1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah peningkatan mutu pendidikan, baik prestasi belajar siswa maupun kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa, dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Masalah pendidikan, khususnya dalam pendidikan fisika oleh sebagian besar siswa dianggap mata pelajaran yang sangat sulit. Akibat dari anggapan sulitnya pelajaran Fisika menyebabkan siswa merasa tidak senang terhadap mata pelajaran Fisika, sehingga fisika dianggap sebagai mata pelajaran yang tabu dan menakutkan, maka guru fisika hendaknya mampu mengubah

paradigma siswa yang mengganggap Fisika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit menjadi mata pelajaran yang menyenangkan. Dalam pembelajaran di kelas, sebagian besar guru Fisika masih menerapkan pembelajaran konvensioanal yang dicirikan dengan

mengandalkan penggunaan metode ekspositori yaitu menjelaskan, memberi

2

contoh, mengajukan pertanyaan, dan memberi tugas secara klasikal. Model pembelajaran seperti ini menunjukan bahwa guru masih menjadi sentral dalam pembelajaran, sementara siswa kurang diberdayakan kemampuannya secara optimal sehingga aktivitas dan partisipasi siswa kurang berarti. Akibat dari semua ini menjadikan motivasi siswa rendah, siswa tidak memiliki keberanian untuk bertanya apalagi mengemukakan pendapat. Hal demikian pada akhirnya mengakibatkan hasil belajar fisika siswa menjadi rendah. Pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran Fisika. Dengan pemilihan metode yang tepat memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan metode kooperatif diharapkan siswa termotivasi minat belajarnya terutama terhadap pelajaran Fisika. Sebaik apapun metode yang dipergunakan tetap ada kelemahannya, sehingga hasil belajar/permasalahan siswa dirasa masih belum optimal. Kelemahan siswa dalam menemukan serta menggunakan persamaam besaran Medan Magnet terletak pada cara menganilisis letak gambar yang diberikan. Sebagai contoh ketika guru mengubah posisi gambar dengan letak yang berbeda pada contoh sebelumnya maka sebagian siswa merasa kesulitan dalam membaca gambar sebagai syarat untuk menemukan

3

persamaan Medan Magnet. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan serta menggunakan persamaan Medan Magnet dapat diatasi dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Division). Dengan metode kooperatif tipe STAD diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menemukan serta menggunakan

persamaan Medan Magnet. Atas dasar uraian di atas, dalam penelitian ini penulis akan mencoba menggunakan model pembelajaran STAD dalam penyampaian Medan Magnet, sehingga diharapkan hasil belajar siswa meningkat.

B. Identifikasi Masalah Dari uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah yaitu:
1. Pembelajaran

Fisika

di

kelas

masih

menggunakan

metode

konvensional.
2. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat. 3. Rendahnya minat siswa terhadap pelajaran Fisika. 4. Rendahnya hasil belajar Fisika siswa. 5. Rendahnya pemahaman konsep Medan Magnet.

4

C. Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana menerapkan pembelajaran model kooperatif dengan tipe

STAD agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam Memahami persamaan medan magnet.
2. Apakah penggunaan pembelajaran model kooperatif

dengan tipe

STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi medan magnet.

D. Cara Memecahkan Masalah Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam PTK ini, yaitu model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achievment Division). Dengan model pembelajaran ini, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan menemukan rumus keliling dan luas lingkaran.

E. Hipotesis Tindakan

5

Penelitian ini direncanakan terbagi ke dalam dua siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prsedur perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui dua siklus tersebut dapat diamati peningkatan kemampuan siswa dalam memahami persamaanpersamaan tentang Medan Magnet dan hasil belajar siswa. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: Dengan diterapkan model pembelajaran model kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achievment Division) dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa dalam memahami materi Medan Magnet.

F. Tujuan PTK
1. Guru dapat meningkatkan strategi dan kualitas pembelajaran Fisika

2. Siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, ide, gagasan, dan pertanyaan.
3. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta mampu

mempertanggungjawabkan tugas individu maupun kelompok. 4. Seluruh siswa menguasai materi pelajaran secara tuntas.

6

G. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari PTK antara lain:
1. Proses belajar mengajar Fisika tidak lagi monoton. 2. Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvensional, tetapi

bersifat kooperatif.
3. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri maupun kelompok

meningkat.
4. Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendapat, pertanyaan, dan

saran meningkat.
5. Kualitas pembelajaran Fisika meningkat.

BAB II KAJIAN TEORI

7

A. Hakekat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD 1. Pembelajaran Kooperatif Menurut H. Karli dan Yuliariatiningsih, M.S (2002), menyatakan bahwa Metode Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam pembelajaran kooperatif agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif, yaitu: 1) Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai, 2) Para siswa tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu, dan 3) Untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapi. Akhirnya, para siswa yang

8

tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya. Unsur-unsur dasar dalam Pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti miliknya sendiri, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan bersama dan mereka proses

membutuhkan

keterampilan

untuk

belajar

selama

belajarnya, dan 7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Dalam pembelajaran konvensional juga dekenal belajar kelompok. Meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan prinsipil antara belajar kelompok pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok pada

pembelajaran konvensional. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table berikut:

9

Tabel 2.1 Perbedaan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensional. Pembelajaran Konvensional
• • Memfokuskan pada prestasi • individu Setiap siswa akan saling • berkompetisi dan berprinsip, “jika aku tidak sukses, maka aku akan kalah dan kehilangan” Penghargaan berupa prestasi • individu Dalam proses belajar, hanya • sedikit terjadi proses diskusi antar siswa. Tanggung jawab yang ada berupa tanggung jawab individu • •

Pembelajaran Kooperatif
Memfokuskan pada prestasi kelompok Setiap anggota kelompok percaya bahwa kesuksesan tidak akan dapat diraih tanpa kesuksesan kelompok, “jika kamu menang, aku menang” Penghargaan kelompok sebagai prestasi masing-masing anggota kelompok Sesama anggota kelompok akan saling membantu, mendorong, dan saling memotivasi dalam proses belajar Tanggung jawab yang ada berupa tanggung jawab individu dan tanggung jawab kelompok Setiap anggota kelompok akan saling bertanggung jawab demi tercapainya kerja kelompok yang optimal Kemampuan teamwork adalah suatu tuntutan. Sikap anggota akan mengharapkan adanya suatu kolaboratif Kepemimpinan menjadi tanggung jawab semua anggota kelompok Setiap anggota akan memberikan prosedur untuk menganalisis bagaiman sebaiknya supaya kelompoknya

• •

Kemampuan social diabaikan • Seorang siswa akan mengkomandai dirinya sendiri dalam menyelesaikan semua • tugas-tugasnya Tidak ada proses tentang bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas kerja •

10

akan menjadi lebih baik, bagaimana menggunakan kemampuan sosial secara tepat, dan bagaimana memperbaiki • • Pembentukan kelompok tidak diperhatikan (tidak ada) Yang ada, berupa kelompok besar, yaitu kelas • • • kualitas kerja kelompok mereka. Guru membentuk kelompokkelompok yang heterogen Setiap kelompok terdiri dari 4 -5 anggota (kelompok kecil) Guru akan mengobservasi dan melakukan intervensi, jika memang diperlukan.

Sumber: Anonim, Tradisional Versus Cooperative Groups. (Online). Tersedia:
http://groups.physics.umn.edu/phsyed/Research/CGPS/trdvscoop.html. (29 Januari 2008)

2. Tipe STAD (Student Teams Achievment Division)

Inti dari STAD adalah guru menyampaikan suatu materi, sementara para siswa tergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas 4 atau 5 orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Selanjutnya, siswa diberi kuis/tes secara individual. Skor hasil kuis/tes tersebut disamping untuk menentukan kelompoknya. Guru yang menggunakan STAD mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu skor individu juga digunakan untuk menentukan skor

11

menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam satu kelas, dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 atau 5 rang siswa, setiap kelompok heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat

pembelajaran yang lain untuk menuntaskan pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual, setiap seminggu atau dua minggu sekali siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rerata skor yang lalu. Setiap seminggu, pada suatu lembar penilaian singkat, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu. Dari uraian di atas, maka dapat diringkas, bahwa prsedur atau langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif ada 6 fase, yaitu: (1) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan membangkitkan motivasi; (2) Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks, atau bentuk-bentuk lain; (3) Mengorganisasikan dan membantu kelompok belajar; (4) Mengelola dan membantu kerja kelompok; (5) Menguji penguasaan kelompok atas bahan ajar; (6) Memberi

12

penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa (Ibrahim, dkk, 2000; Slavin, 1995).

B. Hakekat Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Fisika 1. Hakekat Belajar Fisika

Jika kita telaah secara sistematis ilmu-ilmu dasar (Fisika dan IPA), seni dan olahraga dapat memberikan fungsi yang sangat berharga. Menurut Sidi (2002), Fisika dapat berfungsi menata dan meningkatkan ketajaman penalaran, berpikir secara teratur, sistematis dan terstruktur dalam

pemecahan masalah (problem solving) dengan menggunakan berbagai lambang dan simbol-simbol. Copeland mengatakan bahwa, “Phisicc is a deductive inference. Deductive thinking based on the consistency of the human mind and the system of logic employed (Richard W. Copeland,1982). Hal ini bukan berarti penalaran induktif ditolak secara keseluruhan, penalaran induktif digunakan dalam menemukan fakta-fakta Fisika. Fakta Fisika yang diperoleh dari

13

pengamatan akan menjadi teorema setelah fakta itu digeneralisasikan secara deduktif. Fisika sebagai struktur dan hubungan-hubungannya dengan simbolsimbol sangat diperlukan dalam memanipulasi aturan-aturan dengan operasioperasi yang ditetapkan. Simbolisasi menjamin adanya komunikasi dan

mampu memberikan keterangan untuk membentuk satu konsep baru yang tersusun secara hierarkis (D. Paling. 1982) Berpikir secara kreatif dalam pemecahan masalah Fisika melalui lima tahap sebagai berikut: 1) Orientasi, masalah dirumuskan, dan berbagai aspeknya diidentifikasi; 2) Preparasi, pikiran berusaha untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah; 3) Inkubasi, pikiran beristirahat sejenak ketika menghadapi jalan buntu, proses

pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah

sadar; 4)

Illuminasi, akhiri masa inkubasi, diperoleh ilham, serangkaian insight-insight sebagai gagasan pemecahan; 5) Verfikasi, pengujian secara kritis dan penilaian gagasan pemecahan masalah (Koko Martono, R. Eryanto dan Firman Syah Noor, 2004). Berdasarkan uraian di atas, pada prinsipnya belajar Fisika bertujuan untuk memberikan kesempatan dan pengalaman kepada siswa dalam meningkatkan kemampuannya melalui bimbingan guru, sehingga siswa

14

dapat: 1) Menghargai Fisika, 2) Mempunyai keyakinan akan kemampuan Fisikanya, 3) Mampu dalam memecahkan masalah, 4) Mampu

menggunakan Fisika sebagai alat berkomunikasi, 5) Belajar bernalar dan berargumentasi, dalam arti bahwa siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk membangun argumentasi yang mendukung pernyataannya, dan 6) Belajar berpikir kritis dan kreatif, dalam arti bahwa siswa mampu menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya secara cepat dan kontinyu.
2. Hakekat Hasil Belajar Fisika

Menurut Robert M.Gagne and Leslie J.Briggs, menyatakan bahwa kemampuan siswa untuk menampilkan berbagai aktivitas yang diharapkan, dimana kegiatan tersebut harus mereka pelajari melalui kegiatan

instruksional disebut belajar. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam Taxonomy of Educational Objectives, Bloom mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu: 1) Ranah kognitif, 2) Ranah afektif, dan 3) Ranah psikomotor (Benjamin S. Bloom,1971). Briggs mengemukakan bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan hasil yang dicapai melalui proses belajar-mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka atau nilai yang diukur dengan tes hasil belajar.

15

Demikian juga Grounlund mengemukakan, hasil belajar adalah sebuah prsedur sistematis untuk menentukan berapa banyak yang telah dipelajari seorang siswa. Lebih lanjut Nitko mengatakan bahwa, hasil belajar adalah prosedur sistematis untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan tentang belajar, kurikulum dan program serta kebijakan pendidikan dengan mangamati dan mendeskripsikan satu, atau lebih karakteristik menggunakan skala numerik atau skema klasifikasi. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner’s performance) ( Robert M. Gagne and Marcy P. Driscoll, 1988). Penampilan siswa yang dimaksudkan tersebut adalah kemampuan yang dicapai dan diaplikasikan oleh siswa dalam merespon setiap obyek yang dihadapi. Dick dan Reiser (1988), menjelaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Kingsley (1970) membagi hasil belajar atas tiga macam, yakni: 1) Keterampilan dan kebiasaan, 2) Pengetahuan dan pengertian, dan 3) Sikap dan ciri-ciri. Hasil belajar itu diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar. Untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar siswa,

16

guru menggunakan tes hasil belajar dan biasanya dinyatakan dalam bentuk skor. Selama siswa belajar Fisika, ia akan dihadapkan pada soal-soal untuk dipecahkan dan diatasi (Problem Solving). Suatu masalah Fisika dapat diartikan sebagai soal yang harus diselesaikan. Pemecahan masalah merupakan sesuatu yang terpadu dalam diri pembelajar dan hasil belajar Fisika. Dari beberapa teori mengenai pengertian tentang hasil belajar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah prosedur sistematis

untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang dinyatakan dalam nilai atau angka berdasarkan hasil yang dicapai melalui proses belajar. Hasil belajar Fisika yang dicapai siswa melalui proses pembelajaran sebagai berikut: 1) Menambah keyakinan atas kemampuan dirinya dalam belajar Fisika, 2) Termotivasinya pribadi siswa secara intrinsik, 3) Menyadari bahwa hasil belajar yang dicapai sangat bermakna bagi

dirinya, 4) Kemampuannya untuk dapat mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang telah diperolehnya, dan 5) Hasil belajar diperoleh secara menyeluruh (komprehensif).

17

18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Seting Penelitian Setting dalam penelitian ini meliputi; tempat penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK sebagai berikut: 1. Tempat Penelitian Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di SMAN 2 Tidore Kepulauan untuk mata pelajaran Fisika. Sebagai subjek penelitian dalam penelitian ini adalah kelas XII. semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 29 siswa perempuan. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009, yaitu bulan Juli sampai Januari 2009. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efekfif di kelas.

19

3. Siklus PTK PTK ini dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat hasil belajar dalam meningkatan kemampuan siswa khususya dalam mengikuti mata pelajaran Fisika melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Division)

B. Persiapan PTK Pelaksanaan PTK dibuat berbagai input instrument yang akan digunakan untuk member perlakuan dalam PTK, yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Kompetensi dasar (KD); 1. Menghitung keliling dan luas lingkaran. Selain itu juga akan dibuat perangkat pembelajaran yang berupa: (1) Lembar kerja Siswa; (2) Lembar pengamatan diskusi; (3) Lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama kelmpok diskusi yang dibuat secara heterogen.

20

C. Subyek Penelitian Dalam PTK ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas XII semester 1 yang terdiri dari 37 siswa dengan komposisi perempuan 29 siswa dan laki-laki 8 siswa. D. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yakni; siswa, guru dan teman sejawat serta kolaborator. 1. Siswa Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar khusunya pokok bahasan Menghitung keliling dan luas lingkara dalam proses belajar mengajar. 2. Guru Untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model kooperatif dengan tipe STAD dan hasil belajar khusunya pokok bahasan menghitung keliling dan luas lingkaran dalam proses pembelajaran. E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik

21

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi, dan angket. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data N o.Ur ut Teknik Instrumen Pengumpulan yang Data digunakan Hasil belajar Tes siklus I & II Perangkat tes pada aspek tes hasil belajar tipe openkemampuan onded taks menemukan dan menggunakan rumus keliling dan luas lingkaran Langkah Observasi Pedoman pembelajaran Observasi Aktivitas guru observasi Pedoman dan siswa dalam observasi KBM aktivitas guru dan siswa Keterlaksanaan observasi Pedooman fase belajar observasi kelompok tipe KBM STAD Respon siswa Penyebaran Angket terhadap angket siswa respon siswa pembelajaran Jenis Data

Sumber Data

1

Siswa

2

Guru

3

Guru dan siswa

4

Guru

5

Siswa

2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpul data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, dan angket sebagaimana berikut;

22

1. Tes: menggunakan butir saol/instrument soal untuk mengukur hasil belajar

khususnya pokok bahasan Medan Magnet.
2. Observasi: menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat

partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar Fisika
3. Angket: menggunakan angket untuk mengetahui pendapat atau sikap

siswa tentang pembelajaran tipe STAD

F. Indikator Kinerja Dalam PTK ini yang akan dilihat indikator kinerja selain siswa adalah guru, karena guru merupakan fasilitator yang sangat berperan terhadap kinerja siswa; 1. Siswa a. Tes: rata-rata nilai ulangan harian
b. Observasi: keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar Fisika

2. Guru

a. Dokumentasi: kehadiran siswa b. Observasi: hasil observasi

23

G. Analisis Data Data yang pelaksanaan dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari penelitian dianalisis secara deskriptif dengan

siklus

menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegitan pembelajaran.
1. Hasil belajar; dengan menganalisis nilai rata-rata ulangan harian.

kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan rendah. 2. Implementasi pembelajaran kooperatif tipe STAD; dengan menganalisis tingkat keberhasilan implementasi tipe STAD kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil dan tidak berhasil.

H. Prosedur Penelitian Siklus pertama dan kedua PTK ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut; 1. Perencanaan (Planning) a) Mengumpulkan data tentang kemampuan/hasil belajar siswa sebelumnya; b) Menentukan kelas yang akan dijadikan tempat dilakukannya penelitian tindakan;

24

c) Melaksanakan onservasi awal, berupa pemberitahuan kepada kepala sekolah tentang adanya penelitian tindakan;
d) Membuat rancangan pembelajaran Fisika dengan materi pokok Medan

Magnet. 2. Tindakan, Pengamatan dan Refleksi a) Siklus I:

Melaksanakan tindakan pembelajaran di kelas sebanyak 2 pertemuan yang masing-masing 2 jam pelajaran @ 40 menit (Tindakan I dan Tindakan II)

Pada saat pembelajaran dilaksanakan observasi dan observer sesuai dengan format yang telah ditetapkan

Selesai pembelajaran pada pertemuan pertama dilakukan refleksi untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari apa yang telah dilakukan, dari kelemahan dan kelebihan yang telah dilakukan, selanjutnya disusun perbaikan khususnya pada perangkat

pembelajaran sejalan dengan hasil refleksi untuk digunakan pada pertemuan kedua; • Melaksanakan tes hasil belajar yang pertama sebagai evaluasi silkus I.

25

b) Siklus II:

Melaksanakan tindakan pembelajaran di kelas sebanyak 2 pertemuan yang masing-masing 2 jam pelajaran @ 40 menit (Tindakan I dan Tindakan II)

Pada saat pembelajaran dilaksanakan observasi dan observer sesuai dengan format yang telah ditetapkan

Selesai pembelajaran pada pertemuan pertama dilakukan refleksi untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari apa yang telah dilakukan, dari selanjutnya kelemahan dan kelebihan yang telah dilakukan, perbaikan khususnya pada perangkat

disusun

pembelajaran sejalan dengan hasil refleksi untuk digunakan pada pertemuan kedua; • Melaksanakan tes hasil belajar yang kedua sebagai evaluasi silkus II.

26

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful