You are on page 1of 5

Condoms in Schools Summary: Should publicly supported education programs include the distribution of condoms?

print this page Discuss topic

Introduction Author:Dr. Kevin J. Minch ( United States ) Assistant Professor of Communication and Director of Forensics, Truman State University, Kirksville, Missouri. Created: Wednesday, September 17, 2003 Last Modified: Saturday, January 01, 2011 Context Wherever the issue has emerged, whether it be in the inner city schools of America, the primary schools of Wales, or in health education programs in the developing world, the suggestion that condoms be actively promoted as a solution to unwanted pregnancies, the spread of sexually transmitted diseases and the proliferation of HIV infection has been controversial. While scientific evidence overwhelmingly supports the contention that condoms, when properly used, reduce the incidence of these problems, numerous critics fear that active encouragement of condom use advances the onset of sexual activity among young people. In particular, more conservative religious traditions, as well as religious groups that oppose contraception, oppose the move to the distribution of condoms in schools out of fear that basic values of their religions might be undermined in their children. As an alternative, critics of condom distribution advocate abstinence-only education. This variant of sex education encourages young people to abstain from sexual activity as a way to avoid pregnancy and disease. Unfortunately, such programs have had mixed or negative results. In the developed world commercial influences and social pressures contribute to student defiance of abstinence. In developing countries, where cultures often encourage the development of large families and educational programs are not as well funded or comprehensive, critics feel the message lacks impact. Because this issue has received a great deal of attention in the United States and the United Kingdom as regards implementation in public schools, the temptation is to see this topic through only that lens. However, debaters may just as easily consider broader educational programs instituted by governments to improve public health and population control. Debaters may also consider multinational and foreign aid programs designed to control the spread of sexually transmitted diseases and regulate population growthall of which could contain a condom distribution component. Arguments Pros Providing condoms to students in public education programs will reduce the incidence of underage pregnancy and the spread of sexually Cons Providing students with condoms actually encourages the earlier onset of sexual activity. If young people believe they will be safe when

transmitted diseases. If one accepts the premise that condoms are an effective means of prevention, it stands to reason that their distribution could have a significant impact. Providing condoms to students is the morally pragmatic thing to do. Educators need not endorse sexual activity, but they can encourage students to make wise choices if they decide to have sex. Such an approach is wise because it accepts the inevitability that some young people, regardless of the strength of an abstinence message, will still have sex.

using a condom they are much less likely to be deterred from engaging in dangerous and immoral behaviour.

Presenting condoms to students in a publicly funded environment presents a potential offence to people from a variety of religions. Catholics and followers of other religions who do not believe in birth control, and orthodox practitioners of a number of the worlds religions find the apparent encouragement of sexual activity an affront to their religious traditions. Providing condoms to students is a wise Taxpayers should not have to support programs investment of government funds. A fortune is that they find morally objectionable, even if spent by world governments each year there seem to be pragmatic justifications for the addressing the public health problems created by action. Moreover, if overall sexual activity risky sexual behaviour. The cost of raising the increases as the result of encouraging "safer many children created through unintended sex", the number of people occasionally pregnancies over a lifetime can be astronomical. engaging in risky behaviour will increase and The cost of treating a patient with HIV can be the risk of these problems spreading will enormous. increase with it. Providing access to birth control empowers Widespread condom distribution will establish women with more control over their bodies. sexual activity as the norm among young teens, Historically women have often suffered more creating peer pressure to participate in sex. The because of restrictive policies related to added temptation to engage in sexual activity reproduction (abortion laws, restrictions on birth that is "protected" will result in more women control purchases, parental consent policies). having sex at a younger age, perhaps furthering Men often dont have to face the consequences their exploitation. of their actions. Condom distribution encourages the responsibility of men and increases choices for women. It can also establish condom use as the norm, not something that women continually have to negotiate, often from a position of weakness. Condoms are one of the most effective means of The effectiveness of condoms is grossly protecting against STDs, HIV and pregnancy. exaggerated. If not used properly, condoms can For their cost, they are easily the most costbe highly ineffective. Young people are more effective means of protecting against these likely to use condoms incorrectly, due to lack of threats. experience with them or because they are drunk. Moreover, the temptation to have sex without a condom may be significant where the supply of condoms is not plentiful. Motions This house would provide free condoms to all secondary school students.

This house believes abstinence-based sex education is superior to condom distribution in schools. This house would give students the option of free access to condoms through their schools. 1) Penggunaan Narkotika dalam Bidang Kedokteran (a) Kokain digunakan sebagai penekan rasa sakit dikulit, digunakan untuk anestesi (bius) khususnyauntuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan. (b) Kodein merupakan analgesik lemah. Kekuatannya sekitar 1/12 dari morfin. Oleh karena itu, kodein tidak digunakan sebagai analgesik, tetapi sebagai anti batuk yang kuat. (c) Morfin adalah hasil olahan dari opium atau candu mentah. Morfin mempunyai rasa pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau cairan berwarna putih. Morfin, terutama digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat yang tidak dapat diobati dengan analgetik non narkotika. Apabila rasa nyeri makin hebat maka dosis yang digunakan juga makin tinggi. Semua analgetik narkotika dapat menimbulkan adiksi (ketagihan). Morfin juga digunakan untuk mengurangi rasa tegang pada penderita yang akan dioperasi. (d) Heroin adalah obat bius yang sangat mudah membuat seseorang kecanduan karena efeknya sangat kuat. Obat ini bisa ditemukan dalam bentuk pil, bubuk, dan juga dalam bentuk cairan. Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan sering disalahgunakan orang. Heroin disebut juga putaw. (e) Methadone, saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opium. Antagonis opioid (analgetik narkotika) telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid dan digunakan sebagai analgesia bagi penderita rasa nyeri. (f) Meperidin (sering juga disebut petidin, demerol, atau dolantin), digunakan sebagai analgesia.Obat ini efektif untuk diare. Daya kerja meperidin lebih pendek dari morfin.

2) Penggunaan Psikotropika Dalam Bidang Kedokteran Penggunaan obat-obat yang tergolong psikotropika dalam bidang kesehatan antara lain: a) Asam barbiturat (pentobarbital dan secobarbitol) sering digunakan untuk menghilangkan cemas sebelum operasi (obat penenang) b) Amfetamin (dan turunannya), digunakan untuk mengurangi depresi, kecanduan alkohol, mengobati parkinson kegemukan, keracunan zat tertentu, menambah kewaspadaan, menghilangkan rasa kantuk dan lelah, menambah keyakinan diri dan konsentarsi 3) Penggunaan Zat Adiktif dalam Bidang Kedokteran.

a) Pada dosis tertentu, nikotin yang terdapat pada rokok dapat digunakan sebagai obat untuk memulihkan ingatan seseorang. Hal ini karena nikotin dapat merangsang sensor penerima rangsangan di otak. b) Alkohol dapat membunuh kuman penyakit, sehingga biasanya digunakan untuk membersihkan alat-alat kedokteran pada proses sterilisasi. Ganja yang Jadi Kontroversi Senin, 9 Mei 2011 - 14:44 wib

Ganja berbahaya (Foto: Google) RIBUT-ribut masalah legalisasi ganja memang menarik dicermati. Setelah tahun lalu kita disibukkan dengan rokok dan undang undang sehubungan dengan itu, kini ada sebagian kelompok mengatakan perlunya legalisasi ganja. Rokok dan ganja secara pribadi saya kenal dalam buku-buku psikiatri umum dan buku psikiatri yang membahas khusus masalah penyalahgunaan zat adiktif. Keduanya sama-sama masuk golongan zat adiktif yang menimbulkan ketergantungan. Secara diagnostik, pemakaian kedua zat tersebut termasuk dalam diagnostik gangguan jiwa menurut DSM IV-TR (USA), ICD 10 (WHO) dan PPDGJ III (INDONESIA) yang bisa menimbulkan intoksikasi, reaksi putus zat, dan ketergantungan. Ganja sebenarnya merupakan sebutan canabis (yang mengandung tetrahidrocabinol) dengan kekuatan menengah. Canabis/mariyuana yang paling murah dan potensinya lemah banyak digunakan di Amerika Serikat dengan nama Bhang. Kekuatan mariyuana/ canabis yang paling kuat adalah Chara yang banyak ditemukan di India. Mariyuana sendiri sudah dikenal sejak lama, bahkan sejak sebelum Masehi dan terdapat dalam konpedium obat herbal China yaitu the Herbal of Emperor Shen Nung tahun 2737 SM. Efek Ganja Efek yang ingin didapatkan dari pemakaian ganja adalah rasa senang yang berkelebihan

(euforia). Selain euforia, sebenarnya pengguna ganja juga merasa waktu berjalan lambat sehingga terkadang menimbulkan efek ketenangan bagi mereka yang menggunakannya untuk relaks. Pada pemakaian yang berkelebihan, ganja bisa menyebabkan intoksikasi dengan gejala mata merah, jantung berdebar, mulut kering, dan nafsu makan yang bertambah. Orang yang mengalami intoksikasi ganja juga menjadi rentan terhadap stimulus luar. Dia menjadi merasa melihat cahaya lebih terang dan lebih kaya warna. Tidak heran ada beberapa pelukis yang menggunakan ganja sebagai media untuk mendapatkan gambaran warna yang jelas. Selain itu, ganja juga bisa menimbulkan ide-ide paranoid. Sangat tidak disarankan bagi pengguna ganja ketika sedang mengalami efek ganjanya mengendarai kendaraan bermotor karena sangat berbahaya akibat menurunnya daya psikomotor pengguna ganja. Penggunaan yang lama dari mariyuana juga menimbulkan penurunan daya pikir yang jelas. Walaupun efek yang diharapkan sebenarnya adalah mencapai keadaan euforia, salah satu keadaan yang mungkin terjadi adalah kebalikannya, yaitu amotivational syndrome alias sindrom tidak ada motivasi. Pemakai ganja bisa tidak ada keinginan untuk bekerja, sekolah, dan beraktivitas. Orang yang memakai ganja ini bisa tampak lemah, letih, dan lesu. Kebaikan Ganja Salah satu kebaikan ganja adalah serat tanaman ganja yang kuat yang dapat dibuat sebagai kantong yang kuat. Kontroversi penggunaan zat yang terkandung dalam tanaman ganja untuk kepentingan medis masih menjadi bahan perdebatan. Walaupun ada kegunaannya, seperti untuk pasien kemoterapi yang mengalami mual luar biasa, nyeri yang kronis yang tidak bisa sembuh dengan obat-obat konvensional, penggunaan bahan aktif yang terkandung dalam ganja untuk pengobatan masih ilegal di Amerika Serikat. Jadi, silakan Anda pilih sendiri, mana yang Anda anggap paling baik. Bagi saya, dengan melihat karakteristik masyarakat dan ketidaksiapan perangkat hukum, melegalkan ganja hanya akan menjadikan masalah baru dalam bidang kesehatan dan sosial ekonomi termasuk politik. Bagaimana dengan Anda?