaya. letak dan luas wilayah. kelembagaan Desa Dinas dan Desa Pakraman. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi uraian mengenai latar belakang masalah. maka hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mencari generalisasi yang luas. 2007.62 Selain itu pemahaman paradigma konstruktivisme ini. dengan beberapa alasan: 1) penelitian ini mencoba mengembangkan teori dan menggambarkan realitas yang kompleks. dimulai dari penentuan jenis penelitian. Bab II berisi landasan teori yang memuat tentang desentralisasi dan pemerintahan lokal. disain penelitian. berikutnya khusus membahas tentang Desa Dinas dan Desa Pakraman. Arah penelitian ini adalah berupaya membangun perpaduan jenis dan kritewria pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. tujuan penelitian. karena temuan tergantung pada interaksi antara peneliti dengan informan. Oleh karena demikian penggunaan paradigma konstruktivisme tepat.. budaya dan Agama.. sesuai kondisi objektif yang dihadapi yaitu. mulai dari pengertian. permasalahan. teknik pengumpulan data. ekonomi. pemerintahan. kerangka pikir. kemudian dilanjutkan dengan sinergi pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman. analisis pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman. bidang Agama. berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosilal. sosial budaya. Paradigma ini dapat digunakan untuk menganalisis pelayanan publik. realitas bersifat subyektivitas. 30 . konsep. penduduk dan mata pencaharian. keamanan. diakhiri dengan tahapan penelitian. artinya pemahaman tentang sesuatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Sistematika Penulisan Penulisan hasil penelitian ini tertuang dalam lima bab. pelayanan publik. I Wayan Suarjaya. Relativisme merupakan hasil konstruksi sosial. tidak bisa dipisahkan antara teori desentralisasi dengan teori pelayanan publik. artinya mementingkan pandangan informan. pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman dengan berbagai dimensi yang ada di dalamnya. pemilihan obyek penelitian. 62 Ibid. kebenaran suatu realitas bersifat relatif. signifikan penelitian. Bab V merupakan bab akhir yang berisi kesimpulan dan sejumlah saran yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman di Desa Wongaya Gede. 4) menggunakan perspective emic. Bab IV memuat tentang hasil penelitian. dan bidang pembangunan. 3) oleh karena tidak bisa dipisahkan dari konteks desentralisasi dengan pelayanan publik. FISIP UI.. sinergi bidang keamanan. serta strategi peningkatan kualitas pelayanan publik. sosial. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman. Bab III berisi mengenai metode penelitian. serta sistematika penulisan. F. kehidupan sosial.. Inti dari hasil penelitian ini dianalisis tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas. diawali dengan karakteristik Desa.digunakan karena konstruktivisme mentakrifkan ilmu sosial sebagai relativisme. hal iii 29 Analisis pelayanan . yaitu bagaimana memahami dan menafsirkan desentralisasi dan pelayanan publik dari segi persepsinya. 2) kajian pelayanan publik tidak bisa dipisahkan dengan pemerintah.

Kedua aspek tersebut adalah Administration of Development dan Development of Administration3. Duke University Press.BAB II LANDASAN TEORITIS A. hal 38. Connecticut : Kumarlan Press. Public Administration: Comparative Perpsective. hal 5 Development Administration. Bintoro. Frontiers of Hahn Been Lee.. USA.. LP3ES. Administrasi Pembangunan Administrasi pembangunan lahir sebagai reaksi atas kegagalan reformasi yang dilakukan oleh negara-negara berkembang yang umumnya lepas dari penjajahan untuk 1 2 Reaksi awal kegagalan tersebut dimulai dengan berkembangnya analisis perbandingan administrasi publik melalui alat-alat analisis perbandingannya. administration mencakup conduct administrative reform dan institutions building4. Administrasi Pembangunan dalam disertasi ini dipergunakan sebagai pisau analisis pelayanan publik. but nearly all of it has been administered. Kontribusi analisis perbandingan ini yang kemudian melahirkan administrasi pembangunan sebagai suatu pendekatan pembenahan administrasi negara (khususnya administrasi negara berkembang) dan juga sebagai suatu paradigma dalam ilmu Tjokroamidjojo administrasi negara itu sendiri. FISIP UI. dalam buku editorialnya. Op. 1971 hal 6 Analisis pelayanan . hal 3 4 Hahn Been Lee. Introduction.Dalam perkembangannya kemudian terdapat kurang lebih empat kecenderungan dasar dalam ilmu administrasi negara. Kedua aspek dari administrasi pembangunan dirinci lebih lanjut.. Hal 6-7 dan juga Heady. hal. cit. XVI.5 Fred W. 1991. Riggs 1 dan Hahn Been Lee2. dalam penerbitan PBB tersebut dibahas dua aspek dari administrasi pembangunan. hal 34. Indigenization Versus Internationalization. A relatively small portion has been devoted to administrative improvement as such. and Trends in Public Administration for National Development 1. Jakarta: 1994. Sebagaimana Fred W. I Wayan Suarjaya.. Ferrel. Marcel Dekker: 1991. Systematization of Knowledge on Public Administration: The Perspective of Development Administration. Inc. juga dalam Kartasasmita. Jakarta:1997.. Keith. Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. Umumnya pada saat itu. dalam buku editorial Gerald E. 5 “Enormous amounts of money have been transferred to developing countries since the second world war. in the sense of passing through the hands of officials. New York: 1991. New York: 1975. Ginanjar. Pengantar Administrasi Pembangunan. Klasifikasi dalam empat kecenderungan ini Henderson. Development Administration: Current Approaches and Trends in Public Administration for National Development.. diadopsi praktek (metode dan prosedur) administrasi negara maju. A Dragon: Progress Development Administration in Korea. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Administration of development mencakup policy formulation and planning serta management of development sedangkan development of programs and projects. LP3ES. 32 . Desa Dinas dan Desa Pakraman. 3 United Nations. 2007. IV.. Ali. Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Penerbitan Perserikatan Bangsa Bangsa di tahun 1975 yang berjudul Development Administration: Current Approaches mengembangkan kapasitas administrasi negaranya. Caiden dan Bun Woong Kim. 342 6 Tjokroamidjojo. hal 5. Riggs.6 mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut: “Perkembangan studi komparatif ilmu administrasi negara ini dapat pula dilihat dari segi alasan yang mendasarinya .. Marcel Dekker. Dalam Farazmand. Cet. Ed. Henderson mempertegas kegagalan pada masa awal beberapa negara berkembang mengadopsi administrasi negara maju dengan pernyataan berikut: mengisyaratkan bahwa Administrasi Pembangunan merupakan administrasi publik yang memusatkan perannya pada proses pembangunan nasional..

politik. 1994. fase kedua dengan pendekatan kuantitatif (positivisme).. Pierre9 hampir senada juga mengemukakan perkembangan Comparative Administration Group (CAG) dalam tiga fase: (1) fase konsolidasi. 2007.. hal 46. Kartasasmita menuliskan sebagai berikut: “Administrasi pembangunan berkembang karena adanya kebutuhan di negara-negara yang sedang membangun untuk mengembangkan lembaga-lembaga dan pranata-pranata sosial.. LP3ES. Jakarta... USA: 1991. Administrasi pembangunan bisa disimpulkan dapat berujud sebagai dua bentuk yakni. Editor Gerald E. Fase pertama ditandai dengan pendekatan struktural-fungsional yang kuat.“11 Esman lebih rinci menuliskan tiga kelompok masalah dalam administrasi pembangunan sebagai berikut: “I have identified thre clusters of problem: (1) the political dimensions of development administration. pertama sebagai gejela empiris yakni gerakan untuk mempengaruhi kemampuan administrasi negara dalam proses pembangunan suatu negara. Duke University Press: 1970. Edward Elgar.Public Administration: Compative perspective. Formula proses perencanaan (kebijakan) dan reformasi administrasi tidak bisa dilakukan hanya dari satu disiplin ilmu. hal 5 10 Neff.tidak konklusif.. adalah perhatian administrasi negara terhadap masalah-masalah pelaksanaan dan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan. (2) fase perkembangan ilmu perilaku. Jon. sebagai satu pendekatan dalam ilmu Tjokroamidjojo. cit.Bureaucracy in the Modern State: An Introduction to Comparative Public Administration.... Fred. administrasi pembangunan menjadi multidisiplin. Neff dan Dwivendi pun menggambarkan perkembangan administrasi pembangunan sebagai suatu gerakan reformasi dan pemikiran yang dimulai dari kegagalan ‘administrative state’ baik dengan pendekatan ortodoks ‘scientific management’ maupun neo-ortodoks. J. dan Dwivendi. Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. Development Theory and Administration: A Fence Around an Empty Lot. 1997. hal 6-7 Heady. Op. (3) fase ‘middle-range’ theory. North Carolina. 1982.. W.. (3) the performance of the administrative system of developing countries. Marcel Dekker. hal 38-39 9 Pierre. hal 34 12 Esman Milton.. atau kedua. Ed IV. Ferrel.12 7 Karena permasalahan yang cukup luas dan heterogen maka seperti dikemukakan oleh Neff dan Dwivendi di atas. CAG and the Study of Public Administration dalam Frontiers of Development Administration. hal 42-65.kecenderungan pertama. Bintoro. administrasi pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas administrasi negara dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan seperti dikatakan Tjokroamidjojo di atas.. FISIP UI. Hahn Been Lee juga senada dengan pendapat tersebut dalam tulisannya ‘Systematization of Knowledge on Public Administration: The Perspective of Development Administration’ dalam “A Dragon’s Progress: Development Administration in Korea”. 33 Analisis pelayanan . dalam Development Theory and Administration. Oleh karena itu menjadi sangat logis ketika Neff dan Dwivendi menuliskan teori administrasi pembangunan sebagai sebuah ‘a fence around an empty lot’ yakni sebuah pemagaran bagi tanah yang kosong10. New York. dan ekonominya agar pembangunan dapat berhasil. OP. 34 . dan fase yang disebut terakhir ditandai dengan meluasnya pendekatan yang digunakan dalam ilmu perbandingan administrasi. (2) the process of development planning. meliputi dua aspek (1) mengelola pembangunan yang 11 Kartasasmita. hal 3-8. karena memang tidak ada sistematisasi yang diterima. Kumarian Press. J.”7 Heady8 di tempat lain menyatakan hal yang sama dalam sub judul ‘prospects and options’ dari studi perbandingan administrasi dengan munculnya area atau fokus-fokus kajian yang salah satunya adalah administrasi pembangunan. Sebagai sebuah gejala empirik. 8 administrasi negara. I Wayan Suarjaya. Caiden. Edited by Riggs. 1991. Ginanjar.

dan (2) fungsional merujuk G.15 Bintoro maupun Kartasasmita sama-sama menyampaikan instrumen desentralisasi sebagai bagian dari administrasi pembangunan. that is grounded in the desire to place authority at lower level in a territorial hierarchy. Tjokroamidjojo. hal 81 17 Kartasasmita. Op cit.17 Berbeda dengan kedua pakar.. cit.. sedangkan sisi yang kedua. I Wayan Suarjaya. pengembangan instrumen desentralisasi dalam sebuah administrasi negara berkaitan dengan administrasi pembangunan lebih banyak menyangkut pembangunan administrasi walaupun tidak 13 14 trelepas dari sisi manajemen pembangunan. that is by transferring authority to an agency that is functionally specialized. Kartasasmita. Hongkong: hal. debirokratisasi. Kartasasmita. hal 47-71. 36 . walaupun secara teoritis pengambilan keputusan menjadi tidak sentralistik dan dapat lebih dekat dengan masyarakat. menggerakkan partisipasi masyarakat. mengatakan bahwa “Perhatian administrasi pembangunan adalah apakah usaha desentralisasi dalam berbagai bentuknya itu dapat lebih mendorong usaha .However. privatisasi dan ko-produksi. perubahan sikap birokrasi.. pemantauan dan evaluasi. dan Hulme. Bintoro. pembangunan administrasi menurut Kartasasmita menyangkut reformasi administrasi (pembaharuan administrasi).. adalah administrasi bagi pembangunan. Ginanjar. koordinasi. pengerahan sumberdaya pembangunan. hal 97 18 Turner. David. kepegawaian. menyebutkan jenis-jenis desentralisasi lebih lengkap dengan dua dimensi: (1) territorial. pembinaan lembaga.13 Yang pertama lebih banyak menguraikan pada level proses kebijakan. Sisi pertama yang disebutnya sama saja dengan manajemen pembangunan. hal 47-71. deregulasi dan regulasi. Bintoro. terdiri dari kegiatan-kegiatan perencanaan pembangunan. sedangkan yang kedua berkaitan dengan reformasi administrasi walaupun keduanya sama-sama dalam rangka meningkatkan kapasitas administrasi (administrative capacity).dapat berupa formulasi kebijakan pembangunan dan pelaksanaannya. transfer can also be made functionally.. Hyden18. reorganisasi. penguatan kelembagaan. Oleh karena itu kedua lingkup administrasi dua sisi yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. dan pengawasan pembangunan. tata kerja serta pengurusan sarana-sarana administrasi negara lainnya. Ginanjar. Jika kita anut pendapat Kartasasmita di atas. Jadi Kartasasmita menyebutkan dua aspek administrasi pembangunan seperti dikemukakan oleh Tjokroamidjojo di atas sebagai dua sisi dari administrasi pembangunan. Op cit.. Ginanjar. Op.”19 nations have pursued have not proven to be a Tjokroamidjojo. serta pengembangan etika birokrasi.14 Sisi pertama. Mac Millan Press: 1997. Sementara itu. cit hal 14. serta sistem informasi dalam manajemen pembangunan. Turner dan Hulme menyatakan tidak selamanya berhasil. Op. sampai evaluasi (perencanaan pembangunan). pemanfaatan teknologi. FISIP UI. penganggaran. Turner dan Hulme menuliskan sebagai berikut: Kaitannya dengan pembangunan. Turner dan Hulme. pelaksanaan pembangunan. Hal 152 16 15 35 Analisis pelayanan . 150 19 Ibid. di berbagai negara berkembang. 2007. Administration. Mark.usaha perubahan ke arah pembaharuan dan pembangunan ?”. Tjokoramidjojo. Governance. Pembangunan oleh Kartasasmita disebutnya sebagai ‘sisi’. Dituliskannya sebagai berikut: “The decentralization policies that third world “The basis for such transfer is most often territorial.16 Kartasasmita menyebutkan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai salah satu komponen administrasi pembangunan di Indonesia. Op cit. (2) membangun administrasi negara bagi pencapaian tujuan pembangunan yang meliputi penyempurnaan organisasi. pembangunan administrasi. and Devlopment: Making the State Work..

Hal 7-9. Op cit..”21 Cheema dan Rondinelli. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia.. Bagi Riggs. Coralie. Bhenyamin. Ferrel. but also to the realization that development is a complex and uncertain process that cannot be easily planned and controlled from the centre.. Model ini keseimbangan (equilibrium Heady. Jakarta. Modernization and Development Administration dalam Journal of Public Administration. Model awal yang dikembangkan oleh Riggs seperti ditulis oleh Pamudji27 adalah apa yang dikenal sebagai model).” 22 model telah banyak dikemukakan oleh para ahli administrasi pembangunan itu sendiri. Volume IX/ January. administrasi pembangunan sangat lebar membuka pengembangan model analisis obyek kajiannya dari berbagai disiplin ilmu seperti dikemukakan oleh Neff dan Dwivendi24. Bryant dan White menyatakan sebagai berikut: “Karena kelemahan yang tampak dengan jelas dalam kontrol sentral. hal.1. hal 53-57 26 25 37 Analisis pelayanan . G.26 Bryant. Hal 42-65 Ibid. Dan Rondinelli.”20 Secara teoritis dalam administrasi pembangunan. desentralisasi makin dipandang sebagai faktor penting dalam administrasi pembangunan.. Op. Shabir. Dennis. J. Lousie. 1967 No. Fred. I Wayan Suarjaya... Rusyanto L Simatupang. Ditulis oleh Riggs sebagai berikut: “In the same way we might recognize development in social system whenever certain specified consequences or sight are present. et al. LP3ES.Pengembangan desentralisasi dalam sebuah sistem administrasi negara dengan demikian diakui sebagai instrumen untuk memperkuat kapasistas administrasi negara dalam proses pembangunan. Riggs mengemukakan kriteria ekologi administrasi untuk menganalisis adanya pembangunan yang diartikannya lebih luas sebagai pembangunan sistem sosial. Laporan Penelitian Kajian Tata Hubungan Kewenangan antara Pemeirntah dan Pemerintah Daerah. pendekatan administrasi pembangunan mengikuti alur besar teori (grand theory) ‘struktural fungsional’ seperti ditulis oleh Heady. Bina Aksara. Hal: 213. dan Dwivendi. Bahkan Hoessein23 merujuk Maryanov menyatakan bahwa desentralisasi sudah menjadi semacam keharusan dalam satu tatanan kehidupan negara. 22 Cheema.. Sebagai bagian dari ilmu sosial. Jakarta. 1982.25 Lebih khusus lagi alur besar teori ini diikuti dalam kaitannya memahami pembangunan bagi sebuah sistem sosial dalam pendekatan administrasi pembangunan. Terj. FISIP UI. Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang. OP. sebuah sistem sosial terdiri dari berbagai unsur ekologis yang saling kait-mengkait satu sama lainnya dan membuat satu susunan struktural fungsional yang menentukan kapasitas sistem tersebut untuk terus-menerus berubah. Riggs. Kerjasama antara PKPADK-FISIP-UI dengan Kantor Menpan (2003) 24 Neff. Namun. berbagai 20 “The growing interest in decentralized planning and administration is attributable not only to the disillusionment with the results of central planning and the shift of emphasis to growth-with-equity policies. W. dan White. G. di tempat lain mengatakannya sebagai berikut: panacea for making state-sponsored interventions more effective in promoting development. 2007. 14 23 Hoessein. 38 . 27 Pamudji S. Elsewhere I have suggested that the increasing capacity of a social system to manipulate its environment so as ti enhance the ability of the system to make free choice among alternative courses of action might be one way to recognize the presence of development change. hal 174 21 Terlihat sekali dalam tulisan tersebut pengaruh struktural fungsional. desentralisasi adalah instrumen yang digunakan untuk menjamin kemampuan administrasi negara dalam meraih tujuan-tujuan pembangunan. Sebagai sebuah pendekatan. cit. cit.

tujuan tidak jelas. dan. Public sector decision making. masyarakat prismatik (prismatic society). Informality and trust Semi-informality but lack of trust disregard for rule of law. Celar and realistic. Worldbank Report: 1997. (4) ideological/ symbol patterns. comman and control. FISIP UI. semi-informal. Kampanye. Clear and Realistic Strong Consistent and functional.. Formal and legal. Strong Consistent and functional. Strong Input and output monitoring. 23 Maret 2004.. I Wayan Suarjaya. yakni (1) ‘less developed’. Kompas. Weak or extant Input control. Eko. 2007.28 Oleh karena itu. (2) social structure.29 Shah menawarkan tiga pola kelembagaan untuk mengatasi penjelasan berbagai negara yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu titik ekstrim tradisional dan modern.. Faktor-faktor ini mempengaruhi secara timbal balik suatu sistem administrasi negara. Peter Waldman yang dirujuk oleh Prasojo. Opini.’ dengan kesimpulan bahwa ‘developing countries’ memang ada dalam tahapan transisional melalui berbagai dimensi30. Operational Capacity. dan. (3) ‘Industrial’. baik di negara-negara agraria maupun negara industri. dan tidak terarah dalam evaluasi. Accountability. sulitnya mendapatkan realita bahwa beberapa negara terdapat ciriciri yang tidak selalu ekstrim antara model negara agraria (fused society) dan model negara industri (refracted kemudian Riggs mengembangkan model society). dan Anomi Sosial. 40 . Decentraliz ed. Demokrasi. Ciri-ciri dari 39 Analisis pelayanan .Balance. Disamping itu. Prasojo merujuk Peter Waldman kemudian menyebut masyarakat seperti ini sebagai masyarakat dalam keadaan transisional yang umumnya ditandai dengan gejala anomi (ketiadaan aturan).menggambarkan faktor-faktor ekologis yang terdiri (1) economic foundation. Strong Output Vague and Grandiose. Centralized. hal 3-4 Dimensions Less Developed Countries Developing Countries Industrial Countries Goals Authorizin g environm ent.. (5) political systems. Weak Dysfunctional. Oleh karena itu dikembangkan sub-sub model dari model tersebut yang terdiri dari sub-model imperial bureaucratic dan feudalistik dalam model negara Agraria. 29 Ibid. Anwar. Dapat digambarkan dalam tabel berikut ini: Tabel 1 Tipologi Kelembagaan Masyarakat 28 Prasojo. and Responsiveness: Lesson about decentralization. ada kesulitan menjelaskan fenomena empirik bagi masyarakat yang sedang berubah (the changing society). Perubahan-perubahan antar sub model dalam sebuah negara dapat terjadi dengan catatan pergerakan linear terjadi dari model negara agraria ke model negara industrial dan tidak sebaliknya. hal 30 Shah. Environment. Public Sector orietntation. Private Sctor. nampak negara berkembang dicirikan kapasitas kelembagaan yang ‘disfungsional’ dengan orientasi yang lemah. Decentralized. dan sub-model demokratik dan sub-model totalitarian dalam model Negara industrial. (2) developing countries. menyebutkan tipologi masyarakat tersebut sebagai satu titik (pola) keteraturan sosial. (3) communication networks. ‘gitcha’ Learning and improving Evaluation Culture Snake and ladders Berdasarkan tabel ini.

“Finally. Hal 10 34 Heady. USA.32 Dalam administrasi pembangunan. Op. MacMillan. hal 732 37 Peters. Handbook of Comaparative and Development Public Administration.. tending to side with the already priviledge.. 2007. Andrew dalam Introduction to the Sociology of Development. Negara merupakan satu struktur yang tidak mewakili kepentingan siapapun melainkan kepentingannya sendiri. LP3ES. cet I. London. Ferrel. 33 Heady. a-historis. 42 . hal 11 31 Pamudji. 41 Analisis pelayanan . Institutional Theory in Political Science: ‘The New Institutionalism’. Ledivina.. menganggap bahwa pandangan terhadap negara beralih menjadi sebuah institusi yang otonom. cit. hal 15-17.31 Pengembangan kelembagaan dari adanya pola-pola modern di sejumlah negara berkembang tidak menjamin adanya kemajuan dan efektivitas instrumen yang diterapkan.”36 Lahirnya neo-institusional ini didasari CNSW. So. Op cit. and other societal problems. Ditulis oleh Heady sebagai berikut misalnya. Leiden: 1999. Alvin dan Suwarsono dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. London: 1984. and more recently. Continum. dan berbagai buku-buku perihal pembangunan dan perubahan sosial. Ferrel. hal 16. The state here practically has the status of ‘playing referee’. seperti dikatakan oleh Heady dikenal juga grand theory Neo-institusional. Marcel Dekker: 1991. Guy.. hal 57-59 seperti diungkap pula oleh Heady. functionalism has been questioned by a variety of neoinstitutionaliests who differ in important respects but are in agreement that the primacy of emphasis on functions should be replaced by increasing attention to structures”33 oleh pandangan perilaku inividu dan pilihan rasional seperti ditulis oleh Peters. S. Op cit. dan non-struktural . Jakarta: 1991. membawa adanya negara yang otonom. dan principal-agent (agency model). dalam Farazmand. ide developmentalisme ini kemudian ditandingi dengan munculnya pendekatan pembangunan yang strukturalis. 2000 (reprinted). B. ethnic clashes.37 Institusi lama mempertentangkan antara siapa yang memerintah dan diperintah agar dicapai satu tujuan yang lebih baik dan untuk itu terdapat kemungkinan tekanan bagi yang memerintah oleh kelompok kepentingan. Ali. I Wayan Suarjaya. Ferrel. V. Peran negara pada neo-institusional ini oleh Heady merupakan pandangan lain dari kelompok ‘mainstream’ yakni baik kubu struktural fungsional maupun Marksis. and the Political Development. the Bureaucracy. Nicole dalam Muncipal Government in Indonesia. then the state is not only placed in a turbulent environment but the bureaucracy itself has to be recognized as among the 35 Carino. yang menghasilkan model sedangkan neo-institusional ‘public choice’. FISIP UI. 32 Misalnya yang ditulis Webster. Sejumlah riset membuktikan hal tersebut terutama mempertanyakan ide ‘developementalisme’ yang terlalu menekankan rasionalitas. Carino melukiskan birokrasi dalam pandangan ketiga ini sebagai berikut: “A third view sees the state as the entity forced to decide on labor-capital conflicts. Carino menuliskannya berikut ini: Neo-institusional ini dalam literatur lain.masyarakat seperti ini terjadi apa yang disebut: (1) heterogenitas. religious riots. Op cit. Carino35 Perhatian terhadap struktur ini ditujukan terutama pada Negara (state) yang dibedakan dengan masyarakat (society). (2) formalisme. Oleh karena itu dalam berbagai lapangan ilmu. “If this larger perspective is accepted. dan (3) overlapping. This view continues the liebral assumption of a relatively autonomous state but accepts the Marxist image of a society composed of conflicting groups with unequal economic and political power. Regime Changes. hal 93 dan Niessen. hal 731-734 36 Ibid. bahkan aliran yang diikuti Almond yang dinilai statis34..

USA. Jurnal PSPK. Dalam hal desentralisasi. 2007. at times even as innovator. model negara terencana adalah model status quo. J dan Dwivendi. Sementara itu. G. hampir sejalan dengan konsep ‘the administrative state’ jauh sebelum aliran ‘the new public berkembang. because the latter not only did not have the resources or imagination for such massive operation but also lacked the detachment and objectivity required for successful implementation of such program. while in seven nonMarxist African Countries. with a view to accelerating growth and inducing major changes in the industrial sector. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Ledivina. 39 38 Cheema. 43 Analisis pelayanan ..Administrasi pembangunan yang diilhami oleh pendekatan ini tentu menghasilkan analisis yang berbeda. I Wayan Suarjaya. sebagai berikut: “The government had to act as leader.000 in 1960 to 2 million in 1980. Shabir.. Nicholas. this view regards bureaucratic autonomy from both the state and society as an empirical question.. hal 353-354.. instrumen ini dikembangkan karena negara menganggap penting untuk pengembangan kelembagaannya bukan mewakili kepentingan pihak lain. Randall.”39 “After independence Nigeria created over 800 parastatals. Marcel Dekker: 1991. Lontoh. hal 42-65 44 Henry. Terj. Februari 2002. hal 21-22 Salomo. Administrasi Publik. Baker menuliskan apa yang dimaksud interventionist state sebagai berikut: groups involve in the struggle .”40 Apa yang dituliskan Baker sejalan dengan Rondinelli dan Cheema41 bahwa negara banyak berperan dalam tersebut dan secara mengembangkan ‘delegation’ keseluruhan negara banyak mengambil peran dalam berbagai sektor kehidupan.44 Belakangan the new public sector management memperbaiki konsep awal manajemen dalam administrasi publik. Ali. Kritikan ini membawa administrasi publik banyak mengadopsi teori-teori manajemen dalam studi dan gejalanya.42 Konsep ini kemudian mendapat kritikan tajam ketika paradigma ‘welfare state’ berkembang karena membawa akibat dahsyatnya kekuatan negara memasuki banyak aspek kehidupan.43 Pendekatan neo-ortodoks ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari pendekatan perilaku dan (atau) hubungan kemanusiaan dalam teori organisasi. Merujuk Das. hal 353-354. investor. Aransemen Kelembagaan dan Reformasi Pelayanan di Tingkat Lokal. Op cit. The Role of The State and Bureaucracy in Developing Countries Since World War II dalam Farazmand. 44 . Rajawaali Press.”38 employ between 40 and 75% of those in paid employement and Nigeria’s public sector grew from 200. Administrasi Negara Berkembang dan Masalah-masalah Kenegaraan. dan (2) negara terencana (planned state). Baker mengembangkan dua pola perilaku negara yang amat tepat digunakan untuk menganalisis pengembangan desentralisasi dan keterlibatan masyarakat lokal: (1) negara intervensionis (interventionist state). yakni bagaimana negara-negara 40 41 42 Gambaran negara intervensionis dicontohkan dengan pengembangan ‘delegation’ di Nigeria sejak kemerdekaan.. pendapat Baker di atas. 43 Nef. Luciana D. the state came to Carino. Ibid. FISIP UI. V... Nef dan Dwivendi menyebutnya sebagai pendekatan ‘Orthodoks’. hal 732 Baker. Jamal. Pendekatan manajemen ini diakui oleh Nef dan Dwivendi sebagai pendekatan neo-ortodoks. Jakarta:1988 hal 43. regulate and. Dalam ilmu administrasi negara. Konsep ‘The sector management’ administrative state’ ini berkembang sejalan dengan munculnya konsep administrasi publik modern yang berkembang pada awal abad 18. Edisi 1. dan Bake.. Op cit. Roy Valiant. Op cit. This could not be left to the private sector.

50 49 45 Analisis pelayanan . Dalam penelitian ini. aspek politik. In essence the public administration. Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh partisipasi. Pengantar Administrasi Pembangunan. umumnya melalui pemberdayaan masyarakat. berbeda dari administrasi pembangunan sebagai contoh misalnya (1) administrasi negara (lama) lebih banyak terkait dengan lingkungan negara maju.Jakarta 1974. Frederickson. hal 28-45 47 Ibid. saling berhubungan dan saling mempengaruhi keadaan dan proses perkembangan politik. Aspek sosial budaya yang terkait dengan proses administrasi pembangunan banyak dilaksanakan oleh berbagai negara. melalui pemberdayaan masyarakat. hal 9-10 46 45 “The planned state emphasized status quo. H. Administrasi Pembangunan terkait erat. Bintoro. lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan publik. hal 10 48 Tjokoramidjojo. I Wayan Suarjaya. Al-Ghozei-Usman.berkembang melakukan perubahan dilalui dengan satu pola yang teratur. Jadi apakah administrasi negara dalam berperan mampu meningkatkan keadilan sosial ?47 Sesungguhnya hal ini sama dengan apa yang dikemukakan oleh Tjokroamidjojo sebagai administrasi pembangunan untuk dibedakan dengan administrasi negara (lama) 48. under its guise or neutrality and objectivity. dkk. perkembangan di bidang kehidupan masyarakat lain. became an instrument for system maintenance rather than any substantial change. sosial budaya. Op. and its hierarchical priviledge structure and reward by seniority rather than result was fossilized. LP3ES. sedangkan administrasi pembangunan terkait dan memberi perhatian pada negara berkembang.46 Apa yang dimaksud sebagai administrasi negara baru oleh Frederickson adalah sebuah pandangan administrasi negara yang memasukkan dimensi keadilan sosial dalam analisisnya. Penerbit LP3ES. Terj. (3) administrasi negara cenderung legalistic approach. sering kali disebut “ turbulence”. hubunan yang netral. 46 .49 Pada titik ini antara Tjokroamidjojo dengan Frederickson mungkin dapat disamakan. Oleh karena itu dalam bukunya. Op cit. George. cit hal 357 Frederickson. Pemberdayaan masyarakat tersebut khususnya di Indonesia menjadi isu penting sejak tahun 1970-an. Dituliskan oleh Baker sebagai berikut: Dalam penghampiran seperti ini. iptek dan lingkungan hidup. sedangkan administrasi pembangunan lebih berperan kepada ‘change agent’. Cet IV. Jakarta: 1994. ekonomi. dan. Administrasi negara (lama) menurut Tjokroamidjojo. FISIP UI. administrasi pembangunan tidak bisa terlepas dari ekonomi-politik. Administrasi pembangunan dapat juga berarti kemampuan untuk menanggapi akibat-akibat dalam proses perkembangan dan pembangunan. administrasi pembangunan cenderung ecological approach. ekonomi. hal 10 Sumitro Djojohadikusumo... The colonial bureaucracy was ‘taken over’ rather that substantial changed. Administrasi Negara Baru. Bintoro. dan lain – lain.. 2007. Randall. Administrasi pembangunan memberikan prasarana peralatan dan penggerakan. hal 54. (2) administrasi negara (lama) membawa pada Baker. Pemberdayaan masyarakat melalui Tjokoramidjojo. maupun hubungan yang saling mendukung.”45 peran sebagai ‘balancing agent’. sosial budaya. Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.. Op cit. Hubungan ini dapat saling bertentangan.50 Aspek – aspek yang saling mempengaruhi administrasi pembangunan. administrasi negara baru menguraikan perkembangan ilmu administrasi yang mirip dengan perkembangan ekonomi-politik dimana paradigma yang mutakhir menurut penulis tersebut adalah ‘public choice’. Administrasi pembangunan bergerak dalam perkembangan pembaharuan yang cepat (change). tetapi jika ditelusuri dengan baik apa yang dimaksud oleh Frederickson ternyata administrasi negara bagi negara maju dengan dimensi keadilan sosial.

2. hal. Masyarakat menghendaki adanya alternatif lain yang memerintah melalui proses empowerment. Keberhasilan empowerment menurut Stewart sebagaimana yang dikutip oleh Waluyo mengatakan bahwa ada tujuh variabel yang perlu diperhatikan oleh organisasi yaitu. express.53 Variabel yang dikemukakan oleh Stewart tadi merupakan tujuh persyaratan dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan Nasional. 2) partisipasi menghendaki adanya kontribusi. berkembang terus sampai sekarang. shared vision. enthuse. staf organisasi perlu diberi pendidikan 51 52 empowerment is quite simply. (1) envision maksudnya para aktor harus mampu menggambarkan apa yang diingini oleh organisasi. (2) educate. Para pakar menyatakan bahwa bentuk pemberdayaan masyarakat dalam program pembangunan adalah dalam bentuk partisipasi. (7) evaluate. barriers. cit. Tetapi yang lebih penting adalah partisipasi dalam pembangunan. hal. 65-66 Khaeruddin. saat itu muncul gelombang pemikiran baru yang menentang kekuasaan mutlak dari Agama ( gereja dan raja ). maupun proses pemberdayaan.52 Tujuh variabel tersebut penjelasannya sebagai berikut. hal .partisipasi masyarakat merupakan salah satu prasyarat untuk keberhasilan pembangunan di Indonesia. Op. maka akan tumbuh sale coordinating. FISIP UI. a highly practical and productive way to get the best from yourself and your staff. menyediakan segala keperluan anggota. cit. Op. equip dan ev eluate. ekonomi. 64 Waluyo. eliminate. (3) eliminate .(6) equip. (5) enthuse . apabila anggota/masyarakat mengetahui dengan jelas vissi organisasi.51 Menurut Stewart mengatakan bahwa “ yang dimaksud adalah partisipasi staf atau masyarakat yang dimanfaatkan oleh pimpinan organisasi.. 65-66 Waluyo. Op. Jadi empowerment merupakan suatu alat bukan tujuan. Alat dan pelatihan yang cukup tentang program organisasi. educate. Pengertian partisipasi mengandung tiga unsur penting yaitu: 1) partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosional. Pranarka yang dikutip Waluyo mengatakan bahwa konsep empowerment muncul di awal gerakan modern di Eropah. Davis dalam Khaeruddin54 memberikan pengertian partisipasi sebagai bentuk keterlibatan orang secara mental dan emosional dalam situasi kelompok yang mendorong orang tersebut untuk berbagi tanggung jawab dan memberikan kontribusi terhadap tujuan kelompok. envision. menjamin agar seluruh sistem dan prosedur menjaminpencapaian tujuan. tetapi juga dalam pelayanan publik. Partisipasi masyarakat bukan hanya dalam bidang politik. dan 3) partisipasi merupakan tanggung jawab terhadap kelompok. cit. cit.. Pemberdayaan masyarakat Konsep pemberdayaan merupakan konsep baru. berorientasi kepada masyarakat. Sejauh ini mekanisme yang tersedia bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan publik dan mengemukakan keinginannya terhadap 53 54 Waluyo. mulai dikaji secara mendalam sejak dekade tahun 1970-an. 48 . I Wayan Suarjaya.. hal 28 47 Analisis pelayanan . seorang aktor harus mampu membangkitkan semangat pemberdayaan bagi seorang aktor harus mampu organisasi. Bentuk partisipasi masyarakat bukan saja dalam bentuk politik. Op.. Berdasarkan pandangan tersebut pemerintah dalam merancang program pembangunan maupun dalam bidang pelayanan publik. (4) express seorang aktor harus dapat mengekspresikan dengan jelas tentang pemberdayaan. evaluasi dan manitoring harus dilaksanakan terus menerus. 2007. seorang aktor harus mampu mengatasi segala halangan dalam proses pemberdayaan.

4) berbagai wujud partisipasi masyarakat diarahkan untuk mengembangkan pikiran. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Awig – awig Desa Pakraman. yang dikutip oleh Selamet. I Wayan Suarjaya. administrasi dan koordinasi kegiatan yang menyangkut tenaga kerja. 3) memiliki kemampuan pendidikan yang dapat mempengaruhi perilaku dan sikap masyarakat untuk berpartisipasi. hal 209 57 Kerama Desa adalah anggota masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban. (5) partisipassi berdasarkan intensitas dan frekuensi kegiatan (6) partisipasi berdasarkan lingkup liputan kegiatan. 2) keikutsertaan orang dalam berbagai kegiatan karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Jakarta 2005. termasuk keterlibatan dalam proses yang berjalan. adat dan budaya gotong royong masyarakat setempat melibatkan partisipasi masyarakat/Kerama Desa Pakraman. penyade dan memiliki kemampuan untuk berpartisipasi.58 Cohen dan Uphoff59 yang dikutip oleh Selamet.hal. jalur hukum. yaitu: (1) partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan. Maka dibutuhkan partisipasi masyarakat. 1989. PAU Studi Sosial. Penyaluran aspirasi dapat dilakukan melalui pemilihan umum. S Tangkilisan. tenaga. (3) partisipasi berdasarkan pada keterlibatan dalam berbagai tahap dan proses pembangunan terencana. memiliki akses untuk memanfaatkan peluang. sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam kebersamaan. (2) partisipasi berdasarkan cara keterlibatan. Tetapi mengingat keterbatasan dalam berbagai hal sehingga tidak semua kebutuhan masyarakat dapat diberikan pelayanan oleh pemerintah. terutama pelayanan di bidang sosial keagamaan. 11 Slamet. Wujud kongkrit pelayanan oleh masyarakat untuk masyarakat adalah gotong royong. 1) kesadaran orang untuk ikut berpartisipasi. (8) Hessel Nogi. pengarep. 2007. Partisipasi masyarakat dalam pelayanan timbul karena adanya. mengklasifikasi empat tipe partisipasi.. 27 60 Ibid. Kerama itu ada tiga kelompok. S Tangkilisan. Diessedorf60 memperkenalkan sembilan kategori bentuk partisipasi.. yaitu: memiliki peluang untuk memberikan pelayanan. biaya dan informasi. 29 59 58 49 Analisis pelayanan .56 Telah diuraikan sebelumnya bahwa tugas utama pemerintah adalah berkewajiban memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. uang dan 5) tujuan partisipasi ialah untuk mencapai kepentingan bersama.57 Guna melengkapi partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik pada berbagai sektor diperlukan beberapa syarat. waktu. pengele. Apabila mekanisme tersebut ternyata tidak efektif dan pelayanan yang tersedia tidak memuaskan. maka masyarakat dapat mencari jalan keluar seperti berhenti memanfaatkan pelayanan dan mengambil alternatif pelayanan dari penyedia jasa lainnya dalam wilayah hukum yang sama atau dengan pindah ke wilayah hukum lainnya55 Pelayanan publik oleh masyarakat adalah pelayanan umum diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan tingkat partisipasi pelayanan yang diberikan. (2) partisipasi dalam implementasi kontribusi sumber daya. seperti halnya kebutuhan masyarakat di bidang suka dan duka dilayani oleh masyarakat. UGM Yogyakarta. keterlibatan langsung masyarakat dalam penyediaan pelayanan. hal. Op. (4) partisipasi berdasarkan tingkat organisasi. yaitu: (1) partisipasi berdasarkan derajat kesukarelaan. untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.kebijakan publik dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian suara. hal 208. (3) partisipasi dalam kegiatan yang memberi keuntungan material. 55 Hessel Nogi. (4) partisipasi dalam kegiatan evaluasi. hal. Pt Gramedia Widiasarana Indonesia. cit.. FISIP UI. (7) partisipasi berdasarkan tingkat efektivitas. Manajemen Publik. 50 . 56 Ibid. jajak pendapat. Konsep-konsep Dasar Partisipasi Sosial. sosial dan personil..

et. cit.. Op. cit. Heaphy tidak menjelaskan konsep yang disebutnya. Menurut Azfar et al61. dan (9) Partisipasi berdasarkan gaya partisipasi. hal. dan agama dapat berpotensi untuk mengurangi efisiensi alokasi sumber daya dan penyediaan pelayanan publik. 52 . there is growing awarenes among many developing nation that their greatest resource in the development process is in their own people”63. Heterogenitas sosial penduduk dalam kaitannya dengan etnik. cit. Hal serupa juga akan terjadi akibat keberagaman ekonomi dan kepercayaan masyarakat.partisipasi berdasarkan siapa yang terlibat. et. Pada dewasa ini hampir seluruh proses pembangunan di dunia ketiga sangat tergantung pada partisipasi masyarakat. bersaing satu sama lain. hal. Pertama. Aspek struktur sosial meliputi keberagaman sistem dan struktur sosial dan ekonomi masyarakat. dalam buku editorial James J. Orang-orang yang berasal dari latar belakang etnik dan budaya yang berbeda seringkali sulit berkomunikasi dan bertindak secara kolektif. atau melengkapi administrasi daerah dalam mencari tahu pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap aspirasi rakyat. I Wayan Suarjaya. Desentralisai dan Pemerintahan Lokal Kajian administrasi pembangunan James J.. Sementara berkeinginan untuk lebih mengutamakan kesejahteraan anggota kelompoknya. Menurut Azfar et al62. FISIP UI. Op. Ada dua alasan yang mendasari efek detrimental aspek struktur budaya. masyarakat madani akan memberikan pedoman dan arah alokasi sumber daya serta membantu menekan pertanggungjawaban (akuntabilitas) yang menghasilkan tekanan eksternal atas pemerintah. Duke University Press.. Op. bahasa. 20 .64 B. James J. masyarakat madani yang aktif dapat mempengaruhi proses pemilihan dan hasil pemilihan secara langsung. visi elit pembangunan mengenai dimensi spasial. Keberadaan masyarakat madani terlihat dalam bentuk LSM atau organisasi nirlaba seperti kelompok kepentingan yang diwadahi dalam asosiasi. al. Rogers dkk. 19. 2007. b) heterogenitas etnik sering menyulitkan orang-orangnya untuk melakukan kerjasama dan melahirkan keputusan bersama atas suatu permasalahan. Heaphy Spatial Dimension of Development Administration. kelompok atau forum. hal. Kedua. Kelompok etnik yang berbeda sifatnya eksklusif. aspek struktur sosial ini bisa menjadi sumber masalah jika tidak dimanajemeni secara tepat. dan first and foremost. a) heterogenitas etnik akan meningkatkan perburuan rente dan akan mengurangi insentif bagi pengeluaran pelayanan publik produktif. Philip Mawhood menjelaskan konsep desentralisasi sebagai berikut: 63 64 61 62 Azfar. Spatial Aspects of Development Administration. Heaphey.. James J. strategi yang dirumuskan untuk menangani dimensi spasial seperti federalisme. al . norma budaya dan tradisi yang berpengaruh terhadap hubungan dalam dan antar masyarakat (kohesivitas). kepercayaan antar kelompok. Jadi.6 Waluyo Imam Isworo. 1971 hal 5 . Efektifitas partisipasi masyarakat terhadap penyediaan pelayanan publik tergantung pada efektifitas keberadaan masyarakat madani dan struktur sosial dalam masyarakat madani tersebut. yang dikutip oleh Waluyo mengatakan “ James J Heaphey mengkaji administrasi pembangunan dari dimensi spasial dengan pusat perhatian pada tiga hal. 57 51 Analisis pelayanan . Heaphey terlihat bahwa salah satu strategi yang ditempuh untuk menangani dimensi spasial adalah desentralisasi dalam organisasi pemerintahan. hubungan variabel yang penting antara aspek-aspek spasial dan administrasi pembangunan. Ketiga. Azfar. dekonsentrasi dan desentralisasi.

Shabbir Cheema & Dennis A.71 Local government dalam disertasi ini meliputi kesatuan-kesatuan pemerintahan di bawah Pemerintah Pusat di negara kesatuan atau di bawah negara bagian dalam negara federal.. are spent and invested at their own discretion65 Badan yang dibentuk tersebut lazim disebut local government. 1999. Keenam. Rondinelli mengemukakan berbagai ciri dari pemerintah (an) lokal. Rondenelli. 69 Ibid. in which local representatives are given formal power to decide on a range of public matters. penduduk dan identitas hukum (legal identity). distric.68 Oleh karena masyarakatnya berbedabeda. Kedua. pemerintah menjalankan sedikit pengawasan kepada pemerintah lokal. Their area of outhority is limited but within that area their right to make decision is entrenched by the law and can only be altered by new legislation.. 22. Ketiga.. Istilah local tidak diartikan sebagai daerah. ‘Decentralization in Developing Countries. Keempat. London: Sage Publication. Kesatuan pemerintahan tersebut adalah province. Harold F. pola Inggris.67 Menurut Bhenyamin Hoessein. Local Government in the Third World: The Experience of Tropical Africa. Kelima. pemerintah lokal dipandang sebagai tingkat pemerintahan yang terpisah dari pemerintah. Sage Publications Ltd. hal. I Wayan Suarjaya..72 Dalam disertasi ini local government dibatasi pada village (desa). Atas dasar kekuasaan dan fungsi tersebut tercipta otonomi. Alderfer. maka local govenment juga bervariasi. 2007. pola Soviet dan pola tradisional. Dikatakan: Exept for the traditional local government as it is to day is a product of Western civilization-even the Soviet with all of its revolutionary and socialistic instituions and practices has features not only from Tentang Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah di Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. subdistric. pemerintah lokal mempunyai status badan hukum dan kekuasaan untuk menarik sumber daya guna melaksanakan fungsi-fungsinya. Menurut Philip Mawhood. New York. Their political base is the locality and not-as it is with the commisioners and civil servants – the nation. Meenakshisundaram70 mengidentifikasi sejumlah ciri dari pemerintah (an) lokal. hal 5 70 SS. hal 58-59 71 G. kesatuan hukum yang terpisah. dalam SN Jha & PC Mathur (ed). New York: John Wiley & Sons. struktur 65 Phillip Mawhood.. Sejalan dengan pendapat Meenakshisundaram. Local Government in Developing Countries. 1964 hal 23 53 Analisis pelayanan . G. SS. Meenakshisundaram. hal 42 68 Bhenyamin Hoessein. pemerintah lokal memiliki batas-batas geografi yang jelas dan secara yuridis diakui dimana berlangsung kewenangan dan fungsi publik yang dijalankannya. sejumlah kekuasaan dan fungsi yang diberikan atau diakui oleh pemerintah. New Delhi. hal 9 67 Ibid. Toronto.. tanggal 20 Nopember 2003. 5. London: Mc Graw-Hill Book Company. Makalah yang disampaikan pada Seminar Sehari kelembagaan.. 2 66 Ibid. tetapi sebagai masyarakat setempat. 54 . pemerintah lokal dipandang berfungsi menyelenggarakan layanan publik. the creation of bodies sparated by law from the national centre. mengidentifikasi empat pola pemerintahan lokal: pola Perancis. Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Antar Daerah. 1983 hal. London. Pertama. 1983 hal. local government dapat berarti pemerintah lokal dan/atau pemerintahan lokal.. pemerintah lokal bersifat otonom dan mandiri. Decentralization and Local Politices.. subject to the stated limits.66 Local government juga memiliki multi fungsi.69 Perspektif wilayah. 72 Harold F.. FISIP UI. Tiap pemerintah (an) lokal memiliki wilayah dan penduduk tertentu. municipality dan village. local government memiliki anggaran sendiri dengan rekening yang terpisah dari rekening pemerintah dan memiliki wewenang untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang substansial. Shabbir Cheema dan Dennis A.. Decentralization and Development: Policy Implementation in Developing Countries. Alderfer. They have resources which.

whatever enhances customer satisfaction”. FISIP UI. 14 75 Sutoro Eko. Lungu (1980). Difinisi ini masih ada kelemahannya bahwa pelayanan itu bukan semata – mata tidak kasat mata. Masa Kini dan Masa Depan. Lorenzi. Gronroos menyatakan bahwa Pelayanan adalah suatu atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau oleh organisasi pemberi 77 Ciri pokok dari pelayanan sifatnya tidak kasat pelayanan. hal 33 2006 hal. mata (tidak dapat diraba) dan melibatkan upaya orang dan sarana yang disediakan oleh pelayan.79 Dengan demikian pelayanan merupakan suatu usaha untuk mempertinggi kepuasan pelanggan. Manajemen Pelayanan. 118 78 DeVery. isu keterbatasan sumber daya. it is difficult to point to any governmental system that is unaffacted by Western culture. hal. Pertama. Management Series. Pengertian kedua mengandung suatu Ibid. there is no other category. cit. 56 . dalam editorialnya..73 The term “traditional local government” as far as we are concerned here. Sutoro Eko menyebut pemerintahan lokal tradisional di Indonesia sebagai Desa Adat atau Desa Pakraman di Bali.... and little from administrative theories. sering diartikan sekelompok masyarakat. Keempat. AIM. 2005 . Pustaka Pelajar.. hal. Indigenous/traditional local government. Good Cervice is Good Busineess. C. Op. Local Government Management.prerevolutionary Russia but also from nineteenth century continental Europe. Disamping Desa Adat terdapat pula Desa Dinas sebagai local self government. Administrasi Pembangunan dan teori desentralisasi akan digunakan pula. 1999. Pelayanan Pubblik Menurut Ivancevich. sebagai pisau analisis pelayanan publik. Saheed Bayat & Ivan Meyer.7 Sample Stratrgies for Success. DeVery menyatakan bahwa pelayanan berasal dari kata service yang mengandung dua pengertian yakni “ . Ketiga. 55 Analisis pelayanan . for example. dalam disertasi ini. In other words. Desa Adat merupakan self governing community (otonomi Asli). Pengertian kedua ini sejalan dengan pendapat Davidow Uttal seperti yang dikutif oleh Endang Wiryatmi Trilestari yang menyatakan bahwa “.76 attendance of an inferior upon a superior” atau “to be useful”78. there is inadequate literature on indigenous administration. isu ketatanegaraan dan pemerintahan. I Wayan Suarjaya. Sementara. Mengenai pengertian publik dapat 77 ILD Jakarta. 2 Ratminto & Atik Septi Winarsih.. hal 94 TIFA – 74 73 kebermanfaatan atau kegunaan. South Africa. 2007. Kedua. all governmental institutions and practices are either Western or traditional.75 Berbagai penelitian dan kajian tentang desa di Indonesia selama ini terpusat pada empat isu kritis. hal. means that a government is indigenous to the place where it exists.. l994: 8 79 Endang Wirjatmi Trilestari. hal. isu adat dan lokalisme. Skiner dan Crosby yang dikutip oleh Ratminto & Winarsih bahwa pelayanan adalah produk yang tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha manusia dan menggunakan sarana.Catherine. Pengertian pertama mengandung unsur ikut serta atau tunduk. Nazeem Ismail. so for our purposes “traditional” means non-Western. Saheed Bayat dan Ivan Meyer mengamati bahwa: Undoubtedly.74 Selanjutnya dikatakan bahwa Oleh karena itu. But in all the world today. Competitive Edge. Dalam Pasang Surut Otonomi Daerah. Tahun. Sketsa Perjalanan 100. tetapi dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. 438 76 Nazeem Ismail. Terminologi publik di sisi lain. the Dalam tulisannya. International Thomson Publishing (Southern Africa) (Pty) Ltd. 14 Ibid. Otonomi Desa Masa lalu. isu ekonomi politik. observes that existing descriptions of indigenous administration come mainly from anthropologist and historians..

jasa.. Agustino..80 Frederickson mengungkapkan pengertian publik.adalah suatu masyarakat . Pelayanan publik menurut pandangan Roth adalah “… any services available to the public whether provided the public choice perspective. dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Kelemahannya adalah pelayanan publik seakan-akan hanya tugas pemerintah/negara saja. masyarakat dan stakeholders bukan hanya merasa teralienasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik tetapi yang lebih buruk lagi adalah pelayanan tersebut sering tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. distribusi. 2003. the service providing perspective. Op. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak – hak sipil setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang. penempatan masyarakat sebagai pengguna pelayanan yang pasif.com/cetak/1204/30/0801. yakni semua penduduk tanpa kecuali dalam suatu komunitas yang ikut berpartisipasi di dalam pemerintahan. Menurut Soepodo pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan institusi yang mempresentasikan tugas dan fungsi pemerintah/negara terhadap pemenuhan hak dan kebutuhan masyarakatnya dalam kehidupan bermasyarakat. Jurnal Forum Inovasi. without disthinguish between them “81. diakses 29 Maret 2006 81 Fredreckson. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. berbangsa dan bernegara. hal 12 85 Dwiyanto. Pengertian publik selanjutnya diungkapkan “ . cit. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indoensia. penyelenggaraan. dimana pemerintah memonopoli pengaturan. yang diberikan oleh pemerintah. 58 . sedangkan pemantauan/pengawasan oleh masyarakat ditempatkan sebagai pengguna layanan yang pasif. The Private Provision of Public Services in Developing Countries EDI Series in Economic Development Published for the World Bank. W. FISIP UI. cit. Kelemahan dari pengertian mengenai pelayanan publik juga dinyatakan oleh Dwiyanto85 bahwa pelayanan publik masih dikonsepsikan sebagai pelayanan pemerintah. Selain itu. Op. I Wayan Suarjaya. G. “.htm. institusi di luar negara juga memberikan pelayanan publik. Jurnal Forum Inovasi September Nopember. juga didorong oleh 84 Soepodo. pengaturan dan penyelenggaraan pelayanan publik.The public as a political community the polis-in which all citizens (that is adult males and nonsleves) participated” Artinya publik dilihat dari berbagai perspektif seperti pluralist perspective... 24. memberikan landasan pengertian mengenai pelayanan publik. hal 21 82 Endang..pikiran rkyat . hal 33 83 Gabriel Roth. the citizen persepective.84 Pandangan Soepodo ini memiliki kelemahan dan kelebihan. H.. Kedua pengertian ini saling memperkuat pengertian publik atau masyarakat. seperti halnya Desa Pakraman memberikan pelayanan publik. Leo.82 Pengertian pelayanan dan pengertian publik tersebut di atas. Publik dalam aneka perspektif: htt://www.polis. dan semua penduduk berpartisipasi di dalamnya.. Agus. 2007. the public to mean oll the people in a society. Harjoso. pelaksanaan dan evaluasi pelayanan publik. Akibatnya. T. Oxford 80 bentuk barang dan jasa kepada masyarakat baik secara individu maupun kelompok atau organisasi.. September – Nopember 2003. Padahal pada kenyataannya. Masyarakat dan warga pengguna layanan tidak memiliki hak untuk ikut terlibat dalam proses produksi. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam University Press. Dalam konsep ini peran utama masyarakat hanyalah menerima pelayanan publik. hal. publicly (as is a museum) or privately (as is a restaurant meal)83 Any services yang diungkapkan oleh Roth berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. 1987 hal 1. 57 Analisis pelayanan . Lebih lanjut dinyatakan bahwa jenis pelayanan publik adalah seluruh pelaksanaan tugas dan fungsi institusi yang bermuara pada pelayanan kepada masyarakat..

antara lain bersumber dari pajak yang dibebankan kepada setiap warga negara. common pool goods and collective involves things which people can not provide for them selves. Kemitraan Peneruntah Swasta dan Relevansi terhadap Reformasi Administrasi Negara.T.”88 Oleh karena demikian barang publik murni dikonsumsi secara bersama. 1) barang publik (public good). Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Vol I. FISIP UI. Sedangkan Savas mengembangkan jenis barang tersebut menjadi empat. Mengacu pada berbagai pengertian pelayanan publik yang dikemukakan pakar di atas.something made available to the whole of population. hal.. 60 . Inc. ketenaga kerjaan dan pertanahan. waktu pelayanan.orientasi birokrasi yang cenderung lebih terfokus kepada kekuasaan daripada pelayanan. cit. 2) barang privat (private good). Op. people must act collectively”. toll goods. 86 Pelayanan publik pada umumnya pemerintah melakukan pengaturan terhadap barang publik atau barang setengah publik. kependudukan. and non-excludability. hal 23 Dwiyanto. Savas. Barang yang satu dengan barang yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda. 59 Analisis pelayanan .T. “private goods. Pelayanan publik yang merupakan bentuk pelayanan terhadap warga negara. Dalam penyediaan kebutuhan secara berkelompok tersebut dipengaruhi oleh adanya perbedaan secara filosofis barang layanan. dan setiap orang tidak dapat dicegah untuk mengkosumsinya. Op. Public Choice an Introduction... mengingat biaya pelayanan publik. Aspek pelayanan meliputi. hal 34.87 goods”89. menuntut instansi penyedia pelayanan lebih bertanggung jawab terhadap pelanggannya tidak hanya sekadar melayani. 1987. dan indikator kualitas pelayanan.. aspek prosedur. 29. Jersey. cit.90 Implikasi dari konsep pelayanan terhadap pelanggan dan warga negara memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Privatization The Key to Bettrr Government. Oleh karena itu semangat organisasi publik dalam memberikan pelayanan tidak hanya mengatur penyediaan pelayanan tetapi lebih mengutamakan memberikan pelayanan kepada masyarakat. hal 23 87 Endang W. 1996 . Chatham House Phublishers. Pelayanan publik yang dilakukan birokrasi... Pelayanan publik ini terutama diberikan untuk hal hal yang sifatnya mendasar seperti pendidikan.. New York. Birokrasi publik dibentuk sering bukan untuk melayani warganya tetapi untuk menjalankan kekuasaan negara atas warganya. Agus. i. Pendekatan baru yang melibatkan masyarakat dalam pelayanan publik adalah “maklumat pelayanan” (citizen charter)91.a pure public good. Dwiyanto. Agus. Sejalan dengan kegiatan pelayanan publik dikatakan oleh Londsdale & Enyedi dikutif oleh Endang. perekonomian. Barang dan jasa dalam pelayanan publik oleh Olson dan Lean yang dikutip oleh Endang WT diketagorikan dalam dua kelompok.e. 38 86 Hakekat dari pelayanan publik adalah pemberian pemenuhan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban pemerintah atau institusi sebagai abdi masyarakat. 88 Iain Mc Lean. l987: 18 89 E. 2007.. biaya. and it Pengertian ini memberikan ciri bahwa setiap orang tidak dapat menyediakan kebutuhannya sendiri melainkan harus disediakan secara berkelompok. Op. Pendekatan ini menekankan warga dan stakeholders bersama-sama dengan penyelenggara pelayanan menyepakati keseluruhan aspek pelayanan publik. W. Warga negara yang juga sebagai pembayar pajak memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pelayanan publik. non rivalness. Agus. disamping itu tidak dapat dipisahkan antara konsumen dengan produsen. 1996. cit. I Wayan Suarjaya. S. Secara empiris pelayanan publik dapat pula bersumber dari institusi yang lahir dan berkembang dari masyarakat itu sendiri (self-governing community ) dan bukan atas dasar insititusi bentukan 90 91 Dwiyanto. Lean menyatakan barang publik adalah “. bukanlah pelayanan pelanggan (customer) tetapi melayani warga negara. 1996. New. adalah “. masih terdapat satu hal yang diabaikan dalam pemberian definisi.

92 Davit Mc Kevitt. kesehatan. tetapi kewajiban utama tetap ada di Pemerintah.. pelayanan yang bersifat individual (privat service) seperti pelayanan dalam membuat kartu tanda penduduk.. FISIP UI.. kesehatan. hal 38 94 61 Analisis pelayanan . dapat dibedakan menjadi dua. mengelompokkan Pelayanan ke dalam dua jenis pelayanan. Blackwell Publishers. pelayanan publik yang hanya dapat dilaksanakan oleh pemerintah. perhubungan dan lain sebagainya. core public sevice dalam pemerintahan didefinisikan sebagai. tetapi juga dilaksanakan oleh institusi/organisasi yang tumbuh dan berkembang dari bawah. pemadam kebakaran. hal 8 Davit Mc Kevitt. listrik. kedua sektor privat/pasar. pemerintah harus meningkatkan kualitas aparatnya dan sekaligus perlu belajar dari kalangan swasta yang menyediakan pelayanan yang baik dan mampu menjaga hubungan dengan konsumen. pertama. kebersihan sampah.94 Berbagai jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.93 Devas dalam Endang WT memisahkan pelayanan yang diperlukan atau yang dimungkinkan oleh konsentrasi fisik penduduk. Op. kedua pelayanan tersebut merupakan kewajiban pemerintah untuk menyediakan dan hanya dalam hal-hal tertentu yang menyangkut lebih banyak pada kepentingan individu pemerintah dapat melakukan partnership dengan sektor swasta. b. pelayanan pendidikan. which are important for protection of citizen well-being” termasuk di dalamnya pelayanan pendidikan. Menurut Uphoff. Pemikiran ini merupakan sebuah pendekatan modern yang dilakukan di negara-negara maju. Grassroots Organizations and NGOs in Rural Development: Oppurtunities with Diminishing States and Expanding Markets dalam Janvry. hal 79 96 95 92 93 hal 11 Savas E. lebih jauh memaparkan bahwa Dwiyanto. terdapat tiga sektor yang terlibat dalam memberikan pelayanan publik..96. pembuangan sampah.. surat izin mengemudi. pelayanan yang bersifat massal seperti penyediaan transportasi. 1998. pasar. Op. ketiga NonGovernment Organization (NGO)/Grassroot Organization/Civil institution. “. et all. Op. administrasi kependudukan. cit. 62 . Jenis layanan perkotaan tersebut adalah: jalan. Jenis Pelayanan Publik Penyediaan pelayanan publik. Devas menambahkan penyediaan pertokoan. cit. Agus. pertama. kedua.95 Para pengamat mengakui bahwa dalam era reformasi dan kompetisi yang membutuhkan kerja yang transparan dan efisien. Alain de. penerangan jalan. diharapkan pelayanan publik dapat terus ditingkatkan ke arah yang lebih baik. 1. air bersih. sehingga beban pemerintah tidak terlalu berat. sertifikat pertanahan dan lain sebagainya. pertama sektor pemerintah/negara. 30 Uphoff. Mac Millan Press LTD. Pada umumnya jenis pelayanan publik ini lebih bersifat pengaturan. Managing Core Public Service. kedua jenis pelayanan ini diberi nomenklatur yang berlainan. Di sisi lain pelayanan publik tidak sematamata dilakukan oleh pemerintah. Norman. pelayanan di bidang perijinan.. penyediaan lembagalembaga pendidikan dan pemeliharaan keamanan. Terlepas dari pembedaan sebutan yang diberikan. Uphoff. Proses pembelajaran seperti ini serta ditunjang dengan peningkatan kompetensi para aparatur. pelayanan publik yang penyelenggaraannya di lakukan secara bersama-sama antara pemerintah dengan swasta. pertamanan. New Pratices and Their Implications for Rural Development. a. Endang WT. 1995. Market and Civil Organizations: New Theories. sebagai contoh. secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yakni. State. cit. sedangkan pelayanan yang bersifat individual diberi nama privat service. keamanan dan kesejahteraan. Dalam beberapa literatur. S. 2007. pusat-pusat kesehatan. memeriksa kesehatan.those services. seperti.. yaitu untuk pelayanan yang bersifat massal disebut public service. London. kelompok pelayanan perkotaan termasuk envrionmental services. hal. kedua. I Wayan Suarjaya.negara/pemerintah.

dan (6) modus operandi pelayanan dilakukan dari bawah (bottom up). (5) dalam memberlakukan sanksi mempergunakan kekuasaan negara yang mempunyai sifat memaksa. tetapi pelayanan publik mencakup persoalan yang lebih mendasar yakni pemenuhan kebutuhan pelanggan. Hal ini wajar karena dalam setiap Savas. self-gaverning community. para penabung dan investor. (3) dalam memberikan layanan berdasarkan kepada aturan birokrasi (perundang-undangan). cit. Hakekat pelayanan publik bukan semata-mata persoalan administratif belaka seperti pemberian ijin dan pengesahannya atau pemenuhan kebutuhan fisik seperti pengadaan pasar dan puskesmas. (2) pembuatan keputusan pelayanan dilakukan secara bersama-sama oleh pemimpin dan anggota. hal 22 99 Uphoff. (4) kriteria keberhasilan keputusan/layanan adalah efisiensi yaitu memaksimalkan keuntungan dan atau kepuasan dan meminimalkan kerugian dan atau ketidak puasan. sedangkan pelayanan oleh sektor Grassroot Organization (GRO) yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman sebagai Sektor ketiga terdapat perbedaan antara NonGovernment Organiztion (NGO) dan Grassroot Organization (GRO). Ketiga sektor tersebut merupakan institusi yang saling melengkapi dan saling berhubungan dalam memberikan pelayanan97. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa ada jenis pelayanan yang tidak dapat dilaksanakan oleh pihak lain kecuali oleh pemerintah. bahkan tidak jarang GRO tumbuh dengan tingkatan lokal belaka. NGO merupakan organisasi yang jaringannya sampai service) Terminologi pelayanan oleh pemerintah (government diartikan sebagai pemberian pelayanan oleh birokrasi pemerintah melalui pegawainya kepada masyarakat101. (4) yang dijadikan sebagai kriteria keberhasilan suatu keputusan adalah terakomodasinya kepentingan anggota. (5) sanksi yang berlaku berupa kerugian finansial. Op. cit. setara dengan Desa Pakraman di Bali yang tumbuh dan berkembang dari bawah. Oleh karena itu. Kedua sektor privat: (1) mekanisme pengendali layanan publik mengandalkan proses pasar. hal 79 Suwondo. I Wayan Suarjaya. Op. hal 23 100 Uphoff. Op. FISIP UI. (3) pedoman perilaku adalah persetujuan anggota. cit. Pelayanan publik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fungsi dan tugas pokok pemerintah. 101 63 Analisis pelayanan . hal 24 98 97 ke tingkat internasional. Norman. (2) sebagai pengambil keputusan adalah administrator yang dikelilingi oleh elit ahli. (6) modus operandi pelayanan dilakukan oleh perorangan. dan (6) modus operandi layanan mendasarkan mekanisme yang berasal dari atas (top down) atau pemerintahan sendiri98.. Es. (5) sanksi yang ada berupa tekanan sosial anggota. Jenis pelayanan ini umumnya yang bersifat pengaturan yang telah ditentukan oleh peraturan perundang – undangan yang berlaku. Pertama sektor pemerintah: (1) yang menjadi mekanisme pengendali pelayanan adalah organisasi birokrasi yang berjenjang mulai dari pusat sampai ke daerah. strukturnya juga jelas mulai dari tingkat internasional sampai ke tingkat individual. (3) pedoman perilaku adalah kecocokan harga. (2) pengambilan keputusan dilakukan oleh individu. maka dalam penelitian disertasi ini dikaji dua sektor yang memberikan pelayanan publik yakni sektor pemerintah yang dilaksanakan oleh Desa Dinas sebagai local gavermment. Berdasarkan pendapat Uphoff yang menyatakan bahwa ada tiga sektor yang memberikan pelayanan publik. Norman. 64 .keberhasilan pelayanan publik banyak bergantung pada kolaborasi sinergis antara ketiganya. Op. 62.100 Ibid. hal.. Sedangkan GRO atau organisasi akar rumput adalah suatu organisasi yang tumbuh dari bawah. 2007. (4) kriteria keberhasilan keputusan adalah banyaknya kebijakan yang berhasil diimplementasikan. Organisasi ini tidak terstruktur sampai ke tingkat internasional...99 Ketiga sektor NGO dan GRO (1) mekanisme pengendali pelayanan adalah suatu asosiasi sukarela. cit.

seperti status kewarganegaraan. 104 Endang. hal. yang memberikan perlindungan kepada warga. 2007. pelayanan yang diberikan dalam bentuk pelayanan transportasi. Personal and local environmental functions adalah pelayanan untuk memenuhi kebutuhan individu dalam suatu masyarakat. Public protection fungtion merupakan pelayanan yang organisasi. S. sertifikat kompetensi. Pelayanan barang yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk/jenis barang yang digunakan oleh publik. guna mengurangi beban pemerintah dalam pelayanan publik. 1987. Pendapat Leach & Davis tentang pelayan publik oleh pemerintah.al 1996 Enabling or Disabling Local Government. G. KTP.”102 Setiap fungsi dilakukan dengan tujuan. 66 . yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik. IMB. “ . Fungsi Pemerintah dalam pelayanan sangat komprehensip. Leach & Davis memisahkan pelayanan dalam tiga fungsi. pendidikan. perlindungan masyarakat dari gangguan keamanan oleh petugas keamanan.. seperti hansip dan pecalang di Bali. seperti pelayanan dalam bencana alam. 1). New York: Oxford University Press.. paspor. Dalam penyediaan layanan barang dan jasa. Strategic infrastructure functions merupakan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah yang berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur. Op. air bersih. Roth105 menjelaskan bahwa pelayanan yang disediakan untuk publik diwujudkan dalam bentuk barang dan jasa.103 b).infrastructure function. menyatakan bahwa. pertamanan104. dalam bentuk pelayanan sosial seperti kesehatan. Ketika sumber-sumber daya publik cenderung semakin langka keberadaannya.. kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang. The Demensions of Analysis Govermance. pelayanan jasa. Pelayanan publik yang diberikan pemerintah dalam kerangka pemberdayaan masyarakat dan bukan untuk menyuburkan ketergantungan masyarakat kepada Pemerintah. sesuai dengan ketentuan Adat. a). The Private Provision od Public Services in Developing Countries. cit.. pemerintah berfungsi menyediakan jasa layanan bagi masyarakat. Pelayanan Administrasi. et. misalnya pendidikan. 2). Markets and Community. pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok. 3). 102 Steve Leach. akte kelahiran dan kematian dan lain sebagainya. serta bentuk pelayanan yang menunjang perekonomian masyarakat. Selain regulasi dan pengaturan.public protection functions. c). air bersih. I Wayan Suarjaya. Choices for thr Future Buckingham Philadelphia Open University Press. WT. 1996. yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai jasa yang dibutuhkan oleh publik. contoh. peran yang selama ini suka mengatur dan minta dilayani menjadi suka 105 Roth. personal.. 65 Analisis pelayanan . penyelenggaraan jasa pos dan telekomunikasi. and local environmental functions. Pemerintah dalam hal ini berperan dalam pengaturan dan pembuatan regulasi yang bertujuan untuk mengatur aktivitas pelayanan barang dan jasa kepada individu maupun kelompok yang berhak menerima pelayanan tersebut. perumahan. hal. Prasyarat dalam pemberian pelayanan adalah kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan demi kelangsungan dan perkembangan organisasi penyedia layanan. tenaga listrik. seperti jaringan telpon.. BPKB. hal 38. transportasi dan sebagainya. EDI Series in Economic Development Published for the World Bank. 3 103 Pecalang adalah petugas keamanan yang diangkat oleh Desa Pakraman. strategic terkait dengan kebutuhan dasar manusia untuk merespon suatu kejadian yang sangat penting. pemeliharaan kesehatan. pemenuhan dan pemberian pelayanan kepada pelanggan merupakan suatu tuntutan. maka seyogianya dikembangkan pemberdayaan baik di kalangan masyarakat maupun aparatur. dalam Leach. 36. Peran dan posisi birokrasi dalam pelaksanaan pelayanan publik harus diubah. FISIP UI.

. (10) tercapainya manfaat politik. Kegagalan mekanisme pasar tersebut dimanifestasikan dalam bentuk monopoli. Pelayanan yang disediakan oleh pasar belum secara optimal karena adanya barang-barang publik yang dapat dinikmati pada saat yang bersamaan oleh orang lain tanpa mempertimbangkan perannya dalam penyediaan barang publik tersebut. I Wayan Suarjaya. FISIP UI. mereformasi lembaga-lembaga secara struktural agar dapat menjalankan misinya dengan baik (re-structuring). hal. (5) dimungkinkan kepemilikan modal oleh pekerja. Pertimbangan politik dalam rangka menghindari kemungkinan masyarakat dirugikan oleh pelayanan yang diberikan pasar yang seringkali kepentingannya berbenturan dengan kepentingan publik. yaitu: a). Adanya kegagalan mekanisme pasar. Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan pemerintahan yang baik sekaligus dapat mereduksi biaya operasional dan pemberian pelayanan. (6) modal pasar diperkuat. Jurnal Admistrasi Negara. b). 107 Suwondo. Malang Vol I No. b). dan d). Penerapan konsep privatisasi dalam suatu manajemen pemerintahan akan memiliki implikasi berikut: (1) efisiensi dicapai melalui kompetisi. mereduksi ukuran dan jumlah lembaga pemerintah. Widya Mandala. dimana masyarakat tidak dapat menyediakan kebutuhan pelayanan secara sendiri-sendiri. mekanisme pasar dan Organisasi Non Pemerintah. Beberapa aspek kebijakan Birokrasi. suka mendengarkan tuntutan. 68 . Kenyataannya pelayanan yang disesuaikan tuntutan standar dan norma oleh organisasi publik masih perlu diperbaiki lebih lanjut. Bila barang dan jasa yang sebenarnya bercirikan swasta masih juga diproduksi atau terlalu banyak disubsidi oleh pemerintah. c). mempermudah prosedur (steamining). Op.106 Pemerintah berperan dalam bentuk pelayanan oleh birokrasi kepada masyarakat didasari pada alasan berikut:107 a).. Miftah.109 Pertimbangan filosofis yang mendorong pemerintah untuk privatisasi pelayanan kepada masyarakat.108 Uraian di atas menguatkan pemahaman bahwa pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi baik pemerintah maupun swasta dan lembaga lain dalam menyediakan jasa layanan kepada masyarakat. (2) keadilan. Soesilo. 67 Analisis pelayanan . dan ketimpangan informasi. skala ekonomi. melimpahkan fungsi kepada sektor swasta yang lebih profesional (privatezing). sebenarnya pemerintah tidak seharusnya mengerjakan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak110. Universitas Brawijaya. program. hal 2 108 Ibid.melayani. adanya eksternalitas yaitu manfaat dan kerugian dari suatu kegiatan produksi tidak diperhitungkan dalam penetapan harga. 2 Maret 2001. Yogyakarta. maka pemerintah secara selektif mengidentifikasikan barang atau jasa yang dikategorikan barang publik (public goods) dan dikategorikan barang swasta (private goods).. hal. Dalam kondisi demikian. Desentralisasi pelayanan Publik. (3) utang pemerintah dikurangi (4) kepemilikan modal perusahaan diperluas. cit. Organisasi pemerintah mesti dikelola secara baik. 2007. c). 6. dan staf (downsizing). Zauhar. 1999. kebutuhan dan harapan masyarakat. Hubungan komplementer antara sector Negara. karena terdapat kecenderungan pelayanan yang diterima masyarakat masih jauh dari yang 106 Thoha. hal 12 diharapkan. 5. (8) keterlibatan pemerintah dikurangi dalam pengambilan keputusan oleh swasta. maka pertumbuhan beban pemerintah 109 110 Ibid. (9) kepentingan nasional terlindungi. sehingga pelaku bisnis tidak tertarik untuk menyelenggarakan pelayanan publik.. (7) permasalahan dapat diatasi oleh sektor publik. hal 13 Suryawikarta.

. Penguin Book. Op. d. Struktur yang didesentralisasi merupakan suatu solusi yang mendekatkan pembuat keputusan publik dengan pengguna jasa publik. 24. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara pengambil keputusan dengan pelanggan yang oleh Stewart disebut sebagai close to the customer112. e. 70 . hal. menjadi flat. c. pendekatan manajemen yang didesentralisasikan. Pada tipe ini kewenangan pemerintahan Desa Dinas ditekankan sebagai penyedia langsung pelayanan publik pada lapisan grassroot. Op. . et. hal. modal. Hak ini mendorong dikembangkan paradigma reinventing govenrment dengan prinsip a smaller. Kewenangan birokrasi tradisional dalam penelitian ini difokuskan pada kewenangan Desa Dinas. hal.. tugas-tugas didefinisikan secara jelas. Tipe ini menurut pandangan Leach dkk116 sangat sulit dipertahankan dalam legislasi pemerintah. New York. Tanpa mengabaikan konsep privatisasi yang diterapkan. 24. Kondisi ini dikatakan sebagai pemerintahan desentralisasi dari hirarki maupun partisipasi dan tim kerja. penyedia kewenangan tersisa. sehingga efesiensi dan efektivitas dalam manajemen pemerintahan dalam pelayanan. FISIP UI. Leach Op. penyedia yang berorientasi pasar dan penyedia yang berorientasi masyarakat Ada tiga faktor kunci yang menentukan kapasitas pemda daerah. sehingga berbagai tuntutan pengguna jasa publik akan lebih cepat dapat direspon.. h. Oleh sebab itu.. cit. hal. et. maka pelayanan dilaksanakan oleh pemerintah daerah114 yang memiliki beberapa varian yaitu: kewenangan birokrasi tradisional.al. faster and cheafer government111. Op. 150. 111 Osborne. 113 Zauhar. Modal fisik dan non-fisik memberikan kesempatan kepada organisasi pemda untuk mengembangkan diri sesuai perkembangan jaman agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. cit. Tenaga kerja yang berkualitas tinggi dapat menjadi tidak efektif pemanfaatannya jika yang bersangkutan tidak memiliki akses yang cukup pada penggunaan teknologi yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan.. difokuskan terutama pada pelanggan.akan semakin besar. muncul desakan untuk berubah terhadap peran pemerintah yang lebih dimungkinkan dan menghilangkan otoriter dan sentralistik menuju pemberdayaan masyarakat (desentralisasi) hal ini tampaknya 114 115 116 1991 . yakni tenaga kerja (SDM). b. Adapun ciri-ciri dari struktur yang didesentralisasi (flat) adalah sebagai berikut113: a.al. David and Ted Gaebler. cit. 151 Asfar. menekankan pada kerja sama tim. Asfar. 2007.Op. jenjang manajemen yang semakin rendah. hal. upaya untuk mendekatkan pengambil keputusan dengan pengguna jasa memang diperlukan perubahan kelembagaan dan pembangunan kelembagaan. dalam konteks pelayanan publik. deskripsi tugas secara umum. f. 112 Zauhar. 10. hal. 283 69 Analisis pelayanan . cit. serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. g. tidak akan tercapai. I Wayan Suarjaya. dan insentif dalam pemerintahan. cit. Kewenangan birokrasi pemerintah daerah yang dilimpahkan kepada pemerintah lokal ini tidak memberikan perhatian yang cukup dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan tidak melakukan perbaikan pada pola-pola yang tepat dari penyediaan pelayanan pemerintah. Insentif yang didasarkan atas prestasi kerja (sistem merit) akan memacu pegawai untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas kerjanya sehingga dapat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan115. better. Secara kelembagaan. perlu perubahan struktur dari vertikal menjadi horisontal atau dari tall. jalur karier fungsional yang melewati berbagai fungsi. Reinventing Government: How The Entreprenuerial Spirit is Transforming The Public Sector. fleksibilitas yang meliputi tugas-tugas dan unit. Berbagai upaya tersebut pada intinya difokuskan bagi penataan pemerintahan dalam pelayanan publik agar dapat merangsang pertumbuhan sektor swasta dan masyarakat luas...

Pelayanan publik yang baik juga didasarkan pada partisipasi masyarakat. Guna mereduksi ketergantungan masyarakat akan pelayanan publik oleh pemerintah. Tipe ideal ini didasarkan atas pandangan bahwa seharusnya keberadaan pemerintah adalah menemukan berbagai kebutuhan masyarakatnya. 2007. dengan kata lain pelayanan yang diberikan tidak menimbulkan ketergantungan masyarakat. Liberty Jakarta. Monel pelayanan yang berorientasi pasar. vision (pandangan ke depan). pasar dapat lebih dipercaya sebagai mekanisme yang lebih efisien dan efektif untuk penyediaan barang/kebutuhan dan jasa. exceed expectation (harapan yang berlebih). pemerintah. 15-17. yang bertanggung jawab hanya pada seperangkat layanan yang terbatas yang tidak dapat disediakan secara langsung melalui mekanisme pasar atau melalui penyediaan jasa yang lain dengan mekanisme yang lebih tepat seperti pengembangan kerja sama atau melalui lembaga perwakilan pemerintah pusat. Tujuh pola pelayanan yang baik adalah self esteem (harga diri). Model ini menekankan pada peran pemerintah daerah sebagai penyedia terakhir (layanan sisa). Catherine. Kelebihan pandangan De Vrye adalah memperkenalkan pemberdayaan. pelayanan dari segi pembangunan kesejahteraan merupakan sesuatu yang urgen. I Wayan Suarjaya. 1) Model Penyedia layanan tersisa. Menurut Azfar et. membantu pemerintah mengalokasikan sumber daya yang sesuai dengan pilihan masyarakat. dan empower (pemberdayaan). Model pelayanan yang berorientasi masyarakat. Kecepatan pelayanan dari segi administrasi misalnya merupakan dambaan masyarakat. kualitas kontrol 2. Tiga model117 berikut ini lebih memungkinkan untuk diterapkan dalam penyediaan jasa layanan publik. recover (pembenahan). aspek pelayanan menekankan pada strategi pelayanan yang disebut sebagai The seven Secrets of Service Succes. Ekonomi dan Perencanaan. terlihat sejak akhir tahun 1970-an di berbagai belahan dunia. dan mengembangkan berbagai sarana pelayanan umum di satu sisi dan di sisi lain akan mengurangi beban pemerintah. improvement (pengembangan/perbaikan). 2). masyarakat perlu berpartisipasi. cit. Demikian pula halnya pada tataran makro. Filosofi dari pandangan ini menempatkan pemerintah lokal perannya yang lebih kuat dan lebih aktif dalam hubungan dengan pemberian pelayanan kepada publik. Kelemahan kriteria pelayanan publik yang dipaparkan oleh De Vrye adalah mengabaikan unsur efisiensi dan kecepatan pelayanan. memelihara. FISIP UI. Penerapan prinsip ini memerlukan penataan birokrasi pemerintah sebagai organisasi yang menyelengarakan pelayanan.. 72 . Secara historis.menjadi starting-point untuk melakukan perubahan.. Kriteria Pelayanan Publik Menurut Chaterine De Very119. Op. care (peduli atau perhatian). 3). Op. cit. l992 hal 27 118 Azfar. hal. disamping itu dapat memanfaatkan partisipasi/potensi masyarakat untuk bersama – sama memberikan pelayanan publik.. Partisipasi masyarakat dalam penyediaan pelayanan publik juga dapat mempromosikan akuntabilitas 117 Khaerudin. Melalui partisipasi. al118. 8 71 Analisis pelayanan . 119 DeVery.. Pembangunan Masyarakat ditinjau dari Aspek Sosiologis. khususnya di negara-negara maju terjadi perubahan paradigma dalam sektor pelayanan publik.. et al. partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik adalah keterlibatan masyarakat dalam proses politik memperlancar arus informasi antara pemerintah dengan masyarakat. masyarakat akan merasa memiliki. sekaligus meningkatkan masyarakat terhadap Pemda. Sehingga dengan demikian mampu bersaing dalam pemberian pelayanan barang/jasa. Menurut pandangan ini. hal.

A. 125 Maycunich. Performance Management: The New Realities. faktor kepemimpinan – kualitas dorongan. kompetensi. hal 78 Endang Wirjatmi Trilestari. Op. 92 126 Steers Richard. 2007. (2) aparat birokrasi yang melayani lebih mudah memahami dan mengevaluasi kualitas pelayanan publik dari pada masyarakat pelanggan yang dilayani (provider knowledge). cit. hal. Sementara itu. Pertama. dalam pemahaman Amstrong dan Baron124 terdapat beberapa faktor determinan yang mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik yang optimal. mengidentifikasi rincian kinerja.. Armstrong. faktor personal – keterampilan individu. responsif. Op. efektif mengacu kepada kesesuaian program dengan rencana. 11 Ibid. Ketiga. Keempat. Cetakan II. di antaranya: (1) variabel karakteristik organisasi. Kelima. Longman. serta fokus pada hasil jangka panjang.... hal. I Wayan Suarjaya. kualitas dan efektivitas kinerja pelayanan publik. Op. motivasi dan komitmen. Sedangkan efektivitas merupakan tingkat pencapaian tujuan suatu organisasi121. 74 . Michael and Baron.Perubahan paradigma ini menekankan perlunya pelayanan publik yang efisien. Efektifitas Organisasi. Pelayanan publik yang efektif dan berkualitas dapat menjadi salah satu indikator penting bagi keberhasilan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. 1998. dan (4) baik aparat birokrasi pelayanan publik maupun masyarakat yang dilayani sama-sama tidak mengetahui dan mendapat kesulitan dalam mengevaluasi kualitas pelayanan publik (mutual ignorance)123. FISIP UI. hal. (3) masyarakat yang dilayani lebih mudah memahami dan mengevaluasi kualitas pelayanan dari pada aparat birokrasi 120 121 122 yang melayani (recipient knowledge). setara mengacu kepada tingkat kesamaan kualitas layanan yang diterima masyarakat. 73 Analisis pelayanan . Efektivitas pelayanan menurut Skelcher dapat digunakan untuk pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah didasari pada pertimbangan bahwa efektivitas pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan ukuran dari luasnya organisasi dalam pencapaian tujuannya122. G. (2) variabel karakteristik aparat. responsif menjelaskan tanggung jawab dalam merespon pelayanan masyarakat. mengelola kinerja. C. Boughton dan Maycunich125 tentang faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan organisasi dalam mencapai kinerja pelayanan yaitu disebabkan karena organisasi gagal: menfokuskan diri pada kebutuhan stakeholders. mengurangi kekeliruan praktek kepemimpinan. Hal ini diperjelas dengan pernyataan Steers Richad126 bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan dalam mengidentifikasi kualitas pelayanan publik. Rue and Byars (1981) mengartikannya sebagai the degree of accomplishment. mendorong pegawai untuk terlibat dan mendukung organisasi. hal. yaitu: (1) aparat birokrasi yang melayani dan pihak masyarakat yang dilayani sama-sama dapat dengan mudah memahami kualitas pelayanan tersebut (mutual knowledge). Erlangga. 50. Hasil studi yang dilakukan Giley. efektif. dan setara120.1985. (3) variabel karakteristik kebijaksanaan dan (4) 123 124 Frederickson. faktor sistem – sistem kerja dan fasilitas yang disediakan oleh organisasi. 42. 16-17. sedangkan Trilestari merangkum pendapat para ahli dengan mendefinsikan kinerja pelayanan publik sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. hal. pedoman dan dukungan yang diberikan oleh pimpinan. Penentuan tolok ukur kualitas pelayanan publik dalam praktek tidak semudah membalikkan telapak tangan. cit. 42.. cit. ekonomis. New York. faktor kontekstual (situasional) – tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. Menurut Skelcher menyatakan ada empat alternatif yang terjadi dalam mengukur kepuasan. Efisien merujuk kepada waktu biaya layanan. Kinerja sendiri diartikan dengan beragam dan luas. London. menghubungkan kinerja organisasi dengan tujuan dan sasaran strategik organisasi. Skelcher. Efektivitas merupakan salah satu ukuran kinerja pelayanan publik. 1997. Kedua. Managing for Service Quality.. hal. 1992. Institute of Personnel and Development. faktor tim – kualitas dukungan yang disediakan oleh kolega.

. ekonomi dan efisiensi. bersifat memperbaiki dan kecepatan layanan. Efek samping menjelaskan tentang prosedur 129 responsiveness. November. Mencari format dan Konsep Transparansi dalam Praktek Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik. Ekonomi dan efisiensi menyangkut kepentingan ekonomi pengguna dan pembayar pajak. dapat digunakan model yang dikemukakan oleh Jowett & Rothwell dan Flynn dikutip oleh Ebdang. FISIP UI. Secara internal. 128 Ashari. hal 35. ada sejumlah metodologi yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja organisasi pemerintah. isi pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan (need) masyarakat. cit. Kualitas terkait dengan pelayanan yang bersifat komprehensif. hal. Persyaratan ini berhubungan dengan utilisasi fasilitas pelayanan publik. 62-63. Endang W. 75 Analisis pelayanan . dan kenyamanan dalam memberikan layanan.. Namun demikian. Kompleksitas karakteristik variabel kualitas pelayanan publik ini berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas pelayanan publik yang disediakan. Hoessein127 berpandangan bahwa kinerja pemerintah juga tidak dapat dilepaskan dari fenomena global dan nasional dengan menempatkan masyarakat sebagai elemen utamanya Indikator kinerja yang dikeluarkan pemerintah dianggap normatif dan administratif. efektifitas kinerja juga dapat dilakukan secara internal maupun eksternal organisasi. Transparansi Pemerintahan. efektivitas pengukuran kinerja dimaksudkan untuk melihat seberapa besar kepuasan pelanggan yang menerima jasa layanan publik. informasi. cit. Efektivitas kinerja pemerintah mengandung dimensi “akses. (3) masyarakat mempunyai kepercayaan (trust) kepada organisasi penyelenggara pelayanan publik (terkait dengan partisipasi dan komitmen sosial). Selain itu. Informasi terkait dengan ketersediaan informasi untuk membantu meningkatkan kesadaran dalam kualitas layanan. hal. Kinerja pemerintah dipandang efektif apabila proses kegiatan mencapai sasaran sesuai dengan tujuan awal. Organisasi pemerintah memiliki fungsi yang multi dimensional dengan pelanggan yang amat luas dan beragam. Bhenyamin. Kesenangan menyangkut faktor-faktor yang memberikan kesenangan. Sedangkan secara eksternal.. Benefit ditujukan untuk keuntungan kedua belah pihak yakni masyarakat dan pemberi layanan. (2) 127 Hoessein. Jurnal Forum Inovasi.i. Op. serta sulit untuk menggambarkan kinerja yang sesungguhnya. I Wayan Suarjaya. 2001. Dimensi tersebut menjelaskan uraian komponenkomponen yang lebih terperinci yang dijadikan indikator efektivitas organisasi. Pilihan menyangkut ketetapan akan pilihan masyarakat. (4) organisasi pelayanan publik harus selalu dan siap beradaptasi dengan perubahan lingkungan (nilai-nilai baru dalam pelayanan publik). keuntungan. Kedua belah pihak inilah yang sepatutnya menjadi penekanan dalam efektivitas pelayanan publik. Menurut Ashari128. 76 . Ganti rugi menyangkut jaringan untuk menyalurkan keluhankeluhan.T. dan masyarakat penerima layanan.WT129. Akses meliputi ketersediaan layanan dan tingkat keadilan pelayanan untuk masyarakat. Dalam kaitannya dengan pemerintah daerah. kesenangan menggunakan. tujuan dan misi pemerintah berbeda dengan tujuan dan misi organisasi swasta yang terdefinisikan secara jelas. Op. Pengukuran kinerja dari aspek internal dan eksternal dipandang cukup komprehensif karena menyentuh kepentingan pemberi layanan (pemerintah) dan yang menerima layanan (masyarakat). Persyaratan ini menyangkut Efektivitas kinerja layanan publik. dan efek samping”. secara teoritik ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pelayanan publik efektif yaitu: (1) organisasi harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan publik (memenuhi performance). kualitas. ganti rugi. Indikator efektivitas pelayanan masyarakat ini dibangun atas kesepakatan organisasi. keamanan. pilihan. Representasi berkaitan dengan akses komunikasi dari pengguna atau semacam suara pelanggan.variabel praktek manajemen. sebagai instrumen untuk melihat tingkat responsibilitas dari suatu kegiatan pelayanan kepada publik. 2007. birokrasi pelayanan.. representatif. 2.

133 Mark M Davis & Janelle Heineke. konsep Pressure to be Competitive.132 Kebutuhan Pelayanan terhadap barang/jasa berbedabeda. Op. pertanyaan yang muncul adalah. Endang. Op. 3.. Using Technology to Create Value. siapakah yang membuat standar pelayanan minimum (SPM)? Jika SPM telah dibuat maka sebelum ditetapkan dalam peraturan daerah (Perda). Aturan normatif tentang penerapan pelayanan publik di daerah belum secara tegas memuat tentang sanksi bagi pelanggaran pelayanan pemerintah daerah kepada publiknya. Seyogyanya hal tersebut secara kolektif dan terkoordinasi dapat dilakukan melalui sebuah wadah community association tanpa menunggu "korban pelayanan publik" yang semakin bertambah banyak. FISIP UI..keamanan dan dampak lingkungan. Salah satu teori birokrasi pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan publik dikenal dengan konsep. karena penilaian kualitas tergantung kepada perspektif yang digunakan untuk menentukan kualitas pelayanan publik. 3. Masyarakat perlu menyikapi hal ini dengan falsafah komunal yang Care. artinya jika tidak bersentuhan dengan ruang individunya maka seseorang akan bersikap apatis dan tidak mau tahu. Pada dasarnya terdapat tiga perspektif kualitas pelayanan publik.terlebih lagi dalam hal investasi dan perijinan. hal. sehingga publik dapat secara komparatif menilai pemda mana saja yang buruk atau baik dalam memberikan pelayanan publik. 78 . they view quality in light of the experience as a whole. Share and Fair (peduli. and it even can mean someting difference to the same person in difference service environments. Hal ini menuntut kesadaran masyarakat untuk peka dan sensitif terhadap pelayanan yang telah diterima. I Wayan Suarjaya. konsep publicity sanction artinya masyarakat berhak tahu dan mengerti institusi daerah atau pemerintah daerah mana yang buruk performannya dalam pelayanan publik. cit. Rather. (2) produk yang dihasilkan. hal 2. (3) proses dalam memberikan layanan. Maksudnya. 2007. Custamer of services are not always aware of individual dimensions of quality. New York. koreksi dan evaluasi dalam mengkritisinya.. cit. Dengan demikian. (1) pelanggan yang menerima layanan.. Dalam penerapan konsep pelayanan publik di daerah pada era otonomi. Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik terdapat Trilestari. berbagi dan adil)130. setiap permasalahan dapat segera terdeteksi dan ditangani secara dini. hal 295 132 131 77 Analisis pelayanan . seyogyanya dapat dilontarkan kepada masyarakat guna memperoleh informasi. masyarakat harus lebih informatif dalam menyampaikan berbagai koreksi dan evaluasi balik kepada pemerintah daerah. McGraw Hill/Irwin. Mengingat masyarakat adalah muara dari penerapan pelayanan publik. pertama. Dimensi-dimensi tersebut akan digunakan dalam melihat efektivitas kinerja pelayanan publik. Trilestari. W. Op. “... Tetapi yang terjadi adalah keluhan maupun kepuasan (satisfaction) yang muncul masih secara individual. Quality does mean somtering differemce to us. Kualitas Pelayanan Publik Konsep Kualitas bersifat relatif.133 Pernyataan di atas memberikan semangat untuk melakukan perbaikan terhadap kualitas pelayanan. artinya jika suatu era 130 pemerintahan (di daerah) sangat buruk dalam pelayanan publik maka telah ada mekanisme hukum tentang penggantian pimpinan daerah131. hal 42. Hal ini seringkali ditengarai telah terjadi "kekosongan" kebijakan publik dalam penerapan pelayanan publik.T. kedua. Hal ini dinyatakan oleh Heineke. cit. 2003. Managing Services.

Penggunaan teknologi konvensional mungkin sudah tidak cocok lagi ketika tuntutan pelayanan publik menyangkut ketepatan dan 134 Berry. Masyarakat dan Pelayanan Publik. dan terus mengembangkan pembelajaran kepemimpinan. pengembangan dan pemanfaatan Permas. Melalui sistem informasi yang benar para pelayan publik akan mengetahui apa yang diharapkan dan dirasakan publik dalam pelayanan publik. Riza. dan meningkatkan pelayanan publik. Organisasi seyogianya mengembangkan implementasi yang bertumpu pada aspek-aspek struktur. Ketiga. Sementara itu. teknologi. Jurnal Forum Inovasi. Achsan. FISIP UI. dan kejujuran. I Wayan Suarjaya. September – Nopember 2003. 94 Primahendra. dan daya tanggap kepada publik. teknologi. Keenam. pemulihan. Sejatinya pengukuran kepuasan publik terus dilakukan atas faktor-faktor tersebut. pelaksanaan. Menumbuhkan kesadaran pelayanan di antara pegawai bukanlah suatu hal yang mudah. peningkatan profesinalisme pejabat pelayanan publik.. perlu dikembangkan kebijakan yang mensyaratkan partisipasi publik dalam setiap proses kebijakan publik termasuk kebijakan yang terkait dengan pelayanan publik. Keempat. Oleh sebab itu. Struktur organisasi yang pendek misalnya akan menjamin pelayanan yang cepat. dalam Permas. Op. pengukuran kepuasan publik. korporatisasi unit pelayanan. Melalui umpan balik akan diketahui model pelayanan berkualitas seperti apa yang diharapkan publik. Kelima. Implementasi pengukuran dan umpan balik pelayanan dapat diupayakan baik melalui internal organisasi maupun melalui kemitraan seperti public private partnership135. 61. dibutuhkan pelayan yang berkomitmen. Termasuk dalam upaya menumbuh kembangkan kesadaran pelayanan adalah mempromosikan pegawai yang benar pada tempat yang tepat. terutama terkait dengan umpan balik. Negara mesti memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. Demikian halnya teknologi akan mendorong kecepatan dan keakuratan pelayanan. dan evaluasi136.sejumlah strategi yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut134 Pertama. membangun sistem informasi kualitas pelayanan. mempertahankan. dan memiliki wawasan dan kemampuan dalam mengantisipasi kecepatan dan umpan balik pelayanan.. memberdayakan masyarakat agar berpartisipasi dalam pelayanan publik. Jurnal Forum Inovasi. perubahan arah akuntabilitas dari proses penyediaan pelayanan pubilk. hal. 136 135 79 Analisis pelayanan . dimana perubahan dapat dilakukan melalui perubahan sistem politik yang menuntut para politisi memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. maka akan sulit bagi organisasi untuk mengembangkan kualitas pelayanan publik yang prima. diperlukan sistem informasi yang akurat untuk mengenali dan mengukur kepuasan pelanggan terhadap pelayanan publik yang diberikan. hal. hal. monitoring. dan sumber daya manusia. Partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik dilakukan melalui tahapan perencanaan. Kedua.. Selain itu. 93. Selain itu. penyedia pelayanan publik mesti memberi akuntabilitas pada negara dan masyarakat. implementasi melalui struktur. diperoleh pula informasi tentang pelayanan publik yang dirasakan berupa kepuasan atau sebaliknya. Kebijakan pelayanan publik antara lain diwujudkan dalam deregulasi dan debirokratisasi bidang pelayanan publik. Tanpa adanya kesadaran. Cit. September – Nopember 2003. keakuratan pelayanan. Keterpaduan Kebijakan dan Strategi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik. 2007. dapat bekerja sama. Di dalam memberikan pelayanan yang berkualitas mesti ditopang oleh sistem informasi yang benar. menekankan pentingnya kolaborasi pegawai. 80 . mengembangkan kepercayaan di antara pegawai dan pemimpin. Derajat kepuasan pelanggan terkait dengan strategi pelayanan yang ingin diterapkan yang meliputi reliabilitas. Selanjutnya. kejutan. dan manusia. Masukan yang diterima mesti ditindak lanjuti dalam rangka memperbaiki.. perlu dilakukan perbaikan hubungan masyarakat dengan negara. menumbuh kembangkan prinsip kepemimpinan pelayanan.

juga telah banyak dilaksanakan. setelah pengumpulan data selesai dilaksanakan. Data yang digali lebih terfokus pada pokok permasalahan.. 138 D. Dalam pendekatan ini warga dan stakeholders bersama menyepakati keseluruhan aspek pelayanan publik yang penting seperti prosedur.. Proposisi 1a. Konteks pelayanan publik di desa di kemukakan beberapa indikator utama pelayanan yaitu pelayanan pendidikan. Pendekatan baru dalam pelayanan publik adalah “maklumat pelayanan publik” (citizen charter)137. Desa Dinas lebih banyak memberikan pelayanan di bidang administrasi pemerintahan. gotong royong yang didukung oleh sikap. hal. Berbagai indikator pelayanan publik tersebut dianggap belum menjadi indikator utama untuk mengukur keadilan dan responsitas pemerintah. Op. pelayanan administrasi. terutama pelayanan di bidang sosial. Wignosubroto. 27 . pelayanan kesehatan. Keikut sertaan masyarakat dalam pelayanan sebagai wujud partisipasi masyarakat. diadakan penyempurnaan baik dari segi jumlah proposisi. Hal ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa penelitian kualitatif dilaksanakan dengan mengkaji landasan teori terlebih dahulu. hal. Proposisi Teoritik Penelitian tentang desa telah banyak dilakukan oleh para pakar. 81 Analisis pelayanan . cit. biaya..peningkatan partisipasi masyarakat. system pelayanan. dan Pengurus Desa Pakraman. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik lebih berat. Pembuatan proposisi sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan dengan maksud agar dalam penelitian bisa lebih terarah dalam pengumpulan data. lebih dahulu ada. birokrat Desa Dinas yang dibantu oleh perangkat Desa 137 138 government. cit. Proposisi 1b. isu keterbatasan sumber daya (SDA/SDM). teori desentralisasi dan pemerintahan lokal. teori Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat. 82 . dan pelayanan lainnya. 25-31. dan indikator kualitas pelayanan publik. pemerintahan. maka jenis pelayanan publik lebih banyak dibandingkan dengan oleh Desa Pakraman pelayanan publik oleh Desa Dinas. dalam memberikan layanan yang dilandasi oleh sikap toleransi. setiap saat bersedia memberikan masyarakat. al. Menurut pemahaman Dwiyanto.39. dan pemberdayaan masyarakat sipil. Soetandyo et. 2007. bersama – sama dengan Prajuru Dwiyanto. adat budaya dan agama.. ada tiga dimensi pelayanan. dari sudut pandang administrasi publik. dan cultur pelayanan. dari berbagai disiplin ilmu. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan tidak mengenal waktu pelayanan. Kerangka teori yang mendasari analisis pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman adalah. I Wayan Suarjaya. isu ketatanegaraan. Proposisi yang disusun masih bersifat sementara. isu politik dan ekonomi. belum ada yang menelitinya. Penyusunan proposisi penelitian ini dibuat sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan. Penelitiam tentang desa di Bali.. FISIP UI. pelayanan publik mesti direformasi baik menyangkut struktur. pelayanan transportasi. aktor pelayanan. iisu adat dan lokalisme. Proposisi yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Proposisi 1. Selanjutnya dikembangkan pendekatan baru untuk melibatkan masyarakat dan stakeholders dalam pelayanan publik. Dalam penelitian ini sebagai aktor pelayanan adalah. budaya. waktu pelayanan. sistem insentif. teori pelayanan publik. selunglung sebayantaka . Op. maupun dari materi kajiannya. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. hasil penelitian tersebut meliputi. Keberadaan Desa Pakraman dibandingkan dengan Desa Dinas. dan pemberian penghargaan dan sanksi kepada unit pelayanan masyarakat. mindset. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa proses pelayanan publik.

139 Pada masa kolonial pemerintahan Belanda tetap memegang konsep Desa Pekraman yang otonom. telah menyebutkan adanya desa di Bali.pelayanan. 2007. Proposisi 1.. Proposisi 2. kerja rodi. Argumentasi Proposisi. FISIP UI. . 2007. Pada awal abad – l4 ada hubungan Raja – raja Bali dengan Raja – raja Jawa. I Nyoman. pada zaman sebelum kolonial Belanda ke Bali pelayanan publik sepenuhnya di layani oleh desa pekraman. Pembentukan desa baru oleh Belanda di harapkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan pemerintah Belanda. Desa Pakraman menjalankan fungsi sebagai pengemban tradisi kebudayaan dan aktifitas ke agamaan. Zaman kemerdekaan sampai dengan zaman orde lama peranan pelayanan di laksanakan ber jalan bersama – sama tetapi. Denpasar. ada bidang tugas yang sama dan dapat dikerjakan bersama . kebudayaan masyarakat Bali sebagai daya tarik wisata.9. Desa Dinas menjalankan fungsi. Memahami Desa Adat. 2003. Universitas Udayana. Desa Dinas. hal. tetapi dapat juga terjadi konflik. sistem pemerintahan desa di Bali dalam bentuk Desa Pakraman. 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah. Pemerintah Belanda mulai membentuk desa . masih tetap dihargai dan diberikan hidup dan berkembang sesuai dengan adat. statis tetap di pertahankan eksistensi nya dari interpensi pihak lain. sedangkan Desa Dinas ada waktu pelayanan. Hubungan Desa dalam penyelenggaraan Pakraman dengan Desa Dinas pelayanan dapat terjadi hubungan yang harmonis. Dari kata dienst itu kemudian populer istilah Desa Dinas. Zaman Bali Kuno sebelum abad ke .. dikenal istilah dienst ( berdinas atau bertugas ). Dienst yaitu seorang pejabat di desa yang mempunyai tugas mewakili pemerintah Hindia Belanda untuk melaksanakan pekerjaan kedinasan dibawah Punggawa.. peranan sebagai wakil pemerintah resmi (Belanda) Terutama memberikan pelayanan di bidang administrasi kependudukan. Zaman reformasi dengan di berlakukan nya Undang Undang No. telah ada peninggalan Prasasti Sukawana A (th 804 Saka – 882 Masehi).. maka dapat menimbulkan hubungan positif dan negatif. Proposisi 3.140 Sistem pemerintahaan desa mengalami pasang surut. 139 Sirtha. 4 140 Parimartha. Zaman kolonilal Belanda baru muncul Desa Dinas.sama oleh kedua Desa tersebut. Universitas Udayana. merdeka.. dan yang berkaitan dangan pemerintah Belanda. Desa Pakraman. I Gede. Pembentukan desa yang baru ini tidak memperhatikan bentuk desa lama (Pekraman) yang sudah ada. Desa Pakraman muncul jauh lebih dahulu dibandingkan dengan Desa Dinas. memungut pajak. Masuknya Belanda ke Bali pada awal tahun 1908. Fakultas Hukum. sesuai dengan jam kerja dinas. Belum ada data yang pasti kapan Desa Pakraman pertama kali dibentuknya. I Wayan Suarjaya. dan Desa Pekraman. Bidang tugas yang sama bisa menumbuhkan adanya sinergi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman. desa mendapatkan pembinaan dan pengawasan yang lebih nyata dari raja. 18 – 21 83 Analisis pelayanan . hal. budaya dan Agama Hindu. Pengaruh raja terhadap desa mulai semakin kuat. Desa Dinas dan Desa Pakraman dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Belanda dalam melaksanakan tugas pemerintahannya.desa baru berdasarkan jumlah penduduk. 84 . mengakui keberadaan desa sesuai dengan asal – usul dan adat – istiadat setempat. Secara politis pemerintah Belanda mempunyai kepentingan untuk tetap mempertahankan tradisi. setiap 200 jiwa penduduk wajib pajak di dalam 1 lingkungan desa yang baru. Zaman orde baru peranan Desa Dinas lebih dominan karena di atur secara sentralistik oleh pemerintah dengan menyeragamkan fungsi desa seluruh Indonesia. semakin nampak pelayanan oleh Desa Dinas. Sistem ganda dalam pemerintahan desa.

budaya tersebut. termasuk memberdayakan lembagaannya dimaksudkan agar kondisi dan keberadaannya dapat lestari dan semakin kukuh. Karena azas kerukunan yang bersumber dari kehidupan bersama berubah menjadi kehidupan yang berdasarkan kepentingan individual. Kenyataan menunjukkan Desa Dinas sering menggunakan fasilitas yang dimilki oleh Desa Pekraman. Op.. hal 7 85 Analisis pelayanan . cit. Sehingga dapat berperan positif dalam pembangunan nasional dan berguna bagi masyarakat yang bersangkutan. Desa Dinas dalam memberikan pelayanan utama di bidang administrasi dilaksanakan di kantor desa sesuai dengan ketentuan jam kerja kantor pemerintah berdasarkan surat edaran pemerintah daerah kabupaten Tabanan tentang disiplin pegawai dan pemberlakuan jam kerja kantor.. I Nyoman. Pelestarian dan pengembangan Adat Istiadat. serta dikembangkan oleh Desa Pakraman. kaedah dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat desa dan atau satuan masyarakat lainnya. 86 .Proposisi 1 a Pelayanan publik oleh Desa Pekraman memberikan pelayanan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Kegiatan Upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat. maka akan terjadi dampak negatif. FISIP UI. Desa Dinas memberikan pelayanan pada bidang Administrasi pemerintahan saja.. diberdayakan dan dilestarikan. Pemberdayaan adat istiadat. dibandingkan dengan Pelayanan publik oleh Desa Dinas. tidak mengenal waktu. I Wayan Suarjaya. Ketika Desa Pekraman dan lembaga – lembaga adat di manfaatkan oleh pemerintah dalam menyukseskan pembangunan di segala bidang. 2007. tentang Pemberdayaan . Kadang – kadang Desa Dinas lebih dominan dari pada Desa Pekraman dalam menyelenggarakan pembangunan desa. Nilai – nilai luhur warisan budaya bangsa yang tumbuh dan 141 Sirtha. maka pelayanan juga diberikan 24 jam yang diatur secara bergilir diantara Prajuru Desa dan masyarakat. selalu mengikuti permintaan dari masyarakat. ketika perhatian pemerintah hanya menekankan pada kepentingan Desa Dinas saja. Tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dalam pelestarian tersebut cenderung lebih berat. untuk mengtur masyarakat setempat. sesuai dengan tingkat kemajuan dan perkembangan zaman. Kebiasaankebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat di Daerah Pasal 1 c menyatakan: “ Adat istiadat adalah seperangkat nilai dan norma. serta menjaga kelestarian adat budaya dan agama. Dampak negatif keberadaan 2 desa yang sama – sama mempunyai otonomi. Proposisi 1 b Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan dalam bidang adat budaya dan agama. Proposisi 2 Hubungan Desa Pekraman dan Desa Dinas dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat terjadi hubungan yang harmonis tetapi dapat juga terjadi konflik. budya dan tradisi masyarakat setempat.. sebaliknya Desa Pekraman beserta Lembaga – lembaga desa adat lainnya kurang mendapat perhatian. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomer 3 Tahun 1997. maka Desa Pekraman dan Desa Dinas dalam menyelenggarakan pemerintahan tampak harmonis. serta nilai atau norma lainnya yang masih dihayati dan dipelihara masyarakat sebagaimana terwujud dalam berbagai pola kelakuan yang merupakan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat setempat. Pelayanan pada bidang yang lainnya Desa Dinas hanya bersifat konsultatif dan koordinatif saja. sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.141 Adat istiadat. Upacara keagamaan ada yang dilaksanakan 24 jam.

berkembang di bumi Indonesia terdesak oleh nilai – nilai baru yang bersifat matrealistik. 142

Desa Pekraman merupakan organisasi tradisional yang mempunyai sifat otonomi asli berdasarkan atas asal – usulnya. Desa Dinas mempunyai hak dan kewajiban berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Sinerji Desa Pekraman dan Desa Dinas dapat terjadi dalam berbagai bidang kegiatan sebagai contoh pelaksanaan program pembangunan yang di canangkan oleh pemerintah, di teruskan kepada Kepala Desa melalui Camat. Kepala Desa Dinas dalam mensosialisasikan program pemerintah seperti program keluaraga berencana berkordinasi dengan Desa Pekraman. Sinergi yang dapat di laksanakan dalam program tersebut pemerintah menggunakan fasilitas Desa Pekraman seperti wantilan (balai banjar) di samping itu kegiatan yang ada di desa dapat di kerjakan bersama – sama saling melengkapi, isi - mengisi, dan bahu membahu dalam melaksanakan program. Munculnya dua sistem pemerintahan desa di Bali dimaknai oleh masyarakat sebagai perwujudan konsep dua unsur yang saling melengkapi (rwabhineda)143. Ada pandangan Desa Dinas merupakan bentuk formal dari sistem pemerintahan terbawah, maka Desa Pakraman adalah bentuk informal dari lembaga kemasyarakatan desa.144

Proposisi 3

Sirtha, I Nyoman, Op, cit, hal 6 Rwabhineda adalah filsafat Hindu yang menyatakan dua unsur yang berbeda tetapi saling memberikan arti, seperti siang dan malam, suka-duka, baik buruk . rwabhineda ini bagaikan mata uang dua sisi yang berbeda tapi salah satu sisinya tidak ada maka mata uang tersebut tidak ada nilainya. 144 Parimartha, I Gede, Op, cit, hal, 32
143

142

87 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

BAB III METODE PENELITIAN A. Pemilihan Objek Penelitian Pemilihan lokasi penelitian di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Propinsi Bali, di dorong oleh keinginan untuk mendalami keberadaan dua jenis desa yang ada di akar rumput. Sebagaimana diketahui bahwa Propinsi Bali dalam penerapan Otonomi Daerah ternyata dalam pembagian wilayah maupun sistem pemerintahan, mengenal dua institusi Desa (Desa Pakraman dan Desa Dinas) sebagai ciri khas Daerah Bali. Dasar pertimbangan memilih objek penelitian ini sebagai berikut: Pertama, satu-satunya Provinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai dua kelembagaan organisasi tingkat desa ( Desa Pakraman dan Desa Dinas ), yang memberikan pelayanan publik. Kedua, Kekhususan sistem pemerintahan tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat Desa Pakraman adalah bentuk desa yang sangat tua, tumbuh dan berkembangnya Desa Pakraman bersamaan dengan masyarakat Bali. Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah Balanda, pada mulanya memberikan pelayanan di bidang pemerintahan saja. Setelah kemerdekaan sistem Pemerintahan Desa Dinas masih diterapkan sampai sekarang. Undang-Undang Pemerintahan Desa berulang kali berubah tetapi bentuk Desa Dinas dan Desa Pakraman di Bali masih tetap diakui. Ketiga, peneliti memilih Desa Wongaya Gede, karena Desa Wongaya Gede memiliki tradisi adat dan budaya, sangat unik. Keunikannya adalah mempunyai tradisi sendiri dalam upacara Ngaben. Upacara Ngaben di Desa Wongaya Gede, tidak membakar jenazah, tetapi dengan mengubur saja, tradisi ini berbeda dengan Desa lainnya. Pemberian pelayanan pada saat upacara keagamaan juga mempunyai cara dan bentuk pelayanan tersendiri. Keempat, alasan subyektif karena peneliti lahir di Kabupaten Tabanan dan menjadi bagian anggota Desa Pakraman dan Desa Dinas di Kabupaten Tabanan. Sehingga
Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

dengan demikian diharapkan lebih mudah mendapatkan data. Ingin menyumbangkan pokok – pokok pikiran dalam meningkatkan pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pkraman. Kelima, Desa Wongaya Gede pernah diplih sebagai desa percontohan dan sebagai pemenang lomba desa teladan tingkat Propinsi Bali. Keberadaan Desa Pakraman dan Desa Dinas sangat variatif, maka diambil sampel bentuk desa diantara tiga kelompok desa: Pertama, jenis Desa yang wilayah Desa Pakraman berimpit menjadi satu dengan wilayah Desa Dinas. Kedua, jenis Desa yang wilayah Desa Pakraman, mewilayahi beberapa Desa Dinas. Jenis ini biasanya terdapat di wilayah kota Kecamatan. Ketiga, jenis desa yang wilayah Desa Dinas mewilayahi beberapa Desa Pakraman, sedangkan Desa Wongaya Gede tergolong tipe desa yang terakhir. B. Jenis Penelitian Penelitian mengenai analisis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongoya Gede Kabupaten Tabanan menggunakan pendekatan metode penelitian yang bersifat kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif digunakan didasari beberapa pertimbangan bahwa fenomena pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat digali secara lebih mendalam. Posisi peneliti dalam penelitian adalah sebagai “ instrumen alat ukur” 1 di dalam mengkaji fenomena yang dihadapi. Fenomena mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas bersifat dinamis. Metode yang digunakan dalam memperoleh data informasi bersumber dari: observasi, wawancara mendalam, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil data yang diperoleh diharapkan dapat menganalisis mengenai bagaimana pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas, serta bagaimana menyinergikan kedua jenis pelayanan
1

Mohajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Kedua, Penerbit Sarasin, Yogyakarta, 1990,hal. 16.

89

tersebut. Kedua masalah tersebut merupakan kajian pokok, sebagai tema dari permasalahan penelitian 2. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini didasari pertimbangan bahwa peneliti adalah: 1) sebagai bagian dari lingkungan yang dihadapi, dipandang sebagai faktor penting dalam menemukan originalitas (keaslian) hasil penelitian, 2) dapat menggali secara lebih mendalam mengenai kompleksitas fenomena pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas, karena peneliti sebagai bagian dari masyarakat Wongaya Gede Tabanan, 3) sebagai bagian dari masyarakat Wongaya GedeTabanan,maka diharapkan adanya keterbukaan 3 dari subyek yang diteliti, dengan demikian peneliti akan mudah memperoleh data/informasi yang dibutuhkan. Pendekatan kualitatif berada dalam perspektif yang berorientasi pada sistem manajemen yang kini sangat populer sebagai kerangka pikir untuk meneliti manajemen pelayanan publik. Penggunaan pendekatan kualitatif yang berorientasi sistem, didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu; pertama, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pelayanan, sehingga diperlukan pemikiran yang holistik. Checkland yang dikutip oleh Endang WT mengatakan, “... pada umumnya manusia tidak mampu menerjemahkan apa yang dialami dan diobservasinya secara menyeluruh. Juga sering tidak siap menerjemahkan dunia nyata, dalam bentuk atribut diskripsi, cendrung melakukan hal
Bakkar, Anton, Metodologi Penelitian Filsafat, cetakan keempat, Penerbit Kanisius Yogyakarta, 1990.hal. 25. 3 Keterbukaan merupakan faktor penting di dalam memperoleh data kualitatif, dan menganalisis kompleksitas permasalahan penelitian yang dihadapi, lihat Guba, Egon, and Yvonna S. Lincoln, Competing Paradigms I Qualititative Research, in Hanbook of Qualitative Research, edited by N Denzin and Y Lincoln, Macmillan, New York, 1994.hal. 62-67.
2

yang mampu dilakukan dari pada sesuatu yang seharusnya dilakukan.” 4 Dasar pertimbangan penggunaan pendekatan kualitatif, adalah data tertulis berupa dokumentasi pada organisasi pemerintah lebih – lebih pada organisasi tradisional, dalam praktik pada umumnya tidak lengkap. Hal ini diungkapkan oleh Cassel & Simon bahwa “

penggunaan pendekatan kualitatif diharapkan dapat menanggulangi ketidak lengkapan data penelitian, sehingga data yang didapat lebih lengkap dalam praktik penelitian. Dalam menanggulangi keterbatasan dokumen dan data yang dimiliki oleh suatu organisasi, dalam penelitian kualitatif keikut sertaan peneliti dan bantuan orang lain sebagai instrumen atau alat pengumpul data sangat diperlukan 6. Penggunaan jenis penelitian kualitatif, dipandang sangat mendukung kelancaran penelitian. Metode mengenai pananganan data, karakteristik penelitian, serta kemudahan dalam memperoleh data, maka dipandang tepat menggunakan pendekatan kualitatif, baik dalam proses penelitian, maupun dalam penentuan pengumpulan, pengolahan dan analisis data, serta penyusunan konseptualisasi teori 7 Pendekatan metode kualitatif yang bersifat deskriptif tersebut, lebih tepat dalam menggambarkan mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Metode kualitatif deskriptif dapat mendeskripsikan sinergi pelayanan publik serta aspek4 5

...quantitatif methods used in organizational research was not well documented” 5 sehingga dengan demikian

Endang WT, Op, cit, hal 106 Cassel C & Simon, G Reflection on the Use of Qualitative Methods, dalam Cassel C & Simon, G, Qualitative Methods and Amalysis in Organizational Research A Practical Guide Nrw York, Sage Publication, 1998:1 6 Endang WT Op. cit hal 108 7 Bakkar, Anton., Op.cit. hal. 30

90 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

91

yaitu. Teori tersebut untuk menganalisis pelayanan publik. Metode-metode Penelitian Sosial. Konsep-konsep yang dikembangkan menggunakan landasan teori desentralisasi. dan teori pelayanan publik. sehingga tujuan penelitian dapat dipenuhi. sehingga diperlukan lokasi dan subyek yang sesuai. Disain Penelitian Disain penelitian kualitatif menggambarkan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Penelitian deskriptif-kualitatif yang dilakukan ini berbeda dengan penelitian bercirikan hypothetico-deductive. FISIP UI.. Jakarta. Data dan informasi bersumber dari para informan. Penerbit PT. menyingkap.. Atas dasar pemahaman demikian. Penelitian deskriptif-kualitatif tentang analisis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas juga didasarkan pada pertimbangan bahwa di Provinsi Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan RI. Penelitian juga memperhatikan pada kondisi yang alamiah tanpa adanya intervensi. maka data yang berkenaan dengan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dikumpulkan secara langsung dengan menggunakan perpaduan metode emic dan etic. Gramedia.aspek apa saja yang dapat disenergikan.8 Informan yang dipilih adalah orang yang memahami tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman Pengambilan data informasi dengan dan Desa Dinas. maka penelitian deskriptif-kualitatif yang dilaksanakan adalah menggambarkan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. pengamatan dan wawancara mendalam ditekankan pada proses hasil. serta upaya-upaya menyinergikan pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. Hal ini sejalan pandangan yang menyatakan bahwa dalam fenomena orientasi penelitian kualitatifdeskriptif lebih diarahkan pada pengembangan teori. C. 2007. Teknik penelitian yang digunakan dalam mencari data tentang analisa pelayanan publik adalah survei dan observasi.Op. mengunakan teknik snowball sampling9..hal 37 10 92 Analisis pelayanan . Penelitian deskriptif dilaksanakan didasarkan pada alasan metodologis. Pendekatan analisis deskriptif digunakan didasarkan pada pertimbangan bahwa jenis kualitatif diskripif dianggap sesuai (compatible) dengan permasalahan. sementara penelitian deskriptif-kualitatif berupaya melahirkan teori tentatif10. terdapat dua Institusi Desa yang memberikan pelayanan publik. cit. (1) objek yang diteliti yakni Desa Pakraman dan Desa Dinas diperlakukan secara utuh sebagai permasalahan yang terintegrasi dan mendalam sifatnya. Peneliti sebagai instrumen penelitian. I Wayan Suarjaya.. (3) data yang diperoleh bersifat parsial untuk setiap jawaban subyek individu dan tidak dikuantitatif. sedangkan Desa Dinas dibentuk oleh Pemerintah dan bertanggung jawab kepada atasan langsung. serta dalam kerangka menjawab pokok masalah yang dikaji dalam penelitian. 93 . 8 9 Mengacu pada uraian di atas. (4) mencari. dan menentukan makna. (2) gejala mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dikembangkan melalui teori yang dibangun terutama menyangkut konsep desentralisasi dan pelayanan publik merupakan hipotesis kerja dalam penelitian. berusaha menggambarkan realitas pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Desa Wongaya Gede. hal 35 Vanderberg. 1990. nilai yang terwujud dari subyek penelitian dan (5) melibatkan diri dalam memproduksikan Nama-nama para informan dapat dilahat pada lampiran Mohajir. Dua tipe desa tersebut memiliki ciri sangat berbeda dari sisi sejarah pembentukannya. dimana penelitian hypothetic-deductive dimaksudkan menguji teori. Melalui pola demikian akan diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai permasalahan penelitian dan solusinya. Desa Pakraman dibentuk oleh masyarakat dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Melalui teknik ini penelitian membuat pedoman wawancara yang memuat daftar pokok-pokok informasi penting yang dibutuhkan dalam penelitian. konsep otonomi daerah dan pelayanan publik. Cara ini ditempuh karena peneliti berharap dapat melakukan interaksi optimal dan menyelami segala permasalahan yang dihadapi oleh institusi lokal tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kepala Desa serta Perangkat Desa Dinas. serta pakar yang menguasai seluk-beluk Desa Pakraman dan Desa Dinas. arah dinamikanya. peneliti mewawancarai sejumlah pakar yang berkompeten dalam bidang otonomi daerah dan pelayanan publik. dan kesejajaran dalam makna individual. (2) informasi lain. maupun kemungkinan detrimentasi (berlawanan arah) dari berbagai jenis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Selanjutnya.cit. I Wayan Suarjaya. dan anggota masyarakat yang mempunyai wawasan dan pemahaman tentang pelayanan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. (3) dari pakar yang menguasai permasalahan penelitian Desa Pakraman dan Desa Dinas. Teknik dokumentasi digunakan sebagai dasar untuk lebih memperkaya data dan informasi tertulis yang diperoleh dari sumber sekunder atau tertier. 95 . 68. Pertanyaan-pertanyaan diformulasi dan disampaikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami dan seringkali peneliti merubah bentuk pertanyaan ke dalam bahasa ibu responden (bahasa Bali). Pedoman ini lalu dikembangkan pada saat wawancara berlangsung untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan lengkap. dan (4) sumber tertulis yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. latar belakang. Selain itu melalui teknik observasi. Satuan analisis penelitian adalah pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Teknik wawancara juga digunakan secara simultan dalam penelitian ini. maka penelitian ini dilakukan dalam bentuk pencarian kesamaan. kemiripan.” Tujuannya adalah agar informan dapat memberikan informasi aktual. peneliti memperoleh data dan informasi dengan cara mengamati secara langsung kegiatan pelayanan kepada masyarakat yang diberikan oleh kedua institusi lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan disain penelitian pendekatan “deskriptif” dengan maksud untuk menggambarkan secara luas dan mendalam tentang Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Dinas Dinas melalui pendekatan emic dan etic11 yang digunakan saling melengkapi.. Wawancara mendalam dilakukan dalam kaitannya dengan topik khusus untuk menjawab tujuan penelitian..basis teoritis dari fenomena pelayanan publik oleh kedua tipe desa tersebut. FISIP UI. data emperis yang diperoleh dari kesamaan sampai detrimentasi lalu dicari lebih mendalam pada nilai logik dan etik mengenai apa maknanya dan apa yang menjadi kebermaknaannya. Mulanya peneliti melakukan observasi dan wawancara mendalam. Selanjutnya. hal. Unit pengamatannya adalah aktivitas yang ditunjukkan oleh kedua desa tersebut dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. serta mengembangkan diskusi 11 Lincoln and Guba. Op. kelompok yang terfokus dengan berbagai tokoh masyarakat seperti Bendesa beserta perangkat Prajuru Desa Pakraman. Data primer dikumpulkan dari pegawai dan tokoh masyarakat Desa Pakraman dan Desa Dinas dengan suatu proses yang bertahap.. serta yang terpenting adalah merealisasikan pemahaman bahwa “instrumen penelitian kualitatif yang utama adalah peneliti sendiri. Data kualitatif dikumpulkan berasal dari empat macam sumber. 2007. sehingga pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dideskripsikan secara tepat.. dan jenjang analisisnya adalah organisasi Desa Pakraman dan Desa Dinas di Wongaya Gede. Memperhatikan pada disain penelitian kualitatifdeskriptif. yang terdiri dari warga masyarakat yang dilayani dan aparat pemerintahan daerah setempat. pola proses. yaitu: (1) dari dua institusi lokal yakni Desa Pakraman dan Desa Dinas. agar lebih sederhana 94 Analisis pelayanan .

Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Metode Penelitian Masyarakat. Pada setiap konteks yang digunakan penelitian tentang sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. peneliti menggunakan catatan harian untuk mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian ini. 1995. karena melalui teknik ini peneliti dapat mengumpulkan dokumen dari berbagai sumber terpercaya13. Teknik ini sangat membantu peneliti untuk melakukan pengecekan silang data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan observasi. Selama dilakukan pengumpulan data. hal. dianalisis dan diinterpretasikan. New York. Selain itu. Data diolah dan dianalisis dengan cara mengkategorisasi dan menyajikan secara komprehensif berdasar pada setting dan peristiwa. dengan urutan logis dari yang sederhana ke yang kompleks dan dari yang konkrit ke yang abstrak.. Pembicaraan (verbal) data persepsi. Data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok. Informan dipilih dengan cara purposive dan snowball sampling12 yakni semula penentuan responden menurut pertimbangan peneliti karena responden tersebut dipandang mengetahui permasalahan yang diteliti. 1994. Doing Social Research. serta kegiatan Desa Pakraman dan Desa Dinas. 3) agama. 5) sunber dana/keuangan. adat dan budaya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview) dan metode Pengamatan-partisipan. maupun pakar yang menguasai permasalahan yang diteliti. 4) dasar hukum kewenangan pengaturan masyarakat setempat. hal. sumbersumber monografi desa... Data dokumentasi yang dimaksud antara lain mengenai penerapan kebijakan otonomi pada level Desa Pakraman dan Desa Dinas rangkaian kebijakan tentang model pelayanan 12 Manasse Malo dan S. 2007. 102. penelitian ini difokuskan pada pengembangan model pelayanan publik. ekspresi tindakan maupun data perilaku (non verbal) dengan berfokus pada unit kajian. mata pencaharian. tokohtokoh masyarakat setempat. McGraw-Hill. melalui responden awal tersebut akan diperoleh informasi tentang responden berikutnya yang mengetahui secara mendalam tentang permasalahan yang diteliti. berarti menggunakan Baker. 97 . peneliti menggunakan alat bantu penelitian berupa tape recorder dan kamera. Peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi.. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini beresumber dari informasi atau keterangan dalam bentuk wawancara. data kejadian interaksi. 13 96 Analisis pelayanan . jenis kelamin. D.dan jelas. yaitu: 1) penduduk (pawongan) mencakup populasi. Second Edition. Dengan cara demikian diperoleh pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam mensinergikan dualisme pelayanan publik di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan Propinsi Bali. Theresa L. Trisnoningtias. Kepemimpinan di Desa Pakraman dan Desa Dinas. dan 104 publik yang diberikan oleh Desa Pakaraman dan Desa Dinas. Melalui teknik ini data diperoleh dari sejumlah informan-informan kunci dan informan pada umumnya yang dipilih secara selektif. melainkan lebih disesuaikan dengan keterkaitan data dan informasi yang dibutuhkan sampai memenuhi syarat untuk diolah. Inc. maka jumlah informan tidak ditentukan secara ketat. I Wayan Suarjaya. demikian seterusnya sampai permasalahan yang diteliti dianggap tuntas didalami. Hasil kategorisasi data ini lalu dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif.. baik dari aparat Desa Pakraman dan aparat Desa Dinas. 91. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan dari dalam.98. FISIP UI. Selanjutnya. PAU-IIS Universitas Indonesia Jakarta.

Hasil data 14 yang dijaring adalah merupakan data yang relevan digunakan untuk menghubungkan data realitas yang diperoleh dari pesan atau makna non verbal. hasil wawancara dan hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian. data yang diperoleh dari hasil lapangan di Desa Pakraman dan Desa Dinas baik melalui metode wawancara maupun hasil pengamatan akan dilakukan pencatatan. sehingga dapat bahan masukan yang lengkap. Op.. Teknik wawancara dapat mengetahui jenis pelayanan publik yang dilakukan oleh kedua Institusi Desa tersebut. E. Analisis Data Karakteristik data yang dikumpulkan. Data berisi rincian. Informan yang dipilih adalah orang yang memahami permasalahan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Bahan masukan para informan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman pertanyaan yang dirancang dalam kerangka pertanyaan tidak berstruktur. tetapi dilakukan dalam hubungan yang harmonis dan simpatik terhadap informan yang dipandang menguasai permasalahan yang dihadapi. pencatatan data dilakukan dalam bentuk deskriptif. tetap berpedoman pada pemikiran logic.. 20 16 Ibid. jujur tanpa prasangka buruk. dengan kajian pustaka penggalian mendalam. maka dibantu menetralkan subyek-subyek tersebut.. Selanjutnya.. 2007. transaksi dan makna16. Kemudian. keabsahan. cit. 99 . Jika dalam pelaksanaan penelitian itu terjadi konflik diantara subyek penelitian.D. Teknik pencatayan data diberi tanda khusus berupa kode-kode secara sistematis sesuai dengan pokok masalah. maupun sumber tertulis yang ditemukan di lokasi penelitian. Memandang masalah realitas kehidupan masyarakat secara nyata. maka data yang dibutuhkan disesuaikan dengan masalah penelitian. dan analisis dilakukan secara induktif sejak awal penelitian. Selain itu. untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat. Pengambilan data secara mendalam dilakukan secara langsung agar mudah menyesuaikan dengan tujuan penelitian maupun sesuai untuk pemecahan pokok permasalahan penelitian. Selain itu pertanyaan yang diajukan tidak dengan cara memaksa atau bersifat menginterogasi. dan keterpercayaan atau keaslian (authenticity) data. data penelitian juga dikumpulkan dengan menggunakan metode pengamatanpartisipan yang juga merupakan metode untuk studi makna aktor. baik menyangkut persepsinya atau nilai-nilai dalam memberikan pelayanan. bersifat terbuka dan dilakukan secara sistematis. FISIP UI. hal 21 Mohajir. Sebab secara inklusif maupun eklusif. Metode ini bersifat natural dengan memperlakukan teknik pengamatan dalam mengkonstruksi makna. hal. nilai-nilai harapan. Pengumpulan data dan informasi lebih menggunakan teknik snowball sampling mementingkan makna. 35 98 Analisis pelayanan . Hasil pencatatan data yang baik akan mudah digunakan untuk menjawab pokok masalah penelitian. data diperoleh dari jawaban informan. hasil kajian pustaka baik dari perpustakaan. untuk menjawab permasalahan penelitian serta mendiskripsikan secara mendalam tentang pelayananpublik dan sinergi pelayanan publik Desa Pakraman dengan Desa Dines dibutuhkan data 15 Suparmoko. Metodologi Penelitian Praktis. digabungkan hasil pengamatan dan pengalaman.hal. Untuk mengarahkan studi secara efektif. Penerbit BPFE-Yogyakarta 1999. I Wayan Suarjaya. Sehingga data penelitian terjamin dari segi keterpercayaan atau authentic menurut pemahaman di antara unit-unit penelitian15.pertanyaan sebagai intuisi dan memungkinkan interpretasi subyektif aktor dan aktifitas pengumpulan data. keterangan dan data persepsi atau interpretasi dari para informan. Karena itu peneliti perlu menempatkan diri di masyarakat sebagai obyek kajian dan membina hubungan langsung pada masyakarakat. sampai dengan berakhirnya penelitian 14. Ph.

tentang Desa Pakraman dan Desa Dinas tentang pelayanan untuk dianalisis.19 Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan. cit. Berdasarkan pada data yang memenuhi persyaratan metodologi. 18 Endang WT. kebergantungan dikaji dengan teknik ketergantungan dan kepastian dianalisis dengan kepastian data. cetakan ketiga belas. Analisis keabsahan data dilakukan berdasarkan empat kriteria. Analisis taksonomis dan komponensial dipergunakan pada tahap eksplorasi terfokus. Analisis dominan dipergunakan pada tahap eksplorasi menyeluruh. I Wayan Suarjaya. Ketiga analisis data (dominan. ketekunan pengamatan. Tahapantahapan penelitian yang ditempuh sebagai berikut: pertama. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. yaitu: perpanjangan keikutsertaan. dilakukan secara simultan disaat pengumpulan data di lapangan. 2000. Pada saat ini usul dan saran serta kritik dari para dosen dan mahasiswa dikaji dengan memadukan landasan teori serta kondisi di Desa Pakraman dan Desa Dinas. dilanjutkan dengan proses administrasi mengurus perijinan penelitian di Propinsi Bali. dengan mengembangkan teori yang berkaitan dengan Desa Pakraman dan Desa Dinas. Penerbit PT. Untuk memeriksa kredibilitas digunakan tujuh teknik. 1) analisis dominan. kajian emperik tentang sinergi pelayanan publik.. kemudian di Pemda Tabanan karena wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede ada di Kabupaten Tabanan. Kedua. tetapi harus berusaha untuk mencapai pemaknaan logik dan etik.. Dari hasil masukan dalam colloqium disempurnakan lagi.Tahap ketiga. FISIP UI. yaitu: kredibilitas. 101 . maka kegiatan analisis data akan lebih memperhatikan data pemaknaan yang tidak saja menyajikan data sensual semata. maka analisis akan dilakukan dengan menggunakan analisis dalam beberapa tahap dan berlangsung bersamaan dengan usaha-usaha untuk memperbaiki dan mengembangkan konsep-konsep empiris pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Analisis berfungsi untuk membantu memahami makna yang memiliki esensi dari unit-unit kajian yang benar atau terpercaya (autentik)17. komponensial). agar menjadi tahap proposal yang lebih mantap. 15. Hasil penyempurnaan proposal tahap pertama tersebut berikutnya yang dipresentasikan kemudian dihasilkan draft dalam ujian kualifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan perbaikan sebagaimana yang diharapkan. 3) analisis komponensial. F. menyususun skala prioritas penelitian dengan merumuskan masalah yang akan diteliti. Tahap Penelitian Penelitian ini agar dapat memproleh hasil yang baik. hal 118 100 Analisis pelayanan . kajian kasus negatif.. dan kepastian.18 Selanjutnya untuk tetap memelihara kredibilitas hasil penelitian maupun esensi kebenaran dari data penelitian yang diperoleh. Op. cit. setelah draft proposal selesai. Draft awal penyusunan proposal. Ketiga. Kriteria keterangan diperiksa dengan uraian rinci hasil data. taksonomis. dimulai dari diskusi dalam Colloqium.Remaja Rosdakarya Bandung. maka dipandang perlu adanya perencanaan yang matang. hal 116 19 Endang WT. mencari pembantu peneliti lapangan tiga orang yang bertugas 17 Moleong. kerterangan.. Penyusunan proposal dikonsultasikan dengan promotor dan kopromotor.. 2) analisis taksonomis. kecukupan refrensial. dan 4) analisis tema. Data dianalisis secara kualittif melalui. hal. kebergantungan. dan pengecekan kepada anggota peneliti. sehingga ada masukan dari para dosen maupun peserta (mahasiswa). Analisis data yang terakhir yaitu analisis tema dilakukan setelah kegiatan pengumpulan dan analisis data di lapangan. Tahap kedua. tahap pertama dengan menganalisis data sesuai dengan kajian teoritik tentang pelayanan publik. Op. Lexy J. trianggulasi. Dari rumusan masalah tersebut disusun draft proposal dengan berbagai pertimbangan agar tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. pengecekan ke lokasi penelitian.

. proses pengolahan dan analisis data . . FISIP UI. tokoh masyarakat.menjajaki ke lapangan untuk menghubungi tokoh agama. Tahap kelima. tokoh adat yang diperkirakan mampu menjadi informan. Tahap Keempat. 2007. Tahap akhir dari proses ini adalah melakukan pengujian kredibilitas hasil penelitian kemudian mendiskusikan dengan para pakar tentang desentralisasi. dan penyusunan dalam bentuk tulisan.. sehingga berbagai masukkan yang diperoleh digunakan untuk terus melakukan berbagai penyempurnaan. dilanjutkan dengan terjun ke lapangan untuk mencari data yang dibutuhkan untuk penulisan disertasi. dan pelayanan publik yaikni promotor dan para ko-promotor. 102 Analisis pelayanan .. I Wayan Suarjaya. setelah data informan terkumpul..

sejumlah kekuasaan dan fungsi yang diberikan atau diakui oleh Pemerintah. Menurut Bhenyamin Hoessein. 1 maupun ditinjau dari segi.. Local Government meliputi kesatuan-kesatuan pemerintahan di bawah Pemerintah Pusat di Negara Kesatuan atau di bawah negara bagian. sumber dana. dan masa depan otonomi Desa. bandingkan pula dengan pendapat Bhenyamin Hoessein. New York. yang dinyatakan oleh Philip Mawhood.. TIFA – ILD Jakarta. Ditinjau dari segi wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas ada tiga tipe desa: Pertama. dan memiliki wewenang untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang substansial. Ketiga.1 Selanjutnya SS Meenakshisundaram mengidentifikasikan sejumlah ciri dari pemerintahan lokal. Ditinjau dari segi wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dilihat dalam gambar berikut: Gambar 1. Desa Dinas Pandangan Philip Mawhood bahwa local Government memiliki anggaran sendiri dengan rekening yang terpisah dari rekening pemerintah. luas wilayah Desa Pakraman meliputi beberapa wilayah Desa Dinas. Karakteristik Desa 1. dalam penelitian ini dijadikan landasan mengkaji dua jenis desa yang ada di Desa Wongaya Gede. I Wayan Suarjaya. dalam Sketsa Pasang Surut Otonomi Daerah dalam Perjalanan 100 Tahun. Pendapat para pakar tadi. FISIP UI. Wilayah Desa Pakraman Terdiri atas Beberapa Desa Dinas D D D D D Keterangan: DP= D Pakraman DD=Desa Dinas Analisis pelayanan . memiliki wilayah dan penduduk tertentu.BAB IV HASIL PENELITIAN A. istilah lokal diartikan sebagai masyarakat setempat. luas wilayah Desa Pakraman dengan luas wilayah Desa Dinas berimpit (sama persis). Tata hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Sutoro Eko. Local Gavemment in the Thid World: The Experience of Tropical Africa. Kedua. dan peraturan yang dipergunakan untuk mengikat warganya. Pembahasan Desa Dinas dan Desa Pakraman mengacu pada landasan teori pada bab dua. MasaLlalu. kesatuan hukum yang terpisah. Wilayah Desa Pakraman Sama Dengan wilayah Desa Dinas DD Keterangan: DD= Desa Dinas DP= D Pakraman DP DD Gambar 2. 104 .. Umumnya tipe Desa Pakraman ini ada di perkotaan.. wilayah. Masa Kini. local Government dapat berarti pemerintah lokal dan atau pemerintahan lokal. 2007. Desa Pakraman dan Desa Dinas mempunyai karakteristik tersendiri baik ditinjau dari segi historis pembentukannya. penduduk. luas wilayah Desa Dinas meliputi beberapa wilayah Desa Pakraman (kebalikan dari tipe desa yang kedua ). Local Government juga memiliki multi fungsi. Kemudian dalam penelitian disertasi ini dibatasi pada desa. struktur kelembagaan. Kabupaten Tabanan.

6.160 487. 2007.110 hektar. Kondisi geografis berada pada ketinggian sekitar 650 meter dari permukaan laut. Kuburan Irigasi. Jalan Raya Lain-lain Luas Wilayah 653. kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Penggunaan tanah untuk irigasi tradisional atau irigasi sederhana mencapai 23.Gambar 3.180 hektar.023. Keperluan bangunan umum dan pemukiman perumahan penduduk 1.320 hektar. FISIP UI. Pura Desa tempat memuja manivestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma.380 hektar. sumber daya. penduduk. 10.110 253. sesuai dengan ciri Local yang telah dikemukakan oleh SS Government Meenakshisundaram.380 12 23. 023. Tanah kuburan atau setra seluas 12 hektar. Luas wilayah berdasarkan data statistik Kabupaten Tabanan seperti tabel berikut ini: Tabel 2 Luas Wilayah Desa Dinas Wongaya Gede Menurut Penggunaan Tanah Riil (Hektar) No. Wilayah nya memiliki luas mencapai 3..860 954. kewenangan. 1. penduduk. dan Pura Dalem sebagai minivestasi Tuhan sebagai Dewa Siwa * Jumlah 3. I Wayan Suarjaya. masih ada areal hutan produksi yang dikelola oleh rakyat seluas 487.580 hektar. Wilayah Desa Dinas Terdiri atas Beberapa Desa Pakraman D D D D D Keterangan: DD = Desa Dinas DP = D Pakraman Karakteristik desa objek penelitian tergolong tipe ketiga yakni Desa Dina meliputi enam wilayah Desa Pakraman. Luas lahan diperuntukkan sebagai prasarana jalan seluas 2. Letak dan Luas Wilayah Desa Dinas Desa Dinas Wongaya Gede merupakan salah satu Desa di Kabupaten Tabanan secara geografis terletak antara 08`1417– 08`501576 lintang selatan.620 hektar. Desa Dinas merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki wilayah. 3. Perkantoran seluas 0. di samping hutan lindung yang dikuasai oleh negara. 5. Selebihnya berupa kawasan hutan lindung 954. Jenis Penggunaan Tanah Sawah Tanah Pertanian bukan sawah Tanah Perkebunan Hutan Negara Hutan rakyat Tanah.048 93. 115`05`02–115`15`24 bujur timur. 2. yaitu Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Wisnu.860 hektar. 326 hektar.180 2. Desa Pakraman.048 hektar.. 9. 8. tanah pertanian bukan sawah 563. sumber daya sendiri. 7. a.2 Desa Pakraman mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.636 2 Kayangan Tiga adalah merupakan tempat persembahyangan bagi umat Hindu yang terdiri dari tiga bentuk pura.160 hektar. Berdasarkan pengertian tersebut. adalah masyarakat hukum adat. bahwa pemerintahan lokal memiliki.326 Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2004 105 Analisis pelayanan . 106 . Lahan tegalan/ perkebunan luas 253. berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di bawah Kabupaten. Perumahan Tanah. mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata kerama pergaulan hidup Umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga (Kahyangan Desa).620 563. wilayah.. Penelitian ini menyajikan masing masing karakteristik Desa Pakraman dan Desa Dinas sesuai dengan landasan teori para pakar tersebut..320 1. Untuk lahan basah (sawah) 653. 4.

. Luas persawahan serta pertanian menduduki urutan ketiga. (4) Bengkel. Wongaya Bendul KETERANGAN Banjar Dinas dan Banjar Pakraman berimpit 2. Hal ini dapat dilihat sesuai dengan tabel Struktur Desa Dinas dan Desa Pakraman sebagai berikut: Tabel 3 Struktur Wilayah Desa Dinas NO 1 DESA PAKRAMAN Wongaya Gede BANJAR 1. Segala fasilitas desa Dinas. sedangkan Desa Pakraman mewilayahi empat Banjar. (2) Keloncing. seperti kantor desa. Pensiunan Sekda Kab. Hutan Rakyat yang lebih dikenal dengan hutan produksi merupakan luas wilayah nomor dua.. Ds. yang berhak untuk mengatur masyarakat setempat. Otonomi yang dimiliki oleh Desa Pakraman merupakan otonomi asli. Tabanan. Kedudukan maupun wilayah Banjar Pakraman dengan Banjar Dinas berimpit baik ditinjau dari segi wilayah maupun penduduknya. Desa Dinas mewilayahi sembilan Banjar. Serta dirangkum dari hasil wawancara dengan Kepala Desa. Sandan. Wongaya Kelod. Wongaya Kaja 2. Keenam Desa Pakraman tersebut masing-masing berdiri sendiri dan merupakan desa yang otonom.. yaitu diperoleh berdasarkan asal-asul berdirinya Desa Pakraman tersebut. Keloncing Keloncing Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 3. Bendesa Adat didampingi oleh Prajuru Desa. Keloncing. Sandan Sandan Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 20004 Batas-batas wilayah desa. Batu Kambing Batu Kambing Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 5. 108 . 4 3 Informan Mastra.. I Wayan. Wongaya Kangin. 2007. berada di wilayah Desa Pakraman Wongaya Gede.Berdasakan tabel di atas bahwa luas tanah Hutan Negara menempati urutan pertama. Banjar tersebut merupakan Banjar dari Desa Pakraman. yaitu: (1) Wongaya Gede. dan (6)Sandan. Wongaya Kaja. sebelah selatan Desa Tengkudak (Desa Pakraman Penganggahan). keenam wilayah Desa Pakraman tersebut dimasukkan dalam satu Desa Dinas Wongaya Gede3. Wilayah Desa Dinas meliputi sembilan wilayah banjar dinas yaitu. yang dibatasi oleh Sungai Pusut. Antara Banjar Dinas dan Banjar Pakraman wilayahnya berhimpit. Wilayah Desa Dinas meliputi 6 enam wilayah Desa Pakraman. Amplas. Wongaya Kelod 3. Wongaya Gede Kec. (5) Amplas. Bengkel. Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 107 Analisis pelayanan . Tabanan. (3) Batu Kambing. Setelah kemerdekaan. Batu Kambing. Penebel. Kab. Wongaya Kangin 4. Organisasi di bawah desa disebut dengan Banjar setingkat dengan (RW) di Jawa. Bengkel Bengkel Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 4. I Wayan Suarjaya. FISIP UI. karena Wongaya Gede geografisnya berada di bawah kaki Gunung Batukaru. Amplas Amplas Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 6. Wongaya Bendul. sebelah timur Desa Mengesta dan Desa Jatiluwih. 75 th.

I Wayan Suarjaya.. Kab. 5.sebelah barat Desa Penatahan yang dibatasi Sungai Telengis. 6 Kabupaten Tabanan dalam angka Tahun 2002 dan Monografi Desa Wongaya Gede 1. jumlah penduduk 3. 4. 2007. Pensiunan Sekda Kab. populasi penduduk wanita lebih banyak. Dilihat dari segi jenis kelamin.494 jiwa. 3. 3 orang memeluk agama Katholik. b. sebelah utara Hutan Llindung Gunung Batukaru.. Penduduk dan Mata Pencaharian Kalau diperhatikan dari segi populasi penduduk. sedangkan Banjar-Banjar lainnya jumlahnya berimbang. yang merupakan daerah perbatasan antara daerah Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng. I Wayan. Jenis Laki Laki 180 170 180 195 234 185 235 185 173 Kelamin Perem puan 196 177 200 191 240 140 240 195 178 Jumlah 376 347 380 386 475 325 475 375 356 109 Analisis pelayanan . FISIP UI. Penduduk merupakan penduduk asli Warga Negara Indonesia (WNI) tidak ada Warga Negara Asing (WNA). 75 th.491 jiwa. 7. wanita jumlahnya lebih banyak dengan penduduk laki. 6.. 5 Sedangkan jumlah kepala keluarga Desa Pakraman 786 kepala keluarga. Penduduk dapat dirinci berdasarkan jenis kelamin: penduduk laki-laki 1. 110 .491 Katholik 3 376 347 380 386 474 325 475 375 356 3. Wongaya Gede Kec. Penebel. 9. Bandingkan dengan data dalam Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2004. 2. Berdasarkan Data Statistik Desa Wongaya Gede tentang jumlah penduduk dan penganut umat beragama seperti tertuang dalam tabel sebagai berikut: Hindu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 * Wongaya Kaja Wongaya Kelod Wongaya Kangin Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan JUMLAH 376 347 380 386 471 325 475 375 356 3.756 jiwa. Tabanan.. Tabanan. Ds. 8. hal ini dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 4 Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Umat Beragama 6 No Tabel 5 Penduduk Desa Dinas Wongaya Gede Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2000 No Banjar/Dusun Wongaya Kaja Wongaya Kelod Wongaya Kangin Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu kambing Amplas Sandan Banjar/Dusun Agama Total 5 Informan Mastra.738 jiwa dan perempuan 1.laki. Masyarakat mayoritas beragama Hindu 3.494 Sumber : Kabupaten Tabanan Tahun 2002 dan Monografi Desa Wongaya Gede Berdasarkan data tersebut bahwa Banjar Batu Kambing dan Keloncing menduduki urutan jumlah penduduk yang paling banyak.

dan i) pengusaha di bidang jasa 6 orang. Wilayah pertanian yang mencakup lahan kering (ladang) dan lahan basah (sawah). Kaje W. TNI/POLRI.494 Sumber data: Data Statistik Kabupaten Tabanan tahun 2000 Tata kehidupan pertanian melalui organisasi subak..756 3. penduduk yang memiliki profesi sebagai petani merupakan penduduk yang paling besar. a) Pegawai Negeri Sipil (PNS) 89 orang. wiraswasta atau pedagang. Kemudian selebihnya adalah karyawan. (1) Subak sawah anggotanya petani yang memiliki sawah. c) penduduk yang bermata pencaharian dalam wiraswasta 271 orang.494 orang. Wilayah desa sebagai daerah pertanian. yang subur dan produktif dari berbagai jenis tanaman pertanian.454 376 347 380 386 374 325 475 375 356 3. (2) Subak Abian anggotanya petani di lahan kering.738 1. Keld W. h) pensiunan 30 orang.JUMLAH 1. Hal ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut . Bdl Batu Kbg Klc Bkl Apl Sdn Jml 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PNS TNI/POLRI Wiraswasta Pedagang Petani Buruh Tani Tukang Bgn Jasa Pelajar/Bali ta 16 2 45 9 125 18 14 2 145 15 2 25 15 68 75 28 2 117 17 1 78 21 79 40 11 1 134 8 3 48 16 81 14 15 1 200 12 2 32 4 165 18 21 220 6 1 16 7 125 31 28 106 6 1 12 5 180 35 25 210 4 8 2 95 15 60 191 7 7 4 50 38 15 135 89 12 271 83 1. seperti data sebagai berikut. dan peternakan. memiliki tata aturan tersendiri yang diatur dalam Awig-Awig Subak yang ditaati 111 Analisis pelayanan . g) berprofesi sebagai buruh tani 289 orang. Kondisi daerah pertanian yang sangat subur tersebut. dapat dibedakan menjadi dua kelompok.. Masyarakat yang termasuk anggota/Kerama Subak. FISIP UI. d) pedagang 83 orang. Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2000 No . serta karyawan swasta. sedangkan lahan basah untuk persawahan. hal ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi wilayah yang ada adalah sebagai daerah pertanian.073 289 217 6 1. Kgn W. Mata pencaharian yang lainnya.. Mata Pencaharian W. buruh tani. b) Angkatan Bersenjata Repuplik Indonesia (ABRI) 12 orang.. f) berprofesi sebagai tukang 277 orang. 2007. dan berprofesi dalam bidang jasa. maka masyarakat atau penduduk yang tinggal sebagian terbesar bermata pencaharian sebagai petani. I Wayan Suarjaya. Masyarakat memiliki beragam mata pencaharian. tukang. perkebunan. karena wilayahnya merupakan daerah yang sangat strategis dan cocok untuk lahan pertanian.073 orang. e) petani 1. baik PNS. Terlebih lagi bahwa letaknya di daerah Pegunungan Batukaru.494 Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Jumlah penduduk 3. 112 . Lahan kering (ladang) untuk berbagai jenis tanaman perkebunan dan hutan.

serta pada tempattempat umum lainnya yang ada di Desa. Oleh karena itu sistem selunglung sebayantaka kerja sama/gotong-royong mengalami modifikasi. Tempat pelaksanaan kegiatan sosial menggunakan fasilitas desa yang secara khusus untuk kegiatan sosial. Pelaksanaan berbagai Upacara Agama secara Suka-Duka. Budaya. Wujud kebersamaan dalam kehidupan masyarakat desa mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. gotong royong. 8 Paras-paros. yang menjadi falsafah hidup bermasyarakat. Bentuk tata kehidupan sosial bagi masyarakat beragam. Bandingkan pula dengan hasil penelitian Artadi tentang Prilaku Masyarakat Bali. bila tidak berada ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya. Kehidupan sosial ditandai dengan semboyan parasparos.. secara bersama-sama sebagai cermin tata kehidupan sosial. salunglung sabayan taka sarpanaya. tgl.. Setiap orang dapat menjadi kerama desa atau warga desa yang baik. yang menjunjung tinggi rasa kebersamaan. FISIP UI.9 Warga Desa Wongaya Gede banyak yang berdomisili di luar desa untuk mencari pekerjaan. dengan semboyan ringan sama dijinjing.. dalam arti mereka tidak diikutsertakan dalam kehidupan bersama.. Menunjukkan bahwa warga desa dalam melaksanakan kewajiban dilakukan bersama-sama. tgl. yang didampingi oleh Perangkat Desa Dinas dan Prajuru Desa Pakraman.10 2). keamanan dan kesejahteraan kehidupan petani. Balai Wantilan Pura. 1). Tata Kehidupan Sosial Tata kehidupan sosial bagi masyarakat masih nampak adanya semangat kebersamaan. demi untuk keadilan. dan semangat kegotongroyongan. ringan sama dijinjing. 1999 Departemen Pendidikan Nasional Jakarta hal 67.7 Setiap kegiatan sosial yang berlangsung selalu melibatkan warga masyarakat. didanpingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. Kehidupan Sosial. Sistem kerja sama itu mencerminkan kehidupan komunal yang sangat kental pada masyarakat desa. Kerja sama tidak semata-mata kerja fisik yang diwujudkan dalam bentuk kehadiran pada saat melaksanakan pekerjaan. terutama yang berkenaan dengan tata kehidupan sosial. serta berdasarkan rangkuman hasil wawancana dengan Kepala Desa. Penataran Pura. dan agama.8 Semboyan ini dipakai sebagai landasan dalam kehidupan sosial. berat sama dipikul. Kehidupan bermasyarakat. tepatnya di kaki Gunung Batukaru. 114 . 113 Analisis pelayanan . I Wayan Suarjaya. dan Agama Desa Wongaya Gede merupakan desa tua yang terletak di daerah pegunungan. Warga desa sebagai individu tidak ada artinya. 2006. 26 Februari 2006. namun pinsip kebersamaan tetap menjadi ciri kehidupan sosial masyarakat desa. apabila mereka menaati tata kerama dan aturan-aturan yang dibuat oleh desa. Tata Kehidupan Budaya 9 Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken. Semboyan melandasi kehidupan sosial masyarakat. Bendesa Adat. Karena itu. berat sama dipikul. Mengenai tata kehidupan masyarakatnya memiliki kekhasan tersendiri. tetapi dapat diganti dengan bentuk lain. Balai Desa. Balai Gong.dan dipatuhi secara bersama-sama. sehingga tidak terasa berat baginya. tanggal 26 Februari. berarti segala kegiatan masyarakat dilakukan secara bersama oleh warga desa. didampingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. diperuntukkan bagi kepentingan bersama pula. seperti Balai Banjar. berkelompok dalam wadah kelompok melaksanakan aktivitas seni keagamaan di Pura. 10 Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken. Sebaliknya setiap orang yang tidak peduli dengan aturan-aturan desa akan ditinggalkan oleh masyarakat. budaya. seperti palemahan yang pemeliharaan lingkungan atau diselenggarakan secara gotong-royong. 26 Februari 2006. 2007. Setiap warga desa merasa satu kesatuan dengan warga lainnya. Orang yang dikucilkan dari masyarakatnya merupakan hukuman yang sangat berat baginya. segala pekerjaan dipikul bersama. dan 7 Hasil pengamatan langsung di masyarakat. setiap orang yang ingin menjadi warga desa yang baik. semangat persatuan. berusaha untuk menaati aturan-aturan desa dengan baik pula. c. serta kegiatan sosial lainnya. Bahkan kerja fisik dapat berwujud bantuan lain atau dengan sejumlah uang tertentu. salunglung sabayan taka sarpanaya.

kopi dan cengkeh menjadi sumber penghidupan bagai masyarakat. Sekeha Pesantian. pembacaan melafalkan phalawakya. tari Rejang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kehidupan budaya mencakup berbagai aspek kehidupan secara nyata bagi masyarakat. budaya masyarakat menerima pengaruh budaya asing. Upacara Bhuta Yadnya. Tanah pertanian yang luas yang cocok dengan berbagai jenis tanaman keras seperti. Pura Luhur Batukaru. Upacara Dewa Yadnya. Tata kehidupan beragama Hindu ada dikenal budaya Nyastra yaitu adanya kegiatan masyarakat untuk melakukan pembacaan kitab-kitab suci Hindu melalui kegiatan nyanyian suci agama Hindu. Pura Puseh. seni tari baris memedi 11. tgl. dipentaskan pada saat upacara agama berlangsung. seperti Upacara Pawiwahan..Tata Kehidupan Agama Pelayanan publik di bidang agama dilaksanakan sepenuhnya oleh Desa Pakraman.12 Secara umum pelayanan publik tata kehidupan agama mencakup lima jenis. Pura Dalem. maupun di masing-masing Pura Keluarga. Nyastra dilakukan dengan melagukan kidung suci. seperti Upacara Pewintenan Pinandita atau Pemangku maupun Jero Kubayan. melagukan tembang macepat atau geguritan. Dengan demikian... pertanian masyarakat yang sudah ada sejak zaman dahulu. pemberian dana punia kepada orang suci atau sulinggih. (1) pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya yang diselenggarakan pada beberapa Pura. antara lain: dalam aspek pertanian ada budaya bertani melalui wadah Subak. Upacara Rsi Yadnya. 3). (4). serta seni budaya lainnya yang dilaksanakan langsung oleh masyarakat. didanpingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. Tata kehidupan beragama yang tergolong suka dan duka dilayani oleh Desa Pakraman. Budaya seni melalui berbagai wadah atau Sekeha. Pura Hyang Aluh. Alam yang bergunung-gunung serta adanya sungai dan berbagai sumber air merupakan karunia Tuhan yang dimanfaatkan menjadi areal persawahan. Seni sakral ada beberapa jenis. Upacara Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken.. Walaupun pengaruh budaya global sudah masuk pada Jenis tari tersebut tergolong sakral yang hanya dipentaskan pada upacara agama di pura di Desa Pakraman 11 kehidupan masyarakat desa. sloka. (3). 2007. Pembinaan kerukunan umat beragama dilakukan secara bersama-sama dengan Desa Pakraman. Sedangkan tata kehidupan agama yang tergolong duka yaitu Upacara Pitra Yadnya atau Upacara Ngaben. yang diolah menjadi wujud budaya yang menarik. pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya atau Upacara Ngaben yang bertujuan untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya. pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya. Tata keagamaan yang tergolong suka yaitu: Upacara Manusa Yadnya. seperti Pura Bale Agung. pembacaan kekawin.(2).. Seni tari yang tergolong seni sakral. topeng sidakarya. seolah-olah tidak mengalami perubahan. Pengaruh budaya luar yang cocok diterima sebagai upaya untuk memperkaya budaya sendiri. sampai kini masih dilestarikan. Beberapa aspek tata kehidupan budaya secara turun temurun dilakukan oleh segenap masyarakat. 116 . serta kelompok-kelompok kesenian yang lainnya. Kombinasi seni musik. adalah seni yang dipergunakan saat upacara agama berlangsung. pelaksanaan Upacara Rsi Yadnya. FISIP UI. Sekeha Angklung. seni suara dan yang sejenis dari luar negeri dan dalam negeri setelah ditata dengan rapi berwujud seni yang menarik. hingga kini hidup terus sepanjang zaman. Beberapa contoh pengaruh budaya luar yang diterima dalam kehidupan masyarakat antara lain penggunaan bahan-bahan dari luar negeri untuk melengkapi berbagai upacara keagamaan. namun budaya petani masih tampak utuh. I Wayan Suarjaya. Budaya petani masyarakat berkaiatan dengan geografi desa tersebut yang terletak dibawah Gunung Batukaru. yaitu. Apa yang dilakaukan oleh nenek moyangnya sejak dahulu. 26 Februari 2006. 12 115 Analisis pelayanan .yang disebut Panca Yadnya. tata Budaya agraris ditandai oleh adanya subak. seperti Sekeha Gong.

yang masyarakatnya sangat tradisional. Beberapa sarana peribadatan penting yang ada: Pertama. Desa Dinas pada awal terbentuknya oleh Pemerintah Hindia Belanda disebut dengan istilah Inladsche Gemeente yang diatur berdasarkan Inladsche Gemeente Ordonnanti Buitengeweten. Khusus bagi umat Hindu yang tinggal di wilayah Desa Pakraman. 2005 hal 217 16 15 13 Sumber data dari beberapa informan hasil wawancara tertanggal 24 Juli 2004 Seni Sakral adalah seni khusus dipergunakan untuk mengiringi rangkaian upacara Agama. Desa Pakraman merupakan wadah yang memberikan pelayanan bagi warga desa dalam melaksanakan kehidupan keagamaan. Op. hal 11 Perhatikan penjelasan umum Undang-Undang Nomer 32 tahun 2994 tentang Pemerintahan Daerah. Pura Sad Kahyangan Batukaru yang berlokasi di tengah hutan Batukaru. di bidang administrasi yang berkaitan dengan Pemerintah Kolonial. disebut dengan balih-balihan. Adanya berbagai jenis kesenian yang menjadi pelengkap dalam kegiatan upacara agama. Pura Kahyangan Desa tujuh buah yang berstatus sebagai pura umum. Tata cara melaksanakan upacara di pura telah dilaksanakan secara turun-temurun sehingga menjadi adat atau tradisi. Kedua. Manifesto Pembaharuan Desa. Hal ini terbukti bahwa pengertian kedudukan dan fungsi Desa selalu mengalami perkembangan sampai pada diletakkannya desa sebagai otonomi asli dalam pemerintahan saat ini. maka penyelenggaraan Mapandes ( upacara potong gigi ).. cit . Pura Subak atau juga dikenal dengan nama Pura Bedugul. Bandingkan pula dengan Sutoro Eko. I Wayan Suarjaya. yang berstatus sebagai pura umum bagi seluruh umat Hindu dari manapun mereka berasal. khidmat. Keberadaan Desa Dinas Desa Dinas pada awal terbentuknya mempunyai tugas pokok dan fungsi memberikan pelayanan publik. 2007. seni pertunjukkan untuk umum. Upacara Tawur Agung atau Upacara Tawur Kasanga. pelaksanaan Upacara Bhuta Yadnya. Pura Desa. Persembahan 40 tahun STPMD “APMS” Yogyakarta. d.14 Oleh karena itu. yang memiliki batas-batas wilayah kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan (Negara Kesatuan Republik Indonesia). hidup dari hasil pertanian.Pelayanan publik dalam berbagai kegiatan keagamaan Hindu adalah menyediakan sarana peribadatan bersama – sama dengan umat. (5). Dari tahun ke tahun pengertian desa itu diberikan definisi sesuai dengan sudut pandang keilmuannya masing-masing.. Pengertian Desa tidak lagi bisa diartikan suatu perkampungan yang jauh dari kota. sesuai dengan Stb l938 Nomer 49015.. Sebagai sarana peribadatan yang utama adalah berupa tempat suci secara khusus bagi umat Hindu disebut Pura. Pengertian Desa mengalami perkembangan sesuai dengan situasi dan kondisi Pemerintah. dan memberi makna yang dalam bagi warga masyarakat. dan Pura Dalem. Perwujudan kegiatan masyarakat dalam melaksanakan Agama Hindu ditandai adanya tempat-tempat pemujaan bersama. ada berbagai jenis kesenian sakral yang hanya dipertunjukkan pada saat melaksanakan upacara agama.. Berdasarkan undang-undang nomer 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ditegaskan bahwa: Desa atau disebut dengan nama lain. 118 . Struktur Desa Dinas Hasil penelitian menyatakan bahwa Desa Wongaya Gede telah memenuhi persyaratan sesuai dengan teori ciri-ciri Amarah Muslimin. Ketiga. atau hidup dari hasil hutan saja. Tata kerama berkaitan dengan pelaksanaan upacara agama seperti dalam Upacara Panca Yadnya selalu diiringi oleh berbagai jenis kesenian yang tergolong Seni Sakral. Kewenangan untuk mengatur masyarakat setempat.16 1). selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat Hukum. FISIP UI. seperti Pura Puseh. yang secara khusus bagi petani sawah untuk melakukan pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri13. seperti Upacara Panca Sanak. berdasarkan pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Kolonial. upacara tampak semakin semarak. 14 117 Analisis pelayanan ..

FISIP UI.498 jiwa Bendesa Pakraman Awig-awig. Swadaya - Struktur Desa Dinas Dalam Sistem Pmerintahan17 Propinsi Bali Kabupaten Kabupaten Tabanan Kabupaten Kec. Perarem Swadaya Masyarakat Kahyangan Tiga Hasil penelitian menemukan perbedaan prinsip unsur Desa Dinas dengan Desa Pakraman . Karena dengan otonomi Desa Dinas yang kuat akan mempengaruhi secara signifikan perwujudan otonomi daerah. memiliki makna bahwa penyelenggaraan pelayanan publik harus mampu mewujudkan peran aktif masyarakat agar masyarakat merasa memiliki dan turut 17 Pemda Tabanan Dalam Angka. 119 Analisis pelayanan . 2007. 120 . namun tetap mengindahkan sistem nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedudukan Desa Dinas dalam sistem Pemerintahan NKRI ini nampak dalam gambar sebagai berikut Bagan 1 Berdasarkan bagan struktur Desa Dinas tadi jelaslah bahwa Desa Dinas merupakan struktur Pemerintahan yang paling bawah. Gede Desa Pakraman Dusun/Banjar Tempek Desa Pakraman 4 Banjar 1. APBD. a) Keanekaragaman. Hal ini berarti pola penyelenggaraan pemerintahan desa akan menghormati sistem nilai yang berlaku dalam adat-istiadat dan Budaya masyarakat setempat. Sementara tidak ada yang mengisyaratkan tempat ibadah dalam pembentukan desa.. b) Partisipasi. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. struktur perangkat desa. yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Landasan pemikiran pengaturan desa ditegaskan bahwa. Desa memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sesuai kondisi dan sosial budaya setempat. aturan dan kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri serta mempunyai sumber dana sendiri.268 hektar 1. merupakan terbentuknya Desa Pakraman . Unsur kahyangan tiga yang terdapat syarat utama dalam Desa Pakraman ..150 hektar 3. yang dikemukakan oleh para pakar bahwa pemerintahan lokal ( desa ) memiliki: wilayah. PP. memiliki makna bahwa istilah Desa dapat disesuaikan dengan asal-usul dan kondisi budaya masyarakat setempat. Kebijakan pemerintah menganut azas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Penebel Desa W. yang diatur secara sentralistik. Mekanisme desa sebagai otonomi daerah kelihatannya seragam untuk wilayah Indonesia karena merupakan warisan pengaturan desa Zaman Orde Baru adanya penyeragaman desa.pemerintahan lokal. 2001. I Wayan Suarjaya. Unsur dari otonomi daerah baik Desa Dinas maupun Desa Pakraman Wongaya Gede dapat dilihat perbandingannya sebagai berikut: Tabel 7 Unsur Desa Dinas dan Desa Pakraman No 1 2 3 4 5 6 Unsur Desa Wilayah Penduduk Kepala Pemerintahan Dasar Hukum Sumber Dana Tempat Ibadah Desa Dinas 9 Banjar 5. Posisi Desa Dinas yang memiliki otonomi asli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian seimbang terhadap penyelenggaraan otonomi Daerah.. Sesuai dengan pengertian desa tersebut dinyatakan bahwa desa berhak mengatur rumah tangganya sendiri.494 jiwa Kepala Desa UU. penduduk. seperti nampak dalam tabel di atas.. Perda APBN.

Kepala Desa dan Perangkat Desa Pemerintah Desa Dinas Wongaya Gede terdiri atas Kepala Desa dan Perangkat Desa. segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihak-pihak berselisih. menghendaki masa jabatan Kepala Desa dikembalikan menjadi delapan tahun. Tahun 2001 Penjelasan Kepala Desa Dinas Desa Wongaya Gede pada tanggal 18 Februari 2006 20 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006. mendamaikan perselisihan masyarakat Desa.20 Kepala Desa dalam memberikan pelayanan publik serta melaksanakan tugas dan kewajiban. 2007. FISIP UI. (b). 76. dengan 18 pertimbangan program pembangunan dapat dilaksanakan berkelanjutan19. serta Sumber Daya Manusia... (e). e) Pemberdayaan Masyarakat. (c). Selain itu. kepala desa juga dibantu oleh kepala dusun. Kepala Dusun adalah pimpinan di tingkat Perhatikan Penjelasan PP No. memelihara ketentuan dan ketertiban masyarakat. memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa mengakomodasi aspirasi masyarakat yang diartikulasi dengan diagregasi melalui Badan Perwakilan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan sebagai mitra Pemerintahan Desa.. 19 121 Analisis pelayanan . I Wayan Suarjaya. (d). Pemerintah Desa menerima tugas pembentukkan dari Pemerintah. juga dikenal dengan istilah perbekel. memimpin Pemerintah Desa. 122 . membina kehidupan masyarakat Desa.agar tidak ketergantungan masyarakat kepada pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan. bersama – sama dengan masyarakat sehingga sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat. yang bertugas untuk menyelenggarakan pelayanan publik dibidang administrasi pemerintahan desa. sarana dan prasarana. (f). d) Demokrasi. Kepala Desa dapat dibantu oleh Lembaga Adat Desa. (g). mewakili desanya di dalam dan diluar Pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. Hasil pelaksanaan kegiatan rutin dan pembangunan dilaporkan secara berkala ( semesteran dan tahunan) kepada Bupati. namun harus di selenggarakan dalam perspektif administrasi pemerintahan modern. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa.bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan bersama sebagai sesama warga Desa. dengan tembusan kepada Camat. membina perekonomian Desa. menumbuhkan kemandirian.. kepala desa dibantu oleh seorang sekretaris desa.18 2). dan untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa dengan memberdayakan partisipasi masyarakat. Aspirasi masyarakat berdasarkan hasil penelitian. Pemerintahan Desa a). Masa jabatan Kepala Desa lima tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan. Dalam menjalankan sistem pemerintahan di desa dan memberikan pelayanan publik. dan kegiatan. program. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disyahkan dengan Surat Keputusan oleh Bupati setempat. memiliki makna bahwa kewenangan pemerintah desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat didasarkan pada hak asalusul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat setempat. Tugas pokok dan Kewajiban Kepala Desa adalah : (a) memberikan pelayanan publik sesuai dengan ketentuan . bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. c) Otonomi Asli. dari calon yang memenuhi syarat. Pemerintah Propinsi dan atau Pemerintah Kabupaten disertai pembiayaan.

dusun yang bertugas untuk melaksanakan dan menyelenggarakan sistem pemerintahan desa di tingkat dusun, sebagai perpanjangan tangan dari pemerintahan desa. Kemudian untuk kelancaran pelaksanaan administrasi desa, maka Kepala Desa dibantu oleh beberapa tenaga administrasi sebagai Kepala Urusan. Pada tingkat desa ada lima Kepala Urusan yaitu: Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan, Kepala Urusan Kesra, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Umum. Untuk lebih jelasnya Struktur Organisasi Desa dapat dilihat sesuai dengan bagan sebagai beriku: Bagan 2 Struktur Desa Dinas Wongaya Gede
BPD Kepala Desa Sekretaris

Kaur Pembangunan

Kaur Kesra Kelihan Banjar

Kaur Keu angan

Kaur Umum

Kaur Pemerintahan

Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 b). Badan Perwakilan Desa Perwujudan demokrasi di tingkat desa diadakan Badan Perwakilan Desa yang berfungsi menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dan melakukan pengawasan dalam hal penetapan serta pelaksanaan peraturan Desa. Mengawasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala Desa. Keanggotaan Badan Perwakilan Desa, direkrut melalui pemilihan oleh penduduk Desa setempat dari calon – calon yang memenuhi persyaratan. Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berarti terbuka

peluang untuk tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga kemasyarakatan sesuai kebutuhan dan kondisi sosial budaya setempat. Seperti Desa Pakraman, Subak, Sekeha-Sekeha. Lembaga-lembaga Kemasyarakatan dimaksud merupakan mitra dari pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat c). Keuangan Desa Dinas Pemerintah Desa dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya ditopang oleh sumber pendapatan asli Desa. Sumber keuangan Desa yang digali dari wilayah Desa yang bersangkutan. Sumber dana berasal dari hasil usaha Desa, kekayaan Desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotongroyong, dan lain-lain. Pendapatan asli Desa dipungut berdasarkan peraturan Desa, sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.21 Disamping sumber dana dari swadaya desa dalam mengatur rumah tangganya sendiri, juga ditopang oleh APBD Kabupaten/Kota, bantuan dari Pemerintah Propinsi atau Pusat yang dipergunakan untuk kegiatan pelaksanaan proyek berupa: (a) Proyek Fisik, diprioritaskan untuk jalan, air bersih dan listrik masuk desa (JALI). Saat ini bantuan pusat yang agak besar jumlahnya adalah bantuan kegiatan untuk pengentasan wajib belajar sembilan tahun, penyelesaian kejar Paket A, B dan C. Pembangunan gedung perkantoran dan sekolah. (b) Proyek Nonfisik, berupa kegiatan pembinaan desa yang meliputi ekonomi, pertanian, sosial budaya, dan agama. (c) Pengadaan sarana dan prasarana penunjang lainnya. Sumber dana dari pemerintah kabupaten dituangkan dalam bentuk DIPA APBD Kabupaten yang diprioritaskan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kesehatan masyarakat (pengobatan gratis). Subsidi dibidang peternakan
Penjelasan Kepala Desa Dinas Desa Wongaya Gede pada tanggal 18 Februari 2006
21

123 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

124

dengan memberikan kredit lunak ternak. Bantuan operasional sekolah (BOS) untuk Sekolah Dasar. Sebagian dari dana APBN, APBD dan swadaya masyarakat diperuntukkan meningkatkan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan kartu KK, KTP, Surat Keterangan dan Perijinan. Peningkatan kualitas pelayanan publik dimulai dari peningkatan kesejahteraan perangkat desa dan pegawai desa, sesuai dengan kemampuan sumber dana keuangan yang ada.22 d). Partisipasi Masyarakat Penyelenggaraan Pemerintahaan Desa, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas masyarakat. Mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan memanfaatkan Sumber Daya dan potensi yang tersedia. Desa mampu mengembangkan dan memberdayakan potensi Desa. Meningkatkan pendapat Desa, menghasilkan masyarakat yang berkemampuan untuk mandiri. Berkenaan dengan itu otonomi daerah telah membuka peluang kepada pemerintahan Desa untuk menggali sumber-sumber pendapatan yang cukup potensial. Potensi yang dikembangkan melalui pendirian Badan Usaha milik Desa (BUD) dan Koperasi Unit Desa (KUD), melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Aparat desa memberikan pelayanan publik dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Potensi partisipasi masyarakat sangat besar dalam memajukan kesejahteraan masyarakat melalui gotong-royong. Hal ini sejalan dengan teori pelayanan publik, yang melibatkan partisipasi masyarakat, sesuai dengan pendapatnya Dafis dan Kairudin mengatakan bahwa; partisipasi masyarakat sebagai bentuk keterlibatan langsung oleh masyarakat.23 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat desa Wongaya Gede dapat dikelompokkan menjadi sembilan bentuk partisipasi yakni;

1) partisipasi berdasarkan kesukarelaan, terutama dalam bentuk membantu masyarakat dalam musibah kedukaan, 2) partisipasi berdasarkan keterlibatan langsung, dalam melaksanakan tugas selaku aparat desa maupun Banjar, 3) partisipasi berdasarkan pada keterlibatan dalam pembangunan, melaksanakan berbagai tahap dan proses pembangunan mulai dari segi merencanakan sampai ikut melaksanakan secara langsung, 4) partisipasi berdasarkan kedudukan dalam organisasi, 5) partisipasi berdasarkan intensitas dan frekuensi kegiatan upacara agama, di dorong oleh keyakinan yang tumbuh dari ajaran agama 6) partisipasi berdasarkan ikatan kelompok/tempek yang ada di Banjar, 7) partisipasi berdasarkan tingkat bakat dan kemampuan dalam masyarakat; seperti sekeha gong, pesantian dan lain sebagainya, 8) partisipasi berdasarkan, ikatan kekeluargaan, hubungan kedekatan/kekerabatan, 9) partisipasi berdasarkan pengaruh kharisma dari seorang pemimpin.24 Dari sembilan jenis partisipasi ini jika dirujuk dengan pendapatnya Dafis dan Khaeruddin, maka partisipasi masyarakat desa Wongaya Gede menunjukkan bahwa kesembilan jenis partisipasi tadi, sejalan dengan teori partisipasi, masih sangat relevan untuk dikembangkan dalam peningkatan pelayanan publik oleh Desa Dinas maupun Desa Pakraman. Merujuk teori pelayanan publik oleh Chaterina DeVery, partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik tersebut, merupakan sebagian dari aspek psikhologis pelayanan publik. Aspek psikhologis pelayanan menurut DeVery ada tujuh pola strategi pelayanan yang disebut dengan ...”the seven scret of
24 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Pebruari 2006. perhatikan pula pendapat Dafis dalam Khaerudiin, dalam bukunya Pembangunan Masyarakat tinjauan Aspek Sosiologis. Ekonomi dan Perencanaan, l992 hal 25

Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006. 23 Dafis dan Khaeruddin, Op. cit. hal 25

22

125 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

126

service succes, salah satu diantaranya adalah empower.25

Pandangan Dafis dan Khaeruddin dikaitkan dengan partisipasi masyarakat Wongaya Gede sejalan dengan teori Chaterina DeVery. Sama – sama menekankan pada pemberdayaan masyarakat, untuk menyukseskan pelayanan publik dengan baik.26

wajib (sebagai syarat utama) memiliki Kahyangan Tiga. Hal ini tidak diungkap oleh para pakar local government.

2. Desa Pakraman Berdasarkan landasan teori tentang local government27, yang menyatakan bahwa local government, memiliki wilayah, penduduk, sumber daya, kewenangan untuk mengalokasikan sumber – sumber daya. Desa Pakraman sebagai Obyek Penelitian memiliki; (1) palemahan / wilayah tertentu, (2) pawongan / penduduk yang telah ditetapkan sebagai anggota/kerama, (3) parhyangan / Kahyangan Tiga (4) sistem pemerintahan (struktur desa), (5) sumber dana yang berasal dari Pelaba Pura28 dan partisipasi masyarakat dalam bentuk Dana Punia. (6) hukum tertulis dalam bentuk awig-awig sedangkan hukum yang tidak tertulis disebut dengan Perarem.29 Beberapa ciri local government yang dinyatakan Mawhood dibandingkan dengan ciri Desa Pakraman, adalah kelebihan pensyaratan Desa Pakraman memiliki Parhyangan/Kahyangan Tiga. Setiap Desa
25 26

Desa Pakraman merupakan kesatuan masyarakat hukum adat, yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata kerama pergaulan hidup masyarakat bagi umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga, mempunyai wilayah tertentu dan penduduk sebagai anggota/Kerama desa yang beragama Hindu, mempunyai sumber dana sendiri berhak mengurus masyarakat setempat. Pada saat terbentuknya Desa Pakraman tugas pokok dan fungsinya adalah memberikan pelayanan di bidang Agama, Adat, Budaya, dan gotong royong yang dilandasi filsafat “Selunglung sebayan taka sarpanaya”. Unsur Desa Pakraman tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Wilayah Desa Pakraman Wilayah Desa Pakraman Wongaya Gede, merupakan salah satu Desa Pakraman yang ada di wilayah Desa Dinas. Desa Dinas Wongaya Gede mliputii enam wilayah Desa Pakraman yakni: Wongaya Gede, Batu Kambing, Bengkel, Keloncing, Sandan, dan Amplas, hal ini dapat dilihat pada gambar beriku: Gambar 4 Wilayah Desa Pakraman Dalam Desa Dinas Wongaya Gede30

oleh Philip salah satu kewajiban

Pakraman

Chaterina, DeVery. Op, cit, hal 8 Merujuk pada pendapatnya Dafis dan Khaeruddin dan Chatarine. DeVery, tentang pelayanan public, dikaitkan dengan kondisi alamiah di Desa Wongaya Gede. Kabupaten Tabanan. 27 Merujuk pendapatnya Phillif Mahwood, Bhenyamin Hoessein, dan SS Meenakshisundaram, Decentralization and Local Politices, yang menyatakan cirri – cirri pemerintahan local, memiliki wilayah, penduduk, dasar hokum, kewenangan dan sumber daya yang memadai. 28 Pelabe pura adalah tanah milik Desa Pakraman, hasilnya dipergunakian untuk kepentingan Agama, sejenis dengan tanah bengkok di Jawa. 29 Kayangan Tiga, merupakan salah satu sarat berdirinya Desa Pakraman, setiap Desa Pakraman di Bali wajib memiliki Kayangan Tiga. Kayangan Tiga adalah tempat suci (Pura) tiga jenis Pura sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Khusus di Desa Pakraman Wongaya Gede, memiliki dua Pura Puseh, yang menjadi tanggung jawab pengempon masing-masing,

30 Sumber data: Hasil pengamatan langsung di lokasi. Serta hasil wawancara dengan tokoh-tokoh Adat, Agama, Masyarakat, serta Prajuru dan Prangkat Desa.

127 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

128

Lima Desa Pakraman lainnya hanya meliputi satu Banjar. Pura Luhur Batukaru. 130 . karena lima Desa Pakraman tersebut hanya memiliki wilayah satu banjar saja. Pawongan.. Parhyangan. Wongaya Kangin 4. Utama Mandala hanya dipergunakan sebagai tempat suci atau wilayah Kekeran32 pada wilayah ini didirikan untuk Pura. Wongaya Kelod 3.. Wilayan Banjar Desa Pakraman dan Banjar Desa Dinas berimpit.. Madya Mandala dalam konsep Tri Hita Karana disebut dengan tempat tinggal masyarakat. Wongaya Kangin. tidak terbatas oleh Umat Hindu dilingkungan Pura saja. Wongaya Kelod. 1) Utama Mandala. Nama lima Desa Pakraman dengan lima Banjar sama. 2007. Wongaya Bendul ).DESA PAKRAMAN Wongaya Gede 1) Wongaya Gede 6 5 4 3 1 2) Batu Kambing 3) Bengkel 4) Keloncing Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan BANJAR 1. di samping itu juga dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 8 Struktur Wilayah Desa Wongaya Gede Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit ber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Ssum Wilayah Desa Pakraman tata ruangnya diatur berdasarkan tata nilai filsafat Agama Hindu yang disebut Tri Mandala. Wongaya Kaja 2. 32 Wilayah Kekeran adalah wilayah yang disakralkan oleh umat Hindu dan diyakini sebagai tempat yang dikeramatkan. merupakan nilai filsapat dalam masyarakat Hindu. merupakan Pura Khayangan Jagat tempat persembahyangan bagi seluruh umat Hindu.. I Wayan Suarjaya. Tatanan Utama Mandala diperuntukkan wilayah Parhyangan. Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan KETERANGAN Banjar Dinas dan Pakraman berimpit 5) Sandan 2 6) Amplas Gambar tersebut menunjukkan bahwa Desa Pakraman Wongaya Gede daerahnya yang paling luas meliputi empat Banjar ( Wongaya Kaja. Kanistha Mandala ). Madya Mandala.31 ( Utama Mandala. tetapi terbuka untuk seluruh 31 Tata ruang Tri Mandala. Palemahan. FISIP UI. Masing-masing Mandala tata ruangnya dipergunakan sesuai dengan tatanan yang terdapat dalam awig-awig sebagai berikut. 129 Analisis pelayanan .

Pura yang khusus untuk masyarakat setempat. saluran air. FISIP UI. 3) bagi mereka yang mempunyai keluarga dekat meninggal. Fasilitas umum di Desa Wongaya Gede dipergunakan untuk lapangan olah raga. dan pasar. parkir. merupakan tempat sembahyang bagi umat hindu setempat.. Setiap pekarangan dalam rumah tangga tercermin pula adanya Utama Mandala (tempat Sanggah). I Wayan Suarjaya. Ketentuan yang lain juga dijelaskan bahwa untuk menjaga kesucian Utama Mandala tersebut tidak diperkenankan binatang peliharaan berupa sapi dan babi masuk ke Pura. d) Pura Keluarga dalam bentuk merajan/sanggah. c) Pura Swagina.umat Hindu yang berkeinginan untuk bersembahyang di Pura tersebut. 2007. Pura Ulunswi sebagai tempat sembahyang para petani (subak). Dari enam jenis pura tadi dapat diklasifikasikan menjadi. adalah pura: a) Pura Puseh. adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. Kanistha Mandala (WC/halaman rumah) hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini: dua hari. a) Pura Kahyangan Jagat. ada beberapa ketentuan sebagai berikut: 1) yang diperkenankan masuk ke Pura adalah mereka yang hendak sembahyang atau petugas yang telah ditentukan. Bagi umat yang ada dilingkungan Utama Mandala tidak diperkenankan berkata-kata kotor seperti memfitnah. Pura Dadya sebagai tempat persembahyangan keluarga tertentu. perikanan. yang melahirkan sampai bayinya berumur empat puluh Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama. 33 2) Madya Mandala madya mandala adalah tempat yang Wilayah dipergunakan sebagai tempat tinggal penduduk. sarana pendidikan (TK dan SD). Pura Melanting untuk para pedagang. Dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan tokoh agama setempat utama mandala ini khusus dipergunakan sebagai tempat sembahyang bagi umat Hindu.. e) Merajan dan Sanggah merupakan tempat sembahyang bagi keluarga/rumah tangga masing-masing33. Balai Kesehatan (Poliklinik). untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma (Dewa pencipta alam semesta) c) Pura Dalem. semua jenis kegiatan perekonomian tata ruangnya menggunakan wilayah Kanistha Mandala. Sedangkan fasilitas sosial untuk Balai Banjar. agrowisata. untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa (Dewa pemralina alam semesta) d) Pura Swagina atau Pura yang mempunyai fungsi tertentu seperti. mencaci maki. b) Pura Kahyangan Tiga. Kanistha Mandala Kanistha Mandala dipergunakan untuk kuburan. Pengaturan tata ruang Desa Pakraman yang dilandasi dengan konsep Tri Mandala tercermin pula pengaturan tata ruang rumah tangga. 2) dilarang masuk ke pura bagi mereka: wanita dalam keadaan datang bulan. Berdasarkan awig-awig Desa Pakraman menyebutkan bahwa untuk menjaga kesucian Utama Mandala serta tempat suci. perkebunan. berkelahi serta perbuatan yang tidak menyenangkan orang lain34. merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu setempat. 3). 132 . Madya Mandala menjadi wilayah pemukiman bagi anggota masyarakat yang disebut dengan Kerama Desa. Madya Mandala (rumah). untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu (Dewa pemelihara alam semesta) b) Pura Desa/Bale Agung. Dirangkum berdasarkan dari informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan prajuru Desa Pakraman tanggal 16 Januari 2006 34 131 Analisis pelayanan . Disamping sebagai tempat pemukiman juga diperuntukkan sebagai fasilitas umum (pasum) dan fasilitas sosial (pasos). wilayah pertanian (subak). merupakan tempat sembahyang bagi umat hindu setempat.. jalan..

ada satu Desa Pakraman wilayahnya berimpit (sama persis) dengan wilayah Desa Dinas. 3. juga memiliki kewajiban untuk menaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di Desa Pakraman seperti: taat pada awig-awig dan perarem. 2. c) Kerama Balu. Ada pula satu Desa Pakraman mewilayahi beberapa Desa Dinas. adalah kerama Pengarep yang mempunyai anak telah kawin. serta wajib dalam mewujudkan Desa Pakraman yang aman dan tentram. I Wayan Suarjaya. 134 .. adalah anggota yang masih ada ikatan suami istri serta bertempat tinggal di wilayah desa tersebut.Tabel 9 Unsur Tri Hita Karana dalam Desa Pakraman dan Rumah Tangga N o 1. adalah kerama yang putus ikatan perkawinan akibat dari perceraian atau salah satu suami/istrinya meninggal. 2007. Sebaliknya satu desa Dinas wilayahnya meliputi beberapa Desa Pakraman hal ini telah diuraikan pada awal karakteristik desa. Mereka bebas dari kewajiban tetapi masih mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan. tidak ada yang sama. Ditinjau dari segi luas wilayah Desa Pakraman di Kabupaten Tabanan. Mempunyai hak dan kewajiban penuh untuk mendapatkan pelayanan publik dari Desa Pakraman. FISIP UI. sehingga tugas pokok orang tuanya digantikan oleh anak. Kerama / Penduduk Berdasarkan awig-awig dan Perarem Desa Pakraman Wongaya Gede ditetapkan bahwa yang dinyatakan sebagai kerama atau penduduk Desa Pakraman sebagai berikut: 1) setiap penduduk yang berdomisili di wilayah Desa Pakraman wajib menjadi kerama/anggota selambat-lambatnya enam bulan setelah bertempat tinggal di desa tersebut. menyelenggarakan upacara Panca Yadnya dan Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama. b. selambat-lambatnya enam bulah setelah upacara perkawinan tersebut wajib menjadi kerama/anggota Desa Pakraman. 35 pencaharian) ada dirantau masih tetap mempunyai ikatan 133 Analisis pelayanan . 4) penduduk yang berada diluar wilayah Desa Pakraman masih dimungkinkan menjadi anggota apabila yang bersangkutan mengajukan permohonan untuk menjadi anggota dan sanggup menaati ketentuan yang telah ditetapkan dalam awig-awig setempat. b) Kerama Penyada. tipe ini umumnya ada di Ibu Kota Kabupaten/Propinsi.. Berdasarkan ketentuan tentang krama/anggota yang telah ditetapkan tersebut di atas masih dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yakni: a) Kerama Pengarep.. diatur berdasarkan konsep Tri Desa Pakraman dan tata ruang Mandala. 3) anggota Desa Pakraman yang karena tugas pokoknya (mata Kerama Desa Pakraman berkewajiban untuk mengeluarkan biaya (pepeson) dan ngayah. Secara garis besarnya kewajiban Kerama Desa Pakraman meliputi: ”Kewajiban melaksanakan ayahan desa seperti kerja bakti memperbaiki bangunan Pura milik Desa Pakraman.. 2) bagi anggota keluarga yang telah melaksanakan perkawinan. Kerama Penyada tersebut tidak lagi mendapat beban untuk peturunan/iuran maupun kerja bakti. Unsur Tri Hita Karana Parhyangan Pawongan Palemahan Desa Pakraman Pura Anggota/Kera Desa Wilayah Desa ma Rumah Tangga Sanggah/Merajan Anggota Keluarga Tanah Perumahan Sumber: monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Berdasarkan tabel tersebut tercermin bahwa tata ruang pekarangan rumah tangga mempunyai unsur yang sama. Kerama Balu ini mempunyai kewajiban setengah dari Kerama Ngarep tetapi mempunyai hak penuh untuk mendapatkan pelayanan publik35. adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. sebagai anggota Kerama dengan pensyaratan yang telah ditentukan dalam awig-awig dan perarem.

. Desa artinya anggota/kerama desa. ikut serta dalam sangkepan (rapat) desa adat. ikut serta dalam pemerintahan desa adat bersama lainnya. Hak dalam bidang keorganisasian berupa: keikut sertaan dalam hal pemberian suara untuk memilih Bendesa Adat. Selain itu warga Desa Pakraman berkewajiban menjaga keamanan dan ketentraman bersama. Op. tetapi dalam awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede disebut Bendesa38 dengan demikian berarti mereka yang dituakan oleh desa serta dijadikan panutan dalam tata kehidupan beragama. Sedangkan dalam hal penyelenggaraan upacara Yadnya. berbangsa dan bernegara. sebab Pendeta itu adalah milik desa adat. Kewajiban untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku dalam organisasi Desa Pakraman antara lain: menaati awigawig baik tertulis maupun tidak tertulis. FISIP UI. simbul persatuan dari seluruh warga desa yang diharapkan dapat mempersatukan rasa kekeluargaan baik dalam keadaan suka maupun duka. Disamping syarat tersebut. Berdasarkan ketentuan pokok Awig-Awig Desa Pakraman Bab II Pasal 11 dinyatakan bahwa Struktur kepengurusan Desa Surpha. Kerama desa di samping memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan. adat. dan budaya. I Wayan Suarjaya. berhak dipilih sebagai prajuru desa adat. Kewajiban tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tanpa adanya unsur paksaan. 136 . Pengertian ini menyebabkan kerama desa pada waktu memilih pimpinan (Bendesa) berusaha untuk memilih warga desa yang disegani karena kepribadian. juga berhak dalam hal sebagai berikut: a). I Wayan. sudah tentu dapat menuntut haknya baik dalam bidang keorganisasian maupun dalam bidang upacara Yadnya. 2007.36 Istilah Kelihan berasal dari kata Kelih yang berarti tua. tingkah laku. Istilah Bendesa berasal dari dua kata Banda dan Desa. 3). Kedua istilah ini masih tumbuh dimasyarakat. Struktur Desa Pakraman Desa Pakraman dalam strukturnya mempunyai pucuk pimpinan yang disebut dengan Bendesa. maka sebagai warga yang syah. kuburan. oleh karena demikian Kelihan Desa diartikan sebagai orang yang dituakan atau ketua dari Desa Pakraman37.. sering pula disebut dengan Kelihan Desa. dan dapat pula menggunakan hak pilih dan dipilihnya sebagai wujud nyata dari pengalaman kehidupan masyarakat adat yang demokratis. b). Dan atau lebih tua.memelihara bangunan-bangunan untuk kepentingan desa.. cit. diperhatikan juga faktor lain seperti kecakapan dalam bidang agama. menggunakan pendeta untuk menghantarkan Yadnya. adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. Maka Bendesa dipandang sebagai pengikat. 2) berhak mendapat pelayanan pinandita untuk mengantarkan yadnya yang mereka selenggarakan. kerama desa adat berhak untuk mendapatkan pelayanan. bermasyarakat. 2). dan sikap yang menyebabkan patut dijadikan teladan atau panutan oleh desa. terutama yang berkaitan dengan upacara keagamaan. Hak dalam menyelenggarakan upacara yang meliputi: 1) berhak untuk mendapatkan pelayanan dalam rangka menyelesaikan upacara Panca Yadnya yang mereka adakan. Sebagai warga desa yang baik senantiasa memperhatikan kewajibankewajiban tersebut serta selalu taat pada ketentuan-ketentuan yang berlaku di desa setempat. menaati paswara dan sima yang telah berlaku. Banda artinya tali pengikat. dapat menggunakan hak bicara untuk menyampaikan aspirasinya dalam kegiatan sangkepan. berhak untuk memilih Kepala Desa Adat. dengan prajuru 4). hal 12 Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama. 3) berhak memakai kuburan milik desa apabila anggota kerama desa adat ditimpa musibah kematian. 38 Awig-awig Desa Wongaya Gede 37 36 135 Analisis pelayanan . karena merupakan milik bersama (Desa Pakraman) c. Sesuai dengan pernyataan di atas.. Hak dalam organisasi meliputi: 1).

2004. tata kemasyarakatan dan sosial budaya. Adat. Penyarik Petangen Kesiman Kelihan Banjar Tempek Bagan 3 Struktur Desa Pakraman (Prajuru dan Dulun Desa) Dulun Desa Bendesa Adat Pemangku Penyade Berdasarkan awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede Bab II Pasal 12 menyataka bahwa masing-masing Prajuru Desa (Pengurus Desa) mempunyai tugas pokok dan kewajiban : (1) Menjalankan anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (awig-awig). Dulun Desa bila ada suatu masalah yang lebih besar hendaknya diselesaikan melalui musyawarah desa. hal 13 Awig-Awig Desa Pakraman Desa Wongaya Gede. 2007. I Wayan Suarjaya. Struktur Desa Pakraman sebagai tertuang dalam bagan sebagai berikut.disebut dengan Prajuru Desa atau Dulun Desa. Sesuai dengan ketentuan dalam Awig-Awig Desa Pakraman bahwa susunan pengurus yang aktif dalam secara umum telah kepengurusan Desa Pakraman disosialisasikan dan dikenal oleh warga masyarakat. Desa Wongaya Gede terdiri dari beberapa Banjar.. Sekretaris atau Juru Surat (Panyarikan). Banjar Adat Wongaya Kangin ..39 Desa Pakraman meliputi empat wilayah Banjar Adat. Semua Prajuru atau Dulun susunan pengurus tersebut. sesuai dengan keputusan rapat (Pararem) (2) memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tata keagamaan. Kepala Desa Dinas. Bab II pasal 14 Awig-Awig Desa Pakraman Desa Wongaya Gede. 138 . Banjar Adat Wongaya Bendul. (3) menyelesaikan perselisihan diantara anggota masyarakat berdasarkan tatakrama Desa Pakraman yang telah ditetapkan dalam awig-awig.. dan Banjar terdiri dari beberapa Kelompok / tempekan. (4) bertindak atas nama Desa baik ke luar maupun ke dalam40. Bendesa adat dalam melaksanakan tugas pelayanan dibidang agama mempunyai kewajiban untuk berkoordinasi dengan Pemangku desa (pemimpin upacara agama). Dalam Awigawig dinyatakan bahwa Prajuru Desa yang terdiri atas Bendesa Adat. Penyarikan (Sekretaris). FISIP UI. Banjar Adat Wongaya Kelod. keempat. Dalam melaksanakan tugas tersebut Bendesa adat dibantu oleh penyade (wakil). masingmasing mempunyai pemimpin. Sedangkan dalam mengambil kebijakan yang mengikat 40 41 39 Penjelasan Prajuru Desa.. Kesinoman yang bertugas untuk menyampaikan perintah Prajuru desa kepada masyarakat41. disebut Desa. Tugas pokok dan fungsi itu wajib dimusywarahkan dengan Prajuru Desa. sedangkan kelompok/tempek dipimpin oleh Ketua Kelompok/Tempek. tokoh-tokoh masyarakat. Bendahara (Petengen). Petengen (bendahara). perhatikan Surpha I Wayan. Juru Arah (Kasinoman). ketiga. kedua. Banjar Adat Wongaya Kaja. Eksistensi Desa Pakraman dan Desa Dinas di Bali. Wakil Bendesa Adat (Penyade). Banjar dipimpin oleh Kelihan Banjar. Bab II pasal 12-13 137 Analisis pelayanan . yakni : pertama.

Sedangkan para Kelihan Banjar masing-masing memiliki tugas untuk memberikan pelayanan dan pembinaan kepada setiap warga Banjar masing-masing yang menjadi wilayah kerja dan binaannya. Awig-awig adalah suatu kata ulang yang sifatnya mengeraskan arti. setiap awig – awig mengandung prinsip – prinsip Tri Hita Karana. lebih dikenal lagi Desa. Makna yang menunjukkan kebersamaan awig-awig Desa di Bali. Setiap Desa Pakraman dapat membuat awig-awig yang disahkan oleh Desa Pakraman. Undang– Undang Dasar l945. I Wayan Suarjaya. Awig-awig menunjukkan ciri khas dari Desa Pakraman masing – masing. Tokoh agama.Awig WEDA PARHYANGAN PAWONGAN dalam menyelenggarakan pemerintahan dapat menetapkan aturan – aturan sendiri berupa awig – awig dalam bentuk hukum adat. Pembinaan tentang adatistiadat dan agama Hindu kepada seluruh warga masyarakat Desa Pakraman Wongaya Gede. Awig – awig dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan Tri Hita situasi dan kondisi masyarakat Karana sesuai dengan setempat (desa mawacara). pada tanggal 20 Januari 2006 43 Sirtha. Gambar 5 Sumber Penyusunan Awig . yaitu mengatur keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. hal 8 44 Desa mawacara adalah istilah dalam bahasa Bali yang bermakna setiap daerah mempunyai tatanan tradisi masing-masing (Lain ladang lain belalang. tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.. Tokoh masyarakat. dan sukerta tata pawongan. mantan Prajuru desa yang telah ditetapkan sebagai Dulun Desa. Patra. dalam mengatur dan menata berbagai aspek kehidupan kerama desa adat (Desa Pakraman) dalam rangka mewujudkan sukerta tata agama. 140 . antara nilai-nilai Adat dan Budaya yang hidup dalam masyarakat. didampingi oleh Para Pemangku. Dirangkum berdasarkan penjelasan. dengan demikian arti kata awig-awig adalah sesuatu yang menyebabkan tidak rusak. 44 Secara etimologis istilah awigawig berasal dari kata “wig” yang artinya rusak atau hancur. lain lubuk lain ikannya). Bendesa Adat Wongaya Gede memiliki tugas utama untuk memberikan pelayanan. Penyusunan awig – awig desa bersumber dari falsafah Tri Hita Karana.d. dan Kitab Suci Agama Hindu ( Weda ). 2007. dan peraturan perundang undangan yang berlaku43. Awig-awig Desa Pakraman masyarakat wajib minta pertimbangan kepada Dulun desa (penasehat) yang keanggotaannya terdiri dari : Sesepuh desa. 2007. 139 Analisis pelayanan . Desa Pakraman. yang pasti. dan keharmonisan hubungan anatara manusia dengan alam.42 Desa Pakraman berbeda – beda. I Nyoman.. Kala. Akar kata “wig” mendapat awalan “a” menjadi kata “awig” yang artinya tidak rusak. Prajuru Desa Pakraman. Fakultas Hukum Universitas Udayanan Denpasar. sukerta tata palemahan. Penyusunan awig-awig berdasarkan sumber acuan 42 Desa Pakraman DESA PAKRAMAN PANCASILA ADAT DAN BUDAYA PALEMAHAN Awig-awig adalah aturan yang dibuat oleh kerama Desa Pakraman dan atau kerama Banjar Pakraman .. FISIP UI.. Kepala Desa Dinas. Pengesahan Awig-awig melalui paruman Desa Pakraman sebagai ketentuan peraturan yang bersifat tertulis. keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia.

Awig-awig desa merupakan alat kontrol. Karena itu. FISIP UI. sedangkan pengkhususannya yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan menurut situasi. terutama dalam bidang Agama. Desa Pakraman yang diwarisi secara turun-temurun hasilnya khusus untuk kepentingan Pura. Adat. a) hasil Pelaba Pura47.. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 45 47 Pelaba Pura adalah Tanah persawahan maupun perkebunan milik Desa Adat. Adat. dijiwai oleh nilai – nilai dasar yang tertuang dalam awig – awig. petunjuk. 2007. pollitik dan ekonomi. pokok-pokok isi saja yang dituliskan di awig-awig. masyarakat dalam kegiatan kesehariannya. Pembentukan aturan-aturan hukumnya sendiri tunduk pada aturan-aturan hukum yang dibuatnya itu. dana punia (bantuan sukarela). e) bantuan dari pemerintah baik dari APBN maupun APBD yang sifatnya berupa insentif dalam pembangunan. Hal ini dapat dituangkan dalam bagan sebagai berikut: Bagan 4 PENGATURAN KEGIATAN DESA AGAMA SOSIAL AWIG-AWIG EKONOMI POLITIK e. Desa berhak membuat peraturan sendiri. maka awig-awig sehingga nantinya awig-awig tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. berhak mengatur masyarakat setempat sesuai dengan kondisi dan asal usul desa tersebut. c) sarin canang48 pada saat upacara persembahyangan Purnama dan Tilem serta upacara pada saat piodalan. Hal ini dilakukan dengan menulis awig-awig di atas daun lontar yang aslinya disimpan di Pura Desa/Bale Agung.45 Mengingat awig-awig memiliki peranan yang penting. Awig-awig merupakan perwujudan dari otonomi asli Desa Pakraman. sehingga dapat mengurangi adanya penyimpanganpenyimpangan terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan berlaku oleh desa adat setempat. b) dari anggota berupa iuran wajib. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 46 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. d) dana punia yang tak mengikat dari para donatur. Berdasarkan aturan tersebut. keamanan. ketentraman masyarakat serta mengembalikan keseimbangan yang terganggu agar tidak rusak (awig). larangan dan sanksi-sanksi. disertai segala upacara. sosial budaya. Keuangan Sumber dana Desa Pakraman ada lima sumber pokok yakni. Dana yang terkumpul dihimpun oleh Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat... Aturan-aturan yang dibuatnya itu menyangkut patokan-patokan yang memelihara ketertiban di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang terus-menerus mengalami perubahan. Awig–awig memuat patokanpatokan yang mengatur masyarakat setempat bertujuan memelihara ketertiban.. karena di dalamnya memuat aturan-aturan yang berisikan. 141 Analisis pelayanan . dirumuskan pada catatan-catatan musyawarah sebagai penunjang dan pelengkap awig-awig46 Kegiatan Desa dalam memberikan pelayanan diatur dalam awig – awig. 142 . I Wayan Suarjaya.Awig-awig menjadi faktor pendukung utama dari kedudukan Desa Pakraman sebagai persekutuan hukum. Kemudian salinannya telah dimiliki oleh setiap kerama desa dalam bentuk tercetak. dijaga untuk melestarikan desa adat. 48 Sarin Canag adalah uang persembahan dengan ketulusan hati diletakkan pada sesajen setelah upacara selesai diserahkan kepada desa.

dan kematian. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 50 Kahyangan Tiga adalah tiga jenis Pura yakni Pura Puseh. merupakan tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya (Brahma) sebagai “Maha Pencipta”.Pembelian sarana dan prasarana yang berkaitan dengan kebutuhan rutin (listrik. balai Banjar.bendahara/petengen. Berdasarkan kenyataan di atas.. air. kehidupan.. Akibat adanya keterikatan secara spiritual dapat menimbulkan kewajiban-kewajiban secara riil yang dilakukan oleh desa. 144 . Pura Puseh/Pura segara merupakan tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai (Dewa Wisnu). Terikatnya warga desa dilandasi pula oleh adanya keyakinan bahwa Sang Hyang Widhi Wasa merupakan asal dan kembalinya semua mahkluk yang disebut dengan istilah “Sang Hyang Sangkan Paran”. hal 27 143 Analisis pelayanan . mengeluarkan biaya (pepeson) untuk kepentingan upacara di Pura Kahyangan Tiga. Pura Desa dan Pura Dalem memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai “Maha Pelebur” yang dikenal sebagai Dewa Siwa.Dana punia untuk pemangku sebagai imbalan tugas rutin menyiapkan upacara dan memimpin persembahyangan . dan kematian (pralina). Pura Kahyangan Tiga adalah Pura Desa/Pura Bale Agung. maka dapat dijelaskan bahwa Pura Kahyangan Tiga memiliki dwi fungsi.Bakti sosial / pengabdian kepada masyarakat secara berkala. I Wayan Suarjaya. Keyakinan-keyakinan tersebut. . Kewajiban untuk menjaga kelestarian Pura. perbedaan prinsip ciri dari local government seperti yang diutarakan oleh para pakar. karena di samping sebagai tempat pemujaan juga berfungsi sebagai alat pengikat mempersatukan warganya dalam wilayah Desa Pakraman. Op. kehidupan (sthiti). Penggunaan dana tersebut dipertanggung jawabkan pada saat Desa secara terbuka sebagai wujud sangkep / rapat akuntabilitas kepada masyarakat49 f.51 Berdasarkan hasil penelitian.Pengadaan sarana dan prasarana untuk pembangunan. Pura Kahyangan Tiga di samping berfungsi sebagai tempat pemujaan atau penyungsungan dari seluruh warga Desa Pakraman. penggunaannya ditetapkan dalam rapat desa dalam bentuk anggaran belanja rutin dan pembangunan dengan perincian sebagai berikut: 1) Biaya Rutin . Adat. Pura Kahyangan Tiga juga berfungsi sebagai alat pengikat dan menyatukan warga Desa Pakraman bersangkutan dalam ikatan kemasyarakatan. Pemelihara (Stiti).Untuk renovasi bangunan pura. FISIP UI. “Maha Pemelihara”.. cit.Untuk membiayai pembuatan sesajen Purnama dan Tilem maupun upacara piodalan di Pura Khayangan Tiga dan Pura-pura lainnya . dupa dan lain-lain) 2) Biaya Pembangunan . Kahyangan Tiga Setiap desa adat di Bali memiliki Pura Kahyangan Tiga 50 Tempat ibadah untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Pencipta (Utpeti).. setidaknya dapat dianggap sebagai alat pengikat warga masyarakat (umat Hindu) yang dilandasi oleh kesamaan ikatan moral dan keyakinan untuk senantiasa dekat dengan Sang Hyang Widhi melalui pemujaan/sembahyang di Pura Kahyangan Tiga tersebut. Umat Hindu atau warga Desa Pakraman dalam hal ini memiliki keyakinan akan adanya suatu proses yang bersifat kekal yakni adanya kelahiran (utpeti). Pasos dan pasum . 2007. Adanya keyakinan-keyakinan terhadap proses yang kekal tersebut akan dapat mempertebal keyakinan umat Hindu terhadap kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pengatur dan penentu adanya kelahiran. 51 Surpha I Wayan. dan Pelebur (Pralina). Pura Dalem merupakan tempat 49 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat.

Pengentasan buta aksara dan angka dapat dilaksanakan dengan baik. Kedua tipe desa tersebut sesungguhnya berbeda baik dari segi historis.. Desa Dinas pada awalnya memberikan pelayanan di bidang administrasi pemerintahan. bahwa dalam local government tidak ada pensyaratan tempat ibadah.. karena masyarakat yang dilayani sama. dan melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi.. baik pembangunan sosial keagamaan. Dalam Peraturan Daerah Nomer 3 Tahun 2001 pasal 13. Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat.. ekonomi. Pola hubungan Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat disajikan dalam bagan berikut: Bagan 5. Desa Dinas adalah desa yang dibentuk dan berkembang atas inisiatif pemerintah. Sedangkan di Desa Pakraman. tentang Pemerintahan Daerah. Perbedaan yang dimaksud terutama Desa Pakraman merupakan institusi otonom yang lahir dan berkembang dari masyarakat. juga melalui sistem Banjar. Hubungan konsultatif dan koordinatif dibutuhkan dalam menjaga keharmonisan di masyarakat. budaya dan agama.dengan ciri Desa Pakraman. 145 Analisis pelayanan . Pembangunan melalui jalur bahasa Agama. sangat menentukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan. Zaman Orde Baru pengaturan sistem pemerintahan cendrung sentralistik. 3. disebutkan bahwa: “hubungan kerja antara Prajuru Desa Pakraman dengan Kepala Desa/ Perbekel/Kepala Kelurahan adalah bersifat konsultatif dan koordinatif. memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang adat. maka dalam pelayanan. Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah. semua jenis pelayanan publik dilaksanakan juga oleh Desa Dinas. budaya dan keagamaan. kemudian beriringan. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 52 Pasang surut sistem pemerintahan. 146 . Perkembangan pelayanan oleh Desa Pakraman. Pada mulanya tugas pokok dan fungsinya. Konsultasi dan koordinasi hubungan kerja kedua desa atau prajuru itu tidak dijabarkan secara jelas. maupun tugas pokok dan fungsinya. dimana Desa Pakraman terpinggirkan. Hubungan Fungsional Desa Pakraman dan Desa Dinas Hubungan antara Desa Pakraman dengan Desa Dinas secara terinci tidak diatur dalam Perda Nomor 06 tahun 1987. Hal ini dapat dibuktikan keberhasilan Keluarga Berencana di Bali melalui sistem Banjar. Pembangunan ditopang oleh berbagai lapisan masyarakat. melanjutkan program pemerintah. Adat. maupun dalam Undang-Undang Nomer: 32 Tahun 2004. mendapatkan pelimpahan wewenang untuk mengurus masyarakat setempat. 2007. Adat dan budaya dirasa sangat ampuh. Pola hubungan demikian bukanlah suatu pola hubungan yang bersifat hirarkhis. Desa Pakraman dimanfaatkan oleh Desa Dinas untuk melaksanakan program pemerintah melalui jalur bahasa adat. juga berpengaruh pada hubungan fungsional dan sistem pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. FISIP UI. Pemberian pelayanan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. I Wayan Suarjaya. dan pembangunan. kemudian pelayanan berkembang di bidang lainnya seperti keamanan. pada mulanya Desa Pakraman dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menyukseskan Pembangunan Nasional. Kayangan Tiga merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh desa tersebut. maupun pembangunan bidang ekonomi52. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pendapat tokoh masyarakat menjelaskan bahwa hubungan konsultasi dan koordinasi dari kedua perangkat desa tersebut. namun lebih bersifat konsultatif dan koordinatif.. sosial. dan akhirnya bisa terjadi saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya.

Seperti yang telah dijelaskan tadi. Wongaya Kangin. maka Desa Pakraman mempunyai kewajiban pula membantu Desa Dinas ( sebagai unsur pemerintah yang paling bawah ). FISIP UI. melestarikan.. Banjar Wongaya Kaja. 54 Paras-Paros sarpanaya. I Wayan Suarjaya. Desa Pakraman sebagai wadah bagi warga desa untuk melaksanaan berbagai kegiatan yang bersifat sosial religius. Wongaya Kelod. Desa Pakraman dalam memajukan memanfaatkan potensi pembangunan di desa. Wongaya Bendul Desa Pakraman merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatan. 147 Analisis pelayanan . e) menjaga. d) membina dan mengembangkan nilai-nilai adat setempat dalam rangka memperkaya. Bandul Keterangan: Desa Pakraman Wongaya Gede mewilayahi empat Banjar yakni.. kebudayaan. dapat saling Profil Pembangunan Desa Wongaya Gede. c) memberikan kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial keperdataan dan keagamaan. seperti tertera dalam point (a) di atas. terjadi hubungan yang harmonis. 4. 2000. Hubungan konsultatif dan koordinatif kedua desa tersebut. 2007. Kelod Banjar W. memelihara dan memaanfaatkan kekayaan Desa untuk kesejahteraan masyarakat Desa Pakraman55. Segala kegiatan warga desa tercermin dalam berbagai 53 bentuk upacara keagamaan yang dilakukan secara bersamasama. Fungsi Desa Pakraman sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yaitu: a) membantu Pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang terutama dibidang keagamaan. 55 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Pebruari 2006. b) melaksanakan hukum adat dan adat-istiadat dalam Desa Pakraman. Berdasarkan parasparos salunglung sabayantaka54/musyawarah untuk mufakat. Desa Dinas dalam melaksanakan rugasnya . Selungkung Subayantaka adalah merupakan palsafah hidup kekeluargaan yang artinya hidup harmonnis.. 3. Kangin Banjar W. menurut pandangan masyarakat . suka dan duka di pikul bersama.dan kemasyarakatan. dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Bali pada khususnya. 148 .1. Kaja Banjar W. 2. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa dualisme kepemimpinan di akar rumput..Hubungan Struktural dan Fungsional antara Desa Dinas-Desa Pakraman dan Dusun/Banjar dengan Pola Satu Desa Dinas Mencakup Beberapa Desa Pakraman53 DESA DINAS WONGAYA GEDE Desa Pakraman Kloncing Batu Kambing Desa Pakraman Desa Pakraman Bengkel Desa Pakraman Amplas Desa Pakraman Sandan KLoncing Banjar B Kambing Banjar Bengkel Banjar Amplas Banjar Sandan Banjar Desa Pakraman Wongaya Gede Banjar W. dalam rangka lelancaran pembangunan di segala bidang. bahwa Desa Pakraman berkewajiban membantu pemerintah.

walaupun demikian pekerjaan Desa Dinas juga dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat dengan jalan hal yang bersamaan itu didamaikan yakni sama-sama dilaksanakan. sehingga memerlukan kajian baru yang berat oleh Desa Pakraman. f. 1.. Karena masyarakat takut sepekang desa pakraman. mengalami pasang surut. dalam kegiatan kerja bhakti dalam waktu yg sama. karena adanya unsur pribadi yang dibawa dalam organisasi. Pemilihan Kepala Daerah. Apa ada gesekan terjadi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman. hal ini sulit dicarikan solusinya terlebih lagi ada kegiata upacara di pura.Ada pelayanan suka dan duka. Misalnya dalam hal rapat. mana yang lebih ditaati ? Masyarakat lebih taat kepada Desa Pakraman. I Wayan Suarjaya. seperti dalam pembuatan jalan desa pakraman. maka masyarakat taat pada rapat yang diselenggarakan oleh desa pakraman dari pada rapat Desa Dinas. tetapi lebi taat kegiatan desa pakraman dari pada kegiatan desa dinas.? Hal itu bisa terjadi. Ketaatan masyarakat terhadap Desa Dinas dan Desa Pakraman. Bidang tugas yang sama apa bisa disinergikan?. bahwa munculnya konflik di masyarakat. pernah terjadi konflik karena. Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan lebih berat adalah Desa Pakraman. sama dengan jenis pelayanan oleh desa dinas. Hal ini disebabkan karena adanya pembagian tugas yang jelas antara Desa Dinas dengan Desa Pakraman . . b. lingkungan hidup dll. peternakan melaui kelompok. Pelayanan Desa Dinas lebih ringan karena jenis pelayanan sudah jelas ada pedomannya dan ada anggaran daei pemerintah dalam melaksamakan tugas tersebut. karena banyak melakukan berbagai macam pelayanan dan tanpa pedoman pelayanan yang pasti. Desa Dinas sudah punya pdoman bak. 2007. Informan I Gede Mastra — Br. pembangunan SD dll. pembangunan. 150 . kecemburuan social dalam penggunaan anggaran pemerintah yang pelaksanaannya kurang transparan. Desa pakraman juga melakuan hal itu. Ada masalah manak salah atau anak buncing. serta dalam memberikan pelayanan tidak 149 Analisis pelayanan . Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan semuanya darei swadaya sendiri c. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 pelayanan Desa Pakraman lebih berat. 1930. tergantuing pada kesadaran masyarakat setempat56. Penjelasan masyarakat menyebutkan pula. Berikut ini akan dikutip hasil wawancara yang mendalam tentang pelayanan publik yang dilaksanakan oleh dua lembaga pemberi pelayanan sebagai berikut. Dalam pelaksanaan awig-awig desa serta berbagai kegiatan keagamaan. d. Wongaya Kaja. a. menurut pendapat saya. Konflik yang diakibatkan oleh suhu politik. umumnya diakibatkan oleh pengaruh suhu politik praktis menjelang Pemilihan Umum. e. Tokoh Masyarakat. Prajuru Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan secara tulus di dirong oleh sikap pengabdian. walaupun bidang tugasnya sama tetapi dari segi aspek 56 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. Juga di bidang perekonomian/pertanian.melengkapi. Pelayanan desa dinas bentuknya apasaja? Ada administrasi pemerintahan. hal ini dapat dibuktikan bahwa semua pelayanan telah dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya.. FISIP UI. missal perkawinan sama-sama menyaksikan. Adat.. ya bisa seperti keamanan.. Tetapi pelayanan desa dinas hanya melayani administrasi saja yang sudah ada pedoman baku. maka Desa Pakraman juga kut membantu bersama-sama. kependudukan/pemerintahan.

Kegiatan yang dapat disinergikan adalah pelayanan di bidang . keagamaan terutama kerukunan umat beragama. I Wayan. Suartha..mengenal payah dan waktu ( 24 jam ) tanpa mendapatkan honor atau gaji dari pemerintah.Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pekraman jauh lebih berat di bandingkan dengan pelayanan yang diberikan oleh Desa Dinas hal ini disebabkan oleh: a. I Gede. Ada pelayanan yang tidak bagus ?. keterbukaan. Hanya saja ada dana batu-batu saat ada kawin ( sejenis dengan dana bedolan kalau di Jawa.red ). kejujuran. pohon dan tanaman lainnya yang dibangun tempat suci untuk kesucian. seperti penanaman bunga. Mandhyasa I Nyoman.. Budaya dan Sosial kemasyarakatan termasuk dalam pembangunan. Desa Dinas memberikan pelayanan dalam bidang yang sama tetapi pogram kegiatannya yang berbeda. ddan yang sejenisnya . SLTA. Pelayanan lingkungan hidup. Agama. Dapat nandu sawah pelaba pura (menggarap tanah bengkok kalau di Jawa ). Dari segi keadilan dirasakan adil. 152 . 2007. atau uang jasa dari pihak yang terkait. g.. pembangunan. saling bantu membantu. Apa saja yang dilayani oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. pola dan jenis pelayanannya masih bersifat tradisional ( gugon tuwon ) perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang lebih mantap lagi. Adat.. Apa yang anda pahami mengenai pelayanan publik? Yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman ke pada masyarakat dalam rangka meringankan beban masyarakat dalam rangka pelaksanaan upacara Agama. 2). Seperti di bidang Agama semua kegiatan keagamaan mulai dari upacara manusia lahir sampai dengan meninggal di layani oleh Desa Pekraman 151 Analisis pelayanan . Monggol I Ketut. sengketa adat. adat. budaya. I Nyoman. Tidak ada sengketa adat. didukung oleh pendapatnya. Tidak demikian. tapi semua dilayani dengan bagus baik Desa Dinas dan Desa Pakraman. 2. apakah ada jenis pelayanan yang sama diberikan oleh kedua desa tersebut. Ada rasa kecemburuan soail dari segi upah/gaji antara kelian dinas dan kelian adat.. Partisipasi masyarakat berdasarkan unsur kekeluargaan/kekerabatan.. hal ini terbukti pelayanan publik yang dilaksanaan oleh kelompok sangat solid. Jurka. h. keamanan. baik darti segi ketaatan. Ada system ngompog bagi yang tinggal di kota hal ini dapat berakibat lemahnya sistim gotong royong kalau semua anggota minta ngompog ( kerja bhakti diganti dengan system uang ). sosial kemasyarakatan. Jenis dan jumlah nya pelayanan oleh Desa Pekraman lebih banyak sedangkan Desa Dinas titik berat nya hanya dalam bidang pemerintahan. I Wayan Suarjaya. Managemen pelayanan Untuk Desa Dinas sudah memadai ada standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pendapat Jurka I Nyoman 60 Th. 1). Kelemahan Desa Pakraman dalam sistemnya. 3). Partisipasi masyarakat yang didorong oleh ikatan kelompok sangat bagus dan kuat. walaupun tidak besar ( belum cukup untuk memenuhi kehidupan yang layak ). Pelayanan yang paling sering adalah dalam bidang suka duka saja. Pendapat yang sejenis dan seirama dengan pendapat Bapak Mastera. lingkungan hidup. i. perekonomian. Kerjasama antar regu sangat bagus. Wangaya kelod Penebel Tabanan.. kalau ada apakah bisa menjadi konflik dalam pelayanan atau bisa bersinergi ? Bidang – bidang yang dilayani oleh Desa Pakraman meliputi sembilan bidang. petani. keamanan. pembangunan. tetapi untuk Desa Pakraman. pemerintahan. FISIP UI. Sedangkan Perangkat Desa Dinas dalam memberikan pelayanan dia mendapatkan imbalan berupa gaji/honor dari pemerintah. Saat nebang pohon ada tanda tanaman yang harus ditanam kembali. saling bantu membantu. I Gede. Yase Negara. j.

pelayanan terhadap masyarakat dilayani bersama-sama dengan parsitipasi masyarakat. Suwetra I Ketut. dan Sangra I Ketut. Arya I Nyoman. hal ini dapat dibuktikan sampai saat ini tidak ada keluhan yang mendasar terhadap kualitas pelayanan.. hal ini sulit dicarikan solusinya terebih lagi ada kegiata upacara di pura. 3. Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan lebih berat adalah bendesa adat. sama dengan jenis pelayanan oleh desa dinas. 153 Analisis pelayanan . 3. pernah terjadi konflik muncul karena. Pelayanan desa dinas bentuknya apasaja? Ada administrasi pemerintahan. a. Banjar Denuma. Konflik yang muncul pada umumnya menyangkut masalah pengaturan dan penggunaan dan pertanggung jawaban ke uangan Desa saja. FISIP UI. Pegawai Negeri Sipil.Ada pelayanan suka dan duka. Pengaturan parsitipasi masyarakat di atur berdasarkan kelompok atau regu. Jawaban Seregeg I ketut. Pelayanan Desa Dinas lebih ringan karena jenis pelayanan sudah jelas ada pedomannya dan ada anggaran daei pemerintah dalam melaksamakan tugas tersebut. b. seperti dalam pembuatan jalan desa pakraman. Mengatakan bahwa pelayanan Desa Pekraman jauh lebih banyak dan lebih padat seperti contoh: 1. walaupun bidang tugasnya sama tetapi dari segi aspek pelayanan Desa Pakraman lebih berat.? Hal itu bisa terjadi. Tabanan. Desa Pekraman dalam memberikan pelayanan tidak mengenal jadwal waktu(pelayanan dilaksanakan 24 jam) sedangkan Desa Dinas memberikan pelayanan sesuai dengan jam kantor. Rugeg I Ketut. Jawaban senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh masyarakat Sulasa I Ketut. Desa Dinas sudah punya pdoman baku. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan yang diberikan oleh Desa Pakraman maupun Desa Dinas telah berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Sujana I Wayan. 57 Th. Dalam pelaksanaan awigawig desa serta berbagai kegiatan keagamaan.. 2. I Wayan Suarjaya. Tengkudak Penebel. Pelayanan dalam bentuk suka dan duka tidak mengenal waktu terutama dalam rangka menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan karna dilakuka 24 jam. Warta I Ketut. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan semuanya darei swadaya sendiri k. Apa ada gesekan terjadi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman.. lingkungan hidup dll. b. karena adanya unsure pribadi yang dibawa dalam organisasi.sedangkan Desa Dinas hanya melayani di bidang kerukunan umat beragama. Hanya saja tuntutan masyarakat adanya keterbukaan dan transparan dalam pengelolaan bantuan maupun dalam pengelolaan kruangan Desa... lebih – lebih masyarakat sampai demonstrasi kepada perangkat desa maupun kepada prajuru desa. karena banyak melakukan berbagai macam pengaruh dan tanpa pedoman. pembangunan. Sudana I Wayan. kecemburuan social dalam penggunaan anggaran pemerintah yang pelaksanaannya kurang transparan. ketatan masyarakat terhadap kedua desa tersebut lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman karna Desa Pakraman akan memberikan sehingga takut tidak mendapatkan pelayanan dari Desa Pakraman. 154 . Nurtaya I Ketut. 4). Partisipasi masyarakat sangat tinggi hal ini dapat dilihat dari kekompakan dalam melaksanakan program gotong royong. 2007. Desa pakraman juga melakuan hal itu. sehingga memerlukan kajian baru yang berat oleh desa pakraman. dan Nurtaya. . Pendapat seperti yang di kemukakan oleh Jurke I Nyoman di kemukakan juga oleh tokoh-tokoh masyarakat Desa Wangaya Gede seperi yang di kemukakan oleh Sukarta I Ketut. Ada masalah manak salah atau anak buncing. Tetapi pelayanan desa dinas hanya melayani administrasi saja yang sudah ada pedoman baku.

Sedangkan Perangkat Desa Dinas dalam memberikan pelayanan dia mendapatkan imbalan berupa gaji/honor dari pemerintah. baik darti segi ketaatan. maka Desa Pakraman juga kut membantu bersama-sama. I Wayan. n. ya bisa seperti keamanan. 155 Analisis pelayanan . Pelayanan yang paling sering adalah dalam bidang suka duka saja. Partisipasi masyarakat berdasarkan unsur kekeluargaan/kekerabatan. Ketaatan masyarakat terfhadap Desa Dinas dan Desa Pakraman. 5. hal ini terbukti pelayanan publik yang dilaksanaan oleh kelompok sangat solid. Ada pelayanan yang tidak bagus. pohon dan tanaman lainnya yang dibangun tempat suci untuk kesucian. Saat nebang pohon ada tanda tanaman yang harus ditanam kembali. I Gede. saling bantu membantu. l. FISIP UI. p. Bidang tugas yang sama apa bisa disinergikan?. saling bantu membantu. Dari segi keadilan dirasakan adil... m. 2007. dalam kegiatan kerja bhakti dalam waktu yg sama. Jurka. didukung oleh pendapatnya. Dapat nandu sawah pelaba pura. Partisipasi masyarakat yang didorong oleh ikatan kelompok sangat bagus dan kuat. tidak demikian. Suartha. Tidak ada sengketa adat.pembangunan SD dll. 4. Monggol I Ketut. I Nyoman. walaupun tidak besar ( belum cukup untuk memenuhi kehidupan yang layak ). I Wayan Suarjaya. Yase Negara. I Gede. pelayanan terhadap masyarakat dilayani bersama-sama dengan parsitipasi masyarakat. Juga di bidang perekonomian/pertanian. o. maka masyarakat taat rapat desa pakraman dari pada rapat Desa Dinas. Pelayanan lingkungan hidup. tetapi lebi taat kegiatan desa pakraman dari ada kegiatan desa dinas. kependudukan/pemerintahan. 6. q. kejujuran. menurut pendapat saya. Ada rasa kecemburuan soail dari segi upah/gaji antara kelian dinas dan kelian adat. Hanya saja ada dana batu-batu saat ada kawin.. hal ini dapat dibuktikan bahwa semua pelayanan telah dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. 156 . Pelayanan dalam bentuk suka dan duka tidak mengenal waktu terutama dalam rangka menyelenggarakan upacaraupacara keagamaan karna dilakuka 24 jam. r. Kerjasama antar regu sangat bagus. Mandhyasa I Nyoman.. dllnya. ketatan masyarakat terhadap kedua desa tersebut lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman karna Desa Pakraman akan memberikan sehingga takut tidak mendapatkan pelayanan dari Desa Pakraman. mana yang lebih ditaati ? Masyarakat lebiuh taat kepada Desa Pakraman. keterbukaan. Prajuru Desa dalam memberikan pelayanan secara tulus di dirong oleh sikap pengabdian. Ada system ngompog bagi yang tinggal di kota. peternakan melaui kelompok. Karena masyarakat takut sepekang desa pakraman. atau uang jasa dari pihak yang terkait. Managemen pelayanan Untuk Desa Dinas sudah memadai ada standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.. serta dalam memberikan pelayanan tidak mengenal payah dan waktu ( 24 jam ) tanpa mendapatkan honor atau gaji dari pemerintah. tetapi untuk Desa Pakraman.. Pengaturan parsitipasi masyarakat di atur berdasarkan kelompok atau regu.. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. seperti penanaman bunga. missal perkawinan sama-sama menyaksikan. Pendapat yang sejenis dan seirama dengan pendapat Bapak Mastera. walaupun demikian pekerjaan Desa Dinas juga dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat dengan jalan hal yang bersamaan itu didamaikan yakni sama-sama dilaksanakan. pola dan jenis pelayanannya masih bersifat tradisional ( gugon tuwon ) perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang lebih mantap lagi. Misalnya dalam hal rapat. tapi semua dilayani dengan bagus baik Desa Dinas dan Desa Pakraman. Kelemahan Desa Pakraman dalam sistemnya.

Selanjutnya Pengempon Pura Batukaru. PT Mekar Jaya.. Undang–undang No. 57 Perhatikan pendapatnya Bayu Suryaningrat. Dosen. tentang Pemerintahan Desa. kecil nya kegiatan dengan parsitipasi masyarakat dengan satu regu saja dan seterusnya. tepat. terakhir diatur berdasarkan Undang–Undang No. dan Senadra I Wayan. Undang–Undang No. B. Desa Tengkudak. Pelayanan yang di berikan dengan cepat terbukti semua jenis pelayanan di bidang upacara keagamaan selau di laksankan tepat waktu sesuai dengan ketentuan tata upacara keagamaan. Pelayanan yang diberikan dengan hemat dan efesien. kecil nya kegiatan dengan parsitipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan. melindungi. Jurka I Nyoman. tentang Desa Praja. tugas pokok dan fungsinya adalah menghimpun. Masa Lalu. memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan bidang pemerintahan. serta tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh pemerintah kolonial berdasarkan Stb. yang diwariskan oleh para leluhur mereka. hal 65.. dan Sutoro Eko. 1938 No. Wangaya Gede mengtakan bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas telah melaksanakan pelayanan public dengan cepat. serta menegakkan adat-istiadat budaya dan agama Hindu. Pengempon Pura Batukaru. 5 tahun 1979. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Warta I Ketut. kepada generasi penerusnya. tepat. parsitipasi masyarakat disesuaikan dengn besar.32 tahun 2004. parsitipasi masyarakat disesuaikan dengn besar. 32 tahun l999. Undang-Undang No. Zaman Reformasi. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman pada mula terbentuknya. 22 tahun l948 tentang Pemerintahan Daerah. Jika upacara kecil ukup dilayani efesien. Pada jaman Orde Baru tugas pokok dan fungsi Desa diseragamkan seluruh Indonesia. STPDN. dan Sangra I Ketut. 2005 hal 441 157 Analisis pelayanan . hemat. S3. Pelayanan yang di berikan dengan cepat terbukti semua jenis pelayanan di bidang upacara keagamaan selau di laksankan tepat waktu sesuai dengan ketentuan tata upacara keagamaan. 19 tahun 1965. Masa Kini dan Masa Depan Otonomi Desa. I Wayan Suarjaya. Hal ini terbukti: b.. 32 tahun 2004. Tabanan. 45 Th. dengan diberlakukannya Undang– Undang No. tugas pokok dan fungsi Desa Dinas dilanjutkan oleh Pemerintah RI yang diatur berdasarkan Undang–Undang No. Desa Dinas merupakan unsur pemerintah yang paling bawah. L976.57 Setelah kemerdekaan. Keberadaan Desa Pakraman lebih dulu ada di bandingkan Desa Dinas. dan efesien. maka semua unsur pelayanan pemerintah juga dilaksanakan oleh Desa Dinas. 490 yang mengatur bagi satuan–satuan masyarakat hukum adat luar Jawa dan Madura. Pelayanan yang diberikan dengan hemat dan dalam memberikan pelayanan. hemat. memelihara. 158 .Jawaban Subagiasta I Ketut. FISIP UI.Jawaban senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh masyarakat Sulasa I Ketut. dan efesien. Pemerintahan dan Administrasi Desa. eksistensi desa dikembalikan sesuai dengan asal-usul pembentukan desa. c. Pemberian pelayanan tersebut berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui undang-undang. 4.. APMD Pres. Analisis Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Pada mulanya Desa Dinas tugas pokok dan fungsinya . Sudana I Wayan. Berlanjut secara turun-temurun. Jika upacara kecil cukup dilayani dengan satu regu saja dan seterusnya. Pendapat seperti tersebut di atas di dukung oleh Sura I Gede. dan tidak pernah upacara keagamaan sampai tertunda demikian pula Desa Dinas dalam memberikan pelayanan administrasi juga tepat waktu. Hal ini terbukti: a. dan tidak pernah upacara keagamaan sampai tertunda demikian pula Desa Dinas dalam memberikan pelayanan administrasi juga tepat waktu. Wangaya Gede mengtakan telah bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas melaksanakan pelayanan public dengan cepat. Penebel. Nurtaya I Ketut. 2007.

Pelayanan dominan diambil alih oleh Desa Dinas. sukinah.25 Maret 2006.7. Pembinaan Adat dan 5. serta Tokoh masyarakat. 59 taruni. Rangkuman hasil penelitian tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman dapat diuraikan ada sembilan bidang pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. peradilan adat. Adat dan budaya. duka. Desa Dinas 1. keamanan. Pembinaan taruna. Menjaga kerukunan umat bergaman. 5. Pembinaan keluarga sukinah. saling melengkapi dan memberi makna. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 58 dalam memberikan pelayanan publik. serta masing–masing desa mempunyai program pelayanan sebagai tertera dalam tabel berikut: Tabel 10 Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas59 No. Tiga unsur hubungan ini sebagai pencerminan pelaksanaan filsafat Tri Hita Karana. sedangkan adat-istiadat dan budaya Desa Pakraman memberikan dijiwai oleh Agama Hindu. Jenis pelayanan Bidang Agama Desa Pakraman 1. Pembinaan mental. dipinggirkan. kesra. 2007. Dewa Yadnya Pitra Yadnya Manusa Yadnya Resi Yadnya Butha Yadnya umat II.58 Perkembangan selanjutnya tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman tumbuh dan berkembang sesuai dengan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 15. (3) antar umat manusia dengan alam lingkungannya. Berdasarkan Undang-Undang No. Desa Pakraman. Berdasarkan undang-undang No. Melayani Suka Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa. 5 Tahun l979 tersebut. 2.. 4. Gotong royong (salunglung sabayan taka). 9. karena dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mensukseskan program pembangunan melalui jalur bahasa Agama. I. 14. Desa Pakraman Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. lingkungan hidup. Tiga unsur pelayanan Adat. seiring dengan perjalanan zaman. 2. 8.Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. berkembang menjadi sembilan bidang pelayanan: agama. Adat. pelayanan publik oleh Desa Dinas cenderung lebih dominan dan pengaturannya bersifat sentralistik. pada tanggal 22 _. Zaman Kemerdekaan hingga Orde Baru. Menetapkan program desa. pembangunan. sosial kemasyarakatan. menjaga hubungan yang harmonis antara: (1) manusia dengan Tuhan. . Budaya dan Agama. Penyelesaian masyarakat. Menetapkan awig- Sangkep Banjar. Pembinaan mental Kerukunan beragama. dan perekonomian. Suka duka. I Wayan Suarjaya. semakin memberikan fungsi dan peran yang lebih besar terhadap organisasi tradisional termasuk Desa Pakraman. pelayanan dalam menata dan mengatur kehidupan masyarakat/kerama. FISIP UI.. 7. pemerintah berupaya menyeragamkan klasifikasi tipe desa yang telah ada sebelumnya. 13.. 3. Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah. Desa Pakraman tidak mendapatkan tempat sesuai dengan peranannya dalam meberikan pelayanan publik. Bidang Sosial Kemasyarakata n 8. 3. adat dan agama Desa Wongaya Gede. pemerintahan. Penyelesaian kasus konflik masyarakat. 12. 11. mengalami pasang surut. 5 tahun l979 tentang Pemerintahan Desa. Agama dilestarikan melalui adat-istiadat dan budaya. 6. 4. budaya dan agama. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomer 22 Tahun l999 kemudian diperbaharui dengan Undang–Undang Nomer 32 Tahun 2004. 10. 160 . (2) hubungan sesama umat manusia. Pembinaan kelu 6. terutama dalam pelayanan publik di bidang adat. 159 Analisis pelayanan .. Rapat desa. awig.

lihat pula Peraturan Daerah Bali Nomor 3 Tahun 2001. dan peternakan.III. Pelestarian tanaman untuk upacara. 27. suka duka. 28. dan pembangunan.. Menjaga kelestarian hutan. sosial kemasyarakatan: sangkep Banjar. 26. pendidikan. Bidang Pembangunan Bidang perekonomian Berdasarkan hasil penelitian. program pelayanannya60 meliputi: a. menetapkan awigawig. Pengembangan pariwisata budaya 9. Menjaga keamanan desa oleh pecalang. Bidang Pemerintahan 33. Merencanakan pembangunan desa bersama-sama dengan desa Pakraman. renovasi balai banjar. 20. Menjaga keamanan pura. Bidang Keamanan 12. Menyelesaikan konflik di masyarakat. 162 . lingkungan hidup: menjaga kelestarian sumber air. penyelesaian kasus masyarakat. Bidang Lingkungan Hidup 16. yang meliputi upacara-upacara Dewa V. Mendukung Program Pariwisata. Mendorong WAJAR 9 tahun. 2007. VII. Renovasi balai banjar 24. Butha Yadnya. 149. dan membantu pembangunan masyarakat. 17. 30. Koperasi unit desa (KUD). pertanian.perkebuna n. Pitra Yadnya. Tahun 2005. Menjaga kelestarian sumber air. Membantu masya membangun . 18.. 34. Penghijauan desa. 18. beragama. menjaga keamanan pada saat upacara Agama berlangsung Yadnya. Memotipasi kesehatan masyarakat. Memelihara jalan selokannya pura 22. Melayani surat keterangan dan perijinan. gotong royong (salunglung sebayan taka). Koordinasi dengan desa Pakraman. 25.. memelihara air bersih di pura. 20. FISIP UI. memelihara bangunan fisik adat. Menyelesaikan sengketa adat. e. adat dan budaya. Menjaga kesehatan masyarakat. dan pelestarian tanaman untuk upacara. Keamanan: menjaga keamanan desa oleh pecalang. 161 Analisis pelayanan . hal. pajak. Memelihara air bers pura 21. 11. Menjaga kelestarian hutan. pembinaan keluarga sukinah. c. pembangunan. Renovasi Pura 23. bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas mempunyai sembilan bidang pelayanan publik. d. Melayani KTP dan KK. Memperhatikan kesejahteraan guru. dan kerukunan umat 60 Wawancara dengan Kepala Desa Pakraman (Prajuru) . b. Bidang KESRA 14. 21. 15. IX. memelihara jalan dan selokan lingkungan pura. 10. Memelihara bang fisik adat. dan Monografi Desa Wongaya Gede. Mendorong WAJAR 9 tahun melalui bahasa agama 31. VI. tata keagamaan. 19. 32. Bidang Peradilan Adat 13.Pertanahan.. Membantu program pemerintah melalui bahasa agama seperti: kesehatan. VIII. 19. renovasi tempat ibadat. IV. 17. 16. pembinaan karang taruna. Menyiapkan gedung SD. Lembaga perkreditan desa (LPD). 22. menjaga kelestarian hutan. 29. Manusa Yadnya. Menjaga kelestarian sumber air. I Wayan Suarjaya. pembinaan mental. dan upacara keagamaan. penghijauan desa. Menjaga keamanan oleh hansip. Resi Yadnya.

Pitra Yadnya. melalui musyawarah desa. yang diselenggarakan bersama sama dengan anggota masyarakat. budaya dan agama dari gerusan arus modernisasi dan globalisasi terutama pengaruh barat. Tari dan lain-lain Desa Pakraman mempunyai kewajiban utama untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat (kerama) dalam rangka pelaksanaan Upacara Agama (Panca Yadnya)61. Gong. sesuai dengan hasil penelitian sebagai berikut: 1. Dewa Yadnya. seperti Banjar. Kesejahteraan rakyat: mendorong wajib belajar 9 tahun. melestarikan dan menyelenggarakan Upacara keagamaan. Sembilan jenis pelayanan publik. dan pariwisata. budaya dan agama serta nilai-nilai lokal lainnya tetap berdiri tegak 62 Hasil wawancara dengan kepala Desa Pakraman di desa Wongaya Gede tanggal 18 Februari 2006. merupakan bidang yang paling utama dilayani oleh Desa Pakraman.. dan mengaja keharmonisan manusia dengan alam lingkungannya62..Fungsi pelayanan bidang agama yang dilaksanakan Desa Dinas. Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya 163 Analisis pelayanan . keharmonisan hidup manusia dengan sesama umat manusia. Karena sejak awal terbentuknya. serta pembinaan secara berkala. 2007. i. Desa Pakraman dapat menjadi model menarik dan cukup tepat dalam rangka pemberian pelayanan publik yang langsung menyentuh akar rumput. Menurut penjelasan masyarakat bahwa kerukunan umat beragama telah berjalan. Visi dan misinya membina. peranan Desa Pakraman masih kuat dan dapat diandalkan. Artinya betapapun kecenderungan global mempengaruhi adat.( jika ada ). tempek. menjaga kesehatan masyarakat. FISIP UI. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keagamaan Desa Dinas berfungsi memberikan pelayanan bidang agama. hal ini jarang terjadi. tidak ikut masuk dalam bidang upacara Agama. dan sekeha 63.. dan menyelesaikan sengketa adat. 63 Sekehe adalah organisasi profesi sesuai dengan bidangnya masing-masing seperti. yang berkaitan dengan adat-istiadat secara penuh dijalankan oleh Desa Pakraman tanpa intervensi dari pihak manapun. Sekeha Kidung. mental spiritual. Hal ini terbukti mulai zaman kolonial sampai sekarang eksistensi Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan di bidang agama masih tetap lestari. moral. Artinya kebutuhan masyarakat. Korban suci itu meliputi. h. terutama dari sisi sopan santun.Sengketa Adat: menyelesaikan konflik dimasyarakat. g. manusia dengan manusia. Hal ini dilandasi oleh filsafat yang dianut umat beragama Hindu adalah menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia sebagaimana yang termaktub dalam Tri Hita Karana. Jadi segala aktivitas yang berkaitan dengan aspek agama pelayanannya menjadi tanggung jawab Desa Pakraman. Pemberlakuan Otomoni Daerah. manifestasi-Nya untuk menjaga keharmonisan hidup manusia dengan Tuhan. I Wayan Suarjaya. f. Rsi Yadnya. Pelayanan di bidang keagamaan.. Fakta inilah yang mendorong kelestarian budaya (dengan semboyan ajeg Bali ) diperkuat oleh adat-istiadat melalui organisasiorganisasi yang menjadi kepanjangan tangan Desa Pakraman. Pelayanan yang diberikan oleh aparat Desa Dinas dalam menjaga kerukunan umat beragama. hanya dalam menjaga kerukunan umat beragama. dan manusia dengan lingkungan hidup. yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman akan diuraikan secara terinci. Berkoordinasi dengan Desa Pakraman dalam rangka pembinaan mental spiritual dengan menyelenggarakan dharma wacana . Pemerintahan yaitu: membantu program pemerintah melalui bahasa agama. Perekonomian: pengembangan lembaga perkreditan desa. Upacara Yadnya adalah segala persembahan/korban suci kepada Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi Wasa) dalam berbagai 61 Panca Yadnya adalah lima korban suci dalam rangka menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.menurut penjelasan dari Tokoh masyarakat bahwa. Desa Pakraman memiliki peran dan fungsi dalam membentuk karakteristik masyarakat. 164 . Peranan Desa Pakraman dalam melestarikan adat.

. b). Pelaksanaan agama Hindu tidak dapat melepaskan aspek pendukung utamanya. membentuk panitia/pelaksana kegiatan. yaitu di Kahyangan Tiga. Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 165 Analisis pelayanan . Jadi seluruh Desa Pakraman di Bali memiliki Kahyangan Tiga-nya masing-masing. upacara Dewa Yadnya dilakukan di pura umum. 66 Pengempon adalah organisasi kemasyarakatan di bawah Desa Pakraman yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memelihara kelestarian pura dari segi pembangunan fisik maupun upacara keagamaannya. Bahwa antara pura yang satu dengan yang lainnya tidak sepenuhnya diatur oleh kerama. menjalankan seluruh aktivitas ritual dari awal hingga berakhirnya pelaksanaan upacara. Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Ketiga pura ini dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Desa Pakraman.. dalam rangka peringatan pembangunan Pura. Pada setiap Desa Pakraman. kahyangan Pura Puseh.. dalam awig-awig adat disebutkan ada pelaksanaan upacara di Pura Dalem. melalui manifestasi-Nya yang disebut dewa-dewi. Pemujaan kehadapan para dewa. pengaturan pujawali di kahyangan jagat Pura Luhur Batu Karu. 166 . mempersiapkan dana upacara yang didapat melalui penggalian dana dari iuran seluruh masyarakat. dana punia/donatur. Adat. Adapun pelayanan yang diberikan dalam pelaksanan Yadnya tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a). dan Pura Desa. Pitra Yadnya. Sthiti Pemelihara serta Pemralina mengembalikan kepada asalnya. Pura Desa. menentukan jadwal/susunan acara dan waktu pelaksanaan. d). Pelayanan ini dikoordinir oleh Bendesa Adat bersama seluruh Kelihan Banjar dan masyarakat mengikutsertakan pemangku sebagai pemimpin upacara. tetapi tidak sepenuhnya dipegang oleh umat maka pelayanan di bidang upacaranya diserahkan kepada Pengempon Pura Puseh masing-masing. 2007. yaitu adat dan budaya. Pujawali juga dikenal dengan istilah Piodalan yang bermakna perayaan kehadiran/kelahiran/Peresmian bangunan Pura. alam semesta beserta isinya. I Wayan Suarjaya. Sementara Desa Desa Pakraman memberikan pelayanan di bidang upacara keagamaaan yang diselenggarakan di Pura Kahyangan Tiga atau Pura Umum di lingkungan Desa Pakraman. sarati banten dan unsur masyarakat yang biasanya digilir per-Banjar yang terdapat di Desa Pakraman tersebut. Yadnya. mekanismenya hampir sama pada saat akan melaksanakan Rsi upacara dilakukan untuk upacara: Dewa Yadnya. tetapi diatur oleh pengempon66 masing-masing. yang mana Desa Wongaya Gede mempunyai dua Pura Puseh.. Oleh karena demikian setiap pura ada pengempon yang mengurusnya. Masalah yang timbul 64 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. pelaba pura. Upacara ini disebut dengan Dewa Yadnya. Pelayanan publik di bidang keagamaan dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Pelayanan dalam Bidang Dewa Yadnya sekarang. Pura Puseh dan Pura Dalem. Dewa Yadnya merupakan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa. Pengaturan pujawali 65 di kahyangan tiga. dan memberikan makna64. Pelayanan publik Desa Pakraman pada saat Dewa Yadnya. Karena ke tiga unsur tadi saling melengkapi.sepanjang eksistensi Desa Pakraman masih kuat. Pura Pengaturan pujawali di Kahyangan Dalem Wisesa. yang diempon oleh sekelompok keluarga. Dalam manifestasinya sebagai: Utpeti Pencipta. c). Agama dan Prajuru Desa 65 Pujawali adalah upacara besar yang dilaksanakan. Oleh karena Pura Puseh yang ada wilayah Desa Pakraman ada dua. FISIP UI. didorong oleh ungkapan terima kasih dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. setiap enam bulan atau setahun. Hanya obyek upacaranya yang berbeda. Puseh. Jenis pelayanan publik Desa Pakraman seperti di atas. menentukan “pengayah” (pelayan) yang berasal dari pinandita/pemangku.

melahirkan. Kriteria kesederhanaan. dan keadilan dalam konteks upacara-upacara keagamaan selain sebagiannya dilayani oleh Desa Pakraman. tergantung permintaan dari pihak keluarga Pelayanan publik yang utama pada saat keluarga mengawinkan anaknya adalah sebagai berikut: a). keamanan. gotong-royong dalam rangka keharmonisan hidup antara manusia dengan manusia. juga tergantung dari partisipasi masyarakat. Upacara Manusa Yadnya yang lain. dan keadilan dipandang relatif bagi pelayanan publik oleh Desa Pakraman.. Jika tingkat upacaranya kecil. sebagai saksi kepada masyarakat luas bahwa si anak tersebut telah menikah secara syah baik menurut adat. sampai dengan anaknya itu kawin lagi. Dinyatakan relatif karena kesederhanaan. sebagai saksi secara adat dan agama. Manusa adalah upacara yang dilaksanakan untuk Yadnya meningkatkan kesucian secara simbolis. efisien. efisien. b). agama dan hukum. kepastian. pelayanan akan dilaksanakan oleh Banjar atau tempek/regu masing – masing. dan e). Jika tingkat upacara diambil tingkatannya besar maka pihak keluarga mengajukan permohonan kepada Prajuru Desa Pakraman untuk membantu penyelenggaraan rangkaian upacara tersebut. mengatur prosesi ritual tatanan upacara sampai dengan resepsi perkawinan tersebut berakhir. Upacara Manusa Yadnya. dan ketepatan waktu tak sepenuhnya dapat diberlakukan. pelayanan publik yang diberikan tergantung permintaan keluarga yang bersangkutan.. 3). Dirangkum dari informasi Pengurus Desa Pakraman serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006.. Diantara upacara Manusa Yadnya tersebut pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman adalah pada saat Upacara Perkawinan. efisien. I Wayan Suarjaya. membantu pihak keluarga untuk mempersiapkan sarana dan prasarana sesajen yang dipergunakan untuk upacara perkawinan. memohon kepada Tuhan memohon Wara Nugraha/rahmat agar kehidupannya lebih baik di dunia ini maupun di dunia akhirat (moksa). bayi dalam kandungan yang telah berumur tujuh bulan (Garbhadana)/mitoni. keterbukaan. 69 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 1 Februari 200. maka pihak bendesa adat mengalami kesulitan dalam mendata warganya69. FISIP UI. turut menandatangani berita acara perkawinan untuk kelengkapan administrasi mendapatkan akta perkawinan. sebagai saksi bahwa si anak tersebut akan menjadi anggota baru bagi Banjar dan Desa Pakraman. 167 Analisis pelayanan . 168 . sedangkan dalam Upacara Pawiwahan (perkawinan) selalu disaksikan dan disahkan oleh bendesa adat.. Dengan adanya warga yang tidak melaporkan diri kepada bendesa adat.68 Permasalahan yang ada di Desa Adat Wongaya Gede yakni adanya beberapa anggota adat. bertujuan untuk menjaga rasa kekeluargaan.67 2) Pelayanan Bidang Manusa Yadnya Pelayanan di bidang Manusa Yadnya. ekonomis. otonan. mulai dari upacara perkawinan.Dinas untuk bidang sosial keagamaan ini hanya menjadi mitra kerja dan untuk kepentingan koordinasi. c). 67 68 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 1 Pebruari 2007. ekonomis. d). keadilan. Hal ini berarti pelayanan publik oleh Desa Pakraman sebagai sebuah institusi dari perspektif kriteria pelayanan publik seperti kesederhanaan. ekonomis. bahwa dalam perceraian ada warga yang tidak melaporkan diri ke bendesa adat. Raja Swala/upacara meningkat dewasa. Pelayanan Bidang Rsi Yadnya Desa Pakraman dalam pelayanan publik terhadap upacara Manusa Yadnya ini tidak seluruh upacara tersebut dilayani. 2007.

b) memberikan pelayanan.. baik berlaku sebagai saksi maupun memberikan informasi secara luas kepada masyarakat yang terkait dengan sasana sebagai pemangku.Pelayanan yang berkenaan dengan Upacara Resi Yadnya sesuai “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede”. d) upacara saat dua belas hari (ngerorasin). Desa Pakraman. Jika saat itu ada upacara dewa yadnya dibolehkan tidak melapor. hal 20 Ngelinggihang Dewa Pitara. c) mendukung rangkaian pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya. c) memberikan pelayanan kepada masyarakat secara luas agar warga masyarakat sadar dan turut serta melakukan kegiatan amal (dana punia) kepada para pemangku dengan tuntunan dari prajuru Desa pakraman. Jika jenazah di kubur sementara. sesuai “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede” berupa: a) membantu keluarga duka yang melakukan Upacara Pitra yadnya (Ngaben). Peran Desa Pakraman sangat vital dalam memberikan pelayanan publik dalam upacara ini. Awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede. (b) kewajiban Desa dan Banjar Pakraman menindak lanjuti laporan masyarakat.70 antara lain dinyatakan: a) memberikan pelayanan kepada masyarakat yang akan melakukan upacara untuk menjadi pemangku. khusus untuk Desa Pakraman Wongaya Gede upacara ngaben tidak dilaksanakan dengan membakar jenasah.71 4). Bentuk upacaranya ada yang dikubur sementara ada yang langsung diaben... 2007. dalam memantapkan ketertiban dalam pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya. melalui Kelihan Banjar juga memiliki kewajiban untuk melaporkan secara administrasi kematian kepada Desa Dinas. d) memberikan pelayanan kepada pemangku dengan membebaskan dari kewajiban-kewajiban selaku anggota Desa Pakraman seperti bebas dari pungutan biaya. Menurut keyakinan Umat Hindu bahwa pada saat itu Atman yang meninggal telah mndapat tempat yang baik ( Amor ring Hyang Acintya/bersatu dengan Tuhan ) 71 169 Analisis pelayanan . yaitu ketika manusia meninggal. 170 . Bendesa Adat akan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dengan upacara pengabenan tersebut. dengan menyuarakan kulkul sebagai pertanda adanya kematian. maka pelayanan yang diberikan cukup sampai jenasah itu di kubur. meninggal akan diaben akan membutuhkan waktu yang relatif lama. rapatrapat. 2003. baik yang dilaksanakan dengan mengubur (mendem). serta mengawasi umat atau masyarakat yang melakukan upacara agama. tetapi hanya mengubur saja. rangkaian upacara pitra yadnya (pengabenan). FISIP UI. serta rangkaian upacara mensthanakan dewa pitara (ngelinggihang dewa pitara). tidak diperkenankan membuat lubang di kuburan lewat dari sehari. Pelayanan Bidang Upacara Pitra Yadnya Upacara Pitra Yadnya adalah upacara terakhir yang ditujukan kepada manusia. adalah rangkaian terakhir dari Upacara Ngaben. dan ikatan lainnya sebagai kompensasinya pemangku wajib melayani umat dalam memimpin upacara keagamaan. sesuai “Awig-Awig” sebagai berikut: (a) jika ada yang meninggal wajib melapor kepada Prajuru Desa Pakraman. I Wayan Suarjaya.. Bentuk Pelayanan publik dalam kaitannya dengan pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya (Ngaben). tuntunan. b) memimpin kegiatan rapat masyarakat (sangkepan) untuk menghasilkan keputusan (perarem). Apa bila yang 70 Ketentuan pokok yang wajib ditaati oleh setiap warga masyarakat Desa Pakraman.

amati lelanguan (tidak berhura-hura). Pelayanan Bidang Bhuta Yadnya Pelayanan publik oleh Desa Pakraman dalam didang upacara Bhuta Yadnya diwujudkan mulai dari persiapan upacara sampai dengan berakhirnya upacara tersebut. dikaji berdasarkan landasan teori. amati karya (tidak bekerja). seperti nanggluk merana. h) setiap warga masyarakat wajib melakukan kegiatan sima kerama atau dharma santi (perilaku saling mengunjungi sanak famili dan saling memaafkan satu sama lainnya). 2007. menstruasi.. Banjar. Upacara ini sebetulnya dilakukan oleh semua masyarakat. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan di bidang Agama didukung 171 Analisis pelayanan . FISIP UI. melahirkan. b) bagi masyarakat yang melaksanakan upacara bhuta yadnya wajib mempermaklumkan kepada prajuru Desa pakraman. memanfaatkan partisipasi masyarakat. dalam cuntaka dilarang masuk ke pura dan bagi yang melanggar dikenai sanksi. amati lelungaan (tidak bepergian). tetapi yang berskala besar dan melibatkan Desa Pakraman hanya tertentu saja. perkawinan.. 72 Yadnya adalah tawur agung kesanga. (d) yang dikategorikan sebagai cuntaka mencakup: kematian. f) ketentuan brata penyepian berlangsung selama sehari penuh sejak pagi hari sampai besok paginya . c) jenis pelaksanaan upacara bhuta yadnya diputuskan dalam pelaksanaan rapat desa maupun banjar melalui keputusan berupa perarem.(c) mentaati ketentuan cuntaka sesuai sastra agama. Peran utama Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan upacara Bhuta Dirangkum dari informasi Pengurus Desa Pakraman serta Aparat Desa pada tanggal 12 Februari 2007. tawur dan lain-lain. Seluruh Kelihan Banjar dan masyarakat Desa Pakraman terlibat secara aktif dalam aktivitas ritual ini. Pelaksanaanya dilakukan dengan cara me-caru.72 5). ditemukan bahwa pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman di bidang Agama. (g) ketentuan tentang pelaksanaan Upacara Ngaben mengikuti ketentuan sumber sastra agama serta keputusan bersama dalam sangkepan kerama desa/Banjar berupa perarem... melakukan perilaku kejahatan serta melakukan perbuatan selingkuh. melakukan tindakan seks bebas. d) pelaksanaan upacara melasti dilaksanakan sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. makelem. I Wayan Suarjaya. Upacara Bhuta Yadnya adalah upacara yang ditujukan kepada Sang Hyang Widi Wasa agar para bhuta kala tidak mengganggu keharmonisan hidup manusia serta untuk menetralisir kekuatan negatif alam untuk menjadi positif kembali. e) setiap tahun wajib melaksanakan upacara bhuta yadnya berupa Tawur Kasanga serangkaian menyambut perayaan suci agama Hindu yakni Nyepi. yaitu upacara Bhuta Yadnya (caru) sehari sebelum pelaksanaan hari raya Nyepi yang datangnya setahun sekali. (f) bagi pemangku tidak terkena ketentuan cuntaka. maka dilakukan tindakan pengawasan oleh petugas keamanan Desa Pakraman berupa pecalang. melakukan hubungan yang tidak wajar. g) demi ketertiban pelaksanaan Catur Brata Penyepian. 172 . e) setiap warga masyarakat diwajibkan untuk melaksanakan ketentuan suci berupa Catur Brata Panyepian yakni amati geni (tidak menyalakan api). (e) ketentuan cuntaka sampai pada wilayah banjar (wilayah dusun) sesuai ketentuan setempat (dresta). antara lain nanggluk merana biasanya melibatkan subak. Berdasarkan uraian tentang pelayanan di bidang Agama . Dalam “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede” dinyatakan bahwa pelayanan dibidang Bhuta Yadnya: a) setiap warga masyarakat wajib membantu pelaksanaan upacara bhuta yadnya sesuai sumber satra agama.

dalam Awig-awig telah dituliskan adanya “.73 Beberapa anggota Desa Pakraman. 75 Pelayanan public berdasarkan gugon tuwun artinya pelayanan yang diberikan sesuai dengan tradisi yang berlaku secara turun temurun.. maka akan tumbuh sale coordinating shared vision. biasanya mampu diatasi oleh prajuru/perangkat desa melalui kerjasama dan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat. Menurut mereka ada tiga landasan dalam memberikan pelayanan terutama dalam bidang Agama. Pendidikan dan pelatihan nelalui praktek dalam pelayanan di masyarakat ( autodidak ). maksudnya para aktor mampu menggambarkan apa yang diingini oleh organisasi. menyatakan bahwa “ Desa Dinas dalam memberikan pelayanan memang telah mempunyai visi.. sangat jarang melaksanakan pendidikan dan pelatihan secara khusus. Masyarakat menyebutkan bahwa. berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Secara teoritis.. variabel ini hambatan dan kesulitan dalam memberikan pelayanan. sesuai dengan jenis upacara agama yang diselenggarakan oleh masyarakat. Menurut penjelasan masyarakat menyebutkan bahwa Pendidikan dan pelatihan. Educate. Menurut peneliti ungkapan tersebut sejenis dengan Vissi dan missi.. moksartham Jagadhira ya ca iti dharma”74 ( krsejahtraan 73 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. 174 . dalam musyawarah Desa. Enthuse. Partisipasi masyarakat di Desa Wongaya Gede. akan tetapi dalam pelaksanaannya. Educate. bagi Prajuru Desa Pakraman dan perangkat Desa Dinas. menyatakan telah melaksanakan variabel ini. Eliminit. (1) mengikuti tradisi yang biasa dilakukan oleh leluhur/pendahulu. bagi umat hindu disebut dengan mencapai Moksha ( Kehidupan kekal abadi di alam Tuhan ( Menyatu dengan Tuhan. lebih banyak pelayanan yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. 76 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. ) tersebut dikaitkan dengan partisipasi masyarakat ditemukan sebagai berikut: hidup di dunia..76 Eliminit. dan Tokoh Agama Wongaya Gede 74 Moksartham Jagadhita ya ca iti dharma. 2007. ungkapan dalam bahasa Sanskerta yang bermakna sebagai tujuan hidup kesejahtraan dan kebahagiaan hidup di dunia 173 Analisis pelayanan . Pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ke tujuh variabel (Envision. sehingga tumbuh partisipasi dari ketulusan hati masyarakat. aktor dapat mengekspresikan dengan jelas pemberdayaan masyarakat. FISIP UI.. Equip Evaluate. Apabila anggota/masyarakat mengetahui dengan jelas vissi organisasi. belum memahami betul tentang pengertian dan makna dari visi dan missi. serta dapat diterima sebagai landasan kebijakan dalam memberikan pelayanan. Envision. dan Tokoh Agama Wongaya Gede Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan tidak dengan tegas menyatakan visi dan misi dalam memberikan Desa Pakraman memberikan pelayanan pelayanan. Ada dua pendapat masyarakat terhadap variabel ini yang dilakukan oleh perangkat desa dalam memberikan pelayanan publik: (1) Belum sepenuhnya prangkat desa dapat mengekspresikan partisipasi masyarakar dan di Akhirat. aktor mampu mengatasi segala halangan dan kesulitan dalam proses pemberdayaan pemberian pelayanan.sepenuhnya oleh masyarakat. Express. I Wayan Suarjaya. (3) Kesepakatan bersama yang ditetapkan dalam perarem ( musyawarah desa ).. Express. pendidikan / pelatihan. dan kebahagiaan hidup di alam moksa ). yang diwarisi oleh generasi sekarang. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat. mereka hanya mengikuti kegiatan di masyarakat. maupun yang disampaikan langsung pada saat pertemuan. bila dikaji berdasarkan pendapat Stewart yang dikutip oleh Waluyo ada tujuh variabel yang dapat dipergunakan untuk menganalisis pelayanan publik. Aktor Desa Dinas dan Desa Pakraman. pelayanan seperti ini disebut dengan “ gugon tuwon”75 (2) Ketentuan yang telah ditetapkan dalam Awig-awig. baik tertulis.

Tugas pelayanan tidak bisa dijadwalkan. tentang jenis pelayanan public. (8) kepentingan bersama. dari segi perencanaan dan evaluasi kegiatan pelayanan belum memiliki sistim perencanaan yang memadai seperti dalam organisasi modern. kepentingan bersama.. Bentuk partisipasi masyarakat dikaitkan teori Davis yang dikutip oleh Khaeruddin menyatakan ketagori bentuk partisipasi. evaluasi dan monitoring menerus. aktor mampu menyediakan segala keperluan dalam memberikan pelayanan. dan adanya pendidikan dan pelatihan yang terencana. aktor mampu membangkitkan semangat masyarakat dalam melaksanakan tugas. sesuai dengan teori Davit. Demikian pula ditinjau dari aspek Administrasi Pembangunan. didorong oleh. yang dilaksanakan oleh Desa maupun oleh pemerintah. Sedangkan Desa Dinas memberikan pelayanan pada dua jenis pelayanan. ( 786 KK ) mulai dari Upacara kelahiran sampai dengan upacara meninggal ( Ngaben ). 2007. Jenis pelayanan yang diberikan oleh kedua desa tersebut. 78 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. Kevit mengelompokkan ke dalam dua jenis pelayanan.78 2. ikatan organisasi dan kekeluargaan. Equip. kekeluargaan. ikatan organisasi Desa Pakraman yang diikat oleh awig – awig. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman di Bidang Sosial Kemasyarakatan Pelayanan Desa Dinas dalam bidang sosial kemasyarakatan. Kelemahan pelayanan publik oleh Desa Pakraman jika dikaitkan dengan teori Chaterine DeVery. Mc.. serta tumbuh dari kesadaran sendiri. belum maksimal. Menurut pendapat masyarakat. ekonomi. I Wayan Suarjaya. tergantung pengurus aktipitas pengurus pada saat itu. Partisipasi masyarakat Wongaya Gede dalam pelaksanaan Upacara keagamaan. dalam rangka menyiapkan SDM. mengisyaratkan organisasi pemberi pelayanan hendaknya memiliki Vissi yang jelas dan standar pelayanan yang pasti.77. masih kurangnya pendidikan dan pelatihan. belum memiliki visi yang jelas. Enthuse. kemampuan Pengurus untuk mendorong masyarakat dalam berpartisipasi. termasuk tidak memiliki hari libur. Mc. memberikan motipasi mendorong masyarakat agar tumbuh kesadarannya di bidang sosial 175 Analisis pelayanan . (7) bakat dan emosional.. Bentuk partisipasi pelayanan publik oleh Desa Dinas. yaitu pelayanan barang dan jasa. Kevit. guna meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sedangkan Desa Dinas organisasi modern. telah memenuhi persyaratan tersebut. dilaksanakan terus Evaluate. (4) kharisma pemimpin. cendrung pada pelayanan jasa yang lebih dominan. Roth juga menjelaskan ada dua jenis pelayanan publik. maupun diprediksi sebelumnya. dan Tokoh Agama Wongaya Gede Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tugas pokok Desa Pakraman lebih berat. Desa Pakraman belum memiliki Visi dan standar pelayanan yang pasti. (3) kesadaran sendiri. hal ini terbukti bahwa dalam memberikan pelayanan tidak mengenal jam dinas. (5) politik. Karena dalam pelaksanaan Upacara keagamaan sarana barang telah disediakan oleh yang punya hajatan. Karena Desa Pakraman melayani semua kepentingan masyarakat. 176 . 77 Analisis pelayanan public merujuk pada pendapatnya Davis dan Khaeruddin. tidak semuanya dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh perangkat desa. (6) ekonomi. sebagian besar ditopang oleh kharisma pemimpin. baik barang maupun jasa. sejalan dengan pendapatnya Diessedorf. serta merujuk pula pendapatnya Davit.. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman.(2) pemberdayaan masyarakat mengalami pasang surut. polotik. partisipasi lebih besar di dorong oleh. walau tidak sepenuhnya dilaksanakan secara optimal. terutama. yang menyatakan delapan bentuk partisipasi masyarakat. (1). Tujuh variabel yang disebutkan tadi.(2) ikatan organisasi. dikaitkan dengan pelayanan public di Desa Wongaya Gede. FISIP UI.

juga terkait dengan tanggung jawab anggota masyarakat sebagai warga Desa Dinas.kemasyarakatan. Desa Dinas berkoordinasi dengan Desa Pakraman turut memberikan pelayanan publik. Pelayanan publik di bidang sosial kemasyarakatan juga berkenaan dengan menetapkan awig-awig yaitu menetapkan garis-garis besar dalam pengelolaan desa79 yang dituangkan dalam bentuk aturan-aturan desa tertulis dan tidak tertulis mengenai keputusan rapat (perarem). dan kepala-kepala urusan. semua aspirasi masyarakat peserta rapat ditampung. dan seni lukis yang berkaitan dengan simbol-simbol keagamaan. bencana alam dan sebagainya. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman bidang Lingkungan Hidup Masyarakat sesungguhnya telah memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pelayanan publik Desa Pakraman di bidang sosial kemasyarakatan yaitu mencakup sangkep Banjar (rapat banjar). FISIP UI. sebagai wujud dari pelayanan publik. 2007. Rapat Desa Dinas. Sedangkan ketika kedukaan pelayanan yang diberikan adalah menyangkut segala persoalan administratif. Desa Pakraman memberikan pelayanan publik melalui penyediaan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang mempunyai acara hajatan atau syukuran dan lain sebagainya. I Wayan Suarjaya. di dalam masyarakat seringkali mengalami masa suka-duka sebagai dinamika kehidupan. Pembinaan keluarga ditujukan pada anggota keluarga yang telah memasuki jenjang perkawinan. antara lain rapat secara berkala untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. telah menetapkan agenda yang akan dibahas bersama. Seni sakral adalah seni yang dipergunakan pada saat upacara keagamaan. Desa Pakraman memiliki fungsi pelayanan sosial kemasyarakatan dalam mendorong masyarakat untuk giat bergotong-royong. umumnya dipimpin oleh Kepala Desa bersama sekretaris desa.. Desa Dinas berpartisipasi memberikan pelayanan dalam bentuk fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan acara hajatan. Selain itu.. Wujud pelayanan di bidang sosial kemasyarakatan. karena landasan hidup gotong royong tidak bisa ditinggalkan. menampung aspirasi masyarakat dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan di masyarakat.. Desa Dinas juga menyelesaikan berbagai kasus kemasyarakatan dalam wilayah dan lingkup tugasnya. Menyadarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Desa Pakraman telah menyediakan pula pekuburan umum. Desa Pakraman selanjutnya memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan pembinaan adat dan budaya. Pembinaan adat dan budaya terutama yang berkaitan dengan seni sakral. Desa Dinas dalam memberikan pelayanan bidang sosial kemasyarakatan melakukan pembinaan keluarga. dan penyediaan sarana dan prasarana olah raga. Pada saat suka. Pelayanan publik sosial kemasyarakatan mencakup pula pelayanan dalam aspek karang taruna yaitu memberikan pelatihan keterampilan pada generasi muda. seni tabuh (gamelan). kebakaran. selalu bergantung kepada orang lain. Sangkep Banjar yaitu rapat musyawarah Desa Pakraman yang diadakan 6 (enam) bulan sekali. 178 . berupa: tari-tarian. Di dalam masa suka. Berbagai usul peserta rapat dibahas untuk dicari solusinya. Sedangkan pada masa duka yaitu pelayanan-pelayanan kedukaan seperti kematian. Kearifan yang dimaksud bersumber dari pertautan filsafat Tri Hita Karana yang intinya menekankan keseimbangan/keselarasan 79 Semacam GBHN dulu 177 Analisis pelayanan . Keputusan yang diambil merupakan keputusan atas dasar musyawarah mufakat. 3. Ketika anggota masyarakat menghadapi persoalan suka-duka.. Pembinaan dilakukan selain sebagai persiapan mental dalam berumah tangga. Dalam rapat desa ini.

kerbau). Pelayanan publik di bidang pembangunan diwujudkan dalam bentuk. Pelayanan Desa Dina dan Desa Pakraman Bidang Pembangunan Pelayanan publik Desa Dinas dalam bidang pembangunan selain melakukan pembangunan atau renovasi kantor desa.. Desa Pakraman dalam menjaga kelestarian lingkungan.merenopasi bangunan pura. merupakan salah satu unsur pelaksanaan dari filsafat Tri Hita Karana. karena antara wilayah dan penduduk Desa Dinas dengan wilayah Desa Pakraman berimpit. babi. 2007. Sumber dana pemeliharaan jalan dan selokan berasal dari bantuan pemerintah Kabupaten Tabanan dan swadaya masyarakat di Desa Pakraman80. upaya yang dilaksanakan: 1) menjaga kebersihan mata air dari segala bentuk pencemaran. sarana prasarana keagamaan. bersama – sama dengan Desa Dinas .. dan hubungan manusia dengan alam lingkgungan hidup ( unsur palemahan ). 179 Analisis pelayanan . pemeliharaan bangunan fisik adat seperti sanggah dan gapura. dan besaran dana swadaya ditentukan berdasarkan kesepakatan yang diambil dalam musyawarah desa. 2) menjaga kelestarian hutan. pendataan pertanian (sawah dan perkebunan). 4. hal ini dilakukan dengan memanfaatkan tanah negara dihijaukan menjadi hutan rakyat. Menjaga kelestarian lingkungan hidup. d) pembangunan jalan dan jembatan. FISIP UI. pertama sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan air memberikan karunia sumber kehidupan. sehingga dapat membantu kemudahan dalam penyiapan sesajen untuk di Pura. bekerjasama dengan Desa Dinas. f) pelaporan untuk profil peternakan. perkebunan yang diterima dari kepala dusun per triwulan. Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat di bidang pembangunan kepala Desa dibantu oleh kepala urusan pembangunan. kegiatankegiatan renovasi tempat ibadat dan renovasi balai Banjar. 180 . pelayanan di bidang pembangunan diwujudkan pula melalui pemeliharaan jalan dan sekolah. Upaya pelestarian ini memiliki nilai ganda. c) pembangunan balai masyarakat serta pembangunan kantor desa.hubungan antara manusia dengan Tuhan (unsur Parhyangan).. Kedua menjaga kebersihan lingkungan sehingga tidak tercemar oleh berbagai penyakit. untuk pembangunan di Tri Kahyangan masingmasing Desa Adat. dan e) pendataan peternakan (peternak ayam kampung. 3) pelestarian tanaman untuk sarana upacara keagamaan. pertanian. I Wayan Suarjaya. Desa pakraman dilibatkan dalam perencanaan pembangunan desa dimaksudkan demi suksesnya upaya pembangunan. Koordinasi pembangunan diperlukan. yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam. antara lain : a) mengerjakan profil desa setiap triwulan. jalan-jalan desa. penyiapan sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar.. hubungan manusia dengan manusia (unsur Pawongan). Upaya pelestarian sumber mata air adalah dengan mendirikan tempat suci di sumber air. juga bersama Desa Pakraman merencanakan pembangunan desa. ayam buras. Selanjutnya. sapi. baik itu odalan di merajan. Kepala Urusan Pembangunan memiliki beberapa tugas dalam memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. itik. penebangan pohon sangat terbatas hanya untuk pembangunan tempat suci. 80 Berdasarkan hasil Wawancara dengan Kepala Desa Pakraman pada tanggal 17 Februari 2006 diperoleh informasi bahwa bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Tabanan sebesar dua puluh juta rupiah per tahun. Selain itu. b) pendataan swadaya murni masyarakat mencakup swadaya-swadaya pembangunan.

penganiayaan berat. 81 masing. didamaikan secara kekeluargaan di tingkat Desa Pakraman. Dalam melaksanakan tugas Pertahanan Sipil (Hansip). dan prajuru desa. dan pemilihan umum. Lembaga dan instansi yang bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan keamanan di dalam masyarakat. penyarikan. adalah kepala desa. 19 Pebruari 2006. Hansip dipersiapkan pada saat acara-acara yang berkaitan dengan Desa Dinas seperti. Pelayanan masalah keamanan dan ketertiban masyarakat atau gangguan kamtibmas. Hansip di dalam menjalankan fungsinya dibiayai dari desa dan partisipasi masyarakat. Pelayanan pembangunan yang berskala besar dengan melibatkan Desa Pakraman. 181 Analisis pelayanan . Desa Pakraman memiliki pecalang yang bertugas menjaga keamanan desa. Hal ini terjadi berkat adanya kesadaran yang tinggi. yang keanggotaannya dipilih oleh masing-masing Banjar sesuai dengan ketentuan awig-awig Desa Pakraman Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan informan di Desa Dinas Wongaya Gede. 5. 182 .. Selain pendataan dan pemantauan bagi pendatang dari luar Desa Pakraman. Pecalang bekerjasama dengan Pertahanan Sipil ( Hansip ). siskamling dan keamanan masyarakat selalu mendapat perhatian terutama pada pelaksanaan bulan bhakti BPD. merupakan bagian dari pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Pakraman. Gangguan Kamtibmas. buku tamu. dan buku kejadian. Melalui siskamling masyarakat merasa aman. Segala bentuk pengamanan pada berbagai upacara adat dan keagamaan 82 Pecalang adalah organisasi tradisional yang kedudukannya di bawah Desa Pakraman yang berkewajiban untuk menjaga keamanan desa. meliputi: buku daftar khusus. Masyarakat memandang bahwa Hansip masih diperlukan dalam menjaga keamanan Desa Dinas81. Pecalang berfungsi menjaga keamanan dan kelancaran jalannya upacara keagamaan serta menjaga keamanan desa dari gangguan pencurian. Model yang dikembangkan dalam pelayanan tersebut adalah melibatkan partisipasi masyarakat dalam bentuk gotong-royong. pemilihan kepala Desa. dilengkapi dengan administrasi. pencurian. penyalahgunaan narkoba. Administrasi Hansip sudah ditata sedemikian rupa sesuai dengan petunjuk Adapun buku-buku yang telah ada dalam Sekretariat Hansip. 2007. Daya cegah dan daya tangkal terhadap gangguan kamtibmas cukup mantap. mengatasi konflik yang terjadi antar individu dan kelompok di masyarakat. Program Badan Perwakilan Desa (BPD). tanggapan masyarakat sangat positif. bendel-bendel surat masuk/keluar. Sedangkan penyelesaian konflik itu sendiri dilaksanakan oleh Bendesa dengan melibatkan para pihak yang terkait. maupun kejahatan lainnya. perampokan. I Wayan Suarjaya. dilaksanakan pula ronda desa yang dilakukan secara bergantian di antara para pecalang. dan aparat Desa Pakraman. FISIP UI. seperti pembunuhan. buku daftar umum. Umumnya konflik itu dapat diselesaikan. buku agenda. pembangunan dibiayai oleh Kabupaten Tabanan sesuai dengan APBD setempat. Masalah pokok pelayanan yang diberikan oleh pecalang. Dengan diterapkannya sistem keamanan lingkungan (siskamling) di masing-masing dusun. penggelapan dan lain-lain selama tahun 2004/2005 tidak pernah ada. penipuan. dan swasta. dengan jangka waktu variatif antara 6 bulan sampai 3 tahun. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang keamanan Desa Dinas memiliki Pertahanan Sipil ( Hansip) yang menjalankan fungsi keamanan. buku absensi latihan. buku daftar jaga. sebagai akibat adanya penataranpenataran bagi tokoh-tokoh masyarakat dan anggota masyarakat.. dapat dilaksanakan secara teratur didasarkan adanya kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat. masyarakat..Membantu masyarakat membangun rumah yang kena musibah bencana alam. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh aparat Desa Pakraman seperti Bendesa Adat. Pelaksanakan siskamling di tiap dusun/Banjar telah dibuat Pos Kamling yang setiap hari dimanfaatkan oleh warga masyarakat. Pelayanan publik bidang keamanan dilaksanakan oleh pecalang82.. dalam mengamankan wilayah dengan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskambling).

Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Sengketa Adat Bidang Pelayanan publik Desa Dinas dalam hal sengketa adat hanya berkoordinasi dengan Desa Pakraman saja. Beberapa jenis kasus adat yang dilayani Desa Pakraman adalah: 1) sengketa tanah atau warisan. Sanksi sosialnya adalah berupa adanya perasaan malu (jengah). Segala penyelesaian sengketa/konflik adat yang terjadi di masyarakat diselesaikan berdasarkan awig-awig desa atau hukum adat setempat83. tetapi karena masyarakat begitu menghormatinya sebagai produk hukum yang yang mencerminkan nilai – nilai norma agama yang dianutnya. Penyelesaian konflik menjadi tanggung jawab Desa Pakraman. Peranan Desa Pakraman dalam menangani masalah ketidak harmonisan ini berupaya memberikan bimbingan.. 183 Analisis pelayanan . Kasus ini tidak saja datang dari luar. FISIP UI. sengketa adat yang dilayani oleh Desa Pakraman maupun Desa Dinas belum ada. Sanksi terhadap sebuah kasus tidak hanya sebatas berupa material.. Tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas menjalankan Sengketa Adat. sementara Desa Dinas adalah institusi modern bentukan pemerintah.serta pengamanan pelayanan bidang lainnya ditangani oleh para pecalang. Konplik yang muncul di lingkungan keluarga.31 Juli 2006 83 bersalah menurut pandangan hukum adat ( awig-awig ). bukan karena akibat sanksi yang ditimbulkannya. dan jika perbuatan melanggar awig-awig terus diulangi maka sanksi sosial yang paling berat adalah dikucilkan (sepekang Banjar). penyelesaian sengketa berupa hak waris. tetapi lebih jauh dari sekedar material. Proses penyelesaiannya melalui para aparat Desa Pakraman dan pihak-pihak yang bersengketa di bawa ke forum perarem Desa Pakraman. pelanggaran batas pekarangan. Sebagai institusi yang memiliki wilayah kewenangan untuk menangani kehidupan adat masyarakat di Desa Pakraman. selama lima tahun terakhir. Para pecalang di dalam menjalankan fungsi pelayanan dibiayai dari dana Desa Pakraman .. maka sangat mungkin terjadi friksi yang banyak melahirkan kasus adat. Permasalahan diselesaikan berdasarkan aturan (awig-awig). Kasus adat mendapat perhatian khusus. Hal ini terjadi karena secara historis Desa Pakraman adalah institusi tradisional yang tumbuh dari masyarakat. menantu. yaitu melalui sanksi moral. sebagaimana Desa Pakraman dibangun melalui norma dan kebiasaan yang berlaku seperti itu. dan menasehati yang bersangkutan dengan baik. Kebanyakan kasus ini tidak sampai diselesaikan melalui jalur hukum. dapat diselesaikan oleh keluarga yang bersangkutan. Awig-awig sangat kuat. Terdapat keyakinan Hukum Karma (causality law) yang dominan jika melanggar. tuntunan. Gesekan atau konfilk. I Wayan Suarjaya. 6. jenis pelayanan yang diberikan seperti penyelesaian konflik di masyarakat. anak. 2) kasus ketidak harmonisan dalam rumah tangga antara suami-istri. perkelahian. tidak sampai melibatkan aparat desa atau prajuru desa. 184 . jika terdapat pihak-pihak yang Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 28 .. Perarem kemudiaan menyidangkan. dan perselingkuhan. secara langsung dan tidak langsung amat mempengaruhi peri kehidupan adat masyarakat Desa Pakraman. maka dikenai sanksi menurut berat-ringannya perbuatan. Berdasatkan hasil prnelitian. Semua permasalahan dilaporkan. 2007.. tetapi juga banyak dari dalam. biasanya terjadi pada sebuah keluarga besar. karena mengingat intensitas kemunculannya seperti konflik suami-istri yang berakibat perceraian dapat mengganggu keharmonisan dalam masyarakat.

Kelod W. juga masalah kesehatan dilayani oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) Pembantu. Kangin W. Menyalurkan jatah beras untuk masyarakat miskin (raskin) dan bantuan konpensasi subsidi BBM kepada rakyat miskin. Bendul Kloncing Bengkel B. Posyandu ada sembilan yang memberikan pelayanan. 2.. 8. yaitu kasus pengasingan terhadap anggota masyarakat yang melanggar awig-awig... yaitu: peningkatan gizi anak balita. dikeluarkan dari Banjar atau desa. 4) kasus pencurian pratima. yang berhak menangani hhádalah Desa Pakraman dengan melibatkan petugas keamanan yang terkait. 2005. pendidikan. I Wayan Suarjaya. tapel. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Kesejahteraan Rakyat Pelayanan publik oleh Desa Dinas bidang Kesra meliputi pelayanan: kesehatan.belum pernah terjadi. Contoh bentuk kasepekang ini. 6. keris. 3. Hal ini tidak terlepas dari subtansi pelayanan Kesra itu sendiri. Kehadiran masyarakat yang berobat ke Puskesmas pembantu selama tahun 2004 dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut. bidang kesehatan yang diberikan oleh desa adalah menggalakkan pelayanan kesehatan melalui Pos Pelayanan Terpadu Kesehatan (Posyandu). keluarga berencana. FISIP UI. koperasi dan perekonomian. 186 .310 218 107 226 135 11 Di samping pelayanan terpadu yang dilaksanakan oleh Posyandu. pemberian vitamin.kasus kasepekang. 2007. 85 86 Puskesmas Pembantu Desa Wongaya Gede.84 7. yaitu pencurian harta benda yang ada di dalam tempat suci atau pura.Kambig Amplas Amplas 125 175 165 160 115 165 185 245 135 25 21 18 35 38 24 23 18 24 18 11 9 7 12 8 9 18 15 Jumlah 1. antara lain tidak boleh menguburkan mayat di kuburan desa. 5. Kaje W. emas. Kegiatan pelayanan Posyandu dapat dilihat dari tabel sebagai berik Tabel 11 Kegiatan Pos yandu dan Jenis Pelayanan Kepada Masyarakat85 Nama N o 1. 4. 3) Pelayanan kepada masyarakat. 7. dll. imunisasi kepada anak balita serta merujuk masyarakat yang sakit untuk berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat.. 9 Posyandu Gisi Imuni-sasi KB Obat Tambah an 25 15 19 21 45 16 18 35 24 Brosur Kese ha-tan 15 15 15 15 15 15 15 15 15 Rujukan 4 3 2 1 1 - W. Pratima ini dapat berbentuk unen-unen. Grafik 1 Jumlah Kunjungan Masyarakat Ke Puskesmas Pembantu Tahun 200486 84 Kasus seperti tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Kantor Puskemas Pembantu Wongaya Gede. Tetapi kalau hal tersebut terjadi. 2004 185 Analisis pelayanan . Pelayanan di bidang kesra merupakan bentuk pelayanan yang sangat kompleks dan memiliki tingkat urgenitas tinggi. patung. melaksanakan upacara Pitra Yadnya di Desa Pakraman tempat tinggal.

Dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan. Nama SD LK 1. Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar. 2 SD Neg. kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar daerah. 2. 2007. Adapun jumlah sekolah. murid. 3 SD Neg. 87 Monografi Desa Dinas Wongaya Gede th. SD Neg. Masyarakat Desa Wongaya Gede setelah menamatkan Sekolah Dasar. dalam bentuk memotivasi masyarakat untuk turut mensukseskan Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar 9 tahun (GNPPWB). dan musyawarah khusus bidang KESRA yang diadakan oleh Desa Pakraman. 2004 187 Analisis pelayanan . Setelah adanya proyek mulai tahun 1980 baru mendapatkan dana rehab bangunan gedung sekolah.. karena itu kami bersedia mengajak anak-anak kami untuk menempuh WAJAR 9 tahun. Pelayanan publik di bidang pendidikan. 1 SD Neg. 4. 3..88 Hal ini terbukti sebagian besar anak berusia sekolah di Desa Pakraman Wongaya Gede telah menempuh WAJAR 9 tahun.. Motivasi yang terus dikembangkan tersebut terutama dilakukan pada berbagai kesempatan musyawarah desa.Jumlah Murid No. Pelayanan dalam bidang KESRA juga diwujudkan melalui 88 Hasil Wawancara dengan para informan Desa Pakraman 18 Pebruari 2006 menyatakan bahwa GNPPWB merupakan suatu program yang sangat baik. Pelayanan publik Desa Pakraman bidang kesejahteraan yaitu di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. Saat ini ada 5 sekolah Dasar. disamping itu desa selalu memberikan motivasi menuntaskan wajib belajar 9 tahun.. dan memperhatikan kesejahteraan guru. FISIP UI. Desa Dinas menyediakan gedung sekolah yang dibangun oleh Desa dengan swadaya sendiri mulai dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1980. 5. I Wayan Suarjaya. dan guru yang terdapat di wilayah desa Wongaya Gede seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 12 Jumlah Sekolah dan Siswa87 Di samping sekolah Dasar juga ada Sekolah Menengah Tingkat Pertama Swasta yang memberikan pelayanan di bidang pendidikan dalam rangka menuntaskan wajib belajar 9 tahun. 5 Jumlah Guru PR 62 48 53 40 45 247 37 Pegawai 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nop Des 55 45 48 37 42 227 8 7 7 7 8 10 2 2 2 2 2 O ra n g Bulan Desa Dinas juga memberikan pelayanan di bidang pendidikan. 188 . semua sekolah dibangun oleh desa. 4 SD Neg. telah mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

Mengadakan dan melaksanakan persiapan rapat serta mencatat hasil rapat.. kearsipan. seni tari. pelayanan bidang KESRA mencakup pula pengembangan pariwisata. Desa Pakraman memberikan kesadaran kepada masyarakat. budaya dan Agama inilah yang menopang pariwisata tersebut. Membuat program kerja. serta mengawasi semua urusan/kegiatan sekretaris. melaksanakan urusan suratmenyurat. yang diminati oleh Wisatawan. Kepala Desa dibantu oleh Kepala Dusun definitif. Memimpin. mengadakan kegiatan inventarisasi. Sekretaris Desa uraian tugasnya adalah memberikan saran dan pendapat kepada Kepala Desa... dan lima orang Kepala Urusan. mengendalikan. Untuk melaksanakan tugas-tugas Kepala Desa di tingkat dusun. Adat. Memberikan informasi mengenai keadaan sekretariat dan keadaan umum di wilayahnya. kebersihan lingkungan. untuk menjaga kesehatan. c) memberikan pelayanan administrasi perkawinan. melalui musyawarah desa bidang KESRA. g) melayani admnistrasi jual-beli tanah dan transaksi lainnya. Pelayanan di bidang kesehatan diwujudkan dengan cara menjaga kesehatan masyarakat yaitu memberantas nyamuk malaria dan sumber penyebab deman berdarah bekerja sama dengan PUSKESMAS setempat. dan administrasi kemasyarakatan. yang bercirikan agama Hindu. melaksanakan kegiatan pencatatan mutasi tanah. f) Membuat monografi Desa meliputi data statistik desa. FISIP UI. 2007. Kepala Urusan Administrasi dan Kepala Urusan Keuangan. sedangkan budaya yang tumbuh dan berkembang dijiwai oleh filsapat Agama.kerjasama dengan Desa Dinas. Peranan Desa Pakraman dalam menunjang pariwisata di Bali cukup besar. Pengembangan seni budaya masyarakat setempat seperti seni ukir. Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat. Kepala Urusan Pembangunan.. satu orang Kepala Dusun persiapan dan satu orang kelihan. sebagai pencatat perkawinan serta memperoses sampai keluarnya akte perkawinan oleh kantor catatan sipil. telah dimasyarakatkan. luluh menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan memberi makna. Menyusun rencana keuangan. Karena adat budaya dan agama tumbuh dan berkembang di Desa Pakraman. serta melegalisir perjanjian yang dibuat oleh antar warga desa. dan seni tabuh yang dapat menunjang perkembangan pariwisata budaya. administrasi pembangunan. 189 Analisis pelayanan . Mendorong masyarakat agar tetap manjalani pola hidup sehat. Melaksanakan administrasi kepegawaian di wilayahnya. Kepala Desa dibantu oleh Sekretariat Desa. dan laporan. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Pemerintahan Bidang Pelayanan publik di bidang kesekretariatan. sebagai tanaman obat. I Wayan Suarjaya. 190 . yang bertugas melayani masyarakat di bidang: a) Administrasi kependudukan. Melaksanakan administrasi kependudukan. mengkoordinasikan. 8. Ritual adat dan keagamaan yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman memilik nilai budaya. dan pencatatan administrasi pertanahan. Kepala Urusan Pemerintahan. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa Wongaya Gede Dalam struktur Desa Dinas dijelaskan bahwa kepala desa memberikan pelayanan di bidang pemerintahan dibantu oleh kepala urusan Pemerintahan. Penanaman apotik hidup di pekarangan rumah masingmasing. e) mencatat kelahiran/kematian yang dilaporkan oleh kepala Dusun/Kelihan Banjar Dinas. Berpartisipasi dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan pada tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. d) mencatat keluar masuk kependudukan. Langkah yang ditempuh dalam pengembangan pariwisata adalah menjaga kelestarian adat budaya setempat. Obyek pariwisata yang dikembangkan disamping pariwisata spiritual. sehingga adat budaya dan agama. b) Pembuatan kartu Penduduk/Keterangan Domisili. juga ditunjang oleh keindahan alam. Selanjutnya. dan keamanan desa. Pariwisata Bali berakar pada pariwisata budaya.

Oleh sebab itulah maka perubahan struktur dari vertikal menjadi horisontal atau dari tall. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi baik pemerintah maupun swasta.Kepala Urusan Kesra memliki beberapa tugas. menjadi flat. b) Pembuatan surat keterangan untuk keluarga miskin. Melaksanakan penyediaan. pendidikan... dan pembangunan) melalui bahasa agama. hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara pengambil keputusan dengan pelanggan yang oleh Stewart disebut sebagai close to the Pelayanan publik di bidang pemerintahan yang diberikan oleh Desa Pakraman adalah membantu program pemerintah (kesehatan. 3) pendapat asli desa yang diperoleh dari masyarakat melalui dana administrasi jual beli tanah dan sumber dana lainnya dari donatur yang tidak mengikat. pemangku. penyimpanan. 2007. sangat penting dalam upaya mewujudkan kepuasan pengguna jasa publik. antara manusia dengan customer. Hal ini didasari pada filsafat Tri Hita Karana. upaya untuk mendekatkan pengambil keputusan dengan pengguna jasa memang diperlukan perubahan kelembagaan dan pembangunan kelembagaan. serta melaksanakan tata kearsipan. I Wayan Suarjaya. melaksanakan persiapan penyelenggaraan rapat. dan mengendalikan surat-surat masuk dan keluar. Melaksanakan dan mengusahakan ketertiban/kebersihan kantor dan bangunan lain milik Desa Wongaya Gede.. pajak. FISIP UI. Dalam pengelolaan keuangan tersebut kepala desa dibantu oleh kepala urusanan keuangan.. Sumber dana pendapatan asli desa ada 3 jenis. sangat ditentukan oleh sumber dana yang dikelola oleh desa. c) Pelaporan dan pendataan keluarga miskin yang diambil. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh sekretaris desa Maju mundurnya Desa. 2006. dan lembaga lainnya dalam menyediakan jasa layanan yang berkualitas kepada masyarakat. dan keluarga kelihan Banjar dinas. 89 Hasil Wawancara dengan Bandesa Adat di Wongaya Gede. Kemudian mengenai uraian tugas Kepala Urusan Umum. adalah: melaksanakan. dan kegiatan kerumahtanggaan pada umumnya. Kepala Urusan Keuangan memiliki tugas-tugas. Melalui cara pendekatan bahasa Agama program pemerintah lebih efektif dijalankan89. 1) dana bantuan dari pemerintah melalui dana proyek serta dana operasional desa yang didapat dari pemerintah kabupaten atau dari provinsi. dimana masyarakat tidak dapat menyediakan kebutuhan pelayanan secara sendiri-sendiri. Selanjutnya didirikan pula koperasi unit desa yang melayani kebutuhan anggota masyarakat. 192 . Secara kelembagaan. semakin besar pendapatan asli desa akan semakin besar pula tingkat pembangunan masyarakat. yang menekankan keharmonisan: keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (unsur Parhyangan). 18 Pebruari 191 Analisis pelayanan . Menyusun jadwal serta mengikuti perkembangan pelaksanaan piket. Mengkoordinasikan pengertian surat-surat hasil persidangan dan rapat-rapat atau naskah-naskah lainnya. menerima. antara lain membuat pencatatan uang masuk dan uang keluar. serta memelihara dan memperbaiki peralatan kantor. antara lain : a) Mengkoordinir dan menyerahkan beras kepada keluarga miskin. menyelenggarakan pengelolaan administrasi kepegawaian. Penyelenggaraan pengelolaan buku administrasi umum. Mencatat inventarisasi kekayaan. 2) hasil dari tanah kas desa yang dikelola oleh masyarakat. Kualitas pelayanan telah menjadi faktor yang menentukan dalam menjaga keberlangsungan suatu organisasi birokrasi pemerintah Pelayanan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa publik. dan pendistribusian alat-alat tulis kantor. penerimaan tamu dinas.

Jadi pelayanan di bidang pemerintahan adalah melayani masyarakat menyelesaikan administrasi pemerintah seperti Akte Perkawinan.. anti budaya individu dan anti budaya fatalis). Merespon prinsip-prinsip pelayanan publik orientasi budaya tersebut mesti menjadi bahan pertimbangan.. Sikap tersebut dikembangkan untuk tercapainya kepuasan bagi berbagai pihak baik yang dilayani maupun yang memberikan pelayanan demi eksistensi organisasi seperti hanya eksistensi Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai dualisme kelembagaan di masyarakat Bali. pelayanan publik yang modelnya privatisasi cocok untuk budaya masyarakat individual (yang anti hirarkhis). sedangkan pelayanan publik yang modelnya memerlukan pelayanan cepat dan terbuka cocok untuk budaya masyarakat egaliter (yang anti budaya hirarkhis. dan menunjang program pemerintah melalui bahasa agama. Demikian pula halnya dalam memberikan pelayanan seyogianya demi memberi kepuasan kepada pelanggan di satu sisi dan bagi eksistensi organisasi di sisi lain.. Kurangnya sumber daya manusia yang terlatih dan terampil dalam unit-unit lokal. Penyebab utama kegagalan dalam melaksanakan pelayanan publik melalui tugas desentralisasi adalah lebih berorientasi budaya politik yang bernuansa sempit. Kegagalan pelayanan publik disebabkan pula karena birokrasi tidak menyadari adanya perubahan dan pergeseran yang terjadi dalam budaya masyarakatnya. sehingga pada gilirannya berbagai tuntutan pengguna jasa publik akan lebih cepat dapat direspons. anggota menjadi menyatu dan merasa memiliki organisasi yang bersangkutan. keramah tamahan dari aparat pelayanan publik baik dalam cara menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pelayanan maupun dalam hal ketepatan waktu pelayanan. Oleh karena itu budaya organisasi merupakan nilai yang dianut dan mengikat anggota organisasi agar anggota organisasi berperilaku dan bertindak sesuai tujuan organisasi. Suatu pergeseran budaya yang bersifat hirarkis. budaya yang bersifat fatalis dan budaya yang bersifat egaliter. Budaya organisasi (birokrasi) dipahami sebagai suatu konsensus bersama tentang nilai-nilai bersama dalam kehidupan organisasi dan mengikat semua orang dalam organisasi yang bersangkutan. FISIP UI. 9. pelayanan publik yang modelnya kolektif cocok untuk budaya masyarakat fatalis (yang mendukung budaya hirarkhis dan anti budaya individu).. Dalam prakteknya pemberian pelayanan cenderung mengalami kegagalan dalam memuaskan pelanggannya. kurangnya sumber-sumber dana untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Perekonomian 193 Analisis pelayanan . Sedang Desa Dinas meneruskan proses tersebut ke kantor Catatan Sipil sampai mendapatkan akte perkawinan. Berkewajiban melaporkan kepada Desa Dinas. dan kurangnya infrastruktur teknologi dan infrastruktur fisik dalam menunjang pelaksanaan tugas-tugas pelayanan publik. kependudukan (pendataan anggota masyarakat yang ada di lingkungan Desa Pakraman). dan antara manusia dengan alam (unsur Palemahan). Pada saat perkawinan menurut hukum agama Hindu dilaksanakan oleh Desa Pakraman. 194 .manusia (unsur Pawongan). yang diikuti oleh sikap dan perilaku yang santun. Para aparat ini bertugas melayani dalam bidang perkawinan. Desa Pakraman memiliki aparat yang menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan bidang pelayanannya di Desa Pakraman. I Wayan Suarjaya. adanya sikap keengganan untuk melakukan delegasi wewenang. 2007. Desentralisasi merupakan suatu mendekatkan pembuat keputusan publik dengan pengguna jasa publik. Pelayanan publik ditentukan oleh budaya organisasi yang dianut oleh birokrasi sebagai penyelenggara layanan publik. budaya yang bersifat individual. Dalam kondisi demikian anggota organisasi dalam menjalankan tugasnya senantiasa berupaya untuk menjaga kelangsungan dan perkembangan organisasi. Melalui budaya organisasi. Pelayanan publik yang modelnya birokratis cocok untuk budaya masyarakat hirarkis.

. dan sosial. FISIP UI. serta pembangunan. melainkan hanya mengenal Otonomi Daerah. sebaliknya peranan Desa Pakraman tersubordinasi pada Desa Dinas. ekonomi. hal 14 Fred W Riggs. Desa Pakraman dalam mengatur tata pemerintahan dan rumah tangganya tersebut. LPD ini menjalankan pelayanan seperti koperasi simpan pinjam. Di Bali terdapat dualisme struktural yang lama dan baru berada dalam satu wilayah. hal 16 195 Analisis pelayanan . Semua anggota Desa Pakraman wajib menjadi anggota LPD.” pada masyarakat yang sedang berada dalam proses modernisasi dimana yang lama dan baru berada dalam satu campuran yang hetrogin. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dipandang tidak mempunyai semangat menghormarti eksistensi desa. Paparan ini hendak menegaskan bahwa dalam menjalankan fungsi pemerintahan pelayanan publik. Masyarakat dapat menyimpan dan meminjam di LPD. Administrasi ini menurut Riggs dipengaruhi oleh sistem politik. Kewajiban yang terkait dengan sistem kredit ini berupa pembayaran-pembayaran cicilan modal dan bunga.Desa Pakraman. Menurut Riggs ciri dualisme kelembagaan (baca struktural) di masyarakat berkembang adalah perpaduan tradisional dan modern baik di pedesaan maupun di perkotaan90. Kelembagaan Desa Pakraman dan Desa Dinas Mengacu pada uraian-uraian mengenai pola pelayanan Desa Pakraman dan pola pelayanan Desa Dinas selanjutnya dapat dinyatakan adanya dualisme kelembagaan atau tepatnya dualisme struktural di masyarakat dalam pelayanan publik. anggaran pendapatan dan belanjanya bersumber dari anggota desa ( kerama ).. untuk anggota dan oleh anggota. 196 . Op. Dengan cara demikian maka eksistensi LPD tetap bertahan hingga kini.. Sebenarnya satu ciri yang dapat dilihat pada model masyarakat yang menuju mengalami proses modernisasi ialah tumpang tindih (Overlapping). Kelangsungan LPD tersebut dimungkinkan oleh adanya pembinaan dan Pengawasan dari Bank Pembangunan Daerah Bali (BPD). 2007.. cit. bersifat sentralistik. di desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan di jumpai adanya dua jenis kelembagaan yaitu Desa Pakraman dan Desa Dinas. dan dalam undang-undang ini tidak secara eksplisit menyebut otonomi desa. LPD ini memiliki modal awal yang bersumber dari pemerintah Propinsi Bali dan tabungan wajib anggota masyarakat. dan mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan publik di bidang tata keagamaan. Apa yang disinyalir oleh Riggs mengenai dualisme kelembagaan 91 Ibid. dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal di akar rumput. tata kemasyarakatan dan sosial budaya. dan administrasi yang bersifat modern di sisi lain. Desa Dinas cenderung dominan.. I Wayan Suarjaya. 10. Masyarakat memiliki kewajiban untuk melakukan penyetoran modal yang telah disepakati bersama. FW Riggs berpendapat bahwa: 90 . Dalam konteks pelayanan publik di Desa Wongaya Gede menurut perspektif Riggs sejatinya terdapat dualisme kelembagaan (struktural) yaitu adanya Desa Pakraman dan Desa Dinas yang secara bersama-sama memberikan pelayanan publik.. Pemberlakuan otonomi daerah ternyata semakin memberikan peranan yang lebih besar terhadap organisasi tradisional termasuk Desa Pakraman. agama. Dualisme atau perpaduan tersebut terlihat pada model administrasi yang diterapkan bersifat heterogen yaitu adanya administrasi yang bersifat konvensional di satu sisi. Hal ini ditandai sebelum penjajahan Belanda telah hidup desa adat yang disebut Desa Pakraman.91. Desa Pakraman berfungsi mengatur tata pemerintahan Desa. Orde Baru berkuasa berupaya menyeragamkan klasifikasi tipe desa yang telah ada sebelumnya. membantu dalam rangka perekonomian keluarga pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk pendirian lembaga perkreditan desa (LPD).

Pertama. Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Beredasarkan hasil penelitian di Desa Wongaya Gede.berlaku di Bali. Saat ini berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman meliputi sembilan bidang sehingga ikut masuk dalam pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti: bidang pembangunan. 92 Ketiga. 2007. Agama. Adanya dua struktural dalam pelayanan publik. I Wayan Suarjaya. pelaksanaan upacara keagamaan. beragama Hindu saja. apalagi keberadaan masyarakat saat ini sudah hiterogen tidak Desa Pakraman hanya melayani yang homogen lagi. unsur pelayanan dalam bidang yang sama seperti keamanan.. FISIP UI. walaupun Riggs tidak mengedepankan mengenai konsep Desa sebagai pelayan publik. dan perekonomian. 31 tahun 2003. 32 tahun 2004. Desa Dinas tidak masuk memberikan pelayanan ritual tentang keagamaan. Akibat lanjutannya adalah adanya dua pola kepemimpinan di akar rumput (masyarakat) yang sama-sama memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan antar umat beragama dengan pemerintah. Data tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas sesuai dengan teori pelayanan. Dengan demikian mengingat dua desa ini tidak mungkin digabung/disatukan. Dirangkum berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil Wawancara dengan aparat Desa Dinas di Desa Wongaya Gede Gede pada tanggal 14 Juni 2006. Sinergi dapat dilakukan dengan saling bantu-membantu dan saling melengkapi dalam percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai wujud pelaksanaan otonomi daerah dan Demokrasi Pancasila... Kedua. yang telah dijelaskan pada uraian sebelumnya. kemungkinan untuk manggabungkan tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas amat sulit karena sesungguhnya bidang tugasnya berbeda. terdapat dua pola institusi yang memberikan pelayanan publik di masyarakat. Tetapi kalau dikaji secara mendalam tentang bidang tugas secara menditail sesungguhnya. adanya tumpang tindih (Overlapping) di dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. pelayanan publik oleh Desa Pakraman yang pada mula terbentuknya. pembangunan. Adat dan Budaya. Pelayanan Desa Pakraman tentang agama.. pelayanan publik oleh Desa Dinas yang pada mula terbentuknya oleh pemerintah untuk melayani di bidang pemerintahan. Akibat lanjutannya adalah ada kemungkinan akan terjadi saling sinergi pelayanan karena jenis pelayanan dan masyarakat yang dilayani adalah sama92. akibat dari jenis pelayanan oleh kedua institusi ini bidangnya sama. maka muncul adanya overlapping dan tumpang tindih. Keempat. menunjukkan bahwa pelayanan publik oleh dua institusi desa tersebut telah dapat dilaksanakan. intern antar umat. Saat ini Desa Pakraman diatur berdasarkan Perda No. konsekuensinya adalah struktur tetap berbeda. maka melahirkan beberapa implikasi berikut. 198 . sedangkan Desa Dinas tunduk pada Undang-undang No. tetapi saat ini berkembang sesuai dengan kebutuhan pemerintah terutama ikut memberikan pembinaan dan pelayanan di bidang Adat. keamanan. Kelima. Maka perlu adanya penegasan kembali tentang tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas. Kedua. C. terdapat dua organisasi yang memberikan pelayanan publik. yang telah dikaji menunjukkan hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Pertama. Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. sosial budaya dan agama dapat disinergikan. Tumpang tindih tersebut ditandai adanya bidang yang sama dalam pemberian pelayanan publik kepada masyarakat oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. Diperlukan adanya payung hukum yang mengatur Desa Pakraman dan Desa Dinas. dan Budaya. khusus mempunyai tugas pokok dan fungsi pelayanan di bidang Agama Hindu. Desa Dinas pelayanan di bidang agama khusus membina kerukunan antar umat beragama. walaupun menangani bidang yang sama tetapi unit pelayanannya yang berbeda. perekonomian. 197 Analisis pelayanan . mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan mulai dari segi perencanaan.

2. Adat budaya dan agama. bisa saling melempar tanggung jawab terutama pelayanan di bidang keagamaan. oleh karena itu pecalang dalam melaksanakan tugasnya selalu awas terhadap segala mara bahaya yang mengancam desanya. Hal ini dapat digambarkan sinergi pelayanan publik sebagai berikut Gambar 6. dan kerusuhan. Sosial. angin ribut. 4. terutama indria pengelihatan. bernakna lima jenis bencana. pemeliharaan dan perbaikan sarana dan prasarana lingkungan desa. Prajuru desa dalam penyelenggaraan pemerintahaan dibantu oleh jagabaya desa yang disebut pecalang yang tugas pokok dan fungsinya untuk menjaga keamanan desa. banjir. dan (5) bidang agama. 93 199 Analisis pelayanan . Sebab obyek pelayanan Desa Pakraman dan Desa Dinas adalah anggota masyarakat dan wilayah yang sama. Angina topan. gempa. tenaga dan waktu. Sinergi yang dimaksudkan adalah berupa sinkronisasi energi sebagai pola perpaduan pelayanan publik. banjir. Istilah pecalang berasal dari kata celang yang berarti tajam indrianya. Pelayanan yang tumpang tindih tersebut cenderung kurang efisien dari segi biaya. maka pecalang mempunyai tugas terdepan untuk menyelamatkan warga masyarakat dan seluruh harta benda.. 2007.Desa Dinas dan Desa Pakraman wilayah dan penduduknya sama. Pecalang sebagai jagabaya desa mempunyai fungsi menjaga keamanan desa terutama menjaga keamanan dan kelancaran prosesi upacara keagamaan. penciuman. FISIP UI.dalam memberikan pelayanan publik bisa overlapping. 5. kebakaran tanah longsor. sementara dari segi wilayah merupakan wilayah kerja Desa Dinas. Pemerintahan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa Pakraman berhak membuat aturan sendiri yang disebut awig-awig. Dari segi kepemilikan tanah dimiliki oleh Desa Pakraman.. Oleh sebab itu beberapa bidang pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat disinergikan. Kedua lembaga tersebut. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. memiliki konsekuensi adanya dua pola kepemimpinan di akar rumput (masyarakat). Kegiatan pecalang berkaitan erat dengan keamanan Desa Pakraman. 1. Lembaga pecalang merupakan salah satu komponen yang sangat penting. sebab jika terjadi pancabaya93 seperti kebakaran.. Bidang pelayanan yang sama berakibat. dan selalu tampak dalam kegiatan yang Busana yang dikenakan pecalang Pancabaya istilah dalam bahasa Bali. I Wayan Suarjaya. Adanya bidang pelayanan yang terabaikan yaitu tidak adanya institusi yang menangani masalah pelestarian hutan lindung. adat dan budaya. pendengaran. kerusuhan. 3. (3) bidang pemerintah. karena jenis pelayanan dan obyek yang dilayani adalah sama. sebaliknya dapat bersinergi di dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. (2) bidang ekonomi. yang dapat memberikan hasil yang lebih optimal pada masyarakat. 200 . dan perasaan. Implikasi dualisme struktural dalam pelayanan publik. Sinergi Bidang Keamanan Desa Pakraman berdasarkan hak asal-usulnya mempunyai otonomi asli sehingga berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Sinergi Bidang Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakram 1 5 2 4 3 Keterangan :1. Keamanan. (4) bidang sosial.. kebersihan lingkungan. Ekonomi.

Penelitian menunjukan bahwa program yang dilaksanakan melalui jalur bahasa Agama. pengentasan buta aksara dan angka. dan perikanan. yang meliputi bidang pertanian. dan (6) mengenakan bunga waringin bang (pucuk merah) pada daun telinga atau pada lipatan udeng. seperti pada saat panen hasil pertanian. (4) wastra kancut atau kain yang berujung. Desa Dinas juga mempunyai tugas untuk menjaga keamanan desa. Hasil pertanian ditampung oleh Badan Usaha Unit Desa. 202 . sebagai lembaga simpan pinjam juga. (2) baju sejenis rompi. yang berfungsi sebagai bank desa. Adat. perkebunan. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi sinergi antara aparat Desa Dinas dengan prajuru Desa Pakraman dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 4. Pemerintah dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah melaksanakan berbagai program kerja. Hal ini bersinergi dengan tugas-tugas yang diemban oleh aparat Desa Dinas atau aparat keamanan negara. LPD dapat melayani kepentingan perekonomian masyarakat desa. yaitu: (1) destar atau udeng atau ikat kepala. terutama sosialisasi Akte Perkawinan.. Sinergi Bidang Sosial Kegiatan masyarakat desa dalam bidang sosial tercermin pada tata kehidupan yang bersifat kolektif. yang berkaitan dengan suksesnya program kependudukan melalui Keluarga Berencana. FISIP UI. 2007. agar tertib administrasi. seluruh warga masyarakat dapat mengerjakan pekerjaan besar yang berguna bagi seluruh warga masyarakat. 3. Budaya menunjukkan hasil yang baik. yang dibentuk oleh Pemerintah. Berkaitan dengan kegiatan dalam bidang keamanan. Semboyan salunglung sebayan taka. Tugas pecalang dalam perkembangan masyarakat yang semakin kompleks. diwujudkan dalam melaksanakan kegiatan sosial. Akta Kelahiran dan KTP.mengandung makna simbolik keagamaan dan tradisi masyarakat.. Desa Dinas dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakat. Usaha tersebut melibatkan aparat pemerintahan Desa Dinas. sehingga terjadi sinergi antara Pecalang dengan Hansip dalam melaksanakan tugas keamanan. Dalam tugasnya untuk menjaga keamanan desa.. tetapi juga meliputi menjaga ketertiban masyarakat secara luas. I Wayan Suarjaya. Pelaksanaan program tersebut Desa Dinas bekerja sama dengan prajuru Desa Pakraman dalam menyalurkan kegiatan proyek yang datang dari pemerintah pusat. Hansip berkoordinasi dengan Pecalang. kalah bersaing dengan perusahan swasta. 2.. telah dibentuk Koperasi Unit Desa. pemerintahan Desa Dinas dan Desa Pakraman bekerja sama memberikan motivasi dan kesadaran masyarakat. Jiwa gotong-royong menjadi inspirasi bagi warga masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Sinergi Bidang Pemerintahan Pelaksanaan program pemerintah. Pecalang sebagai jagabaya desa mempunyai tugas pokok menjaga keamanan yang berkaiatan dengan pelaksanaan kegiatan adat dan agama. Bagi warga desa yang mempunyai penghasilan lebih. dilaksanakan dengan sistem Banjar. Kerjasama lembaga pecalang dengan lembaga keamanan Pertahanan Sipil dalam wujud koordinasi dimaksudkan agar pelaksanaan tugas keamanan dilakukan secara terpadu. Secara formal Desa Dinas mempunyai Hansip atau Pertahanan Sipil yang dikoordinir oleh Kepala Desa. juga melibatkan Desa Pakraman. mereka dapat menyimpan uangnya di LPD. Keberhasilan Pecalang dan petugas keamanan Hansip ditandai oleh terwujudnya ketertiban dan ketenteraman masyarakat. KUD maupun BUUD dalam perjalanannya mengalami pasang surut. 201 Analisis pelayanan . Dengan semangat kerja sama itu. Dalam mewujudkan tertib administrasi. Sinergi Bidang Ekonomi Dalam bidang ekonomi Desa Pakraman mempunyai wadah yang disebut Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Hal ini terbukti suksesnya program KB. (3) kampuh poleng (kain warna loreng). (5) mengenakan keris (kadutan). Pecalang tidak hanya bertugas terbatas pada kegiatan adat dan agama saja.

Desa Dinas dan Desa Pakraman bersama – sama mengantisipasi penetrasi masuknya budaya luar.. nampak dalam program terpadu dalam rangka pembinaan dan pelestarian adat budaya dan agama. meskipun tidak cocok untuk ditiru oleh masyarakat setempat. Sinergi Bidang Agama. Hal itu menunjukkan bahwa dalam kegiatan dalam bidang agama. seperti Hari Nyepi. dan budaya dimaksudkan untuk memelihara kelestarian Adat. agama. aturan. dan budaya telah menyatu dalam kehidupan setiap warga masyarakat. antara lain: 1). Masuknya budaya asing dapat mempengaruhi budaya masyarakat. Awig-awig itulah mengikat warga masyarakat merasa bersatu dalam satu wilayah yang sama. dan asumsi yang mengarahkan perilaku anggota dan organisasi. adat. Demikian pula halnya anggota sebagai sub sistem organisasi masyarakat dalam menjalankan fungsinya sesungguhnya digerakkan oleh budaya organisasi yang bersangkutan dan di dorong oleh dinamika faktor eksternal. dan budaya masyarakat. Mulai saat itu daerah pedesaan. maka dapat dijelaskan bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai suatu organisasi pada prinsipnya memiliki budaya yang khas terbentuk oleh konteks budaya masyarakatnya. artifak. Wujud sinergi dalam bidang adat budaya dan agama. tetapi melibatkan seluruh aparat pemerintah Desa Dinas. Filternya melalui melestarikan adat. Agama Hindu yang dianut oleh masyarakat di lokasi penelitian. yang meliputi beberapa hal. Berdasarkan atas penjelasan di atas. kedalam budaya masyarakat setempat. FISIP UI. 5. sanksi. dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama pula terhadap desanya. menunjukkan adanya kehidupan bersama sesama warga desa yang bersifat kekeluargaan. sesungguhnya menyisakan berbagai persoalan. Sementara itu. dan budaya. Proyek Pembangunan Berkelanjutan di Bali (Bali Sustainable Development Project). adat. Pemerintah Daerah Bali telah mengembangkan Desa Pakraman sebagai wahana pembangunan. Karya seni warga masyarakat baik sesara individu maupun secara kolektif menghasilkan karya budaya yang bernilai tinggi. Budaya organisasi ini kemudian direpresentasikan dalam bentuk nilai.Dalam kegiatan sosial yang datangnya dari pemerintah pusat. I Wayan Suarjaya. sikap. adat.. dan dilaksanakan bersama antara pemerintah Desa Pakraman dan Desa Dinas. Wadah untuk melestarikan adat budaya dan agama tertampung dalam Desa Pakraman.. Ciri-ciri masyarakat desa yang besifat kolektif itu. dan Budaya Dalam pelaksanaan upacara agama. oleh karena demikian kedudukan desa pakraman dijaga eksistensinya di masyarakat. Desa Dinas sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat. dengan salah satu butir pengembangan itu adalah memacu pusat-pusat kegiatan 203 Analisis pelayanan . budaya dan agama. dilaksanakan secara bersinergi antara prajuru Desa Pakraman dengan aparat Desa Dinas. mendapatkan tantangan untuk menghadapi perubahan sosial. bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi seluruh warga masyarakat desa.. Dengan demikian sinergi Desa Pakraman dengan Desa Dinas dalam bidang sosial. semangat. adat. Organisasi publik seperti halnya Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Budaya masyarakat yang dijiwai oleh Agama. sesungguhnya dipengaruhi oleh budaya yang dianut oleh organisasi yang bersangkutan. Runtuhnya keunikan di desa yang berupa kearifan tradisi maupun pengetahuan lokal (local knowledge). Oleh karena itu. disambut baik oleh prajuru Desa Pakraman. Sinergi Desa Dinas dan Desa Pakraman dalam bidang agama. organisasi berperan mengadaptasi dinamika faktor eksternal tersebut demi kelangsungannya. 2007. ternyata menjadi sumber bagi terwujudnya aturanaturan adat yang menjadi pedoman berperilaku bagi warga masyarakat yang disebut awig-awig. Adat. pelaksanaan kegiatan tidak hanya dilaksanakan oleh prajuru Desa Pakraman saja. dalam bebagai program kerjanya berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai agama. 204 . prinsip. Masuknya proses modernisasi beserta proyek pembangunan masyarakat di pedesaan. Hal itu juga tercermin dalam memecahkan masalah yang dilakukan secara kekeluargaan.

Di Bali melalui otonomi daerah terjadi pergeseran yang cukup berarti yang ditandai oleh perubahan nama Desa Adat dikembalikan sebutannya menjadi Desa Pakraman sesuai dengan Peraturan Daeran Nomer 3 Tahun 2001. dan IPTEK) perlu dipacu untuk tumbuh secara berimbang”94. Seiring dengan era Desentralisasi saat ini. karena selama Orde Baru identitas politik dihancurkan dengan proyek penyeragaman Desa95. hal. Soetandyo et al. Sampai sekarang pelayanan publik di desa selalu dimaknai dan dipraktikkan sekedar sebagai pelayanan service) untuk keperluan administratif (administrative mengontrol dan mendisiplinkan warga. 2). Soetandyo. Belum adanya pembagian kewenangan yang detail mengenai pelayanan publik antara kabupaten dan desa ternyata membuat kesulitan tersendiri dalam menentukan formula Alokasi Dana Desa (ADD) yang betul-betul berpihak kepada rakyat miskin (yang sangat butuh sentuhan pelayanan publik). Desentralisasi juga . dikenal pula Desa Dinas yang dibentuk untuk memberikan pelayanan administrasi bidang kepemerintahan. masih perlu disiapkan. maka upaya pembinaan kearah keterbukaan. Desa yang tumbuh dan berkembang atas swadaya dan swakarsa oleh masyarakat... Lihat Sutoro Eko (2004) menyatakan Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) masing-masing membentuk asosiasi untuk menyuarakan revisi UU No. Dalam konteks pelayanan publik. 94 95 tranportasi. 206 . dan piranti lunak seperti awig-awig yang mengatur dinamika Desa Pakraman. 2007. Sementara. estetis) dan fungsi orientatif-progresif (ekonomi. Salah satu institusi pemerintah terbawah yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat adalah Desa Dinas dan Desa Pakraman. solidaritas.. 2005) 97 96 Anom. Sedangkan perangkat eksternal adalah campur tangan pihak luar seperti gencarnya inovasi pembangunan. Op. 4).22/1999 yang berorientasi pada pemberian otonomi yang lebih besar serta pembagian kewenangan dan keuangan kepada desa yang lebih berimbang (dalam Wignosubroto. Op. Soetandyo et al. fenomena yang muncul adalah bangkitnya identitas lokal di daerah. 3). seperti kejelasan fisik dan sarana. 1991. Loc. Perangkat internal berupa piranti keras. Secara sektoral. pemerintah kabupaten umumnya belum mempunyai standar pelayanan publik minimal dan belum melakukan distribusi kewenangan kepada desa untuk mengurus pelayanan publik desa. pendidikan. menunjukkan bahwa Desa tersebut memiliki otonomi asli. Pembangunan Bali yang berwawasan budaya dengan salah satu butir pengembangannya. maupun organisasi lainnya. yaitu ”Dalam pelaksanaan pembangunan peranan lembaga-lembaga adat (Desa Pakraman. Desentralisasi membawa pemerintah lebih dekat dengan masyarakat. Sebagaimana telah dinyatakan bahwa institusi pemerintah merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam menyediakan pelayanan publik kepada masyarakat. pembinaan pemerintah dan hubungan antar Desa Pakraman yang dalam kondisi tertentu dapat mendorong dan atau menghambat tujuan pembangunan. cit. FISIP UI. 28 Wignosubroto. Selain Desa Pakraman. selektif dan adaptif perlu ditingkatkan fungsi ekspresif (regilius. bukan sebagai pelayanan privat servis (civil service) yang betul-betul menjadi hak warga. Sekeha) terbukti sangat penting agar eksistensi lembaga-lembaga tradisional ini tetap utuh. cit..yang dilaksanakan oleh kelompok-kelompok sekeha baik di Banjar. hal 506. hal 491. cit. berbagai indikator pelayanan publik dasar di desa seperti kesehatan. 205 Analisis pelayanan .. I Wayan Suarjaya. Banjar. dan lain-lain belum menjadi indikator utama untuk mengukur keadilan dan responsivitas pemerintah daerah96.. Aktivitas kewadahan lainnya menuntut kesiapan perangkat internal dan eksternal Desa Pakraman. pelayanan publik oleh Desa Dinas masih menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten melalui DinasDinas.97 Otonomi desa mempunyai tujuan memberikan pengakuan terhadap lokalitas yang eksistensinya jauh lebih tua ketimbang NKRI. Kematangan dan pelarasan Desa Pakraman sebagai wahana pembangunan. membangkitkan Wignosubroto.

. FISIP UI. 13 dan 14 Februari 2006. 208 . disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat di desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan. 98 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. Ketiga. Mengacu pada berbagai uraian sebagaimana dikemukakan di atas. dan berbagai urusan administrasi keamanan dapat dilakukan secara bersama . mempertegas kembali tugas pokok dan fungsi Desa Dinas dan Desa Pakraman. Pertama. 207 Analisis pelayanan . mengadopsi model pola pelayanan publik satu atap dan berbagai varian lainnya. penyelesaian sengketa adat. dalam pelaksanaan program masing – masing. Tempat pelayanan dapat dimusyawarahkan bersama apakah di kantor Desa Dinas atau di balai Banjar Desa Pakraman. Pada model pelayanan ini bidang-bidang pelayanan yang sama yang mengharuskan kehadiran secara fisik aparat Desa Pakraman dan aparat Desa Dinas serta kehadiran anggota masyarakat seperti menetapkan program. Pada dasarnya yang dilayani dan yang melayani adalah dari unsur masyarakat yang sama. memberdayakan kekuatan rakyat pada tingkat grassroot. Melalui forum bersama segala permasalahan pelayanan di desa Wongaya Gede dapat diupayakan bersama. bidang sosial. pembinaan karang taruna.. Pemilihan tempat pelayanan yang didasarkan pada hasil musyawarah akan dapat dihindari konflik pelayanan.. Kedua. adat budaya. dan bidang budaya. memperbaiki kualitas layanan publik yang relevan dengan aspirasi masyarakat. bidang politik. Pola pelayanan satu atap.. demikian pula sebaliknya Prajuru Desa Pakraman merupakan bagian dari anggota/penduduk Desa Dinas. 2007. sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pemberian pelayanan publik.sama. Penetapan jadwal bersama sekaligus pembagian tugas dan pengaturan lainnya dapat ditetapkan dalam musyawarah bersama. serta Tokoh-tokoh Desa Pakraman dan Desa Dinas di Desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan. bidang ekonomi. dan pelayanan keamanan serta bidang lainnya dapat dilakukan koordinasi dan kerja sama antar aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. waktu dan biaya baik dari pihak penyedia layanan (Desa Pakraman dan Desa Dinas) maupun dari masyarakat yang dilayani98. maka sinergi pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai suatu pola pelayanan publik yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama meliputi bidang keamanan. diikuti koordinasi dan konsultasi yang lebih mantap. tenaga dan biaya serta terjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis di antara aparat di kedua desa.potensi dan prakarsa lokal. pembinaan keluarga sukinah. model kerja sama dan koordinasi yaitu bidang pelayanan yang sama seperti pemeliharaan hutan lindung. I Wayan Suarjaya. hemat waktu. Pola pelayanan publik yang disinergikan atas berbagai bidang tersebut. membentuk forum bersama yang pengurusnya dapat diambil dari Desa Pakraman dan Desa Dinas. menciptakan pemerataan dan keadilan. Keempat. Model satu atap didasari pada pemikiran yang berkembang di masyarakat bahwa pola pelayanan publik satu atap merupakan sesuatu yang penting perlu diwujudkan sehingga adanya efisiensi dan efektifitas tenaga. Perangkat Desa Dinas adalah termasuk anggota dari Desa Pakraman.

Perkembangan selanjutnya tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman tumbuh dan berkembang sesuai dengan suasana politik. sosial kemasyarakatan. FISIP UI. demikian pula saran yang ditujukan kepada pemerintah termasuk Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pada zaman kemerdekaan masih dimanfaatkan dan berkembang sampai sekarang. serta tugas-tugas tertentu yang dberikan oleh pemerintah. 210 . desentralisasi dan pemerintahan lokal. pembangunan. Mengingat Desa Dinas adalah merupakan unsur pemerintah yang paling bawah. hubungan sesama umat manusia. adat istiadat dan budaya.. dan yang kedua tentang sinergi pelayanan publik. surutnya sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sedangkan adatistiadat dan budaya dijiwai oleh nilai-nilai Agama Hindu. serta hasil penelitian temuan lapangan daril analisis sebagaimana yang telah dituangkan pada bab IV. dicoba untuk ditarik sejumlah pokok pikiran yang dapat disimpulkan. serta mensinergikan pelayanan di akar rumput. telah dilakukan secara sistematis. penduduk kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri serta ditopang oleh dana swadaya masyarakat. berkembang menjadi sembilan bidang pelayanan yakni. Sedangkan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh desa Dinas 22 jenis pelayanan. Agama dilkemas melalui adat-istiadat dan budaya.. Tiga unsur keharmonisan hubungan ini disebut dengan Tri Hita Karana. keamanan. Pada bagian akhir dari hasil penelitian ini. Tugas pokok dan fungsi Desa Dinas diatur berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui undangundang. Secara rinci jenis pelayanan publik Desa Pakraman 34 jenis pelayanan. administrasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Sedangkan Desa Dinas merupakan lembaga modern yang dibentuk oleh Pemerintah Kolonial. dengan menggunakan pisau analisi. Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Desa Pakraman merupakan lembaga tradisional. maka semua unsur pelayanan pemerintah juga dilayani oleh Desa Dinas. Pokok masalah yang tertuang dalam bab I ditelaah secara intensif. Desa Pakraman berfungsi untuk menata dan mengatur kehidupan masyarakat Hindu dalam menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan. dan teori pelananan publik... Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede sebagai berikut: A. serta antar umat manusia dengan alam lingkungannya. pertama tentang pelayanan publik. Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Daerah (Perda). 2007. serta analisis pelayanan yang dapat disinergikan antara pelayanan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas tertuang dalam bab IV. Desa Dinas pada mulanya tugas pokok dan fungsi pelayanannya. yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat. Kemudian berlanjut secara turun temurun. Kesimpulan 1.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bahasan mengenai Analisis Pelayanan Publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede. Mengacu pada pokok maslah yang telah diuraikan sebelumnya. serta dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mensukseskan program pemerintah (pembangunan) melalui jalur bahasa agama. Analisis pelayanan publik oleh kedua desa tersebut terutama diskripsi pelayanan publik. hanya yang berkaitan dengan bidang pemerintahan. Kedua desa ini tumbuh dan berkembang seirama dengan pasang Analisis pelayanan . bidang agama. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik. mempunyai wilayah. maka dalam kesimpulan ini akan memuat dua pokok kesimpulan. yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Tiga unsur ini saling melengkapi dan memberi makna. kepada generasi penerusnya. kesra. pemerintahan dan perekonomian. I Wayan Suarjaya. Desa Pakraman pada saat terbentuknya memberikan pelayanan bidang agama. Selanjutnya disajikan sejumlah saran yang relevan bagi ikhtiar akademik. peradilan adat.

sumber keuangan yang berasal dari pendapatan asli desa dan dana APBD Kegiatan pembangunan dan pelayanan publik ditunjang oleh dana yang memadai dari pemerintah. 2007. yang berfungsi sebagai koperasi simpan pinjam. adat. Dalam bidang ekonomi Desa Pakraman mempunyai wadah yang disebut Lembaga Perkreditan Desa (LPD). FISIP UI. Desa Dinas lebih berperan dibandingkan Terutama pelayan surat menyurat. Desa Pakraman. Desa Dinas memiliki Koperasi Unit Desa (KUD).32 Tahun 2004. dan mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakatnya. I Wayan Suarjaya. Pakraman. masyarakat lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman. (3) bidang pemerintahan. sampai dengan meninggal (Ngaben) ritual keagamaannya dilayani oleh Desa Pakraman. budaya dan agama menjadi kewajiban pokok Desa Pakraman. Secara umum baik Desa Pakraman maupun Desa Dinas cukup kompeten dalam memberikan pelayanan publik. seperti surat keterangan dan KTP. Sementara Desa Dinas melaksanakan desentralisasi atau mendapatkan kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan UU No. Desa Dinas mempunyai petugas Pertahanan Sipuil (Hansip) yang bertugas menjaga keamanan. tetapi sukses tertib administrasi kependudukan peran Desa Pakraman sangat kuat. serta pelayanan diberikan atas semangat Tri Hita Karana. Semboyan salunglung sebayan taka. dan (5) bidang agama. Kegiatan masyarakat desa dalam bidang sosial tercermin pada tata kehidupan yang bersifat kolektif.. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari hari. contoh. sumber dananya murni dari swadaya masyarakat. Oleh karena itu aspek kesopanan di dalam melayani anggota masyarakat dipegang teguh oleh Desa Pakraman dan Desa Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Hasil penelitian menunjukan bahwa. mulai dari manusia baru lahir. Desa Pakraman sebagai organisasi yang tumbuh dari masyarakat memiliki legitimasi yang lebih besar daripada organisasi bentukan (Desa Dinas). (4) bidang sosial. (2) bidang ekonomi. (3) dalam pembangunan pekerjaan untuk renopasi Pura sangat banyak. Kedua institusi ini yang paling dekat dengan masyarakat.. masyarakat akan memilih hadir di kegiatan Desa Dinas. (1) pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman menyangkut seluruh aspek kebutuhan masyarakat. kalau ada kegiatan dalam waktu yang sama dilaksanakan oleh kedua desa tersebut. memiliki wilayah. Jiwa gotong royong menjadi inspirasi bagi warga masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. Pelayanan yang melanggar kesopanan akan mendatangkan sangsi sosial. adat dan budaya Desa Pakraman dalam menjalankan fungsi keamanan dibantu oleh jagabaya desa yang disebut pecalang berfungsi untuk menjaga keamanan desa..Berdasarkan rincian aspek pelayanan publik tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Pakraman jauh lebih berat daripada pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Dinas.. diwujudkan dalam melaksanakan kegiatan sosial. Pelaksanaan penertiban penduduk dilakukan kerjasama antara aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas sehingga seluruh warga desa yang berdomisili diwilayah Desa pakraman dan Desa Dinas dapat ditertibkan dengan baik. Dalam mewujudkan tertib administrasi pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Demikian pula dalam bidang-bidang lain pelayanan publik oleh Desa Pakraman lebih berat. 212 . 211 Analisis pelayanan . aspek pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas ditemukan 5 (lima) bidang yang dapat disinergikan karena jenis pelayanan yang sama dapat dilaksanakan secara terpadu.(4) pelestarian. Desa Pakraman dan desa Dinas memiliki reputasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada filsafat Tri Hita Karana 2. (2) Desa Pakraman dalam melaksanakan program pelayanan publik.

Dalam rangka menyinergikan pelayana publik Desa Pakraman dan Desa Dinas berdasarkan bidang-bidang yang telah disebutkan di atas. pembinaan karang taruna. Pada model pelayanan ini bidang-bidang pelayanan yang sama seperti menetapkan program. kenyaman dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh latar belakang historis pembentukannya berbeda. tetapi secara struktural kedua desa itu sulit untuk disatukan. pelaksanaan kegiatan tidak hanya dilaksanakan oleh prajuru Desa Pakraman saja. memanfaatkan semua potensi yang ada serta melibatkan berbagai unsur untuk bersama-sama memberdayakan masyarakat dalam memberikan pelayanan.Dalam pelaksanaan upacara agama. Sedangkan pembentukan Desa Dinas tugas pokok dan fungsinya memberikan pelayanan pada entitas pemerintahan. Walaupun dalam perjalanan waktu kemudian terjadi pergeseran tugas pokok dan fungsi pelayanan masing-masing. Sebaliknya masyarakat seyogianya patuh dan taat terhadap awig-awig yang telah ditetapkan. dibangun atas model pelayanan satu atap. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan dalam bidang agama. B.. Peningkatan kualitas pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Dalam menyinergikan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas agar lebih ditingkatkan kualitas musyawarah mufakat di antara kedua instansi tersebut sehingga tidak terjadi overlapping dalam mengambil kebijakan dan pemberian pelayanan. hal ini mengakibatkan masyarakat dilayani oleh dua institusi yang berbeda entitasnya. karena pasang surut pemerintahan desa yang cenderung mengarah pada tumpang tindih pelayanan publik.. 3. urusan keamanan dapat dilakukan secara satu atap. dan forum bersama yang dijiwai oleh Tri Hita Karana. sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat di akar rumput. seperti hari Nyepi. Penetapan jadwal bersama sekaligus pembagian tugas dan pengaturan lainnya dapat ditetapkan dalam musyawarah bersama. Kedua. Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik Desa Pakraman. model pelayanan satu atap. kerjasama dan koordinasi. Perlu payung hukum dari Pemerintah Propinsi Bali untuk mengatur Desa Pakraman dan Desa Dinas supaya tidak terjadi tumpang tindih pelayanan publik dari kedua institusi 213 Analisis pelayanan . keamanan. dihemat waktu. dan kesejahtraan masyarakat Wongaya Gede. tenaga dan biaya serta terjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis di antara aparat di kedua desa.. Ketiga. 2007. adat. untuk meningkatkan kebersamaan. Desa Pakraman lebih menitik beratkan pelayanan publik pada entitas agama. model kerja sama dan koordinasi yaitu bidang pelayanan yang terabaikan seperti pemeliharaan hutan lindung. dilaksanakan secara bersinergi antara prajuru Desa Pakraman dengan aparat Desa Dinas. dan pelayanan keamanan serta bidang lainnya dapat dilakukan koordinasi dan kerja sama antar aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. budaya. dan budaya. I Wayan Suarjaya. 214 .. karena adanya kesamaan masyarakat yang dilayani. penyelesaian sengketa adat. Walaupun sebagian besar prinsip-prinsip pelayanan publik secara esensial dapat disinergikan. pembinaan keluarga sukinah. Sedangkan peningkatan kualitas pelayanan publik oleh Desa Dinas juga berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta hasil musyawarah mufakat desa sehingga dalam memberikan pelayanan tercermin adanya rasa keadilan. Model pelayanan dapat dimusyawarakan bersama apakah di balai banjar Desa Pakraman atau di kantor Desa Dinas. Pemilihan tempat pelayanan yang didasarkan pada hasil musyawarah akan dapat dihindari konflik pelayanan. tetapi melibatkan seluruh aparat pemerintah Desa Dinas. adat budaya. serta keputusan rapat (perarem). adat. 2. para prajuru desa mestinya berpedoman pada ketentuan yang telah diatur dalam awig-awig. tugas pokok dan fungsinya juga berbeda. FISIP UI. seperti yang telah diuraikan tadi.. Saran-Saran 1. ada beberapa model sinergi yang dapat ditempuh: Pertama.

tersebut. Walaupun sudah ada Perda Nomer : 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman tetapi belum mengatur hubungan kerja sama serta pembagian tugas antara Desa Pakraman dan Desa Dinas. 4. Secara teoritis penggabungan dua jenis desa tidak mungkin dapat dilaksanakan akibat dari latar belakang historis pembentukannya berbeda, tugas pokok dan fungsinyapun berbeda. Bagi Desa Pakraman dan Desa Dinas yang tergolong kategori I yaitu wilayah dan penduduknya sama atau berimpit dapat dipertimbangkan untuk pengelolaannya dibawah satu atap/amalgamasi, jika sesuai dengan tuntutan dan kehendak masyarakat. Sedangkan tipe desa II wilayah Desa Dinas meliputi beberapa Desa Pakraman, dan sebaliknya tipe III yang wilayah Desa Pakraman meliputi beberapa Desa Dinas, tetap dipertahankan keberadaannya seperti semula, dengan meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam bidang-bidang pelayanan tertentu, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pelayanan.

215 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong,

Michael and Baron, 1998, A. Performance Management: The New Realities, New York, Institute of Personnel and Development.

A. Buku – Buku Abdul Rosaki dkk., 2005, Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa, IRE Press, Jogyakarta. Abdurachman (ed), 1987,Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah, Media Sarana Press, Jakarta,.

Arsana, IGKG, 1990, Tata Laksana di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Arsana, IGKG, IB Mayun, 1994, Pembinaan Budaya dalam Keluarga Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Artadi, I Ketut, 1980. Hukum Adat Bali, Setia Kawan, Denpasar. Astika, KS, 1986, Peranan Banjar pada Masyarakat Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Astika, KS, DP Muka, 1988, Penelitian Banjar sebagai Organ Pembangunan Pedesaan di Bali, Universitas Udayana, Denpasar. Atmosoedirdjo Prajoedi, 1976, Dasar-Dasar Management dan Office Management, Cetakan ke VI, Jakarta. _____, 1976, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan, Cetakan ke IV, Jakarta.

Agung, AA dan IBP Purwita, 1984, Pemantapan Adat dalam Proyek Menunjang Usaha-Usaha Pembangunan, Pemantapan Lembaga Adat dan Pengembangan Museum Subak, Majelis Pembinaan Lembaga Adat Prop. DATI I Bali, Denpasar. Agung, AA. 1984, Materi Pembinaan Desa Adat, Majelis Pembina Lembaga Adat Prop.Dati I Bali. _____, 1987, Pokok-Pokok Materi Pembinaan Desa Adat di Bali, Majelis Pembina Lembaga Adat, Tk. Bali, Denpasar. Amrah Muslimin. 1960. Ikhtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903 – 1908. Penerbit Djambatan Jakarta. _____, 1989, Bali pada Abad XIX : Perjuangan Rakyat dan Raja Menentang Kolonialisme Belanda, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Ardika, I Wayan, 1996. Dinamika Kebudayaan Bali, Upada Sastra, Denpasar.

Badri J, 1953, Otonomi Daerah Masalah dan Beberapa Perbandingan, Tanpa Penerbit. Bagus, IGN, 1977, Adat Istiadat Daerah Pengembangan Media Kebudayaa. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Bali, Proyek

Departemen

Baker,Theresa L, 1994, Doing Social Research, Second Edition, McGraw-Hill, Inc, New York.

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

217

Baker, Randall,1991, The Role of The State and Bureaucracy in Dveloping Countries Since World War II dalam Farazmand, Ali,. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Marcel Dekker:. USA. Bakkar, Anton,1990, Metodologi Penelitian Filsafat, Cetakan Keempat, Penerbit Kanisius, Yogjakarta. Barzelay, Michael., 1992, Breaking Through Bureaucracy A New Vision For Managing in Government, Berkeley, California, University of California Press Bayu Suryaningrat, 1976. Pemerintahan dan Administrasi Desa, Bandung: PT Mekar Djaya. _____, 1981, Decentralisasi dan Deconcentrasi Pemerintahan di Indonesia suatu analisa, jilid I, Dewa Kunci Press, Jakarta. Beni, 1999, Pedoman Penulisan Udayana, Denpasar.

Wibisono, Gajah Mada Pertama, Yogyakarta. Bryant,

University Lousie,

Press,

Cetakan

Pembangunan

Coralie,

dan

Rusyanto L Simatupang. LP3ES. Jakarta.

untuk

White,

Negara

G,. Manajemen Berkembang. Terj.

Budiardjo Miriam, (ed ), 1991, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, Sinar Harapan, Jakarta. Carino, Ledivina, V, 1991, Regime Changes, the Bureaucracy, and the Political Development, dalam Farazmand, Ali,.

Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Marcel Dekker. USA

Carter, April, 1985, Otoritas dan Demokrasi, (Terjemahan), Sahat Simamora, Rajawali, Jakarta, Cheema G Shabbir & Rondinelli Dennis A, 1983, Implementing

Awig-Awig. Universitas

Decentralization Programmes In Asia Local Capacity For Rural Development, Japan, United Nation Center For
Regional Development.

Bintoro,T, dan AR Mustopadijaya, 1984, Teori dan Strategi Pembangunan Nasional, Gunung Agung, Jakarta. ______, 1994 Pengantar Administrasi Pembangunan. LP3ES. Jakarta. Cet. XVI Bintan Regen Saragih, 1974, Himpunan UUD, UU, dan Beberapa Peraturan Perundangan lainnya tentang Pemerintahan Daerah di Indonesia, Fak Hukum Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Branch Melville C. 1995, Perencanaan Kota Komprehensif Pengantar dan Penjelasan, (Terjemahan), Bambang Hari

Chelimsky

2nd Edition, 1989.

Eleanor, Program Evaluation Patterns and Directions, American Socicty For Public Administration,

Cochrane Glynn, Policies For Strengthening Local Government In Developing Countries, World Bank Staff Working Papers, No.582, Washington DC USA, 1983. Covarubias, M, 1971, Island of Bali, Oxford University Press, Kuala Lumpur. Danurejo, 1976, Otonomi di Iindonesia Ditinjau Dalam Rangka Kedaulatan, Laras, Jakarta.

218 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

219

Denpasar.. Edited by Riggs. Mavester Wheat Sheaf Frederickson. Esman . Upada Sastra. Denpasar. Jakarta. Jossey-Bass Publishers. (Terjemahan). Manajemen Personalia. 1997 dan Grindle. Jakarta. Interpreting Qualitative Data: Methods for Analysisn Talk. UGM. Jilid 1Frederickson. Duke University Press. Sage Publication Ltd. Manajemen Personalia. Fred. Administrasi Negara-negara Berkembang. Jhon. London. (Terjemahan). Flyn. 1975.1993.. Jakarta. The Spirite of Public Adminsitration. Praktek Internasional dan Relevansinya Bagi Dunia Ketiga. IMS dan IWK Santika. Pokok-Pokok Organisasi Kemasyarakatan Adat di Bali.KJ. 7 Sample Strategies for Success. 1991. 2003. (Terjemahan). Harvard University Pess. Devas Nick dkk.Administrasi Negara Baru. Catherine. Riggs 1985. CV Rajawali Jakarta. DeVery. AIM.. 221 . Text and Interaction. Blackwell Publisher. 1980. Laporan Hasil Penelitian. Flippo Edwin B.S. Janin Arief.. Ghozei. Ccok. Elliasen. 1993. Sofian. Jakarta. Erlangga. LP3ES. Great Britain. Fred W. (Terjemahan). David Silverman.Davey. F. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Public Sector Management. Mohamad Masud. Departemen Dalam Negeri. 1985. I Wayan Suarjaya. UI Press. North Carolina. _____.. M. Masri Maris. A Review of Recent Experience.. 1993. Managing Public Organization. Mohamad Masud. Decentralisation in Developing Countries.. John R Nellis dan Shabbir Cheema. 1997. Dherana. Iskandarsyah. Ennew Judith. Pokok-pokok Pikiran tentang Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.. 1998. UI Press. FISIPOL. Keuangan Negara. 2007. Management Series. David Mc Kevitt. Due 220 Analisis pelayanan . San Fransisco. Dharmayuda. Sage Publications. W. UI Press.. Kjel and Ian Kodiman. Competitive Edge. Jakarta. Filsafat Adat Bali. London. Getting Good Government Capacity Building in the Public Sector of Developing Countries. Universitas Udayana. Washington DC. Raka. FISIP UI. Amanullah dkk. Yogyakarta. Edisi ke enam. Erlangga. Jilid 2. 1990. J. New Public diterjemahkan oleh AAdministration. Pembiayaan Pemerintahan Daerah PraktekJakarta.1994. Dennis A Rondinelli. Good Service is Good Busineess. H George. London. Save the Children. New York. CAG and teh Study of Public Administration dalam Frontiers of Development Administration.1988. Milton. (Terjemahan).. Jakarta.1970. Managing Core Publlic Service. V.1994. Street and Working Children: A Guide to Planning. 1989. 1983. Strategi Administrasi dan Pemerataan Akses pada Pelayanan Publik Indonesia. USA.. Effendi. 1993. Edisi ke enam. Norman.

1993. Local Government in Devloping Countries. Handayaningrat Suwarno. 1 Henderson. Inc. United Nation Centre for Regional Development. Inc. Marcel Dekker. EDI series in Economic Development Published for the World Bank. USA 222 Analisis pelayanan . terjemahan. Exemplary Centre. 1982. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1994. Alderfer. 1960. IV. 2005. Geniya. Wayan. 1987.. Monograph Series. FISIP UI. Dalam Farazmand. Japan Haar. Ferrel. Gerald S. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. London: Mc Graw-Hill Book Company. Kumarian Press. Arsitektur Tradisional Bali dalam Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bali. Decentralization in Indonesia: Legislative Aspects. and Y.1971. Wolholf. Duke University Press Gabriel Roth. New York. K. Connecticut. London. 68 Heady. Keith. 1960. I Wayan Suarjaya. Guba. Decentralization and Development Policy Implementation in Developing Countries. Caiden and Bun Woong Kim. Harold F. No. IN. Oxford University Press.Ter. 223 . Shabbir Chema. Mc Millan. G. Transformasi Ekonomi Politik Desa. 1986. 1991. New York.-------. 1964. Ed.. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Republik Indonesia. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat.. Qualitative Desentralization Program in Asia Local Capacity for Rural Development. _____. New York. Jakarta Hahn Been Lee.. Indigenization Versus Internationalization. Nordic Institute of Asian Studies.Ng. Systematization of Knowledge on Public Administration.S Lincoln. 1957. Pradnya Paramita. 1991 Public Administration: Comparative Perpsective. B. The Private Provision of Public Service in the Developing Countries.J. APMD Press. 1983. Denpasar. Timun Mas Jakarta. Gunung Agung. Administrative Periphery: Rural Leadership and the New Order in Java.. Jakarta. Administrasi Pemerintah Dalam Pembangunan Nasional. 1991. Dennis A Rondinelli. Marcel Dekker. Implementing Gregorius Sahdan. Egon.. STPMD APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford Foundation. 2007. Sage Publications Ltd. Toronto. G. 1991.. Kumarlan Press. Model Interaksi Kebudayaan dan Industri Pariwisata pada Masyarakat Bali. New York: Cornell University Gerald E.. Jakarta. 1995. Gelebet. Soebakti Poesponoto. In Hanbookof Research..1983. Competing Paradigms Qualitative Research. Maryanov. A Dragon Progress Devlopment Administration in Korea. Ali. Frontiers of Development Administration.. Hans Antlov. Upada Sastra.

dan Gerald S Marynov.. _____. Duke University Press. Hoessein. World Bank Washinton D. 1996. Jakarta. 1971. Dwen E. 1994. University Of Amsterdam. The Mac Millan Press. 1971.. Jakarta. Public Choice an Introduction.. London..2003 Laporan Penelitian Kajian Tata Hubungan Kewenangan antara Pemeirntah dan Pemerintah Daerah. Janvry. HN. Organization: Creating a Culture of Continuous Growth and Development Through State-of the Art Human 224 Analisis pelayanan . Yogyakarta. Rethinking Decentralization in Developing Countries.E.. Patricia and Barbara Romzek. Pusat Studi Politik Indonesia. New Practices and Their Implications for Rural Development. Ingraham. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. H.. The Cultural Dimension in Management and Planning. 1998. Heaphey. Great Britain. R. State. Hessel Nogi. 2002.. Jakarta. 225 . _____. Islami M Irfan. Berbagai fakta yang mempengaruhi besarnya otonomi Daerah Tk. Bumi Aksara. Spatial Dimension of Development Administration. and Richard Bird. 1998.Universitas Indonesia Press. Asia Pasific. Jaweng. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Hughes. 2005. BP Panca Usaha. Amhad Junaid. Market and Civil LTD. Manajemen Pembangungan.1987. Colonial Ethnography And Bureaucratic Reproduction. Jakarta Hofstede. The Mac Organizations: New Theories. Beberapa Segi Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Negara Kesatuan Indonesia. FISIP UI. 1995. Jakarta. Penyelenggaraan otonomi Daerah. PT Gramedia Widyasarana Indonesia. Gilley and Ann Maycunich.Henk Schulte Nordholt. 1993. Desentralisasi dan Otonomi Daerah Dalam Dua Perspektif. James J. Mac Millan Press. Seductive Mirage. Pemerintahan dan Politik Lokal di Indonesia.. New York. 1994. New Paradigm For Government Issues For The Changing Public Service. Nursyahid. Beyond the Learning Millan Press. 1994. Iain. Alain de et al. 2002.. Jakarta. 1994. The Search for Thr Fillage Community in Southeast Asia.1987. Mc Lean. Pasca sarjana UI. Greta Britain. I Wayan Suarjaya. Jurnal Forum Inovasi Capacity Building & Good Governance. 1983. Jakarta. G. Kerjasama antara PKPADK-FISIP-UI dengan Kantor Menpan. ______. S Tangkilisan.II. Jeremy H Kemp. Jennie Litvack. Jakarta . Manajemen Publik. The Making Of Traditional Bali. Public Management and Administration An Introduction. Suatu kajian Desentralisasi dan otonomi Daerah dari segi ilmu Administrasi Negara. Jerry W. CASA – Centre Of Asian Studies Amsterdam. Bhenyamin.C. Istanto F Sugeng. 2007. James Danandjaya. 1989. Karya Putra. Faktor Negatif Pusat Dalam Kebijakan Otonomi Daerah. 1980.

1991. ST. Administration. Christoper. 1992. International Union of Local Authorities. CV Haji Mas Agung. and Development. 1997. 1994. LAN. Jakarta. Pengantar Ke arah Sistem Pemerintahan di Indonesia. Yosef Riwu. Cornell University Press. Kitab Undang-Undang Otonomi Daerah. Mark Turner dan David Hulme. Cetakan ke Sembilan. New York Mc Graw Hill. Asas-Asas Ilmu Pemerintahan. Furnivall. 2000. Colonial Policy and Practice. Bandung.. Legge.. 2006Strategi peningkatan Kualitas Pelayanan Publik . Bina Cipta. Pradaya Pramita. 226 Analisis pelayanan . Lawrence W. 1993. FISIP UI. Changing Patterns of Local Government. New York.. the Hague. Macmillan Press Ltd.I.. Republik Iindonesia Identifikasi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Beberapa Penyelenggaraannya. New York. 227 . jakarta. I Wayan Suarjaya. Ithaca. Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approaches. A. Jakarta. Lovelock. A Comparative Study of Burma and Netherlands Indie. Product Plus How Product Service Competitive Advantage. Koesoemahatmadja RDH. McGraw-Hill. _____.Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. Kasim Azhar. Mariun.Resource Massachusetts. 1994. Leemans.1999. 1979. Fak. The Profesional Manager. Decentralization and Local Politices. Jakarta. Governance. Ekonomi dan Perencanaan. 1975. Neuman. 1995. eds. Khaeruddin... 1956.Teori Pembuatan Keputusan. Douglas. Warren G Bennis and Caroline McGregor.. 1987. Fak Ekonomi UI. Jakarta. McGregor. Lane. Liberty. Perseus Books Cambridge. New York University Press. JS. 1997. Metode Penelitian Masyarakat. C. Allyn and Bacon. JD. 1995. Mathur PC and Sn Jha. 1988. Rajawali. 2007. New Delhi. Rajawali Kansil. Lembaga Administrasi Negara RI. London: Sage Publication.Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia. Ian Erick. 2001. Jilid 1. Prospek Otonomi Daerah di Negara Press. Prospek Otonomi Daerah di Negara R. Trisnoningtias. Public Sector: Concepts. California. PAU-IIS Universitas Indonesia Jakarta. Ginanjar. 1970. Central Authority and Regional Autonomy in Indonesia: A study in Local Administration 1956-1960. Sage Publication. Cetakan pertama. Jakarta. Pembangunan Masyarakat Tinjauan Aspek Sosiologi. Practices. Jakarta. Kartasasmita. Models and Approaches. LP3ES.. London. Kaho. 1963.F. Identifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi Penyelenggaraannya. Josep Riwa Kaho. Sospol UGM Yogyakarta. Manasse Malo dan S.

SAGE Publication. Indigenous/Traditional Local Government. 1984. I Gde. Lincoln. B. PT. Bina Aksara. 2004. Penerbit Sarasin. _____. HN. Minogue. Ketiga. Metode Research (Penelitian Ilmiah). 1983. Ekologi Administrasi Negara. Penguin Book. 1994. New Public Management: Changing Ideas and Practices in Governance. Penyelenggaraan Otonomi Daerah. 2002. Jakarta Ratminto & Atik Septi Winarsih. 1990. USA. Pita Maha. Bumi Aksara. Osborne C.Bureaucracy in the Modern State: An Introduction to Comparative Public Administration. Nazeem Ismail. New Delhi. 1997. Addison Wesley Publishing. Jakarta. Pierre. Bina Aksara. Norman K. 2007. 1983. Alumni. Kritis ). 1982. PT.Meenakshisundaram.SS.. Cetakan Kedua. PT. Bina Aksara. Edward. Continum. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia. Institutional Theory in Political Science: ‘The New Institutionalism’. Interntional Thomson Publishing. Pamudji S. UK... Denzin dan Y. Jakarta. Decentralization. Cet. et. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Governance and Public Services The Impact of Institutional Arrangements. 1998. FISIP UI. Desa Dinas dan Dedsa Pakraman ( Suatu tinjauan Historis. Yogjakarta. Cetakan Ketiga belas. M... Edward Elgar. Ndraha Taliziduhu. London. Pertama.. Desa Adat Dalam Perspektif Sejarahi. 1999. Muslimin Amrah. Cheltenhamn. Metodologi Penelitian Kualitatif. Guy. Manajemen Pelayanan. Cet. I Gede. 2006. 1986. Bandung. 229 . Edisi ke 2. New York. 1999. Penerbit Remaja Rosdakarya. Nasution S. Monografi Desa Wongaya Gede Tahun 2004. Jon. Metodologi Pemerintahan Indonesia. and Gaebler Ted. _____. I Wayan Suarjaya. Mohajir. New York. 1994. Jakarta. 2000. 2000.al. Hanbook of Qualitative Research. Decentralization in Devloping Countries.. New _____. 1999. Perkawinan Hindu. Denpasar. 1988. Moleong. Pustaka Pelajar. Saheed Bayat and Ivan Mayer. 1995. 228 Analisis pelayanan .Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. C. Beyond the Omar Azfar. A Review of The Literature. Panca Usaha Government How The Enterpreneurial Spirit Is Transforming The Public Sector. Parimartha. Local Government in the Third World: The Experience of Tropical Africa. Lexy J. Elgar. 2003.. Metodologi Penelitian Kualitatif. (reprinted).. 1992. Reinventing York. Nursahid. David. Denpasar Peters. Iris. David and Peter Plastrik.. Jakarta. Bandung.S. Phillip Mawhood. Memahami Desa Adat. Jhon Wiley and Sons Pudja. Polidano. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Banishing Bureucracy The Five Strategies For Reinventing Government. and Hulme D. South Africa.

Evaluation A Systematic Approach. Responsiveness: Worldbank Report. Privatization The Key To Better Government. Suhartono dan Sutoro Eko. Budiman. Decentralization in Developing Countries: A Review of Recent Experience. 1953. Gadjah Mada University Press. Institute for Local Development. Rondinelli Dennis A.. Washington DC. 2006. London.. Number 2. 1981. et. 1954. Jembatan. and Lesson about decentralization. Government Decentralization in Comparative Perspective: Theory and Practice in Developing Cuontries. Cheema G Shabbir.Riggs Fred. APMD Press Yogyakarta. Universitas Udayana. Abdur dkk. Dwnpasar. Dennis A. I Wayan Suarjaya. I Nyoman. Cetakan ke ”Balance. Susunan Negara Kita. Sekrertariat Negara Republik Indonesia. USA. Jossey-Bass. 1987. IRE Press.. Freeman Howard E. Rondinelli. W. 1995. Jilid IV. New York: Oxford University Press. Schein.al.. 1992. Otonomi dan Daerah Otonom. Rozaki. 1981. Risalah Sidang II. Badan Penyelidik Usaka Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei 1945 – 19 Agustus 1945.. C.. Selo Soemardjan. Endang. Pelayanan Publik di Era Reformasi. 1988.. California. Managing for Service Quality. Adminstrative Science. 1981. USA. Shah. 1983. Skelcher. E. Jakarta. Yogyakarta. Saleh Safrudin. Teori Pengembangan Organisasi. (Terjemahan). Tim Penerjemah Yasogama. Jakarta. Rajawali. Orgazational Culture and Leadership. Decentralization In Developing Countries A Review of Recent Experience. 1991. Accountability. Nellis John R. Bumi Aksara. Dennis A. Jakarta.H. San Fransisco. Jakarta. 230 Analisis pelayanan .. Jakarta. EDI Series in Economic Development Published for the World Bank. 2005. World Bank Staff Working Papers. 2005. 231 . Perubahan Sosial di Yogyakarta. Roth. UGM Yogyakarta. Chatham Hause Publishers Inc. The World Bank. Savas E. 1992. Internatinational Review of Rondinelli. Yayasan Tifa. Faluttas Hukum. PAU Studi Sosial. Prakarsa Desentralisasi Desa dan Otonomi Desa. Transformasi Ekonomi Politik Desa. Volume XLVII.al. 2007. Soetandyo Wignosubroto et.. 1987. Longman Slamet. dalam Sutoro Eko dan Abdur Rozaki eds. The Private Provision od Public Services in Developing Countries. 2007. Anwar1997. Sekretariat Negara RI. 2005. SAGE Publication. FISIP UI. Rusli. Wahington DC. G. New Jersey. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun. 1985. Siagian. Jakarta Sirtha. Sondang. Rossi Peter Henry. Administrasi Negara-Negara Berkembang Teori Masyarakat Parismatis. Soenarko. 1989. Desa Pakraman Hindu. Konsep-konsep Dasar Partisipasi Sosial.S.

Denpasar Sutoro Eko eds. et. Pustaka Bali Post.Otonomi Bertanggungjawab. _____. Sinar Grafika. Udayana Denpasar Theodore M. 2005. Sudharta. 2007. Jakarta. London: Macmillan Press. Bintoro. 1986. 1993. Cetakan II. Bandung. 1993. Hukum Adat Bali tentang Perkawinan. Richard M. Ltd.. LP3ES. 1974. dkk 1974. Sumitro Djojohadikusumo.al. Team Peneliti Fakultas Hukum. Erlangga. 1990. Upacara Manusa Yadnya. Pembinaan Desa Adat di Bali.. The Changing Organisation and Management of Local Government.Jakarta Sunendra. Sumarjono dalam Gregorius Sahdan. Bumi Aksara. Univ. Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. FISIP UI.Yogjakarta. Manifesto Pembaharuan Desa. 1993. 1998. _____.Sistem Administrasi Pemerintahan di Daerah. I Made. 2003. 1991. 233 .. Jakarta.. Metologi Penelitian Praktis. Upada Sastra. Dissertation Titib. Supriatna Tjahya. Denpasar Suparmi Pamuji. PT Rineka Cipta. Surpha. dalam Sketsa Pasang Surut Otonom Daerah Dalam Perjalanan 100 Tahun TIFA – ILD. PT Dahara Prize. 1992. Pradnya Paramita. Agama dan Pembangunan. 2004. Jakarta. Persembahan 40 Tahun STPMD APMD. Ghalia Indonesia. Simbol-Simbol Keagamaan Hindu. Smith. _____. Otonomi Birokrasi Partisipasi. Jakarta Steve Leach. Pengantar Administrasi 232 Analisis pelayanan . Paramita Surabaya Tjokroamidjoyo Pembangunan. Prespektif Otonomi Daerah. Penerbit BPFE.Transformasi Ekonomi Politik Desa. Efektivitas Organisasi. Supomo. Suryatni dan Resmini. 1983. Penerbit LP3ES. Jakarta. Ph. Desember. PT. Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Hukum Adat. Masa Kini dan Masa Depan Otonomi Desa. 1984. D. IIP. Jakarta. Cakrawala Otonomi Daerah. Suparmoko. 1985. Pelaksanaan Asas Sentralisasi dan asas Desentralisasi dan Otonomi Daerah di dalam Sistem NKRI. I Wayan. 1994. Semarang. Mandar Maju. Tjokorda Rai. I Wayan Suarjaya. PT. Jakarta. 2005. APMD Press. 1991. Syafrudin Ateng. “ Otonomi Desa Masa Lalu. Upada Sastra Denpasar Daerah yang Nyata dan Sujamto..Steer. Jakarta. STPMD APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford Foundation. Bali Post. 1980.. APMD Press.Titik Berat Otonomi Pada Daerah Tingkat II dan Perkembangannya. Jakarta. Pengantar Administrasi Pembangunan. The Indonesian Bureucracy: Stability. 1999.Eksistensi Desa Adat dan desa Dinas di Bali. 1983. Change and Productivity. _____.

FISIP UI. Jawa Barat Pada Masa Awal Penerapan Otonomi Daerah 2000 – 2001. Universitas Indonesia Jakarta Fahmi. United Nations..Thoha.. Asas dan Tujuan Pemerintah Daerah. Soetandyo et al. Tingkat Desa (Kajian Tentang Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. I Wayan Suarjaya. New Delhi.. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Carol. Comparative Asian Studies Program Social Science Faculty. Universitas Indonesia. Jakarta. Oxford University Press. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 Tahun. Desertasi Endang Wirjatmi Trilestari.. Bandung Wignosubroto. Thousand Oaks. Yogjakarta Kebijaksanaan Turner. Jambi. Kuala Lumpur. Widya Mandala. 2002. Adat and Dinas Balinese Communities in the Indonesian State. 1993. Walujo Iman. dan Hulme. 1994. Disertasi. A Division of Macmillon. I Approaches and Trends in Public Administration For National Devlopment. Berry. Miftah. Norman. PT Gramedia. Sociological Theory. Desa jawa dan Negara Kolionial. Modern Publication. Mark. 1995. Vanderberg. Desa Pulau Tengah. Disertasi. Warren... Model Kinerja Pelayanan Publik dengan Pendekatan Serbasistem.1997Governance. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas 234 Analisis pelayanan ... Erasmus University Rotterdam Zeithaml A. 1990.. and Devlopment: Making the State Work. Yan Breman. Kabupaten Sukabumi. 1975. Mac Millan Press LTD. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Devlopment Administration: Current Delivering Quality Service. Beberapa Aspek Birokrasi. London. New York. Pemberdayaan Organisasi Lokal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. David. Hongkong. Jembatan. Malcolm. Metode-Metode Penelitian Sosial. 2005. 1975. Balancing Customer Percepstions and Expectations. 2007. Elit Desa Dalam Perubahan Politik Kajian Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Alumni. Disertasi. Kasus Pengambilan Keputusan di Desa Gede Pangrango. Oxfor Singapore New York. Pengaturan Dan Pengurusan-Sendiri Di Rural Development: Opportunities with Diminishing States and Expanding Markets. 1973. Universitas Indonesia. 1990. Fakultas Ilmu Isworo. Sage Waters. Iberamsjah. Mac Millan Press. 1991. Wajong J. The Free Press. 235 . Dan Kontribusinya Bagi Administrasi Publik. Surojo. Administration. Jakarta. Kecamatan Kadudampit. 2003. 2002.. Institute for Local Development Yayasan Tifa. Parasuraman-Berry-Leonard L..Grassroots Organizations and NGOsin London B. 2002. New York. Erwin. Wignjodipuro. Uphoff.

.1/Vol. September – Nopember 2003. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Vol I _____.. Kabupaten Mimika. Pelayanan Publik di Era Reformasi. I Nyoman Sukma. Universitas Udayana Denpasar Ashari. Revassy. Program Pascasarjana Pembangunan Bali./September 1994 . Hardjosoekarso. Beberapa Perspektif Pelayanan Prima. Depok _____. Budiman. 2006. Pidato Pengukuhan Pada Upacara Publik Dalam Aneka Perspektif.O. 1994.Juli 2001. Forum Inovasi. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003. Dwiyanto. _____.Kushandayani.2005. 1985. Lazarus. 2000... dalam Jurnal Bisnis dabn Birokrasi No. Timika. Desentralisasi Dan Otonomi Daerah Di Negara Kesatuan Republik Indonesia: Akan Berputarkah Roda Desentralisasi Dari Efisiensi Ke Demokrasi. Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan Pusat Dengan Pemerintahan Daerah. Disertasi. Disertasi. Yasa. diakses 29 Maret 2006. Nomor 3/Volume II. Edi Topo. http://www. 2001. Edy Topo. Jurnal Forum Inovasi. Leo. C Junal dan Makalah Irian Jaya. 2003.. November 236 Analisis pelayanan . Otonomi Desa Berbasis Modal Sosial (Perspektif Sociolegal). 1996. Institut Pertanian Bogor.T. Universitas Indonesia. I Wayan Suarjaya.. Agus. studi kasus Desa Tenganan dan Desa Kemenuh. Program Fitzsimmons. Ashari. Transparansi Pemerintahan.. Potensi Banjar Sebagai Wahana Disertasi. MA pada tanggal 2 Agustus 2000 di Kampus FH UI.. Sudarsono.pikiranrakyat. Universitas Indonesia. I Made. Isu-isu Seputar Desa Dalam Kaitannya dengan UU No. Agustino. Ihromi. Jurnal Forum Inovasi.htm. 2007.22 Tahun 1999. Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik Di Era Persaingan Bebas.2003. Bisinis dan Birokrasi.. Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang. 2003.. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indonesia. Mencari format dan Konsep Transparansi dalam Praktek Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik.1. 1997. _____. 2002. Dr. Rusli. Upaya peningkatan Kinerja Pelayanan Publik di Era Persaingan Bebas. Sebuah Studi Di Desa Harapan – Kwamki Lama.Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pengembangan Pariwisata. September-Nopember. Kemitraan Pemerintah Swasta dan Relevansi Terhadap Reformasi Administrasi Negara. Makalah yang disampaikan pada Seminar Terbatas dan Seminar Pluralisme Hukum yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UI bertalian dengan Masa Purnabakti Prof.com/cetak/1204/30/0801. Majalah Ilmiah Pariwisata. 237 . Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Administrasi Negara Pada Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Di Jakarta Pada Tanggal 18 November 1996.. FISIP UI. SH. Administrasi Pemerintahan Lokal Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Hoessein Bhenyamin. Arida.

2007. Jakarta. Masyarakat dan Pelayanan Publik. I Wayan.. dan Bake. Rusli. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indonesia.uvt.. 2003. dan Anomi Sosial. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003.suaramerdeka. 2004. PSKK UGM dalam Dwiyanto. FISIP UI.Ikhsan. Pelaksanaan dan Evaluasi Pelayanan Publik Di Kota Surakarta. Kompas. Eko. 239 .2002. Risfan. Harsojo. Keterpaduan Kebijakan dan Strategi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik. Riza. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekowisata dan Kerajinan Rakyat. 2002. Edisi 1. Otonomi Daerah Dan Masalah Ketimpangan Ekonomi. I Wayan Suarjaya. Salomo.pikiranPublik di Era Reformasi. Perimbangan Keuangan Pusat dan Tantangan Profesi Penilai Menuju Format Indonesia Baru di Millenium Ketiga Soepodo. http://spits www. Otonomi.htm. 2006. Jurnal Forum Inovasi Capacity Building & Good Governance. Pelayanan Publik: Muara Suardana.. alliance Capabilities and Social Capital. Jurnal Forum Inovasi. Kampanye. 2003. Peran Kepemimpinan Dalam Program Inovasi Daerah: Studi Kasus Kabupaten Jembrana dalam Bisnis dan Birokrasi No. Otonomi Daerah dan Perubahan Manajemen Pemda.htm .el. Majalah Ilmiah Pariwisata Universitas Udayana Denpasar Vol. Bentuk Pemerintahan Desapraja dalam Swatantra. 2004...com/harian/0304/12/kh1. Forum Inovasi Capacity Building and Good Governance.Bentuk Pemerintahan Desapraja.. 2003. Primahendra.com/cetak/0604/07/teropong/lainnya01. nomor 3. diakses 29 Maret. Diakses 29 Maret Sidik. Prasojo. Jamal. Achsan. Studi kasus desa Ambengan Kabupaten Buleleng. Tahun II. Tahun ke I nomor 2. Roy Valiant. 2001.XII/September/2004. 1999. Organizational Culture. Opini. 1957.7 No.. diakses 29 Maret 06. Soetardjo Kertohadikoesoemo. Machfud. Februari Sjoerd Beugelsdijk. Budiman. Demokrasi.. Agus. dalam Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003. September – Nopember 2003. Jurnal PSPK. Tahun 1959 Daerah: Studi Empiris dan Rekomendasi Kebijakan bagi Indonesia serta Implikasinya pada Pembangunan Wilayah dan Kota (Makalah). Pelayanan http://www. dalam Swatantra. 23 Maret. Prasojo. Permas. Aransemen Kelembagaan dan Reformasi Pelayanan di Tingkat Lokal. 2006.. Administrasi Publik.. Konsepsi Hatta. M. Disampaikan Pada Seminar Rachmadi. Partisipasi Mayarakat Dalam Prencanaan. Jurnal 03/Vol. 2005. Munir. rakyat. Sinoeng N.. _____.nl/web/fsw/lustrum/papaers. http://www.1 2005 ISSN 1410-3729 238 Analisis pelayanan . 2003. et. Eko. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember.

Republik Indonesia. Unibraw. Undang–Undang Nomer 34 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Republik Indonesia. tentang Pemerintah Desa Republik Indonesia. Biro Hukum dan Humas Setda Prop. FISIP UI.PAN/2/ 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. tentang Pemerintahan Daerah. Undang–Undang Nomer 22 Tahun l948. Maret 2001. Republiuk Iundonesia. Unibraw...Suwondo. 2001. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer: 25/KEP/M.. D. Denpasar Bali. Peraturan Pemerintah Nomer 84 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Desa. 241 . tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Peraturan Pemerintah Nomer 25 tahun 2000. Vo I No 2. Jurnal Administrasi Negara. Desentralisasi Pelayanan Publik: Hubungan Komplementer Antara Sektor Negara. I Wayan Suarjaya. Soesilo. Undang–Undang Nomer 19 Tahun l965. 2001. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 81 Tahun l993 Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 63/ KEP/M. Jurnal Administrasi Negara. Mekanisme Pasar dan Organisasi Non-pemerintah. Bali. Republik Indonesia.2 Maret 2001 Zauhar. 2007. 2001.I No. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 81 Tahun l993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum.. Vol... tentang Desa Praja. Tentang Pemerintahan Desa. Intruksi Presiden Nomer 1 tahun l995 tentang Perbaikan dan peningkatan mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Rakyat. Peraturan Daerah Tentang Desa Pakraman. Undang–Undang Nomer 5 Tahun l979. PERATURAN PERUNDANGAN Republik Indonesia. Undang–Undang Nomer 22 tahun 1999.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Republik Indonesia. 240 Analisis pelayanan . Administarsi Pelayanan Publik: Sebuah Perbincangan Awal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful