ANALISIS KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI KARYAWAN SWALAYAN DI KOTA MAKASSAR

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia

sebagaimana yang tercantum dalam GBHN 1992-2002 menyatakan pemberdayaan visi dan misi pembangunan seluruh yaitu

masyarakat

dan

kekuatan

ekonomi nasional terutama perusahaan kecil, menengah dan koperasi dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpuh pada mekanisme pasar yang berkeadilan, berbasis pada sumber daya alam dan

sumber daya manusia yang produktif, mandiri, maju berdaya saing, berwawasan lingkungan dan

berkelanjutan. Hal ini juga telah dipertregas lagi dalam TAP MPR. No. yaitu: IV/1999 tentang arah kebijaksanaan ekonomi

ekonomi

mengembangkan

sistem

kerakyatan yang bertumpuh pada mekanisme pasar yang berkeadilan yang berprinsip-prinsip persaingan sehat

yang memperhatikan pertumbuhan ekonomi dengan nilai-

nilai

keadilan,

kepentingan yang

sosial,

kulitas lingkungan

hidup, dan

pembangunan

berwawasan

berkelanjutan, sehingga kesempatan yang sama dan berusaha dan berbelanja perlindungan hak-kah

konsumen, serta perlakuan adil bagi masyarakat. Karyawan adalah merupakan tenaga kerja atau buru yang bekerja pada suatu lembaga (kantor atau peruhaan) dengan mendapatkan gaji atau upah. Kehidupan

karyawan atau buruh pada umumnya sedikit sekali memilki penyanggah teruma ekonomi untuk memenuhi

kebutuhannya keluarga.

meningkatkan

kesejahteraan

Secara umum kondisi kehidupan ekonomi karyawan di indonesia masih memprihatinkan ini disebabkan ada beberapa hal antara lain: lemahnya posis tawar

(burgaining power) tenaga kerja berhadapan dengan pemilik perusahaan, sebagian besar dari mereka tidak memiliki keahlian khusus (Unskil labor) dan tingkat pendidikan yang rendah, kelemahan ini menyebabkan kebanyakan mereka tidak mendapat perlakuan dan posisi yang layak sebagai manusia yang bermartabat. Kebijakan

Kedua. Karyawan swalayan ini muncul dari perkembangan dunia usaha yang berskala besar yang menjadi gaya hidup orang berbelanja yang mempunyai pelayanan sendiri dalam membeli barang dan ia berhasil menggusur pasar atau tokkh-tokoh tradisional yang langsung dilayani pemiliknya. . tidak adanya organisasi pekerja yang cukup berbakat dan mempunyai kualifikasi yang diperlukan sebagai lembaga untuk kerja mewujudkan (FBSI) aspirasi dan kepentingan tenaga kemudian berubah menjadi (SPSI).upah minimum regional (UMR) yang ditetapkan pemerintah belum mampu memperbaiki kondisi sosial ekonomi secara substansial. penulis memilih Kota Makassar karena ia merupakan Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan dan di kota Makassar ini paling banyak terdapat swalayan dan paling banyak menyerap tenaga kerja (karyawan). Dalam penelitian mengenai karyawan swalayan ini. sehingga tetap tidak membuat mereka mampu memperbaiki nasibnya.

B. Bagaimana gambaran kehidupan sosial ekonomi karyawan swalayan di kota Makassar ? 2. masih kurang sekali penelitian yang mengangkat masalah karyawan khususnya di kota makassar. . pendidikan. Tujuan Pendidikan 1. memberikan dorongan untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang kondisi sosial ekonomi karyawan di kota Makassar di samping itu penulis melihat bahwa. disiplin kerja dan pengalaman kerja terhadap tingkat pendapatan karyawan ? C. Apakah ada pengaruh tingkat pendidikan.Keberadaan karyawan swalayan ini tidak semuanya memilih pekerjaan menjadi karyawan swalayan karena landasan ekonomi sebagai alasan utama melaikan mereka memilih pekerjaan sebagai karyawan karena faktor sosial budaya. Rumusan Masalah 1. untuk mendapatkan gambaran kondisi kehidupan sosial ekonomi (pendapatan. Gambaran tersebut di atas.

selain itu bermanfaat juga sebagai: 1. untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat pendidikan. 2. Manfaat Penelitian Peelitian ini diharapkan dapat bermanfaat terhadap studi yang bersifat ilmiah dan khususnya penulis untuk memprluas wacana pemikiran tentang pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam membangun bangsa dan negara.pengalaman kerja dan interaksi sosial) karyawan swalayan di kota Makassar. Bahan informasi dan acuan untuk pemilih lebih lanjut yang berkaitan dengan pengembangan kehidupan sosial dan sember daya manusia (SDM). D. disiplin kerja dan pengalaman kerja terhadap tingkat pendapat karyawan. Sumbangan pemerintah terhadap pemerintah daerah tingkat II Makassar dan istansi terkait agar perumusan program aksi pengentasan dan berbagai kesenjangan sosial ekonomi masyarakat dapat dijadikan salahsatu agenda utama. 2. dan juga sebagai masukan bagi perudsahann perusahaan .

TIJAUAN PUSTAKA A.II. Roucak dan Waren (1984: 79) status sosial adalah kedudukan seseorang dalam satu kelompok masyarakat dan hubungannya dengan anggota lain dalam kelompok itu. Kehidupan sosial ekonomi karyawan Batasan mengenai status kehidupan sosial ekonomi beberapa ahli lebih menekankan pengertiannya sebagai simbol kedudukan atau tingkatan kehidupan ekonomi seseroang pada suatu masyarakat. (2) Ashired – status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseroang dengan usaha yang disengaja. . Hal ini berarti status yang diperoleh berdasarkan keterampilan dan kemampuannya. status diperoleh dari keturunan. Soekanto (1996: 265) membagi masyarakat dalam dua kedudukan yaitu: (1) Ascribed – status yaitu kedudukan seseroarang dalam masyarakat tanpa melihat perbedaan rohani dan kemampuan. Kata status sosial ekonomi merupakan rangkaian status sosial dan ekonomi.

pekerjaan dan pemilikan aset. Kebijakan upah minimum regional . Pada umumnya sikap mental dan sikap hidup yang masih dipengaruhi oleh sosial sebagai budaya. Karyawan atau masyarakat buruh dianalogkan sebagai masyarakat terbelakang terutama di bidang ekonomi karena keluarga karyawan pada umumnya masih tergolong miskin dan pendapatannya belum banyak membantu dalam kesejahteraan keluarga.Batasan dikemukakan mengenai di atas. kondisi ekonomi bahwa yang yang dapat dipahami dimaksud dengan kondisi kehidupan sosial ekonomi adalah kedudukan atau status yang diperoleh seseroang dalam kehidupan sosialnya yang sering diukur dan dihubungkan dengan tingkat pendidikan. secara realitas keberadaan angkatan kerja Indonesia memiliki tingakat pendidikan dan keterampilan skill yang rendah yang pada akhirnya terjadi ketimpangan sosial ekonomi (pendapatan). pendapatan. sehingga kerja kesejahteraan kaeyawan angkatan dianggap tidak produktif karena sumber dayanya tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.

kesempatan kerja dan pendapatan. yaitu: (a) meliputi sandang dan pangan. dan lai-lain. Sementara itu Misra (1983) mengatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat dapat di ukur dari sejauh mana ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. untuk meningkatkan pendapatan karyawan swalayan baik harus memperbaiki formal tingkat ataupun pendidikannya. kesejahteraan masyarakat sejauh mana mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. b) memperbaiki tingkat kemampuan individu. modal. pendidikan transportasi. partisipasi politik dan hukum. sehingga membuat mereka tidak dapat hidup sejahtera. c) meningkatkan sumber daya. pendidikan .sepeti hak manusia. d) memperoleh rasa aman dan kebebasan untuk mengambil keputusan.(UMR) yang ditetapkan oleh pemerintah juga tidak dapat mendatangkan perbaikan kondisi kehidupan sosial ekonomi secara substansial. kesehatan. Dengan demikian. Oleh karena itu. masyarakat Dari ukuran di tersebut bawah diketahui atau pada apakah garis tertentu kemiskinan.

dan pengalaman kerja diduga faktor yang mempengaruhi di kota tingkat pendapatan karyawan swalayan makassar. memiliki kedisiplinan kerja. Adapau kerangka pikir yang digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut: Kerangka Pikir Tingkat Pendidikan Kondisi Sosial ekonomi karyawan Pendapata n Karyawan Disiplin Kerja Pengalaman Kerja Kesejahteraan Karyawan . B. disiplin kerja. Keranka Pikir Tingkat pendidikan. pengalaman kerja yang baik dan interkasi sosial.pendidikan informal.

Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian survei yaitu penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui .Gambar I. maka hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh antara tingkat pendidikan. METODOLOGI PENELITIAN A. Skema Garis Kerangka Pikir Penelitian. C. Hipotesis statistiknya sebagai berikut: H0: A1 = 0 H1: A1 ≠ 0 Keterangan: H0: Hipotesis nol H0: Hipotesis tandingan A1: Assosiasi Pertama III. dan pengalaman kerja terhadap tingkat pendapatan Karyawan Swalayan di kota Makassar. disiplin kerja. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah uraikan di atas.

Variabel dan desain penelitaian Variabel yang akan dipelajari dalam penelitian ini. Variabel indevenden adalah tongakat pendidikan (X1). Penelitian ini dilaksanakan di swalayan yang ada di kota Makassar 2. C. termasuk pengolahan sampai pada penyusunan laporan akhir. disiplin kerja (X2) dan Pengalaman kerja (X3) sedangkan variabel dependen adalah tingkat pendapatan (Y). adalah variabel indevenden. Desain penelitian di atas. Lokasi dan waktu penelitan 1. B. dilakasanakan persiapan. dapat dilihat pada gambar berikut ini: Desain penelitian X1 X2 X3 Y . Waktu selama penelitian empat direncanakan bulan.bagaimana gambaran kondisi kehidupan sosial ekonomi karyawan swalayan di kota Makassar dan faktor-faktor mempengaruhinya.

Kedua. Populasi Populasi penelitian ini adalah karyawan swalayan yang ada di kota Makassar. Popukasi dan Sampel 1. di mana di kota Makassar terdapat Makassar). Sampel Penentuan swalayan yang akan diteliti ditetapkan secara proporsive sampling dengan alasan sebagai 14 swalayan (Biro pusat statistik 2000 berikut: pertama. penetapan benyak atau ramai oleh pengunjung. penetapan swalayan yang banyak menyerap tenaga kerja swalayan yang paling (karyawan). 2. .Keterangan: X1 = tingakat pendidikan X2 = disiplin kerja X3 = pengalaman kerja Y = tingakat pendapatan D.

E. Kusioner yaitu mengumpulkan data dengan menggunakan daftar pertanyaan (angket) yang telah disusun berdasarkan variabel-variabel yang . Jumlah populasi swalayan yang terpilih 360 orang. teknik pengumpulan data Untuk mendapatkan data tentanf ajtivitas yang dilakukan selama berkerja di swalayan. Observsi yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas kerja maupun aktivitas sosial ekonomi karyawan. 2. Semakin tinggi jumlah sampel mendekati populasi maka jumlah peluang sampel kesalahan menjauhi generalisasi populasi semakin senakin kecil besar kesalahan generalisasinya. maka peneliti menggunkan bebrpa terknik yaitu: 1. Sehingga peneliti menetapkan jumlah sampel sebanyak 90 orang dari berbagai jenis posisi kerja pada masing-masing swalayan yang terpilih.Adapaun rincuan populasi karyawan swalayan yang terpilih adalah sebagai berikut: Matahari 200 orangm. Alfa 40 orang. Sampel di ambil 25 % ini sesuai dengan pendapat Arikunto bahwa sampel diambil 10% hingga 25% atau lebih.

2. 3. sedangkan teknik statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yaitu model linier . Analisis data yang bersifat kuantitatif dengan menggunkan statistik deskriptif dan statistik inferensial regresi. Analisa Data Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah: 1. Terknik analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan nilai-nilai karakteristik masing-masing variabel. Wawancara responden yaitu baik bertanya yang langsung kepada daftar menggunkan pertanyaan maupum tidak yang signifikan dengan penelitian ini. Kusioner tersebut dibagi-bagikan pada karyawan yang menjadi sampel. F. Analisi deskriptif yaitu suatu analisis kondisi untuk sosial mengetahui bagaimana gambaran ekonomi karyawan kemudian ditabulasi stelah data berhasil dikelompokkan sesuai dengan jawaban kemudian dibuatkan tabel tunggal dan tabel silang.diteliti.

b2. Defenisi Oprasinal Variabel .berganda . mengungkapkan koefisien regresi antara variabel bebas dengan variabel terikat. Formula analisis regresi linier berganda mengacu pada sujana (1984) adalah sebagai berikut: Y = b0 + b1 x1 + bx2 x2 + bx3 x3 + e (Sujana 1984) Dimana: X1 = X2 = tingakat pendidikan disiplin kerja pengalaman kerja tingakat pendapatan konstanta X3 = Y b0 = = b1 . b3 = koefesensi regresi variabel bebas e = galat (error) hipotesis statistik yang ditetapkan yaitu: Ho = bx = o H1 = bx ≠ o G.

adalah pendapatan hubungan dan sosial pekerjaannya. diukur dengan bagaiman intensitas hubungannya. atau pekerja yang mendapat gaji. Karyawan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah karyawan yang berkerja pada peusahaan swalayan. Kehidupan sosial ekonomi adalah bagaiman status sosial dan interakso sosial karyawan yaitu: Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau tingkat ekonomi karyawana yang diukur dengan melihat tinglat pendidikan. (kamus besar bahasa Indonesia 1994). buruh. barapa waktu yang luang untuk berinteraksi. maka perlu didefenisikan secara operasional beberapa konsep dan variabel berikut: 1. 2. Interaksi sosial kayawan yang dilakukan secara individu maupun secara kelompok baik di dalam perusahaan tempat mereka bekerja ini maupun dapat dalam lingkungan melihat masyarakat. Karyawan adalah orang bekerja pad suatu lembaga (kantor atau perusahaan). .Untuk memudahkan pengukurn yang akan dilakakan. seberapa banyak temannya dan kegiatan apa yang sering dilakukan.

Variabel tingkat pendidikan karyawan (x1) yaitu tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh karyawan diukur dari jumlah tahun belajar. atau disebut toko serba ada. Penelitian ini difokuskan pada tiga variabel bebas (x1). (x2). (x3) dan satu variabel terikat (Y) yaitu: a. Untuk memberi arah dan pemahaman yang jelas mengenai masalah yang diteliti. Swalayan adalah toko yang pelayanannya dilakukan oleh sendiri oleh pembeli (Kamus Besar bahasa Indonesia 1994). terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam satu unut usaha atau unit kerja diukur dengan angket. menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Faktor yang diukur adalah ketepatan datang ke tempat bekerja dan kesuaian pulang pada waktu yang dijadwalkan. Swalayan dalam penelitian ini adalah toko yang berskala besar yang menjual segala macam kebutuhan pokok dan alat rumah tangga (toko serba ada). Variabel kepatuhan-kepatuhan disiplin bekerja (x2) yaitu b. Dalam istilah ekonomi swalayan adalah toko yang menjual berbagai kebutuhan pokok. .3. maka perlu dikemukakan defenisi operasionalnya variabel penelitian.

Sudjana. d. Jakarta: Erlangga. Variabel dialami oleh pengalaman kerja (x3) yaitu sejumlah pengalaman atau hal-hal yang diperoleh dan karyawan selama mengerjakan pekerjaannya diukur dalam satuan tahun. Bob.c. Pembangunan Masyarakat (Tinjauan Aspek Sosiplogi Ekonomi dan Perencanaan). 1984. 2000. Jakarta: Pustaka Delopratasa. Yokyakarta: Gajah Mada. Wetik. terjemah oleh Jl. Yokyakarta: Liberti. 1001 Cara Menghargai Karyawan. Bayarlah Upah Sebelum Keringatnya Kering Jakarta: persaudaraan Pekerja Muslim indonesia (PPMI) International Labor Organization. 1979. Dasar-dasar Perusahaan. Penelitian Kerja dan produktivitas. 1992. Variabel pendapatan (Y) yaitu besarnya penghasilan yang diperolah dan diukur berdasarkan jumlah pendapan berkapita karyawan per bulan dalam satuan rupiah. Bambang. Rianto. Nelson. Pembelajaan . DAFTAR PUSTAKA Eggi. Kamaruddin H. 1994.

ANALISIS KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI KARYAWAN SWALAYAN DI KOTA MAKASSAR MAKALAH: Tugas Makalah Akhir Pada Mata Kuliah Metodologi Penelitian Sosial Semester II Angkatan XV Oleh : . Teknik Tata Cara Bandung Departemen Teknik ITB.Salim. Sutalaksana. Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1976. Iftikar. Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan. Industri Kerja. Emil. 1982.

Dosen Pemandu : PROF.B A H A R U D D I N S. PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2005 . Ag. KAHAR MUSTARI DR. M. DR. MUSAFIR PABABBARI.A.