KOMUNIKASI AGRIBISNIS “Portofolio Komunikasi Agribisnis”

Dosen : Sri Fatimah Ph.D.

Disusun Oleh Kelompok 3 : Risman Taufik Erga Megantara S . Yogiandre Ravenalla Wendi Irawan D. Dedy Napitupulu (150310080133) (150310080135) (150310080136) (150310080137) (150310080138)

Kelas Agribisnis C

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I TEORI KOMUNIKASI

2.1 Sejarah Perkembangan Teori Komunikasi 2.1.1. Perkembangan Teori Komunikasi Hingga Saat Ini Komunikasi adalah interaksi maupun proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, dan keahlian melalui penggunaan simbol-simbol seperti katakata, gambar, dan angka. Jadi sangat jelas hubungan antara komunikasi dengan teknologi yang sering dikaitkan dengan istilah teknologi, informasi, dan komunikasi. Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong muda. Sekalipun pada sisi yang lain, sejarah perkembangan ilmu komunikasi sudah ada sejak masa Yunani dan baru dirumuskan dalam era modern sebagai ilmu baru, yaitu pada dekade Perang Dunia II. Julia Wood mengamati perkembangan kajian komunikasi sebagai perkembangan trend, dimana terdapat relasi antara perkembangan dalam kehidupan sosial dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada dekade 1940-an, perhatian ilmuwan banyak mengenai upaya memahami obedience (ketaatan), conformity (kesesuaian), dan prejudice (prasangka). Tema-tema ini yang berkembang setelah Perang Dunia II. Selanjutnya teori komunikasi dirumuskan Laswell, penelitian tentang komunikasi pun banyak dilakukan orang, diantaranya Paul Lazarsfeld (1948) yang melakukan penelitian tentang pengaruh komunikasi, yaitu apakah media massa berpengaruh dalam mengubah pilihan orang dalam kampanye pemilu, dan sejenisnya. Pada tahun 1950-an, teori komunikasi pun berkembang. Wilbur Schramm memperkenalkan Teori Peluru atau “The Bullet Theory Of Communication”. Teori itu menyatakan bahwa komunikasi merupakan peluru yang dapat ditembakkan pada pendengar/penerima komunikasi (pendengar/penerima bersifat pasif). Namun, Schramm merevisi teori itu pada tahun 1970-an, dan menyatakan bahwa pendengar/penerima komunikasi itu tidak pasif.

Pada tahun 1964, Marshall MC Luhan dalam bukunya “Understanding Media” memperkenalkan teori “The Medium Is The Massage”, artinya medium menentukan bentuk pesan. Mc Luhan mengibaratkannya dengan cahaya listrik. Cahaya listrik yang digunakan untuk menerangi operasi bedah otak di rumah sakit, tentu berbeda dengan cahaya listrik yang digunakan untuk menerangi pertandingan sepakbola. Dengan konsep ini, Mc Luhan menegaskan bahwa komunikasi akan mencapai sasaran jika sesuai dengan situasi atau kondisi dari penerima komunikasi, bahkan komunikasi akan percuma jika penerima komunikasi itu sendiri tidak ada. Pada dekade 1990-an, terdapat perhatian tentang komunikasi yang berkaitan dengan soal seksualitas (Bowen, 1995 dan Michael Johnson, 1996). Selain itu, mengenai hubungan antar pribadi, seperti: seputar hubungan romantis di kalangan remaja sekolah, kalangan menengah Eropa-Amerika, dan able bodied heterosexuals bagi yang tinggal berdekatan. Belakangan ini berkembang kesadaran mengenai pluralisme budaya yang memotivasi ilmuwan meneliti dan mengembangkan teori mengenai kalangan gay dan lesbian (Huston &Schwartz, 1996), relasi antar individu dikalangan orang dewasa (Dickson, 1995), relasi dikalangan anggota budaya minoritas (Gaines, 1995), pernikahan permanen diantara individu dewasa, relasionsip dilakukan melewati sistim komunikasi elektronik (Lea & Spears, 1995), dan relasionsip jarak jauh (Rohlfing, 1995). Selain itu pengaruh budaya pada pengembangan ilmu pengetahuan adalah penekanan pada individu pada sebagian besar teori komunikasi Barat (Western). Era komunikasi dan informasi akan terus berkembang pada tahun 2000-an (saat ini hingga masa yang akan datang). Dewasa ini, penelitian-penelitian mengenai komunikasi terus menerus dilakukan. Sejumlah karya ilmiah telah menjadi karya klasik dalam ilmu komunikasi, seperti: The People Choice, The Passing of Traditional Society, Mass Media and National Development, Personal Influence, Understanding Media, The Process and Effect of Communication, dan Public Opinion. Demikian pula sejumlah figurnya seperti Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, Harold Lasswell, Walter Lippmann, Bernard Berelson, Carl Hovland, Elihu Katz, Daniel Lerner, David K. Berlo, Shannon, McComb, dan

George G. Gebner telah dikenal sebagai tokoh-tokoh dalam kajian ilmu komunikasi.

2.1.2. Perkembangan Teori Komunikasi di Indonesia Ilmu komunikasi merupakan fenomena Amerika, bila dilihat dari penggunaan sebutan ilmu komunikasi. Di Indonesia pada awalnya lebih dikenal pendidikan publisistik. Istilah yang identik dengan tradisi Jerman. Namun sejak dekade 1970-an mulai digunakan istilah ilmu komunikasi, sedangkan pendidikan jurnalistik hanyalah salah satu bidang utama yang masuk dalam kelompok komunikasi massa. Jejak tradisi Amerika dalam kajian ilmu komunikasi di Indonesia dapat dilihat melalui figur M. Alwi Dahlan yang berkesempatan belajar langsung pada para perintis kajian ilmu komunikasi seperti Wilbur Schramm, Elihu Katz, dan Gregory Bateson. Pada tahun 1960-an M. Alwi Dahlan (doktor komunikasi pertama Indonesia) sudah lulus dan berkiprah di Indonesia. Upaya M. Alwi Dahlan mengenalkan ilmu komunikasi dimulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia serta lembaga penerbitan atau riset serta kantor pemerintahan. Kajian komunikasi di Indonesia terus berkembang melalui kegiatan yang diadakan oleh kampus dan ISKI (Perhumas). Bahkan tampak pula kemunculan lembaga baru humas yaitu Public Relation Society of Indonesia yang diketuai August Parengkuan dan sekjennya adalah Magdalena Wenas, seorang praktisi PR senior Indonesia. Demikian pula tampak melalui lembaga LSM seperti Media Watch seperti ISAI, LSPP, LKM, dan sebagainya.

Disatu sisi terdapat booming peminat kajian komunikasi berkat perkembangn media industri. Terlebih dengan hadirnya televise swasta. Namun disisi lain, kajian komunikasi belum begitu menunjukkan kecepatan yang memadai. Ditambah lagi munculnya literatur komunikasi yang ditulis oleh tokohtokoh muda seperti Deddy Mulyana, Eriyanto, Nurudin, Wirjanto, Alex Sobur, dan sebagainya. Figur lain yang tampil aktif dalam menulis adalah Ashadi Siregar, Novel Ali, A Muis, Ana Nadya Abrar, Sinansari Ecip, Ade Armando, dan Effendi Ghazali. Mereka tampil dalam tulisan artikel di media massa. Indonesia

juga memiliki sejumlah figur penting dalam bidang ilmu komunikasi, seperti: Astrid Susanto Sunario, Andi Muis, Jalaludin Rahmat, Ashadi Siregar, Anwar Arifin, Hafid Changara, Dedy N. Hidayat, Marwah Daud Ibrahim, dan Onong Efendi Uchayana. Karya-karya mereka telah memberi warna bagi eksistensi kajian ilmu komunikasi di Indonesia.

2.2 Jenis-Jenis Teori Komunikasi Secara umum Teori Komunikasi dapat dibagi dalam beberapa kelompok, antara lain : 1. Teori-teori umum (general theories) Teori ini merupakan teori yang mengarah pada bagaimana menjelaskan fenomena komunikasi (metode penjelasannya). 2. Teori-teori fungsional dan struktural Ciri dan pokok pikiran dari teori ini adalah individu merupakan bagian dari struktur dan dipengaruhi oleh struktur sosial atau sistem sosial. Sehingga cara pandangnya akan dipengaruhi oleh struktur yang berada di luar dirinya. Karakteristik dari pendekatan ini adalah : a. Mementingkan sinkroni (stabilitas dalam kurun waktu tertentu) daripada diacroni (perubahan dalam kurun waktu tertentu). Misalnya, dalam mengamati suatu fenomena menggunakan dalil-dalil yang jelas dari suatu kaidah. Perubahan terjadi melalui tahapan metodologis yang telah baku. b. Cenderung memusatkan perhatiannya pada akibat-akibat yang tidak diinginkan (unintended consequences) daripada hasil yang sesuai tujuan. Pendekatan ini tidak mempercayai konsep subjektivitas dan kesadaran. Fokus mereka hanya pada faktor-faktor yang berada di luar kontrol kesadaran manusia. c. Memandang realitas sebagai sesuatu yang objektif dan independent. Oleh karena itu, pengetahuan dapat ditemukan melalui metode empiris yang cermat.

d. Memisahkan bahasa dan lambang dari pemikiran dan objek yang disimbolkan dalam komunikasi. Bahasa hanyalah alat untuk

merepresentasikan apa yang telah ada. e. Menganut prinsip the correspondence theory of truth. Menurut teori ini bahasa harus sesuai dengan realitas. Simbol-simbol harus

merepresentasikan sesuatu secara akurat. Sebagai contoh, dalam sebuah sistem organisasi baik di perusahaan maupun di organisasi kemasyarakatan kita dapat mengetahui fungsi dari setiap orang dalam level maupun kedudukan tertentu beserta tanggung jawab yang harus dipikulnya. Akan tetapi, disisi lain kita tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana perasaan maupun apa yang dialami oleh orang tertentu dalam suatu level yang berkaitan dengan orang yang berada di atas mereka. 3. Teori-teori behavioral dan kognitif Teori ini berkembang dari ilmu psikologi yang memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Beberapa pokok pikirannya : a. Model stimulus-respon (S-R) yang menggambarkan proses informasi antara stimulus dan respon. b. Mengutamakan analisa variabel. Analisis ini pada dasarnya merupakan upaya mengidentifikasi variabel-variabel kognitif yang dianggap penting serta mencari hubungan antar variabel. c. Menurut pandangan ini, komunikasi dipandang sebagai manifestasi dari proses berpikir, tingkah laku, dan sikap seseorang. Oleh karenanya variabel-variabel penentu memegang peranan penting terhadap kognisi seseorang (termasuk bahasa) biasanya berada di luar kontrol individu. Teori ini lebih menekankan pada aspek pemikiran manusia. Teori ini menjelaskan mengenai aspek psikologis manusia dari suatu individu dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang dinamis. Lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana individu itu dimaknai secara umum daripada menguraikan tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan individu lain.

4. Teori-teori konvesional dan interaksional Teori ini beranggapan bahwa agar komunikasi dapat berlangsung, individu-individu yang berinteraksi menggunakan aturan-aturan dalam menggunakan lambang-lambang. Bukan hanya aturan mengenai lambang itu sendiri tetapi juga harus sepakat dalam giliran berbicara, bagaimana bersikap sopan santun atau sebaliknya, bagaimana harus menyapa, dan sebagainya. Teori ini berkembang dari aliran interaksionisme simbolik yang menunjukan arti penting dari interaksi dan makna. Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah diantara para

komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah, yaitu dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tapatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interaksional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan. Pokok pikiran teori ini adalah : a. Kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara, serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan simbol. Komunikasi dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the glue of society). b. Struktur sosial dilihat sebagai produk dari interaksi. Interaksi dapat terjadi melalui bahasa, sehingga bahasa menjadi pembentuk struktur sosial. Pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi. c. Struktur sosial merupakan produk interaksi, karena bahasa dan simbol direproduksi, dipelihara serta diubah dalam penggunaannya. Sehingga fokus pengamatannya adalah pada bagaimana bahasa membentuk struktur sosial, serta bagaimana bahasa direproduksi, dipelihara, serta diubah penggunaannya.

d. Makna dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu, dari konteks ke konteks. Makna pada dasarnya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh melalui interaksi. Oleh karena itu makna dapat berubah dari waktu ke waktu, konteks ke konteks, serta dari kelompok sosial ke kelompok lainnya. Dengan demikian sifat objektivitas dari makna adalah relatif dan temporer. 5. Teori kritis dan interpretif Jenis teori ini berkembang dari tradisi sosiologi interpretif yang dikembangkan oleh Alfred Schulzt, Paul Ricour et al. Sementara teori kritis, berkembang dari pemikiran Max Weber, Marxisme, dan Frankfurt School. Interpretif berarti pemahaman (verstechen), berusaha menjelaskan makna dari suatu tindakan. Karena suatu tindakan dapat memiliki banyak arti, maka makna tidak dapat dengan mudah diungkap begitu saja. Interpretasi secara harfiah merupakan proses aktif dan inventif. Teori interpretif umumnya menyadari bahwa makna dapat berarti lebih dari apa yang dijelaskan oleh pelaku. Jadi interpretasi adalah suatu tindakan kreatif dalam mengungkap kemungkinan-kemungkinan makna. Implikasi sosial kritis pada dasarnya memiliki implikasi ekonomi dan politik, tetapi banyak diantaranya yang berkaitan dengan komunikasi dan tatanan komunikasi dalam masyarakat. Meskipun demikian teoritisi kritis biasanya enggan memisahkan komunikasi dan elemen lainnya dari keseluruhan sistem. Denga demikian, suatu teori kritis mengenai komunikasi perlu melibatkan kritik mengenai masyarakat secara keseluruhan. Pendekatan kelompok ini terutama sekali popular di negaranegara Eropa. Karakteristik umum yang mencirikan teori ini adalah : a. Penekanan terhadap peran subjektifitas yang didasarkan pada pengalaman individual. b. Makna merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered. c. Bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia. Di samping karakteristik yang menunjukan kesamaan, terdapat juga perbedaan mendasar antara teori-teori interpretif dengan

teori-teori kritis dalam pendekatannya. Pendekatan teori interpretif cenderung menghindari sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut teori interpretif hanyalah sesuatu yang bersifat tentatif dan relatif. Sementara teori-teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-

keputusan absolut, preskriptif dan juga politis sifatnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori interpretif ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia atau untuk menginterpretasikan makna-makna teks. Sedangkan teori kritis berkaitan dengan cara-cara di mana kondisi manusia mengalami kendala dan berusaha menciptakan berbagai metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.

2.3 Aplikasi Teori Komunikasi dalam Memecahkan Masalah Pertanian Sebenarnya terdapat hal-hal yang menjadi keterbatasan dalam sebuah teori, yaitu :  Semua teori hanya menjelaskan gejala-gejala tertentu dan terkadang mengabaikan gejala yang lainnya, sehingga terkesan masih ada sesuatu yang masih belum terjangkau.  Pandangan bahwa teori merupakan ciptaan manusia menjadikan teori bersifat relatif yang sangat tergantung pada cara pandang teori tersebut, sifat dan aspek yang diamati, waktu, tempat, juga lingkungan sekitar. Terkadang teori hanya sampai pada tataran konsep semata, tanpa menerangkan maksud yang terkandung dari munculnya konsep-konsep tersebut maupun hubungan yang terjadi diantaranya. Walaupun begitu, dalam beberapa kasus komunikasi di sektor pertanian perlu juga diperhatikan aplikasi dari teoriteori komunikasi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Salah satu contoh masalah komunikasi di sektor pertanian adalah seperti pada kasus berikut ini :

Aplikasi Teori Komunikasi Pada Strategi Penjualan Ada sebuah perusahaan yang menjual tanaman hias dalam pot, juga menjual pupuk dan kompos. Satu hal yang paling mempengaruhi penjualan pupuk dan kompos adalah bagaimana cara menjual produk dengan komunikasi yang jelas dan tepat. Dalam produk perusahaan tersebut, yaitu pupuk dan kompos, selalu memberikan keterangan tentang kandungan pupuk tersebut, manfaat dan cara pemakaiannya. Banyak orang yang menganggap hal tersebut sepertinya sepele, namun pada kenyataannya sangat mempengaruhi penjualannya. Diantara kompetitor yang ada, produk tersebut selalu lebih banyak terjual, dan setelah diadakan penelitian lebih lanjut mengapa konsumen banyak menggunakan produk perusahaan ini, jawabannya adalah kejelasan dari informasi yang diberikan kepada konsumen dan satu hal lagi yang penting adalah digunakannya bahasa Indonesia dalam penyampaiannya, meskipun dalam prakteknya tidak salah kalau keterangan tersebut dalam bahasa Inggris. Contoh lainnya adalah pada penjualan pupuk, seperti pupuk KCl yang tanpa keterangan sama sekali tetapi hanya mencantumkan label KCl saja, setidaknya agar konsumen tahu bahwa barang tersebut adalah KCl. Hasilnya ternyata berbulan-bulan produk tersebut tidak laku. Jadi Logika yang harus dipikirkan adalah bagaimanapun bagusnya kualitas produk, hal pertama yang mempengaruhi konsumen dalam membeli adalah adanya informasi yang jelas dari produk tersebut dalam penggunaannya, dalam di atas adalah pupuk dan kompos. Mungkin variabelnya dapat berbeda jika produknya juga berbeda, namun pada dasarnya sama.

BAB II ILMU KOMUNIKASI
3.1 Filsafat Komunikasi Secara etimologis kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Philosophia terdiri dari dua kata, yaitu philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta, serta sophos yang artinya kearifan atau kebijaksanaan. Dari bahasa Yunani ini melahirkan kata dalam bahasa inggris philosophy yang diterjemahkan sebagai cinta kearifan/ kebijaksanaan. Cinta dapat diartikan sebagai suatu dinamika yang menggerakkan subjek untuk bersatu dengan objeknya yang dipengaruhi dan diliputi oleh objeknya. Sedangkan komunikasi berasal dari kata communis yang berarti sama maknanya mengenai tujuan untuk punya pengertian yang sama. Komunikasi sebagai kegiatan antarmanusia mulai diperkenalkan oleh Aristoteles melalui retorika sebagai ilmu pertama mengenai pernyataan antar manusia. Komunikasi berlangsung antar pemberi pesan (komunikator) dan penerima pesan (komunikan) agar mempunyai kesamaan makna. Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Jadi filsafat komunikasi didefenisikan sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sitematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya. Berkaitan dengan filsafat komunikasi, komunikasi bertujuan untuk mengubah sikap (to change the attitude), mengubah pendapat (to change the opinion), mengubah perilaku (to change the behavior), mengubah masyarakat (to change the society), serta berfungsi untuk menginformasikan (to inform), mendidik (to influence). Karya Richard Lanigan yang berjudul “Communication Models in Philosophy, Review and Commentary” membahas secara khusus analisis filsafat mengenai komunikasi, mengatakan bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya educate), menghibur (to entertain), dan mempengaruhi (to

dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini : a. Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?) b. Bagaimana aku mengetahuinya ? (How do I know it ?) c. Apakah aku yakin ? (Am I sure ?) d. Apakah aku benar ? (Am I right ?) Pertanyaan-pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan sistematis studi terhadap: a. Metafisika Metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori mengenai realita. Hubungan metafisika dengan teori komunikasi adalah: 1. Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dengan alam semesta 2. Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan 3. Problem pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia. Pentingnya metafisika bagi pembahasan filsafat komunikasi, dikutip Jujun Suriasumantri dalam bukunya “Filsafat Ilmu” yang mengatakan bahwa metafisika merupakan suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran, dan hakikat kaitan zat dengan pikiran. b. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin, nature, methods and limits of human knowledge). Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih fundamental lagi bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan, tepat apabila dihubungkan dengan metodologi. c. Aksiologi Aksiologi merupakan asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun. Aksiologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika, estetika, atau agama. Dalam hubungannya dengan filsafat komunikasi, aksiologi

adalah suatu kajian terhadap apa itu nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya. Jelaslah, pentingnya seorang komunikator untuk terlebih dahulu mempertimbangkan nilai (value judgement), apakah pesan yang akan dikomunikasikan etis atau tidak, estetis atau tidak. d. Logika Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar. Logika sangat penting dalam komunikasi, karena pemikiran harus dikomunikasikan, sebagai hasil dari proses berpikir logis.

3.2 Hakikat Komunikasi Proses pernyataan antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Tegasnya, komunikasi berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, jika dianalisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek yaitu isi pesan dan lambang. Konkritnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Semakin peliknya antar manusia dan semakin pentingnya studi terhadap komunikasi, disebabkan teknologi, khususnya teknologi

komunikasi yang semakin canggih. Komunikasi menjadi penting untuk dipelajari karena jika seseorang salah dalam berkomunikasi (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaran mengalami salah persepsi (misperception),salah interpretasi (misinterpretation), salah pengertian (misunderstanding), dan salah perilaku (misbehavior). Dapat dibayangkan apabila komunikasinya berlangsung skala nasional atau internasional daoat berakibat fatal.

3.3 Etika Komunikasi Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan profesi dan masyarakat, serta bertindak dengan cara-cara yang professional. Etiket adalah suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan. Berikut di bawah ini adalah beberapa etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia dalam kehidupan sehari-hari : 1. Jujur tidak berbohong 2. Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan 3. Lapang dada dalam berkomunikasi 4. Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik 5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien 6. Tidak mudah emosi / emosional 7. Berinisiatif sebagai pembuka dialog 8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan 9. Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan 10. Bertingkahlaku yang baik

3.4 Komponen Komunikasi (Sender, Massage, Channel, Receiver) Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen

komunikasi adalah: 1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain. 2. Pesan (message) Adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya

jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi. 3. Saluran (channel) Adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara. Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil). 4. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain. 5. Umpan balik (feedback) Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis. Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.

6. Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan (Protokol)

3.5 Teknik Berkomunikasi yang Baik Keberhasilan presentasi sangat tergantung kepada dua orang yang berperan di dalamnya, yaitu moderator dan pembicara (presenter). Bahkan seringkali suatu presentasi menjadi gagal karena moderator tidak dapat menjalan tugas dan fungsinya dengan baik. Moderator merupakan seorang penjual ide atau gagasan secara singkat yang akan disampaikan pembicara, di samping pengatur tempo presentasi dan diskusi, pembuat keputusan dan kesimpulan yang harus dijalankan. Kemampuan menggugah perhatian hadirin serta membangkitkan semangat untuk menggali berbagai potensi dan permasalahan yang dibicarakan, menjadi tugas moderator. Salah satu tugas utama moderator adalah memperkenalkan pembicara. Bagian ini merupakan yang paling menentukan langkah sukses suatu presentasi. Oleh karena itu, moderator harus bertindak sebagai seorang penjual yang menawarkan suatu produk. Pasarkan ide, gagasan, dan pembicara agar hadirin memberikan perhatian pada apa dan siapa pembicara dan apa kepentingan topik tersebut bagi hadirin. TIS (topic, importance, speaker) adalah tiga urutan kata kunci utama yang dapat digunakan sebagai formula untuk memperkenalkan pembicara. Berikut merupakan beberapa hal yang mungkin harus dipersiapkan presenter (pembicara) agar proses berkomunikasi lancar dan informasi yang diberikan tepat guna :  Lakukan persiapan dengan matang Presentasi bisa kita ibaratkan saja sebagai sebuah gunung es yang indah di atas permukaan air laut. Namun keindahan tersebut akan hilang, manakala 90% bagian gunung es yang ada dibawah permukaan laut tersebut tenggelam. Dengan demikian 90% bagian dari presentasi adalah persiapan, sisanya penyajian dan diskusi. Sekalipun anda menguasai subyek dan mampu berbicara penuh wibawa. Persiapan cermat tetap diperlukan untuk dua alasan penting:

1. Menemukan informasi lebih lanjut tentang subjek untuk disajikan bagi hadirin. Pilihlah informasi yang menonjol. Jika tidak memiliki cukup informasi, sebaiknya tidak memberikan presentasi. 2. Memasarkan gagasan kepada hadirin serta memperoleh dan

mempertahankan perhatian hadirin. 3. Keuntungan utama dari persiapan yang cermat adalah efisiensi waktu presentasi serta mengurangi kegugupan dan demam panggung. Langkahlangkah persiapan itu adalah: (1) analisis sasaran (2) survei lokasi (3) kerangka & struktur (4) penelitian & penerapan (5) penulisan (6) visualisasi & media (7) latihan (8) penyampaian/penyajian Namun, kedelapan tahap tersebut tidak berarti jika pembicara tidak menguasai subjek dan pengetahuan penunjang lainnya.  Sampaikan presentasi anda dengan tenang Banyak presenter (pembicara) yakin bahwa hadirin akan terus menyimak. Seorang pimpinan dapat memaksa bawahannya untuk menyampaikan presentasi, tetapi ia tidak dapat memaksa hadirin menyimak presentasi stafnya. Tiba waktunya presentasi. Saat itu perasaan presenter berkecamuk, perut terasa tidak enak, telapak tangan sedikit berkeringat, dan baru dapat tidur menjelang pagi karena terus berfikir apa yang harus dikatakan dan dilakukan. Pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana mengatasi kegugupan menjelang presentasi. Persiapan matang merupakan cara paling awal mengatasi kegugupan. Dalam penyajian, sampaikan materi secara sistematis dan berurutan, hubungan kausal, argumentasi, teori-teori pendukung, akurasi data, pengujian yang dilakukan, relevansi metodologi yang digunakan, hasil yang diperoleh, serta manfaatnya. Agar penyajian sistematis dan berurutan:

1. tuliskan kata-kata kuncinya secara berurutan. 2. manfaatkan alat bantu untuk menyampaikan materi secara visual. 3. pelihara komunikasi tatap muka selama penyajian. 4. berikan penjelasan yang jujur pada setiap penanya dan terimalah saran .serta kritik. 5. cermati busana dan penampilan.  Yakinkan hadirin dengan penampilan anda Dalam teori human relations, komunikasi harus diarahkan bukan pada pribadi orang yang diajak bicara, tetapi pada faktor-faktor kejiwaannya, seperti watak, sifat, kepribadian, sikap, dan tingkah laku. Kesuksesan penyaji tergantung pada sikap hadirin, sikap dan tindakan hadirin tersebut tergantung dari sikap penyaji. Kesan pertama sangat menentukan sikap hadirin selanjutnya. Jika pembicara memberikan kesan pertama yang positif, maka sikap hadirin akan positif dan menyenangkan. Menurut teori public speaking, keberhasilan seseorang presenter ditentukan oleh tujuh detik pertama saat tampil di panggung. Hadirin hanya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh detik untuk melihat apakah presenter cukup berharga untuk didengar atau tidak (Green, 1998). AIDDA - Hadirin hanya akan mendengarkan pembicara, apabila ada perhatian (Attention) karena penampilan, sikap, dan perilaku pembicara yang menumbuhkan minat (Interest) dan rangsangan (Desire), sehingga hadirin berani mengambil keputusan (Decision) untuk bertindak (Action) dengan

memperhatikan, mendengarkan, bertanya, memberikan tanggapan, dan lain-lain. Lebih jauh lagi, hadirin berusaha mengadopsi, mencoba, dan menerapkannya.  Manfaatkan diskusi sebaik mungkin Pembicara hendaknya memandang tanggapan, saran, maupun pertanyaan secara positif. Banyak pembicara pemula beranggapan bahwa forum tanya-jawab merupakan forum pembantaian, bahkan seringkali khawatir dan takut diserang, dikritik, diuji, bahkan dijatuhkan. Mungkin ada hadirin yang memang ingin pamer kepandaian; namun pembicara harus tetap bersikap tenang dan berfikir positif

bahwa semua pertanyaan yang di ajukan oleh hadirin merupakan masukan berharga. Apabila yang dikemukakan hadirin memang mengandung kebenaran, terimalah itu dengan jujur sebagai kebenaran. Tetapi apabila pernyataan hadirin bertolak belakang, sampaikan penjelasan-penjelasan secara bijaksana dengan argumentasi yang dapat diterima.

BAB III KOMUNIKASI INTERPERSONAL
4.1 Komunikasi Agribisnis Secara umum kmunikasi agribisnis adalah sebuah proses penyampaian informasi dalam bidang pertanian, khususnya agribisnis baik itu produsen ke konsumen, maupun dari konsumen ke produsen. Jadi, terdapat interaksi antara produsen kepada konsumen yang secara tidak langsung terjadi , namun terdapat saluran-saluran yang terkait seperti supplier, tengkulak, maupun sesama produsen yang dalam konteks ini adalah petani. Begitu pula sebaliknya pada komunikasi yang terjadi antara konsumen kepada produsen dalam konteks ini adalah keinginan pasar. Karena konsumen tidak mungkin secara langsung berbicara kepada produsen akan kebutuhan dan keinginan pasar, maka disini berperanlah saluran-saluran tersebut. Dari pasar, keinginan-keinginan konsumen tersebut disalurkan kembali oleh penyalur tadi seperti supplier, pedagang kecil, pedagang besar, maupun sesama petani itu sendiri dapat terjadi pertukaran informasi.

4.1.1 Kekuatan Komunikasi Agribisnis      Terbentuknya jaringan komunikasi yang luas Pada dasarnya informasi itu penting, baik bagi petani maupun pasar Informasi bisa didapat dari berbagai pihak, sehingga menambah wawasan tentang pertanian Keramahan produsen yang cenderung kuat, sehingga penyampaian informasi menjadi lebih ringan. Semakin maju teknologi, informasi pertanian(alsintan, saprodi,dll) juga semakin maju. Jadi kebutuhan informasi tidak terbatas.

4.1.2 Kelemahan Komunikasi Agribisnis  Penyampaian informasi terkadang berbeda antara 1 pihak dengan yang lain, sehingga makin banyaknya jaringan satu informasi terkadang dapat berbeda.   Bahasa juga menjadi kendala dalam komunikasi, terutama terhadap petani yang berbahasa daerah asli. Pendidikan produsen yang terkadang rendah, menjadi kendala dalam penyampaian informasi secara langsung oleh konsumen yang biasanya berpendidikan.  Belum adanya kesadarans ecara langsung dari kedua belah pihak akan keingintahuan informasi yang sedang berlangsung.

4.2 Komunikasi Interpersonal Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Contoh komunikasi interpersonal adalah pidato, komunikasi

nonverbal, penyimpulan, dan paraphrase. Komunikasi interpersonal perlu untuk mendukung proses perdagangan, konseling, pelatihan, bimbingan, dan pemecahan konflik. Ada beberapa definisi komunikasi interpersonal menurut para ahli, yaitu: a. R. Wayne Pace Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. b. Muhammad (2005) Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. c. Devito (1989) Komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera

d. Mulyana (2000) Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya. e. Menurut Effendi Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang logis berupa percakapan.

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor

mengatakan komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:  Percaya (trust) Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut: a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur, dan konsisten. b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk. c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

 Sportif Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu: a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya. b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cara mencapai tujuan. c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam. d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona. e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan. f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.

4.2.1 Keunggulan dan Kelemahan Keunggulan dalam komunikasi interpersonal, antara lain : Dapat berlangsung di berbagai tempat dan waktu Isi pesan tidak dibatasi Dapat menumbuhkan keakraban antara pemberi pesan dengan penerima pesan Bersifat situasional dan konsidental Masalah yang bersifat rahasia dapat diungkapkan Tidak memerlukan keahlian atau kekhususan tertentu Keikhlasan menyampaikan pesan Menghasilkan hubungan timbal balik Sedangkan kelemahan dalam komunikasi interpersonal, diantaranya : Jangkauan sempit Tidak menunggu otoritas

4.2.2 Kegunaan Komunikasi Interpersonal a. Menemukan Diri Sendiri Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain. Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita. b. Menemukan Dunia Luar Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami melalui interaksi

interpersonal. c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain. d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa

sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal. e. Untuk Bermain Dan Kesenangan Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita. f. Untuk Membantu Dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

4.3 Kasus Komunikasi Interpersonal dalam Agribisnis 4.3.1 Kasus 1 Peran Komunikasi Interpersonal Terhadap Kecepatan Adopsi Inovasi Persuasi dalam konteks komunikasi interpersonal, maksudnya adalah ketika seseorang mencoba membujuk orang lain supaya berubah, baik dalam kepercayaannya, sikapnya, atau perilakunya. Sebagai contoh, ketika kita membujuk dan memberikan keyakinan pada petani agar mereka menerapkan teknologi anjuran. Sedangkan persuasi dalam konteks komunikasi massa, maksudnya adalah ketika seseorang atau komunikator berusaha membujuk sekelompok petani agar mereka bisa berubah, baik dalam kepercayaannya, sikapnya, maupun perilakunya terhadap teknologi anjuran. Namun sangat sulit untuk dengan cepat merubah perilaku karena pesan yang diterima masih melalui proses psikologis individu petani dalam mengartikan isi pesan.

Penyebaran inovasi teknologi pertanian dapat dilakukan melalui saluran komunikasi interpersonal, kelompok, dan media massa. Saluran komunikasi interpersonal dan kelompok memiliki ciri berbeda dengan jangkauan yang terbatas, namun mampu dalam pembentukan dan perubahan sikap serta perilaku, sehingga saluran komunikasi interpersonal lebih penting pada tahap persuasi. Saluran media massa dipercaya memiliki ciri yang sangat efektif dalam menciptakan pengetahuan dan relatif dapat menjangkau sasaran yang luas dalam waktu yang singkat. Saluran ini memungkinkan dapat berperanan lebih penting pada tahap pengenalan inovasi ke masyarakat petani. Kasus di Indonesia, bahwa dalam penyebaran inovasi pertanian jarang menggunakan saluran komunikasi massa dengan menggunakan media massa, selain itu bahwa sebagian besar petani Indonesia tidak mempunyai kemampuan dalam mengakses informasi inovasi melalui media massa. Kondisi ini menyebabkan perluasan difusi inovasi teknologi relatif lambat. Prinsip komunikasi inovasi antara manusia yang penting adalah bahwa penyampaian inovasi-inovasi baru lebih sering terjadi antar sumber dan penerima yang sama, sepadan, dan homofilius (kesamaan kepercayaan, nilai-nilai, pendidikan, status sosial) (Hanafi, 1987). Pada kondisi saat ini komunikasi inovasi yang sering terjadi tidak lagi didasarkan pada kesamaan perangkat-perangkat tertentu antar sumber dengan penerima melainkan cenderung didasarkan pada kebutuhan akan inovasi tersebut. Jika komunikan mengetahui seseorang individu memiliki sejumlah pengetahuan tentang inovasi tertentu maka mereka dapat dijadikan sumber informasi inovasi. Sebagai contoh komunikasi inovasi terjadi antara petani dengan petani yang berhasil dalam usahataninya, petani yang lebih paham terhadap teknologi, ketua kelompok tani, dan kontak tani. Memang ada kecenderungan jika sumber dan penerima pesan homofili maka komunikasi akan lebih efektif berdasarkan ciri-ciri personal sebagai indikator pendukung. Akan tetapi dalam hal kualitas informasi inovasi bahwa individu petani cenderung mencari sumber-sumber informasi inovasi yang memiliki kredibilitas yang dapat dipercaya. Kencenderungan ini mungkin dipengaruhi oleh meningkatnya pengetahuan inovasi individu dan untuk menghindari terjadinya konflik batin dalam pengambilan keputusan terhadap pesan inovasi yang diterima.

Berkaitan dengan kebutuhan akan inovasi tertentu individu petani juga melakukan komunikasi atau kontak dengan pedagang input, pedagang output, pengusaha, PPL, dan guru sekolah yang ada di desanya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi inovasi yang dibutuhkan. Perolehan inovasi melalui komunikasi interpersonal juga sering terjadi melalui pertemuan-pertemuan kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok simpan pinjam, kelompok arisan, kelompok keagamaan, kelompok adat, kegiatan penyuluhan, pertemuan RT dan RW di mana Gonzales dalam Jahi (1988) menyebutnya sebagai media komunikasi tradisional. Terlepas dari penggolongan media ini sebagai media tradisonal namun yang lebih penting yang diharapkan individu adalah kecepatan memperoleh informasi inovasi. Dalam konteks penyampaian dan penerimaan pesan inovasi bahwa individu petani selalu menilai pesan-pesan yang mereka terima berdasarkan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian setiap pesan yang diterima atau ditolak itu didasarkan atas peta kognitif oleh individu sendiri terhadap pesan tersebut. Jika suatu informasi inovasi yang diterima mempunyai kecocokan dan sesuai kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai individu maka pesan tersebut akan diterima untuk dimanipulasi atau dimodifikasi lebih lanjut dalam bentuk uji coba dan penerapan. Berkaitan dengan keputusan inovasi bahwa adopsi inovasi adalah menyangkut proses pengambilan keputusan, di mana dalam proses ini banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya faktor psikologis. Dalam penyuluhan pertanian, banyak kenyataan bahwa petani biasanya tidak begitu saja menerima ide-ide baru, tetapi penerimaan melalui tahapan proses, sehingga memerlukan waktu yang relatif lama untuk menerima ide-de. Untuk mempercepat proses adopsi inovasi diperlukan peningkatan komunikasi inovosi yang lebih efektif dengan menggunakan berbagai pendekatan. Upaya-upaya individu petani untuk memperoleh informasi inovasi melalui saluran komunikasi interpersonal selain untuk meningkatkan pengetahuan juga karena kebutuhan. Komunikasi melalui saluran interpersonal memiliki peranan yang sangat besar terhadap kecepatan adopsi inovasi karena dapat memperoleh umpan balik lebih cepat dibandingkan dengan saluran melalui media massa. Akan tetapi jangkauan penerima relatif terbatas, sehingga perlu memikirkan strategi

komunikasi interpersonal dengan membangun jaringan-jaringan komunikasi interpersonal melalui pendekatan kelompok.

4.3.2. Kasus 2 Sistem Komunikasi Dan Adopsi Inovasi Usahatani Padi - Jeruk di Lahan Pasang Surut Plg Sejuta Hektar

Penerapan introduksi teknologi padi-jeruk di lahan pasang surut Pengembangan Lahan Gambut (PLG), khususnya di lahan guludan merupakan upaya meningkatkan adopsi inovasi dan mengoptimalkan fungsi lahan usahatani yang telah tertata dengan sistem surjan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hampir 78% lahan usaha yang telah tertata dengan sistem surjan baru dimanfaatkan pada bagian tabukan saja untuk pertanaman padi, sedangkan pada bagian guludan hanya dibiarkan menjadi semak belukar dan berpeluang sebagai sumber perkembangan organisme pengganggu tanaman (Susilawati et al, 2003). Jeruk memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi jika diusahakan di lahan pasang surut, karena jeruk termasuk tanaman yang relatif tahan terhadap pH rendah dan kadar salin tinggi. Penerapan teknologi usahatani padi-jeruk akan memberikan hasil sesuai harapan apabila dilakukan melalui pendekatan sistem komunikasi yang baik terutama dalam hal penggunaan media komunikasi. Penggunaan media komunikasi petani di pedesaan dapat berupa media komunikasi interpersonal (antar pribadi), media komunikasi kelompok dan media komunikasi massa. Pengetahuan mengenai media komunikasi ini menjadi penting karena dapat dijadikan dasar untuk menyusun strategi komunikasi inovasi pertanian. Keputusan mengadopsi ataupun menolak untuk menerapkan inovasi teknologi, selain ditentukan oleh keuntungan berupa peningkatan produksi dan pendapatan, juga dipengaruhi oleh pemanfaataan sumber informasi dan penggunaan media komunikasi, seperti pada penggunaan media massa sebagai saluran informasi dimaksudkan untuk memperkuat penyebaran pesan-pesan pertanian secara cepat dan luas, sedangkan saluran komunikasi interpersonal dan kelompok dimaksudkan untuk menjalin interaksi yang mendalam antara sumber

informasi dengan petani. Komunikasi yang efektif ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang baik, sehingga sasaran cenderung untuk mau dan mampu bertindak dan menerapkan teknologi anjuran yang ditawarkan oleh sumber informasi. Indikator keberhasilan dari penggunaan media komunikasi ini adalah tersebar dan diterapkannya teknologi usahatani di masyarakat petani.

BAB IV KOMUNIKASI KELOMPOK
5.1 Komunikasi Kelompok Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok kecil, seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi, dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggotaanggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Dua definisi tersebut memiliki kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. B. Curtis, James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, h. 149) menyatakan komunikasi kelompok terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan mempengaruhi satu sama lain.

5.1.1 Kelebihan Komunikasi Kelompok  Ukuran kelompok Hubungan antara ukuran kelompok dengan keefektifan komunikasi kelompok adalah makin banyak anggota makin besar jumlah pekerjaan yang diselesaikan. Misalnya 1 orang dapat memindahkan tong minyak ke satu bak truk dalam 10 jam, 10 orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam 1 jam. Jadi jumlah anggota yang banyak merupakan salah satu kekuatan dalam komunikasi kelompok.  Jaringan komunikasi Dalam komunikasi kelompok terdapat beberapa tipe jaringan

komunikasi, yaitu: roda, rantai, Y, lingkaran, dan bintang. Tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.

Kohesi Kelompok Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan

mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankan bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal.  Kepemimpinan Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White dan Lippit (1960).

5.1.2 Kekurangan Komunikasi Kelompok  Ketidakpastian Ketidakpastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang diharapkan. Untuk mengurangi ketidakpastian ini organisasi menciptakan dan menukar pesan di antara anggota, penelitian, pengembangan organisasi dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks dengan integritas yang tinggi.  Ketergantungan Keadaan saling tergantung antara satu bagian dengan bagian lainnya telah menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila suatu bagian dari organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh pada bagaian lainnya dan mungkin juga pada seluruh sistem organisasi.

Perbedaan (Keragaman) Dalam kelompok dan organisasi terdapat banyak anggota tentu saja banyak terdapat budaya didalamnya. Banyaknya perbedaan budaya ini merupakan salah satu kelemahan dalam komunikasi kelompok dan organisasi.

5.2 Perkembangan Kelompok Komunikasi kelompok berkembang melalui beberapa tahap yang saling berkesinambungan. Teori ini menjelaskan bagaimana proses yang harus dilewati seseorang dalam suatu kelompok untuk menghasilkan sesuatu yang disepakati bersama antar anggota kelompok. Asumsi dasar dari teori adalah adanya tahapantahapan yang harus dilalui seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain (anggota dalam kelompoknya). Tahap-tahap proses perkembangan kelompok terdiri atas: 1. Orientasi Pada tahap ini seorang individu akan berusaha untuk saling mengenal, saling menangkap perasaan anggota kelompoknya, dan mencoba menemukan peranan dan status. Dalam tahap ini akan ada kecenderungan perbedaan pendapat. 2. Konflik Tahap ini merupakan tindak lanjut dari adanya perbedaan pendapat pada tahap pertama. Dalam situasi ini terdapat peningkatan perbedaan antara satu individu dengan anggota kelompok lainnya, setiap individu berusaha mempertahankan apa yang ia inginkan. 3. Pemunculan Pada tahap ini setiap individu berusaha untuk mengurangi tingkat perbedaan pendapat. Tujuannya untuk mengurangi konflik, namun yang terjadi adalah individu sudah tidak lagi memiliki kejelasan dalam menentukkan sikap. 4. Peneguhan Tahap akhir yang dilakukan seseorang dalam kelompoknya yaitu bagaimana para anggota memperteguh konsensus kelompok. Dalam hal ini akan ada

saran bagaimana penyelesaian yang baik dan akan ada keputusan dari perbedaan yang ada pada para anggota.

5.3 Budaya Kelompok Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Budaya kelompok adalah nilai, norma, keyakinan, sikap dan asumsi yang merupakan bentuk bagaimana orang-orang dalam kelompok berperilaku dan melakukan sesuatu hal yang bisa dilakukan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan nilai adalah apa yang diyakini bagi orang-orang dalam berperilaku dalam kelompok, sedangkan norma adalah aturan yang tidak tertulis dalam mengatur perilaku seseorang. Fungsi dari adanya budaya kelompok adalah untuk membentuk identitas kelompok dan memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok. Pada pembahasan ini, disajikan dua kasus mengenai budaya kelompok.

5.4. Kasus Komunikasi Kelompok dalam Agribisnis 5.4.1 Kasus 1 Organisasi Sosial dan Kebudayaan Kelompok Minoritas Indonesia Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatra (Orang Kubu Nomaden)

Di provinsi Jambi terdapat suku-suku yang belum berakulturasi dengan masyarakat pasca tradisional. Mereka dikenal dengan nama umum suku Kubu, dewasa ini namanya memiliki konotasi yang kurang baik. Di propinsi Jambi terdapat beberapa suku Kubu yang masing-masing memiliki mitos sejarah dan budaya yang berbeda. Walaupun mereka diklasifikasikan sebagai hunters and gatherers, lokasi dan lingkungannya berbeda. Mereka tinggal berpindah-pindah dari rawa dekat laut, dataran sampai kaki pegunungan dan pegunungan di propinsi Jambi. Mereka memakai pola hidup dan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhannya. Kebudayaan mereka selalu dipengaruhi oleh perubahan pola pikir individu dan input perubahan dari luar, artinya budaya orang asing.

Ada beberapa mitos serta sejarah tertulis mengenai asal usul orang Rimba termasuk orang Kubu. Sejarah tertulis pertama ditulis oleh orang Tiongkok, mereka berkunjung ke Sumatera bagian tengah dengan alasan belajar bahasa Sansekerta atau berniaga. Mereka membeli atau tukar barang di hilir sungai. Orang Tiongkok dan orang Barat mengangkut kapalnya dengan barang seperti, menyan, beberapa jenis getah, obat alami dan lain yang diperoleh dari hutan dan pegunungan. Di hulu sungai banyak pecahan porselin ditemukan yang berasal dari Tiongkok. Dari aktivitas tersebut diatas bisa disimpulkan bahwa sejak lama orang Rimba disamping sebagai hunters and gatherers juga terlibat perniagaan untuk memenuhi kebutuhannya, seperti alat dapur serta pisau dan tombak. Kelihatannya bahwa membayar upeti (tribute), ke kerajaan atau tukar barang kepada pengantar atau pedagang, supaya orang Terang dari hilir sungai tidak perlu masuk dan mengganggu orang Rimba di kawasan tradisional. Menurut pengamatan seorang eksplorir pertama dari Eropa, orang Rimba digambarkan sebagai orang yang tanpa dosa dan kebudayaannya yang unik. Memang kebudayaan dan kosmologi sangat berbeda. Walaupun kelihatannya struktur masyarakat sederhana, kebutuhan mereka dipenuhi setidaknya selama 6 sampai 10 generasi, atau sekitar 300 sampai 500 tahun, menurut sejarah lisan orang Rimba. Masyarakat Rimba menganut sistem kekerabatan matrilineal dan pologini. Matrilineal, artinya saudara perempuan tinggal bersama di kelompok orang tua dan saudara laki-laki harus ikut kelompok isterinya. Pologini artinya suaminya boleh mempunyai hubungan dengan beberapa istri Alasannya perempuan subur, mandul, dan janda harus dilindungi sebagai sumber hidup. Kelihatannya tanggung jawab laki-laki berat dan pada tingkat harapan hidup laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan. Dampak perubahan zaman sekarang terhadap kebudayaan mereka sangat besar, dewasa ini lingkungan tradisionalnya semakin lama semakin sempit oleh penebangan dan perkebunan. Akan tetapi mereka tetap bertekad mengikuti aturan dan budaya yang diwariskan dari nenek moyangnya. Kelihatannya program transmigrasi, menebang hutan serta memburu fauna dan mengambil flora oleh orang Terang, berdampak negatif pada kebudayaan

orang Rimba. Akan tetapi orang Rimba sudah beradaptasi supaya bertahan pada masa depan. Orang Rimba sudah mengambil getah pohon karet dan berencana kultivasi kelapa sawit, untuk menaikkan penghasilan. Kelihatannya mereka beradopsi kembar kultur. Menurut Motto Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya berbeda beda tetapi tetap satu juga, membolehkan diversitas tetapi kelihatannya tidak selalu terjadi dan nilai-nilai mereka tidak selalu dihormati.

5.4.2 Kasus 2 Kehidupan Sosial Budaya Etnis Cina Di Pulau Bangka Studi Kasus di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka

Pulau Bangka terletak di sebelah pesisir Timur Sumatera Selatan berbatasan dengan Laut China Selatan sebelah utara, Pulau Belitung sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah Selatan. Pulau ini juga terletak pada 1°20‟-3°7 Lintang Selatan dan 105° - 107° Bujur Timur memanjang dari Barat Laut ke Tenggara sepanjang ± 180 km. Luas pulau ini 11.910 km2. Dahulu Pulau Bangka merupakan wilayah Kesultanan Palembang. Sultan Palembang menyerahkan wilayah Bangka ke tangan Inggris pada tahun 1812. Pada tahun 1814 pulau ini dibarter dengan cochin di India yang tadinya milik Belanda. Jepang menguasai pulau ini dari tahun 1942 hingga 1945, kemudian menjadi bagian dari Indonesia pada tahun 1949. Pulau Bangka dan pulau Belitung merupakan bagian dari provinsi Sumatra Selatan hingga tahun 2000 ketika kedua pulau disahkan menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau Bangka juga pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. Pada masa Kerajaan Sriwijaya pulau Bangka termasuk daerah yang takluk terhadap kerajaan itu. Kerajaan Majapahit dan Mataram tercatat pula sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Pulau Bangka. Namun, Pulau Bangka baru mendapat perhatian orang-orang dari daratan Asia maupun Eropa yang berlomba-lomba ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Pulau Bangka merupakan daerah penghasil lada yang merupakan rempah yang sangat disukai oleh bangsa Eropa dan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sekitar tahun 1709 ditemukan timah di Sungai Olin di Kecamatan Toboali di Pulau Bangka. Dengan ditemukannya timah ini, mulailah Pulau Bangka disinggahi oleh segala perahu dari Asia maupun Eropa. Perusahaan-perusahaan penggalian timah pun semakin maju sehingga Sultan Palembang mengirimkan orang-orangnya ke Negeri Cina untuk mencari tenaga-tenaga ahli yang sangat diperlukan. Sejak tahun 1710 Bangka merupakan salah satu wilayah penghasil timah di dunia. Tahun 2003 jumlah penduduk di Kabupaten Bangka berjumlah 217.545 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 107.213 (49,28%) dan perempuan 110.337 jiwa (50,72%) dengan kepadatan rata-rata 74 jiwa/km2. Konsentrasi penduduk terpadat berada di wilayah kecamatan Sungailiat (379,13 jiwa/km2) yang juga merupakan ibukota Kabupaten Bangka dan merupakan salah satu tujuan wisata pantai di Pulau Bangka. Pulau Bangka didiami berbagai suku bangsa, seperti suku Melayu, Cina, Jawa, Batak, Sunda, Bugis, Banten, Banjar, Madura, Palembang, Minang, Aceh, Flores, Maluku, Manado, dan Cina. Agama penduduk berdasarkan urutan jumlah pengikutnya terdiri dari agama Islam, Buddha, Kong Hu Cu, Kristen, Katolik, dan Hindu. Etnis Cina merupakan suku urutan kedua dalam jumlahnya di Pulau Bangka (sekitar 30%). Urutan pertama ditempati oleh etnis Melayu Bangka. Skinner (1981) mengatakan bahwa kehadiran etnis Cina secara besarbesaran di Pulau Bangka berawal dari penambangan timah. Etnis Cina di Pulau Bangka sebagian besar berasal dari pedalaman propinsi Kwangtung, Tiongkok. Mereka diperkirakan sudah berada di Bangka pada abad ke-17 lalu mulai berbondong-bondong datang ke pulau Bangka sejak pertambangan timah di Pulau Bangka dikembangkan secara teratur dengan mempekerjakan buruh-buruh tambang yang didatangkan dari daratan Tiongkok. Adapun Mary F. Sommers Heidhues (dalam Kompas, 14 April 2005) memaparkan bahwa ribuan pekerja asal China datang secara massal sebagai kuli kontrak di penambangan timah di Bangka pada tahun 1710. Mereka didatangkan secara bergelombang oleh perusahaan Belanda yang mau menambang timah di daerah tersebut. Warga asal China tertarik untuk datang ke Pulau Bangka karena Belanda menjanjikan keuntungan besar sebagai penambang timah. Apalagi situasi di negeri China

sedang rawan karena terjadi konflik perebutan kekuasaan sekitar tahun 1920. Gelombang kedatangan terbesar, antara lain, terjadi dari tahun 1907-1940 yang disponsori perusahaan Holland-China Handles Companie. Setelah itu, kuli kontrak yang datang ke Bangka terus menyurut. WP Goeneveldt (dalam Kompas, 14 April 2005) mengungkapkan bahwa pembahasan tentang Pulau Bangka pernah ditulis dalam kitab klasik China, Hsing–ch‟a Sheng-lan, yang ditulis tahun 1436. Kitab itu menceritakan wilayah Bangka Belitung yang memiliki tradisi unik dan pemandangan indah dengan sungai-sungai dan tanah datar. Dalam penuturan beberapa literatur kuno, Bangka telah dikenal pelaut-pelaut China dan mereka pernah singgah di pulau Bangka serta memberinya nama Pu-lei sejak abad ke-3 Masehi. Imigran dari negeri China yang datang ke Pulau Bangka, sebagian di antaranya menetap di Sungailiat. Orang-orang ini (selanjutnya disebut etnis Cina) sejak dulu berperan hampir di semua sektor kehidupan, baik di desa maupun di kota. Sampai saat ini, hubungan etnis Cina dengan etnis Melayu dan etnis lainnya yang ada di Sungailiat berlangsung cukup harmonis. Pada Hari Raya Imlek etnis Cina maupun Hari Raya Idul Fitri umat Melayu muslim, mereka saling mengunjungi. Banyak juga yang berhubungan sebagai teman atau sahabat. Di Sungailiat tidak pernah terjadi masalah antaretnis yang berbentuk kerusuhan atau pertikaian antar kelompok. Melihat keberadaan etnis Cina ini, penulis tertarik untuk meneliti kehidupan sosial budaya mereka. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu kajian yang berguna dalam mengenal etnis Cina di Pulau Bangka. Kehidupan sosial budaya etnis Cina di Sungailiat selalu stabil. Aktivitas seharihari seperti bekerja dan melakukan aktivitas budaya ataupun ritual agama berjalan dengan serasi. Sistem sosial budaya masyarakat etnis Cina ini dapat diumpamakan sebagai “organisme”, seperti yang dikatakan teori fungsional Malinowski dan Radcliffe Brown bahwa sistem sosial budaya sebagai semacam organisme, yang bagianbagiannya tidak hanya saling berhubungan melainkan juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup “organisme” itu (Kaplan dan Manners, 1999). Pelestarian aktivitas budaya seperti sembahyang kubur (ceng beng) misalnya dapat dijelaskan dengan teori

Malinowski tentang fungsi aktivitas budaya untuk mengurangi kecemasan menghadapi hal-hal yang tak dipahami. Teori Radcliffe Brown mengatakan unsur kebudayaan merupakan suatu kebutuhan sosial yang sangat diperlukan untuk dapat bertahan hidup atau survive. Mengacu pada teori Brown, beberapa ritual kepercayaan yang tetap dijalankan seperti sembahyang di Kelenteng, Hari Raya Kong Ngian atau Xin Nian, dan lain-lain merupakan eksistensi (dan juga persistensi) upacara keagamaan bagi kerekatan sosial. Etnis Cina yang tinggal di Sungailiat sejak dulu berperan hampir di semua sektor kehidupan, baik di desa maupun di kota. Kehidupan sosial budaya mereka dilandasi nilai-nilai budaya Cina bercampur dengan nilai-nilai budaya masyarakat asli (Melayu). Dalam pergaulan antaretnis, tampaknya tidak ada keinginan mereka untuk menekankan harga diri suatu kelompok, dan loyalitas setiap orang Cina dengan etnisnya sama sekali tidak mengganggu hubungan mereka dengan etnis lain. Mayoritas etnis Cina di Sungailiat, bahasanya termasuk golongan bahasa Khe‟ (Hakka). Selain bahasa Khe‟ yang merupakan mayoritas, di Sungailiat ada juga bahasa Hokkian, Kongfu, Kanton, dan Teociu. Dalam pergaulan sesama etnis mereka menggunakan “bahasa keakraban”, yaitu bahasa Cina dengan banyak kata pinjaman dari bahasa Melayu Bangka. Dalam berkomunikasi dengan etnis Melayu, etnis Cina menggunakan “bahasa solidaritas” yaitu bahasa Melayu Bangka (walaupun kadang-kadang bercampur dengan kata-kata dan istilah dari bahasa Khe‟). Penggunaan bahasa seperti ini merupakan salah satu standar ideal hubungan antaretnis di Sungailiat. Adapun bahasa subetnis Hokkian, Kong Fu dan lain-lain hanya digunakan dalam lingkungan keluarga masing-masing. Etnis Cina di Sungailiat mata pencahariannya sangat beragam, mulai dari petani, pengrajin, nelayan, pedagang, tukang batu, sopir bis, guru sekolah swasta, dan pengusaha. Walaupun pada masa kini etnis Cina di Sungailiat memeluk agama yang bermacam-macam, mereka tetap patuh pada ajaran Kong Hu Cu “berbakti kepada orangtua dan leluhur” yang diajarkan secara turun-temurun. Upacara atau ritual ceng beng, rebut, kong ngian, dan pehcun selalu diperingati setiap tahun dan dirayakan dengan meriah. Etnis Cina di Sungailiat mempunyai kebiasaan merantau. Kota tujuan utama mereka adalah Jakarta dan sekitarnya.

Namun demikian, ada juga yang merantau ke Palembang, Batam, dan lain-lain. Etnis Cina Sungailiat jika berada di luar negeri, selalu mengidentifikasikan diri dengan negeri tempat mereka lahir dan tetap sadar sebagai orang Cina Indonesia. Mereka memiliki “identitas nasional” sebagai orang Cina Indonesia, “identitas komunal” sebagai orang Cina Sungailiat, dan “identitas budaya” sebagai orang Hakka (Khe), Kongfu, Kanton, Hokkian, dan Teociu.

5.5 Komunikasi Kelompok untuk Menjelaskan Produk Baru  Tujuan Memperkenalkan produk baru, yang dalam kasus ini adalah pengenalan produk telepon genggam terbaru dengan nama produk “quiphon”.  Teknik komunikasi yang baik 1. Berpakaian rapi dan meyakinkan audiens. 2. Menguasai produk yang akan di pasarkan dan dijelaskan secara singkat dan jelas. 3. Menguasai pembahasaan dan intonasi, sehingga dapat meyakinkan audiens akan produk. 4. Ramah dalam menjawab pertanyaan yang akan terlontar dari audiens. 5. Penyampaian awal berupa pengenalan produk (informatif). 6. Penyampaian selanjutnya dapat berupa ajakan dalam mengkonsumsi / membeli produk tersebut.

Jadi alangkah lebih baik apabila sudah terencana sejak awal, persiapan yang harus dilakukan adalah penguasaan “quiphon” terlebih dahulu. Lalu secara singkat dan jelas diinformasikan kepada audiens selama 5 menit yang akan mencakup informasi penting dalam spesifikasi dan keuntungan memakai produk tersebut. Selanjutnya mengajak para audiens untuk membeli produk sambil membandingkan dengan produk lain yang sejenis telepon genggam. Karena komunikasi kelompok bisa menjadi satu arah, dan apabila telah menjadi 2 arah (terdapat respon dari audiens) menjadi komunikasi interpersonal. Namun tidak terlalu diperhatikan apabila masih dalam satu forum.

BAB V NEGOSIASI
6.1 Negosiasi Negosiasi merupakan istilah yang umum digunakan dalam dunia bisnis dan manajemen yang kemudian dalam perkembangannya diterapkan dalam bidang lain, salah satu dalam mengelola konflik. Negosiasi bukan sekedar alat untuk memenangkan kepentingan melalui proses tawar menawar atau konsesi tertentu, tetapi sebagai proses merumuskan kepentingan yang mungkin ditawarkan kepada pihak lain tanpa mengurangi posisi dan martabatnya.

6.1.1 Pengertian Dalam Wikipedia, negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal. Sedangkan menurut Fisher dan Ury, negosiasi adalah komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan pada saat kedua belah pihak memiliki kepentingan yang berbeda. Selain itu, dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi negosiasi yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Maka dapat dikatakan bahwa negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak mencapai perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan dengan elemen-elemen kerjasama dan kompetisi. Termasuk di dalamnya, tindakan yang dilakukan ketika berkomunikasi, kerjasama atau mempengaruhi orang lain dengan tujuan tertentu.

6.1.2 Tujuan Negosiasi diperlukan ketika kepentingan seseorang atau suatu kelompok tergantung pada perbuatan orang atau kelompok lain yang juga

memiliki kepentingan-kepentingan tersebut harus dicapai dengan jalan mengadakan kerjasama. Sehingga tujuan dilakukannya negosiasi adalah mendapatkan atau memenuhi kepentingan kita yang telah direncanakan sebelumnya dimana hal yang diinginkan tersebut disediakan atau dimiliki oleh orang lain sehingga kita memerlukan negosiasi untuk mendapatkan yang diinginkan.

6.1.3 Manfaat Negosiasi diperlukan dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan manusia dimana setiap manusia memiliki sifat dasar untuk mempertahankan kepentingannya, di satu sisi, manusia lain juga memiliki kepentingan yang akan tetap dipertahankan, sehingga, terjadilah benturan kepentingan. Padahal kedua pihak tersebut memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Apabila terjadi benturan kepentingan terhadap suatu hal, maka timbul lah suatu sengketa. Dalam penyelesaian sengketa dikenal berbagai macam cara, salah satunya negosiasi. Secara umum, tujuan dilakukannya negosiasi adalah mendapatkan atau memenuhi kepentingan kita yang telah

direncanakan sebelumnya dimana hal yang diinginkan tersebut disediakan atau dimiliki oleh orang lain sehingga kita memerlukan negosiasi untuk mendapatkan yang diinginkan.

6.1.4 Pola Perilaku Negosiasi Dalam melakukan negosiasi, setiap pihak dapat menunjukkan empat pola perilaku sebagai berikut: 1. Moving against (pushing) : menjelaskan memperagakan, mengarahkan, mengulang-ulangi, menjernihkan masalah, mengumpulkan perasaan, berdebat, menghimbau, menghakimi, tak menyetujui, menentang, menunjukkan pihak lain. 2. Moving with (pulling) : memperhatikan, mengajukan gagasan, menyetujui, meringkaskan gagasan-gagasan pihak lain, menjajagi,

membangkitkan

motivasi, mencari

mengembangkan landasan

interaksi,

mengulangi

kecaman-kecaman,

bersama,

mengungkapkan

perasaan-perasaan orang lain. 3. Moving away (withdrawing) : menghindari konfrontasi, menghindari hubungan dan sengketa, menarik kembali isi pembicaraan, berdiam diri, tak menanggapi pertanyaan. 4. Not moving (letting be) : mangamati, memperhatikan, memusatkan perhatian pada “here and now”, mengikuti arus, luwes, menyesuaikan diri dengan situasi dan menyukainya.

6.1.5 Gaya Negosiasi Gaya seseorang sangat menentukan profil situasi yang terbangun dalam negosiasi. Gaya yang digunakan pada saat negosiasi dapat menciptakan suasana pada bagian awal atau dapat mengubah suasana kerjasama menjadi persaingan, konflik, dan pertikaian. Jenis gaya yang dapat digunakan terdiri dari dua dimensi yaitu arah dan kekuatan. 1. Arah berbicara adalah mengenai cara menangani informasi Seseorang dapat mendorong, yaitu memberikan informasi, mengajukan usulan, berpendapat, melalaikan kontribusi orang lain, mengkritik, atau bertindak sebagai pengganggu. Semua cara tersebut tergantung sifat dan konteks negosiasi. Dalam dimensi arah, seseorang pun dapat menarik, yaitu mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi, meminta kejelasan dan saran, pemahaman, serta menyatakan perasaan. 2. Kekuatan berbicara tentang keluwesan kita untuk beranjak dari kedudukan kita yang semula, dalam hal ini dapat mempengaruhi konsistensi pihak lain. Usulan yang diajukan diiringi sikap yang lunak akan berbeda apabila dengan menggunakan sedikit tekanan. Seseorang dapat bersikap keras kepada lawan bicara karena ingin menang, apapun hasilnya tidak akan mengalah atau mundur, dan tidak akan menerima tawaran apapun. Cara ini untuk mencapai sasaran yang tinggi. Sedangkan sikap lunak yang

terwujud dalam pola negosiasi, misalnya ragu-ragu, mengalah, sulit berkata tidak, lebih menyesuaikan diri, ini berlaku jika sasaran yang dikejar rendah. Sikap lemah yang selalu menerima akan memperkuat posisi lawan. Kedua sikap ini dapat digunakan tergantung situasi negosiasi. Seseorang harus mampu meletakkan kedua posisi ini dalam situasi yang menguntungkan, misalnya saat dimana negosiasi

membutuhkan sikap keras dan beberapa persoalan yang lain bersikap lunak. Hal ini memberikan petunjuk jelas mengenai hasil yang menjadi prioritas. Adapun beberapa cara negosiasi pada saat seseorang menghadapi situasi sulit, diantaranya :     Pertahankan pendekatan yang mudah diterima orang lain. Bersikap dan bertindak profesional. Jangan membalas perilaku yang kurang menyenangkan. Terus menegosiasikan kepentingan, kemudian galilah sikap dan pendirian pihak lain, meskipun tidak mengajukan usulan atau penawaran. Cobalah untuk menjelaskan kelemahan pendirian mereka dengan diskusi yang logis dan masuk akal.    Mintalah pandangan atau kritik terhadap pendirian yang kita pegang, coba sarankan pihak lain untuk melihat situasi dari sudut pandang kita. Pusat perhatian pada persoalan yang sedang dinegosiasikan bukan kepada orang yang bernegosiasi. Jangan menanggapi serangan yang bersifat pribadi dan tidak rasional dengan tetap diam, setelah suasana tenang usahakan agar diskusi kembali dipusatkan pada masalah yang akan disepakati.  Tentukan secara bersama kriteria, indikator, asumsi, data pendukung, kesimpulan atau petunjuk yang objektif meskipun pihak lain tidak memilikinya.  Berikan kesempatan kepada pihak lain untuk berbicara dan mengajukan usulan.

  

Berikan tanggapan positif dengan alasan penerimaan atau penolakan secara logis. Tunjukkan antusiasme Anda untuk suatu solusi yang adil dan ungkapan kembali kesediaan Anda untuk mencapai tujuan yang objektif. Arahkan pada upaya kerjasama antarkedua pihak dan berikan sambutan, dukungan dan pujian jika muncul tanda-tanda kemajuan kearah kesepahaman.

 

Secara periodik buatlah ringkasan tentang hal-hal yang menjadi perhatian kedua pihak untuk disepakati. Bila semua cara di atas telah ditempuh dan gagal, bersiaplah menunda diskusi. Gunakan waktu tunda untuk menurunkan ketegangan,

mempelajari kembali pokok-pokok yang telah disetujui dan yang belum disepakati, mempelajari kembali situasi negosiasi, dan carilah cara untuk memperbaikinya, mengamati lebih lanjut mitra negosiasi.

6.2 Tahapan Negosiasi Tahapan negosiasi bersifat dinamis, artinya dapat berkembang dan disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi. Hasil dari negosiasi sebenarnya ditentukan oleh seni dalam berkomunikasi, menguasai karakter negosiator, juga cara dalam meyakinkan pihak lawan. Namun secara umum, tahapan negosiasi sebagai berikut : 1. Persiapan Pada tahap ini, negosiator mulai mengadakan kick off meeting internal untuk pengumpulan informasi relevan yang lengkap, pembentukan tim apabila diperlukan juga menetapkan strategi yang akan dilakukan, apakah apakah rigid (kaku) atau fleksibel atau keduanya. Adanya pembentukan tim juga berarti adanya pembagian peran, mislanya : a) Pemimpin tim negosiator dengan tugas memimpin tim, memilih dan menentukan anggota tim, menentukan kebijakan khusus, dan mengendalikan anggota tim lainnya.

b) Anggota Kooperatif yang menunjukan simpati kepada pihak lain dan juga bertindak hati-hati agar pihak lain merasa kepentingnnya tetap terlindungi. Peran ini seolah-olah mendukung penawaran pihak lain. c) Anggota Oposisi yang bertugas untuk membantah argumentasi yang dilakukan pihak lain, anggota ini juga berusaha untuk membuka kelemahan dan merendahkan posisi tawar pihak lain. d) Sweeper yang bertugas sebagai pemecah masalah, pemecah kebuntuan dalam negosiasi, dan bertugas menunjukkan inkonsistensi pihak lain. 2. Proposal Pada tahap ini, negosiator dapat memilih, apakah langsung melakukan penawaran pertama atau menunggu pihak lain yang mengajukan penawaran. Dengan membaca strategi pihak lain, maka negosiator sudah siap mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang ada. 3. Debat Pada tahap ini, argumentasi dari masing-masing pihak dapat menunjukkan strategi dan fleksibilitas pihak lain. Tahap ini sangat penting, karena dengan dilakukannya debat, dapat diketahui seberapa jauh kepentingan kita bisa dipertahankan atau diteruskan dan seberapa jauh kepentingan pihak lain akan kita terima. 4. Tawar menawar Setelah diadakan proposal dan debat, negosiator mengadakan tawar menawar atas kepentingan pihaknya maupun pihak lain. Dalam tahap ini yang diperlukan adalah fakta, data, dan kemampuan untuk mencapai tujuan negosiasi. 5. Penutup Suatu negosiasi dapat berakhir dengan berbagai kemungkinan. Antara lain, negosiasi berhasil, negosiasi gagal, negosiasi ditunda, negosiasi dead-lock (jalan buntu), para pihak walk-out, dan lainnya. Apabila negosiasi berhasil, direkomendasikan untuk membuat semacam memorandum of understanding (MoU) untuk keperluan para pihak menekan pihak lainnya untuk menjalankan kesepakatan hasil negosiasi (contract enforcement).

6.3 Teori Negosiasi Terdapat empat teori yang mendasari pembahasan mengenai negosiasi. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Social Exchange Theory Adalah suatu pandangan yang menjelaskan bahwa perubahan dan stabilitas sosial adalah suatu proses negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat. Teori ini berkesimpulan bahwa seluruh hubungan antar manusia dibentuk dari analisa cost-benefit yang subjektif dan merupakan proses perbandingan antar alternatif. Misalnya, ketika seseorang melihat bahwa harga yang ia bayar untuk suatu hubungan melebihi manfaat yang diperolehnya, maka teori ini memprediksikan bahwa ia akan meninggalkan hubungan tersebut. Teori ini memiliki akar di ilmu ekonomi, psikologi, serta sosiologi. 2. Conflict Resolution Theory Adalah suatu proses mengenai cara menyelesaikan suatu konflik. Conflict resolution umumnya melibatkan dua kelompok atau lebih yang membahas isu tertentu, dapat juga ditambah dengan pihak lain yang memiliki opini netral terhadap subjek tersebut. Metode-metode resolusi konflik antara lain: rekonsiliasi, mediasi, arbitrase dan litigasi. Rekonsiliasi adalah perbuatan yang memulihkan hubungan pada keadaan semula; mediasi adalah suatu proses penyelesaian konflik dimana pihak ketiga bertindak sebagai penasehat; arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih. ; dan litigasi adalah bentuk penanganan klien dalam hal beracara di pengadilan baik itu perkara perdata maupun pidana, termasuk didalamnya mendampingi klien dalam pemeriksaan pada Kepolisian, Kejaksaan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil maupun di Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan. 3. Decision Science atau biasa disebut Decision Tree Adalah suatu metode dalam operation research atau decision analysis yang memanfaatkan gambar atau model keputusan dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensi yang ditimbulkan, termasuk probabilitas terjadinya suatu event, biaya yang dikeluarkan, serta utility. Decision tree umum digunakan untuk

keputusan investasi. Misalnya manajer akan mengambil keputusan untuk investasi pengembangan produk baru. Dengan data-data probabilitas, biaya dan profit yang dihasilkan, maka manajer akan mendapatkan keputusan produk mana yang paling tepat untuk berinvestasi. 4. Game Theory Game theory terdiri dari beberapa macam. Antara lain zero sum-game, prisoner‟s dilemma, dan battle of sexes. Game Theory adalah sebuah teori matematika yang berasal dari John von Neumann yang melihat strategi dan probabilitas sebagai fungsi dari permainan persaingan dimana semua pemain mempunyai peran kontrol parsial dan para pemain bersaing satu sama lainnya. a. Zero-sum game, ini adalah win-lose solution. Dimana jika satu pihak menang, maka pihak lain pasti kalah. Jika satu pihak memperoleh keuntungan/manfaat, maka itu merupakan harga yang harus dibayar oleh pihak lain. Contoh permainan yang bertipe zero-sum game antara lain adalah catur. b. Non-zero sum game, dimana jika satu pihak memperoleh keuntungan, maka pihak lain tidak pula kalah. Pihak-pihak yang terlibat bisa melakukan kompromi, sehingga memperoleh solusi yang bermanfaat bagi semuanya. Contohnya dalam dunia sales, salesman berhasil menjual produknya dan memenuhi target, sementara pelanggan juga berhasil memperoleh produk yang ia butuhkan. Jadi sama-sama bermanfaat bagi semua pihak. c. Prisoner‟s dilemma, salah satu bentuk non-zero sum game namun tidak terdapat kerjasama ataupun komunikasi antara kedua belah pihak. Diilustrasikan prisoner‟s dilemma ini yaitu dua penjahat yang ditangkap dan diinterogasi secara terpisah. Jika mereka berdua sama-sama mengaku, maka keduanya akan menjalani hukuman terberat. Jika salah satu mengaku, maka temannya akan diganjar hukuman lebih berat dan ia sendiri dikurangi. Sementara itu jika keduanya tidak mengaku, maka akan memperoleh hukuman terringan. Masalahnya adalah, keduanya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pihak lawan. Prisoner‟s dilemma sendiri sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Misalnya antara satu perusahaan

dengan kompetitornya, dimana sama-sama tidak mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh pihak lawan dan tidak ada komunikasi antar keduanya. Kemudian juga banyak aplikasinya di dunia politik antara politisi dan lawan politiknya.

6.4 Kasus Negosiasi dalam Agribisnis 6.4.1 Kasus 1 Tata Batas Perkebunan dan Aset Pemda Belum Jelas (Kamis, 21/10/2010 - 07:54) SUKABUMI, Pihak Kecamatan Cikakak meminta kepada PT Tirta Tata Bangunan (TTB) selaku pemilik HGU (Hak Guna Usaha) perkebunan Tenjo Laut di Kec. Cikakak, supaya mengonfirmasi kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sukabumi untuk memastikan tata batas antara tanah perkebunan dengan tanah aset Pemkab Sukabumi yang kini dibangun perumahan pemda di daerah Pasirbandera, Kec. Cikakak. Permintaan itu, dilatarbelakangi adanya dua persepsi yang berbeda tentang lokasi tanah yang dibangun vila oleh salah seorang warga. “Menurut versi warga perumahan yang sebagian besar PNS, bahwa lokasi pembangunan vila itu berada di tanah aset pemda yang kini dibangun perumahan PNS. Sementara versi pihak perkebunan PT TTB yang diwakili H. Atang, menyatakan bahwa bangunan vila itu berada di luar tanah asset pemda,” kata Camat Cikakak, H. Enjang Abdurahman didampingi Sekretaris Kecamatan (Sekmat), Asep Mauludin, S.IP. Menurut dia, perlunya mengetahui tata batas antara tanah aset pemda dengan tanah perkebunan itu, berawal ketika ada seseorang warga yang membangun sebuah vila di dalam kawasan Perumahan Pasirbandera milik Pemkab Sukabumi. Terlebih yang membangun vila itu bukan warga perumahan. “Melihat ada pembangunan vila di dalam areal tanah pemda, otomatis warga perumahan yang sebagian besar PNS merasa prihatin. Oleh karena itu, mereka langsung melaporkan kepada pemda tentang permasalahan itu,” kata H. Enjang.

Berdasarkan laporan itu, kata dia, Pemkab Sukabumi meminta kepada pihak Kecamatan dan Desa Cikakak untuk meninjau lokasi pembangunan vila. Dari hasil pengecekan dan pengamatan di lapangan, ternyata pembangunan vila itu memang berada di dalam kawasan perumahan yang berdiri di atas tanah aset pemda. “ Dikarenakan lokasi bangunan vila itu ada di dalam areal tanah pemda, sehingga kami bersama Desa Cikakak dipandang perlu mengamankan tanah aset pemda tersebut,” ujarnya. Namun demikian, dari hasil penjelasan dari pihak perkebunan PT TTB yang diwakili H. Atang, ternyata mereka mengklaim bahwa bangunan vila itu berada di luar tanah aset pemda. Namun sayangnya, mereka tidak bisa menunjukan surat tata batas yang disahkan oleh pihak BPN Sukabumi. “Adapun kaitan PT TTB dengan bangunan vila itu, karena sebelumnya H. Atang selaku perwakilan PT TTB mengeluarkan Surat Pelepasan Hak (SPH) tanah perkebunan kepada Rahmat. Selanjutnya, Rahmat menjual lagi tanah garapannya kepada Asep Sudrajat selaku pemilik bangunan vila tersebut. Jadi mereka mengklaim, tanah yang dipakai bangunan vila itu dari hasil pelepasan hak dari PT TTB yang lokasinya di luar tanah aset pemda,” katanya. H. Enjang menambahkan, supaya permasalahan tanah tersebut clear and clean, sehingga pihaknya meminta PT TTB mengonfirmasi kepada BPN untuk memastikan tata batas antara tanah perkebunan dengan tanah aset pemda. “Mereka bersedia menunjukan tata batas tanah itu Senin (26/10) nanti. Kita akan menunggu sampai Senin nanti,” ujar H. Enjang.

Analisis Kasus Dari kasus di atas dapat kami simpulkan bahwa terjadi

kesalahpahaman antara pihak perusahaan dan warga, dimana terjadi pembangunan vila yang melanggar batas tanah perkebunan dan tanah asset PemKab Sukabumi. Pihak perusahaan merasa tidak melanggar tata batas tanah tersebut dikarenakan sudah mengeluarkan SPH tanah perkebunan kepada Rahmat yang kemudian dijual kembali kepada Asep Sudradjat sebagai pemilik vila. Camat Cikakak, H. Enjang Abdurahman memerintahkan untuk melakukan peninjauan terhadap bangunan vila tersebut dan dari hasil

pengecekan didapat bahwa vila tersebut memang melanggar batas tanah perumahan yang merupakan asset PemKab. H enjang mengungkapkan bahwa harus ada konfirmasi kepada BPN Sukabumi agar masalah ini dapat selesai. Jika dilihat dari teori negosiasi, kasus tersebut merupakan kasus yang merugikan salah satu pihak yaitu win-lose solution. Pihak perusahaan merasa sudah mengeluarkan SPH sehingga tidak ada keterikatan lagi terhadap tuntutan tanah tersebut, namun disisi lain sebagai warga perumahan yang merupakan anggota PNS merasa dirugikan dengan adanya pembangunan yang melanggar batas lahan PemKab Sukabumi. Solusi dari kasus tersebut adalah harus terjadi pertemuan antara pihak yang terkait dan melakukan negosiasi agar masalah yang mereka hadapi dapat selesai dan tidak berkepanjangan.

6.4.2 Kasus 2 Konflik Agraria Bayangi Petani (Jumat, 24 September 2010 | 13:52 WIB) SEMARANG, KOMPAS - Konflik agraria masih membayangi petani di Jawa Tengah karena belum adanya kepastian hak atas tanah. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jateng didesak untuk melaksanakan reforma agraria dan membuat kebijakan yang menjamin hak petani atas lahan pertanian. Tuntutan itu disampaikan para perwakilan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Gerakan Petani Menggugat di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jateng, Kota Semarang, Kamis (23/9). Unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional. "Banyak petani yang terkendala soal tanah sehingga akhirnya menjadi buruh tani. Selama ini, konflik terjadi karena kepemilikan tanah sering kali didominasi perkebunan swasta dan negara," ujar koordinator aksi, Muhnur. Terbitnya Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 hingga saat ini belum dapat menjamin kesejahteraan petani. Munculnya konflik agraria umumnya karena banyak petani yang menggarap lahan secara turun-temurun atau lahan timbul, tetapi kemudian

lahan itu diambil alih karena tidak bersertifikat. Konflik ini dapat berujung pada kriminalisasi petani. Muhnur menegaskan, pemerintah semestinya membatalkan hak guna usaha (HGU) terhadap lahan di perkebunan swasta dan negara yang bermasalah. Umumnya, petani dikriminalisasi karena menggarap lahan perusahaan yang memiliki HGU tanpa sepengetahuan mereka. Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, pada tahun 2009 terdapat 68 kasus tanah yang umumnya merupakan sengketa dengan perkebunan. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2008, sebanyak 41 kasus dan tersebar di 18 kabupaten/kota dengan jumlah korban mencapai 7.414 keluarga. Purwanto dari Serikat Paguyuban Petani Qoriyah Thayyibah Salatiga mengatakan, selama ini petani tidak punya akses terhadap lahan-lahan yang bersengketa. Padahal, banyak lahan perkebunan telantar yang semestinya bisa jadi produktif jika ditanami. Maraknya alih fungsi lahan juga menjadi ancaman petani sehingga persawahan terus menyusut. Merujuk data LBH Semarang, dari 990.459 hektar lahan pertanian di Jateng, sekitar 270 hektar di antaranya telah hilang dan berubah fungsi menjadi permukiman, pabrik, atau waduk. Ketua Komisi B DPRD Jateng Moch Wasiman mengatakan, pihaknya tengah membahas peraturan daerah mengenai Perlindungan Lahan Pertanian yang berfungsi untuk mempertahankan luasan lahan pertanian di Jateng. Adanya alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan umum maupun pabrik harus diikuti dengan penggantian lahan yang sama fungsinya. "Perda ini diperkirakan dapat selesai pada 2011 mendatang," kata Wasiman. Wasiman juga menambahkan, konflik agraria yang sering kali menimpa petani semestinya dapat diselesaikan melalui proses mediasi. "Jika sampai lahan petani dirampas, kami siap ikut membela," katanya. (ILO),

Analisis Kasus Dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi merupakan dampak yang dihasilkan dari adanya penggunaan lahan

perkebunan swasta dan negara yang digarap oleh petani sekitar. Hal itu terjadi karena selama ini petani melakukan penggarapan pada lahan secara turuntemurun namun dimabil alih karena tidak bersertifikat. Kondisi ini mendorong petani melakukan aksi unjuk rasa untuk menyuarakan aspirasinya. Mereka menuntut pemerintah untuk melaksanakan reforma agraria dan membuat kebijakan yang menjamin hak petani atas lahan pertanian. Untuk menyelesaikan masalah ini, Komisi B DPRD akan membahas peraturan daerah mengenai Perlindungan Lahan Pertanian yang berfungsi untuk mempertahankan luasan lahan pertanian di Jateng. Peraturan ini berisikan bahwa setiap pengalihfungsian lahan harus disertani dengan penggantian lahan yang memiliki fungsi yang sama. Kasus tersebut merupakan salah satu contoh kasus yang menggunakan pola negosiasi moving against (pushing), yaitu melakukan unjuk rasa untuk menuntut apa yang dirasa menjadi hak para petani. Dalam unjuk rasa, mereka menentang adanya pengambilalihan lahan yang dilakukan oleh perkebunan. Berdasarkan teori negosiasi, kasus ini termasuk ke dalam Conflict Resolution Theory yang pada proses penyelesaiannya ditambah dengan pihak lain yang memiliki opini netral terhadap subjek tersebut, yaitu Komisi B DPRD, dimana metode yang diterapkan adalah mediasi, yaitu pihak ketiga bertindak sebagai penasehat. Dengan begitu diharapkan hasil yang dihasilkan dari negosiasi adalah win-win solution.

BAB VI KOMUNIKASI MASSA
7.1 Teori Komunikasi Massa dan Aplikasi dalam Isu Agribisnis Pembahasan berikut ini adalah teori komunikasi massa yang bernuansa teori efek media (theories of media effects). a. Teori Peluru atau Jarum Hipodermik Teori peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodermic needle theory (teori jarum hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleideskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul the Invansion from Mars (Effendy.1993: 264-265). Teori ini mengasumsikan bahwa media (seorang kommunikator) memiliki kekuatan yang sangat perkasa, dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apaapa. Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schram pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jauh terjerembab, karena kadang-kadang peluru tersebut tidak menembus. Adakalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Seringkali pula khalayak yang dijadikan sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari media massa. Jika menemukannya, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan predisposisi dan kebutuhan mereka. Sejak tahun 1960-an banyak penelitian yang dilakukan para pakar komunikasi yang ternyata tidak mendukung teori peluru tadi. Kemudian muncul teori limited effect model atau model efek terbatas, sebagai hasil penelitian Hovland yang dilakukan dengan menayangkan film bagi tentara. Hovland mengatakan bahwa pesan komunikasi efektif dalam menyebarkan informasi, bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukkan bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektivitas sebuah pesan.

Contoh yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah, pada iklan air mineral yang bermerek Aqua. Dimana pada saat produk air mineral ini dipublikasikan, secara langsung bisa mempengaruhi asumsi khalayak bahwasanya air mineral itu adalah Aqua. Sehingga sampai saat ini Aqua sudah terdoktrin di ingatan khalayak. Walaupun sudah banyak merek-merek air mineral yang bermunculan.

b. Teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertenti di antara para anggota suatu sistem social. Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Sedangkan inovasi didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan salaing bertukar informasi tersebut untuk mencapai pengertian bersama. Unsur utama difusi adalah (1) inovasi, (2) yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu, (3) dalam jangka waktu tertentu, (4) di antara para anggota suatu system social. Inovasi adalah suatu ide, karya atau objek yang dianggap baru oleh seseorang. Unsur utama inovasi adalah (1) relative advantage (keuntungan relatif), (2) compatibility (kesesuaian), (3) complexity (kerumitan), (4) triability

(kemungkinan dicoba), (5) observability (kemungkinan diamati). Relative advantage adalah suatu derajat dimana inovasi dirasakan lebih baik daripada ide lain yang menggantikannya. Compatibility adalah suatu derajat dimana inovasi dirasakan ajeg atau konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman dan kebutuhan mereka melakukan adopsi. Complexity adalah mutu derajat dimana inovasi dirasakan sukar untuk dimengerti dan dipergunkan. Trialability adalah mutu derajat dimana inovasi dieksperimentasikan pada landasan yang terbatas. Observability adalah suatu derajat dimana inovasi dapat disaksikan oleh orang lain. Dalam pelaksanaannya, sasaran dari upaya difusi inovasi adalah para petani dan anggota masyarakat pedesaan. Usaha-usaha difusi inovasi pertama kali

dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1920-an dan 1930-an, dan sekarang menjadi gambaran bagi program-program pembangunan di negara yang sedang berkembang. Semua itu menyangkut komunikasi massa karena berada dalam situasi dimana perubahan potensial bermula dari riset ilmiah, dan kebijaksanaan umum yang harus diterapkan oleh masyarakat. (Katz, 1960 dalam Dennis McQuail, pada Betty, dalam Karlinah, dkk.1999). Everett M. Rogers dan Floyd G. Shoemaker mengemukakan bahwa teori difusi inovasi dalam prosesnya ada 4 (empat) tahap, yaitu: pengetahuan, persuasi, keputusan dan konfirmasi. 1. Pengetahuan : Kesadaran individu akan adanya inovasi dan pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi. 2. Persuasi : Individu membentuk sikap setuju atau tidak setuju terhadap inovasi. 3. Keputusan : Individu melibatkan diri pada aktivitas yang mengarah pada pilihan untuk menerima atau menolak inovasi. 4. Konfirmasi : Individu mencari penguatan (dukungan) terhadap keputusan yang telah dibuatnya, tapi ia mungkin saja berbalik keputusan yang telah dibuatnya, tapi ia mungkin saja berbalik keputusan jika ia memperoleh isi pernyataan yang bertentangan (McQuail, 1985: 61). Salah satu contoh difusi inovasi terdapat pada iklan traktor yaitu “quick” pada iklan tersebut, pemilik produk mencoba mensosialisasikan penggunaan teknologi untuk pertanian. Dalam iklan tersebut inovasinya ialah traktor untuk membajak sawah, seolah-olah mengajak para petani menggunakan traktor agar petani bisa berpindah dari pola tradisional ke pola pertanian modern melalui media elektronik .

c. Teori Pembelajaran Sosial Social learning theory (teori pembelajaran social) diaplikasikan pada perilaku konsumen, kendati pada awalnya menjadi bidang penelitian komunikasi massa yang bertujuan untuk memahami efek terpaan media massa. Berdasarkan

hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa pemirsa meniru apa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning (pembelajaran hasil pengamatan). Klapper menganggap bahwa “ganjaran” dari karakter TV diterima mereka sebagai perilaku antisocial, termasuk menjadi toleran terhadap perilaku perampokan dan kriminalitas, menggandrungi kehidupan glamour seperti di televisi. “Citra, Iklan dan Gender”

Secara umum, citra perempuan dalam iklan yang ditayangkan media massa di Indonesia saat ini jelas menempatkan tubuh sebagai pusat makna. Sebagai gambaran bagaimana bergesernya pusat pencitraan menuju tubuh, lihatlah sebuah iklan yang pernah terbit pada surat kabar Star Weekly pada tahun 50-an mengenai bir, yakni iklan “Java Bier”. Dalam iklan ini terdapat gambaran kehidupan sebuah keluarga pribumi. Sang ayah duduk santai (mungkin sedang menikmati leisure time) di beranda rumah yang teduh dan nyaman mengenakan jas dan kopiah membaca surat kabar, sementara sang (perempuan) istri dengan pakaian kebaya (Jawa) datang menyuguhkan segelas bir. Dua anak laki-laki dan perempuan berdiri bermain boneka di dekat mereka. Di samping gambar tersebut terdapat gambar orang minum bir dengan kalimat;”Orang tegap dan koeat minoem Java Bier”. Yang luar biasa dari iklan ini adalah terdapat kesan atau citra bahwa seolah-olah bir sudah menjadi minuman sehari-hari seperti kopi, teh atau yang lain. Citra tersebut tidak ditampilkan dengan bahasa yang rumit. Proposisi dalam teks tulisan juga sangat koheren: bahwa bapak yang sehat dan kuat, ulet bekerja, pada akhirnya akan mendapat kedudukan yang layak, patut dihormati dan dikagumi. Orang-orang semacam inilah yang minum “Java Bier”. Pada iklan tersebut rupanya citra tentang “kejantanan” masih dinyatakan secara implisit alias tidak terang-terangan. Dalam iklan tersebut keperkasaan dicitrakan dengan keberhasilan sang bapak yang mencapai kedudukan bagus dalam masyarakat dan dalam pekerjaannya sehingga bisa menjadi kepala keluarga yang sukses. Di situ, tubuh belum memainkan peran sentral dari pencitraan.

Bandingkan dengan iklan bir zaman sekarang yang secara terang-terangan mengekplorasi citra “kejantanan” dan “keseksian” sebagai pusat citra, yakni dengan menggunakan citra perempuan melalui tubuhnya dalam konotasi seksual. Contoh lain, pada tahun 1941 dalam Almanak Bale Poestaka (Volksalmanak Djawi) terbit iklan sabun mandi Lifebuoy. Ilustrasi iklan tersebut menggambarkan seorang laki-laki berjas, bersarung dan lagi-lagi memakai kopiah, duduk diapit dua perempuan dengan rambut diikat di belakang memakai baju “modern” dengan kain panjang khas “pribumi”. Si laki-laki tersenyum bangga, percaya diri dan sedikit sombong menghisap sebatang rokok. Gadis yang satu menyalakan api untuk si laki-laki, sedangkan gadis yang satunya menyodori segelas minuman, sementara ada dua laki-laki di belakangnya kelihatan melotot terkagum-kagum. Dalam iklan tersebut, pusat pencitraan adalah laki-laki, atau lebih tepatnya tubuh laki-laki sebagai simbol kegagahan. Pusat pencitraan tidak terletak pada tubuh perempuan. Bandingkan dengan iklan sabun mandi Lifebuoy zaman sekarang yang menyandarkan acuan citra pada kondisi ideal dari sebuah keluarga. Atau bandingkan dengan mayoritas iklan sabun di televisi kita sekarang dimana hampir semuanya menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat pencitraan.

7.2 Asal-usul dan Fungsi Komunikasi Massa Teori-teori awal mengenai komunikasi massa lahir melalui berbagai penelitian yang didorong oleh perhaian terhadap pengaruh politik terhadpap media suratkabar. Penelitian tersebut umumnya berangkat dari tujuan untuk menguji efisiensi dan efektivitas dalam bidang propaganda, telekomunikasi, advertensi, public relations, dan human relations. Diawali dengan aspek-aspek praktis, penelitian komunikasi massa selanjutnya didukung oleh pendekatan sosiologis dan psikologis yang sedang berkembangg pada saat itu, di samping kemajuan-kemajuan yang sedang terjadi dalam bidang metodologi. Khususnya dalam hal penggunaan metode eskperimen, survey dan statistic. Pembahasan berikut akan menguraikan sejumlah teori dasar yang cukup berpengaruh dan telah memberi inspirasi bagi perkembangan teori dan penelitian komunikasi massa berikutnya. Antara lain adalah:

a.

Formula Lasswell Seorang ahli ilmu politik Amerika Serikat pada tahun 1948 mengemukakan suatu ungkapan yang sangat terkenal dalam teori dan penelitian komunikasi massa. Ungkapan yang merupakan cara sederhana untuk memahami proses komunikasi massa adalah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut:
    

Siapa (Who) Berkata apa (Says what) Melalui saluran apa (in which Channel) Kepada siapa (to Whom) Dengan efek apa (with what Effect)

b. Pendekatan Transmisional Teori tentang transmisi pesan ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli matematika, Claude Shannon pada akhir tahun 1940-an. Pada dasarnya prinsip proses ini adalah seperti bekerjanya proses penyiaran radio. Pada bagian pertama dari proses adalah sumber informasi yang menciptakan pesan atau rangkaian pesan untuk dikomunikasikan. Pada tahap berikutnya adalah pesan diubah ke dalam bentuk sinyal oleh trasmiter sehingga dapat diteruskan melalui saluran pada penerima. Penerima lalu menyusun kembali sinyal menjadi pesan sehingga dapat mencapai tujuan. Sementara itu sinyal dalam perjalanannya memiliki potensi untuk terganggu oleh berbagai sumber gangguan yang muncul. Misalnya, ketika terdapat terlalu banyak sinyal dalam saluran yang sama dan pada saat yang bersamaan pula. Hal ini akan mengakibatkan adanya perbedaan antara sinyal yang ditrasmisikan dan sinyal yang diterima. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pesan yang dibuat oleh sumber dan kemudian disusun kembali oleh penerima hingga mencapai tujuan, tidak selalu memiliki makna yang sama. Dari model yang dikemukakan Shannon & Weaver ini, MelvinDeFleur (1966) dalam bukunya Theories of Mass Communication, mengembangkan dan mengaplikasikannya ke dalam teori komunikasi massa.

c.

Pendekatan Psikologi-Sosial Fokus dari teori ini adalah komunikasi antarkelompok dalam masyarakat yang berlangsung secara interaktif dan dua arah. Pendekatan ini memandang sumber informasi, komunikator, dan penerima dalam suatu situasi komunikasi yang dinamis. Hubungan anatara elemen-elemen tersebut dituangkan dalam bagan yang menyerupai layang-layang. Publik adalah kelompok/komunitas dalam masyarakat yang

berkompeten dengan peristiwa yang diinformasikan dan sekaligus sebagai audience dari media. Sementara itu media mengacu pada unsur-unsur yang ada di dalam media, seperti wartawan, editor, reporter, dan sebagainya. Garis yang menghubungkan berbagai elemen tersebut memiliki sejumlah

interpretasi. Dapat berupa hubungan, sikap, ataupun persepsi. Demikian pula arah dari garis tersebut dapat dianggap sebagai komunikasi searah ataupun dua arah. Teori ini menjelaskan bahwa informasi mengenai suatu peristiwa dicari dari, atau didapat oleh, anggota masyarakat dengan mengacu pada pengalaman pribadi, sumber dari kalangan elite, media massa, atau kombinasi ketiganya. Relevansi dari teori ini terletak pada situasi yang dinamis yang dihasilkan oleh hubungan antara publik dan kekuatan politik (elite) tertentu, pada sikap publik terhadap media, dan pada hubungan antara elite dan media.

a) Fungsi Komunikasi Massa Komunikasi massa berfungsi sebagai :    Informasi yang berupa fakta dan mengandung unsur 5W + 1H Hiburan Persuasi berupa tulisan ataupun tayangan acara yang bertujuan untuk memperkuat sikap, kepercayaan, nilai; mengubah, sikap, kepercayaan, nilai; menggerakkan untuk melakukan sesuatu; mengenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu  Transmisi budaya yang memiliki dua tingkatan, yaitu kontemporer (media memperkuat konsensus nilai masyarakat, dengan selalu memperkenalkan

bibit perubahan secara terus-menerus) misalnya televisi; dan historis (umat manusia telah dapat melewati atau menambahkan pengalaman baru dari sekarang untuk membimbingnya ke masa depan).     Mendorong kohesi social, yaitu mendorong masyarakat untuk bersatu juga membuka peluang disintegrasi. Pengawasan sebagai peringatan dan instrumental (penyebaran informasi yang berguna) Korelasi, yaitu menghubungkan antar komponen di masyarakat misalnya iklan dan berita juga mengintepretasikan pesan. Pewarisan sosial dimana media sebagai pendidik sehingga generasi penerus dapat meneruskan atau mewariskan suatu ilmu pengetahuan, nilai, norma, pranata, etika ke generasi selanjutnya.   Melawan kekuasaan dan kekuatan represif dimana media sebagai kontrol pemerintah. Menggugat hubungan trikotomi, yaitu hubungan 3 pihak yang susah untuk ditemukan (media massa, pemerintah, masyarakat). Trikotomi dari waktu ke waktu akan selalu berubah.

Fungsi komunikasi massa terdiri dari dua bagian, yaitu :  Fungsi komunikasi massa secara umum Fungsi komunikasi massa atau fungsi dari media massa dilihat dari perspektif secara universal (umum) yang meliputi fungsi memberi informasi; memberi pendidikan (to educated), memberi hiburan (to entertain) dan memengaruhi (to influence). Selain fungsi-fungsi tersebut Robert G. King dalam bukunya Fundamental of Communication mengemukakan fungsi-fungsi komunikasi, yaitu untuk membangun proses mental, untuk beradaptasi dengan lingkungan dan fungsi untuk memanipulasi lingkungan.  Fungsi komunikasi massa secara khusus Fungsi komunikasi massa secara khusus, mempunyai fungsi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Fungsi yang pertama adalah untuk meyakinkan. Fungsi ini dapat dibentuk melalui pengukuhan atau memperkuat sikap atau nilai seseorang, mengubah sikap, menggerakkan

seseorang untuk melakukan sesuatu serta memperkenalkan etika atau menawarkan sistem nilai tertentu. Fungsi komunikasi massa yang lain adalah fungsi menganugerahkan status, yaitu fungsi yang dapat menganugerahkan status publik terhadap orang-orang tertentu, sedangkan fungsi membius, merupakan fungsi yang sangat menarik karena khalayak seolah-olah tidak berdaya dalam menerima pesan-pesan yang disampaikan oleh media. Fungsi komunikasi massa sebagai alat untuk menciptakan rasa kebersamaan, yaitu kemampuan media massa membuat khalayak menjadi anggota suatu kelompok dan merupakan fungsi yang terakhir dari komunikasi massa, yaitu privatisasi, sebagai suatu kecenderungan bagi seseorang untuk menarik diri dari kelompok sosial dan mengucilkan diri ke dalam dunia sendiri.

7.3 Teori Efek, Jenis Efek, dan Faktor yang Memengaruhi Efek Komunikasi Massa a) Teori Efek Komunikasi Massa Melvin De Fleur  Teori Perbedaan Individu ( Individual Differences Theory)

Asumsi dari teori ini adalah : Pesan-pesan yang disampaikan media massa ditangkap individu sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan personal individu. Efek komunikasi pada individu akan beragam walaupun individu menerima pesan yang sama. Terdapat faktor psikologis dalam menerima pesan yang disampaikan media massa. Masingmasing individu mempunyai perhatian, minat, keinginan yang berbeda yang dipengaruhi faktor-faktor psikologis yang ada pada diri individu tersebut sehingga mempengaruhi dalam menerima pesan yang disampaikan media massa.  Teori Penggolongan Sosial (Social Category Theory)

Asumsi teori ini adalah : Individu yang masuk dalam kategori sosial (usia, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, dan lain-lain) tertentu atau sama akan cenderung memiliki prilaku atau sikap yang kurang lebih sama terhadap rangsangan-rangsangan tertentu. Pesan-pesan yang disampaikan media massa cenderung ditanggapi sama oleh individu yang termasuk dalam kelompok sosial tertentu. Adanya

penggolongan sosial merupakan alasan munculnya media massa yang bersifat khusus bagi kalangan tertentu  Teori Hubungan Sosial (Social Relationship Theory)

Asumsi teori ini adalah : Pada dasarnya pesan-pesan komunikasi massa lebih banyak diterima individu melalui hubungan personal dibanding langsung dari media massa. Informasi melalui media massa tersebar melalui hubungan-hubungan sosial di dalam masyarakat. Teori ini berhubungan dengan teori Two Step Flow Communication.  Teori Norma Budaya (Norm and Cultural Theory)

Asumsi teori ini adalah : i. Media massa melalui informasi yang disampaikannya dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkan kesan yang oleh khalayak disesuaikan dengan norma-norma dan nilai-nilai budayanya. Contohhnya acara pertunjukan Wayang Golek atau Wayang Kulit yang ditayangkan televisi. ii. Media massa telah menciptakan pola baru tetapi tidak bertentangan bahkan menyempurnakan budaya lama. Contoh : Acara Ludruk Glamor misalnya memberi nuansa baru terhadap budaya ludruk dengan tidak menghilangkan esensi budaya asalnya. iii. Media massa mengubah budaya lama dengan budaya baru yang berbeda dengan budaya lama. Contoh : Terdapat acara-acara tertentu yang bukan tak mungkin lambat laun akan menumbuhkan budaya baru.

b) Jenis Efek Terdapat beberapa efek dari komunikasi massa, diantaranya :  Efek kehadiran media massa terhadap khalayak Komunikasi merupakan suatu kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Akan tetapi, untuk mengetahui secara jelas tentang kekuatan sosial yang dimiliki oleh media massa dan hasil yang dicapainya dalam menggerakkan proses sosial tersebut tidaklah mudah. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian terhadap hasil

atau efek yang dicapai oleh pernyataan manusia yang telah dilakukan melalui berbagai media massa. Pengkajian hasil proses sosial tersebut dapat melalui metode yang bersifat analisis psikologi sosial. Sebagai akibat dari suatu proses komunikasi, efek atau akibat dapat menerpa seseorang baik secara disengaja maupun tanpa disengaja. Donald K. Robert beranggapan bahwa efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa media massa. Oleh karena itu, Steven H. Chaffee menyebutkan adanya lima jenis efek atas kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu : (1) Efek ekonomis Kehadiran media massa memberikan berbagai usaha produksi, distribusi, dan konsumsi jasa media massa. (2) Efek sosial Berkatian dengan perubahan pada struktur atau interaksi social sebagai akibar dari kehadiran media massa (3) Efek pada penjadwalan kegiatan Kehadiran media massa membuat aktivitas sehari-hari berpangaruh terhadap adanya media. Di pagi hari, biasanya masyarakat kota membaca Koran dahulu, Di malam hari, dimana anak-anak seharusnya tidur, tapi malah menonton tv. (4) Efek penyaluran/penghilangan perasaan tertentu Orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman, perasaan kesepian, marah, kesel, kecewa dan sebagainya. (5) Efek dan perasaan orang terhadap media Terkadang seseorang akan mempunyai perasaan positif atau negatif terhadap media tertentu. Misalnya orang akan mempunyai perasaan positif terhadap Koran Kompas dari pada Koran Pos Kota. Tumbuhnya perasaan senang atau percaya pada suatu media massa tertentu erat kaitannya dengna pengalaman individu bersama media massa tersebut.  Efek pesan media massa terhadap khalayak Studi tentang komunikasi massa pada umumnya membahas tentang efek. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para praktisi dan teoretisi telah

menghasilkan penemuan tentang media yang paling efektif untuk memengaruhi khalayak. Oleh karena itu, efek pesan media massa terhadap khalayak dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu : (1) Efek kognitif Efek kognitif adalah perubahan yang terjadi pada khalayak dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan kata lain, ada kibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini, dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Contohnya saja dengan berlangganan Koran Pos Kota, kita akan menduga bahwa dunia ini dipenuhi denga tindakan perkosaan, penganiyaan dan kriminal. Dengan melihat acara kriminal di televisi, kita cenderung mengatakan bahwa di sekitar kita sudah tidak aman lagi. Dengan demikian jelaslah bahwa melalui surat kabar maupun televisi dapat menonjolkan situasi atau orang tertentu di atas situasi atau orang yang lain. Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan social yang timpang, bias dan tidak cermat. Media massa melaporkan dunia nyata secara selektif maka sudah tentu media massa akan mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial yang timpang, bias dan tidak cermat. Efek Prososial Kognitif adalah bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Bila televise menyebabkan kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik da benar, maka televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Film Sesame Street yang dirancang para pendidik, psikolog dan ahli media massa. Setelah melalui berbagai penelitian, terbukti film ini telah berhasil mempermudah proses belajar. (2) Efek afektif Efek afektif, yaitu suatu perubahan yang terjadi yang meliputi perasaan senang, iba, sedih, gembira dan seterusnya. Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak

diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Kegembiraan juga tidak dapat diukur dengan tertawa keras ketika menyaksikan adegan lucu. (3) Efek behavioral Efek behavioral adalah perubahan perilaku pada khalayak yang berupa tindakan atau gerakan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya terdapat adegan kekerasan di TV membuat orang menjadi beringas. Siaran memasak di tv membuat ibu-ibu lebih gemar memasak dan kreatif. Namun ada juga laporan bahwa, televise gagal mendorong pemirsanya untuk menabung di Bank. Film tidak sanggup memotivasi remaja perkotaan untuk menghindari pemakaian obat-obat terlarang. Belajar dari media massa tidak bergantung hanya pada unsur stimulus yang ada pada media massa saja. Menurut teori belajar sosial, orang cenderung meniru perilaku yang diamati. Stimulus menjadi teladan untuk perilakunya. Penyajian kekerasan dalam media massa menyebabkan orang melakukan kekerasan pula. Jadi sejauh ini, tampaknya teori belajar sosial dapat diandalkan untuk menjelaskan efek behavioral media massa. c) Faktor yang Memengaruhi Efek Komunikasi Massa Komunikasi massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media membentuk opini publik untuk membawakannya pada perubahan yang signifikan. Contohnya saja kampanye nasional larangan merokok di tempat-tempat umum memiliki kekuatan pada pertengahan tahun 1990-an dengan membanjirnya berita-berita tentang bahaya merokok bagi perokok pasif. Disini secara instan media massa dapat membentuk kristalisasi opini publik untuk melakukan tindakan tertentu. Kadang-kadang kekuatan media massa hanya sampai pada ranah tertentu. Dominick menyebutkan tentang dampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap orang-orang. Media massa, terutama televisi yang menjadi agen sosialiasasi (penyebaran nilai-nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap, persepsi dan kepercayaan. Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya efek afektif dari komunikasi massa.

Suasana emosional Respons kita terhadap sebuah film, iklan, ataupun sebuah informasi, akan dipengaruhi oleh suasana emosional kita. Film sedih akan sangat mengharukan apabila kita menontonnya dalam keadaan sedang mengalami kekecewaan. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa terbahakbahak bila kita menontonnya setelah mendapat keuntungan yang tidak disangka-sangka.

Skema kognitif Skema kognitif merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur eristiwa. Kita tahu bahwa dalam sebuah film action, yang mempunyai lakon atau aktor/aktris yang sering muncul, pada akahirnya akan menang. Oleh karena itu kita tidak terlalu cemas ketika sang pahlawan jatuh dari jurang. Kita menduga, asti akan tertolong juga.

Situasi terpaan (setting of exposure) Kita akan sangat ketakutan menonton film horror bila kita menontontonnya sendirian di rumah tua, ketika hujan lebat, dan tiang-tiang rumah berderik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih ketakutan menonton televisi dalam keadaan sendirian atau di tempat gelap. Begitu pula reaksi orang lain pada saat menonton akan mempengaruhi emosi kita pada waktu memberikan respons.

Faktor predisposisi individual Faktor ini menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa. Dengan identifikasi penonton, pembaca, atau pendengar, menempatkan dirinya dalam posisi tokoh. Ia merasakan apa yang dirasakan toko. Karena itu, ketika tokoh identifikasi (disebut identifikan) itu kalah, ia juga kecewa; ketika ientifikan berhasil, ia gembira.

7.4 Etika Komunikasi Massa dan Pentingnya Etika Komunikasi Massa Beberapa hal yang berkaitan dengan etika komunikasi massa menurut

Shoemaker dan Reese: (Nurudin, 2004:239) 1. Tanggung jawab Jurnalis atau orang yang terlibat dalam proses komunikasi massa harus mempunyai tanggung jawab dalam pemberitaan atau apa yang disiarkan. Jadi apa yang diberitakan oleh media massa harus bisa

dipertanggungjawabkan. 2. Kebebasan pers Tanggung jawab bukan berarti bahwa mdiea tidak boleh mempunyai kebebasan.. Kebebasan pers ini juga mutlak harus dipunyai media massa. Sebab, hanya dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa tersampaikan ke masyarakat. 3. Masalah etis Masalah etis di sini artinya adalah bahwa jurnalis itu harus bebas dari kepentingan. Ia mengabdi pada kepentingan umum. Meskipun mengabdi pada kepentingan umum itu juga berarti kepentingan juga. Masalahnya, pers / media massa tidak akan bisa lepas dari kepentingan, yang bisa dilakukan adalah menekannya. 4. Ketepatan dan objektivitas Orientasi berita yang berdasarkan kebenaran harus menjadi pegangan pokok bagi setiap insan yang bergerak di media massa. Memberitakan kebohongan berarti mengingkari etika dalam komunikasi massa. Objetivitas juga harus menjadi dasar dalam membuat berita. 5. Tindakan adil untuk semua orang Media massa harus melawan campur tangan individu dalam medianya. Artinya, pihak media harus berani melawan keistimewan yang diinginkan seorang individu dalam medianya.

 Manfaat Penting Etika 1. Untuk memenuhi keingintahuan manusia. Manusia ingin mengetahui dan mendapatkan pengetahuan yang sistematik, teratur, mengenai gejala-gejala yang bersangkutan dengan dirinya. Dengan adanya etika ini manusia menjadi mengerti tentang masalah kesusilaan. 2. Sebagai pedoman perilaku baik atau buruk Bahwa manusia secara terus menerus melakukan perbuatan ukuran-ukuran kesusilaan. Ia memberikan tanggapan atas perilakunya sebagai perilaku yang baik atau buruk. Ada beberapa alasan mengapa kita perlu mempelajari etika: (Nurudin, 2004;234) 1. Saat ini, kita hidup dlam masyarakat yang terus berkembang. Perkembangan ini akan membuat masyarakat semakin plural. Misalnya, suku, agama, antar golongan, tuntutan hidup, kejahatan yang kian meningkat dan sebagainya. Pluralitas ini akan berdampak pada kepentingan individu yang makin tajam. Hidup dalam masyarakat yang sedemikian plural itu sangat membutuhkan etika sebagai pegangan hidup bermasyarakat. Tanpa etika manusia akan menjadi pemangsa bagi sesamanya. Etika akan mengajarkan atau

mengarahkan perbuatan mana yang baik dan buruk atau perbuatan mana yang boleh dan tidak menurut masyarakat umum. 2. Dalam masyarakat modern yang mempunyai kecenderungan hidup

individualisme disertai kompetisi hidup yang semakin ketat menuntut tiap-tiap orang bertahan. Dalam posisi demikian, etika penting agar di masyarakat bisa tercipta harmoni dan manusi tahu tugas, hak dan kewajibannya masingmasing. Etika akan menjadi borometer tingkah laku individu dalam masyarakat.  Fungsi Etika Merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kristis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan (moralitas adalah kualitas perbuatan manusia sehingga perbuatan itu disebut benar atau salah, baik atau jahat). Untuk menimbulkan suatu ketrampilan intelektual, yaitu ketrampilan untuk beragumentasi secara rasional dan kritis.

BAB VII MODEL KOMUNIKASI
8.1 Model Komunikasi Searah (Linear) Model satu arah adalah model dasar komunikasi yang memiliki ciri sebuah proses yang hanya terdiri dari satu garis lurus. Proses komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Model ini didasari paradigma stimulus-respons. Menurut paradigma ini, komunikan akan memberikan respons sesuai stimulus yang diterimanya. Komunikan adalah penerima komunikasi, menerima apapun yang disampaikan komunikator kepadanya. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pasif menerima pesan, pesan berlangsung searah dan relatif tanpa umpan balik, karena itu disebut satu arah. 1. Model Aristoteles Model ini mengajukan 3 unsur komunukasi utama yang disebut pembicara, pesan, dan pendengar. Model ini lebih berorientasi pada pidato. Terutama pidato untuk mempengaruhi orang lain. Selain itu terdapat unsur lain yang disebut setting yaitu suasana lingkungan yang perlu diciptakan agar komunikasi berlangsug efektif. Menurut Aristoteles, untuk berhasil dalam komunikasi publik, maka terdapat 3 unsur utama yang harus diperhatikan, yaitu ethos (kredibilitas komunikator), logos (rutun logika argumentasi pesan yang anda sampaikan), pathos (kemampuan memainkan emosi).

2. Model Laswell Menurut Laswell unsur-unsur dasar, walau dengan penjabaran dan interpretasi yang tidak persis sama yaitu komunikator (who), pesan (says what), saluran komunikasi ( in which channel), komunikan ( to whom), dan efek komunikasi (with what effect).

3. Model Braddock

Dalam hal ini Braddock menambahkan dua hal yang ada hubungannya dengan tindak komunikasi yaitu: (1) situasi ini dimana sebuah pesan dikirimkan, (2) Apa tujuan komunikator menyatakan sesuatu. Dennis McQuail dan Braddock memberikan komentar mengenai formula Lasswell sebagai berikut: Formula Lasswell beranggapan, bahwa komunikator mempunyai

keinginan mempengaruhi kemunikan Braddock menekankan, bahwa Formula Lasswell dapat mengeliurkan peneliti komunikasi. Formuola Lasswell dikritik karena meniadakan unsur feedback

Namun demikian, sampai kini diakui bahwa Formula Lasswell adalah cara yang mudah untuk memperkenalkan situasi proses komunikasi.

4. Model Shannon-Weaver

Model ini dibuat oleh ahli matematik Claude Shannon diakhir 1949, disebut juga model matematis atau model teori informasi. Ciri dari model ini ialah menggambarkan satu proses komunikasi yang satu arah. Elemen dasar model ini antara lain : sumber informasi, alat pemancar, sumber noise, alat dan tujuan. Satu dari insur-unsur itu, yaitu sumber noise,mengganggu proses komunikasi. Akibatnya pesan yang disampaikan sumber informasi diterima oleh tujuan tidak sebagaimana adanya. Akibatnya komunikasi gagal, karena message yang diterima tidak identik dengan pesan yang dikirim. Model Shannon dan weaver disebut juga model matematika karena proses komunikasi seperti garis lurus atau linier. Ia pulalah orang pertama yang menemukan sumber noise (gangguan) dalam proses komunikasi.

8.2 Model Komunikasi Dialogis Model dialogis atau dua arah adalah model dasar komunikasi yang ditandai adanya unsur feedback. Hal ini berarti proses komunikasi tidak berawal dari satu titik dan berakhir pada titik yang lain. Pada dasarnya proses komunikasi itu berbalik satu lingkaran penuh. Model ini umumnya berangkat dari paradigma antarpribadi, di mana kedudukan komunikator dan komunikan relatif setara. Munculnya paradigma baru ini merupakan pemisahan dari paradigma yang lama tentang komunikasi yang linear. Model sirkuler dikritik karena adanya kesamaan tingkat antara komunikator dan komunikan.

1. Model De Fleur

Model ini merupakan pengembangan ari model Shannon & weaver. De fleur mempersoalkan arti dari isi pernyataan yang disampaikan dan arti dari isi pernyataan yang diterima. Noise dapat mempengaruhi semua unsur komunikasi. Bukan seperti Shannon & Weaver noise hanya terjadi antara unsur pengirim dan unsur penerima. De Fleur menemukan adanya umpan balik. Dengan umpan balik ini, akan lebih mudah tercapai persamaan arti antara arti pesan yang disampaikan dan arti pesan yang diterima. Harus diingat, dalam komunikasi massa, komunikator hanya memperoleh umpan balik yang terbatas atau tidak langsung dari khalayaknya.

2. Model Schramm

Schramm membuat serangkaian model, dimulai dari (a) yang sederhana satu arah mirip Shanonn-Weaver, (b) satu model antarpribadi yang juga masih

linear, (c) dilanjuntkan dengan pengembangannya yang sirkuler. Selain itu, Schramm juga menurunkan (d) model komunikasi massa. Schramm menggunakan unsur source dan destination tapi tidak memunculkan transmitter dan receiver, yang ada adalah alat penyandi dan alat penyandi balik. Menurut model ini, source boleh menjadi seorang individu atau organisasi, sinyalnya adalah bahasa dan destination-nya adalah pihak lain kepada siapa sinyal itu ditujukan. Dalam komunikasi lewat radio, encoder dapat berupa microphone dan decoder adalah earphone. Dalam komunikasi antarmanusia source dan encoder adalah satu orang sementara decoder dan destination pada sisi yang lainnya. 3. Model Newcomb Dance‟Helical Model (Model Helical Dance)

Model komunkasi helical ini dapat dikaji sebagai pengembangan dari model sirkular dari Osggod dan Schramm. Ketika membandingkan model komunikasi satu dan dua arah, Dance mengatakan bahwa dewasa ini kebanyakan orang menganggap bahwa pendekatan dialogis adalah paling tepat dalam menjelaskan proses komunikasi. Heliks, yakni suatu bentuk melingkar yang semakin membesar menunjukkan perhatian kepada suatu fakta bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang dikomunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang datang menyusul. Dance menggarisbawahi sifat dinamik dari komunikasi. Denis McQuaildan Sven Windahi berpendapat Model Dance bukan alat untuk analisis yang terperinci. Nilainya mengingatkan kita bahwa komunikasi

bersifat dinamis. Manusia kalau berkomunikasi sifatnya aktif kreatif dan mampu mengumpulkan informasi sementara model-model lain menganggap individuindividu sebagai makhluk yang bersifat pasif.

4. Model ABX = Newcomb

Dalam model Newcomb ada dua individu (A) dan (B) berorientasi terhadap satu sama lain dan terhadap objek, manusia atau benda (X). Model ini merupakan pengembangan dari hasil pemikiran psikolog Heider. Menurut Teori Heider ada dua orang (A) dan (B) yang saling menyukai, disamping itu ada orang ketiga atau benda lain (X), maka hubungan A dan B disebut Balanced atau seimbang. Sebaliknya jika A suka pada B dan B suka pada A, namun A suka pada X tetapi B tidak suka pada X maka hubungan mereka unbalanced atau tidak seimbang. Bila hubungan seimbang maka tiap pihak akan menentang perubahan. Jika hubungan tidak seimbang maka akan timbul usaha-usaha untuk memulihkan keseimbangan tersebut. Newcomb mengemukakan anggapan komunikasi menyelenggarakan fungsi pokok yang memungkinkan dua orang atau lebih memelihara perhatian terus – menerus terhadap satu sama lain dan terhadap objek-objek lingkungan luar mereka.

8.3 Model Komunikasi Konvergen (Partisipatif) Wilbur Schram berpendapat bahwa meskipun dalam komunikasi lewat radio atau telepon enkoder dapat berupa mikrofon dan dekoder adalah earphone, dalam komunikasi manusia, sumber dan enkoder adalah satu orang, sedangkan dekoder dan sasaran adalah seorang lainnya dan sinyalnya adalah bahasa. Untuk menuntaskan suatu pesan harus disandi-balik. (Mulyana D. “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar” Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005, hlm 140, 141).

Gambar : Model Komunikasi Konvergen Bagian dari model ini adalah sebagai berikut:

Sender: Pengirim adalah apa atau siapa yang mencoba untuk mengirim pesan ke penerima.

Encoder: Dalam kasus umum, adalah tidak mungkin untuk langsung memasukkan pesan ke media komunikasi. Misalnya, ketika Anda berbicara di telepon, tidak mungkin untuk benar-benar mengirimkan suara (getaran dalam hal) di kawat untuk jarak apapun. Dalam telepon Anda adalah mikrofon, yang mengubah suara menjadi impuls listrik, yang dapat ditularkan melalui kabel. Mereka impuls listrik tersebut kemudian dimanipulasi oleh elektronik di telepon sehingga mereka cocok dengan apa yang sistem telepon mengharapkan.

Message: Karena ini adalah komunikasi's insinyur model, pesan tersebut adalah pesan dikodekan aktual yang ditransmisikan oleh medium.

Media: Media adalah apa pesan ditransmisikan pada kabel. Telepon sistem, Internet, dan elektronik lainnya banyak sistem digunakan. Televisi dan radio dapat menggunakan radiasi elektromagnetik

Decoder: dekoder ini mengambil pesan yang disandikan dan mengkonversi ke bentuk penerima mengerti, karena misalnya pengguna manusia dari sistem telepon tidak mengerti impuls listrik langsung.

Penerima: Penerima adalah target pesan. Setiap orang yang melakukan kegiatan komunikasi menurut model di atas

adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder yang dimana menyandi-balik tanda atau gejala kemudian menafsirkan. Dalam model di atas, umpan balik (feed back) merupakan hal yang sangat penting karena berfungsi memberi tahu tentang apa yang diterima kemudian : Halo… : Halo…Tominya ada om… : Siapa ini? : Echi om?! : Edi? : Echi…! : Oh, Eghi? : Echi! C… C… C… Charlie! : Ooo… Charlie, lho kok suaranya kayak disampaikan kembali. Contoh:

PERCAKAPAN DI TELEPON Bapaknya Tomi Echi Bapaknya Tomi Echi Bapaknya Tomi Echi Bapaknya Tomi Echi Bapaknya Tomi perempuan………. Echi : Argh…… Contoh diatas merupakan contoh model komunikasi yang bersifat konvergen. Hal ini dibuktikan dengan adanya interaksi kedua pihak yang berbalas-balasan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk berbagi informasi. Berbalas-balasan di sini adalah proses pemberian pesan yang diumpan balik, sehingga menimbulkan skema seperti model yang diutarakan Schram. Jika dilihat lebih detail percakapan bapaknya Tomi dengan Echi merupakan suatu interaksi timbal balik antara pengumpan pesan dengan penerima pesan dimana penerima pesan memproses kemudian dikembalikan, begitu seterusnya. Namun dalam konteks alur komunikasi, percakapan tadi dikatakan konvergen dan benar, namun bila dilihat dari sudut perilaku komunikasi maka terjadi diskomunikasi yang menyebabkan kesalahan persepsi antar individu antara sender dan receiver.

8.4 Inventarisasi dan Analisis Definisi Model Komunikasi Searah/MMK Menurut Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi adalah deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Sebagian ahli memaknai model sebagai penyederhanaan teori yang disajikan dalam bentuk gambar. Karena itu, hakikatnnya model adalah alat bantu. Sebagai alat bantu, model mempermudah penjelasan fenomena komunikasi dengan mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri yang dianggap penting dan menghilangkan rincian yang tidak perlu. Model komunikasi searah didasari pada paradigma stimulus-respons. Menurut paradigma ini, komunikan akan memberikan respons sesuai stimulus yang diterimanya. Komunikan adalah makhmuk pasif, menerima apapun yang disampaikan komunikator kepadanya. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pasif menerima pesan, pesan berlangsung searah dan relative tanpa umpan balik, karena itu disebut linear. Komunikasi searah dapat diinventarisasi salah satunya pada masa kepemerintahan Soeharto, , yaitu komunikasi dari atas ke bawah (top-down). Pada masa kepemerintahan ini, presiden memberikan petunjuk dan pengarahan, langsung disetujui oleh DPR yang selalu didominasi oleh Golkar dan para menteri serta gubernur. Kemudian Gubernur memberi petunjuk dan pengarahan kepada DPRD tingkat I dan para Bupati, dan Bupati ke DPRD tingkat II dan para camat, dan begitu seterusnya sampai pada tingkat desa. Untuk mengelola negara sebesar Indonesia, dengan jumlah penduduk yang meningkat terus dari hampir 200 juta, sampai sekarang sudah mencapai 220 juta, dan heterogenitas penduduk yang sangat luar biasa, sistem komunikasi politik searah ini sudah terbukti sangat efektif selama 32 tahun. Tetapi sistem komunikasi ini terbukti tidak bisa bertahan selamanya. Bersamaan dengan Krisis Moneter yang berkembang juga menjadi Krisis Politik, rezim Soeharto pun tumbang, dan pola komunikasi langsung berubah arah dari bawah ke atas (bottom-up).

8.5 Macam-macam MMK Model komunikasi searah ini terbagi lagi menjadi empat model, yaitu : 1) Model Aristoteles Model ini merupakan model yang paling klasik dalam ilmu komunikasi. Bisa juga disebut sebagai model retorikal. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal yang petama. Komunikasi terjadi saat pembicara menyampaikan pesannya kepada khalayak dengan tujuan mengubah perilaku mereka. Menurut Aristoteles, pengaruh dapat dicapai oleh seseorang yang dipecaya oleh publik, alasan, dan juga dengan memainkan emosi publik. Tapi model ini juga memiliki banyak kelemahan. Kelamahan yang pertama adalah, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Kelemahan yang kedua adalah model ini tidak memperhitungkan komunikasi non verbal dalam mempengaruhi orang lain. Meskipun model ini mempunyai banyak kelemahan, tapi model ini akan menjadi inspirasi bagi para ilmuwan komunikasi untuk mengembangkan model komunikasi modern. Model ini mengajukan 3 unsur komunukasi utama yang disebut pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener). Model ini lebih berorientasi pada pidato. Terutama pidato untuk mempengaruhi orang lain. Selain itu terdapat unsur lain yang disebut setting yaitu suasana lingkungan yang perlu diciptakan agar komunikasi berlangsug efektif. Menurut Aristoteles, untuk berhasil dalam komunikasi publik, maka terdapat 3 unsur utama yang harus diperhatikan, yaitu ethos (kredibilitas komunikator), logos (rutun logika argumentasi pesan yang anda sampaikan), pathos (kemampuan memainkan emosi). 2) Model Laswell Diluncurkan pada 1948, model yang merupakan formula sederhana ini umumnya digunakan untuk mengkaji masalah komunikasi massa. Laswell sendiri menggunakan formulanya untuk menunjukkan jenis riset dalam bidang komunikasi politik dan propaganda. Karena menganggap model ini terlalu sederhana, banyak yang mengembangkan formula Laswell. Menurut Laswell terdapat unsur-unsur dasar walaupun dengan penjabaran dan interpretasinya yang tidak persis sama, yaitu komunikator (who), pesan (says what), saluran

komunikasi ( in which channel), komunikan ( to whom), dan efek komunikasi (with what effect). 3) Model Braddock Dalam hal ini Braddock menambahkan dua hal yang ada hubungannya dengan tindak komunikasi yaitu: situasi ini dimana sebuah pesan dikirimkan dan apa tujuan komunikator menyatakan sesuatu. Dennis McQuail dan Braddock memberikan komentar mengenai formula Lasswell sebagai berikut: 1. Formula Lasswell beranggapan, bahwa komunikator mempunyai

keinginan mempengaruhi kemunikan. 2. Braddock menekankan, bahwa Formula Lasswell dapat mengeliurkan peneliti komunikasi. 3. Formuola Lasswell dikritik karena meniadakan unsur feedback. Namun demikian, sempai kini diakui bahwa Formula Lasswell adalah cara yang mudah untuk memperkenalkan situasi proses komunikasi. 4) Model Shannon-Weaver Model ini dibuat oleh ahli matematik Claude Shannon diakhir 1949, disebut juga model matematis atau model teori informasi. Model ini mengambarkan komunikasi sebagai suatu proses linear satu arah. Elemen pertama adalah sumber informasi (information source), menghasilkan pesan (message) yang oleh pemancar (transmitter) diubah menjadi signal. Ketidakmampuan komunikator untuk menyadari bahwa pesan yang dikirim tidak selalu identik dengan pesan yang diterima merupakan salah satu alasan mengapa komunikasi gagal.

8.6 Kelemahan dan Kelebihan MMK/ Komunikasi Searah a. Kelemahan  Komunikator bertindak sebagai subjek, sedangkan komunikan bertindak sebagai objek sehingga komunikan cenderung untuk lebih bersikap pasif dan diam. Mereka mengidentifikasikan diri dengan segenap aspirasi dan nilai yang dianut komunikator, serta menerima bulat-bulat apa yang

disampaikan komunikator tanpa ada kemauan dan keberanian untuk bertanya dan memprotes.   Relatif tanpa umpan balik. Terkadang tidak melalui proses komunikasi tatap muka, sehingga tidak ada proses tanya jawab atau diskusi mengenai seluk beluk informasi atau instruksi.   Komunikan hanya akan berperilaku atas apa yang mereka dengar atau apa yang mereka baca. Cenderung bersifat otoritas

b. Kelebihan    Penguasaan informasi yang berdasar pada fakta akan menciptakan keberhasilan proses komunikasi. Dapat cepat mengubah sikap, perilaku, serta pandangan komunikan. Melalui komunikasi searah dapat memimpin, memotivasi, serta

menciptakan suatu iklim yang memungkinkan komunikan memberikan sumbangsih secara produktif.

8.7 Aplikasi MMK dalam Agribisnis Pada model-model komunikasi satu arah, proses komunikasi yang terjadi hanya pendidik saja yang aktif, sedangkan sasarannya / warga belajar tidak. Contoh dari metoda komunikasi satu arah diantaranya : 1) Ceramah, yaitu teknik penyajian materi pendidikan secara lisan, disampaikan oleh seorang komunikator (penceramah) kepada sekelompok sasaran / warga belajar. 2) Siaran melalui media massa, seperti radio, televisi, pemutaran slide, film, penyebaran sebagainya. Bidang agribisnis merupakan salah satu bidang yang memerlukan adanya aplikasi dari komunikasi massa, salah satunya komunikasi satu arah. Adanya komunikasi satu arah bertujuan hanya untuk memberikan informasi kepada penerima informasi (pendengar). Contoh aplikasi model komunikasi satu arah pamflet, booklet, pemasangan spanduk, baligo dan

pada bidang agribisnis yaitu penyuluhan yang dilaksanakan pada masa Orde Lama, yaitu saat digalakannya revolusi hijau. Pada masa ini, penyuluh memberikan informasi kepada para petani mengenai cara-cara peningkatan produksi khususnya tanaman padi. Penyuluhan pada masa ini menggunakan model komunikasi satu arah, dimana penyuluh memberikan pengajaran kepada para petani yang berperan sebagai penerima pesan, yang mana pesan tersebut harus dilaksanakan tanpa adanya kesempatan bagi petani untuk berpendapat. Informasi yang disampaikan oleh penyuluh akan menimbulkan efek bagi para petani, yaitu mereka akan menuruti apa yag telah diinformasikan oleh penyuluh. Penyuluhan dengan pendekatan model satu arah tidak tepat, karena seharusnya dalam penyuluhan diadakan komunikasi dua arah sehingga timbul feed back. Dengan adanya informasi yang disampaikan para petani, penyuluh dapat lebih mudah dalam merumuskan masalah sehingga dapat menemukan solusi yang tepat sesuai dengan potensi-potensi yang ada. Feed back yang muncul dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh para petani dalam mengembangkan usahanya. Contoh lain aplikasi model komunikasi satu arah adalah adanya informasi yang disebarkan melalui media massa, misalnya televisi, koran, dan radio. Informasi yang disampaikan biasanya berupa iklan, baik iklan komersial maupun iklan yang berisikan penyuluhan atau himbauan yang bertujuan mempengaruhi penerima informasi.

8.7 Contoh Kasus Aplikasi MMK dalam Agribisnis

Pupuk di Serang Masih Langka Meski distribusi pupuk bersubsidi sudah dialihkan dari PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) kepada PT Pupuk Kujang, namun para petani masih kesulitan mendapatkannya. Petani harus memesan jauh-jauh hari untuk mendapatkan pupuk jenis urea di pengecer. Bahkan, bila pengecer tidak mengenal pembeli pupuk, si pembeli wajib meninggalkan kartu tanda penduduk (KTP).Petani asal Kaligandu, Serang yang tidak tergabung dalam kelompok tani, Encep Effendi menjelaskan, persediaan pupuk urea bersubsidi di tingkat pengecer masih sangat terbatas. Hal itu terbukti dari banyaknya petani yang masih susah untuk mendapatkan pupuk

urea. “Lihat sawah saya, kebanyakan ujung daunnya menguning keemasan, ini akibat kurang diberi pupuk urea. Seharusnya semua daun padi berwarna hijau pada saat ini,” ungkapnya.Saat membeli pupuk, kata Encep, jika petani tidak dikenal oleh pedagang pupuk di pengecer, maka selain harus memesan pupuk urea terlebih dahulu, ia juga harus menitipkan KTP. “Itupun jika pupuk Urea yang telah dipesan telah datang, pupuk UREA tersebut tidak diberikan sepenuhnya, melainkan hanya setengahnya saja,” ungkapnya. Karena persediaan Pupuk UREA yang terbatas, tak jarang ia sering mengoplos pupuk urea dengan garam, agar cukup untuk ditaburkan di areal sawahnya. “Ini semata saya lakukan agar sawah saya bisa sepenuhnya diberikan urea, meski harus dioplos dengan garam, dan hasilnya seperti yang anda lihat, semua ujung daun padi kering berwarna kuning keemasaan karena kurang urea,” ungkapnya.Ia juga mengeluhkan, setelah peneyerbukan yang memakan waktu waktu 20 hari, Pupuk urea seharusnya telah tersedia, agar padi bisa dipanen. Namun, karena di toko pupuk pun belum ada persediaan, akhirnya ia hanya bisa menunggu hingga pupuk yang dipesannya tiba.“Pada tahun 2007 saya membeli pupuk UREA per 50 kilogram seharga Rp 65.000 tanpa ada kelangkaan. Dan sekarang pupuk UREA naik sebsar Rp 85.000, itu pun jika ada,” tambahnya. Seorang pelayan di Toko Pupuk Patah Jaya, di Pasar Rau Serang mengatakan, pengalihan distribusi pupuk dari PT. Pusri kepada PT. Kujang, tidak banyak membawa perubahan dalam mengatasi kelangkaan pupuk yang semakin sering terjadi. Tokonya juga mengalami kesulitan untuk menjual pupuk bersubsidi karena memang belum mendapatkan pasokan.“Kami masih kesulitan untuk menjual pupuk bersubsidi karena belum mendapatkan kiriman,” keluh pelayan toko yang tidak ingin menyebutkan namanya itu.Pelayan itu menambahkan, karena di tokonya tidak terdapat pupuk urea, para petani yang terpaksa membeli pupuk jenis lain, seperti NPK. “Seringkali saya lihat, petani mengelilingi wilayah Serang selama berhari-hari, hanya untuk mencari pupuk urea,” katanya.Di tempat terpisah, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Serang, Abdul Muhyi membenarkan tentang masih terjadinya kelangkaan pupuk di wilayahnya. Ia mencontohkan, untuk wilayah Bojonegara yang membutuhkan 186 ton pupuk bersubsidi, saat ini baru dipasok sembilan ton dari jatah 200 ton..Ia juga

menambahkan, sebenarnya para petani membutuhkan pupuk urea dengan skala besar hanya sekali dalam setahun. Kebutuhan tersebut wajib disediakan oleh pemerintah dan pengusaha. “PT. Kujang begitu membawa pupuk wajib mengawal sampai gedung distributor, bagi para distributor wajib memiliki gudang yang jelas,” urainya.Ia juga memaparkan, pada tahun 2009 ini, alokasi pupuk untuk Kabupaten Serang sebesar 15.898 ton. Sedangkan pada tahun kemarin sebsar 18.000 ton karena digabung dengan Kota Serang. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa komunikasi searah adaalah komunikasi yang tanpa adaanya proses timbal balik atau Tanya jawab dan biasanya komunikasi searah terdapat pada media-media massa. Kasus atau contoh aplikasi komunikasi searah diatas dikutip dari Koran Banten.

BAB VIII HYPERMEDIA
9.1 Definisi Hypermedia “Hypermedia, a term derived from hypertext, extends the notion of the hypertext link to include links among any set of multimedia objects, including sound, motion video, and virtual reality. It can also connote a higher level of user/network interactivity than the interactivity already implicit in hypertext” Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa hypermedia merupakan bentuk dari media komunikasi yang dalam penyampaiannya bukan hanya berupa teks, namun juga disertai suara, video gerak, juga realitas firtual. Contoh klasik hypermedia adalah world wide web (www), email, dan milis yang dapat ditemui ketika mengakses internet.

9.2 Analisis Penelitian    Judul : Perilaku Penggunaan Internet pada Kalangan Remaja di Perkotaan Oleh Sumber : Astutik Nur Qomariyah : http://palimpsest.fisip.unair.ac.id/images/pdf

(Makalah penelitian terlampir)

9.2.1 Analisis Teori Komunikasi Dari artikel penelitian tersebut dapat dijelaskan bahwa terdapat kaitan antara teori behavioral dan kognitif dengan perilaku menggunakan internet. Kegiatan remaja dalam menggunakan internet dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan sosial yang akan berpengaruh terhadap perilaku dan sikap para remaja. Usia remaja memang sangat mudah tertarik dengan hal yang baru dan keingintahuan mereka cukup besar sehingga mendorong mereka untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya melalui internet, namun ketidakstabilan emosi remaja sering membuat mereka tidak bisa memilah antara hal yang positif dan hal yang negatif sehingga informasi

dicerna begitu saja tanpa disaring terlebih dahulu. Mereka cenderung mencari informasi dengan teman sebaya mereka tanpa diiringi pengawasan dari orangtua, sehingga teman-teman merupakan sumber informasi mengenai cara mereka berpakaian juga cara mereka berkomunikasi. Dari situ akan timbul kebiasaan remaja dan mulai terbentuk kepribadian yang cenderung abstrak. Internet juga ikut berperan dalam perubahan cara belajar yang pada awalnya hanya bersumber pada buku, sekarang sumber ilmu juga mudah didapat melalui internet sehingga para siswa tidak perlu repot mencari informasi yang mereka butuhkan. Dalam penelitian tersebut juga

membuktikan bahwa remaja di perkotaan cenderung menghabiskan waktu yang lebih lama untuk mengakses internet disbanding remaja diluar perkotaan. Hal ini juga dapat memicu perbedaan pola pikir remaja di perkotaan dan di pedesaan. Perilaku berinternet juga berkaitan dengan teori konvensional dan interksional, dimana saat siswa melakukan chatting di dunia maya, akan ada timbal balik dari lawan bicara mereka dan disitulah timbul interaksi antar keduanya meskipun tidak secara langsung. Pada zaman yang serba modern ini, banyak remaja yang sudah mengerti dan paham betul akan penggunaan internet, sehingga bukan saja untuk mencari informasi mengenai pendidikan saja, namun juga terjun ke dunia bisnis melalui bisnis online sehingga tidak perlu repot untuk menawarkan barang ke lokasi yang jauh dan cakupannya pun bisa lebih menyeluruh.

9.2.2 Analisis Metode Komunikasi Dalam artikel penelitian tersebut juga dipaparkan bahwa perilaku penggunaan internet pada generasi muda berkaitan dengan metode Uses and Gratification yang dikemukakan oleh Katz, Gurevitch, dan Hazz. Studi model Uses and Gratification memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) isi media untuk mendapatkan pemenuhan (gratification) atas kebutuhan seseorang. Dalam hal ini, sebagian besar perilaku khalayak akan dijelaskan melalui berbagai kebutuhan (needs) dan kepentingan (interest). Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa hal ini memiliki kecenderungan pada

fenomena proses penerimaan pesan (pesan dari media). Oleh karena itu, model ini tidak mencakup atau mewakili keseluruhan dari proses komunikasi, karena tidak dipaparkan jelas mengenai proses penyampaian pesan. Kaitan penggunaan internet dengan metode ini yaitu menjelaskan bahwa internet dikonsumsi oleh kalangan muda untuk berbagai penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini, kalangan muda sebagai komunikan merupakan penentu pemilihan pesan dan media. Komunikan dilihat sebagai individu yang tahu akan kebutuhannya dan tahu bagaimana cara memenuhinya, berperan aktif dan memiliki tujuan dari penggunaan media, serta mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan. Media yang cenderung dipilih oleh generasi muda saat ini adalah media internet, karena saat ini internet dianggap dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan informasi khalayak. Adapun beberapa elemen dari model Uses and Gratification yang dikemukakan oleh Karl Erik Rosengren dikaitkan dengan tahapan perilaku penggunaan internet yang terdapat dalam kasus, yaitu : 1. Kebutuhan dasar menentu Tujuan yang mendominasi dari penggunaan internet oleh kalangan remaja perkotaan di Surabaya adalah untuk mencari bahan atau sumber dalam menyelesaikan tugas. Kebutuhan lain dalam penggunaan internet tersebut antara lain untuk hiburan dan memperluas jaringan sosial. 2. Struktur masyarakat dan struktur media Struktur masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan dan

pemahaman mengenai teknologi informasi yang tinggi menuntut kalangan muda perkotaan di Surabaya untuk mulai mengikuti perkembangan struktur media, yaitu mulai mengonsumsi internet sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan zaman. 3. Berbagai kombinasi persoalan individu Kalangan muda perkotaan di Surabaya memiliki persoalan yang berbeda-beda mengenai pemenuhan kebutuhan informasi dalam

kehidupannya. Contohnya saja dalam riset ilmiah tersebut dipaparkan bahwa

kalangan

muda

memiliki

kebutuhan

informasi

untuk

pendidikan,

pengetahuan, hiburan, sosial, berita, dan transaksi. 4. Persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut Kebutuhan informasi untuk pendidikan, pengetahuan, hiburan, sosial, berita, dan transaksi tersebut membentuk suatu kombinasi persoalan yang pada akhirnya dapat diselesaikan dengan penyediaan media informasi. 5. Berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kalangan muda perkotaan di Surabaya mulai mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan mulai menggunakan internet dalam kehidupannya. Dengan demikian, persoalan mengenai pemenuhan kebutuhan informasi di kalangan muda perkotaan di Surabaya dapat terselesaikan. 6. Pengaruh penggunaan media Adanya perubahan perkembangan kognitif, yaitu perubahan proses berpikir masa anak-anak yang berorientasi konkrit menjadi proses berpikir pada tahapan pengembangan pikiran secara abstrak (formal operation stage) yang merupakan tahapan akhir dari pengembangan kognitif. Pada masa ini, kehidupan sosial kalangan muda (remaja) cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan termasuk oleh penggunaan media internet. Dengan demikian, berbagai pengaruh dari media internet harus selalu diperhatikan sehingga kita hanya akan mendapat dampak positif dan meminimalisir dampak negatif dari penggunaan media internet tersebut. Menurut McQuail, model Uses and Gratification ini dibedakan atas dua faktor, yaitu mencari kepuasan melalui media dan memperoleh kepuasan dari penggunaan. Bilamana faktor memperoleh kepuasan lebih tinggi dari faktor mencari kepuasan, maka tingkat kepuasan khalayak akan tinggi, sehingga tingkatan perhatian dan penghargaan terhadap media pun akan tinggi. Dalam kasus ini, kalangan muda perkotaan di Surabaya cenderung memiliki tingkatan faktor memperoleh kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan faktor mencari kepuasan. Oleh karena itu, pengaruh dari penggunaan media internet mendapat penilaian yang baik dari kalangan muda perkotaan di Surabaya.

BAB VIIII KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

10.1 Komunikasi Antar Budaya 10.1.1 Pengertian dan Manfaat Di dalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p.19). Selain itu, terdapat pula definisi lain menurut Liliweri yang menyatakan bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Tujuan dari komunikasi antarbudaya, antara lain :  Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi.  Memperluas komunikasi antarorang yang berbeda budaya.  Mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi.  Membantu mengatasi masalah komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan budaya.  Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi.  Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif Selain itu, komunikasi antar budaya memiliki manfaat pribadi dan manfaat dan manfaat sosial bagi komponen-komponen komunikasinya, berikut uraian dari manfaat tersebut :  Manfaat Pribadi Manfaat pribadi adalah manfaat komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu. Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari

perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang. Selain itu komunikasi antar budaya dapat bermanfaat untuk menyatakan integrasi sosial. Artinya, konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka. Bagi individu komuni8kasi antar budata juga bermanfaat untuk menambah pengetahua, serta untuk melepaskan diri atau jalan keluar. Artinya kadangkadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang simetris.  Manfaat Sosial Manfaat sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan

"perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

Manfaat yang kedua yaitu untuk menjembatani. Artinya dalam proses komunikasi antarbudaya, maka manfaat komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesanpesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa. Manfaaat yang ketiga adalah sosialisasi nilai, sosialisasi merupakan manfaat yang berfungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilainilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain. Selain itu, komunikasi antar budaya memiliki manfaat menghibur

10.1.2 Gaya Komunikasi Antar Budaya Suatu kebudayaan dimana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih sukar dikomunikasikan biasa disebut High Context Culture (HCC). Sebaliknya, kebudayaan di mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih mudah dikomunikasikan biasa disebut Low Context Culture (LCC). Para anggota kebudayaan HCC sangat mengharapkan agar digunakan cara-cara yang lebih praktis yang dapat menolong mereka dalam mengakses informasi dalam variasi stuasi apapun. Hal ini karena kebudayaan masyarakat HCC umunya bersifat implisit, mungkin sekali apa yang hendak disampaikan tersebut sudah ada dalam nilai-nilai, norma-norma, dan sistem kepercayaan mereka. Berbeda halnya dengan kebiasaan HCC, anggota kebudayaan LCC sangat berharap agar tidak menggunakan cara-cara praktis hanya untuk menolong mereka mengakses informasi dalam variasi situasi apapun. Pada LCC, cukup diberikan diberikan informasi secara garis besar saja dan mereka mampu mengaksesnya dengan mudah. Hal ini karena kebudayaan masyarakat LCC umumnya bersifat eksplisit, dan banyak informasi yang disampaikan mungkin sekali belum atau kurang diperhatikan dalam sistem nilai, norma, dan sistem kepercayaan mereka (Stella Ting Toomey, 1986;1988).

Anggota kebudayaan LCC memakai gaya komunikasi langsung. Mereka mencari dan menyerap informasi langsung dari sumbernya. Gaya komunikasi mereka lebih mengutamakan pertukaran informasi secara verbal (hanya sedikit didukung oleh pesan non verbal), pertemuannya bersifat formal, tatap muka, tanpa basa-basi, dan langsung pada tujuan. Sedangkan pada budaya HCC selalu menggunakan gaya komunikasi tidak langsung. Gaya komunikasi kurang formal, pesan-pesan lebih banyak didukung oleh pesan non verbal, lebih menyukai cara berkomunikasi dengan tatap muka, jika perlu dengan basa-basi dan ritual. Komunikasi antar budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan gaya, diantaranya negosiasi, pertukaran simbol, sebagai pembimbing perilaku budaya untuk menujukkan fungsi sebuah kelompok. Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar budaya dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat

mewujudkan perdamaian dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intensif kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman, dan dapat mengurangi tumbuhnya konflik sosial. Adapun gaya komunikasi antar budaya dalam proses negosiasi yaitu, anggota masyarakat kebudayaan LCC cenderung melakukan negosiasi yang bersifat linier dan logis dalam menyelesaikan masalah. Analisis merupakan suatu prosedur yang esensial dari kebudayaan ini, negosiasi harus singkat dan tidak bertele-tele, masuk akal, pakai otak, dan menggunakan pendekatan bargaining. Contohnya saja dalam gaya komunikasi untuk menyelesaikan konflik, mereka menjadikan informasi sebagai hal penting dalam proses resolusi konflik yang kadang-kadang menggunakan pendekatan konfrontasi. Sebaliknya pada masyarakat kebudayaan HCC memakai sistem perundingan yang halus, pilihan komunikasinya meliputi perasaan dan intuisi. Gaya HCC lebih mengutamakan hati daripada logika. Budaya HCC selalu menggunakan gaya komunikasi tidak langsung dalam menyelesaikan konflik, mereka tidak menjadikan informasi sebagai sesuatu yang utama dalam proses resolusi

konflik, tetapi mengutamakan faktor-faktor relasi antar manusia, emosi budaya, yang kadang-kadang menggunakan pendekatan human relations. Telah dijelaskan sebelumnya, komunikasi antarbudaya pada intinya bermakna proses komunikasi antarpribadi (komunikator dan komunikan) yang berbeda latar belakang budaya. Dengan demikian, secara umum dan normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengana individu maupun gaya dari sekelompok etnik. Begitulah pendapat Candia Elliot (1999) yang menjelaskan bagaimana pengaruh gaya personal. Dalam komunikasi antarbudaya, gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Gaya komunikasi personal dapat ditunjukkan dengan cara kognitif maupun sosial. Banyak tipe atau gaya personal yang dimiliki manusia dalam melakukan proses komunikasi. Diantaranya, terdapat orang yang senang bercakap dengan menampakkan wajah senang atau penuh dengan kehangatan, namun ada pula orang yang bercakap dengan wajah dingin dan kurang bersahabat, inilah yang biasanya kemudian lawan bicaranya memiliki perasaan kurang enak. Terkadang juga dapat berhadapan dengan orang yang bersikap otoriter, namun akan ditemui pula orang yang bersikap sangat demokratis. Ada orang yang menghargai lawan bicara dengan cara menatap mata, namun ada pula yang bersikap acuh dan menatap ke segala arah saat proses komunikasi berlangsung. Ada yang berkomunikasi dengan nada suara tinggi, namun ada pula yang bicara cukup dengan suara lembut.

10.1.3 Penyesuaian Pola Pikir dan Tindakan Komunikasi menjadi faktor yang sangat penting untuk membangun kesepahaman dalam hubungan masyarakat multietnik. Keberhasilan

berkomunikasi dalam masyarakat multietnik akan memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk pandangan suatu kelompok etnik terhadap

kelompok etnik lainnya. Sebaliknya, komunikasi yang tidak baik akan mendorong timbul kecurigaan dan kesalahpahaman yang akan menjadi benihbenih konflik yang melibatkan berbagai etnik. Pertikaian antaretnik sering terjadi karena kesalahan pemahaman pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi. Kesalahan penafsiran dalam proses komunikasi multietnik menjadi faktor yang sangat krusial untuk terjadinya konflik etnik. Sesungguhnya dalam bidang ilmu komunikasi terdapat bentuk komunikasi yang memberikan perhatian kepada komunikasi yang melibatkan hubungan multietnik, yaitu komunikasi antarbudaya antarbudaya (intercultural perhatian

communication).

Komunikasi

memberikatan

bagaimana orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda saling menginterpretasikan dan berbagi makna. Dengan kata lain, komunikasi antarbudaya terjadi bila penyampai pesan dan penerima pesan berasal dari budaya yang berbeda. Komunikasi antarbudaya sangat diperlukan untuk membangun hubungan damai dalam masyarakat multietnik sebab setiap etnik mempunyai pandangan, budaya dan bahasa yang berbeda. Yang terpenting adalah perbedaan itu harus bisa dipahami secara bersama-sama dan kita berusaha meminimalkan terjadinya kesalahan pemahaman akibat pandangan, budaya dan bahasa yang berbeda dengan cara menerapkan prinsip-prinsip komunikasi antarbudaya dalam masyarakat multietnik.

Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya Secara umum komunikasi antarbudaya terdiri dari atas empat variasi, yaitu : (i) interracial communication: interpretasi dan berbagi makna antara orangorang yang berasal dari ras yang berbeda, (ii) interethnic communication: interaksi antara orang-orang yang berasal dari etnis yang berbeda, (iii) international communication: komunikasi antara orang-orang yang mewakili negara yang berbeda, dan

(iv) iintracultural communication: interaksi antara anggota dari kelompok ras dan etnis yang berbeda (sub-culture) tetapi berasal dari induk budaya yang sama. Komunikasi antarbudaya juga bermakna ”communication between people who live in the same country but come from different cultural background.” Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan bentuk komunikasi multidemensi dari interaksi antara orang-orang yang berasal dari negara, etnis, ras, dan kelompok budaya lainnya yang berbeda.

Model Komunikasi Antarbudaya Sebagai bagian dari komunikasi, komunikasi antarbudaya mempunyai model tersendiri. Terdapat A dan B yang bermakna dua orang berasal dari dua kebudayaan yang berbeda sehingga mereka mempunyai persepsi yang berbeda tentang hubungan antarpribadi. Proses komunikasi antarbudaya terjadi ketika A dan B saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Perbedaan di antara mereka memungkinkan terjadinya kondisi ketidakpastian kecemasan dan kondisi ini mendorong terjadinya komunikasi yang bersifat akomodatif. Sehingga selanjutnya kondisi ini menghasilkan kebudayaan baru (C) yang bertujuan untuk menyenangkan kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi. Model komunikasi ini menghasilkan komunikasi yang adaptif karena A dan B saling menyesuaikan diri sehingga komunikasi itu bersifat efektif. Komunikasi antarbudaya melibatkan unsur komunikasi dan budaya. Kata budaya dalam komunikasi antarbudaya bermakna perbedaan cara hidup dari kelompok orang-orang dalam menghadapi kehidupan. Hubungan komunikasi dan budaya sangat erat karena dasar dari komunikasi itu adalah budaya itu sendiri. Oleh karena itu, dalam komunikasi antarbudaya unsur budaya sangat berpengarauh dalam proses komunikasi yang melibatkan budaya yang berbeda. Unsur-unsur budaya yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya adalah:

1. Persepsi dan organisasi sosial 2. Proses verbal 3. Proses non-verbal penggunaan ruang

: kepercayaan, nilai, sistem sikap; pandangan dunia;

: bahasa verbal dan pola pikir :perilaku non-verbal; konsep waktu; dan

Strategi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi yang melibatkan multietnik tentu saja memerlukan strategi yang khusus agar komunikasi yang dijalankan benar-benar memberikan pemahaman bagi pihak yang terlibat dalam komunikasi. Berikut ini disampaikan beberapa strategi untuk menghasilkan komunikasi

antarbudaya yang efektif.

Strategi komunikasi antarbudaya Teknik komunikasi diskriminatif Penyebuatan penghinaan terhadap daya atau kelompok lain Tujuan Menghina atau merendahkan orang dari budaya atau Teknik komunikasi inklusif Menolak penggunaan

kelompok lain Mengisolasi atau melebih-

penyebuatan penghinaan

Membuat streotip terhadap orangorang yang berasal dari kelompok tertentu

lebihkan faktor tertentu dan menerapkannya kepada semua orang dalam kelompok itu.

Mengakui dan menghindari penggunaan bahasa bersifat stereotif. yang

Menempatkan satu kelompok Menggunakan bahasa yang Pengabaian ke dalam kelompok lain inklusif dan bahasa yang

dengan penyebutan (label), lebih disukai oleh kelompok nama atau istilah tertentu Memaksa pandangan penggunaan minoritas

kelompok mayoritas karena Menghindari Pemaksaan penyebutan (labelling) minoritas kekuatan kurang

memiliki satu sebuatan umun untuk untuk sejumlah orang yang berasal

mendefinisikan diri mereka dari kelompok yang berbeda sendiri

Menekankan pada perbedaan Penglihatan yang berlebihan seperti latarbelakang gender, ras, atau etnik

Menghindari pada

penekanan seperti

perbedaan

latarbelakang gender, ras, atau etnik

Teknik komunikasi inklusif di atas dapat mendukung terjadinya komunikasi antarbudaya yang efektif agar pesan komunikasi yang disampaikan benar memberikan makna yang positif bagi masyarakat multietnik. Perbandingan teknik komunikasi diskriminatif dan teknik komunikasi inklusif menunjukkan bahwa komunikasi diskriminatif cenderung menghasilkan kondisi

permusuhan dan konflik sebab tidak mempertimbangkan perasaan dan sensitifitas kelompok lain. Sedangkan teknik komunikasi inklusif cenderung mendorong tercipta kondisi damai sebab pihak yang terlibat dalam komunikasi saling memberikan pengakuan dan penghormatan terhadap kelompok lain yang berbeda dengannya. Untuk membangun komunikasi antarbudaya yang efektif perlu pula dipahami beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan hubungan antara kelompok yang berbeda: 1. Enkulturasi (enkulturation): proses mempelajari dan menyerap

kebudayaan yang berasal dari satu masyarakat. 2. Akulturasi (acculturation): proses penyesuaian kebudayaan dengan kebudayaan tempatan dengan mengadopsi nilai, simbol dan/atau perilaku. 3. Etnosentris (ethnocentrism): suatu pandangan yang menganggap bahwa suatu kebudayaan lebih unggul dari pada kebudayaan lainnya. 4. Relativisme kebudayaan (cultural relativism): pengakuan terhadap perbedaan budaya dan menerima bahwa setiap kelompok masyarakat mempunyai norma-norma sendiri. Keempat konsep di atas berkaitan dengan pandangan seseorang terhadap kebudayaannya sendiri, kebudayaan orang lain, dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang yang berbeda kebudayaan dengannya. Konsep enkulturasi dan akulturasi menujukkan pandangan kebudayaan yang

bersifat dinamik dan adaptif karena terjadinya proses penyerapan dan penyesuaian antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Konsep etnosentris adalah satu cara pandang yang bersifat sempit dan kaku karena hanya menganggap kebudayaan mereka yang paling tinggi dibandingkan kebudayaan lain. Pandangan seperti ini tentu saja akan menghambat terjadi komunikasi antarbudaya yang efektif. Sebaliknya, konsep relativisme kebudayaan memberikan pandangan bersifat mengakui dan menghargai perbedaan kebudayaan sebab setiap kebudayaan mempunyai keunggulan sendiri sehingga tidak perlu dipertentangkan keunggulan suatu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Ini bermakna kearifan lokal yang dimiliki setiap ini itu perlu diangkat dan penganggatan kearifan lokal itu tidak akan menghasilkan pertentangan atau permusuhan sebab relativisme kebudayaan telah mengajarkan kepada kita bahwa setiap kebudayaan memiliku keunggulan masing-masing.

10.1.4 Etika, Norma, dan Pantangan Pergaulan Lintas Budaya  Etika dan Norma Komunikasi Antarbudaya Prinsip-prinsip etika dan norma-norma yang relevan dalam bidang lain juga berlaku bagi komunikasi antar budaya. Prinsip-prinsip etika sosial seperti misalnya solidaritas, subsidiaritas, keadilan dan kesamaan, serta pertanggung jawaban dalam menggunakan sumber-sumber umum dan pelaksanaan peranan usaha-usaha umum selalu bisa diterapkan. Komunikasi harus selalu penuh kebenaran, karena kebenaran adalah hakiki bagi kebebasan individu dan demi komunitas yang otentik antara pribadi-pribadi. Etika dalam komunikasi antar budaya menyangkut bukan hanya apa yang adil, dengan apa yang nampak dalam media, tapi sebagian besar juga di luar itu semua. Dimensi etika tidak hanya menyangkut isi komunikasi (pesan) dan proses komunikasi (bagaimana komunikasi dilakukan) tapi juga struktur fundamental dan persoalan-persoalan yang menyangkut sistem, yang kerap kali menyangkut persoalan-persoalan besar mengenai kebijakan yang berkaitan dengan pembagian tehnologi yang canggih serta produknya, siapa yang akan kaya informasi dan yang akan miskin informasi. Persoalan-

persoalan ini menunjuk ke persoalan lain yang mempunyai implikasi ekonomi dan politik untuk kepemilikan dan kontrol. Dalam komunikasi antar budaya, bagi orang yang mempunyai kehendak baik sekalipun tidak selalu segera menjadi jelas bagaimanakah menerapkan prinsip-prinsip etika serta norma-norma. Misalnya saja dalam kasus-kasus khusus seperti refleksi, diskusi dan dialog diperlukan penerapan etika dan norma tersebut lebih mendalam. Hal tersebut dikarenakan dialog semacam itu merupakan dialog yang menyangkut antara komponen

komunikasi atau para pembuat kebijakan mengenai komunikasi, para komunikator profesional, para ahli etika dan moral, para penerima komunikasi, dan orang-orang lain yang terkait.  Hambatan atau Pantangan Pergaulan Lintas Budaya Menurut Chaney & Martin (2004, p. 11), hambatan komunikasi (communication barrier) adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Salah satu contoh dari hambatan komunikasi adalah gerakan menganggukan kepala, dimana di Amerika Serikat anggukan kepala menandakan bahwa orang tersebut mengerti sedangkan di Jepang anggukan kepala tidak berarti seseorang setuju, melainkan hanya berarti bahwa orang tersebut mendengarkan. Terdapat dua hambatan dalam pergaulan lintas budaya, yaitu hambatan diatas air (above waterline) dan dibawah air (below waterline). Hambatan komunikasi antarbudaya yang berada di dalam air sulit untuk dilihat karena merupakan sikap atau perilaku seseorang. Yang termasuk ke dalam hambatan ini adalah persepsi (perceptions), norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business philosophy), aturan (rules), jaringan (networks), nilai (values), dan grup cabang (subcultures group). Sedangkan hambatan di atas air lebih bersifat hambatan fisik, yaitu : 1. Fisik (Physical) Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.

2. Budaya (Cultural) Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya. 3. Persepsi (Perceptual) Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. 4. Motivasi (Motivational) Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi. 5. Pengalaman (Experiantial) Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. 6. Emosi (Emotional) Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui. 7. Bahasa (Linguistic) Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan. 8. Nonverbal Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan

(receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan. 9. Kompetisi (Competition) Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal. Keragaman kulutur dan budaya yang ada merupakan salah satu hambatan yang pada akhirnya menimbulkn pantangan bagi komponen komunikasinya. Karena jika seluruh umat manusia memiliki budaya yang sama maka tidak akan sulit untuk melakukan komunikasi yang efektif dan efisien. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu maka dibuat pantanganpantangan agar komunikasi antar budaya yang kita lakukan dapat bersifat efektif dan efisien. Pada intinya pantangan dalam komunikasi antar budaya adalah menyampaikan suatu pesan yang mendobrak atau mengganggu kedaulatan suatu budaya.

BAB X KOMUNIKASI PROMOSI
11.1 Komunikasi Promosi Dalam memasarkan produknya, perusahaan memerlukan suatu komunikasi dengan para konsumen, karena dengan adanya komunikasi maka konsumen dapat mengetahui produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Komunikasi yang berasal dari perusahaan terjadi dalam bentuk promosi dan segala komunikasi pemasarannya, itu artinya perusahaan tersebut berusaha menginformasikan produknya kepada masyarakat luas. Komunikasi tersebut biasa dinamakan komunikasi promosi yang merupakan alat efektif suatu perusahaan untuk dapat berkomunikasi dengan para pelanggan (baik konsumen maupun perantara). Terdapat beberapa pengertian komunikasi promosi yang dipaparkan oleh para ahli, diantaranya :  Menurut Stanton yang dikutip oleh Djasmin Saladin dan Yevis Marti Oesman (1991; 1994), komunikasi promosi adalah kombinasi dari penjualan tatap muka, periklanan, promosi penjualan, publisitas, dan hubungan masyarakat yang membantu pencapaian tujuan perusahaan.  Djasmin Saladin (2001; 123) menyatakan bahwa komunikasi promosi adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi, dan membujuk atau mengingatkan pasan sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.  Menurut Sofyan Assauri (1996:243) komunikasi promosi adalah kombinasi strategi yang paling baik dari unsur-unsur promosi tersebut, maka untuk efektifnya suatu kegiatan promosi yang dilakukan perusahaan, perlu ditentukan terlebih dahulu peralatan atau unsur promosi apa saja yang sebaiknya digunakan dan bagaimana mangombinasikan unsur-unsur tersebut agar hasilnya dapat optimal.

Dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi promosi adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen, baik langsung maupun tidak langsung, tentang produk dan merek yang mereka jual sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Terdapat beberapa fungsi dari komunikasi promosi, diantaranya konsumen sebagai komunikan dapat mengetahui bagaimana dan mengapa suatu produk digunakan, serta kapan dan dimana produk tersebut bisa didapatkan. Konsumen pun dapat mengetahui siapa yang membuat produk dan apa yang dipertahankan atau diunggulkan oleh perusahaan pada produk dan merek yang dipromosikan. Selain itu, konsumen dapat diberikan suatu insentif atau imbalan jika konsumen mencoba atau menggunakan produk tersebut. Komunikasi promosi dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain : a) Iklan Setiap bentuk presentasi yang tidak dilakukan langsung oleh komunikator melainkan berupa promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan melalui suatu media, sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara komunikator dan komunikan (konsumen). Iklan dapat membangun citra produk dalam jangka panjang dan dapat memicu penjualan dengan cepat. b) Promosi Penjualan Berbagai jenis insentif jangka pendek yang mendorong komunikan untuk mencoba atau membeli produk yang dipromosikan. c) Acara Khusus dan Pengalaman Perusahaan mensponsori kegiatan dan program-program yang dirancang untuk menciptakan interaksi yang berkaitan dengan merek produk yang dipromosikan. d) Hubungan Masyarakat dan Pemberitaan Berbagai program promosi yang dirancang melalui pendekatan pada masyarakat untuk melindungi citra merek produk suatu perusahaan. e) Pemasaran Langsung Penggunaan surat, telepon, email, internet, atau melalui teknologi komunikasi lain untuk dapat berkomunikasi atau berdialog langsung dengan pelanggan

tertentu ataupun calon pelanggan sehingga bisa langsung didapatkan tanggapan dari pelanggan tersebut. f) Penjualan Pribadi Interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli melalui presentasi, malakukan interaksi tanya jawab, dan diadakan pemesanan.

11.2 Komunikasi Kreatif Menurut pendapat James C.Coleman dan Coustance L Hammen (1974:452), berfikir kreatif adalah berfikir bagaimana menemukan metode baru, konsep baru, pengertian baru, penemuan baru, seni bekerja baru. Berfikir kreatif diperlukan banyak orang dalam berbagai aspek. Dalam bidang komunikasi, kreatifitas diperlukan seorang komunikator yang ulung agar dapat mendesain pesan yang ingin di sampaikan sehingga dapat diterima sesuai yang diinginkan komunikator tersebut. Selanjutnya disebut komunikasi kreatif yang artinya proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak yang lain dengan cara yang inovatif sehingga selalu terjadi pembaharuan dalam proses penyampaiannya. Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan komunikasi kreatif: 1. Kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru. Artinya dalam menciptakan komunikasi kreatif pemunculan hal-hal baru merupakan syarat utama atau yang secara statistika sangat jarang terjadi. Tetapi kebaruan saja tidak cukup, seorang komunikator kreatif harus memperhatikan aspek lain seperti lingkungan atau objek dari penyampaian informasi tersebut. Misalnya seorang penyuluh ingin melakukan penyuluhan dengan cara yang lebih modern seperti penggunaan teknologi informasi namun desa tempat penyuluhan tersebut saja belum terjangkau oleh jaringan listrik. Hal tersebut kreatif namun tidak efektif jika dilakukan. 2. Kreativitas mesti bisa memecahkan persoalan secara nyata. Artinya sebagai komunikator yang kreatif informasi yang kita sampaikan tidak hanya menjadi bahasa retorika saja tapi juga harus bisa dibuktikan nyata dan memang berguna bagi penerima informasi.

3. Kreativitas merupakan usaha untuk mempertahankan wawasan yang asli Artinya proses komunikasi harus dapat menjaga orisinalitas konten informasi serta dapat menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin. (Mackinnon, 1962:485)

11.3 Teknik-Teknik Promosi Sebagai upaya agar penjualan produk dapat terus meningkat dan citra produk selalu ada di benak konsumen, diperlukan adanya teknik-teknik promosi yang dilakukan. Teknik promosi yang dapat dilakukan untuk menarik pelanggan dalam penjualan diantaranya:  Kupon, yaitu sertifikat yang memberi hak pada pemegangnya untuk mendapat pengurangan harga seperti yang tercetak untuk pembelian produk tertentu.   Price-off Deals, yaitu memberikan potongan harga langsung di tempat pembelian, biasanya potongan harga berkisar dari 10% -25%. Premium and advertising specialties, yaitu barang yang ditawarkan dengan biaya yang relatif rendah atau gratis sebagai insentif untuk membeli produk tertentu. Premi dengan paket menyertai produk di dalam atau pada kemasan dimana kemasan berupa wadah yang dapat digunakan kembali dapat berfungsi sebagai premi. Advertising specialties mempunyai 3 elemen kunci, yaitu: a message, place on a useful item, and given to consumers with no obligation.  Contest and sweepstakes (kontes dan undian). Hadiah adalah tawaran kesempatan untuk memenangkan uang tunai, perjalanan atau barang-brang karena membeli sesuatu. Ada juga beberapa kontes tentang membuat jingle suatu produk.   Sampling and trial offers (pemberian contoh produk), yaitu dengan penawaran gratis untuk sejumlah produk atau jasa melalui sampel. Brand (product) placement, yaitu salah satu teknik dari sales promotion untuk mencapai pasar dengan memasukan produk pada sebuah acara televisi atau film.

Rebates (rabat/ tawaran pengembalian tunai), yaitu dengan memberikan pengurangan harga setelah pembelian terjadi dan bukan pada toko pengecer. Contohnya adalah pembelian produk dengan beli tiga gratis satu.

Frequency

(continuity)

programs,

yaitu

program-program

yang

berkelanjutan, seperti menawarkan konsumen diskon atau hadiah produk gratis untuk mencapai terjadinya pengulangan dalam pembelian atau langganan dari merk atau perusahaan yang sama.  Event sponsorship, yaitu ketika perusahaan mensponsori suatu acara, Metode promosi lainnya yaitu dengan melakukan teknik jemput bola. Metode ini sangat efektif dilakukan khususnya bagi mereka yang tidak memiliki modal kuat untuk memiliki tempat usaha di lokasi yang strategis, tidak memiliki cukup dana untuk beriklan dan belum memiliki merek dagang (brand image) yang kuat. Yang dimaksud dengan teknik jemput bola adalah promosi yang dilakukan dengan mendatangi (menjemput) konsumen secara langsung. Teknik ini terutama diterapkan pada produk-produk yang memiliki tingkat persaingan yang tinggi. Teknik ini dilakukan dengan memberikan pelayanan kepada pelanggan, sehingga dapat dikatakan pula bahwa usaha yang dijalankan berorientasi kepada pelanggan dimana prinsip „pelanggan adalah raja‟ benar-benar diterapkan. Pelayanan tersebut diantaranya menyediakan layanan komplain bagi konsumen dan layanan antar produk.

11.3.1 Teknik Promosi melalui Internet Dalam promosi melalui internet, terdapat dua teknik promosi yang keduanya sama-sama bertujuan agar pengguna internet dapat melihat iklan yang diterbitkan (posting) dalam waktu singkat, yaitu Search Engine Optimization (SEO) dan Pay Per Click (PPC). Search Engine Optimization (SEO) yaitu teknik promosi melalui internet yang bertujuan agar search engine menempatkan situs web di halaman depan pencarian. Sedangkan Pay Per Click (PPC) adalah teknik beriklan yang hitungan pembayarannya dari setiap kali iklan diklik. Masingmasing teknik memiliki kelemahan dan kelebihannya, yaitu :

Tabel 1. Kelebihan SEO dan PPC Search Engine Optimization (SEO) Pay Per Click (PPC) Menghasilkan traffik secara cepat, yaitu saat iklan dipasang saat itu juga traffik membanjiri blog. Anggaran iklan mudah diatur. Hasil terukur, yaitu dapat dilihat dari laporan. software membantu yang Pengeluaran terkontrol. Mudah dimonitor. Hasilnya cepat.

Banjir traffik, maksudnya ketika situs web masuk ke dalam halaman pertama kemungkinan pencarian besar maka berpeluang -

mendapatkan limpahan traffik. Biaya minimal. Mudah dipantau. Tersedia pendukung banyak sehingga

memaksimalkan dilakukan. Cepat terkenal. Layanan jasa SCO.

SEO

Tabel 2. Kelemahan SEO dan CCP Search Engine Optimization (SEO) Boros waktu. Tergantung pada search engine. Banyak hal teknis. Harus terus mengikuti search Pay Per Click (PPC) Diperlukan biaya. Diperlukan uji coba. Perlu persiapan landing page, yaitu untuk menentukan tingkat

perkembangan

algoritma

keberhasilan pada iklan. Tetap ada kompetisi.

engine yang terus berubah. Kompetisi sangat tinggi.

11.4 Analisis Kasus / Fenomena Promosi yang Kreatif Mizone adalah minuman isotonik yang diproduksi oleh grup AquaDanone. Produksi kemasan plastic (PET) ini berukuran 500 ml, Mizone terdiri atas beberapa rasa popular yaitu Passion Fruit (Markisa), Orange Lime (jeruk) pada 2005, dan rasa lychee Lemon pada tahun 2008. Produk Mizone memiliki harga produk yang termasuk cukup murah dengan kisaran Rp 2600 – 2800 / botol. Menurut Scylics (2006), produk Mizone termasuk paling inovatif untuk beragam jenis minuman berbahan botol plastik dibandingkan dengan pesaing sejenisnya. Desain kemasan botol Mizone memiliki bentuk yang cendrung lebih tinggi dan aerodinamis, sehingga lebih mudah digenggam oleh konsumen, dan juga ujung botol Mizone memiliki lubang yang lebih besar sehingga cepat dan mudah diminum oleh konsumennya. Pencitraan atau nilai estetika yang ditampilkan produk ini memperlihatkan “seolah-olah” Mizone adalah minuman beroksigen tinggi, hal ini diperkuat dengan penggunaan warna biru tua di botol kemasannya, sehingga memberi efek selalu terlihat basah dan dingin yang pada akhirnya memberi kesan kesegaran yang alami dan mampu menghilangkan rasa haus dengan rasa yang manis dibandingkan sekedar mengganti cairan tubuh yang hilang (seperti pada produk pesaingnya).

Analisis Harga Produk Harga produk Mizone menunjukkan harga yang lebih murah dibandingkan pionirnya (Pocari Sweat) botol ukuran 500 ml yang dijual dipasaran dengan harga sekitar Rp. 5350 / botol, serta diantara produk pesaingnya, antara lain: Powerade Isotonik 500 ml (Rp. 3790 / botol), Vitazone Ice Cool 500 ml (Rp. 3175 / botol), dan Gatorade 500 ml (Rp. 4720 / botol)., Produk dengan kemasan botol berwarna biru ini, memiliki strategi untuk merangkul dan membidik segmen konsumen yang lebih luas namun fokus khususnya kalangan muda (Hidayat. 2008). Harga yang lebih murah merupakan strategi dari produk Mizone yang dapat dikatakan sebagai ”Brand Late Enterants” karena produk yang masuk dipasaran ”terlambat” ini, harus berusaha keras mengalahkan pasar produk pionir (produk pendahulu) yang sejenis. Menurut

Biggadike (1977) dalam Brand Management & Strategy (Tjiptono. 2005), dalam penelitiannya terhadap 40 perusahaan ”Late Enterants” yang mampu sukses memasuki pasar yang didominasi oleh sang pemimpin pasar (Pioneer), maka ada enam strategi yang harus dilakukan oleh ”Brand Late Enterants” diantaranya: (1) Harga yang lebih murah dibarengi dengan kualitas lebih tinggi, (2) Ketepatan waktu (timing) atau muncul di waktu yang tepat, (3) Kekuatan pasar, (4) segmen pasar lebih sempit atau terfokus, (5) Saluran distribusi serupa/sejenis, (6) Strategi promosi yang kuat.

Analisis Distribusi Produk Tempat (Place) sebagai lingkup distribusi Produk Mizone ini cukup luas, terbukti bahwa produk ini tidak hanya dipasarkan di kota-kota besar saja tetapi juga sampai ke desa, mulai dari toko swalayan besar sampai pedagang asongan yang menawarkan produk ini di berbagai perempatan jalan raya. Produk Mizone juga menggunakan jalur distribusi Aqua yang sudah memiliki jaringan nasional yang luas,. Yohanes Pauly selaku Direktur Pemasaran Mizone, Danone Aqua TI (Tirta Investama). Perusahaan yang melegenda berkat kepeloporannya di kategori produk air minum dalam kemasan di Indonesia, mengatakan bahwa Mizone menawarkan sesuatu yang baru. Produk ini merupakan minuman isotonik pertama yang memposisikan diri sebagai “everyday restoration drink”. “Produk ini memang bukan untuk pengobatan, tapi sangat baik untuk kesehatan, karena mengandung banyak vitamin”, ujarnya. Sehingga, Mizone tidak memposisikan dirinya sebagai produk farmasi, dan Mizone sengaja menggunakan rasa (flavor) buah sebagai varian rasa (Hidayat. 2008).

Analisis Strategi Promosi Strategi promosi produk Mizone terbilang cukup gencar, dan intensif, terbukti dengan seringnya Mizone membuat beragam iklan (advertising) dengan penampilan yang mudah diingat oleh konsumen, karena unik dan kreatif, seperti diantaranya: Mizone Maxxibilities zone (2005), Mizone ”Catwalk” (2005), Mizone ”Di Kantor” (2005), Mizone ”Awas Kecolongan-kamu pakai baju kotak-

kotak biru khan?” (2006), Mizone 100% kamu (2006), Mizone ”8 days mizone challenge-Girindra testimoni” (2007), Mizone ”8 days mizone challenge-Mahran testimoni” (2007), Mizone ”Thematic Bengong-cewek bengong saat musim hujan” (2008), Iklan Aqua-Mizone ”cowok bengong saat kerja” (2008), Mizone ”He‟s into it-Mizone Adv He Version” (2009), Mizone ”She into it-Mizone Adv She Version” (2009). Promosi iklan Mizone yang terbilang cukup banyak dan kontinu setiap tahunnya, membuat masyarakat menjadi ingat akan produk ini, karena di setiap televisi swasta nasional dan televisi lokal hampir selalu memutar iklan Mizone ini. Salah satu strategi kampanye promosi produk Mizone yang terbilang unik, kreatif, membuat rasa penasaran konsumen adalah yang pernah dilakukan di tahun 2007 dengan judul ”Awas Kecolongan”, seperti pada gambar berikut ini. Iklan ”Awas kecolongan” ini pada tahun 2007 yang lalu, banyak mengisi beberapa halte sepanjang Jalan Sudirman Jakarta, dan uniknya adalah di iklan tersebut tidak satupun mensertakan nama brand atau produk yang mengiklankan, sehingga pada saat itu iklan ”Awas kecolongan” ini cukup membuat rasa penasaran konsumen yang ingin mengetahui nama produk iklan ini. Brand yang bertanggung jawab terhadap kampanye ini masih belum ketahuan, karena tidak ada informasi apapun tentang ini di website-nya. Yang ada adalah masyarakat di minta untuk menunggu hingga tanggal 19 Juni 2007 untuk info lebih lanjut. Dan sekali lagi, untuk membuktikan keefektifan iklan ini dan melihat pendapat positif masyarakat saat itu dapat dilihat di situs Media-ide.com (2007).

Analisis Brand Message Bentuk kemasan Mizone cukup unik seolah memiliki tiga bola berdempet dibagian batang botol kemasan, yang membuat produk ini berbeda dibanding produk sejenis, dan tampilan kemasan yang mudah diingat. Pesan / komunikasi yang ingin disampaikan juga cukup jelas, dimana merek (Mizone) cukup mudah terbaca, serta identifikasi rasa / aroma dapat mudah dikenali dari perbedaan warna di dekat merek, yaitu warna ungu untuk Passion Fruit dan warna Jingga untuk Orange Lime. Pesan lain yang disampaikan produk Mizone untuk berusaha menarik hati konsumennya khususnya kalangan yang

berjiwa muda, salah satunya dengan menggunakan media musik popular (Easy Listening) sebagai lagu latar belakang iklan ini, contohnya pada iklan Mizone “ She and He into it” yang diproduksi 17 April 2009 oleh Absolute Picture, dimana iklan ini menggunakan model laki-laki dan perempuan yang bersemangat, ceria, menarik, dan dibarengi dengan lagu yang enak didengar (dalam hal ini lagu dengan judul “Great DJ” oleh Band “The Ting Things”). Hasilnya adalah Produk ini laku dipasaran, dimana omset penjualan naik sampai 400% (Ittelkom. 2009), disebabkan oleh iklan ini banyak disukai kalangan muda, karena musik yang menjadi pendukung iklan ini, digemari oleh kalangan muda, seolah produk Mizone “mampu membaca keinginan” setiap konsumennya. Salah satu buktinya dapat dilihat di situs students Lounge – forum mahasiswa ittelkom.ac.id (2009).

Analisis Segmentasi Produk Segmentasi pasar yang ingin diperoleh oleh produk Mizone, adalah kalangan masyarakat luas khususnya membidik segmen anak muda, mulai dari pelajar, olahragawan, mahasiswa, dan pegawai kantor (eksekutif muda). Mizone menjadikan kalangan muda sebagai salah satu target utama distribusinya karena kalangan muda dianggap memiliki sifat yang dinamis, penuh keceriaan, suka mewarnai hidup dengan hal yang baru, inovatif, sedang mencari dan membentuk identitas diri, pengakuan ditengah kelompoknya, dan suka dengan hal-hal yang modern. Tujuan membuat segementasi pasar dan mencari keuntungan dari target pasar merupakan bagian dari ”Consumer marketing". Pola yang diterapkan oleh kebanyakan perusahaan saat ini, dimana mulai beralih dari pola ”Mass Marketing” kemudian digantikan menjadi ”Segmentation” dan ”Targeting”, dimana segmentasi adalah menggelompokkan konsumen berdasarkan persamaan karakter, dan menentukan target adalah menganalisis, mengevaluasi, dan Tujuan

memprioritaskan segmen pasar mana yang lebih menguntungkan.

akhirnya adalah agar tetap fokus dalam penyampaian pesan kepada konsumen, dan berprospek (Potential return on invesrment-ROI) menjanjikan keuntungan yang kembali (Duncan. 2002: 211).

Seperti dalam buku Top Brand Anak dan Remaja karangan Martin Lindstrom (2007), Untuk membangun dan mempertahankan merek suatu produk di masa depan menjadi ”Top Brand”, maka paradigma produsen harus diubah dengan mulai membidik segmentasi pasar kalangan muda (mulai dari anak remaja sampai pria muda), karena kalangan muda mempengaruhi 60% belanja keluarga, sehingga hal ini menjadi alasan kuat untuk menjadikan kalangan muda sebagai salah satu prioritas target pasar dari produk Mizone ini

11.5 Desain Promosi Dalam komunikasi promosi, terdapat beberapa disain promosi, antara lain :  Promosi Multimedia Interaktif Desain multimedia interaktif dipelajari dalam konteks tampilan dan pelengkap desain, bukan interaksi manusia dengan komputer. Animasi dipelajari dalam konteks penciptaan gerak yang menarik, bukan untuk bertutur dan bercerita. Desain multimedia interaktif diantaranya meliputi animasi 3D, motion graphic, fotografi, audio visual, program acara televisi, web desain, video klip, dan CD interaktif. Dengan kata lain, ini berfokus pada desain komunikasi visual yang terdiri dari dua unsur utama, yaitu verbal (tulisan) dan visual (gambar tangan, fotografi, atau gambar olahan komputer grafis).  Promosi lewat Tanda (Visual) Keberadaan visual sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari karena merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas hidup. Promosi melalui visual merupakan representasi sosial budaya masyarakat, dan salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud produk dari nilai-nilai yang berlaku pada waktu tertentu. Desain komunikasi visual senantiasa berhubungan dengan penampilan rupa yang dapat diserap orang banyak dengan pikiran maupun perasaannya. Dalam desain komunikasi visual dipelajari semua bentuk komunikasi yang bersifat visual seperti desain grafis, desain iklan, dan desain multimedia interaktif.  Promosi melalui Dunia Maya Pengunjung sebuah web ingin dimengerti keinginannya oleh penyedia informasi. Ini yang dimaksud dengan tantangan bagaimana sebuah desain

komunikasi dalam web dapat mudah dimengerti dan membantu pengunjung dalam berinteraksi dengan semua informasi mengenai sebuah produk yang ada. Desain komunikasi promosi melalui dunia maya sebaiknya dapat menyediakan anjuran (suggestion) kepada pengunjung dan bersifat periode atau mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan pada saat itu. Dengan demikian, para pengunjung dapat dengan mudah mencari informasi barang yang tepat atau berkaitan dengan apa yang diinginkan.  Pencetus Ide Baru Dalam komunikasi promosi sebaiknya produk yang akan diperkenalkan kepada pelanggan disampaikan dengan cara-cara atau teknik yang baru, sehingga tidak akan terjadi promosi yang bersifat monoton yang dapat menyebabkan pelanggan bosan terhadap produk yang dipromosikan. Jika dicetuskan ide-ide baru dalam penyampaian informasi mengenai produk, maka pelanggan akan cenderung setia pada produk tersebut.

11.6 Analisis Konsep dan Teknik Promosi Promosi menurut Swastha (2001:237) adalah informasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan-tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Kesimpulannya adalah promosi merupakan setiap bentuk komunikasi yang digunakan oleh pemasar untuk member informasi, membujuk, atau mengingatkan konsumen mengenai produk, jasa, gagasan, dan image agar konsumen dapat menerimanya dan melakukan perbuatan seperti yang dikehendaki dengan tujuan untuk meningkatkan volume penjualan. Kebijakan promosi menurut Kotler dan Armstrong (1995:212), terdiri dari empat alat utama, yaitu : 1. Advertising Yaitu untuk presentasi non personal dan promosi ide, barang atau jasa, oleh seorang sponsor yang dikenal dan dibayar. Contoh iklan antara lain : papan iklan, selebaran, poster, televisi, radio dan media cetak.

2. Sales Promotion Yaitu insentif atau hadiah jangka pendek untuk memperkuat pembelian atau penjualan suatu barang atau jasa. Contoh : pameran, potongan harga 3. Personal Selling Yaitu presentasi lisan di dalam pembicaraan dengan satu atau lebih calon pembeli untuk melakukan transaksi penjualan. Contoh : pertemuan penjualan, program insentif

Delapan Kesalahan Konsep Promosi "Hit and Run" dalam Bisnis Online Metode Hit and Run dalam bisnis online dilakukan untuk memperoleh prospek sebanyak banyaknya dengan bahasa iklan yang “hype” atau dibesarbesarkan, kualitas produknya tidak seimbang dengan penawaran serta tidak melakukan follow up untuk menjamin apakah bisnis yang ditawarkan memiliki nilai guna bagi prospek (customer). Berikut akan dibahas delapan kesalahan konsep promosi Hit and Run yang sering dilakukan oleh pebisnis online. 1. Penggunaan gaya bahasa “hiperbola” yang sangat berlebihan. Gaya bahasa hiperbola sering dipakai oleh orang untuk menarik minat seseorang. Kesalahan fatalnya adalah mereka (pebisnis online) hanya fokus melakukan promosi sebanyak-banyaknya tanpa perduli minat seseorang. Akibatnya, mereka tidak memiliki prospek dan bisnis online yang mereka ikuti tidak berhasil mendatangkan keuntungan yang maksimal. 2. Informasi produk yang sedikit dan terlalu offensive. Isi sales letter terlalu membual dan cenderung melebih-lebihkan. Informasi tentang produk sangat sedikit dan kurang transparan. Kita harus hati-hati dengan bisnis online seperti ini karena tidak diberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh produk mereka. Biasanya, info atau syarat yang harus dipenuhi baru akan diberitahu setelah melakukan order atau pemesanan dengan membayar sejumlah uang ke rekening bank pengelola.

3. Tidak melakukan follow up. Follow up sangat penting untuk memberikan info lebih lanjut berkaitan dengan produk yang ditawarkan. Kebanyakan para reseller atau affiliate marketer pemula tidak melakukan follow up kepada calon prospek melalui email, sms, ataupun telepon karena terlalu fokus pada promosi dan promosi. Tentunya mereka akan kehilangan calon prospek dan bisnis online yang mereka tawarkan tidak ada gunanya. 4. Pengetahuan tentang internet marketing seadanya. Bisnis online di internet jauh lebih banyak yang menawarkan sistem “jaringan” ataupun mencari referral atau downline, program reseller, affiliasi, dan sebagainya. Selain itu juga tentunya penghasilan berasal dari downline, seberapa banyak memiliki downline, dan seberapa baik memelihara hubungan dengan prospek ataupun downline. Untuk itu, kita harus berhati-hati dengan para internet marketer (biasanya pemula) yang menawarkan suatu produk bisnis online tertentu. 5. Teror promosi iklan melalui email dan sms. Yang perlu diketahui, banyak sekali promosi-promosi iklan bisnis online yang dikirim berulang-ulang dengan judul dan isi yang sama. Isinya hanya keuntungan yang akan diraih bila anda bergabung dan mereka hanya meninggalkan URL ID Affiliasi atau referral mereka tanpa melakukan follow up lanjutan tentang informasi produk bisnis online yang mereka tawarkan. 6. Tidak menguasai produk bisnis online yang ditawarkan. Kesalahan fatal berikutnya adalah tidak menguasai materi ataupun sistem bisnis online yang ditawarkan. Sehingga para reseller ataupun affiliate marketer tidak berhasil meningkatkan nilai produk yang ditawarkan. Akibatnya, produk yang seharusnya memiliki nilai produk yang baik bisa menjadi buruk di mata calon prospek. Produk bisnis online yang baik adalah produk yang memiliki review yang baik, informatif dan tidak menjebak ketika mengambil keputusan untuk bergabung.

7. Menyembunyikan identitas pribadi. Banyak para pebisnis online yang menyembunyikan identitas pribadi mereka agar sulit dihubungi oleh calon prospek karena produk yang mereka tawarkan melalui iklan hanya berorientasi untuk menjaring prospek sebanyak-banyaknya. Jika menerima iklan promosi produk bisnis online tertentu, perhatikan informasi kontak mereka. 8. Salah sasaran Banyak para pebisnis online yang melakukan promosi iklan salah sasaran. Maksudnya, mereka melakukan promosi kepada seluruh kalangan (tidak mempedulikan minat seseorang) baik melalui iklan, email marketing, dan lain-lain. Hal tersebut merupakan kesalahan fatal terbesar yang dilakukan pebisnis online dan promosi mereka tidak akan berguna bagi kepentingan bisnisnya.

Analisis Teknik Promosi Dari penjelasan mengenai teknik promosi diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa setiap promosi yang dilakukan oleh pihak produsen kepada konsumen semata-mata hanya untuk meningkatkan kuantitas produk yang dijualnya. Dari peningkatan penjualan tersebut maka akan didapat keuntungan yang melimpah pula. Berbagai strategi perusahaan produk maupun jasa berlomba-lomba untuk meningkatkan promosi terhadap produk yang mereka tawarkan. Semakin kreatif sebuah produk ditawarkan semenaik mungkin, maka konsumen pun akan semakin tertarik untuk membeli produk tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita temui media promosi seperti dalam televisi, radio, media cetak, poster-poster yang tersebar luas dan masih banyak lagi. Apabila kita melihat di pasar, baik pasar swalayan maupun pasar tradisional, banyak produk yang memberikan promosi secara kasat mata, seperti pembelian beberapa produk dengan hadiah yang beraneka ragam, atau memberikan voucher belanja jika kita membeli produk tertentu dalam kelipatan tertentu pula. Dengan cara ini maka konsumen pun akan tertarik untuk membeli produk tersebut.

11.7 Tren Promosi Konvensional vs melalui Internet Adanya perubahan zaman menuntut perlunya perubahan dalam strategi pemasaran (promosi). Promosi dapat dilakukan melalui dua macam, yaitu konvensional dan melalui internet. Promosi konvensional misalnya iklan, direct marketing, dan sales promotion. Selain itu, seriring dengan perkembangan

teknologi, berkembang pula strategi promosi melalui internet. 11.7.1 Tren Promosi Konvensional Pada pemasaran konvensional, strategi pemasaran didominasi oleh iklan, hal itu karena hingga saat ini media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, televisi, dan radio masih terus berkembang. Perkembangan media massa tersebut juga karena kondisi kemajuan teknologi di Indonesia yang masih belum merata. Media promosi konvensional lainnya adalah poster dan pamflet. Poster terdiri dari billboard, baliho, spanduk, dan banner. Promosi melalui media ini biasanya dilakukan oleh perusahaan uang memiliki modal cukup besar. Sedangkan bagi perusahaan yang baru merintis usahanya, biasanya media promosi yang digunakan adalah pamflet. Yang termasuk ke dalam pamflet adalah:  Booklet, yaitu sebuah buku mini yang berisikan panduan penggunaan atau spesifikasi suatu produk. Booklet merupakan sarana beriklan secara tidak langsung.  Katalog, yaitu media promosi yang berisikan daftar produk dimana tertera juga spesifikasi juga harga sehingga memudahkan konsumen untuk bisa memilih produk mana yang sesuai keinginan dan anggaran biayanya.  Leaflet, yaitu media promosi yang berbentuk lipatan, berisikan informasi lengkap baik berupa gambar ataupun tulisan. Karena bentuknya lipatan, pembuatan leaflet biasanya memperhatikan sisi psikologi orang membuka leaflet, sehingga desainnya pun dibuat untuk memudahkan orang menerima informasi yang ada pada leaflet tanpa terlalu banyak membolak-balik leaflet.  Flyer, yaitu media promosi yang tidak jauh berbeda dengan leaflet namun tidak berbentuk lipatan dan biasanya dibuat dalam jumlah besar

dan berbiaya murah.

Flyer

yang baik akan didesain dengan

memperhatikan kaidah eye catching dan memorable.  Kartu nama, yaitu salah satu media promosi berisiskan informasi berisi nama, alamat, nomor kontak, institusi, dan lain sebagainya. Saat ini juga berkembang srtategi promosi konvensional yaitu dengan membangun komunitas. Promosi ini marak dilakukan merek-merek internasional ternama, seperti Nike. Pada tahun 2009 Nike melakukan promosi dengan cara „memanjakan‟ para pelari wanita dari berbagai kota di San Francisco yaitu memberikan berbagai pelayanan kecantikan dan kesehatan di Nike Expotique, semacam galeri milik Nike. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para pelari wanita tersebut akan menceritakan kenangan manisnya kepada masyarakat daerah asal mereka. Hal tersebut merupakan kegiatan promosi yang efektif dengan cara merangkul komunitas utuk mendapatkan promosi getok tular atau disebut word of mouth. 11.7.2 Tren Promosi melalui Internet Media yang saat ini berkembang dengan pesat adalah internet. Melakukan promosi melalui internet merupakan cara yang bagus untuk memasarkan produk (promosi), terutama melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, kaskus, dan masih banyak lagi. Penggunaan media internet ialah penggunaan media „many-to-many‟ dimana banyak orang bisa memasukkan informasi untuk diterima banyak orang lainnya, dan bisa terjadi interaksi langsung di sana, baik dalam bentuk jejaring sosial, surat elektrik, atau forum online maupun chat room. Namun untuk sebuah situs (www) bukanlah menggunakan prinsip „many-to-many‟, namun „one-to-many‟ atau bahkan lebih personal yaitu „one-to-one‟ sehingga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan promosi konvensional, yang berbeda adalah medianya. Kelemahan melakukan promosi melalui internet adalah jangkauan penggunaan yang belum luas dan belum merata, khususnya di wilayah Indonesia. Pengguna internet hanya berada pada wilayah yang maju, misalnya wilayah perkotaan. Namun dibalik kelemahannya, banyak keuntungan yang dapat diperloleh dengan melakukan promosi melalui internet, yaitu :  Lebih interaktif dibandingkan dengan promosi konvensional.

Biaya

promosi

lebih

murah

dibandingkan

dengan

promosi

konvensional, misalnya dengan personal selling atau direct selling karena tidak ada biaya sumber daya manusia yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan feed back dari konsumen.   Tampilan yang aplikatif dan interaktif akan lebih menarik minat masyarakat untuk menelusuri promosi yang dilakukan. Proses transaksi antara konsumen dengan produsen yang lebih mudah, cepat dan langsung dengan sistem yang tepat. Contohnya saja, sebuah situs interaktif untuk produk minuman isotonik MIZONE dengan campaign-nya “Penakluk Hujan”. Produk tersebut tentunya memiliki media promosi konvensional seperti iklan televisi, kemudian jaringan penjual eceran yang meluas, tak jarang nama brand mereka makin sering kita dengar dari para penjual di stasiun, halte bus, dan tempat-tempat umum lainnya. Namun, untuk pemasaran modern atau baru sendiri mereka juga menciptakan sebuah situs interaktif bernama mizone.co.id. Di dalam situs tersebut terdapat aplikasi-aplikasi permainan yang menarik untuk diikuti, sehingga khalayak bisa menikmatinya dan melupakan bahwa sebenarnya itu adalah sarana promosi online. (Fika Farikha, 2010)

DAFTAR PUSTAKA
Susilo, Joko. 2008. Teknik Promosi Apa yang Terbaik, SEO atau PPC?. Diakses melalui http://www.jokosusilo.com/2008/12/18/teknik-promosi-apa-yang-

terbaik-seo-atau-ppc/ pada tanggal 7 Desember 2010

. 2008. Apa Kelebihan dan Kekurangan Iklan PPC disbanding SEO?. Diakses melalui http://www.jokosusilo.com/2010/08/01/apa-kelebihandan-kekurangan-iklan-ppc-dibanding-seo/ pada tanggal 7 Desember 2010

Harraiman, Eric. 2009. Marketing Communication MIX dan IMC Produk Minuman Isotonik (Mizone). Diakses melalui Communication-MarketingMix-IMC-Integrated-Marketing-Communication.doc Desember 2010 pada tanggal 7

Universitas Petra. 2006. Landasan Teori Konsep Promosi. Diakses melalui http://www.iklan_televisi-chapter2.pdf pada tanggal 7 Desember 2010

Fardianto, Rino. 2010. 8 (Delapan) Kesalahan Konsep Promosi Hit and Run dalam Bisnis Online. Diakses melalui http://www.(Delapan) Kesalahan Konsep Promosi Hit and Run dalam Bisnis Online.Online Business Shared.html pada tanggal 7 Desember 2010

Iskandar, Ridwan. 2010. Pengertian Promosi Penjualan diakses melalui http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/263-pengertian-promosi penjualan.pdf pada tanggal 7 Desember 2010

Ns, Nurdian. 2008. Teknik Komunikasi di Dalam Dunia Promosi. Diakses melalui http://www.scribd.com/doc/10666872/Teknik-Komunikasi-Di-DalamDunia-Promosibindonesia pada tanggal 7 Desember 2010

Anonim. 2010. Promosi FIFA 2010 Dongkrak Penjualan Coca Cola . Diakses melalui http://www.antaranews.com/berita/1272927477/promosi-fifa-2010dongkrak-penjualan-coca-cola pada tanggal 7 Desember 2010

Seto Wahju Wibowo, Indiwan. 2008. Sejarah Teori Komunikasi. Diakses melalui http://indiwan.blogspot.com/2008/08/sejarah-teori-komunikasi.html tanggal 28 September 2010 Diakses melalui http://noshit4ever.blogspot.com/2008_03_22_archive.html pada tanggal 22 Oktober 2010 pada

Anonim.

.Gaya

Negosiasi

Anda.

Diakses

melalui

http://www.conflictanddevelopment.org/data/PCF%20material/CRT/peace/ Bab%2015%20-%20Negosiasi_BB_pub_1.pdf pada tanggal 23 Oktober 2010

Satria.

2010.

Negosiasi.

Diakses

melalui

http://blog.beswandjarum.com/satria/2010/03/19/negosiasi/ pada tanggal 23 Oktober 2010

Heriyanto,

Dodik

S.N.,

2009.

Definisi

Arbitrase.

Diakses

melalui pada

http://dodiksetiawan.wordpress.com/2009/04/14/definisi-arbitrase/ tanggal 24 Oktober 2010

Nurudin. 2010. Archieve for the „Komunikasi Massa‟ Category. Diakses melalui http://nurudin.staff.umm.ac.id/category/mata-kuliah/komunikasi-massa/ pada tanggal 7 November 2010

Zulfikar, Achmad. 2010. Perkembangan Komunikasi Massa. Diakses melalui http://www.gudangmateri.com/2010/06/perkembangan-komunikasimassa.html pada tanggal 7 November 2010

Setiaman, Agus. 2008. Teori Efek Komunikasi Massa dari Melvin De Fleur. Diakses melalui http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/teori-efekkomunikasi-massa-dari-melvin-de-fleur/ pada tanggal 7 November 2010

Karlinah,

Siti.

2010.

Komunikasi

Massa.

Diakses

melalui

http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=articl e&id=97:skom-4315-komunikasi-massa&catid=29:fisip&Itemid=74 tanggal 7 November 2010 pada

Boedhi,

Bagus.

2009.

Efek

Komunikasi

Massa.

Diakses

melalui

http://bagusboedhi.blogspot.com/2009/03/efek-komunikasi-massakomunikasi-massa.html pada tanggal 7 November 2010

Anonim.

2010.

Etika

Komunikasi

Massa.

Diakses

melalui

http://mociphyta.student.umm.ac.id/2010/03/14/etika-komunikasi-massa/ pada tanggal 8 November 2010

Nanath.

2008.

Teori

Komunikasi

Massa.

Diakses

melalui

http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/teori-komunikasi-massa/ pada tanggal 8 November 2010

Marhaifa. 2009. Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi. Diakses melalui http://marhaifa.wordpress.com/2009/03/15/sejarah-perkembangan-ilmukomunikasi/ pada tanggal 28 September 2010

Syumanda, Rully.

. Revolusi Hijau Gagal Menyejahterakan Petani. Diakses

melalui http://bumiganesa.com pada tanggal 28 September 2010

Hilmiati, Nurul. 2009. Meninjau Kembali Pendekatan Penyuluhan Pertanian Kita Menuju Komunikasi Partisipatif . Diakses melalui http://www.sasak.org pada tanggal 28 September 2010

Diakses melalui http://kuliah.dagdigdug.com/2008/04/22/komponen-konseptualdan-jenis-jenis-teori-komunikasi/ pada tanggal 28 September 2010

Diakses melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi pada tanggal 28 September 2010

Diakses

melalui

http://kangarul.com/model-dan-level-teori-komunikasi/pada

tanggal 28 September 2010

PEPAK Pustaka Teknik Berkomunikasi.htm

Etika Komunikasi Massa « Ekspresi Datang berseri, Pulang membawa ilmu.htm

Komponen Komunikasi Komunikasi dan Konseling LUSA.htm

/Etiket Etika Dalam Berkomunikasi Komunikasi & Pengertian Etika Etiket Sosiologi Organisasi.Org.htm

/Etika Berkomunikasi.htm

Proses Belajar-Pembelajaran Suatu Proses Komunikasi Labschool Jakarta.htm

Diakses

melalui

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/komunikasi-

interpersonal-definisi.html pada tanggal 10 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://tukangbisnis.com/komunikasi-interpersonal-yang-

efektif.html pada tanggal 10 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_interpersonal

pada

tanggal 10 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19568/4/Chapter%20II.pdf pada tanggal 10 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://www.scribd.com/doc/12749225/Hamdanmodel-

Kumunikasi-Interpersonal pada tanggal 10 Oktober 2010

Bulu, Yohanes G. 2010. Peran Komunikasi Interpersonal Dalam Keputusan Adopsi Inovasi Teknologi Pertanian. Diakses melalui

http://magammar.blogspot.com/2010/01/peran-komunikasi-interpersonaldan.html pada tanggal 11 Oktober 2010

CV Karya Bersama. 2010. Kelebihan dan Kekurangan media komunikasi kelompok. Diakses melalui http://cvkaryabersama.blogspot.com pada

tanggal 19 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://highered.mcgrawpada tanggal 19

hill.com/sites/dl/free/0073385026/228359/intersys.pdf Oktober 2010

Diakses

melalui

http://cvkaryabersama.blogspot.com/2010/05/kelebihan-dan-

kekurangan-media_31.html pada tanggal 19 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://www.wacananusantara.org/2/677/Kulkul;%20Alat%20Komunikasi% 20Kelompok%20Masyarakat%20Tradisional%20Bali?mycustomsessionna me=f9a1628b0fc6599fee13698d94566705 pada tanggal 19 Oktober 2010

Diakses melalui http://massofa.wordpress.com/2008/03/31/sistem-komunikasikelompok/ pada tanggal 19 Oktober 2010

Alim, Muhammad Baitul. 2010. Pengertian Budaya Organisasi. Diakses melalui http://www.psikologizone.com/pengertian-budaya-organisasi pada tanggal 19 Oktober 2010

Redaksi Indonesia. 2009. Kelompok Militan Delta Niger: Kekerasan Bagian Budaya Kami. Diakses melalui http://www.rnw.nl/bahasa-

indonesia/article/kelompok-militan-delta-niger-kekerasan-bagian-budayakami pada tanggal 19 Oktober 2010

Zka. 2007. Negosiasi : Suatu Pengantar Teori Praktis. Diakses melalui http://www.ahmadzakaria.net/blog/2007/05/02/negosiasi-suatu-penantarteori-praktis/ pada tanggal 22 Oktober 2010

Anonim.

2010.

Government

Relations.

Diakses

melalui

http://kuliahkomunikasi.com/ pada tanggal 22 Oktober 2010

ILO.

2010.

Konflik

Agraria

Bayangi

Petani.

Diakses

melalui

http://nasional.kompas.com/read/2010/09/24/13525217/Konflik.Agraria.Ba yangi.Petani pada tanggal 22 Oktober 2010

Tata Batas Perkebunan dan Aset Pemda Belum Jelas. Diakses melalui Pikiran Rakyat Online.html pada tanggal 22 Oktober 2010

Diakses

melalui

http://noshit4ever.blogspot.com/2008/03/latar-belakang-teori-

negosiasi.html pada tanggal 22 Oktober 2010

Diakses melalui http://mahmedpujangga.blogspot.com/2010/04/pengantar-ilmunegosiasi.html pada tanggal 22 Oktober 2010

Hutri 2010 model komunikasi searah dan model komunikasi dua arah Diakses melalui http://hutriselalueksis.wordpress.com/2010/06/10/model-

komunikasi-searah-dan-model-komunikasi-dua-arah/ November 2010

pada

tanggal

14

Rio Herlambang 2009 Komunikasi Konvergen ala Wilbur-Schramm Diakses melalui http://rioherlambang.blogspot.com/2009/05/komunikasi-konvergenala-wilbur-schramm.html pada tanggal 14 November 2010

Moringa Medusa 2010 Fenomena Konvergensi Media. Diakses melalui http://moringamedusa.blogspot.com/2010/04/fenomena-konvergensimedia.html pada tanggal 14 November 2010

Imran, Hasyim Ali. 2007. Coordinated Management Of Meaning (CMM). Diakses melalui http://imran2001.multiply.com/journal/item/4/CMM_Theory pada tanggal 14 November 2010

Anonim.

.

Model

Komunikasi.

Diakses

melalui

http://www.scribd.com/doc/21215557/Model-Komunikasi pada tanggal 16 November 2010

Anonim. Handout Komunikasi. Diakses melalui http://indosdm.com/teambuilding-training-handout-komunikasi pada tanggal 16 November 2010

Zulharman. 2008. Sekarang Zaman Hypermedia Bung! . Diakses melalui http://zulharman79.wordpress.com/2008/02/28/sekarang-zamanhypermedia-bung/ pada tanggal 23 November 2010

Qomariyah, Astutik Nur. Remaja di

. Perilaku Penggunaan Internet pada Kalangan Perkotaan. Diakses melalui

http://palimpsest.fisip.unair.ac.id/images/pdf/astutik.pdf pada tanggal 23 November 2010

Putra, Afdal Makkuraga.

. Media dan Model Komunikasi. Diakses melalui

http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/41036-2566298417087.doc pada tanggal 23 November 2010

Liliweri, Alo. melalui

. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Diakses

http://books.google.co.id/books?id=U1ckHCx7nYC&pg=PA118&lpg=PA1 18&dq=gaya+komunikasi+antar+budaya&source=bl&ots=K6L7ymhrBG& sig=Hrzao1DpoqQDV8hS6GAHyt6IEhQ&hl=id&ei November 2010 pada tanggal 30

Wawan.

2008.

Apa

Itu

Komunikasi

Antar

Budaya.

Diakses

melalui

http://wa2npo3nya.blogspot.com/2008/02/apa-itu-komunikasi-antarbudaya.html pada tanggal 30 November 2010

Nurhasanah.

2010.

Komunikasi

Antar

Budaya.

Diakses

melalui

http://nurhasanahnana.wordpress.com/2010/04/07/komunikasi-antarbudaya/ pada tanggal 30 November 2010

Natalia, Imanuel Virgini Olaga. 2007. Model Komunikasi Antar Budaya Ekspatriat Guangdong Machinery Exp.Imp.Ltd. China (Gmc) dengan Orang Indonesia dalam Rangka Menjalin Kerjasama dengan Orang Indonesia di Surabaya. Diakses melalui

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/iko/article/viewFile/16676/1666 8 pada tanggal 30 November 2010

Siburian, Robert. Diakses

. Etnis Cina di Indonesia Fakta Komunikasi Antar Budaya. http://pensa-sb.info/wp-content/uploads/2010/11/Etnis-

melalui

Cina-di-Indonesia.pdf pada tanggal 30 November 2010

Anonim.

. Komunikasi Antar Budaya; Definisi dan Hambatannya. Diakses

melalui http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budayadefinisi-dan.html pada tanggal 30 November 2010

Cahyono, Rise. 2010. Peningkatan Pemahaman Etnisitas. Diakses melalui http://risecahyono.blogspot.com/2010/03/peningkatan-pemahamanetnisitas-melalui.html pada tanggal 30 November 2010

Farikha, Fika. 2010. Pemasaran Konvensional dan Pemasaran Modern. Diakses melalui http://ibreakmoment.wordpress.com/2010/02/26/pemasaran-

konvensional-dan-pemasaran-modern/ pada tanggal 6 Desember 2010

Admin. 2009. Membangun Komunitas, Strategi Pemasaran Baru yang Kian Konvensional. Diakses melalui http://swa.co.id/2009/03/membangun-

komunitas-strategi-pemasaran-baru-yang-kian-konvensional/ pada tanggal 6 Desember 2010

Andi.

2010.

Macam-macam

Media

Promosi

(1).

Diakses

melalui

http://andy.web.id/macam-macam-media-promosi-1.php pada tanggal 7 Desember 2010

.

2010.

Macam-macam

Media

Promosi

(2).

Diakses

melalui

http://andy.web.id/macam-macam-media-promosi-2.php pada tanggal 7 Desember 2010

Tirta, Anton. 2008. Definisi/Pengertian Promosi, Fungsi/Tujuan & Bauran Promosi / Promotional Mix Produk. Diakses melalui

http://dhanialfirdaus.wordpress.com/2008/11/06/definisipengertianpromosi-fungsitujuan-bauran-promosi-promotional-mix-produk/ tanggal 7 Desember 2010 pada

Ariyanto. 2008. Jenis Usaha yang Tepat untuk Teknik Promosi Jemput Bola?. Diakses melalui http://arsipbisnis.wordpress.com/2008/09/21/jenis-usahayang-tepat-untuk-teknik-promosi-jemput-bola/ pada tanggal 7 Desember 2010

SGD.

2008.

Maju

Bermodal

Inovasi.

Diakses

melalui pada

http://community.siutao.com/entry.php/104-Maju-bermodal-inovasi tanggal 7 Desember 2010

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful