You are on page 1of 30

Kebersihan Diri Infeksi kulit karena bakteri, kotoran mata dan infeksi jamur adalah semua infeksi yang

berhubungan dengan kebersihan yang kurang terjaga. Menjaga tubuh anda tetap bersih menurunkan resiko tertular infeksi dan terkena infeksi, dan mencegah masalah lain seperti bau, pembusukan gigi dan nafas yang tidak baik. Berikut adalah prosedur dasar kesehatan yang baik untuk dilakukan sehari-hari: Mandi
 

 

Mandi secara menyeluruh dengan Sabun Dettol dengan formula baru, untuk perlindungan setiap hari. Tambahkan Cairan Antiseptik Dettol ke air bak mandi anda setiap hari untuk membantu membunuh kuman dan meningkatkan perlindungan anda terhadap infeksi dan penyakit. Ganti pakaian dalam, stocking dan kaos kaki setiap hari. Ganti secara teratur dan cuci semua pakaian.

Merawat
     

Sikat gigi anda dua kali sehari, termasuk sebelum anda tidur. Cuci dan sisir rambut anda secara teratur Jaga kuku tetap pendek dan bersih. Jangan berbagai barang pribadi seperti sikat gigi, pisau cukur atau kosmetik Hindari menyentuh mata, hidung atau mulut anda dengan tangan yang tidak tercuci. Gunakan Cairan Antiseptik Dettol dan Krim Pencukur Dettol ketika mencukur.

Jika anda memiliki bau badan atau bau nafas yang terus menerus meskipun kesehatan anda baik, tanyakan ke dokter anda untuk minta bantuan.
http://www.dettol.co.id/topic_germs_3.html

*Skripsi
8 Votes GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA T ENTANG KEBERSIHAN DIRI PADA LANSIA DI DESA WAKED KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN WALED KAB. CIREBON SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian Sarjana pada program studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon CERIA MARTIWI 4201.0104.A.025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN CIREBON 2008 LEMBAR PENGESAHAN Judul : GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG KEBERSIHAN DIRI PADA LANSIA DI DESA WALED KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN WALED KABUPATEN CIREBON TAHUN 2008 Penyusun : Ceria Martiwi N I M : 420.0104.A.025 Cirebon, Juli 2008 Pembimbing Utama (Agus Setiawan Skp, M. Kep)

Pembimbing II (Rachmawaty Neny T.Skep) SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CIREBON PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN 2008 CERIA PERTIWI 4201.0104.A.025 GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG KEBERSIHAN DIRI PADA LANSIA DI DESA WAKED KOTA DUSUN KAMPUNG BARU KECAMATAN WALED KAB. CIREBON TAHUN 2008. 5 Bab; 8 diagram ; 82 halaman; 29 lampiran ABSTRAK Pengetahuan merupakan hasil tahu, ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Pengetahuan terbagi dalam kategori baik, cukup dan kurang. Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku dan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri, rambut, mata, telinga, kuku dan kulit. Pada lansia di atas usia 60 tahun yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Dengan menggunakan total sampel. Besar sampel menggunakan rumus product moment person dan penelitian dilakukan pada tanggal 11 Mei – 11 Juni 2008. Hasil penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia, kebanyakan responden memiliki pengetahuan dalam kategori kurang (44,2%), cukup (38,2%) dan baik (17,6%). Saran tingkatkan motivasi keluarga dalam menambah pengetahuan tentang lansia yang berhubungan dengan kebersihan diri, beri perhatian khusus untuk meningkatkan kesehatan yang optimal, lakukan kerjasama dengan keluarga dalam meningkatkan kemampuan merawat diri,agar fasilitasi keluarga dalam menjalankan perannya sebagai pendorong keluarga,khususnya mengenai personal higiene, motivasi keluarga dalam menjalankan perannya dalam merawat lansia, fasilitasi keluarga dalam meningkatkan pengetahuannya mengadakan penyuluhan kesehatan atau dengan jalan mengunjungi dari rumah ke rumah, lakukanlah tindak lanjut penelitian tentang hubungan pengetahuan keluarga dalam menjaga kebersihan diri pada lansia dan hubungan pengetahuan terhadap sikap keluarga dalam menjaga kebersihan diri pada lansia. Keyword engetahuan Keluarga, Kebersihan Diri Lansia . Referensi : jumlah (6 buku; 3 website). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit. Upaya

ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan. Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan keluarga akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997). Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana kita tinggal serta faktor-faktor pribadi (Steven et al,2002). Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya (Siburia,2002). Sejalan dengan kemunduran fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan diri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah: 1. Tingkat Pengetahuan 2. Kondisi fisik lansia dan psikis lansia 3. Faktor-faktor ekonomi 4. Faktor budaya 5. Faktor lingkungan 6. Faktor citra tubuh 7. Faktor peran keluarga Kebersihan diri didukung oleh pengetahuan dan sikap keluarga yang memadai, pengetahuan tentang kebersihan diri didapat masyarakat dari membaca buku-buku tentang kesehatan. Dengan demikian pengetahuan dan sikap yang baik terhadap kebersihan diri menjadi penting karena dapat membantu terbentuknya kebersihan diri yang baik. Semua itu tentunya harus di dukung dengan pengetahuan keluarga dalam memenuhi kebersihan lansia. Pengetahuan kebersihan diri sangat dibutuhkan oleh setiap individu dalam mempertahankan kebiasaan hidup yang sesuai dengan kesehatan dan akan menciptakan kesejahteraan serta kesehatan yang optimal, dengan melakukan keperawatan kesehatan diri. Karena dari pengalaman dan penelitian terhadap praktek yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 1997). Perawat mempunyai peranan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri, yaitu sebagai family advocacy. Perawat berperan sebagai pendamping bagi keluarga baik bagi lansia maupun keluarganya ketika dihadapkan pada suatu masalah termasuk dalam hal kebersihan diri, perawat sebagai conselor perawat di mana perawat dapat memberikan ide atau pendapat kepada lansia dan kepada keluarga sebagai pelaksana asuhan keperawatan. Perawat memberikan asuhan dengan kebutuhan perawat sebagai pendidikan memberikan pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Berdasarkan pengamatan penulis dari beberapa anggota keluarga yang ada di kelurahan Waled kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon khususnya pada lansia yang tinggal dengan keluarganya memiliki kuku yang panjang dan kotor, memiliki gigi kotor dan berlubang, pakaian tidak rapi dan memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Bahkan dari 7 keluarga yang penulis pantau kebersihannya menunjukkan tiga dari tujuh keluarga yang berlatar belakang dari keluarga mampu yang tinggal dengan anggota keluarganya lebih dari dua belas jam dalam sehari didapatkan kondisi lansia yang tak terurus, di mana terlihat kondisi kulit yang kering, bersisik, kondisi rambut

yang acak-acakan, lengket dan kotor, kuku kaki dan tangan yang panjang dan kotor, pakaian yang digunakan kusut, kotor dan sedikit bau sedangkan terdapat dua lansia yang bersih. Kondisi ini ditunjukkan dengan kulit yang tak kering karena sudah diberi pelembab sebelumnya. Rambut yang tersisir dan tertata rapi, kuku kaki dan tangan bersih dan telah terpotong rapi. Bagi lansia yang masih mempunyai gigi terlihat gigi yang bersih dan tak bau. Dan pakaian yang digunakan pun tak terlihat kusut, kotor dan bau. Dari lansia yang kebersihan dirinya kurang terlihat bahwa mereka jarang diingatkan oleh anggota keluarganya. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan diri pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti rumusan masalahnya adalah: “Bagaimana Gambaran Pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon”? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon tentang kebersihan diri pada lansia. 2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan rambut pada lansia yang ada di desa Waled kota dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan mata pada lansia yang ada di desa Waled Kota Dusun Kampung Baru kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 4. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan telinga pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 5. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan mulut pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru kecamatan Waled Kabupaten.Cirebon. 6. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan kuku pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 7. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga terhadap kebersihan kulit pada lansia yang ada di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon. 1.4 Kegunaan Penelitian 1. Bagi instansi kesehatan Diharapkan dapat menambah pengetahuan perawat geriatri dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang tinggal dengan keluarga mengenai kemampuan merawat diri pada lansia. 2. Bagi instansi pendidikan Diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan menambah Wawasan diri pada bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu Kesehatan keperawatan dalam penyusunan asuhan keperawatan keluarga Dengan kemampuan merawat lansia.

3. Bagi peneliti Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kemampuan menggali tentang permasalahan dan perawatan diri lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon tahun 2008. 4. Bagi keluarga Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan oleh pihak keluarga untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan pada lansia. 1.5 Kerangka Konsep Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah : 1. faktor Pengetahuan 2. Kondisi fisik lansia dan psikis lansia 3. Faktor-faktor ekonomi 4. Faktor budaya 5. Faktor lingkungan 6. Faktor citra tubuh 7. Faktor peran keluarga Dalam penelitian ini tidak semua faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan diri pada lansia yang diteliti, tetapi dibatasi pada pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia, mengingat pengetahuan cukup berpengaruh pada kebersihan lansia, secara skematis kerangka pemikiran penulis tampilkan dalam skema sebagai berikut : Diagram 1.1 Kerangka Pemikiran Pengetahuan Keluarga Tentang Kebersihan Diri pada Lansia di Desa Waled Kota Dusun Kampung Baru Kecamatan Waled Kab. Cirebon. Keterangan : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebersihan Diri 1. Devinisi Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy, 1997). 2. Jenis Kebersihan Diri 1. Kebersihan rambut 2. Kebersihan gigi dan mulut 3. Kebersihan mata 4. Kebersihan telinga 5. Kebersihan kuku 6. Kebersihan kulit 3. Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Kebersihan Diri Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah :

1. Faktor Pengetahuan Menurut Purwanto (1999) dalam Friedman (1998), domain kognitif berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat intelektual (cara berpikir, berabstraks, analisa, memecahkan masalah dan lain-lain). Yang meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comperehension), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation). Individu dengan pengetahuan tentang pentingnya kebersihan diri akan selalu menjaga kebersihan dirinya untuk mencegah dari kondisi / keadaan sakit (Notoatmodjo, 1998). 2. Kondisi Fisik Lansia dan Psikis Lansia Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang lain (Nugroho, 2000). Menurut Zainudin (2002) penurunan kondisi psikis pada lansia bisa disebabkan karena Demensia di mana lansia mengalami kemunduran daya ingat dan hal ini dapat mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri), dimulai dari bangun tidur, mandi berpakaian dan seterusnya. 3. Faktor Ekonomi Menurut Geismer dan La Sorte (1964) dalam Friedman (1998), besar pendapatan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menyediakan fasilitas dan kebutuhankebutuhan yang diperlukan untuk menunjang hidup dan kelangsungan hidup keluarga. 4. Faktor Budaya Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan hygiene. Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan perawatan diri (Potter dan Ferry, 2005). 5. Faktor Lingkungan Lingkungan mencakup semua faktor fisik dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup lingkungan berpengaruh terhadap kemampuan untuk meningkatkan dan mempertahankan status fungsional, dan meningkatkan kesejahteraan (Potter dan Ferry, 2005) 6. Faktor Citra Tubuh Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 1999 dalam Setiadi 2005). 7. Faktor Peran Keluarga Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat setiap anggotanya begitu juga status kesehatan dari setiap individu mempengaruhi bagaimana fungsi unit keluarga dan kemampuan untuk mencapai tujuan. Pada saat kepuasan keluarga terpenuhi tujuannya melalui fungsi yang adekuat, anggota keluarga tersebut cenderung untuk merasa positif mengenai diri mereka sendiri dan keluarga mereka (Potter dan Ferry, 2005). 2.2 Lansia 1. Pengertian Menua (menjadi tua = aging ) menurut (Constantinides,1994 dalam Setiadi 2005) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita . Dalam bukunya Hardywinoto (2005) mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut

usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Di Indonesia pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola lansia, memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan dengan pemberian KTP seumur hidup. (Zainuddin, 2002) 2. Batasan Lanjut Usia Menurut dokumen perkembangan lanjut usia dalam kehidupan bangsa Yang diterbitkan oleh Departemen sosial dalam rangka pencanangan hari lanjut usia nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Presiden RI. Batas umur lanjut usia adalah 60 tahun atau lebih. (Setiabudi,1999 dalam Setiadi 2005). 3. Proses Menua Penuaan merupakan proses yang secara berangsur mengakibatkan perubahan kumulatif dan mengakibatkan perubahan diadakan yang berakhir dengan kematian. Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel,akibat interaksi sel dengan lingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan degeneratif. Menurut H.P.Von Hahn (1975) dalam Hardywinoto (2005), karateristik proses penuaan merupakan suatu proses biologis yang kompleks, yang terdiri dari : 1) Adanya perubahan dalam tubuh yang terprogram oleh jam biologis (biological clock ). 2) Terjadi aksi dari zat metabolik akibat mutasi spontan, radikal bebas dan adanya kesalahan di molekul DNA . 3) Perubahan terjadi di dalam sel dapat primer akibat gangguan sistem penyatuan pertumbuhan atau secara sekunder akibat pengaruh dari luar sel. 4. Permasalahan Lanjut Usia Menurut Nugraha (2000), permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik,biologi, mental, maupun sosial ekonomi. Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. 2.3 Keluarga 1. Pengertian Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlawanan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal di sebuah rumah tangga (Suprajitno, 2004 dalam Setiadi 2005). Menurut Departemen kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal dalam satu di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Pembagian tipe keluarga bergantung pada konteks keilmuwan dan orang yang mengelompokkan menurut (Friedman,1998 dalam Setiadi 2005)tipe keluarga tradisional ada dua, yaitu : 1) Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi atau keduanya. 2) Keluarga besar (estended family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga yang lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek, nenek, paman, bibi). 2. Fungsi Keluarga Fungsi keluarga menurut (Friedman ,1998 dalam Setiadi 2005).adalah : 1) Fungsi Afektif (The affective function)

Fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial keluarga. 2) Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (sosialisation and social placement fungtion) Fungsi pengembangan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah. 3) Fungsi Reproduksi (reproductive function) Fungsi untuk mempertahankan generasi menjadi kelangsungan keluarga. 4) Fungsi Ekonomi (the economic function) Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 5) Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the healty care function) Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan. 3. Peran keluarga 1. Pengertian Peran Peran menunjukkan kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogen, yang didefinisikan dan diharapkan secara normatif dari seorang okupan dalam situasi sosial tertentu. Peran didasarkan preskripsi dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapanharapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut (Nye,1976 dalam Setiadi, 2008). Peran adalah pola, sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Beck dkk,1984; Keliat,1992). 2. Peran Keluarga Adalah seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Efendy,1998). Peran keluarga dalam perawatan kesehatan meliputi : kemampuan mengkomunikasikan gagasan dan perasaan menyusun dalam menemukan pembagian tugas keluarga, saling berpartisipasi untuk menolong anggota keluarga yang sakit (Shives,1998 dalam Friedman,1998). Peran informal mempunyai tuntunan yang berbeda, tidak terlalu didasarkan pada usia, jenis kelamin dan lebih didasarkan pada atribut-atribut personalitas atau kepribadian anggota keluarga individual. Peran-peran lain ada dan muncul ketika kebutuhan-kebutuhan keluarga berubah atau bertukar (Kievit, 2968 dalam Friedman,1998) yaitu : Beberapa contoh peran-peran informal atau tertutup yang digambarkan dalam literature (Satir,1972 dalam Friedman,1998) yaitu : 1. Peran pendorong 2. Peran pengharmonis 3. Peran inisiator-kontributor 4. Peran pendamai 5. Peran penghalang 6. Peran Dominator 7. Peran penyalah 8. Peran pengikut 9. Peran pencari pengakuan 10. Peran Matir 11. Peran keras hati 12. Peran sahabat

13. Peran kambing hitam 14. Peran penghibur 15. Peran perawatan keluarga 16. Peran pioner keluarga 17. Peran Distraktor dan orang yang tidak relevan 18. Peran koordinator keluarga 19. Peran penghubung keluarga 20. Peran saksi 21. Peran pengambil keputusan 3. Faktor Yang Mempengaruhi Peran a. Faktor Internal Faktor internal yang mempengaruhi peran adalah umur. Umur merupakan usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth, 1996 dalam Nursalam, 2001). Semakin cukup umur,tingkat keuntungan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya . hal ini sebagai akibat dari pengalaman kematangan jiwanya (Huclock,1998 dalam Nursalam,2001). b. Faktor Eksternal Salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup (Sarwono, 1997 dalam Nursalam, 2001) Makin tinggi pendidikan seseorang makin banyak pula Pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan yang kurang akan menghambat Perkembangan sikap seseorang terhadap nilainilai yang baru diperkenalkan (Kuncoroningrat, 1997 dalam Nursalam, 2001). 2.4 Personal Hygiene Lansia 1. Perawatan Rambut Penampilan dan kesejahteraan seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut sehari-sehari. Menyikat, menyisir dan bersampo adalah caracara dasar hygienis untuk semua usia. Pertumbuhan, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut. Rambut normal adalah bersih, bercahaya, dan tidak Kusut, untuk kulit kepala harus bebas dari lesi kehilangan disebabkan karena praktik perawatan yang tidak tepat atau penggunaan medikasi kemoterapi. Potter dan Perri (2005), menjelaskan mengenai masalah rambut dan kulit kepala yang sering terjadi yaitu: 1. Ketombe 2. Pediculosis (kutu) 3. pediculosis capitis (kutu kepala) 4. pediculosis corporis (kutu badan) 5. pediculosis pubis (kuku kepiting) 6. kehilangan rambut (alopesia) Poter dan Perry (2005), menjelaskan perawatan rambut Dengan beberapa cara sebagai berikut :

1. Penyikatan dan penyisiran Penyikatan yang sering membantu mempertahankan kebersihan rambut dan mendistribusikan minyak secara merata sepanjang helai rambut. Penyisiran hanya membentuk gaya rambut dan mencegah rambut kusut. Sisir bergerigi pendek cukup untuk rambut pendek,tapi sisir bergerigi tajam dan tidak beraturan dapat melukai kulit kepala. Penyikatan dan penyisiran yang menjaga rambut panjang terawat rapi. 2. Bersampo Frekuensi bersampo tergantung rutinitas pribadi sehari-hari dan kondisi rambut. Perspirasi atau pengobatan yang meninggalkan darah atau larutan pada rambut memerlukan kegiatan bersampo dan lebih sering . 3. Pencukuran Pencukuran rambut yang berada di bagian wajah dapat di lakukan setelah mandi atau bersampo. Wanita lebih menyukai untuk mencukur di kakinya atau aksila selama mandi Ketika pisau cukur di gunakan untuk bercukur, kulit harus perhalus untuk mencegah tarikan, goresan atau pemotongan. Penggunaan krim cukur atau busa sabun akan memperhalus kulit secara efektif. 4. Perawatan kumis dan jenggot Menjaga kebersihan daerah berkumis dan berjenggot sangat penting karena partikel makanan dengan mudah berkumpul di makanan. 5. perawatan mulut dan gigi Rongga mulut dilapisi dengan membran mukosa, membran merupakan jaringan epitel yang malapisi dan melindungi organ, mensekresi mukus, untuk menjaga jalan saluran sistem pencernaan diterminyaki dan mengabsorpsi nutrien. Mulut atau rongga yang terdiri dari bibir sekitar pembukaan mulut leher sepanjang dinding rongga, lidah dan ototnya dan langit-langit mulut bagian depan dan belakang membentuk akar rongga. Gigi adalah untuk mengunyah atau mastikasi. Gigi normal terdiri dari tiga bagian; kepala, leher dan akar .gigi yang sehat tampak putih, halus, bercahaya, dan berjajar rapi. Perkembangan fisiologis mulut pada lansia; gigi yang berumur menjadi rapuh, lebih kering dan berwarna lebih gelap. Gigi menjadi patah setelah bertahun-tahun digosok dan diasah. tidak rata bergerigi dan di asah. gusi kehilangan faskularitas dan elastisitas jaringan,yang menyebabkan gigi palsu kurang pas kebiasaan makan sering berubah dan malnutrisi menjadi masalah, penurunan sensitivitas rasa, penitipas mukosa dan penurunan massa dan kekuatan otot mastikasai. Hiegene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi dan bibir. Menggosok membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan, plak, dan bakteri; memasase gusi; dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Flossing membantu lebih lanjut dalam mengangkat plak dan tar-tar diantar gigi untuk mengurangi inflamasi gusi dan infeksi. Hiegene mulut yang lengkap memberikan rasa yang sehat dan selanjutnya menstimulus nafsu makan. Dua tipe masalah besar adalah karies gigi (lubang) dan penyakit periodontal. Karies gigi merupakan masalah mulut paling umum, perkembangan lubang merupakan proses patologi yang melibatkan kerusakan email gigi pada akhirnya melalui kekurangan kalsium. Kekurangan kalsium adalah hasil dari akumulasi musim, karbohidrat, basilus asam laktat pada saliva yang secara normal ditemukan pada mulut yang membentuk lapisan gigi yang disebut plak. Plak mencegah dilusi asam normal dan netralisasi yang mencegah disolusi bakteri pada rongga mulut (Potter dan Perry,2005). Penambahan penyakit sebagi berikut ; deposit kalkulus pada gigi digaris gusi, ginggipal menjadi bengkak dan perih, peradangan menyebar, pembentukan celah atau kantong antara

gusi dan ginggipal, gusi menyusut, tulang alveolar hancur dan gigi lepas (Lewis dan Kolier,1996 dalam Setiadi, 2008). 2. Perawatan Mata, Telinga dan Hidung Perhatian khusus diberikan untuk membersihkan mata, telinga dan hidung secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara terus-menerus dibersihkan air mata, dan kelopak mata, dan bulu mata mencegah partikel asing. Seseorang hanya memerlukan untuk memindahkan sekresi kering yang terkumpul kepada kantus sebelah, dalam bulu mata hygiene telinga mempunyai implikasi ketajaman pendengaran sebasea lilin atau benda asing berkumpul pada kanal telinga luar yang mengganggu konduksi suara. Khususnya pada lansia rentan masalah. Hidung memberikan temperatur dan kelembaban udara yang pernafasan dihirup serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem kumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares dapat merusak sensasi olfaktori dan pernafasan (Potter dan Perry, 2005). 3. Perawatan Kulit Kondisi kulit tergantung pada praktek hygiene dan paparan iritan lingkungan, sejalan dengan usia, kulit kehilangan layak kenyal dan kelembaban, pada kelenjar sebasea dan keringat menjadi kurang aktif. Epitalium menipis dan serabut kolagen elastik, menyusut sehingga kulit mudah pecah. Perubahan ini merupakan peringatan ketika bergerak dan mengatur posisi pada lansia. Khas kulit lansia adalah kering dan berkerut, masalah kulit yang umum yaitu kulit kering, jerawat, hirsutisme dan suam. Kulit tujuan dari membersihkan kulit dengan mandi yaitu; membersihkan kulit, stimulasi sirkulasi, citra diri, pengurangan bau badan dan peningkatan rentang gerak. Tipe mandi yang terapeutik terdiri dari mandi bak mandi air panas, mandi bak air hangat, mandi bak air dingin, berendam dan rendam duduk (Potter dan Perry, 2005). 4. Perawatan Kaki, Tangan dan Kuku Kaki dan kuku sering kali memerlukan perawatan khusus untuk mencegah infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Perawatan dapat digabungkan pada saat mandi atau pada waktu yang terpisah. Masalah yang timbul bukan karena perawatan yang salah atau kurang terhadap kaki dan tangan seperti menggigit kuku atau memotong yang tidak tepat. Pemaparan dengan zatzat kimia yang tajam dan pemakaian sepatu yang tidak pas. Ketidaknyamanan dapat mengarah pada stres fisik dan emosional (Potter dan Perry, 2005). 2.5 Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kongnitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan (Notoatmodjo, 2003). 2.5.1 Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang mencakup dalam domain kongnitif, mempunyai enam tingkatan (Notoatmodjo,2003). 1. Tahu (know), merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau dirangsang yang telah diterima. 2. Memahami (comperehension) yaitu,kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terdapat objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (application), yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

ada situasi kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan penggunaan gagasan umum, prosedur, prinsip, teknis, teori-teori yang harus diingatkan dan dilaksanakan. 4. Analisis (analiysis), yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu lain. 5. Sintestis (synthesis),yaitu menunjukkan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis ini adalah dapat menyusun, merencanakan, meringkas dan sebagainya terhadap suatu teori yang ada. 6. Evaluasi (evaluation)yaitu, kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. 2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan : Menurut Sadulloh 2003 dalam Setiabudi 2004 mengatakan bahwa pengetahuan seseorang dapat diperoleh oleh hal-hal : 1. Pengalaman Apa yang telah dan sedang kita ataupun orang lain ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya pengetahuan dan sikap. 2. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan adalah level/tingkat suatu proses yang berkaitan dalam mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuannya, nilai dan sikapnya serta keterampilannya. 3. Keyakinan Keyakinan adalah kepercayaan yang dipegang seseorang terhadap sesuatu tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu, biasanya keyakinan ini diperoleh secara turun-temurun. 4. Fasilitas Fasilitas adalah segala sesuatu yang bertujuan untuk kemudahan-kemudahan dalam mencapai tujuan, yakni sarana dan prasarana kesehatan serta sumber-sumber informasi yang berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan pengetahuan seseorang. 5. Penghasilan Penghasilan adalah apa yang telah didapat sebagai hasil dari segi penyediaan sumber-sumber informasi dan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan sarana dan prasarana yang ada. 6. Sosial Budaya Sosial budaya adalah suatu kehidupan bermasyarakat di mana seseorang hidup dan dibesarkan di lingkungan masyarakat, hal tersebut berpengaruh besar terhadap pembentukan perilaku dan pengetahuan. 2.6 Pengetahuan Personal Hygiene Lansia Menurut Kuncoroningrat (1997) dalam Nursalam (2001) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Begitu pun halnya pengetahuan lansia tentang personal hygiene. 2.7 Masalah Personal Hygiene Pada Lansia Menurut Siburian (2002) menurunnya fungsi fisiologis dan kesehatan pada lansia terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kebersihan lansia yaitu : 1) Mandi : pada lansia saat memasuki kamar mandi hendaknya tubuhnya kuat oleh pengasuhnya. Jika merasa oyong waktu sedang mandi, segera dibaringkan tanpa bantal. 2) Kebersihan mulut : lansia yang tak mandiri perlu dibantu dalam membersihkan giginya.

Jika ada gigi palsu hendaknya dibersihkan setelah habis makan dengan sikat gigi, dan untuk menghilangkan baunya maka gigi palsu direndam dalam air hangat yang telah dibubuhi oleh pembersih mulut beberapa tetes selama 5-10 menit kemudian bilas kembali sampai bersih. 3) Cuci Rambut dan kulit : kulit dan rambut pada lansia mulai mengering. Karena itu sehabis mandi kulit perlu diolesi dengan krim dan rambut perlu mendapat hair conditioner. Sehabis mandi, rambut segera dikeringkan. 4) Kuku : pada waktu menggunting kuku harus hati-hati agar tidak terjadi karena luka pada lansia, khususnya penderita diabetes melitus Lebih sukar sembuh. 5) Pakaian : pakaian lansia hendaknya terbuat dari bahan yang lunak, harus dijaga agar tetap rapi karena banyak lansia yang tidak peduli lagi terhadap pakaiannya. Warna pakaian hendaknya cerah tapi lembut, jangan memakai warna yang mencolok karena ini hanya cocok bagi anak muda, jangan pula dipilih warna hitam, karena memberi kesan sedih. 2.8 Tugas-tugas Perkembangan Lansia 2.8.1 Tugas Perkembangan Menurut Havighurst Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul dari atau pada periode tertentu dalam kehidupan individu, pencapaian yang berhasil dilakukan akan membawa kebahagiaan dan keberhasilan pada tugas-tugas yang akan datang, tetapi jika pencapaian tersebut gagal, akan membawa individu tersebut ke arah ketidakbahagiaan. Tugas perkembangan muncul dari banyak sumber. Tugas-tugas tersebut muncul dari kematangan fisik, tekanan budaya dari masyarakat dan nilai serta aspirasi pribadi. Usia lanjut adalah periode yang memuat tugas perkembangan unik yang harus dicapai. Tugas perkembangan lansia adalah mengklarifikasi, memperdalam dan menemukan fungsi seseorang yang sudah diperoleh dari proses belajar dan beradaptasi seumur hidup. Ahli teori perkembangan meyakini bahwa sangatlah penting bagi lansia untuk terus tumbuh, berkembang dan mengubah diri mereka jika ingin mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. 2.8.2 Tugas Perkembangan Lansia Menurut Ericson Teori ini menggambarkan tantangan atau kebutuhan untuk menghadapi setiap tahap dari delapan tahap pengelompokan usia dan menyatakan bahwa kekuatan ego dicapai jika setiap tahapan tersebut sudah berhasil diselesaikan. Menurut Erickon lansia dapat mengalami masalah yang berkaitan dengan identitas versus kebingungan peran. Tugas perkembangan utama dari setiap kelompok usia intergritas ogo versus keputusasaan. Integritas adalah penerimaan terhadap satu-satunya siklus kehidupan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan tidak boleh digantikan. Keputusasaan terjadi ketika terdapat kekecewaan terhadap hidup seseorang. 2.8.3 Tugas Perkembangan Lansia Menurut Peck Peck mengonseptualisasi tiga tugas yang berisi pengaruh dari hasil konflik antara integritas dan keputusasaan. 1. Perbedaan Ego versus preokupasi Peran Kerja Tugas ini membutuhkan pergeseran sistem nilai seseorang, yang memungkinkan lansia untuk mengevaluasi ulang dan mendefinisikan kembali pekerjaan mereka. Penilaian ulang mengarah lansia untuk mengganti peran yang sudah hilang dengan peran aktivitas yang bau. Selanjutnya lansia mampu menemukan cara-cara baru memandang diri mereka sendiri sebagai orang yang berguna selain peran orang tua dan okupasi. 2. Body Transendence versus Preokupasi Tubuh Sebagian besar lansia mengalami penurunan fisik. Untuk beberapa orang kesenangan dan kenyamanan berarti kesejahteraan fisik. Orang-orang tersebut mungkin mengalami kesulitan

terbesar dalam mengabaikan status fisik mereka. Orang lain memiliki psikologis dan aktivitas sosial sekalipun mereka mengalami ketidaknyamanan fisik. Peck mengatakan bahwa dalam sistem nilai, mereka sumber-sumber kesenangan sosial dan mental dan rasa menghormati diri sendiri dapat mengabaikan kesenangan fisik semata. 3. Transedensi ego versus preokupasi ego Peck mengungkapkan bahwa cara paling konstruktif untuk hidup di tahun-tahun terakhir adalah dapat didefinisikan “hidup secara dermawan dan tidak egois“ kemudian untuk mencapai integritas, seseorang harus mengembangkan kemampuan untuk mendefinisikan diri kembali, untuk melepaskan identitas okupasi, untuk bangkit dari ketidaknyamanan fisik. 2.8.4 Tugas Perkembangan Lansia Havighurst dan Duval Menurut Havighurts, usia tua masih memiliki pengalaman-pengalaman baru di depan mereka, dan situasi-situasi yang baru. Pensiun berpindah ke komunitas pensiun, menyesuaikan diri terhadap efek penyakit kronis, kehilangan pasangan dan kelompok merupakan beberapa pengalaman dan situasi-situasi yang baru. Tugas perkembangan menurut Havihurst (1) menyesuaikan diri terhadap penurunan kekuatan dan kesehatan fisik (2) menyesuaikan diri terhadap kematian pasangan (4) membentuk gabungan eksplisit dengan kelompok yang sesuai dengannya (5) membentuk kepuasan mengatur kehidupan fisik. Menurut Duvalln tugas perkembangan lansia meliputi (1) menemukan rumah yang memuaskan untuk akhir-akhir tahun kehidupan (2) menyesuaikan diri terhadap masa pensiun (3) membentuk rutinitas rumah tangga yang nyaman (4) saling menjaga satu sama lain sebagai suami istri (5) menghadapi kehilangan pasangan (6) mempertahankan hubungan dengan anak dan cucu (7) menjaga minat terhadap orang di luar keluarga. 2.8.5 Lembaga Hunian Bagi Kaum Lanjut Usia (Panti Wredha) Panti wredha adalah tempat singgah atau tempat penampungan bagi kaum lanjut usia. Apabila kondisi kesehatan, status ekonomi atau kondisi lainnya tidak memungkinkan untuk melanjutkan hidup di rumah masing-masing dan apabila mereka tidak mempunyai anak yang dapat atau sanggup merawat mereka sebaiknya para lanjut usia diharapkan lanjut usia tinggal di lembaga tempat tinggal yang dirancang khusus untuk lanjut usia. Beberapa keuntungan tinggal di dalam panti wredha antara lain : (1) terdapat kemungkinan untuk berhubungan dengan teman seusia yang mempunyai minat dan kemampuan yang sama, (2) kesempatan yang besar untuk dapat diterima secara temporer oleh teman seusia daripada orang yang lebih muda, (3) menghilangkan kesepian karena orang-orang yang berbeda dalam panti dapat dijadikan teman, (4) ada kesempatan untuk berprestasi berdasarkan prestasi di masa lalu kesempatan ini tidak mungkin terjadi dalam kelompok orang-orang muda. 2.9 Definisi Konseptual dan Operasional 1. Definisi Konseptual a. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari apa yang diketahui seseorang dan terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap objek tertentu (Notoatmodjo,1993). Pengetahuan yang dicakup domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu : tahu (C1), kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu : tahu (C1), memahami (C2), aplikasi (C3), sintesis (C5) dan evaluasi (C6). (Notoatmodjo.2007). b. Kebersihan Diri Kebersihan diri adalah individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata telinga, kuku Kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy,1998). c. Keluarga Menurut Departemen kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang

terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal dalam satu di satu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan d. Lansia Menurut Hardywinoto (2005), mengatakan yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. 2. Definisi Operasional Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pengetahuan keluarga tentang kebersihan diri pada lansia adalah segala sesuatu yang diketahui keluarga tentang kebersihan rambut, mata, telinga, gigi dan mulut, kulit,dan kuku tangan dan kaki. Adapun instrumen yang digunakan adalah dengan memakai kuesioner (angket) dan skala pengukuran ordinal, yang terdiri dari pengetahuan baik, cukup dan kurang. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga lansia tentang kebersihan diri digunakan adalah dengan memakai kuesioner (angket) dan skala pengukuran ordinal, yang terdiri dari pengetahuan baik, cukup dan kurang.
http://icoel.wordpress.com/kumpulan-skripsi/skripsi-2/

Selasa, 13 Oktober 2009
KEBERSIHAN DIRI

KEBERSIHAN DIRI DAN LINGKUNGAN
(Personal Hygiene/PH and Environment Sanitation )
Oleh : Wiwik Priyatin Staff Pengajar Akademi Keperawatan “Yakpermas” Banyumas Blog : http :// wiwikaisya.blogspot.com/ I. Pendahuluan Kebersihan diri maupun lingkungan merupakan hal yang fundamental, dan tidak terlepas dari kehidupan kita sehari – hari, begitupula kita seringkali diingatkan dengan slogan “Kebersihan sebagian dari pada iman “ yang berarti bahwa kebersihan mencerminkan kekuatan iman seseorang, kembali lagi hal tersebut merupakan hal dasar yang perlu kita pahami dan kita lakukan secara berkesinambungan dari kita lahir sampai kita tutup usia pada nantinya. Dalam kehidupan sehari – hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang.Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.Hal –hal yang sangat berpengaruh itu diantaranya kebudayaan, social, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan, hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.(Tarwoto, Watonah, 2006 :78). Dari pernyataan di atas, dapat kita simpulkan bahwa Kebersihan diri dan lingkungan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari; kemudian bagaimana dengan kebersihan diri dan lingkungan yang mempengaruhi hygiene klien di Rumah Sakit ? Pasien atau klien adalah individu yang tidak terlepas dari adanya masalah kesehatan. Bagi pasien yang mengalami masalah kesehatan, maka dimungkinkan kebutuhan dasarnya menjadi terganggu salah satunya adalah masalah dalam hal kebersihan diri atau Personal Hygiene. Kebutuhan dasar manusia merupakan focus dalam asuhan keperawatan, dalam hal ini perawat harus mempunyai pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien melalui proses keperawatan,

Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang memfokuskan pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respons pasien terhadap penyakitnya. (Tarwoto, Watonah, 2006 : 2). Untuk itu, makalah ini akan memaparkan tentang konsep kebersihan diri dan lingkungan, MacamMacam Personal Hygiene, Faktor – Faktor yang mempengaruhi PH, Faktor lingkungan yang mempengaruhi hygiene klien di RS, Pengkajian pada klien berhubungan dengan kebersihan diri (PH), Diagnosa Keperawatan dan Tindakan Keperawatannya, serta dapat membantu mahasiswa dalam belajar pada mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia pada kompetensi PERSONAL HYGIENE/ PH. 2.Konsep Dasar Kebersihan Diri dan lingkungan Kebersihan diri atau personal hygiene dan lingkungan merupakan bagian dari kehidupan kita seharihari, oleh karena itu sudah seharusnya kita sebagai manusia untuk selalu memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan kita agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Perawat hendaknya mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai kebersihan diri dan lingkungan ini, sebagai bekal untuk merawat dirinya sendiri juga untuk merawat orang lain dalam hal ini adalah pasien, baik di Rumah Sakit, Keluarga maupun di masyarakat. Konsep Dasar Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene yang berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. (Tarwoto, Wartonah, 2006 : 78). Macam – Macam Personal Hygiene a. b. c. d. e. f. g. h. Perawatan kulit kepala dan rambut Perawatan mata Perawatan hidung Perawatan telinga Perawatan kuku dan tangan Perawatan genetalia Perawatan kulit seluruh tubuh Perawatan tubuh secara keseluruhan

Tujuan Perawatan Personal Hygiene a. b. c. d. e. f. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang Memelihara kebersihan diri seseorang Memperbaiki personal hygiene yang kurang Pencegahan penyakit Meningkatkan percaya diri seseorang Menciptakan keindahan

Faktor – factor yang mempengaruhi personal hygiene a. Body image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya. b. Praktik social Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. c. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. d. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan, misalnya pada pasien penderita Diabetes Melitus ia harus selalu menjaga kebersihan kakinya. 3. Asuhan Keperawatan pada klien berhubungan dengan kebersihan diri (PH) Sangat disayangkan masih banyak orang – orang yang mengabaikan kebersihan diri dan lingkungannya, terbukti semakin banyaknya jumlah penyakit yang diakibatkan karena adanya kebersihan diri dan lingkungannya yang kurang baik, contohnya penyakit kulit yang disebabkan karena jamur (tinea pedis, tinea kruris, tinea kapitis, dll) serta karena sanitasi lingkungan yang kurang baik dapat mengakibatkan penyakit yang banyak ditemukan pada pasien anak – anak dimana perantaranya adalah nyamuk Aedes Aegypty yaitu DHF yang lebih familiar kita sebut dengan demam berdarah. Tugas kita sebagai perawat apabila menemukan pasien dengan gangguan yang berhubungan dengan PH adalah memberikan asuhan keperawatan, melalui proses keperawatan. Proses keperawatan adalah salah satu alat bagi perawat untuk memecahkan masalah yang terjadi pada pasien. (Aziz Alimul Hidayat, 2002 : 8). Proses keperawatan mengandung unsure – unsure yang bermanfaat bagi perawat dan klien. Perawat dan klien membutuhkan proses asuhan keperawatan dari bagaimana melakukan pengkajian untuk mendapatkan data, membuat diagnosa, merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil dari asuhan keperawatan.. a. Pengkajian pada klien berhubungan dengan kebersihan diri (PH) Sebelum melakukan pengkajian, perawat hendaknya dibekali pengetahuan yang berkaitan dengan dasar – dasar tentang struktur kulit, rambut dan kuku, agar data yang ditemukan pada pasien dengan gangguan PH bisa akurat dan sesuai. Struktur Kulit

Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis merupakan lapisan terluar, dan aksesori – aksesorinya (rambut, kuku, kelenjar sabasea dan kelenjar keringat). Rambut Rambut tumbuh dari invaginasi tubular pada epidermis yang disebut folikel, dan folikel rambut beserta kelenjar sabasea disebut sebagai ‘unit pilosebasea’.Ada tiga tipe rambut yaitu rambut lanugo yang halus dan lembut terdapat sewaktu dalam kandungan dan menghilang pada waktu usia janin mencapai bulan kedelapan; rambut velus yang tipis dan halus menutupi sebagian besar tubuh kecuali pada tempat – tempat dimana rambut terminal tumbuh; rambut terminal yang tebal dan berpigmen, terdapat pada kulit kepala, alis dan bulu mata yang tumbuh sebelum pubertas.struktur rambut medulla, korteks kutikula. Kuku Kuku merupakan lempengan keratin transparan yang berasal dari invaginasi epidermis pada dorsum falang terakhir dari jari. Lempengan kuku merupakan hasil pembelahan sel di dalam matriks kuku, yang tertanam dalam lipatan kuku bagian proksimal, tetapi yang tampak hanya sebagian yang berbentuk seperti bulan separuh (lanula) berwarna pucat pada bagian bawah kuku. Lempengan kuku melekat erat pada dasar kuku (nail bed) di bawahnya. Kutikula merupakan perluasan stratum korneum pada lipatan kuku proksimal ke atas lempengan kuku. Kelenjar keringat dan sabasea Kelenjar keringat ekrin penting dalam pengaturan suhu tubuh, fungsinya untuk mensekresi air, elektrolit, laktat, urea dan ammonia.Kelenjar sabasea terdapat disetiap tempat pada kulit mulai dari tangan sampai kaki. Tempat yang memiliki jumlah kelenjar yang banyak dan menonjol adalah kepala, leher, dada dan punggung. Dermis Adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah epidermis, dan merupakan bagian terbesar dari kulit. Fungsi kulit a. b. c. d. e. f. g. Mencegah terjadinya kehilangan cairan tubuh yang esensial Melindungi dari masuknya zat-zat kimia beracun dari lingkungan dan mikroorganisme Fungsi-fungsi imunologis Melindungi dari kerusakan akibat radiasi UV Mengatur suhu tubuh Sintesis vitamin D Berperan penting dalam daya tarik seksual dan interaksi sosial

PENGKAJIAN a. Rambut

 

Keadaan rambut yang kusam Keadaan tekstur

b. Kepala
    

Botak / alopesia Ketombe Berkutu Adakah eritema Kebersihan

c. Mata
   

Apakah sclera ikterik Apakah konjungtiva pucat Kebersihan mata Apakah gatal / mata merah

d. Hidung
      

Adakah pilek Adakah alergi Adakah pendarahan Adakah perubahan penciuman Kebersihan hidung Bagaimana membrane mukosa Adakah septum deviasi Keadaan mukosa mulut Kelembapannya Adakah lesi Kebersihan

e. Mulut
   

f.

Gigi
    

Adakah karang gigi Adakah karies Kelengkapan gigi Pertumbuhan Kebersihan Adakah kotoran Adakah lesi Bagaimana bentuk telinga Adakah infeksi

g. Telinga
   

h. Kulit Kebersihan Adakah lesi Keadaan turgor Warna kulit Suhu Teksturnya Pertumbuhan bulu Kuku tangan dan kaki  Bentuknya bagaimana
      

i.

j.

Warnanya Adakah lesi Pertumbuhannya Genetalia  Kebersihan  Pertumbuhan rambut pubis  Keadaan kulit  Keadaan lubang uretra  Keadaan skrotum, testis pada pria  Cairan yang dikeluarkan

  

k. Tubuh secara umum  Kebersihan  Normal  Keadaan postur DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI (Rencana Keperawatan) 1. Gangguan Integritas Kulit Definisi : Keadaan dimana kulit seseorang tidak utuh Kemungkinan berhubungan dengan : a. bagian tubuh yang lama tertekan b. imobilisasi c. terpapar zat kimia Kemungkinan data yang ditemukan : a. kerusakan jaringan kulit b. gangrene c. dekubitus d. kelemahan fisik Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada : a. stroke b. Fraktur femur c. Koma d. Trauma medulla spinalis Tujuan yang diharapkan :

a. pola kebersihan diri pasien normal b. keadaan kulit, rambut kepala bersih c. klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri INTERVENSI : 1. Kaji kembali kebutuhan personal hygiene pasien Rasional : data dasar dalam melakukan intervensi 2. Kaji keadaan luka pasien Rasional : menentukan intervensi lebih lanjut 3. Jaga kulit agar tetap utuh dan kebersihan kulit pasien dengan cara membantu mandi pasien Rasional : menghindari resiko infeksi kulit 4. Jaga kebersihan tempat tidur, selimut bersih dan kencang Rasional : mengurangi tekanan dan menghindari luka dekubitus 5. Lakukan perawatan luka dengan teknik steril sesuai program Rasional : penyembuhan luka 6. Obesrvasi tanda – tanda infeksi Rasional : pencegahan infeksi secara dini 7. Lakukan pijat pada kulit dan lakukan perubahan posisi setiap 2 jam Rasional : mencegah dekubitus 2. Gangguan membrane mukosa mulut Definisi : kondisi dimana mukosa mulut pasien mengalami luka Kemungkinan berhubungan dengan : a. trauma oral b. pembatasan intake cairan c. pemberian kemoterapi dan radiasi pada kepala dan leher Kemungkinan data yang ditemukan :

a. iritasi / luka pada mukosa mulut b. peradangan / infeksi c. kesulitan dalam makan dan menelan d. keadaan mulut yang kotor Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada : a. stroke b. stomatitis c. koma Tujuan yang diharapkan : a. Keadaan mukosa mulut, lidah dalam keadaan utuh, warna merah muda b. Inflamasi tidak terjadi c. Klien mengatakan rasa nyaman d. Keadaan mulut bersih INTERVENSI : 1. Kaji kembali pola kebersihan mulut Rasional : data dasar dalam melakukan intervensi 2. Lakukan kebersihan mulut sesudah makan dan sebelum tidur Rasional : membersihkan kotoran dan mencegah karang gigi 3. Gunakan sikat gigi yang lembut Rasional : mencegah pendarahan 4. gunakan larutan garam atau baking soda dan kemudian bilas dg air bersih rasional : larutan garam atau soda membantu melembabkan mukosa, meningkatkan granulasi dan menekan bakteri 5. Lakukan pendidikan kesehatan tentang kebersihan mulut Rasional : mencegah gangguan mukosa

6. laksanakan program terapi medis rasional : membantu menyembuhkan luka atau infeksi 3. Kurangnya perawatan diri / kebersihan diri Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya. Kemungkinan berhubungan dengan : a. Kelelahan fisik b. Penurunan kesadaran Kemungkinan data yang ditemukan : a. Badan kotor dan berbau b. Rambut Kotor c. Kuku panjang dan kotor d. Bau mulut dan kotor Kondisi Klinis kemungkinan terjadi pada : a. Stroke b. Fraktur c. Koma Tujuan yang diharapkan : a. Kebersihan diri sesuai pola b. Keadaan badan, mulut, rambut dan kuku bersih c. Pasien merasa nyaman INTERVENSI : 1. Kaji kembali pola kebersihan Rasional : Data dasar dalam melakukan intervensi 2. Bantu klien dalam kebersihan badan, mulut, rambut dan kuku

Rasional : mempertahankan rasa nyaman 3. Lakukan pendidikan kesehatan a. pentingnya kebersihan diri b. pola kebersihan diri c. cara kebersihan rasional : meningkatkan pengetahuan dan membuat klien lebih kooperatif IMPLEMENTASI (TINDAKAN KEPERAWATAN) 1. KEBERSIHAN LINGKUNGAN a. Merapikan Tempat Tidur Pengertian : membuat tempat tidur menjadi bersih dan rapi Tujuan : memberikan kenyamanan pada pasien dalam memenuhi kebutuhan dirinya Prosedur : terlampir b. Mengganti alat tenun Pengertian : mengganti alat tenun kotor dengan alat tenun yang bersih pada tempat tidur pasien dengan pasien di atas tempat tidur dan pada tempat tidur kosong. Tujuan :
   

Menciptakan lingkungan yang bersih, tenang dan nyaman Menghilangkan hal – hal yang dapat mengiritasi kulit dengan menciptakan alat tidur dan selimut yang bebas dari kotoran / lipatan Meningkatkan gambaran diri dan harga diri pasien dg menciptakan tempat tidur yang bersih, rapid an nyaman. Mengontrol penyebaran mikroorganisme. Prosedur : terlampir

2. KEBERSIHAN DIRI a. Memandikan pasien di atas tempat tidur Pengertian : membersihkan seluruh tubuh pasien terbaring di atas tempat tidur Tujuan :
    

Menghilangkan minyak yang menumpuk, keringat, sel-sel kulit yang mati dan bakteri. Menghilangkan bau badan yang berlebihan Menstimulasi sirkulasi / peredaran darah Meningkatkan perasaan segar dan nyaman bagi pasien Memberikan kesempatan pada perawat untuk mengkaji kondisi kulit pasien

Prosedur : Terlampir b. Merawat rambut

Menyisir rambut Tujuan :

   

Untuk merangsang sirkulasi pembuluh darah di kulit kepala Meratakan minyak rambut dan meningkatkan kesehatan rambut Meningkatkan rasa nyaman pasien Memantau adanya masalah pada rambut dan kulit kepala (contoh : kutu atau ketombe) Prosedur : terlampir

c. Mencuci rambut Pengertian : menghilangkan kotoran rambut dan kulit kepala dengan menggunakan sampo atau sabun. Tujuan :
   

merangsang sirkulasi pembuluh darah di kulit kepala dengan memberi pijatan / massage. Membersihkan rambut dan meningkatkan rasa nyaman pasien. Mengurangi rasa gatal pada kepala. Menghilangkan ketombe. Prosedur : terlampir

d. Menggosok gigi Pengertian : membersihkan gigi dengan menggunakan sikat dan pasta gigi. Tujuan :
   

Mengangkat sisa makananan dari sekeliling gigi Menghindari bau mulut dan meningkatkan kesegaran mulut Mencegah gigi berlubang dan infeksi di jaringan mulut Meningkatkan daya tahan tubuh

Prosedur : terlampir e. Memotong kuku

Pengertian : merawat kuku pada pasien yang tidak mampu merawat kuku secara mandiri. Tujuan : Menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat kuku yang panjang. Prosedur : terlampir . 4. Penutup Makalah ini memaparkan tentang kebersihan diri dan lingkungan sebagai dasar bagi mahasiswa untuk belajar pada mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia, serta proses bagi penulis dalam mewujudkan buku ajar bagi mahasiswa. Referensi http://wiwikaisya.blogspot.com/2009/10/kebersihan-diri.html

5 Keuntungan Hidup Teratur
Menjadi manusia yang teratur bukan hanya soal bagaimana menemukan buku yang hilang atau ngademin ortumu yang lang ngomel-ngomel. Tau ga, teratur itu adalah soal kualitas hidupmu. Awalnya mungkin Kamu hanya sekedar iseng-iseng beresin kamarmu yang berantakan, lalu mungkin tiba-tiba sadar Kamu nemuin buku kamu di balik bantal. Jadi, ketika seluruh pengaturan cocok denganmu dan bukan sebaliknya, hidup terasa lebih indah dan lempeng deh. Biar lebih mudeng, simak Lima Keuntungan Hidup Teratur berdasarkan pengalaman Gue juga. 1. Menjadi Mandiri Jelas, pasti jadi lebih mandiri. Coba deh bayangin, semakin kita teratur, semakin juga orang tua kita percaya ke kita. Sudah jadi rahasia umum, apapun karakter ortumu, mendapatkan kepercayaanberarti punya hak untuk mengambil keputusanuntuk dirimu sendiri. Singkatnya, satu-satunyacara mendapatkan kepercayaan adalah menjalankan apa yang sudah Kamu janjikan, termasuk soal kapannya. 2. Lebih Tenang Menjadi teratur dalah salah satu jalan terbaik menghindari stress. Ketidak teraturan bisa membuat sistem sarafmu tegang. Misalakan Kamu telat saat masuk kuliah gara-gara bangun kesiangan, udah gitu lupa ngerjain PR lagi. Pikiran pasti stress banget mencari seribu alesan ini itu. Nah, kalau hidup lebih teratur, otak akan lebih santai.. #curhat ini pernah Gue alamin dulu waktu masa SMA, Gue lupa ngerjain PR, udah gitu gurunya killer lagi. Di otak nih double berapa Gue ga ngerti, yang jelas otak Gue kerja keras untuk

mikir: 1. cari alesan (pasti yg pertama tuh) 2. cari contekan (soalnya banyak, waktunya mepet) 3. dll yg membuat panik!! 3. Mendapatkan Waktu Tambahan Kalau tidak teratur, kita akan sering telat, ga kerjain PR, buku atau barang lainnya ilangilangan karena kita taruh sembarangan dan de el el deh pokoknya. Dengan teratur, waktu untuk mengerjakan hal-hal di atas yang seharusnya tidak perlu bisa kita hilangkan, seperti mencari-cari buku yang seharusnya ada di rak lemari, tapi gataunya ada di balik bantal garagara habis baca ketiduran.

#curhat akhirnya Gue mencoba hidup teratur. Gue ga telat, PR Gue kerjain dan di sekolah Gue jadi punya banyak waktu. 4. Kesempatan Bergaul Menjadi teratur juga ngasih keuntungan di kehidupan sosialmu lowh. Kalau hidupmu tidak teratur, bawaannya pasti khawatiran deh. Sedikit aja jadwalmu kacau, bisa barantakan tuh jadinya. Misalkan Kamu terlanjur janjian nonton dengan Mutia, padahal seharusnya kamu di rumah Sam. Hidup teratur akan memberikan kamu lebih banyak tenaga dan waktu. Begitu Kamu santai, mereka juga santai.

#curhat pernah suatu ketika jadwal gue bentrok, gue punya 2 janji dalam 1 waktu, udah gitu jaraknya berjauhan (Bekasi dan Jakarta). jadi pusing sendiri gue untuk mikirin skala prioritas yang mana harus gue cancel dan gue datengin. seharusnya jika gue teratur, ga perlu tuh gue pusing mikirin skala prioritas. 5. Ada Pemasukan Hidup teratur akan tebayar dengan sendirinya. Ini dalam arti yang sebenarnya lho! Salah satu efek tidak teratur adalah adanya barang yang hilang atau rusak. Buku lenyap, HP rusak, kacamata hilang. Nah Kamu kan harus ganti semua barang itu tuh jika ingin menggunakannya lagi. Ini sama aja membengkaknya biaya pengeluaran yang seharusnya bisa dipakai untuk yang lain atau membeli barang baru yang Kamu inginkan, ketimbang beli lagi barang yang sama yang pernah Kamu punya. #curhat gue teledor naruh modem plug & play sembarangan dan tuh modem hilang ntah kemana. ntah di ambil orang atau keselip gue masih gatau tuh hingga sekarang. akhirnya karena gue butuh banget, gue jadi beli lagi tuh modem.