You are on page 1of 4

Wool merupakan serat yang diperoleh dari bulu hewan dari keluarga Caprinae, terutama domba dan kambing,

tetapi bisa juga berasal dari bulu mamalia lainnya seperti alpaca. Wool diperkirakan muncul sejak 10000 tahun lalu di daerah Asia kecil. Orang yang tinggal didaerah Mesopotamia dulu memelihara domba untuk kebutuhan sandang dan pangan. Kehangatan pakaian wol dan mobilitas domba memungkinkan orang untuk menyebarkan peradaban keluar iklim yang hangat dari Mesopotamia. Antara 3000-1000 SM Persia, Yunani dan Romawi menstribusikan wool ke seluruh Eropa. Bangsa Romawi mengambil domba di mana-mana saat membangun kerajaan mereka, termasuk Kepulauan Inggris. Dari sana, Inggris membawa domba untuk semua koloni mereka. Serat wool berbeda dengan serat lain, karena struktur kimianya. Struktur kimia mempengaruhi tekstur, elastisitas, serabut, dan formasi crimp. Serat wool merupakan serat protein, komposisi serat wool adalah lebih dari 20 jenis asam amino. Serat wool juga mengandung sedikit lemak, kalsium, dan sodium. Sifat sifat wool : Bersifat porous sehingga dapat mengabsorpsi air lebih banyak dari serat lain, wool dapat menyerap air 18% dari beratnya tanpa terasa menjadi basah. Menimbulkan rasa hangat. Merupakan insulator yang sangat baik, sehingga mencegah rasa hangat tubuh hilang dan mencegah rasa dingin. Ringan. Sangat elastis, rata-rata wool dapat diregang sepanjang 30 persen panjang wool dan akan kembali kepada panjang semula. Memantulkan sinar ultraviolet. Mudah dicelup (diwarnai) dan warna celupan tidak mudah luntur. Tahan regangan. Kuat. Tidak dapat terbakar dan pembakaran akan segera terhenti apabila wool dijauhkan dari api. Dapat dilipat tanpa menimbulkan bekas lipatan.

Secara kimia, wool sebagian besar terdiri dari keratin yang merupakan bagian terbesar dari rambut, kuku dan tanduk serta bulu. Keratin adalah bahan nitrogen, sulfur dan asam amino. Komposisi kimia tersebut adalah karbon 50%, oksigen 22%, nitrogen 16-17% dan sulfur 3-4%. Bahan-bahan yang Melekat pada Wool Wool yang telah dicukur dalam bentuk diolah, mengandung bermacam-macam bahan yang melekat. Beberapa diantaranya tidak merugikan bahkan penting untuk pengawet sehingga wool dapat disimpan lama sebelum dipergunakan. Jumlah bahan-bahan yang melekat bervariasi dan dipengaruhi oleh bangsa domba, iklim dan makanan. Materi ini terdiri atas yolk, suint, rumput atau bahan berasal dari tanaman, kotoran, cairan, debu dan lain-lain. Dalam beberapa hal, bahan-bahan ini mengakibatkan wool bertambah besar. Persentase berbagai bahan yang melekat pada wool yang belum diolah terdapat pada tabel Jenis material Serat wool Yolk Suint Material asing Air Persentase dalam wool (%) 15-17 7-40 5-15 5-40 3-20

1. Yolk Yolk atau lemak wool secara langsung tampaknya adalah sangat penting dalam pengawetan. Wool yang mengandung yolk sedikit memperlihatkan kerusakan terutama di dekat ujung serat. Jumlah yolk yang disekresikan oleh domba wool halus dan padat bulunya adalah lebih banyak daripada domba berbulu kasar. Yolk adalah campuran beberapa macam material diantaranya kolesterol. Yolk adalah bukan lemak dan tidak membentuk sabun dengan alkali. Yolk larut dalam ether, alkohol, benzene dan lain-lain. Sebagian besar dapat dicuci dengan air dan membentuk emulsi. Apabila dimurnikan maka dapat lanolin nahan yang berguna untuk industri seperti kosmetika, semir bahan anti karat dan lain-lain.

2. Suint Suint tidak dapat dibedakan dari yolk. Yolk dan suint tercampur dalam wool yang belum diolah. Suint sangat berbeda dari yolk dan mudah larut dalam air. Suint terdiri atas garam-garam kalium dengan berbagai asam lemak, sedikit fosfat, sulfat dan bahan-bahan yang mengandung nitrogen. Jumlah suint disekresikan tidak mempunyai hubungan dengan besar produksi wool. Tampaknya suint merupakan sumber bau dari domba. 3. Material lainnya Material lain yang terdapat pada wool disebabkan karena benda tersebut menempel selama domba tidak dicukur bulunya. Benda-benda tersebut mungkin pula diperoleh hewan karena dipping atau spraying dan pemberian tanda dengan zat warna. Benda-benda asing yang menempel tersebut dapat berupa debu, pasir, rumput, kotoran hewan dan lain-lain. Benda-benda ini sangat menurunkan nilai wool keseluruhan, karena wool yang mengandung banyak bendabenda tersebut perlu mendapat perlakuan khusus di dalam pabrik untuk memperoleh wool yang siap untuk bahan pakaian dan lain-lain.

Penyusutan wool Bulu yang dicukur dari domba terdiri dari wool, lemak dan bahan-bahan asing lainnya. Di dalam pabrik, hanya wool saja yang digunakan, sedangkan lemak dan bahan-bahan asing lainnya disingkirkan. Setelah proses untuk membuan lemak dan kotoran lainnya dilakukan, maka diperoleh wool bersih. Persentase kandungan lemak dan benda-benda asing, kotoran lain-lain yang terbuang tersebut disebut penyusutan. Penyusutan dari wool dalam proses pembuangan kotoran bervariasi antara 35-80 persen. Bangsa domba wool halus banyak menghasilkan lemak di dalam woolnya, sehingga susut lebih banyak daripada bangsa domba wool sedang dan bangsa domba wool panjang. Domba-domba dalam satu bangsa juga memperlihatkan penyusutan yang bervariasi. Kondisi tempat dimana domba dipelihara akan menyebabkan bervariasinya penyusutan. Domba yang dipelihara di daerah kering akan lebih banyak mengandung kotoran dalam woolnya daripada domba yang dipelihara di tempat tertutup dengan vegetasi yang baik. Wool di bagian perut, kaki dan leher akan menyusut lebih banyak daripada wool pada bagian tubuh lainnya.

Wool dipergunakan untuk bahan pakaian pria dan wanita serta pakaian anak-anak. Untuk keperluan alat-alat rumah tangga seperti karpet kursi, tirai, selimut, dan lain-lain. Untuk keperluan-keperluan industri seperti untuk piano, isolasi, sumbu lampu, dan lain-lain.

http://www.binhaitimes.com/Wool.html
DASAR PENGOLAHAN SUSU DAN HASIL IKUTAN TERNAK, erniza saleh