RINGKASAN EKSEKUTIF

Beras merupakan komoditas strategis berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional, dan menjadi basis utama dalam revitalisiasi pertanian ke depan. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan beras dalam periode 2005-2025 diproyeksikan masih akan terus meningkat. Kalau pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52,8 juta ton gabah kering giling (GKG), maka pada tahun 2025 kebutuhan tersebut diproyeksikan sebesar 65,9 juta ton GKG. Pemerintah dengan Badan indeks Penelitian berkeinginan panen dan 1,52 mempertahankan diperkirakan swasembada beras

secara berkelanjutan. Peningkatan produktivitas padi 1,5% per tahun dapat mempertahankan telah padi dan tipe akan baru. swasembada beras hingga tahun 2025. Untuk mencapai sasaran tersebut Pengembangan unggul padi Pertanian dan menghasilkan varietas hibrida

Varietasvarietas unggul yang berdaya hasil tinggi ini diharapkan dapat diaktualisasikan potensi genetiknya melalui pengembangan teknologi budi daya dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Strategi yang dapat ditempuh dalam meningkatkan produksi padi nasional adalah: (1) mendorong sinergi antarsubsistem agribisnis; (2) meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya, modal, teknologi, dan pasar; (3) mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi baru; (4) memberikan insentif berusaha; (5) mendorong diversifikasi produksi; (6) mendorong partisipasi aktif seluruh stakeholder; (7) pemberdayaan petani dan masyarakat; (8) pengembangan kelembagaan (kelembagaan produksi dan penanganan pascapanen, irigasi, koperasi, lumbung pangan desa, keuangan dan penyuluhan). Kebijakan pengembangan padi diarahkan pada: (1) pembangunan dan pengembangan kawasan agribisnis padi yang modern, tangguh, dan

1

2
pemberian jaminan kehidupan yang lebih baik bagi petani; (2)

peningkatan efisiensi usahatani melalui inovasi unggul dan berdaya saing; (3) pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, efisien dan produktif serta berkelanjutan yang dapat mendukung ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan; (4) pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan; dan (5) pengembangan kelembagaan dan kemitraan yang modern, tangguh, efisien, dan produktif. Program yang dicanangkan meliputi : (1) pengembangan sarana dan prasarana, (2) pengembangan sistem perbenihan, (3) akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi), (4) perluasan areal tanam (ekstensifikasi), (5) pengembangan sistem perlindungan, (6) pengolahan dan pemasaran hasil, (7) pengembangan kelembagaan, dan (8) pemantapan manajemen pembangunan pertanian. Upaya peningkatan produksi padi guna mempertahankan swasembada sampai tahun 2025 membutuhkan investasi sebesar Rp. 85,4 trilyun untuk pengembangan dan perluasan adopsi teknologi (varietas dan pendekatan budidaya). Dukungan kebijakan pemerintah terhadap pelaku agribisnis padi, baik masyarakat (petani) maupun swasta, akan mempercepat upaya peningkatan investasi.

3

I. PENDAHULUAN
Hingga saat ini dan beberapa tahun mendatang, beras tetap menjadi sumber utama gizi dan energi bagi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Dengan tingkat konsumsi rata-rata 141 kg/kapita/tahun, untuk mencapai kemandirian pangan hingga tahun 2005 dibutuhkan 34 juta ton beras atau setara dengan 54 juta ton GKG/tahun. Walaupun program diversifikasi pangan sudah sejak lama dicanangkan, namun belum terlihat indikasi penurunan konsumsi beras, bahkan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan pangan nasional memang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan tersebar di banyak pulau maka ketergantungan akan pangan impor menyebabkan rentannya ketahanan pangan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Di Indonesia, padi diusahakan oleh sekitar 18 juta petani dan menyumbang 66% terhadap produk domestik bruto (PDB) tanaman pangan. Selain itu, usahatani padi telah memberikan kesempatan kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan pendapatan 25-35%. Oleh sebab itu, beras tetap menjadi komoditas strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional, sehingga menjadi basis utama dalam revitalisiasi pertanian ke depan. Stagnasi pengembangan dan peningkatan produksi padi akan mengancam stabilitas nasional. Walaupun daya saing padi terhadap beberapa komoditas lain cenderung turun, namun upaya pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada, peningkatan pendapatan, dan kesejahteraan petani. Kenyataan menunjukkan bahwa produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. Hal ini tentu terkait dengan

4
peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Peningkatan

produktivitas padi dalam kurun waktu tersebut mencapai 87,6%, dari 2,42 ton/ha pada tahun 1970 menjadi 4,54 ton/ha pada tahun 2004. Sementara peningkatan luas areal panen dalam periode yang sama mencapai 39,8%, dari 8,3 juta ha pada tahun 1970 menjadi 11,6 juta ha pada tahun 2004. Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi pancausahatani, terutama varietas unggul dan teknologi budi daya, rekayasa kelembagaan, dan dukungan kebijakan pemerintah. Sampai saat ini sekitar 90% produksi padi nasional dipasok dari lahan sawah irigasi yang sebagian telah terkonversi untuk berbagai keperluan di luar pertanian. Sementara lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan pasang surut yang tersebar luas di berbagai daerah belum banyak berkontribusi dalam peningkatan produksi padi. Ke depan, selain di lahan sawah irigasi, upaya peningkatan produksi padi perlu pula diarahkan ke lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan pasang surut.

5

II. KONDISI AGRIBISNIS PADI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Dalam beberapa tahun terakhir laju peningkatan produksi padi nasional cenderung melandai1). Dalam periode 2000-2003, misalnya, laju kenaikan produksi hanya 0,2% per tahun. Di sisi lain, laju peningkatan produktivitas padi cukup tinggi yang mencapai 1,0% per tahun, tetapi luas panen turun 0,9% per tahun (Tabel 1). Indeks panen (IP) juga menurun, dari 1,56 pada tahun 2002 menjadi 1,43 pada tahun 2003 (Lampiran 1). Penurunan IP mengindikasikan bahwa usahatani padi mendapat saingan dari usahatani komoditas lain yang lebih menguntungkan. Walaupun demikian setelah tahun 1984 Indonesia dinyatakan mencapai swasembada beras, 20 tahun kemudian (2007) negara ini kembali berswasembada beras. Produksi padi tahun 2004 mencapai 54,09 juta ton, yang berarti naik 3,74% dari tahun sebelumnya.

Tabel. 1. Produksi, luas panen dan produktivitas usahatani padi indonesia, 2003 dan 2004

________________________ 1) BPS, Statistik Indonesia, 2001 dan Departemen Pertanian, Statistik Pertanian, 2004.

Di Jawa.7 juta ton. gejala pelandaian produksi padi yang umumnya terjadi di lahan sawah irigasi di Jawa berdampak luas terhadap penyediaan pangan nasional ke depan.3% dari produksi.1%. . terutama antara padi dengan komoditas lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Tingginya volume impor beras pada tahun 1999 selain dapat dihubungkan dengan krisis ekonomi. terutama melalui perluasan areal.6 Selama 1990-2003 volume impor beras Indonesia berfluktuasi. meskipun laju produktivitas padi meningkat 1. Di Maluku dan Papua laju pertumbuhan produksi juga tinggi. Dengan demikian. Selain keterbatasan sumberdaya lahan.8% dan 54%. Data tersebut mengindikasikan bahwa pulau Jawa tidak dapat lagi diandalkan dalam peningkatan produksi padi nasional ke depan. namun karena areal panen padi tidak luas maka sumbangannya terhadap produksi nasional relatif kecil. dengan peningkatan tajam terjadi setelah tahun 2000 (Lampiran 2). Penurunan produksi padi di Jawa sebagian ditutupi oleh produksi di Sulawesi dan Kalimantan yang masing-masing dengan laju peningkatan 3. Faktor yang mempengaruhi fluktuasi volume impor beras tidak memiliki pola yang jelas. pada tahun 1999 mencapai 4. Hingga saat ini pulau Jawa tetap memberikan kontribusi ter-besar dalam pengadaan produksi padi nasional dengan pangsa luas panen dan produksi masing-masing 46. Volume impor beras dalam 13 tahun terakhir rata-rata 2. namun karena luas panen turun 2. Jika pada tahun 1993 impor beras hanya 24 ribu ton.8% per tahun. juga erat kaitannya dengan penurunan produksi padi akibat anomali iklim El-Nino pada tahun 1997 yang terus berdampak hingga tahun 1998. opportunity cost usahatani padi juga makin tinggi karena makin tajamnya kompetisi penggunaan lahan.2% per tahun.5% dan 3. tetapi cukup potensial melalui peningkatan produktivitas.2% maka produksi turun 1. Namun tidak demikian halnya pada tahun-tahun lainnya.

intensifikasi terlalu terfokus pada lahan sawah irigasi.4 juta ton pada tahun 2004. Pada tahun 2004. dan pendekatan program intensifikasi.7 B. Peningkatan produksi lebih banyak disumbang oleh peningkatan produktivitas (56.3%). sebagian besar (90%) areal pertanaman padi di sentra produksi utama telah ditanami varietas unggul baru (VUB) dan 17 varietas di antaranya lebih dominan pengembangannya dengan luas tanam lebih dari 10 ribu ha per varietas. terutama setelah terjadi ledakan hama penyakit dan anomali iklim. Kontribusi varietas unggul dalam peningkatan produktivitas padi mencapai 75% jika diintegrasikan dengan teknologi pengairan dan pemupukan.2%) dibanding luas panen (26. Keberhasilan peningkatan produktivitas sangat berkorelasi dengan inovasi teknologi. strategi. Bukti nyata pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dapat dilihat antara lain dari peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun. Pelandaian dan penurunan produksi padi lebih banyak disebabkan oleh serangan hama penyakit dan anomali iklim. dan kurangnya perhatian terhadap pelestarian sumber daya alam. meskipun tidak berarti tanpa kekurangan pangan. Pelajaran yang dapat ditarik dari implementasi Revolusi Hijau selama ini antara lain adalah besarnya sumbangan varietas unggul dan teknologi budidaya dalam peningkatan produksi padi. Dangan dihasilkan dan dikembangkannya beragam VUB dengan sifat yang beragam pula dapat memecahkan masalah lingkungan biotik dan abiotik serta memenuhi keinginan petani dan preferensi konsumen yang juga berbeda antardaerah. Profil Teknologi Padi Dalam periode 1971-2004. . tingginya penggunaan input. produksi padi nasional meningkat 269% dari 20. Inovasi Revolusi Hijau besar sumbangannya terhadap pengadaan produksi pangan nasional terutama beras.2 juta ton pada tahun 1971 menjadi 54.

Rp 2. sehingga keuntungan atas biaya tunai berturut-turut adalah Rp 2.3 juta/ha. Nilai penerimaan dari usahatani padi dengan status garapan milik pada musim hujan (MH). dan Rp 5.7 juta.7 juta. Pada usahatani padi dengan status garapan sewa. Profil Usahatani Padi Lahan garapan yang sempit dengan rata-rata 0. Total biaya tunai untuk masingmasing musim tanam adalah Rp 2. dan Rp 3 juta/ha.56 juta/ha/musim.32 ha per musim mendorong petani untuk memaksimalkan pendapatan dengan cara meningkatkan intensitas tanam dan menyesuaikan pola tanam dengan masukan sangat intensif 2) . dan Rp 2. Pada musim hujan dan musim kemarau. musim kemarau (MK) I.4 juta. Rp 2.5 juta.9 juta. Rp 5. keuntungan atas biaya tunai pada musim hujan hanya sekitar Rp 1 juta/ha karena kompensasi untuk sewa lahan mencapai Rp 1.49 ton/ha.6 juta. dan MK II berturut-turut adalah Rp 5. produktivitas padi masing-masing 5. Varietas Ciherang yang daya hasil dan rasanya setara dengan IR64 telah mendominasi areal pertanaman padi di beberapa daerah di Jawa Barat.3 juta/ha.65 ton dan 5. Pada MK I keuntungan lebih rendah dan bahkan pada MK II keuntungan kurang .8 C.

15 juta/ha. Pada musim hujan.35 juta/ha. . Walaupun demikian tidak semua petani penyakap bernasib lebih baik daripada petani penyewa.9 dari Rp 500 ribu/ha. petani penyewa umumnya mengusahakan komoditas nonpadi pada MK II. karena kualitas lahan yang disewakan umumnya lebih baik dan petani penyewa umumnya menanam komoditas yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Pendapatan usahatani padi dengan status garapan sakap (bagi hasil) lebih tinggi daripada garapan sewa. keuntungan atas biaya tunai rata-rata Rp 1. terutama hortikultura. Untuk menyiasati keuntungan yang rendah tersebut. sedangkan pada MK I meningkat menjadi Rp 1.

58% di antaranya terkonsentrasi di Jawa dan 21. Namun.3% di Sumatera.1 kg pada tahun 2003 menjadi 111. dengan elastisitas pendapatan dan harga yang kurang dari satu.49% per tahun. Dengan perhitungan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 lebih dari 296 juta.1 kg pada tahun 2010.0 kg pada tahun 20252). Prospek 1. PROSPEK. . Kalau permintaan industri diperhitungkan sebesar 23.5% dari permintaan rumah tangga dan permintaan yang lainnya (stok) Tabel 2. Sebenarnya. dan 105. konsumsi beras per kapita turun dari 114.10 III. karena laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari laju penurunan konsumsi maka jumlah permintaan pangan tetap meningkat. POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN A. Asumsi yang digunakan untuk proyeksi permintaan beras. Proyeksi permintaan Asumsi yang digunakan untuk menghitung proyeksi permintaan beras disajikan pada Tabel 2.

1 juta ton (13. Bilamana impor beras sebanyak 5% dimungkinkan. dan 10. 6.5%). 7. bahkan diperkirakan berpeluang mencapai swasembada absolut. Dengan skenario swasembada absolut (kecukupan 100%) yang digunakan.4 juta ton GKG (20%).8 juta ton (13.3%).3%). 2015. dan 13.2025.1%).1%). 2020.6 juta ton (1. Kalau skenario swasembada ontrend (kecukupan 95%) yang digunakan . dan 2025 diperlukan peningkatan produksi berturut-turut sebesar 0.2 juta ton (26. Permintaan beras dalam periode 2005 . maka untuk memenuhi kebutuhan beras pada tahun 2005.7 juta ton (7. atau meningkat masingmasing 8% dan 27% dari permintaan pada tahun 2003 (Tabel 3). menurut wilayah (000 ton). Sebaliknya.3%) dari produksi tahun 2003.1 juta ton . 2020. Sulawesi dan Kalimantan mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri hingga tahun 2025.7 juta ton GKG (26. 2010. maka Jawa masih harus mendatangkan 2. Jawa akan menjadi beban bagi daerah lain untuk memenuhi kebutuhan beras. 3. 10.8 juta ton (7. sebesar 10%3).9 juta ton (1.7%). 2015.11 Tabel 3. maka kebutuhan beras pada tahun 2010 lebih dari 35 juta ton dan pada tahun 2025 lebih dari 41 juta ton. yaitu mentoleransi impor beras sebesar 5% maka untuk memenuhi kebutuhan beras pada tahun 2010. dan 2025 diperlukan peningkatan produksi padi berturut-turut sebesar 0.6%). 3.

8 juta ton pada tahun 2015. 3. tetapi juga kualitas. (c) penurunan harga riil padi yang disertai oleh peningkatan biaya produksi. Paradigma pembangunan pertanian yang selama ini difokuskan pada pendekatan kemampuan produksi (supply driven) dengan peranan pemerintah pusat yang sangat dominan harus diubah menjadi demand driven yang mencakup keseluruhan sistem agribisnis padi. Pertanian dengan demand driven oriented adalah pertanian industri (industrialized agriculture) yang dicirikan oleh: (a) good governance. Di lain pihak. permintaan beras tidak hanya menyangkut aspek kuantitas. kualitas air. (b) penciutan lahan subur dan menurunnya tingkat kesuburan tanah.12 GKG pada tahun 2010. (b) perubahan . 5. Ke depan. Kebutuhan peningkatan produksi Dengan mempertimbangkan daya dukung sumberdaya di berbagai daerah.6 juta ton pada tahun 2020. dan perkembangan teknologi agroindustri. dan (f) frekuensi anomali iklim yang makin meningkat. harga beras di pasar dunia cenderung turun dengan volume perdagangan yang tipis (sekitar 5-6%). upaya peningkatan produksi padi seyogianya lebih diarahkan kepada peningkatan inovasi produktivitas teknologi. Produksi beras per kapita setelah tahun 1990 menurun dengan fluktuasi yang cukup tinggi. dan prasarana irigasi. nilai gizi.5 juta ton pada tahun 2025. (d) ginya tingkat kehilangan hasil pascapanen. Penyebab turunannya produksi beras antara lain adalah: (a) terbatasnya terobosan teknologi baru dalam meningkatkan daya hasil varietas setelah generasi IR64 dan Cisadane. sumberdaya areal lahan dengan tidak memanfaatkan Perluasan sebaiknya dilakukan di Jawa mengingat opportunity cost-nya sangat tinggi dan daya dukung lahan makin menurun. aspek sosial budaya di masingmasing daerah. (e) serangan hama penyakit. dan 7. 2.

(d) penerapan teknologi maju pada seluruh aspek sistem agribisnis secara terintegrasi. (c) peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan manajemen profesional. (c) produksi dengan standar mutu dan efisiensi tinggi sesuai selera konsumen.03 juta ha di Kalimantan. sementara jumlah penduduk Indonesia terus bertambah dengan laju pertumbuhan yang masih tinggi. (d) responsif terhadap dinamika perubahan pasar. Ciri sistem usahatani padi dalam pertanian industri adalah: (a) berteknologi maju spesifik lokasi pada keseluruhan aspek sistem. Luas lahan sawah nonrawa pasang surut dengan kelas sesuai untuk tanaman padi adalah 13. mulai dari perbaikan potensi genetik. 1.13 sistem kelembagaan ke arah sistem komoditas yang terkoordinasi vertikal.85 juta ha di Bali dan Nusa Tenggara. dan (e) responsif terhadap perubahan dinamika pasar.11 juta ha di Sulawesi.26 juta ha. panen. Lahan sawah. . dan (e) aset produktif per tenaga kerja pertanian memadai.000 dari Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. maka ketahanan pangan akan dapat berlanjut apabila target produksi beras dalam negeri mencapai minimal 95% dari konsumsi beras nasional. 1.01 juta ha di antaranya terdapat di Sumatera.5 juta ha di lahan basah (sawah) dan 76. Jika dikaitkan dengan ketersediaan beras di pasar dunia yang makin tipis. Potensi sumberdaya lahan Berdasarkan peta tanah skala 1:1.3 juta ha di lahan kering.000. 1. 0.12 juta ha di Jawa. pascapanen. 2. luas lahan yang sesuai dikembangkan untuk pertanian adalah 24. Potensi Peningkatan Produksi 1. B. (b) sumberdaya manusia berkualitas dan profesional. budidaya. dan pemasaran hingga pergudangan yang dikelola secara profesional dan efisien. Manajemen stok pangan diperlukan untuk menjaga stabilitas harga pangan dalam negeri.

potensi lahan kering belum dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. (2) kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka. Prospek dan potensi inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai terobosan peningkatan produksi padi.86 juta ha yang telah dimanfaatkan. terutama varietas unggul berdaya hasil tinggi dan komponen teknologi budidaya yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional di masa datang. lahan rawa pasang surut yang telah digunakan untuk sawah baru seluas 0.92 juta ha). baru 6. Dari 13.33 juta ha. Dengan demikian terdapat 6.12 juta ha). Dengan pengelolaan yang tepat. Lahan kering.89 juta ha di Maluku dan Papua.01 juta ha). (4) dampak lingkungan atau perubahan ekosistem. Jawa (0. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut: (1) investasi yang mungkin tinggi.51 juta ha). Lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim diperkirakan seluas 25. lahan kering diperkirakan dapat mendukung upaya peningkatan produksi padi nasional. Di banyak daerah.14 dan 7. 2. Sulawesi (0.31 juta ha).26 juta ha lahan sawah yang ada. Hingga saat ini kontribusi padi gogo terhadap pengadaan produksi padi nasional baru mencapai 5-6%. Hingga saat ini.51 juta ha.93 juta ha. . Maluku dan Papua (3. Lahan rawa dan pasang surut. yang tersebar di Sumatera (1. Kalimantan (1.4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah. (3) ketersediaan tenaga kerja pertanian. dan (5) masih adanya alternatif peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas dan IP. degradasi lingkungan dan sebagainya. Luas lahan rawa dan pasang surut yang sesuai untuk usahatani padi adalah 3.

Cimelati. varietas yang lebih disukai oleh petani dan konsumen selain IR64 adalah Ciherang. yaitu varietas yang diperuntukkan bagi peningkatan produktivitas yang melebihi barier potensi hasil yang sudah melandai (VUH dan VUTB) dan varietas yang diperuntukkan bagi stabilitas hasil. Balai Penelitian Tanaman Padi dari Badan Litbang Pertanian. dan Memberamo. dan 4 varietas unggul tipe baru = VUTB). Hipa-4. dan VUH Rokan.15 Varietas unggul. dan VUTB Fatmawati berdaya hasil 5-20% lebih tinggi dari IR64. mutu gizi. Dalam periode 2000-2004. dan super genjah (varietas unggul spesifik. termasuk mutu rasa. Maro Hipa-3. Berdasarkan masalah dan kendala produksi serta tuntutan pengguna. VUS). telah menghasilkan 54 varietas unggul padi. lahan kering (padi gogo). Ciliwung. 5 varietas untuk Padi varietas unggul tipe baru Fatmawati mampu berproduksi 10-20% lebih tinggi dari IR64 yang hingga kini disukai oleh banyak petani dan konsumen. Pengembangan VUH dan VUTB pada lahan suboptimal (lahan sawah tadah . varietas-varietas unggul tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua. Cigeulis. dan 9 varietas untuk lahan pasang surut. VUB ini telah berkembang dan mulai menggeser dominasi IR64. VUB lainnya seperti Gilirang. 40 di antaranya untuk lahan sawah irigasi (termasuk 4 varietas unggul hibrida = VUH. Di antara banyak varietas padi sawah yang dilepas dalam beberapa tahun terakhir. Way Apo Buru.

Padi hibrida Hipa-3 dan Hipa-4 berdaya hasil 10-20% lebih tinggi dari IR64. Rasio gabah/jerami VUTB >0. Hipa-4 yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian dan 13 varietas padi hibrida lainnya yang dikembangkan oleh pihak swasta di Indonesia memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada IR64 di daerah bukan endemik hama dan penyakit. dan Fatmawati dilepas sebagai VUTB.16 hujan. Rokan. dan potensi hasil 10-15 t/ha. Cimelati. Dibandingkan dengan VUB. dan varietas inbrida lainnya. Padi hibrida Maro. daun tegak dan tebal. lahan kering. dan H-21 mampu berproduksi 7-12 t/ha dan memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap beberapa hama penyakit utama. . Memberamo. Ciherang. dan lahan rawa pasang surut) diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas padi nasional. jumlah gabah>250 butir/malai.5 sehingga efisien dalam penggunaan hara. H-19. dan Ciapus dilepas sebagai padi semi VUTB. Hipa-3. H-17. Beberapa tahun mendatang direncanakan akan dikembangkan varietas unggul tipe baru hibrida (VUTBH) dengan keunggulan produktivitas ganda. keunggulan VUTB antara lain adalah jumlah anakan lebih sedikit (6-12 anakan) tetapi semuanya produktif. Gilirang. batang kokoh. Beberapa galur padi hibrida generasi berikutnya seperti H-6. H-18.

namun ketahanannya terhadap penyakit blas masih bersifat parsial. Varietasvarietas unggul telah menambah pilihan bagi petani di agroekosistem lahan rawa pasang surut. Margasari. Mendawak. Pergiliran varietas dengan penanaman secara Pengembangan padi gogo di antara tanaman perkebunan diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi padi nasional. Raya. Siak Lambur. air. Indragiri. Pengelolaan lahan. Silugonggo. kekeringan. Sejak beberapa tahun terakhir tingkat kesuburan sebagian . dan naungan telah dilepas pula dengan nama Danau Gaung. panen dan pascapanen. dan Situ Bagendit. Martapura. Lima varietas padi gogo toleran tanah masam (keracunan Al). dan Tenggulang.17 Beberapa VUS padi lahan pasang surut toleran keracunan besi dan aluminium (lahan sulfat masam) telah dilepas dengan nama Punggur. Batutegi. ini mozaik dan stripe planting (tanaman peka yang diselingi baris tanaman tahan) dapat mengatasi penyakit blas. tanaman dan organisme. Situ Patenggang.

Belajar dari pengalaman pengembangan . Beberapa teknologi peningkatan mutu dan nilai tambah beras yang telah dihasilkan antara lain adalah teknologi produksi tepung beras kaya protein. Penerapan sistem panen beregu mampu pula menekan kehilangan hasil saat panen dari sekitar 13. komponen pengelolaan budidaya gulma seperti pengelolaan pengelolaan terpadu. teknologi produksi beras premium atau beras super. dan tingkat petani masing-masing mencapai 37%. hama pengelolaan pascapanen dipadukan sehingga memberikan efek sinergis dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani. dan spesifik lokasi. beras kristal dan beras instan. jumlah bibit/lubang. manajemen air dll) yang populer disebut model Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Hal ini ditandai oleh struktur tanah yang buruk. Untuk memperbaiki kualitas lahan dapat diupayakan melalui penggunaan bahan organik yang dikombinasikan dengan efisiensi input teknologi (umur bibit. Model PTT diharapkan menjadi salah satu pilar Revolusi Hijau Lestari dalam memacu produksi padi di masa yang akan datang.1-18. tingkat pengkajian (on farm). varietas unggul yang dikembangkan mampu berproduksi sesuai dengan potensi genetiknya. hara mikro dan kehidupan biologis juga rendah sebagai dampak dari sistem intensifikasi yang diterapkan selama ini. terpadu (PHT). pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman. 27% dan 16% dibandingkan dengan tanpa penerapan model PTT. Teknologi pengeringan gabah juga telah dihasilkan dan penting artinya dalam mempercepat proses pascapanen dan mengatasi masalah pengeringan gabah pada musim hujan.8%. kandungan C-organik rendah. hara Dalam model PTT. kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit dapat ditekan menjadi rata-rata 2.18 lahan sawah irigasi menurun. Peningkatan produksi padi dengan menerapkan model PTT di tingkat penelitian.4% per tahun.6% menjadi 3. Dengan menerapkan teknologi PHT. Melalui model PTT. serta teknologi industri untuk diversifikasi produk berbasis beras.

49. maka pengembangan usaha traktor. yaitu Revenue-Cost Rasio (R/C). Usaha traktor menunjukkan R/C 1. lebih rendah dari umur ekonomis traktor yang mencapai 5 tahun. Dalam model PTT dianjurkan penggunaan bahan organik yang merupakan salah satu komponen utama teknologi untuk memperbaiki sifat fisik tanah. dan lahan rawa pasang surut dengan peningkatan hasil hingga lebih dari 50%. dan Titik Impas disajikan pada Tabel 4.76 berarti biaya investasi dapat dikembalikan dalam tempo 1. dan unit penggilingan padi (RMU) menggunakan tiga rasio kelayakan. sedangkan yang diperlukan untuk Titik Impas adalah mengembalikan kegiatan biaya yang volume memberikan nilai penerimaan yang sama dengan total biaya. Pay Back Period. Kelayakan Usaha Traktor. C. Pay Back Period adalah waktu investasi. thresher dan RMU untuk mendukung usahatani padi cukup layak. Dalam kaitan ini telah dikembangkan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT). pada tahun 2003/04 dikembangkan pula pada lahan sawah lahan tadah hujan. thresher. Berdasarkan ketiga indikator tersebut. . artinya usaha tersebut mampu memberikan penerimaan sebesar 1. R/C didefinisikan sebagai rasio antara penerimaan dengan biaya.49 kali biaya atau dengan keuntungan bersih sebesar 49%. Thresher dan RMU Analisis kelayakan usaha traktor. Limbah padi berupa jerami diproses menjadi pakan ternak.76 tahun. sedangkan ke kotoran tanah ternak yang diolah menjadi kompos dikembalikan untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan.19 model PTT padi pada sawah irigasi pada tahun 2002 di beberapa lokasi di Indonesia. Pay Back Period sebesar 1. Titik Impas tercapai apabila traktor mampu mengolah lahan sawah seluas 34 ha per tahun. lahan kering.

usaha thresher dinilai sangat layak.46 tahun.77. Tabel 4. lebih rendah dari umur ekonomisnya yang mencapai 5 tahun. Usaha thresher menunjukkan R/C 1. . Artinya.77 kali biaya atau dengan keuntungan bersih sebesar 77%. Titik impas usaha thresher adalah 113 ton per tahun.46 berarti biaya investasi usaha thresher dapat dikembalikan dalam tempo 1.20 lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas kerja traktor yang mampu mencapai 50 ha per tahun. artinya usaha tersebut mampu memberikan penerimaan sebesar 1. thresher dan unit penggilingan padi (RMU). Angka ini juga lebih rendah dari kapasitas thresher yang mencapai 200 ton per tahun. Kelayakan usaha traktor. Pay Back Period 1. artinya usaha ini mampu menutup seluruh biaya apabila thresher mampu merontok gabah sebanyak 113 ton per tahun.

Pay Back Period sebesar 3. 2002. D. jauh lebih pendek dari umur ekonomis peralatan yang digunakan yang mencapai 10 tahun. 4 Titik impas: Ha/tahun untuk traktor. (diolah) RMU menunjukkan R/C 1. Arah Pengembangan Produksi Padi Nasional .1 mengindikasikan bahwa biaya investasi dapat dikembalikan dalam tempo 3. Titik Iimpas 342 ton per tahun artinya usaha RMU dapat menutup seluruh biaya apabila usaha tersebut mampu menggiling gabah sebanyak 342 ton per tahun. 3 Penerimaan per unit: Rp/ha untuk traktor dan Rp/ton untuk thresher dan RMU.1 tahun. Dibandingkan dengan kapasitas RMU yang mencapai 500 ton gabah per tahun. ton GKG/tahun untuk thresher dan RMU. ton GKG/tahun untuk thresher dan RMU 1 2 Sumber: Ditejentan-IPB.46 dengan keuntungan bersih sebesar 46%. Evaluasi Dampak Pemanfaatan Alsintan. Kapasitas thresher dan RMU dalam satuan ha masing-masing 40 ha dan 100 ha. maka usaha ini juga layak dikembangkan.21 Kapasitas: Ha/tahun untuk traktor.

Pada tahun 2009 mendatang. 2015.48%. ketahanan terhadap kendala biotik (hama dan penyakit). dan 65. dan perbaikan teknik budidaya menggunakan alat bantu penetapan teknologi spesifik lokasi (PTT yang diperbaiki. petak demonstrasi.8 juta ton. dan luas panen 0.3 juta ton.22 Menuju tahun 2025 mendatang. kebutuhan beras diperkirakan masing-masing sebesar 55. dan (2) percepatan inovasi teknologi melalui jaringan penelitan dan pengkajian.8 juta ton GKG.90 juta ton GKG pada tahun 2025 atau setara dengan laju peningkatan produksi 0. Peningkatan produktivitas Peningkatan produktivitas padi dapat diupayakan melalui (1) peningkatan hasil potensial dan aktual varietas melalui perbaikan genetik potensi hasil. sosialisasi. 58. 62. Impor beras diusahakan maksimal 5% dari kebutuhan tersebut. VUTB dan VUH). Dengan mempercepat inovasi teknologi seperti varietas berdaya hasil tinggi (VUB. termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan bukaan baru. Upaya pemenuhan kebutuhan beras nasional hingga tahun 2025 akan ditempuh melalui dua cara: (1) peningkatan produktivitas padi dengan laju pertumbuhan 1. toleransi terhadap cekaman abiotik (kekeringan dan keracunan).68 juta ton dan 64.9 juta ton. VUB yang dihasilkan umumnya berdaya hasil 5% . 2020.85%. target produksi padi nasional menurut Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan adalah 56. produktivitas 0. dan (2) peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas tanam (IP). Indonesia dituntut untuk mampu mencukupi minimal 95% dari kebutuhan beras nasional (swasembada). prescription farming). 1.5% per tahun. dan pendampingan. pengembangan. pengembangan di areal baru. dan 2025.37% per tahun.0-1. produktivitas padi nasional diharapkan meningkat lebih cepat. Pada tahun 2010.

2. Dengan asumsi akan terjadi kenaikan produksi + 3% per tahun melalui percepatan inovasi teknologi PTT dan varietas (VUB. sejalan dengan konsep Revolusi Hijau Lestari.06 juta. hasil varietas-varietas unggul tersebut dapat diaktualisasikan hingga mencapai potesi genetik yang dimilikinya. maka produksi padi nasional akan surplus mulai tahun 2015. Namun.57 juta. VUTB dan VUH). sementara potensi hasil VUTB dan VUH 10-20% lebih tinggi. teknologi budidaya spesifik lokasi juga tidak merusak lingkungan. (2) penggunaan lahan lebih hemat sehingga lahan yang lain dapat digunakan untuk komoditas lainnya. Walaupun dengan nilai agregat yang lebih rendah. dan 2.26 juta ha. Areal yang sesuai untuk pengembangan padi hibrida di Jawa dan Bali sudah teridentifikasi seluas 3. (3) peluang peningkatan pendapatan petani lebih besar karena teknologi yang diterapkan sudah matang dan diyakini efektif meningkatkan hasil dan efisiensi. dan lahan rawa pasang surut justru lebih besar. dan (4) usaha agribisnis lebih mudah karena daerah penerima adopsi umumnya telah memiliki infrastruktur yang memadai. Di Kalimantan. lahan sawah tadah hujan. Selain efisien dalam penggunaan input dan mudah diadopsi petani.23 lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang telah berkembang saat ini. Sumatera. dan Irian Jaya tersedia lahan yang sesuai untuk sawah baru. peluang dan potensi peningkatan produktivitas padi pada lahan kering. strategi ini tidak menumbuhkan daerah pertanian baru atau kurangnya pemerataan pembangunan pertanian dan penyerapan tenaga kerja. masing-masing seluas 4. Untuk peningkatan IP padi6) di Jawa dan Bali telah . Dengan penerapan teknologi budidaya spesifik lokasi (improved PTT). Keuntungan dari percepatan dan perluasan adopsi teknologi adalah: (1) peningkatan produksi lebih terjamin karena sifat lahan sudah dipahami petani. Arah dan lokasi pengembangan Pengembangan areal tanam difokuskan pada lahan-lahan yang memiliki sumber air yang cukup dengan kendala produksi seminimal mungkin. 2.47 juta ha5).

K. Pengembangan areal panen juga diarahkan ke sentra-sentra produksi karena di daerah tersebut umumnya telah tersedia jaringan irigasi.84 juta ha lahan.K. 4) 3. Perontokan gabah dengan pedal atau mesin thesher lebih efisien dan mempercepat proses produksi. 6) Triny S. (eds.24 teridentifikasi 0. Setyobudi. M.0 juta ha bagi pengembangan padi hibrida dan padi tipe baru di 12 propinsi. Pasandaran. lantai jemur. 1999. A. Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2005. Bogor. A.. Konsepsi dan prospek implementasi sistem usaha pertanian berbasis sumber daya. S. I. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.N.26 juta ha7) dan oleh Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan telah diproyeksikan seluas 1. Adimahardja.. Peningkatan IP dimungkinkan dengan penggunaan varietas berumur genjah. Demikian juga untuk pengembangan padi hibrida dan padi tipe baru. Balitpa. Las. 2000. Hal 28-54. Dalam A. Pola IP Padi 300. Makarim. Purba.) Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan: Konsep dan Strategi Peningkatan Produksi Pangan. Pengelolaan tanaman terpadu padi hibrida. dan D. Mardiharini. dan tanam bibit muda. I. Guswara. A. Optimalisasi sumber daya lahan dan air untuk pembangunan pertanian. 5) Las. Perluasan areal panen diarahkan pada peningkatan IP melalui pemanfaatan sumber air yang ada menjadi IP 1. Kartaatmadja. Program Pengembangan Padi Hibrida 2005-2009. 7) Direktorat Seralia.K. Hidayat dan E. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 66 hal. Las. pesemaian sistem culik. Skenario peningkatan produksi . I.. Jakarta. Sumarno. di Jawa dan Bali tersedia lahan potensial seluas 3. I. 2004. A. S.52. jalan usahatani. Laporan Akhir. Widiarta. dan pasar sehingga mudah menerapkan usaha dan sistem agribisnis. Satoto. Makarim dkk.

Tabel 6.4% maka Indonesia akan mampu berswasembada absolut (100%) hingga tahun 2025 (Gambar 1). Skenario proyeksi produksi padi. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 1. Skenario proyeksi produksi padi disajikan pada Tabel 6. Skenario 1: Skenario pesimis.0% per tahun adalah nilai rata-rata peningkatan produktivitas dalam periode 2000-2004. Data statistik Departemen Pertanian menunjukkan bahwa luas areal panen pada tahun 2004 mencapai 11. Gambar 1. produktivitas meningkat 1% per tahun (Lampiran 4). Kalau produktivitas meningkat 1% per tahun areal panen naik 0. .25 Ada dua faktor yang dipertimbangkan dalam memproyeksikan produksi padi. areal panen naik 0.4%.7 juta ha. yaitu areal panen dan produktivitas. Peningkatan produktivitas sebesar 1.

. skenario 3 mengasumsikan luas panen dipertahankan. produktivitas diproyeksikan meningkat 1. areal panen dipertahankan. produktivitas padi pada tahun 2025 diproyeksikan 6. Skenario 3: Skenario realistis.21 ton GKG/ha (Lampiran 4). Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 3.5% per tahun. Selain peningkatan produktivitas 1% per tahun seperti halnya skenario 1. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 2.26 Skenario 2: Skenario optimis. Dengan skenario ini Indonesia akan berswasembada beras hingga tahun 2025 (Gambar 2) dan perluasan areal tanam belum diperlukan. Gambar 3. Angka ini dimungkinkan dapat tercapai jika teknologi diadopsi secara optimal dan semua prasarana terpenuhi. Seperti pada skenario 2. dengan skenario realistis Indonesia juga akan berswasembada absolut sampai tahun 2025 (Lampiran 4. Dengan skenario optimis. Gambar 2. Gambar 3).

dan pada tahun 2016 akan terjadi berswasembada absolut (Lampiran 4.48% per tahun. 2004.52 ton GKG/ha). Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan9). sementara produktivitas naik 0. Jakarta 9) . Gambar 4). Atas dasar kriteria tersebut. Departemen pertanian. Dengan skenario 4 target produktivitas pada tahun 2025 hanya 5.27 Skenario 4: Skenario. Skala prioritas dan arah pengembangan padi disusun berdasarkan areal tanam pada masing-masing agroekosistem dan potensi menekan senjang hasil antara hasil aktual di tingkat petani dan potensi produktivitas varietas unggul. Dengan skenario Ditsereal. Gambar 4. Indonesia akan berswasembada beras sampai tahun 2025 (bahkan lebih) kalau kriteria swasembada ditetapkan sebesar 95% dari kebutuhan. Rencana strategis pembangunan tanaman pangan Tahun 20052009. lebih moderat dibandingkan dengan skenario 2 dan 3. Proyeksi permintaan dan produksi beras (setara GKG) menurut skenario 4. Setiap skenario menargetkan peningkatan produktivitas dari yang dicapai saat ini. maka skala prioritas peningkatan produksi secara nasional dengan didukung penelitian Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. Untuk itu perlu disusun skala prioritas target pengembangan.37%.02 ton GKG/ha (produktivitas tahun 2003 hanya 4. Pada skenario ini luas panen naik 0.

59 t/ha. Balitpa terus berupaya meningkatkan potensi VUB genetik ke varietas dan menyiapkan teknologi aktualisasi potensi genetik VUB. Dalam hal ini pemanfaatan teknologi pascapanen padi dan produk sampingnya memegang peranan penting.77 t/ha. Peta jalan (roadmap) komoditas padi Peran Badan Litbang Pertanian khususnya penelitian padi untuk mempertahankan swasembada beras sangat dominan pada tahapan riset (Gambar 6). lahan sawah beririgasi setengah teknis. 4. Pengembangan depan akan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Ditjen.28 dan pengembangan diarahkan kepada lahan beririgasi teknis. lahan sawah tadah hujan. lahan sawah beririgasi sederhana. dan lainnya (Tabel 7). khususnya sumber daya genetik dari plasma . beras juga dapat diolah untuk berbagai keperluan dengan nilai tambah yang cukup tinggi. terutama produktivitas dan kualitasnya. Titik tolak pelaksanaan program adalah kondisi produktivitas padi nasional pada tahun 2005 yang diperkirakan mencapai 4. dan Dinas-dinas terkait semakin besar pada tahapan pengembangan melalui adopsi teknologi padi. Sedangkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Untuk tetap menjaga agar produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan (swasembada). Dalam upaya peningkatan produktivitas padi nasional. produktivitas padi nasional harus terus ditingkatkan sehingga pada tahun 2009 dapat mencapai 4. Alternatif dan peluang peningkatan nilai tambah padi melalui sistem industri beras disajikan pada Gambar 5. 5. Pengembangan industri beras Selain untuk dikonsumsi langsung. inovasi teknologi varietas unggul memegang peranan penting. lahan rawa (pasang surut dan lebak).

Selaras dengan strategi Revolusi Hijau Lestari. perbaikan genetik varietas padi tidak hanya dilakukan dengan cara konvensional. pengembangan VUB dilakukan melalui tiga pilahan penelitian yaitu 1) perakitan VUB spesifik (VUBS). Dalam kaitan ini. Upaya perbaikan potensi genetik varietas padi tidak hanya memerlukan dukungan pengelolaan dan karakterisasi plasma nutfah. (4) persilangan padi kerabat jauh. Tabel 7. dan 3) perakitan VUH. kerjasama diarahkan pada pembentukan padi tahan cekaman biotik dengan teknik transgenik seperti ketahanan . (3) pemuliaan padi tipe baru. tetapi juga memerlukan teknik bioteknologi. Balitpa bekerja bersama dengan BB-Biogen. yaitu (1) persilangan dan seleksi konvensional. (2) pemuliaan heterosis/hibrida. Untuk pengelolaan dan kharakterisasi plasma nutfah padi. dan (6) rekayasa genetik. sedangkan untuk identifikasi wilayah pengembangan bekerjasama Puslittanak.29 nutfah domestik. Pendekatan ini membuka peluang kerjasama dengan lembaga penelitian seperti BB-Biogen. upaya peningkatan produksi padi di masa datang harus bertumpu pada enam pendekatan. Perguruan Tinggi dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Skala prioritas arah pengembangan untuk peningkatan produktivitas padi berdasarkan tipologi lahan Bergantung kepada tuntutan pemecahan masalah. (5) pemuliaan molekuler. Bekerjasama dengan BBBiogen akan diperbaiki kelemahan VUH maupun VUTB seperti kehampaan yang masih tinggi. Dengan LIPI. tetapi juga karakterisasi lahan yang sesuai bagi pengembangannya. 2) perakitan VUTB.

dengan BB-Pascapanen dan Ditjen BP2HP dalam hal perbaikan penanganan pasca panen. Penelitian perbaikan komponen teknologi LATO diharapkan dapat menghasilkan perbaikan komponen teknologi PTT padi sawah irigasi yang telah dijadikan sebagai teknologi utama dalam implementasi program Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) dan pengembangan sejuta hektar VUTB/VUB. tanaman dan organisme (LATO) serta panen dan menjadi bagian terpisahkan pengembangan komoditas padi. VUB yang dilepas perlu dilengkapi dengan teknologi budidaya dan teknologi panen/pascapanen Oleh sebab agar itu yang potensi penelitian tak genetiknya perbaikan dari dapat teraktualisasikan. Di masa yang akan datang penelitian ini menghasilkan teknologi pengembangan PTT di lahan marjinal melalui program PMI. penelitian juga diharapkan mampu menghasilkan teknologi produksi benih padi hibrida dan wilayah yang sesuai bagi pengembangan VUTB/VUH. Dalam hal perbaikan ketahanan VUBS masih terus diusahakan untuk mendapatkan galur-galur tahan dan galur yang memiliki nilai gizi tinggi dari IRRI dan International Food Research Institute (IFRI). misalnya. Hasil penelitian panen dan pascapanen diharapkan telah dapat menjadi bagian dari teknologi yang pengembangan mendukung VUTB/VUB sejuta hektar dan PMI. Dalam penelitian perbaikan komponen LATO dan pascapanen terbuka peluang untuk bekerjasama dengan lembaga penelitian lainnya. Dengan BB-Mektan. Bekerjasama dengan Puslittanak. kerja sama diharapkan dapat menghasilkan teknik perontokan VUTB. air. . Pada tahun 2007 mendatang. pascapanen komponen program pengelolaan lahan. Hasil penelitian perbaikan komponen teknologi PTT akan direkomendasikan untuk dikaji lebih lanjut oleh BPTP di lahan marjinal.30 terhadap hama penggerek batang maupun dengan teknik radiasi bersama Badan Tenaga Atom Nasional. teknologi perbaikan PTT dan varietas unggul diharapkan telah diadopsi dan dikembangkan pada lahan marjinal melalui program PMI.

seminar. Dalam hal ini. Memasuki tahun 2007 diharapkan intesifikasi telah diintroduksikan pada lahan marjinal. Balitpa menyediakan benih BS untuk keperluan pengembangan varietas unggul. diseminasi dan sosialisasi teknologi sangat penting artinya. teknologi yang dihasilkan baru akan bermanfaat jika sudah digunakan oleh petani. . dan institusi terkait lainnya. ekspose. Diseminasi hasil penelitian akan dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Ditjen BP2HP. sebelum diusulkan untuk dilepas sebagai VUB. segera dimasyarakatkan melalui program pengembangan VTUB/VUB atau melalui program perbaikan mutu intensifikasi (PMI) pada lahan sawah irigasi yang digerakkan oleh Ditjen Tanaman Pangan bekerja sama dengan dinasdinas pertanian. temu lapang. Secara langsung. Dinas Pertanian. dan media lainnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. VUTB gogo beserta PTT pada lahan marjinal menjadi komponen teknologi unggulan yang telah terintegrasi dalam kegiatan tersebut. dan secara tidak langsung melalui tahapan pengkajian bersama BPTP. diseminasi melalui penyediaan benih sumber. Dari program perakitan varietas akan dihasilkan galurgalur harapan yang siap diuji adaptasi dan uji multilokasi melalui jaringan litkaji dengan BPTP di daerah-daerah produsen padi. sehingga VUBS. Varietas unggul baru yang telah disetujui untuk dilepas.31 Bagaimanapun canggihnya. Sosialisasi teknologi dapat melalui BPTP.

32 .

serta diseminasi untuk mempercepat adopsi teknologi oleh petani/pengguna. irigasi. masing-masing dengan dua skenario sehingga terdapat empat skenario (Bab III dan Tabel 8). 4) memberikan insentif berusaha. . lumbung pangan desa. Namun hal ini perlu didukung oleh sarana produksi dan kelembagaan yang diimbangi dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. 7) pemberdayaan petani dan masyarakat. produktivitas dalam pencapaian meskipun perluasan areal juga potensial dan memungkinkan. modal. Dari peningkatan keempat skenario tersebut terlihat pentingnya swasembada upaya beras. 3) mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi baru.5% per tahun memungkinkan ditinjau dari potensi pengembangan varietas unggul dan kesiapan teknologi budidaya padi di Badan Litbang Pertanian. meningkatkan akses terhadap sumberdaya. yaitu (a) pengaturan luas areal panen (LAP) dan (b) peningkatan produktivitas. STRATEGI. keuangan dan penyuluhan). koperasi. 6) mendorong partisipasi aktif seluruh stakeholder. 8) pengembangan kelembagaan (kelembagaan produksi dan penanganan pascapanen.0-1. KEBIJAKAN DAN PROGRAM A. teknologi dan pasar. dan (c) pemilahan pendekatan berdasarkan agroekosistem lahan.33 V. 5) mendorong diversifikasi produksi. Untuk mencapai sasaran swasembada berkelanjutan didekati dengan tiga strategi. Peningkatan produktivitas padi nasional sebesar 1. Strategi Strategi antarsubsistem yang ditempuh 2) antara lain: 1) mendorong petani sinergi agribisnis.

areal panen naik 0. Tingkat pencapaian swasembada beras melalui empat skenario peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam.34 Tabel 8. Tabel 9. Penyebaran produksi. Penyebaran luas areal dan produktivitas padi di tiap agroekosistem untuk mencapai swasembada beras sesuai dengan skenario 4 atau skenario Ditjentan (Tabel 9). lahan kering dan pasang surut masingmasing sebesar 78%. Dengan memanfaatkan potensi senjang hasil dari lahan irigasi. produktivitas dan areal panen padi pada tiap agro-ekosistem pada skenario 4 (produktivitas naik 0. maka swasembada 100% dapat dicapai tanpa membuka lahan baru. 100% dan 50%.37% per tahun) untuk mencapai swasembada 100%. tadah hujan. . 100%.48%.

. Untuk lahan kering adalah melalui peningkatan produktivitas dan stabilitas hasil dengan introduksi varietas-varietas unggul baru dalam model PTT. dan aluminium. Untuk sawah tadah hujan lebih diarahkan kepada peningkatan IP dan stabilitas hasil dengan introduksi varietas unggul yang lebih tahan hama dan penyakit dan/atau toleran kekeringan. kesuburan tanah dan kualitas air seperti pirit. dan penerapan varietas super genjah. dan (3) meningkatkan mutu hasil untuk mendukung usaha agribisnis. Tabel 10. perbaikan saluran irigasi. Badan Litbang Pertanian telah berpengalaman menangani keempat agroeksistem padi tersebut dan melepas varietas unggul yang potensial. (2) memperkecil senjang hasil melalui diseminasi dan teknologi spesifik lokasi. keracunan besi. perluasan areal dapat dijadikan andalan di masa mendatang mengingat air tidak menjadi faktor pembatas. Strategi peningkatan produksi padi pada keempat agroekosistem (Jumlah bintang menunjukkan skala prioritas) Pada lahan rawa pasang surut. Pada lahan sawah irigasi peningkatan produksi terutama ditujukan untuk: (1) meningkatkan IP dengan menyediakan air (pompanisasi).35 Strategi peningkatan produksi padi untuk berbagai agroekosistem dipandang dari segi besarnya peluang peningkatan produksi padi nasional disajikan pada Tabel 10. kecuali masalah tata air. asam-asam organik.

36 B. dan pencegahan penyelundupan belum . ketahanan kontinuitas. Kebijakan makro yang perlu dipertahankan pembatasan mengendalikan keseimbangan pasokan dan permintaan pada saat periode panen raya. 4) mencegah penyelundupan. aspek dan distribusi. 4) memberdayakan petani dan masyarakat pedesaan. produktif. 2) perlindungan terhadap petani melalui tarif untuk menjaga daya saing produksi beras dalam negeri. mengembangkan kawasan agribisnis padi yang modern. efisien dan produktif. Pembatasan impor pada saat panen raya yang telah dilakukan selama ini cukup efisien menekan pasokan. 5) mengembangkan kelembagaan dan kemitraan yang modern. tangguh dan jaminan meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui adopsi inovasi unggul dan berdaya saing. 3) memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal (efisien. pangan mencakup kualitas. Kebijakan dan 2) pengembangan memberikan membangun bagi petani. 3) harga dasar pembelian. Kebijakan Upaya ketersediaan/ penguatan kecukupan. Diversifikasi konsumsi makin perlu digalakan di masa yang akan datang untuk mengurangi laju peningkatan kebutuhan beras sehingga melanggengkan padi diarahkan kehidupan swasembada pada: yang lebih 1) baik beras. partisipatif. keamanan/kesehatan. dan berkelanjutan) yang dapat mendukung ketahanan ekonomi dan pelestariannya dan lingkungan. sehingga harga gabah bertahan pada tingkat yang menguntungkan petani. Di samping itu perlu dipertimbangkan subsidi output untuk menjamin petani mendapatkan harga produk yang menguntungkan bagi usahataninya. tangguh. harga dasar pembelian. Pengembangan adalah: 1) agribisnis impor beras untuk perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Namun kebijakan tarif. dan 5) standarisasi produk sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP) akan mendorong peningkatan mutu produksi beras dalam negeri dan menghambat masuknya produk inferior.

Pengembangan sarana dan prasarana Pengembangan sarana dan prasarana meliputi perbaikan jaringan irigasi. (2) penyempurnaan kebijakan subsidi pupuk. sehingga kurang mendorong gairah mereka untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usahataninya. penyediaan saprodi. koordinasi lintas sektor pusat dan daerah. pengembangan jasa alsintan dan jasa permodalan. C. Komoditas tanaman pangan impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi petaninya secara baik dengan berbagai cara. Pengembangan sistem perbenihan Jangka menengah (2005-2009) : a. (3) pengembangan pola kemitraan. Program 1. pengembangan jalan usaha tani. Kondisi demikian mengakibatkan insentif yang diterima petani belum optimal. tenaga pendamping masyarakat untuk membantu Komisi Pengawas Pupuk Kabupaten. Pemantapan pemuliaan. 2. dan peningkatan pelayanan pendaftaran pupuk. bahkan pada saat panen raya di daerah-daerah sentra produksi sering terjadi harga jauh di bawah harga dasar.37 efektif pelaksanaannya. pembukaan lahan baru (cetak sawah). dan peningkatan kemampuan laboratorium pengujian mutu pupuk di pusat dan daerah. Harga produk petani biasanya berada di bawah harga dasar. penelitian. dan (4) pelatihan pengawas pupuk. dan pelepasan varietas . penyidik PNS. Program pengadaan pupuk yang besar pengaruhnya terhadap produksi padi diarahkan kepada: (1) peningkatan fasilitas penyediaan pupuk sesuai azas enam tepat dengan cara updating perencanaan kebutuhan pupuk.

dan partisipatif. tangguh. Diharapkan pada tahun 2009 dapat tersedia benih padi bersertfikat sebanyak 140. keamanan dan kelestarian lingkungan. serta (2) percepatan adopsinya melalui perbaikan sistem diseminasi inovasi teknologi (pembuatan sistem pakar untuk teknologi spesifik lokasi. Optimalisasi penggunaan benih bermutu melalui sosialisasi benih bermutu d.). c. Optimalisasi kinerja kelembagaan perbenihan f. yang mempertimbangkan aspek peningkatan pendapatan petani. Peningkatan ketersediaan benih bermutu guna mendukung pencapaian sasaran peningkatan produksi padi. Untuk jangka menengah. Pengembangan sistem informasi perbenihan e. sistem informasi berbasis website dsb. dan/atau memiliki daya toleransi dan daya adaptasi terhadap lingkungan biotik dan abiotik setempat.700 ton. Penyempurnaan peraturan yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini Jangka Panjang (2005. test kit. Akselerasi peningkatan produktivitas (intensifikasi) Intensifikasi atau peningkatan produktivitas padi nasional ditempuh berdasarkan konsep Revolusi Hijau Lestari (RHL).38 b. . peningkatan produktivitas akan ditempuh melalui (1) perbaikan teknologi spesifik lokasi model PTT (improved PTT) atau prescription farming terutama penggunaan varietas-varietas unggul baru hasil tinggi (5-10% lebih tinggi dari IR64) di lokasi yang sesuai. Pengembangan usaha perbenihan yang mandiri.2025) : a. menguntungkan dan berkesinambungan 3. Penyediaan benih bermutu untuk memenuhi permintaan dalam negeri dan mengisi pasar ekspor b.

c. dan PHSL + ameliorasi. pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) termasuk pemanfaatan bahan organik. yang didukung dengan oleh penelitian dasar dan strategik (IPTEK). tanaman dan organisme (LATO). konservasi lahan. (b) peningkatan efektivitas dan efisiensi komponen teknologi pengelolaan lahan. Lahan kering (gogo): PTT yang mempertimbangkan aspek konservasi lahan. Lahan rawa pasang surut: melalui PTT dan introduksi varietas padi sesuai lokasi. Rekayasa sosial ekonomi secara bertahap dan berkelanjutan dirintis untuk masing-masing tipologi.39 Peningkatan produktivitas padi jangka menengah dilakukan dengan pendekatan yang mirip dengan jangka pendek. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan pada lahan optimal (sawah irigasi). (c) membangun dan mengembangkan sistem jaringan penelitian dan pengkajian (litkaji) tanaman padi. serta (d) melaksanakan diseminasi dan promosi teknologi dan informasi hasil penelitian padi. . Lahan sawah beririgasi: peningkatan mutu intensifikasi (PMI) dengan pendekatan PTT melalui penggunaan VUS terbaru. termasuk pemupukan berimbang dan teknik budidaya spesifik lokasi. dan lahan rawa lebak/pasang surut. tetapi juga pada lahan suboptimal seperti lahan sawah tadah hujan. lahan kering. air. Secara spesifik program yang akan dikembangkan untuk jangka panjang (sampai tahun 2025) berdasarkan tipologi adalah sebagai berikut: a. namun didukung oleh kegiatan penelitian dan pengembangan dalam hal: (a) perakitan varietas unggul (VUB. padi hibrida (VUH) dan padi tipe baru (VUTB) yang berdaya hasil tinggi dan bermutu. tata air mikro. pengendalian gulma. pola tanam. Lahan sawah tadah hujan: perbaikan komponen teknologi PTT terutama pola tanam. sawit dupa/duwit dupa. VUB sesuai lokasi. d. pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) dan VUB sesuai lokasi. VUTB. b. VUH dan VUHTB) yang didukung oleh sistem perbenihan.

penguatan kualitas SDM. beririgasi dan (4) (pencetakan lebak/pasang pengembangan daerah-daerah kantong penyangga produksi (di pinggiran kota atau sekitar sentra produksi padi). dengan mengintroduksikan varietasvarietas super genjah dan pemanfaatan sumber air alternatif. Peningkatan produktivitas dan stabilitas juga dilakukan melalui rehabilitasi dan konservasi lahan (RKL). dan alang-alang. 4. Pengolahan dan pemasaran hasil Teknologi pengolahan dan pemasaran yang perlu dikembangkan adalah teknologi pengolahan dalam upaya pengurangan kehilangan hasil. dan pengadaan sarana pengendalian dan pengembangan sistem peringatan dini eksplosi hama penyakit. penurunan kualitas dan kandungan bahan organik. Cu). (2) optimalisasi pemanfaatan lahan (PBL) lahan yang sawah (OPL). rehabilitasi lahan sawah salin. rehabilitasi lahan kering masam. ancaman kekeringan dan banjir. . penyediaan teknologi dan pemasyarakatan PHT. sela pada lahan perkebunan. 5. ditujukan baru) termasuk pada serta tanaman kering. penguatan kelembagaan. yaitu rehabilitasi lahan-lahan terdegradasi akibat erosi. kahat hara mikro (Zn. proporsi varietas daerah endemis hama dan penyakit serta bencana alam dan SIM. pengurasan hara. Pengembangan sistem perlindungan Kegiatan ini dilaksanakan melalui penguatan database informasi. 6. kehutanan dan hortikultura. Perluasan areal tanam (ekstensifikasi) Dilaksanakan melalui empat kegiatan yaitu: (1) peningkatan IP pada berbagai tipologi lahan. waktu tanam. VUH dan VUTB dengan pendekatan PTT lebih diarahkan ke lahan dengan produktivitas sedang hingga tinggi. (3) penambahan luas baku lahan sawah surut. rehabilitasi lahan pasang surut dan rawa lebak dan konservasi lahan. terutama lahan-lahan tidur.40 Pengembangan VUS terbaru.

8. pengembangan jasa pascapanen (drying center). pendidikan. penyimpanan dan impor. dan membangun kembali lembaga penyuluhan sebagai pusat pengembangan kelembagaan petani. manajemen pelaksanaan. Dalam jangka panjang. dan mendorong ekspor ke negara importir beras dunia. informasi tataniaga (pengendalian/pengaturan insentif harga. Memadukan sumber pembiayaan optimalisasi pemanfaatan anggaran dari pusat (APBN). Pemantapan manajemen pembangunan Pemantapan aspek perencanaan. dan pengolahan pengaturan primer (pengeringan. mulai dari pengembangan. alsin pengolahan. latihan. Koordinasi perencanaan di tingkat pusat secara fungsional dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian (c/q.41 teknologi pasar. produk olahan berupa beras premium seperti kristal dan beras instan. DAU). serta teknologi pemanfaatan produk samping berupa sekam dan dedak. Di . penyediaan dana opkup untuk pembelian gabah petani oleh pemerintah. Pengembangan kelembagaan Pembentukan korporasi usaha dalam bentuk KUAT (Kelompok Usaha Agribisnis Terpadu). pembangunan monitoring dilakukan dan evaluasi dalam melalui hingga rangka pengembangan jaringan informasi IPTEK dan pasar beras. serta pelayanan. 7. Selain itu perlu segera dirancang program-program khusus untuk pembangunan pasar induk beras (food station). Biro Perencanaan dan Keuangan). perlu diprioritaskan peningkatan mutu beras melalui pengembangan beras fungsional lainnya berupa beras beryodium dan beras dengan indeks glutemik rendah. penggilingan). bea masuk). masyakarat dan lembaga keuangan lainnya. asosiasi komoditas dan profesi. standardisasi mutu produk. Pemda (APBD. swasta. Dalam upaya peningkatan nilai tambah beras perlu dikembangkan teknologi agroindustri pengolahan melalui Sistem Manajemen Mutu (SMM) dan Sratifikasi Mutu serta perbaikan sistem promosi.

. baik dengan Eselon II lingkup Direktorat Jenderal maupun Iintas sektor/subsektor secara bilateral maupun multilateral.42 Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan secara fungsional dikoordinasikan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal. nonpemerintah. Selain dengan instansi pemerintah juga dilakukan penguatan koordinasi pangan. asosiasi dan masyarakat agribisnis yang terkait dengan pengembangan tanaman bersifat bilateral maupun multilateral/keterpaduan yang melibatkan berbagai intansi terkait dan stakeholder secara bersama-sama. baik yang swasta. dengan terutama lembaga padi. Masing-masing unit kerja Eselon II melakukan koordinasi.

4 trilyun investasi pemerintah. sedangkan kebutuhan thresher. thresher. investasi yang dibutuhkan Rp 80. Pencetakan sawah merupakan komponen investasi yang memerlukan biaya paling besar. saluran irigasi. investasi swasta yang mencakup pengadaan traktor. dan target swasembada. gudang. produksi benih hibrida.4 trilyun dan 78. yang terdiri atas Rp 63.66 trilyun.18 trilyun investasi swasta dan Rp 7. 85. Berdasarkan skenario 1. Untuk mencapai swasembada. litbang. Pengadaan benih hibrida pada tahun 2016 ditargetkan untuk 1 juta hektar areal pengembangan benih hibrida. penyuluhan. jumlah investasi yang harus dikeluarkan dalam kurun waktu 2006-2025 adalah Rp. Dasar perhitungan biaya untuk setiap hamparan investasi disajikan dalam tabel 11. gudang. Sesuai dengan skenario tersebut. . dan intensifikasi. kebutuhan investasi akan berubah searah dengan perubahan luas areal. produksi. KEBUTUHAN INVESTASI Kebutuhan investasi yang dimaksud adalah kebutuhan investasi berkaitan yang dengan keempat skenario yang telah diuraikan di atas. bukan karena biaya per unitnya tetapi berhubungan dengan luas sawah yang harus dicetak sesuai dengan target swasembada yang ingin dicapai. Kebutuhan traktor dipengaruhi oleh luas areal. investasi pemerintah yang mencakup pencetakan sawah. Terlihat bahwa biaya investasi untuk skenario 2 dan 3 lebih kecil dibandingkan dengan investasi yang dibutuhkan pada skenario 1. Kebutuhan investasi terbagi ke dalam dua kelompok.2 trilyun (Tabel 13).43 VI. Skenario 4 lebih moderat dibanding skenario 2 dan 3. dan RMU dipengaruhi oleh jumlah produksi. Pertama. Kedua. dan penggilingan padi (RMU).99 trilyun untuk mencapai swasembada (Tabel 12). Besaran investasi skenario 2 dan 3 berturut-turut 85.

Dasar perhitungan biaya komponen investasi.44 Tabel 11. . 2006-2025.Perkiraan kebutuhan investasi pengembangan padi menurut skenario 1 dan skenario 2 di Indonesia. Tabel 12.

2006-2025. . Perkiraan kebutuhan investasi pengembangan padi menurut skenario 3 dan skenario 4 di Indonesia.45 Tabel 13.

dukungan kebijakan pemerintah kepada pelaku agribisnis kepada padi. 3) penerapan kebijakan fiskal yang dapat menekan biaya investasi yang mahal. 2) penerapan hukum dan perundangan yang konsisten. Kebijakan yang perlu diberikan meliputi: pemberian insentif untuk mencegah fragmentasi lahan. Namun belum ada data empiris yang menunjukkan bahwa dokumen tersebut cukup efektif mengatur dan mengendalikan konversi lahan. apalagi dengan adanya UU Otonomi Daerah. 5) peningkatan pelayanan dan pengaturan penyuluhan pertanian. DUKUNGAN KEBIJAKAN Terdapat sekitar 16 Peraturan Pemerintah/Inpres/Kepres/ Kepmen untuk mengatur dan mengurangi laju konversi lahan. dan 4) transparansi proses perizinan. 6) peningkatan akses terhadap informasi pasar melalui dukungan terhadap infrastruktur pasar. 8) penerapan hukum dan perundang-undangan melalui pemberian hukuman dan penghargaan (punishement dan reward system). Swasta memerlukan dukungan kebijakan: 1) penyerderhanaan aturan dan birokrasi investasi. 3) kemudahan akses sumber modal bagi petani produsen. Permasalahannya terletak pada pengawasan dan konsistensi penerapan hukum. 7) peningkatan kemampuan manajemen usaha agribisnis. petani baik masyarakat 1) (petani) maupun swasta. akan mempercepat peningkatan investasi. 2) penerapan secara konsisten peraturan tentang konversi lahan sawah produktif.46 VII. 4) perluasan akses sumber informasi inovasi dan teknologi produksi bagi petani produsen. . 3) membuka akses pada sumber modal. Oleh karena itu.

47 LAMPIRAN .

Produksi. 2000-2003. luas panen dan produktivitas usahatani padi indonesia.48 Lampiran 1. .

Perkembangan impor beras indonesia. 1990-2003. .49 Lampiran 2.

Potensi areal pengembangan padi melalui ekstensifikasi.50 Lampiran 3. peningkatan Indeks Pertanaman (IP). dan pengembangan hibrida .

Perubahan produksi padi tahun 2005-2025 melalui masing-masing skenario dibandingkan dengan permintaan.51 Lampiran 4. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful