NEGARA DAN WARGA NEGARA INDONESIA

Oleh Kelompok I

Nama Akhmat Busori Friztian Agus Mahendra Arief Mustolih

NRP 2107100140 2107100148 2107100149

September 2011

http://agung21winarto.wordpress.com

Pengertian Negara dan Warga Negara
Definisi Negara, Bangsa, Warga Negara, dan Penduduk Oleh : Agung Winarto
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia merupakan makhluk monodalis. Artinya selain sebagai manusia adalah makhluk pribadi dan sosial. Manusia adalah makhluk pribadi, sebagai makhluk ciptaan Tuhan manusia dilengkapi dengan unsur jasmani dan rohani sebagai satu kesatuan yang utuh. Tuhan sebagai Sang Pencipta membekali manusia dengan akal budi dan pikiran agar manusia mampu memecahkan berbagai peroalan yang dihadapinya dan mampu berkerja guna mencukupi kebutuhannya. Sebagai makhluk pribadi, manusia bertanggung jawab penuh pada dirinya dan Tuhan Sang Pencipta. Manusia disebut zoon politicon, artinya manusia sebagai makhluk sosial yang hidup di masyarakat. Pada umunya manusia selalu ingin bergaul atau berhubungan dengan sesamanya. Aristoteles (384-322 SM) mengatakan bahwa manusia senantiasa menjalin hubungan dengan pihak lain yakni sesamanya dan lingkungan karena manusia itu telah berada bersama yang lain dalam satu dunia yang sama. Apa yang dimaksud dengan bangsa? para ahli berpendapat bahwa bangsa adalah “suatu pengertian politis”, yang berarti kumpulan masyarakat yang membentuk suatu negara Untuk dan lebih dipersatukan memahami karena mempunyai bangsa,berikut cita-cita pendapat yang para sama. ahli :

pengertian

- Ernest (1822-1892) Bangsa adalah sekelompok manusia yang punya kehendak untuk bersatu karena mempunyai nasib dan penderitaan yang sama pada masa lampau dan mereka mempunyai cita-cita yang sama tentang masa depannya.

- Bauer (1882-1939) Bangsa adalah suatu kesatuan perangai yang muncul karena adanya persatuan nasib. Dari dua ahli di atas kita dapat mengambil kesimpulan pengertian bangsa sesungguhnya adalah kumpulan dari rakyat yang telah bertekad untuk membangun masa depan bersama.

Tanggal Publikasi: 6 Maret 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://agung21winarto.wordpress.com Kata “Negara” yang lazim digunakan di Indonesia berasal dari bahasa sansekerta, yakni nagari atau nagara, yang berarti wilayah, kota atau penguasa. Namanama yang memakai kata nagara biasanya khusus untuk kepala Negara atau orangorang tertentu yang memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini telah diperaktikan pada masa kerajaan Majapahit pada abad XIV, seperti yang tertulis dalam buku Negara Kertagama, karangan Mpu Prapanca (1365). Dalam buku tersebut digambarkan tentang pemerintahan Majapahit yang menghormati unsur musyawarah. Di samping itu, digambarkan juga hubungan Majapahit dengan negaranegara tetangga serta hubungan antar daerah dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Pengertian Negara menurut para ahli : - Soepomo (1945) Negara adalah suatu susunan masyarakat yang intergral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organistik. - Grotius (1583-1645) Negara adalah ikatan-ikatan manusia yang insaf akan arti dan panggilan hukum kodrat. - Jellinek Negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman tertentu - Bodin Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga-keluarga dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal pikiran dari suatu kekuasaan yang berdaulat. Suatu daratan di permukaan bumi ini dapat dikatakan sebagai suatu Negara, apabila memiliki unsur-unsur Negara sebagai berikut : 1. Wilayah Untuk mendirikan suatu negara dengan kedaulatan penuh diperlukan wilayah yang terdiri atas darat, laut dan udara sebagai satu kesatuan. 2. Rakyat Selain memiliki wilayah suatu negara harus mempunyai rakyat yang tinggal dan dipersatukan oleh suatu perasaan. Tanpa adanya orang sebagai rakyat pada suatu ngara maka pemerintahan tidak akan berjalan. 3. Pemerintahan Di dalam suatu negara perlu adanya suatu pemerintahan yang mengatur

penyelenggaraan negara yang berkedaulatan. Tanggal Publikasi: 6 Maret 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://agung21winarto.wordpress.com 4. Pengakuan dari negara lain Eksistensi sebuah negar sangat ditentukan juga oleh adanya pengakuan dari negara atau bangsa lain. Pengakuan akan adanya sebuah negara dari negara lain akan menjadi pintu masuk terjadinya relasi atau hubungan persahabatan dengan negara lain. Ada dua macam pengakuan akan keberadaan suatu negara, yaitu : • Pengakuan de facto Pengakuan diberikan untuk menyatakan bahwa secar fisik di sebuah wilayah telah berdiri suatu negara. Pengakuan ini diberikan berdasarkan realitas bahwa masyarakat di wilayah itu telah memenuhi tiga unsur utama berdirinya suatu negara, yaitu wilayah, rakyat, dan adanya pemerintahan yang berdaulat. Pengakuan de facto ini sifatnya sementara, artinya pengakuan itu diberikan sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari negara yang baru lahir itu. • Pengakuan de jure Pengakuan akan adanya suatu negara berdasarkan pertimbangan yuridis menurut hukum. Dengan memperoleh pengakuan de jure suatu negara merdeka mendapat hak di samping kewajibanya sebagai anggota masyarakat dunia. Hak dan kewajiban yang dimaksud adalah untuk bertindak dan diperlakukan sebagai negara yang berdaulat penuh dan diterima dalam pergaulan antar bangsa. Fungsi suatu negara terkait dengan tugas negara sebagai organisasi. Tugas negara secara umum dapat dikatakan meliputi dua hal pokok, yaitu : Tugas Esensial Adalah tugas negara mempertahan kan eksistensinya sebagai lembaga politik yang berdaulat. Tugas ini menjadi tugas internal dan eksternal negara.

Tugas Fakultatif Adalah tugas negara untuk menciptakan dan memperbesar kesejahteraan kepada rakyatnya baik moral, intelektual, sosial maupun ekonomi. Penduduk merupakan sekelompok orang atau individu yang tinggal di kota maupun yang di desa dalam suatu negara. Dan dalam ilmu sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografis dan ruang tertentu. Sedangkan Warga Negara adalah keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (dalam negara) dan

Tanggal Publikasi: 6 Maret 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://agung21winarto.wordpress.com mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Dan ada dua cara seseorang untuk memperoleh kewarganegaraan, yaitu : 1. Menurut asal kelahiran 2. Ius solis (menurut tempat kelahiran) yaitu penentuan status kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat dimana ia dilahirkan. Sebagai contoh : Seseorang yang dilahirkan di negara Inggris maka ia kan menjadi warga negara Inggris, walaupun orang tuanya adalah warga negara Jerman. Asas ini dianut oleh negara Inggris, Amerika, Mesir dll. 3. Ius sanguinis (menurut keturunan) yaitu penentuan status kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan dari negara mana ia berasal. Sebagai contoh : Seseorang yang dilahirkan di negara Indonesia, sedangkan orang tuanya berasal dari RRC, maka orang tersebut menjadi warga negara RCC. Asas ini dianut oleh negara RRC. 2. Naturalisasi Adalah suatu perbuatan hukum yang dapat menyebabkan seseorang memperoleh status kewarganegaraan. Misal : seseorang memperoleh status kewarganegaraan akibat dari pernikahan, mengajukab permohonan, memilih/menolak status kewarganegaraan. Sedangkan naturalisasi diIndonesia dapat dibagi menjadi dua, yaitu : • Naturalisasi Biasa Syarat-syaratnya adalah : - Telah berusia 21tahun. - Lahir di wilayah RI/bertempat tinggal yang paling minimal 5 tahun berturut atau 10 tahun tidak berturut-turut - Apabila ia seseorang laki-laki yang sudah kawin, ia perlu mendapat persetujuan istrinya - Dapat bebahasa Indonesia - Sehat jasmani & rohani - Mempunyai mata pencarian tetap - Tidak mempunyai kewarganegaraan lain • Naturalisasi Istimewa : status kewarganegaraan yang diberikan kepada warga asing yang telah berjasa kepada negara RI dengan pernyataan sendiri (permohonan) untuk menjadi WNI. Tanggal Publikasi: 6 Maret 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://fachmiulilmaulana.blogspot.com Pengertian Bangsa, Negara, Warga Negara dan Penduduk Oleh: Fachmi Maulana Pengertian Bangsa, Negara, Warga Negara dan Penduduk a.Bangsa Pengertian bangsa Bangsa adalah suatu komunitas etnik yang cirri-cirinya adalah: memiliki nama, wilayah tertentu, mitos leluhur bersama, kenangan bersama, satu atau beberapa budaya yang sama dan solidaritas tertentu. Bangsa juga merupakan doktrin etika dan filsafat, dan merupakan awal dari ideology nasionalisme. Berikut pendapat beberapa para ahli tentang pengertian bangsa. a.Ernest Renan (Perancis) = Bangsa adalah suatu nyawa, suatu akal yang terjadi dari 2 hal, yaitu rakyat yang harus hidup bersama-sama menjalankan satu riwayat, dan rakyatyang kemudian harus mempunyai kemauan atau keinginan hidup untuk menjadi satu. b.Otto Bauer (Jerman) = Bangsa adalah kelompok manusia yag memiliki kesamaan karakter. Karakteristik tumbuh karena adanya persamaan nasib. c.F. Ratzel (Jerman) = Bangsa terbetuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya (paham geopolitik). Jadi dari definisi diatas, bangsa adalah suatu kelompok manusia yang memiliki karakteristik dan ciri yang sama (nama, budaya, adat), yang bertempat tinggal di suatu wilayah yang telah dikuasai nya atas sebuah persatuan yang timbul dari rasa nasionalisme serta rasa solidaritas dari sekumpulan manusia tersebut serta mengakui negaranya sebagai tanah airnya. b.Negara 1.Pengertian Negara Secara etimologis, “Negara” berasal dari bahasa asing Staat (Belanda, Jerman), atau State (Inggris). Kata Staat atau State pun berasal dari bahasa Latin, yaitu status atau statum yang berarti “menempatkan dalam keadaan berdiri, membuat berdiri, dan menempatkan”. Kata status juga diartikan sebagai tegak dan tetap. Dan Niccolo Machiavelli memperkenalkan istilah La Stato yang mengartikan Negara sebagai kekuasaan. Tanggal Publikasi: 9 Maret 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://fachmiulilmaulana.blogspot.com Beberapa pengertian Negara menurut pakar kenegaraan. a.George Jellinek = Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu. b.G.W.F Hegel = Negara adalah organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal. c.Logeman = Negara adalah organisasi kemasyarakatan (ikatan kerja) yang mempunyai tujuan untuk mengatur dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya. d.Karl Marx = Negara adalah alat kelas yang berkuasa (kaum borjuis/kapitalis) untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain (ploretariat/buruh). Jadi dari pengertian diatas, Negara adalah Satu kesatuan organisasi yang didalam nya ada sekelompok manusia (rakyat), wilayah yang permanent (tetap) dan memiliki kekuasaan yang mana di atur oleh pemerintahan yang berdaulat serta memiliki ikatan kerja yang mempunyai tujuan untuk mengatur dan memelihara segala instrumentinstrumen yang ada didalam nya dengan kekuasaan yang ada. 2.Hakikat Negara Pada dasarnya berdirinya suatu Negara yaitu karena keinginan manusia yang membentuk suatu bangsa karena adanya berbagai kesamaan ras, bahasa, adat dan sebagainya. Sifat hakikat Negara mencakup hal-hal sebagai berikut: 1.Sifat memaksa Negara memiliki sifat memaksa, dalam arti mempunyai kekuatan fisik secara legal. Dan sarana nya adalah Polisi, tentara, dan alat penjamin hukum lainnya. Sehingga diharapkan semua peraturan perundangan yang berlaku ditaati supaya keamanan dan ketertiban Negara tercapai. Contoh bentuk paksaannya adalah UU perpajakan yang memaksa setiap warga Negara untuk membayar pajak, bila melanggar maka akan di kenai sangsi. 2.Sifat monopoli Dalam menetapkan tujuan bersama masyarakat. Misalnya Negara dapat mengatakan bahwa aliran kepercayaan atau partai politik tertentu dilarang karena dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat.

Tanggal Publikasi: 9 Maret 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://fachmiulilmaulana.blogspot.com 3.Sifat mencakup semua Semua peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah untuk semua orang tanpa terkecuali. Sebab kalau seorang dibiarkan berada di luar ruang lingkup aktivitas Negara, maka usaha Negara kea rah tercapainya masyarakat yang dicita-citakan akan gagal. c. Warga Negara • Warga Negara adalah orang yang terkait dengan sistem hukum Negara dan mendapat perlindungan Negara. • Warga Negara secara umum ada Anggota suatu negara yang mempunyai keterikatan timbal balik dengan negaranya. • Warga negara adalah orang yg tinggal di dalam sebuah negara dan mengakui semua peraturan yg terkandung di dalam negara tersebut. • Warga Negara Indonesia menurut Pasal 26 UUD 1945 adalah : Orang-orang bangsa Indonesia asli dan bangsa lain yang disahkan Undang-undang sebagai warga Negara. Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Menurut UU ini, orang yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah 1.setiap orang yang sebelum berlakunya UU tersebut telah menjadi WNI. 2.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI. 3.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu warga negara asing (WNA), atau sebaliknya. 4.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI dan ayah yang tidak memiliki kewarganegaraan atau hukum negara asal sang ayah tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut. 5.anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah, dan ayahnya itu seorang WNI. 6.anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNI. 7.anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 tahun atau belum kawin. 8.anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya. Tanggal Publikasi: 9 Maret 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://fachmiulilmaulana.blogspot.com 9.anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah megara Republik Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui. 10.anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak memiliki kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya. 11.anak yang dilahirkan di luar wilayah Republik Indonesia dari ayah dan ibu WNI, yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan. 12.anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan

kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia. Selain itu, diakui pula sebagai WNI bagi: 1.anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun dan belum kawin, diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing. 2.anak WNI yang belum berusia lima tahun, yang diangkat secara sah sebagai anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan. 3.anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah RI, yang ayah atau ibunya memperoleh kewarganegaraan Indonesia. 4.anak WNA yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh WNI. Kewarganegaraan Indonesia juga diperoleh bagi seseorang yang termasuk dalam situasi sebagai berikut: 1.Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia, yang ayah atau ibunya memperoleh kewarganegaraan Indonesia 2.Anak warga negara asing yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara Indonesia. Jadi, warga negara adalah orang yang tinggal di suatu negara dengan keterkaitan hukum dan peraturan yang ada dalam negara tersebut serta diakui oleh negara, baik warga asli negara tersebut atau pun warga asing dan negara tersebut memiliki ketentuan kepada siapa yang akan menjadi warga negaranya.

Tanggal Publikasi: 9 Maret 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf

Hubungan Negara kewarganegaraan secara Normatif
Oleh:Maradenali Bertolak pada perumusan konsepsi Negara hukum Indonesia sebagaimana yang digariskan oleh para the faunding fathers yang dirumuskan dalam penjelasan Undangundang atas Dasar 1945 bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan (rechtstaat), bukan Negara yang berdasarkan atas kekuasaan

hukum

(matchstaat) semata. Spirit yang dimiliki oleh para perumus di masa awal kemerdekaan jelas sangat mengharapkan bahwa pola yang diambil nantinya tidak menyimpang dari pengertian Negara hukum pada umumnya (genusbegrip). Rumusan Negara hukum kemudian dipertegas ketika Undang-Undang Dasar 1945 harus di Amandemen sebagai salah satu tuntutan dari gerakan reformasi 1998 dengan menegaskan rumusan dalam Undang-Undang dasar 1945 pasca amandemen sebagaimana dalam pasal 1 ayat (3) bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum

Penegasan ini sekaligus memberikan satu bentuk komitmen Negara bahwa dalam segala proses pengambilan kebijakan pengelolaan Negara diseluruh aspek

kehidupan berbangsa dan bernegara harus berlandaskan kepada hukum. Sebagaimana Prof. Satjipto Rahardjo yang menyatakan bahwa bangunan yang kemudian

bernama “Negara Hukum” merupakan salah satu prestasi peradaban manusia yang pantas untuk dicatat. Secara substantif beliau mengemukakan esensinya terletak

pada memanusiakan proses-proses penyelesaian persoalan dalam masyarakat.5 Kiranya banyak sudah ahli-ahli hukum yang sepakat bahwa bentuk Negara hukum (dalam hal ini yang lebih berdimensi Welfare State bukan nachtwakerstaat)

menjadi pilihan yang paling rasional dan sangat relevan dengan perkembangan Negarabangsa di dunia ketiga

Pilihan bahwa sandaran utama dalam pengelolaan Negara berdasarkan hukum menjadi satu kehendak bersama untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu, termasuk menuntut sikap serius yang bersifat kolektif dalam membangun kesadaran hukum di tengah masyarakat kita. Sebuah upaya yang harus dijalani dengan sungguh-

Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf sungguh dan butuh komitmen besar dalam memperjuangkannya, mengingat yang di perjuangkan adalah seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945, alinea

keempat, mensyaratkan adanya kedaulatan (sveregnity) kedalam maupun keluar demikian pula didalamnya mempunyai wilayah tertentu dan rakyatnya. Ada

keterkaitan yang sangat erat antara pemerintahan sebagai penyelenggara Negara, rakyat yang harus dilindungi dan wilayah dimana pemerintah dan rakyat berada. Agar tujuan didirikannya Negara dapat terlaksana, diperlukan konstitusi sebagai instrument dasar untuk mempercepat terselenggaranya pmerintahan yang berdaulat tersebut. Disamping itu, agar Negara dapat mencapai tujuannya maka diperlukan adanya pemerintah yang menjalankan konstitusi, sebagai arahan dari pemerintahan untuk menjalankan fungsi Negara. Dalam berbagai literature Hukum Tata Negara maupun Ilmu Politik, kajian ruang lingkup paham konstitusi (konstitusionalisme) terdiri dari : 1. Anatomi kekuasaan (kekuasaan politik) tunduk pada hukum, 2. Jaminan dan perlindungan hak asasi manusia, 3. Peradilan yang bebas dan mandiri, 4. Pertanggungjawaban kepada rakyat (akuntabilitas publik) sebagai sendi utama dari asas kedaulatan rakyat. Negara Indonesia sebagai Negara Berdasar atas hukum (Rechtstaats) menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). HAM merupakan hak yang bersifat kodrati akan selalu diperjuangkan, dihormati serta tidak boleh diadakan konflik di muka bumi pada umumnya,

pembatasan dan pengurangan. Terjadinya

disebabkan oleh adanya pelanggaran HAM berat maupun ringan. Dilakukan oleh kelompok masyarakat satu kepada kelompok masyarakat yang lainnya, kelompok kepada individu atau perorangan. atau oleh

Piagam HAM PBB 1948 memberikan gambaran bahwa hak asasi manusia hakhak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati, universal, dan abadi sebagai anugerah tuhan yang maha esa. Hak demikian meliputi hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak keadilan, hak berkomunikasi, hak keamanan dan kesejahteraan. Hak-hak demikian, tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf siapapun. Manusia mempunyai hak dan tanggungjawab pula untuk saling menghormati hak asasi manusia lain dalam rangka perkembangan manusia dalam kelangsungan hidupnya. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, telah merasakan pahit

getirnya dijajah oleh bangsa asing. Penjajahan pada hakikatnya merupakan bentukbentuk pelecehan, pelanggaran, perampasan kemerdekaan, pengekangan, atau penguasaan paksa atau sewenang-wenang atas hak kemerdekaan orang lain

Disamping itu, pelecehan yang terjadi di masyarakat tidak terlepas dari politik devide et empera Belanda yang menggolongkan penduduk menjadi tiga golongan, yakni golongan Eropa, Timur asing, dan Bumi Putra (Pribumi). Warga Negara atau kewarganegaraan merupakan salah satu unsure konstitutif keberadaan (eksistensi) suatu Negara. Tidak mungkin ada Negara tanpa adanya warga Negara. Pasal 1 konvensi montividio 1933, menetapkan empat syarat keberadaan Negara, yaitu :

1. Ada penduduk tetap (a permanent population) . penduduk tetap maksudnya adalah warga Negara, bukan hanya sekedar penduduk. Tidak mungkin ada Negara kalau penduduknya berkewarganegaraan lain (orang asing). 2. Ada wilayah tertentu (a defined territory). Setiap Negara harus memiliki wilayah atau territorial yang nampak nyata dengan batas-batas yang dapat dikenali baik dalam arti factual maupun yuridis. 3. Ada pemerintah (a goverement) yaitu alat-alat kelengkapan yang

menjalankan Negara dan pemerintahan. Pemerintahan disini baik dalam arti ketatanegaraan (organs of state) maupun jabatan administrasi Negara. 4. Kemampuan untuk secara mandiri melakukan hubungan dengan Negara lain (a capacity to enter into relations with other states). Kemampuan mandiri yaitu kekuasaan atau berwenang mandiri melakukan hubungan dengan Negara lain. Syarat ini biasanya dikaitkan dengan pengakuan oleh Negara lain. Hanya Negara dan/atau pemerintah yang diakui yang dapat melakukan hubungan dengan Negara dan/atau pemerinta lain Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf

Bagaiman Negara ditinjau dari sudut pandang nasional?. Negara telah terbentuk (ada) kalau ada tiga syarat yang pertama (warga Negara, wilayah, pemerintahan). Bagaimana dengan “pemerintah”. Syarat pemerintah sudah cukup kalau dalam kenyataan ada suatu susunan kekuasaan yang mampu menjalankan pemerintahan fihak

terhadap setiap orang dalam wilayah Negara. Kemampuan itu pada satu didasarkan pada ketentuan nasional yang ada, di fihak

lain pemerintahan dan

dapat berjalan secaraefektif untuk melakukan

tindakan

pemerintahan

penegakan hukum yang disertai kepatuhan setiap orang terhadap pemerintahan yang bersangkutan.

Berdasarkan pengertian ini maka Negara dominion, Negara mandate, Negara trust adalah sebuah Negara. Itulah pula yang berlaku untuk Hindia Belanda. Walaupun pada saat itu Indonesia bagian dari kerajaan Belanda, tetapi secara kenyataan Hindia Belanda adalah sebuah Negara. Lebih lanjut dapat pula dikatakan, di tinjau dari tatanan nasional dan kenyataan, montividio convention tidaklah begitu penting dalam keadaan sebuah Negara. Pertama; tanpa tiga syarat yang pertama, memang tidak akan ada suatu yang dapat disebut Negara. Tidak mungkin ada Negara apabila tidak ada wilayah, warga Negara, dan pemerintah. Kedua; keberadaan Negara sebagai kenyataan, tidak digantungkan pada kemampuan berhubungan dengan Negara lain. Yang lebih utama adalah kemampuan

menjalankan pemerintahan secara efektif dalam wilayah Negara yang bersangkutan. Kemampuan mengadakan hubungan dengan Negara lain, bukan merupaka syarat konstututif keberadaan Negara. Syarat ke empat ini hanyalah semata-mata syarat Negara keluar.

Memperhatikan syarat minimum keberadaan Negara, perlu dipertanyakan: “kapan Negara Indonesia di anggap telah memenuhi syarat konstitusional Selain itu, salah satu syarat Negara yaitu warga Negara.

keberadaan negara”?.

Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf Kapankah Negara Indonesia secara mandiri kewarganegaraan. mempunyai aturan tentang

Secara formal kewarganegaraan sudah ternaktub dalam konstitusi yakni Undang-Undang Dasar 1945, hanya saja undang-undang kewarganegaraan baru ditetapkan 1946 yaitu setelah mendapat persetujuan BP.KNIP. Pada tanggal 10 April 1946 ditetapkannya UU No. 3 tahun 1946 tentang warga Negara dan penduduk Indonesia. Pertanyaannya apakah sejak 17 Agustus 1945 (Proklamasi) sampai pada 10 April 1946, Negara Indonesia tidak mempunyai Warga Negara ?, lebih-lebih ketika dihubungkan dengan Montevideo Convention (1933) yang menentukan adanya

rakyat (warga negara) yang disebut “permanent population” sebagai salah satu syarat keberadaan Negara. Apakah selama belum ada undang- undang kewarganegaraan yang baru, melalui UUD dapat dipergunakan peraturan kewarganegaraan Hindia

Belanda yang diatur dalam “wet Nederlands Onderdaanshcap Van Niet-Nederlanders”

Menjawab keadaan tersebut mulai dari hakikatnya undang-undang kaula Negara bukan orang belanda 1910 adalah salah satu fungsi sebagai penghubung antara keadaan lama (Hindia Belanda) dan kedaan baru (Republik Indonesia). Jembatan penghubung ini mengenai bermacam-macam hal tidak terkecuali kewarganegaraan. Dengan

maksud agar tidak ada kekosongan hukum.

Permasalahan kewarganegaraan apakah selama belum ada undang-undang RI tentang kewarganegaraan, seperti keentuan syang diatur dalam S.1910;296 (Wet

Nederlans Onderdaanshap van Niet Nederlanders) tetap berlaku dan dapat diberlakukan sebelum terbentuk UU No. 3 tahun 1946. Sejak proklamasi, ketentuan S.1910;296 tidak berlaku lagi dan tidak dapat diberlakukan lagi melalui pasal II aturan peralihan UUD 1945. hal ini disebabkan oleh mengatur Warga Negara kerajaan Belanda bukan Belanda ini dinamakan

yang bukan belanda. Warga Negara belanda yang

“Kaula Belanda” (Nederlans Onderdaan) yaitu warga daerah jajahan (yang bukan Belanda), maka tidak mungkin berlaku untuk warga Negara RI . Itulah alasannya untuk segera dibentuk undang-undang kewarganegaraan. Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://lib.umm.ac.id/jiptummpp-gdl-s1-2010maradenali-18764-BAB+I.pdf

Secara normatif warga Negara Indonesia sebelum dibentuk undang- undang kewarganegaraan ditetapkan dalam konstitusi/UUD 1945. Adapun rumusan

dalam UUD 1945 tentang kewarganegaraan adalah “semua orang bangsa Indonesia asli”. Semua orang-orang (bangsa) Indonesia asli yaitu orang yang dimasa hindia belanda dinamakan “inderlanders” secara normatif - konstiusional adalah Warga Negara Indonesia . bahkan warga Negara Indonesia telah ada pada tanggal 17 Agustus 1945 yaitu seluruh bangsa Indonesia yang menyatakan kemerdekaan (Soekarno – Hatta menandatangani proklamasi atas nama seluruh rakyat Indonesia). Dengan demikian, Negara Indonesia telah ada sejak tanggal 17 Agustus 1945 mendahului ketentuan UUD yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945 . Penetapan UUD tanggal 18 Agustus 1945 hanya menegaskan keberadaan Negara yang telah ada sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Sejak tahun 1946 hingga sekarang telah ada sejumlah perubahan dalam konstitusi maupun dalam aturan yang berbentuk peraturan perundang-undangan lainnya mengenai kewarganegaraan. Didapati perbedaan-perbedaan antara bermacam-macam

peraturan-perundang-undangan tersebut. Mengapa berbeda, sedangkan objek yang diatur adalah sama yaitu mengenai kewarganegaraan (dan penduduk indonesia)?. Pertama : terjadi perubahan mendasar atas dari Negara Indonesia yakni dengan

beberapa kali perubahan konstitusi sebagai hukum dasar Negara mulai dari UUD 1945, KRIS 1949, UUDS 1950, UUD 1945 (berdasarkan Dekrit Presiden 1959) dan UUD RI 1945 hasil Amandemen. Kedua : selain ada perubahan mendasar dengan adanya perubahan konstitusi Negara, juga ada penyebab lain yakni kesepakatan-kesepakatan Internasional

mengenai kewarganegaraan Indonesia antara lain : Konverensi Meja Bundar (KMB) dan Perjanjian Dwi Kewarganegaraan Indonesia-Tionghoa.

Ketiga : pengaruh perkembangan politik dan sosial, baik domestik maupun global. Gerakan feminisme yang antara lain menuntut kesetaraan gender, demikian pula tuntutan Hak Asasi Manusia (HAM)

Tanggal Publikasi: 10 Juni 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://novieanggraeni.wordpress.com

Strategi Memperkuat Hubungan Negara dan Warga Negara (Implementasi Hak dan Kewajiban Warga Negara)
Implementasi Hak Dan Kewajiban Warga Negara Oleh: Novie Anggraeni Sebagai warga negara , hendaknya kita dapat memposisikan diri atas berbagai hak dan kewajiban yang meliputi tindak-tanduk diri. semua warga negara dengan atau tanpa komando dan kesadaran diri harus mampu melakoni kewajiban kewarganegaraan yang ditumpunya sebagai suatu pengabdian bagi bangsa. manifestasi dari kewajiban warga negara yang aplikatif, sangat luas setiap individu dapat memiliki peran dan andil di setiap segmen masyarakat yang menaunginya.

Setiap orang memiliki andil dalam mengusahakan keamanan negara, hanya porsinya saja yang berbeda. sebagai pengawal negara tentunya negara memiliki perangkat pasukan TNI dan Polri sebagai suatu poros pertahanan dan keamanan. Apabila kondisi pada masyarakat memerlukan penanganan dari pribadi-pribadi, maka sudah seyogyanyalah kita mengusahakan keutuhan perdamaian melalui usaha yang tentu saja dapat kita laksanakan. Manifestasi setiap kewajiban warga negara intinya adalah bagaimana setiap individu mengambil peran dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. kesadaran pribadi sangat memegang peranan penting, pula bahwasannya tiap individu dapat mengajak orang lain untuk mematuhi peraturan yang berlaku.

Sedangkan hak warga negara adalah sebuah harta jaminan bagi setiap individu untuk melakukan berbagai kegiatan dalam menjalankan roda pembangunan pertiwi. berbagai masalah mungkin akan muncul sebagai akibat dari tumpang tindih kepentingan. Hak sejatinya dapat kita dapatkan setelah pemenuhan kewajiban, namun perimbangan hak dan kewajiban merupakan unsur pembentuk keselarasan yang utama. jadi sudah semestinya segala aspek pemenuhan dapat kita usahakan secara maksimal.

Tanggal Publikasi: 02 Mar 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html HAK DAN KEWAJIBAN SETIAP WARGA NEGARA Politik Dan Strategi Nasional Oleh: Bayu A. Pengertian Politik Strategi dan Polstranas Perkataan politik berasal dari bahasa Yunani yaitu Polistaia, Polis berarti kesatuan masyarakat yang mengurus diri sendiri/berdiri sendiri (negara), sedangkan taia berarti urusan. Dari segi kepentingan penggunaan, kata politik mempunyai arti yang berbeda-beda. Untuk lebih memberikan pengertian arti politik disampaikan beberapa arti politik dari segi kepentingan penggunaan, yaitu : 1. Dalam arti kepentingan umum (politics) Politik dalam arti kepentingan umum atau segala usaha untuk kepentingan umum, baik yang berada dibawah kekuasaan negara di Pusat maupun di Daerah, lazim disebut Politik (Politics) yang artinya adalah suatu rangkaian azas/prinsip, keadaan serta jalan, cara dan alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau suatu keadaan yang kita kehendaki disertai dengan jalan, cara dan alat yang akan kita gunakan untuk mencapai keadaan yang kita inginkan. 2. Dalam arti kebijaksanaan (Policy) Politik adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang yang dianggap lebih menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita/keinginan atau keadaan yang kita kehendaki. Dalam arti kebijaksanaan, titik beratnya adalah adanya :
o o o

proses pertimbangan menjamin terlaksananya suatu usaha pencapaian cita-cita/keinginan

Jadi politik adalah tindakan dari suatu kelompok individu mengenai suatu masalah dari masyarakat atau negara.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html Dengan demikian, politik membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan : 1. Negara Adalah suatu organisasi dalam satu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang ditaati oleh rakyatnya. Dapat dikatakan negara merupakan bentuk masyarakat dan organisasi politik yang paling utama dalam suatu wilayah yang berdaulat. 2. Kekuasaan Adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginannya. Yang perlu diperhatikan dalam kekuasaan adalah bagaimana cara memperoleh kekuasaan, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. 3. Pengambilan keputusan Politik adalah pengambilan keputusan melaui sarana umum, keputusan yang diambil menyangkut sektor publik dari suatu negara. Yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan politik adalah siapa pengambil keputusan itu dan untuk siapa keputusan itu dibuat. 4. Kebijakan umum Adalah suatu kumpulan keputusan yang diambill oleh seseorang atau kelompok politik dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu. 5. Distribusi Adalah pembagian dan pengalokasian nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan dan penting, nilai harus dibagi secara adil.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai-nilai secara mengikat Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia yang artinya the art of the general atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Karl von Clausewitz berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan, sedangkan perang adalah kelanjutan dari politik Dalam abad modern dan globalisasi, penggunaan kata strategi tidak lagi terbatas pada konsep atau seni seorang panglima dalam peperangan, tetapi sudah digunakan secara luas termasuk dalam ilmu ekonomi maupun olah raga. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencaipan suatu tujuan. Politik nasional adalah suatu kebijakan umum dan pengambilan kebijakan untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan nasional. Strategi nasional adalah cara melaksanakan politik nasional dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik nasional. Strategi nasional disusun untuk melaksanakan politik nasional, misalnya strategi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. B. Dasar Pemikiran Penyususan Politik dan Strategi Nasional Penyusunan politik dan strategi nasional perlu memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam sistem manajemen nasional yang berdasarkan ideologi Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Landasan pemikiran dalam manajemen nasional sangat penting sebagai kerangka acuan dalam penyususan politik strategi nasional, karena didalamnya terkandung dasar negara, cita-cita nasional dan konsep strategi bangsa Indonesia.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html C. Penyusunan Politik dan Strategi Nasional Politik strategi nasional yang telah berlangsung selama ini disusun berdasarkan sistem kenegaraan menurut UUD 1945. Sejak tahun 1985 berkembang pendapat yang mengatakan bahwa pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang diatur dalam UUD 1945 merupakan suprastruktur politik, lembaga-lembaga tersebut adalah MPR, DPR, Presiden, BPK, dan MA. Sedangkan badan-badan yang berada didalam masyarakat disebut sebagai infrastruktur politik yang mencakup pranata politik yang ada dalam masyarakat seperti partai politik, organisasi kemasyarakatan, media massa, kelompok kepentingan (interest group) dan kelompok penekan (pressure group). Suprastruktur dan infrastruktur politik harus dapat bekerja sama dan memiliki kekuatan yang seimbang. Mekanisme penyusunan politik strategi nasional ditingkat suprastruktur politik diatur oleh Presiden, dalam hal ini Presiden bukan lagi sebagai mandataris MPR sejak pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat pada tahun 2004. Karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat maka dalam menjalankan pemerintahan berpegang pada visi dan misi Presiden yang disampaikan pada waktu sidang MPR setelah pelantikan dan pengambilan sumpah dan janji Presiden/Wakil Presiden. Visi dan misi inilah yang dijadikan politik dan strategi dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan pembangumnan selama lima tahun. Sebelumnya Politik dan strategi nasional mengacu kepada GBHN yang dibuat dan ditetapkan oleh MPR. Proses penyusunan politik strategi nasional pada infrastruktur politik merupakan sasaran yang akan dicapai oleh rakyat Indonesia. Sesuai dengan kebijakan politik nasional, penyelenggara negara harus mengambil langkah-langkah pembinaan terhadap semua lapisan masyarakat dengan mencantumkan sasaran masing-masing sektor/bidang. Dalam era reformasi saat ini masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam mengawasi jalannya politik strategi nasional yang dibuat dan dilaksanakan oleh Presiden.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html D. Stratifikasi Politik Nasional Stratifikasi politik nasional dalam negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut ; 1. Tingkat penentu kebijakan puncak 1. Meliputi kebijakan tertinggi yang menyeluruh secara nasional dan mencakup penentuan undang-undang dasar. Menitikberatkan pada masalah makro politik bangsa dan negara untuk merumuskan idaman nasional berdasarkan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Kebijakan tingkat puncak dilakukanb oleh MPR. 2. Dalam hal dan keadaan yang menyangkut kekuasaan kepala negara seperti tercantum pada pasal 10 sampai 15 UUD 1945, tingkat penentu kebijakan puncak termasuk kewenangan Presiden sebagai kepala negara. Bentuk hukum dari kebijakan nasional yang ditentukan oleh kepala negata dapat berupa dekrit, peraturan atau piagam kepala negara. 2. Tingkat kebijakan umum Merupakan tingkat kebijakan dibawah tingkat kebijakan puncak, yang lingkupnya menyeluruh nasional dan berisi mengenai masalah-masalah makro strategi guna mencapai idaman nasional dalam situasi dan kondisi tertentu. 3. Tingkat penentu kebijakan khusus Merupakan kebijakan terhadap suatu bidang utama pemerintah. Kebijakan ini adalah penjabaran kebijakan umum guna merumuskan strategi, administrasi, sistem dan prosedur dalam bidang tersebut. Wewenang kebijakan khusus ini berada ditangan menteri berdasarkan kebijakan tingkat diatasnya. 4. Tingkat penentu kebijakan teknis Kebijakan teknis meliputi kebijakan dalam satu sektor dari bidang utama dalam bentuk prosedur serta teknik untuk

mengimplementasikan rencana, program dan kegiatan.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 4. Tingkat penentu kebijakan di Daerah 1. Wewenang penentuan pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat di Daerah terletak pada Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pemerintah pusat di daerahnya masing-masing. 2. Kepala daerah berwenang mengeluarkan kebijakan pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD. Kebijakan tersebut berbentuk Peraturan Daerah (Perda) tingkat I atau II. Menurut kebijakan yang berlaku sekarang, jabatan gubernur dan bupati atau walikota dan kepala daerah tingkat I atau II disatukan dalam satu jabatan yang disebut Gubernur/KepalaDaerah tingkat I, Bupati/Kepala Daerah tingkat II atau Walikota/Kepala Daerah tingkat II E. Politik Pembangunan Nasional dan Manajemen Nasional Politik merupakan cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan politik bangsa Indonesia telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan politik bangsa Indonesia harus dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia, untuk itu pembangunan di segala bidang perlu dilakukan. Dengan demikian pembangunan nasional harus berpedoman pada Pembukaan UUD 1945 alania ke-4. Politik dan Strategi Nasional dalam aturan ketatanegaraan selama ini dituangkan dalam bentuk GBHN yang ditetapkan oleh MPR. Hal ini berlaku sebelum adanya penyelenggaraan pemilihan umum Presiden secara langsung pada tahun 2004. Setelah pemilu 2004 Presiden menetapkan visi dan misi yang dijadikan rencana pembangunan jangka menengah yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan pemerintahan dan membangun bangsa. Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 1. Makna pembangunan nasional Pembangunan nasional merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Tujuan pembangunan nasional itu sendiri adalah sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. Dan

pelaksanaannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Pembangunan nasional mencakup hal-hal yang bersifat lahiriah maupun batiniah yang selaras, serasi dan seimbang. Itulah sebabnya pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang seutuhnya, yakni sejahtera lahir dan batin. 2. Manajemen nasional Manajemen nasional pada dasarnya merupakan suatu sistem sehingga lebih tepat jika kita menggunakan istilah sistem manajemen nasional. Layaknya sebuah sistem, pembahasannya bersifat

komprehensif, strategis dan integral. Orientasinya adalah pada penemuan dan pengenalan (identifikasi) faktor-faktor strategis secara menyeluruh dan terpadu. Dengan demikian sistem manajemen nasional dapat menjadi kerangka dasar, landasan, pedoman dan sarana bagi perkembangan proses pembelajaran maupun penyempurnaan fungsi penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat umum maupun pembangunan. Pada dasarnya sistem manajemen nasional merupakan perpaduan antara tata nilai, struktur dan proses untuk mencapai daya guna dan hasil guna sebesar mungkin dalam menggunakan sumber dana dan sumber daya nasional demi mencapai tujuan nasional. Proses penyelenggaraan yang serasi dan terpadu meliputi siklus kegiatan perumusan

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html kebijaksanaan (policy formulation), pelaksanaan kebijaksanaan, dan penilaian hasil kebijaksanaan terhadap berbagai kebijaksanaan nasional. Disini secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem sekurangkurangnya harus dapat menjelaskan unsur, struktur, proses, fungsi serta lingkungan yang mempengaruhinya. Secara sederhana unsur-unsur utama sistem manajemen nasional dalam bidang ketatanegaraan meliputi : 1. Negara Sebagai organisasi kekuasaan, negara mempunyai hak dan kepemilikan, pengaturan dan pelayanan dalam mewujudkan cita-cita bangsa. 2. Bangsa Indonesia Sebagai unsur pemilik negara, berperan menentukan sistem nilai dan arah/haluan negara yang digunakan sebagai landasan dan pedoman bagi penyelenggaraan fungsi negara. 3. Pemerintah Sebagai unsur manajer atau penguasa, pemerintahan berperan umum dalam dan

penyelenggaraan

fungsi-fungsi

pembangunan kearah cita-cita bangsa dan kelangsungan serta pertumbuhan negara. 4. Masyarakat Sebagai unsur penunjang dan pemakai, berperan sebagai kontributor, penerima dan konsumen bagi berbagai hasil kegiatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html

F. Otonomi Daerah Pelaksanaan otonomi daerah kini memasuki tahapan baru setelah direvisinya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menjadi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah atau lazim disebut UU Otonomi Daerah (Otda). Perubahan yang dilakukan di UU No. 32 Tahun 2004 bisa dikatakan sangat mendasar dalam pelaksanaan pemerintahan daerah. Secara garis besar, perubahan yang paling tampak adalah terjadinya pergeseran-pergeseran kewenangan dari satu lembaga ke lembaga lain. Konsep otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab tetap dijadikan acuan dengan meletakkan pelaksanaan otonomi pada tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat. Tujuan pemberian otonomi tetap seperti yang dirumuskan saat ini yaitu memberdayakan daerah, termasuk masyarakatnya, mendorong prakarsa dan peran serta masyarakat dalam proses pemerintahan dan pembangunan. Pemerintah juga tidak lupa untuk lebih meningkatkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas penyelenggaraan fungsi-fungsi seperti pelayanan, pengembangan dan perlindungan terhadap masyarakat dalam ikatan NKRI. Asas-asas

penyelenggaraan pemerintahan seperti desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan, diselenggarakan secara proporsional sehingga saling menunjang. Dalam UU No. 32 Tahun 2004, digunakan prinsip otonomi seluas-luasnya, di mana daerah diberi kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintah pusat yakni : 1. politik luar negeri, 2. pertahanan dan keamanan, 3. moneter/fiskal, 4. peradilan (yustisi), 5. agama.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html Pemerintah pusat berwenang membuat norma-norma, standar, prosedur, monitoring dan evaluasi, supervisi, fasilitasi dan urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas nasional. Pemerintah provinsi berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan eksternal regional, dan kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas lokal. Dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 (Amandemen) disebutkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah Provinsi dan daerah Provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap Provinsi, Kabupaten, dan Kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan UU. Tampak nuansa dan rasa adanya hierarki dalam kalimat tersebut. Pemerintah Provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di daerah diakomodasi dalam bentuk urusan pemerintahan menyangkut pengaturan terhadap regional yang menjadi wilayah tugasnya. Urusan yang menjadi kewenangan daerah, meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah suatu urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar, kesehatan, pemenuhan kebutuhan hidup minimal, prasarana lingkungan dasar; sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. UU No. 32 Tahun 2004 mencoba mengembalikan hubungan kerja eksekutif dan legislatif yang setara dan bersifat kemitraan. Sebelum ini kewenangan DPRD sangat besar, baik ketika memilih kepala daerah, maupun laporan pertanggungjawaban (LPJ) tahunan kepala daerah. Kewenangan DPRD itu dalam penerapan di lapangan sulit dikontrol. Sedangkan sekarang, kewenangan DPRD banyak yang dipangkas, misalnya aturan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat, DPRD yang hanya memperoleh laporan keterangan pertanggungjawaban, serta adanya mekanisme evaluasi gubernur terhadap rancangan Perda APBD agar sesuai kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pemerintahan Daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah yaitu Pemerintah Daerah dan

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hubungan antara pemerintah daerah dan DPRD merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan. Hubungan kemitraan bermakna bahwa antara Pemerintah Daerah dan DPRD adalah sama-sama mitra sekerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masing-masing sehingga antar kedua lembaga itu membangun suatu hubungan kerja yang sifatnya saling mendukung bukan merupakan lawan ataupun pesaing satu sama lain dalam melaksanakan fungsi masing-masing. Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat yang persyaratan dan tata caranya ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat dicalonkan baik oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilu yang memperoleh sejumlah kursi tertentu dalam DPRD dan atau memperoleh dukungan suara dalam Pemilu Legislatif dalam jumlah tertentu. Melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) provinsi, kabupaten, dan kota diberikan kewenangan sebagai penyelenggara pemilihan kepala daerah. Agar penyelengaraan pemilihan dapat berlangsung dengan baik, maka DPRD membentuk panitia pengawas. Kewenangan KPUD provinsi, kabupaten, dan kota dibatasi sampai dengan penetapan calon terpilih dengan berita acara yang selanjutnya KPUD menyerahkan kepada DPRD untuk diproses pengusulannya kepada Pemerintah guna mendapatkan pengesahan. Dalam UU No 32 Tahun2004 terlihat adanya semangat untuk melibatkan partisipasi publik. Di satu sisi, pelibatan publik (masyarakat) dalam pemerintahan atau politik lokal mengalami peningkatan luar biasa dengan diaturnya pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung. Dari anatomi tersebut, jelaslah bahwa revisi yang dilakukan terhadap UU No. 22 Tahun 1999 dimaksudkan untuk menyempurnakan kelemahan-kelemahan yang selama ini muncul dalam pelaksanaan otonomi daerah. Sekilas UU No. 32 tahun 2004 masih menyisakan banyak kelemahan, tapi harus diakui Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html pula banyak peluang dari UU tersebut untuk menciptakan good governance (pemerintahan yang baik).

H. Implementasi Politik dan Strategi Nasional Implementasi politik dan strategi nasional di bidang hukum: 1. Mengembangkan budaya hukum di semua lapisan masyarakat untuk terciptanya kesadaran dan kepatuhan hukum dalam kerangka supremasi hukum dan tegaknya negara hukum. 2. Menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbaharui perundang–undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif, termasuk ketidakadilan gender dan ketidaksesuaianya dengan reformasi melalui program legalisasi. 3. Menegakkan hukum secara konsisten untuk lebih menjamin kepastian hukum, keadilan dan kebenaran, supremasi hukum, serta menghargai hak asasi manusia. 4. Melanjutkan ratifikasi konvensi internasional terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk undang–undang. 5. Meningkatkan integritas moral dan keprofesionalan aparat penegak hukum, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia, untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum, pendidikan, serta pengawasan yang efektif. 6. Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh penguasa dan pihak manapun. 7. Mengembangkan peraturan perundang–undangan yang mendukung kegiatan perekonomian dalam menghadapi era perdagangan bebas tanpa merugikan kepentingan nasional.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 8. Menyelenggarakan proses peradilan secara cepat, mudah, murah dan terbuka, serta bebas korupsi dan nepotisme dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan dan kebenaran. 9. Meningkatkan pemahaman dan penyadaran, serta meningkatkan perlindungan. Penghormatan dan penegakan hak asasi manusia dalam seluruh aspek kehidupan. 10. Menyelesaikan berbagai proses peradilan terhadap pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang belum ditangani secara tuntas. Implemetasi politk strategi nasional dibidang ekonomi. 1. Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai–nilai keadilan, kepentingan sosial, kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga terjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak–hak konsumen, serta perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat. 2. Mengembangkan persaingan yang sehat dan adil serta menghindarkan terjadinya struktur pasar monopolistik dan berbagai struktur pasar distortif, yang merugikan masyarakat. 3. Mengoptimalkan peranan pemerintah dalam mengoreksi ketidaksempurnaan pasar dengan menghilangkan seluruh hambatan yang menganggu mekanisme pasar, melalui regulasi, layanan publik, subsidi dan insentif, yang dilakukan secara transparan dan diatur undang–undang. 4. Mengupayakan kehidupan yang layak berdasarkan atas kemanusiaan yang adil bagi masayarakat, terutama bagi fakir miskin dan anak–anak terlantar dengan mengembangkan sistem dan jaminan sosial melalui program pemerintah serta menumbuhkembangkan usaha dan kreativitas masyarakat yang

pendistribusiannya dilakukan dengan birokrasi efektif dan efisien serta ditetapkan dengan undang–undang. 5. Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html komperatif sebagai negara maritim dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan di setiap daerah, terutama pertanian dalam arti luas, kehutanan, kelautan, pertambangan, pariwisata, serta industri kecil dan kerajinan rakyat. 6. Mengelola kebijakan makro dan mikro ekonomi secara terkoordinasi dan sinergis guna menentukan tingkat suku bunga wajar, tingkat inflasi terkendali, tingkat kurs rupiah yang stabil dan realitis, menyediakan kebutuhan pokok terutama perumahan dan pangan rakyat, menyediakan fasilitas publik yang memadai dan harga terjangkau, serta memperlancar perizinan yang transparan, mudah, murah, dan cepat. 7. Mengembangkan kebijakan fiskal dengan memperhatikan prinsip transparasi, disiplin, keadilan, efisiensi, efektivitas, untuk menambah penerimaan negara dan mengurangi ketergantungan dana dari luar negeri. 8. Mengembangkan pasar modal yang sehat, transparan, efisien, dan meningkatkan penerapan peraturan perundang–undangan sesuai dengan standar internasional dan diawasi oleh lembaga independen. 9. Mengoptimalkan penggunaan pinjaman luar negeri pemerintah untuk kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan secara transparan, efektif dan efisien. Mekanisme dan prosedur peminjaman luar negeri harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan diatur dengan undang–undang. 10. Mengembangkan kebijakan industri perdagangan dan investasi dalam rangka meningkatkan daya saing global dengan membuka aksesibilitas yang sama terhadap kesempatan kerja dan berusaha bagi segenap rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan kompetitif terutama berbasis keunggulan sumber daya manusia dengan menghapus segala bentuk perlakuan dikriminatif dan hambatan. 11. Memperdayakan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif dan peluang usaha yang seluas–luasnya. Bantuan fasilitas dari negara diberikan secara selektif terutama dalam bentuk perlindungan dari persaingan yang tidak sehat, pendidikan dan pelatihan, informasi bisnis dan teknologi, permodalan, dan lokasi berusaha.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 12. Menata Badan Usaha Milik Negara secara efisien, transparan, profesional terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum yang bergerak dalam penyediaan fasilitas publik, indutri pertahanan dan keamanan, pengelolaan aset strategis, dan kerja kegiatan usaha lainnya yang tidak dilakukan oleh swasta dan koperasi. Keberadaan dan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara ditetapkan dengan undang–undang. 13. Mengembangkan hubungan kemitraan dalam bentuk keterkaitan usaha untuk yang saling menunjang dan menguntungkan antara koperasi, swasta dan Badan Usaha Milik Negara, serta antar usaha besar dan kecil dalam rangka memperkuat struktur ekonomi nasional. 14. Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman budaya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal dalam rangka menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan pada tingkat harga yang terjangkau dengan memperhatikan peningkatan pendapatan petani dan nelayan serta peningkatan produksi yang diatur dengan undang– undang. 15. Meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan sumber energi dan tenaga listrik yang relatif murah dan ramah lingkungan dan secara berkelanjutan yang pengelolaannya diatur dengan undang–undang. 16. Mengembangkan kebijakan pertanahan untuk meningkatkan pemanfaatan dan penggunaan tanah secara adil, transparan, dan produktif dengan mengutamakan hak–hak rakyat setempat, termasuk hak ulayat dan masyarakat adat, serta berdasarkan tata ruang wilayah yang serasi dan seimbang. 17. Meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana publik, termasuk transportasi, telekomunikasi, energi dan listrik, dan air bersih guna mendorong pemerataan pembangunan, melayani kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau, serta membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan terpencil. 18. Mengembangkan ketenagakerjaan secara menyeluruh dan terpadu diarahkan pada peningkatan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja, peningkatan

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html pengupahan, penjamin kesejahteraan, perlindungan kerja dan kebebasan berserikat. 19. Meningkatkan kuantitas dan kualitas penempatan tenaga kerja ke luar negeri dengan memperhatikan kompetensi, perlindungan dan pembelaan tenaga yang dikelola secara terpadu dan mencegah timbulnya eksploitasi tenaga kerja. 20. Meningkatkan penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa sendiri dalam dunia usaha, terutama uasaha kecil, menengah dan koperasi guna meningkatkan daya saing produk yang berbasis sumber daya local. 21. Melakukan berbagai upaya terpadu untuk mempercepat proses pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan mengurangi pengangguran, yang merupakan dampak krisis ekonomi. 22. Mempercepat penyelamatan dan pemulihan ekonomi guna membangkitkan sektor riil terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi melalui upaya pengendalian laju inflasi, stabilitas kurs rupiah pada tingkat yang realistis, dan suku bunga yang wajar serta didukung oleh tersedianya likuiditas sesuai dengan kebutuhan. 23. Menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan mengurangi defisit anggaran melalui peningkatan disiplin anggaran, pengurangan susidi dan pinjaman luar negeri secara bertahap, peningkatan penerimaan pajak progresif yang adil dan jujur , serta penghematan pengeluaran. 24. Mempercepat rekapitulasi sektor perbankan dan restrukturisasi utang swasta secara transparan agar perbankan nasional dan perusahaan swasta menjadi sehat, terpercaya, adil,dan efisien dalam melayani masyarakat dan kegiatan perekonomian. 25. Melaksanakan restrukturisasi aset negara, terutama aset yang berasal dari likuidasi perbankan dan perusahaan, dalam rangka meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara transparan dan pelaksanaannya dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Pengelolaan aset negara diatur dengan undang– undang.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 26. Melakukan renegoisasi dan mempercepat restrukturisasi utang luar negeri bersama–sama dengan Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, Lembaga Keuangan Internasional lainnya, dan negara donor dengan memperhatikan kemampuan bangsa dan negara, yang pelaksanaanya dilakukan secara transparan dan dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat. 27. Melakukan secara proaktif negoisasi dan kerja sama ekonomi bilateral dan multilateral dalam rangka meningkatkan volume dan nilai ekspor terutama dari sektor industri yang berbasis sumber daya alam, serta menarik investasi finansial dan investasi asing langsung tanpa merugikan pengusaha nasional. 28. Menyehatkan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah terutama yang usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum didorong untuk privatisasi melalui pasar modal. IMPLEMENTASI POLITIK DAN STRATEGI DI BIDANG POLITIIK 1. Memperkuat keberadaan dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bertumpu pada kebhinekatunggalikaan. Untuk menyelesaikan masalah–masalah yang mendesak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, perlu upaya rekonsiliasi nasional yang diatur dengan undang– undang. 2. Menyempurnakan Undang–Undang Dasar 1945 sejalan dengan perkembangan kebutuhan bangsa, dinamika dan tuntutan reformasi, dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan bengsa, serta sesuai dengan jiwa dan semangat Pembukaan Undang–Undang Dasar 1945. 3. Meningkatkan peran Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan lembaga–lembaga tinggi negara lainnya dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. 4. Mengembangkan sistem politik nasional yang berkedudukan rakyat demokratis dan terbuka, mengembangkan kehidupan kepartaian yang menghormati keberagaman aspirasi politik, serta mengembangkan sistem dan penyelengaraan

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html pemilu yang demokratis dengan menyempurnakan berbagai peraturan

perundang–undangan dibidang politik. 5. Meningkatkan kemandirian partai politik terutama dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat serta mengembangkan fungsi pengawasan secara efektif terhadap kineja lembaga–lembaga negara dan meningkatkan efektivitas, fungsi dan partisipasi organisasi kemasyarakatan, kelompok profesi dan lembaga swadaya masyarakat dalam kehidupan bernegara. 6. Meningkatkan pendidikan politik secara intensif dan komprehensif kepada masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yaitu demokratis,

menghormati keberagaman aspirasi, dan menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 7. Memasyarakatan dan menerapkan prinsip persamaan dan anti diskriminatif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 8. Menyelenggarakan pemilihan umum secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas–luasnya atas dasar prinsip demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan beradab yang dilaksanakan oleh badan penyelenggara independen dan nonpartisan selambat–lambatnya pada tahun 2004. 9. Membangun bangsa dan watak bangsa (nation and character building) menuju bangsa dan masyarakat Indonesia yang maju, bersatu, rukun, damai, demokratis, dinamis, toleran, sejahtera, adil dan makmur. 10. Menindak lanjuti paradigma Tentara Nasional Indonesia dengan menegaskan secara konsisten reposisi dan redefinisi Tentara Nasional Indonesia sebagai alat negara dengan mengoreksi peran politik Tentara Nasional Indonesia dalam bernegara. Keikutsertaan Tentara Nasional Indonesia dalam merumuskan kebijaksanaan nasional dilakukan melalui lembaga tertinggi negara Majelis Permusyawaratan Negara. a. Politik luar negeri 1. Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional, menitikberatkan pada solidaritas antar negara berkembang, mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa–bangsa, menolak Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html penjajahan dalam segala bentuk, serta meningkatkan kemandirian bangsa dan kerja sama internasional bagi kesejahteraan rakyat. 2. Dalam melakukan perjanjian dan kerja sama internasional yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak harus dengan persetujuan lembaga perwakilan rakyat. 3. Meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri maupun melakukan diplomasi pro-aktif dalam segala bidang untuk membangun citra positif Indonesia di dunia internasional, memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap warga negara dan kepentingan Indonesia serta memanfaatkan setiap peluang positif bagi kepentingan nasional. 4. Meningkatkan kualitas diplomasi guna mempercepat pemulihan ekonomi dan pembangunan nasional, melalui kerjasama ekonomi regional maupun

internasional dalam rangka stabilitas, kerjasama, dan pembangunan kawasan. 5. Meningkatkan kesiapan Indonesia dalam segala bidang untuk menghadapi perdagangan bebas, terutama dalam menyongsong pemberlakuan AFTA, APEC, dan WTO. 6. Memperluas perjanjian ekstradisi dengan negara–negara sahabat serta

memperlancar prosedur diplomatik dalam upaya melaksanakan ekstradisi bagian bagi penyelesaian perkara pidana. 7. Meningkatkan kerja sama dalam segala bidang dengan negara tetangga yang berbatasan langsung dan kerjasama kawasan ASEAN untuk memelihara stabilitas pembangunan dan kesejahteraan. b. Penyelenggara negara 1. Membersihkan penyelenggara negara dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme dengan memberikan sanksi seberat–beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, meningkatkan efektivitas pengawasan internal dan fungsional serta pengawasan masyarakat dengan mengembangkan etik dan moral.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 2. Meningkatkan kualitas aparatur negara dengan memperbaiki kesejahteraan dan keprofesionalan serta memberlakukan sistem karier berdasarkan prestasi dengan prinsip memberikan penghargaan dan sanksi. 3. Melakukan pemeriksaan terhadap kekayaan pejabat dan pejabat pemerintahan sebelum dan sesudah memangku jabatan dengan tetap menjunjung tinggi hak hukum dan hak asasi manusia. 4. Meningkatkan fungsi dan keprofesionalan birokrasi dalam melayani masyarakat dan akuntanbilitasnya dalam mengelola kekayaan negara secara transparan bersih, dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan. 5. Meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil dan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menciptakan aparatur yang bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, bertanggung jawab profesional, produktif dan efisien. 6. Memantapkan netralisasi politik pegawai negeri dengan menghargai hak–hak politiknya. c. Komunikasi, informasi, dan media massa 1. Meningkatkan pemanfaatan peran komunikasi melalui media massa modern dan media tradisional untuk mempercerdas kehidupan bangsa memperkukuh persatuan dan kesatuan, membentuk kepribadian bangsa, serta mengupayakan keamanan hak pengguna sarana dan prasarana informasi dan komunikasi. 2. Meningkatkan kualitas komunikasi di berbagai bidang melalui penguasaan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi guna memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global. 3. Meningkatkan peran pers yang bebas sejalan dengan peningkatan kualitas dan kesejahteran insan pers agar profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi etika pers, supremasi hukum, serta hak asasi manusia. 4. Membangun jaringan informasi dan komunikasi antar pusat dan daerah serta antar daerah secara timbal balik dalam rangka mendukung pembangunan nasional serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 5. Memperkuat kelembagaan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana penerapan khususnya di luar negeri dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional di forum internasional. d. Agama 1. Memantapkan fungsi, peran dan kedudukan agama sebagai landasan moral, spiritual, dan etika dalam penyelenggaraan negara serta mengupayakan agar segala peraturan perundang–undangan tidak bertentangan dengan moral agama. 2. Meningkatkan kualitas pendidikan agama melalui penyempurnaan sistem pendidikan agama sehingga lebih terpadu dan integral sehingga sistem pendidikan nasional dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. 3. Meningkatkan dan memantapkan kerukunan hidup antar umat beragama sehingga tercipta suasana yang harmonis dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan melalui dialog antar umat beragama dan pelaksanaan pendidikan beragama secara deskriptif yang tidak dogmatis untuk tingkat Perguruan Tinggi. 4. Meningkatkan kemudahan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya, termasuk penyempurnaan kualitas pelaksanaan ibadah haji, dan pengelolaan zakat dengan memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan. 5. Meningkatkan peran dan fungsi lembaga–lembaga keagamaan dalam ikut mengatasi dampak perubahan yang terjadi dalam semua aspek kehidupan untuk memperkokoh jati diri dan kepribadian bangsa serta memperkuat kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. e. Pendidikan 1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya nilai–nilai universal termasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html mendukung terpeliharanya kerukunan hidup bermasyarakat dan membangun peradaban bangsa. 2. Merumuskan nilai–nilai kebudayaan Indonesia, sehingga mampu memberikan rujukan sistem nilai terhadap totalitas perilaku kehidupan ekonomi, politik, hukum dan kegiatan kebudayaan dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional dan peningkatan kualitas berbudaya masyarakat. 3. Mengembangkan sikap kritis terhadap nilai–nilai budaya dalam rangka memilah–milah nilai budaya yang kondusif dan serasi untuk menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan. 4. Mengembangkan kebebasan berkreasi dalam berkesenian untuk mencapai sasaran sebagai pemberi inspirasi bagi kepekaan rasa terhadap totalitas kehidupan dengan tetap mengacu pada etika, moral, estetika dan agama, serta memberikan perlindungan dan penghargaan terhadap hak cipta dan royalti bagi pelaku seni dan budaya. 5. Mengembangkan dunia perfilman Indonesia secara sehat sebagai media massa kreatif yang memuat keberagaman jenis kesenian untuk meningkatkan moralitas agama serta kecerdasan bangsa, pembentukan opini publik yang positif dan peningkatan nilai tambah secara ekonomi. 6. Melestarikan apresiasi nilai kesenian dan kebudayaan tradisional serta menggalakan dan memberdayakan sentra–sentra kesenian untuk merangsang berkembangnya kesenian nasional yang lebih kreatif dan inovatif sehingga menumbuhkan rasa kebanggaan nasional. 7. Menjadikan kesenian dan kebudayaan tradisional Indonesia sebagai wahana bagi pengembangan pariwisata nasional dan mempromosikannya ke luar negeri secara konsisten sehingga dapat menjadikan wahana persahabatan antar bangsa. 8. Mengembangkan pariwisata melalui pendekatan sistem yang utuh dan terpadu bersifat interdisipliner dan partisipatoris dengan menggunakan kriteria ekonomis, teknis, ergonomis, sosial budaya, hemat energi, melestarikan alam dan tidak merusak lingkungan.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html Kedudukan dan Peranan Perempuan. 1. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan keadilan gender. 2. Meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan kaum perempuan, dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Pemuda dan Olahraga 1. Menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup, yang harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olah raga di sekolah dan masyarakat. 2. Meningkatkan usaha pembibitan dan pembinaan olahraga prestasi harus dilakukan secara sistematis dan komprehensif melalui lembaga–lembaga pendidikan sebagai pusat pembinaan di bawah koordinasi masing–masing organisasi olahraga termasuk organisasi penyandang cacat bersama-sama dengan masyarakat demi tercapainya sasaran yang membanggakan di tingkat internasional. 3. Mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda dalam

mengaktualisasikan segenap potensi, bakat, dan minat dengan memberikan kesempatan dan kebebasan mengorganisasikan dirinya secara bebas dan merdeka sebagai wahana pendewasaan untuk menjadi pemimpin bangsa yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, patriotis, demokratis, mandiri dan tanggap terhadap aspirasi rakyat. 4. Mengembangkan minat dan semangat kewirausahaan di kalangan generasi yang berdaya saing, unggul dan mandiri. 5. Melindungi segenap generasi muda dari bahaya distruktif terutama bahaya penyalahgunaan narkotika, obat–obat terlarang dan zat adiktif lainnya (narkoba)

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html melalui gerakan pemberantasan dan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyalahgunaan narkoba. Pembangunan Daerah. 1. Secara umum Pembangunan Daerah adalah sebagai berikut : 1. Mengembangkan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab dalam rangka pemberdayaan masyarakat, lembaga ekonomi, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga keagamaan, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh masayrakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Melakukan pengkajian tentang berlakunya otonomi daerah bagi daerah propinsi, daerah kabupaten, daerah kota dan desa. 3. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan ekonomi daerah. 4. Mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani dan nelayan melalui penyediaan prasarana, pembangunan sistem agribisnis, indutri kecil dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan penguasaan teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam. 5. Mewujudkan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil dengan mengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasi perizinan dan investasi serta pengelolaan sumber daya. 6. Memberdayakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka melaksanakan fungsi dan perannya guna memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. 7. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah sesuai dengan potensi dan kepentingan daerah melalui penyediaan anggaran pendidikan yang memadai. Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 8. Meningkatkan pembangunan di seluruh daerah terutama di kawasan timur Indonesia, daerah perbatasan dan wilayah tertinggal lainnya dengan berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. 2. Secara khusus pengembangan otonomi daerah di dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonedia, adalah untuk menyesuaikan secara adil dan menyeluruh permasalahan di daerah yang memerlukan penanganan secara khusus dan bersungguh–sungguh, maka perlu ditempuh langkah–langkah sebagai berikut : 1. Daerah Istimewa Aceh - Mempertahankan integritas bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menghragai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh, melalui penetapan Daerah Istimewa Aceh sebagai daerah otonomi khusus yang diatur dengan undang–undang. - Menyelesaikan kasus Aceh secara berkeadilan dan bermartabat dengan melakukan pengusutan dan pengadilan yang jujur bagi pelanggar hak asasi manusia, baik selama pemberlakuan Daerah Operasi Militer maupun paska pemberlakuan Daerah Operasi Militer. 2. Irian Jaya - Mempertahankan integritas bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Irian Jaya, melalui penetapan daerah otonomi khusus yang diatur dengan undang–undang. - Menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia di Irian Jaya melalui proses pengadilan yang jujur dan bermartabat.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html 3. Maluku. Menugaskan Pemerintah untuk segera melaksanakan

penyelesaian konflik 42okum42 yang berkepanjangan secara adil, nyata dan menyeluruh serta mendorong masyarakat yang bertikai agar pro-aktif melakukan rekonsiliasi untuk

mempertahankan dan memantapkan integritas nasional. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. 1. Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi. 2. Meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan melakukan konservasi, rehabilitasi, dan penghematan penggunaan, dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan. 3. Mendelegasikan secara bertahap wewenang pemerintah pusat kepada

pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam secara selektif dan pemeliharaan lingkungan sehingga kualitas ekosistem tetap terjaga, yang diatur dengan undang–undang. 4. Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar–besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat 42okum, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang–undang. 5. Menerapkan 42okum4242m42–42okum4242m42 yang memungkinkan

pelestarian kemampuan pembaharuan dalam pengelolaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat balik. Implementasi di bidang pertahanan dan keamanan. 1. Menata Tentara Nasional Indonesia sesuai 42okum4242m baru secara konsisten melalui reposisi, redefinisi, dan reaktualisasi peran Tentara Nasional Indonesia sebagai alat 42okum42 untuk melindungi, memelihara dan mempertahankan Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kewarganegaraan-bayoe.blogspot.com/2010/05/politik-danstrategi-nasional.html keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap ancaman dari luar dan dalam negeri, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan memberikan darma baktinya dalam membantu menyelenggarakan pembangunan. 2. Mengembangkan kemampuan 43okum43 pertahanan keamanan rakyat semesta yang bertumpu pada kekuatan rakyat dengan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Repuiblik Indonesia sebagai kekuatan utama didukung komponen lainnya dari kekuatan pertahanan dan keamanan 43okum43 dengan meningkatkan kesadaran bela 43okum43 melalui wajib latih dan membangun kondisi juang, serta mewujudkan kebersamaan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan rakyat. 3. Meningkatkan kualitas keprofesionalan Tentara Nasional Indonesia,

meningkatkan rasio kekuatan komponen utama serta mengembangkan kekuatan pertahanan keamanan 43okum43 ke wilayah yang di dukung dengan sarana, prasarana, dan anggaran yang memadai. 4. Memperluas dan meningkatkan kualitas kerja sama bilateral bidang pertahanan dan keamanan dalam rangka memelihara stabilitas keamanan regional dan turut serta berpartisipasi dalam upaya pemeliharaan perdamaian dunia. 5. Menuntaskan upaya memandirikan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka pemisahan dari Tentara Nasional Indonesia secara bertahap dan berlanjut dengan meningkatkan keprofesionalannya, sebagi alat 43okum43 penegak 43okum, pangayom dan pelindung masyarakat selaras dengan perluasan otonomi daerah.

Tanggal Publikasi: 21 Mei 2010

Tanggal Input: 19 September 2011

http://berita2.com

Isu Fundamentalisme dan Radikalisme
Inilah 13 Isu Fundamental Yang Dibahas Presiden-Pimpinan Lembaga Negara

Hal itu disampaikan oleh Presiden dengan didampingi oleh para pemimpin lembaga negara di Istana Bogor, Kamis, seusai pertemuan yang berlangsung selama hampir empat jam itu. "Tadi di antara yang hadir menyampaikan pandangan, pemikiran dan rekomendasi bersama untuk kebaikan baik masyarakat maupun negara," kata Presiden. Isu pertama, kata Presiden, adalah mengenai empat pilar kehidupan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. "Kami sepakat bahwa menjadi kewajiban kita semua, utamanya MPR untuk terus melakukan penguatan atas implementasi empat pilar tersebut," katanya. Kedua, kata Kepala Negara, adalah mengenai pemekaran wilayah. "Semua berpendapat bahwa moratorium yang kita jalankan sekarang ini (penting) untuk evaluasi sebelum kebijakan tentang pemekaran itu dilanjutkan," katanya. Presiden berharap rencana besar dan rencana utama dari pemekaran wilayah itu dapat dilanjutkan pada 2010 berdasarkan evaluasi tersebut. "Grand design dan master plan itu akan dikonsultasikan dengan DPR dan DPD untuk menjadi tolok ukur saat harus melakukan pemekaran wilayah," ujarnya. Kemudian, isu yang ketiga adalah mengenai perdagangan bebas. Menurut Presiden, ada keperluan untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut mengenai topik tersebut guna melindungi kepentingan rakyat Indonesia tanpa harus mencederai apa yang telah menjadi kesepakatan bersama di kawasan. Isu keempat, kata Presiden, adalah mengenai stabilitas harga. Kepala Negara memaparkan bahwa pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan untuk mengantisipasi kenaikan harga sehingga rakyat tidak mengalami beban yang tidak semestinya. "Kelima adalah mengenai kesiapan pemilu 2014. Belajar dari pengalaman pemilu 2009 lalu maka kami sepakat untuk mempersiapkan segalanya dengan baik," katanya. Oleh karena itu, kata Presiden, UU tentang Pemilu dan UU politik lain diharapkan telah selesai dua tahun sebelum pemilu dilaksanakan. Selanjutnya isu keenam, kata Tanggal Publikasi: 13 Setember 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://berita2.com Presiden, adalah tentang amandemen UUD. "Kami berpendapat bahwa sebuah perubahan UUD haruslah berangkat dari kehendak rakyat, meskipun telah diatur dalam UUD kita mengenai mekanisme perubahan itu," katanya. Lalu isu ketujuh adalah mengenai Pilkada. Presiden dan para pimpinan lembaga negara berharap Pilkada berjalan makin efisien, efektif dan tidak menjadi suatu praktik politik biaya tinggi. "Kedelapan adalah pemberantasan mafia hukum. Semua mendukung langkah itu dengan catatan diperlukan komunikasi terus menerus antara Satgas Pemberantas Mafia Hukum dengan rakyat sehingga laporan rakyat yang mengalir segitu banyak, bisa dijelaskan mana yang tepat untuk ditindaklanjuti dan hasilnya seperti apa," ujarnya. Lebih lanjut, Presiden mengatakan isu ke sembilan adalah mengenai ujian nasional. Kepala Negara mengatakan bahwa pemerintah telah merespon keputusan Mahkamah Agung tanpa mengorbankan mutu dari pendidikan nasional. Sementara itu sejumlah UU yang memiliki sensitivitas tinggi seperti UU kebebasan beragama dan pornografi menjadi topik ke sepuluh yang dibahas antara Presiden dan para pimpinan lembaga negara. Tiga isu yang terakhir adalah mengenai penertiban hakim, peningkatan kualitas pertanggungjawaban keuangan negara dan pilihan kehidupan tata negara Indonesia. Terkait peningkatan kualitas pertanggungjawaban keuangan negara, Presiden menyambut baik inisiatif Ketua BPK untuk membangun sistem elektronik audit sehingga ada "link and match" antara lembaga pemerintah dan BPK sehingga sejak dini telah dapat ditelusuri jika ditemukan ketidakwajaran. Sementara itu mengenai pilihan kehidupan tata negara, Kepala Negara menggarisbawahi sistem kabinet presidensiil yang menjadi pilihan Indonesia. "UU tentang `impeachment` (pemakzulan) jelas sekali, dalam UUD ada pasal 7, dalam keadaan apa seorang presiden dan wakil presiden bisa mendapatkan impeachment. Semua sudah diatur dalam UUD kita. Oleh karena itu sepatutnya kita memahami tentang kandungan dari UUD kita, dan sebagai konstitusionalis, kita harus menjalankan UUD itu dengan sebenar-benarnya," katanya.

Tanggal Publikasi: 13 Setember 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://berita2.com http://kemenag.go.id Hadir dalam pertemuan itu antara lain Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqqoddas, Ketua Mahkamah Agung Harifin Tumpa, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua BPK Hadi Purnomo dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Sementara itu Presiden Yudhoyono didampingi oleh antara lain Wakil Presiden Boediono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa serta Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.(*un) Tanggal Publikasi: 13 Setember 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id

DIBALIK ISTILAH RADIKALISME Oleh : A. Dibalik istilah Radikalisme Apa arti sebuah nama? Kalimat ini sering di ucapkan oleh orang-orang, seakanakan memberikan pengertian nama bukan hal yang penting. Tapi coba anda bayangkan apa yang terjadi jika semua orang tidak punya, atau memiliki nama yang sama? Kita akan merasakan betapa pentingnya sebuah nama.

Demikian pula dengan “nama ” Islam Radikal, Islam militan, Islam fundamentalisme, semua itu akan sangat berpengaruh pada citra kelompok yang dilabeli nama tersebut. Istilah radikalisme yang sekarang mulai gencar didengungkan pasti bukan tanpa sebab dan tujuan. Isu perang melawan teroris yang diusung oleh Amerika yang sejatinya perang melawan Islam dan kaum muslimin, belum bisa menyentuh kelompokkelompok gerakan pemikiran yang sekarang mulai dikhawatirkan. Karena yang berkembang sampai saat ini, orang dapat dianggap teroris dia harus terkait dengan kekerasan. Sulit menuduh orang sebagai teroris jika tidak terkait dengan tindak kekerasan secara langsung maupun tidak, sehingga sah untuk perangi atau “dihabisi”.

Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id Sehingga membutuhkan isltilah baru agar kelompok atau orang islam yang memperjuangkan agamanya secara pemikiran , “sah” untuk diperangi. Karena gerakan Islam Radikal (gerakan pemikiran) inilah yang sebenarnya menjadi ancaman jangka panjang. Dalam kamus politik AS saat ini, Islam radikal, Islam militan, Islam fundamentalis, memang masuk daftar musuh Barat yang utama yang wajib diberantas.

Kamus Webster memaknai radikal sebagai hal yang mendasar, mengakar, menuju atau dari akar. Perubahan yang radikal, misalnya, adalah perubahan yang mendasar, sangat besar, sehingga mencapai situasi baru yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. radikalisme adalah cara-cara menyelesaikan persoalan sampai ke akar-akarnya sehingga “tuntas” betul, yang muncul dalam bentuk-bentuk mengubah secara total, membongkar, meruntuhkan, “menjebol”.

Kamus Umum Belanda-Indonesia yang dikarang S. Wojowasito mendefinisikan “radicaal” sebagai (1) mendalam hingga ke akarnya, (2) ekstrim, (3) berpendirian amat jauh. Secara bahasa term-term ‘terorisme’, ‘fundamentalisme’, ‘militan’, dikalangan akademisi relatif dapat sepakat. Namun setelah masuk pada arti secara istilah di kalangan mereka kemudian banyak perbedaan yang sulit menemukan kata sepakat, bahkan dapat dikatakan mustahil.

Radikalisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang dirugikan oleh fenomena sosio-politik dan sosiohistoris. Gejala praktek kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala sosial-politik ketimbang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keagamaan.

Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebutralan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Sebaliknya, kelompok-kelompok kecil umat Islam yang fanatik dan mengarah kepada benturan dan kekerasan juga menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan radikalisme yang dilakukan oleh Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id sekelompok orang, termasuk Muslim, merupakan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan kemanusiaan.

Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme yang lain. Diantara faktor-faktor itu adalah :

1. Faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaprah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat.

2. Faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walaupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.

3. Faktor kultural ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural di dalam masyarakat selalu ditemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaringjaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negerinegeri dan budaya Muslim.

Oleh karena itu, kini, sepatutnyalah mengembangkan prinsip-prinsip moderat dalam Islam. Penegakkan kebenaran harus dilakukan dengan jalan kebenaran pula, bukan dengan kekerasan. Kemauan untuk menghormati agama lain adalah perwujudan sikap moderat. Sikap moderat seperti ini tidak berarti kita tidak konsisten terhadap agama, melainkan penghormatan akan hak seseorang. Islam moderat memiliki semangat mencari kebenaran dan mendialogkannya. Pantang menggunakan kekerasan dalam menegakkan kebenaran. Lebih bersikap terbuka ketimbang keras kepala, baik untuk menerima kebenaran yang ada dan bersamasama membangun sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan

B. Radikalisme islam Indonesia Radikalisme Islam adalah fenomena historis-sosiologis. Masalahnya banyak dibicarakan dalam wacana politik dan peradaban global. Memang, praktek radikalisme yang dilakukan umat beragama tidak dibenarkan karena bertentangan dengan pesanpesan moral yang terkandung dalam agama dan moralitas manapun.

Penggunaan istilah radikalisme Islam seringkali bermasalah dan stigmatis karena bermakna pejoratif dengan memberikan gambaran yang buruk, citra negatif, dan menyudutkan orang atau kelompok tertentu yang diidentifikasi sebagai Islam radikal. Karenanya, radikalisme Islam selalu harus dilihat secara proporsional

Tetapi, apa yang perlu dilihat adalah bahwa Islam sebagai agama sangat menjunjung tinggi perdamaian. Hal ini bukan saja ada dalam normativitas teks wahyu dan sunnah tetapi termanifestasi dalam sejarah Islam awal. Islam secara normatif dan historis (era Nabi) sama sekali tidak pernah mengajarkan praktek radikalisme. Islam tidak memiliki keterkaitan dengan gerakan radikal, bahkan tidak ada pesan moral Islam yang menunjuk kepada ajaran radikalisme baik dari sisi normatif maupun historis kenabian. Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id mencari perdamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama.

Sejarah radikalisme Islam Indonesia ada sejak Kartosuwirjo memimpin operasi 1950-an di bawah bendera Darul Islam (DI). Setelah DI, Komando Jihad (Komji) pada 1976 meledakkan tempat ibadah. Tahun 1977 Front Pembebasan Muslim Indonesia melakukan hal sama. Dan tindakan teror oleh Pola Perjuangan Revolusioner Islam, 1978.

Radikalisme Islam Indonesia lahir dari hasil persilangan Mesir dan Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi terbukti memengaruhi. Pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala garis keras. Sampai 1970-1980-an ikut menyemangati perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam. Juga, Fron Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia.

Istilah radikalisme Islam kian menguat tak hanya pada matra tekstualitas agama. Persentuhan dengan dunia kini, menuntut adanya perluasan gerakan. Mulai dari sosio ekonomi, pendidikan hingga ranah politik.

Mungkin, di sinilah letak kekuatan radikalisme Islam Indonesia. Semakin melekat dalam setiap segmentasi sosial, semakin susah dibendung. Ia pandai membaca ruang sosial yang tak cepat lekang. Karena memahami setiap ruang akan menghantarkan radikalisme mencipta mentalitas kultural.

Dari sini ideologi radikal tampak begitu dekat dengan permainan kuasa. Menempuh jalur politik diyakini dapat menghantarkan Islam pada kondisi lebih tinggi. Yaitu, mimpi formalisasi syari’ah dan terbentuknya negara Tuhan. Kaum radikal terus berjuang untuk syariah dan berdirinya negara Tuhan. Baik melalui lobi-lobi politik maupun fundamental-ideologis. Ironisnya, Islam hanya dijadikan pendasaran politik kepentingan. Padahal dalam praktiknya, teror, anarki dan kekerasan secara bergantian dilakukannya. Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id Kajian mengenai Islam dan terutama di Indonesia, terus menjadi sorotan dan kajian dari kalangan akademisi dan mereka yang konsen pada isu tersebut. Islam di Indonesia nampaknya memiliki daya tarik tersendiri, terutama dengan berbagai isu yang belakangan menjadi persoalan dunia internasional. Terjadinya beberapa aksi kekerasan dengan peledakan bom yang menawaskan ribuan nyawa, hampir semua aktornya dituduhkan kepada komunitas muslim. Oleh karena itu bangsa-bangsa di dunia sampai saat ini masih mencitrakan Indonesia sebagai “sarang teroris”.

Mengapa di tengah arus utama Islam yang moderat di Indonesia (utamanya, NU dan Muhammadiyah), muncul sekelompok Muslim sebagai teroris?Pencitraan negatif ini nampaknya menjadi perhatian serius dari tokoh muslim Indonesia dan tokoh muslim Asia Selatan. Berbagai upaya dilakukan untuk menghapus citra negatif ini termasuk mendiskusikannya dengan tokoh muslim dari Asia Selatan. Umat Islam di Asia Selatan seperti Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, Srilangka dan sekitarnya juga merupakan negara-negara yang dianggap sebagai sarang teroris. Sehingga dengan kesamaan pencitraan ini, tokoh-tokoh muslim baik dari Indonesia maupun dari Asia Selatan bertekad untuk menghapuskannya dengan cara mengkaji secara bersama-sama dan mendialogkan pengalaman keberagamaan masing-masing untuk dicarikan solusinya. kriteria ‘Islam radikal’ diantaranya adalah 1. Kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung; 2. Dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka, 3. Secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas 4. Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan. Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id

C. Radikalisme Positif dan Negatif

Secara semantik, radikalisme ialah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, cet. th. 1995, Balai Pustaka). Dalam Ensiklopedi Indonesia (Ikhtiar Baru – Van Hoeve, cet. 1984) diterangkan bahwa “radikalisme” adalah semua aliran politik, yang para pengikutnya menghendaki konsekuensi yang ekstrim, setidak-tidaknya konsekuensi yang paling jauh dari pengejawantahan ideologi yang mereka anut. Dalam dua definisi ini “radikalisme” adalah upaya perubahan dengan cara kekerasan, drastis dan ekstrim.

Adapun dalam Kamus Ilmiyah Populer karya Pius A Partanto dan M. Dahlan AlBarry (penerbit Arkola Surabaya, cet. th. 1994) diterangkan bahwa “radikalisme” ialah faham politik kenegaraan yang menghendaki adanya perubahan dan perombakan besar sebagai jalan untuk mencapai taraf kemajuan. Dalam definisi terakhir ini “radikalisme” cenderung bermakna perubahan positif.

Oleh karena itu, pandangan positif dan negatifnya terhadap radikalisme tentunya terletak pada cara merealisasikan dan mengekspresikannya serta dasar pandang para pengamatnya. Biasanya kaum establishment amat alergi dengan isu radikalisme, berhubung kaum radikal amat gigih menuntut adanya perubahan sosial politik yang berarti pula akan sangat tajam mengoreksi kalangan statusquo.

Keinginan adanya perubahan sosial – politik masih dianggap wajar dan positif bila disalurkan melalui jalur perubahan yang benar dan tidak mengandung resiko instabilitas politik dan keamanan.

Dalam makna ini, radikalisme adalah wacana sosial – politik yang positif. Adapun perubahan yang cepat dan menyeluruh (revolusi), selalu diikuti oleh kekacauan politik dan anarkhi, sehingga menghancurkan infra struktur sosial – politik bangsa dan negara Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id yang mengalami revolusi tersebut. Dalam makna ini, radikalisme adalah sebagai pemahaman yang negatif dan bahkan dapat pula dikatagorikan sebagai bahaya laten ekstrim kiri ataupun kanan

D. Radikalisme dikalangan Kaum Muslimin

Radikalisme dalam makna yang positif adalah keinginan adanya perubahan kepada yang lebih baik. Dalam istilah agama disebut ishlah (perbaikan) atau Tajdid (pembaharuan). Adapun radikalisme dalam makna negatif adalah sinonim dengan makna ekstrimitas, kekerasan dan revolusi. Dalam istilah agama disebut ghuluw (melampaui batas) atau ifrath (keterlaluan). Kedua kutub makna yang amat bertolak belakang ini berakibat munculnya dua kutub gerakan keagamaan yang konfrontatif di Dunia Islam. Di sinilah letak kerancuan generalisasi Radikalisme Islam dalam makna serba negatif sehingga semangat Islamo Phobia memperoleh tempat penyalurannya. Karena tidak dapat membedakan antara Radikalisme Islam dalam makna positif dengan Radikalisme dalam makna negatif. Kedua semangat Radikal tersebut disamakan, karena keduanya menghendaki perubahan total sosial – politik bangsa dan negaranya. Walaupun perbedaan keduanya sangatlah konfrontatif dan tidak mungkin dipertemukan dari sisi mana pun. Radikalisme ekstrim pertama kali muncul di zaman akhir masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu `anhu, dalam bentuk gerakan yang dipimpin Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi dari negeri Yaman yang masuk Islam di AlMadinah An-Nabawiyah dan kemudian menebarkan fitnah di kalangan kaum Muslimin tentang keutamaan Ali menduduki jabatan Khilafah lebih dari Abu Bakar, Umar dan Utsman) bersama dua ribu pengikutnya yang menghendaki untuk digantinya Usman bin Affan dari kedudukannya sebagai Khalifah (kepala negara) dengan Ali bin Abi Thalib radliyallahu `anhu.

Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kemenag.go.id Karena Ali lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam di banding Utsman. Kelompok Abdullah bin Saba’ berhasil membunuh Khalifah Utsman, dan negara dalam kekacauan yang amat serius, sehingga para Shahabat Nabi mendesak Ali bin Abi Thalib untuk memangku jabatan Khalifah untuk menghindari ancaman kehancuran negara. E. Analisis Agama bukanlah dasar untuk melakukan kekerasan, melainkan mengajarkan kasih sayang. Ini seperti tugas kenabian Muhammad: “Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus untuk menyepurnakan akhlak” (innama bu’istu li utammi makarim al akhlaq). Jika kita melakukan kekerasan, maka pantaslah kita bertanya; di mana akhlak atau moral kita? Agama selalu mengajarkan solusi paling maslahat untuk mencegah terjadinya kerusakan. Harus dipahami bahwa watak agama sangat arif, bijak, dan damai seperti yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw. Islam memang memberi peluang untuk melakukan kekerasan, tetapi itu tidak boleh melampaui batas (la ta’tadu). Bahkan ada sebuah kaidah fiqh yang menyatakan al-dhararu la yuzalu bi al-dharara (kerusakan itu tidak bisa dihilangkan dengan kerusakan yang lain) Wallahu a’lam bi al shawwab. Tanggal Publikasi: 31 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://pakuan.com Radikalisasi Liberalisme dan Terorisme Oleh : Asrob Terorisme adalah salah satu ancaman nyata terhadap kehidupan dunia global. Dinamika ekonomi politik bisa mengalami guncangan yang tidak kecil dan mampu menciptakan rasa ketidakamanan pada masyarakat luas. Upaya-upaya menangani masalah terorisme sudah melibatkan berbagai kalangan di tingkat nasional dan internasional. Upaya-upaya komprehensif negara harus ditopang oleh kerja sama seluruh komponen bangsa dengan memperhatikan konteks lingkungan global yang menyebabkan kemunculan aksi terorisme. Memahami konteks lingkungan global akan membantu menciptakan strategi kebijakan komprehensif penanganan masalah terorisme oleh negara dan masyarakat. Tanggal Publikasi: 9 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://pakuan.com Gelombang Radikalisme Radikalisme sebagai paham yang ingin mengubah sistem secara drastis melalui kekerasan, dalam diskursus umum masyarakat, sering hanya disematkan pada kelompok- kelompok identitas keagamaan tertentu. Kondisi ini tidak lepas dari wacana dominan yang dikampanyekan negara- negara Barat tentang perang melawan terorisme, terutama terhadap Osama bin Laden dan Al-Qaeda. Namun radikalisme sebagai pemahaman dan tindakan politik sering berlangsung pada berbagai gerakan sosial nonkeagamaan, seperti kelompokkelompok sosialis Leninis FARC di Kolombia atau partai komunis di Filipina.Kelompokkelompok sosialis Leninis tersebut menggunakan perlawanan senjata dan teror untuk menciptakan efek destabilitas politik. Lebih jauh lagi,radikalisme bukan saja merupakan paham dari aliran kelompok kelompok minoritas semata, tetapi juga dipraktikkan oleh kelompok mayoritas. Sosiolog Anthony Giddens (2009) melihat kelompok mayoritas ini merupakan pengemudi dari transformasi global yang membawa kepentingan-kepentingan industri kapitalisme. Gelombang radikalisasi liberalisme global dilakukan oleh kelompok negara-negara industrialis maju dengan melakukan tekanan masif terhadapbanyaknegaraberkembang dunia. Tekanan masif yang muncul sebagai paket sistem ekonomi politik liberal, termasuk di dalamnya adalah demokrasi, pasar bebas, dan hak asasi manusia. Pada saat bersamaan tekanan masif ini dibersamai oleh dominasi modal ekonomi dan kekuatan militer yang mengontrol negaranegara berkembang di Asia, Afrika,dan Timur Tengah. Bagi kelompok-kelompok Islam berhaluan keras, tekanan masif dan dominasi AS di seluruh bidang telah merusak identitas dan sistem asali Islam (syariat Islam). Isu-isu kebebasan dan kesetaraan sosial menjadi salah dimensi ideologis yang panas diperdebatkan dan ditolak oleh kelompokkelompok Islam garis keras. Seperti peran kepemimpinan perempuan dalam politik, masalah homo seksual, dan gaya hidup keseharian. Isu ketidakadilan dalam tata kelola global (global governance) juga menjadi masalah yang sangat panas dan menjadi salah satu sebab fundamental lahirnya kelompokkelompok radikalis dan teroris global. Contohnya penindasan Israel pada Bangsa Palestina yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa termasuk perempuan dan anak-anak. Belum lagi ketertindasan politik dan identitas yang tidak mendapatkan pembelaan dari negara-negara Barat dan AS. Tanggal Publikasi: 9 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://pakuan.com Sebaliknya AS terus membantu Israel secara politik dan persenjataan untuk menekan dan menindas bangsa Palestina. Anthony Giddens melalui buku klasiknya, Beyond Left and Right: The Future of Radical Politics (1994), telah mengingatkan bahwa tekanan masif transformasi global yang tak terkontrol proses bergeraknya akan mendapatkan respons identitas dalam bentuk serangan balik melawan “ketidakpastian”. Radikalisasi liberalisme dan kapitalisme industri oleh kelompok negara-negara kapitalis maju menciptakan efek manufactured uncertainty, yaitu keadaan masyarakat yang mengalami ketidakpastian atas identitas yang utuh dan konkret karena dinamika rumit dan penuh daya tekanan ekspansi industrialisme. Jika negara-negara dunia tidak mampu mengontrol gelombang radikalisasi liberalisme global, respons dari kelompok- kelompok identitas yang ingin mempertahankan atau melawan tekanan masif tersebut bisa muncul dalam serang-serangan membabi buta. Terorisme merupakan salah satu varian dari respons identitas tersebut. Kebijakan Transformatif Kekerasan melahirkan kekerasan dan radikalisme melahirkan radikalisme adalah adagium populer dalam studi konflik. Aktor yang mampu mengontrol gelombang radikalisasi liberalisme global, seperti yang dinyatakan Giddens, adalah negara dan kebijakan-kebijakan transformatif humanistisnya, yaitu kebijakan yang mampu mengarahkan kepastian perubahan sosial, membangun kesejahteraan dan keadilan sosial. Pada konteks keindonesiaan, negara belum berhasil sempurna dalam menciptakan kebijakan transformatif humanistis tersebut. Faktor penghalang sering kali berkaitan dengan visi dan komitmen kerakyatan para elite dalam struktur kekuasaan yang cukup lemah. Terutama para elite di lingkungan lembaga perwakilan rakyat (DPR) yang tidak saja rendah kualitas profesionalismenya sebagai legislator, tetapi juga fenomena lepasnya prinsip representasi suara rakyat dari praktik politik mereka. Kasus terakhir kunjungan anggota Komisi VIII DPR ke Australia menjadi bukti rendahnya kadar profesionalisme sebagai legislator. E-mail untuk menyerap aspirasi rakyat saja tidak punya.

Tanggal Publikasi: 9 Mei 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://pakuan.com http://lazuardibirru.blogspot.com/2009/08/penge rtian-fundamentalisme-radikalisme.html Pada sisi lain, berbagai kebijakan seperti studi banding dan pembangunan gedung baru yang menyedot dana besar adalah bukti terlepasnya para elite tersebut dari aspirasi rakyatnya.Seruan Presiden pun bahkan diabaikan. Para wakil rakyat sebaiknya segera berbenah diri dengan meningkatkan profesionalisme dan mengambil posisinya sebagai representasi suara rakyat. Pada saat bersamaan pemerintahan eksekutif di bawah Presiden SBY harus mampu merumuskan kebijakan transformatif humanistis. Di antaranya kebijakan di bidang pendidikan yang menekankan aspek transformasi kesadaran anti kekerasan dan radikalisme, kebijakan pemantapan aspek hukum (UU tentang Antiterorisme), dan kebijakan keamanan melalui pemberantasan selsel teroris oleh kepolisian. Satu kebijakan umum selain itu tentunya berkaitan dengan pembangunan sosial ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran yang sering menjadi ladang perekrutan anggota teroris. Tanggal Publikasi: 9 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://lazuardibirru.blogspot.com/2009/08/penge rtian-fundamentalisme-radikalisme.html Pengertian Fundamentalisme, Radikalisme dan Radikalisme Islam Oleh : Lazuardi

Beberapa tahun belakangan ini, isu radikalisme agama sangat menguat dan mengguncangkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kelompok agama fundamental berjuang sekuat tenaga dan dengan segala cara, memperjuangkan visi dan misi mereka, tanpa peduli akan kenyataan dalam masyarakat bahwa bangsa ini adalah pluralis. Mereka bahkan berkeinginan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.

Fundamentalisme adalah sebuah gerakan dalam sebuah aliran, paham atau agama yang berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas (fondasi).Paham fundamentalisme keagamaan adalah paham politik yang

Tanggal Publikasi: 27 Agustus 2009

Tanggal Input: 19 September 2011

http://lazuardibirru.blogspot.com/2009/08/penge rtian-fundamentalisme-radikalisme.html dianut suatu negara atau pemerintahan, dimana agama dijadikan sebagai basis ideologi dan dimana agama dipakai sebagai pusat pemerintahannya dan pemimpin tertinggi negara tersebut haruslah seorang petinggi agama.

Peristiwa Radikalisme Islam Radikalisme, terutama yang berkedok agama Islam menjadi perhatian luas masyarakat internasional, termasuk kaum agamawan, seiring dengan merebaknya serangkaian aksi kekerasan sejak peristiwa Black Tuesday World Trade Center (WTC) 11 September 8 tahun yang lalu. Dan Indonesia juga sempat menjadi ajang unjuk gigi aksi terorisme seperti yang terjadi dalam pengeboman Hotel JW Marriot, tragedi Legian Bali, kasus Poso di Sulawesi dan lain-lainnya.

Aksi tak berperikemanusiaan ini gagal dicegah oleh aparat keamanan sehingga orang-orang yang tak berdosa kehilangan nyawa mereka terus bertambah. Mari kita ingat kembali proses pengadilan kasus kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah aktivis FPI (Front Pembela Islam), salah satu paham radikalisme Islam, dalam peristiwa "1 Juni" di lapangan Monas Jakarta telah membuahkan sejumlah kekerasan baru. Setelah drama intimidasi terhadap sejumlah aktivis Aliansi Kebangsaan bagi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), antara lain Nong Darol Mahmada dan Muhammad Guntur Romly, belakangan terjadi tawuran antara aktivis FPI dengan aktivis Banser Ansor, kelompok pengamanan organisasi di bawah payung Nahdlatul Ulama (NU).

Kelompok ini diduga bergerak atas permintaan dari aktivis AKKBB yang membutuhkan perlindungan keamanan. Menurut K.H. Hasyim Muzadi, Ketua Umu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), mengungkapkan bahwa munculnya radikalisme dalam Islam disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pengertian seseorang terhadap Islam dan penyalahgunaan Islam untuk perorangan. Kedua, Islam digunakan sebagai pembenaran tanpa mengakui eksistensi agama yang lain.

Tanggal Publikasi: 27 Agustus 2009

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kompas.com Kelompok radikal mengklaim (truth claim) agama dan kelompoknya yang paling benar. Radikalisme Islam bahkan berakar jauh dalam sejarah, yakni sejak Khulafaurrasyidin dengan pecahnya Islam menjadi beberapa kelompok seperti Khawarij, Syiah, Mu’tazilah dan sebagainya. K.H. Hasyim Muzadi juga berkata bahwa terorisme sesungguhnya terkait dengan beberapa masalah mendasar, antara lain, pertama, adanya wawasan keagamaan yang keliru. Kedua, penyalahgunaan simbol agama. Ketiga, lingkungan yang tidak kondusif yang terkait dengan kemakmuran dan keadilan. Kempat, faktor eksternal yaitu adanya perlakuan tidak adil yang dilakukan satu kelompok atau negara terhadap sebuah komunitas. Akibatnya, komunitas yang merasa diperlakukan tidak adil bereaksi. Dominasi Amerika atas kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya telah merusak tatanan umat Islam. Baginya, Amerika merupakan simbol hegemoni Barat yang harus dilawan karena telah melakukan dominasi kerusuhan di dunia Islam. Setidaknya kata Jaenuri, Amerika dan sekutunya telah merusak kedamaian Islam di Palestina dan negara-negara Islam di penjuru dunia. Sementara Syafi’i mengungkapkan bahwa gejala radikalisme agama yang berkembang di masyarakat ditandai oleh beberapa hal. Pertama, adalah kecenderungan untuk menafsirkan teks secara leterlek dengan mengabaikan konteks. Kedua, adanya orientasi pada penegakan syariah, atau syariah minded. Dan ketiga, adalah adanya kecenderungan anti pluralisme. Kecenderungan seperti ini menampakkan adanya pengaruh gerakan salafisme dari Timur Tengah. Tanggal Publikasi: 27 Agustus 2009 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kompas.com

Pancasila, Jaminan sosial dan Gugatan Warga Negara.
“Pancasila, di dalam negeri dicerca, dan di luar negeri dipuja. Syeikh Ali Zainuddin ulama beraliran syiah Durz Libanon memuji Pancasila karena dapat mempersatukan

Tanggal Publikasi: 13 Mei 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

http://kompas.com Indonesia yang memiliki penduduk plural dari segi suku dan agama” demikian tulis Moch Eksan, S.Ag seorang penulis, dalam wall facebooknya hari ini, Jum’at 13 Mei 2011. Ungkapan diatas tentu menarik, ketika dikait dengan isu “perbedaan agama, Terorisme, Radikalisme di Indonesia yang akhir-akhir ini mulai mendapatkan porsi yang lebih-untuk tidak mengatakan lebay- dari media massa baik cetak maupun elektronik dibandingkan dengan isu sosial lainya seperti kemiskinan, mahalnya biaya kesehatan, pengangguran, gaji murah dan seabrek masalah sosial lainya. Betapa tidak, media telah menyuguhkan kepada publik dengan gamblang bahwa Ideologi pancasila telah tergerus dan mulai ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Digantikan oleh ideologi impor dari luar Negeri. Lihat misalnya Peristiwa kekerasan terhadap Ahmadiyah, bom bunuh diri oleh M. Syarif, isu NII hingga rencana perayaan kemerdekaan Israel oleh komunitas yahudi di Indonesia. Kalau mau jujur, sebenarnya Negaralah yang paling bertanggung jawab atas ironi ini. Secara gamblang, Negara telah mengajarkan kepada masyarakat dan bangsanya untuk tidak mengamalkan dan memegang teguh nilai-nilai pancasila. Mulai dari sila pertama, hingga sila terakhir pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh Indonesia, sama sekali tidak di Indahkan oleh Negara. Inilah bentuk nyata, bahwa di tinggalkanya pancasila justru dicontohkan oleh para pejabat Negara sendiri. Presiden RI dan jajaranya, bahkan Anggota DPR RI. Jaminan sosial, sebagai implementasi dari Pancasila dan UUD 1945 misalnya. Hingga hari ini belum pernah dilaksanakan dan diberikan oleh Negara secara merata kepada rakyat Indonesia. Padahal secara aturan hal ini telah di Undangkan dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada masa Megawati Soekarno Putri, tujuh tahun silam. Isu jaminan sosial, bagi saya jauh lebih menarik dan fundamental tenimbang membincang dan memperkarakan isu perbedaan agama, terorisme, dan radikalisme sebagaimana diawal tulisan ini singgung. Karena, sebagaimana mafhum instabilitas nasional itu terjadi semata-mata disebabkan oleh tidak meratanya/tidak adanya kesejahteraan sosial. Hal demikian sebagai akibat tidak ada jaminan sosial bagi warga negara. Tanggal Publikasi: 13 Mei 2011 Tanggal Input: 19 September 2011

http://kompas.com Kecendrungan masyarakat Indonesia berbuat destruktif semisal korupsi, kriminalisasi dan segala bentuk kejahatan lainya adalah karena ketakutanya tidak bisa hidup sejahtera. Takut menjadi miskin, takut gajinya tidak cukup untuk hidup, takut tidak bisa membayar biaya sakit, pendidikan dan segala ketakutan lainya. Hal demikian tidak perlu terjadi, jika Negara yang dipimpin saat ini oleh SBY mempunyai polical will untuk memberikan jaminan sosial kepada seluruh rakyat dengan memberikan Jaminan sosial secara Nasional kepada seluruh rakyat Indonesia. Jaminan kematian, jaminan kesehatan, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kecelakaan kerja sebagaimana amanat pancasila. Akibat dari kelalain Negara tidak memeberikan jaminan sosial sebagaimana UU No. 40 tahun 2004 inilah beberapa elemen masyarakat yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) mulai 10 Juni 2010 lalu melayangkan Gugatan Warga Negara (GWN) terhadap Presiden RI, Wakil Presiden, Ketua DPR RI dan delapan kementrian terkait di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dan hingga saat ini setiap hari Rabu sidangnya masih berjalan. Masyarakat tentu menunggu dan berharap cemas putusan seperti apa yang akan diberikan oleh majelis hakim. Meskipun, Nasib jaminan sosial di Indonesia tidak serta merta ditentukan oleh putusan majelis hakim PN Jakarta Pusat dalam kasus ini, namun hal ini telah dilihat dan dikonsumsi masyarakat secara luas. Kapankah negara Indonesia memberikan jaminan sosial untuk rakyatnya?

Tanggal Publikasi: 13 Mei 2011

Tanggal Input: 19 September 2011

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful