ABORSI,DIPANDANG DARI SEGI ETIKA DAN HUKUM BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Aborsi merupakan salah satu topik yang selalu hangat diperbincangkan di berbagai kalangan masyarakat. Pada umumnya masyarakat Indonesia menganggap aborsi adalah hal yang tabu. Namun, bila dilihat dari cara pandang yang lain, terdapat banyak pendapat dan perdebatan mengenai hukum dilaksanakannya aborsi. Pelaksanaan aborsi melibatkan banyak pihak dari berbagai profesi, terutama dokter, ahli agama, dan psikiater. Selain itu, aborsi tidak hanya mempengaruhi wanita yang diaborsi saja, namun juga keluarga dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, seorang dokter memiliki peran penting dalam kasus aborsi. Pengetahuan dan ketrampilan menerapkan aspek etika, hukum, dan disiplin kedokteran dalam perilaku seorang dokter menunjukkan kemampuan profesionalnya. Profesionalisme seorang dokter tidak hanya diukur dari disiplin ilmu kedokteran saja,tetapi juga dari sikapnya dalam mempertimbangkan aspek etika dan hukum di dalam menghadapi setiap kasus, termasuk ketika menghadapi kasus aborsi. Dalam skenario kali ini, kasus yang dihadapi adalah seorang anak perempuan berumur 13 tahun yang duduk di kelas 1 SMP hamil hampir 1bulan karena diperkosa. Korban mengalami depresi dan orangtua menginginkan kehamilan digugurkan. Setelah berkonsultasi ke dokter, dokter menyanggupi untuk melaksanakan praktik aborsi setelah mempertimbangkan aspek profesionalisme. Namun, orangtua masih bingung karena menurut mereka, agama dan hukum melarang aborsi. Berdasarkan paparan di atas, laporan ini akan membahas tinjauan kasus aborsi dari sudut pandang kode etik kedokteran, sumpah dokter, segi disiplin, hukum, dan agama. Pemahaman tentang kasus aborsi sangat penting bagi mahasiswa pendidikan dokter dalam proses pembelajaran menjadi dokter yang professional dalam bertindak dan dalam menghadapi kasus-kasus kompleks yang mungkin dihadapi di masa depan. BAB II STUDI PUSTAKA ABORSI Aborsi adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempesoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya telah mencapai >500 gram atau umur kehamilan >20 minggu. Klasifikasi Aborsi : 1. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis. 2. Abortus buatan, Abortus provocatus (disengaja digugurkan), yaitu: a. Abortus provocatus medisinalis (atas indikasi medis) b. Abortus provocatus criminalis (bukan indikasi medis) (Obstetri Patologi FK Unpad, Ed.2 : 1, 2005)

Kanker indung telur (ovarian cancer). 7. 36 Tahun 2009 disebutkan dalam: • Pasal 75 1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal. (Kitab Undang-undang Hukum Pidanan RI. • Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. 10. diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan”. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan. yaitu: 1. maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan. 6.D. 8. ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348. 9. 2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. Kematian mendadak karena perdarahan hebat.Tindakan aborsi yang telah dilakukan oleh seorang wanita memiliki beberapa risiko terhadap kesehatan dan keselamatan. atau . Kerusakan leher rahim (Cervical Laceration) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya. • Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin. 5. Kanker leher rahim (cervical cancer). 4. Menjadi mandul atau tidak mampu mempunyai keturunan lagi. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. Seperti dijelaskan dalam buku “Fact of Life” oleh Brian Clowes. 3. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346. Kanker payudara (karena tidak seimbangnya hormone estrogen pada wanita). Ph. Rahim yang sobek (Uterine Perforation). dan Kanker hati (liver cancer). (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Ketentuan-ketentuan Abortus Buatan Dalam Perundang-undangan Dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d 350 dinyatakan sebagai berikut : • Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. yang menderita penyakit genetic berat dan/atau cacat bawaan. 2. • Pasal 349 : “Jika seorang dokter. Bab XIX) Dalam Undang-undang No. Infeksi rongga panggul (pelvic inflammatory disease) dan endometriosis. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan. Kelainan pada placenta (placenta previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan perdarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.

3. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang didalamnya terdapat antara lain keluarga. dan penyakit-penyakit fisiki berat lainnya yang harus ditetapkan oleh tim dokter. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. baik yang bersifat darurat maupun hajat. • Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. c. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur. b. korban. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi: a. • Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu. . d. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri. 2. 4. dan e. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dengan izin suami. Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 7d “Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi makhluk insani. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.” (MKEK IDI. dokter. Dalam keadaan dimana kehamilan mengancam nyawa si ibu. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan. kecuali korban perkosaan. c. 2. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina. b. TBC. 5. 3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. kecuali dalam hal kedaruratan medis. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi: a. Kedua : Ketentuan Hukum 1. ulama. Hajat adalah suatu keadaan dimana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu maka ia akan mengalami kesulitan besar. b. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. tidak aman. 2006) Fatwa MUI No. Darurat adalah suatu keadaan dimana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hamper mati.4 Tahun 2005 tentang Aborsi: Pertama : Ketentuan Umum 1. Perempuan hamil menderitan sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu.b. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kelak kalu lahir sulit disembuhkan.

disiplin serta bertindak secara professional. hukum. agama. 2005) BAB IV PENUTUP A. dokter selalu berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan. dan disiplin dalam membuat keputusan medis. Hal ini dikarenakan aborsi diperbolehkan hanya jika dengan alasan medis. B. keuntungan dan faktor resiko. dan menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh kepada pasien. 2. dalam penanganan pasien sesuai standar profesi. Seorang dokter harus mempunyai prinsip berpegang kode etik kedokteran dalam mengambil keputusan yang selalu mempertimbangkan keselamatan pasien. psikiater. Seorang dokter di Indonesia harus dapat menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia sesuai sumpah janji yang telah diucapkan. hukum. seperti: demi keselamatan sang ibu. Jika depresi berat dan membahayakan nyawa pasien maka tindakan aborsi diperbolehkan. Seorang dokter harus selalu memperhatikan dan mengkaji setiap aspek etik. Kesimpulan 1. 3. Saran 1. 2. dalam mengambil keputusan seorang dokter harus berusaha sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan aspek etik. saling menghormati dalam hubungan dokter pasien. Berdasarkan skenario. Dalam praktek sehari-hari untuk mengambil keputusan medis harus dilakukan hubungan dokter pasien. Selain itu. 3. jika pasien belum dewasa bisa diwakilkan kepada orang tuanya. ahli agama. dan hanya dilaksanakan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah. keputusan dilakukannya aborsi atau tidak tergantung pada tingkat depresi dari pasien. . Menjaga kerahasiaan kepercayaan pasien. Keputusan dilakukannya aborsi secara legal harus dilakukan oleh tim dokter yang terdiri dari 2 atau lebih dua dokter ahli. agama.(MUI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful