You are on page 1of 8

LAPORAN PSIKIATRI

HOME VISIT
Pasien Ny. Rohani Alamat : Gg. Jafar RT.05 Dasan Tapen Gerung

Disusun oleh : BAIQ HOLISATUL ISMIANA H1A 005 007

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITRAAN KLINIK DI BAG/SMF PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI NTB 2011

LAPORAN PSIKIATRI PASIEN HOME VISIT

I.

IDENTITAS PASIEN : Ny. Rohani : Perempuan : 46 tahun : Islam : Sasak : SD (lulus) : IRT : Menikah : Gg. Jafar RT.05 Dasan Tapen Gerung : 04/02/2011 :16/02/2011 :21/02/2011 dan 12/03/11

Nama Jenis Kelamin Umur Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Status Menikah Alamat MRS Terakhir Tanggal Keluar Tanggal Home Visit II. 1.

RIWAYAT PSIKIATRIK Keluhan utama pasien saat dirawat di RSJ terakhir kali Marah-marah tanpa sebab, mengamuk (menghancurkan barang-barang).

2.

Riwayat gangguan sekarang (Alloanamnesa dengan suami dan anak ke-2 pasien) Pasien sampai saat ini telah 3 kali MRS di RSJ. MRS terakhir disebabkan karena pasien marah-marah tanpa sebab, kemudian menghancurkan perabotan yang ada dirumah. Keluhan muncul sejak 2 hari sebelum MRS terakhir. Menurut suami, keluhan muncul secara tibatiba. Pasien memarahi suami dan anak-anaknya. Pasien sudah lama memang tidak pernah kontrol ke RSJ dan meminum obat. Keluarga merasa kesulitan untuk mengajak pasien untuk kontrol karena pasien selalu marah jika diajak kontrol. Menurut keluarga, keluhan ini memang sudah sejak lama (sejak tahun 1998) dan tiap kali MRS selalu dengan keluhan yang sama.

Pada mulanya keluhan muncul karena pasien cemburu dan selalu mencurigai suami berselingkuh. Menurut anak pasien yang kedua, pasien mencurigai semua wanita yang ada di kampungnya terutama tetangga didepan rumahnya. Sehingga, hubungan dengan tetanggatetangganya kurang baik. Pasien seringkali cek-cok dengan tetangga. Pasien memang sering cemburu kepada suami sejak awal pernikahan, bahkan sejak kecil anak pasien selalu disuruh menemani suami pasien kemanapun suaminya pergi agar pasien selalu bisa tahu kemana suaminya pergi dan menemui siapa. Keadaan tersebut diperberat dengan kondisi ekonomi keluarga yang makin menurun sejak suami pasien pensiun tahun 2000. Selain itu, menurut suami, pasien makin tidak mau mendengarkan apa kata suami sejak pasien mengikuti pengajian dari guru spiritualnya. Guru spiritualnya itu selalu mengajarkan bahwa setiap masalah itu harus diatasi dengan beberapa amalan dan doa. Dan istri sangat patuh terhadap guru spiritualnya tersebut. (Autoanamnesa) Pasien merasa dirinya tidak sakit. Pasien tidak mengakui dirinya marah-marah dan mengamuk dirumah sebelum dibawa ke RSJ. Pasien merasa hanya marah biasa kepada suami seperti pertengkaran rumah tangga biasanya. Sejak dirawat pertama kali, pasien memang merasa ada yang mengganggu pikirannya. Pasien merasa suaminya berselingkuh dengan tetangganya sejak hamil anak yang ke-3. Pasien mengaku melihat sendiri suami kerumah tetangganya dan curiga suami berselingkuh karena merasa suami setiap kali mau pergi kerja juga izin kepada tetangganya. Menurut pasien, suami diguna-guna oleh tetangga sehingga berselingkuh seperti itu. Pasien dapat menceritakan kronologis kecurigaan perselingkuhan suaminya tersebut secara detail. Pasien juga mengaku sejak masalah itu, pasien sering berguru (ikut pengajian kepada guru spiritualnya). Gurunya selalu mendengarkan dan memberi solusi-solusi berupa doa-doa, sedangkan suaminya tidak percaya kepada apa yang dikatakan guru pasien. Pasien juga merasa saat ini tidak ada aktivitas. Dulu pasien memiliki kios. Namun setelah pasien sakit dan suami pensiun, suami os tidak mengijinkan membuka kios lagi. (Menurut suami, suami takut kalau pasien tidak bisa mengurus kios karena sakit sehingga berjualan atau membuka kios hanya akan menyebabkan kerugian dan makin memperberat ekonomi keluarga).

Saat merasakan keluhan, pasien merasa wajah wanita (tetangga yang berselingkuh dengan suami) memasuki wajahnya dan seperti berbicara menghina pasien. Sehingga pasien kemudian merasa pusing dan ingin marah. Sejak pulang MRS terakhir, pasien tidak mau tinggal dirumah suami yang berhadapan dengan tetangga yang dicurigai selingkuh dengan suami karena pasien ingin menenangkan diri.

3.

Riwayat gangguan sebelumnya       Pasien pertama kali dirawat di RSJ tahun 1998. Sampai saat ini pasien telah 3 kali dirawat di RSJ dengan gangguan yang sama. Riwayat kejang sebelum gangguan (-). Riwayat demam sebelum gangguan (-). Riwayat trauma kepala sebelum gangguan (-). Riwayat hipertensi dan Diabetes Mellitus (-).

4.

Riwayat kehidupan pribadi Berdasarkan keterangan keluarga, pasien lahir normal dan melalui perkembangan masa kecil yang sesuai dengan anak normal lainnya. Tidak ada keterlambatan pertumbuhan maupun perkembangan yang dikeluhkan keluarga. Pasien juga tidak pernah menderita sakit berat yang mengharuskannya dirawat inap di rumah sakit. Pasien mengenyam pendidikan hanya sampai bangku SMP kelas 1. Saat SMP pasien berhenti sekolah karena alasan tidak ada biaya. Selama remaja, pasien merupakan remaja yang aktif dan mampu bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan dan teman-temannya. Selain itu, pasien memang dikenal sebagai pribadi yang keras dan pemarah. Dan ini berlangsung sampai pasien telah berumah tangga hingga sekarang. Pasin menikah dengan suaminya sekarang saat usianya 18 tahun, sedangkan suaminya berusia 38 tahun (beda usia 20 tahun). Saat itu suami pasien sudah berstatus duda cerai tanpa anak. Namun status tersebut tidak dipermasalahkan oleh pasien. Pasien dan suaminya menikah dengan masa pacaran yang sangat singkat yaitu hanya 1 bulan. Dan pernikahan ini

memang sedikit banyak ada campur tangan keluarga (walaupun tidak dijodohkan), karena pasien awalnya dikenalkan oleh bibinya dengan suami pasien sekarang. Menurut suami, hubungan pasien dengan tetangganya kurang baik. Pasien mencurigai suaminya berselingkuh dengan tetangga depan rumah pasien. Sehingga pasien memlih untuk tinggal dirumah peninggalan orangtuanya setelah pulang MRS terakhir.

5.

Riwayat keluarga  Riwayat keluarga gangguan jiwa (+). Keponakan pasien (anak dari kakak pasien) menderita gangguan jiwa sudah lebih dari 5 tahun, dan pernah dibawa ke RSJ dan Panti Sosial di Selebung namun menurut keluarga tidak ada perubahan. Dahulu setelah berobat di RSJ pernah sembuh 1 kali, namun putus obat kemudian kambuh lagi, dan saat ini keluarganya merasa sudah putus asa mengobatinya. Saat ini wanita dengan gangguan jiwa itu dikurung dalam suatu kamar (tidak diikat) karena takut jika nanti keluyuran dan hilang. Keponakan pasien yang menderita gangguan jiwa ini kontrol dan mengambil obat di Puskesmas, namun obat diberikan hanya saat mengamuk, karena keluarga tidak mampu membeli obat setiap minggu.  Pasien merupakan anak ke 4 dari 8 bersaudara. Ibu pasien menikah dua kali. Pasien merupakan anak dari suami Ibu yang pertama. Dari suami ke-2, Ibu pasien tidak mendapatkan anak. Saat ini orangtua pasien sudah meninggal.  Hubungan pasien dengan saudaranya (kakak pertama) yang tinggal disebelah rumah yang ditempatinya sekrang (rumah peninggalan orangtuanya) tidak baik. + 2 minggu setelah pulang MRS terakhir, pasien berkelahi dengan kakaknya karena pasien selalu marah-marah dan merasa benar, pasien tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang lain walaupun nasehatnya baik.   Pasien memiliki 1 orang suami dan 4 orang anak. Hubungan pasien dengan suami kurang baik, os sering bertengkar dengan suami. Sedangkan hubungan pasien dengan anak-anaknya cukup baik.

6.

Situasi sosial sekarang  Sebelum MRS terakhir, pasien tinggal dirumahnya yang tidak cukup luas + 6x7 m, terdiri dari 3 kamar utama yang berukuran kecil dan 1 ruang tamu, kamar mandi

terletak diluar rumah. Saat itu pasien tinggal bersama suami dan ketiga anaknya (anak ke-2, anak ke-3, dan anak ke-4). Anak pertama pasien saat ini tinggal di Kalimantan untuk bekerja.   Rumah pasien dengan tetangga tidak berdempetan. Hubungan dengan tetangga sekitarnya, terutama tetangga didepan rumah pasien kurang baik karena pasien merasa curiga bahwa suami pasien berselingkuh dengan tetangga didepan rumah pasien. Sehingga setelah pulang MRS terakhir, pasien tinggal sendiri dirumah peninggalan orang tuanya. Rumah tersebut terdiri atas hanya 1 kamar berukuran + 3,5x2,5 m.  Sumber pendapatan keluarga hanya berasal dari uang pensiunan suami. Sedangkan anak pasien masih ada yang bersekolah, sehingga suami merasa sulit memenuhi kebutuhan keluarga.

III. IDENTIFIKASI KELUARGA PASIEN Keluarga inti pasien terdiri dari suami, pasien (sebagai istri), dan 4 orang anak. Suami os berusia 66 tahun, dulunya bekerja sebagai seorang guru namun saat ini sudah pensiun. Anak pertama laki-laki berusia 27 tahun dan saat ini tinggal di Kalimantan untuk bekerja. Anak kedua laki-laki berusia 25 tahun lulusan Analis Gizi dan baru saja diterima sebagai CPNS. Anak ketiga perempuan berusia 15 tahun saat ini masih bersekolah di SMK kelas II, dan anak terakhir perempuan berusia 9 tahun saat ini masih duduk di bangku SD kelas IV.

IV. SOSIAL EKONOMI Rumah yang ditinggali pasien adalah rumah milik sendiri. Rumah tersebut tidak cukup luas dengan halaman yang sangat sempit. Rumah beratapkan genteng dan berlantai semen. Perabotan yang ada dirumah hanya seadanya. Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi keluarga menurun karena suami telah pensiun, sedangkan sumber pendapatan keluarga hanya berasal dari uang pensiunan suami. Anak pasien masih ada yang bersekolah, sehingga keluarga merasa sulit memenuhi kebutuhannya.

V.

DESKRIPSI PASIEN GANGGUAN JIWA YANG BERADA DALAM RADIUS 1 KM DARI DAERAH PASIEN Di sekitar lingkungan tempat tinggal pasien dalam radius + 1 km, terdapat 2 orang yang mengalami gangguan jiwa. Yang pertama adalah seorang laki-laki muda yang diceritakan suka keluyuran dan berbicara sendiri, namun tidak pernah dibawa berobat ke RSJ oleh keluarganya. Dan yang kedua adalah seorang wanita muda berusia > 20 tahun, yang merupakan keluarga pasien sendiri, dan sudah menderita gangguan jiwa lebih dari 5 tahun, dan pernah dibawa ke RSJ dan Panti Sosial di Selebung namun menurut keluarga tidak ada perubahan. Saat ini wanita dengan gangguan jiwa itu dikurung dalam suatu kamar (tidak diikat) karena takut jika nanti keluyuran dan hilang.

VI. SIKAP

KELUARGA

TERHADAP

ANGGOTA

KELUARGANYA

YANG

DIPERSEPSIKAN MENDERITA GANGGUAN JIWA Keluarga inti yaitu suami dan anak-anak pasien mendukung pasien dan masih optimis bahwa pasien bisa sembuh. Selain dengan mengajak pasien untuk kontrol berobat ke RSJ, mereka mendukung pasien dengan cara sering mengajak mengobrol, menanyakan keluhankeluhan dan sering mengajak pasien pergi bersilaturrahmi kerumah keluarga yang lain. Namun beberapa keluarga lain (kakak pasien yang pertama dan istrinya) ragu akan kesembuhan pasien karena mereka merasa pasien tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang lain walaupun itu untuk kebaikan. Sehingga mereka merasa kurang peduli akan kesembuhan pasien saat ini.

VII. TANGGAPAN KELUARGA SETELAH ADA ANGGOTA KELUARGA YANG DIRAWAT RSJ Keluarga inti tidak merasa malu memiliki keluarga yang dirawat di RSJ. Keluarga menyadari sepenuhnya bahwa pasien sedang sakit dan perlu perawatan khusus di RSJ untuk penyakitnya. Hanya saja keluarga diluar keluarga inti kadang-kadang merasa terganggu jika pasien sedang kambuh. Jika gangguan jiwa muncul, pasien seringkali mengumpat dan marah-marah kepada semua orang, sehingga keluarga menjadi malu.

VIII. TANGGAPAN

KELUARGA

TERHADAP

PASIEN

YANG

MENGALAMI

GANGGUAN JIWA DAN USAHA PENGOBATAN Menurut keluarga, pasien gangguan jiwa semakin lama semakin meningkat. Perhatian dan kepedulian dari keluarga diperlukan untuk proses penyembuhan pasien-pasien gangguan jiwa tersebut. Dan bentuk perhatian tersebut salah satunya adalah dengan membawa pasien gangguan jiwa ke RSJ agar diobati secara tepat.

IX. TINDAKAN PEMASUNGAN PENDERITA GANGGUAN JIWA Menurut keluarga, tindakan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa sebenarnya tidak diperlukan, apabila pasien mau berobat, minum obat secara teratur, dan pasien dalam keadaan tenang. Namun jika kelakuan pasien sudah meresahkan masyarakat disekeliling pasien, mungkin tindakan pemasungan perlu dilakukan.

X.

KENDALA DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI KELUARGA TERKAIT PENANGANAN ANGGOTA KELUARGANYA YANG DIPERSEPSIKAN

MENDERITA GANGGUAN JIWA 1. Pasien sulit untuk diajak kontrol dan minum obat karena : Pasien bosan minum obat setiap hari, dan menginginkan obat injeksi agar pasien tidak perlu minum obat setiap hari. Pasien tidak merasa sakit. Pasien mengetahui efek obat yang diminum membuat pasien mengantuk, sehingga pasien harus diam dirumah saja. Sedangkan pasien tidak suka duduk diam dirumah dan tidak melakukan aktifitas. 2. Hubungan pasien dengan tetangga (lingkungan) kurang baik karena pasien selalu merasa curiga terhadap tetangganya.