Konsep Dasar Profesi Keguruan (pengertian dan syarat-syarat

)

A. Pengertian Profesi Keguruan Istilah profesi dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menunjukkan tentang pekerjaan seseorang.Seseorang yang bekerja sebagai dokter,dikatakan pekerjaannya sebagai dokter dan orangyang pekerjaannya mengajar dikatakan profesinya sebagai guru.Jadi istilah profesi dalam konteks ini sama artinya dengan pekerjaan atau tugas yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Keragaman dalam memahami istilah profesi dalam kehidupan sehari-hari mengidentifikasikan perlunya suatu pengertian yang dapat menegaskan kriteria suatu pekerjaan sehingga dapat disebut sebagai suatu profesi.Artinya,tidak semua pekerjaan atau tugas yang dilakukan dapat disebut sebagai profesi.Pekerjaan-pekerjaan yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang disebut sebagai suatu profesi. Secara etimologi, istilah profesi berasal dari bahasa inggris yaitu profession atau bahasa Latin , profecus yang artinya mengakui,adanya pengakuan,menyatakan mampu,atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara Terminologi,profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrument untuk melakukan pebuatan praktis, bukan pekerjaan manual (Danin,2002). Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok yaitu pengetahuan,keahlian,dan persiapan akademik. Menurut Ornstein dan Levine (1984) bahwa suatu pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi bila pekerjaan atau jabatan itu dilakukan dengan: 1. Melayani masyarakat 2.Melakukan bidang ilmu dan keterampilan 3. Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori kepraktik 4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang 5. 6. Terkendali berdasarkan lisensi baku atau mempunyai persyaratan masuk

Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan tampilan untuk kerjanya berhubungan dengan layanan yang diberikan.

dkk (1991) adalah sebagai berikut: 1. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai professional itu sendiri 7.jabatan yang memerlukan kegiatan profisisonal yang lama. Jabatan yang menggeluti batang tubuhilmu yang khusus 3. Syarat-syarat profesi keguruan National Education Association (Sucipto. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas sistematis dan eksplisit.jabatan yang menentukan baku sendiri.jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang bersinambungan.bukan habya sekedar pendapat khalayak umum. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi social yang menentukan 2. 6. B. Jabatan mempunyai prestisi yang tinggi yang tinggi dalam masyarakat. Berperan teguh oada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi. Dalam praktiknya melayani masyarakat anggota profesi otonom dan bebas dari campur tngan orang lain 9. Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama .yaitu :jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual. Keterampilan /keahlian yang dituntut jabatan itu dapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah 4. Jabatan yang menuntut keterampilan /keahlian tertentu. Gambaran rinci tentang syarat-syarat jabatan guru tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Cirri-ciri utama susatu profesi menurut Sanusi.dan jabatan yang mempunyai organisasi profesi yang kuat dan terjalin erat. 3. 8.1994) menyusun sejumlah syarat atau criteria yang mesti ada dalam jabatan guru.jabatan menjanjikan karir hidupdan keanggotaan yang permanen. Jabatan yang melikatkan kegiatan intelektual 2.Menelaah pengertian profesi tersebut. jabatan yang menggelutisuatu batang tubuh ilmu yang khusus .& Abimanyu.kosasi. dapat dipahami bahwa profesi adalah pekerjaan atau jabatan khusus yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat. 5.

lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan pelaku profesi tersebut dengan standar kualitas akademik yang bertanggung jawab. serta dedikasi yang tinggi. organisasi profesi. Ciri-ciri profesi. etika dan kode etik profesi. Hal ini dimungkinkan karena jabatan guru hanya dapat diperoleh pada lembaga pendidikan yang lulusannya menyiapkan tenaga guru. 5. standar unjuk kerja. kode etik dan ada aturan tentang jabatan fungsional guru (SK Menpan No.4. pengakuan masyarakat. Profesi Keguruan Pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi 8. sistem imbalan. 6. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang bersinambungan 5. . adanya organisasi profesi. Walaupun ada yang berpendapat bahwa guru adalah jabatan semiprofesional. 26/1989). 2. Keahlian diperoleh dari lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan. 4. yaitu adanya: 1. namun sebenarnya lebih dari itu. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin erat Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan/menuntut keahlian (expertise). Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen 6. 3. Jabatan yang menentukan baku (standarnya) sendiri 7. menggunakan teknik-teknik ilmiah.

Pada masa sekarang ini LPTK menjadi satu-satunya lembaga yang menghasilkan guru.Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar lagi karena uniknya profesi guru. Setelah PGRI yang menjadi satu-satunya organisasi profesi guru di Indonesia. Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen. 7. 1. Kebutuhan ini meningkat dengan adanya lembaga pendidikan yang menghasilkan calon guru untuk menghasilkan guru yang profesional. 5. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama (dibandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka). dan lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga guru sehingga ada sertifikasi guru melalui Akta Mengajar. Latar Belakang Profesi Keguruan Jabatan guru dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan tenaga guru. Jabatan yang menentukan baku (standarnya) sendiri. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan. Walaupun jabatan profesi guru belum dikatakan penuh. kemudian berkembang pula organisasi guru sejenis (MGMP). organisasi profesi yang semakin baik. Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. pengakuan profesi guru. namun kondisi ini semakin membaik dengan peningkatan penghasilan guru. 2. Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi. 8. personal dan sosial. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual. Organisasi profesi berfungsi untuk menyatukan gerak langkah anggota profesi dan untuk meningkatkan profesionalitas para anggotanya. 3. 4. . Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi seperti kompetensi profesional. Ciri-ciri Profesi Keguruan Ciri-ciri jabatan guru adalah sebagai berikut. 6. Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.

yang ketiganya berupaya untuk meningkatkan perkembangan siswa secara optimal. 2. 5. . Mampu menjalin hubungan insani. 6. yaitu terdiri atas (1) layanan administrasi pendidikan. 3. Kreatif dan inovatif dalam berkarya. 10. Memahami kelebihan dan kekurangan diri. Sabar dalam menjalani profesi keguruannya. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian merupakan sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan pribadi dengan segala karakteristik yang mendukung terhadap pelaksanaan tugas guru. Memahami tujuan pendidikan. Percaya kepada diri sendiri. Ruang lingkup profesi guru dapat pula dibagi ke dalam dua gugus yaitu gugus pengetahuan dan penguasaan teknik dasar profesional dan gugus kemampuan profesional. Tenggang rasa dan toleran. Bersikap terbuka dan demokratis. Mengembangkan diri bagi kemajuan profesinya. 7. Kompetensi Sosial Guru Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. 8. (2) layanan instruksional. 4. 9.Ruang Lingkup Profesi Keguruan Ruang lingkup layanan guru dalam melaksanakan profesinya. 1. dan (3) layanan bantuan. Beberapa kompetensi kepribadian guru antara lain sebagai berikut.

2. 1. Pengelolaan program belajar-mengajar. 5. bidang studi yang dibinanya. Pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar.Peran yang dibawa guru dalam masyarakat berbeda dengan profesi lain. 4. 2. antara lain berikut ini. 8. Menguasai metode berpikir. Pandai bergaul dengan Kawan sekerja dan Mitra Pendidikan. Oleh karena itu. . Kemampuan menilai prestasi belajar-mengajar. perhatian yang diberikan masyarakat terhadap guru pun berbeda dan ada kekhususan terutama adanya tuntutan untuk menjadi pelopor pembangunan di daerah tempat guru tinggal. Penguasaan Bahan Pelajaran Beserta konsep-konsep. 3. Memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan di sekolah. 7. Pengelolaan kelas. Beberapa komponen kompetensi profesional guru adalah berikut ini. Komponen-komponen Kompetensi Profesional Kompetensi Profesional guru adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan profesi yang menuntut berbagai keahlian di bidang pendidikan atau keguruan. 4. 6. Penguasaan landasan-landasan kependidikan. Memahami Dunia sekitarnya (Lingkungan). Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua Peserta didik. 3. Beberapa kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru. sikap yang tepat tentang lingkungan PBM dan mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar. Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar guru dalam pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia. Dapat bekerja sama dengan BP3. 5. 1. Bersikap simpatik.

11. 18. Kemampuan penguasaan materi mempunyai kaitan yang erat dengan kemampuan mengajar guru. senantiasa kreatif dan inovatif dalam metode penyampaiannya. Guru yang menguasai bahan ajar akan lebih yakin di dalam mengajarkan materi. 13. Memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan. Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran. 19. Memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan. semakin dalam penguasaan seorang guru dalam materi/bahan ajar maka dalam mengajar akan lebih berhasil jika ditopang oleh kemampuannya dalam menggunakan metode mengajar. 10. Mampu bekerja berencana dan terprogram. 17. Mampu menyelenggarakan Administrasi Sekolah. Penguasaan materi seorang guru dilakukan dengan cara membaca buku-bulu pelajaran. Keputusan Situasional dan Transaksional . Memahami kurikulum dan perkembangannya. 15. Penguasaan bahan ajar dapat diawali dengan mengetahui isi materi dan cara melakukan pendekatan terhadap materi ajar. Berani mengambil keputusan. Mampu memahami karakteristik peserta didik.9. Hubungan antara Penguasaan Materi dan Kemampuan Mengajar Penguasaan Materi menjadi landasan pokok seorang guru untuk memiliki kemampuan mengajar. Mampu menggunakan waktu secara tepat. 16. Meningkatkan kemampuan dan menjalankan misi profesional. 12. Memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik. 14.

Peran Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran dan Manajemen Kelas 1. . (d) rencana evaluasi. Keputusan transaksional diambil karena adanya perubahan situasi dan kondisi yang berkembang dalam melaksanakan PBM. (c) rencana kegiatan. Rancangan pembelajaran harus dikembangkan atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang berorientasi kepada perkembangan siswa. waktu serta fasilitas yang tersedia dan perilaku bawaan siswa). Peran Guru dalam Pengembangan Rancangan Pembelajaran Proses pembelajaran merupakan proses inkuiri dan reflektif. Perkembangan adalah tujuan pembelajaran. Rancangan pembelajaran baik rancangan jangka pendek maupun jangka panjang mencakup komponen-komponen: (a) Analisis kurikulum. Pembelajaran yang efektif terwujud dalam perubahan perilaku peserta didik baik sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. bahan yang akan disampaikan. (b) tujuan instruksional. yang menekankan pentingnya pengalaman dan penghayatan guru terhadap proses itu. Keputusan situasional diambil guru ketika menyusun persiapan tertulis dalam bentuk satuan pelajaran (satpel).Keputusan situasional menyangkut keputusan tentang apa dan bagaimana pengajaran akan diwujudkan berdasarkan analisis situasi (tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran berlangsung dalam suatu adegan yang perlu ditata dan dikelola menjadi suatu lingkungan atau kondisi belajar yang kondusif. Keputusan transaksional merupakan penyesuaian yang dilakukan oleh guru yang berkaitan dengan pelaksanaan dari keputusan situasional berdasarkan balikan yang diperoleh guru dari interaksinya dengan siswa maupun dari interaksi antar siswa dalam PBM yang sedang berlangsung.

Keduanya saling terkait. observasi. Masalah pengajaran dan manajemen kelas adalah dua hal yang dapat dibedakan tetapi sulit dipisahkan. Lingkungan belajar dikembangkan dan dipelihara dengan memperhatikan faktor keragaman dan perkembangan peserta didik. kognitif. tes. pribadi. analisis kesenjangan. dan memandang manajemen kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan dan memelihara lingkungan belajar yang efektif. 4. dan penilaian efektivitas strategi. 5. Manajemen kelas dikembangkan melalui tahap-tahap: perumusan kondisi ideal. manajemen kelas merupakan prasyarat bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. 3. analisis. dan kerja sama sekolah dengan orang tua.2. Informasi yang diperlukan untuk kepentingan evaluasi dijaring dengan teknik-teknik inkuiri. dan sosial mempunyai implikasi penting bagi proses pembelajaran. Aspek-aspek perkembangan siswa yang mencakup perkembangan fisik dan motorik. Pemilihan teknik yang digunakan didasarkan atas jenis informasi yang harus diungkap sehingga dalam suatu evaluasi bisa digunakan berbagai teknik sekaligus. Pengolahan hasil pengukuran atas hasil belajar dimaksudkan untuk mengevaluasi proses dan hasil belajar Peran Guru dalam Memahami Perkembangan Siswa sebagai Dasar Pembelajaran Selagi pembelajaran merupakan proses pengembangan pribadi siswa maka perkembangan siswa harus menjadi dasar bagi pembelajaran. Penataan lingkungan fisik kelas merupakan unsur penting dalam manajemen kelas karena memberikan pengaruh kepada perilaku guru dan peserta didik Peran Guru dalam Evaluasi Pembelajaran Evaluasi adalah proses memperoleh informasi untuk membentuk judgment dalam pengambilan keputusan. Implikasi itu menyangkut pengembangan isi dan strategi pembelajaran. pemilihan strategi. Pengertian dan Tujuan Bimbingan dan Konseling . Pendekatan pluralistik dalam manajemen kelas memadukan berbagai pendekatan.

Penyelenggaraan bimbingan itu. kedinamisan. (b) sasaran bimbingan adalah semua peserta didik. bimbingan berfungsi sebagai upaya (a) pemahaman. . (d) kemampuan peserta didik merupakan dasar bagi penentuan pilihan. dan (d) perbaikan. Penyelenggaraan bimbingan yang profesional harus mempedulikan asas-asas. akademik. Bimbingan diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip (a) individu atau peserta didik sedang berada dalam proses berkembang.1. intelektual. Asas. 4. 2. Fungsi. meliputi bidang-bidang pribadi. keahlian. dan (f) bantuan yang diberikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan peserta didik merealisasikan dirinya. Konseling diartikan sebagai “proses membantu individu (klien) secara perorangan dalam situasi hubungan tatap muka. sosial. Sebagai proses pemberian bantuan kepada individu (siswa). keterbukaan. sosial maupun moral-spiritual. dan Prinsip Bimbingan 1. 3. baik menyangkut aspek fisik. Konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan. (c) pengembangan. yang dipandang inti dari keseluruhan layanan bimbingan. Bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu individu atau peserta didik agar dapat mengembangkan kepribadiannya secara optimal. 3.(b) pencegahan. emosional. dan karier. Bidang dan Jenis-jenis Layanan Bimbingan 1. 2. Bimbingan dapat diartikan sebagai “proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal”. dan tut wuri handayani. (e) bimbingan merupakan bagian terpadu pendidikan. dalam rangka mengembangkan diri atau memecahkan masalah yang dihadapinya”. (c) mempedulikan semua aspek perkembangan. seperti kerahasiaan.

proses pendidikan dapat memfasilitasi berkembangnya aspek-aspek atau karakteristik pribadi siswa secara optimal. dan konseling kelompok Hubungan Bimbingan dengan Pendidikan Pendidikan akan terselenggara dengan baik. . informasi. sosial maupun karir. konseling perorangan. Membantu Siswa Bermasalah Masalah yang dihadapi siswa dapat dibedakan ke dalam masalah belajar dan masalah bukan belajar. kecuali hal-hal yang memerlukan penanganan khusus. tetapi sekaligus mengembangkan perilaku-perilaku efektif baik yang berkenaan dengan perilaku belajar. bimbingan dan konseling di sekolah lebih efektif menjadi bagian terpadu dari tugas guru BP. meliputi orientasi. pengajaran. penempatan dan penyaluran. Dalam proses pembelajaran di sekolah guru perlu menampilkan peran kepemimpinan dengan jalan menciptakan iklim atau suasana pembelajaran yang bermuatan/bernuansa bimbingan. Dalam proses pembelajaran itu guru berperan tidak hanya sebatas menyampaikan bahan ajar. pembelajaran. Akan tetapi biasanya masalah tersebut bermuara menjadi kesulitan belajar. tes kemampuan dasar. dan layanan pribadi siswa atau bimbingan. bimbingan kelompok. Bimbingan di sekolah dilaksanakan secara terpadu dalam proses pembelajaran. pengamatan kebiasaan belajar. Melalui bimbingan. Peran Kepembimbingan Guru dalam Pembelajaran di Sekolah Sesuai dengan sifat dan karakteristik perkembangan anak sekolah. Kesulitan belajar siswa dapat diidentifikasi dengan melakukan tes hasil belajar. apabila ditunjang oleh komponenkomponennya yang meliputi bidang kepemimpinan atau administrasi. pribadi. Jenis-jenis layanan bimbingan.2.

karir dan pengembangan pribadi. Ada beberapa teknik membantu siswa yang kesulitan belajar. Layanan responsif adalah layanan membantu murid mengatasi masalah atau mengembangkan perilaku yang menjadi kebutuhan pada saat ini dan harus segera dilayani. Layanan dasar umum adalah layanan yang diarahkan untuk membantu seluruh murid mengembangkan perilaku-perilaku yang harus dikuasai untuk jangka panjang. yaitu (1) pengajaran perbaikan. (5) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.Faktor-faktor yang menimbulkan kesulitan belajar bisa digolongkan ke dalam faktor eksternal dan internal. Layanan perencanaan individual diarahkan untuk membantu murid merencanakan pendidikan. (4) peningkatan keterampilan belajar. (3) peningkatan motivasi belajar. Pengembangan Program Bimbingan di Sekolah Ada 4 komponen inti dalam program bimbingan. . (2) Layanan responsif. yaitu (1) Layanan dasar umum. (2) pengayaan. (3) Layanan perencanaan individual. dan (4) Pendukung sistem.

dalam Kode Etik Pegawai Negeri Sipil itu digariskan pula prinsip-prinsip pokok tentang pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pegawai negeri. dapat dicantumkan beberapa pengertian kode etik.” Dalam penjelasan Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa dengan adanya Kode Etik ini. jabatan dokter. tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar kedinasan. Dengan demikian. Dari uraian tersebut kelihatan. bahwa kode etik merupakan pedoman sikap. Sebagai pedoman tingkah laku. Sebagai landasan moral. Tujuan Kode Etik Pada dasarnya tujuan merumuskankode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi profesi itu sendiri.Materi bab 3 Kode Etik Profesi Keguruan A. Basuni sebagai Ketua Umum PGRI menyatakan bahwa Kode Etik Guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru (PGRI. melainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di dalam masyarakat. Dari pendapat Ketua Umum PGRI ini dapat ditarik kesimpulan bahawa dalam Kode Etik Guru Indonesia terdapat dua unsur pokok yakni: 1. dan abdi masyarakat mempunyai pedoman sikap. Secara umum tujuan mengadakan kode etik adalah sebagai berikut: . penafsiran tentang kode etik juga belum memiliki pengertian yang sama. dan perbuatan dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari. arsitek. 1973). Norma-norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya dan larangan-larangan. Sebagai contoh. dan lain-lain yang merupakan bidang pekerjaan profesi mempunyai kode etik. tingkah laku. notaris. Sama halnya dengan kata profesi sendiri. tingkah laku. yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka. Dari urai ini dapat kita simpulkan. abdi negara. Pengertian Kode Etik Setiap profesi. Selanjutnya. bahwa kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. harus mempunyai kode etik profesi. pegawai negeri sispil sebagai aparatur Negara. antara lain sebagai berikut: Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian jelas menyatakan bahwa “Pegawai Negeri/Sipil mempunyai Kode Etik sebagai pedoman sikap. dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari-hari. guru. seperti telah dibicarakan dalam bagian terdahulu. 2. Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI XIII. B.

 Untuk meningkatkan mutu profesi Untuk meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat norma-norma dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya. agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remes terhadap profesi akan melarang. setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak-tanduk atauk kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia luar. kode etik juga sering kali disebut kode kehormatan. sehingga siapa-siapa yang mengadakan tarif di bawah minimum akan dianggap tercela dan merugikan rekan-rekan seprofesi. Dari segin ini.  Untuk meningkatkan pengabadian para anggota profesi Tujuan lain kode etik dapat juga berkaitan dengan peningkatan kegiatan pengabian profesi. Oleh karenya. sehingga bagi anggota profesi daapat dengan mudah megnetahui tugas dan tanggung jawab pengabdian dalam melaksanakan tugasnya. kode etik merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.  Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya Yang dimaksud kesejahteraan di sini meliputi baik kesejahteraan lahir (atau material) maupun kesejahteraan batin (spiritual atau mental). Untuk menjunjung tinggi martabat profesi Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau masyarakat. Kode etik juga sering mengandung peraturan-peraturan yang bertujuan membatasi tingkah laku yang tidak pantas atau tidak jujur bagi para anggota profesi dalam berinteraksi dengan sesama rekan anggota profesi. Dalam hal kesejahteraan batin para anggota profesi. kode etik umumnya memuat larangan-larangan kepada para anggotanya untuk melakukan perbuatanperbuatan yang merupakan kesejahteraan para anggotanya. kode etik umumnya memberi petunjuk-petunjuk para anggotanya untuk melaksanakan profesinya. . Oleh karena itu. Misalnya dengan menetapkan tarif-tarif minimum bagi honorium anggota profesi dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal kesejahteraan lahir para anggota profesi.

karena setiap anggota profesi yang melakukan pelanggaran yang serius terhdap kode etik dapat dikenakan sanksi. Dengan demikian. karena kode etik adalah landasan moral dan merupakan pedoman sikap. maka aturan yang mulanya sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku meningkat menjadi aturan yang memberikan sanksi-sanksi hukum yang sifatnya memaksa. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. bahwa ada kalanya negara mencampuri urusan profesi. maka diwajibkan kepada setiap anggota untuk secara aktif berpartispasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan-kegiatan yang dirancang organisasi. Apabila hanya demikian. seingga hal-hal yang semula hanya merupakan kode etik dari suatu profesi tertentu dapat meningkat menjadi peraturan hukum atau undang-undang. Kode etik suatu profesi hanya akan mempunyai pengaruh yang kuat dalam menegakkan disiplin di kalangan profesi tersebut. dan perbuatan maka sanksi terhadap pelanggaran kode etik akan mendapat celaan dari rekan-rekannya. C. penetapan kode etik tidak boleh dilakukan oleh orang secara perorangan. Sanksi Pelanggaran Kode Etik Sering ktia jumpai. dan jika dianggpakecurangan itu serius ia dapat dituntut di muka pengadilan. baik berupa sanksi perdata maupun sanksi pidana. Kode Etik Guru Indonesia Kode Etik Guru Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru . Penetapan Kode Etik Kode etik hanya dapat ditetapkan oleh suatu organisasi profesi yang berlaku dan mengikat para naggotanya. Pada umumnya. dan meningkatkan mutu profesi dan mutu organisasi profesi. E. menandakan bahwa organisasi profesi itu telah mantap. tingkah laku. menjaga dan memelihara kesejateraan para anggota. Apabila setiap orang yang menjalankan suatu profesi secara otomatis tergabung di dalam suatu organisasi atau ikatan profesional. maka barulah ada jaminan bahwa profesi tersebut dapat dijalankan seccara murini dan baik. melainkan harus dilakukan oleh orang-orang yang diutus untuk dan atas nama anggota-anggota yang bukan atau tidak menjadi anggota profesi tersebut. sedangkan sanksi yang dianggap terberat adalah si pelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi tertentu. D. Jika seseorang anggota profesi bersaing secara tidak jujur atau curang dengan sesama anggota profesinya. Penetapan kode etik lazim dilakukan pada suatu kongres organisasi profesi. jika semua orang yang menjalankan profesi tersebut tergabung (menjadi anggota) dalam organisasi profesi yang bersangkutan. Sebagai contoh dalam hal ini. Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi. meningkatkan pengabdian anggota profesi.

pertama dalam Kongres PGRI XVI tahun 1973. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengambangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdian Republik Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasardasar sebagai berikut: 1. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yangmenunjang berhasilnya proses belajarmengajar. Sebagaimana halnya dengan profesi lainnya. 5. semangat kekeluargaan. Organisasi Profesional Keguruan Seperti yang telah disebutkan salah satu kriteria jabatan profesional. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhdap pendidikan. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945.yang tersusun dengan baik dan sistematik dalam suatu sistem yang utuh dan bulat. bangsa dan negara. 8. bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhdapa Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional. 3. Fungsi Kode Etik Guru Indonesia adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menuunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan. Guru memelihara hubungan seprofesi. Bagi guru-guru di negara kita. dan kesetiakawanan sosial. jabatan profesi harus mempunyai wadah untuk meyatukan gerak langkah dan mengendalikan keseluruhan profesi. baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari di masyarkat. F. 4. Adapun teks Kode Etik Guru Indonesia yang telah disempurnakan tersebut adalah sebagai berikut: KODE ETIK GURU INDONESIA Guru Indonesia menyadari. dan kemudian disempurnakan dalam Kongres PGRI XVI tahun 1989 juga di Jakarta. 2. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. serta kemanusiaan pada umumnya. 9. yakni organisasi profesi. Kode Etik Guru Indonesia ditetapkandalam suatu konges yang dihadiri oleh seluruh utusan Cabang dan Pengurus Daerah PGRI dari seluruh tanah air. wadah ini telah ada yakni Persatuan Guru Republik Indonesia yang . 7. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. 6. maka Kode Etik Guru Indonesia merupakan alat yang amat penting untuk pembentukan sikap profesional para anggota profesi keguruan. Guru berbakti membimbing peserta didik untukmembentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.

Ini dapat dibuktikan dengan telah adanya wakil-wakil PGRI dalam badan legislatif seperti DPR dan MPR. PGRI didirikan di Surakarta pada tanggal 25 November 1945. baik di pusat maupun di daerah. sikap. dan (d) Misi kesejahteraan. Di samping PGRI sebagai satu-satunya organisasi guru-guru sekolah yang diakui pemerintah sampai saat ini. Oleh sebab itu. Salah satu tujuan PGRI adalah mempertinggi kesadaran. misi profesi. (b) Misi persatuan organisatoris. misi kesejateraan. dan kegiatan profesi guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka (Basuni. Sementara misi ketiga. Sayangnya. yaitu:(a) Misi politis/ideologi. Sebagian anggota PGRI yang sarjana mungkin juga menjadi anggota salah satu divisi dari ISPI. dan misi perasatuan/oranisasi lebih menonjol realisasinya dalam program-program PGRI. yang saat ini mempunya divisi-divisi antara lain: Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Himpunan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia )HSPBI). belum ada keterkaitan dan hubungan formal antara kelompok guru-guru dalam MGMP ini dengan PGRI. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini diatur dengan jadwal yang cukup baik. ada lagi organisasi profesional di bidnagn pendidikan yang harus kita ketahui juga yakni Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI). sehingga belum didapatkan kerja sama yang saling menunjang dan menguntungkan dalam peningkatan mutu anggotanya. belum tampak kiprah nyatanya dan belum terlalu melembaga. 1986). sebagai perwujudan aspirasi guru Indonesia dalam mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa. tetapi tidak banyak anggota ISPI staf pengajar di LPTK yang juga menjadi anggota PGRI. Kelihatannya. misalnya dalam merencanakan dan melakukan program-program penataran guru serta program peningkatan mutu lainnya. . ada organisasi guru yang disebut Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMP) sejenis yang didirikan atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan Nasional. Kebanyak kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu profesi biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan ulangtahun atau kongres. Selanjutnya. dan lain-lain. PGRI sampai saat ini masih mengandalkan pihak pemerintah.lebih dikenal dengan singkatan PGRI. Peranan yang lebih menonjol ini dapat kita pahami sesuai dengan tahap perkembangan bangsa dalam era orde baru ini. dari praktek pelaksanaan keempat misi tersebut dua misi pertama-misi politis/ideologis. Dalam kaitannya dengan perkembangan profesional guru. kelihatannya masih perlu ditingkatkan. Dalam pelaksanaan misi lainnya. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan profesional dari gur dalam kelompoknya masing-masing. Basuni menguraikan empat misi utama PGRI. Selain PGRI. atau melakukan penelitian ilmiah tentang masalah-masalah profesional yang dihadapi oleh para guru dewasa ini. Hubungan formal antara organisasi-organisasi ini dengan PGRI masih belum tampak secara nyata. mutu. (c) Misi profesi. PGRI belum banyak merencanakan dan melakukan program kualifikasi guru. Himpunan Sarjana Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN). peranan organisasi ini dalam peningkatan mutu profesional keguruan belum begitu menonjo.

3./               .3  !03/::388902  .3/.370854381   .3.. /.3:39:202-./.25747..7.5.3.3/.9.3.903202-.350302-.32032-:.3.93/.7:88007..3.9:  ./.7:2:2    .33/.7.30/.21...3-0..3...3-0..3 507.9.3..3249.7.3 01091   !0302-.. /./.39:2:7/20703.-0-07.3-0..:39:.3.3/.7    5033....3507-./.3.3..3   5033./:.3   503.3.:.3 .2-2-3.8.3.39:80:7:2:7/ 20302-..308:9...7 ..82...5.7..77/.3  .3.3 70854381.:20302-....3 .8.3507.947 1../.3 .3-0.350703..8.357-..3...3. /.: 507.7:8/:.3203.:.22-3.30-..35.8.39:2:7/203.30907.38.9.3503//.25..3 50703.3202-..8.8../:.33/..5/.3.3.308:9..7   50302-.7-8./.8-0.3:39:202-.3!747.3/$04./443..425430339/.7:2:2.39:88.3.947.339073.3.947 089073.9.9:  503.3./0-:9:..

f  f  [VW` ^[XW_ WYa^aSZ  9 °– f°    f½ ½€ ¾  ¾ ½   f  nfff° ff¯ f–f°   f  f¾ ¯ ¯½°f    ½€ ¾   °–f° ¯f° ©f ff°   °f¾ f¾  –  f°f° f°f°–¯ ½ff°  f°–½  ©ff° ½€ ¾ ¯ ¯½°f     f¯f f°f °–f° ff ½€ ¾ ¾ °   ½ °f€¾f°  °f°–    ©–f ¯ ¯ ¯ ½ °– f° f°– ¾f¯f   f–f n°  f½f nf°¯f° f½f ½ °– f°    f°fff°¾ f–f    . ° D° f°– ° f°– -¯  @f°   °f°– 9 ½  ½ –fff° © f¾ ¯ °fff° ff#9 –ff- – $½¯ ¯½°f ¾ f–f½ ¯f°¾f½ °–ff f°½  ff°  ff¯ f° f °f¾f° #ff¯½ °© f¾f°D° f°– ° f°– ¾  °fff° ff °–f° f f°f ° ½ –ff° – ¾¾½¾ f–ff½ff- –ff f ° –ff  f°f ¯f¾fff ¯ ¯½°f ½ ¯f° ¾f½  °–f f  f° ½  ff° ff¯ ¯ f¾f°ff° –f¾°f f° ff¯ ½ –ff°  ½ ¾ f f   f°©°f  ff¯    9 –ff - –  ½  –f¾f° ½f ½°¾½ ½°¾½½ °f°–½ f¾f°ff°–f¾ f°f°––°–©ff ½ –ff° –  ff° f½f f ¾¯½f°  ff    ¯ ½ff° ½ ¯f° ¾f½  °–f f  f° ½  ff°  ff¯ ¯ f¾f°ff°–f¾ f° ff¯ ½¾ f f   ff¯½ f½ ¯ ff°°– ¾9O  f¾°¾ f–f fD¯¯9¯ °fff° ff    ° ° ¾f ¯ ½ff° f° f¾f° ¯f f° ½ ¯f° °–f f – f–f 9 ff¯ ¯ f¾f°ff°½f°––f°½ °–f f°°f  ©f¾ f–f–%9 % f½ ° f½f fD¯¯ 9 ° f½f f  ¾¯½f° fff ff¯     ° ° ¾f   f½f f °¾ ½ f°     f–ff° f¾f°¯f     f–f½ ¯f°°–ff   f ff°  ¾   ff°  ff    ¾f ½€ ¾ f ff °¯f °¯f f°– f¾ ° ff° ¾ f½f°––f½€ ¾  ff¯¯ f¾f°ff°–f¾½€ ¾°f f° ff¯ ½°f  ¯f¾fff  -¯f °¯f  ¾  ¾ ½ °© ½ °© f– ½ff f°––f ½€ ¾  °f°– f–f¯f°f¯  f¯ f¾f°ff°½€ ¾°f f°ff°–f° ff°–f° f  °f°   °f° °f°– f½f f°–  f   ½  f ff f¾f°ff°   ¯  f  ¯ f°f° ©–f ¯ °f°– °–f ff°––f½€ ¾½f f¯¯°f ff¯½ –ff°¾ f f  ff¯¯f¾fff   @©f°   9f f f¾f°f©f°¯ ¯¾f°   ff¯¾f½€ ¾f ff° ½ °°–f°f°––f f°  ½ °°–f° –f°¾f¾ ½€ ¾ ¾ °    nff ¯¯ ©f° ¯ °–f ff°    f ff ¾ f–f   ..

¾f°f °–f° ¯ ° f½f° f€ f€ ¯°¯¯ f– °¯ f°––f ½€ ¾ ff¯ ¯ f¾f°ff° –f¾°f  ¾ °––f ¾f½f ¾f½f f°– ¯ °–f ff° f€  ff ¯°¯¯ ff° f°––f½  n f f° ¯ –f°  f°  f° ¾ ½€ ¾  ff¯ f  ¾ ©f ff° f° ½ff f°––f ½€ ¾     ¯¯°f ¯ ¯  ½ °© ½ °© ½fff°––f°f°¯ f¾f°ff°½€ ¾°f      ©–f ¾ °– ¯ °–f° °– ½ ff° ½ ff° f°– ©f° ¯ ¯ ff¾ °–f f f°–  f½f°f¾ff f©© f–½fff°––f½€ ¾ ff¯ ° f¾ °–f°¾ ¾f¯f f°f°––f ½€ ¾   O D°¯ °°–ff°½ °–f f f°½fff°––f½€ ¾ @©f° f°    f½f ©–f ff° °–f° ½ °°–ff°  –ff° ½ °–f f° ½€ ¾  ¾ °––f f– f°––f ½€ ¾ ff½f °–f° ¯ f¯ –° f –f¾ f° f°––°– ©ff  ½ °–f f° ff¯ ¯ f¾f°ff° –f¾°f    f °f      ¯ ¯¾f°   °f°   °f° f°– ½  ff°½fff°––f½€ ¾ ff¯¯ °©ff°f°–f¾°f    O D°¯ °°–ff°¯½€ ¾ D°¯ °°–ff°¯½€ ¾  ©–f¯ ¯f°¯f °¯f f°f°©f°f–f½fff°––f ½€ ¾¾ f ¾ff°¯ °°–ff°¯½ °–f f°½fff°––f°f    . O D°¯ °©°©°–°––¯ff f½€ ¾ ff¯ f °    f½f ¯ °©f–f ½f° f°–f° f°  ¾f° f ½f f ff ¯f¾fff  f–f ¯  f©f°–f°¾f¯½f¯ ¯f° f°– ° fff ¯ ¾ f f½½€ ¾ff°¯ ff°–  f °f  ¾ f½    ¾f ½€ ¾ ff° ¯ ff°–  f–f ° ° f f°  ff  ff° f°––f ½€ ¾f°– f½f¯ °n ¯ff°°f¯f f½€ ¾ f f½ °ff f¾ –°°   ©–f ¾ °–f ¾   ¯ff°    O D°¯ °©f–f f°¯ ¯ ff ¾ ©f ff°½fff°––f°f f°– ¯f¾   ¾ ©f ff°  ¾° ¯ ½ f  ¾ ©f ff° f %ff ¯f f% ¯f½°  ¾ ©f ff° f° %¾½f ff ¯ °f%  ff¯ f  ¾ ©f ff° f ½ff f°––f ½€ ¾     ¯¯°f ¯ ¯f ff°–f° ff°–f°  ½f f ½ff f°––f°f ° ¯ ff° ½  ff° ½  ff° f°– ¯ ½ff°  ¾ ©f ff° ½ff f°––f°f  .

O D°¯ °°–ff°¯–f°¾f¾½€ ¾ D°¯ °°–ff°¯–f°¾f¾½€ ¾ ¯ff f© f° ½f f¾ f½f°––f°¾ nfff€ ½f¾½f¾ ff¯ ¯ ¯ °f –f°¾f¾ ½€ ¾ f°  –ff°  –ff° f°– f°nf°– –f°¾f¾  f ff°  ¾  f½f f  ¾¯½f° ff ©f° ¾f ½€ ¾ ¯ °¾°    f ff ° ¯ °©°©°– °–– ¯ff f ½€ ¾  ¯ °©f–f f° ¯ ¯ ff  ¾ ©f ff° ½ff f°––f  ¯ °°–ff° ½ °–f f° f°––f ½€ ¾  f° ¯ °°–ff° ¯ ½€ ¾ f° ¯ –f°¾f¾ ½€ ¾  .

9 ° f½f°      f°f f½f  f½f°   ¾f –f°¾f¾ ½€ ¾ f°– f f° ¯ °–f ½ff °f––f°f  9 ° f½f°    f¯ ff° ½f f ¾f °– ¾ –f°¾f¾ ½€ ¾   °–f° ¯f°  ½ ° f½f°     f   ff°   f°– ¾ nff ½ f°–f°  ¯ f°f° f¾ ff°   f°– f°– f°– ¾ ° f° ff¾ °f¯f f°––f f°––f f°– f° ff  f ¯ °©f f°––f½€ ¾ ¾    ¾f½€ ¾f°fff°¯ ¯½°f½ °–ff°–f ff¯ ¯ ° –ff° ¾½°  ff°–f° ½€ ¾  ¾   ©f ¾ ¯f f°– f°– ¯ °©ff°f° ½€ ¾  ¾  –f °–%¯ °©f f°––f% ff¯–f°¾f¾½€ ¾f°– ¾f°–f°   ½f f ¾ f½ f°– f°– ¯ °©ff°f° ¾f ½€ ¾ ¾ nff ¯f¾  –f °–  ff¯ ¾f –f°¾f¾ffff°½€ ¾°f ¯ff fff f©f¯°f° ff½€ ¾ ¾  f½f ©ff°f° ¾ nnff¯° f° f f °f¾ f½f°––f½€ ¾f°–¯ ff°½ f°––ff°f°–¾ ¾  f½    f½f  °ff°¾f°¾    f°¾9 f°––ff°    °–f©¯½f  fff fff°f° –ff¯ °nf¯½¾f°½€ ¾ ¾ °––ff ff°–¾ ¯f f°f¯ ½ff°   f¾f½€ ¾  ° f½f¯ °°–f¯ °©f ½ ff°¯ff ° f°– ° f°–  ½f f f°f ¯f°  ¯ff ff° f°– ¯f°f ¾ f–f f° f¾f° ¯f f° ½ ¯f°°–ff¯ °°–f¯ °©f ff°f°–¯ ¯ f°¾f°¾ ¾f°¾¯f°–¾€f°f ¯ ¯f¾f  f ½f¾f°¾½  ff¯f½°¾f°¾½ f°f    f–f n° ff¯ f °  f ¾ ¾ f°– f°––f ½€ ¾ ¾f°– ¾ nff  f ©© ff nf°– °–f° ¾ ¾f¯f f°––f ½€ ¾°f  f° ©f f°––½f nf°–f°  ¾ ¾ f f½f °  ¯f ½ °–f f°  9f f ¯¯°f  f °f    f ff f° f¾f° ¯f f° ¯ ½ff° ½ ¯f° ¾f½  °–f f  f° ½  ff° ¯ff ¾f°¾  f f½ ½ f°––ff°    ff° ¯ ° f½f n ff° f  f°  f°°f  ¾ f°–f° ¾f°¾ f°– f°––f½   f f ff ¾ ½ f°––f  ff° f –f°¾f¾½€ ¾  ° ¯ °f° ff° ff–f°¾f¾½€ ¾ f¯f°f½     ° ° ¾f   ° ° ¾f f½f ¯¾f°¾ f–f¯½°f°°f °f f°°¯f °¯f½€ ¾– .

f°–  ¾¾° °–f° f f° ¾¾ ¯f ff¯ ¾f ¾¾ ¯ f°–  f° f  °–¾    ° ° ¾ff ff¾ f–ff° f¾f°¯f f°½ ¯f°°–ff¾ f½–f–f9 ff¯ ¯ °°ff° –f¾ ½ °–f f°°f ¾ f–f –  f  ff¯ ¯f½°  f ¾ f ¾ f ff¯   ½f°¾ f f ¯f¾ff  °–f° ¯f° ¯ff ° ° ¾f¯ ½ff°ff f°–f¯f½ °°–°½ ¯ °f°¾f½½€ ¾°f½fff°––f½€ ¾ –f°    f–f¯f°f f°f °–f° ½€ ¾ f°°f      ° ° ¾f  f½f° ff¯ ¾f °– ¾ f°– f    ¾  ¾f° .

f f°– f° 9 °–¾ f f 9 f ¾  f°f f  ½ f¯f ff¯°– ¾9OIf°  f° ¯ f° ¾ ¯½°ff° ff¯°– ¾9OIf° ©–f  fff   f½°  ¾     ° ° ¾f f°–  f ¾ ¯½°ff°  ¾  f ff ¾ f–f   @DD--   ° ° ¾f ¯ °f f  ff ½ °  f° f ff  f°– ½ °–f f°   f½f @f° f°– .ff ¾f  f°–¾f f°° –ff ¾ f ¯f°¾ff°½f f¯¯°f ° ° ¾ff°– ©f9f°nf¾f f° ¾ f½f fD° f°– ° f°–f¾f  f°––°–©ff ff¾ © °fnf nf9f¯f¾  ¯  f°  ½  ° ° ¾f  ½f°–– ° ¯ °°ff° ff°f °–f° ¯ ¯ ¯f° f¾f f¾f¾ f–f        f¯ ¯ ¯ °–½ ¾ f  °¯ ¯ °¯f°¾f° ° ¾f¾ °ff°– ©f9f°nf¾f    ¯ ¯ f°¯ f¾f°ff° ©©f°½€ ¾°f     ¾ff¯ ¯½  °€¯f¾ °f°–½ ¾ f  ¾ f–f ff°¯ ff° ¯ °–f° f°½ ¯ °ff°    ¯ °n½ff°¾f¾f°f¾ f¾ f f°ff°–¯ °°©f°– f¾°f½¾ ¾ f©f ¯ °–f©f    ¯ ¯ ff °–f° f °–f°f°–f¯  f°¯f¾fff¾ f°f° ¯ ¯ °f½ f°¾ f f°f¾ff°––°–©ff  ¾f¯f  f½½ °  f°    ¾ nff½ f  f° ¾f¯f ¾f¯f¯ °–f¯ f°–f° f°¯ °°–ff°¯ f°¯ff f ½€ ¾°f    ¯ ¯ ff °–f°¾ ½€ ¾ ¾ ¯f°–f  f–ff°  f° ¾ fff°f°¾¾f    ¾ nff ¾f¯f ¾f¯f¯ ¯ ff f°¯ °°–ff°¯–f°¾f¾9¾ f–f¾ff°f ½ ©f°–f° f°½ °–f f°    ¯ f¾f°ff°¾ –ff ©f¾f°ff°½ ¯ °f ff¯  f°–½ °  f°     –f°¾f¾9€ ¾°f –f°   ½ f°– f ¾ f°¾ff¾f f©f ff°½€ ¾°f ©f ff°½€ ¾f¾¯ ¯½°f f f ° ¯ ff° – f f°–f f° ¯ °– ° ff°  ¾ f° ½€ ¾  f° –f°¾f¾ ½€ ¾  f–– – ° –fff f f° ff ff°9 ¾ff° ½ ° ° ¾ff°– .

   °f °–f° ¾°–ff° 9  9  f°  fff ½f f f°––f  - ¯    ¾ f–f½ © f°f¾½f¾–° ° ¾f ff¯¯ © f°nf nf½ ©f°–f° f°–¾f   ff ¾f ©f° 9 f ff ¯ ¯½ °––  ¾f ff°  ¾f½  ¯  f°  –ff° ½€ ¾ – ¾ f ¯ °°–ff°  ¾ ©f ff° ¯  f % f¾°  %   f°©°f  f¾° ¯ °–ff° ¯½f ¯¾ f¯f9 f %f%.ff½ f©ff°%.¾fff.¾½€ ¾  f°% %.¾½ ¾ff°–f°¾f¾ %n%.9%¾ © °¾f°–  f° ff¾ f°©f° ½ ©f f ½ ©f f  ½f ¯ ° 9 °  f° -f¾°f  –f°¾f¾ ° ©f° ° ¯ °°–ff° ¯ f° ½€ ¾°f f – ff¯  ¯½°f ¯f¾°– ¯f¾°–   –ff°  –ff° ff¯  ¯½ ° f °–f° ©f f f°– n½ f  ff°–°f  ¯ f f   ff° f°  °–f°€¯ff°ff ¯½– – ff¯.9  9 f°f° f°–   ¯ °°© ° f½f f ½ff¯ ¾ ¾f °–f° ff½ ½  ¯ f°–f° f°–¾f ff¯ f  f°   ff¯ ½ f¾f°ff° ¯¾ f°°f  ¯¾  ¾ ©f ff°   ff°°f ¯f¾ ½  °–ff°   ¯ °ff ¯¾ –f ¯¾½€ ¾  ¯f¯½f½f°ff°f f° ¯ f¯  ¯ f–f   ff¯ ff°°f °–f° ½  ¯ f°–f° ½€ ¾°f –  9 ¾f¯½f ¾ff ° ¯f¾ ¯ °–f° ff° ½f ½ ¯ °f  ¯¾f°f ff¯ ¯  °nf°ff° f° ¯ ff° ½–f¯ ½–f¯ ½ °fff° – ¾ f ½–f¯ ½ °°–ff° ¯ f°°f  9 ¯ f°f ¯  °nf°ff° f° ¯ ff° ½–f¯ f€f¾–  ff ¯ ff° ½ ° f° ¯f  °f°– ¯f¾ff ¯f¾ff ½€ ¾°ff°– f f½  ½ff– f¾f°    f°f  –ff° f°– ff° °–f° ½ °°–ff° ¯ ½€ ¾ f¾f°f ff° ¾f¯ff° °–f°  –ff°  –ff° f°–f° ff °– ¾  f  ½¾f ¯f½°  f f    ¾ f    ½ f°f°–f°¾f¾° ff¯½ °°–ff°¯½€ ¾°f –f° ¯ –¯ °°©   ¾f¯½°–9¾ f–f¾f ¾f°f–f°¾f¾– –¾ ff°– f½ ¯ °f¾f¯½f¾ff ° f f–f°¾f¾–f°– ¾ .¾½¾$ – % %.¾  ¾ ©f ff°   ff°°f  f ½f  ½ f¾f°ff°  ¯½f ¯¾  ¾  f ¯¾ ½ f¯f ¯¾ ½¾$ –¾  f° ¯¾ ½ f¾ff°$f°¾f¾   ¯ °°©  f¾f¾°f ff¯ ½–f¯ ½–f¯ 9 ° f½f  f° °–f° ff f°ff f9 ff¯ f f° –¾f€¾ ½ 9 f° ...9° °–f°9    f° 9  f f f– –f°¾f¾ ½€ ¾°f   °f–° ½ °  f° f°– f¾ f  f ©–f f° ff° f©f°f 9 °  f° ° ° ¾f %9%  f°– ¾ff ° ¯ ¯½°f ¾ ¾ f°ff f°  ff° 9 –f¾ ¯ °–f° ° ° ¾f %9 %  ¯½°f° f©f°f  ¯°¾f¾ 9 °  f° ° ° ¾f %9-%  ¯½°f° f©f°f 9 °  f° ff¾f ° ° ¾f %9 %  f° f° f°   °–f° €¯f f°ff –f°¾f¾ –f°¾f¾ ° °–f° 9 ¯f¾ ¯ f¯½f ¾ nff °ff  ¾ °––f ¯  f½ff°  ©f¾f¯ff°–¾f°–¯ °°©f°– f°¯ °–°°–f° ff¯½ °°–ff°¯f°––f°f  f–f° f°––f9f°–¾f©f°f¯°–°©–f¯ °©f f°––f¾ff¾f ¾ f9  f½ f f°f f°––f9¾f€½ °–f©f 9@f°–©–f¯ °©f f°––f9   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful