You are on page 1of 9

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA ANAEROBIK


Dosen pembimbing : Ir. Herawati Budiastuti, M.Eng.Sc. Ph.D

Disusun oleh : Rendy Salam Setiawan Radisya Mahmudah Kelas : 3 C (07401056) (07401079)

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2010

I. Tujuan Percobaan a. Menentukan konsentrasi awal kandungan organik (COD) dalam umpan dan konsentrasi kandungan organik (COD) dalam effluent setelah percobaan berlangsung selama seminggu b. Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas

II. Dasar Teori Metode pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan metode pengolahan untuk air limbah yang mempunyai kandungan organic tinggi ( 2000 mg/L). Pada pengolahan air limbah anaerobik mikroorganisme pendekomposisi bahan-bahan organik dalam air limbah akan terganggu pertumbuhannya atau bahkan akan mati jika terdapat oksigen bebas (O2) dalam sistem pengolahannya.Pengolahan ini membutuhkan bakteri anaerobik yang pertumbuhannya sangat lambat dan dan penjagaan kondisi kedap oksigen bebas yang cukup ketat.Penjagaan kondisi kedap oksigen bebas membutuhkan penanganan khusus dan biaya yang tidak murah. Berdasarkan jumlah tahapan reaksi dalam pengolahan secara anaerobic terdapat dua macam system pengolahan yaitu Pengolahan satu tahap dan pengolahan dua tahap. Dalam pengolahan satu tahap semua reaksi pengolahan secara anaerobic yakni hidrolisis,asetogenesis, dan metanogenesis berlangsung dalam satu reactor.Sedangkan dalam Pengolahan dua tahap reaksi hidrolisis berlangsung dalam reactor pertama dan reaksi asetogenesis dan metanogenesis berlangsung dalam reactor kedua. Reaksi hidrolisis dijaga pada rentang pH 6,5 7 ,reaksi asetogenesis dan metanogenesis dijaga pada rentang 4,5 6,0.Dengan pemisahan tahap reaksi yang berlangsung pada rentang pH yang berbeda maka pada pengolahan dua tahap diharapkan akan terjadi pengolahan air limbah dengan efisiensi yang lebih tinggi. Untuk mengetahui kuantitas mikroba tersuspensi pendekomposisi atau pendegradasi air limbah maka ditentukan dengan mengukur kandungan padatan tersuspensi yang mudah menguap( mixed liquor volatile suspended solids/MLVSS) dalam reactor. Konsentrasi biomassa atau organisma dinyatakan dalam mg/l VSS (Volatile Suspended Solid).Prinsip pengukuran berdasarkan gravimetri, yaitu analisa berdasarkan penimbangan berat dan dilakukan dengan cara penyaringan, pemanasan dan penimbangan.

III. Alat dan Bahan 3.1. Alat yang digunakan : Erlenmeyer 250 ml Botol semprot (2 buah) (1 buah)

Pipet seukuran 10 ml, 25 ml (1 buah) Pipet volume 10 ml Tabung Hach Hach COD Digester Dosimat (1 buah) (6 buah) (1 buah) (1 buah)

3.2. Bahan yang digunakan : Kalium bikromat Asam sulfat pekat K2Cr2O7 FAS (Ferro Amonium) Indikator ferroin

IV. Langkah Kerja 4.1. Tahapan Percobaan 1. Tentukan konsentrasi organik (COD) dari efluen reactor 1 maupun reactor 2 2. Catat total gas yang terbentuk pada reactor 1 maupun reactor 2 setelah proses berjalan selama seminggu untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas. 4.2. Penentuan Kandungan Organik (Chemical Oxygen Demand/COD) dari sampel 1. Masukkan 2,5 ml sampel ke dalam tabung Hach , kemudian tambahkan 1,5 ml pereaksi Kalium bikromat dan 3,5 pereaksi asam sulfat pekat. 2. Masukkan tabung Hach pada Hach COD Digester dan panaskan pada suhu 150oC selama 2 jam

3. Keluarkan tabung Hach dari Digester dan biarkan dingin pada udara terbuka. Setelah tabung menjadi dingin titrasi dengan larutan Ferro Amonium (FAS) 0,1 N menggunakan indicator ferroin (sekitar 2 atau 3 tetes). Titrasi dihentikan jika terjadi perubahan warna dari hijau menjadi coklat 4. Lakukan pekerjaan diatas untuk aquadest sebagai blanko V. Data Pengamatan Dan Pengolahan Data 5.1 Data Pengamatan Penentuan COD reaktor 1 ml FAS untuk blanko (a) = 1,324 ml ml FAS untuk sample (b) = 1,004 ml dan 1,012 ml

Penentuan COD reaktor 2 ml FAS untuk blanko (a) = 1,432 ml ml FAS untuk sample (b) = 0,860 ml dan 0,923 ml

5.2 Standarisasi FAS FAS 1 = 15,812 ml Normalitas FAS 1= =

= 0,158 N

FAS 2 = 16,241 ml Normalitas FAS 1= =

= 0,154 N

Maka, rata-rata nornalitas =

= 0,156 N

5.3 Perhitungan COD COD (mg O2/l) = dimana, a = ml FAS untuk blanko b = ml FAS untuk sampel c = normalitas FAS ( 0.156 N) d = berat equivalen oksigen (8) p = pengenceran (10 x pd rekator1 & 25 x pd reaktor 2) COD reakor 1 -sampel 1 COD (mg O2/l) = = = 1597,44 mg O2/l -sampel 2 COD (mg O2/l) = = = 1557,504 mg O2/l Nilai rata-rata COD = COD reakor 2 -sampel 1 COD (mg O2/l) = =

= 1557.472 mg O2/l

= 7138,56 mg O2/l -sampel 2 COD (mg O2/l) = = = 6352,32 mg O2/l Nilai rata-rata COD = 5.4 Perhitungan efisiensi pembentukan (%) Ketinggian Pembentukan gas Reaktor 1 awal cm akhir cm awal cm Reaktor 2 Akhir cm

= 6745,44 mg O2/l

Reaktor 1 =

x 100% x 100% =
%

Reaktor 2 =

x 100% x 100% =
%

Tabel. No. 1. Data percobaan COD reaktor 1 -sampel 1 (mg O2/l) -sampel 2 (mg O2/l) COD reaktor 2 -sampel 1 (mg O2/l) -sampel 2 (mg O2/l Total gas yang diproduksi -Reactor 1 (ml) -Reactor 2 (ml) Hasil percobaan 1597,44 1557,504 7138,56 6352,32

2.

3.

Nama : Rendy Salam Setiawan NIM : 07401056

Pembahasan Pada praktikum ini digunakan bakteri anaerob untuk mengolah air limbah yang ada sebagai sampel. Pertumbuhan mikroba dalam peralatan pengolah air limbah dibagi menjadi 2, yaitu pertumbuhan secara tersuspensi dan terlekat. Parameter yang diukur pada praktikum ini adalah COD efluen pada reaktor 1 dan reaktor 2 , kandungan MVLSS pada reactor 1 dan 2, dan total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama satu minggu. Dimana reaksi yang terjadi pada reactor 1 adalah Hidrolisis dan pada rekator 2 adalah Asetogenesis dan Metanogenesis. Akan tetapi penentuan kandungan MLVSS tidak dilakukan karena pertumbuhan mikroba yang terjadi pada reaktor 1 adalah secara tersuspensi dan reactor 2 adalah tersupensi dan terlekat. Maka dalam pengambilan sampel pada reaktor 2 mikroba yang terbawa hanya jenis mikroba yang tumbuh secara tersuspensi saja dan yang tumbuh secara terlekat tidak akan terbawa, maka dengan begitu penentuan kandungan MLVSS tidak dilakukan pada praktikum ini. Dari hasil perhitungan COD, diperoleh nilai rata-rata COD pada reaktor 1 sebesar 1557.472 mg O2/l dan nilai rata-rata COD pada reaktor 2 sebesar 6745,44 mg O2/l . Pengolahan air limbah secara anaerobik ini juga menghasilkan gas. Dari hasil pengamatan selama 1 minggu dapat dilihat perubahan ketinggian gas baik pada reaktor 1 maupun pada reaktor 2. Ketinggian pada reaktor 1 awalnya .cm dan setelah proses berlangsung seminggu ketinggian menjadi cm Sehingga efisiensi pembentukan gas pada reaktor 1 adalah .%. Pada reaktor 2 ketinggian awal cm dan akhir . cm, sehingga efisiensi pembentukan gas menjadi %. Dengan adanya proses pembentukan gas ini maka pengolahan limbah secara anaerobik bisa menghasilkan gas sebagai sumber energi.

VII. Kesimpulan a. Bakteri yang digunakan adalah bakteri anaerob dalam bentuk terlekat dan tersuspensi. b. Nilai COD efluen pada reaktor 1 yang diperoleh adalah 1557.472 mg O2/l c. Nilai COD efluen pada rekator 2 yang diperoleh adalah 6745,44 mg O2/l d. Efisiensi pembentukan gas reaktor 1 yang diperoleh dari percobaan e. Efisiensi pembentukan gas reaktor 2 yang diperoleh dari percobaan f. Total gas yang diproduksi pada reactor 1 adalah g. Total gas yang diproduksi pada reactor 2 adalah ml ml % %

Daftar Pustaka Jobsheet Praktikum Pengolahan Limbah Industri.