You are on page 1of 10

JOURNAL READING

MALLET FINGER

Oleh: Friska Natalia Yuwono (0602005132)

Pembimbing : dr. Made Bramantya Karna, SpOT

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA SEPTEMBER 2011

Mallet Finger

Mallet finger (disebut juga drop finger, baseball finger) merupakan salah satu kelainan bentuk jari dimana bagian ujung jari menekuk ke arah dalam dan tidak dapat lurus sendiri. Kelainan pada mallet finger mempengaruhi sendi interphalanx distal (DIP) dan muncul sebagai hasil dari adanya cedera tertutup pada mekanisme ektensor dekat insersinya ke dalam phalanx distal. Kehilangan kontinuitas tendon ekstensor pada sendi DIP menyebabkan sendi berada dalam posisi fleksi abnormal. Walaupun usaha untuk mengekstensikan jari dilakukan secara aktif, sendi DIP tetap dalam keadaan fleksi, merupakan karakteristik dari mallet finger.

Gambar 1. Contoh gambar karakteristik dimana mallet ujung finger jari

bagian

menekuk ke arah dalam

ANATOMI DAN FISIOLOGI TANGAN Pengetahuan mengenai anatomi mekanisme ekstensor tangan yang normal diperlukan untuk menilai akibat dari cedera mallet finger. Mekanisme ekstensor tangan lebih rumit dan kompleks jika dibandingkan dengan sistem fleksor khususnya dalam anatomi dan fungsi. Sendi-sendi jari bekerja seperti engsel ketika jari melakukan gerak fleksi dan ekstensi. Setiap jari tangan memiliki tiga phalanx yang dipisahkan oleh dua sendi interphalanx, kecuali ibu jari yang hanya memiliki dua phalanx. Sendi interphalanx yang berada paling dekat dengan sendi metacarpophalangeal disebut sendi interphalanx proksimal (PIP), sedangkan sendi interphalanx yang berada paling dekat dengan ujung jari disebut sendi interphalanx distal (DIP). Tendon ekstensor melekat ke dasar phalanx distal. Ketika tendon ekstensor bekerja, sendi DIP akan melakukan gerakan lurus (ekstensi). Sebaliknya, jika tendon

fleksor yang melekat pada telapak jari bekerja, sendi DIP akan menekuk ke arah dalam (fleksi).

Tendon ekstensor masuk ke tangan melalui retinakulum ekstensor. Retinakulum ekstensor adalah penebalan fascia profunda yang teragang menyilang bagian belakang pergelangan tangan. Struktur ini merubah lekukan pada facies posterior ujung distal radius dan ulna menjadi enam terowongan yang terpisah untuk tempat lewatnya tendon m. ekstensor longus. Tiap-tiap terowongan dibatasi oleh selubung synovial yang terbentang pada tendon-tendon di atas dan di bawah retinakulum. Di bawah rertinakulum ekstensor, septa fibrosa berjalan ke radius dan ulna dan membentuk enam ruang yang berisi tendon-tendon otot ekstensor. Tendontendon ekstensor tersebut adalah extensor carpi radialis longus (ECRL), extensor carpi radialis brevis (ECRB), extensor carpi ulnaris (ECU), extensor digitorum communis (EDC), extensor digiti minimi (EDM), extensor indicis proprius (EIP), abductor polliis longus (APL), extensor pollicis brevis (EPB), dan extensor pollicis longus (EPL).

MEKANISME INJURI Mallet finger bisa berupa cedera tertutup atau terbuka. Cedera terbuka bisa diakibatkan oleh karena laserasi tajam atau crush type. Cedera tertutup lebih sering terjadi dibandingkan cedera terbuka. Berbagai cedera fleksi jari pada jari saat memegang sesuatu dalam posisi ekstensi beresiko terjadi cedera pada mekanisme ekstensor pada sendi DIP. Mekanisme klasik dari cedera ini adalah jari sedang meregang secara kaku pada posisi ekstensi atau mendekati ekstensi maksimum ketika jari tersebut terbentur pada bagian ujungnya. Biasanya terjadi saat berolahraga seperti softball, voli, atau basket dimana bagian ujung jari membentur bola. Cedera yang sama dapat terjadi pada sendi interphalangeal ibu jari namun insidennya jarang.

INSIDEN Insiden mallet finger berdasarkan jenis kelamin dan umur berbeda sesuai dengan populasi studi. Di Swedia, 127 pasien adalah laki-laki, sedangkan wanita 35 pasien. Rerata umur pada laki-laki adalah 35,5 tahun dan pada wanita 47,8 tahun. Cedera pada laki-laki terbanyak pada rentang umur 13-25 tahun sedangkan pada wanita tersebar merata pada semua rentang umur. Pada laki-laki, cedera paling sering terjadi pada jari keempat dan kelima, sedangkan pada wanita paling sering terjadi pada jari tengah.

GAMBARAN KLINIS Setelah terjadi cedera fleksi pada sendi DIP, pasien mungkin mengatakan bahwa ia tidak dapat mengekstensikan secara aktif sendinya, walaupun eksteksi pasif maksimal tetap dapat dilakukan dengan baik. Bagian punggung sendi dapat menjadi sedikit nyeri dan bengkak tetapi seringkali cedera tidak menimbulkan rasa nyeri. Karena itu, sebagian pasien akan menganggap bahwa sendi jarinya hanya keseleo sampai suatu hari ketika bengkak sudah menghilang, ia tetap tidak mampu untuk mengekstensikan sendi secara aktif. Cedera ini dapat menimbulkan berbagai kondisi berikut : -Kerusakan tendon tanpa fraktur -Ruptur tendon dengan fraktur kecil akibat kekuatan cedera -Ruptur tendon dengan fraktur besar Mallet finger mungkin terbuka tapi lebih sering tertutup. Mekanisme dari cedera tertutup biasanya tiba-tiba, terjadi fleksi yang kuat dari sendi DIP pada jari yang ekstensi. Hal ini menyebabkan rupture tendon ekstensor atau avulsi tendon sering dengan fragmen tulang tempat insersinya pada phalanx distal. Jika tidak diobati untuk jangka waktu lama, dapat terjadi hiperekstensi dari sendi PIP menyebabkan kelainan swan neck karena adanya retraksi proksimal dari central band.

KLASIFIKASI MALLET FINGER Terdapat 4 tipe cedera mallet finger, yaitu : Tipe I : cedera tertutup dengan hilangnya kontinuitas tendon dengan atau tanpa fraktur avulsi Tipe II : laserasi pada atau proksimal ke sendi DIP dengan hilangnya kontinuitas tendon Tipe III Tipe IV : abrasi dalam dengan hilangnya kulit, subkutaneus dan inti tendon : a. fraktur bidang transepifisis pada anak b. cedera hiperekstensi dengan fraktur permukaan artikular 20-50% c. cedera hiperekstensi dengan fraktur permukaan artikular biasanya >50% dan dengan subluksasi volar phalanx distal yang terlalu dini atau terlambat.

METODE PENANGANAN MALLET FINGER Tujuan utama dari semua metode terapi adalah untuk mengembalikan kontinuitas tendon yang cedera dengan kesembuhan fungsional yang maksimum. Terapi yang dilakukan dapat berupa terapi konservatif maupun terapi bedah. Terapi konservatif meliputi penggunaan plaster cast, dan berbagai jenis finger splints. Terapi bedah meliputi K-wire fixation, penjahitan tendon eksternal, dan direct repair pada tendon.

Penanganan Mallet Finger Tipe I Walaupun berbagai protocol terapi telah diajukan, splinting pada sendi DIP dalam posisi ekstensi selama 6-8 minggu merupakan gold standard dengan

morbiditas minimal pada sebagian besar pasien pada cedera mallet finger tertutup. Hal ini dapat tercapai dengan splint thermoplastic stack, plaster cast.

Gambar : a : plaster cast dapat secara efektif mempertahankan ekstensi sendi DIP dan fleksi sendi PIP ketika kelainan finger mallet diikuti dengan hiperekstensi PIP b c : stack splint sering digunakan untuk terapi : thermoplastic splint : (1) tampak oblique, (2) tampak dorsal, (3) tampak volar

Terapi secara pembedahan dianjurkan untuk penderita mallet finger yang gagal dengan terapi konservatif, tidak dapat bekerja dengan adanya splint pada jari, terdapat fraktur yang melibatkan lebih dari sepertiga permukaan sendi atau pasien dengan cedera mallet finger terbuka. Sebagian ahli bedah memilih tindakan operasi untuk mengobati mallet finger yang diikuti dengan subluksasi volar phalanx distal, keyakinannya adalah mengembalikan keutuhan sendi dan keseimbangan antara kekuatan fleksor dan ekstensor dibutuhkan untuk mendapatkan hasil fungsional yang adekuat. Pada umumnya dilakukan Kirschner wire (K-wire) melewati sendi DIP pada posisi ekstensi dengan sendi PIP pada posisi ekstensi. Adakalanya pasien dengan profesi

tertentu seperti ahli bedah, dokter gigi tidak dapat memakai splint selama 6-8 minggu yang dibutuhkan karena alasan pekerjaan. Sebuah K-wire diameter 0,035 inchi dapat dimasukkan melewati sendi DIP untuk memberikan splint internal sementara. Walaupun wire dapat membantu mempertahankan reduksi fragmen tulang, tujuannya adalah mempertahankan ektensi sendi. Pilihan lainnya adalah memasukkan pada posisi oblique, K-wire anterograde mulai pada bagian tengah phalanx tengah dan menempatkan K-wire secara menyamping ke dalam badan utama phalanx distal. Pada bagian ulnar jari, wire dapat dijepitkan di bawah permukaan kulit. K-wire dibiarkan selama 6 minggu ditambah dengan splinting malam selama 2 minggu.

Penanganan Mallet Finger Tipe II dan III Laserasi dari mekanisme ekstensor pada sendi distal pada mallet finger dapat diatasi dengan jahitan tipe delapan atau tipr roll kemudian ditambah dengan splint. Jahitan dilepas setelah 10-12 hari dan sendi DIP dipertahankan dalam posisi ekstensi dengan menggunakan splint tadi selama 6 minggu. Mallet finger tipe III dengan hilangnya tendon dan jaringan lunak memerlukan pembedahan rekonstruktif untuk menyediakan penutupan kulit melalui free tendon graft untuk mengembalikan kontinuitas tendon.

Penanganan Mallet Finger Tipe IV Cedera mallet finger IVa pada anak-anak biasanya fraktur pada bidang transepifisis dari jari. Mekanisme ekstensornya melekat pada dasar epifisis dan reduksi tertutup dapat dilakukan untuk mengatasi mallet finger tipe ini. Penanganan mallet finger tipe IVb dan IVc dapat dilakukan melalui terapi pembedahan K-wire seperti pada gambar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mallet Finger. In: Green DP, Hotchkiss RN, eds. Green's Operative Hand Surgery. 3rd vol. New York, NY: Churchill Livingstone; 1993:2060-9. 2. Mauffrey, C. 2006. Mallet finger: a review. The Internet Journal of Orthopedic Surgery;3;1 3. Anderson D: Mallet finger management and patient compliance. AFP 40:478, 2011.