BAB II KAJIAN TEORI

A.

Kepemimpinan Kepala Madrasah

1. Pengertian Kepemimpinan Kepala Madrasah Definisi tentang kepemimpinan sangat bervariasi sebanyak orang yang mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan, definisi kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi kelompok dan budayanya, serta mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktifitas-aktifitas untuk mencapai sasaran. Dalam definisi secara luas kepemimpinan meliputi proses yang mempengaruhi daam menentukan tujuan organisasi, motivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya ( Kholis, 2003: 152-153). Sedangkan Siagaan mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin suatu kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain terutama bawahannya untuk berfikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif ia memberikan sumbangsih nyata dalam pencapaian tujuan organisasi ( Anwar, 2004: 77).

15

Meskipun masih banyak definisi atau pengertian tentang 14 kepemimpinan yang dikemukakan para ahli lainnya, namun demikian pada dasarnya definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan konseptual, bahwa kepemimpinan merupakan suatu tindakan atau aktifitas kegiatan untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian pengertian kepemimpinan tersebut dapat timbul dari mana saja asalkan unsur-unsur dalam kepemimpinan itu terpenuhi, antara lain: adanya orang yang mempengaruhi, adanya orang yang dipengaruhi, adanya tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, adanya aktifitas, interaksi dan otoritas. Dengan melihat beberapa unsur tersebut, kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk beraktifitas, memimpin, menggerakkan, atau mempengaruhi bawahan, melakukan koordinasi serta megambil keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kenyataannya, apapun bentuk suatu organisasi pasti memerlukan seorang dengan atau tanpa dibantu orang lain untuk menduduki posisi pimpinan/pemimpin. Seseorang yang menduduki posisi pimpinan dalam suatu organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan, termasuk dalam hal ini adalah organisasi pendidikan, yang mana pemimpin dalam organisasi ini adalah kepala sekolah/madrasah.

16

Kepala madrasah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Dengan melihat penjelasan mengenai pengertian kepemimpinan dan kepala madrasah tersebut, maka dapat ditarik suatu maksud bahwa kepemimpinan kepala madrasah adalah kemampuan kepala madrasah untuk memimpin, meggerakkan, melakukan koordinasi, atau mempengaruhi para guru dan segala sumber daya yang ada di madrasah sehinga dapat di daya gunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam dunia Islam, kepemimpinan identik dengan istilah Khalifah yang berarti wakil. Pemakaian kata khalifah setelah Rasulullah SAW terdapat kata "Amir" yang bermakna penguasa. Allah SWT berfirman tentang kholifah dan amir dalam Al Qur'an pada surat Al Baqoroh ayat 30 dan surat An Nisa' ayat 59.

َ َ َ َ (30 :‫وَإ ِذ ْ قال رب ّك ل ِل ْملئ ِك َةِ إ ِني جاعل في الرض خليفة )البقرة‬ ً َ ِ َ ِ ْ ِ ٌ ِ َ ّ َ
Artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"(Q.S., 2:30)". (Mujamma' Al-Malik Fahd Li Thiba'at Al Mushhaf, tt: 13).

‫يا أ َي ّها ال ّذين آمنوا أ َطيعوا الل ّه وَأ َطيعوا الرسول وَأولي المرِ من ْك ُم‬ ِ ُ َ ُ ّ ُ َ َ ِ ُ ِ ُ ِ َ ْ ِ ْ َ َ (59 :‫)النساء‬
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu." (Q.S., 4:59). Di dalam hadits Nabi SAW menjelaskan tentang kepemimpinan yang merupakan sebuah tanggung jawab, yaitu sabda Nabi Muhammad SAW:

17

ٌ ْ َ ْ (3408 ,‫ك ُل ّك ُم راع وَك ُل ّك ُم مسؤُْل عَن رعي ّت ِهِ )رواه مسلم‬ ِ َ ْ ٍ َ ْ
Artinya: "Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masingmasing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin." (ٍ hahih Muslim No. 3408). S Jadi setiap orang adalah pemimpin, paling tidak adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan nantinya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT tentang apa yang telah dipimpinnya, termasuk dirinya sendiri. B. Strategi Kepemimpinan Bertolak dari pengertian kepemimpinan yang telah dibicarakan di atas, maka di dalam kepemimpinan ada tiga unsur yang saling berkaitan yaitu adanya unsur manusia, unsur sarana dan unsur tujuan. Dan untuk dapat memperlakukan ketiga unsur tersebut secara seimbang, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan atau kecakapan dan ketrampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pengetahuan dan ketrampilan dapat diperoleh dari pengalaman belajar secara teori ataupun dari pengalamannya dalam praktek selama menjadi pemimpin. Namun secara tidak disadari seorang pemimpin dalam menempatkan ketiga unsur tersebut dalam rangka menjalankan kepemimpinannya menurut caranya sendiri dan cara yang digunakan merupakan pencerminan dari sifat-sifat dasar kepribadian seorang pemimpin. Cara atau teknik seseorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan dikatakan sebagai stategi kepemimpinan seseorang. Adapun strategi-strategi kepemimpinan yang pokok ada 3, yaitu menurut Lewin : 1. Stategi Kepemimpinan Otokrasi

18

Karakteristik kepemimpinan stategi ini adalah sebagai berikut : 1) Seorang pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggotaanggotanya. 2) Memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. 3) Kekuasaan pemimpin dibatasi oleh undang-undang. 4) Penafsirannya sebagai pemimpin adalah tidak lain hanya menunjukkan dan memberi perintah. 5) Kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan, tidak boleh membantah. 6) Pemimpin yang otokratis tidak menghendaki rapat (musyawarah). Musyawarah hanyalah berarti untuk menyampaikan instruksi-instruksi. 7) Dalam tindakannya dan perbuatannya tidak dapat diganggu gugat. 8) Supervisi bagi pemimpin stategi otokrasi hanyalah berarti mengontrol apakah segala perintahnya ditaati atau dijalankan dengan baik. 2. Stategi Kepemimpinan Laissez Faire Stategi kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Stategi ini dapat diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Adapun ciri-cirinya adalah : 1) Kepemimpinan stategi ini pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggotanya. 2) Pembagian tugas dan kerja diserahkan kepada anggota-anggotanya, tanpa petunjuk atau saran dari pimpinan. 3) Kekuasaan dan tanggung jawab simpang-siur dan tidak merata.

19

4) Tingkat keberhasilan lembaga semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota, dan bukan karena pengaruh pemimpinnya. 5) Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pengawasan dari pimpinan. 3. Stategi Kepemimpinan Demokratis Pemimpin stategi ini menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota kelompok bukan sebagai majikan terhadap buruhnya. Adapun ciri-ciri dari kepemimpinan demokratis adalah : 1) Bekerja untuk mencapai tujuan bersama. 2) Dalam bertindak selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya. 3) Dalam melaksanakan tugas, pemimpin dengan stategi ini mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari kelompoknya. 4) Mau menerima kritik-kritik yang membangun dari para anggota sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakantindakan berikutnya. 5) Mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan menaruh kepercayaan pula pada anggota-anggotanya bahwa mereka punya kesanggupan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab.

20

6) Selalu memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan, dan senantiasa berusaha membangun semangat anggota-anggotanya dalam menjalankan dan mengembangkan daya kerjanya. Menurut Sondang P. Siagian sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto, bahwa stategi kepemimpinan dibagi menjadi 5 stategi beserta ciri-cirinya sebagai berikut : 1. Otokrasi Kepemimpinan dengan stategi otokrasi dengan ciri-ciri : a. pribadi. b. Mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan Mengganggap organisasi yang dipimpinnya sebagai milik

organisasi. c. d. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. Tidak mau menerima pendapat, saran, kritik dari

anggotanya. e. f. Terlalu bergantung pada kekuasaan formalnya. Caranya menggerakkan bawahan dengan pendekatan

paksaan dan bersifat mencari kesalahan. 2. Militerisme Seorang pemimpin yang militeristis memiliki sifat-sifat : a. perintah. Dalam menggerakkan bawahan sering menggunakan cara

21

b.

Dalam menggerakkan bawahan seorang bergantung pada

pangkat/ jabatannya. c. d. e. f. Senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku pada bawahannya. Sukar menerima kritikan atau saran dari bawahannya. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Paternalistis Seorang pemimpin yang paternalistis adalah : a. b. c. Menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa. Bersifat terlalu melindungi. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk

mengambil keputusan. d. Hampir tidak pernah memberi kesempatan kepada bawahan

untuk berinisiatif sendiri. e. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk

mengembangkan kreasi dan fantasi. f. Sering bersikap maha-tahu.

4. Karismatis Ciri-ciri seorang pemimpin yang karismatis : a. b. Mempunyai daya penarik yang sangat besar. Pengikutnya tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka

tertarik mengikuti, dan

22

c. power).

Dia seolah-olah memiliki kekuatan ghaib (supernatural

5. Demokratis Pemimpin yang demokratis memiliki sifat-sifat : a. Dalam menggerakkan bawahan bertitik tolak dari pendapat

bahwa manusia itu makhluk yang termulia di dunia. b. c. d. Senang menerima saran, pendapat, dan kritik dari bawahan. Mengutamakan kerjasama dalam mencapai tujuan. Memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan dan

membimbingnya. e. dirinya. Adapun stategi kepemimpinan menurut Barlett adalah : 1. Tipe Institusional Otoritas dari pemimpin didasarkan atas adat kebiasaan atau peraturanperaturan yang telah disepakati. 2. Tipe Dominan Adalah tipe pemimpin yang biasanya menggunakan paksaan ataupun dengan kekerasan dalam menyelesaikan suatu masalah. 3. Tipe Persuasif Adalah tipe pemimpin yang dalam pendekatan kepada yang dipimpin digunakan cara membujuk, tidak dengan paksaan, memberikan sugestiMengusahakan agar bawahan dapat lebih sukses daripada

23

sugesti agar yang dipimpin dapat mengikuti apa yang dikehendaki oleh pemimpin. C. 1. Pemasaran jasa pendidikan. Definisi Jasa Dewasa ini, jasa pendidikan memegang peranan vital dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Akan tetapi, minat dan perhatian pada aspek kualitas jasa pendidikan dapat dikatakan baru berkembang dalam satu dekade terakhir ini. Keberhasilan jasa pendidikan dapat ditentukan dalam bentuk pemberian layanan yang berkualitas kepada para pengguna jasa pendidikan (siswa). Sebelum lebih jauh membahas mengenai pemasaran jasa pendidikan, maka terlebih dahulu akan dibahas mengenai pengertian jasa dari beberapa ahli sehingga pemasaran jasa pendidikan yang dimaksud dalam tesis ini dapat dipahami secara komprehensif. Menurut Lovelock (2004), jasa dapat didefinisikan sebagai berikut. 1. Tindakan atau perbuatan yang ditawarkan oleh suatu kelompok kepada kelompok lainnya. 2. Aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai dan menyediakan manfaat bagi pelanggan pada waktu dan tempat tertentu. 3. Sesuatu yang dapat dibeli dan dijual. Senada dengan Lovelock, Zeithaml dan Bitner (2003) mengatakan bahwa jasa meliputi semua aktivitas ekonomi dengan output selain produk fisik atau konstruksi, yang pada dasarnya dikonsumsi dan diproduksi pada saat yang

24

bersamaan, serta menyediakan nilai tambah (dalam bentuk kenyamanan, hiburan, ketepatan waktu, kesenangan, atau kesehatan) yang pada hakekatnya tidak berwujud bagi para pembeli pertamanya. Sedangkan Kotler dan Keller (2006) mengemukakan pengertian jasa sebagai setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik. Pada bagian lain, Stanton (2002) mendefinisikan jasa sebagai aktivitas-aktivitas yang dapat diidentifikasi dan tidak berwujud yang merupakan obyek utama dari suatu transaksi yang dirancang untuk menyediakan kepuasan yang diinginkan oleh pelanggan. Lamb dkk (2001) memberikan pengertian jasa sebagai hasil dari usaha penggunaan manusia dan mesin terhadap sejumlah orang atau obyek. Jasa meliputi suatu perbuatan, kinerja, atau suatu upaya yang tidak dapat diproses secara fisik. Definisi jasa menurut Alex (2006) adalah suatu produk tidak berwujud yang melibatkan suatu perbuatan, kinerja, atau usaha yang secara fisik tidak dapat dimiliki. Komponen utama dari jasa adalah tidak berwujud, yang meliputi sewa barang, perubahan dan perbaikan barang yang dimiliki oleh pelanggan, dan jasa pribadi. Dari definisi yang dikemukakan oleh Lovelock, Zeithaml dan Bitner, Kotler dan Keller, Stanton, Lamb et al. dan Alex, maka dapat dikatakan

25

bahwa jasa merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang tidak berwujud, namun dapat dinikmati. Jasa merupakan tindakan atau perbuatan yang seringkali melibatkan hal-hal yang berwujud. Akan tetapi, jasa itu sendiri pada dasarnya tidak berwujud (Jurnal Pendidikan Penabur, 2008:44). Menurut Munir (1991), jasa adalah suatu bentuk sistem, prosedur atau metode tertentu yang diberikan kepada orang lain (dalam hal ini pelanggan) agar kebutuhan pelanggan tersebut dapat terpenuhi sesuai dengan harapan mereka. Menurut Siagian (1998), jasa secara umum adalah upaya untuk memberikan kesenangan-kesenangan kepada pelanggan dengan adanya kemudahan-kemudahan agar pelanggan dapat memenuhi kebutuhannya. Dari definisi yang dikemukakan oleh Munir dan Siagian, maka dapat dikatakan bahwa jasa merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan manfaat bagi pelanggan yang sesuai dengan harapan pelanggan. Dari pengertian jasa yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis di atas, maka dapat dikatakan bahwa jasa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk memberikan manfaat bagi pelanggan. Jasa merupakan tindakan atau perbuatan yang seringkali melibatkan hal-hal yang berwujud. Akan tetapi, jasa itu sendiri pada dasarnya tidak berwujud. Pada dasarnya, produk yang dihasilkan oleh sekolah adalah jasa pendidikan dan lulusan, yang disajikan kepada pelanggannya, yaitu siswa.

26

Jasa pendidikan terbagi atas jasa kurikuler, penelitian, pengembangan kehidupan bermasyarakat, ekstrakurikuler, dan administrasi. Bentuk jasa pendidikan tersebut hendaknya sejalan dengan permintaan pasar atau keinginan pasar yang diikuti oleh kemampuan dan kesediaan dalam membeli jasa pendidikan. Sekolah hendaknya dapat berorientasi kepada kepuasan pelanggannya. Jasa pendidikan merupakan jasa yang bersifat kompleks karena bersifat padat karya dan padat modal. Padat karya berarti dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus dalam bidang pendidikan, sedangkan padat modal berarti membutuhkan infrastruktur pendidikan yang lengkap dan mahal. 2. Klasifikasi Jasa Pengelompokkan jasa akan membantu kita dalam memahami manajemen jasa. Untuk menunjukkan beberapa masalah umum yang terjadi secara lintas sektoral, Schmenner (1986) mengelompokkan jasa ke dalam matriks proses jasa. Di dalam matriks ini, jasa diklasifikasikan menjadi dua dimensi yang secara signifikan mempengaruhi karakter proses penyampaian jasa, yaitu: a. Dimensi vertikal Dimensi vertikal ini mengukur tingkat intensitas tenaga kerja, yaitu rasio antara biaya tenaga kerja terhadap biaya modal. Oleh karena itu, jasa ini memerlukan modal yang besar, seperti rumah sakit, yang berada di posisi baris bawah karena investasi awal yang berupa gedung rumah sakit beserta segala fasilitas dan peralatannya jauh diatas biaya tenaga kerja.

27

Sementara itu, jasa yang bersifat padat karya seperti sekolah, berada di posisi baris atas karena biaya tenaga kerjanya relatif lebih besar daripada kebutuhan modal kerjanya. b. Dimensi horizontal Dimensi horizontal ini mengukur tingkat interaksi dan kustomisasi pelanggan, dimana variabel pemasaran yang menggambarkan kemampuan pelanggan itu mempengaruhi sifat-sifat jasa yang disampaikan kepadanya. Jika dibandingkan dengan jasa yang dikustomisasi, jasa yang distandarisasi memerlukan sedikit interaksi antara pelanggan dengan penyedia jasa. Misalnya, interaksi antara tamu hotel dengan duty manager tidak sebesar interaksi antara dokter dengan pasiennya. Itulah sebabnya maka pada matriks di bawah ini, terlihat bahwa hotel berada pada kolom kiri bawah, sedangkan dokter berada pada kolom kanan atas. Pada matriks strategi dalam Gambar 2.1 di bawah ini, jasa dikelompokkan ke dalam empat kuadran yang masing-masing diberi nama untuk menggambarkan sifat jasa yang diilustrasikan.
Tingkat Interaksi dan kustomisasi Mass Service Tinggi Sekolah Pedagang Eceran Service Factory Maskapai Penerbangan Hotel Rendah Professional Service Dokter Konsultan Bisnis Service Shop Rumah Sakit Bengkel Mobil Tinggi

Tingkat intensitas tenaga kerja
Rendah

28

Gambar 2.1 : Matriks Proses Jasa

Berdasarkan matriks di atas, jasa dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori sebagai berikut. 1. Pabrik jasa (service factory) Seperti halnya suatu pabrik, pabrik jasa menyediakan jasa yang telah terstandarisasi dan pada umumnya memerlukan investasi yang tinggi, seperti maskapai penerbangan dan hotel.

2. Toko jasa (service shop) Seperti halnya barang-barang yang dijual di sebuah toko, toko jasa menyediakan beberapa jasa yang dapat dikustomisasi, tetapi hal ini masih dilakukan di dalam lingkungan dengan modal yang tinggi, seperti rumah sakit dan bengkel mobil. 3. Jasa massal (mass service) Pelanggan jasa massal akan menerima jasa yang seragam, yang dibuat dengan konsep padat karya, seperti sekolah, pedagang eceran, dan pedagang grosir. 4. Jasa profesi (professional service) Pelanggan jasa profesi akan menerima layanan khusus dari para spesialis dan bentuk layanannya berbeda-beda untuk setiap individu pelanggan, seperti arsitek, konsultan bisnis, akuntan, dan dokter. Kotler dan Keller (2006) mengklasifikasikan industri jasa menjadi 4 sektor, yaitu:

29

1. Sektor pemerintah, yang berada pada bisnis jasa, meliputi pengadilan, pelayanan ketenagakerjaan, rumah sakit, lembaga pemberi pinjaman, militer, kepolisian, pemadam kebakaran, kantor pos, lembaga pembuat peraturan, dan sekolah. 2. Sektor nirlaba swasta, yang berada pada bisnis jasa, meliputi museum, badan amal, gereja, perguruan tinggi, yayasan, dan rumah sakit. 3. Sektor bisnis, yang berada pada bisnis jasa, meliputi perusahaan penerbangan, bank, jasa komputer, hotel, perusahaan asuransi, konsultan hukum, konsultan manajemen, praktek dokter, perusahaan film, dan perusahaan real estat. 4. Sektor manufaktur, yang merupakan penyedia jasa, meliputi operator komputer, akuntan, dan staf hukum. 3. Karakteristik Jasa Pada dasarnya, jasa merupakan sesuatu yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain yang sifatnya tidak berwujud dan tidak memiliki dampak perpindahan hak milik. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan karakteristik jasa yang perlu dipertimbangkan dalam merancang program pemasaran. Karakteristik jasa pendidikan di bawah ini diadaptasi dari pernyataan Tjiptono (2000) yang mengatakan bahwa jasa secara umum memiliki karakteristik utama sebagai berikut. 1. Intangibility (Tidak Berwujud) Jasa pendidikan tidak berwujud sehingga menyebabkan para pengguna jasa pendidikan tidak dapat melihat, mencium, mendengar, dan

30

merasakan hasil pendidikan sebelum mereka mengkonsum-sinya (menjadi subsistem lembaga pendidikan). Akan tetapi, jika para pengguna jasa pendidikan telah mengkonsumsi jasa pendidikan, atau dengan kata lain, mereka telah menjadi lulusan lembaga pendidikan, mereka dapat merasakan dan melihat hasil keluaran pendidikan yang telah mereka terima. Oleh karena itu, tugas dari para pemasar jasa pendidikan adalah mentransformasi jasa pendidikan yang tidak berwujud menjadi manfaat pendidikan (lulusan) yang konkret. Untuk menghindari ketidakpastian, maka para pengguna jasa pendidikan akan mencari tanda atau informasi tentang kualitas jasa pendidikan tersebut. Tanda atau informasi tersebut dapat diperoleh berdasarkan letak lokasi lembaga pendidikan, lembaga pendidikan penyelenggara, peralatan dan alat komunikasi yang digunakan, serta besarnya biaya yang ditetapkan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan lembaga pendidikan untuk meningkatkan calon pengguna jasa pendidikan, yaitu sebagai berikut. a. Meningkatkan visualisasi jasa pendidikan yang tidak berwujud menjadi jasa pendidikan yang berwujud. b. Menekankan pada manfaat yang akan diperoleh (lulusan lembaga pendidikan). c. Menciptakan atau membangun suatu nama merek lembaga pendidikan (education brand name).

31

d. Memakai nama seseorang yang sudah dikenal untuk meningkatkan kepercayaan konsumen (pengguna jasa pendidikan). 2. Inseparability (Tidak Dapat Dipisahkan) Jasa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, yaitu lembaga pendidikan yang menyediakan jasa tersebut. Artinya, jasa pendidikan dihasilkan dan dikonsumsi secara serempak (simultan) pada waktu yang bersamaan. Jika peserta didik membeli jasa, maka mereka akan berhadapan langsung dengan penyedia jasa pendidikan. Dengan demikian, jasa pendidikan lebih diutamakan penjualannya secara langsung dengan skala operasi yang terbatas. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dapat menggunakan strategi bekerja dalam kelompok yang lebih besar, bekerja lebih cepat, atau melatih para penyaji jasa agar mereka mampu membina kepercayaan para pelanggannya (peserta didik). 3. Variability (Bervariasi) Jasa pendidikan bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandardized output, yaitu banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenisnya tergantung pada siapa, kapan, dan di mana jasa tersebut dihasilkan. Ada tiga faktor yang menyebabkan variabilitas kualitas jasa pendidikan, yaitu: a. Partisipasi pelanggan (peserta didik) selama penyampaian jasa pendidikan. b. Moral atau motivasi guru dalam melayani pelanggan (peserta didik). c. Beban kerja sekolah.

32

4. Perishability (Tidak Tahan Lama) Jasa pendidikan merupakan komoditas yang tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Sifat tidak tahan lama berarti jasa tidak dapat dimasukkan ke dalam gudang atau dijadikan persediaan. Dalam bidang pendidikan, sifat tidak tahan lama ini dapat dijelaskan dengan kondisi kosongnya kelas atau tidak adanya siswa di kelas sehingga menyebabkan hilangnya pendapatan sekolah. Sedangkan sifat tidak dapat disimpan berarti jasa tersebut bersifat mudah lenyap. Dalam bidang pendidikan, sifat tidak dapat disimpan dapat dijelaskan dengan kondisi sekolah yang banyak memiliki guru karena adanya permintaan jasa pendidikan sewaktu kegiatan belajar yang padat jika dibandingkan dengan permintaan jasa pendidikan yang cukup merata setiap hari di sekolah. Apabila diperhatikan batasan dan karakteristik jasa pendidikan yang telah diutarakan di atas, maka ternyata dunia pendidikan merupakan bagian dari batasan tersebut. Dengan demikian, lembaga pendidikan termasuk dalam kategori lembaga pemberi jasa para konsumen, dalam hal ini adalah siswa dan orang tua siswa. Mereka inilah yang berhak memberikan penilaian apakah bermutu atau tidaknya suatu output lembaga pendidikan. 4. Pendidikan Sebagai Usaha Penawaran Jasa Dalam buku-buku pengantar teori ekonomi sering disebutkan bahwa ada dua hal yang diperjua-belikan: barang dan jasa (goods and services).

33

Usaha pendidikan yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai usaha penawaran (penjualan) jasa (service industry) seperti halnya usaha pelayanan telepon, hotel, pariwisata, pelayanan dokter, rumah sakit, bank, dsb. Ciri khas jasa yang diperjual-belikan, antara lain, adalah jasa tidak berujud, tidak tahan lama (tidak dapat disimpan). Dalam hal usaha pendidikan, yang diperjual-belikan adalah jasa layanan pendidikan. Ini mungkin kedengarannya kurang pas , tetapi semua unsur usaha

bisnis ( dagang) ada di situ. Usaha pendidikan juga memerlukan modal awal (tanah, sumber daya manusia, uang untuk dana operasional). Modal itu kemudian diramu dan dikelala (manajemen) sehingga menjadi produk yang siap untuk ditawarkan kepada konsumen, yaitu layanan pendidikan tingkat SD, SLTP, SLTA, atau kursus bahasa Inggris. Konsumennya adalah masyarakat yang menggunakan jasa layanan pendidikan itu (siswa atau orang tuanya). Untuk itu mereka harus mengeluarkan uang (uang gedung atau SPP). Agar calon konsumen itu mau menggunakan jasa layanan pendidikan kita, mereka perlu dibangkitkan minatnya terhadap jasa yang kita tawarkan. Yang mungkin agak menyejukkan adalah bahwa, walaupun samasama usaha bisnis, usaha pendidikan berbeda dari usaha dagang biasa. Perbedaannya terletak pada orientasinya. Usaha dagang biasa lebih berorientasi pada keuntungan (laba atau profit) sedang usaha pendidikan tidak. Oleh karena itu, di beberapa negara, usaha pendidikan (dan usaha sosial lainnya) dimasukkan ke dalam kategori lembaga usaha yang tak

34

berorientasi pada keuntungan (non-profit organization), walaupun ada juga lembaga pendidikan yang, secara sadar atau tidak, lebih berorientasi pada keuntungan daripada layanan masyarakat (public service) (Arief, 1998:1). 5. Fungsi Pemasaran Dalam Pendidikan Fungsi pemasaran (marketing) dalam dunia pendidikan adalah untuk menciptakan citra baik terhadap madrasah sebagai lembaga pendidikan. Tujuannya adalah menarik minat anggota masyarakat untuk menggunakan jasa layanan pendidikan yang diberikan oleh madrasah itu. Cara untuk menciptakan citra ini bermacam-macam, tergantung pada anggota masyarakat yang dituju. Apabila calon konsumen yang kita tuju adalah masyarakat golongan ekonomi lemah, maka kita harus menciptakan citra bahwa madrasah kita itu tidak mahal. Apabila calon konsumen yang dituju adalah golongan ekonomi menengah ke atas yang berani membayar lebih untuk kualitas layanan yang lebih baik, maka citra yang harus kita ciptakan adalah bahwa madrasah kita memberikan layanan yang lebih bagus daripada sekolah lain, walaupun untuk itu mereka harus membayar lebih mahal sedikit. Penetapan danem agak tinggi juga sering dimaksudkan untuk menciptakan citra bahwa madrasah yang bersangkutan bersikap selektif dan lebih mementingkan prestasi daripada kemampuan membayar (Arief, 1998:2). 6. Tantangan Pengelola Jasa Pengelola jasa dalam kategori jasa apapun mempunyai tantangan yang serupa. Agar dapat bertahan dalam situasi ekonomi yang turbulen, maka jasa yang memerlukan investasi yang besar seperti rumah sakit perlu mengikuti

35

perkembangan teknologi. Selain itu, juga diperlukan manajer khusus untuk mengatur penggunaan semua peralatan rumah sakit yang dimiliki. Sementara itu, manajer dari industri jasa yang sangat mengandalkan kemampuan individual seperti profesi konsultan atau dokter, harus lebih berkonsentrasi pada hal-hal pribadi. Tingkat kustomisasi pelanggan mempengaruhi kemampuan untuk mengendalikan kualitas jasa yang disampaikan dari persepsi jasa yang diterima pelanggan. Schmenner (1986) menunjukkan berbagai tantangan yang dihadapi pengelola jasa dalam setiap proses jasanya pada Gambar 2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2 Tantangan pengelola jasa

36

Kepala sekolah selaku pengelola jasa massal (mass service) dihadapkan kepada berbagai tantangan sebagai berikut. 1. Melakukan Rekrutmen Guru dan Staf Sekolah Gorton (1976) mengatakan bahwa tujuan dari rekrutmen pegawai adalah menyediakan calon pegawai yang betul-betul baik (surplus of candidates) dan yang paling memenuhi kualifikasi (most qualified and oustanding individuals) untuk sebuah posisi. Dalam rangka mendapatkan calon guru dan staf sekolah yang profesional, paling memenuhi kualifikasi, dan menjanjikan untuk menduduki posisi tertentu tidak mudah. Oleh karena itu, Bafadal (2003) mengemukakan beberapa prinsip yang harus dipegang teguh baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan rekrutmen guru dan staf sekolah, yaitu sebagai berikut. a. Rekrutmen guru dan staf sekolah harus dirancang secara matang agar dapat memenuhi kebutuhan. b. Rekrutmen guru dan staf sekolah harus dilakukan secara obyektif. c. Agar mendapat calon guru dan staf sekolah yang profesional, maka sebaiknya materi seleksi pegawai baru harus komprehensif mencakup semua aspek persyaratan yang harus dimiliki oleh calon guru dan staf sekolah. 2. Mengadakan Program Pelatihan Guru dan Staf Sekolah Dalam rangka memberdayakan guru dan staf sekolah agar memiliki kemampuan dan sifat-sifat jasa pendidikan berkualitas, maka

37

perlu diadakan program pelatihan guru dan staf sekolah yang meliputi sebagai berikut: a. Program Pendidikan Prajabatan (Bagi CPNS) Program pendidikan prajabatan meliputi ketentuan mengenai pendidikan minimum calon guru dan staf sekolah serta prosedur seleksi calon guru dan staf sekolah yang memperhatikan aspek kebutuhan obyektif (kualitas dan kuantitas) serta keterbukaan (semua informasi tentang penerimaan tenaga guru dan staf sekolah harus disampaikan kepada masyarakat luas dan jelas).

b. Program Pendidikan dan/atau Pelatihan dalam Jabatan Program pendidikan dan/atau pelatihan dalam jabatan meliputi orientasi jabatan, pelatihan dalam jabatan, dan pendidikan dalam jabatan yang memperhatikan aspek kebutuhan obyektif, keterbukaan, serta pemanfaatan (memanfaatkan tenaga guru dan staf sekolah yang telah mengikuti program pendidikan dan/atau pelatihan dalam jabatan). 3. Mengadakan Program Pengembangan Guru dan Staf Sekolah Tahapan dalam program pengembangan guru dan staf sekolah (Bafadal, 2003): a. Mengidentifikasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalahmasalah yang seringkali dimiliki atau dialami oleh guru dan staf sekolah.

38

b. Menetapkan program pengembangan yang sekiranya diperlukan untuk mengatasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, dan masalah-masalah yang seringkali dimiliki atau dialami oleh guru dan staf sekolah. c. Merumuskan tujuan dari program pengembangan yang diharapkan dapat dicapai pada akhir program pengembangan. d. Menetapkan serta merancang materi dan media yang akan digunakan dalam program pengembangan. e. Menetapkan serta merancang metode dan media yang akan digunakan dalam program pengembangan. f. Menetapkan bentuk dan mengembangkan instrumen penilaian yang akan digunakan dalam mengukur keberhasilan program pengembangan. g. Menyusun dan mengalokasikan anggaran dari program pengembangan. h. Melaksanakan program pengembangan sesuai dengan materi, metode, dan media yang telah ditetapkan dan dirancang sebelumnya. i. Mengukur keberhasilan dari program pengembangan. j. Menetapkan program tindak lanjut pengembangan guru dan staf sekolah di masa mendatang. 4. Mengendalikan Seluruh Kegiatan Sekolah Untuk mengetahui kondisi yang perlu diteliti kepala sekolah selaku supervisor, maka kita perlu menjawab pertanyaan sebagai berikut (Suryosubroto, 2004):

39

a. Bagaimana keadaan gedung sekolah? Apakah sudah baik dan memenuhi syarat atau sudah rusak? Bagaimana usaha perbaikannya? b. Apakah perlengkapan sekolah dan alat-alat pelajaran cukup dan memenuhi persyaratan filosofis, psikologis, dan didaktis? Jika belum, apa kurangnya? Bagaimana usaha untuk mencukupinya? c. Bagaimana keadaan gurunya? Apakah terlalu banyak wanitanya? Apakah terlalu banyak guru honorer daripada guru tetap? Apakah ada kemungkinan usaha untuk menjaga keadaan dengan sebaik-baiknya? d. Bagaimana semangat kerja guru dan pegawai sekolah? Apakah banyak pegawai dan guru yang malas? Bagaimana absensi/presensi mereka? Apa yang menjadi sebabnya? e. Bagaimana cara guru mengajar? Apakah sesuai dengan kurikulum yang berlaku? Adakah usaha mereka untuk selalu memperbaiki dan mencoba metode-metode mengajar yang baik? f. Bagaimana hasil pelajaran dan pendidikan siswa? Apakah terlihat adanya kemajuan/perbaikan dari setiap triwulan atau semester dari tahun ke tahun? g. Bagaimana usaha yang dilakukan untuk memperbaiki serta meningkatkan cara kerja dan mutu guru? Apakah dengan usaha menambah kesejahteraan mereka? Apakah dengan mengadakan kunjungan kelas pada waktu mereka mengajar, rapat, sanggar kerja (workshop), pelatihan staf, atau up-grading?

40

h. Bagaimana sikap dan perasaan tanggung jawab guru dalam partisipasinya terhadap pembinaan dan kemajuan sekolah? Adakah sikap dan sifat kepemimpinan dari kepala sekolah yang kurang sesuai sehingga mempengaruhi situasi kehidupan sekolah pada umumnya? 5. Meningkatkan Kesejahteraan Guru dan Staf Sekolah Ada delapan hal yang diinginkan guru melalui kerjanya, yaitu rasa aman dan hidup layak, kondisi kerja yang menyenangkan, rasa diikutsertakan, perlakuan yang wajar dan jujur, rasa mampu, pengakuan dan penghargaan atas sumbangan, ikut ambil bagian dalam pembentukan kebijakan sekolah, serta kesempatan untuk mempertahankan “self respect” (Wiles, 1955). Delapan kebutuhan tersebut dapat dikembangkan menjadi item-item pertanyaan untuk mengukur kepuasan kerja guru, yaitu antara lain: a. Bagaimana kepuasan guru terhadap gaji yang diperoleh? b. Apakah gaji yang diperoleh guru dapat memenuhi kebutuhan pokoknya? c. Bagaimana kepuasan guru terhadap keadaan kondisi kerja di sekolah? d. Bagaimana kepuasan guru terhadap partisipasinya dalam kegiatan sekolah? e. Bagaimana kepuasan guru terhadap perlakuan kepala sekolah? f. Dan sebagainya. 6. Melakukan Strategi Pertumbuhan Usaha di Sekolah

41

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan usaha di sekolah, sekolah perlu menciptakan dirinya sebagai sekolah yang efektif. Lockheed (1990) menyatakan bahwa sekolah yang efektif memiliki karakteristik sebagai berikut. a. Komunikasi yang lebih terbuka: komunikasi antara stakeholders meningkat. b. Pengambilan keputusan bersama: stakeholders mengalami lebih banyak tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. c. Memperhatikan kebutuhan guru: perhatian dan kemampuan sekolah terhadap kebutuhan guru dapat memberikan motivasi pada guru. d. Memperhatikan kebutuhan siswa: sekolah yang memperhatikan kebutuhan siswanya akan lebih diterima oleh siswa, orang tua, dan masyarakat. e. Keterpaduan antara sekolah dengan masyarakat: sekolah mempunyai peran sosial yang penting dalam masyarakat. Oleh karena itu, kepala sekolah selaku pengelola jasa massal sekolah menghadapi berbagai tantangan seperti melakukan rekrutmen guru dan staf sekolah, mengadakan program pelatihan guru dan staf sekolah, mengadakan program pengembangan guru dan staf sekolah, mengendalikan seluruh kegiatan sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru dan staf sekolah, serta melakukan strategi pertumbuhan usaha di sekolahnya dalam rangka meningkatkan daya saing sekolah. 7. Pemasaran Jasa Pendidikan

42

Fungsi pemasaran pada organisasi yang berorientasi laba (perusahaan) dengan organisasi nirlaba (sekolah) sangat berbeda. Perbedaan yang nyata terletak pada cara organisasi dalam memperoleh sumber dana yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasi. Perusahaan memperoleh modal pertamanya dari para investor atau pemegang saham. Jika perusahaan telah beroperasi, dana operasional perusahaan terutama diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Dalam hal ini, perusahaan hanya menghadapi satu unsur pokok, yaitu konsumen. Jika produk yang dihasilkan oleh perusahaan dapat memuaskan para konsumennya, maka transaksi akan terjadi dan perusahaan mempunyai dana untuk dapat melanjutkan aktivitas operasionalnya. Sebaliknya, organisasi nirlaba (sekolah) memperoleh dana dari sumbangan para donator atau lembaga induk yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Sebagai akibatnya, dalam sekolah timbul transaksi tertentu yang jarang terjadi dalam perusahaan, yaitu penerimaan sumbangan. Dengan anggaran yang diperolehnya itu, sekolah menghasilkan jasa yang ditawarkan kepada konsumennya (siswa). Berbeda dengan perusahaan, apabila jasa yang dihasilkan sekolah ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan siswanya, maka para donatur masih mungkin akan memberi dana lagi jika para donatur masih menganggap sekolah itu baik. Sebaliknya, meskipun jasa yang dihasilkan oleh sekolah itu sesuai dengan kebutuhan dan

43

keinginan siswanya, itu belum menjamin bahwa anggaran para donatur untuk sekolah itu akan meningkat. Konsekuensi dari perbedaan perusahaan dengan sekolah tersebut adalah bahwa ukuran keberhasilan perusahaan dan sekolah itu berbeda. Perusahaan yang pada dasarnya berorientasi terhadap laba akan dianggap sukses jika berhasil meraup untung yang besar. Sebaliknya, pada sekolah, meskipun berhasil memperoleh dana yang lebih besar dari para donatur, mungkin saja sekolah tersebut gagal dalam memanfaatkan sumber daya tersebut secara efektif dan efisien bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswanya. Oleh karena itu, kemampuan sekolah dalam memperoleh sumber daya tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan organisasi sekolah. Dengan demikian, keberhasilan sekolah harus diukur dari sejauh mana jasa yang dihasilkan oleh sekolah tersebut telah memenuhi kebutuhan dan keinginan siswanya. Menurut Kotler dan Fox (1995), institusi pendidikan memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik ini terkait erat dengan teori pertukaran sosial. Institusi pendidikan memerlukan berbagai macam sumber daya (seperti para siswa, dana, sukarelawan, waktu, dan energi), dan sebagai imbalannya menawarkan pelayanan dan kepuasan. Hal ini sangat bervariasi tergantung pada jenis institusinya. Misalnya, sekolah menyediakan jasa pemeliharaan dan perawatan anak (custodial care), jasa kemasyarakatan, serta penyiapan murid untuk ujian negara. Ada lima bidang pertukaran utama dalam suatu lingkungan institusi pendidikan, yaitu:

44

1. Lingkungan internal, yaitu kelompok-kelompok di dalam organisasi sekolah. 2. Lingkungan pasar, yaitu kelompok-kelompok yang menyediakan sumber daya bagi organisasi sekolah. 3. Lingkungan publik, yaitu masyarakat yang pandangannya dapat mempengaruhi organisasi sekolah dan cara kerja organisasi sekolah. 4. Lingkungan kompetitif, yaitu institusi-institusi pendidikan yang bersaing di dalam pasar dan/atau untuk mendapatkan dukungan masyarakat. 5. Lingkungan makro, yaitu kerangka kebijakan dan administratif yang lebih luas di mana organisasi sekolah diselenggarakan. Joewono (2008) menjelaskan pengertian pemasaran jasa sebagai suatu konsep pemasaran yang mendefinisikan bahwa organisasi harus lebih peduli terhadap apa yang dirasakan konsumen dibanding apa yang dipikirkan konsumen tentang produk/jasa yang mereka tawarkan. Di dalam pemasaran jasa, lebih penting mengetahui bagaimana cara menawarkan produk/jasa daripada apa yang ditawarkan produk/jasa. Jadi, pemasaran jasa bertujuan untuk menciptakan memorable experience bagi konsumen. Konsep “7n1” Trustworthy Excellent Service yang dikemukakan Joewono (2008) dapat diaplikasikan dalam rangka memberikan layanan pendidikan berkualitas, yaitu: 1. Memahami

45

Guru harus memahami kebutuhan, keinginan, dan ekspektasi siswa sehingga menjadi dasar awal dalam pemberian layanan pendidikan berkualitas. 2. Menyambut Guru harus menunjukkan perhatian kepada siswa dengan cara menyambutnya melalui sapaan, anggukan, jabat tangan, atau cara lainnya sehingga membangun simpati awal siswa serta memberi kesan bahwa dirinya menghargai siswanya. 3. Tanggap Guru harus tanggap kalau ada kebutuhan layanan siswa yang perlu direspon.

4. Menyelesaikan masalah Guru harus memberikan layanan pendidikan berkualitas seperti menyelesaikan masalah pendidikan, sehingga ketika muncul masalah pendidikan, masalah pendidikan tersebut dapat mudah diselesaikan. 5. Merekonstruksi Layanan pendidikan harus dilakukan sebagai bagian dari proses rekonstruksi menuju terbentuknya hubungan baik antara sekolah dengan siswanya. 6. Mengedukasi

46

Guru yang “memberi” bukan “menggurui” menjadi inspirasi untuk memberikan informasi, termasuk ketika siswa komplain atas kegagalan layanan pendidikan. 7. Mewakili Makna “mewakili” siswa berarti guru menjadi ambassador siswa di dalam proses pengambilan keputusan di sekolah, khususnya yang terkait dengan siswa. 8. Menghargai Guru yang menghargai siswa merupakan faktor penggerak kehidupan sekolah menuju keunggulan bersaing sekolah yang berkelanjutan di masa depan. Dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang berkualitas, guru harus dapat memahami, menyambut, menanggapi, menyelesaikan masalah, merekonstruksi, mengedukasi, mewakili, serta menghargai konsumennya (siswa). 8. Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Untuk menetapkan strategi pemasaran yang tepat itu fihak madrasah perlu melakukan semacam riset pemasaran. Riset pemasaran adalah suatu riset yang ditujukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan oleh pimpinan untuk merumuskan kebijakan pemasaran dan rencana usaha (Converse, Huegy, and Mitchell, 1958). Dalam hal madrasah ini, riset pemasaran itu dapat dilakukan, pertama, dengan menetapkan siapa yang menjadi sasaran pemasaran (calon konsumennya). Kemudian kelompok

47

konsumen yang dituju itu diteliti mengenai aspirasi pendidikannya, kemampuan membayar layanan pendidikan yang diinginkan, dsb. Dengan mengetahui apa yang diinginkan masyarakat sasaran dalam hal pendidikan serta berapa kemampuan membayar mereka untuk pendidikan itu, maka pimpinan madrasah (yayasan) dapat menentukan strategi pemasaran yang tepat guna menarik minat mereka. Daya tarik madrasah yang terutama adalah pendidikan keagamaan.

Karena tertarik akan pendidikan keagamaan inilah, menurut saya, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke madrasah, walaupun mereka tahu bahwa mutu pendidikan umumnya kalah dengan pendidikan umum yang diberikan di sekolah umum. Biasanya, orang tua seperti ini berasal dari kalangan santri tradisional, yang lebih mementingkan pengetahuan agama daripada pengetahuan umum. Namun, perkembangan zaman yang semakin didominasi oleh kebutuhan ekonomi konsumtif telah membuat orang tua semacam ini menjadi sangat kurang. Bahkan, anak kiai pun kini lebih banyak yang bersekolah di sekolah umum daripada di madrasah (Mungkin karena mereka beranggapan bahwa anak mereka sudah mendapat pendidikan agama di rumah sehingga mereka cukup mencari pengetahuan umum saja di sekolah). Dari segi teori ekonomi, inilah keunggulan komparatif madrasah atas sekolah umum dan tampaknya sekolah umum tidak ingin menyaingi madrasah dalam hal ini. Madrasah perlu mempertahankan keunggulan komparatif ini dengan memberikan mutu layanan pendidikan keagamaan yang baik.

48

Namun, seperti telah dikemukakan di atas, pendidikan agama saja kini mulai dikalahkan oleh keinginan mendapatkan pendidikan umum yang bermutu. Oleh karena itu, kalau madrasah ingin menarik minat kelompok masyarakat ini, maka ia pun harus dapat menawarkan kualitas pendidikan umum yang bersaing. Kurikulum '94 yang menetapkan bahwa kurikulum mata pelajaran umum di madrasah kini seratus persen sama (dalam materi dan jumlah jam) dengan kurikulum sekolah umum mungkin dapat mengejar ketertinggalan madrasah dalam mutu pelajaran umum dari sekolah umum. Peningkatan mutu pelajaran umum di madrasah ini makin penting mengingat siswa yang masuk ke madrasah itu dapat dianggap sebagai asset ummat. Mereka yang masuk ke madrasah dapat dianggap sebagai memiliki motivasi keagamaan yang kuat. Kalau orang seperti ini menjadi pemimpin bangsa kelak pasti masa depan negara ini akan makin baik. Akan sayang sekali kalau anak-anak seperti itu, setelah dewasa, tidak bisa menjadi pemimpin bangsa karena kualitas pendidikan umumnya kalah bersaing dengan mereka yang belajar di sekolah umum (Arief, 1998: 2). Menurut Mc.Carthy (1998), strategi pemasaran adalah pasar sasaran dan bauran pemasaran yang terkait. Dia juga mengatakan bahwa setiap langkah yang dilakukan dalam memformulasikan strategi pemasaran harus diorientasikan kepada upaya untuk mencapai kepuasan pelanggan. Ini berarti bahwa proses yang ditempuh oleh setiap pihak dapat bermacam-macam sesuai dengan kesanggupan dan karakteristik masing-masing, tetapi tujuan akhirnya akan bermuara pada kepuasan pelanggan.

49

Di dalam strategi pemasaran, ada beberapa dimensi yang perlu diperhitungkan dan diketahui untuk mengurangi dampak ketidakpastian dalam merumuskan dan mengimplementasikan strategi pemasaran tersebut, antara lain: 1. Dimensi keterlibatan manajemen puncak Keterlibatan manajemen puncak (pimpinan sekolah) merupakan keharusan, karena hanya pada tingkat manajemen puncak akan tampak segala bentuk implikasi dari berbagai tantangan serta tuntutan lingkungan internal dan eksternal sekolah serta pada tingkat manajemen puncaklah terdapat cara pandang yang holistik dan komprehensif tentang sekolah. Selain itu, hanya manajemen puncak yang memiliki wewenang untuk mengalokasikan dana, prasarana, dan sumber daya lainnya dalam mengimplementasikan kebijakan sekolah yang telah diputuskan. Atau dengan kata lain, peranan manajemen puncak sangat penting dalam merencanakan dan menentukan strategi pemasaran yang terdiri dari visi, misi, dan tujuan sekolah (Siagian, 2001). 2. Dimensi waktu dan orientasi masa depan Sekolah seharusnya mempertahankan strategi pemasaran jasa pendidikan untuk mengembangkan eksistensi sekolah yang berpandangan jauh ke depan dan berperilaku proaktif serta antisipatif terhadap kondisi masa depan sekolah yang diprediksi akan dihadapinya. Antisipasi terhadap sekolah di masa depan tersebut dirumuskan dan ditetapkan sebagai visi sekolah yang akan diwujudkan di masa yang akan datang. Dengan adanya

50

sikap proaktif dan antisipatif, manajemen puncak (pimpinan sekolah) akan lebih siap menghadapi tantangan perubahan dan perkembangan sekolah yang akan terjadi sehingga tidak menghadapi situasi mendadak (Nawawi, 2000). 3. Dimensi lingkungan internal dan eksternal Dimensi lingkungan internal dan eksternal sekolah merupakan suatu kondisi yang sedang dihadapi seperti: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang harus diketahui secara tepat untuk merumuskan rencana strategi pemasaran jasa pendidikan jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, manajemen puncak (pimpinan sekolah) perlu melakukan analisis yang obyektif agar dapat menentukan kemampuan sekolah berdasarkan berbagai sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, pimpinan sekolah harus memahami kondisi lingkungan internal dan eksternal sekolah serta mampu meletakkan berbagai pendekatan dan teknik untuk merumuskan strategi pemasaran jasa pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. (Nawawi, 2000). 4. Dimensi konsekuensi dari isu strategi Dalam mengimplementasikan strategi pemasaran jasa pendidikan, kita harus menempatkan organisasi sekolah sebagai suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu, setiap keputusan strategi pemasaran jasa pendidikan yang dilaksanakan harus dapat menjangkau semua komponen atau unsur organisasi sekolah, baik sumber daya maupun satuan kerja seperti departemen, divisi, biro, seksi, dan sebagainya (Siagian, 2001).

51

Seperti yang telah dikemukakan oleh Porter (1980) yang menjelaskan bahwa ada tiga macam strategi pemasaran sebagai strategi bersaing, yaitu: 1. Diferensiasi, yaitu strategi sekolah dalam memberikan penawaran yang berbeda dibandingkan dengan penawaran yang diberikan oleh pesaing. Strategi diferensiasi ini mengisyaratkan sekolah mempunyai jasa yang mempunyai kualitas ataupun fungsi yang bisa membedakan dirinya dengan pesaingnya. Strategi diferensiasi dilakukan dengan cara menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya. Misalnya persepsi terhadap keunggulan kerja, inovasi produk, pelayanan yang lebih baik, citra merek yang lebih unggul, dan sebagainya. 2. Keunggulan biaya, yaitu strategi sekolah dalam mengefisienkan seluruh biaya operasionalnya sehingga menghasilkan jasa yang bisa dijual lebih murah dibandingkan pesaingnya. Strategi keunggulan biaya ini berfokus pada harga, jadi biasanya sekolah tidak terlalu peduli dengan berbagai faktor pendukung dari jasa ataupun harga. Misalnya, biaya sekolah yang murah biasanya mengandalkan strategi harga. Pihak penyelenggara sekolah tersebut biasanya tidak peduli dengan kenyamanan siswa pada waktu belajar, bahkan juga dengan kebersihan, karena bagi mereka yang penting bisa menawarkan jasa dengan harga yang sangat bersaing. 3. Fokus, yaitu strategi sekolah dalam menggarap satu target pasar tertentu. Strategi fokus biasanya dilakukan untuk jasa yang memang mempunyai karakteristik khusus. Misalnya, sekolah Kristen yang hanya ditargetkan

52

bagi siswa Kristiani sehingga semua jasanya memberikan manfaat dan fungsi yang disesuaikan dengan ajaran agama Kristen. Kotler dan Fox (1995) memberikan tiga unsur yang diperlukan untuk membuat strategi pemasaran, yaitu: 1. Strategi Target Pasar, yang memutuskan segmen pasar mana yang akan menjadi target pasarnya. Segmen pasar tersebut mungkin terfokus pada segmen di mana permintaan melebihi penawaran. Dalam hal ini, sekolah perlu membagi pasar pendidikan menurut karakteristik demografi, psikografi, dan perilaku siswa. Dengan demikian, sekolah dapat lebih mudah menentukan strategi pemasaran jasa pendidikan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pasar. 2. Strategi Posisi Kompetitif, yang mendasarkan penyediaan pada keistimewaan dan kekuatan relatif yang dimiliki oleh institusi, yang dapat memastikan tingkat kom1. 3. Strategi Campuran, yang mengidentifikasi unsur-unsur tertentu yang dapat dipromosikan oleh organisasi tersebut. Strategi campuran ini terdiri dari empat komponen dasar yang disebut 4P, yaitu: produk (Product), lokasi (Place), harga (Price), dan promosi (Promotion). Namun bagi sektor jasa, komponen-komponen tersebut ditambah 3P, yaitu: orang (Person), proses (Process), dan bukti (Proof). Strategi campuran ini akan dijelaskan lebih lanjut oleh James dan Phillips di bawah ini. James dan Phillips (1995) menggunakan kerangka teoritis tersebut untuk mengevaluasi praktek pemasaran pada 11 sekolah, termasuk sekolah dasar,

53

sekolah menengah, sekolah negeri, dan sekolah swasta, yang beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif. Hasil penemuan dari penelitian tersebut dapat dirangkum sebagai berikut. 1. Produk, yaitu fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan oleh sekolah. Meskipun sekolah yang disurvei sangat giat dalam menawarkan produk/pelayanan yang berkualitas, namun sejumlah masalah masih dapat ditemukan, seperti: a. Kurangnya pertimbangan pada ragam penawaran. Sebagian besar sekolah cenderung memberikan terlalu banyak penawaran. Sekolah seharusnya melakukan spesialisasi pada suatu hal tertentu. b. Adanya kebutuhan untuk melihat pelajaran, yakni keuntungan apa yang akan didapatkan pelanggan (siswa) daripada hanya memberikan gambaran umum tentang kandungan materi yang ada dalam pelajaran tersebut. c. Adanya kebutuhan untuk memastikan bahwa kualitas dilihat dalam arti terpenuhinya kebutuhan pelanggan daripada kualitas pelajaran itu sendiri. d. Hanya ada sedikit perhatian akan “potensi hidup” dari pelajaran tersebut. 2. Harga, yaitu pembiayaan (costing) yang membandingkan pengeluaran dengan keuntungan yang didapat pelanggan, serta penetapan harga (pricing) atau harga yang dikenakan kepada pelanggan. Hal ini terlihat jelas pada sekolah swasta karena pilihan pasar sangat terbuka untuk calon

54

orang tua, yaitu antara “sekolah swasta yang mahal” dan “sekolah negeri yang bagus dan gratis”. Akan tetapi, hal ini adalah persoalan penting bagi sekolah negeri karena: a. Proses perekrutan siswa mengarah kepada tambahan dana dari pemerintah. b. Dukungan dana sponsor dari anggota komunitas pebisnis lokal. c. Biaya yang dikenakan dan sumbangan orang tua untuk fasilitas tambahan dan aktivitas ekstrakurikuler. 3. Lokasi, yaitu kemudahan akses dan penampilan serta kondisinya secara keseluruhan. Ketika sekolah memperhatikan masalah penampilan (misalnya melalui dekorasi, tampilan, dan ucapan selamat datang kepada pengunjung), maka akan semakin berkurangnya perhatian yang diberikan kepada masalah akses (seperti parkir untuk pengunjung, akses bagi penyandang cacat, konsultasi di luar sekolah, dan mesin penjawab telepon). 4. Promosi, yaitu kemampuan mengkomunikasikan manfaat yang didapat dari organisasi bagi para pelanggan potensial. Meskipun sekolah telah aktif pada sebagian besar aktivitas promosi ini, namun dari 11 sekolah yang disurvei, hanya terdapat kurang dari setengahnya yang telah mengiklankan diri. 5. Orang, yaitu orang yang terlibat dalam menyediakan jasa. Masalahnya adalah tidak semua karyawan sekolah menyampaikan pesan yang sama kepada orang tua dan kelompok lain di luar sekolah. Hal ini terkait

55

dengan budaya sekolah yang tidak sepenuhnya mengambil pendekatan yang berorientasi pada pasar. 6. Proses, yaitu sistem operasional untuk mengatur pemasaran, dengan implikasi yang jelas terhadap penempatan karyawan sekolah dalam hal pembagian tanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan mencari sumber daya bagi strategi pemasaran sekolah. Dari 11 sekolah yang disurvei, tidak ada satupun sekolah yang memberikan kepercayaan kepada seorang karyawan sekolah atas tanggung jawab tersebut, dimana pengelolaan dan operasinya cenderung tidak terencana dan intuitif, bukan terencana secara strategis dan sistematis. 7. Bukti, yaitu bukti yang menunjukkan bahwa pelanggan akan mendapatkan manfaat sehingga memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan evaluasi (seperti hasil ujian). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak dapat mengemukakan aspek-aspek apa saja dari tindakan mereka yang menunjukkan bukti dari manfaat pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Dari 7P di atas, penekanan utamanya terpusat pada produk sekolah. Sekolah masih belum menetapkan strategi jangka panjang karena sebagian besar kebijakan sekolah dalam bentuk strategi jangka pendek yang tidak terencana serta reaktif (manajemen krisis sebagai respon terhadap menurunnya peran dan meningkatnya persaingan setempat). Banyak sekolah belum melakukan pengamatan pasar dengan menggunakan riset dan analisis pasar yang sistematis. Sekolah lebih menyukai strategi pasar tunggal, yang memberikan

56

“semua hal bagi semua siswa yang potensial” daripada menekankan adanya perbedaan dan penyediaan khusus sebagai salah satu cara untuk menangkap potensi pasar. Pada saat yang sama, sekolah menghindari persaingan yang tidak berguna dan mempromosikan kerjasama dengan penyedia lokal lainnya. Strategi pemasaran campuran termasuk kategori strategi pemasaran tradisional, yaitu pemasaran yang berorientasi pada transaksi (relationship marketing) sebagai kunci untuk keberhasilan komersial. Jika kita dapat menarik pelanggan, maka kita harus terus membangun hubungan baik dengan mereka serta menumbuhkan kepercayaan jangka panjang untuk menciptakan promosi “mulut ke mulut” (Gronroos, 1997). D. Peran kepala madrasah dalam pemasaran jasa pendidikan. Dunia pendidikan sampai dengan abad 21 ini akan tetap menjadi kajian yang tak ada habis-habisnya, bahkan sampai pada akhir jaman nanti. Berbagai upaya untuk meningkatkan pemasaran jasa pendidikan telah banyak dilakukan dengan berbagai bentuk kebijakan dan inovasi yang dicetuskan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemasaran jasa pendidikan. Namun semuanya itu kembali kepada faktor manusia yang menjalankannya. Oleh sebab itu manusia yang berada di dalam lingkungan pendidikan harus berusaha menjadi professional. Aktor kunci yang mengemban dalam peningkatan pemasaran jasa pendidikan di sekolah adalah Kepala Madrasah sebagai Manajer Madrasah dan Guru sebagai Manajer Kelas. Kepemimpinan Kepala Madrasah yang kuat (demokratis) akan juga sangat mendukung karakter peningkatan pemasaran jasa

57

pendidikan. Kepemimpinan yang kuat ini meliputi beberapa kemampuan, antara lain: a) Kemampuan Manajerial, b) Kemampuan Memobilisasi, c) Memiliki otonomi luas. Untuk melihat sejauh mana kepemimpinan seorang kepala madrasah bisa dikatakan kuat, Aan menjelaskan ada beberapa indikator yang bisa digunakan antara lain: a) Bisa dihubungi dengan mudah, b) Bersifat responsif kepada guru dan siwa, c) Responsif kepada orang tua dan masyarakat, d) Melaksanakan kepemimpinan yang berfokus pada pembelajaran, e) Menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio ideal. Posisi upaya Kepala Madrasah sebagai pemimpin, organisator, manajer dan supervisor pendidikan tidak dapat dipungkiri lagi. Sebagai pemimpin, Kepala Madrasah harus dapat menerapkan orientasi kepemimpinannya sesuai dengan bawahan yang dipimpinnnya. Sebagai organisator, ia dituntut untuk menyusun struktur organisasi yang tepat, penempatan personel pada tempat yang tepat, jabatan pekerjaan dan tugas yang jelas, dan mekanisme kerja yang pasti dan tegas. Sebagai Manajer, Kepala Madrasah harus dapat menerapkan fungsi-fungsi manajemen mulai dari perencanaan sampai evaluasi dan pelaporan dengan lancar. Yang terakhir sebagai supervisor ia harus dapat membina, mengembangkan, memperbaiki, dan meningkatkan semua sumberdaya yang ada di sekolah demi peningkatan pemasaran jasa pendidikan di sekolah (madrasah). Setelah berbagai usaha untuk meningkatkan pemasaran madrasah itu diupayakan, usaha-usaha tersebut perlu dikomunikasikan kepada masyarakat, terutama kelompok yang menjadi sasaran pemasaran. Banyak madrasah yang

58

walau sudah berusaha meningkatkan fasilitas, kualitas guru, efektivitas kurikulum, serta mutu pendidikannya secara umum, tetap kurang dapat menarik minat masyarakat karena masyarakat tersebut tidak diberi tahu tentang usahausaha yang telah dilakukan oleh madrasah tersebut beserta hasil-hasil yang dicapai oleh usaha tersebut. 'Tak kenal maka tak sayang', kata pepatah. Usaha untuk mengkomunikasikan usaha peningkatan mutu dan keberhasilan madrasah di bidang pendidikan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Untuk masyarakat sasaran tingkat lokal, itu dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan masyarakat setempat tertarik untuk datang ke madrasah tersebut. Pameran, kegiatan olah raga dan kesenian yang melibatkan masyarakat setempat, kunjungan orang tua dan calon siswa ke sekolah (open day), keikut sertaan dalam pawai dan karnaval di kota sendiri, semuanya merupakan sarana untuk memperkenalkan madrasah itu ke masyarakat dan mengkomunikasikan prestasi madrasah. Untuk masyarakat sasaran yang lebih jauh tempatnya, komunikasi ini dapat dilakukan lewat brosur, tanggalan, cinderamata, majalah siswa madrasah, newsletter, atau surat kabar umum (lewat pemuatan berita kegiatan madrasah). Penyebaran informasi tentang prestasi madrasah secara luas ini juga penting bila madrasah yang bersangkutan ingin menarik minat calon penyumbang dana bagi pengembangan madrasah tersebut. Lembaga pendidikan Islam mempunyai peluang lebih banyak dibanding lembaga pendidikan dari agama lain untuk mendapatkan sumbangan dari pemeluk agamanya karena adanya konsep 'amal jariyah' yang tak akan putus sampai hari kiamat dalam

59

ajaran agama Islam. Konsep ini telah menggerakkan hati banyak orang Islam untuk memberikan sumbangan kepada pembangunan gedung sekolah, rumah yatim, ataupun masjid. Orang-orang Muslim yang berharta itu perlu didekati dengan tepat agar mereka tertarik untuk menyumbangkan uangnya guna kepentingan madrasah kita. Permintaan sumbangan yang berhasil adalah permintaan sumbangan yang dapat membuat orang yang bersangkutan tidak merasa berat melepaskan uangnya (karena jumlahnya relatif kecil menurut ukuran penghasilannya), dapat melihat keuntungan yang akan diperolehnya (baik di akhirat ataupun di dunia ini), dan tahu bagaimana uangnya itu digunakan. Penempelan nama penyumbang pada buku sumbangan, pada barang atau gedung yang disumbangkan, akan merupakan daya tarik tersendiri bagi penyumbang.

E.

Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pemasaran jasa

pendidikan. 1. Faktor Pendukung Menurut Siagian (2001), ada beberapa faktor yang menjadi pendukung dalam merumuskan strategi agar suatu organisasi dapat tetap eksis, tangguh dalam menghadapi perubahan, serta mampu meningkatkan efektifitas dan produktifitas. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Tipe dan struktur organisasi Tipe dan struktur organisasi sekolah yang dipilih harus berkaitan dengan kepribadian sekolah tersebut karena setiap sekolah mempunyai kepribadian yang khas. Di dalam struktur organisasi sekolah harus

60

terdapat beberapa unsur seperti spesialisasi kerja, standarisasi kerja, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pengambilan keputusan. Empat faktor utama yang harus diperhatikan pimpinan sekolah dalam menentukan struktur organisasi sekolah, yaitu: strategi sekolah yang ditetapkan, teknologi pendidikan yang digunakan, SDM yang terlibat, dan ukuran organisasi sekolah. Oleh karena itu, pimpinan sekolah harus memilih dengan tepat mengenai tipe dan struktur organisasi sekolah yang akan digunakan dalam menentukan strategi sekolah. 2. Gaya kepemimpinan Di dalam teori kepemimpinan terdapat beberapa tipologi kepemimpinan, yaitu tipe otokratik, paternalistik, laissez faire, demokratik, dan kharismatik. Namun demikian, tidak ada satu tipepun yang sesuai dan dapat digunakan secara konsisten pada semua jenis sekolah. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan membaca situasi sekolah dalam menentukan gaya kepemimpinan sekolah sebagai suatu faktor yang harus diperhitungkan dalam menerapkan strategi sekolah. 3. Kompleksitas lingkungan eksternal Lingkungan eksternal sekolah bergerak dinamis. Gerakan dinamis tersebut berpengaruh pada cara mengelola sekolah serta dalam merumuskan dan menetapkan strategi sekolah. Oleh karena itu, melalui analisis lingkungan eksternal sekolah, sekolah dapat melakukan strategi pengkaderan organisasi sekolah yang dapat ditetapkan untuk

61

mendayagunakan kekuatan serta mengatasi kelemahan sekolah dalam memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan yang terjadi. 4. Hakikat masalah yang dihadapi Strategi merupakan keputusan dasar yang diambil oleh manajemen puncak (pimpinan sekolah) melalui berbagai analisis dan perhitungan terhadap lingkungan internal dan eksternal sekolah. Oleh karena itu, keputusan yang diambil pimpinan sekolah akan menentukan kesinambungan sekolah pada saat sekarang dan masa yang akan datang. Menurut Arief (1998) beberapa variabel yang mempunyai peranan dalam menimbulkan citra yang baik bagi madrasah: 1. Gedung. Gedung yang rapi, indah, dan memiliki fasilitas belajar yang memadai menimbulkan kesan bahwa madrasah yang bersangkutan adalah bonafid dan menjanjikan layanan pendidikan yang bermutu. Sebaliknya, gedung yang kurang terawat akan memberikan citra madrasah yang kurang terurus, tidak meyakinkan. 2. Guru. Guru yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi dan sesuai dengan bidang yang diajarkan akan memberikan kesan bahwa mutu layanan pendidikan di madrasah tersebut bagus. Sebaliknya, guru-guru yang kebanyakan bukan lulusan perguruan tinggi atau yang ijazah pendidikannya kurang sesuai dengan bidang yang diajarkan akan memberikan kesan 'guru cakupan' di madrasah tersebut. 3. Prestasi siswa dalam Ujian Nasional. Adanya beberapa siswa yang berprestasi bagus dalam Ujian Nasional akan mengangkat citra madrasah

62

yang bersangkutan sebagai lembaga pendidikan yang bermutu. Citra itu akan lebih baik lagi kalau prestasi siswa itu dicapai dalam mata pelajaran umum, bukan pada mata pelajaran agama yang memang merupakan spesialisasi madrasah. 4. Kegiatan Olah Raga dan Kesenian. Adanya prestasi madrasah di bidang olah raga (misalnya pernah menjuarai kejuaraan tingkat kecamatan, kabupaten/kotamadya, atau propinsi), sedikit banyak, akan meningkatkan perhatian dan minat masyarakat terhadap madrasah tersebut. 5. Mutu Pendidikan Keagamaan. Walaupun ini sudah menjadi spesialisasi madrasah sehingga kalau madrasah unggul di bidang ini sudah tidak lagi menjadi sesuatu hal yang luar biasa, kemenonjolan di bidang ini tetap merupakan daya tarik utama bagi masyarakat untuk memilih madrasah tersebut sebagai tempat pendidikannya (untuk anaknya). 2. Faktor Penghambat a. Dana Sebagai Kendala Utama Perkembangan Suatu Madrasah Persoalan yang dihadapi oleh madrasah sebenarnya banyak, tergantung dari keadaan madrasah itu sendiri. Umumnya, yang dikeluhkan adalah kalahnya madrasah dalam bersaing dengan sekolah umum untuk memperebutkan calon siswa berprestasi. Siswa berprestasi umumnya lebih memilih sekolah umum daripada madrasah karena mereka beranggapan bahwa sekolah umum lebih menjanjikan harapan bahwa prestasi mereka akan

63

lebih baik di sana. Madrasah dianggap kalah mutunya jika dibandingkan dengan sekolah umum. Siswa madrasah juga sering merasa rendah diri jika berhadapan dengan siswa sekolah umum yang setara dengan sekolahnya. Kambing hitam untuk kurang-mutunya madrasah ini bermacammacam namun ujung-ujungnya adalah 'duit' (dana). Kurangnya dana dianggap menyebabkan madrasah tidak dapat memberikan fasilitas yang lebih baik, mengirim guru ke penataran PBM, memberi gaji yang lebih baik kepada guru, dsb. Penyebab kurangnya dana operasional ini, terutama di madrasah swasta, antara lain, disebutkan, karena sumber utama dana mereka, yaitu orang tua, berasal dari golongan ekonomi lemah. Sementara itu, sumber dana insidentil yang diharapkan datang dari anggota masyarakat juga tidak lancar. Kunci utama untuk memantapkan kelancaran dana operasional ini adalah apabila kita dapat menarik minat masyarakat golongan menengah untuk bersekolah atau menyekolahkan anaknya ke madrasah kita. Susahnya, masyarakat golongan menengah ke atas ini, karena kemampuannya untuk membayar lebih, biasanya mempunyai selera tinggi. Mereka hanya mau bersekolah (menyekolahkan anaknya) ke sekolah yang lebih bermutu atau lebih bergengsi. Madrasah, yang sering dianggap kalah mutu atau kalah gengsi dengan sekolah umum, sering tidak dipandang sebelah mata. Di sinilah, saya kira, perlunya madrasah menetapkan strategi pemasaran untuk menarik minat calon konsumen yang diharapkan itu. b. Kualitas madrasah dan sekolah umum berbeda

64

Berbicara mengenai sekolah apalagi sekolah negeri berbeda kualitasnya dengan madrasah. Mulai dari input siswa, kompetensi guru dan tenaga kependidikan, kurikulum, sarana prasarana, dukungan anggaran pemerintah, dan anggapan masyarakat. Selama ini masih saja madrasah menerima siswa dari buangan sekolah. Bila tidak diterima di sekolah baru mendaftar di madrasah. Bahkan terkadang sebagai batu loncatan. Setelah diterima di madrasah selama satu semester pada semester berikutnya minta mutasi ke sekolah negeri. Dengan alasan jarak tempuh yang jauh dan lainnya. Sehingga input madrasah adalah sisa saringan atau sisa-sisa dari buangan terbaik sekolah. Sedang kompetensi guru di madrasah masih belum terstandar dengan baik. Guru masih kebanyakan dari alumni tarbiyah. Sehingga banyak yang mengajar pelajaran selain PAI. Alumni Drs., S.Ag. atau S.Pd.I. mengajar matematika, bahasa inggris, kertakes, bahasa indonesia, bahasa Jawa dan lainnya. Sehingga hasilnyapun kurang maksimal. Sedang tenaga kependidikannya atau lebih jelasnya sebagai tenaga tata usaha masih belum memenuhi kriteria standar. Kebanyakan masih lulusan madrasah aliyah atau yang sederajat. Sehingga dalam meningkatkan kinerja mereka perlu diikutkan diklat, pelatihan yang berkaitan dengan tenaga kependidikan. Dalam masyarakat masih menganggap bahwa mutu madrasah masih di bawah standar. Input kemampuannya pas-pasan baik dari sisi latar belakang ekonomi orang tua bahkan nilai akademiknya dan outputnya juga tidak begitu bagus. Ini sudah berlangsung lama. Sedang sekolah dipandang

65

serba cukup. Pandangan ini pernah dilontarkan oleh pimpinan pabrik guru di Nganjuk. Saya tercengang mendengarnya. Setelah saya dengar dan amati dengan seksama. Saya berkesimpulan bahwa ia bisa mengatakan seperti itu punya latar belakang pendidikan sekolah. Belum pernah mengenyam pendidikan di madrasah dan di pondok pesantren. Walau di panggil ustadz, saya melihat ia berasal dari didikan kegiatan keagamaan di kampus umum. Dan diperdalam sendiri secara otodidak. Yang membuat saya agak salut semangat dakwahya boleh juga. Terkadang kita yang punya ilmu agama dalam berdakwah merasa iri. Kembali lagi, masalah sekolah dan madrasah memang tidak bisa dibandingkan sebenarnya. c. Perbedaan budaya dan karakter yang membedakan hasil lulusan Madrasah dari awal berdirinya berasal dari ide masyarakat sebagai usaha untuk mencerdaskan anak bangsa. Bahkan dari kalangan pondok pesantren yang banyak mencurahkan ide ini. Sebagaimana diketahui dari sejarah Pondok Pesantren Tebuireng, Pesantren Denanyar, Pesantren Tambak Beras Jombang mempelopori berdirinya madrasah. Dimaksudkan sebagai pengejawantah dari sistem pesantren. Kemudian untuk mengikuti perkembangan di masyarakat di mana dibutuhkan keterampilan tertentu ditambahlan mata pelajaran lain selain agama. Maka ada pelajaran bahasa Inggris, matematika, ilmu bumi, dan keterampilan. Maka kurikulum disesuaikan tanpa menghilangkan substansi berdirinya madrasah. Dan seiring dengan diakuinya madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional kurikulum madrasah yang awalnya 100% pendidikan agama, berubah

66

menjadi 70 %, lalu 30 % dan terakhir kemudian dengan keinginan agar alumni madrasah lebih berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka sekarang kurikulum madrasah 100 % sama dengan sekolah plus ilmu agama. Sehingga sekarang madrasah menjadi sekolah berciri khas agama Islam. Khasnya dengan ilmu agama yang lebih banyak. Meliputi Qur’an Hadits, Aqidah akhlak, sejarah kebudayaan Islam, fiqh, dan bahasa Arab. Ini berlaku sejak 1996. karena masih madrasah budaya pondok atau kultur Islami masih kental di sini. Sebagai usaha mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam keseharian. Memang di akui dari segi input siswa masih banyak yang belum terseleksi begitu juga mengenai sdm tenaga pendididikan dan kependidikan. Namun perlahan namun pasti Kementerian agama terus berbenah untuk mencapai standar itu. Bahkan di Pasuruan sudah dilakukan mutasi guru di tempatkan pada madrasah yang membutuhkan guru-guru sesuai spesifikasinya. Seimbang dalam melihat madrasah dan sekolah perlu dipertegas. Melihat gambaran di atas harusnya masyarakat tidak memandang sebelah mata.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful