KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN

ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan
Konsep Belajar “Jean Piaget” )


SKRIPSI



Diajukan oleh :
Nadyana Rizqi
04110196












JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
April, 2008

i
KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN
ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan
Konsep Belajar “Jean Piaget” )

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI)



Diajukan oleh :
Nadyana Rizqi
04110196














JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
April, 2008

ii
HALAMAN PERSETUJUAN
KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN
ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan
Konsep Belajar “Jean Piaget” )

Oleh:
Nadyana Rizqi
04110196


Telah Disetujui Pada Tanggal 02 April 2008
Oleh Dosen Pembimbing


Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I
NIP. 150 215 385


Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam


Drs. Moh. Padil, M.PdI
NIP. 150 267 235

iii
HALAMAN PENGESAHAN
KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN
ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan
Konsep Belajar “Jean Piaget” )


SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh
Nadyana Rizqi (04110196)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
15 April 2008 dan telah dinyatakan diterima dengan nilai “A” sebagai salah satu
persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam(S.Pd.I)

Panitia Ujian

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,


Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I Hj. Rahmawati Baharuddin. MA
NIP. 150 215 385 NIP. 150 318 021


Pembimbing, Penguji Utama,


Drs. H. Baharuddin, M. Pd.I Drs. H.M. Syahid, M.Ag
NIP. 150 215 385 NIP. 150 035 110




Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang


Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

iv


PERSEMBAHAN PERSEMBAHAN PERSEMBAHAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan kepada:
Ayah
(H. Choiril Anam)

Ibu
(Farida)

Adik-Adikku
(Amaliya Rachmi)
(Faiza Fitria)

Mereka adalah semangat hidupku
yang senantiasa memberikan do’a dan
restunya dalam mencapai harapan
di masa depan.
Ayah-Ibu terima kasih atas semua yang
telah engkau berikan, do’a serta restu
akan selalu mengiringi putrimu dalam
mewujudkan cita-cita.


v




MOTTO MOTTO MOTTO MOTTO
¸ ¸¸ ¸Ο ΟΟ Ο` `` `¡ ¡¡ ¡¸ ¸¸ ¸0 00 0 ¸ ¸¸ ¸! !! ! # ## # ¸ ¸¸ ¸  ≈ ≈≈ ≈´ ´ ´ ´ Η ΗΗ Η q qq q¯ ¯¯ ¯  9 99 9 # ## # ¸ ¸¸ ¸Ο ΟΟ ΟŠ ŠŠ Š¸ ¸¸ ¸m mm m¯ ¯¯ ¯  9 99 9 # ## #
¸ ¸¸ ¸ì ìì ì ù ùù ù¯ ¯¯ ¯   ƒ ƒƒ ƒ ´ ´´ ´! !! ! # ## #     ¸ ¸¸ ¸% %% % ! !! ! # ## # # ## #θ θθ θ` `` `Ζ ΖΖ Ζ Β ΒΒ Β# ## #´ ´ ´ ´ ™ ™™ ™ ¯ ¯¯ ¯Ν ΝΝ Ν 3 33 3Ζ ΖΖ Ζ¸ ¸¸ ¸Β ΒΒ Β     ¸ ¸¸ ¸% %% % ! !! ! # ## #´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ # ## #θ θθ θ ? ?? ?ρ ρρ ρ & && &
´ ´ ´ ´ Ο ΟΟ Ο = == =¸ ¸¸ ¸è èè è 9 99 9 # ## # ¸ ¸¸ ¸M MM M≈ ≈≈ ≈ _ __ _´ ´ ´ ´ ‘ ‘‘ ‘ Š ŠŠ Š ´ ´´ ´! !! ! # ## #´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ $ $$ $ ϑ ϑϑ ϑ¸ ¸¸ ¸/ // / β ββ βθ θθ θ = == = ϑ ϑϑ ϑ è èè è ? ?? ? Ž ŽŽ Ž  ¸ ¸¸ ¸7 77 7 z zz z

Artinya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan dengan
beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S. al-Mujadilah : 11)









vi
Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Nadyana Rizqi Malang, 02 April 2008
Lamp. : 4 (empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
Di
Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Nadyana Rizqi
NIM : 04110196
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat
(Non-Islam) serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam ( Komparasi Antara Konsep
Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean
Piaget”)


Selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pembimbing,


Drs. H. Baharuddin, M. Pd.I
NIP. 150 215 385

vii

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.


Malang, 02 April 2008


Nadyana Rizqi











viii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Syukur Al-Hamdulillah penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan Rahmad dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad SAW., keluarga dan para sahabatnya serta para pengikutnya
yang senantiasa berjuang menegakkan agama Islam dengan mengikuti segala
langkah dan perjuangan beliau.
Selanjutnya penulis haturkan ucapan terima kasih seiring do’a dan harapan
jazakumullah ahsanal jaza’ kepada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada:
1. Ayahanda H. Choiril Anam dan Ibunda Farida tercinta yang senantiasa
memberikan doa dan restunya kepada penulis dalam menuntut ilmu.
2. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku rektor UIN Malang, yang telah
banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman yang berharga.
3. Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN
Malang.
4. Bapak Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I selaku dosen pembimbing skripsi,
yang telah banyak memberikan pengarahan dan pengalaman yang
berharga.

ix
5. Adik-adikku : Amaliya Rachmi dan Faiza Fitria yang selalu memberikan
semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Sahabat-sahabatku: Nur’aini, Lailatus Salamah, Ria Fauziah Hanum, Siti
Kholifah, Fathul Lilik, Dliya’ul Firdausyi R., Indah Lely Maghfirah,
Mir’atul Khusniah yang selalu memberi motivasi dan membantu dalam
penyelesaian skripsi ini.
7. Semua pihak yang ikut membantu dalam menyelesaikannya skripsi ini
baik berupa materiil maupun moriil.

Penulis sadar sepenuhnya, mengingat keterbatasan kapasitas dan
kemampuan yang kami miliki, kiranya masih banyak kesalahan dan kekeliruan
maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari
berbagai pihak untuk menyempurnakan skripsi ini.
Akhirnya semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada
khususnya dan semua pihak terkait pada umumnya. Amin Ya Rabbal Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Singosari, 02April 2008
Penulis,

Nadyana Rizqi






x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
HALAMAN PENGAJUAN........................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iv
PERSEMBAHAN........................................................................................... v
MOTTO.......................................................................................................... vi
NOTA DINAS PEMBIMBING..................................................................... vii
SURAT PERNYATAAN............................................................................... viii
KATA PENGANTAR.................................................................................... ix
DAFTAR ISI................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xvi
ABSTRAK...................................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................ 8
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 9
D. Manfa’at Penelitian.............................................................................. 9
E. Batasan Masalah .................................................................................. 10
F. Definisi Operasional ............................................................................ 10

xi
G. Metode Penelitian ................................................................................ 11
H. Sistematika Pembahasan...................................................................... 19

BAB II KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN
BARAT ( NON-ISLAM)
A. Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam......................................... 21
1. Konsep Belajar dalam Pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadits ........ 21
2. Biografi Ibnu Khaldun ................................................................... 39
3. Pandangan Ibnu Khaldun Terhadap Kesanggupan Manusia
Untuk Berfikir ................................................................................ 46
4. Pembagian Ilmu Pengetahuan Menurut Ibnu Khaldun.................. 54
5. Konsep Belajar dan metode Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun... 66
6. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun.................................... 77
B. Konsep Belajar Barat (Non-Islam) .................................................... 78
1. Konsep Belajar Secara Umum....................................................... 78
2. Biografi Jean Piaget ....................................................................... 90
3. Konsep Belajar Menurut Jean Piaget ............................................. 95
4. Proses Belajar Menurut Jean Piaget ............................................... 104
5. Perkembangan Pengetahuan (Kognitif) Menurut Jean Piaget ....... 114

BAB III KOMPARASI KONSEP BELAJAR MENURUT
PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM)
A. Konsep Belajar Islam........................................................................... 122

xii
B. Konsep Belajar Barat (Non-Islam)....................................................... 126
C. Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat (Non-Islam) ....... 132

BAB IV APLIKASI KONSEP BELAJAR ISLAM (IBNU KHALDUN)
DAN BARAT (JEAN PIAGET) DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Pembahasan Konsep Belajar Menurut Ibnu Khaldun dan Konsep
Belajar Menurut Jean Piaget ................................................................ 141
B. Aplikasi Konsep Belajar Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar
Jean Piaget Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam................ 158

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 165
B. Saran-saran .......................................................................................... 167

DAFTAR RUJUKAN .................................................................................... 168
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP






xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Sumber Acuan Primer dan Sumber Acuan Sekunder ...................... 13
Tabel 3.1 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget ............................................. 116
Tabel 4.1 Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Konsep Belajar
Barat ................................................................................................. 135
Tabel 5.1 Perbedaan Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran
Konstruktivistik................................................................................ 157
















xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Rancangan Penelitian................................................................... 17
Gambar 3.1 Proses Pembelajaran Konstruktivistik.......................................... 113




















xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Gambar Ibnu Khaldun.
Lampiran II : Gambar Jean Piaget.




















xvi
ABSTRAK
Nadyana Rizqi, Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat (Non-Islam)
Serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Komparasi
Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “ Jean Piaget” ).
Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam
Negeri (UIN) Malang. Drs. H. Baharuddin, M. PdI.

Kata Kunci : Konsep Belajar Islam ( Ibnu Khaldun); Konsep Belajar Barat
(Jean Piaget).


Konsep belajar menurut pandangan Islam adalah proses pencarian
pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang termanifestasikan
dalam perbuatan demi terbentuknya Insan Kamil, selain itu Islam sangat
memperhatikan adanya aspek spiritual dalam proses belajar. Sedangkan, Konsep
belajar menurut pandangan Barat adalah perubahan tingkah laku yang relatif
menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku yang
dilakukan secara sadar, tanpa melibatkan adanya aspek spiritual di dalamnya.
Masalah mendidik adalah masalah setiap orang, karena setiap orang sejak dahulu
sampai sekarang, tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan atau anak-anak lain
yang diserahkan kepadanya untuk dididik. Demikian pula masalah “belajar”, yang
dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha pendidikan, adalah masalah
setiap orang. Salah satu tugas utama seorang guru adalah menyelenggarakan
kegiatan belajar-mengajar bersama siswa di dalam kelas maupun di luar kelas
sesuai kebutuhan pembelajaran yang diinginkan. Agar kegiatan belajar dapat
berlangsung secara efektif, efisien, dan menarik, seorang guru harus memiliki
pengetahuan tentang hakikat belajar mengajar dan teori belajar dan pembelajaran.
Corak pemikiran Ibnu Khaldun (sebagai tokoh Islam) yang rasionalistik-
empiristik-sufistik inilah yang dijadikan dasar pijakan oleh Ibnu Khaldun dalam
membangun konsep-konsepnya mengenai pendidikan, dan juga akan menjadi
faktor asasi bagi suksesnya tujuan pendidikan serta untuk merealisasikan berbagai
sasaran yang dicita-citakan dalam proses pembelajaran. Piaget (sebagai tokoh
Barat) adalah seorang teoretikus yang sangat berpengaruh dalam bidang
perkembangan kognitif, penelitian yang dilakukan memberikan garis besar dari
sistem kognitif anak pada tahap-tahap perkembangannya. Para pendidik
memandang bahwa teori Jean Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan
guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum.
Permasalahan penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah konsep belajar
menurut pandangan Islam (Ibnu Khaldun); (2) Bagaimanakah konsep belajar
menurut pandangan Barat (Jean Piaget); (3) Bagaimanakah komparasi konsep
belajar Islam dan Barat (khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan
Jean Piaget); (4) Bagaimanakah aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean
Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Adapun tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah untuk : (1) Mengetahui konsep belajar menurut
pandangan Islam (Ibnu Khaldun); (2) Mengetahui konsep belajar menurut

xvii
pandangan Barat (Jean Piaget); (3) Mengetahui komparasi konsep belajar Islam
dan Barat (khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget); (4)
Mengetahui aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian library research (kajian
pustaka). Sedangkan dalam mengumpulkan data, menggunakan metode
dokumentasi, untuk analisisnya menggunakan teknik komparasi, yaitu meneliti
faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang
diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwasanya
komparasi antara konsep belajar Islam dan Barat diantaranya adalah: (a) Dalam
Islam, selain memperhatikan aspek kognitif, sfektif, psikomotorik dalam belajar,
juga melibatkan aspek spiritual. (b) Islam memandang bahwa belajar merupakan
perbuatan mental yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Sedangkan, Barat
memandang bahwa belajar merupakan perbuatan mental yang hanya bersifat
duniawi. Adapun komparasi antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget
di antaranya adalah: Ibnu Khaldun memandang bahwa konsep belajar merupakan
suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman
untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat.
Sedangkan, Jean Piaget memandang bahwa konsep belajar merupakan suatu
proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral),
proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Aplikasinya dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di antaranya adalah Belajar memahami
akan lebih bermakna daripada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru
harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
peserta didik. Misalnya, pada awalnya peserta didik memiliki pengetahuan tentang
makna Shalat, baru kemudian disampaikan materi tentang rukun-rukun Shalat dan
diharuskan memahami apa makna dari rukun-rukun Shalat, bukan hanya
menghafalkan saja.
Berdasarkan konsep belajar yang dipaparkan oleh Ibnu Khaldun dan Jean
Piaget tersebut, maka sebagai seorang pendidik diharapkan tidak membeda-
bedakan antara konsep belajar Islam dan Barat, karena kedua konsep tersebut
dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam proses
belajar-mengajar guna menyempurnakan dalam mencapai tujuan-tujuan yang
diharapkan dan juga tidak memandang bahwa semua konsep belajar yang
ditawarkan Barat akan membawa pengaruh buruk karena pastilah di dalamnya ada
hal-hal positif yang dapat diambil sehingga akan menciptakan suasana belajar
yang ideal.





1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia dilahirkan dengan membawa bermacam-macam fitrah
1
, di
antaranya adalah fitrah beragama
2
, fitrah intelek
3
, dan fitrah sosial
4
. Fitrah
tersebut sudah barang tentu masih merupakan potensi latent (tersembunyi) dan
lemah, sehingga harus dikembangkan oleh manusia itu sendiri agar menjadi
aktual dan kuat, maka harus dikembangkan secara optimal lewat kegiatan
belajar.
5
Belajar yang dimaksud tidak harus melalui pedidikan di sekolah saja,
tetapi juga dapat dilakukan di luar sekolah, baik dalam keluarga maupun
masyarakat, dan atau lewat institusi sosial
6
yang ada.
Allah SWT menghendaki manusia yang kuat, termasuk juga fitrahnya,
karena dengan fitrahnya yang kuat itulah, maka tugas hidup dapat dijalankan

1
Fitrah, ialah kekuatan asli yang ada dalam diri manusia, yang sudah dibawanya semenjak
lahir dan yang akan menjadi pendorong serta penentu bagi kepribadiannya (perbuatan, sikap dan
ucapannya).
2
Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir “ al-Manar” bahwa manusia itu telah diciptakan
oleh Allah atas fitrah Islam dan dalam jiwa manusia telah disiapkan Allah gharizah iman.
3
Sebagaimana dalam Q.S. al-Baqarah: 31-33, yang artinya sebagai berikut:
(31) Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-
benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!", (32) Mereka menjawab: "Maha
Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada
Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
4
Sebagaimana dalam Q.S. al-Maidah: 2, yang artinya sebagai berikut:
‘Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
5
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia
(Sebuah Tinjauan Psikologi), (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), hlm. 93
6
Menurut pendapat ahli Sosiologi, institusi-institusi dapat dikelompokkan menjadi delapan
macam, yaitu: 1) keluarga, 2) keagamaan, 3) institusi pengetahuan, 4) ekonomi, 5) politik, 6)
kebudayaan, 7) keolahragaan, dan 8) media massa.


2
dengan sukses dan segala tantangan hidup serta kehidupan dapat diatasi
dengan baik. Jika fitrah manusia tersebut tidak dikembangkan, maka akan
berakibat amat buruk bagi manusia dan kehidupannya.
Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap
usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada
pendidikan. Sebagai suaru proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang
luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan.
7

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem pendidikan Nasional 2003 pasal 34 menyebutkan tentang wajib belajar,
yang berbunyi : “wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang
diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan masyarakat”.
8

Pendidikan adalah tonggak kehidupan sebuah Negara. Pendidikan
mempunyai peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa.
Pentingnya pendidikan telah banyak disadarai oleh sebagian kalangan
masyarakat terlebih lagi para praktisi pendidikan. Salah satu tujuan mendasar
dari pendidikan adalah bagaimana agar pendidikan mampu manjawab
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
9

Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan
makna yang terkandung dalam belajar. karena kemampuan berubalah,
manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi.

7
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, cet ke-14 (Bandung:
P.T. Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 94
8
“Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional 2003” (Jakarta: Cemerlang, 2003), hlm. 25
9
Zuhairini ,dkk. Filsfat Pendidikan Islam, cet 2 ( Jakarta: Bumi Aksara, 1995 ), Hal. 148.


3
10
Sementara pendidikan menurut pandangan Islam adalah merupakan bagian
dari tugas kehalifahan manusia yang harus dilaksanakan secara bertanggung
jawab, kemudian pertanggungjawaban itu baru bisa dituntut kalau ada aturan
dan pedoman pelaksanaan, oleh karenanya Islam tentunya memberikan garis-
garis besar tentang pelaksanaan pendidikan tersebut. Islam memberikan
konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan, dan menjadi tanggung
jawab manusia untuk menjabarkan dengan mengaplikasikan konsep-konsep
dasar tersebut dalam peraktek kependidikan.
11

Masalah mendidik adalah masalah setiap orang, karena setiap orang
sejak dahulu sampai sekarang, tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan
atau anak-anak lain yang diserahkan kepadanya untuk dididik. Demikian pula
masalah “belajar”, yang dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha
pendidikan, adalah masalah setiap orang.
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan
kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan
yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju
karena belajar.
12

Salah satu tugas utama seorang guru adalah menyelenggarakan
kegiatan belajar-mengajar bersama siswa di dalam kelas maupun di luar kelas
sesuai kebutuhan pembelajaran yang diinginkan. Agar dapat
menyelenggarakan kegiatan belajar secara efektif, efisien, dan menarik,

10
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm 95
11
Zuhairini ,dkk .Loc. Cit.
12
Muhibbin Syah, Loc. Cit.


4
seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang hakikat belajar mengajar
dan teori belajar dan pembelajaran.
Peserta didik merupakan “raw material” (bahan mentah) di dalam
proses transformasi pendidikan. Pendidikan merupakan suatu keharusan yang
diberikan kepada peserta didik. Peserta didik sebagai manusia yang berpotensi
perlu dibina dan dibimbing dengan perantaraan guru. Potensi peserta didik
yang bersifat laten perlu diaktualisasikan agar anak didik tidak lagi dikatakan
sebagai “animal educable”
13
, tetapi ia harus dianggap sebagai manusia secara
mutlak, sebab peserta didik mempunyai potensi untuk dijadikan kekuatan
manusia yang susila dan cakap.
14

Sebagai manusia, peserta didik memiliki karakteristik. Guru perlu
memahami karakteristik peserta didik sehingga mudah melaksanakan proses
pembelajaran. Kegagalan menciptakan proses pembelajaran yang kondusif,
berpangkal pada kedangkalan pemahaman guru terhadap karakteristik peserta
didik sebagai sebagai individu. Bahan, metode, sarana/alat, dan evaluasi tidak
dapat berperan lebih banyak, bila guru mengabaikan aspek peserta didik.
Sebaiknya dalam proses belajar, sebelum guru mempersiapkan tahapan-
tahapan interaksi edukatif, guru hendaknya memahami keadaan peserta didik.
Hal tersebut adalah sangat penting agar dapat mempersiapkan segala

13
Animal Educable adalah sejenis binatang yang memungkinkan untuk dididik. Sedangkan
menurut Islam peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi
(kemampuan) dasar yang perlu dikembangkan. Peserta didik sebagai subyek dan obyek pendidikan
yang memerlukan bimbingan pendidik untuk membantu mengarahkan mengembangkan potensi
yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan. Lihat Syaiful Bahri Djamarah, Guru
dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hlm. 52
14
Ibid.


5
sesuatunya secara akurat, sehingga tercipta interaksi edukatif yang kondusif,
efektif dan efisien.
Hakikat belajar mengajar memberikan informasi kepada guru tentang
tugas dan tanggung jawab serta kedudukan guru falam kegiatan pembelajaran.
Teori belajar dan pembelajaran memberikan informasi kepada guru tentang
bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajar yang efektif, efisien,
dan memiliki daya tarik.
Belajar dan mengajar adalah masalah setiap orang, maka jelaslah
kiranya perlu untuk menjelaskan serta merumuskan belajar itu, terlebih-lebih
bagi kaum pendidik, supaya dapat menempuhnya dengan lebih efisien, dan
seefektif mungkin.
Firman Allah Q.S Al-Mujadallah: 11
¸ìù¯ ƒ ´!# ¸%!# #θ`ΖΒ#´ ™ ¯Ν3Ζ¸Β ¸%!#´ρ #θ?ρ& ´Ο=¸è9# ¸M≈_´‘Š ´!#´ρ $ϑ¸/ βθ=ϑè?
Ž¸7z ∩⊇⊇∪
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
15


Belajar dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap orang yang
beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan guna meningkatkan derajat
hidupnya.
Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh Islam yang banyak memberikan
saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan Islam, yang amat berharga

15
Al-Qur’an dan Terjemahnya, ( Bandung: CV. Penerbit Jumanatul ‘Ali-Art), hlm. 543


6
sekali dan tidak kecil pengaruhnya terhadap pendidikan Islam dewasa ini.
Corak pemikirannya yang rasionalistik-empiristik-sufistik inilah yang
dijadikan dasar pijakan oleh Ibnu Khaldun dalam membangun konsep-
konsepnya mengenai pendidikan, dan juga akan menjadi faktor asasi bagi
suksesnya tujuan pendidikan serta untuk merealisasikan berbagai sasaran yang
dicita-citakan dalam proses pembelajaran.
Memandang pentingnya aspek pendidikan terhadap manusia, maka
perlu kiranya dalam setiap usaha pendidikan didasarkan pada landasan yang
berpijak pada nilai-nilai yang ideal. Dasar nilai-nilai ideal yang menjadi dasar
pendidikan Islam haruslah merupakan sumber kebenaran dan kekuatan yang
dapat mengantarkan pada aktifitas yang dicita-citakan. Nilai yang terkandung
di dalamnya haruslah bersifat universal dan dapat dikomunikasikan untuk
seluruh aspek kehidupan manusia serta merupakan standar nilai yang dapat
mengevaluasi kegiatan yang berjalan.
16

Oleh karena itu, belajar dilakukan oleh manusia berlangsung terus
menerus, sepanjang hayat (life education), di sekolah maupun di luar sekolah,
membimbing atau tidak. Premis ini diperkuat oleh kenyataan bahwa manusia
walaupun mempunyai kelemahan, tetapi juga di sisi lain ia adalah makhluk
yang dinamis bukan makhluk yang statis
17
, dengan kedinamisannya tersebut
manusia mampu menciptakan kemajuan dengan berbagai teknologi yang
canggih guna mempermudah kehidupannya.

16
Muhaimin dan M. Mudjib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan kerangka
Kajian Operasionalnya, (Bandung: Trigenda karya, 1993), hlm. 144
17
Abdur Rahman Abror, Psikologi pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1993),
hlm. 63.


7
Jean Piaget adalah seorang teoretikus yang sangat berpengaruh dalam
bidang perkembangan kognitif, penelitian yang dilakukan memberikan garis
besar dari sistem kognitif anak pada tahap-tahap perkembangannya.
18
Para
pendidik memandang bahwa teori Jean Piaget dapat dipakai sebagai dasar
pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di
dalam kurikulum.
Mempelajari disiplin ilmu pengetahuan Barat dalam hal psikologi,
seseorang harus berusaha mempelajari landasan filosofisnya dan latar
belakang sejarahnya, jangan menerima mentah-mentah teori secara
praktiknya, tanpa adanya penyeleksian mana yang sesuai dengan ajaran Islam
dan mana yang tidak.
19

Berdasarkan fenomena tersebut, maka muncullah istilah “Islamisasi
Pengetahuan”
20
sebagai upaya membangun kembali semangat umat Islam
mengkaji pengetahuan, mengembangkannya melalui pendekatan ilmiah
(scientific inquiry) dan filosofis yang merupakan perwujudan dari komitmen
terhadap doktrin dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-
Sunnah.

18
Samuel Soeitoe, Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik,
(Jakarta: Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), hlm. 98
19
Malik Badri, Fiqih Tafakur dari Perenungan Menuju Kesadaran, Sebuah pendekatan
Psikologi Islami, (Solo: Era Intermedia, 2001), hlm. 31
20
Islamisasi Pengetahuan adalah mengislamkan atau melakukan pengkudusan atau
penyucian terhadap ilmu pengetahuan produk non Islam (Barat) yang selama ini dikembangkan
dan dijadikan acuan dalam wacana perkembangan sistem pendidikan islam agar memperoleh ilmu
pengetahuan yang bercorak Islam. Gagasan ini pertama kali dilontarkan oleh Syeh Naquib al-Attas
dalam konferensi dunia pertama tentang pendidikan Muslim di Makkkah tahun 1997, yang
kemudian dikembangkan oleh Ismail Raji al-Furuqi. Lihat Muhaimin, Arah Baru Pengembangan
Pendidikan islam, Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga Redefinisi Islamisasi
Pengetahuan, (Bandung: Nuansa, 2003), hlm. 337


8
Melihat kenyataan di atas, maka pengajuan penelitian skripsi ini akan
membahas tentang konsep belajar dalam pandangan Islam (Ibnu Khaldun)
serta membahas konsep belajar dalam pandangan Barat ( Jean Piaget), karena
antara pandangan Barat dan Islam mempunyai perbedaan pengertian tentang
masalah belajar, yang mana dengan memahami kedua konsep balajar tersebut
diharapkan sebagai calon pendidik dapat mengaplikasikannya dalam proses
pembelajaran guna mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis sangat tertarik
untuk meneliti permasalahan tersebut dengan judul: “KONSEP BELAJAR
DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA
APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan
Konsep Belajar “Jean Piaget” )”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
menghasilkan beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Bagaimanakah konsep belajar dalam pandangan Islam (khusunya
pemikiran Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran
Jean Piaget.
2. Bagaimanakah komparasi konsep belajar Islam dan Barat (Non-Islam),
khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget.


9
3. Bagaimanakah aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah di atas,
yakni untuk:
1. Mengetahui konsep belajar dalam pandangan Islam (khususnya pemikiran
Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget.
2. Mengetahui komparasi antara konsep belajar Islam dan Barat (Non-Islam),
khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget.
3. Mengetahui aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

D. Manfa’at Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Lembaga Pendidikan
Adanya perbaikan dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan yang
diharapkan oleh pengajar dapat terlaksana dengan baik dan juga
diharapkan agar interaksi antara pengajar dan peserta didik dapat terjalin
dengan baik.

2. Bagi Masyarakat Umum


10
Dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan yang berkaitan
dengan masalah konsep belajar baik menurut pandangan Islam (Ibnu
Khaldun) dan pandangan Barat (Jean Piaget) beserta aplikasinya dalam
pembelajaran.

3. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam memahami konsep belajar,
sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan dalam
pelaksanaan pembelajaran.

E. Batasan Masalah
Agar hasil penelitian ini dapat terarah dalam mencapai tujuan dan tidak
menyimpang dari judul yang telah di tetapkan sebelumnya, maka peneliti
membatasi kajian tentang konsep belajar menurut pandangan Islam (Ibnu
Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget,
membandingkannya, dan melakukan sintesa serta membahas aplikasinya
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

F. Definisi Operasional
Untuk memudahkan pemahaman dan kejelasan tentang arah penulisan
skripsi ini, maka penulis memaparkan definisi yang tertera dalam judul:


11
Konsep adalah ide umum; pengertian; pemikiran; rancangan; rencana
dasar.
21

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai
hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.
22

Konsep belajar Islam adalah penjelasan tentang prinsip-prinsip yang
berkaitan dengan tingkah laku belajar yang bersumber dari al-Qur’an dan al-
Sunnah serta Khazanah pemikiran intelektual Islam khususnya pemikiran Ibnu
Khaldun.
23

Konsep belajar Barat adalah penjelasan tentang prinsip-psinsip belajar
yang bersumber dari pemikiran Jean Piaget, menurutnya belajar adalah proses
internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Analisis komparasi adalah menganalisa data yang sudah ada
berdasarkan perbandingan, yang mana nantinya penulis akan mengkaji teori
belajar Jean Piaget dan teori belajar Ibnu Khaldun kemudian dibandingkan
antara keduanya.

G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis karya ilmiah ini adalah library research (kajian pustaka).
Kajian pustaka berusaha mengungkapkan konsep-konsep baru dengan cara

21
Pius A Pastanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, ( Surabaya: Arkola,
1994), hlm. 362
22
Muhibin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. ke-3,
hlm. 59
23
A. Busyairi Harits, Ilmu Laduni Dalam Perspektif Teori Belajar Modern, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 13


12
membaca dan mencatat informasi-informasi yang relevan dengan
kebutuhan
24
, yakni dengan mengungkapkan konsep belajar Islam dan
konsep belajar Barat, khususnya mengkaji lebih dalam konsep belajar Ibnu
Khaldun dan konsep belajar Jean Piaget. Adapun bahan bacaan mencakup
buku-buku yang membahas tentang belajar, teks jurnal tentang belajar,
majalah-majalah ilmiah dan hasil penelitian yang ada hubungannya
dengan konsep belajar.
Penelitian ini bersifat kualitatif karena uraian datanya bersifat
deskriptif, yakni mendeskripsikan konsep belajar Islam khususnya konsep
belajar menurut Ibnu Khaldun dan mendeskripsikan konsep belajar Barat
khususnya konsep belajar menurut Jean Piaget. Selanjutnya, menganalisis
data secara induktif yakni menalar konsep-konsep belajar tersebut hingga
mencapai suatu kesimpulan mengenai keseluruhan konsep belajar,
kemudian rancangan yang bersifat sementara tersebut merupakan hasil
penelitian yang dapat dirundingkan.
25


2. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini berbentuk library research, maka dalam
mengumpulkan data menggunakan metode dokumentasi. Suharsimi
menjelaskan bahwa metode dokumentasi adalah mencari data mengenai

24
M. Pidarta, Studi Tentang Landasan Kependidikan: Jurnal, Filsafat, Teori dan Praktik
Kependidikan, (Jakarta: 1999), hlm. 3-4
25
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004), Cet 20, hlm. 8


13
hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen dan sebagainya.
26

Adapun sumber acuan yang digunakan adalah sumber acuan primer
dan sumber acuan sekunder. Sumber acuan primer yaitu kepustakaan yang
berwujud buku-buku teks, ensiklopedia, monograph dan sebagainya.
sedangkan sumber acuan sekunder yaitu kepustakaan yang berwujud
jurnal, buletin penelitian dan buku-buku penunjang penelitian ini.
Buku-buku yang penulis jadikan sebagai acuan dapat dikategorikan
sebagai berikut:
Tabel 1.1
Sumber Acuan Primer dan Sumber Acuan Sekunder
Sumber Acuan Primer Sumber Acuan Sekunder
Barat:- Teori Belajar dan
Pembelajaran (oleh
Baharuddin dan Esa Nur
Wahyuni)
- Psikologi Belajar (oleh
Abu Ahmadi dan Widodo
Supriyono)
-Buku Ajar Teori Belajar
dan pembelajaran (oleh
Sutiah)

Barat: -Belajar dan Pembelajaran
(oleh Asri Budianingsih)
-Psikologi Pendidikan
Untuk Para Pendidik dan
Calon Pendidik (oleh
Samuel Soeitoe)
-Buku-buku penunjang
lainnya

Islam: -Muqaddimah Ibn Khaldun
(oleh Ahmadie Thoha)
- Ibnu Khaldun Tentang
Pendidikan (Fathiyyah
Hasan Sulaiman)
Islam: -Filsafat Pendidikan Islam
(oleh Toto Suharto)
-Prinsip-Prinsip Dasar
Konsepsi Pendidikan
Islam (oleh Syahminan
Zaini)
- Buku-buku penunjang
lainnya


26
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2002), Cet. 12, hlm. 206


14
3. Teknik Analisis dan Rancangan Penelitian
a. Teknik Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah content
analysis (analisis isi). Sumadi mengemukakan bahwa metode ini hanya
menganalisis data yang tekstual menurut isinya.
27
Sedangkan menurut
Barcus, content analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi atau
pesan suatu komunikasi.

b. Rancangan Penelitian
Adapun rancangan dalam penelitian ini adalah mengacu pada
rancangan yang dikemukakan oleh Al-Faruqi yang menetapkan lima
rancangan kerja “Islamisasi Pengetahuan”
28
, yaitu:
1) Menguasai disiplin-disiplin ilmu modern.
2) Menguasai khazanah ilmu pengetahuan Islam
3) Menemukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu
pengetahuan modern.
4) Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah
Islam dengan khazanah ilmu pengetahuan modern.
5) Mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah
pada pemenuhan pola rancangan Allah.


27
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), Cet. ke-4,
hlm. 93
28
Ancok dan Suroso, Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi, (
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), Cet. ke-2, hlm. 118


15
Berdasarkan rancangan Al-Faruqi di atas, peneliti melakukan
adaptasi dan mengaplikasikan dalam rancangan sebagai berikut:
1) Menelaah konsep belajar Islam, khususnya Ibnu Khaldun, yang
mana beliau sebagai intelektual Muslim yang banyak
menyumbangkan pemikirannya mengenai konsep belajar,
diantaranya: Biografi Ibnu Khaldun, Pandangan Ibnu Khaldun
terhadap kesanggupan manusia untuk berfikir, Pembagian ilmu
pengetahuan menurut Ibnu Khaldun, Pembagian kurikulum
menurut Ibnu Khaldun, Konsep belajar dan metode pengajaran
menurut Ibnu Khaldun, Hal-hal yang menghambat proses belajar
menurut Ibnu Khaldun, dan Tujuan pendidikan menurut Ibnu
Khaldun. Pembahasan ini akan dipaparkan pada bab dua.
2) Menelaah teori Barat, khususnya teori Jean Piaget, yang ditelaah di
dalamnya: Konsep belajar secara umum (Barat), Biografi Jean
Piaget, Konsep belajar menurut Jean Piaget, Proses belajar menurut
Jean Piaget, Perkembangan pengetahuan (Kognitif) menurut Jean
Piaget. Teori ini ditelaah dari buku-buku yang menjadi sumber
acuan primer yang ditunjang dengan beberapa buku lain.
Pembahasan ini akan dipaparkan pada bab tiga.
3) Mengadakan penilaian secara kritis dan obyektif terhadap konsep
belajar Islam dan Barat, khususnya konsep belajar menurut
pemikiran “Ibnu Khaldun” dan “Jean Piaget”, kemudian
dilanjutkan dengan mengkomparasikan kedua teori tersebut.


16
4) Mengadakan sintesa (penggabungan) secara kreatif antara konsep
belajar Islam (Ibnu Khaldun) dengan konsep belajar Barat (Jean
Piaget), dari sintesa antara kedua konsep belajar tersebut, dapat
ditetapkan sebagai konsep belajar Islam yang selaras dengan
wawasan dan idealisme Islam dengan tidak meninggalkan konsep
belajar Barat (Jean Piaget) yang tidak bertentangan dengan Islam,
kemudian konsep Belajar tersebut diaplikasikan dalam pelaksanaan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
















17
Bagan dari rancangan penelitian adalah sebagaimana dipaparkan di
bawah ini:
















Gambar 1.1
Rancangan Penelitian



Ibnu Khaldun Jean Piaget

I
Penelaahan konsep belajar
Islam (Ibnu Khaldun)
II
Penelaahan konsep belajar
Barat (Non-Islam) : Jean
Piaget
III
Komparasi konsep belajar Islam
(Ibnu Khaldun) dan konsep belajar
Barat (Non-Islam) : Jean Piaget
IV
Sintesa kreatif konsep belajar Islam
(Ibnu Khaldun) dan konsep belajar
Barat (Non-Islam) : Jean Piaget
Konsep belajar terpadu dan selaras
dengan idealisme Islam


18
Pembahasan data pada penulisan karya ilmiah ini, peneliti
menggunakan metode pembahasan sebagai berikut:
1. Komparasi
Metode komparasi yaitu meneliti faktor-faktor tertentu yang
berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan
membandingkan satu faktor dengan yang lain, dan penyelidikan bersifat
komparatif.
29
Pada penulisan karya ilmiah ini pada mulanya meneliti
faktor-faktor yang berhubungan dengan konsep belajar Islam dan konsep
belajar Barat kemudian membandingkan diantara keduanya.
Adapun dari segi mekanisme kerja, metode komparatif ini
diaplikasikan melalui langkah-langkah sebagai berikut
30
:
a. Menelusuri permasalahan-permasalahan yang setara tingkat dan
jenisnya,
b. Mempertemukan dua atau lebih permasalahan yang setara tersebut,
c. Mengungkapkan ciri-ciri dari objek yang sedang dibandingkan secara
jelas dan terinci,
d. Mengungkapkan hasil perbandingan,
e. Menyusun atau memformulasikan teori-teori yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah (logis dan objektif).



29
Winarno Surachmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Teknik, (Bandung:
Tarsito, 1990), hlm. 142
30
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam - Dari Metode Rasional hingga Metode
Kritik ( Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), hlm.348-349


19
2. Induksi
Metode induksi yaitu metode yang berangkat dari fakta-fakta atau
peristiwa-peristiwa khusus dan kongkrit, kemudian digeneralisasikan
menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
31
Pada mulanya mengkaji
konsep belajar Islam (khususnya pemikiran Ibnu Khaldun) dan konsep
belajar Barat (khususnya pemikiran Jean Piaget), kemuadian kedua konsep
tersebut digeneralisasikan menjadi konsep belajar terpadu yang selaras
dengan idealisme Islam.

3. Deduksi
Metode deduksi yaitu metode yang berangkat dari pengetahuan
yang bersifat umum itu hendak menilai sesuatu kejadian yang sifatnya
khusus.
32
Penulisan karya ilmiah ini juga mengguankan metode deduksi
yakni berangkat dari konsep belajar secara umum baik menurut pandangan
Islam maupun menurut pandangan Barat, kemudian konsep belajar Islam
tersebut dikhususkan pada pemikiran Ibnu Khaldun, sedangkan konsep
belajar Barat dikhususkan pada pemikiran Jean Piaget.

H. Sistematika Pembahasan
Penulisan tugas akhir ini, penulis menggunakan sistematika
pembahasan yang terdiri dari lima bab, dan masing-masing bab dibagi dalam
sub-bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

31
Sutrisno Hadi, Methode Research I, Afsed, (Yogyakarta, 1987), Hlm. 36
32
Ibid., hlm. 142


20
BAB I : Bab ini merupakan pendahuluan yang di dalamnya mencakup
(a) Latar Belakang Masalah, (b) Rumusan Masalah, (c) Tujuan Penelitian, (d)
Kegunaan/Manfa’at Penelitian, (e) Batasan Masalah, (f) Definisi Operasional,
(g) Metode Penelitian, dan (h) Sistematika Pembahasan.
BAB II : Bab ini membahas tentang konsep belajar dalam pandangan
Islam ( khususnya pemikiran Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya
pemikiran Jean Piaget.
BAB III : Bab ini membahas tentang komparasi antara konsep belajar
Islam dan konsep belajar Barat (Non-Islam), khususnya menurut pandangan
“Ibnu Khaldun” dan “Jean Piaget”.
BAB IV: Bab ini membahas tentang aplikasi konsep belajar Islam
(Ibnu Khaldun) dan Barat (Jean Piaget) dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam, sehingga diharapkan dalam proses belajar mengajar dapat
mencapai tujuan yang diinginkan oleh pengajar.
BAB V : Bab ini sebagai bab penutup dari keseluruhan pembahasan
yang dibagi dalam kesimpulan, saran, dan bagian akhir ( daftar rujukan,
lampiran-lampiran, dan daftar riwayat hidup).





21
BAB II
KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM
DAN BARAT ( NON-ISLAM)

A. Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam
1. Konsep Belajar Dalam Pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadits
Islam sebagai agama rahmah li al-‘alamin sangat mewajibkan
umatnya untuk selalu belajar, bahkan Allah mengawali menurunkan al-
Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan
Rasul-Nya, Muhammad Saw., untuk membaca dan membaca (iqra’). Iqra’
merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar. Sedangkan dalam
arti luas, dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan
dan memperbaiki kehidupannya.
33

Firman Allah dalam Q.S. al-Mujadallah: 11
$κš‰ '≈ƒ ¸%!# #θ`ΖΒ#´ ™ #Œ¸) Ÿ≅Š¸% ¯Ν39 #θs´¡? †¸û ¸§¸=≈fϑ9# #θs¡ù$ù ¸x ¡ƒ
´!# ¯Ν39 #Œ¸)´ρ Ÿ≅Š¸% #ρ'“±Σ# #ρ'“±Σ$ù ¸ìù¯ƒ ´!# ¸%!# #θ`Ζ Β#´™ ¯Ν3Ζ¸Β ¸%!#´ ρ
#θ?ρ& ´Ο=¸è9# ¸M≈_´‘Š ´!#´ρ $ϑ¸/ βθ=ϑè? Ž¸7z ∩⊇⊇∪

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan

33
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2007), hlm. 29


22
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
34


Maksud dari ayat di atas adalah bahwa dalam perspektif Islam,
belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar
memperoleh ilmu pengetahuan guna meningkatkan derajat hidupnya.
Islam menggambarkan belajar dengan bertolak dari Firman Allah
Q.S An-Nahl: 78
´!#´ρ Ν3_z& ¸Β ¸βθÜ/ ¯Ν3¸F≈γΒ& Ÿω šχθϑ=è? $↔‹© Ÿ≅è _´ρ `Ν39 ìϑ´¡9#
≈ Á¯/{#´ρ ο‰¸↔ù{#´ρ ¯Ν3=è 9 šχρ`3±? ∩∠∇∪

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
35


Makna dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada mulanya
manusia itu tidak memiliki pengetahuan atau tidak mengetahui
sesuatupun.
36

Firman Allah dalam Q.S. ar-Rad: 11
´χ¸) ´!# Ÿω Ž¸ó`ƒ $Β ¸Θ¯θ)¸/ ©L m #ρŽ¸ó`ƒ $Β ¯Ν¸κ¸¦Ρ'¸/ #Œ¸)´ρ Š#´‘& ´!# ¸Θ¯θ)¸/
#´™θ™ Ÿξù Š Β …µ9 $Β´ρ Ογ9 ¸Β ¸µ¸ΡρŠ ¸Β ¸Α#´ρ ∩⊇⊇∪


34
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Al-Qur’an dan Terjemahnya, ( Bandung: CV. Penerbit
Jumanatul ‘Ali-Art), hlm. 543
35
Ibid., hlm. 275
36
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia
(Sebuah Tinjauan Psikologi). (Jakarta: Kalam Mulia, 1991). hlm. 6


23
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-
kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
37


Ayat di atas menjelaskan bahwa belajar merupakan proses yang
dilalui manusia selama manusia hidup. Perbedaan manusia dengan
binatang ialah manusia memiliki akal pikiran dan budi pekerti yang dapat
digunakan untuk berpikir, sehingga manusia memiliki cita-cita dan tujuan
hidup. Kemajuan dan kemunduran manusia sangat tergantung manusia itu
sendiri, apakah ia mau berusaha untuk maju atau tidak.
38

Firman Allah dalam Q.S. ar-Ra’d: 19
ϑù& `Ο=èƒ $ϑΡ& Α¸“Ρ& 7‹9¸) ¸Β 7¸/¯‘ ‘,t:# ϑ. ´θδ ´‘ϑã& $ÿς¸) `.‹Gƒ
#θ9`ρ& ¸=≈ 69{# ∩⊇®∪

Artinya: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan
orang yang buta? Sesungguhnya hanya orang-orang yang
berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”
39


Ayat di atas menjelaskan bahwa proses belajar dalam Islam sangat
dianjurkan, karena manusia yang baru saja dilahirkan ke muka bumi
adalah bagaikan orang yang buta.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:

37
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 250
38
Sutiah, Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran (Malang: Universitas Negeri Malang.
2003), hlm. 20
39
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Loc. Cit.


24
Pandangan dasar Islam tentang kemungkinaan manusia untuk
memperoleh kemajuan hidupnya adalah terletak pada kemampuan
belajarnya. Sedang kemampuan belajar seseorang telah ditetapkan oleh
Allah sebagai suatu kemampuan ikhtiyariahnya sendiri melalui proses
transformasi, transaksi dan transinternalisasi dalam berbagai segi
kehidupan manusia, dimulai sejak lahir sampai meninggal dunia.
40

Proses belajar tidak akan lepas dari hubungan pendidik dan peserta
didik. Menurut Islam perlakuan terhadap anak didik sangat besar
pengaruhnya. Adapun tuntutan Islam terhadap hubungan antara pendidik
dengan peserta didik yang terpenting di antaranya adalah adanya rasa
kasih sayang, lemah-lembut, memberikan kemerdekaan, memberikan
penghargaan, sesuai dengan perkembangannya, mengarahkan ke masa
depan berbicara kepada mereka dengan baik, benar, mudah dimengerti,
dan disiplin.
41

Proses belajar menurut konsep Islam adalah melatih,
menggunakan, memfungsikan serta mengoptimalkan fungsi macam-
macam alat (indera luar dan dalam) yang telah dianugerahkan oleh Allah
secara integral dalam pelbagai aspek kehidupan sebagai manifestasi dari
rasa syukur kepada-Nya.
42

Perlu diketahui bahwa setiap apa yang diperintahkan Allah untuk
dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting

40
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, op.cit., hlm. 11
41
Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam
Mulia)
42
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Op. Cit., hlm. 9


25
bagi manusia. Demikian juga dengan perintah untuk belajar. Beberapa hal
penting yang berkaitan dengan belajar, antara lain:
43

1. Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang
berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh
manusia dalam kehidupan. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang
didapatkannya itu manusia akan dapat mempertahankan kehidupan.
44

2. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang
manusia lakukan. Apa pun yang dilakukan, manusia harus mengetahui
kenapa mereka melakukannya. Dengan belajar manusia dapat
mengetahui apa yang dilakukan dan memahami tujuan dari segala
perbuatannya. Selain itu dengan belajar pula manusia akan memiliki
ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta, karena setiap apa yang
kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
45


Seseorang yang dikatakan berhasil dalam belajarnya jika dapat
mencapai ulul albab.
46
Sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an, yaitu:
a. Q.S. al-Baqarah: 269

43
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 32-33
44
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. az-Zumar: 9, yang artinya adalah : “(apakah
kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu
malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan
rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-
orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.”
45
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Isra’: 36, yang artinya adalah: “Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
46
Ulul Albab yaitu kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT.
di antara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksanaan dan pengetahuan, di
samping pengetahuan yang mereka peroleh secara empirik.


26
’¸Aσ`ƒ πϑ6¸s9# Β '™$±„ Β´ρ Nσ`ƒ πϑ6¸s9# ‰ )ù ´’¸Aρ& #Ž¯ z
#Ž¸WŸ2 $Β´ρ `2‹ ƒ ω¸) #θ9`ρ& ¸=≈ 69{# ∩⊄∉®∪

Artinya: “ Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam
tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi
hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang
banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
47


b. Q.S. Yusuf: 111
‰) 9 šχ%. ’¸û ¯Ν¸η¸Á Á % ο´Ž¯9¸ã ’¸<`ρ¸¸{ ¸=≈69{# $Β β%. $Vƒ¸‰ n ”´ŽI`ƒ
¸6≈ 9´ρ ,ƒ¸‰`Á? “¸%!# / ¸µƒ‰ ƒ Ÿ≅‹¸Á?´ρ ¸≅2 ¸™`©« “´‰δ´ρ π´Ηq´ ‘´ρ
¸Θ¯θ)¸9 βθ`Ζ¸Βσ`ƒ ∩⊇⊇⊇∪

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al
Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan
rahmat bagi kaum yang beriman.”
48


c. Q.S. Ali Imran: 7
´θδ “¸%!# Α“Ρ& 7‹=ã =≈G¸39# µΖ¸Β M≈ ƒ#´™ M≈ϑ3t’Χ ´δ ‘Π& ¸=≈ G¸39#
`z&´ρ M≈γ¸7≈ ±F`Β $Β ' ù ¸%!# ’¸û `Ο¸γ¸/θ=% ƒ— βθ`è¸6K´ Šù $Β µ7≈±? µΖ¸Β
´™$ ó¸G¯/# ¸π´ΖG¸9# ´™$ ó¸G¯/#´ρ ¸&¸#ƒ¸ρ'? $Β´ρ `Ν=è ƒ …`&#ƒ¸ρ'? ω¸) ´!# βθ`‚¸™≡¯9#´ρ ’¸û

47
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 45
48
Ibid., hlm. 248


27
¸Ο=¸è9# βθ9θ)ƒ $Ζ Β#´™ ¸µ¸/ ¨≅. ¸Β ¸‰Ζ¸ã $´Ζ¸/´‘ $Β´ρ `.‹ƒ ω¸) #θ9`ρ& ¸=≈69{#
∩∠∪

Artinya: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada
kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat
49
,
Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat
50
. adapun orang-orang yang dalam
hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka
mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat
daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari
ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan
orang-orang yang berakal.”
51


Tanda-tanda keberhasilan dalam belajar, sebagaimana yang
disebutkan dalam al-Qur’an, dengan menunjukkan profil antara lain
sebagai berikut:
52

a. Q.S. Ali Imran: 190-191
´χ¸) ’¸û ¸,= z ¸N≡´θ≈ϑ´¡9# ¸Ú¯‘{#´ρ ¸#≈=¸Fz#´ρ ¸≅Š9# ¸‘$κ]9#´ρ ¸M≈ ƒψ ’¸<`ρ¸¸{
¸=≈69{# ∩⊇®⊃∪ ¸%!# βρ`.‹ƒ ´!# $ϑ≈´Š¸% #´Šθ`è%´ρ ’? ã´ρ ¯Ν¸γ¸/θ`Ζ`_

49
Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami
dengan mudah.
50
Pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian
dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam;
atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang
berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga,
neraka dan lain-lain.
51
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 50
52
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Op.Cit., hlm. 22-23


28
βρ`6Gƒ´ ρ ’¸û ¸,=z ¸N≡´ θ≈´Κ´¡9# ¸Ú¯‘{#´ρ $´Ζ−/´ ‘ $Β M)=z #‹≈δ ξ¸Ü≈ /
7Ψ≈ s¯6™ $ Ψ¸)ù ´>#‹ã ¸‘$Ζ9# ∩⊇®⊇∪
Artinya: “ (190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (191) (yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa
neraka.”
53


Maksud dari ayat tersebut adalah bersungguh-sungguh dalam
mencari ilmu, diantaranya adalah kesenangannya merenungkan,
memikirkan, meneliti, memahami dan mengambil pelajaran terhadap
ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi.

b. Q.S. al-Maidah: 100
≅% ω “¸θG`¡„ ]Š¸7ƒ:# ´=¸¯‹Ü9#´ρ ¯θ 9´ρ 77fã& ο´ŽY. ¸]Š¸7ƒ:# #θ)?$ù ´!#
’¸<`ρ'≈ƒ ¸=≈ 69{# ¯Ν3=è 9 šχθs¸=? ∩⊇⊃⊃∪

Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik,
meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka
bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar
kamu mendapat keberuntungan”."
54


Maksudnya adalah seseorang yang belajar tersebut mampu
memisahkan mana yang baik dan yang jelek, kemudian dia memilih

53
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 75
54
Ibid., hlm. 124


29
yang baik, meskipun dia harus sendirian mempertahankan kebaikan
itu, dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak
orang.

c. Q.S. az-Zumar: 18
¸%!# βθ`è¸ϑ F`¡„ Α¯θ)9# βθ`è¸6−F´‹ ù …µ´Ζ¡m& 7¸×≈ 9`ρ& ¸%!# `Νγ1‰δ ´!#
7¸×≈ 9`ρ&´ρ ¯Νδ #θ9`ρ& ¸=≈79{# ∩⊇∇∪

Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang
paling baik di antaranya.
55
Mereka Itulah orang-orang
yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-
orang yang mempunyai akal.”
56


Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa orang yang belajar
kritis dalam menerima ide, gagasan, teori, preposisi atau dalil yang
dikemukakan oleh orang lain, serta pandai menimbang-nimbang hal-
hal tersebut.

d. Q.S. at-Thalaq: 10
´‰ ã& ´!# ¯Νλ; $/#‹ ã #´‰ƒ¸‰ © #θ)?$ù ´!# ’¸<`ρ'≈ƒ ¸=≈79{# ¸%!# #θ`ΖΒ#´ ™
‰% Α“Ρ& ´!# `Ο3¯‹9¸) #´.¸Œ ∩⊇⊃∪

Artinya: “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, Maka
bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang yang
mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman.

55
Maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran
yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran Karena ia adalah yang paling baik.
56
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 460


30
Sesungguhnya Allah Telah menurunkan peringatan
kepadamu.”
57


Maksudnya adalah bahwa orang yang belajar tersebut harus
bertaqwa kepada Allah SWT.

Keberhasilan belajar dari masing-masing individu dapat diketahui
dari seberapa jauh tingkatan mereka dalam mencapai hasil belajarnya
sesuai dengan tingkatan hasil belajar tersebut baik pada domain kognitif,
domain afektif maupun domain psikomotorik.
Seseorang yang melakukan aktivitas belajar sudah selayaknya
memahami dan menyadari perolehannya atau hasil apa yang sedang/telah
dicapainya, baik dalam pengembangan domain kognitif, domain afektif,
dan domain psikomotoriknya, maupun peningkatan integritas iman, ilmu,
dan amalnya, perolehan itu akan dapat diketahui antara lain dari
penampilan atau perubahan yang terjadi pada orang yang belajar tersebut,
mulai dari yang paling sederhana sampai pada suatu yang kompleks.
58

Perolehan belajar Islami tersebut akan dapat diketahui oleh
masing-masing individu sesuai dengan tujuan belajar Islami yang hendak
dicapainya. Dengan kata lain, hasil apakah yang hendak diperoleh
seseorang setelah mengalami proses belajar tersebut guna mencapai
tujuan-tujuan yang ditetapkan, dan setelah dievaluasi dengan memakai

57
Ibid., hlm. 559
58
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Op.Cit., hlm. 67


31
kriteria-kriteria tertentu, maka akan dapat diketahui apakah berhasil atau
gagal.
Bertolak pada tujuan umum belajar Islami yang hendak dicapai,
maka perolehan belajar Islami dari seseorang akan menuju ke arah
“terpadunya iman, ilmu, dan amal seseorang, dan atau telah
bertambah/berkembang domain kognitif, afektif dan domain psikomotorik
secara optimal dan terpadu dalam diri seseorang. Optimalisasi dari hal-hal
tersebut terwujud dalam karakteristik penampilan dirinya serta
kepribadiannya yang mengimani Islam secara mantap dengan dilandasi
oleh ilmu Islam, dan mampu mengaktualisasikan ilmunya selaras dengan
nilai-nilai iman, serta senantiasa mengamalkan Islam dalam pelbagai aspek
kehidupannya, mendakwahkan Islam dalam berbagai bidang, dan tetap
teguh/istiqamah dan sabar dalam ber-Islam”.
59

Perolehan belajar semacam seperti di atas tersebut sudah barang
tentu tidak dapat dicapai begitu saja oleh seseorang, melainkan harus
melalui proses belajar yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan-tujuan
khusus yang bsejak kemampuan yang terendah hingga yang tertinggi.
Perolehan belajar dalam Islam secara bertahap dapat dicapai
sebagai berikut (berdasarkan taksonomi Bloom):
a. Domain Kognitif
Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang
kemampuan kognisinya dalam mempelajari ilmu-ilmu Islam (tanzili

59
Ibid., hlm. 67


32
dan kauni). Bertambahnya kemampuan itu secara bertahap dimulai dari
kemampuan hafalan, kemampuan pemahaman, kemampuan
pemahaman aplikasi, kemampuan analisia, kemampuan analisis,
kemampuan sintesis, sampai dengan kemampuan evaluasi, dalam
pengkajian ilmu-ilmu tersebut. Pengembangan kemampuan-
kemampuan tersebut tetap dilandasi oleh sikap iman yang tertinggi.
Karena itu penemuan-penemuan baru baik dalam ilmu maupun
teknologi yang dihasilkan oleh konsep belajar Islami tersebut tidaklah
netral. Tetapi justru ilmu selalu terkait atau inherent dengan nilai-nilai
iman.
60


b. Domain Afektif
Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang sikap
(afeksi)-nya terhadap Allah dan Rasul-Nya serta ajaran-ajarannya.
Bertambah/berkembangnya sukap (afek) ini secara bertahap dimulai
dari memiliki sikap menyimak, menaggapi, memberi nilai,
mengorganisasi nilai, sampai dengan memiliki karakteristik nilai
terhadap ajaranislam. Orang yang demikian ini karakteristik pribadinya
sudah matang, yakni semua sikap, tingkah laku, keyakian dan gagasan
menjadi inklusif mempribadi. Islam menjadi suatu pandangan

60
Ibid., hlm. 68


33
hidupnya dan segala pengembangan ilmu, teknologi, budaya dan amal
demi untuk menuju keridlaan Allah SWT. semata.
61


c. Domain Psikomotorik
Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang
kemampuan psikomotoriknya dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam
secara bertahap, dimulai dari ketrampilan persepsi, ketrampilan
kesiapan, ketrampilan respon terbimbng/terpimpin, ketrampilan
mekanisme, tampilan nyata gerakan motorik, ketrampilan adaptasi,
sampai dengan ketrampilan originasi dalam pengamalan ajaran islam.
Tampilan pengamalan yang demikian itu akan diterima oleh
lingkungan sosialnya, terutama mereka yang sadar akan kebenaran
hakiki. Dan bagi umat yang belum sadar akan terdorong untuk menuju
ke arah kesadaran yang hakiki akan kebenaran ajaran Islam. Karena
dalam pengamalannya, dalam mendakwahkan ajaran Islam, selalu
didasari oleh kesadran iman dan ilmu yang inherent.

Belajar merupakan sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan,
dalam Islam ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan yang tinggi,
diantaranya adalah
62
:
a. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran.
Firman Allah dalam Q.S. Fushilat: 53, yang berbunyi:

61
Ibid.
62
Muhaimin dan M. Mudjib, Op. Cit., hlm. 81


34
`Ο¸γƒ¸Ž`∴™ $´Ζ¸F≈ ƒ#´™ ’¸û ¸−$ùψ# ’¸û´ρ ¯Ν¸κ¸¦Ρ& ©Lm 7 K ƒ ¯Νγ9 µΡ& ‘,t:# ¯Ν9´ρ&
¸#3ƒ 7¸/¸/ …µΡ& ’? ã ¸≅. ¸™`©« ‰‹¸κ− ∩∈⊂∪
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran
itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
63



Manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam
hidupnya dengan menggunakan kekuatan intelegensi yang dibimbing
oleh hati nurani. Kebenaran-kebenaran tersebut sebagai tonggak
sejarah yang pasti dilalui oleh semua manusia dalam perjalanan untuk
mencapai kebenaran mutlak (yaitu Allah SWT.).

b. Ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal saleh.
Firman Allah dalam Q.S. Ali ‘Imran: 28, yang berbunyi:
ω ¸‹¸‚−G ƒ βθ`Ζ¸Βσϑ9# ¸¸≈39# ´™$´Š¸9ρ& ¸Β ¸βρŠ ¸Ζ¸Βσϑ9# Β´ρ ¯≅èƒ
š¸9≡ Œ ´§Š=ù š∅¸Β ¸!# ’¸û ¸™`©« ω¸) β& #θ)−G? `ΟγΖ¸Β π9)?
`Ν2'‘¸‹⇔`ƒ´ ρ ´!# …µ¡Ρ ’<¸)´ρ ¸!# Ž¸Áϑ9# ∩⊄∇∪
Artinya: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang
kafir menjadi wali
64
dengan meninggalkan orang-orang
mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia
dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara
diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah

63
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 482
64
Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau
penolong.


35
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya
kepada Allah kembali (mu).”
65


Seseorang yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan akan dapat
berjalan di atas kebenaran serta dengan iman dan kekuatan ilmu
pengetahuan manusia mencapai puncak kemanusiaan.

c. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengolah sumber-sumber alam
guna mencapai ridha Allah SWT.
Firman Allah dalam Q.S. Luqman: 10, yang berbunyi:
,=z ¸N≡´θ≈ϑ´¡9# ¸Ž¯ó¸/ ¸‰´ Η å $κ Ξρ? ’ +9&´ρ ’¸û ¸Ú¯‘{# ´©¸›≡´ρ´‘ β& ‰‹¸ϑ?
¯Ν3¸/ ´] /´ρ $κŽ¸ù ¸Β ¸≅. ¸π−/# Š $´Ζ9“Ρ&´ρ ´¸Β ¸™$ϑ´¡9# ´™$ Β $ΨG´;Ρ' ù $κŽ¸ù ¸Β
¸≅2 ¸lρ— ¸Οƒ¸. ∩⊇⊃∪
Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya
dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi
supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan
memperkembang biakkan padanya segala macam jenis
binatang. dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami
tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang
baik.”
66



Ilmu pengetahuan merupakan instrument untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki oleh Allah SWT. yaitu mensejahterakan
manusia, guna mencapai ridha-Nya. kesejahteraan itu dapat diperoleh
jika manusia mengelola sumber-sumber alam dengan mengetahui
hukum-hukum dan aturan-aturan yang memungkinkan manusia dapat

65
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 53
66
Ibid., hlm. 411


36
mengelola dan memanfaatkan bumi dengan baik. Oleh karena itu,
tujuan ilmu pengetahuan adalah menghilangkan hambatan-hambatan
pada jalan perkembangan yang benar bagi pribadi Muslim dengan
memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam yang ada, guna memperluas
kehidupan dan memperkaya dalam segala segi.
67


d. Ilmu pengetahuan sebagai alat pengembangan daya pikir.
Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua visi, yaitu sebagi
produk berfikir atau sebagai kegiatan dan daya pikir. Sebagai
pengembangan daya piker karena ilmu pengetahuan merupakan alat
untuk memahami dan membiasakan diri untuk berpikir secara
keilmuan yang dapat mempertajam daya pikir manusia.

e. Ilmu pengetahuan sebagai hasil pengembangan daya pikir.
Firman Allah dalam Q.S. az-Zumar: 9, yang berbunyi:
Β& ´θδ M¸Ζ≈% ´™$Ρ#´™ ¸≅‹9# #´‰¸`$™ $ϑ¸←$ %´ρ '‘‹t† ο¸zψ# #θ`_¯ ƒ´ρ π´Ηq´‘
¸µ¸/´‘ ¯≅% ¯≅δ “¸θ G`¡„ ¸%!# βθΗ>èƒ ¸%!#´ρ Ÿω βθϑ=èƒ $ϑΡ¸) `.‹Gƒ
#θ9`ρ& ¸=≈79{# ∩®∪
Artinya: “(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung)
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam
dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan

67
Abu Hasan Ali Nadwi, Islam dan Dunia, sebagaimana dikutip oleh Muhaimin dan Abdul
Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam – Kajian Filosofias dan kerangka Dasar Operasionalnya
(Bandung: Angkasa, 1987), hlm. 136


37
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang
yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
68


Manusia adalah makhluk yang berpikir, dari lahir sampai
masuk liang lahat. Hampir semua masalah tidak lepas dari kegiatan
berpikir. Berpikir pada dasarnya sebuah proses yang membuahkan
ilmu pengetahuan. Proses tersebut merupakan serangkaian gerak
pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya
sampai kepada kesimpulan yang berupa ilmu pengetahuan.
Menurut Najati (2005), cara belajar menurut al-Qur’an dapat
melalui:
a. Meniru (Imitasi)
Al-Qur’an mengemukakan contoh tentang bagaimana manusia
belajar dengan cara meniru, yaitu dalam Q.S. al-Ahzab: 21, yang
berbunyi:
‰)9 β%. ¯Ν39 ’¸û ¸Αθ™´ ‘ ¸!# ο´θ`™& π´Ζ¡m ϑ¸9 β%. #θ`_¯ ƒ ´!# Π¯θ´‹9#´ρ
¸zψ# . Œ´ρ ´!# #Ž¸V. ∩⊄⊇∪
Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat
dan dia banyak menyebut Allah.”
69


Pada awal perkembangannya bayi belajar hanya dengan cara
meniru orang tuanya, atau orang di dekat-dekat, karena tabiat manusia

68
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 459
69
Ibid., hlm. 420


38
cenderung untuk meniru, maka teladan yang baik merupakan hal yang
penting dalam membentuk prilaku manusia.
70


b. Pengalaman Praktis dan coba-coba (trial and error)
Manusia di dalam kehidupannya terkadang menghadapi situasi-
situasi baru yang belum dipelajari bagimana meresponnya atau
menyikapinya. Terkadang responsnya tepat, tetapi kadang responsnya
terhadap situasi yang dihadapinya bersifat coba-coba.
71

c. Berpikir
Ayat al-Qur’an yang memberikan bukti, argument, dan
mendorong manusia untuk berpikir tentang kebesaran Allah,
diantaranya adalah Q.S. al-Ghasyiyah: 17-20, yang berbunyi:
Ÿξù& βρ`´àΨ ƒ ’<¸) ¸≅¸/¸}# #‹Ÿ2 M)¸=z ∩⊇∠∪ ’<¸)´ρ ¸™$´Κ´¡9# #‹Ÿ2 Mè¸ù'‘
∩⊇∇∪ ’<¸)´ρ ¸Α$ 6¸g:# #‹. M6¸ÁΡ ∩⊇®∪ ’<¸)´ρ ¸Ú¯‘{# #‹. Ms¸Ü™ ∩⊄⊃∪

Artinya: “(17) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta
bagaimana dia diciptakan, (18) Dan langit, bagaimana ia
ditinggikan?, (19) Dan gunung-gunung bagaimana ia
ditegakkan?, (20) Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan?”
72


Pada saat berpikir, manusia belajar membuat solusi atas segala
persoalan, mengungkapkan korelasi antara berbagai objek dan

70
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm.35
71
Ibid., hlm 36
72
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 592


39
peristiwa, melahirkan prinsip dan teori, dan menemukan berbagai
penemuan baru.
73


2. Biografi Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun lahir di Tunis pada permulaan bulan Ramadhan 732
H. (27 Mei 1332 M) dari keluarga Andalusia yang berimigrasi dari
Andalusia ke Tunis pada pertengahan abad ke 7 H. Nama lengkapnya
Waliy al-Din ‘Abd al-Rahman bin Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad bin al-Hasan bin Jabir bin Muhammad ibn Ibrahim bin ‘Abd
al-Rahman bin Khaldun.
74
Ayahnya adalah gurunya yang pertama. Tunisia
pada waktu itu merupakan pusat ulama’ dan sastrawan di daerah Maghrib.
Ibnu Khaldun belajar ilmu-ilmu syari’at kepada para ulama’, seperti juga
ilmu bahasa, dan menjadi terkenal dalam puisi, filsafat, dan logika
(manthiq).
75
Ibnu Khaldun dididik oleh keluarga yang terkemuka dalam
bidang ilmu pengetahuan maupun politik.
76

Ibnu Khaldun adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak
sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik
Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-
pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah
dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo

73
Ibid., hlm. 37
74
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam. (Yogjakarta: Ar-Ruzz, 2006), hlm. 218
75
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Ibn Khaldun Tentang Pendidikan. (Jakarta: Minaret, 1991),
hlm. 6
76
Fuad Baali dan Ali Wardi, Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, terj. Mansuruddin dan
Ahmadie Thaha (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. 15


40
(1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika
memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.
Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang
sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya
dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah
mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Asal usul Ibn Khaldun kembali ke Arab Yaman di Hadramaut. Dia
memulai hidupnya dengan belajar hadits, fiqh Maliki, ilmu-ilmu bahasa
dan syair-syair, kemudian dia belajar mantiq, falsafah. Ibnu Khaldun
menyaksikan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan hancurnya kekuasaan
Islam terakhir di Andalusia dan lahirnya kekosongan (pemerintahan) yang
tersebar di Afrika Utara.
77

Ibnu Khaldun hidup pada masa antara 1332-1405 M. ketika
peradaban Islam dalam proses penurunan dan disintegrasi. Khalifah
Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan
penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol
pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu
Khaldun. Dinasti Mamluk (1250-1517), selama periode kristalisasi
gagasan Ibnu Khaldun, hanya berkontribusi pada percepatan penurunan
peradaban akibat korupsi dan inefisiensi yang mendera kekhalifahan,
kecuali pada masa awal-awal periode pertama yang singkat dari sejarah
kekhalifahan Mamluk. (Periode pertama Bahri/Turki Mamluk (1250-1382)

77
Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi Agama). (Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 57-58


41
yang banyak mendapat pujian dalam tarikh, periode kedua adalah Burji
Mamluk (1382-1517), yang dikelilingi serangkaian krisis ekonomi yang
parah). Sebagai seorang muslim yang sadar, Ibnu Khaldun tekun
mengamati bagaimana caranya membalik atau mereversi gelombang
penurunan peradaban Islam. Sebagai ilmuwan sosial, Ibnu Khaldun sangat
menyadari bahwa reversi tersebut tidak akan dapat tergambarkan tanpa
menggambarkan pelajaran-pelajaran dari sejarah terlebih dahulu untuk
menentukan faktor-faktor yang membawa sebuah peradaban besar
melemah dan menurun drastis.
Peristiwa-peristiwa besar yang membawa kepada runtuhnya
tatanan politik memberi bekas kepada pemikiran dan minatnya. Ibnu
Khaldun berjalan di bawah sinar sejarah sambil mengambil butir-butir
ilmu pengetahuan yang akan membantunya mengarahkan interpretasi
runtuhnya kekuasaan Islam. Ibnu Khaldun melihat bahwa sejarah itu perlu
dipelajari. Untuk kepentingan studi sejarah Ibnu Khaldun mempergunakan
metode baru yang berdasarkan kepada penjelasan , analisis dan keterangan
kausalitas mengenai peristiwa-peristiwa. Berdasarkan peristiwa-peristiwa
sejarah tersebut, dia memikirkan perlunya ilmu baru yaitu ilmu peradaban.
Pada zaman kontemporer ini ilmu baru tersebut disebut ilmu pengetahuan
sosiologi. Sebagian ada yang menamakan temuan Ibnu Khaldun itu
dengan Falsafah Sejarah.
78


78
Ibid., hlm. 58


42
Berdasarkan pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun
dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar
pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu
Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu
keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz al-Qur’an, ia menjunjung tinggi
akan kehebatan al-Qur’an. Sebagaimana dikatakan olehnya, "Ketahuilah
bahwa pendidikan al-Qur’an termasuk syiar agama yang diterima oleh
umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan al-Qur’an
dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Pengajaran al-Qur’an
pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain."
79

Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya,
disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya.
Pada waktu Ibnu Khaldun berusia 45 tahun, pada dirinya telah
terhimpun kekayaan tak bernilai berupa ilmu dan pengetahuan dalam
berbagai segi. Hal ini adalah sebagai hasil dari perjuangan dalam kancah
politik, pengabdiannya bersama raja dan pangeran, berbagai kunjungan
dan lawatan yang dilakukannya di berbagai negara di Maghrib dan
Andalusia. Ibnu Khaldun terkenal dengan ketajaman pendapat, kedalaman
pemikiran, ketelitian dan kecepatan observasi, kemampuan mengambil
suatu keputusan dan menari kesimpulan. Akan tetapi, di samping berbagai
kehebatan dan kegeniusan tersebut, yang sangat menakjubkan bahwa Ibnu
Khaldun telah menulis karyanya yang sangat terkenal yaitu “Muqaddimah

79
Marsudi Fitro Wibowo, Belajar dari Ibnu Khaldun (http: // www. Geoogle. Com, diakses
25 September 2007)


43
Ibn Khaldun” dalam waktu yang relative singkat, selama lebih kurang 5
bulan,
80
yang mana di dalam karya tersebut terdapat 6 bab, yaitu:
Peradaban Umat Manusia Secara Umum (Sosiologi Umum); masyarakat
Pengembara, kabilah-kabilah dan etnis yang liar (Sosiologi Pedesaan);
dinasti, kerajaan, khilafah, pangkat pemerintahan (Sosiologi Politik);
negeri dan kota (Sosiologi Kota; pertukangan, kehidupan, penghasilan,
dan segala aspeknya (Sosiologi Industri); ilmu pengetahuan, cara
memperolehnya dan mengajarkannya (Sosiologi Pendidikan).
Muqaddimah Ibnu Khaldun yang ditulis berdasar pengalamannya
yang kaya dan pemikiran yang realistis, itu tampaknya menjadi bagaikan
sebuah injil atau al-Qur’an di mana setiap golongan yang mengalami
konflik dapat menemukan sesuatu di dalamnya untuk mencapai tujuan
golongannya.
81

Ibnu Khaldun meninggal pada tahun 1406 dalam usia 74 tahun,
bersama jabatan yang dipegangnya. Kini Ibnu Khaldun selain dikenal
sebagai filosof, juga sebagai sosiolog yang memiliki perhatian yang sangat
besar terhadap bidang pendidikan. Hal ini antara lain terlihat dari
pengalamannya sebagai guru yang berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lainnya.
82

Adapun karya-karya Ibnu Khaldun diantaranya adalah:
a. Al-Ibar

80
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Op. Cit., hlm. 15
81
Fuad Baali dan Ali Wardi, Op. Cit., hlm. 23
82
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 223


44
Al-Ibar adalah karya Ibnu Khaldun yang utama, karya ini
terdiri dari tiga karya, yaitu karya itu sendiri, kemudian
Muqaddimahnya yang terkenal dengan al-Muqaddimah dan akhirnya
berdiri sendiri dari karya aslinya, kemudian yang ketiga adalah al-ta’rif
bi Ibn Khaldun yang pada mulanya Ibnu Khaldun menjadikannya
sebagai lampiran dari karya sejarahnya dan kemudian berdiri sendiri.
83


b. Muqaddimah
Muqaddimah merupakan pendahuluan dari kitab al’ibar yang
akhirnya berdiri sendiri. Pada kitab ini berisi keutamaan ilmu sejarah,
aliran-alirannya, serta mengidentifikasi kesalahan-kesalahan para penulis
sejarah, membahas tentang keadaan masyarakat, sifat-sifat para penguasa,
sultan, mata pencaharian, ilmu pengetahuan, pabrik dan hukum
kausalitas.
84


c. Al-Ta’rif.
Awalnya kitab ini adalah lampiran dari al-I’bar dan kemudian
berdiri sendiri pula. Kitab ini berisi sejarah kehidupannya, riwayat-
hidup beberapa orang penting lainnya yang berhubungan dengan Ibnu
Khaldun., peristiwa-peristiwa tertentu, dokumen-dokumen, khutbah-

83
Riwayat Allasmaji, Karya Ilmiah Ibnu Khaldun (http: // www. Geoogle. Com, diakses 25
Februari 2008)
84
Ibid.


45
khutbah, surat-surat dan kasidahyang dirangkai. Di dalamnya juga
dibahas tentang situasi sosial serta aturan-aturannya.
85


d. Syifa’al-sail li Tahdhib al-Masa’il.
Karya ini membahas tentang pemisahan antara jalan tasauf dan
jalan syariah serta menguraikan tentang jalan tasawuf dan ilmu jiwa.
86

Selain karya di atas, Ibnu Khaldun juga memberikan komentarnya
terhadap al-Burdah dengan indah. Mengikhtisar karya Ibnu Rusyd dan
menguraikannya kepada Sultan mengenai pandangan terhadap logika
dengan cara yang menarik. Ibnu Khaldun juga mengikhtisar al-Muhassal
karya Imam Fakhruddin al-Razi, menyusun karya aritmatika dan memberi
komentar terhadap sebuah karya dalam bidang Ushul Fiqih dengan uraian
yang bagus. Karya Ibnu Khaldun tersebut, membuktikan bahwa Ibnu
Khaldun adalah seorang ilmuan sejati yang mengabdikan diri kepada ilmu
pengetahuan. Dedikasinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
sangat tinggi. Hal ini tercermin dengan minatnya yang besarterhadap
penelitian-penelitain yang dituangkan ke dalam sebuah karya tulis. Karya
tulis yang bermutu dan bernilai tinggi bagi perkembangan ilmu
pengetahuan di masa datang terutama di dunia pendidikan Islam.
87

3. Pandangan Ibnu Khaldun Terhadap Kesanggupan Manusia Untuk
Berfikir

85
Ibid.
86
Ibid.
87
Ibid.


46
Ibnu Khaldun berkata dalam karyanya “Muqaddimah”:
Mengenai kesanggupan manusia untuk berpikir sehingga
membedakan jenisnya dari binatang, kecakapannya memperoleh
penghidupan dalam kehidupan dan kemampuannya mempelajari
Tuhan yang disembahyang serta wahyu-wahyu yang diterima para
Rasul-Nya, sehingga semua binatang tunduk dan berada dalam
kekuasaan-Nya. melalui kesanggupannya untuk berpikir itulah,
Tuhan mengaruniai manusia keunggulan di atas makhluk-
makhluk-Nya yang lain.
88


Allah membedakan manusia karena kesanggupannya untuk
berpikir, yang merupakan sumber dari segala kesempurnaan dan puncak
segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluk lain.
89
Oleh karena itu,
manusia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Lewat
berfikirnya tersebut, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi
juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna
hidup.
90

Adapun tindakan-tindakan yang muncul dari makhluk-makhluk
hidup, yang terjadi melalui intensi-intensi mereka, dan berhubungan
dengan kekuasaan (qudrah) yang telah diberikan Allah. Sebagian dari
tindakan itu ada yang teratur tertib, yaitu tindakan-tindakan manusia. Dan
sebagian lagi tidak tertib, yaitu tindakan-tindakan makhluk hidup selain
manusia.
91

Hal tersebut disebabkan karena pikiran (fikr) mengetahui tatanan
yang terdapat di antara benda-benda yang ada (hawadits) baik secara alami

88
Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, terj., Ahmadie Thoha (Jakarta: Pustaka Firdaus,
2003), hlm. 521
89
Ibid., hlm. 521
90
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 224
91
Ibn Khaldun, Op. Cit., hlm. 523


47
maupun melalui cara yang dipersiapkan. Bila seseorang bermaksud
membuat suatu benda, ia harus mengetaui sebab atau akibat, atau hal-hal
yang berhubungan dengan benda tersebut.
92

Misalnya, seorang berpikir untuk membuat sebuah atap yang akan
dijadikan tempat untuk bernaung. Dengan otaknya dia akan berpindah dari
pemikiran tentang atap ke dinding yang akan menyanggahnya, kemudian
ke fondasi yang akan menjadi dasar bagi dinding itu. Di sini, pikirannya
berakhir, dan dia pun akan memulai mengerjakan fondasi, lalu dinding,
kemudian atap. Atap merupakan pekerjaannya yang terakhir. Inilah arti
kalimat : “ Permulaan pekerjaan merupakan akhir dari pikiran, dan
permulaan pikiran merupakan akhir dari pekerjaan”.
93

Lain halnya dengan aktifitas makhluk hidup selain manusia.
Tindakan-tindakan mereka tidak teratur karena tidak adanya pikiran. Fikr
yang menjadi perantara bagi si pelaku untuk menemukan tatanan dari
sesuatu yang dikerjakannya. Binatang merasa hanya melalui inderanya.
Persepsi-persepsinya berpencar-pencar dan tidak memiliki suatu ikatan
yang saling berhubungan. Hanya pikiran yang mampu menimbulkan
ikatan persepsi demikian.
94

Manusia adalah makhluk sosial, pernyataan ini mengandung
makna bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian, dan
eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia
tidak akan mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur

92
Ibid., hlm. 523
93
Ibid., hlm. 524
94
Ibid., hlm. 525


48
kehidupannya dengan sempurna secara sendirian. Manusia butuh bantuan
dalam memenuhi kebutuhannya, mula-mula bantuan itu berupa konsultasi,
lalu berserikat serta hal-hal lain sesudahnya. Berserikat dengan orang lain,
bila ada kesatuan tujuan, akan membawa kepada sikap saling membantu.
Tapi jika tujuannya berbeda, akan menimbulkan perselisihan dan
pertengkaran, sehingga muncullah sikap saling membenci, saling
berselisih.
95

Hal itu tidaklah terjadi secara serampangan saja sebagaimana yang
terjadi pada dunia binatang, karena Allah telah memberi ciri khusus
kepada manusia untuk mengorganisir dan menata semua tindakannya
dengan pikiran. Pikiran membimbing pada manusia dari hal yang sia-sia
kepada sesuatu yang berguna bagi keinginannya, dan dari kejahatan
kepada kebajikan. Namun, pertama-tama, harus dikenal apa yang buruk
dan efek kesia-siaan dari tindakan melalui pengalaman yang benar dan
adapt-istiadat yang sudah dikenal di kalangan mereka. Hasil dari
kemampuan berpikir, nampak jelas pada kenyataan bahwa semua tindakan
mereka teratur dan tidak menginginkan akibat buruk.
96

Siapa saja dapat belajar sebanyak-banyaknya sesuai dengan
kemampuannya. Dia dapat memperoleh pengetahuan dengan bantuan
pengalaman dari banyak peristiwa yang terjadi dalam pergaulan, sehingga
dapat diketahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dia

95
Ibid., hlm. 526
96
Ibid., hlm. 526


49
lakukan. Dengan mengetahui hal ini, maka adab yang paling tepat untuk
bergaul akan diperolehnya.
97

Barang siapa mengikuti aturan tersebut dalam keseluruhan
hidupnya, dia akan mengenal setiap masalah. Hal-hal yang bergantung
pada pengalaman membtuhkan waktu. Kadang Tuhan memudahkan
manusia memperoleh pengetahuan sosial ini dalam waktu yang lebih
pendek dibanding yang dibutuhkan dengan melalui pengalaman, kalau saja
mau mengikuti pengalaman nenek-moyang, guru-guru, para orang tua, dan
belajar serta menerima pengajaran dari mereka. Tetapi, bagi mereka yang
tidak mau belajar dan mengikuti orang lain, dibutuhkan studi yang lama
dan hati-hati untuk mnejadi ahli. Mereka tidak akrab dengan masalahnya,
pengetahuan yang diperoleh mengenai hal-hal tersebut tidak cocok.
Tindak-tanduk dan pergaulan mereka dengan orang lain akan terencana
dengan buruk dan nampak banyak keurangan.
98

Kata-kata yang terkenal: “ Barangsiapa tidak terdidik oleh orang
tuanya, akan dididik oleh zaman”. Maksudnya, barangsiapa tidak
memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan dengan pergaulan
bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para
sesepuh dan tidak mempelajari hal-hal itu dari mereka, maka dia akan
mempelajari dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi
sepanjang zaman.
99


97
Ibid., hlm. 527
98
Ibid.
99
Ibid.


50
Manusia di dalam dirinya memiliki tiga alam
100
, yaitu:
1. Alam persepsi sensual (persepsi indera), dimana hewan-hewan
berserikat dengan kita,
2. Adanya kemampuan berpikir yang merupakan kualitas khusus bagi
makhluk manusia. Dari akal kita mnegetahui bahwa jiwa manusia itu
ada. Pengetahuan ini penting oleh fakta bahwa di dalam diri kita
terdapat persepsi ilmiah yang berada di atas persepsi indera,
3. Alam yang ketiga ini dapat kita rasakan adanya di dalam hati kita,
seperti kehendak dan kecenderungan menuju aktifitas.

Di antara ketiga alam tersebut, satu yang dapat kita rasakan dengan
sebaik-baiknya, yaitu alam manusia, karena ia hadir dan dirasakan oleh
persepsi secara jasmani dan rohani. Di dalam alam indera, kita berada satu
serikat dengan hewan-hewan, sedang di alam akal dan ruh, kita berserikat
dengan para Malaikat yang esensinya sama dengan esensi alam, yaitu
berupa akal murni. Ilmu-ilmu akal murni selamanya diperoleh dan cocok
secara watak bagi bermacam pengetahuan, ma’lumatnya sama sekali tidak
dihinggapi kerancuan. Sedangkan ilmu manusia diperoleh gambaran objek
yang diketahi esensi yang sebelumnya tidak diketahui. Maka, semuanya
itu adalah ilmu yang dicari.
101

Di atas alam manusia ada alam spiritual, yang mana esensi yang
dikandungnya dari impian-impian dan hal-hal yang tidak kita sadari dalam

100
Ibid., hlm. 529
101
Ibid., hlm. 528


51
keadaan terjaga, tetapi kita mendapatkannya dalam keadaan tidur, yang
mana hal tersebut akan menarik perhatian bila mimpi-mimpi yang benar
sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Keadaan alam spiritual ini
tidak dapat dijelaskan secara terinci karena lemahnya bukti ilmiah tentang
alam itu dan juga esensi spiritual ini tidak diketahui esensialnya, maka
tidak ada jalan untuk memberi bukti dan berkenaan dengan Tuhan,
sebagaimana dituntut oleh pengetahuan para nabi akan Tuhan. Esesnsi
alam spiritual ini adalah persepsi murni dan pemikiran absolut. Ini adalah
alam Malaikat-Malaikat. Nabi-nabi memberikan keterangan mengenai
Tuhan dan menyampaikan wahyu demi memberi petunjuk kepada ummat.
Mereka menerima wahyu itu dalam kondisi ilahiyah tersebut. Mereka
melakukannya dengan cara khusus dan dalam sikap yang dikenal khusus
bagi mereka, yang tidak berubah seakan-akan merupakan suatu disposisi
alami yang telah Allah karuniakan pada mereka.
102

Jiwa manusia harus memiliki persiapan untuk lepas dari
kemanusiaan ke Malaikat agar benar-banar menjadi sebagian dari Malaikat
pada suatu waktu, dan dalam keadaan yang sama kemanusiannya pun
kembali lagi. pada alam Malaikat, jiwa menerima tugas-tugas yang harus
disampaikan kepada sesamanya, yakni yang berupa wahyu dari Allah.
103

Secara esensial manusia itu bodoh, dan menjadi berilmu melalui
pencarian pengetahuan. Manusia adalah termasuk jenis binatang, tetapi
Allah telah membedakannya dengan binatang karena kemampuan manusia

102
Ibid., hlm. 530
103
Ibid., hlm. 531


52
untuk berpikir, dan dengan kemampuannya tersebut dapatlah manusia
mengatur tindakan-tindakannya secara tertib, untuk memperoleh
pengetahuan tentang ide-ide atau hal-hal yang bermanfa’at atau yang
merusak baginya, dan juga kemampuan itu membantunya untuk
memperoleh persepsi tentang sesuatu yang maujud sebagaimana adanya
baik yang ghaib atau pun yang nampak.
104

Kemampuan manusia untuk berpikir baru diperoleh setelah sifat
kebinatangan mencapai kesempurnaan di dalam dirinya, yakni dimulai dari
kemampuannya untuk membedakan (tamyiz).
105

Pada kondisinya semula, sebelum mencapai tamyiz, manusia
adalah materi seluruhnya (huyuly), karena dia tidak mengetahui semua
pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu
pengetahuan (‘ilm) yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. Maka
kesempurnaannya pun mencapai kesempurnaan eksistensinya.
106

Perhatikan firman Allah pada permulaan wahyu-Nya kepda Nabi
Muhammad, yaitu pada Q.S al-‘Alaq: 1-5
&%# ¸Ο`™$¸/ 7¸/´‘ “¸%!# ,={ ∩⊇∪ ,={ ´≈¡Σ¸}# ¸Β ¸,=ã ∩⊄∪ &%# 7š/´‘´ρ
`Ѝ.{# ∩⊂∪ “¸%!# ´Ο=æ ¸Ο=)9$¸/ ∩⊆∪ ´Ο=æ ´≈¡Σ¸}# $Β `Ο9 Λ>è ƒ ∩∈∪

Artinya: “ (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan, (2) Dia Telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah, (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran

104
Ibid., hlm. 532
105
Ibid., hlm. 533
106
Ibid.


53
kalam
107
, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”

Maksud dari ayat tersebut adalah Allah telah mengusahakan ilmu
pengetahuan yang diperoleh manusia, sebelumnya dia merupakan
segumpul darah dan daging. Tabiat dan watak manusia menyingkap
kebodohan asal dan ilmu carian (al-‘ilm ul-kasby) yang ada padanya.
Dalam wahyu pertama, sudah dinyatakan anugrah Tuhan atas manusia,
diberutahu mengenai mula martabat eksistensinya, yaitu kemanusiaan dan
kefua kondisinya yang fitri.
108

Kebiasaan berbeda dengan pemahaman dan pengetahuan melalui
hapalan. Pemahaman akan suatu masalah yang termasuk bagian dari
disiplin ilmu yang tunggal, bisa kita peroleh sama bagus hasilnya dengan
mereka yang benar-benar mendalami disiplin ilmu tersebut. Kebiasaan
(malakah) semata-mata dan eksklusif dimiliki sarjana atau orang yang
benar-benar mendalami disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan
bahwa kebiasaan (malakah) berbeda dengan pemahaman (fahm).
109

Kebiasaan (malakah) semuanya bersifat jasmaniah, baik itu
kebiasaan yang ada pada tubuh, seperti aritmatika, atau yang ada pada otak
sebagai hasil kemampuan manusia untuk berpikir. Dan semua benda
jasmaniah adalah sensibilia, karenanya membutuhkan pengajaran.
110


107
Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
108
Ibn Khaldun, Loc. Cit.
109
Ibid., hlm. 535
110
Ibid.


54
Metode paling mudah untuk memperoleh malakah ialah dengan
melalui latihan lidah guna mengungkapkan pikiran-pikiran dengan jelas
dalam diskusi dan perdebatan masalah-masalah ilmiah. Inilah cara yang
mampu menjernihkan persoalan dan menumbuhkan pengertian.
111


4. Pembagian Ilmu Pengetahuan Menurut Ibnu Khaldun
Ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun merupakan kemampuan
manusia untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses
berpikir. Proses berfikir seperti ini disebut sebagai af’idah.
112
Ada tiga
tingkatan proses berpikir menurut Ibnu Khaldun, yaitu:
Tingkatan pertama, al-‘aql al-tamyizi, yaitu pemahaman intelektual
manusia terhadap segala sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam
tatanan alam yang berubah, dengan maksud supaya manusia mampu
menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri.
Tingkatan kedua, al-‘aql al-tajribi, yaitu pikiran yang
memperlengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan
dalam pergaulan dengan orang lain.
Tingkat ketiga, al-‘aql al-nazhari, yaitu pikiran yang
memperlengkapi manusia dengan pengetahuan mengenai sesuatu yang
berada di belakang persepsi indra tanpa tindakan praktis yang
menyertainya.


111
Ibid., hlm. 537
112
Toto Suharto, Loc. Cit.


55
Ibnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan dalam 2 kategori
113
,
yaitu:
1. Al-‘ulum al-‘aqliyyah, yaitu ilmu yang bersifat alami yang diperoleh
manusia melalui kemampuan berpikirnya. Ilmu-ilmu ini mencakup
empat ilmu pokok (logika, fisika, metafisika, dan matematika),
2. Al-‘ulum an-naqliyyah, yaitu ilmu berdasarkan otoritas syariat yang
dalam batas-batas tertentu. Ilmu-ilmu ini mencakup: ilmu tafsir, ilmu
hadits, ilmu qira’at, ilmu ushul fiqih dan fiqih, ilmu kalam, tasawuf,
dan berbagai ilmu alat yang menyertainya (ilmu bahasa, ilmu nahwu,
ilmu balaghah).

Ilmu pengetahauan hanya tumbuh dalam peradaban dan
kebudayaan yang berkembang pesat, karena pengajaran ilmu merupakan
salah satu keahlian dan keahlian-keahlian hanya tumbuh pesat di kota-
kota. Kualitas dan jumlah keahlian tergantung pada besar atau kecilnya
luas peradaban (‘umran), kebudayaan dan kemewahan yang dinikmati
dikota-kota.
114

Ilmu pengetahuan yang diselami orang di kota-kota ada dua
macam, yaitu: satu sifatnya alami bagi manusia yaitu dengan melalui
bimbingan pikirannya, dan satunya lagi bersifat tradisional (naqly) dimana
manusia memperolehnya dari orang yang menciptakan.
115


113
Ibn Khaldun,Op. Cit , hlm. 543
114
Ibid., hlm. 541
115
Ibid., hlm. 543


56
Macam yang pertama itulah ilmu-ilmu filsafat. Manusia
memperoleh ilmu-ilmu itu melalui kemampuannya untuk berpikir yang
sudah merupakan watak baginya dan dengan persepsi-persepsi
manusiawinya ia terbimbing kepada objek-objek dengan problema
argument, dan metode pengajaran sehingga mengetahui perbedaan antara
yang benar dan yang salah di dalam ilmu-ilmu filsafat tersebut berdasar
pemikirannya sendiri.
116

Macam yang kedua adalah ilmu-ilmu tradisional (al-‘ulum an-
naqliyyah al-wadl’iyyah) yang semuanya bersandar pada informasi
berdasarkan autoritas syari’at yang diberikan, di dalamnya tidak ada
tempat untuk akal (intelek), kecuali bilaman akal dipergunakan untuk
mneghubungkan persoalan-persoalan detail dengan prinsip-prinsip dasar
(ashl).
117

Dasar dari semua ilmu tradisional ini adalah materi sah dari al-
Qur’an dan as-Sunnah, yaitu hukum yang telah disyari’atkan kepada kita
oleh Allah dan Rasul-Nya. untuk mendalami ilmu-ilmu tradisional tersebut
dibutuhkan ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu bahasa Arab, karena bahasa Arab
adalah bahasa agama Islam, dan al-Qur’an pun diturunkan dalam bahasa
Arab.
118

Macam-macam ilmu tradisional diantaranya adalah:
119


116
Ibid.
117
Ibid., hlm. 544
118
Ibid.
119
Ibid., hlm. 545


57
1. Ilmu Tafsir, adalah ilmu yang mengkaji al-Qur’an yakni dengan
menerangkan lafadz-lafadznya,
2. Ilmu Qira’at, adalah ilmu yang di dalamnya menerangkan tentang
perbedaan riwayat-riwayat para pembaca di dalam membaca al-
Qur’an,
3. Ilmu-ilmu Hadits, dengan menyandarkan Sunnah kepada Nabi
Muhammad Saw. dan membicarakan perawi-perawi yang
menukilkannya, serta mengetahui hal ihwal serta keadilan mereka
untuk menemui kebenaran objektif mengenai informasi-informasi
mereka, dengan mengetahui apa yang harus dikerjakan berdasar
tuntutan daripadanya,
4. Ushul Fiqih, dari prinsip-prinsip dasarnya harus ditarik kesimpulan
hukum-hukum melalui aspek hukum legal yang berguna untuk sampai
kepada bagaimana kesimpulannya (istimbath),
5. Fiqih, setelah mempelajari ushul fiqih dicapailah sebuah pengetahuan
hukum-hukum Allah pada tindakan-tindakan kaum Muslimin yang
telah dibebani tanggungjawab. Beban-beban tanggungjawab (takalif)
ada yang bersifat badani dan ada yang bersifat qalbi,
6. Ilmu Kalam, taklif yang bersifat qalbi adalah taklif yang dikhususkan
berkenaan dengan keimanan, serta apa yang wajib diyakini dan apa
yang tidak. Inilah dia aqidah-aqidah keimanan mengenai esensi (zat)
dan sifaty-sifat, dan persoalan-persolan hari dukumpulkannya manusia,
masalah surga, masalah siksa, dan masalah taqdir. Melalui ilmu kalam


58
dapat memberikan pembuktian terhadap persoalan-persoalan berdasar
dalil-dalil logis,
7. Ilmu Lughah, Ilmu Nahwi, dan Ilmu Adab. Ilmu-ilmu inilah yang
digunakan sebelum memulai pengkajian terhadap al-Qur’an dan al-
Hadits haruslah seseorang lebih dahulu membekali diri dengan ilmu
bahasa, sebab keberhasilan dan kebenaran pengkajian itu amat
tergantug kepada ilmu-ilmu tersebut.

Macam-macam ilmu yang menggunakan alat berpikir (al-‘ulum al-
‘aqliyyah), diantaranya adalah:
120

1. Ilmu Logika (manthiq). Ilmi ini untuk menghindarkan kesalahan
pemikiran dalam proses penyusunan fakta-fakta yang ingin diketahui,
yang berasal dari berbagai fakta yang tersedia. Faedahnya memberikan
kemungkinan bagi penuntut ilmu untuk membedakan yang benar dari
yang salah,
2. Ilmu Fisika. Para filosof dapat mempelajari substansi elemental yang
dapat dirasa dengan indera, seperti: benda-benda tambang, tumbuh-
tumbuhan, binatang yang diciptakan dari substansi-substansi
elemental, benda-benda angkasa, gerakan alami, dan jiwa yang
merupakan asal dari gerakan,
3. Metafisika. Ilmu yang mempelajari masalah-masalah spiritual,

120
Ibid., hlm. 649-651


59
4. Matematika. Ilmu ini studi tentang berbagai ukuran, mencakup empat
macam, yaitu:
a. Geometri. Ilmu ini mempelajari ukuran-ukuran secara umum, ada
yang terputus seperti yang berbentuk angka-angka, atau
bersambung seperti bentuk-bentuk geometris,
b. Aritmatika. Pengetahuan tentang sifat-sifat essensial dan assidental
daripada kwantitas yang terputus, yaitu angka,
c. Musika. Pengetahuan tentang ukuran suara dan nada serta
pengukurannya dengan angka-angka. Hasilnya merupakan
pengetahuan teng nada-nada musik,
d. Astronomi. Ilmu yang menetapkan bentuk daerah angkasa, posisi
dan jumlah planet dan bintang tertentu, dan dengannya
memungkinkan mempelajari semuanya ini dari gerakan benda-
benda dilangit yang kelihatan terdapat di setiap ruang angkasa,
gerakan-gerakannya, prosesi dan resesinya.

Perbendaharaan ilmu manusia adalah jiwa manusia sendiri. Di
dalamnya Allah telah menciptakan persepsi, yang bermanfaat baginya
untuk berpikir dan untuk memperoleh pengetahuan yang ilmiah. Pertama-
tama dimulai dengan proses (tashawwur) terhadap realitas-realitas dan
kemudian dilanjutkan dengan penegasan atau negasi penyangkalan,


60
atribut-atribut esensial rentetan realitas, baik langsung maupun melalui
sesuatu perantara.
121

Kemampuan manusia berpikir pun akhirnya melahirkan situasi
problematika yang manusia tersebut mencoba untuk memecahkannya
secara afirmatif atau negatif. Apabila suatu gambaran ilmiah telah
tertanam dalam pikiran melalui berbagai usaha ini, maka ia harus
dikomunikasikan kepada orang lain, melalui pengajaran atau diskusi,
mengasah pikiran dengan mencoba menunjukkan kebenaran.
122

Komunikasi tersebut berlangsung dalam dua tingkatan, yaitu:
1. Ekspresi Verbal, yaitu suatu pembicaraan melalui kata-kata ucapan
yang diciptakan Allah di dalam tubuh manusia, sebagai kombinasi
berbagai jenis suara agar berbagai pemikiran dapat dikomunikasikan
satu sama lain melalui pembicaraan. Meskipun sebagian besar dan
bagian paling mulia daripadanya adalah ilmu pengetahuan, namun ia
mencakup setiap pernyataan atau ungkapan hati secara umum yang
masuk dalam pikiran.
123

2. Komunikasi atau penyampaian pemikiran seseorang kepada orang lain
yang tidak terlihat, atau secara badani berada jauh letaknya, atau
kepada seseorang yang hidup sesudahnya, atau orang yang tidak hidup
semasa dengannya dan tidak pernah bertatap muka dengannya.
Komunikasi jenis ini tercakup dalam tulisan. Tulisan adalah gambar-
gambar yang dibuat dengan tangan, yang bentuk-bentuknya dibuat

121
Ibid., hlm. 742
122
Ibid.
123
Ibid.


61
dengan aturan (konvensi), menunjukkan huruf-huruf (bunyi-bunyi) dan
kata-kata dari perkataan. Maka, mereka pun mengkomunikasikan
pikiran melalui medium pembicaraan. Karenanya, tulisan berada pada
tingkatan kedua dari komunikasi. Komunikasi tingkat kedua ini
memberikan informasi tentang bagian termulia dari pemikiran, yaitu
ilmu-ilmu (‘ulum) dan pengetahuan-pengetahuan (ma’arif).
124


Para sarjana memberikan perhatian akan penyimpanan berbagai
hasil pemikiran ilmiah mereka di dalam buku-buku yang ditulis, supaya
orang yang tidak hadir, atau hidup pada masa-masa kemudiannya, dapat
mengambil manfaat daripadanya. Orang-orang yang melakukan hal itu
adalah para pengarang.
125

Tujuan karang-mengarang, yang harus ditunjang dan dianggap
berlaku terbatas pada tujuh hal:
1. Menyimpulkan suatu ilmu pada pokok persoalannya, pembagiannya ke
dalam bab-bab dan pasal-pasal, dan pembicaraan tentang berbagai
problemnya. Atau, menyimpulkan berbagai problema dan topik riset
untuk dihadapkan pada seorang sarjana kompeten dan yang ingin
disampaikannya kepada orang lain, supaya dapat diketahui dan
bermanfaat bagi khalayak.
126

2. Seorang sarjana boleh jadi pernah menemukan hasil diskusi dan
sejumlah karya para sarjana terdahulu yang sukar dimengerti. Inilah

124
Ibid., hlm. 743
125
Ibid.
126
Ibid., hlm. 745


62
pendekatan bersifat penafsiran terhadap buku-buku ilmiah mutakhir
dan tradisonal, ma’qul dan manqul.
127

3. Beberapa sarjana yang datang kemudian mungkin menemukan suatu
kekeliruan dari pembahasan atau pembicaraan para sarjana terdahulu
yang jasa dan otoritasnya sebagai guru termasyhur.
128

4. Suatu disiplin ilmu tertentu boleh jadi tidak lengkap, kurang berisikan
problema-problema atau sesuatu detail dengan pembagian pokok-
pokok permasalahannya.
129

5. Berbagai problema suatu ilmu tertentu boleh jadi disusun secara tidak
tepat dan tidak teratur susunan bab-babnya.. sarjana yang melihat
kenyataan ini berkeinginan menyusun dan memperbaiki masalah-
masalahnya, dan kemudian meletakkan setiap masalah pada babnya.
130

6. Problema-problema sesuatu ilmu boleh jadi terpencar-pencar pada bab-
bab yang lebih tepat bagi disiplin ilmu yang lain. Sebagai sarjana
terkemuka berkeinginan mengetahui pokok persoalan disiplin ilmu
tersebut sebagai suatu pokok persoalan yang sebenarnya, dan sebagai
pokok persoalan yang sebenarnya, dan sebagai pokok persoalan yang
berbagai problemanya harus dikumpulkan.
131

7. Tulisan yang terhimpun dalam karya-karya induk para sarjana
mungkin jadi terlalu panjang dan bertele-tele. Sehingga mendorong
seseorang mencoba mengarang suatu ringkasan dan pilihan yang tepat,

127
Ibid.
128
Ibid.
129
Ibid., hlm. 746
130
Ibid.
131
Ibid.


63
menyisihkan semua pengulangan. Namun, orang itu memang harus
berhati-hati agar tidak melenyapkan hal-hal yang esensial, sehingga
maksud dan pengertian yang sesungguhnya dari pengarang yang
pertama tidak menjadi hilang.
132


Menurut Ibnu Khaldun, ada tiga kategori kurikulum yang perlu
diajarkan kepada peserta didik,
133
yaitu:
1. Kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu
nahwu, ilmu balaghah dan syair).
2. Kurikulum Sekunder, yaitu matakuliah yang menjadi pendukung untuk
memahami Islam (logika, fisika, metafisika, dan matematika).
3. Kurikulum Primer, yaitu matakuliah yang menjadi inti ajaran Islam
(ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu qira’at, ilmu ushul fiqih dan fiqih, ilmu
kalam, tasawuf).

Ibnu Khaldun menasihatkan agar kurikulum yang pertama
diajarkan kepada peserta didik adalah matakuliah bahasa Arab dan syair,
diteruskan dengan mempelajari Al-Qur’an, setelah itu baru mempelajari
prinsip-prinsip Islam.
134
Ibnu Khaldun melihat bahwa memulai dan
mendahulukan pengajaran ilmu-ilmu lain seperti al-Qur’an dan ilmu-ilmu
Agama dari pengajaran bahasa Arab akan membingungkan anak, karena
membaca apa yang tidak dipahaminya, mengucapkan kata-kata tanpa

132
Ibid., hlm. 747
133
Toto Suharto, Op. Cit., hlm. 249
134
Ibid.


64
gramatika dan mencampurbaurkan pengertian. Ibnu Khaldun mengatakan
bahwa ia mendahulukan pendapat dalam memprioritaskan memulai
mempelajari bahasa Arab ini karena ia melihat beberapa ahli bahasa yang
menguasai subject mereka tetapi tidak baik dalam mengungkapkan
gagasan-gagasan mereka dengan cara yang benar. Kekurangan dalam
pengungkapan ini bukanlah sebagai akibat kekurangan dalam
pemikiran.
135

Di antara prinsip-prinsip penting yang ditunjukkan oleh Ibnu
Khaldun dalam menyusun kurikulum adalah penegasannya akan kemestian
pengajaran prinsip-prinsip bahasa Arab dan menjadikannya sebagai pokok
untuk semua pelajaran, hingga anak didik dapat memahami apa yang ia
baca dan mengungkapkan dengan teliti tentang apa yang dipikirkannya.
Pendapat Ibnu Khaldun ini juga merupakan pendapat yang benar, yang
membawa kepada pemikiran ilmiah yang teliti. Tanpa menguasai bahasa,
pengungkapan menjadi terhalang. Dengan demikian, terhalang pula
pemindahan gagasan-gagasan dari seorang ke orang lain, sehingga proses
mengajar dan belajar menjadi proses sulit yang penuh hambatan.
136

Bahasa seseorang yang pertamanya bukan bahasa Arab
mendapatkan Kesukaran memperoleh ilmu pengetahuan, dibandingkan
yang berbicara dengan bahasa Arab sejak awal.Hal tersebut dijelaskan
oleh fakta melalui riset-riset ilmiah berkenaan gagasan pikiran dan
imajinasi hal tersebut berlaku terhadap ilmu-ilmu syari’ah di mana risetnya

135
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Op. Cit., hlm. 63
136
Ibid., hlm. 71-72


65
kebanyakan berkenaan dengan pengertian kata-kata yang materi-materinya
berupa hukum-hukum yang diperoleh dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal
yang sama juga berlaku terhadap sains.
137

Ungkapan linguistik hanya merupakan interpretasi terhadap ide-ide
yang adanya di dalam pikiran. Seseorang menyampaikannya kepada orang
lain melalui diskusi, pengajaran ta’lim, dan riset ilmuah yang konstan.
Kata-kata dan ungkapan merupakan media dan tabir-tabir antara ide-ide,
dan menjadi penghubung antara ide-ide, dan memberinya kesan yang final.
Orang yang mempelajari ide-ide harus menggalinya dari kata-kata yang
mengungkapkannya. Untuk itu seseorang membutuhkan pengetahuan
linguistik dan keahlian berbahasa. Jika tidak, sukar baginya untuk
memperoleh ide-ide dan melepaskan diri dari kesukaran-kesukaran lazim
yang berkaitan dengan penyelidikan.
138

Kualitas pemakaian bahasa seseorang dari generasi sesudahnya
tergantung kepada kualitas bahan yang dipelajari atau yang dihafal.
Dengan meningkatkan bahan sastra yang dihafal atau dikuasai, keahlian
yang diperoleh akan lebih meningkat, dan kekuatan suatu keahlian tumbuh
dengan pemupukan. Hal ini terjadi sebagai berikut: jiwa adalah satu
kesatuan yang menunggal dengan manusia sesuai wataknya yang alami.
Tapi ia berbeda-beda pada setiap manusia, tergantung pada besar kecilnya
intensitas hubungannya dengan persepsi-persepsi. Perbedaan jiwa ini
adalah akibat dari perbedaan persepsi, keahlian, dan warna-warna yang

137
Ibn Khaldun,Op. Cit., hlm. 771
138
Ibid., hlm. 771-772


66
mengkondisikannya dari luar. Kondisi ini menyebabkan eksistensinya
berlangsung dan mentransformasikan bentuknya dari potensialitas ke
aktualitas.
139

Baik dan buruknya kualitas suatu keahlian tertentu tergantung
kepada kondisi tempat keahlian itu timbul. Keahlian balaghah tingkat
tinggi diperolehnya hanya dengan menghafal bahan bahasa tingkat tinggi.
140

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pendidikan agama dan budi
pekerti tidak ditumbuhkan kecuali dari kecil, khususnya melalui
kehidupan keagamaan yang saleh dan utama yang dihayati oleh keluarga.
Itu dilakukan oleh anak di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
Sedangkan usaha untuk menjadikan anak kecil taat beragama, atau usaha
menanamkan keutamaan dalam dirinya melalui penghafalan al-Qur’an
sejak dini, tidak lain dari usaha kulit luar, tanpa kedalaman. Sedikit sekali
yang membawa hasil besar dengan penghafalan anak kecil terhadap
ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang diulang-ulang seperti “burung Beo”
tanpa betul-betul memahami pengertian dan kandungannya yang jauh
melampui tingkatan pemikirannya.
141


5. Konsep Belajar dan Metode Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau
menuntut ilmu pengetahuan manusia disamping harus sungguh-sungguh

139
Ibid., hlm. 823-824
140
Ibid., hlm. 824
141
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Op. Cit., hlm. 73-74


67
juga harus memiliki bakat. Menurutnya dalam mencapai pengetahuan yang
bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan,
tetapi bakat. Berhasilnya keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin
memerlukan pengajaran.
142

Ibnu Khaldun menandaskan bahwa proses pengajaran tidak akan
berhasil dengan baik, kecuali setelah mempelajari tabiat akal manusia dan
perkembangannya mulai dari kecil hingga dewasa, serta mempelajari
metode yang dipergunakan manusia untuk belajar. Jadi Ibnu Khaldun
menghendaki bahwa seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang
memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap.
Menurut Ibnu Khaldun metode pengajaran sepantasnya melalui
tiga langkah, yaitu:
1. Murid belajar dengan memulai dari pengetahuan-pengetahuan umum
yang sederhana dengan topik yang dipelajarinya, serta memperhatikan
apakah pengetahuan tersebut sesuai dengan taraf pemikiran murid,
sehingga tidak berada di luar kemampuan persepsinya. Begitulah
murid akan sampai kepada taraf pertama proses belajar yang sangat
sederhana. Ibnu Khaldun menganggap langkah ini sebagai persiapan
untuk memasuki langkah atau tahapan kedua.
143

2. Guru kembali menyajikan kepada murid pengetahuan yang sama, akan
tetapi tarafnya lebih tinggi dari taraf yang disajikannya pada langkah
pertama. Pendidik mengambil point-point yang beraneka ragam dalam

142
Abuddin Nata, Loc. Cit.
143
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Op. Cit.,hlm. 78


68
pelajaran itu dengan memberikan penjelasan dan keterangan tidak
secara global. Dengan demikian anak didik akan sampai pada taraf
persepsi yang lebih tinggi.
144

3. Pendidik kembali untuk ketiga kalinya mengajarkan topik yang sama
secara terperinci, mencakup dan mendalam pada segala segi, dan lebih
rinci dalam pembahasan.
145


Metode pengajaran yang dianjurkan Ibnu Khaldun juga membuat
pendidikan harus betul-betul menguasai suasana. Ialah yang
membentangkan ilmu pengetahuan dan menempatkannya dalam bentuk
sesuai dengan penguraiannya pada langkah pertama, kemudian
mengulangi dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih tinggi pada
langkah kedua. Dalam hal ini posisi anak didik adalah pasif dan kegiatan
seluruhnya berada di tangan pendidik. Metode yang tidak memberikan
kesempatan kepada anak didik untuk ikut berpartisipasi positif dan efektif
dalam menerima pelajaran seperti ini menurut pandangan pendidikan
dewasa ini; karena ia tidak membantu mengembangkan pemikiran,
disbanding bila anak didik melakukan usaha sendiri dalam mendapatkan
ilmu pengetahuan.
146

Keahlian dalam pengajaran ilmu pengetahuan karena ketrampilan
dalam suatu sains (pengetahuan) akan aspeknya yang beragam serta
penguasaan atasnya merupakan akibat dari kebiasaan yang memberikan

144
Ibid., hlm. 79
145
Ibid.
146
Ibid., hlm. 81


69
kemungkinan bagi pemiliknya untuk menguasai semua prinsip dasar dan
kaidah-kaidahnya, serta untuk memahami problemnya dan menguasai
detailnya yang bersifat prinsipil. Bila kebiasaan tersebut tidak dicapai,
maka ketrampilan dalam suatu disiplin khusus tidak mungkin di
peroleh.
147

Satu hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam kegiatan
mengajarnya adalah tidak mencampuradukkan antara masalah yang
diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain.
148

Pada sisi lain, Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai
yang belajar (muta’alim) atau seorang anak yang perlu bimbingan
(wildan). Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya telah memberikan
beberapa petunjuk bagaimana seorang muta’alim bisa berhasil dalam
studinya. Ibnu Khaldun menulis:
Wahai muta’alim, ketauhilah bahwa saya di sini akan memberi
petunjuk yang bermanfa’at bagi studimu. Apabila kamu
menerimanya dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh, kamu
akan mendapatkan suatu manfa’at yang besar dan mulia. Sebagai
pendahuluan yang akan membantumu memahaminya, saya dapat
katakan kepadamu bahwa kemampuan berpikir manusia adalah
suatu anugrah khusus yang Allah ciptakan baginya
149



Peserta didik yang berada dalam taraf wildan, Ibnu Khaldun
menganjurkan agar ta’lim diberikan dengan metode al-qurb wa al-
mulayanah (kasih sayang dan lemah lembut).
150
Sedangkan, terhadap
peserta didik yang berada dalam taraf muta’allim disarankan agar

147
Ibid., hlm. 534
148
Toto Suharto, Op. Cit., hlm. 244
149
Ibn Khaldun,Op. Cit., hlm. 754
150
Toto Suharto, Op. Cit., hlm. 246


70
pendidikan dilakukan dengan metode yang memperhatikan kondisi peserta
didik, baik psikis maupun fisik.
151

Menurut Ibnu Khaldun sikap yang benar dalam pengajaran, ta’lim
ilmu-ilmu pengetahuan dan metode mengajarkannya, adalah:
a. Mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanya akan efektif bila
dilakukan dengan berangsur-angsur, setapak demi setapak, dan sedikit
demi sedikit.
152

Adapun tahap-tahap yang seharusnya dilakukan oleh guru
dalam pengajaran adalah:
153

a. Guru mengajarkan kepada muridnya problem-problem yang
prinsipil mengenai setiap cabang pembahasan yang diajarkan.
b. Keterangan-keterangan yang diberikan haruslah bersifat umum
dan menyeluruh dengan memperhatikan kemampuan akal dan
kesiapan pelajar memahami apa yang diberikan kepadanya. Bila
dengan cara ini seluruh pembahasan pokok telah dipahami, pelajar
yang bersangkutan telah memperoleh suatu keahlian dalam cabang
ilmu yang dipelajarinya.
c. Selanjutnya, guru berkewajiban untuk kembali kepada pembahasan
pokok, danmengangkat pengajaran kepada tingkat yang lebih
tinggi. Kali ini guru tidak boleh puas hanya dengan cra
pembahasan yang bersifat umum saja, tetapi harus membahas segi-
segi yang menjadi pertentangan dan berbagai pandangan yang

151
Ibid., hlm. 247
152
Ibn Khaldun,Op. Cit., hlm. 751
153
Ibid., hlm. 752


71
berbeda, sehingga pembahasan keseluruhannya dapat diliput dan
keahlian pelajar yang bersangkutan lebih disempurnakan.
d. Pada suatu saat pelajar yang sudah telatih tersebut harus diarahkan
kepada masalah pokok yang dibahas. Pada tahap ini guru
diperbolehkan untuk menerangkan seluruh materi hingga
memungkinkan murid mencpai keahlian yang sempurna.

b. Tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku
pelajaran dengan sejumlah masalah lain.
Tindakan ini membuat pelajar menguasai betul-betul buku
pelajaran yang dipelajari dan memperoleh dari padanya suatu keahlian
yang bisa bermanfaat untuk mendalami berbagai masalah lain. Seorang
murid yang telah memperoleh keahlian dalam salah satu cabang ilmu
pengetahuan akan lebih siap mempergunakan keahliannya tersebut
pada cabang ilmu pengetahuan lain. Hal tersebut akan lebih banyak
mengembangkan keinginan belajarnya disamping keahliannya akan
meningkat lebih tinggi sehingga pemhamannya akan ilmu pengetahuan
secara menyeluruh akan tercapai. Tetapi apabila dihadapkan pada
banyak masalah sekaligus, maka pelajar tersebut tidak akan sanggup
memahami semuanya. Akibat lebih jauh, otaknya akan jemu dan tidak
sanggup untuk bekerja, lalu putus asa, dan akhirny akan meninggalkan
ilmu yang sedang dipelajari.
154


154
Ibid., hlm. 753


72
c. Guru tidak terlalu lama melantur pada suatu masalah dan satu buku
sehingga mengganggu jadwal belajar dengan tidak semestinya.
Hal tersebut akan menimbulkan sifat pelupa pada murid,
sehingga menceraiberaikan dan membuat terputus-putusnya berbagai
bagian ilmu yang sedang dipelajarinya, yang akan lebih mempersukar
lagi perolehan keahlian dalam ilmu yang bersangkutan. Sebab, apabila
seluruh permasalahan sejak permulaan sampai akhir, terserap dalam
pikiran dan tercamkan, maka berbagai keahlian akan lebih mudah
dicapai dan lebih mantap, karena diperoleh melalui pengulangan-
pengulangan tindakan dan kajian lanjutan. Karena itu, bila tindakan
tersebut dilupakan maka keahlian yang dihasilkan juga akan
dilupakan.
155


4. Metode yang dipergunakan dalam pengajaran haruslah
menghindarkan dari hal-hal yang dapat membingungkan si murid,
misalnya dengan tidak mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan
sekaligus.
Sebab dengan mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan
sekaligus akan membuat perhatian murid terbagi dan terganggu oleh
satu dari yang lainnya.
156



155
Ibid., hlm. 753-754
156
Ibid., hlm. 754


73
5. Menghindari terputusnya pelajaran antara satu dengan yang lain
dalam jangka waktu yang panjang.
Hal tersebut menyebabkan anak didik menjadi lupa apa yang
dipelajarinya, akibat lamanya jarak waktu antara satu pelajaran dengan
pelajaran yang lain.
157


Hukum yang keras di dalam pengajaran akan berbahaya pada si
murid, khususnya bagi anak-anak kecil, karena hal tersebut termasuk
tindakan yang dapat menyebabkan timbulnya kebiasaan buruk. Kekasaran
dan kekerasan dalam pengajaran dapat menguasai jiwa dan mencegah
perkembangan pribadi anak yang bersangkutan. Kekerasan membuka jalan
ke arah kemalasan dan keserongan, penipuan, dan kelicikan. Misalnya,
tindak-tanduk dan ucapannya berbeda dengan apa yang ada dipikirannya,
karena takut mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan bila murid
tersebut mengatakan yang sebenarnya. maka, dengan cara itu murid akan
diajari licik dan menipu yang kemudian akan menjadi kebiasaan dan watak
dalam jiwa, yang mana jiwanya menjadi malas dan enggan memupuk sifat
keutamaan dan keluhuran moral. Mereka merasa dirinya kecil dan tidak
mau berusaha menjadi manusia yang sempurna.
158

Guru-guru hendaknya tidak memperlakukan muridnya secara kasar
atau dengan paksaan dalam melakukn pengajaran. Tetapi jangan pula
terlalu lemah lembut, karena hal tersebut akan membiasakan murid untuk

157
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Op. Cit., hlm. 82
158
Ibn Khaldun,Op. Cit., hlm. 763


74
hidup santai. Sebisa mungkin, perbaiki dia dengan kasih sayang dan lemah
lembut.
159

Tidak dapat dipungkiri peserta didik adalah manusia merdeka,
manusia membutuhkan kasih sayang, peserta didik adalah manusia dan
ingin dianggap dan diperlakukan selayaknya manusia. Pembelajaran
dengan kekerasan hanya akan meninggalkan jiwa-jiwa yang terjajah, jiwa-
jiwa yang memendam dendam dan bara perlawanan. Mungkin suatu saat
nanti jiwa-jiwa yang terjajah tersebut juga kan menjajah orang lain yang
dianggapnya lemah dan berada di bawah kekuasaannya.
160

Pendidikan sarjana akan lebih sempurna dengan pergi menuntut
ilmu dan menemui guru-guru paling berpengaruh. Keahlian yang diperoleh
melalui kontak personal dengan guru biasanya lebih kokoh dan lebih
berakar, karena semakin banyak jumlah guru yang dihubungi langsung
oleh seorang murid maka semakin dalamlah tertanam keahliannya.
161

Pelajar yang bersangkutan juga harus mengadakan kontak personal
dengan guru-guru berbagai bidang keilmuan. Bertatap muka dan bertemu
wicara dengan para sarjana dan guru akan memberikan manfaat keilmuan
masing-masing bidang termasuk memperbedakan satu istilah dengan yang
lainnya. pelajar yang bersangkutan tersebut akan dapat menarik
kesimpulan keilmuan daripadanya, serta kemudian memahami bahwa
istilah dan metode hanyalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, ilmu yang diperoleh tersebut akan memperkukuh

159
Ibid., hlm. 764
160
Riwayat Allasmaji, Loc. Cit.
161
Ibn Khaldun,Op. Cit., hlm. 765


75
keahliannya. Pengetahuan yang dimilikinya akan memperteguh dirinya
dan mampu memperbandingkan dengan bidang keilmuan lain. Keahlian
dan keluasan pandangan memang hanya dapat diraih melalui kontak
personal yang intensif dengan para guru dari beragam disiplin ilmu.
162


Adapun hal-hal Yang Menghambat Proses Belajar Menurut Ibnu
Khaldun, di antaranya adalah:
a. Banyaknya buku ilmu pengetahuan yang ditulis merupakan penghambat
memperoleh ilmu pengetahuan.
Salah satu hal yang merintangi dan membahayakan manusia
memperoleh ilmu pengetahuan dan mencapai ilmu pengatahuan yang
seksama adalah banyaknya jumlah buku yang ditulis , berbeda-
bedabya istilah-istilah yang diperlukan dan dipakai untuk pengajarn,
serta beragamnya metode yang dipergunakan di dalamnya. Karena itu
para pelajar dituntut memiliki kesiapan pengetahuannya.
163

Para pelajar memang harus menghapal dengan sungguh-
sungguh semua buku-buku tersebut atau sebagian besar daripadanya,
disamping harus meneliti pelbagai macam metode yang dipergunakan
di sana. Seluruh usianya tampaknya tidak akan cukup untuk
mengetahui semua literature yang terdapat di dalam sebuah disiplin

162
Ibid., hlm. 765
163
Ibid., hlm. 748


76
ilmu, meskipun dia setia bertekun diri padanya. Mereka pun tidak
boleh gagal memahami dan menguasainya.
164


b. Banyaknya ringkasan tentang bermacam masalah keilmuan
mengganggu proses pengajaran.
Seringkali terjadi, para sarjana mendekati buku induk dari
berbagai disiplin ilmu yang sangat panjang dengan maksud
menafsirkan dan menerangkannya. Mereka juga meringkasnya, untuk
mempermudah para pelajar menghafalnya. Ternyata pengaruhnya
berakibat merusak terhadap proses pengajaran dan mengganggu usaha-
usaha menimba ilmu pengetahuan. Sebab para pelajar pemula dengan
serta merta dihadapkan pada bagian-bagian yang paling lanjut dari
permasalahan pokok yang dibahas. Padahal untuk itu mereka belum
siap, inilah suatu kekeliruan sistem pengajaran yang berat.
165

Cara yang semula dimaksudkan untuk menghemat tenaga itu
ternyata membawa banyak kerepotan bagi para pelajar. Mereka
dipaksa memahami pikiran yang tersimpul dalam istilah-istilah yang
ringkas, membingungkan, danpadat arti. Mereka harus menguraikan
sejumlah persoalan yang tersembunyi di balik kata yang digunakan.
Karena itu, teks buku-buku ringkasan itu cukup menyukarkan dan

164
Ibid.
165
Ibid., hlm. 750


77
membingungkan, sehingga banyak waktu habis untuk mencoba
memhaminya.
166

Sekalipun pengetahuan masih bisa diperoleh dari ringkasan-
ringkasan itu tanpa kesukaran, namun keahlian yang mungkin dicapai
darinya akan kurang sempurna bila dibandingkan dengan yang
dihasilkan dari mempelajari cbang-cabang ilmu yang diterangkan
dengan sederhana dan cukup panjang. Sebab cara yang belakangan ini
akan memberikan banyak kajian ulang dan berbagai gambaran tentang
pokok-pokok persoalan, yang tentu saja akan membantu memberikan
keahlian yang sempurna. Apabila pengulangan kajian seperti itu
dibatasi, keahlian akan terbatas dan menyempit.
Ringkasan yang telah dibuat tersebut pada mulanya dengan
tujuan untuk memudahkan pekerjaan pelajar menghafal pada
hakekatnya membebaninya dengan membuat para pelajar tersebut
kurang sanggup mendapatkan keahlian yang dibutuhkan.


6. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, adalah
167
:
1. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja,
karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan
individu. Kematangan ini akan menguntungkan masyarakat. Pemikiran

166
Ibid., hlm. 751
167
Toto Suharto , Op. Cit,. hlm. 240-241


78
matang adalah alat kemajuan berbagai ilmu, industri dan institusi-
institusi sosioal.
168

2. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu
manusia agar dapat hidup dengan baik.
3. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari
penghidupan. Ibnu Khaldun menjadikan pengajaran sebagai profesi
yang dapat dipergunakan untuk mencari rezeki.
Berdasarkan tujuan di atas, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa
“pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam
membangun masyarakat manusia’. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa
maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan
nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan
eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya
melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, agar
masyarakat tersebut bisa tetap eksis. Dalam hal ini berarti Ibnu Khaldun
memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia.
169


B. Konsep Belajar Barat (Non-Islam)
1. Konsep Belajar Secara Umum
Secara umum belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku yang
relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman
170
atau tingkah

168
Fathiyyah Hasan Sulaima, Op. Cit., hlm. 39
169
Toto Suharto , Op. Cit,. hlm. 243
170
Pengalaman adalah segala kejadian (peristiwa) yang secara sengaja maupun tidak
sengaja dialami setiap orang.


79
laku yang dilakukan secara sadar. Seseorang dikatakan telah belajar
sesuatu apabila padanya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya semula
tidak mampu berbahasa Arab kemudian menjadi mahir berbahasa Arab.
171

Adapun tujuan dari belajar itu sendiri adalah agar kita dapat survive
(bertahan hidup) dan juga dapat beradaptasi dengan lingkungan. Belajar
merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi,
ketrampilan, dan sikap.
172

Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat, belajar
merupakan proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar
individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses
berbuat melalui berbagai pengalaman. Apabila bicara tentang belajar maka
kita berbicara bagaimana mengubah tingkahlaku seseorang.
173

Proses dalam belajar merupakan proses mental yang aktif. Pada
tingkat permulaan belajar aktivitas itu masih belum teratur, banyak hasil-
hasil yang belum terpisahkan dan masih banyak kesalahan yang diperbuat.
Tetapi dengan adanya usaha dan latihan yang terus-menerus, adanya
kondisi belajar yang baik, adanya dorongan-dorongan yang membantu,
maka kesalahan-kesalahan itu makin lama makin berkurang, prosesnya
makin teratur, keraguan-keraguan makin hilang dan timbul ketetapan.
174


171
Muhaimin, dkk. Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama) (Surabaya: CV. Citra Media), hlm. 43
172
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 11
173
Nana Sudjana, dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, cet ke-6 (Bandung: Sinar Baru
Algensindo Offset, 2005), hlm. 28
174
Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Melton Putra, 1991),
hlm. 62


80
Apabila orang yang belajar maju dari tingkat yang satu ke tingkat
yang lain, ia dapat mengerti dan mengartikan bahan-bahan lain yang lebih
banyak dan lebih sukar ataupun lebih kompleks, dan dapat
mempergunakan bahan-bahan atau pengetahuan yang telah dimiliki untuk
memperoleh pengetahuan yang lain. Maka penting untuk diperhatikan
bahwa perubahan itu pula merupakan suatu pertumbuhan untuk mencapai
puncak kekuatan, untuk menghilangkan kekacauan. Belajar bukanlah suatu
proses yang mekanistis tetapi disini seluruh kepribadian ikut aktif.
175

Gagne (1977), menyatakan bahwa “belajar terjadi apabila stimulus
bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa
sehingga penampilannya berubah dari waktu ke waktu sebelum ia
mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
176

Morgon (1978), mengemukakan bahwa “belajar adalah setiap
perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
177

Witherinton (1986) menjelaskan bahwa “belajar adalah suatu
perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola
baru sebagai reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian,
atau suatu pengertian”.
178

Hintzman, menyatakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan
yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh

175
Ibid.
176
Sutiah, Op. Cit., hlm. 22.
177
Ibid.
178
Ibid.


81
pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme
tersebut’.
179

Pengertian belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini
memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai
kepandaian atau ilmu.
180

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditegaskan
bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan,
dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan sebagainya. dengan demikian tujuan belajar
adalah untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman tertentu.
181

Ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku
belajar yang terpenting adalah:
a. Perubahan itu intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat
pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari.
Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan
adanya perubahan yang dialaminya.
182


b. Perubahan itu positif dan aktif

179
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 90
180
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 13
181
Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah
Manusia, (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), hlm. 2
182
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 116


82
Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan.
Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti
karena proses kematangan, tetapi karena usaha siswa itu sendiri.
183


c. Perubahan itu efektif dan fungsional
Bersifat efektif artinya perubahan tersebut membawa pengaruh,
makna, dan manfaat tertentu bagi siswa. Sedangkan bersifat fungsional
dalam arti bahwa ia relative menetap dan setiap saat apabila
dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan
dimanfaatkan.
184


Prinsip-Prinsip Belajar diantaranya adalah:
185

1. Pelaku aktifitas belajar adalah siswa, maka yang bertindak aktif adalah
siswa itu sendiri.
2. Setiap siswa belajar sesuai dengan kemampuannya, karena
kemampuan setiap siswa adalah berbeda-beda.
3. Siswa akan dapat belajar dengan baik bila dapat penguatan langsung
pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
4. Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa
akan membuat proses belajar lebih sempurna.
5. Siswa akan lebih meningkatkan motivasinya untuk belajar apabila dia
di beri tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya.

183
Ibid., hlm. 117
184
Ibid.
185
Sutiah, Op. Cit., Ibid., Hal. 7


83
Menurut Gagne, proses
186
belajar itu melalui tahap-tahap atau fase-
fase sebgai berikut:
187

1. Tahap Motivasi, yaitu saat motivasi dan keinginan siswa untuk
melakukan kegiatan belajar bangkit. Misalnya siswa tertarik untuk
mendengarkan apa yang diucapkan guru;
2. Tahap Konsentrasi, yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian, yang
telah ada pada motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan
dengan apa yang akan dipelajari;
3. Tahap Mengolah, yaitu siswa menahan informasi yang diterima dari
guru dalam Short Term Memory (STM), atau tempat penyimpanan
ingatan jangka pendek, kemudian mengolah informasi-informasi untuk
diberi makna berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masing-
masing;
4. Tahap menyimpan, yaitu siswa menyimpan symbol-simbol hasil
olahan yang telah diberi makna ke dalam Long Term Memory (LTM)
atau gudang ingatan jangka panjang. Pada tahap ini hasil belajar sudah
diperoleh, baik baru sebagian maupun keseluruhan;
5. Tahap Menggali (1), yaitu siswa menggali informasi yang telah
disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dengan informasi baru
yang dia terima. Setelah penggalian informasi dan dikaitkan dengan
informasi baru, maka terjadi lagi pengolahan informasi untuk diberi

186
Proses merupakan urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau
tujuan. Sedangkan menurut Chaplin (1972) “proses adalah suatu perubahan yang menyangkut
tingkah laku atau kejiwaan.
187
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 17-18


84
makna seperti halnya dalam tahap mengolah untuk selanjutnya
disimpan dalam LTM lagi;
6. Tahap Menggali (2), yaitu menggali informasi yang telah disimpan
dalam LTM untuk persiapan fase prestasi. Tahap menggali 2
diperlukan untuk kepentingan kerja, menyelesaikan tugas, menjawab
pertanyaan atau soal/latihan;
7. Tahap Prestasi, informasi yang telah tergali pada tahap sebelumnya
digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar;
8. Tahap Umpan Balik, yaitu siswa memperoleh penguatan (konfirmasi)
saat perasaan puas atas prestasi yang ditunjukkan.

Perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam
perubahan-perubahan sebagai berikut:
a. Kebiasaan
188

Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-
kebiasaannya akan tampak berubah. Pembiasaan juga meliputi
pengurangan perilaku yang tidak diperlukan, karena proses
pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru yang
relatif menetap dan otomatif.
189


b. Ketrampilan

188
Menurut Burghardt (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan
kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang.
189
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 118


85
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-
urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan
jasmaniah seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya.
190


c. Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan,, dan
memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti
mata dan telinga. Berkat pengalaman belajar seorang siswa akan
mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai
pengertian.
191


d. Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat
Berpikir asosiatif merupakan proses pembentukan hubungan
antara rangsangan dengan respons. Di samping itu, daya ingat pun
merupakan perwujudan belajar, sebab merupakan unsure pokok dalam
berpikir asosiatif. Jadi, siswa yang telah mengalami proses belajar akan
ditandai dengan bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan
pengertian) dalam memori, serta meningkatnya kemampuan
menghubungkan materi tersebut dengan situasi yang sedang
dihadapi.
192


e. Berpikir Rasional

190
Ibid., hlm. 119
191
Ibid.
192
Ibid.


86
Siswa dituntut menggunakan logika (akal sehat) untuk
menentukan sebab-akibat, menganalisis, menarik kesimpulan, dan
bahkan juga menciptakan hukum-hukum. Dalam hal berpikir kritis,
siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk
menguji keandalan gagasan pemecahan masdalah dan mengatasi
masalah atau kekurangan (reber, 1988).
193


6. Sikap
Sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk
bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang
tertentu.
194


7. Inhibisi
Inhibisi ialah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau
menghentikan tindakan yang tidak perlu, lalu memilih atau melakukan
tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan
lingkungannya.
195

8. Apresiasi
Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan sebagai
penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda, baik abstrak
maupun konkret yang memiliki nilai luhur.
196


193
Ibid., hlm. 120
194
Ibid.
195
Ibid.
196
Ibid., hlm. 121


87
9. Tingkah Laku Afektif
Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut
keanekaragaman perasaan, seperti: takut, marah, sedih, gembira,
kecewa, senang, dan sebagainya.
197


Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu
sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
198

1. Faktor Internal
199

1) Faktor-faktor fisiologis, adalah faktor-faktor yang berhubungan
dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi dua
macam, yaitu:
a) Tonus jasmani pada umumnya, keadaan jasmani yang segar
akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang
segar.
200

b) Keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu, Pancaindera yang
berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar
dengan baik pula.
201



197
Ibid.
198
Ibid., hlm. 19.
199
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam individu.
200
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2002),
hlm. 235
201
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 20


88
2) Faktor-faktor psikologis, adalah keadan psikologis seseorang yang
dapat mempengaruhi proses belajar, diantaranya adalah:
kecerdesan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
202


2. Faktor Eksternal
203

1) Faktor-faktor non-sosial, misalnya: keadaan udara, suhu udara,
cuaca, waktu (pagi, siang, atau malam), tempat (letaknya,
pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti
alat0tulis-menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya).
204


2) Faktor-faktor sosial, adalah faktor manusia (sesama manusia, baik
manusia itu ada (hadir) maupun tidak langsung hadir.
205

1) Lingkungan sosial sekolah (guru, administrasi, dan teman-
teman sekelas), hubungan yang harmonis antara ketiganya
dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di
sekolah.
206

2) Lingkungan sosial masyarakat, kondisi lingkungan masyarakat
tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.
207


202
Ibid. hlm. 20
203
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu.
204
Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hlm. 233
205
Ibid., hlm. 234
206
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 26
207
Ibid., hlm. 27


89
3) Lingkungan sosial keluarga, hubungan antara anggota
keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan
membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
208


Hasil belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan ke dalam
situasi-situasi di luar sekolah, dengan kata lain bahwa murid harus dapat
mentransferkan hasil belajar tersebut ke dalam situasi-situasi yang
sesungguhnya di dalam masyarakat.
209
Adapun teori transfer hasil belajar
ada tiga teori, yaitu:
a. Teori Disiplin Formal (The Formal Dicipline Theory)
Teori ini menyatakan, bahwa ingatan, sikap, pertimbangan,
imajinasi dapat diperkuat melalui latihan-latihan akademis. Mata
pelajaran seperti geometrid an bahasa Latin sangat penting dalam
melatih daya piker seseorang. Demikian halnya dengan daya pikir
kritis, ingatan, pengamatan, dan sebagainya dapat dikembangkan
melalui latihan-latihan akademis.
210


b. Teori Unsur-Unsur yang Identik (The Identical Elements Theory)
Transfer terjadi apabila di antara dua situasi atau dua kegiatan
terdapat unsur-unsur yang bersamaan (identik). Latihan dalam satu
situasi mempengaruhi perbuatan tingkah laku dalam situasi yang

208
Ibid.
209
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, cet. Ke-6 (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007),
hlm. 33
210
Ibid., hlm. 34


90
lainnya. teori ini banyak digunakan dalam kursus latihan jabatan, di
mana siswa diberikan respon-respon yang diharapkan diterapkan
dalam situasi kehidupan yang sebenarnya.
211


c. Teori Generalisasi (The Generalization Theory)
Teori ini merupakan revisi terhadap teori unsure-unsur yang
identik. Tetapi generalisasi menekankan kepada kompleksitas dari apa
yang dipelajari. Internalisasi dari pada pengertian-pengertian,
ketrampilan, sikap-sikap, dan apresiasi dapat mempengaruhi kelakuan
seseorang. Teori ini menekankan kepada pembentukan pengertian
yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman lain. Transfer
terjadi apabila siswa menguasai pengertian-pengertian umum atau
kesimpulan-kesimpulan umum, lebih dari pada unsure-unsur yang
identik.
212


2. Biografi Jean Piaget
Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel di wilayah Swiss yang
berbahasa Perancis. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor
dalam sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchatel. Piaget adalah
seorang anak yang terlalu cepat menjadi matang, yang mengembangkan
minatnya dalam biologi dan dunia pengetahuan alam, khususnya tentang
moluska (kerang-kerangan), dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah

211
Ibid.
212
Ibid.


91
sebelum ia lulus dari SMA. Malah, kariernya yang panjang dalam
penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun, dengan
diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja
albino. Sepanjang kariernya, Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan
ratusan artikel.
213

Jean Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu alamiah dari
Universitas Neuchâtel, dan juga belajar sebentar di Universitas Zürich.
Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah filsafat yang
memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu, tetapi yang belakangan
ditolaknya karena dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja.
Minatnya terhadap psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang
berkembang pada saat itu, juga dapat dicatat mulai muncul pada periode
ini.
214

Jean Piaget pindah dari Swiss ke Grange-aux-Belles, Perancis, dan
di sana ia mengajar di sekolah untuk anak-anak lelaki yang dikelola oleh
Alfred Binet, pengembang tes intelegensia Binet. Ketika ia menolong
menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah Piaget
memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan
jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Piaget tidak
terlalu memperhatikan pada jawaban-jawaban yang keliru itu, melainkan
pada kenyataan bahwa anak-anak yang kecil itu terus-menerus membuat
kesalahan dalam pola yang sama, yang tidak dilakukan oleh anak-anak

213
Artikel Wikpedia Indonesia, Jean Piaget (Khaldun (http: // www. Geoogle. Com, diakses
25 September 2007)
214
Ibid.


92
yang lebih besar dan orang dewasa. Hal ini menyebabkan Piaget
mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak-anak yang
lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang dewasa.
(Belakangan, ia mengajukan teori global tentang tahap-tahap
perkembangan yang menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan
pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya.)
Pada 1921, Piaget kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di
Geneva.
215

Pada tahun 1923, ia menikah dengan Valentine Châtenay, salah
seorang mahasiswinya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak, yang
dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. Pada 1929, Piaget menerima
jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional, yan tetap
dipegangnya hingga 1968. Setiap tahun, ia menyusun "Pidato
Direktur"nya untuk Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional
tentang Pendidikan Umum, dan di dalamnya ia secara eksplisit
mengungkapkan keyakinan pendidikannya.
216

Jean Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di Universitas
Geneva dari 1929 hingga 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun
kembali teori is perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap,
memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin, menjadi empat
tahap perkembangan yang lebih kurang sama dengan (a) masa infancy, (b)
pra-sekolah, (c) anak-anak, dan (d) remaja. Masing-masing tahap ini

215
Ibid.
216
Ibid.


93
dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua
pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh
filsuf Immanuel Kant). Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang
anak tentang realitas pada masa itu, dan masing-masing kecuali yang
terakhir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak
memadai. Jadi, perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya
disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak
tentang lingkungannya; akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu
tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh struktur
pemikiran.
217

Karya-karya penting Jean Piaget, diantaranya adalah:
218

1. Introduction a l’Epistemologie Genetique. Paris: Presses
Universitaires de France (1950).
2. La psychologie de l'intelligence. Paris: Armand Colin (1961, 1967,
1991). Versi online (1961).
3. Logique et Connaissance scientifique, Encyclopedie de la Pleiade
(1967).
4. The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence. New
York: Basic Books (1958).
5. The Early Growth of Logic in the Child: Classification and Seriation.
London: Routledge and Kegan Paul (1964).

217
Ibid.
218
Ibid.


94
6. The Child's Conception of the World. London: Routledge and Kegan
Paul (1928).
7. The Moral Judgment of the Child. London: Kegan Paul, Trench,
Trubner and Co (1932).
8. The Child's Conception of Number. London: Routledge and Kegan
Paul.(1952).
9. The Origins of Intelligence in Children. London: Routledge and Kegan
Paul (1953).
10. The Child's Construction of Reality. London: Routledge and Kegan
Paul.(1955).
11. Biology and Knowledge. Chicago: University of Chicago Press (1971).
12. Sociological Studies. London: Routledge (1995).
13. Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press (2001).
Adapun jabatan-jabatan penting Jean Piaget, diantaranya adalah:
219

1. 1921-1925, Direktur Penelitian, Institut Jean -Jacques Rousseau,
Geneva.
2. 1925-1929, Profesor Psikologi, Sosiologi dan Filsafat Ilmu,
Universitas Neuchatel.
3. 1929-1939,Direktur Sejarah Pemikiran Ilmiah, Universitas Geneva.
4. 1929-1967, Direktur, Biro Pendidikan Internasional, Geneva.

219
Ibid.


95
5. 1932-1971, Direktur, Institut Ilmu-ilmu Pendidikan, Universitas
Geneva.
6. 1938-1951, Profesor Psikologi Eksperimen dan Sosiologi, Universitas
Lausanne.
7. 1939-1951, Profesor Sosiologi, Universitas Geneva.
8. 1940-1971, Profesor Psikologi Eksperimen, Universitas Geneva.
9. 1952-1964, Profesor Psikologi Genetika, Sorbonne, Paris.
10. 1955-1980, Direktur, Pusat Internasional untuk Epistemologi
Genetika, Geneva.
11. 1971-1980 Profesor Emeritus, Universitas Geneva.

3. Konsep Belajar Menurut Jean Piaget
Jean Piaget adalah seorang pakar psikologi kognitif terkemuka.
220

Selain itu Piaget juga termasuk tokoh yang mengembangkan konsep
belajar konstruktivisme, karena menurutnya dalam belajar dan
pembelajaran tidak hanya faktor psikologi kognitif saja yang diperhatikan
tetapi faktor sosial juga diperlukan. Premis dasarnya adalah bahwa
individu harus secara aktif “membangun” pengetahuan dan
ketrampilannya (Brunner, 1990) dan informasi yang ada diperoleh dalam
proses membangun kerangka oleh pelajar dari lingkungan di luar
dirinya.
221


220
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: P.T. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 93
221
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 115


96
Konsep belajar menurut aliran kognitif adalah proses internal
yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan tingkah laku terjadi
dalam situasi tertentu sebagai refleksi perubahan internal. Berbeda dengan
behavioristik, teori kognitif mempelajari aspek-aspek yang tidak dapat
diamati seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreatifitas, harapan,
dan pikiran. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari
pada hasil belajarnya. Menurutnya belajar merupakan perubahan persepsi
dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang
nampak.
222

Pada dasarnya dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada
asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (yang bersifat
jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata
dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. Secara lahiriah, seorang anak
yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya, tentu menggunakan
perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan
kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku mengucapkan kata-
kata dan menggoreskan pena dilakukan anak tersebut bukan semata-mata
respons atas stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena
dorongan mental yang diatur oleh otaknya.
223

Peristiwa belajar yang digambarkan dalam teori behavioristik yakni
yang hanya melibatkan respon dan stimulus dalam perspektif kognitif
adalah naif (terlalu sederhana dan tidak masuk akal). Sebagai bukti dan

222
Asri Budianingsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 34
223
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm 111


97
bahan perbandingan, berikut dua contoh kritik terhadap kepercayaan
behavioristik:
a. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan pada umumnya
berpengaruh terhadap kegiatan belajar. seorang siswa lazimnya
menyalin pelajaran, juga dengan kebiasaan. Gerakan tangan dan
goresan pena yang dilakukan siswa tersebut demikian lancarnya karena
sudah terbiasa menulis sejak tahun pertama sekolah. Akan tetapi, perlu
diingat bahwa sebelum siswa tadi menyalin pelajaran dengan cara yang
biasa ia lakukan, tentu terlebih dahulu ia membuat keputusan apakah ia
akan menyalin pelajaran sekarang, nanti, atau sama sekali tidak.
Keputusan tersebut tentu bukan peristiwa behavioral melainkan
peristiwa mental siswa itu sendiri.
224

b. Kebiasaan belajar seorang siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa
itu sendiri. Contoh: menurut kebiasaan, seorang siswa belajar seharian
di perpustakaan sambil mengunyah permen. Tetapi, ketika tiba saat
berpuasa Ramadlan ia hanya belajar setengah hari dengan tidak
mengunyah permen. Kemauan siswa itu tentu bukan perilaku
behavioral melainkan peristiwa mental (konatif), meskipun secara
lahiriah yang menerima akibat kemauan tersebut adalah perilaku
behavioral.
225



224
Ibid., hlm 112
225
Ibid.


98
Dari uraian contoh-contoh tersebut, maka jelaslah bahwa perilaku
belajar itu dalam semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar
peristiwa ikatan antara stimulus dan respon melainkan lebih banyak
melibatkan proses kognitif.
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu
aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi
perceptual, dan proses internal.
226

Piaget, menyimpulkan:…children have a built-in desire to learn
(Barlow, 1985). Ungkapan ini bermakna bahwa semenjak kelahirannya,
setiap anak manusia memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya
sendiri untuk belajar.
227

Menurut Jean Piaget, pendidikan adalah sebagai penghubung dua
sisi, di satu sisi individu yang sedang tumbuh dan di sisi lain merupakan
nilai sosial, intelektual, dan moral yang menjadi tanggung jawab pendidik
untuk mendorong individu tersebut. Individu berkembang sejak lahir dan
terus berkembang. Perkembangan tersebut bersifat klausal, namun juga
terdapat komponen normati, dan juga karena pendidikan menuntut nilai.
Nilai ini adalah norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam
mengidentifikasi apa yang diwajibkan, diperbolehkan, dan dilarang. Jadi,
pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai.
228

Pandangan tersebut memberi makna bahwa pendidikan adalah
segala situasi hdup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai

226
Sutiah, Op. Cit., hlm. 120
227
Muhibbin Syah, Loc. Cit.
228
Saiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran ( Bandung: Alabeta, 2005), hlm. 1


99
pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan
sepanjang hidup.
Cara belajar anak menurut Jean Piaget adalah bahwa
perkembangan intelektual sebagai proses membangun model realitas
dalam diri, dalam rangka memperoleh informasi mengenai cara-cara
membangun gambaran batin tentang dunia luar.
229

Berdasarkan pendapat Jean Piaget tersebut, maka pemikirannya
juga dapat dimasukkan ke dalam teori konstruktivistik, yang mana
konstruktivistik merupakan perkembangan dari teori belajar kognitif.
Konstruktivisme berangkat dari keyakinan behwa pengetahuan adalah
suatu proses pembentukan yang terus-menerus berkembang dan berubah.
Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif kenyataan
melalui kegiatan seseorang. Pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang
tertentu atau tetap melainkan suatu proses untuk menjadi tahu.
230

Menurut aliran konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si
belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun
konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru
memang prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang
optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah

229
Matt Jarvis, Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku,
Perasaan, dan Pikiran Manusia). Terj. SPA-Teamwork. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan
penerbit Nuansa, 2006), hlm. 142
230
Sutiah, Op. Cit., hlm. 109


100
lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada
pada siswa.
231

Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang
sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.
Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi
pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal
tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru,
sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan
pembimbingan.
232

Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama
dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan,
lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu
pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan
pendapat dan pemikiranya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara
demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri,
memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan
mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
233

Bagi kaum konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang aktif, di
mana pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Pelajar sendirilah yang
bertanggungjawab atas hasil belajarnya. Mereka sendiri yang membuat
penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna,

231
Asri Budianingsih, Op. Cit.,hlm. 58
232
Ibid., hlm. 59
233
Ibid., hlm. 59-60


101
membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui serta
menyelesaikannya ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa
yang ia perlukan dalam pengalaman yang baru.
234

Belajar merupakan proses organik untuk menemukan sesuatu
bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar
merupakan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka
pengertian yang berbeda. Pelajar harus punya pengalaman dengan
membuat hipotesis, mengetes hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan
persoalan, mencari jawaban, menggambarkan, meneliti, berdialog,
mengadakan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, mengekspresikan
gagasan, dan lain-lain guna membentuk konstruksi yang baru. Pelajar
harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu
sebagai mediator dalam proses pembentukan tersebut.
235

Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat
menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks
pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar
belakang dan minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi
pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal.
236

Studi Jean Piaget mengisyaratkan agar guru meneliti bahasa siswa
dengan seksama untuk memahami kualitas berpikir anak di dalam kelas.
Deskripsi Jean Piaget mengenai hubungan antara tingkat perkembangan

234
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan (Yogyakarta: Kanisisus,
2006), hlm. 62
235
Ibid.
236
Asri Budianingsih, Op. Cit., hlm. 61


102
konseptual anak dengan bahan pelajaran yang kompleks menunjukkan
bahwa guru harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana
mengajarkannya.
237

Strategi belajar yang dikembangkan dari teori Jean Piaget ialah
menghadapkan anak dengan sifat pandangan tidak logis anak sulit
mengerti sesuatu pandangan yang berbeda dengan pandangannya sendiri.
Tipe kelas yang dikehendaki oleh Jean Piaget menekankan pada tranmisi
pengetahuan melalui metode ceramah diskusi dan mendorong guru untuk
bertindak sebagai katalisator dan siswa belajar sendiri.
238

Menurut Jean Piaget operasi mental tertentu terdapat pada tingkat
perkembangan yang berbeda-beda yang membatasi kesanggupan anak
untuk mengolah masalah-masalah tertentu terutama pada tahap abstrak. Ini
menunjukkan bahwa guru harus dengan tepat menyesuaikan bahan
pengajaran yang kompleks dengan tahap perkembangan anak.
239

Jean Piaget juga mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan
interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungan, artinya adalah
pengetahuan merupakan suatu proses bukan suatu barang. Menurutnya,
mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide
baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat dibentuk
pengetahuan baru.
240


237
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar. (Jakarta: P.T. Rineka Cipta,
1991), hlm. 216
238
Ibid.
239
Ibid. hlm. 217
240
Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), hlm.
58


103
Pada intinya aliran konstruktivistik menegaskan bahwa
pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri
seseorang yaitu melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindera:
indra penglihatan, indra pendengaran, indra peraba, indra penciuman, dan
indra perasa. Dengan demikian, aliran ini menolak adanya transfer
pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain, dengan
alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan dari seseorang
kepada orang lain, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk
mentransfer ilmu, perbuatan itu akan sia-sia saja. Sebaliknya, kondisi ini
akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali
pengalaman.
241

Pendekatan belajar konstruktivisme memiliki beberapa strategi
(Slavin 1994), yaitu:
a. Top-Down Processing
Siswa belajar dimulai dari masalah kompleks untuk
dipecahkan, kemudian menghasilkan atau menemukan ketrampilan
yang dibutuhkan. Misalnya: siswa diminta untuk menulis kalimat-
kalimat, kemudian dia akan belajar untuk membaca, belajar tentang
tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian bagaimana menulis
titik dan komanya.
242


b. Cooperative Learning

241
Ibid., hlm. 59
242
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 127


104
Strategi ini akan membuat siswa lebih mudah menemukan
secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka
mendiskusikannya dengan siswa lain tentang problem yang dihadapi,
siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau kelompok untuk saling
membantu memecahkan problem yang dihadapi. Cooperative
Learning ini lebih menekankan pada lingkungan sosial belajar dan
menjadikan kelompok belajar sebagai tempat untuk mendapatkan
pengetahuan, mengeksplorasi pengetahuan, dan menantang
pengetahuan yang dimilki oleh individu. Inilah kunci konsep-konsep
dasar yang dikemukakan oleh Jean Piaget.
243


c. Generative Learning
Startegi ini menekankan pada adanya integrasi yang aktif
antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata,
sehingga dengan menggunakan pendekatan generative learning
diharapkan siswa melakukan proses adaptasi ketika menghadapi
stimulus baru mengajarkan siswa untuk melakukan kegiatan mental
saat belajar, seperti: membuat pertanyaan, kesimpulan, atau analogi-
analogi terhadap apa yang sedang dipelajarinya.
244


4. Proses Belajar Menurut Jean Piaget

243
Ibid., hlm. 128
244
Ibid.


105
Jean Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas
gradual dari fungsi intelektual , dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah
seorang psikologi development karena penelitiannya mengenai tahap-
tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi
kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas
mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang
sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual merupakan perubahan
secara kualitatif, yang mana struktur intelektual tersebut terbentuk akibat
interaksinya dengan lingkungan.
245

Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan
kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah
dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh
siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi
yang bermuara pada pemutaakhiran struktur kognitifnya.
246

Jean Piaget memakai istilah scheme secara interchangeably dengan
istilah struktur. Scheme adalah suatu struktur mental atau kognitif yang
dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi
lingkungan sekitarnya.
247
Scheme berhubungan dengan: refleks-refleks
pembawaan (bernapas, makan, minum) dan scheme mental.
Menurut Jean Piaget, intelegensi terdiri dari tiga aspek,
248
yaitu:
1. Struktur (Scheme);

245
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: P.T. Rineka Cipta, 1998), hlm. 130
246
Asri Budianingsih, Op. Cit.,hlm. 58
247
Wasty Soemanto, Loc. Cit.
248
Ibid., hlm. 131


106
2. Isi (Content), yaitu: pola tingkah laku spesifik tatkala individu
menghadapi sesuatu masalah;
3. Fungsi (Function), yang berhubungan dengan cara seseorang mancapai
kemajuan intelektual. Fungsi tersebut terdiri dari dua macam, yaitu
organisasi dan adaptasi.

Titik pusat perhatian dalam teori Piaget ialah perkembangan fikiran
secara alami dari lahir sampai dewasa.
249
. Menurut Piaget, aktivitas untuk
mengasimilasikan pengalaman tertentu yang berasal dari lingkungan
memaksa anak mengkomodasikan atau menghayati pengalaman itu. Piaget
menganjurkan agar perkembangan kognitif dapat berjalan seoptimal
mungkin, perlu disediakan kesempatan bagi anak untuk mengkomodasikan
pengalaman dari lingkungan yang telah diasimilasikannya.
250

Selain itu, Jean Piaget juga menekankan pada pentingnya
lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi
kemampuan dalam belajar kelompok akan dapat meningkatkan
pengubahan secara konseptual. Konsep pemikiran Jean Piaget tentang
belajar merupakan dasar bagi pendekatan konstruktivisme dalam
belajar.
251

Menurut pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan
berkembang adalah melalui pengalaman. Pemahaman berkembang
semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam

249
Asri Budianingsih, Op. Cit.,hlm. 35
250
Samuel Soeitoe, Op.Cit., hlm. 99
251
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Op. Cit., hlm. 117


107
pengalaman baru. Menurut Jean Piaget, manusia memiliki struktur
pengetahuan dalam otaknya, seperti sebuah kotak-kotak yang masing-
masing mempunyai makna yang berbeda-beda. pengalaman yang sama
bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan
disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru akan
dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak
manusia (Nurhadi, 2004). Oleh karena itu, pada saat manusia belajar,
menurut Jean Piaget, sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya,
yaitu: proses organisasi informasi dan proses adaptasi.
252

Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan
informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang
sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses
organisasi inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang
didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur
pengetahuan yang dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan
atau mengkomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut.
253

Proses adaptasi adalah proses yang berisi dua kegiatan. Pertama,
menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh
manusia atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur
pengetahuan yang sudah dimilki dengan struktur pengetahuan baru,
sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium) dalam proses ini Jean
Piaget mengemukakan empat konsep dasar, yaitu:

252
Ibid., hlm.117
253
Ibid., hlm. 118


108
1. Skemata.
Manusia selalu berusaha menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Manusia cenderung mengorganisasikan tingkah laku
dan pikirannya. Hal itu mengakibatkan adanya sejumlah struktur
psikologis yang berbeda bentuknya pada setiap fase atau tingkat
perkembangan tingkah laku dan kegiatan berpikir manusia (intellectual
scheme). Dengan demikian, pikiran harus memiliki suatu struktur yaitu
skema yang berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan
menata lingkungan itu secara intelektual.
254
Secara sederhana skemata
dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang
digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. Skemata
ini senantiasa berkembang. Perkembangan ini dimungkinkan oleh
stimulus-stimulus yang dialaminya yang kemudian diorganisasikan
dalam pikirannya. Piaget mengatakan bahwa skemata orang dewasa
berkembang mulai dari skemata anak melalui proses adaptasi sampai
pada penataan dan organisasi. Dengan demikian, skemata adalah
struktur kognitif yang selalu berkembang dan berubah. Proses yang
menyebabkan adanya perubahan tersebut adalah asimilasi dan
akomodasi.
255


2. Asimilasi.

254
Ibid.
255
Ibid., hlm. 119


109
Asimilasi merupakan proses kognitif dan penyerapan
pengalaman baru ketika seseorang memadukan stimulus atau persepsi
ke dalam skemata atau prilaku yang sudah ada. Misalnya, seorang anak
belum pernah melihat ‘seekor Ayam’. Stimulus, Ayam, yang
dialaminya akan diolah dalam pikirannya, dicocok-cocokkan dengan
skemata-skemata yang telah ada dalam struktur mentalnya. Mungkin
saja skemata yang paling dekat dengan Ayam adalah ‘Burung’ maka
anak tersebut menyebut ‘Ayam’ itu sebagai ‘Burung Besar’ karena
stimulus ‘Ayam’ diasimilasikan ke dalam skemata ‘Burung’. Nanti,
ketika dipahaminya bahwa hewan itu bukan ‘Burung Besar’ melainkan
‘Ayam’, maka terbentuklah skemata ‘Ayam’ dalam struktur pikiran
anak tersebut.
256
Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata,
tetapi mempengaruhi atau memungkinkan pertumbuhan skemata.
Asimilasi terjadi secara kontinyu, berlangsung terus-menerus dalam
perkembangan kehidupan intelektual anak.
257


3. Akomodasi.
Akomodasi merupakan suatu proses struktur kognitif yang
berlangsung sesuai dengan pengalaman baru. Proses kognitif teresbut
menghasilkan terbentuknya skemata baru dan berubahnya skemata
lama. Pada perubahan tersebut terjadi secara kualitatif, sedangkan pada
asimilasi terjadi perubahan secara kuantitatif. Jadi, pada hakikatnya

256
Ibid.
257
Ibid.


110
akomodasi menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan
skemata. Sebelum terjadi akomodasi, ketika anak menerima stimulus
yang baru, struktur mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil.
Bersamaan terjadinya proses akomodasi, maka struktur akomodasi,
maka struktur mental tersebut menjadi stabil lagi. Begitulah proses
asimilasi dan akomodasi terjadi terus-menerus dan menjadikan
skemata manusia berkembang bersama dengan waktu dan
bertambahnya pengalaman. Mula-mula skemata seseorang masih
bersifat sangat umum dan global, kurang teliti, bahkan terkadang
kurang tepat, tetapi melalui proses asimilasi dan akomodasi, skemata
yang kurang tepat dan kurang teliti tersebut diubah menjdi lebih tepat
dan lebih teliti.
258


4. Keseimbangan (equilibrium).
Pada proses adaptasi terhadap lingkungan, individu berusaha
untuk mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. Stabil dalam
artian adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan proses
akomodasi. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinu, maka
yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan
ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya,
jika hanya akomodasi saja yang terjadi secara kontinu, maka individu
akan hanya memiliki skemata yang kecil-kecil saja, dan mereka tidak

258
Ibid., hlm. 120


111
memilki skemata yang umum. Individu tersebut tidak akan bisa
melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal. Itulah sebabnya,
ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang oleh Jean Piaget
disebut dengan keseimbangan (equilibrium). Dengan adanya
keseimbangan ini, maka efisien interaksi antara anak yang sedang
berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin.
Dengan kata lain, terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal
dan faktor-faktor-faktor eksternal.
259


Proses adaptasi juga dipengaruhi oleh faktor hereditas dan
lingkungan, sehingga hal ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
melakukan proses asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan. Faktor
keturunan yang baik berkaitan dengan proses-proses adaptasi akan
mempengaruhi, walaupun faktor lingkungan lebih memilki pengaruh.
260

Jelasnya, proses adaptasi adalah keseimbangan antara proses
asimilasi dan akomodasi. Apabila individu melalui proses asimilasinya
tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, terjadilah keseimbngan.
Keseimbangan itulah yang mendorong terjadinya proses akomodasi di
mana struktur kognitif sebelumnya mengalami perubahan atau
penambahan skema sehingga terciptalah keseimbangan. Jadi,
perkembangan intelektual adalah suatu proses yang kontinu dari keadaan
seimbang – tidak seimbang - seimbang dan yang terjadi setiap saat, pada

259
Ibid., hlm. 121
260
Ibid., hlm. 122


112
setiap fase perkembangan manusia. Proses adaptasi manusia dalam
menghadapi pengetahuan baru juga ditentukan oleh fase perkembangan
kognitifnya.
261

Menurut Jean Piaget, belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi
siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu
pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah,
menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergulat dengan ide-
ide.
262

Tugas pendidik tidak hanya menuangkan atau menjejalkan
sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan
bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat
dalam benak siswa.











261
Ibid.
262
Nurhadi, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK ( Malang:
Universitas Islam negeri Malang, 2004), hlm. 33


113







Pengalaman
Belajar




Gambar 3.1
Proses Pembelajaran Konstruktivistik


Bagan tersebut menggambarkan proses pembelajaran
konstruktivistik yang dimulai dengan kotak bawah yang menjelaskan
bahwa siswa lahir dengan pengetahuan yang masih kosong, dengan
menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, siswa
Pengetahuan
Awal
Pengetahuan
Baru


114
mendapatkan pengetahuan awal yang diproses melalui pengalaman-
pengalaman belajar untuk memperoleh pengetahuan baru.
263


5. Perkembangan Pengetahuan (Kognitif) Menurut Jean Piaget
Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif
dari 1929 sampai 1980, ia menyatakan bahwa cara berpikir anak-anak
berbeda dengan orang dewasa, bukan hanya kurang matang karena kalah
pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif.
264

Menurut Jean Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola
dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-
tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan
tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada diluar
kognitifnya. Para pendidik memandang bahwa teori Piaget dapat dipakai
sebagai dasar pertimbangan guru dalam menyususn struktur dan urutan
mata pelajaran di dalam kurikulum.
265

Jean Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di
dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif
menerima informasi. Walaupun proses berpikir dan konsepsi anak
mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia
sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan
informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam

263
Ibid., hlm. 34
264
Matt Jarvis, Op. Cit., hlm. 141
265
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
hlm. 216


115
mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang
telah ia punyai.
266

Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif pada
anak menjadi empat, yaitu: tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun), tahap
operational (umur 2-7 tahun), tahap concrete operational (umur 7-11
tahun), dan tahap formal operational ( umur 11-15 tahun).
267


















266
Desmita, Psikologi Perkembangan (Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya Offset), hlm. 46
267
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: P.T. Rineka Cipta, 2005), hlm.
36-37


116
Tabel 3.1
Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap Usia/Tahun Gambaran
Sensorimotor 0-2
Bayi bergerak dari
tindakan refleks instingtif
pada saat lahir sampai
permulaan pemikiran
simbolis. Bayi
membangun suatu
pemahaman tentang
dunia melalui
pengkoordinasian
pengalaman-pengalaman
sensor dengan tindakan
fisik.

Operational 2-7
Anak mulai
merepresentasikan dunia
dengan kata-kata dan
gambar-gambar.
Kata-kata dan gambar-
gambar ini menunjukkan
adanya peningkatan
pemikiran simbolis dan
melampaui hubungan
informasi sensor dan
tindak fisik.

Concrete Operational 7-11
Pada saat ini dapat
berpikir secara logis
mengenai peristiwa-
peristiwa yang konkret
dan mengklasifikasikan
benda-benda ke dalam
bentuk-bentuk yang
berbeda.

Formal Operational 11-15
Anak remaja berpikir
dengan cara yang lebih
abstrak dan logis.
Pemikiran lebih
idealistik.

Sumber: diadaptasi dari Santrock (1998)


117
Pada tingkat sensori motoris (0,0-2,0 tahun), bayi lahir dengan
refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk
tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa ini, anak belum mempunyai
konsep tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang
ditangkap dengan inderanya.
268
Bayi yang baru lahir bukan hanya
menerima secara pasif dan rangsangan-rangsangan terhadap alat-alat
inderanya, melainkan juga aktif memberikan respon terhadap rangsangan
tersebut, yakni melalui gerak-gerak refleks. Aktifitas intelektual dalam
fasa ini adalah interaksi antara panca indera dan lingkungan. Aktifitas itu
praktis, tanpa penggunaan bahasa atau lambang. Anak terikat pada
pengalaman langsung, ia melihat sesuatu terjadi, merasakannya, tetapi
belum dapat mengkelompokkan pengalamannya. Responnya tergantung
dari situasi.
269

Pada tingkat preoperasional (2,0-7,0 tahun), anak mulai timbul
pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat
dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir
ke-2 anak telah mulai mengenal symbol/nama.
270
Cara berpikir anak pada
peringkat ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten dan tidak logis. Pada
fasa ini penting untuk perkembangan bahasa.
271
Dianjurkan orang dewasa
banyak bercakap-cakap dengan anak, membacakan cerita-cerita,
mengajarkan nyanyian-nyanyian dan sajak. Jadi, berkomunikasi dengan

268
Wasty Soemanto, Op. Cit., hlm. 132
269
Samuel Soeitoe, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 1966), hlm. 52
270
Wasty Soemanto, Loc. Cit.
271
Samuel Soeitoe, Op. Cit., hlm. 54


118
nak menggunakan bahasa. Cara berpikir anak pada peringkat ini ditandai
dengan ciri-ciri sebagai berikut:
272

1. Tranductive reasoning, yaitu cara berfikir yang bukan induktif dan
deduktif tetapi tidak logis.
2. Ketidak jelasan hubungan sebab akibat, yaitu anak mengenal hubungan
sebab akibat secara tidak logis.
3. Animism, yaitu menganggap semua benda itu hidup seperti dirinya.
4. Artifictialism, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan
itu mempunyai jiwa seperti manusia.
5. Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang
ia lihat atau ia dengar.
6. Mental eksperimen, yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk
menemukan jawaban dari persoalan yang ia hadapi.
7. Centration, yaitu anak memusatkan pikirannya terhadap sesuatu yang
menarik dan mengabaikan yang lain.
8. Egocentrism, artinya anak melihat dunia lingkungannya menurut
kehendak dirinya sendiri.

Pada tingkat operasional konkret (7,0-11,0 tahun). Operation
adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang
ada dalam dirinya, karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi
informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya efektif. Anak telah dapat

272
Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran (Bandung: Pustaka Bani
Quraisi, 2004), hlm. 37


119
mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-
hal yang abstrak.
273
Anak juga telah dapat membuat pemikiran tentang
situasi atau hal yang konkrit ecara logis. Perkembangan kognitif pada
operational konkret, memberikan kecakapan anak untuk berkenaan dengan
konsep-konsep klasifikasi, hubungan dan kuantitas.
274
Aktivitas anak pada
fasa ini dapat ditentukan dengan peraturan-peraturan. Anak pra-sekolah
tunduk pada peraturan tanpa mengerti maknanya, anak sekolah dasar
mentaati peraturan, karena peraturan itu mempunyai nilai fungsional.
Anak berpikir harfiah sesuai dengan tugas yang diberikan.
275

Pada tingkat operasi formal (11,0-15.0 tahun), anak telah
mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk yang lebih
kompleks.
276
Pengembangan operasi formal memerlukan aktivitas dipihak
anak: menulis sajak lebih efektif daripada membaca sajak, turut serta
bermain dalam suatu pementasan lebih berguna daripada menontonnya,
semua itu membantu anak dalam proses pengembangan kognitif.
277
Flavell
(1693) memberikan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Hypothetico-deductive
Anak telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu
problema dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat,
tetapi belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisny ditolak atau
diterima.

273
Wasty Soemanto, Op. Cit., hlm. 133
274
Mohammad Surya, Op. Cit., hlm. 38
275
Samuel Soeitoe, Op. Cit., hlm. 55
276
Wasty Soemanto, Op. Cit., hlm. 132-133
277
Samuel Soeitoe, Op. Cit., hlm. 56


120
b. Periode propotional thinking
Remaja telah dapat memberikan statemen atau proposisi
berdasar pada data yang konkret. Tetapi kadang-kadang ia berhadapan
dengan proporsi yang bertentangan dengan fakta.

c. Periode combinatorial thinking
Pada periode ini jika remaja itu mempertimbangkan tentang
pemecahan problem ia telah dapat memisahkan faktor-faktor yang
menyangkut dirinya dan mengombinasi faktor-faktor itu.

Jean Piaget mengidentifikasikan empat faktor yang mempengaruhi
transisi tahap perkembangan anak,
278
yaitu:
a. Kematangan,
b. Pengalaman fisik/lingkungan,
c. Transmisi sosial (lingkungan sosial), dan
d. Equalibrium

Kontak dengan lingkungan fisik mutlak perlu karena interaksi
antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru.
Namun kontak dengan lingkungan fisik itu tidak cukup untuk
mengembangkan pengetahuan, kecuali jika intelegensi individu dapat
memanfaatkan pengalaman tersebut. Oleh karena itu, kematangan sistem

278
Wasty Soemanto, Op. Cit., hlm.132


121
syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat
secara maksimum dari pengalaman fisik. Dengan kata lain, kematangan
membuka kemungkinan untuk perkembangan kognitifnya.
279

Lingkungan sosial di sini termasuk peranan bahasa dan pendidikan.
Pentingnya lingkungan sosial ialah bahwa pengalaman seperti itu dapat
memacu atau menghambat struktur kognitif.
280

Equalibrium merupakan faktor proses pengaturan diri dan
pengoreksi diri dari si belajar. Jadi, equilibrium mengatur interaksi
spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik,
pengalaman sosial, dan perkembangan jasmani. Equalibrium
menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun
baik.
281

















279
Margareth, Belajar dan Membelajarkan (Jakarta: CV. Rajawali Pers), hlm. 307
280
Ibid.
281
Ibid.
122
BAB III
KOMPARASI KONSEP BELAJAR MENURUT
PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM)

A. Konsep Belajar Islam
Metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (epistemologi) dalam
dunia Islam dan Barat (Non-Islam) adalah berbeda. Metode yang digunakan
dalam Islam
282
, diantaranya adalah:
1. Metode Rasional (Manhaj ‘Aqli)
Metode rasional adalah metode yang dipakai untuk memperoleh
pengetahuan dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan atau
kriteria-kriteria kebenaran yang bisa diterima rasio. Metode ini dipakai
dalam mencapai pengetahuan tentang pendidikan islam, terutama yang
bersifat apriori. Pencapaian pengetahuan jenis ini merupakan hasil dari
perenungan-perenungan akal
Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diperuntukkan sebagai
petunjuk bagi manusia yang bertakwa. Dalam kapasitas ini, al-Qur’an
banyak memberi tuntunan bimbingan dan bantuan dalam memahami
realitas sesuatu. Akan tetapi, al-Qur’an tidak bisa dipakai oleh orang yang
bodoh atau sembarang orang. Al-Qur’an baru dapat dipahami, jika
seseorang di samping berbekal ilmu-ilmu Bantu, juga mendayagunakan
akalnya.

282
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam - Dari Metode Rasional hingga Metode
Kritik ( Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), hlm. 271


123
Anjuran berfikir rasional juga tedapat dalam al-Qur’an. Selama ini
al-Qur’an dikenal sebagai kitab petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
bukan kitab ilmu pengetahuan, tetapi dengan banyaknya ayat al-Qur’an
yang menyerukan umat Islam untuk berpikir secara rasional terhadap alam
semesta, hal ini membuktikan bahwa petunjuk yang dibawa al-Qur’an
tidak sekedar melalui doktrin-doktrin yang begitu saja diterima apa
adanya, tetapi justru melalui penalaran yang logis dan rasional. Dengan
demikian berarti Islam sesuangguhnya menghendaki terwujudnya
masyarakat atau komunitas terpelajar memiliki tradisi berpikir rasional
untuk mencapai pengetahuan baru.
283

2. Metode Intuitif (Manhaj Zawqi)
Muhammad Iqbal, menyebut intuisi dengan peristilahan “cinta”
atau “pengalaman kalbu”. Ibnu ‘Arabi, menamakannya sebagai
pandangan, pukulan, lemparan atau detik. Al-Ghazali, menyebut intuisi
sebagai ilmu laduni (pengetahuan dari yang tinggi) dan ilmu al-
Mukasyafah (pengetahuan tentang penyingkapan misteri-misteri Ilahi.
Sementara itu, dalam tingkatan metode, maka metode intuitif disebut
metode apriori. Menurut Marcel, manusia mempunyai suatu intuisi kreatif
mengenai ada; bukan sebagai objek penglihatan, tetapi sinar tersembunyi
yang mencerahi pengalaman dan kemudian terbaca kembali sebagai
sesuatu yang muncul dari pengalaman.
284


283
Ibid., hlm 274
284
Ibid., hlm. 297


124
Menurut Islam, pengetahuan yang didapatkan melalui intuisi
adalah lebih unggul, daripada pengetahuan yang bersifat rasional, karena
terbebas dari kesalahan dan keraguan
285
. Intuisi bisa memiliki otoritas
kebenaran pada saat intuisi intuisi itu masih murni dari Allah dan belum
tercampur dengan interpretasi dan pemahaman manusia. Keadaan ini bisa
dianalogkan dengan istikharah (shalat untuk meminta petunjuk atas
beberapa pilihan), bahwa petunjuk yang diberikan Allah sebagai jawaban
atas permohonan manusia melalui shalat tersebut pasti benar. Filosof-
filosof Barat menolak intuisi sebagai suatu pendekatan atau metode untuk
mendapatkan pengetahuan
286
, karena menurutnya persepsi yang
didasarkan pada intuisi langsung tidaklah dapat diuji. Selain itu, bahwa
dalam intuisi manusia menjadi bersikap pasif, mestinya manusia harus
dinamis atau progresif.
3. Metode Dialogis (Manhaj Jadali)
Metode dialogis adalah upaya menggali pengetahuan pendidikan
Islam yang dilakukan melalui karya tulis yang disajikan dalam bentuk
percakapan (tanya-jawab) antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan
argumentasi-argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara
ilmiah
287

Pendidikan Islam perlu didialogkan dengan nalar untuk
memperoleh jawaban-jawaban yang signifikan dalam mengembangkan
pendidikan Islam tersebut. Nalar itu memilki daya analisis yang tajam

285
Ibid., hlm. 307
286
Ibid., hlm. 302
287
Ibid., hlm. 328


125
manakala menghadapi tantangan-tantangan. Semakin sering melakukan
dialog, nalar tersbut semakin terasah dan makin memiliki ketangkasan
dalam memberikan jawaban-jawaban atas realitas yang dihadapi. Maka
tradisi bernalar seharusnya menjadi tradisi dalam keseluruhan proses
belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
288

Ilmu pendidikan Islam harus bertumpu pada gagasan-gagasan yang
dialogis dengan pengalaman empiris yang terdiri atas fakta atau informasi
untuk diolah menjadi teori yang valid yang menjadi tempat berpijaknya
suatu pengetahuan ilmiah.
289

4. Metode Komparatif (Manhaj Muqarani)
Metode komparatif adalah metode memperoleh pengetahuan
(dalam hal ini pengetahuan pendidikan Islam) dengan cara
membandingkan teori maupun praktek pendidikan, baik sesama
pendidikan islam maupun dengan pendidikan lainnya. metode ini
ditempuh untuk mencari keunggulan-keunggulan maupun memadukan
pengertian atau pemahaman, supaya didapatkan ketegasan maksud dari
permasalahan pendidikan.
290

5. Metode Kritik (Manhaj Naqdi)
Metode kritik adalah usaha menggali pengetahuan tentang
pendidikan Islam dengan cara mengoreksi kelemahan-kelemahan suatu
konsep atau aplikasi pendidikan, kemudian menawarkan solusi sebagai

288
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim – Pengantar Filsafat Pendidikan
Islam hlm. 16 dan Dakwah, ( Yogyakarta: Sipress, 1993), hlm. 193
289
M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991),
hlm. 16
290
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 342


126
alternatif pemecahannya. Dengan demikian, dasar atau motif timbulnya
kritik bukan karena adanya kebencian, melainkan karena adanya
kejanggalan-kejanggalan atau kelemahan-kelemahan yang harus
diluruskan.
291

Oleh karena itu, kritik ini menjadi sangat berperan dalam
mewujudkan dinamika ilmu pengetahuan. Karl R. Popper menegaskan,
bahwa kritik mutlak diperlukan untuk kemajuan pengetahuan. Kritik
merupakan motif utama bagi setiap perkembangan intelektual, tanpa kritik
tak ada motif rasional untuk mengubah teori-teori yang telah ada
sebelumnya.
292


B. Konsep Belajar Barat (Non-Islam)
Adapun metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (epistemologi)
Barat (Non-Islam)
293
, diantaranya adalah:
1. Metode Skeptis
Ciri skeptis atau keragu-raguan (kesangsian) menjadi “warna
dasar” bagi pengetahuan Barat. Sikap keraguan terhadap sesuatu dapat
memotivasi timbulnya koreksi secara berkesinambungan terhadap
persoalan-persoalan yang belum jelas kebenarannya. Sikap skeptis
merupakan karakteristik seorang ilmuwan, artinya dia tidak pernah
menerima kebenaran suatu pernyataan sebelum penjelasan mengenai

291
Ibid., hlm. 350
292
Karl R. Popper, Conjectures and Reputations: The Growth of Scientific Knowledge,
(New York: Harper & Row Publisher, 1968), hlm. 215
293
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 58


127
pernyataan itu dapat diterima, dan konsekuensi kebenaran pernyataan
tersebut dapat disaksikannya secara empirik.
294

Muhammad Al-Attas, berpendapat bahwa pengetahuan Barat
seolah-olah benar, tetapi pada dasarnya hanya menghasilkan kebingungan
dan skeptisisme, mengangkat keraguan dan meraba-raba ke derajat ilmiah
dalam metodologi, dan memandang keraguan sebagai suatu unsur
epistemologis yang istimewa dalam mengejar kebenaran.
295
Melalui
metode inilah kaum rasionalis dan sekularis percaya bahwa mereka akan
mencapai kebenaran, tetapi tidak ada bukti, bahwa keraguan yang
mengantarkan mereka kepada kebenaran. sesungguhnya yang
mengantarkan manusia kepada kebenaran adalah hidayah (petunjuk Ilahi),
bukan keraguan.
296

2. Metode Rasional – Empiris
Penggunaan rasio menurut ilmuwan Barat menjadi mutlak
dibutuhkan dalam pencarian ilmu pengetahuan, tidak ada kebenaran ilmiah
yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa mendapatkan pembenaran dari
rasio. Para ilmuwan boleh mengemukakan konsep tentang cara-cara
mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi konsep mereka itu harus bisa
diterima akal manusia. Rasio memberi pertimbangan dan sekaligus

294
Jujun S. Suriasumantri, Tentang Hakekat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi, dalam Jujun
S. Suriasumantri (ed.), Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), hlm. 12
295
Muhammad Naquib Al-Attas, Dilema Kaum Muslim, terj. Anwar Wahdi Hasid an
Muchtar Zoerni, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986), hlm. 98
296
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful Muzani,
(Bandung: Mizan, 1995), hlm. 30


128
pengujian paling awal terhadap segala konsep untuk memperoleh
pengetahuan.
297

Rasionalisme memiliki pendapat bahwa pengetahuan dapat dicapai
(ditemukan) melalui rasio, sedangkan empirisme memandang
pengalamanlah yang merupakan metode utama dalam memperoleh
pengetahuan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah.
Segala sesuatu yang ada dalam pikiran (rasio) berasal dari pengalaman
inderawi, maka pengalaman inderawilah yang berperan dalam
memperoleh pengetahuan. Otak (rasio) itu asalnya kosong, baru mulai
pengalaman inderawi rasio itu terisi.
298

Ilmu modern Barat (Non-Islam) dibentuk atas dasar fakta empiris
atau inderawi saja, tanpa menghiraukan sumbernya, yaitu Allah, yang
telah memberikan esensi berbagai ilmu, antara lain; ilmu Ketuhanan, ilmu-
ilmu sosial, dan ilmu-ilmu kealaman sebagaimana terdapat dalam al-
Qur’an. Empiris dapat diketahui dengan akal objektif (rasio), sedang
esensi dengan akal subjektif (intelek). Perpaduan rasio dengan intelek ini
menghasilkan ilmu yang sebenarnya, karena rasio dapat mengerti hanya
dengan cara “analisis ilmiah”, sedangkan intelek non inderawi dapat
mengetahui esensi.
299
Ini berarti ilmu modern Barat (Non-Islam)
sesungguhnya berwatak sekuler murni, karena pengalaman
dipertentangkan dengan yang memberi pengalaman, yaitu Tuhan.

297
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 64
298
Ibid., hlm 71
299
A. M. Saefuddin, Filsafat Ilmu dan metodologi Keilmuwan, dalam A. M. Saefuddin et. al.,
Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1991), hlm. 35


129
3. Metode Dikotomik
Dikotomi adalah pembagian atas dua konsep yang saling
bertentangan. Barat memisahkan kemanusiaan (humanitas) dari ilmu-ilmu
sosial, karena pertimbangan-pertimbangan metodologi
300
, karena
menurutnya ilmu apa pun termasuk ilmu sosial harus objektif. Sebab salah
satu syarat ilmiah adalah objektif, tidak boleh terpengaruh oleh tradisi,
ideologi, Agama maupun golongan. Sedangkan faktor kemanusiaan lebih
menekankan pendekatan rasa manusiawi dalam menyiakpi sesuatu,
sehingga seringkali mengalahkan objektivitas.
Pengetahuan Barat (Non-Islam) yang senantiasa bersifat dikotomis
tersebut, menurutnya adalah cara terbaik untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan. Namun, bagi dunia Islam bisa mengandung bahaya.
Berdasarkan kenyataan ini, maka muncul gagasan Islam untuk disiplin
ilmu (IUD), supaya ilmu pengetahuan tidak berkembang secara “liar”.
Pandangan dikotomi dapat mengancam realisasi Islam dalam kehidupan
pribadi dan kebersamaan bermasyarakat, bahkan dikhawatirkan
mendistorsi akidah.
301

4. Metode Positif – Objektivis
Ciri positif yang terdapat pada epistemologi Barat dipengaruhi oleh
positivisme, suatu aliran pemikiran filsafat yang digagas oleh Auguste

300
Ismail Raji Al-Faruqi, Mengislamkan Ilmu-Ilmu Sosial, dalam Abubakar A. Bagader
(ed.), Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial, terj. Muchtar Efendi Harahab, Eddi S. Hariyadhi dan Lukman
Hakiem, (Yogyakarta: Pusat Latihan, Penelitian dan Pengembangan Masyarakat-PLP2M, 1985),
hlm. 14
301
Ahmad Sadali, “Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI) Suatu perambahan
Langkah-langkah”, dalam Amin Husni et.al., Citra Kampus Religius Urgensi Dialog Konsep
Teoritik-Empirik Dengan Konsep Normatif Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986), hlm. 92


130
Comte (1798-1857). Bagi positivisme hanya yang positif yang dapat
dialami kebenarannya, ilmu yang tidak positif bukan ilmu yang
sebenarnya. kebalikan dari idealisme, positivisme hanya mengakui nilai
pengetahuan indera.
302
Positivisme hanya mau menerima fakta, realitas
atau kenyataan empiris. Ini berarti, bahwa meskipun terdapat fakta, tetapi
di luar jangkauan indera, maka tetap ditolak sebagai suatu kebenaran
faktual. Implikasinya ilmu pengetahuan sekarang ini makin jauh dari “cita
rasa” moral edan spiritual.
Pendekatan objektivis adalah pendekatan yang memandang
pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atau teori yang
dihadapkan pada diskusi kritis, ujian intersubjektif atau kritik timbal balik.
Pendekatan objektivis ini berusaha membersihkan pengetahuan dari
subjektivitas orang yang mengembangkannya lantaran faktor agama,
biografi intelektual, ideologi, adat, ataupun kepentingan golongan
tertentu.
303

5. Metode yang Menentang Dimensi Spiritual (anti metafisikan)
Metafisika adalah sesuatu yang berada di balik alam maupun
pengertian yang bersumber dari Agama berupa persoalan-persoalan akhirat
atau alam baka, bagi positivisme ditolak karena tidak dalam bentuk fakta,
tidak bisa diukur, tidak bisa diuji, tidak bisa dikuantitatifkan, dan tidak
bisa diamati secara inderawi.
304


302
Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 1991), hlm. 94
303
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 83
304
Ibid., hlm. 88


131
Pandangan yang menempatkan indera pada posisi istimewa dalam
menentukan pengetahuan akan mengarah pada kecenderungan serba benda
riil dan konkret yang bisa diamati, dihitung, diukur, dan sebagainya.
Akhirnya, pandangan ini cenderung bersikap materialistik dengan
menjadikan manusia sebagai subjek atas “segala sesuatu”. Manusia
menjadi sandaran semua problem kehidupan keseharian baik sosial, seni,
politik, budaya dan sebagainya untuk mendapatkan pemecahan. Manusia
diyakini mampu menentukan kesulitan-kesulitannya sendiri tanpa
melibatkan unsur-unsur di luar dirinya. Sebagai implikasinya, ilmuwan
Barat tidak memerlukan petunjuk atau bantuan spiritual dalam kerja
ilmiahnya. Keterlibatan unsur-unsur spiritual dipandang tidak perlu
bahkan merusak cara kerja ilmiah.
305

Para ilmuwan Barat jika saja eksistensi wahyu Tuhan diakui, maka
hal tersebut hanya sekedar dalam kapasitasnya memberi petunjuk kepada
manusia dalam memantapkan keimanan, menjalankan ibadah,
melaksanakan upacara-upacara ritual, dan peningkatan moral. Wahyu
Tuhan memiliki peranan sendiri dalam kehidupan manusia, yaitu
memberikan seperangkat aturan yang harus dijalankan manusia sebagai
bekal untuk menuju kehidupan akhirat. Wahyu tidak diberikan
kewenangan sedikit pun untuk memberikan inspirasi terhadap upaya-
upaya mencari pengetahuan, apalagi strategi mengembangkannya melalui

305
Ibid., hlm. 89


132
bangunan epistemologi yang membutuhkan banyak perenungan dan
pemikiran.
306

Mereka membedakan secara tajam antara wahyu dan rasio,
sehingga dalam posisi yang saling berhadapan. Wahyu merupakan titah
Tuhan yang tidak memilki sifat-sifat rasional sama sekali. Sebaliknya,
rasio adalah alat berpikir manusia yang tidak memiliki sifat-sifat
Ketuhanan (bantuan dari Tuhan). Ketika wahyu memberikan perintah atau
petunjuk dipandang murni atas dasar pertimbangan Tuhan semata dan
tidak ada pertimbangan dari sudut rasionalitas. Sedangkan ketika manusia
melakukan kegiatan berpikir dianggap seratus persen murni hasil usahanya
sendiri, tidak mendapat semacam pencerahan dari kekuatan Tuhan.

C. Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat (Non-Islam)
Pengetahuan dalam pandangan Islam diistilahkan dengan al-‘Ilmu,
yang mempunyai dua pengertian: Pertama, pengetahuan yang berasal dari
wahyu Allah untuk mengenal-Nya, Kedua, pengetahuan yang diperoleh
manusia itu sendiri, baik melalui pengalaman (empiris), rasional, dan intuisi.
Sedangkan, pengetahuan dalam pandangan Barat adalah suatu fakta empiris
atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu itu sendiri melalui
pengalamannya.
307

Dari dua pandangan di atas, maka diketahui bahwa pengetahuan dalam
Islam tidak hanya mengakui bahwa pengetahuan (ilmu) harus dibuktikan

306
Ibid., hlm. 91
307
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 106


133
secara empiris dan rasio, melainkan juga terdapat pengetahuan yang bersifat
transenden yang tidak dapat dijangkau indera maupun akal manusia. Hal ini
tentu saja berbeda dengan pandangan Barat, yang mana pengetahuan Barat
bersifat rasional empiris, artinya pengetahuan harus dapat dibuktikan secara
empiris dan dapat diterima oleh rasio manusia.
Ilmu pengetahuan di dunia Islam lebih menekankan pada aksiologi
308
.
Islam tidak menghendaki keterpisahan antara ilmu dan sistem nilai, seperti
yang terjadi di Barat, ilmu adalah fungsional ajaran wahyu. Islam meletakkan
wahyu sebagai paradigma agamawi yang mengakui eksistensi Tuhan, tidak
hanya sebatas keyakinan semata, tetapi diterapkan dalam konstruksi ilmu
pengetahuan. Dengan, Islam menolak science for science dan menghendaki
terlibatnya moralitas dalam pencarian kebenaran ilmu. Sedangkan, ilmu
pengetahuan di Barat lebih menekankan pada dimensi epistemologi
309
. Filsafat
ilmunya menekankan pada proses atau metode ilmiah yang dilewati sebagai
sarana untuk mencapai kebenaran. asumsinya, kebenaran sangat bergantung
pada metode yang digunakan untuk sampai pada pengetahuan yang abash,
sehingga metode yang digunakan pun harus dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
310

Berdasarkan penjelasan di atas, maka matriks komparatif antara
konsep belajar Islam dan Barat dapat dijabarkan sebagai berikut:


308
Aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun
fungsi dari objek yang dipikirkan tersebut.
309
Epistemologi adalah teori pengetahuan, yang membahas tentang bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan dari objek yang dipikirkan.
310
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 32-33


134
Tabel 4.1
Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Konsep Belajar Barat

No. Aspek
Konsep Belajar
Islam
Konsep Belajar
Barat
1. Konsep Belajar
Proses pencarian
pengetahuan dengan
mengoptimalkan potensi
(fitrah) yang
termanifestasikan dalam
perbuatan demi
terbentuknya Insan Kamil.

Perubahan tingkah laku
atau watak yang menetap
sebagai hasil pengalaman
dan latihan bukan karena
proses pertumbuhan dan
kematangan.
2. Tujuan Belajar
Tercapainya tujuan hidup
manusia, yaitu:
mendekatkan diri pada
Allah dan mampu
mengaktualisasikan
potensi diri demi
kemaslahatan bersama
(sebagai khalifah).

Untuk memecahkan
masalah.
3. Sasaran Belajar
Aspek kognitif, afektif,
psikomotorik, dan
spiritual.
Aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik tanpa
adanya aspek spiritual.

4.
Makna Teori
Belajar
Sekumpulan prinsip dan
gejala yang berkaitan
dengan peristiwa belajar
yang tidak hanya bersifat
empiris-kuantitatif tetapi
juga normatif-kualitatif.

Sekumpulan prinsip dan
gejala yang berkaitan
dengan peristiwa belajar
yang bersifat empiris-
materialistik-kuantitatif.
5.
Pandangan
Tentang Belajar
a. Konsep belajar Akhlaq
adalah pembentukan
perilaku yang mulia
melalui taqlid dan
ta’wid,
b. Konsep belajar Fikr
adalah pencarian
pengetahuan dan
kebenaran yang mampu
Perbuatan mental yang
hanya bersifat duniawi.


135
menerobos dunia
ukhrowi,
c. Konsep belajar
Insaniyah adalah
pembelajaran dengan
kebebasan yang
bertanggung jawab.

6.
Pandangan
Tentang Peserta
Didik
Peserta didik bersifat baik,
aktif, dan dinamis serta
punya kebebasan untuk
mengaktualisasikan
fitrahnya dengan tetap
memperhatikan etika
dalam belajar sebagai
wujud penghormatan pada
pendidik.

Peserta didik bersifat
aktif yang dapat
memproses informasi.
7.
Pandangan
Tentang Pendidik
Pendidik berperan sebagai:
role model (murabbi),
transfer of values
(muadib), transfer of
knowledge (mu’allim),
sebagai fasilitator dan
motifator.

Pendidik sebagai
fasilitator.
8.
Sumber
Pengetahuan
Dalam Belajar
Sumber pengetahuan
selain kognisi adalah
wahyu (al-Qur’an) dan al-
Hadits.

Sumber pengetahuan
hanya bersumber dari
kognisi
9.
Perkembangan
Bahasa Dalam
Belajar
Kemampuan bahasa
merupakan kemampuan
manusia yang
membedakan dengan
makhluk lain.
Manusia memiliki
kemampuan dan kesiapan
untuk mempelajari
bahasa dengan
sendirinya.

10.
Perkembangan
Moral Dalam
Belajar
Sumber kebenaran dan
kesalahan ditentukan oleh
al-Qur’an dan al-Hadits.
Kebenaran dan kesalahan
ditentukan oleh
kesepakatan manusia.






136
Adapun komparasi antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan konsep
belajar Jean Piaget adalah sebagai berikut:
1. Pengertian Belajar :
a. Menurut Ibnu Khaldun
Belajar merupakan suatu proses mentransformasikan nilai-nilai
yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan
eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat.
b. Menurut Jean Piaget
Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan
(peristiwa mental bukan peristiwa behavioral).

2. Strategi Belajar :
a. Menurut Ibnu Khaldun
1) Guru mengajarkan problem-problem yang prinsipil mengenai
setiap cabang-cabang pembahasan yang akan diajarkan.
2) Tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam
buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain.
3) Menyajikan materi pelajaran sesuai dengan tahap perkembangan
peserta didik.
b. Menurut Jean Piaget
Cooperative Learning. Strategi ini akan membuat siswa lebih
mudah menemukan secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika
mereka mendiskusikannya dengan siswa lain tentang problem yang


137
dihadapi, siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau kelompok untuk
saling membantu memecahkan problem yang dihadapi

3. Sumber Belajar :
a. Menurut Ibnu Khaldun
1) Pengetahuan diperoleh dengan adanya transfer pengetahuan yang
dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik.
2) Pengetahuan juga diperoleh dari al-Qur’an (wahyu) dan al-Hadits.
b. Menurut Jean Piaget
1) Pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam
diri seseorang, yaitu melalui pengalaman yang diterima lewat
pancaindera.
2) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman.

4. Proses Berpikir dalam Belajar :
a. Menurut Ibnu Khaldun
Berpikir dari abstrak ke konkrit (umum – khusus). Berpikir
merupakan kemampuan untuk membuat analisis dan sintesis sebagai
hasil dari proses berpikir (af’idah), ada tiga tingkatan:
1) Al-’aqlu al-Tamyizi
2) Al-‘aqlu al-Tajribi
3) Al-‘aqlu al-Nazhari



138
b. Menurut Jean Piaget
Berpikir dari konkrit ke abstrak (khusus-umum). Perolehan
informasi tidak berlangsung satu arah (dari luar ke dalam diri siswa),
melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa pada pengalamannya,
yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Tahap berpikir ada
empat tingkatan:
1) Tahap Sensorimotor
2) Tahap Operational
3) Tahap Concrete Operational
4) Tahap Formal Operational

5. Tujuan Belajar :
a. Menurut Ibnu Khaldun
1) Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja,
karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan
individu.
2) Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang
membantu manusia agar dapat hidup dengan baik.
3) Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk
mencari penghidupan.
b. Menurut Jean Piaget
1) Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu
sendiri.


139
2) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan
dan mencari sendiri jawabannya.
3) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau
pemahaman konsep secara lengkap.
4) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang
mandiri.
6. Pandangan Terhadap Ilmu Pengetahuan :
a. Menurut Ibnu Khaldun
Ilmu pengetahuan hanya tumbuh dalam peradaban dan
kebudayaan yang berkembang pesat, karena pengajaran ilmu
merupakan salah satu keahlian yang hanya tumbuh di kota-kota.
Ada dua kategori ilmu pengetahuan:
1) Al-‘ulum al-‘aqliyyah (ilmu yang diperoleh melalui kemampuan
berpikir: logika, fisika, metafisika, dan matematika).
2) Al-‘ulum an-naqliyyah (ilmu berdasarkan syari’at dalam batas-
batas tertentu: ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih,
ilmu kalam, tasawuf).
b. Menurut Jean Piaget
Pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu
dengan lingkungannya, artinya pengetahuan merupakan suatu proses
bukan suatu barang. Mengerti merupakan proses adaptasi intelektual
antara pengalaman, ide baru, serta pengetahuan yang telah dimilikinya
sehingga terbentuk pengetahuan baru.


140
7. Pandangan Terhadap Pendidik :
a. Menurut Ibnu Khaldun
1) Pendidik bersifat aktif dalam proses belajar.
2) Pendidik harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang
perkembangan kerja akal peserta didik.
b. Menurut Jean Piaget
1) Pendidik berfungsi sebagai mediator dan fasilitator yang
membantu proses belajar murid.
2) Pendidik mempunyai peranan penting di dalam kelas.
3) Pendidik tidak hanya menuangkan / memasukkan sejumlah
informasi dalam benak siswa tetapi juga mengusahakan bagaimana
konsep-konsep penting tertanam kuat dalam benak siswa.

8. Pandangan Terhadap Peserta Didik :
a. Menurut Ibnu Khaldun
Peserta didik dipandang sebagai seseorang yang perlu
dibimbing (wildan) / bersifat pasif dan juga sebagai seseorang yang
sedang belajar (muta’allim) / bersifat aktif.
b. Menurut Jean Piaget
Peserta didik dipandang sebagai pribadi yang sudah memilki
kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu dan bersifat aktif
(dapat menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya).
141
BAB IV
KONSEP BELAJAR ISLAM (IBNU KHALDUN)
DAN BARAT (JEAN PIAGET) DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Satu hal yang penting bagi seorang pendidik dalam hubungannya dengan
peserta didik adalah mengetahui konsep-konsep tentang belajar dan memberikan
materi pelajaran sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya agar materi yang
diberikan dapat diterima oleh peserta didik, sehingga proses belajar dapat berjalan
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

A. Pembahasan Konsep Belajar Menurut Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar
Menurut Jean Piaget.
Hal-hal penting yang menjadi ciri pendapat Ibnu Khaldun dalam
pendidikan dan pengajaran adalah kemoderatannya dalam berpikir, yang mana
Ibnu Khaldun tidak bersikeras dalam mengarahkan pendidikan kepada Agama
dengan melalaikan nilai-nilai keduniaan. Ibnu Khaldun melihat bahwa
pengajaran ilmu-ilmu Agama merupakan kewajiban dan kemestian karena
ilmu Agama tersebut membantu individu untuk dapat hidup dalam kehidupan
yang terpelihara dari kesalahan-kesalahan, dan karena Agama adalah sumber
syari’at dan undang-undang, tetapi juga melihat bahwa ilmu-ilmu yang lain
tidak kurang pentingnya dari ilmu-ilmu Agama. Ilmu-ilmu tersebut diperlukan


142
oleh individu supaya dapat hidup baik serta bangkit dalam masyarakatnya dan
masyarakat tersebut menjadi maju dan berperadaban.
Pandangan Ibnu Khaldun mengenai pengajaran ilmu sebagai profesi
atau ketrampilan yang digunakan untuk mencari rezeki, juga menunjukkan
atas realisme Ibnu Khaldun, yaitu realisme yang telah didapatkannya dalam
kehidupan politik yang membentuk filsafat praktisnya yang materialistis serta
menjauhkannya dari khayalan dan idealisme. Berdasarkan pandangannya
tersebut nampak bahwa pendapat Ibnu Khaldun berbeda dengan pendapat-
pendapat tradisional yang mengatakan bahwa profesi mengajar bukanlah
termasuk kebiasaan yang mulia dan bahwa guru yang ideal adalah yang tidak
menerima upah sebagai imbalan atas pengajaran ilmu.
Pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan secara umum adalah
masuk akal, hal tersebut nampak pada pengamatan-pengamatan yang
dilakukannya sehingga membentuk teori-teori tertentu dan mendasarkannya
dalam pendidikan. Ibnu Khaldun menghubungkan pendidikan dengan
perjalanan peradaban, hal tersebut menunjukkan atas ketajaman
pengamatannya dan kedalaman pemikirannya. Hal itu karena pendidikan
dilahirkan oleh masyarakat dengan semua nilai-nilai yang ada padanya dan
dari semua faktor yang mempengaruhi segi-segi kehidupan dalam masyarakat
tersebut.. manakala peradaban maju, ilmu meningkat maka meningkat pula
sistematika pengajarannya.
Ibnu Khaldun mendasarkan proses pengajaran atas metode di mana
akal bekerja pada waktu pengajaran menunjukkan pada urgensi studi-studi


143
kejiwaan bagi orang yang melakukan pengajaran. Hal tersebut perlu
diperhatikan karena akan membuat proses pengajaran menjadi lebih sempurna.
Janganlah orang yang melakukan pengajaran melakukan kesalahan yang
barangkali dapat menyebabkan bahaya bagi anak didik, khususnya bila
pendidik tidak memperhatikan tingkatan akal anak didik sewaktu mengajar
atau bila mempergunakan kekerasan kepada anak didik dalam pengajarannya.
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu dan ketrampilan adalah dilahirkan oleh
peradaban serta terletak pada tingkatan yang sama dan saling
menyempurnakan, ilmu mempunyai nilai-nilai khusus, begitu juga
ketrampilan mempunyai nilai-nilai yang penting bagi kehidupan masyarakat,
dari sini terlihat bahwa pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan adalah
sangat modern yang tidak kalah dengan pemikiran para tokoh Barat.
Di antara pemikiran Ibnu Khaldun dalam masalah pendidikan adalah
pendapatnya yang mengatakan bahwa kesempatan belajar bukanlah
penghafalan dan pengucapan tetapi merupakan pemahaman, pembahasan, dan
kemampuan berdiskusi yang memungkinkan individu membedakan antara
yang hampa dan yang berhasil dalam ilmu dan pengetahuan. Begitu juga
pendapatnya yang menghendaki untuk tidak mengajarkan al-Qur’an kepada
anak di usia dini karena anak tersebut tidak mampu untuk memahami dan
menilai apa yang dipelajarinya tersebut, akibatnya proses belajar tidak akan
sempurna. Sedangkan, pendapat Ibnu Khaldun tentang urgensi bahasa untuk
pengajaran adalah karena bahasa adalah alat pemikiran. Tanpa bahasa dan


144
tanpa penguasaan bahasa maka akan sulit dilakukan proses kontak belajar
antara pendidik dan anak didik.
Konsep pendidikan yang dikemukakan Ibnu Khaldun tampak sangat
dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang
harus dididik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya di tengah-tengah
masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap
hidup bermasyarakat dengan baik.
Ibnu Khaldun sebagai pemikir dan pendidik telah membuktikan bahwa
ia telah meletakkan dasar-dasar praktis realistis yang ilmiah untuk masalah
pendidikan. Pertama-tama, Ibnu Khaldun telah menjelaskan bahwa adanya
keterkaitan antara pengetahuan, pengajaran, serta kemajuan pemikiran. Akal
atau pikiran melahirkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pemikiran,
kemudian ilmu-ilmu tersebut kembali dan selanjutnya memberikan dampak
dalam akal dan menjadi maju. Pendapat tersebut sejalan dengan konsep-
konsep terbaru pendidikan, bahwa setiap pengetahuan dan percobaan baru
yang didapatkan oleh individu memberikan dampak dalam pikirannya, yang
mana dapat dilihat dalam tingkah laku individu pada sikap-sikap baru dalam
kehidupan. Pengajaran sesungguhnya adalah proses dinamis
berkesinambungan yang tidak berakhir. Setiap pengetahuan dan pengalaman
baru tidak lain adalah sebuah tangga kematangan dan kemajuan pikiran.
Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ilmu-ilmu Agama ditempatkan
sejajar dengan ilmu-ilmu akal dan juga menyamakan antara pengajaran teoritis
dan pengajaran praktek dari sudut nilai dan kegunaannya bagi masyarakat.


145
Dengan demikian berarti telah terbebas dari pemikiran tradisional yang
mengagungkan studi-studi teoritis dan memberinya nilai unggul, sementara itu
merendahkan pendidikan praktek yang ditempatkan pada jajaran yang lebih
rendah dari pengajaran teoritis.
Spesialisasi sempit dalam segi-segi pengetahuan merupakan hal yang
tidak diinginkan oleh Ibnu Khaldun, khususnya pada pengajaran tingkat
pertama. Pengajaran pada tingkat pertama haruslah bersifat umum dan
mencakup hingga anak didik mempunyai pengetahuan umum yang memadai
dan layak untuk mendalami studi-studi penting. Pendapat Ibnu Khaldun
tersebut sesuai dengan orientasi yang ada sekarang dalam pendidikan, yaitu
mengambil prinsip tidak melakukan spesialisasi kecuali pada tingkat pasca
sarjana, setelah individu memperoleh pengetahuan umum yang
memungkinkannya memahami studi spesialisasi dengan sesempurna mungkin.
Pendidikan Agama dan budi pekerti harus ditumbuhkan sejak kecil,
khususnya melalui kehidupan keagamaan yang saleh dan utama yang dihayati
oleh keluarga, hal tersebut dilakukan oleh anak di rumah, di sekolah, dan
dalam masyarakat.
Ibnu khaldun memandang bahwa usaha mendidik dalam aktivitas
pendidikan sebagai salah satu pekerjaan yang memerlukan keahlian. Jadi,
dalam proses belajar seorang guru harus beberapa kualifikasi tertentu. Untuk
itu, Ibnu Khaldun menghendaki seseorang pendidik harus memilki
pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap


146
dan juga mengajar dengan mengguankan metode yang sesuai dengan tahap
perkembangan peserta didik.
Ibnu Khaldun meyakini bahwa pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang dilakukan bertahap-tahap, perlahan-lahan, langkah demi
langkah. Dengan adanya pentahapan akan memberi kesempatan kepada otak
anak didik untuk berfikir dan menyimpan informasi yang mereka peroleh dari
pendidiknya, di sisi lain, dalam otak siswa akan terjalin semacam endapan
memori pengetahuan yang tersusun secara teratur, dan pada akhirnya akan
membentuk suatu pengetahuan yang utuh. Keutuhan pengetahuan tersebut di
dapatkan siswa dari pembelajaran yang bertahap dan berangsur-angsur yang
diterimanya. Ilmu pengetahuan yang berangsur-angsur tersebut membentuk
sebuah kerangka bangunan yang utuh, yang pada akhirnya menjadi bangunan
ilmu yang lengkap.
Ibnu Khaldun membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan dua
tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan Pemula
Materi kurikulum pemula difokuskan pada pembelajaran al-Qur’an
dan as-Sunnah. Ibnu Khaldun memandang bahwa al-Qur’an merupakan
asal Agama, sumber berbagai ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan
pendidikan Islam. Di samping itu, mengingat isi al-Qur’an mencakup
materi penanaman aqidah dan keimanan dalam jiwa anak didik, serta
memuat akhlak mulia dan pembinaan pribadi menuju hal-hal yang positif.



147
2. Tingkat Atas
Kurikulum dalam tingkatan ini mempunyai dua klasifikasi, yaitu:
a. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri, seperti: ilmu
syari’ah (mencakup: Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Bumi,
Ilmu Ketuhanan dan Ilmu Filsafat).
b. Ilmu-ilmu yang ditujukan untuk ilmu-ilmu lain, dan bukan berkaitan
dengan dzatnya sendiri. Misalnya: Ilmu Bahasa, Ilmu Matematika,
Ilmu Mantiq (Logika).

Selanjutnya, Ibnu Khaldun membagi ilmu dengan tiga tingkatan
kategori, yaitu:
1. Ilmu-ilmu Naqliyah
Ilmu naqliyah yaitu ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan ilmu-
ilmu Agama. Seperti: Ilmu Fiqih untuk mengetahui kewajiban-kewajiban
beribadah, Ilmu Tafsir untuk mengetahui maksud-maksud al-Qur’an, Ilmu
Ushul Fiqih untuk mengistimbathkan hukum berdasarkan al-Qur’an dan
as-Sunnah, serta ilmu-ilmu lainnya.
2. Ilmu-ilmu Aqliyah
Ilmu aqliyah yaitu ilmu yang diambil dari daya pikiran manusia,
seperti: Ilmu Mantiq (Logika), Ilmu Bumi, Ilmu Kalam, Ilmu Teknik, Ilmu
Matematika, Ilmu Kimia, Ilmu Fisika.
3. Ilmu-ilmu Lisan (Linguistik)


148
Ilmu lisan merupakan ilmu yang berubungan dengan susunan tata
bahasa, seperti: Ilmu Nahwu, Ilmu Bayan, Ilmu Adab (Sastra).

Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, adalah:
1. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja,
karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan
individu. Kematangan ini akan menguntungkan masyarakat. Pemikiran
matang adalah alat kemajuan berbagai ilmu, industri dan institusi-
institusi sosioal.
2. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu
manusia agar dapat hidup dengan baik.
3. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari
penghidupan. Ibnu Khaldun menjadikan pengajaran sebagai profesi
yang dapat dipergunakan untuk mencari rezeki.

Jean Piaget merupakan psikolog pertama yang menggunakan filsafat
konstruktivisme dalam proses pembelajaran. Ia menjelaskan bagaimana proses
pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan kognitif. Teori
perkembangan kognitif Piaget dipengaruhi keahliannya dalam bidang Biologi.
Jean Piaget mengamati kehidupan keong yang tiap kali harus beradaptasi
dengan lingkungannya. Piaget percaya bahwa setiap makhluk hidup perlu
beradaptasi dan mengorganisasi lingkungan fisik dan sekitarnya agar tetap
bisa hidup. Bagi Piaget, pikiran dan tumbuh juga sama perlu berkembang dan


149
beradaptasi. Perkembangan pemikiran sama dengan perkembangan Biologis,
yaitu perlu beradaptasi dengan lingkungannya.
Menurut Jean Piaget mengerti merupakan suatu proses adaptasi
intelektual, di mana pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru berinteraksi
dengan apa yang sudah diketahui atau dimiliki seseorang yang sedang belajar
untuk membentuk struktur dan pengetahuan baru. Dalam pikiran seseorang
sudah ada struktur pengetahuan awal (skemata). Setiap skema berperan
sebagai filter dan fasilitator bagi pengetahuan baru. Skema mengatur,
mengkoordinasi, dan mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar melalui kontak
dengan pengalaman baru. Skema baru disesuaikan dengan pengetahuan lama
dan skema dikembangkan melalui proses asimilasi. Bila pengalaman baru
sungguh berbeda dengan pengetahuan lama, maka akan terjadi proses
perubahan hingga terjadi perkembangan yang seimbang dan menghasilkan
pengetahuan baru.
Jean Piaget percaya bahwa manusia dilahirkan dengan membawa
beberapa pola (schemas)
311
yang memungkinkannya berinteraksi dengan
manusia lain. Selama tahun pertama kehidupannya, manusia menyusun pola-
pola lain. Pola awal yang penting adalah pola yang ada dalam dirinya yang
berkembang seiring kesadaran anak dalam bulan-bulan pertama kehidupannya
bahwa dirinya merupakan objek yang berdiri sendiri, terpisah dari dunia
sekitarnya.

311
Schemas, adalah paket-paket informasi yang tiap tiap paket tersebut berhubungan dengan
satu aspek dunia, termasuk objek, aksi, dan konsep abstrak. Lihat Matt Jarvis, Teori-Teori
Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku, Perasaan, dan Pikiran Manusia). Terj.
SPA-Teamwork. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan penerbit Nuansa, 2006), hlm. 142


150
Jika pola-pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal
yang dirasakan anak dari lingkungannya, kondisi tersebut dinamakan keadaan
equilibrium. Namun, ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa
dijelaskan dengan pola-pola yang ada, anak akan mengalami disequilibrium
yang tidak menyenangkan.
Jean Piaget mengidentifikasikan bahwa dalam equilibrium terdapat dua
proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika sebuah
pengalaman baru dipahami dengan jalan mengubah pola yang sudah ada,
sedangkan akomodasi terjadi tatkala sebuah pengalaman baru amat berbeda,
sehingga tidak bisa diasimilasikan dengan pola yang sudah ada dan perlu
dibuat pola yang baru.
Satu hal yang penting dalam belajar mencakup soal kematangan anak
untuk belajar. Menurut Jean Piaget operasi mental tertentu terdapat pada
tingkat perkembangan yang berbeda-beda yang membatasi kesanggupan anak
untuk mengelola masalah tertentu terutama pada tahap abstrak. Ini
menunjukkan bahwa guru harus menunggu tahap perkembangan anak yang
tepat untuk menyampaikan bahan tertentu.
Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif yang
mempengaruhi proses belajar seorang anak adalah sebagai berikut:
1. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
Pada tahap ini fokus utama tertuju pada sensasi fisik dan belajar
mengkoordinasikan tubuh. Itulah sebabya bayi merasa terpesona ketika
menyadari bahwa dirinya bisa menggerakkan anggota-anggota badannya


151
kemudian pada tahun kedua bayi sengaja bereksperimen dengan berbagai
tindakan untuk mengetahui pengaruhnya. Pada akhir tahap sensorimotor,
bayi menyadari bahwa dirinya merupakan objek yang berbeda dari dunia
luar dan mulai mengembangkan kemampuan berbahasa.

2. Tahap Preoperasional (2-7 tahun)
Pada tahap ini pemikiran anak didasarkan pada pemikiran lambang
yang menggunakan bahasa daripada sensasi fisik, tetapi anak belum
banyak mengerti tentang aturan logika. Sifat anak-anak dalam tahap ini
sangat egosentris, sulit melakukan konservasi
312
, dan cenderung percaya
pada animisme
313
dan artifisialisme
314
.

3. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun),
Pada tahap ini anak sudah cukup matang untuk menggunakan
pemikiran logika atau operasi, dan juga anak telah kehilangan
kecenderungannya terhadap animisme dan artifisialisme. Egosentrisnya
berkurang dan kemampuannya dalam tugas-tugas konservasi menjadi lebih
baik.


312
Konservasi adalah bahwa kuantitas benda-benda sebenarnya sama walaupun
penampilannya berubah. Lihat Matt Jarvis, Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk
memahami Perilaku, Perasaan, dan Pikiran Manusia). Terj. SPA-Teamwork. (Bandung: Penerbit
Nusamedia dan penerbit Nuansa, 2006), hlm. 146
313
Maksudnya adalah bahwa anak-anak berpikir bahwa benda mati seperti mainan mereka
memiliki sifat-sifat seperti manusia, termasuk perasaan dan motif.
314
Maksudnya adalah gejala tatkala anak-anak berpikir bahwa manusialah yang
bertanggung jawab atas gejala alam.


152
4. Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas)
Pada tahap ini anak-anak sudah mampu memahami bentuk
argumen dan tidak dibingungkan oleh isi argumen.

Berdasarkan tahap-tahap tersebut, maka seoorang guru diharuskan
untuk memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar
dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan
tahap-tahap tersebut. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak
sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa, maka tidak akan ada
maknanya bagi siswa.
Konsep belajar yang ditawarkan oleh Jean Piaget adalah menekankan
pada transmisi pengetahuan melalui metode ceramah-diskusi dan mendorong
guru untuk bertindak sebagai katalisator dan siswa belajar sendiri. Tujuan
pendidikan bukanlah meningkatkan jumlah pengetahuan, tetapi meningkatkan
kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan sendiri
pengetahuan lewat pengalaman yang diperolehnya, dan juga dalam kegiatan
belajar Jean Piaget lebih mementingkan interaksi antara siswa dengan
kelompoknya. Perkembangan kognitif akan terjadi dalam interaksi antara
siswa dengan kelompok sebayanya dari pada dengan orang-orang yang lebih
dewasa.
Konsep belajar Jean Piaget termasuk dalam aliran pembelajaran
konstruktivistik, yang mana membantu siswa menginternalisasi dan
mentransformasai informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan


153
pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru.
Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk dipahami. Pandangan
ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa yang
dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan cara
menjawab soal-soal tes, melainkan pada apa yang dapat dihasilkan siswa,
didemonstrasikan, dan ditunjukkannya. Maka, tugas seorang guru dalam
pembelajaran tersebut adalah:
1. Mendukung dan menerima otonomi dan inisiatif siswa.
2. Menggunakan data mentah dan nara sumber asli, bersama bahan yang
manipulatif, interaktif dan nyata.
3. Ketika memberi tugas, menggunakan istilah kognitif, seperti
klasifikasikan, analisa, meramalkan, ciptakan atau bentuk.
4. Memperbolehkan jawaban siswa menuntun pelajaran, mengubah strategi
pembelajaran dan mengubah isi.
5. Mencari tahu tentang pengertian siswa akan konsep yang diberikan
sebelum membagi pengertian-pengertian mereka tentang konsep tersebut.
6. Mendukung siswa untuk terlibat dalam dialog, baik dengan guru atau
sesama siswa.
7. Mendorong siswa untuk bertanya dengan memberikan pertanyaan terbuka
yang mendalam dan juga mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan
satu dengan yang lain.
8. Mencari perluasan dari tanggapan awal siswa.


154
9. Mengajak siswa terlibat dalam pengalaman yang mungkin bertentangan
dengan hipotesa awal mereka dan kemudian mendorong adanya diskusi.
10. Memberikan waktu bagi siswa untuk membentuk hubungan dan
menciptakan metafor (perumpamaan).
11. Mengembangkan keinginan dan siswa dengan sering menggunakan model
lingkaran belajar (learning cycle model).
Menurut Jean Piaget yang sangat penting dalam proses belajar adalah
siswalah yang harus mendapatkan tekanan. Mereka yang harus aktif
mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Siswa
yang harus bertanggungjawab terhadap hasil belajarannya. Kreatifitas dan
keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan
kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis
suatu hal, sebab mereka selalu berfikir, bukan menerima saja. Proses mandiri
dalam berfikir perlu dibantu oleh pendidik. Anggapan lama yang menyatakan
bahwa anak itu tidak tahu apa-apa, sehingga pendidik harus mencekoki
mereka dengan bermacam hal, anggapan tersebut tidak sesuai dengan prinsip
konstruktifis.
Pembelajaran konstruktivistik berbeda dengan kegiatan pembelajaran
yang berpijak pada teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru
menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat
memahaminya dan memberikan respon sesuai dengan materi yang
diceramahkan. Pada pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku


155
teks. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi di antara siswa terhadap
fenomena sosial yang kompleks tidak dipertimbangkan.
Pada teori behavioristik, ketika menjawab pertanyaan siswa, guru tidak
mencari kemungkinan cara pandang siswa, guru tidak mencari kemungkinan
cara pandang siswa dalam menghadapi masalah, melainkan melihat apakah
siswa tidak memahami sesuatu yang dianggap benar oleh guru. Pengajaran
didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah dianggap pasti atau
baku, dan siswa harus memahaminya. Pengkonstruksian pengetahuan baru
oleh siswa tidak dihargai sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan.
















156
Tabel 5.1
Perbedaan Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik

Pembelajaran Behavioristik Pembelajaran Konstruktivistik
1. Kurikulum disajikan dari bagian-
bagian menuju keseluruhan
dengan menekankan pada
ketrampilan-ketrampilan dasar.
1. Kurikulum disajikan mulai dari
keseluruhan menuju kebagian-
bagian, dan lebih mendekatkan pada
konsep-konsep yang lebih luas.
2. Pembelajaran sangat taat pada
kurikulum yang telah
ditetapkan.
2. Pembelajaran lebih menghargai
pada pemunculan pertanyaan dan
ide-ide siswa.
3. Kegiatan kurikuler lebih banyak
mengandalkan pada buku teks
dan buku kerja.
3. Kegiatan kurikuler lebih banyak
mengandalkan pada sumber-sumber
data primer dan manipulasi bahan.
4. Siswa-siswa dipandang sebagai
kertas kosong yang dapat
digoresi informasi oleh guru,
dan guru-guru pada umumnya
menggunakan cara didaktik
dalam menyampaikan informasi
kepada siswa.
4. Siswa dipandang sebagai pemikir-
pemikir yang dapat memunculkan
teori-teori tentang dirinya.
5. Penilaian hasil belajar atau
pengetahuan siswa dipandang
sebagai bagian dari
pembelajaran, dan biasanya
dilakukan pada akhir pelajaran
dengan cara testing.
5. Pengukuran proses dan hasil belajar
terjalin di dalam kesatuan kegiatan
pembelajaran, dengan cara guru
mengamati hal-hal yang sedang
dilakukan siswa, serta melalui tugas-
tugas pekerjaan.
6. Siswa-siswa biasanya bekerja
sendiri-sendiri, tanpa ada group
process dalam belajar.
6. Siswa-siswa banyak belajar dan
bekerja di dalam group process.


157
7. Siswa adalah penerima informasi
secara pasif.
7. Siswa secara aktif terlibat dalam
proses pembelajaran.
8. Pembelajaran sangat abstrak. 8. Pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata dan atau masalah
yang disimulasikan.
9. Ketrampilan dikembangkan atas
dasar latihan.
9. Ketrampilan dikembangkan
berdasarkan atas pemahaman.
10. Seseorang tidak melakukan
sesuatu yang jelek karena takut
hukuman.
10. Seseorang tidak melakukan yang
jelek karena dia sadar bahwa hal itu
keliru dan merugikan.
11. Siswa secara pasif menerima
rumus atau kaidah (membaca,
mendengarkan, mencatat,
menghafal,), tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses
pembelajaran
11. Siswa menggunakan kemampuan
berpikir kritis, terlibat penuh dalam
mengupayakan terjadinya proses
pembelajaran yang efektif, dan
membawa skemata masing-masing ke
dalam proses pembelajaran.
12. Pengetahuan yang dimiliki
adalah penangkapan terhadap
serangkaian fakta, konsep, atau
hukum yang berada di luar diri
manusia.
12. Pengetahuan yang dimiliki adalah
dikembangkan oleh manusia sendiri.
Manusia menciptakan atau
membangun pengetahuan dengan cara
memberi arti dan memahami
pengalamannya.
13. Pembelajaran hanya terjadi
dalam kelas.
13. Pembelajaran terjadi di berbagai
tempat, konteks, dan setting.
14. Guru adalah penentu jalannya
proses pembelajaran.
14. Siswa diminta bertanggungjawab
memonitor dan mengembangkan
pembelajaran mereka masing-masing.




158
Tujuan dari pembelajaran yang ditawarkan Jean Piaget tersebut,
diantaranya adalah:
1. Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
mencari sendiri jawabannya.
3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman
konsep secara lengkap.
4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri .
B. Aplikasi Konsep Belajar Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar Jean Piaget
Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Setelah melakukan analisis komparatif antara konsep belajar Islam dan
Barat, maka diharapkan akan menghasilkan konsep belajar terpadu dan selaras
dengan idealisme Islam yaitu dengan melakukan sintesa antara konsep belajar
Barat dan Islam, dengan mengambil yang baik menurut Islam dan
meninggalkan pengaruh yang buruk. Walaupun menurut perkembangannya
konsep belajar Barat lebih maju daripada konsep belajar Islam, tetapi tidak
semua yang dikonsepsikan oleh Barat sejalan dengan konsep belajar dalam
Islam, misalnya dalam pandangan Islam akhlaq dan tauhid sangatlah
diperlukan dalam belajar guna memperoleh kemanf’atan ilmu yang telah
dipelajarinya sedangkan dalam pandangan Barat hal tersebut tidak
diperhitungkan. Agama akan tegak dengan adanya ilmu dan ilmu akan dapat
diterangi atau disinari oleh Agama. Jadi, dalam proses belajar diharapkan


159
seorang pendidik harus mampu memahami kondisi dan mengetahui tahap
perkembangan intelektual serta akhlaq peserta didik, sehingga proses belajar
dapat mencapai tujuan yang diharapkan karena materi dan metode yang
disampaikan sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Aplikasinya konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dan Barat (Jean
Piaget) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, diantaranya adalah:
1. Mengajarkan pengetahuan secara berangsur-angsur dan sedikit demi
sedikit. Maksudnya adalah peserta didik diajarkan suatu ilmu pengetahuan.
Apabila ia telah menguasai ilmu pengetahuan yang awal, baru diberikan
ilmu pengetahuan yang lain, karena apabila semua ilmu dihadapkan
sekaligus kepadanya, maka ia tidak akan sanggup memahami semuanya,
akibatnya otak jemu serta tidak sanggup bekerja, lalu putus asa, dan
akhirnya meninggalkan ilmu yang dipelajari tersebut.
2. Pada permulaan belajar, guru harus memberikan materi pelajaran tentang
soal-soal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya.
3. Keterangan-keterangan yang disampaikan harus secara umum, dengan
memperhatikan kekuatan fikiran pelajar dan kesanggupannya memahami
apa yang diberikan kepada anak didik. Apabila dengan jalan itu seluruh
pembahasan pokok telah dipahami, maka anak didik telah memperoleh
keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut, tetapi itu baru sebagian
keahlian yang belum lengkap.


160
4. Seorang pendidik dalam proses belajar mengajar tidak mencampuradukkan
antara masalah yang diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah
masalah lain.
5. Pendidik diharuskan untuk bersifat sopan dan halus pada muridnya.
Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memukul si anak, maka pukulan
tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali.
6. Kurikulum pertama yang diajarkan kepada peserta didik adalah
matapelajaran bahasa Arab dan syair, kemudian dilanjutkan belajar ilmu
hitung secara terus-menerus hingga mengenal rumus-rumusnya,
selanjutnya baru mempelajari al-Qur’an. Al-Qur’an jangan diajarkan di
permulaan, karena hal ini akan membuat mereka membaca apa yang tidak
dimengertinya. Setelah itu, baru peserta didik mempelajari prinsip-prinsip
Islam (seperti: ilmu Kalam, Ushul Fiqih, Fiqih, ilmu Hadits, ilmu debat,
dan ilmu-ilmu lainnya).
315

7. Memberikan perhatian besar untuk pengajaran bahasa Arab dan
menjadikan studi bahasa ini sebagai dasar setiap ilmu, tujuannya adalah
melatih anak agar dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya dengan
baik, serta terampil dan teliti dalam menulis di mana anak akan memahami
apa yang ia tulis menurut sebenarnya dan memahami apa yang ia baca
dengan baik.
8. Bahasa yang dipergunakan dalam mengajarkan ilmu-ilmu harus dengan
bahasa asli, karena pengajaran bahasa asing dapat dipandang sebagai

315
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam. (Yogjakarta: Ar-Ruzz, 2006), hlm. 249


161
faktor penghalang. Hal tersebut karena sulit bagi anak didik mendalami
dua keahlian dalam waktu yang sama, dan karena ketelitian ungkapan
adalah mesti dalam mempelajari ilmu yang bermacam-macam. Hal
tersebut tidak akan terlaksana kecuali bila anak didik menguasai bahasa
yang dipergunakan sehingga mudah baginya untuk memahami dan mudah
bagi guru untuk menerangkan. Apabila bahasanya adalah bahasa Asing,
maka akan sulit bagi anak didik untuk menguasainya.
9. Tidak terlalu banyak mengajarkan ilmu kepada anak-anak karena hal itu
akan merusak kemajuan otak mereka, seperti halnya juga akan melampaui
kemampuan mereka, yang akan membawa perasaan gagal dan akan
menghambat minat.
10. Hendaknya seorang guru dalam proses belajar mengajarkan hal-hal pokok
pada setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya.
11. Cara berpikir anak-anak berbeda dan kurang logis dari pada orang dewasa,
oleh karena itu guru harus berusaha beradaptasi dengan cara berpikir anak,
bukan mengharapkan anak beradaptasi dengan guru. Salah satu cara untuk
mencapai hal tersebut adalah guru harus menciptakan situasi sehingga
anak mampu belajar sendiri, bukan hanya mengandalkan penyampaian
fakta.
316

12. Anak paling baik dengan menemukan (discovery). Oleh karena itu, peran
guru adalah merancang tugas yang di dalamnya anak dapat menyelesaikan
masalah sendiri. Agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung

316
Matt Jarvis, Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku,
Perasaan, dan Pikiran Manusia). Terj. SPA-Teamwork. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan
penerbit Nuansa, 2006), hlm. 159


162
efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi memberi
mereka tugas yang khusus dirancang untuk membimbing mereka
menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri. Berbagai macam tugas
perlu diberikan dalam membantu anak membangun pengetahuan tentang
dunia. Di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, bahan-bahan seperti: air,
pasir, batu bata, dan krayon sangat membantu anak membangun
konstruksi (luar dan dalam). Selanjutnya, proyeksi dan pratikum
membantu anak menjelajahi sifat-sifat dunianya.
317

13. Pendidikan bertujuan mengembangkan pemikiran anak. Artinya, ketika
anak-anak mencoba memecahkan masalah, penalaran merekalah yang
lebih penting daripada jawabannya. Oleh karena itu, penting sekali bahwa
guru tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah tetapi dinalar
dengan baik. Meskipun demikian, tugas guru adalah menanyakan secara
halus bagaimana anak sampai pada kesimpulan yang keliru itu dan
mendorong mereka berpikir lebih jauh.
318

14. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena
itu dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai
dengan cara berfikir anak.
15. Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghafal. Agar
bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan
pengetahuan yang telah dimilki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan

317
Ibid.
318
Ibid., hlm. 160


163
hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang diketahui
siswa.
319

16. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena
faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, kemampuan
berpikir, pengetahuan awal.
320


















319
Asri Budianingsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 49
320
Ibid.
164
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas mengenai konsep belajar Islam
(khususnya Ibnu Khaldun) dan konsep belajar Barat (khususnya Jean Piaget),
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Konsep belajar menurut pandangan Islam adalah proses pencarian
pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang
termanifestasikan dalam perbuatan demi terbentuknya Insan Kamil. Selain
itu, dalam Islam sangat memperhatikan adanya aspek spiritual dalam
proses belajar, karena dengan adanya aspek spiritual tersebut dapat
membuat peserta didik mencapai tujuan hidup, yaitu: mendekatkan diri
pada Allah dan mampu mengaktualisasikan potensi diri demi
kemaslahatan bersama (sebagai khalifah). Sedangkan, konsep belajar
menurut Ibnu Khaldun adalah suatu proses mentransformasikan nilai-nilai
yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi
manusia dalam peradaban masyarakat. Konsep belajar menurut pandangan
Barat (Non-Islam) adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap
yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku yang
dilakukan secara sadar. Belajar dalam pandangan Barat (Non Islam) hanya
memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik tanpa melibatkan
aspek spiritual di dalamnya. Sedangkan, konsep belajar menurut Jean


165
Piaget adalah merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan
(peristiwa mental bukan peristiwa behavioral), proses internal yang tidak
dapat diamati secara langsung.
2. Komparasi (perbandingan) antara konsep belajar Islam dan Barat (Non-
Islam) di antaranya: Dalam Islam, selain memperhatikan aspek kognitif,
afektif, psikomotorik dalam belajar, juga melibatkan adanya aspek
spiritual. Sedangkan, di Barat hanya melibatkan aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik tanpa melibatkan aspek spiritual dalam belajar. Adapun
komparasi (perbandingan) antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean
Piaget adalah:Ibnu Khaldun memandang bahwa konsep belajar merupakan
suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari
pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam
peradaban masyarakat. Sedangkan, Jean Piaget memandang bahwa konsep
belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa
mental bukan peristiwa behavioral), proses internal yang tidak dapat
diamati secara langsung.
3. Aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, di antaranya adalah: Mengajarkan pengetahuan
secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit. Maksudnya adalah
apabila peserta didik telah menguasai suatu ilmu pengetahuan (materi
awal), baru diberikan pengetahuan yang lain (materi baru atau materi
selanjutnya). Misalnya, dalam pemberian materi tentang Shalat. Awalnya
guru hanya menyampaikan makna tentang Shalat, setelah peserta didik


166
memahami makna tentang Shalat, baru kemudian disampaikan materi
tentang rukun-rukun Shalat

B. Saran - Saran
1. Sebagai seorang pendidik diharapkan memahami konsep-konsep belajar
secara mendalam guna menciptakan proses pendidikan sesuai dengan yang
diharapkan sehingga menghasilkan anak didik yang cerdas dan dapat
mencapai insan kamil.
2. Tidak memandang bahwa semua konsep belajar yang ditawarkan Barat akan
membawa pengaruh buruk karena pastilah di dalamnya ada hal-hal positif
yang dapat kita ambil sehingga akan menciptakan suasana belajar yang
ideal.
3. Tidak memandang bahwa konsep belajar dalam Islam merupakan konsep
belajar yang ideal, karena pastilah di dalamnya ada hal-hal yang perlu
dibenahi agar sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman sehingga
pendidikan dalam Islam tidak dipandang ketinggalan zaman.
4. Seorang pendidik diharapkan mengetahui dan memahami tahap-tahap
perkembangan peserta didik dan memberikan materi sesuai dengan
kemampuan peserta didik tersebut, dengan begitu akan menciptakan suasana
belajar yang ideal karena materi yang telah disampaikan akan dapat diserap
dengan baik oleh peserta didik.


167
DAFTAR RUJUKAN


Abdullah, Syamsuddin. 1997. Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi
Agama) .Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Abror, Abdur Rahman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: PT. Tiara
Wacana.

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.

Al-Attas , Muhammad Naquib.1986. Dilema Kaum Muslim, terj. Anwar Wahdi
Hasi dan Muchtar Zoerni. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

. 1995. Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful Muzani. Bandung: Mizan.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1985. Mengislamkan Ilmu-Ilmu Sosial, dalam Abubakar A.
Bagader (ed.), Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial, terj. Muchtar Efendi Harahab,
Eddi S. Hariyadhi dan Lukman Hakiem. Yogyakarta: Pusat Latihan,
Penelitian dan Pengembangan Masyarakat-PLP2M.

Al-Jumbulati, Ali dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi. 1994. Perbandingan
Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta.

Allasmaji, Riwayat. Karya Ilmiah Ibnu Khaldun (http: // www. Geoogle. Com,
diakses 28 Februari 2008)

Ancok dan Suroso. 1995. Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-Problem
Psikologi. Cet. 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arifin, M. 1991. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta: Bumi
Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet.
12. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Artikel Wikipedia Indonesia. Jean Piaget (http: // www. Geoogle. Com, diakses
25 Februari 2008)

Baali, Fuad dan Ali Wardi. 2003. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. Terj.
Mansuruddin dan Ahmadie Thaha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Badri, Malik. 2001. Fiqih Tafakur dari Perenungan Menuju Kesadaran, Sebuah
Pendekatan Psikologi Islami. Solo: Era Intermedia.



168
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Budianingsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya
Offset.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Hadi, Sutrisno. 1987. Methode Research I, Afsed. Yogyakarta.

Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Cet. Ke-6. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.

Harits,A. Busyairi. 2004. Ilmu Laduni Dalam Perspektif Teori Belajar Modern.
Yogyakarta: Pustaka pelajar.

Jarvis, Matt. 2006. Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk Memahami
Perilaku, Perasaan, dan Pikiran Manusia). Terj. SPA-Teamwork.
Bandung: Penerbit Nusamedia dan Penerbit Nuansa.

Khaldun, Ibn. 2003. Muqaddimah Ibn Khaldun. Terj. Ahmadie Thoha. Jakarta:
Pustaka Firdaus.

Kupper, Adam dan Jesieca Kupper. 2000. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.

Margareth. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: C.V. Rajawali Pers.

Moleong, Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet 20. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.

Muhaimin dan M. Mudjib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis
dan Kerangka Kajian Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.

, dkk. 1996. Strategi Belajar mengajar (Penerapannya Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama). Surabaya: C.V. Citra Media.

Mulkhan, Abdul Munir. 1993. Paradigma Intelektual Muslim – Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: Sipress.

Mustaqim dan Abdul Wahib. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: P.T. Melton
Putra.



169
Nadwi, Abu Hasan Ali. 1987. Islam dan Dunia. Bandung: Angkasa.

Nata, Abuddin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK.
Malang: Universitas Islam Negeri Malang.

Pidarta, M.1999. Studi Tentang Landasan Kependidikan: Jurnal, Filsafat, Teori
dan Praktik Kependidikan. Jakarta.

Poedjawijatna. 1991. Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Popper, Karl R. 1968. Conjectures and Reputations: The Growth of Scientific
Knowledge. New York: Harper & Row Publisher.

Qomar, Mujamil. 2005. Epistemologi Pendidikan Islam Dari Metode Rasional
hingga Metode Kritik. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sadali, Ahmad. 1986. Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI) Suatu
perambahan Langkah-langkah, dalam Amin Husni et.al., Citra Kampus
Religius Urgensi Dialog Konsep Teoritik-Empirik Dengan Konsep
Normatif Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Sagala, Saiful. 2005. Konsep dan makna Pembelajaran. Bandung: Alabeta.

Saefuddin, A. M. et. al. 1991. Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi.
Bandung: Mizan.

Soeitoe, Samuel. Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik.
Jakarta: Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, cet ke-6. Bandung:
Sinar Baru Algensindo Offset.

Sugiyono. 1994. Metode Penelitian Administrasi. Cet. II. Bandung: Alfabeta.

Sulaiman, Fathiyyah Hasan. 1991. Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan. Jakarta:
Minaret.
Suparno, Paul. 2006. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta:
Kanisius.

Surachmad, Winarno. 1990. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan
Teknik. Bandung: Tarsito.


170

Suriasumantri, Jujun S. 1989. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta: PT. Gramedia.

Surya, Muhammad. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung:
Pustaka Bani Quraisi.

Suryabrata, Sumadi. 1988. Metodologi Penelitian. Cet. 4. Jakarta: Rajawali Pers.

.2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada.

Sutiah. 2003. Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran. Malang: Universitas
Negeri Malang.

Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Syah, Muhibin. 1999. Psikologi Belajar, cet ke-3. Jakarta: PT. Logos Wacana
Ilmu.
. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, cet. ke-14.
Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional 2003 . Jakarta: Cemerlang.

Wadud, Abd, dkk. 1997. Qur’an Hadits. Semarang: P.T. Karya Toha Putra.

Wibowo, Marsudi Fitro. Belajar dari Ibnu Khaldun (http: // www. Geoogle. Com,
diakses 25 September 2007)

Zaini, Syahminan. Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam. Jakarta:
Kalam Mulia.

Zaini, Sjahminan dan Muhaimin. 1991. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan
Fitrah Manusia. Jakarta: Kalam Mulia.

Zuhairini, dkk. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Cet 2. Jakarta: Bumi Aksara.






















































Lampiran I











Gambar Ibnu Khaldun















Lampiran II




































Gambar Jean Piaget






RIWAYAT HIDUP


Nadyana Rizqi, lahir di Malang, 29 Desember 1985.
Putri pertama dari H. Choiril Anam dan Farida. Bertempat
tinggal di Jalan Tumapel 44 Singosari - Malang.
Menempuh pendidikan SDI (Sekolah Dasar Islam)
di Al-Ma’arif 02 Singosari dan lulus tahun 1998, MTs
(Madrasah Tsanawiyah) di Al-Ma’arif Singosari dan lulus tahun 2001, MA
(Madrasah Aliyah) di Al-Ma’arif Singosari dan lulus tahun 2004. Kemudian
melanjutkan S-1 pada fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, pada tahun 2004 dan lulus
pada tahun 2008.













DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Telp. (0341) 551354 Faksimile (0341) 572533
Malang 61544

BUKTI KONSULTASI

Dosen Pembimbing : Drs. H. Baharuddin, M.PdI
NIP : 150 215 385
Nama Mahasiswa : Nadyana Rizqi
NIM : 04110196
Fakultas : Tarbiyah
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat (Non-
Islam) serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam ( Komparasi antara Konsep
Belajar “Ibnu Khaldun”)
No.
Tanggal Hal Yang Dikonsultasikan Tanda Tangan
1. 09 - 02 - 2008 Proposal dan Judul Skripsi
2. 27 - 02 - 2008 BAB I, BAB II, BAB III
3. 01 - 03 - 2008 Revisi BAB I, BAB II, BAB III
4. 26 - 03 - 2008 BAB IV, BAB V, BAB VI
5. 28 - 03 - 2008 Revisi BAB IV, BAB V, BAB VI
6. 01 - 04 - 2008 Revisi BAB IV, BAB V, BAB VI
7. 02 - 04 - 2008 ACC Keseluruhan

Malang, 02 April 2008
Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah




Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean Piaget” ) SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI)

Diajukan oleh :
Nadyana Rizqi 04110196

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2008

i

HALAMAN PERSETUJUAN KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean Piaget” )

Oleh: Nadyana Rizqi 04110196

Telah Disetujui Pada Tanggal 02 April 2008 Oleh Dosen Pembimbing

Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I NIP. 150 215 385

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M.PdI NIP. 150 267 235

ii

H. Syahid.I) Panitia Ujian Ketua Sidang. Sekretaris Sidang.M. M. H.I NIP.Pd. Penguji Utama. Baharuddin. Drs. 150 035 110 Mengesahkan. 150 215 385 Hj.HALAMAN PENGESAHAN KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean Piaget” ) SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Nadyana Rizqi (04110196) Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 15 April 2008 dan telah dinyatakan diterima dengan nilai “A” sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam(S.Ag NIP. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Dr. 150 318 021 Pembimbing. Baharuddin. Drs.Pd. M. MA NIP. 150 215 385 Drs. Djunaidi Ghony NIP. Rahmawati Baharuddin.M. Pd.I NIP. 150 042 031 iii . H. H. M.

Choiril Anam) Ibu (Farida) Adik-Adikku (Amaliya Rachmi) (Faiza Fitria) Mereka adalah semangat hidupku yang senantiasa memberikan do’a dan restunya dalam mencapai harapan di masa depan. iv . do’a serta restu akan selalu mengiringi putrimu dalam mewujudkan cita-cita.PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan kepada: Ayah (H. Ayah-Ibu terima kasih atas semua yang telah engkau berikan.

dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.MOTTO ÉΟŠÏm§9$# Ç≈uΗ÷q§9$# «!$# ÉΟó¡Î0 (#θè?ρé& tÏ%©!$#uρ öΝä3ΖÏΒ (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!$# ª!$# Æìsùötƒ ׎Î7yz tβθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ ª!$#uρ .M≈y_u‘yŠ zΟù=Ïèø9$# Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. al-Mujadilah : 11) v .S.

I NIP. baik dari segi isi. mohon dimaklumi adanya. Drs. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Pd. H. M. : 4 (empat) Eksemplar Kepada Yth. Demikian. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Di Malang Assalamu’alaikum Wr. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 02 April 2008 Judul Skripsi : Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat (Non-Islam) serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean Piaget”) Selaku Pembimbing. Pembimbing.Pd. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan. H. 150 215 385 vi .I Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Nadyana Rizqi Lamp. Wb. Baharuddin. Baharuddin. bahasa maupun teknik penulisan. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan : Nadyana Rizqi : 04110196 : Pendidikan Agama Islam Malang. M.Drs.

bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. 02 April 2008 Nadyana Rizqi vii . Malang. dan sepanjang pengetahuan saya. kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan.

M. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Dr.M. Wb. 2. 4. H. selaku rektor UIN Malang. yang telah banyak memberikan pengarahan dan pengalaman yang berharga. yang telah banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman yang berharga. Selanjutnya penulis haturkan ucapan terima kasih seiring do’a dan harapan jazakumullah ahsanal jaza’ kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.I selaku dosen pembimbing skripsi. keluarga dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang senantiasa berjuang menegakkan agama Islam dengan mengikuti segala langkah dan perjuangan beliau.Pd. Prof. Syukur Al-Hamdulillah penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmad dan Hidayah-Nya. H. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.. 3. Ayahanda H.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. H. Djunaidi Ghony selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Choiril Anam dan Ibunda Farida tercinta yang senantiasa memberikan doa dan restunya kepada penulis dalam menuntut ilmu. viii . Prof. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada: 1. Imam Suprayogo. Bapak Drs. Dr. Baharuddin.

Lailatus Salamah. Wassalamu’alaikum Wr.. 02April 2008 Penulis. Siti Kholifah. Indah Lely Maghfirah. Amin Ya Rabbal Alamin. Nadyana Rizqi ix . Akhirnya semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan semua pihak terkait pada umumnya. Sahabat-sahabatku: Nur’aini. kiranya masih banyak kesalahan dan kekeliruan maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak untuk menyempurnakan skripsi ini. 7. Semua pihak yang ikut membantu dalam menyelesaikannya skripsi ini baik berupa materiil maupun moriil. Adik-adikku : Amaliya Rachmi dan Faiza Fitria yang selalu memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Singosari. Ria Fauziah Hanum. Fathul Lilik. Wb. Dliya’ul Firdausyi R. mengingat keterbatasan kapasitas dan kemampuan yang kami miliki. Penulis sadar sepenuhnya.5. 6. Mir’atul Khusniah yang selalu memberi motivasi dan membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN . ix DAFTAR ISI......................................................... Latar Belakang Masalah. Manfa’at Penelitian .............................................. vi NOTA DINAS PEMBIMBING............................................. vii SURAT PERNYATAAN .......................................................................................................................................................... Batasan Masalah ............................................................................................... 10 F....................................................................................... xvi ABSTRAK ............................................................................................................................................................. viii KATA PENGANTAR................................... 9 D............ v MOTTO ........................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..... i HALAMAN PENGAJUAN .............................................. Definisi Operasional ........................................... iii HALAMAN PENGESAHAN................................................................. Rumusan Masalah . Tujuan Penelitian ..................................... 9 E.......................................................................................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... xi DAFTAR TABEL ............................ 8 C.................................................................................. 10 x .. xiv DAFTAR GAMBAR................... iv PERSEMBAHAN................................. xvii BAB I PENDAHULUAN A................................................. 1 B.........................................................................................................................................................................................................................

. 46 4........... 21 2........................................................... Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun...................... 90 3........ Konsep Belajar Menurut Jean Piaget .................... Konsep Belajar dan metode Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun..... 104 5................ 78 2..................................................... Metode Penelitian ....................... 114 BAB III KOMPARASI KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) A...... 78 1............................................ Konsep Belajar Barat (Non-Islam) ............. Proses Belajar Menurut Jean Piaget....................... Pandangan Ibnu Khaldun Terhadap Kesanggupan Manusia Untuk Berfikir ..................................... Pembagian Ilmu Pengetahuan Menurut Ibnu Khaldun ................................................. 11 H......................... 39 3....................... 21 1...... Konsep Belajar dalam Pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadits ....................................................... Sistematika Pembahasan ................................ Biografi Jean Piaget ............. 77 B................. 95 4........................................................ Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam ...................... Biografi Ibnu Khaldun ...................................... Konsep Belajar Secara Umum .......... 66 6...... Konsep Belajar Islam ..... 54 5. 19 BAB II KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT ( NON-ISLAM) A............G........................... 122 xi .............................. Perkembangan Pengetahuan (Kognitif) Menurut Jean Piaget ....

...................................................... Kesimpulan ....................... 132 BAB IV APLIKASI KONSEP BELAJAR ISLAM (IBNU KHALDUN) DAN BARAT (JEAN PIAGET) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A............................ Saran-saran ............ Aplikasi Konsep Belajar Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar Jean Piaget Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam...................................... Pembahasan Konsep Belajar Menurut Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar Menurut Jean Piaget ....B............................................................... Konsep Belajar Barat (Non-Islam)....................................................................................... 158 BAB VI PENUTUP A...... Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat (Non-Islam) ..................................... 141 B... 165 B................. 126 C................................. 167 DAFTAR RUJUKAN .... 168 LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP xii ....

...........1 Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Konsep Belajar Barat .................................... 157 xiii .............................................1 Sumber Acuan Primer dan Sumber Acuan Sekunder ....... 135 Tabel 5............DAFTAR TABEL Tabel 1......1 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget .......................................1 Perbedaan Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik.............. 116 Tabel 4........ 13 Tabel 3.......................................................................

................1 Rancangan Penelitian .............. 17 Gambar 3......................................... 113 xiv ................1 Proses Pembelajaran Konstruktivistik.....................DAFTAR GAMBAR Gambar 1....

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I Lampiran II : Gambar Ibnu Khaldun. : Gambar Jean Piaget. xv .

dan juga akan menjadi faktor asasi bagi suksesnya tujuan pendidikan serta untuk merealisasikan berbagai sasaran yang dicita-citakan dalam proses pembelajaran. (2) Bagaimanakah konsep belajar menurut pandangan Barat (Jean Piaget). tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan atau anak-anak lain yang diserahkan kepadanya untuk dididik. (2) Mengetahui konsep belajar menurut xvi . PdI. Konsep Belajar Barat (Jean Piaget). Jurusan Pendidikan Agama Islam. M. Fakultas Tarbiyah. Masalah mendidik adalah masalah setiap orang. (4) Bagaimanakah aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Drs. Permasalahan penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah konsep belajar menurut pandangan Islam (Ibnu Khaldun). Piaget (sebagai tokoh Barat) adalah seorang teoretikus yang sangat berpengaruh dalam bidang perkembangan kognitif. Skripsi. Baharuddin. (3) Bagaimanakah komparasi konsep belajar Islam dan Barat (khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget). karena setiap orang sejak dahulu sampai sekarang. Para pendidik memandang bahwa teori Jean Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. H. tanpa melibatkan adanya aspek spiritual di dalamnya. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk : (1) Mengetahui konsep belajar menurut pandangan Islam (Ibnu Khaldun). adalah masalah setiap orang. Salah satu tugas utama seorang guru adalah menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar bersama siswa di dalam kelas maupun di luar kelas sesuai kebutuhan pembelajaran yang diinginkan. Corak pemikiran Ibnu Khaldun (sebagai tokoh Islam) yang rasionalistikempiristik-sufistik inilah yang dijadikan dasar pijakan oleh Ibnu Khaldun dalam membangun konsep-konsepnya mengenai pendidikan. seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang hakikat belajar mengajar dan teori belajar dan pembelajaran. yang dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha pendidikan. Konsep belajar menurut pandangan Barat adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku yang dilakukan secara sadar. penelitian yang dilakukan memberikan garis besar dari sistem kognitif anak pada tahap-tahap perkembangannya. Agar kegiatan belajar dapat berlangsung secara efektif. Demikian pula masalah “belajar”. dan menarik.ABSTRAK Nadyana Rizqi. Konsep belajar menurut pandangan Islam adalah proses pencarian pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang termanifestasikan dalam perbuatan demi terbentuknya Insan Kamil. Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat (Non-Islam) Serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “ Jean Piaget” ). efisien. Sedangkan. Kata Kunci : Konsep Belajar Islam ( Ibnu Khaldun). selain itu Islam sangat memperhatikan adanya aspek spiritual dalam proses belajar. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Jean Piaget memandang bahwa konsep belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral). menggunakan metode dokumentasi. maka sebagai seorang pendidik diharapkan tidak membedabedakan antara konsep belajar Islam dan Barat. juga melibatkan aspek spiritual. pada awalnya peserta didik memiliki pengetahuan tentang makna Shalat. yaitu meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain. bukan hanya menghafalkan saja. Barat memandang bahwa belajar merupakan perbuatan mental yang hanya bersifat duniawi. sfektif. Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian library research (kajian pustaka). untuk analisisnya menggunakan teknik komparasi. Misalnya. Sedangkan. (3) Mengetahui komparasi konsep belajar Islam dan Barat (khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget). informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. (4) Mengetahui aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Adapun komparasi antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget di antaranya adalah: Ibnu Khaldun memandang bahwa konsep belajar merupakan suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Berdasarkan konsep belajar yang dipaparkan oleh Ibnu Khaldun dan Jean Piaget tersebut. psikomotorik dalam belajar. xvii . (b) Islam memandang bahwa belajar merupakan perbuatan mental yang bersifat duniawi dan ukhrawi. proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.pandangan Barat (Jean Piaget). Hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwasanya komparasi antara konsep belajar Islam dan Barat diantaranya adalah: (a) Dalam Islam. baru kemudian disampaikan materi tentang rukun-rukun Shalat dan diharuskan memahami apa makna dari rukun-rukun Shalat. Aplikasinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di antaranya adalah Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghafal. Sedangkan. karena kedua konsep tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam proses belajar-mengajar guna menyempurnakan dalam mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dan juga tidak memandang bahwa semua konsep belajar yang ditawarkan Barat akan membawa pengaruh buruk karena pastilah di dalamnya ada hal-hal positif yang dapat diambil sehingga akan menciptakan suasana belajar yang ideal. selain memperhatikan aspek kognitif. Agar bermakna. Sedangkan dalam mengumpulkan data.

” 5 Sjahminan Zaini dan Muhaimin. baik dalam keluarga maupun masyarakat. hlm. termasuk juga fitrahnya. dan bertakwalah kamu kepada Allah. 2) keagamaan. yang sudah dibawanya semenjak lahir dan yang akan menjadi pendorong serta penentu bagi kepribadiannya (perbuatan.S. dan atau lewat institusi sosial6 yang ada. 93 6 Menurut pendapat ahli Sosiologi. 3) institusi pengetahuan. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. yang artinya sebagai berikut: ‘Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. 5) politik. Fitrah tersebut sudah barang tentu masih merupakan potensi latent (tersembunyi) dan lemah. dan 8) media massa. 3 Sebagaimana dalam Q.5 Belajar yang dimaksud tidak harus melalui pedidikan di sekolah saja. (32) Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau. fitrah intelek3. yaitu: 1) keluarga. institusi-institusi dapat dikelompokkan menjadi delapan macam. al-Maidah: 2. tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami. 4) ekonomi. karena dengan fitrahnya yang kuat itulah. maka harus dikembangkan secara optimal lewat kegiatan belajar. 1 . ialah kekuatan asli yang ada dalam diri manusia. Allah SWT menghendaki manusia yang kuat. 1991). 6) kebudayaan.S. al-Baqarah: 31-33. Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama bendabenda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!".BAB I PENDAHULUAN A. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan fitrah sosial4." 4 Sebagaimana dalam Q. yang artinya sebagai berikut: (31) Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Latar Belakang Masalah Manusia dilahirkan dengan membawa bermacam-macam fitrah1. maka tugas hidup dapat dijalankan 1 Fitrah. di antaranya adalah fitrah beragama2. sikap dan ucapannya). sehingga harus dikembangkan oleh manusia itu sendiri agar menjadi aktual dan kuat. 2 Menurut Muhammad Abduh dalam tafsir “ al-Manar” bahwa manusia itu telah diciptakan oleh Allah atas fitrah Islam dan dalam jiwa manusia telah disiapkan Allah gharizah iman. 7) keolahragaan. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Sebuah Tinjauan Psikologi). tetapi juga dapat dilakukan di luar sekolah. (Jakarta: Kalam Mulia.

Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan. Pemerintah Daerah. hlm.7 Undang-Undang Republik Indonesia No.8 Pendidikan adalah tonggak kehidupan sebuah Negara.dkk. 2008). manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. cet 2 ( Jakarta: Bumi Aksara.9 Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. 148. Filsfat Pendidikan Islam. Remaja Rosdakarya.2 dengan sukses dan segala tantangan hidup serta kehidupan dapat diatasi dengan baik. 2003). 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional 2003 pasal 34 menyebutkan tentang wajib belajar. sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. 25 9 Zuhairini . Pentingnya pendidikan telah banyak disadarai oleh sebagian kalangan masyarakat terlebih lagi para praktisi pendidikan.T. 1995 ). Muhibbin Syah. karena kemampuan berubalah. dan masyarakat”. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa. Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan. cet ke-14 (Bandung: P. hlm. yang berbunyi : “wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah. 94 8 “Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 . Salah satu tujuan mendasar dari pendidikan adalah bagaimana agar pendidikan mampu manjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Hal. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003” (Jakarta: Cemerlang. Sebagai suaru proses. maka akan berakibat amat buruk bagi manusia dan kehidupannya. Jika fitrah manusia tersebut tidak dikembangkan.

11 . Demikian pula masalah “belajar”. Loc. tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan atau anak-anak lain yang diserahkan kepadanya untuk dididik. hlm 95 Zuhairini . yang dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha pendidikan.12 Salah satu tugas utama seorang guru adalah menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar bersama siswa di dalam kelas maupun di luar kelas sesuai kebutuhan pembelajaran yang diinginkan. adalah masalah setiap orang. 12 Muhibbin Syah. dan menarik. efisien. dan menjadi tanggung jawab manusia untuk menjabarkan dengan mengaplikasikan konsep-konsep dasar tersebut dalam peraktek kependidikan.3 10 Sementara pendidikan menurut pandangan Islam adalah merupakan bagian dari tugas kehalifahan manusia yang harus dilaksanakan secara bertanggung jawab. karena setiap orang sejak dahulu sampai sekarang. oleh karenanya Islam tentunya memberikan garisgaris besar tentang pelaksanaan pendidikan tersebut. Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar.Loc.11 Masalah mendidik adalah masalah setiap orang. Agar dapat menyelenggarakan kegiatan belajar secara efektif. Cit. Cit. kemudian pertanggungjawaban itu baru bisa dituntut kalau ada aturan dan pedoman pelaksanaan. Op.. Islam memberikan konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan. 10 Muhibbin Syah. Cit.dkk .

peserta didik memiliki karakteristik. . hlm. Peserta didik sebagai manusia yang berpotensi perlu dibina dan dibimbing dengan perantaraan guru. Lihat Syaiful Bahri Djamarah. metode. berpangkal pada kedangkalan pemahaman guru terhadap karakteristik peserta didik sebagai sebagai individu. Bahan. dan evaluasi tidak dapat berperan lebih banyak. tetapi ia harus dianggap sebagai manusia secara mutlak. Guru perlu memahami karakteristik peserta didik sehingga mudah melaksanakan proses pembelajaran. Peserta didik sebagai subyek dan obyek pendidikan yang memerlukan bimbingan pendidik untuk membantu mengarahkan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Peserta didik merupakan “raw material” (bahan mentah) di dalam proses transformasi pendidikan. Sedangkan menurut Islam peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang perlu dikembangkan. serta membimbingnya menuju kedewasaan. Potensi peserta didik yang bersifat laten perlu diaktualisasikan agar anak didik tidak lagi dikatakan sebagai “animal educable”13. Kegagalan menciptakan proses pembelajaran yang kondusif. ( Jakarta: PT. 2000). sebelum guru mempersiapkan tahapantahapan interaksi edukatif. 52 14 Ibid. guru hendaknya memahami keadaan peserta didik. sebab peserta didik mempunyai potensi untuk dijadikan kekuatan manusia yang susila dan cakap. Sebaiknya dalam proses belajar.4 seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang hakikat belajar mengajar dan teori belajar dan pembelajaran. Hal tersebut adalah sangat penting agar dapat mempersiapkan segala 13 Animal Educable adalah sejenis binatang yang memungkinkan untuk dididik. sarana/alat. Pendidikan merupakan suatu keharusan yang diberikan kepada peserta didik. Rineka Cipta. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. bila guru mengabaikan aspek peserta didik.14 Sebagai manusia.

supaya dapat menempuhnya dengan lebih efisien.” 15 Belajar dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan guna meningkatkan derajat hidupnya. dan seefektif mungkin. efektif dan efisien. terlebih-lebih bagi kaum pendidik.5 sesuatunya secara akurat. Teori belajar dan pembelajaran memberikan informasi kepada guru tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajar yang efektif. 543 . yang amat berharga 15 Al-Qur’an dan Terjemahnya. Firman Allah Q. efisien. Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh Islam yang banyak memberikan saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan Islam. ( Bandung: CV.S Al-Mujadallah: 11 tβθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ ª!$#uρ 4 . sehingga tercipta interaksi edukatif yang kondusif. hlm. dan memiliki daya tarik. Hakikat belajar mengajar memberikan informasi kepada guru tentang tugas dan tanggung jawab serta kedudukan guru falam kegiatan pembelajaran.M≈y_u‘Š zΟù=Ïèø9$# (#θè?ρé& tÏ%©!$#uρ Νä3ΖÏΒ (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!# ª!$# Æìsùötƒ ( y ö $ ∩⊇⊇∪ ׎Î7yz Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Penerbit Jumanatul ‘Ali-Art). Belajar dan mengajar adalah masalah setiap orang. maka jelaslah kiranya perlu untuk menjelaskan serta merumuskan belajar itu. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

sepanjang hayat (life education). Tiara Wacana. (Bandung: Trigenda karya. 1993). Mudjib. hlm. Psikologi pendidikan.6 sekali dan tidak kecil pengaruhnya terhadap pendidikan Islam dewasa ini. (Yogyakarta: PT. Memandang pentingnya aspek pendidikan terhadap manusia. Muhaimin dan M. di sekolah maupun di luar sekolah. Dasar nilai-nilai ideal yang menjadi dasar pendidikan Islam haruslah merupakan sumber kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan pada aktifitas yang dicita-citakan. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan kerangka Kajian Operasionalnya.16 Oleh karena itu. 144 17 Abdur Rahman Abror. dan juga akan menjadi faktor asasi bagi suksesnya tujuan pendidikan serta untuk merealisasikan berbagai sasaran yang dicita-citakan dalam proses pembelajaran. maka perlu kiranya dalam setiap usaha pendidikan didasarkan pada landasan yang berpijak pada nilai-nilai yang ideal. dengan kedinamisannya tersebut manusia mampu menciptakan kemajuan dengan berbagai teknologi yang canggih guna mempermudah kehidupannya. hlm. 16 . Nilai yang terkandung di dalamnya haruslah bersifat universal dan dapat dikomunikasikan untuk seluruh aspek kehidupan manusia serta merupakan standar nilai yang dapat mengevaluasi kegiatan yang berjalan. tetapi juga di sisi lain ia adalah makhluk yang dinamis bukan makhluk yang statis17. belajar dilakukan oleh manusia berlangsung terus menerus. Premis ini diperkuat oleh kenyataan bahwa manusia walaupun mempunyai kelemahan. Corak pemikirannya yang rasionalistik-empiristik-sufistik inilah yang dijadikan dasar pijakan oleh Ibnu Khaldun dalam membangun konsepkonsepnya mengenai pendidikan. 1993). 63. membimbing atau tidak.

18 Para pendidik memandang bahwa teori Jean Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. (Solo: Era Intermedia. penelitian yang dilakukan memberikan garis besar dari sistem kognitif anak pada tahap-tahap perkembangannya. hlm. seseorang harus berusaha mempelajari landasan filosofisnya dan latar belakang sejarahnya. Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik. 98 19 Malik Badri. Sebuah pendekatan Psikologi Islami. Mempelajari disiplin ilmu pengetahuan Barat dalam hal psikologi. hlm. (Jakarta: Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia). maka muncullah istilah “Islamisasi Pengetahuan”20 sebagai upaya membangun kembali semangat umat Islam mengkaji pengetahuan. 337 18 . Samuel Soeitoe. mengembangkannya melalui pendekatan ilmiah (scientific inquiry) dan filosofis yang merupakan perwujudan dari komitmen terhadap doktrin dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan asSunnah. Gagasan ini pertama kali dilontarkan oleh Syeh Naquib al-Attas dalam konferensi dunia pertama tentang pendidikan Muslim di Makkkah tahun 1997. tanpa adanya penyeleksian mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang tidak. 31 20 Islamisasi Pengetahuan adalah mengislamkan atau melakukan pengkudusan atau penyucian terhadap ilmu pengetahuan produk non Islam (Barat) yang selama ini dikembangkan dan dijadikan acuan dalam wacana perkembangan sistem pendidikan islam agar memperoleh ilmu pengetahuan yang bercorak Islam.19 Berdasarkan fenomena tersebut. jangan menerima mentah-mentah teori secara praktiknya. hlm. Lihat Muhaimin. 2003). Pengembangan Kurikulum hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan. Fiqih Tafakur dari Perenungan Menuju Kesadaran. yang kemudian dikembangkan oleh Ismail Raji al-Furuqi. Pemberdayaan. (Bandung: Nuansa.7 Jean Piaget adalah seorang teoretikus yang sangat berpengaruh dalam bidang perkembangan kognitif. Arah Baru Pengembangan Pendidikan islam. 2001).

maka menghasilkan beberapa rumusan masalah. karena antara pandangan Barat dan Islam mempunyai perbedaan pengertian tentang masalah belajar. penulis sangat tertarik untuk meneliti permasalahan tersebut dengan judul: “KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( Komparasi Antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun” dan Konsep Belajar “Jean Piaget” )”. B. yaitu : 1. Bagaimanakah komparasi konsep belajar Islam dan Barat (Non-Islam). Bagaimanakah konsep belajar dalam pandangan Islam (khusunya pemikiran Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget. Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas. khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget. 2.8 Melihat kenyataan di atas. . maka pengajuan penelitian skripsi ini akan membahas tentang konsep belajar dalam pandangan Islam (Ibnu Khaldun) serta membahas konsep belajar dalam pandangan Barat ( Jean Piaget). yang mana dengan memahami kedua konsep balajar tersebut diharapkan sebagai calon pendidik dapat mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses belajar.

Manfa’at Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.9 3. 2. 3. khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan Jean Piaget. Mengetahui aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Mengetahui komparasi antara konsep belajar Islam dan Barat (Non-Islam). Bagaimanakah aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Mengetahui konsep belajar dalam pandangan Islam (khususnya pemikiran Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget. Bagi Lembaga Pendidikan Adanya perbaikan dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan yang diharapkan oleh pengajar dapat terlaksana dengan baik dan juga diharapkan agar interaksi antara pengajar dan peserta didik dapat terjalin dengan baik. D. yakni untuk: 1. 2. C. Bagi Masyarakat Umum . Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah di atas.

E. maka peneliti membatasi kajian tentang konsep belajar menurut pandangan Islam (Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget. maka penulis memaparkan definisi yang tertera dalam judul: . sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan dalam pelaksanaan pembelajaran. F. membandingkannya.10 Dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan yang berkaitan dengan masalah konsep belajar baik menurut pandangan Islam (Ibnu Khaldun) dan pandangan Barat (Jean Piaget) beserta aplikasinya dalam pembelajaran. 3. Definisi Operasional Untuk memudahkan pemahaman dan kejelasan tentang arah penulisan skripsi ini. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan dan wawasan dalam memahami konsep belajar. Batasan Masalah Agar hasil penelitian ini dapat terarah dalam mencapai tujuan dan tidak menyimpang dari judul yang telah di tetapkan sebelumnya. dan melakukan sintesa serta membahas aplikasinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

11 Konsep adalah ide umum.21 Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. pengertian. Jenis Penelitian Jenis karya ilmiah ini adalah library research (kajian pustaka). Ilmu Laduni Dalam Perspektif Teori Belajar Modern.23 Konsep belajar Barat adalah penjelasan tentang prinsip-psinsip belajar yang bersumber dari pemikiran Jean Piaget. ke-3. pemikiran. hlm. Dahlan Al Barry. Raja Grafindo Persada. yang mana nantinya penulis akan mengkaji teori belajar Jean Piaget dan teori belajar Ibnu Khaldun kemudian dibandingkan antara keduanya. Kajian pustaka berusaha mengungkapkan konsep-konsep baru dengan cara Pius A Pastanto dan M. rencana dasar. 13 21 . Kamus Ilmiah Populer. G. Busyairi Harits. Psikologi Belajar. hlm. Cet. Metode Penelitian 1. 362 22 Muhibin Syah. 2004). rancangan. (Jakarta: PT.22 Konsep belajar Islam adalah penjelasan tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tingkah laku belajar yang bersumber dari al-Qur’an dan alSunnah serta Khazanah pemikiran intelektual Islam khususnya pemikiran Ibnu Khaldun. 59 23 A. 2004). Analisis komparasi adalah menganalisa data yang sudah ada berdasarkan perbandingan. hlm. ( Surabaya: Arkola. 1994). menurutnya belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.

kemudian rancangan yang bersifat sementara tersebut merupakan hasil penelitian yang dapat dirundingkan. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini berbentuk library research.25 2. yakni dengan mengungkapkan konsep belajar Islam dan konsep belajar Barat. (Jakarta: 1999). Metodologi Penelitian Kualitatif. 2004). Studi Tentang Landasan Kependidikan: Jurnal.12 membaca dan mencatat informasi-informasi yang relevan dengan kebutuhan24. Selanjutnya. Remaja Rosdakarya. hlm. teks jurnal tentang belajar. maka dalam mengumpulkan data menggunakan metode dokumentasi. Teori dan Praktik Kependidikan. (Bandung: PT. Cet 20. majalah-majalah ilmiah dan hasil penelitian yang ada hubungannya dengan konsep belajar. menganalisis data secara induktif yakni menalar konsep-konsep belajar tersebut hingga mencapai suatu kesimpulan mengenai keseluruhan konsep belajar. Pidarta. Suharsimi menjelaskan bahwa metode dokumentasi adalah mencari data mengenai M. 8 24 . Filsafat. khususnya mengkaji lebih dalam konsep belajar Ibnu Khaldun dan konsep belajar Jean Piaget. hlm. Penelitian ini bersifat kualitatif karena uraian datanya bersifat deskriptif. yakni mendeskripsikan konsep belajar Islam khususnya konsep belajar menurut Ibnu Khaldun dan mendeskripsikan konsep belajar Barat khususnya konsep belajar menurut Jean Piaget. Adapun bahan bacaan mencakup buku-buku yang membahas tentang belajar. 3-4 25 Lexy Moleong.

Psikologi Belajar (oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono) -Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran (oleh Sutiah) Islam: -Muqaddimah Ibn Khaldun (oleh Ahmadie Thoha) . surat kabar.Buku-buku penunjang lainnya Suharsimi Arikunto. Rineka Cipta. ensiklopedia. majalah. 206 26 . monograph dan sebagainya. 12. transkrip. 2002). Cet. buku. Sumber acuan primer yaitu kepustakaan yang berwujud buku-buku teks. Buku-buku yang penulis jadikan sebagai acuan dapat dikategorikan sebagai berikut: Tabel 1.Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan (Fathiyyah Hasan Sulaiman) Sumber Acuan Sekunder Barat: -Belajar dan Pembelajaran (oleh Asri Budianingsih) -Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik (oleh Samuel Soeitoe) -Buku-buku penunjang lainnya Islam: -Filsafat Pendidikan Islam (oleh Toto Suharto) -Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam (oleh Syahminan Zaini) . buletin penelitian dan buku-buku penunjang penelitian ini. hlm. (Jakarta: PT. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. prasasti.13 hal-hal atau variabel yang berupa catatan.1 Sumber Acuan Primer dan Sumber Acuan Sekunder Sumber Acuan Primer Barat:.26 Adapun sumber acuan yang digunakan adalah sumber acuan primer dan sumber acuan sekunder.Teori Belajar dan Pembelajaran (oleh Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni) . notulen dan sebagainya. sedangkan sumber acuan sekunder yaitu kepustakaan yang berwujud jurnal.

2) Menguasai khazanah ilmu pengetahuan Islam 3) Menemukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern. Rancangan Penelitian Adapun rancangan dalam penelitian ini adalah mengacu pada rancangan yang dikemukakan oleh Al-Faruqi yang menetapkan lima rancangan kerja “Islamisasi Pengetahuan”28. Cet. Sumadi mengemukakan bahwa metode ini hanya menganalisis data yang tekstual menurut isinya.27 Sedangkan menurut Barcus. 93 Ancok dan Suroso. yaitu: 1) Menguasai disiplin-disiplin ilmu modern. 118 28 . Teknik Analisis Data Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis (analisis isi). Teknik Analisis dan Rancangan Penelitian a. hlm. b. ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. 27 Sumadi Suryabrata. ke-2. hlm. Metodologi Penelitian. (Jakarta: Rajawali Pers. 4) Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan khazanah ilmu pengetahuan modern. 1988). Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi. ke-4. content analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi atau pesan suatu komunikasi. 5) Mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola rancangan Allah. 1995).14 3.

Pembahasan ini akan dipaparkan pada bab dua. Biografi Jean Piaget. khususnya Ibnu Khaldun. kemudian dilanjutkan dengan mengkomparasikan kedua teori tersebut. dan Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun. khususnya konsep belajar menurut pemikiran “Ibnu Khaldun” dan “Jean Piaget”. khususnya teori Jean Piaget. Pembahasan ini akan dipaparkan pada bab tiga. yang ditelaah di dalamnya: Konsep belajar secara umum (Barat). 2) Menelaah teori Barat. Pembagian kurikulum menurut Ibnu Khaldun. . Pandangan Ibnu Khaldun terhadap kesanggupan manusia untuk berfikir. peneliti melakukan adaptasi dan mengaplikasikan dalam rancangan sebagai berikut: 1) Menelaah konsep belajar Islam. Proses belajar menurut Jean Piaget. Teori ini ditelaah dari buku-buku yang menjadi sumber acuan primer yang ditunjang dengan beberapa buku lain. yang mana beliau sebagai intelektual Muslim yang konsep banyak belajar. menyumbangkan pemikirannya mengenai diantaranya: Biografi Ibnu Khaldun. Pembagian ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun. Hal-hal yang menghambat proses belajar menurut Ibnu Khaldun. 3) Mengadakan penilaian secara kritis dan obyektif terhadap konsep belajar Islam dan Barat.15 Berdasarkan rancangan Al-Faruqi di atas. Konsep belajar menurut Jean Piaget. Perkembangan pengetahuan (Kognitif) menurut Jean Piaget. Konsep belajar dan metode pengajaran menurut Ibnu Khaldun.

dapat ditetapkan sebagai konsep belajar Islam yang selaras dengan wawasan dan idealisme Islam dengan tidak meninggalkan konsep belajar Barat (Jean Piaget) yang tidak bertentangan dengan Islam.16 4) Mengadakan sintesa (penggabungan) secara kreatif antara konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dengan konsep belajar Barat (Jean Piaget). kemudian konsep Belajar tersebut diaplikasikan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. . dari sintesa antara kedua konsep belajar tersebut.

1 Rancangan Penelitian .17 Bagan dari rancangan penelitian adalah sebagaimana dipaparkan di bawah ini: Ibnu Khaldun Jean Piaget I Penelaahan konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) II Penelaahan konsep belajar Barat (Non-Islam) : Jean Piaget III Komparasi konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dan konsep belajar Barat (Non-Islam) : Jean Piaget IV Sintesa kreatif konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dan konsep belajar Barat (Non-Islam) : Jean Piaget Konsep belajar terpadu dan selaras dengan idealisme Islam Gambar 1.

e. Mengungkapkan hasil perbandingan. hlm. Adapun dari segi mekanisme kerja. peneliti menggunakan metode pembahasan sebagai berikut: 1.18 Pembahasan data pada penulisan karya ilmiah ini.29 Pada penulisan karya ilmiah ini pada mulanya meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan konsep belajar Islam dan konsep belajar Barat kemudian membandingkan diantara keduanya. Mengungkapkan ciri-ciri dari objek yang sedang dibandingkan secara jelas dan terinci. dan penyelidikan bersifat komparatif. Menyusun atau memformulasikan teori-teori yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (logis dan objektif).348-349 29 . d. Winarno Surachmad. Komparasi Metode komparasi yaitu meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain. metode komparatif ini diaplikasikan melalui langkah-langkah sebagai berikut30: a. Menelusuri permasalahan-permasalahan yang setara tingkat dan jenisnya. b. c. 2005). Mempertemukan dua atau lebih permasalahan yang setara tersebut. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Teknik. 1990). hlm. Epistemologi Pendidikan Islam . (Bandung: Tarsito. 142 30 Mujamil Qomar.Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik ( Jakarta: Penerbit Erlangga.

36 Ibid. kemudian konsep belajar Islam tersebut dikhususkan pada pemikiran Ibnu Khaldun. penulis menggunakan sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab.31 Pada mulanya mengkaji konsep belajar Islam (khususnya pemikiran Ibnu Khaldun) dan konsep belajar Barat (khususnya pemikiran Jean Piaget).32 Penulisan karya ilmiah ini juga mengguankan metode deduksi yakni berangkat dari konsep belajar secara umum baik menurut pandangan Islam maupun menurut pandangan Barat. Afsed. 3. dan masing-masing bab dibagi dalam sub-bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut: 31 32 Sutrisno Hadi.19 2. (Yogyakarta. Deduksi Metode deduksi yaitu metode yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum itu hendak menilai sesuatu kejadian yang sifatnya khusus. hlm.. H. 142 . kemudian digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum. sedangkan konsep belajar Barat dikhususkan pada pemikiran Jean Piaget. 1987). Methode Research I. Induksi Metode induksi yaitu metode yang berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa khusus dan kongkrit. Sistematika Pembahasan Penulisan tugas akhir ini. Hlm. kemuadian kedua konsep tersebut digeneralisasikan menjadi konsep belajar terpadu yang selaras dengan idealisme Islam.

BAB II : Bab ini membahas tentang konsep belajar dalam pandangan Islam ( khususnya pemikiran Ibnu Khaldun) dan Barat (Non-Islam) khususnya pemikiran Jean Piaget. dan daftar riwayat hidup).20 BAB I : Bab ini merupakan pendahuluan yang di dalamnya mencakup (a) Latar Belakang Masalah. BAB III : Bab ini membahas tentang komparasi antara konsep belajar Islam dan konsep belajar Barat (Non-Islam). sehingga diharapkan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh pengajar. (d) Kegunaan/Manfa’at Penelitian. BAB V : Bab ini sebagai bab penutup dari keseluruhan pembahasan yang dibagi dalam kesimpulan. . (b) Rumusan Masalah. khususnya menurut pandangan “Ibnu Khaldun” dan “Jean Piaget”. (c) Tujuan Penelitian. (e) Batasan Masalah. (g) Metode Penelitian. dan bagian akhir ( daftar rujukan. dan (h) Sistematika Pembahasan. lampiran-lampiran. BAB IV: Bab ini membahas tentang aplikasi konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dan Barat (Jean Piaget) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (f) Definisi Operasional. saran.

Maka berdirilah. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu".BAB II KONSEP BELAJAR DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT ( NON-ISLAM) A. hlm.S. Muhammad Saw. bahkan Allah mengawali menurunkan alQur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan Rasul-Nya. Konsep Belajar Dalam Pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadits Islam sebagai agama rahmah li al-‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk selalu belajar. Iqra’ merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar..33 Firman Allah dalam Q. dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya. Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. 29 33 21 . Teori Belajar dan pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam 1. al-Mujadallah: 11 Ëx|¡ø tƒ (#θßs|¡øù$$sù ħÎ=≈yfyϑø9$# †Îû (#θßs¡¡x s? Νä3s9 Ÿ≅ŠÏ% #sŒÎ) (#þθãΖtΒ#u™ tÏ%©!$# $pκš‰r'≈tƒ ö tÏ%©!#uρ öΝ3ΖÏΒ (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!$# ª!$# Æìsùötƒ (#ρâ“à±Σ$$sù (#ρâ“à±Σ$# Ÿ≅ŠÏ% #sŒÎ)uρ ( öΝ3s9 ª!$# $ ä ä ∩⊇⊇∪ ׎Î7yz tβθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ !$#uρ 4 M≈y_u‘yŠ zΟù=Ïèø9# (#θè?ρé& ª . Sedangkan dalam arti luas. untuk membaca dan membaca (iqra’). 2007). niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. $ Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis".

ar-Rad: 11 5Θöθs)Î/ ª!$# yŠ#u‘r& !#sŒÎ)uρ 3 öΝÍκŦà Ρr'Î/ $tΒ (#ρçŽÉitóム4©®Lym BΘöθs)/ $tΒ çŽÉitóムω ©!$# žχÎ) 3 Î Ÿ ∩⊇⊇∪ @Α#uρ ÏΒ ϵÏΡρߊ ÏiΒ Οßγ9 $tΒuρ 4 …çµs9 ¨ŠttΒ Ÿξsù #[™þθß™ s Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta: Kalam Mulia. 543 35 Ibid.Β Νä3_t÷z& ª!$#uρ ô ä Ïi y r ∩∠∇∪ šχρãä3ô±s? öΝä3=yès9   nοy‰Ï↔øùF{$#ρ t≈|Áö/F{$#uρ ª u Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. 1991).S. hlm.S An-Nahl: 78 yìϑ¡¡9$# ãΝä3s9 Ÿ≅yèy_uρ $\↔ø‹x© šχθßϑn=÷ès? Ÿω öΝ3ÏF≈yγ¨Βé& ÈβθäÜç/ . dan dia memberi kamu pendengaran. penglihatan dan hati. Al-Qur’an dan Terjemahnya.36 Firman Allah dalam Q.” 35 Makna dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada mulanya manusia itu tidak memiliki pengetahuan atau tidak mengetahui sesuatupun.. 275 36 Sjahminan Zaini dan Muhaimin. hlm.22 orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Islam menggambarkan belajar dengan bertolak dari Firman Allah Q. Penerbit Jumanatul ‘Ali-Art). dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Bandung: CV. 6 34 . agar kamu bersyukur. hlm. belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan guna meningkatkan derajat hidupnya. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Sebuah Tinjauan Psikologi).” 34 Maksud dari ayat di atas adalah bahwa dalam perspektif Islam.

karena manusia yang baru saja dilahirkan ke muka bumi adalah bagaikan orang yang buta.x‹tGtƒ $oÿ©ςÎ) 4 #‘yϑôãr& uθèδ ôyϑx. 38 37 .pt:$# y7Îi/¢‘ ÏΒ y7‹s9Î) tΑ“Ρé& !$yϑΡr& ÞΟn=÷ètƒ yϑsùr& ø ø Ì ∩⊇®∪ É=≈t6ø9F{$# (#θä9'ρé& Artinya: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.38 Firman Allah dalam Q. Perbedaan manusia dengan binatang ialah manusia memiliki akal pikiran dan budi pekerti yang dapat digunakan untuk berpikir. sehingga manusia memiliki cita-cita dan tujuan hidup. 250 Sutiah. 2003).. bersabda: Al-Qur’an dan Terjemahnya.”39 Ayat di atas menjelaskan bahwa proses belajar dalam Islam sangat dianjurkan.S. Op. ‘. Kemajuan dan kemunduran manusia sangat tergantung manusia itu sendiri. Cit. Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran (Malang: Universitas Negeri Malang.” 37 Ayat di atas menjelaskan bahwa belajar merupakan proses yang dilalui manusia selama manusia hidup. Maka tak ada yang dapat menolaknya. hlm. apakah ia mau berusaha untuk maju atau tidak. Nabi Muhammad Saw. Cit. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum. ar-Ra’d: 19 ㍩. hlm.23 Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Loc. 20 39 Al-Qur’an dan Terjemahnya. dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

memfungsikan serta mengoptimalkan fungsi macammacam alat (indera luar dan dalam) yang telah dianugerahkan oleh Allah secara integral dalam pelbagai aspek kehidupan sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada-Nya. memberikan penghargaan. hlm. Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Sjahminan Zaini dan Muhaimin.40 Proses belajar tidak akan lepas dari hubungan pendidik dan peserta didik.41 Proses belajar menurut konsep Islam adalah melatih.. sesuai dengan perkembangannya.24 Pandangan dasar Islam tentang kemungkinaan manusia untuk memperoleh kemajuan hidupnya adalah terletak pada kemampuan belajarnya. mudah dimengerti. 9 Mulia) 42 . benar. dimulai sejak lahir sampai meninggal dunia. pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting 40 41 Sjahminan Zaini dan Muhaimin. mengarahkan ke masa depan berbicara kepada mereka dengan baik. menggunakan..42 Perlu diketahui bahwa setiap apa yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.cit. Menurut Islam perlakuan terhadap anak didik sangat besar pengaruhnya. 11 Syahminan Zaini. transaksi dan transinternalisasi dalam berbagai segi kehidupan manusia. Adapun tuntutan Islam terhadap hubungan antara pendidik dengan peserta didik yang terpenting di antaranya adalah adanya rasa kasih sayang. Op. Sedang kemampuan belajar seseorang telah ditetapkan oleh Allah sebagai suatu kemampuan ikhtiyariahnya sendiri melalui proses transformasi. hlm. Cit. op. lemah-lembut. dan disiplin. memberikan kemerdekaan.

penglihatan dan hati. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar. al-Isra’: 36. di antara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. yang artinya adalah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. di samping pengetahuan yang mereka peroleh secara empirik.46 Sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an.” 46 Ulul Albab yaitu kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. manusia harus mengetahui kenapa mereka melakukannya. 44 43 . yaitu: a. Demikian juga dengan perintah untuk belajar. 32-33 Sebagaimana firman Allah dalam Q. Op. semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.S. al-Baqarah: 269 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. kebijaksanaan dan pengetahuan.” 45 Sebagaimana firman Allah dalam Q. sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan. yang artinya adalah : “(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri.. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang didapatkannya itu manusia akan dapat mempertahankan kehidupan. Q. Selain itu dengan belajar pula manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta. hlm. karena setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. az-Zumar: 9.44 2. Apa pun yang dilakukan.S.45 Seseorang yang dikatakan berhasil dalam belajarnya jika dapat mencapai ulul albab. Sesungguhnya pendengaran. Cit. antara lain:43 1. Dengan belajar manusia dapat mengetahui apa yang dilakukan dan memahami tujuan dari segala perbuatannya.25 bagi manusia.S.

Yusuf: 111 2”uŽtIø ム$ZVƒÏ‰tn tβ%x. Q. Cit.26 #ZŽöyz u’Aρé& ô‰s)sù sπyϑò6Åsø9$# |N÷σムtΒuρ 4 â™!$t±o„ tΒ sπyϑò6Åsø9$# ’ÎA÷σムΠ∩⊄∉®∪ É=≈t6ø9F{$# (#θä9ρé& HωÎ) ㍞2¤‹tƒ $tΒuρ 3 #ZŽÏWŸ2 ' Artinya: “ Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”48 c.ƒÏ‰óÁs? Å6≈s9uρ u u Ï © ∩⊇⊇ ∪ tβθãΖÏΒ÷σム5Θöθs)Ïj9 Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.S..S. 45 Ibid. Q. ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. $tΒ 3 É=≈t6ø9F{$# ’Í<'ρT[{ ×οuŽö9Ïã öΝÎηÅÁ|Ás% ’Îû šχ%x.”47 b. 248 . dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). ô‰s)s9 ZπΗ÷qu‘ρ “Y‰èδuρ &™ó©x« Èe≅à2 Ÿ≅‹ÅÁø s?uρ µ÷ƒy‰tƒ t÷t/ “Ï%!$# t. Ali Imran: 7 É=≈tGÅ3ø9$# ‘Πé& £èδ ìM≈yϑ3øt’Χ ×M≈tƒ#u™ çµ÷ΖΒ |=≈tGÅ3ø9$# 7ø‹=tã tΑt“Ρr& ü“Ï%©!$# uθèδ s Ï y n çµΖÏΒ tµ7≈t±s? $tΒ tβθãèÎ6®KuŠsù Ô ÷ƒ— óΟÎγÎ/θè=è% ’Îû tÏ%©!$# $¨Βr'sù ( ×M≈yγ7≈t±tFãΒ ãyzé&uρ ÷ t y Î ’Îû tβθã‚Å™≡§9$#uρ 3 ª!$# žωÎ) ÿ…ã&s#ƒÍρù's? ãΝn=÷ètƒ $tΒuρ 3 Ï&Î#ƒÍρù's? u™!$tóÏGö/$#uρ ÏπuΖ÷GÏ ø9$# u™!$tóÏGö/$# 47 48 Al-Qur’an dan Terjemahnya.. akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu. dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat. hlm. Op. hlm. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah.

27 =≈t6ø9F{# #θä9'ρé& HωÎ) ㍩. Q. hlm. padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah..‹tƒ $tΒuρ 3 $uΖ/u‘ ωΖÏã ÏiΒ @≅ä. Op. 22-23 49 . ¨ ΝÎγÎ/θãΖã_ 4’n?tãuρ #YŠθãèè%ρ $Vϑ≈uŠÏ% ©!$# tβρãä. Ali Imran: 190-191 ’Í<'ρ{ M≈tƒUψ Í‘$pκ]9$#uρ È≅øŠ©9$# É#≈n=ÏF÷z$#uρ ÇÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# È. surga. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat. semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya. 51 Al-Qur’an dan Terjemahnya. hlm. 50 52 Sjahminan Zaini dan Muhaimin.Cit.õ‹tƒ tÏ%©!$# ∩⊇®⊃∪ É=≈t6ø9F{$# ö u Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya. Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat50. neraka dan lain-lain. 50 Pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. dengan menunjukkan profil antara lain sebagai berikut:52 a.”51 Tanda-tanda keberhasilan dalam belajar.S. dapat dipahami dengan mudah. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat49. ϵÎ/ $¨ΖtΒ#u™ tβθä9θà)tƒ ÉΟù=Ïèø9$# É $ ( ¤ În ô ∩∠∪ Artinya: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu.. sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.ù=yz ’Îû žχÎ) T[ . dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat. Cit. Op.

. b. tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia.28 WξÏÜ≈t/ #x‹≈yδ |Mø)n=yz $tΒ $uΖ−/u‘ ÇÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈uΚ¡¡9$# È."54 Maksudnya adalah seseorang yang belajar tersebut mampu memisahkan mana yang baik dan yang jelek.”53 Maksud dari ayat tersebut adalah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Maka peliharalah kami dari siksa neraka. hlm. memikirkan. Maha Suci Engkau. hlm. Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal.S. kemudian dia memilih 53 54 Al-Qur’an dan Terjemahnya. Op. Cit. (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami. al-Maidah: 100 ©!$# (#θà)¨?$$sù 4 Ï]ŠÎ7sƒ:$# äοuŽøYx.. Q. memahami dan mengambil pelajaran terhadap ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi. y7t7yfôãr& öθs9uρ =Íh‹©Ü9$#uρ ß]ŠÎ7sƒø:$# “ÈθtGó¡o„ žω ≅è% ø Ü ∩⊇⊃⊃∪ χθßsÎ=ø è? öΝä3ª=yès9 É=≈t6ø9F{$# ’Í<'ρé'≈tƒ š Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.ù=yz ’Îû tβρ㍤6x tGtƒuρ ∩⊇®⊇∪ Í‘$¨Ζ9$# z>#x‹tã $oΨÉ)sù y7oΨ≈ysö6ß™ Artinya: “ (190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. 75 Ibid. diantaranya adalah kesenangannya merenungkan. agar kamu mendapat keberuntungan”. meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. 124 . meneliti.

Q. Cit.S. meskipun dia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu. tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran Karena ia adalah yang paling baik. 55 Maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain. ª!$# £‰tãr& t © ∩⊇⊃∪ #[ø. Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang yang mempunyai akal. c. hlm.. 460 . (yaitu) orang-orang yang beriman.ÏŒ óΟä3ö‹s9Î) ª!$# tΑt“Ρr& ô‰s% Artinya: “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras. gagasan. serta pandai menimbang-nimbang halhal tersebut. dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. 56 Al-Qur’an dan Terjemahnya. preposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain.55 Mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orangorang yang mempunyai akal. d.”56 Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa orang yang belajar kritis dalam menerima ide.29 yang baik. Op. teori.S. at-Thalaq: 10 4 (#θãΖΒ#u™ tÏ%©!$# É=≈t7ø9F{$# ’Í<'ρé'≈tƒ !$# (#θà)¨?$$sù ( #Y‰ƒÏ‰x© $\/#x‹tã öΝçλm. az-Zumar: 18 ( ª!$# ãΝßγ1y‰δ tÏ%©!$# y7Í×≈s9'ρé& 4 ÿ…çµuΖ|¡ôm& tβθãèÎ6−Fu‹sù tΑöθs)ø9$# tβθãèÏϑtFó¡o„ tÏ%©!$# y r ∩⊇∇∪ É=≈t7ø9F{$# (#θä9'ρé& öΝèδ y7Í×≈s9'ρé&uρ Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Q.

perolehan itu akan dapat diketahui antara lain dari penampilan atau perubahan yang terjadi pada orang yang belajar tersebut. hasil apakah yang hendak diperoleh seseorang setelah mengalami proses belajar tersebut guna mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain.”57 Allah Telah menurunkan peringatan Maksudnya adalah bahwa orang yang belajar tersebut harus bertaqwa kepada Allah SWT. maupun peningkatan integritas iman. domain afektif. ilmu. hlm. baik dalam pengembangan domain kognitif.58 Perolehan belajar Islami tersebut akan dapat diketahui oleh masing-masing individu sesuai dengan tujuan belajar Islami yang hendak dicapainya. dan amalnya. dan setelah dievaluasi dengan memakai 57 58 Ibid.. Op. dan domain psikomotoriknya. Seseorang yang melakukan aktivitas belajar sudah selayaknya memahami dan menyadari perolehannya atau hasil apa yang sedang/telah dicapainya. mulai dari yang paling sederhana sampai pada suatu yang kompleks. domain afektif maupun domain psikomotorik. 67 .30 Sesungguhnya kepadamu. Keberhasilan belajar dari masing-masing individu dapat diketahui dari seberapa jauh tingkatan mereka dalam mencapai hasil belajarnya sesuai dengan tingkatan hasil belajar tersebut baik pada domain kognitif..Cit. 559 Sjahminan Zaini dan Muhaimin. hlm.

Bertolak pada tujuan umum belajar Islami yang hendak dicapai. mendakwahkan Islam dalam berbagai bidang.59 Perolehan belajar semacam seperti di atas tersebut sudah barang tentu tidak dapat dicapai begitu saja oleh seseorang. dan amal seseorang. ilmu. Perolehan belajar dalam Islam secara bertahap dapat dicapai sebagai berikut (berdasarkan taksonomi Bloom): a. maka akan dapat diketahui apakah berhasil atau gagal. afektif dan domain psikomotorik secara optimal dan terpadu dalam diri seseorang.. Domain Kognitif Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang kemampuan kognisinya dalam mempelajari ilmu-ilmu Islam (tanzili 59 Ibid. hlm. maka perolehan belajar Islami dari seseorang akan menuju ke arah “terpadunya iman.31 kriteria-kriteria tertentu. dan tetap teguh/istiqamah dan sabar dalam ber-Islam”. dan mampu mengaktualisasikan ilmunya selaras dengan nilai-nilai iman. dan atau telah bertambah/berkembang domain kognitif. melainkan harus melalui proses belajar yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus yang bsejak kemampuan yang terendah hingga yang tertinggi. Optimalisasi dari hal-hal tersebut terwujud dalam karakteristik penampilan dirinya serta kepribadiannya yang mengimani Islam secara mantap dengan dilandasi oleh ilmu Islam. 67 . serta senantiasa mengamalkan Islam dalam pelbagai aspek kehidupannya.

Karena itu penemuan-penemuan baru baik dalam ilmu maupun teknologi yang dihasilkan oleh konsep belajar Islami tersebut tidaklah netral. 68 . menaggapi. kemampuan analisis. sampai dengan memiliki karakteristik nilai terhadap ajaranislam. Domain Afektif Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang sikap (afeksi)-nya terhadap Allah dan Rasul-Nya serta ajaran-ajarannya. mengorganisasi nilai. Bertambahnya kemampuan itu secara bertahap dimulai dari kemampuan hafalan. sampai dengan kemampuan evaluasi. kemampuan pemahaman aplikasi. memberi nilai. Orang yang demikian ini karakteristik pribadinya sudah matang. Tetapi justru ilmu selalu terkait atau inherent dengan nilai-nilai iman.60 b. kemampuan analisia. Bertambah/berkembangnya sukap (afek) ini secara bertahap dimulai dari memiliki sikap menyimak. keyakian dan gagasan menjadi inklusif mempribadi. Pengembangan kemampuan- kemampuan tersebut tetap dilandasi oleh sikap iman yang tertinggi. kemampuan sintesis. Islam menjadi suatu pandangan 60 Ibid. tingkah laku.32 dan kauni). yakni semua sikap.. dalam pengkajian ilmu-ilmu tersebut. kemampuan pemahaman. hlm.

Cit. ketrampilan mekanisme. Firman Allah dalam Q. terutama mereka yang sadar akan kebenaran hakiki. hlm. tampilan nyata gerakan motorik. yang berbunyi: 61 62 Ibid. ketrampilan kesiapan.33 hidupnya dan segala pengembangan ilmu. 81 . Mudjib. dalam mendakwahkan ajaran Islam. sampai dengan ketrampilan originasi dalam pengamalan ajaran islam. dimulai dari ketrampilan persepsi. ketrampilan respon terbimbng/terpimpin. Tampilan pengamalan yang demikian itu akan diterima oleh lingkungan sosialnya. Dan bagi umat yang belum sadar akan terdorong untuk menuju ke arah kesadaran yang hakiki akan kebenaran ajaran Islam. Muhaimin dan M. budaya dan amal demi untuk menuju keridlaan Allah SWT. diantaranya adalah62: a. ketrampilan adaptasi. semata. Fushilat: 53. dalam Islam ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan yang tinggi. Karena dalam pengamalannya. Belajar merupakan sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran.61 c. teknologi. selalu didasari oleh kesadran iman dan ilmu yang inherent. Domain Psikomotorik Pada domain ini seseorang telah bertambah/berkembang kemampuan psikomotoriknya dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara bertahap..S. Op.

34 öΝs9uρ& 3 ‘. hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”63 Manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya dengan menggunakan kekuatan intelegensi yang dibimbing oleh hati nurani. juga berarti pemimpin. Barang siapa berbuat demikian. Kebenaran-kebenaran tersebut sebagai tonggak sejarah yang pasti dilalui oleh semua manusia dalam perjalanan untuk mencapai kebenaran mutlak (yaitu Allah SWT. kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.S.). dan Allah Al-Qur’an dan Terjemahnya. niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. pelindung atau penolong. hlm. Firman Allah dalam Q. 4’n?tã …çµΡr& y7În/tÎ/ É#õ3tƒ ä Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri. Op. 64 63 . b. Ali ‘Imran: 28. 482 Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab.ptø:$# çµΡr& öΝßγs9 t¨t7oKtƒ 4©®Lm öΝÍκŦà Ρr& þ’Îûρ É−$sùFψ$# ’Îû $uΖÏF≈tƒ#u™ óΟÎγƒÎŽã∴y™ r y u ∩∈⊂∪ Íκy− &™ó©x« Èe≅.. Ilmu pengetahuan sebagai prasyarat amal saleh. yang berbunyi: ≅yèø tƒ tΒuρ ( tÏΖÏΒ÷σßϑø9$# Èβρߊ ÏΒ u™!$uŠÏ9÷ρr& tÍÏ ≈s3ø9$# tβθãΖÏΒ÷σßϑø9$# É‹Ï‚−Gtƒ žω ö 3 Zπ9s)è? óΟßγ÷ΖÏΒ (#θà)−Gs? βr& HωÎ) ™ó©x« ’Îû «!$# š∅ÏΒ }§øŠn=sù šÏ9≡sŒ > ∩⊄∇∪ 玍ÅÁyϑø9$# «!# ’n<Î)uρ 3 …çµ|¡ø tΡ ª!$# ãΝà2â‘Éj‹y⇔ãƒuρ $ Artinya: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali64 dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Cit.

53 Ibid. 8lρy— Èe≅à2 ÷ Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu. ÏΒ $pκŽÏù £]t/uρ öΝä3Î/ u ∩⊇⊃∪ AΟƒÍx. Op. hlm. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengolah sumber-sumber alam guna mencapai ridha Allah SWT. kesejahteraan itu dapat diperoleh jika manusia mengelola sumber-sumber alam dengan mengetahui hukum-hukum dan aturan-aturan yang memungkinkan manusia dapat 65 66 Al-Qur’an dan Terjemahnya./Ρr'sù [™!$tΒ Ï™!$yϑ¡¡9$# zÏΒ $uΖø9t“Ρr&ρ 4 7π−/!#yŠ Èe≅ä.35 memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan kami turunkan air hujan dari langit.”65 Seseorang yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan akan dapat berjalan di atas kebenaran serta dengan iman dan kekuatan ilmu pengetahuan manusia mencapai puncak kemanusiaan. Firman Allah dalam Q. c.=yz $ n ÏΒ $pκŽÏù $oΨ÷Gu. dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. hlm. Cit.S. dan Hanya kepada Allah kembali (mu). guna mencapai ridha-Nya.”66 Ilmu pengetahuan merupakan instrument untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Luqman: 10. lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. yaitu mensejahterakan manusia... yang berbunyi: y‰‹Ïϑs? βr& z©Å›≡uρu‘ ÇÚö‘F{# ’Îû 4’s+ø9r&uρ ( $pκtΞ÷ρts? 7‰uΗxå ΎötóÎ/ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# t. 411 .

36 mengelola dan memanfaatkan bumi dengan baik.S. hlm.x‹tGtƒ $yϑΡÎ) 3 tβθßϑn=ôètƒ ω tÏ%©!$#ρ βθçΗs>ôèƒ tÏ%©!$# “ÈθtGó¡o„ ö≅yδ ö≅è% 3 ϵÎn/u‘ Ÿ u t t ∩®∪ É=≈t7ø9F{$# (#θä9'ρé& Artinya: “(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri. tujuan ilmu pengetahuan adalah menghilangkan hambatan-hambatan pada jalan perkembangan yang benar bagi pribadi Muslim dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam yang ada. Sebagai pengembangan daya piker karena ilmu pengetahuan merupakan alat untuk memahami dan membiasakan diri untuk berpikir secara keilmuan yang dapat mempertajam daya pikir manusia. 1987). Oleh karena itu. 136 . guna memperluas kehidupan dan memperkaya dalam segala segi. Pemikiran Pendidikan Islam – Kajian Filosofias dan kerangka Dasar Operasionalnya (Bandung: Angkasa. Ilmu pengetahuan sebagai hasil pengembangan daya pikir. Firman Allah dalam Q.67 d. Ilmu pengetahuan sebagai alat pengembangan daya pikir. Islam dan Dunia. yaitu sebagi produk berfikir atau sebagai kegiatan dan daya pikir. yang berbunyi: sπuΗ÷qu‘ (#θã_ötƒuρ nοtÅzFψ$# â‘x‹øts† $VϑÍ←!$s%uρ #Y‰É`$y™ È≅ø‹©9$# ™!$tΡ#u™ ìMÏΖ≈s% uθèδ ô¨Βr& u ㍩. az-Zumar: 9. sebagaimana dikutip oleh Muhaimin dan Abdul Mujib. Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua visi. e. sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan 67 Abu Hasan Ali Nadwi.

yang berbunyi: tΠöθu‹ø9$#uρ ©!$# (#θã_ötƒ tβ%x. al-Ahzab: 21.S. atau orang di dekat-dekat. dari lahir sampai masuk liang lahat.. Meniru (Imitasi) Al-Qur’an mengemukakan contoh tentang bagaimana manusia belajar dengan cara meniru. 420 . cara belajar menurut al-Qur’an dapat melalui: a. hlm. ©!$# tx. Hampir semua masalah tidak lepas dari kegiatan berpikir.”68 Manusia adalah makhluk yang berpikir. ô‰s)©9 × é ä ∩⊄⊇∪ #ZŽÏVx. karena tabiat manusia 68 69 Al-Qur’an dan Terjemahnya. hlm. yϑÏj9 πuΖ|¡ym îοuθó™& «!$# ÉΑθß™u‘ ’Îû öΝ3s9 tβ%x. Cit.sŒuρ tÅzFψ$# Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Berpikir pada dasarnya sebuah proses yang membuahkan ilmu pengetahuan. 459 Ibid.37 orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Proses tersebut merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai kepada kesimpulan yang berupa ilmu pengetahuan. Menurut Najati (2005).”69 Pada awal perkembangannya bayi belajar hanya dengan cara meniru orang tuanya. yaitu dalam Q. Op..

. (20) Dan bumi bagaimana ia 72 dihamparkan?” Pada saat berpikir. yang berbunyi: ôMyèÏùâ‘ y#ø‹Ÿ2 Ï™!$uΚ¡¡9$# ’n<Î)uρ ∩⊇∠∪ ôMs)Î=äz y#ø‹Ÿ2 È≅Î/}$# ’n<Î) tβρãÝàΨtƒ Ÿξsùr& M ∩⊄⊃∪ ôMysÏÜß™ y#‹x. bagaimana ia ditinggikan?. Cit.35 Ibid. tetapi kadang responsnya terhadap situasi yang dihadapinya bersifat coba-coba.38 cenderung untuk meniru. hlm. Cit. (18) Dan langit. argument. manusia belajar membuat solusi atas segala persoalan. ÇÚö‘F{$# ’n<Î)uρ ∩⊇®∪ Mt6ÁçΡ y#ø‹x. hlm 36 72 Al-Qur’an dan Terjemahnya. dan mendorong manusia untuk berpikir tentang kebesaran Allah. ÉΑ$t6Ågø:$# ’n<Î)uρ ∩⊇∇∪ ø ô Å Artinya: “(17) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Op.70 b. (19) Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?.. Berpikir Ayat al-Qur’an yang memberikan bukti. diantaranya adalah Q. 592 . hlm.71 c. Op. maka teladan yang baik merupakan hal yang penting dalam membentuk prilaku manusia.S. al-Ghasyiyah: 17-20.. Terkadang responsnya tepat. mengungkapkan korelasi antara berbagai objek dan 70 71 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. Pengalaman Praktis dan coba-coba (trial and error) Manusia di dalam kehidupannya terkadang menghadapi situasisituasi baru yang belum dipelajari bagimana meresponnya atau menyikapinya.

2003). melahirkan prinsip dan teori. Mansuruddin dan Ahmadie Thaha (Jakarta: Pustaka Firdaus. Ibn Khaldun Tentang Pendidikan. 218 75 Fathiyyah Hasan Sulaiman.74 Ayahnya adalah gurunya yang pertama. ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam. hlm. dan menemukan berbagai penemuan baru. 74 76 hlm. karena pemikiranpemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo 73 Ibid. Biografi Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun lahir di Tunis pada permulaan bulan Ramadhan 732 H. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. filsafat. terj. (Jakarta: Minaret. (Yogjakarta: Ar-Ruzz. seperti juga ilmu bahasa. dan menjadi terkenal dalam puisi. (27 Mei 1332 M) dari keluarga Andalusia yang berimigrasi dari Andalusia ke Tunis pada pertengahan abad ke 7 H.75Ibnu Khaldun dididik oleh keluarga yang terkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan maupun politik. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama’ dan sastrawan di daerah Maghrib. 1991). 2006).. Sebagai ahli politik Islam. dan logika (manthiq). Ibnu Khaldun belajar ilmu-ilmu syari’at kepada para ulama’. Nama lengkapnya Waliy al-Din ‘Abd al-Rahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan bin Jabir bin Muhammad ibn Ibrahim bin ‘Abd al-Rahman bin Khaldun. hlm.39 peristiwa.76 Ibnu Khaldun adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Filsafat Pendidikan Islam. 37 Toto Suharto. 15 . 6 Fuad Baali dan Ali Wardi. hlm.73 2.

(Periode pertama Bahri/Turki Mamluk (1250-1382) Syamsuddin Abdullah. ketika peradaban Islam dalam proses penurunan dan disintegrasi. 57-58 77 . Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan. sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun menyaksikan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan hancurnya kekuasaan Islam terakhir di Andalusia dan lahirnya kekosongan (pemerintahan) yang tersebar di Afrika Utara. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258.77 Ibnu Khaldun hidup pada masa antara 1332-1405 M. kemudian dia belajar mantiq. kecuali pada masa awal-awal periode pertama yang singkat dari sejarah kekhalifahan Mamluk. fiqh Maliki. ilmu-ilmu bahasa dan syair-syair. Dinasti Mamluk (1250-1517). Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam. Bahkan ketika memasuki usia remaja. pembakaran. Asal usul Ibn Khaldun kembali ke Arab Yaman di Hadramaut. tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula. pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas. Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi Agama). hanya berkontribusi pada percepatan penurunan peradaban akibat korupsi dan inefisiensi yang mendera kekhalifahan. hlm. 1997). Dia memulai hidupnya dengan belajar hadits. selama periode kristalisasi gagasan Ibnu Khaldun.40 (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. falsafah.

analisis dan keterangan kausalitas mengenai peristiwa-peristiwa. Ibnu Khaldun sangat menyadari bahwa reversi tersebut tidak akan dapat tergambarkan tanpa menggambarkan pelajaran-pelajaran dari sejarah terlebih dahulu untuk menentukan faktor-faktor yang membawa sebuah peradaban besar melemah dan menurun drastis. Sebagian ada yang menamakan temuan Ibnu Khaldun itu dengan Falsafah Sejarah. Ibnu Khaldun berjalan di bawah sinar sejarah sambil mengambil butir-butir ilmu pengetahuan yang akan membantunya mengarahkan interpretasi runtuhnya kekuasaan Islam. Sebagai seorang muslim yang sadar. yang dikelilingi serangkaian krisis ekonomi yang parah). Pada zaman kontemporer ini ilmu baru tersebut disebut ilmu pengetahuan sosiologi. dia memikirkan perlunya ilmu baru yaitu ilmu peradaban. Ibnu Khaldun melihat bahwa sejarah itu perlu dipelajari. Ibnu Khaldun tekun mengamati bagaimana caranya membalik atau mereversi gelombang penurunan peradaban Islam..78 78 Ibid. Untuk kepentingan studi sejarah Ibnu Khaldun mempergunakan metode baru yang berdasarkan kepada penjelasan . hlm. Sebagai ilmuwan sosial. 58 . Berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. Peristiwa-peristiwa besar yang membawa kepada runtuhnya tatanan politik memberi bekas kepada pemikiran dan minatnya.41 yang banyak mendapat pujian dalam tarikh. periode kedua adalah Burji Mamluk (1382-1517).

Sebagai Muslim dan hafidz al-Qur’an. yang sangat menakjubkan bahwa Ibnu Khaldun telah menulis karyanya yang sangat terkenal yaitu “Muqaddimah Marsudi Fitro Wibowo. pengabdiannya bersama raja dan pangeran. pada dirinya telah terhimpun kekayaan tak bernilai berupa ilmu dan pengetahuan dalam berbagai segi. ketelitian dan kecepatan observasi. ia menjunjung tinggi akan kehebatan al-Qur’an. Belajar dari Ibnu Khaldun (http: // www. nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya. dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman.42 Berdasarkan pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. kemampuan mengambil suatu keputusan dan menari kesimpulan. Sebagaimana dikatakan olehnya. "Ketahuilah bahwa pendidikan al-Qur’an termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Hal ini adalah sebagai hasil dari perjuangan dalam kancah politik. Oleh kerena itu pendidikan al-Qur’an dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Geoogle. di samping berbagai kehebatan dan kegeniusan tersebut. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam. kedalaman pemikiran. Ibnu Khaldun terkenal dengan ketajaman pendapat. Com. diakses 25 September 2007) 79 . berbagai kunjungan dan lawatan yang dilakukannya di berbagai negara di Maghrib dan Andalusia. Akan tetapi."79 Jadi. Pada waktu Ibnu Khaldun berusia 45 tahun. disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Pengajaran al-Qur’an pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.

itu tampaknya menjadi bagaikan sebuah injil atau al-Qur’an di mana setiap golongan yang mengalami konflik dapat menemukan sesuatu di dalamnya untuk mencapai tujuan golongannya. hlm. hlm.. 2005). juga sebagai sosiolog yang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap bidang pendidikan.82 Adapun karya-karya Ibnu Khaldun diantaranya adalah: a. Op. pertukangan. yaitu: Peradaban Umat Manusia Secara Umum (Sosiologi Umum). penghasilan. Cit. dinasti. cara memperolehnya dan mengajarkannya (Sosiologi Pendidikan). Muqaddimah Ibnu Khaldun yang ditulis berdasar pengalamannya yang kaya dan pemikiran yang realistis.43 Ibn Khaldun” dalam waktu yang relative singkat.. Hal ini antara lain terlihat dari pengalamannya sebagai guru yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Al-Ibar 80 Fathiyyah Hasan Sulaiman. hlm. kehidupan. bersama jabatan yang dipegangnya. khilafah. masyarakat Pengembara.80 yang mana di dalam karya tersebut terdapat 6 bab.81 Ibnu Khaldun meninggal pada tahun 1406 dalam usia 74 tahun. ilmu pengetahuan. 23 82 Abuddin Nata. 15 Fuad Baali dan Ali Wardi. selama lebih kurang 5 bulan. 223 81 . dan segala aspeknya (Sosiologi Industri). kabilah-kabilah dan etnis yang liar (Sosiologi Pedesaan). Op. pangkat pemerintahan (Sosiologi Politik). Cit. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama. kerajaan. Kini Ibnu Khaldun selain dikenal sebagai filosof. negeri dan kota (Sosiologi Kota.

Pada kitab ini berisi keutamaan ilmu sejarah. Awalnya kitab ini adalah lampiran dari al-I’bar dan kemudian berdiri sendiri pula. Muqaddimah Muqaddimah merupakan pendahuluan dari kitab al’ibar yang akhirnya berdiri sendiri. Com.83 b. karya ini terdiri dari tiga karya. peristiwa-peristiwa tertentu. Kitab ini berisi sejarah kehidupannya. . Karya Ilmiah Ibnu Khaldun (http: // www. sifat-sifat para penguasa. riwayathidup beberapa orang penting lainnya yang berhubungan dengan Ibnu Khaldun. Al-Ta’rif. mata pencaharian. yaitu karya itu sendiri. aliran-alirannya. diakses 25 Februari 2008) 84 Ibid. membahas tentang keadaan masyarakat. ilmu pengetahuan.44 Al-Ibar adalah karya Ibnu Khaldun yang utama. khutbah- 83 Riwayat Allasmaji.. pabrik dan hukum kausalitas. kemudian Muqaddimahnya yang terkenal dengan al-Muqaddimah dan akhirnya berdiri sendiri dari karya aslinya. sultan. kemudian yang ketiga adalah al-ta’rif bi Ibn Khaldun yang pada mulanya Ibnu Khaldun menjadikannya sebagai lampiran dari karya sejarahnya dan kemudian berdiri sendiri. Geoogle. dokumen-dokumen.84 c. serta mengidentifikasi kesalahan-kesalahan para penulis sejarah.

85 d. 87 Ibid. Di dalamnya juga dibahas tentang situasi sosial serta aturan-aturannya. Karya ini membahas tentang pemisahan antara jalan tasauf dan jalan syariah serta menguraikan tentang jalan tasawuf dan ilmu jiwa. Syifa’al-sail li Tahdhib al-Masa’il. Mengikhtisar karya Ibnu Rusyd dan menguraikannya kepada Sultan mengenai pandangan terhadap logika dengan cara yang menarik. membuktikan bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang ilmuan sejati yang mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan.86 Selain karya di atas. 86 . Karya tulis yang bermutu dan bernilai tinggi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa datang terutama di dunia pendidikan Islam. Dedikasinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat tinggi.45 khutbah. surat-surat dan kasidahyang dirangkai. Ibnu Khaldun juga mengikhtisar al-Muhassal karya Imam Fakhruddin al-Razi.87 3. Ibid. Ibnu Khaldun juga memberikan komentarnya terhadap al-Burdah dengan indah. Karya Ibnu Khaldun tersebut. menyusun karya aritmatika dan memberi komentar terhadap sebuah karya dalam bidang Ushul Fiqih dengan uraian yang bagus. Hal ini tercermin dengan minatnya yang besarterhadap penelitian-penelitain yang dituangkan ke dalam sebuah karya tulis. Pandangan Ibnu Khaldun Terhadap Kesanggupan Manusia Untuk Berfikir 85 Ibid.

kecakapannya memperoleh penghidupan dalam kehidupan dan kemampuannya mempelajari Tuhan yang disembahyang serta wahyu-wahyu yang diterima para Rasul-Nya. hlm. Tuhan mengaruniai manusia keunggulan di atas makhlukmakhluk-Nya yang lain. Dan sebagian lagi tidak tertib. yang terjadi melalui intensi-intensi mereka. 521 90 Abuddin Nata. Cit. Op. dan berhubungan dengan kekuasaan (qudrah) yang telah diberikan Allah.88 Allah membedakan manusia karena kesanggupannya untuk berpikir. Ahmadie Thoha (Jakarta: Pustaka Firdaus.. Sebagian dari tindakan itu ada yang teratur tertib. hlm..90 Adapun tindakan-tindakan yang muncul dari makhluk-makhluk hidup. 523 88 . Lewat berfikirnya tersebut. terj. melalui kesanggupannya untuk berpikir itulah. 2003). yang merupakan sumber dari segala kesempurnaan dan puncak segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluk lain.. tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. 224 91 Ibn Khaldun. hlm.91 Hal tersebut disebabkan karena pikiran (fikr) mengetahui tatanan yang terdapat di antara benda-benda yang ada (hawadits) baik secara alami Ibn Khaldun.. yaitu tindakan-tindakan makhluk hidup selain manusia. Cit. yaitu tindakan-tindakan manusia. manusia tidak hanya membuat kehidupannya. hlm.46 Ibnu Khaldun berkata dalam karyanya “Muqaddimah”: Mengenai kesanggupan manusia untuk berpikir sehingga membedakan jenisnya dari binatang. manusia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Op. Muqaddimah Ibn Khaldun. 521 89 Ibid.89 Oleh karena itu. sehingga semua binatang tunduk dan berada dalam kekuasaan-Nya.

dan permulaan pikiran merupakan akhir dari pekerjaan”. hlm. Binatang merasa hanya melalui inderanya. Di sini. Bila seseorang bermaksud membuat suatu benda. Fikr yang menjadi perantara bagi si pelaku untuk menemukan tatanan dari sesuatu yang dikerjakannya..94 Manusia adalah makhluk sosial. 525 . dan dia pun akan memulai mengerjakan fondasi. lalu dinding. atau hal-hal yang berhubungan dengan benda tersebut.92 Misalnya. Hanya pikiran yang mampu menimbulkan ikatan persepsi demikian. Dia tidak 92 93 akan mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur Ibid. ia harus mengetaui sebab atau akibat. 523 Ibid. pernyataan ini mengandung makna bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian. kemudian atap. Atap merupakan pekerjaannya yang terakhir. Dengan otaknya dia akan berpindah dari pemikiran tentang atap ke dinding yang akan menyanggahnya. pikirannya berakhir.47 maupun melalui cara yang dipersiapkan... 524 94 Ibid. Inilah arti kalimat : “ Permulaan pekerjaan merupakan akhir dari pikiran. seorang berpikir untuk membuat sebuah atap yang akan dijadikan tempat untuk bernaung.93 Lain halnya dengan aktifitas makhluk hidup selain manusia. hlm. Tindakan-tindakan mereka tidak teratur karena tidak adanya pikiran. dan eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. hlm. kemudian ke fondasi yang akan menjadi dasar bagi dinding itu. Persepsi-persepsinya berpencar-pencar dan tidak memiliki suatu ikatan yang saling berhubungan.

akan menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. nampak jelas pada kenyataan bahwa semua tindakan mereka teratur dan tidak menginginkan akibat buruk. saling berselisih. Berserikat dengan orang lain. akan membawa kepada sikap saling membantu. hlm.96 Siapa saja dapat belajar sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya. sehingga muncullah sikap saling membenci... harus dikenal apa yang buruk dan efek kesia-siaan dari tindakan melalui pengalaman yang benar dan adapt-istiadat yang sudah dikenal di kalangan mereka. Hasil dari kemampuan berpikir. karena Allah telah memberi ciri khusus kepada manusia untuk mengorganisir dan menata semua tindakannya dengan pikiran. sehingga dapat diketahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dia 95 96 Ibid. Tapi jika tujuannya berbeda. lalu berserikat serta hal-hal lain sesudahnya.95 Hal itu tidaklah terjadi secara serampangan saja sebagaimana yang terjadi pada dunia binatang. Namun. Dia dapat memperoleh pengetahuan dengan bantuan pengalaman dari banyak peristiwa yang terjadi dalam pergaulan. 526 Ibid. Manusia butuh bantuan dalam memenuhi kebutuhannya. pertama-tama. bila ada kesatuan tujuan. hlm. Pikiran membimbing pada manusia dari hal yang sia-sia kepada sesuatu yang berguna bagi keinginannya. dan dari kejahatan kepada kebajikan. 526 . mula-mula bantuan itu berupa konsultasi.48 kehidupannya dengan sempurna secara sendirian.

dia akan mengenal setiap masalah. 99 Ibid. maka adab yang paling tepat untuk bergaul akan diperolehnya. pengetahuan yang diperoleh mengenai hal-hal tersebut tidak cocok.49 lakukan. akan dididik oleh zaman”. para orang tua. dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman. dibutuhkan studi yang lama dan hati-hati untuk mnejadi ahli. barangsiapa tidak memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan dengan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh dan tidak mempelajari hal-hal itu dari mereka. kalau saja mau mengikuti pengalaman nenek-moyang. Hal-hal yang bergantung pada pengalaman membtuhkan waktu. dan belajar serta menerima pengajaran dari mereka. 98 Kata-kata yang terkenal: “ Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya. guru-guru. Mereka tidak akrab dengan masalahnya. maka dia akan mempelajari dengan bantuan alam. Tetapi. 527 Ibid. Tindak-tanduk dan pergaulan mereka dengan orang lain akan terencana dengan buruk dan nampak banyak keurangan.. Maksudnya.99 97 Ibid. 98 . hlm. Kadang Tuhan memudahkan manusia memperoleh pengetahuan sosial ini dalam waktu yang lebih pendek dibanding yang dibutuhkan dengan melalui pengalaman.97 Barang siapa mengikuti aturan tersebut dalam keseluruhan hidupnya. Dengan mengetahui hal ini. bagi mereka yang tidak mau belajar dan mengikuti orang lain.

ma’lumatnya sama sekali tidak dihinggapi kerancuan. Di dalam alam indera. yaitu: 1. kita berserikat dengan para Malaikat yang esensinya sama dengan esensi alam.. hlm. Alam yang ketiga ini dapat kita rasakan adanya di dalam hati kita. seperti kehendak dan kecenderungan menuju aktifitas. 528 ..101 Di atas alam manusia ada alam spiritual. semuanya itu adalah ilmu yang dicari. Alam persepsi sensual (persepsi indera). karena ia hadir dan dirasakan oleh persepsi secara jasmani dan rohani. Maka. 3. Adanya kemampuan berpikir yang merupakan kualitas khusus bagi makhluk manusia. Sedangkan ilmu manusia diperoleh gambaran objek yang diketahi esensi yang sebelumnya tidak diketahui. satu yang dapat kita rasakan dengan sebaik-baiknya. hlm. sedang di alam akal dan ruh. kita berada satu serikat dengan hewan-hewan. 529 Ibid. 2. Pengetahuan ini penting oleh fakta bahwa di dalam diri kita terdapat persepsi ilmiah yang berada di atas persepsi indera. Ilmu-ilmu akal murni selamanya diperoleh dan cocok secara watak bagi bermacam pengetahuan. yaitu berupa akal murni. Dari akal kita mnegetahui bahwa jiwa manusia itu ada. yang mana esensi yang dikandungnya dari impian-impian dan hal-hal yang tidak kita sadari dalam 100 101 Ibid.50 Manusia di dalam dirinya memiliki tiga alam100. dimana hewan-hewan berserikat dengan kita. Di antara ketiga alam tersebut. yaitu alam manusia.

103 Secara esensial manusia itu bodoh. yang mana hal tersebut akan menarik perhatian bila mimpi-mimpi yang benar sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. yang tidak berubah seakan-akan merupakan suatu disposisi alami yang telah Allah karuniakan pada mereka. Manusia adalah termasuk jenis binatang. tetapi Allah telah membedakannya dengan binatang karena kemampuan manusia 102 103 Ibid. 531 .. hlm.102 Jiwa manusia harus memiliki persiapan untuk lepas dari kemanusiaan ke Malaikat agar benar-banar menjadi sebagian dari Malaikat pada suatu waktu. Ini adalah alam Malaikat-Malaikat. tetapi kita mendapatkannya dalam keadaan tidur. jiwa menerima tugas-tugas yang harus disampaikan kepada sesamanya. Mereka menerima wahyu itu dalam kondisi ilahiyah tersebut. Nabi-nabi memberikan keterangan mengenai Tuhan dan menyampaikan wahyu demi memberi petunjuk kepada ummat. yakni yang berupa wahyu dari Allah. dan dalam keadaan yang sama kemanusiannya pun kembali lagi.51 keadaan terjaga. hlm. Esesnsi alam spiritual ini adalah persepsi murni dan pemikiran absolut.. 530 Ibid. maka tidak ada jalan untuk memberi bukti dan berkenaan dengan Tuhan. Keadaan alam spiritual ini tidak dapat dijelaskan secara terinci karena lemahnya bukti ilmiah tentang alam itu dan juga esensi spiritual ini tidak diketahui esensialnya. dan menjadi berilmu melalui pencarian pengetahuan. pada alam Malaikat. sebagaimana dituntut oleh pengetahuan para nabi akan Tuhan. Mereka melakukannya dengan cara khusus dan dalam sikap yang dikenal khusus bagi mereka.

532 Ibid. untuk memperoleh pengetahuan tentang ide-ide atau hal-hal yang bermanfa’at atau yang merusak baginya.F{$# ø z Artinya: “ (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.. dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. 105 Pada kondisinya semula.52 untuk berpikir.. karena dia tidak mengetahui semua pengetahuan. dan juga kemampuan itu membantunya untuk memperoleh persepsi tentang sesuatu yang maujud sebagaimana adanya baik yang ghaib atau pun yang nampak. (3) Bacalah. sebelum mencapai tamyiz. yaitu pada Q.104 Kemampuan manusia untuk berpikir baru diperoleh setelah sifat kebinatangan mencapai kesempurnaan di dalam dirinya. dan dengan kemampuannya tersebut dapatlah manusia mengatur tindakan-tindakannya secara tertib. (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.n=y{ “Ï%©!$# y7În/u‘ ÉΟó™$$Î/ ù&tø%$# t ∩∈∪ ÷Λs>÷ètƒ óΟs9 $tΒ z≈|¡ΣM}$# zΟ=tæ ∩⊆∪ ÉΟn=s)9$$Î/ Ο=tæ “Ï%©!$# ∩⊂∪ ãΠtø. manusia adalah materi seluruhnya (huyuly).n=y{ ∩⊇∪ t. hlm.S al-‘Alaq: 1-5 y7š/u‘uρ ù&tø%$# ∩⊄∪ @. yakni dimulai dari kemampuannya untuk membedakan (tamyiz). 533 106 Ibid. 105 . hlm.106 Perhatikan firman Allah pada permulaan wahyu-Nya kepda Nabi Muhammad. Maka kesempurnaannya pun mencapai kesempurnaan eksistensinya. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan (‘ilm) yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran 104 Ibid.n=ã ôÏΒ z≈|¡ΣM}$# t.

109 Kebiasaan (malakah) semuanya bersifat jasmaniah. 109 Ibid. Cit. karenanya membutuhkan pengajaran. sudah dinyatakan anugrah Tuhan atas manusia. (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. sebelumnya dia merupakan segumpul darah dan daging. seperti aritmatika. Kebiasaan (malakah) semata-mata dan eksklusif dimiliki sarjana atau orang yang benar-benar mendalami disiplin ilmu pengetahuan. Loc. baik itu kebiasaan yang ada pada tubuh. 535 110 Ibid.. Pemahaman akan suatu masalah yang termasuk bagian dari disiplin ilmu yang tunggal. bisa kita peroleh sama bagus hasilnya dengan mereka yang benar-benar mendalami disiplin ilmu tersebut.” Maksud dari ayat tersebut adalah Allah telah mengusahakan ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia. Tabiat dan watak manusia menyingkap kebodohan asal dan ilmu carian (al-‘ilm ul-kasby) yang ada padanya. diberutahu mengenai mula martabat eksistensinya. atau yang ada pada otak sebagai hasil kemampuan manusia untuk berpikir.108 Kebiasaan berbeda dengan pemahaman dan pengetahuan melalui hapalan. Dan semua benda jasmaniah adalah sensibilia.53 kalam107. hlm.110 107 108 Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Dalam wahyu pertama. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan (malakah) berbeda dengan pemahaman (fahm). yaitu kemanusiaan dan kefua kondisinya yang fitri. Ibn Khaldun. .

hlm. Pembagian Ilmu Pengetahuan Menurut Ibnu Khaldun Ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun merupakan kemampuan manusia untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berpikir. yaitu pikiran yang memperlengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang lain. al-‘aql al-tamyizi. yaitu pemahaman intelektual manusia terhadap segala sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam tatanan alam yang berubah. yaitu pikiran yang memperlengkapi manusia dengan pengetahuan mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi indra tanpa tindakan praktis yang menyertainya.112 Ada tiga tingkatan proses berpikir menurut Ibnu Khaldun. al-‘aql al-tajribi. Inilah cara yang mampu menjernihkan persoalan dan menumbuhkan pengertian. yaitu: Tingkatan pertama. al-‘aql al-nazhari. Proses berfikir seperti ini disebut sebagai af’idah. Tingkat ketiga. dengan maksud supaya manusia mampu menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri. 537 Toto Suharto..54 Metode paling mudah untuk memperoleh malakah ialah dengan melalui latihan lidah guna mengungkapkan pikiran-pikiran dengan jelas dalam diskusi dan perdebatan masalah-masalah ilmiah. 111 112 Ibid.111 4. . Tingkatan kedua. Cit. Loc.

114 Ilmu pengetahuan yang diselami orang di kota-kota ada dua macam. dan satunya lagi bersifat tradisional (naqly) dimana manusia memperolehnya dari orang yang menciptakan. 2. yaitu: satu sifatnya alami bagi manusia yaitu dengan melalui bimbingan pikirannya. kebudayaan dan kemewahan yang dinikmati dikota-kota. yaitu ilmu yang bersifat alami yang diperoleh manusia melalui kemampuan berpikirnya.. metafisika.Op. Ilmu pengetahauan hanya tumbuh dalam peradaban dan kebudayaan yang berkembang pesat. fisika. Ilmu-ilmu ini mencakup empat ilmu pokok (logika. ilmu nahwu. dan matematika). hlm. ilmu qira’at. dan berbagai ilmu alat yang menyertainya (ilmu bahasa. tasawuf. 541 115 Ibid. hlm. yaitu ilmu berdasarkan otoritas syariat yang dalam batas-batas tertentu. ilmu balaghah). Kualitas dan jumlah keahlian tergantung pada besar atau kecilnya luas peradaban (‘umran). karena pengajaran ilmu merupakan salah satu keahlian dan keahlian-keahlian hanya tumbuh pesat di kotakota.. ilmu hadits. 543 . yaitu: 1. Cit . Al-‘ulum al-‘aqliyyah. Ilmu-ilmu ini mencakup: ilmu tafsir.115 113 114 Ibn Khaldun.55 Ibnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan dalam 2 kategori113. hlm. ilmu kalam. ilmu ushul fiqih dan fiqih. 543 Ibid. Al-‘ulum an-naqliyyah.

karena bahasa Arab adalah bahasa agama Islam. hlm.116 Macam yang kedua adalah ilmu-ilmu tradisional (al-‘ulum annaqliyyah al-wadl’iyyah) yang semuanya bersandar pada informasi berdasarkan autoritas syari’at yang diberikan. hlm.117 Dasar dari semua ilmu tradisional ini adalah materi sah dari alQur’an dan as-Sunnah. dan metode pengajaran sehingga mengetahui perbedaan antara yang benar dan yang salah di dalam ilmu-ilmu filsafat tersebut berdasar pemikirannya sendiri.. Manusia memperoleh ilmu-ilmu itu melalui kemampuannya untuk berpikir yang sudah merupakan watak baginya dan dengan persepsi-persepsi manusiawinya ia terbimbing kepada objek-objek dengan problema argument. untuk mendalami ilmu-ilmu tradisional tersebut dibutuhkan ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu bahasa Arab. 119 Ibid.56 Macam yang pertama itulah ilmu-ilmu filsafat. kecuali bilaman akal dipergunakan untuk mneghubungkan persoalan-persoalan detail dengan prinsip-prinsip dasar (ashl). 545 117 . dan al-Qur’an pun diturunkan dalam bahasa Arab. 544 118 Ibid..118 Macam-macam ilmu tradisional diantaranya adalah:119 116 Ibid. di dalamnya tidak ada tempat untuk akal (intelek). Ibid. yaitu hukum yang telah disyari’atkan kepada kita oleh Allah dan Rasul-Nya.

Beban-beban tanggungjawab (takalif) ada yang bersifat badani dan ada yang bersifat qalbi. 5. dan membicarakan perawi-perawi yang menukilkannya. Ilmu Tafsir. 2. masalah siksa.57 1. serta mengetahui hal ihwal serta keadilan mereka untuk menemui kebenaran objektif mengenai informasi-informasi mereka. 6. Fiqih. Inilah dia aqidah-aqidah keimanan mengenai esensi (zat) dan sifaty-sifat. Ilmu Kalam. 4. adalah ilmu yang mengkaji al-Qur’an yakni dengan menerangkan lafadz-lafadznya. 3. Ilmu Qira’at. Melalui ilmu kalam . Ilmu-ilmu Hadits. dan masalah taqdir. serta apa yang wajib diyakini dan apa yang tidak. masalah surga. adalah ilmu yang di dalamnya menerangkan tentang perbedaan riwayat-riwayat para pembaca di dalam membaca alQur’an. Ushul Fiqih. dengan menyandarkan Sunnah kepada Nabi Muhammad Saw. dari prinsip-prinsip dasarnya harus ditarik kesimpulan hukum-hukum melalui aspek hukum legal yang berguna untuk sampai kepada bagaimana kesimpulannya (istimbath). taklif yang bersifat qalbi adalah taklif yang dikhususkan berkenaan dengan keimanan. setelah mempelajari ushul fiqih dicapailah sebuah pengetahuan hukum-hukum Allah pada tindakan-tindakan kaum Muslimin yang telah dibebani tanggungjawab. dengan mengetahui apa yang harus dikerjakan berdasar tuntutan daripadanya. dan persoalan-persolan hari dukumpulkannya manusia.

Para filosof dapat mempelajari substansi elemental yang dapat dirasa dengan indera. Ilmu-ilmu inilah yang digunakan sebelum memulai pengkajian terhadap al-Qur’an dan alHadits haruslah seseorang lebih dahulu membekali diri dengan ilmu bahasa. Ilmu Nahwi. 2. sebab keberhasilan dan kebenaran pengkajian itu amat tergantug kepada ilmu-ilmu tersebut. dan Ilmu Adab. 649-651 . diantaranya adalah:120 1. benda-benda angkasa. 120 Ibid. seperti: benda-benda tambang. Metafisika. Ilmu Logika (manthiq). yang berasal dari berbagai fakta yang tersedia..58 dapat memberikan pembuktian terhadap persoalan-persoalan berdasar dalil-dalil logis. gerakan alami. binatang yang diciptakan dari substansi-substansi elemental. tumbuhtumbuhan. Ilmi ini untuk menghindarkan kesalahan pemikiran dalam proses penyusunan fakta-fakta yang ingin diketahui. Ilmu yang mempelajari masalah-masalah spiritual. Faedahnya memberikan kemungkinan bagi penuntut ilmu untuk membedakan yang benar dari yang salah. 7. Macam-macam ilmu yang menggunakan alat berpikir (al-‘ulum al‘aqliyyah). 3. hlm. dan jiwa yang merupakan asal dari gerakan. Ilmu Lughah. Ilmu Fisika.

gerakan-gerakannya. c. Ilmu ini mempelajari ukuran-ukuran secara umum. Matematika. Hasilnya merupakan pengetahuan teng nada-nada musik. ada yang terputus seperti yang berbentuk angka-angka. posisi dan jumlah planet dan bintang tertentu. mencakup empat macam. Musika. dan dengannya memungkinkan mempelajari semuanya ini dari gerakan bendabenda dilangit yang kelihatan terdapat di setiap ruang angkasa. yaitu angka.59 4. . atau bersambung seperti bentuk-bentuk geometris. yang bermanfaat baginya untuk berpikir dan untuk memperoleh pengetahuan yang ilmiah. yaitu: a. Astronomi. Pengetahuan tentang sifat-sifat essensial dan assidental daripada kwantitas yang terputus. Ilmu ini studi tentang berbagai ukuran. Geometri. Di dalamnya Allah telah menciptakan persepsi. Aritmatika. b. prosesi dan resesinya. Pengetahuan tentang ukuran suara dan nada serta pengukurannya dengan angka-angka. Pertamatama dimulai dengan proses (tashawwur) terhadap realitas-realitas dan kemudian dilanjutkan dengan penegasan atau negasi penyangkalan. d. Perbendaharaan ilmu manusia adalah jiwa manusia sendiri. Ilmu yang menetapkan bentuk daerah angkasa.

sebagai kombinasi berbagai jenis suara agar berbagai pemikiran dapat dikomunikasikan satu sama lain melalui pembicaraan. 122 .121 Kemampuan manusia berpikir pun akhirnya melahirkan situasi problematika yang manusia tersebut mencoba untuk memecahkannya secara afirmatif atau negatif. Tulisan adalah gambargambar yang dibuat dengan tangan. maka ia harus dikomunikasikan kepada orang lain.. Meskipun sebagian besar dan bagian paling mulia daripadanya adalah ilmu pengetahuan. atau orang yang tidak hidup semasa dengannya dan tidak pernah bertatap muka dengannya. melalui pengajaran atau diskusi.60 atribut-atribut esensial rentetan realitas. 742 Ibid. namun ia mencakup setiap pernyataan atau ungkapan hati secara umum yang masuk dalam pikiran.122 Komunikasi tersebut berlangsung dalam dua tingkatan. 123 Ibid. atau secara badani berada jauh letaknya. atau kepada seseorang yang hidup sesudahnya. yaitu: 1.123 2. yaitu suatu pembicaraan melalui kata-kata ucapan yang diciptakan Allah di dalam tubuh manusia. hlm. baik langsung maupun melalui sesuatu perantara. Komunikasi atau penyampaian pemikiran seseorang kepada orang lain yang tidak terlihat. Komunikasi jenis ini tercakup dalam tulisan. yang bentuk-bentuknya dibuat 121 Ibid. mengasah pikiran dengan mencoba menunjukkan kebenaran. Apabila suatu gambaran ilmiah telah tertanam dalam pikiran melalui berbagai usaha ini. Ekspresi Verbal.

126 Ibid. Menyimpulkan suatu ilmu pada pokok persoalannya. yaitu ilmu-ilmu (‘ulum) dan pengetahuan-pengetahuan (ma’arif). Seorang sarjana boleh jadi pernah menemukan hasil diskusi dan sejumlah karya para sarjana terdahulu yang sukar dimengerti. menyimpulkan berbagai problema dan topik riset untuk dihadapkan pada seorang sarjana kompeten dan yang ingin disampaikannya kepada orang lain. hlm.. Orang-orang yang melakukan hal itu adalah para pengarang. hlm..126 2. 743 Ibid. mereka pun mengkomunikasikan pikiran melalui medium pembicaraan.125 Tujuan karang-mengarang. Karenanya. yang harus ditunjang dan dianggap berlaku terbatas pada tujuh hal: 1. dapat mengambil manfaat daripadanya. tulisan berada pada tingkatan kedua dari komunikasi. Maka. Komunikasi tingkat kedua ini memberikan informasi tentang bagian termulia dari pemikiran. 745 125 . menunjukkan huruf-huruf (bunyi-bunyi) dan kata-kata dari perkataan. atau hidup pada masa-masa kemudiannya. Atau. supaya dapat diketahui dan bermanfaat bagi khalayak. supaya orang yang tidak hadir. Inilah 124 Ibid. pembagiannya ke dalam bab-bab dan pasal-pasal. dan pembicaraan tentang berbagai problemnya.61 dengan aturan (konvensi).124 Para sarjana memberikan perhatian akan penyimpanan berbagai hasil pemikiran ilmiah mereka di dalam buku-buku yang ditulis.

kurang berisikan problema-problema atau sesuatu detail dengan pembagian pokokpokok permasalahannya.128 4. Sehingga mendorong seseorang mencoba mengarang suatu ringkasan dan pilihan yang tepat. 746 130 Ibid. 129 Ibid. dan sebagai pokok persoalan yang berbagai problemanya harus dikumpulkan. Berbagai problema suatu ilmu tertentu boleh jadi disusun secara tidak tepat dan tidak teratur susunan bab-babnya. Sebagai sarjana terkemuka berkeinginan mengetahui pokok persoalan disiplin ilmu tersebut sebagai suatu pokok persoalan yang sebenarnya. 127 Ibid. Tulisan yang terhimpun dalam karya-karya induk para sarjana mungkin jadi terlalu panjang dan bertele-tele.. sarjana yang melihat kenyataan ini berkeinginan menyusun dan memperbaiki masalahmasalahnya. dan sebagai pokok persoalan yang sebenarnya.131 7. 131 Ibid. Beberapa sarjana yang datang kemudian mungkin menemukan suatu kekeliruan dari pembahasan atau pembicaraan para sarjana terdahulu yang jasa dan otoritasnya sebagai guru termasyhur. 128 . Suatu disiplin ilmu tertentu boleh jadi tidak lengkap. dan kemudian meletakkan setiap masalah pada babnya. ma’qul dan manqul. Problema-problema sesuatu ilmu boleh jadi terpencar-pencar pada babbab yang lebih tepat bagi disiplin ilmu yang lain.129 5. hlm.62 pendekatan bersifat penafsiran terhadap buku-buku ilmiah mutakhir dan tradisonal. Ibid.127 3..130 6.

ilmu balaghah dan syair). ilmu hadits. ilmu ushul fiqih dan fiqih. 133 . Namun. hlm. Cit.63 menyisihkan semua pengulangan. ada tiga kategori kurikulum yang perlu diajarkan kepada peserta didik. orang itu memang harus berhati-hati agar tidak melenyapkan hal-hal yang esensial. dan matematika). Kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman (ilmu bahasa. Ibnu Khaldun menasihatkan agar kurikulum yang pertama diajarkan kepada peserta didik adalah matakuliah bahasa Arab dan syair. 133yaitu: 1. tasawuf). 249 134 Ibid. metafisika. setelah itu baru mempelajari prinsip-prinsip Islam. karena membaca apa yang tidak dipahaminya. fisika.. mengucapkan kata-kata tanpa 132 Ibid. yaitu matakuliah yang menjadi pendukung untuk memahami Islam (logika. 2. Op. ilmu qira’at.134 Ibnu Khaldun melihat bahwa memulai dan mendahulukan pengajaran ilmu-ilmu lain seperti al-Qur’an dan ilmu-ilmu Agama dari pengajaran bahasa Arab akan membingungkan anak. diteruskan dengan mempelajari Al-Qur’an. Kurikulum Sekunder. 3. yaitu matakuliah yang menjadi inti ajaran Islam (ilmu tafsir. sehingga maksud dan pengertian yang sesungguhnya dari pengarang yang pertama tidak menjadi hilang.. 747 Toto Suharto. Kurikulum Primer. ilmu nahwu.132 Menurut Ibnu Khaldun. hlm. ilmu kalam.

hlm. pengungkapan menjadi terhalang. Tanpa menguasai bahasa. Cit.. sehingga proses mengajar dan belajar menjadi proses sulit yang penuh hambatan. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa ia mendahulukan pendapat dalam memprioritaskan memulai mempelajari bahasa Arab ini karena ia melihat beberapa ahli bahasa yang menguasai subject mereka tetapi tidak baik dalam mengungkapkan gagasan-gagasan mereka dengan cara yang benar. Kekurangan dalam pengungkapan pemikiran. hingga anak didik dapat memahami apa yang ia baca dan mengungkapkan dengan teliti tentang apa yang dipikirkannya. 71-72 .. yang membawa kepada pemikiran ilmiah yang teliti.Hal tersebut dijelaskan oleh fakta melalui riset-riset ilmiah berkenaan gagasan pikiran dan imajinasi hal tersebut berlaku terhadap ilmu-ilmu syari’ah di mana risetnya 135 136 Fathiyyah Hasan Sulaiman. Dengan demikian. hlm.136 Bahasa seseorang yang pertamanya bukan bahasa Arab ini bukanlah sebagai akibat kekurangan dalam mendapatkan Kesukaran memperoleh ilmu pengetahuan. dibandingkan yang berbicara dengan bahasa Arab sejak awal.64 gramatika dan mencampurbaurkan pengertian.135 Di antara prinsip-prinsip penting yang ditunjukkan oleh Ibnu Khaldun dalam menyusun kurikulum adalah penegasannya akan kemestian pengajaran prinsip-prinsip bahasa Arab dan menjadikannya sebagai pokok untuk semua pelajaran. 63 Ibid. terhalang pula pemindahan gagasan-gagasan dari seorang ke orang lain. Pendapat Ibnu Khaldun ini juga merupakan pendapat yang benar. Op.

dan riset ilmuah yang konstan.. hlm. sukar baginya untuk memperoleh ide-ide dan melepaskan diri dari kesukaran-kesukaran lazim yang berkaitan dengan penyelidikan.65 kebanyakan berkenaan dengan pengertian kata-kata yang materi-materinya berupa hukum-hukum yang diperoleh dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang mempelajari ide-ide harus menggalinya dari kata-kata yang mengungkapkannya. Untuk itu seseorang membutuhkan pengetahuan linguistik dan keahlian berbahasa. pengajaran ta’lim. hlm. 771-772 . dan memberinya kesan yang final. dan warna-warna yang 137 138 Ibn Khaldun. 771 Ibid.Op. dan menjadi penghubung antara ide-ide. Hal yang sama juga berlaku terhadap sains. Jika tidak. Hal ini terjadi sebagai berikut: jiwa adalah satu kesatuan yang menunggal dengan manusia sesuai wataknya yang alami.137 Ungkapan linguistik hanya merupakan interpretasi terhadap ide-ide yang adanya di dalam pikiran. tergantung pada besar kecilnya intensitas hubungannya dengan persepsi-persepsi. keahlian yang diperoleh akan lebih meningkat..138 Kualitas pemakaian bahasa seseorang dari generasi sesudahnya tergantung kepada kualitas bahan yang dipelajari atau yang dihafal. Tapi ia berbeda-beda pada setiap manusia. Seseorang menyampaikannya kepada orang lain melalui diskusi. Dengan meningkatkan bahan sastra yang dihafal atau dikuasai. Kata-kata dan ungkapan merupakan media dan tabir-tabir antara ide-ide. dan kekuatan suatu keahlian tumbuh dengan pemupukan. Perbedaan jiwa ini adalah akibat dari perbedaan persepsi. Cit. keahlian.

Kondisi ini menyebabkan eksistensinya berlangsung dan mentransformasikan bentuknya dari potensialitas ke aktualitas. tidak lain dari usaha kulit luar. hlm. 140 Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pendidikan agama dan budi pekerti tidak ditumbuhkan kecuali dari kecil. Cit. tanpa kedalaman. Keahlian balaghah tingkat tinggi diperolehnya hanya dengan menghafal bahan bahasa tingkat tinggi. 73-74 140 . 823-824 Ibid. 824 141 Fathiyyah Hasan Sulaiman. khususnya melalui kehidupan keagamaan yang saleh dan utama yang dihayati oleh keluarga..66 mengkondisikannya dari luar. Konsep Belajar dan Metode Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan manusia disamping harus sungguh-sungguh 139 Ibid.141 5. atau usaha menanamkan keutamaan dalam dirinya melalui penghafalan al-Qur’an sejak dini. dan di masyarakat. Op.. Itu dilakukan oleh anak di rumah.139 Baik dan buruknya kualitas suatu keahlian tertentu tergantung kepada kondisi tempat keahlian itu timbul. Sedikit sekali yang membawa hasil besar dengan penghafalan anak kecil terhadap ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang diulang-ulang seperti “burung Beo” tanpa betul-betul memahami pengertian dan kandungannya yang jauh melampui tingkatan pemikirannya. di sekolah.. hlm. hlm. Sedangkan usaha untuk menjadikan anak kecil taat beragama.

67 juga harus memiliki bakat. Menurutnya dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan.143 2. Loc. Cit. yaitu: 1. Pendidik mengambil point-point yang beraneka ragam dalam 142 143 Abuddin Nata. Fathiyyah Hasan Sulaiman. Murid belajar dengan memulai dari pengetahuan-pengetahuan umum yang sederhana dengan topik yang dipelajarinya. kecuali setelah mempelajari tabiat akal manusia dan perkembangannya mulai dari kecil hingga dewasa.142 Ibnu Khaldun menandaskan bahwa proses pengajaran tidak akan berhasil dengan baik. Op. Ibnu Khaldun menganggap langkah ini sebagai persiapan untuk memasuki langkah atau tahapan kedua. Cit. Berhasilnya keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran. Begitulah murid akan sampai kepada taraf pertama proses belajar yang sangat sederhana. 78 . akan tetapi tarafnya lebih tinggi dari taraf yang disajikannya pada langkah pertama. Guru kembali menyajikan kepada murid pengetahuan yang sama.. tetapi bakat. serta memperhatikan apakah pengetahuan tersebut sesuai dengan taraf pemikiran murid. Menurut Ibnu Khaldun metode pengajaran sepantasnya melalui tiga langkah. sehingga tidak berada di luar kemampuan persepsinya. serta mempelajari metode yang dipergunakan manusia untuk belajar. Jadi Ibnu Khaldun menghendaki bahwa seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap.hlm.

hlm. Dengan demikian anak didik akan sampai pada taraf persepsi yang lebih tinggi.. Metode yang tidak memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut berpartisipasi positif dan efektif dalam menerima pelajaran seperti ini menurut pandangan pendidikan dewasa ini. mencakup dan mendalam pada segala segi. Pendidik kembali untuk ketiga kalinya mengajarkan topik yang sama secara terperinci.144 3.145 Metode pengajaran yang dianjurkan Ibnu Khaldun juga membuat pendidikan harus betul-betul menguasai suasana.. Dalam hal ini posisi anak didik adalah pasif dan kegiatan seluruhnya berada di tangan pendidik. hlm. kemudian mengulangi dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih tinggi pada langkah kedua. karena ia tidak membantu mengembangkan pemikiran. 146 Ibid. dan lebih rinci dalam pembahasan.146 Keahlian dalam pengajaran ilmu pengetahuan karena ketrampilan dalam suatu sains (pengetahuan) akan aspeknya yang beragam serta penguasaan atasnya merupakan akibat dari kebiasaan yang memberikan 144 Ibid. Ialah yang membentangkan ilmu pengetahuan dan menempatkannya dalam bentuk sesuai dengan penguraiannya pada langkah pertama. disbanding bila anak didik melakukan usaha sendiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. 79 Ibid. 81 145 .68 pelajaran itu dengan memberikan penjelasan dan keterangan tidak secara global.

Cit. serta untuk memahami problemnya dan menguasai detailnya yang bersifat prinsipil. 246 148 . Ibnu Khaldun menulis: Wahai muta’alim. Cit. Op.. Cit. kamu akan mendapatkan suatu manfa’at yang besar dan mulia. saya dapat katakan kepadamu bahwa kemampuan berpikir manusia adalah suatu anugrah khusus yang Allah ciptakan baginya149 Peserta didik yang berada dalam taraf wildan. terhadap peserta didik yang berada dalam taraf muta’allim disarankan agar 147 Ibid. ketauhilah bahwa saya di sini akan memberi petunjuk yang bermanfa’at bagi studimu.. Bila kebiasaan tersebut tidak dicapai..150 Sedangkan. Apabila kamu menerimanya dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh. hlm. 754 150 Toto Suharto. Sebagai pendahuluan yang akan membantumu memahaminya. Ibnu Khaldun menganjurkan agar ta’lim diberikan dengan metode al-qurb wa almulayanah (kasih sayang dan lemah lembut). 244 149 Ibn Khaldun. Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya telah memberikan beberapa petunjuk bagaimana seorang muta’alim bisa berhasil dalam studinya..69 kemungkinan bagi pemiliknya untuk menguasai semua prinsip dasar dan kaidah-kaidahnya. Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai yang belajar (muta’alim) atau seorang anak yang perlu bimbingan (wildan). 534 Toto Suharto.Op. hlm.147 Satu hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam kegiatan mengajarnya adalah tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain. hlm.148 Pada sisi lain. Op. maka ketrampilan dalam suatu disiplin khusus tidak mungkin di peroleh. hlm.

baik psikis maupun fisik. setapak demi setapak. pelajar yang bersangkutan telah memperoleh suatu keahlian dalam cabang ilmu yang dipelajarinya.Op. c.151 Menurut Ibnu Khaldun sikap yang benar dalam pengajaran. hlm. danmengangkat pengajaran kepada tingkat yang lebih tinggi. Guru mengajarkan kepada muridnya problem-problem yang prinsipil mengenai setiap cabang pembahasan yang diajarkan. Bila dengan cara ini seluruh pembahasan pokok telah dipahami.70 pendidikan dilakukan dengan metode yang memperhatikan kondisi peserta didik. tetapi harus membahas segisegi yang menjadi pertentangan dan berbagai pandangan yang 151 152 Ibid. ta’lim ilmu-ilmu pengetahuan dan metode mengajarkannya. adalah: a. b. 752 . 751 153 Ibid. hlm. 247 Ibn Khaldun. Keterangan-keterangan yang diberikan haruslah bersifat umum dan menyeluruh dengan memperhatikan kemampuan akal dan kesiapan pelajar memahami apa yang diberikan kepadanya.. Mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanya akan efektif bila dilakukan dengan berangsur-angsur. hlm. Kali ini guru tidak boleh puas hanya dengan cra pembahasan yang bersifat umum saja..152 Adapun tahap-tahap yang seharusnya dilakukan oleh guru dalam pengajaran adalah:153 a.. guru berkewajiban untuk kembali kepada pembahasan pokok. dan sedikit demi sedikit. Selanjutnya. Cit.

Tetapi apabila dihadapkan pada banyak masalah sekaligus. Akibat lebih jauh.71 berbeda. sehingga pembahasan keseluruhannya dapat diliput dan keahlian pelajar yang bersangkutan lebih disempurnakan. Pada tahap ini guru diperbolehkan untuk menerangkan seluruh materi hingga memungkinkan murid mencpai keahlian yang sempurna. Pada suatu saat pelajar yang sudah telatih tersebut harus diarahkan kepada masalah pokok yang dibahas. dan akhirny akan meninggalkan ilmu yang sedang dipelajari.154 154 Ibid. Seorang murid yang telah memperoleh keahlian dalam salah satu cabang ilmu pengetahuan akan lebih siap mempergunakan keahliannya tersebut pada cabang ilmu pengetahuan lain. Tindakan ini membuat pelajar menguasai betul-betul buku pelajaran yang dipelajari dan memperoleh dari padanya suatu keahlian yang bisa bermanfaat untuk mendalami berbagai masalah lain. maka pelajar tersebut tidak akan sanggup memahami semuanya. 753 . lalu putus asa. hlm. otaknya akan jemu dan tidak sanggup untuk bekerja. d. Tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain.. Hal tersebut akan lebih banyak mengembangkan keinginan belajarnya disamping keahliannya akan meningkat lebih tinggi sehingga pemhamannya akan ilmu pengetahuan secara menyeluruh akan tercapai. b.

Sebab. Hal tersebut akan menimbulkan sifat pelupa pada murid. hlm.. misalnya dengan tidak mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan sekaligus. hlm.72 c. yang akan lebih mempersukar lagi perolehan keahlian dalam ilmu yang bersangkutan. terserap dalam pikiran dan tercamkan.155 4. Guru tidak terlalu lama melantur pada suatu masalah dan satu buku sehingga mengganggu jadwal belajar dengan tidak semestinya.156 155 156 Ibid. maka berbagai keahlian akan lebih mudah dicapai dan lebih mantap. 754 . 753-754 Ibid. Metode yang dipergunakan dalam pengajaran haruslah menghindarkan dari hal-hal yang dapat membingungkan si murid. apabila seluruh permasalahan sejak permulaan sampai akhir. karena diperoleh melalui pengulanganpengulangan tindakan dan kajian lanjutan. Karena itu. Sebab dengan mengajarkan dua cabang ilmu pengetahuan sekaligus akan membuat perhatian murid terbagi dan terganggu oleh satu dari yang lainnya. bila tindakan tersebut dilupakan maka keahlian yang dihasilkan juga akan dilupakan. sehingga menceraiberaikan dan membuat terputus-putusnya berbagai bagian ilmu yang sedang dipelajarinya..

Kekerasan membuka jalan ke arah kemalasan dan keserongan. Hal tersebut menyebabkan anak didik menjadi lupa apa yang dipelajarinya. Tetapi jangan pula terlalu lemah lembut. tindak-tanduk dan ucapannya berbeda dengan apa yang ada dipikirannya. karena takut mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan bila murid tersebut mengatakan yang sebenarnya.Op. maka.157 Hukum yang keras di dalam pengajaran akan berbahaya pada si murid. dengan cara itu murid akan diajari licik dan menipu yang kemudian akan menjadi kebiasaan dan watak dalam jiwa. 763 .73 5. 158 Guru-guru hendaknya tidak memperlakukan muridnya secara kasar atau dengan paksaan dalam melakukn pengajaran. Misalnya. penipuan. hlm. 82 Ibn Khaldun. Cit. Mereka merasa dirinya kecil dan tidak mau berusaha menjadi manusia yang sempurna.. karena hal tersebut termasuk tindakan yang dapat menyebabkan timbulnya kebiasaan buruk. Op. khususnya bagi anak-anak kecil. karena hal tersebut akan membiasakan murid untuk 157 158 Fathiyyah Hasan Sulaiman. hlm.. Menghindari terputusnya pelajaran antara satu dengan yang lain dalam jangka waktu yang panjang. akibat lamanya jarak waktu antara satu pelajaran dengan pelajaran yang lain. Cit. yang mana jiwanya menjadi malas dan enggan memupuk sifat keutamaan dan keluhuran moral. Kekasaran dan kekerasan dalam pengajaran dapat menguasai jiwa dan mencegah perkembangan pribadi anak yang bersangkutan. dan kelicikan.

159 160 ilmu yang diperoleh tersebut akan memperkukuh Ibid.159 Tidak dapat dipungkiri peserta didik adalah manusia merdeka. 764 Riwayat Allasmaji. peserta didik adalah manusia dan ingin dianggap dan diperlakukan selayaknya manusia.160 Pendidikan sarjana akan lebih sempurna dengan pergi menuntut ilmu dan menemui guru-guru paling berpengaruh. karena semakin banyak jumlah guru yang dihubungi langsung oleh seorang murid maka semakin dalamlah tertanam keahliannya. pelajar yang bersangkutan tersebut akan dapat menarik kesimpulan keilmuan daripadanya.. Loc. jiwajiwa yang memendam dendam dan bara perlawanan. hlm. 765 .74 hidup santai. perbaiki dia dengan kasih sayang dan lemah lembut.Op. 161 Ibn Khaldun. Mungkin suatu saat nanti jiwa-jiwa yang terjajah tersebut juga kan menjajah orang lain yang dianggapnya lemah dan berada di bawah kekuasaannya. Selanjutnya. Cit.161 Pelajar yang bersangkutan juga harus mengadakan kontak personal dengan guru-guru berbagai bidang keilmuan. Bertatap muka dan bertemu wicara dengan para sarjana dan guru akan memberikan manfaat keilmuan masing-masing bidang termasuk memperbedakan satu istilah dengan yang lainnya. hlm. manusia membutuhkan kasih sayang.. Pembelajaran dengan kekerasan hanya akan meninggalkan jiwa-jiwa yang terjajah. Sebisa mungkin. serta kemudian memahami bahwa istilah dan metode hanyalah alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Keahlian yang diperoleh melalui kontak personal dengan guru biasanya lebih kokoh dan lebih berakar. Cit.

Banyaknya buku ilmu pengetahuan yang ditulis merupakan penghambat memperoleh ilmu pengetahuan. Keahlian dan keluasan pandangan memang hanya dapat diraih melalui kontak personal yang intensif dengan para guru dari beragam disiplin ilmu. Salah satu hal yang merintangi dan membahayakan manusia memperoleh ilmu pengetahuan dan mencapai ilmu pengatahuan yang seksama adalah banyaknya jumlah buku yang ditulis .163 Para pelajar memang harus menghapal dengan sungguhsungguh semua buku-buku tersebut atau sebagian besar daripadanya.. serta beragamnya metode yang dipergunakan di dalamnya.162 Adapun hal-hal Yang Menghambat Proses Belajar Menurut Ibnu Khaldun.75 keahliannya. 765 Ibid. hlm. disamping harus meneliti pelbagai macam metode yang dipergunakan di sana. Seluruh usianya tampaknya tidak akan cukup untuk mengetahui semua literature yang terdapat di dalam sebuah disiplin 162 163 Ibid. Pengetahuan yang dimilikinya akan memperteguh dirinya dan mampu memperbandingkan dengan bidang keilmuan lain. Karena itu para pelajar dituntut memiliki kesiapan pengetahuannya.. berbedabedabya istilah-istilah yang diperlukan dan dipakai untuk pengajarn. hlm. di antaranya adalah: a. 748 .

Ternyata pengaruhnya berakibat merusak terhadap proses pengajaran dan mengganggu usahausaha menimba ilmu pengetahuan. Sebab para pelajar pemula dengan serta merta dihadapkan pada bagian-bagian yang paling lanjut dari permasalahan pokok yang dibahas..164 b.76 ilmu. teks buku-buku ringkasan itu cukup menyukarkan dan 164 165 Ibid. untuk mempermudah para pelajar menghafalnya. Mereka harus menguraikan sejumlah persoalan yang tersembunyi di balik kata yang digunakan. Padahal untuk itu mereka belum siap. meskipun dia setia bertekun diri padanya. danpadat arti. hlm. Banyaknya ringkasan tentang bermacam masalah keilmuan mengganggu proses pengajaran.165 Cara yang semula dimaksudkan untuk menghemat tenaga itu ternyata membawa banyak kerepotan bagi para pelajar. Karena itu. Mereka pun tidak boleh gagal memahami dan menguasainya. 750 . Ibid. membingungkan. Seringkali terjadi. Mereka juga meringkasnya. inilah suatu kekeliruan sistem pengajaran yang berat. para sarjana mendekati buku induk dari berbagai disiplin ilmu yang sangat panjang dengan maksud menafsirkan dan menerangkannya. Mereka dipaksa memahami pikiran yang tersimpul dalam istilah-istilah yang ringkas.

karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. 751 Toto Suharto . keahlian akan terbatas dan menyempit. hlm. Ringkasan yang telah dibuat tersebut pada mulanya dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaan pelajar menghafal pada hakekatnya membebaninya dengan membuat para pelajar tersebut kurang sanggup mendapatkan keahlian yang dibutuhkan.. adalah167: 1. Pemikiran 166 167 Ibid. Op.. Cit. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun. sehingga banyak waktu habis untuk mencoba memhaminya. 240-241 .166 Sekalipun pengetahuan masih bisa diperoleh dari ringkasanringkasan itu tanpa kesukaran. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja. Sebab cara yang belakangan ini akan memberikan banyak kajian ulang dan berbagai gambaran tentang pokok-pokok persoalan. 6. namun keahlian yang mungkin dicapai darinya akan kurang sempurna bila dibandingkan dengan yang dihasilkan dari mempelajari cbang-cabang ilmu yang diterangkan dengan sederhana dan cukup panjang. yang tentu saja akan membantu memberikan keahlian yang sempurna. Apabila pengulangan kajian seperti itu dibatasi. Kematangan ini akan menguntungkan masyarakat.77 membingungkan. hlm.

39 Toto Suharto . Op. Dalam hal ini berarti Ibnu Khaldun memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia.78 matang adalah alat kemajuan berbagai ilmu. 243 170 Pengalaman adalah segala kejadian (peristiwa) yang secara sengaja maupun tidak sengaja dialami setiap orang. Cit. Konsep Belajar Secara Umum Secara umum belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman170 atau tingkah Fathiyyah Hasan Sulaima.. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan. Berdasarkan tujuan di atas. Ibnu Khaldun menjadikan pengajaran sebagai profesi yang dapat dipergunakan untuk mencari rezeki. Cit. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Op.168 2. hlm. 169 168 . industri dan institusiinstitusi sosioal. agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa “pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia’. Konsep Belajar Barat (Non-Islam) 1..169 B. 3. hlm. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan. sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik.

dkk. adanya kondisi belajar yang baik. 11 173 Nana Sudjana.172 Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. hlm. Tetapi dengan adanya usaha dan latihan yang terus-menerus.174 171 Muhaimin. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu apabila padanya telah terjadi perubahan tertentu. cet ke-6 (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset. Pada tingkat permulaan belajar aktivitas itu masih belum teratur. Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Apabila bicara tentang belajar maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkahlaku seseorang.173 Proses dalam belajar merupakan proses mental yang aktif. prosesnya makin teratur. 28 174 Mustaqim dan Abdul Wahib. proses berbuat melalui berbagai pengalaman. keraguan-keraguan makin hilang dan timbul ketetapan. Citra Media). maka kesalahan-kesalahan itu makin lama makin berkurang.79 laku yang dilakukan secara sadar. ketrampilan. 43 172 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 62 . dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. belajar merupakan proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu.171 Adapun tujuan dari belajar itu sendiri adalah agar kita dapat survive (bertahan hidup) dan juga dapat beradaptasi dengan lingkungan. banyak hasilhasil yang belum terpisahkan dan masih banyak kesalahan yang diperbuat. Cit. dan sikap. 1991). adanya dorongan-dorongan yang membantu. Melton Putra. 2005). Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan. Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama) (Surabaya: CV. hlm. hlm. Op.. hlm. misalnya semula tidak mampu berbahasa Arab kemudian menjadi mahir berbahasa Arab.

dan dapat mempergunakan bahan-bahan atau pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh pengetahuan yang lain. untuk menghilangkan kekacauan. menyatakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh 175 Ibid. mengemukakan bahwa “belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. ia dapat mengerti dan mengartikan bahan-bahan lain yang lebih banyak dan lebih sukar ataupun lebih kompleks.178 Hintzman. Cit. 176 . Sutiah. Belajar bukanlah suatu proses yang mekanistis tetapi disini seluruh kepribadian ikut aktif. atau suatu pengertian”.80 Apabila orang yang belajar maju dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain. kepandaian. sikap. menyatakan bahwa “belajar terjadi apabila stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga penampilannya berubah dari waktu ke waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.177 Witherinton (1986) menjelaskan bahwa “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru sebagai reaksi yang berupa kecakapan. Maka penting untuk diperhatikan bahwa perubahan itu pula merupakan suatu pertumbuhan untuk mencapai puncak kekuatan..176 Morgon (1978). Op. kebiasaan. 178 Ibid. 22. hlm.175 Gagne (1977). 177 Ibid.

hlm. Perubahan itu intensional Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari. Op.179 yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme Pengertian belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. (Jakarta: Kalam Mulia. Perubahan itu positif dan aktif Muhibbin Syah. hlm. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialaminya... maka dapat ditegaskan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. mendengarkan. Cit. mengamati. hlm. 13 181 Sjahminan Zaini dan Muhaimin. hlm. 2 182 Muhibbin Syah. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. meniru dan sebagainya. Cit.81 pengalaman tersebut’. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia.181 Ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah: a. Op. Op. dengan demikian tujuan belajar adalah untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman tertentu.182 b.180 Berdasarkan beberapa definisi di atas. 1991). Cit.. 116 180 179 . 90 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca.

. 3. Hal. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan. Pelaku aktifitas belajar adalah siswa. Op. maka yang bertindak aktif adalah siswa itu sendiri.183 c. 117 Ibid. bermanfaat. serta sesuai dengan harapan. 4. 5. perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih sempurna. makna. Sedangkan bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relative menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan. Cit. Setiap siswa belajar sesuai dengan kemampuannya. Siswa akan lebih meningkatkan motivasinya untuk belajar apabila dia di beri tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya. Ibid. karena kemampuan setiap siswa adalah berbeda-beda. 183 Ibid. dan manfaat tertentu bagi siswa...82 Positif artinya baik. 7 184 . 2. Perubahan itu efektif dan fungsional Bersifat efektif artinya perubahan tersebut membawa pengaruh.184 Prinsip-Prinsip Belajar diantaranya adalah:185 1. tetapi karena usaha siswa itu sendiri. 185 Sutiah. hlm. Siswa akan dapat belajar dengan baik bila dapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.

Tahap Motivasi. atau tempat penyimpanan ingatan jangka pendek. Op. Sedangkan menurut Chaplin (1972) “proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. 187 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. hlm. Cit. baik baru sebagian maupun keseluruhan. yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dengan informasi baru yang dia terima.. Tahap Menggali (1). Tahap menyimpan. untuk tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari. maka terjadi lagi pengolahan informasi untuk diberi Proses merupakan urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. yaitu saat motivasi dan keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit. yaitu siswa menyimpan symbol-simbol hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam Long Term Memory (LTM) atau gudang ingatan jangka panjang. 17-18 186 . yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian. 4. yang telah ada pada motivasi.83 Menurut Gagne. Setelah penggalian informasi dan dikaitkan dengan informasi baru. Pada tahap ini hasil belajar sudah diperoleh. 3. proses186 belajar itu melalui tahap-tahap atau fasefase sebgai berikut:187 1. Tahap Mengolah. kemudian mengolah informasi-informasi untuk diberi makna berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masingmasing. Tahap Konsentrasi. 2. 5. Misalnya siswa tertarik untuk mendengarkan apa yang diucapkan guru. yaitu siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam Short Term Memory (STM).

Tahap Menggali (2). menjawab pertanyaan atau soal/latihan. yaitu siswa memperoleh penguatan (konfirmasi) saat perasaan puas atas prestasi yang ditunjukkan. 7. Tahap menggali 2 diperlukan untuk kepentingan kerja. Kebiasaan188 Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar. yaitu menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM untuk persiapan fase prestasi. hlm. menyelesaikan tugas.. Pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. kebiasaankebiasaannya akan tampak berubah. Cit. 189 Muhibbin Syah. kebiasaan itu timbul karena proses kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Tahap Prestasi. muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatif. 8. Perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut: a.189 b. informasi yang telah tergali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar. 6. karena proses pengurangan inilah. Tahap Umpan Balik. Op. Ketrampilan 188 Menurut Burghardt (1973). 118 penyusutan .84 makna seperti halnya dalam tahap mengolah untuk selanjutnya disimpan dalam LTM lagi.

dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.192 materi tersebut dengan e. menafsirkan. daya ingat pun merupakan perwujudan belajar. 119 Ibid. Berpikir Rasional 190 Ibid. olah raga. Di samping itu. dan sebagainya.85 Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan uraturat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis. serta meningkatnya situasi kemampuan yang sedang menghubungkan dihadapi. 191 . Jadi. Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat Berpikir asosiatif merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respons. 192 Ibid.. Berkat pengalaman belajar seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai pengertian. siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori.191 d. sebab merupakan unsure pokok dalam berpikir asosiatif. hlm. mengetik. Pengamatan Pengamatan artinya proses menerima..190 c.

121 194 . Apresiasi Dalam penerapannya. Sikap Sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu.. dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum. Dalam hal berpikir kritis.194 7.196 193 Ibid. apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda. siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan masdalah dan mengatasi masalah atau kekurangan (reber. menganalisis. lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. 196 Ibid. 195 Ibid.. hlm.193 6. 120 Ibid. hlm. menarik kesimpulan.86 Siswa dituntut menggunakan logika (akal sehat) untuk menentukan sebab-akibat. baik abstrak maupun konkret yang memiliki nilai luhur.195 8. Inhibisi Inhibisi ialah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu. 1988).

dan sebagainya. Cit. 199 Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam individu.198 1. Pancaindera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula.201 Ibid.. senang.. yaitu: a) Tonus jasmani pada umumnya. 20 198 197 .87 9. gembira. Raja Grafindo Persada. Op. 19.197 Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori. keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Tingkah Laku Afektif Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan. kecewa. sedih. 200 Sumadi Suryabrata. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. hlm. 2002). Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Faktor Internal199 1) Faktor-faktor fisiologis. hlm. Psikologi Pendidikan. hlm.200 b) Keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu. 235 201 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. (Jakarta: PT. adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi dua macam. marah. seperti: takut. Ibid.

hlm. hlm. siang. tempat (letaknya. Cit. 233 205 Ibid. Op.. hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. Faktor Eksternal203 1) Faktor-faktor non-sosial. hlm. waktu (pagi.. dan temanteman sekelas).206 2) Lingkungan sosial masyarakat. 27 203 . 204 Sumadi Suryabrata. sikap.204 2) Faktor-faktor sosial. 234 206 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. adalah faktor manusia (sesama manusia. cuaca. minat. dan bakat. 26 207 Ibid. hlm.88 2) Faktor-faktor psikologis. diantaranya adalah: kecerdesan siswa..202 2. pergedungannya). buku-buku. suhu udara. misalnya: keadaan udara. hlm. dan sebagainya). motivasi.. 20 Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu.207 202 Ibid. adalah keadan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa. baik manusia itu ada (hadir) maupun tidak langsung hadir. administrasi. Op. atau malam). Cit. alat-alat peraga. alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat0tulis-menulis.205 1) Lingkungan sosial sekolah (guru.

Ke-6 (Jakarta: PT. hubungan antara anggota keluarga. Proses Belajar Mengajar. orangtua.208 Hasil belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan ke dalam situasi-situasi di luar sekolah. Oemar Hamalik. Latihan dalam satu situasi mempengaruhi perbuatan tingkah laku dalam situasi yang 208 209 Ibid. atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik. Ibid. pengamatan. pertimbangan. dengan kata lain bahwa murid harus dapat mentransferkan hasil belajar tersebut ke dalam situasi-situasi yang sesungguhnya di dalam masyarakat. 2007). ingatan. imajinasi dapat diperkuat melalui latihan-latihan akademis. Teori Unsur-Unsur yang Identik (The Identical Elements Theory) Transfer terjadi apabila di antara dua situasi atau dua kegiatan terdapat unsur-unsur yang bersamaan (identik). kakak. Teori Disiplin Formal (The Formal Dicipline Theory) Teori ini menyatakan. 34 hlm. Mata pelajaran seperti geometrid an bahasa Latin sangat penting dalam melatih daya piker seseorang.210 b. bahwa ingatan. dan sebagainya dapat dikembangkan melalui latihan-latihan akademis. Bumi Aksara.209 Adapun teori transfer hasil belajar ada tiga teori. 33 210 . hlm. yaitu: a. cet. sikap. anak. Demikian halnya dengan daya pikir kritis..89 3) Lingkungan sosial keluarga.

Tetapi generalisasi menekankan kepada kompleksitas dari apa yang dipelajari.211 c. Teori ini menekankan kepada pembentukan pengertian yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman lain. . Ibid. Transfer terjadi apabila siswa menguasai pengertian-pengertian umum atau kesimpulan-kesimpulan umum. lebih dari pada unsure-unsur yang identik. Ayahnya. Internalisasi dari pada pengertian-pengertian. dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah 211 212 Ibid. adalah seorang profesor dalam sastra Abad Pertengahan di Universitas Neuchatel. teori ini banyak digunakan dalam kursus latihan jabatan. dan apresiasi dapat mempengaruhi kelakuan seseorang. Teori Generalisasi (The Generalization Theory) Teori ini merupakan revisi terhadap teori unsure-unsur yang identik. Arthur Piaget. Biografi Jean Piaget Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel di wilayah Swiss yang berbahasa Perancis. di mana siswa diberikan respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi kehidupan yang sebenarnya. ketrampilan. yang mengembangkan minatnya dalam biologi dan dunia pengetahuan alam.212 2.90 lainnya. sikap-sikap. Piaget adalah seorang anak yang terlalu cepat menjadi matang. khususnya tentang moluska (kerang-kerangan).

Minatnya terhadap psikoanalisis. Geoogle. melainkan pada kenyataan bahwa anak-anak yang kecil itu terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang sama. dan juga belajar sebentar di Universitas Zürich. Ketika ia menolong menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah Piaget memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan jawaban yang salah untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu.214 Jean Piaget pindah dari Swiss ke Grange-aux-Belles. yang tidak dilakukan oleh anak-anak 213 Artikel Wikpedia Indonesia. tetapi yang belakangan ditolaknya karena dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja.213 Jean Piaget memperoleh gelar Ph. Com.D. Sepanjang kariernya. sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada saat itu. Piaget tidak terlalu memperhatikan pada jawaban-jawaban yang keliru itu. Selama masa ini. ia menerbitkan dua makalah filsafat yang memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu. pengembang tes intelegensia Binet. kariernya yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia 11 tahun. Jean Piaget (Khaldun (http: // www.91 sebelum ia lulus dari SMA. Perancis. Malah. diakses 25 September 2007) 214 Ibid. dalam ilmu alamiah dari Universitas Neuchâtel. dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja albino. dan di sana ia mengajar di sekolah untuk anak-anak lelaki yang dikelola oleh Alfred Binet. juga dapat dicatat mulai muncul pada periode ini. . Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan ratusan artikel.

ia menyusun "Pidato Direktur"nya untuk Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional tentang Pendidikan Umum. yang dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. (c) anak-anak. Pada 1929. Masing-masing tahap ini 215 216 Ibid. menjadi empat tahap perkembangan yang lebih kurang sama dengan (a) masa infancy.216 Jean Piaget menjabat sebagai profesor psikologi di Universitas Geneva dari 1929 hingga 1975 dan ia paling terkenal karena menyusun kembali teori is perkembangan kognitif ke dalam serangkaian tahap. yan tetap dipegangnya hingga 1968. Ibid. ia mengajukan teori global tentang tahap-tahap perkembangan yang menyatakan bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap tahap perkembangannya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak. Hal ini menyebabkan Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak-anak yang lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang dewasa. Piaget kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di Geneva. dan (d) remaja.) Pada 1921. Piaget menerima jabatan sebagai Direktur Biro Pendidikan Internasional. ia menikah dengan Valentine Châtenay. salah seorang mahasiswinya. (b) pra-sekolah. . dan di dalamnya ia secara eksplisit mengungkapkan keyakinan pendidikannya.215 Pada tahun 1923.92 yang lebih besar dan orang dewasa. (Belakangan. Setiap tahun. memperluas karya sebelumnya dari James Mark Baldwin.

dan masing-masing kecuali yang terakhir adalah suatu perkiraan (approximation) tentang realitas yang tidak memadai. Paris: Armand Colin (1961. The Early Growth of Logic in the Child: Classification and Seriation. 1967. The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence. 5. Logique et Connaissance scientifique. Masing-masing tahap mewakili pemahaman sang anak tentang realitas pada masa itu. 1991). 4. New York: Basic Books (1958). akumulasi ini pada akhirnya menyebabkan suatu tingkat ketidakseimbangan kognitif yang perlu ditata ulang oleh struktur pemikiran. 3.93 dicirikan oleh struktur kognitif umum yang mempengaruhi semua pemikiran si anak (suatu pandangan strukturalis yang dipengaruhi oleh filsuf Immanuel Kant). Paris: Presses Universitaires de France (1950). 2. Jadi. La psychologie de l'intelligence. .217 Karya-karya penting Jean Piaget. Introduction a l’Epistemologie Genetique. 217 218 Ibid. Ibid. perkembangan dari satu tahap ke tahap yang lainnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan di dalam pemahaman sang anak tentang lingkungannya. diantaranya adalah:218 1. Encyclopedie de la Pleiade (1967). London: Routledge and Kegan Paul (1964). Versi online (1961).

13. UK: Psychology Press (2001). Studies in Reflecting Abstraction. 7. 1929-1967. Sociological Studies.(1952). 3. Direktur Penelitian. London: Kegan Paul. Biology and Knowledge. Hove. 2. Geneva. . 9. Geneva.Direktur Sejarah Pemikiran Ilmiah. Direktur. Sosiologi dan Filsafat Ilmu. Institut Jean -Jacques Rousseau. London: Routledge and Kegan Paul (1928). The Origins of Intelligence in Children. The Child's Conception of the World. London: Routledge and Kegan Paul. The Moral Judgment of the Child. 12. Adapun jabatan-jabatan penting Jean Piaget. 10. Chicago: University of Chicago Press (1971). 1929-1939.(1955). Biro Pendidikan Internasional. 11. Trubner and Co (1932). 4. Universitas Geneva. 8. 1921-1925. 1925-1929. Profesor Psikologi. 219 Ibid. diantaranya adalah:219 1. London: Routledge (1995). Universitas Neuchatel.94 6. The Child's Conception of Number. London: Routledge and Kegan Paul. London: Routledge and Kegan Paul (1953). Trench. The Child's Construction of Reality.

Universitas Geneva. Op. hlm. Profesor Psikologi Eksperimen. 8. Universitas Geneva.T. Direktur.. 1938-1951. Premis dasarnya adalah bahwa individu harus secara aktif “membangun” pengetahuan dan ketrampilannya (Brunner. 6. 1939-1951. 1971-1980 Profesor Emeritus. Sorbonne.220 Selain itu Piaget juga termasuk tokoh yang mengembangkan konsep belajar konstruktivisme. 1990) dan informasi yang ada diperoleh dalam proses membangun kerangka oleh pelajar dari lingkungan di luar dirinya. Paris. Profesor Psikologi Genetika. Pusat Internasional untuk Epistemologi Genetika. Profesor Sosiologi. 11. 7. Universitas Geneva. 9. Direktur. Universitas Geneva. Geneva. 3. 1999). 1940-1971. Universitas Lausanne. Cit. 93 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. Psikologi Belajar (Jakarta: P.95 5. Profesor Psikologi Eksperimen dan Sosiologi. karena menurutnya dalam belajar dan pembelajaran tidak hanya faktor psikologi kognitif saja yang diperhatikan tetapi faktor sosial juga diperlukan.221 220 221 Muhibbin Syah. 115 . 1952-1964. 1932-1971. 1955-1980. Institut Ilmu-ilmu Pendidikan. Konsep Belajar Menurut Jean Piaget Jean Piaget adalah seorang pakar psikologi kognitif terkemuka. hlm. Logos Wacana Ilmu. 10.

perilaku mengucapkan katakata dan menggoreskan pena dilakukan anak tersebut bukan semata-mata respons atas stimulus yang ada. Secara lahiriah. seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis. misalnya. Cit.. keinginan. bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. hlm 111 . Berbeda dengan behavioristik. Perubahan tingkah laku terjadi dalam situasi tertentu sebagai refleksi perubahan internal. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. perasaan. Menurutnya belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.223 Peristiwa belajar yang digambarkan dalam teori behavioristik yakni yang hanya melibatkan respon dan stimulus dalam perspektif kognitif adalah naif (terlalu sederhana dan tidak masuk akal). Akan tetapi. 34 Muhibbin Syah. teori kognitif mempelajari aspek-aspek yang tidak dapat diamati seperti pengetahuan. melainkan yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. harapan. Sebagai bukti dan 222 223 Asri Budianingsih. hlm. kreatifitas. arti. Op. dan pikiran. Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta. 2005).222 Pada dasarnya dalam perspektif psikologi kognitif.96 Konsep belajar menurut aliran kognitif adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan pada umumnya berpengaruh terhadap kegiatan belajar. tentu terlebih dahulu ia membuat keputusan apakah ia akan menyalin pelajaran sekarang. Kemauan siswa itu tentu bukan perilaku behavioral melainkan peristiwa mental (konatif). Kebiasaan belajar seorang siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa itu sendiri. atau sama sekali tidak. berikut dua contoh kritik terhadap kepercayaan behavioristik: a.225 224 225 Ibid. Gerakan tangan dan goresan pena yang dilakukan siswa tersebut demikian lancarnya karena sudah terbiasa menulis sejak tahun pertama sekolah. hlm 112 Ibid. seorang siswa belajar seharian di perpustakaan sambil mengunyah permen. nanti.. Akan tetapi. .97 bahan perbandingan. ketika tiba saat berpuasa Ramadlan ia hanya belajar setengah hari dengan tidak mengunyah permen.224 b. Tetapi. Keputusan tersebut tentu bukan peristiwa behavioral melainkan peristiwa mental siswa itu sendiri. juga dengan kebiasaan. Contoh: menurut kebiasaan. seorang siswa lazimnya menyalin pelajaran. meskipun secara lahiriah yang menerima akibat kemauan tersebut adalah perilaku behavioral. perlu diingat bahwa sebelum siswa tadi menyalin pelajaran dengan cara yang biasa ia lakukan.

pendidikan adalah sebagai penghubung dua sisi. Jadi.98 Dari uraian contoh-contoh tersebut. Individu berkembang sejak lahir dan terus berkembang. reorganisasi perceptual. 1 . dan proses internal. Perkembangan tersebut bersifat klausal. hlm. menyimpulkan:…children have a built-in desire to learn (Barlow. Loc. 120 Muhibbin Syah. pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai.226 Piaget. diperbolehkan. 2005). Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi. hlm. namun juga terdapat komponen normati. Ungkapan ini bermakna bahwa semenjak kelahirannya. 1985). maka jelaslah bahwa perilaku belajar itu dalam semua bentuk dan manifestasinya. di satu sisi individu yang sedang tumbuh dan di sisi lain merupakan nilai sosial. Konsep dan Makna Pembelajaran ( Bandung: Alabeta. dan juga karena pendidikan menuntut nilai.228 Pandangan tersebut memberi makna bahwa pendidikan adalah segala situasi hdup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai 226 227 Sutiah.. Nilai ini adalah norma yang berfungsi sebagai penunjuk dalam mengidentifikasi apa yang diwajibkan. dan moral yang menjadi tanggung jawab pendidik untuk mendorong individu tersebut. intelektual. Cit. bukan sekedar peristiwa ikatan antara stimulus dan respon melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif. dan dilarang. 228 Saiful Sagala. setiap anak manusia memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar. Op. Cit.227 Menurut Jean Piaget.

dan Pikiran Manusia). Terj. Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan penerbit Nuansa. 2006). Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. hlm. Op. Cara belajar anak menurut Jean Piaget adalah bahwa perkembangan intelektual sebagai proses membangun model realitas dalam diri. Guru memang prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar.229 Berdasarkan pendapat Jean Piaget tersebut. SPA-Teamwork. hlm. Dengan istilah Matt Jarvis. yang mana konstruktivistik merupakan perkembangan dari teori belajar kognitif. belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. 142 230 Sutiah. Pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang tertentu atau tetap melainkan suatu proses untuk menjadi tahu. Perasaan.230 Menurut aliran konstruktivistik.99 pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. maka pemikirannya juga dapat dimasukkan ke dalam teori konstruktivistik. aktif berpikir. menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. dalam rangka memperoleh informasi mengenai cara-cara membangun gambaran batin tentang dunia luar. 109 229 .. Cit. Ia harus aktif melakukan kegiatan. Konstruktivisme berangkat dari keyakinan behwa pengetahuan adalah suatu proses pembentukan yang terus-menerus berkembang dan berubah. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri.

Segala sesuatu seperti bahan. sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan. dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional. media. 231 Asri Budianingsih. dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa. 59 233 Ibid. Dengan cara demikian.232 Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.. peralatan. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. 58 Ibid.233 Bagi kaum konstruktivisme. hlm. mandiri. belajar adalah kegiatan yang aktif.231 Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.hlm. Pelajar sendirilah yang bertanggungjawab atas hasil belajarnya. Cit. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikiranya tentang sesuatu yang dihadapinya. dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.. di mana pelajar membangun sendiri pengetahuannya. hlm. 59-60 232 . kreatif. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru. siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri. memecahkan masalah yang dihadapinya. lingkungan. kritis. Mereka sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna. Op.100 lain..

2006). memanipulasi objek. menggambarkan. 61 234 .236 Studi Jean Piaget mengisyaratkan agar guru meneliti bahasa siswa dengan seksama untuk memahami kualitas berpikir anak di dalam kelas. dan lain-lain guna membentuk konstruksi yang baru. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. mencari jawaban. berdialog. hlm.235 Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan (Yogyakarta: Kanisisus. mengadakan refleksi. mengetes hipotesis. latar belakang dan minatnya. Cit. hlm. mengungkapkan pertanyaan. meneliti. Deskripsi Jean Piaget mengenai hubungan antara tingkat perkembangan Paul Suparno. mengekspresikan gagasan. Belajar merupakan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. 236 Asri Budianingsih. Op.101 membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui serta menyelesaikannya ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman yang baru.234 Belajar merupakan proses organik untuk menemukan sesuatu bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. pada kebutuhan. memecahkan persoalan. Pelajar harus punya pengalaman dengan membuat hipotesis. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan tersebut. 62 235 Ibid.. hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.

T.238 Menurut Jean Piaget operasi mental tertentu terdapat pada tingkat perkembangan yang berbeda-beda yang membatasi kesanggupan anak untuk mengolah masalah-masalah tertentu terutama pada tahap abstrak. 217 240 Wiji Suwarno.237 Strategi belajar yang dikembangkan dari teori Jean Piaget ialah menghadapkan anak dengan sifat pandangan tidak logis anak sulit mengerti sesuatu pandangan yang berbeda dengan pandangannya sendiri. artinya adalah pengetahuan merupakan suatu proses bukan suatu barang. hlm. Ini menunjukkan bahwa guru harus dengan tepat menyesuaikan bahan pengajaran yang kompleks dengan tahap perkembangan anak. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 1991).102 konseptual anak dengan bahan pelajaran yang kompleks menunjukkan bahwa guru harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. 239 Ibid. hlm. mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Menurutnya. Tipe kelas yang dikehendaki oleh Jean Piaget menekankan pada tranmisi pengetahuan melalui metode ceramah diskusi dan mendorong guru untuk bertindak sebagai katalisator dan siswa belajar sendiri. (Jakarta: P. Psikologi Belajar. 2006). hlm. Rineka Cipta. sehingga dapat dibentuk pengetahuan baru.240 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono.239 Jean Piaget juga mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungan. 216 238 Ibid. 58 237 .

Cit. dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.241 Pendekatan belajar konstruktivisme memiliki beberapa strategi (Slavin 1994). Op. sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu. Dengan demikian. belajar tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut. hlm. dan kemudian bagaimana menulis titik dan komanya. perbuatan itu akan sia-sia saja. 59 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. hlm. Cooperative Learning 241 242 Ibid. Misalnya: siswa diminta untuk menulis kalimatkalimat.242 b.103 Pada intinya aliran konstruktivistik menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang yaitu melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindera: indra penglihatan. indra penciuman. aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain. kemudian dia akan belajar untuk membaca. Top-Down Processing Siswa belajar dimulai dari masalah kompleks untuk dipecahkan.. indra peraba. 127 . kemudian menghasilkan atau menemukan ketrampilan yang dibutuhkan. indra pendengaran. kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman. Sebaliknya.. dan indra perasa. yaitu: a.

Cooperative Learning ini lebih menekankan pada lingkungan sosial belajar dan menjadikan kelompok belajar sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan.104 Strategi ini akan membuat siswa lebih mudah menemukan secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya dengan siswa lain tentang problem yang dihadapi. seperti: membuat pertanyaan. sehingga dengan menggunakan pendekatan generative learning diharapkan siswa melakukan proses adaptasi ketika menghadapi stimulus baru mengajarkan siswa untuk melakukan kegiatan mental saat belajar. hlm. kesimpulan. siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau kelompok untuk saling membantu memecahkan problem yang dihadapi. .243 c. mengeksplorasi pengetahuan. Inilah kunci konsep-konsep dasar yang dikemukakan oleh Jean Piaget. Proses Belajar Menurut Jean Piaget 243 244 Ibid. atau analogianalogi terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Generative Learning Startegi ini menekankan pada adanya integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.. 128 Ibid.244 4. dan menantang pengetahuan yang dimilki oleh individu.

Cit. Pertumbuhan intelektual merupakan perubahan secara kualitatif. pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. hlm.105 Jean Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual . proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif. Op. makan. Scheme adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutaakhiran struktur kognitifnya. Menurut Jean Piaget.. intelegensi terdiri dari tiga aspek. 131 . Psikologi Pendidikan (Jakarta: P. 58 247 Wasty Soemanto. 248 Ibid. hlm. Rineka Cipta. minum) dan scheme mental. Menurut Piaget..246 Jean Piaget memakai istilah scheme secara interchangeably dengan istilah struktur. 1998).245 Secara konseptual. yang mana struktur intelektual tersebut terbentuk akibat interaksinya dengan lingkungan. Cit.248 yaitu: 1. Loc.hlm. dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah seorang psikologi development karena penelitiannya mengenai tahaptahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. 245 246 Wasty Soemanto. Struktur (Scheme). 130 Asri Budianingsih.T.247Scheme berhubungan dengan: refleks-refleks pembawaan (bernapas. bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa.

hlm. Cit.251 Menurut pandangan konstruktivisme.. aktivitas untuk mengasimilasikan pengalaman tertentu yang berasal dari lingkungan memaksa anak mengkomodasikan atau menghayati pengalaman itu. Jean Piaget juga menekankan pada pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kelompok akan dapat meningkatkan pengubahan secara konseptual.250 Selain itu. hlm. Op. yang berhubungan dengan cara seseorang mancapai kemajuan intelektual. 99 251 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. Fungsi (Function). Titik pusat perhatian dalam teori Piaget ialah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa..Cit. Fungsi tersebut terdiri dari dua macam. perlu disediakan kesempatan bagi anak untuk mengkomodasikan pengalaman dari lingkungan yang telah diasimilasikannya. pengetahuan tumbuh dan berkembang adalah melalui pengalaman. 35 Samuel Soeitoe. yaitu: pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah.249. Cit.. yaitu organisasi dan adaptasi. Menurut Piaget. 117 250 . Isi (Content). Piaget menganjurkan agar perkembangan kognitif dapat berjalan seoptimal mungkin. Konsep pemikiran Jean Piaget tentang belajar merupakan dasar bagi pendekatan konstruktivisme dalam belajar. 3. hlm. Pemahaman berkembang semakin dalam dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam 249 Asri Budianingsih. Op. Op.106 2.

sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya. mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimilki dengan struktur pengetahuan baru. manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya. manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya. yaitu: proses organisasi informasi dan proses adaptasi.. Menurut Jean Piaget. 118 . pada saat manusia belajar. 2004). Oleh karena itu. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam otak manusia (Nurhadi. Melalui proses organisasi inilah.107 pengalaman baru. sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium) dalam proses ini Jean Piaget mengemukakan empat konsep dasar.252 Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut dengan asimilasi. sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengkomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. hlm. pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda.. hlm. Kedua. menurut Jean Piaget.253 Proses adaptasi adalah proses yang berisi dua kegiatan. yaitu: 252 253 Ibid.117 Ibid. seperti sebuah kotak-kotak yang masingmasing mempunyai makna yang berbeda-beda. Pertama.

skemata adalah struktur kognitif yang selalu berkembang dan berubah. pikiran harus memiliki suatu struktur yaitu skema yang berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan menata lingkungan itu secara intelektual. Asimilasi. 254 255 Ibid.108 1.. Manusia selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan demikian. 119 . hlm. Hal itu mengakibatkan adanya sejumlah struktur psikologis yang berbeda bentuknya pada setiap fase atau tingkat perkembangan tingkah laku dan kegiatan berpikir manusia (intellectual scheme). Ibid. Skemata. Manusia cenderung mengorganisasikan tingkah laku dan pikirannya.254Secara sederhana skemata dapat dipandang sebagai kumpulan konsep atau kategori yang digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan. Proses yang menyebabkan adanya perubahan tersebut adalah asimilasi dan akomodasi.255 2. Piaget mengatakan bahwa skemata orang dewasa berkembang mulai dari skemata anak melalui proses adaptasi sampai pada penataan dan organisasi. Skemata ini senantiasa berkembang. Perkembangan ini dimungkinkan oleh stimulus-stimulus yang dialaminya yang kemudian diorganisasikan dalam pikirannya. Dengan demikian.

. Akomodasi merupakan suatu proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengalaman baru. yang dialaminya akan diolah dalam pikirannya. Pada perubahan tersebut terjadi secara kualitatif. Proses kognitif teresbut menghasilkan terbentuknya skemata baru dan berubahnya skemata lama. tetapi mempengaruhi atau memungkinkan pertumbuhan skemata. pada hakikatnya 256 257 Ibid. Nanti. Stimulus. Misalnya. seorang anak belum pernah melihat ‘seekor Ayam’.109 Asimilasi merupakan proses kognitif dan penyerapan pengalaman baru ketika seseorang memadukan stimulus atau persepsi ke dalam skemata atau prilaku yang sudah ada. berlangsung terus-menerus dalam perkembangan kehidupan intelektual anak. dicocok-cocokkan dengan skemata-skemata yang telah ada dalam struktur mentalnya. Ayam. Akomodasi. Jadi. maka terbentuklah skemata ‘Ayam’ dalam struktur pikiran anak tersebut. Asimilasi terjadi secara kontinyu.256Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata.257 3. sedangkan pada asimilasi terjadi perubahan secara kuantitatif. Ibid. Mungkin saja skemata yang paling dekat dengan Ayam adalah ‘Burung’ maka anak tersebut menyebut ‘Ayam’ itu sebagai ‘Burung Besar’ karena stimulus ‘Ayam’ diasimilasikan ke dalam skemata ‘Burung’. ketika dipahaminya bahwa hewan itu bukan ‘Burung Besar’ melainkan ‘Ayam’.

maka struktur akomodasi. kurang teliti.110 akomodasi menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan skemata.. jika hanya akomodasi saja yang terjadi secara kontinu. ketika anak menerima stimulus yang baru. Keseimbangan (equilibrium). Stabil dalam artian adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan proses akomodasi. struktur mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil. Bersamaan terjadinya proses akomodasi. Begitulah proses asimilasi dan akomodasi terjadi terus-menerus dan menjadikan skemata manusia berkembang bersama dengan waktu dan bertambahnya pengalaman.258 4. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinu. hlm. Pada proses adaptasi terhadap lingkungan. bahkan terkadang kurang tepat. maka individu akan hanya memiliki skemata yang kecil-kecil saja. individu berusaha untuk mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Sebaliknya. tetapi melalui proses asimilasi dan akomodasi. skemata yang kurang tepat dan kurang teliti tersebut diubah menjdi lebih tepat dan lebih teliti. Sebelum terjadi akomodasi. Mula-mula skemata seseorang masih bersifat sangat umum dan global. maka struktur mental tersebut menjadi stabil lagi. 120 . dan mereka tidak 258 Ibid.

Itulah sebabnya. maka efisien interaksi antara anak yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin.259 Proses adaptasi juga dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan. sehingga hal ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan proses asimilasi.. Faktor keturunan yang baik berkaitan dengan proses-proses adaptasi akan mempengaruhi. perkembangan intelektual adalah suatu proses yang kontinu dari keadaan seimbang – tidak seimbang . Apabila individu melalui proses asimilasinya tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. akomodasi. hlm.111 memilki skemata yang umum. 121 Ibid. dan keseimbangan.. terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal dan faktor-faktor-faktor eksternal. Keseimbangan itulah yang mendorong terjadinya proses akomodasi di mana struktur kognitif skema sebelumnya mengalami perubahan atau Jadi.260 Jelasnya.seimbang dan yang terjadi setiap saat. Dengan adanya keseimbangan ini. Dengan kata lain. 122 . penambahan sehingga terciptalah keseimbangan. proses adaptasi adalah keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi. pada 259 260 Ibid. hlm. ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang oleh Jean Piaget disebut dengan keseimbangan (equilibrium). Individu tersebut tidak akan bisa melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal. walaupun faktor lingkungan lebih memilki pengaruh. terjadilah keseimbngan.

112

setiap fase perkembangan manusia. Proses adaptasi manusia dalam menghadapi pengetahuan baru juga ditentukan oleh fase perkembangan kognitifnya.261 Menurut Jean Piaget, belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergulat dengan ideide.262 Tugas pendidik tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa.

Ibid. Nurhadi, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK ( Malang: Universitas Islam negeri Malang, 2004), hlm. 33
262

261

113

Pengetahuan Awal

Pengalaman Belajar

Pengetahuan Baru

Gambar 3.1 Proses Pembelajaran Konstruktivistik

Bagan

tersebut

menggambarkan

proses

pembelajaran

konstruktivistik yang dimulai dengan kotak bawah yang menjelaskan bahwa siswa lahir dengan pengetahuan yang masih kosong, dengan menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, siswa

114

mendapatkan pengetahuan awal yang diproses melalui pengalamanpengalaman belajar untuk memperoleh pengetahuan baru.263

5. Perkembangan Pengetahuan (Kognitif) Menurut Jean Piaget Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif dari 1929 sampai 1980, ia menyatakan bahwa cara berpikir anak-anak berbeda dengan orang dewasa, bukan hanya kurang matang karena kalah pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif.264 Menurut Jean Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahaptahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada diluar kognitifnya. Para pendidik memandang bahwa teori Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru dalam menyususn struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum.265 Jean Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi. Walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam

Ibid., hlm. 34 Matt Jarvis, Op. Cit., hlm. 141 265 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 216
264

263

267 266 267 Desmita. 46 Asri Budiningsih.T. Rineka Cipta. Remaja Rosdakarya Offset). yaitu: tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun). Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: P.T. 36-37 . tahap operational (umur 2-7 tahun). Psikologi Perkembangan (Bandung: P. 2005). dan tahap formal operational ( umur 11-15 tahun). hlm.115 mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punyai.266 Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif pada anak menjadi empat. hlm. tahap concrete operational (umur 7-11 tahun).

116 Tabel 3.1 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget Tahap Usia/Tahun Gambaran Bayi bergerak dari tindakan refleks instingtif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Pada saat ini dapat berpikir secara logis mengenai peristiwaperistiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Anak remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak dan logis. Sensorimotor 0-2 Operational 2-7 Concrete Operational 7-11 Formal Operational 11-15 Sumber: diadaptasi dari Santrock (1998) . Kata-kata dan gambargambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensor dan tindak fisik. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik. Pemikiran lebih idealistik.

hlm.0 tahun)...269 Pada tingkat preoperasional (2.268 Bayi yang baru lahir bukan hanya menerima secara pasif dan rangsangan-rangsangan terhadap alat-alat inderanya. melainkan juga aktif memberikan respon terhadap rangsangan tersebut. Loc. Anak terikat pada pengalaman langsung.0-2. tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Cit. anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya. tetapi belum dapat mengkelompokkan pengalamannya.271 Dianjurkan orang dewasa banyak bercakap-cakap dengan anak. hlm. Cit. Aktifitas itu praktis.0 tahun). 271 Samuel Soeitoe. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya.0-7. tanpa penggunaan bahasa atau lambang. Responnya tergantung dari situasi.117 Pada tingkat sensori motoris (0. 132 Samuel Soeitoe. Baru pada menjelang akhir ke-2 anak telah mulai mengenal symbol/nama. merasakannya. 1966). 52 270 Wasty Soemanto. Aktifitas intelektual dalam fasa ini adalah interaksi antara panca indera dan lingkungan. Pada fasa ini penting untuk perkembangan bahasa. Op. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. bayi lahir dengan refleks bawaan. Pada masa ini. tidak konsisten dan tidak logis. yakni melalui gerak-gerak refleks. anak belum mempunyai konsep tentang objek yang tetap.270 Cara berpikir anak pada peringkat ini bersifat tidak sistematis. Jadi. mengajarkan nyanyian-nyanyian dan sajak. membacakan cerita-cerita. Cit. 54 269 268 . berkomunikasi dengan Wasty Soemanto. ia melihat sesuatu terjadi. hlm. Op. skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks.

Artifictialism. Tranductive reasoning. Cara berpikir anak pada peringkat ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:272 1. Perceptually bound. Animism. 8. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran (Bandung: Pustaka Bani Quraisi. Anak telah dapat Mohammad Surya. Pada tingkat operasional konkret (7. 3. yaitu anak memusatkan pikirannya terhadap sesuatu yang menarik dan mengabaikan yang lain. Mental eksperimen. 37 272 . hlm. 2. yaitu cara berfikir yang bukan induktif dan deduktif tetapi tidak logis. Centration. 4. 6.0-11. Egocentrism. Ketidak jelasan hubungan sebab akibat. yaitu menganggap semua benda itu hidup seperti dirinya. artinya anak melihat dunia lingkungannya menurut kehendak dirinya sendiri. karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya efektif. yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan itu mempunyai jiwa seperti manusia.118 nak menggunakan bahasa. yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang ia lihat atau ia dengar. 7. 5. yaitu anak mengenal hubungan sebab akibat secara tidak logis. yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang ia hadapi. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada dalam dirinya.0 tahun). 2004).

hlm.275 Pada tingkat operasi formal (11.119 mengetahui simbol-simbol matematis.276 Pengembangan operasi formal memerlukan aktivitas dipihak anak: menulis sajak lebih efektif daripada membaca sajak. Cit. Cit. 56 .0-15. Anak berpikir harfiah sesuai dengan tugas yang diberikan.. 55 276 Wasty Soemanto. Cit. anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk yang lebih kompleks. hlm. 133 Mohammad Surya. Perkembangan kognitif pada operational konkret. Cit. hlm.. 273 274 Wasty Soemanto. Cit.274 Aktivitas anak pada fasa ini dapat ditentukan dengan peraturan-peraturan. Hypothetico-deductive Anak telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problema dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat. hlm. tetapi belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisny ditolak atau diterima. 38 275 Samuel Soeitoe. hubungan dan kuantitas. memberikan kecakapan anak untuk berkenaan dengan konsep-konsep klasifikasi. hlm. anak sekolah dasar mentaati peraturan. 132-133 277 Samuel Soeitoe. Op. tetapi belum dapat menghadapi halhal yang abstrak. turut serta bermain dalam suatu pementasan lebih berguna daripada menontonnya. Op. Anak pra-sekolah tunduk pada peraturan tanpa mengerti maknanya. Op.. Op.277 Flavell (1693) memberikan ciri-ciri sebagai berikut: a..273Anak juga telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal yang konkrit ecara logis. semua itu membantu anak dalam proses pengembangan kognitif. karena peraturan itu mempunyai nilai fungsional. Op..0 tahun).

kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut. dan d.278 yaitu: a. Tetapi kadang-kadang ia berhadapan dengan proporsi yang bertentangan dengan fakta. Jean Piaget mengidentifikasikan empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak. Equalibrium Kontak dengan lingkungan fisik mutlak perlu karena interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru. Oleh karena itu. hlm. Op. kematangan sistem 278 Wasty Soemanto. Transmisi sosial (lingkungan sosial). Pengalaman fisik/lingkungan. Periode combinatorial thinking Pada periode ini jika remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah dapat memisahkan faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasi faktor-faktor itu.. b. Cit. Periode propotional thinking Remaja telah dapat memberikan statemen atau proposisi berdasar pada data yang konkret.120 b. c. Kematangan. Namun kontak dengan lingkungan fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan.132 . c.

kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan kognitifnya.121 syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik.279 Lingkungan sosial di sini termasuk peranan bahasa dan pendidikan. Pentingnya lingkungan sosial ialah bahwa pengalaman seperti itu dapat memacu atau menghambat struktur kognitif. Jadi. pengalaman sosial. equilibrium mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik. hlm. Equalibrium menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik. 281 Ibid. 280 279 . Belajar dan Membelajarkan (Jakarta: CV. Dengan kata lain. 307 Ibid.281 Margareth. dan perkembangan jasmani.280 Equalibrium merupakan faktor proses pengaturan diri dan pengoreksi diri dari si belajar. Rajawali Pers).

271 282 122 . Metode Rasional (Manhaj ‘Aqli) Metode rasional adalah metode yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan atau kriteria-kriteria kebenaran yang bisa diterima rasio. al-Qur’an tidak bisa dipakai oleh orang yang bodoh atau sembarang orang. al-Qur’an banyak memberi tuntunan bimbingan dan bantuan dalam memahami realitas sesuatu. Akan tetapi.BAB III KOMPARASI KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT (NON-ISLAM) A.Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik ( Jakarta: Penerbit Erlangga. Dalam kapasitas ini. terutama yang bersifat apriori. 2005). Epistemologi Pendidikan Islam . jika seseorang di samping berbekal ilmu-ilmu Bantu. juga mendayagunakan akalnya. Metode yang digunakan dalam Islam282. hlm. Pencapaian pengetahuan jenis ini merupakan hasil dari perenungan-perenungan akal Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diperuntukkan sebagai petunjuk bagi manusia yang bertakwa. Al-Qur’an baru dapat dipahami. Mujamil Qomar. Metode ini dipakai dalam mencapai pengetahuan tentang pendidikan islam. Konsep Belajar Islam Metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (epistemologi) dalam dunia Islam dan Barat (Non-Islam) adalah berbeda. diantaranya adalah: 1.

hal ini membuktikan bahwa petunjuk yang dibawa al-Qur’an tidak sekedar melalui doktrin-doktrin yang begitu saja diterima apa adanya. Sementara itu. Ibnu ‘Arabi. Al-Ghazali. menyebut intuisi dengan peristilahan “cinta” atau “pengalaman kalbu”.123 Anjuran berfikir rasional juga tedapat dalam al-Qur’an. manusia mempunyai suatu intuisi kreatif mengenai ada. tetapi justru melalui penalaran yang logis dan rasional. dalam tingkatan metode. hlm. maka metode intuitif disebut metode apriori. Selama ini al-Qur’an dikenal sebagai kitab petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.284 283 284 Ibid. bukan kitab ilmu pengetahuan. pukulan. tetapi sinar tersembunyi yang mencerahi pengalaman dan kemudian terbaca kembali sebagai sesuatu yang muncul dari pengalaman. hlm 274 Ibid. bukan sebagai objek penglihatan. 297 .283 2. Dengan demikian berarti Islam sesuangguhnya menghendaki terwujudnya masyarakat atau komunitas terpelajar memiliki tradisi berpikir rasional untuk mencapai pengetahuan baru. menamakannya sebagai pandangan.. tetapi dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang menyerukan umat Islam untuk berpikir secara rasional terhadap alam semesta. menyebut intuisi sebagai ilmu laduni (pengetahuan dari yang tinggi) dan ilmu alMukasyafah (pengetahuan tentang penyingkapan misteri-misteri Ilahi. lemparan atau detik. Metode Intuitif (Manhaj Zawqi) Muhammad Iqbal. Menurut Marcel..

hlm. Keadaan ini bisa dianalogkan dengan istikharah (shalat untuk meminta petunjuk atas beberapa pilihan). Intuisi bisa memiliki otoritas kebenaran pada saat intuisi intuisi itu masih murni dari Allah dan belum tercampur dengan interpretasi dan pemahaman manusia. 3.124 Menurut Islam. karena menurutnya persepsi yang didasarkan pada intuisi langsung tidaklah dapat diuji. Selain itu.. bahwa petunjuk yang diberikan Allah sebagai jawaban atas permohonan manusia melalui shalat tersebut pasti benar. hlm. daripada pengetahuan yang bersifat rasional.. 328 286 . bahwa dalam intuisi manusia menjadi bersikap pasif.. Metode Dialogis (Manhaj Jadali) Metode dialogis adalah upaya menggali pengetahuan pendidikan Islam yang dilakukan melalui karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan (tanya-jawab) antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi ilmiah287 Pendidikan Islam perlu didialogkan dengan nalar untuk yang bisa dipertanggungjawabkan secara memperoleh jawaban-jawaban yang signifikan dalam mengembangkan pendidikan Islam tersebut. 302 287 Ibid. 307 Ibid. mestinya manusia harus dinamis atau progresif. pengetahuan yang didapatkan melalui intuisi adalah lebih unggul. karena terbebas dari kesalahan dan keraguan285. Filosoffilosof Barat menolak intuisi sebagai suatu pendekatan atau metode untuk mendapatkan pengetahuan286. Nalar itu memilki daya analisis yang tajam 285 Ibid. hlm.

Maka tradisi bernalar seharusnya menjadi tradisi dalam keseluruhan proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas. hlm. sesama pendidikan islam maupun dengan pendidikan lainnya. Metode Komparatif (Manhaj Muqarani) Metode komparatif adalah metode memperoleh pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan teori maupun pendidikan praktek Islam) dengan baik cara membandingkan pendidikan. Cit. hlm. kemudian menawarkan solusi sebagai Abdul Munir Mulkhan..288 Ilmu pendidikan Islam harus bertumpu pada gagasan-gagasan yang dialogis dengan pengalaman empiris yang terdiri atas fakta atau informasi untuk diolah menjadi teori yang valid yang menjadi tempat berpijaknya suatu pengetahuan ilmiah. metode ini ditempuh untuk mencari keunggulan-keunggulan maupun memadukan pengertian atau pemahaman. supaya didapatkan ketegasan maksud dari permasalahan pendidikan. Op. hlm. Semakin sering melakukan dialog.290 5. 16 290 Mujamil Qomar. ( Yogyakarta: Sipress. 16 dan Dakwah.125 manakala menghadapi tantangan-tantangan. nalar tersbut semakin terasah dan makin memiliki ketangkasan dalam memberikan jawaban-jawaban atas realitas yang dihadapi. (Jakarta: Bumi Aksara. 1993). 1991). Paradigma Intelektual Muslim – Pengantar Filsafat Pendidikan Islam hlm.289 4. Arifin. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). 342 288 . Metode Kritik (Manhaj Naqdi) Metode kritik adalah usaha menggali pengetahuan tentang pendidikan Islam dengan cara mengoreksi kelemahan-kelemahan suatu konsep atau aplikasi pendidikan. 193 289 M.

kritik ini menjadi sangat berperan dalam mewujudkan dinamika ilmu pengetahuan. Popper menegaskan. 350 Karl R. hlm. 1968). Cit. melainkan karena adanya kejanggalan-kejanggalan diluruskan.291 Oleh karena itu. Conjectures and Reputations: The Growth of Scientific Knowledge. bahwa kritik mutlak diperlukan untuk kemajuan pengetahuan. 215 293 Mujamil Qomar. Kritik merupakan motif utama bagi setiap perkembangan intelektual. tanpa kritik tak ada motif rasional untuk mengubah teori-teori yang telah ada sebelumnya.292 atau kelemahan-kelemahan yang harus B. Sikap keraguan terhadap sesuatu dapat memotivasi timbulnya koreksi secara berkesinambungan terhadap persoalan-persoalan yang belum jelas kebenarannya. hlm. Karl R.. Sikap skeptis merupakan karakteristik seorang ilmuwan. artinya dia tidak pernah menerima kebenaran suatu pernyataan sebelum penjelasan mengenai Ibid.. 58 292 291 . Konsep Belajar Barat (Non-Islam) Adapun metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (epistemologi) Barat (Non-Islam) 293. Op. dasar atau motif timbulnya kritik bukan karena adanya kebencian. Popper.126 alternatif pemecahannya. diantaranya adalah: 1. Dengan demikian. (New York: Harper & Row Publisher. Metode Skeptis Ciri skeptis atau keragu-raguan (kesangsian) menjadi “warna dasar” bagi pengetahuan Barat. hlm.

). Ilmu Dalam Perspektif. terj. mengangkat keraguan dan meraba-raba ke derajat ilmiah dalam metodologi. Islam dan Filsafat Sains. hlm.295 Melalui metode inilah kaum rasionalis dan sekularis percaya bahwa mereka akan mencapai kebenaran. dan memandang keraguan sebagai suatu unsur epistemologis yang istimewa dalam mengejar kebenaran. 1989). (Surabaya: PT. Suriasumantri (ed. dalam Jujun S.294 Muhammad Al-Attas. Dilema Kaum Muslim.127 pernyataan itu dapat diterima. 1995).296 2. tetapi konsep mereka itu harus bisa diterima akal manusia. Tentang Hakekat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi. 98 296 Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Saiful Muzani. Suriasumantri. hlm. 12 295 Muhammad Naquib Al-Attas. 30 294 . Para ilmuwan boleh mengemukakan konsep tentang cara-cara mendapatkan ilmu pengetahuan. hlm. 1986). dan konsekuensi kebenaran pernyataan tersebut dapat disaksikannya secara empirik. Anwar Wahdi Hasid an Muchtar Zoerni. bahwa keraguan yang mengantarkan mereka kepada kebenaran. Metode Rasional – Empiris Penggunaan rasio menurut ilmuwan Barat menjadi mutlak dibutuhkan dalam pencarian ilmu pengetahuan. berpendapat bahwa pengetahuan Barat seolah-olah benar. terj. Gramedia. (Jakarta: PT. sesungguhnya yang mengantarkan manusia kepada kebenaran adalah hidayah (petunjuk Ilahi). Rasio memberi pertimbangan dan sekaligus Jujun S. tidak ada kebenaran ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa mendapatkan pembenaran dari rasio. bukan keraguan. tetapi pada dasarnya hanya menghasilkan kebingungan dan skeptisisme. Bina Ilmu. tetapi tidak ada bukti. (Bandung: Mizan.

Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. sedang esensi dengan akal subjektif (intelek). dan ilmu-ilmu kealaman sebagaimana terdapat dalam alQur’an.. (Bandung: Mizan. sedangkan empirisme memandang pengalamanlah yang merupakan metode utama dalam memperoleh pengetahuan. M.299 Ini berarti ilmu modern Barat (Non-Islam) sesungguhnya berwatak sekuler murni. ilmu Ketuhanan. Mujamil Qomar. 1991). al. baru mulai pengalaman inderawi rasio itu terisi. karena rasio dapat mengerti hanya dengan cara “analisis ilmiah”. M. tanpa menghiraukan sumbernya. yaitu Tuhan.298 Ilmu modern Barat (Non-Islam) dibentuk atas dasar fakta empiris atau inderawi saja. baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Otak (rasio) itu asalnya kosong. dalam A. Saefuddin. antara lain. Filsafat Ilmu dan metodologi Keilmuwan. hlm.. hlm 71 299 A. yang telah memberikan esensi berbagai ilmu. Saefuddin et. yaitu Allah. sedangkan intelek non inderawi dapat mengetahui esensi.. Cit. 35 298 297 . 64 Ibid. maka pengalaman inderawilah yang berperan dalam memperoleh pengetahuan. Perpaduan rasio dengan intelek ini menghasilkan ilmu yang sebenarnya. Empiris dapat diketahui dengan akal objektif (rasio). hlm. ilmuilmu sosial.297 Rasionalisme memiliki pendapat bahwa pengetahuan dapat dicapai (ditemukan) melalui rasio.128 pengujian paling awal terhadap segala konsep untuk memperoleh pengetahuan. Op. karena pengalaman dipertentangkan dengan yang memberi pengalaman. Segala sesuatu yang ada dalam pikiran (rasio) berasal dari pengalaman inderawi.

Bagader (ed. menurutnya adalah cara terbaik untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. 1986).129 3.. Muchtar Efendi Harahab. Mengislamkan Ilmu-Ilmu Sosial. karena pertimbangan-pertimbangan metodologi300. Metode Dikotomik Dikotomi adalah pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan. Eddi S. Pengetahuan Barat (Non-Islam) yang senantiasa bersifat dikotomis tersebut. suatu aliran pemikiran filsafat yang digagas oleh Auguste 300 Ismail Raji Al-Faruqi. Citra Kampus Religius Urgensi Dialog Konsep Teoritik-Empirik Dengan Konsep Normatif Agama. bagi dunia Islam bisa mengandung bahaya. Pandangan dikotomi dapat mengancam realisasi Islam dalam kehidupan pribadi dan kebersamaan bermasyarakat. hlm. 92 . terj. Agama maupun golongan. 1985). (Yogyakarta: Pusat Latihan. 14 301 Ahmad Sadali. Barat memisahkan kemanusiaan (humanitas) dari ilmu-ilmu sosial. Penelitian dan Pengembangan Masyarakat-PLP2M. karena menurutnya ilmu apa pun termasuk ilmu sosial harus objektif. Bina Ilmu. maka muncul gagasan Islam untuk disiplin ilmu (IUD). Sebab salah satu syarat ilmiah adalah objektif. supaya ilmu pengetahuan tidak berkembang secara “liar”. dalam Abubakar A. Berdasarkan kenyataan ini.301 4. tidak boleh terpengaruh oleh tradisi. hlm. bahkan dikhawatirkan mendistorsi akidah. dalam Amin Husni et. “Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI) Suatu perambahan Langkah-langkah”. Hariyadhi dan Lukman Hakiem. Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial. Sedangkan faktor kemanusiaan lebih menekankan pendekatan rasa manusiawi dalam menyiakpi sesuatu. Namun. Metode Positif – Objektivis Ciri positif yang terdapat pada epistemologi Barat dipengaruhi oleh positivisme.). sehingga seringkali mengalahkan objektivitas. (Surabaya: PT. ideologi.al.

.303 5. hlm.304 Poedjawijatna. dan tidak bisa diamati secara inderawi.130 Comte (1798-1857). tetapi di luar jangkauan indera. 1991). ataupun kepentingan golongan tertentu. ilmu yang tidak positif bukan ilmu yang sebenarnya. bagi positivisme ditolak karena tidak dalam bentuk fakta. maka tetap ditolak sebagai suatu kebenaran faktual.. tidak bisa dikuantitatifkan. Pendekatan objektivis ini berusaha membersihkan pengetahuan dari subjektivitas orang yang mengembangkannya lantaran faktor agama. ujian intersubjektif atau kritik timbal balik. biografi intelektual. adat. Rineka Cipta. 83 304 Ibid.302 Positivisme hanya mau menerima fakta. Cit. hlm. tidak bisa diukur. 88 302 . Implikasinya ilmu pengetahuan sekarang ini makin jauh dari “cita rasa” moral edan spiritual. kebalikan dari idealisme. Ini berarti. hlm. ideologi. Metode yang Menentang Dimensi Spiritual (anti metafisikan) Metafisika adalah sesuatu yang berada di balik alam maupun pengertian yang bersumber dari Agama berupa persoalan-persoalan akhirat atau alam baka. Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat. Bagi positivisme hanya yang positif yang dapat dialami kebenarannya. Pendekatan objektivis adalah pendekatan yang memandang pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atau teori yang dihadapkan pada diskusi kritis. tidak bisa diuji. 94 303 Mujamil Qomar. (Jakarta: PT. Op. positivisme hanya mengakui nilai pengetahuan indera. bahwa meskipun terdapat fakta. realitas atau kenyataan empiris.

Akhirnya. hlm. dan sebagainya. ilmuwan Barat tidak memerlukan petunjuk atau bantuan spiritual dalam kerja ilmiahnya. yaitu memberikan seperangkat aturan yang harus dijalankan manusia sebagai bekal untuk menuju kehidupan akhirat. diukur. Wahyu tidak diberikan kewenangan sedikit pun untuk memberikan inspirasi terhadap upayaupaya mencari pengetahuan.131 Pandangan yang menempatkan indera pada posisi istimewa dalam menentukan pengetahuan akan mengarah pada kecenderungan serba benda riil dan konkret yang bisa diamati. Wahyu Tuhan memiliki peranan sendiri dalam kehidupan manusia. Keterlibatan unsur-unsur spiritual dipandang tidak perlu bahkan merusak cara kerja ilmiah. Manusia diyakini mampu menentukan kesulitan-kesulitannya sendiri tanpa melibatkan unsur-unsur di luar dirinya. dihitung. Manusia menjadi sandaran semua problem kehidupan keseharian baik sosial. maka hal tersebut hanya sekedar dalam kapasitasnya memberi petunjuk kepada manusia dalam memantapkan keimanan. budaya dan sebagainya untuk mendapatkan pemecahan. seni. pandangan ini cenderung bersikap materialistik dengan menjadikan manusia sebagai subjek atas “segala sesuatu”. dan peningkatan moral. 89 .305 Para ilmuwan Barat jika saja eksistensi wahyu Tuhan diakui. Sebagai implikasinya. melaksanakan upacara-upacara ritual. apalagi strategi mengembangkannya melalui 305 Ibid. politik. menjalankan ibadah..

. dan intuisi. hlm. Cit.. tidak mendapat semacam pencerahan dari kekuatan Tuhan. Op. rasio adalah alat berpikir manusia yang tidak memiliki sifat-sifat Ketuhanan (bantuan dari Tuhan). Kedua.132 bangunan epistemologi yang membutuhkan banyak perenungan dan pemikiran. 106 .306 Mereka membedakan secara tajam antara wahyu dan rasio. Ketika wahyu memberikan perintah atau petunjuk dipandang murni atas dasar pertimbangan Tuhan semata dan tidak ada pertimbangan dari sudut rasionalitas. yang mempunyai dua pengertian: Pertama. 91 Mujamil Qomar. maka diketahui bahwa pengetahuan dalam Islam tidak hanya mengakui bahwa pengetahuan (ilmu) harus dibuktikan 306 307 Ibid. Wahyu merupakan titah Tuhan yang tidak memilki sifat-sifat rasional sama sekali. rasional. pengetahuan dalam pandangan Barat adalah suatu fakta empiris atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu itu sendiri melalui pengalamannya. pengetahuan yang diperoleh manusia itu sendiri. pengetahuan yang berasal dari wahyu Allah untuk mengenal-Nya. C. Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Barat (Non-Islam) Pengetahuan dalam pandangan Islam diistilahkan dengan al-‘Ilmu.307 Dari dua pandangan di atas. Sedangkan. baik melalui pengalaman (empiris). Sedangkan ketika manusia melakukan kegiatan berpikir dianggap seratus persen murni hasil usahanya sendiri. sehingga dalam posisi yang saling berhadapan. Sebaliknya. hlm.

ilmu pengetahuan di Barat lebih menekankan pada dimensi epistemologi309. tetapi diterapkan dalam konstruksi ilmu pengetahuan. Dengan. Hal ini tentu saja berbeda dengan pandangan Barat. Islam tidak menghendaki keterpisahan antara ilmu dan sistem nilai. artinya pengetahuan harus dapat dibuktikan secara empiris dan dapat diterima oleh rasio manusia.310 Berdasarkan penjelasan di atas. sehingga metode yang digunakan pun harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Islam menolak science for science dan menghendaki terlibatnya moralitas dalam pencarian kebenaran ilmu. ilmu adalah fungsional ajaran wahyu. yang membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang dipikirkan. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan tersebut. hlm. 32-33 308 . yang mana pengetahuan Barat bersifat rasional empiris. asumsinya. 310 Mujamil Qomar. melainkan juga terdapat pengetahuan yang bersifat transenden yang tidak dapat dijangkau indera maupun akal manusia. tidak hanya sebatas keyakinan semata. Cit. kebenaran sangat bergantung pada metode yang digunakan untuk sampai pada pengetahuan yang abash. 309 Epistemologi adalah teori pengetahuan. Ilmu pengetahuan di dunia Islam lebih menekankan pada aksiologi308. Islam meletakkan wahyu sebagai paradigma agamawi yang mengakui eksistensi Tuhan. Sedangkan.. Filsafat ilmunya menekankan pada proses atau metode ilmiah yang dilewati sebagai sarana untuk mencapai kebenaran.133 secara empiris dan rasio. maka matriks komparatif antara konsep belajar Islam dan Barat dapat dijabarkan sebagai berikut: Aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat. seperti yang terjadi di Barat. Op.

Sekumpulan prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang tidak hanya bersifat empiris-kuantitatif tetapi juga normatif-kualitatif. psikomotorik. Aspek kognitif. 1. b.134 Tabel 4. Pandangan Tentang Belajar . Konsep belajar Fikr adalah pencarian pengetahuan dan kebenaran yang mampu Konsep Belajar Barat Perubahan tingkah laku atau watak yang menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan bukan karena proses pertumbuhan dan kematangan. dan psikomotorik tanpa adanya aspek spiritual. Sekumpulan prinsip dan gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang bersifat empirismaterialistik-kuantitatif. Sasaran Belajar Aspek kognitif. 5. afektif.1 Komparasi Antara Konsep Belajar Islam dan Konsep Belajar Barat No. Aspek Konsep Belajar Islam Proses pencarian pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang termanifestasikan dalam perbuatan demi terbentuknya Insan Kamil. a. Tercapainya tujuan hidup manusia. Konsep belajar Akhlaq adalah pembentukan perilaku yang mulia melalui taqlid dan ta’wid. Tujuan Belajar 3. Konsep Belajar Untuk memecahkan masalah. dan spiritual. 4. afektif. Makna Teori Belajar Perbuatan mental yang hanya bersifat duniawi. yaitu: mendekatkan diri pada Allah dan mampu mengaktualisasikan potensi diri demi kemaslahatan bersama (sebagai khalifah). 2.

10.135 menerobos dunia ukhrowi. Perkembangan Bahasa Dalam Belajar Manusia memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mempelajari bahasa dengan sendirinya. Pandangan Tentang Pendidik Pendidik berperan sebagai: Pendidik sebagai role model (murabbi). 6. Perkembangan Moral Dalam Belajar . Kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh kesepakatan manusia. Sumber pengetahuan hanya bersumber dari kognisi 8. Pandangan Tentang Peserta Didik 7. Sumber kebenaran dan kesalahan ditentukan oleh al-Qur’an dan al-Hadits. sebagai fasilitator dan motifator. Peserta didik bersifat aktif yang dapat memproses informasi. Kemampuan bahasa merupakan kemampuan manusia yang membedakan dengan makhluk lain. fasilitator. Sumber Pengetahuan Dalam Belajar 9. aktif. Peserta didik bersifat baik. dan dinamis serta punya kebebasan untuk mengaktualisasikan fitrahnya dengan tetap memperhatikan etika dalam belajar sebagai wujud penghormatan pada pendidik. c. transfer of values (muadib). Sumber pengetahuan selain kognisi adalah wahyu (al-Qur’an) dan alHadits. Konsep belajar Insaniyah adalah pembelajaran dengan kebebasan yang bertanggung jawab. transfer of knowledge (mu’allim).

136

Adapun komparasi antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan konsep belajar Jean Piaget adalah sebagai berikut: 1. Pengertian Belajar : a. Menurut Ibnu Khaldun Belajar merupakan suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. b. Menurut Jean Piaget Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral).

2. Strategi Belajar : a. Menurut Ibnu Khaldun 1) Guru mengajarkan problem-problem yang prinsipil mengenai setiap cabang-cabang pembahasan yang akan diajarkan. 2) Tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain. 3) Menyajikan materi pelajaran sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. b. Menurut Jean Piaget Cooperative Learning. Strategi ini akan membuat siswa lebih mudah menemukan secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikannya dengan siswa lain tentang problem yang

137

dihadapi, siswa belajar dalam pasangan-pasangan atau kelompok untuk saling membantu memecahkan problem yang dihadapi

3. Sumber Belajar : a. Menurut Ibnu Khaldun 1) Pengetahuan diperoleh dengan adanya transfer pengetahuan yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik. 2) Pengetahuan juga diperoleh dari al-Qur’an (wahyu) dan al-Hadits. b. Menurut Jean Piaget 1) Pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, yaitu melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindera. 2) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman.

4. Proses Berpikir dalam Belajar : a. Menurut Ibnu Khaldun Berpikir dari abstrak ke konkrit (umum – khusus). Berpikir merupakan kemampuan untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berpikir (af’idah), ada tiga tingkatan: 1) Al-’aqlu al-Tamyizi 2) Al-‘aqlu al-Tajribi 3) Al-‘aqlu al-Nazhari

138

b. Menurut Jean Piaget Berpikir dari konkrit ke abstrak (khusus-umum). Perolehan informasi tidak berlangsung satu arah (dari luar ke dalam diri siswa), melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa pada pengalamannya, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Tahap berpikir ada empat tingkatan: 1) Tahap Sensorimotor 2) Tahap Operational 3) Tahap Concrete Operational 4) Tahap Formal Operational

5. Tujuan Belajar : a. Menurut Ibnu Khaldun 1) Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. 2) Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik. 3) Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan. b. Menurut Jean Piaget 1) Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

139

2) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya. 3) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau

pemahaman konsep secara lengkap. 4) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. 6. Pandangan Terhadap Ilmu Pengetahuan : a. Menurut Ibnu Khaldun Ilmu pengetahuan hanya tumbuh dalam peradaban dan kebudayaan yang berkembang pesat, karena pengajaran ilmu merupakan salah satu keahlian yang hanya tumbuh di kota-kota. Ada dua kategori ilmu pengetahuan: 1) Al-‘ulum al-‘aqliyyah (ilmu yang diperoleh melalui kemampuan berpikir: logika, fisika, metafisika, dan matematika). 2) Al-‘ulum an-naqliyyah (ilmu berdasarkan syari’at dalam batasbatas tertentu: ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih, ilmu kalam, tasawuf). b. Menurut Jean Piaget Pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya, artinya pengetahuan merupakan suatu proses bukan suatu barang. Mengerti merupakan proses adaptasi intelektual antara pengalaman, ide baru, serta pengetahuan yang telah dimilikinya sehingga terbentuk pengetahuan baru.

140

7. Pandangan Terhadap Pendidik : a. Menurut Ibnu Khaldun 1) Pendidik bersifat aktif dalam proses belajar. 2) Pendidik harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal peserta didik. b. Menurut Jean Piaget 1) Pendidik berfungsi sebagai membantu proses belajar murid. 2) Pendidik mempunyai peranan penting di dalam kelas. 3) Pendidik tidak hanya menuangkan / memasukkan sejumlah informasi dalam benak siswa tetapi juga mengusahakan bagaimana konsep-konsep penting tertanam kuat dalam benak siswa. mediator dan fasilitator yang

8. Pandangan Terhadap Peserta Didik : a. Menurut Ibnu Khaldun Peserta didik dipandang sebagai seseorang yang perlu dibimbing (wildan) / bersifat pasif dan juga sebagai seseorang yang sedang belajar (muta’allim) / bersifat aktif. b. Menurut Jean Piaget Peserta didik dipandang sebagai pribadi yang sudah memilki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu dan bersifat aktif (dapat menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya).

BAB IV KONSEP BELAJAR ISLAM (IBNU KHALDUN) DAN BARAT (JEAN PIAGET) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Satu hal yang penting bagi seorang pendidik dalam hubungannya dengan peserta didik adalah mengetahui konsep-konsep tentang belajar dan memberikan materi pelajaran sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya agar materi yang diberikan dapat diterima oleh peserta didik, sehingga proses belajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

A. Pembahasan Konsep Belajar Menurut Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar Menurut Jean Piaget. Hal-hal penting yang menjadi ciri pendapat Ibnu Khaldun dalam pendidikan dan pengajaran adalah kemoderatannya dalam berpikir, yang mana Ibnu Khaldun tidak bersikeras dalam mengarahkan pendidikan kepada Agama dengan melalaikan nilai-nilai keduniaan. Ibnu Khaldun melihat bahwa pengajaran ilmu-ilmu Agama merupakan kewajiban dan kemestian karena ilmu Agama tersebut membantu individu untuk dapat hidup dalam kehidupan yang terpelihara dari kesalahan-kesalahan, dan karena Agama adalah sumber syari’at dan undang-undang, tetapi juga melihat bahwa ilmu-ilmu yang lain tidak kurang pentingnya dari ilmu-ilmu Agama. Ilmu-ilmu tersebut diperlukan

141

yaitu realisme yang telah didapatkannya dalam kehidupan politik yang membentuk filsafat praktisnya yang materialistis serta menjauhkannya dari khayalan dan idealisme. Pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan secara umum adalah masuk akal. hal tersebut nampak pada pengamatan-pengamatan yang dilakukannya sehingga membentuk teori-teori tertentu dan mendasarkannya dalam pendidikan. ilmu meningkat maka meningkat pula sistematika pengajarannya. manakala peradaban maju.. juga menunjukkan atas realisme Ibnu Khaldun. Berdasarkan pandangannya tersebut nampak bahwa pendapat Ibnu Khaldun berbeda dengan pendapatpendapat tradisional yang mengatakan bahwa profesi mengajar bukanlah termasuk kebiasaan yang mulia dan bahwa guru yang ideal adalah yang tidak menerima upah sebagai imbalan atas pengajaran ilmu. Ibnu Khaldun menghubungkan pendidikan dengan perjalanan peradaban. Pandangan Ibnu Khaldun mengenai pengajaran ilmu sebagai profesi atau ketrampilan yang digunakan untuk mencari rezeki. Hal itu karena pendidikan dilahirkan oleh masyarakat dengan semua nilai-nilai yang ada padanya dan dari semua faktor yang mempengaruhi segi-segi kehidupan dalam masyarakat tersebut. Ibnu Khaldun mendasarkan proses pengajaran atas metode di mana akal bekerja pada waktu pengajaran menunjukkan pada urgensi studi-studi .142 oleh individu supaya dapat hidup baik serta bangkit dalam masyarakatnya dan masyarakat tersebut menjadi maju dan berperadaban. hal tersebut menunjukkan atas ketajaman pengamatannya dan kedalaman pemikirannya.

pendapat Ibnu Khaldun tentang urgensi bahasa untuk pengajaran adalah karena bahasa adalah alat pemikiran. Tanpa bahasa dan . ketrampilan mempunyai nilai-nilai yang penting bagi kehidupan masyarakat. Di antara pemikiran Ibnu Khaldun dalam masalah pendidikan adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa kesempatan belajar bukanlah penghafalan dan pengucapan tetapi merupakan pemahaman. Hal tersebut perlu diperhatikan karena akan membuat proses pengajaran menjadi lebih sempurna. akibatnya proses belajar tidak akan sempurna. khususnya bila pendidik tidak memperhatikan tingkatan akal anak didik sewaktu mengajar atau bila mempergunakan kekerasan kepada anak didik dalam pengajarannya. ilmu dan ketrampilan adalah dilahirkan oleh peradaban serta terletak ilmu pada tingkatan yang sama dan begitu saling juga menyempurnakan.143 kejiwaan bagi orang yang melakukan pengajaran. Begitu juga pendapatnya yang menghendaki untuk tidak mengajarkan al-Qur’an kepada anak di usia dini karena anak tersebut tidak mampu untuk memahami dan menilai apa yang dipelajarinya tersebut. mempunyai nilai-nilai khusus. pembahasan. Menurut Ibnu Khaldun. Janganlah orang yang melakukan pengajaran melakukan kesalahan yang barangkali dapat menyebabkan bahaya bagi anak didik. Sedangkan. dari sini terlihat bahwa pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan adalah sangat modern yang tidak kalah dengan pemikiran para tokoh Barat. dan kemampuan berdiskusi yang memungkinkan individu membedakan antara yang hampa dan yang berhasil dalam ilmu dan pengetahuan.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ilmu-ilmu Agama ditempatkan sejajar dengan ilmu-ilmu akal dan juga menyamakan antara pengajaran teoritis dan pengajaran praktek dari sudut nilai dan kegunaannya bagi masyarakat. Setiap pengetahuan dan pengalaman baru tidak lain adalah sebuah tangga kematangan dan kemajuan pikiran. Pengajaran sesungguhnya adalah proses dinamis berkesinambungan yang tidak berakhir. Ibnu Khaldun sebagai pemikir dan pendidik telah membuktikan bahwa ia telah meletakkan dasar-dasar praktis realistis yang ilmiah untuk masalah pendidikan. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik. pengajaran. Ibnu Khaldun telah menjelaskan bahwa adanya keterkaitan antara pengetahuan. bahwa setiap pengetahuan dan percobaan baru yang didapatkan oleh individu memberikan dampak dalam pikirannya. yang mana dapat dilihat dalam tingkah laku individu pada sikap-sikap baru dalam kehidupan. . kemudian ilmu-ilmu tersebut kembali dan selanjutnya memberikan dampak dalam akal dan menjadi maju. serta kemajuan pemikiran. Pendapat tersebut sejalan dengan konsepkonsep terbaru pendidikan.144 tanpa penguasaan bahasa maka akan sulit dilakukan proses kontak belajar antara pendidik dan anak didik. Konsep pendidikan yang dikemukakan Ibnu Khaldun tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik. Pertama-tama. Akal atau pikiran melahirkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pemikiran. dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu. khususnya pada pengajaran tingkat pertama. sementara itu merendahkan pendidikan praktek yang ditempatkan pada jajaran yang lebih rendah dari pengajaran teoritis. hal tersebut dilakukan oleh anak di rumah. di sekolah. Ibnu Khaldun menghendaki seseorang pendidik harus memilki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap . setelah individu memperoleh pengetahuan umum yang memungkinkannya memahami studi spesialisasi dengan sesempurna mungkin. Pengajaran pada tingkat pertama haruslah bersifat umum dan mencakup hingga anak didik mempunyai pengetahuan umum yang memadai dan layak untuk mendalami studi-studi penting. yaitu mengambil prinsip tidak melakukan spesialisasi kecuali pada tingkat pasca sarjana. dalam proses belajar seorang guru harus beberapa kualifikasi tertentu. Jadi. khususnya melalui kehidupan keagamaan yang saleh dan utama yang dihayati oleh keluarga. Pendidikan Agama dan budi pekerti harus ditumbuhkan sejak kecil.145 Dengan demikian berarti telah terbebas dari pemikiran tradisional yang mengagungkan studi-studi teoritis dan memberinya nilai unggul. Ibnu khaldun memandang bahwa usaha mendidik dalam aktivitas pendidikan sebagai salah satu pekerjaan yang memerlukan keahlian. Pendapat Ibnu Khaldun tersebut sesuai dengan orientasi yang ada sekarang dalam pendidikan. Spesialisasi sempit dalam segi-segi pengetahuan merupakan hal yang tidak diinginkan oleh Ibnu Khaldun. dan dalam masyarakat.

yang pada akhirnya menjadi bangunan ilmu yang lengkap. Ibnu Khaldun meyakini bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dilakukan bertahap-tahap. mengingat isi al-Qur’an mencakup materi penanaman aqidah dan keimanan dalam jiwa anak didik. dan pada akhirnya akan membentuk suatu pengetahuan yang utuh.146 dan juga mengajar dengan mengguankan metode yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Keutuhan pengetahuan tersebut di dapatkan siswa dari pembelajaran yang bertahap dan berangsur-angsur yang diterimanya. Dengan adanya pentahapan akan memberi kesempatan kepada otak anak didik untuk berfikir dan menyimpan informasi yang mereka peroleh dari pendidiknya. dalam otak siswa akan terjalin semacam endapan memori pengetahuan yang tersusun secara teratur. perlahan-lahan. Ibnu Khaldun memandang bahwa al-Qur’an merupakan asal Agama. yaitu: 1. di sisi lain. Tingkatan Pemula Materi kurikulum pemula difokuskan pada pembelajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Ibnu Khaldun membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan dua tingkatan. sumber berbagai ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan pendidikan Islam. . serta memuat akhlak mulia dan pembinaan pribadi menuju hal-hal yang positif. langkah demi langkah. Ilmu pengetahuan yang berangsur-angsur tersebut membentuk sebuah kerangka bangunan yang utuh. Di samping itu.

Hadits. Tingkat Atas Kurikulum dalam tingkatan ini mempunyai dua klasifikasi. Ilmu Kalam. yaitu: 1. Selanjutnya. Ibnu Khaldun membagi ilmu dengan tiga tingkatan kategori. 3. Ilmu-ilmu Lisan (Linguistik) . Ilmu Bumi. dan bukan berkaitan dengan dzatnya sendiri. Ilmu Ushul Fiqih untuk mengistimbathkan hukum berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. b. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri. Ilmu Kimia. Seperti: Ilmu Fiqih untuk mengetahui kewajiban-kewajiban beribadah. Ilmu Kalam. yaitu: a. Ilmu Tafsir untuk mengetahui maksud-maksud al-Qur’an. seperti: ilmu syari’ah (mencakup: Fiqih. Ilmu-ilmu yang ditujukan untuk ilmu-ilmu lain. Ilmu Ketuhanan dan Ilmu Filsafat). Tafsir. Ilmu Matematika. Ilmu Matematika. 2. Ilmu-ilmu Naqliyah Ilmu naqliyah yaitu ilmu yang diambil dari al-Qur’an dan ilmuilmu Agama.147 2. seperti: Ilmu Mantiq (Logika). Ilmu Bumi. Ilmu Teknik. Ilmu Fisika. Ilmu Mantiq (Logika). serta ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu Aqliyah Ilmu aqliyah yaitu ilmu yang diambil dari daya pikiran manusia. Misalnya: Ilmu Bahasa.

seperti: Ilmu Nahwu. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.148 Ilmu lisan merupakan ilmu yang berubungan dengan susunan tata bahasa. Ia menjelaskan bagaimana proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan kognitif. Ibnu Khaldun menjadikan pengajaran sebagai profesi yang dapat dipergunakan untuk mencari rezeki. Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun. adalah: 1. Ilmu Adab (Sastra). karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. 2. Jean Piaget mengamati kehidupan keong yang tiap kali harus beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget percaya bahwa setiap makhluk hidup perlu beradaptasi dan mengorganisasi lingkungan fisik dan sekitarnya agar tetap bisa hidup. industri dan institusiinstitusi sosioal. Teori perkembangan kognitif Piaget dipengaruhi keahliannya dalam bidang Biologi. sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan. Pemikiran matang adalah alat kemajuan berbagai ilmu. Kematangan ini akan menguntungkan masyarakat. 3. Ilmu Bayan. Bagi Piaget. Jean Piaget merupakan psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses pembelajaran. pikiran dan tumbuh juga sama perlu berkembang dan .

Terj. Perasaan. 2006). Lihat Matt Jarvis. maka akan terjadi proses perubahan hingga terjadi perkembangan yang seimbang dan menghasilkan pengetahuan baru. dan mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar melalui kontak dengan pengalaman baru. mengkoordinasi. 142 311 . hlm. dan konsep abstrak. Schemas. Dalam pikiran seseorang sudah ada struktur pengetahuan awal (skemata). SPA-Teamwork. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan penerbit Nuansa. Bila pengalaman baru sungguh berbeda dengan pengetahuan lama. Skema baru disesuaikan dengan pengetahuan lama dan skema dikembangkan melalui proses asimilasi.149 beradaptasi. manusia menyusun polapola lain. yaitu perlu beradaptasi dengan lingkungannya. termasuk objek. Jean Piaget percaya bahwa manusia dilahirkan dengan membawa beberapa pola (schemas)311 yang memungkinkannya berinteraksi dengan manusia lain. Skema mengatur. Selama tahun pertama kehidupannya. Setiap skema berperan sebagai filter dan fasilitator bagi pengetahuan baru. di mana pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru berinteraksi dengan apa yang sudah diketahui atau dimiliki seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur dan pengetahuan baru. terpisah dari dunia sekitarnya. Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku. Pola awal yang penting adalah pola yang ada dalam dirinya yang berkembang seiring kesadaran anak dalam bulan-bulan pertama kehidupannya bahwa dirinya merupakan objek yang berdiri sendiri. aksi. Perkembangan pemikiran sama dengan perkembangan Biologis. dan Pikiran Manusia). Menurut Jean Piaget mengerti merupakan suatu proses adaptasi intelektual. adalah paket-paket informasi yang tiap tiap paket tersebut berhubungan dengan satu aspek dunia.

Namun. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun) Pada tahap ini fokus utama tertuju pada sensasi fisik dan belajar mengkoordinasikan tubuh. ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pola-pola yang ada. Asimilasi terjadi ketika sebuah pengalaman baru dipahami dengan jalan mengubah pola yang sudah ada. Itulah sebabya bayi merasa terpesona ketika menyadari bahwa dirinya bisa menggerakkan anggota-anggota badannya . Satu hal yang penting dalam belajar mencakup soal kematangan anak untuk belajar. sedangkan akomodasi terjadi tatkala sebuah pengalaman baru amat berbeda. Jean Piaget mengidentifikasikan bahwa dalam equilibrium terdapat dua proses. sehingga tidak bisa diasimilasikan dengan pola yang sudah ada dan perlu dibuat pola yang baru. Menurut Jean Piaget operasi mental tertentu terdapat pada tingkat perkembangan yang berbeda-beda yang membatasi kesanggupan anak untuk mengelola masalah tertentu terutama pada tahap abstrak.150 Jika pola-pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan anak dari lingkungannya. Ini menunjukkan bahwa guru harus menunggu tahap perkembangan anak yang tepat untuk menyampaikan bahan tertentu. kondisi tersebut dinamakan keadaan equilibrium. Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif yang mempengaruhi proses belajar seorang anak adalah sebagai berikut: 1. anak akan mengalami disequilibrium yang tidak menyenangkan. yaitu asimilasi dan akomodasi.

2006).151 kemudian pada tahun kedua bayi sengaja bereksperimen dengan berbagai tindakan untuk mengetahui pengaruhnya. Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku. Sifat anak-anak dalam tahap ini sangat egosentris. termasuk perasaan dan motif. dan juga anak telah kehilangan kecenderungannya terhadap animisme dan artifisialisme. Pada tahap ini anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi. dan Pikiran Manusia). (Bandung: Penerbit Nusamedia dan penerbit Nuansa. Perasaan. tetapi anak belum banyak mengerti tentang aturan logika. bayi menyadari bahwa dirinya merupakan objek yang berbeda dari dunia luar dan mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Pada akhir tahap sensorimotor. 146 313 Maksudnya adalah bahwa anak-anak berpikir bahwa benda mati seperti mainan mereka memiliki sifat-sifat seperti manusia. 2. Egosentrisnya berkurang dan kemampuannya dalam tugas-tugas konservasi menjadi lebih baik. hlm. 314 Maksudnya adalah gejala tatkala anak-anak berpikir bahwa manusialah yang bertanggung jawab atas gejala alam. Terj. 312 . Konservasi adalah bahwa kuantitas benda-benda sebenarnya sama walaupun penampilannya berubah. 3. SPA-Teamwork. Lihat Matt Jarvis. Tahap Preoperasional (2-7 tahun) Pada tahap ini pemikiran anak didasarkan pada pemikiran lambang yang menggunakan bahasa daripada sensasi fisik. sulit melakukan konservasi312. dan cenderung percaya pada animisme313 dan artifisialisme314. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun).

Konsep belajar yang ditawarkan oleh Jean Piaget adalah menekankan pada transmisi pengetahuan melalui metode ceramah-diskusi dan mendorong guru untuk bertindak sebagai katalisator dan siswa belajar sendiri. Tujuan pendidikan bukanlah meningkatkan jumlah pengetahuan. Konsep belajar Jean Piaget termasuk dalam aliran pembelajaran konstruktivistik. yang mana membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasai informasi baru. dan juga dalam kegiatan belajar Jean Piaget lebih mementingkan interaksi antara siswa dengan kelompoknya. maka seoorang guru diharuskan untuk memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap tersebut. tetapi meningkatkan kemungkinan bagi anak untuk menemukan dan menciptakan sendiri pengetahuan lewat pengalaman yang diperolehnya. Berdasarkan tahap-tahap tersebut.152 4. maka tidak akan ada maknanya bagi siswa. Transformasi terjadi dengan menghasilkan . Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa. Perkembangan kognitif akan terjadi dalam interaksi antara siswa dengan kelompok sebayanya dari pada dengan orang-orang yang lebih dewasa. Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas) Pada tahap ini anak-anak sudah mampu memahami bentuk argumen dan tidak dibingungkan oleh isi argumen.

Mencari perluasan dari tanggapan awal siswa. menggunakan istilah kognitif.153 pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru. 4. baik dengan guru atau sesama siswa. didemonstrasikan. tugas seorang guru dalam pembelajaran tersebut adalah: 1. Maka. Pandangan ini tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa yang dapat diulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes. Menggunakan data mentah dan nara sumber asli. meramalkan. 8. . seperti klasifikasikan. Mendorong siswa untuk bertanya dengan memberikan pertanyaan terbuka yang mendalam dan juga mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan satu dengan yang lain. Mencari tahu tentang pengertian siswa akan konsep yang diberikan sebelum membagi pengertian-pengertian mereka tentang konsep tersebut. mengubah strategi pembelajaran dan mengubah isi. ciptakan atau bentuk. 6. 3. interaktif dan nyata. 5. Memperbolehkan jawaban siswa menuntun pelajaran. 2. Pendekatan konstruktivistik lebih luas dan sukar untuk dipahami. Mendukung dan menerima otonomi dan inisiatif siswa. Mendukung siswa untuk terlibat dalam dialog. melainkan pada apa yang dapat dihasilkan siswa. 7. analisa. bersama bahan yang manipulatif. Ketika memberi tugas. dan ditunjukkannya.

154

9. Mengajak siswa terlibat dalam pengalaman yang mungkin bertentangan dengan hipotesa awal mereka dan kemudian mendorong adanya diskusi. 10. Memberikan waktu bagi siswa untuk membentuk hubungan dan menciptakan metafor (perumpamaan). 11. Mengembangkan keinginan dan siswa dengan sering menggunakan model lingkaran belajar (learning cycle model).

Menurut Jean Piaget yang sangat penting dalam proses belajar adalah siswalah yang harus mendapatkan tekanan. Mereka yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Siswa yang harus bertanggungjawab terhadap hasil belajarannya. Kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal, sebab mereka selalu berfikir, bukan menerima saja. Proses mandiri dalam berfikir perlu dibantu oleh pendidik. Anggapan lama yang menyatakan bahwa anak itu tidak tahu apa-apa, sehingga pendidik harus mencekoki mereka dengan bermacam hal, anggapan tersebut tidak sesuai dengan prinsip konstruktifis.

Pembelajaran konstruktivistik berbeda dengan kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon sesuai dengan materi yang diceramahkan. Pada pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku

155

teks. Alternatif-alternatif perbedaan interpretasi di antara siswa terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak dipertimbangkan. Pada teori behavioristik, ketika menjawab pertanyaan siswa, guru tidak mencari kemungkinan cara pandang siswa, guru tidak mencari kemungkinan cara pandang siswa dalam menghadapi masalah, melainkan melihat apakah siswa tidak memahami sesuatu yang dianggap benar oleh guru. Pengajaran didasarkan pada gagasan atau konsep-konsep yang sudah dianggap pasti atau baku, dan siswa harus memahaminya. Pengkonstruksian pengetahuan baru oleh siswa tidak dihargai sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan.

156

Tabel 5.1 Perbedaan Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik

Pembelajaran Behavioristik 1. Kurikulum disajikan dari bagianbagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada ketrampilan-ketrampilan dasar. 2. Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan. 3. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja. 4. Siswa-siswa dipandang sebagai kertas kosong yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dalam menyampaikan informasi kepada siswa. 5. Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing. 6. Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri-sendiri, tanpa ada group process dalam belajar.

Pembelajaran Konstruktivistik 1. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju kebagianbagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas. 2. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa. 3. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan. 4. Siswa dipandang sebagai pemikirpemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.

5. Pengukuran proses dan hasil belajar terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugastugas pekerjaan. 6. Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja di dalam group process.

14. Siswa adalah penerima informasi secara pasif. Pengetahuan yang dimiliki adalah dikembangkan oleh manusia sendiri. dan setting. 10. atau hukum yang berada di luar diri manusia. 8. konteks. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya. tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran 12. Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis. konsep. mendengarkan. dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. mencatat. Ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan. Ketrampilan dikembangkan berdasarkan atas pemahaman. Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran. terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Siswa diminta bertanggungjawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing.). 11. . 12. 10. 9. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar bahwa hal itu keliru dan merugikan. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. 11. 7. Pengetahuan yang dimiliki adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta. Seseorang tidak melakukan sesuatu yang jelek karena takut hukuman. 9. 13. 14. menghafal. 13.157 7. 8. Pembelajaran sangat abstrak.

Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya. 4.158 Tujuan dari pembelajaran yang ditawarkan Jean Piaget tersebut. maka diharapkan akan menghasilkan konsep belajar terpadu dan selaras dengan idealisme Islam yaitu dengan melakukan sintesa antara konsep belajar Barat dan Islam. misalnya dalam pandangan Islam akhlaq dan tauhid sangatlah diperlukan dalam belajar guna memperoleh kemanf’atan ilmu yang telah dipelajarinya sedangkan dalam pandangan Barat hal tersebut tidak diperhitungkan. Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. 2. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap. diantaranya adalah: 1. Jadi. tetapi tidak semua yang dikonsepsikan oleh Barat sejalan dengan konsep belajar dalam Islam. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri . dalam proses belajar diharapkan . Aplikasi Konsep Belajar Ibnu Khaldun dan Konsep Belajar Jean Piaget Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Walaupun menurut perkembangannya konsep belajar Barat lebih maju daripada konsep belajar Islam. 3. B. dengan mengambil yang baik menurut Islam dan meninggalkan pengaruh yang buruk. Agama akan tegak dengan adanya ilmu dan ilmu akan dapat diterangi atau disinari oleh Agama. Setelah melakukan analisis komparatif antara konsep belajar Islam dan Barat.

akibatnya otak jemu serta tidak sanggup bekerja. 3. 2. baru diberikan ilmu pengetahuan yang lain. guru harus memberikan materi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. . Mengajarkan pengetahuan secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit. maka anak didik telah memperoleh keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut. Keterangan-keterangan yang disampaikan harus secara umum. Apabila dengan jalan itu seluruh pembahasan pokok telah dipahami.159 seorang pendidik harus mampu memahami kondisi dan mengetahui tahap perkembangan intelektual serta akhlaq peserta didik. Apabila ia telah menguasai ilmu pengetahuan yang awal. karena apabila semua ilmu dihadapkan sekaligus kepadanya. Pada permulaan belajar. maka ia tidak akan sanggup memahami semuanya. dan akhirnya meninggalkan ilmu yang dipelajari tersebut. lalu putus asa. diantaranya adalah: 1. sehingga proses belajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan karena materi dan metode yang disampaikan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Maksudnya adalah peserta didik diajarkan suatu ilmu pengetahuan. tetapi itu baru sebagian keahlian yang belum lengkap. Aplikasinya konsep belajar Islam (Ibnu Khaldun) dan Barat (Jean Piaget) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. dengan memperhatikan kekuatan fikiran pelajar dan kesanggupannya memahami apa yang diberikan kepada anak didik.

6.160 4.315 7. kemudian dilanjutkan belajar ilmu hitung secara terus-menerus hingga mengenal rumus-rumusnya. Setelah itu. 8. ilmu Hadits. Kurikulum pertama yang diajarkan kepada peserta didik adalah matapelajaran bahasa Arab dan syair. Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memukul si anak. dan ilmu-ilmu lainnya). selanjutnya baru mempelajari al-Qur’an. (Yogjakarta: Ar-Ruzz. tujuannya adalah melatih anak agar dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya dengan baik. karena hal ini akan membuat mereka membaca apa yang tidak dimengertinya. Seorang pendidik dalam proses belajar mengajar tidak mencampuradukkan antara masalah yang diberikan dalam buku pelajaran dengan sejumlah masalah lain. baru peserta didik mempelajari prinsip-prinsip Islam (seperti: ilmu Kalam. serta terampil dan teliti dalam menulis di mana anak akan memahami apa yang ia tulis menurut sebenarnya dan memahami apa yang ia baca dengan baik. Filsafat Pendidikan Islam. karena pengajaran bahasa asing dapat dipandang sebagai 315 Toto Suharto. 5. maka pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali. Bahasa yang dipergunakan dalam mengajarkan ilmu-ilmu harus dengan bahasa asli. Pendidik diharuskan untuk bersifat sopan dan halus pada muridnya. 2006). 249 . ilmu debat. Memberikan perhatian besar untuk pengajaran bahasa Arab dan menjadikan studi bahasa ini sebagai dasar setiap ilmu. Fiqih. Ushul Fiqih. Al-Qur’an jangan diajarkan di permulaan. hlm.

SPA-Teamwork. Cara berpikir anak-anak berbeda dan kurang logis dari pada orang dewasa. bukan mengharapkan anak beradaptasi dengan guru. (Bandung: Penerbit Nusamedia dan penerbit Nuansa. dan Pikiran Manusia). 10. bukan hanya mengandalkan penyampaian fakta. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah guru harus menciptakan situasi sehingga anak mampu belajar sendiri. 2006). 159 . Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk memahami Perilaku. hlm. Hal tersebut karena sulit bagi anak didik mendalami dua keahlian dalam waktu yang sama. Apabila bahasanya adalah bahasa Asing. Perasaan. 9. Oleh karena itu. Terj. oleh karena itu guru harus berusaha beradaptasi dengan cara berpikir anak. yang akan membawa perasaan gagal dan akan menghambat minat. dan karena ketelitian ungkapan adalah mesti dalam mempelajari ilmu yang bermacam-macam.316 12. Hal tersebut tidak akan terlaksana kecuali bila anak didik menguasai bahasa yang dipergunakan sehingga mudah baginya untuk memahami dan mudah bagi guru untuk menerangkan. peran guru adalah merancang tugas yang di dalamnya anak dapat menyelesaikan masalah sendiri. maka akan sulit bagi anak didik untuk menguasainya. seperti halnya juga akan melampaui kemampuan mereka. Anak paling baik dengan menemukan (discovery). Agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung 316 Matt Jarvis. 11. Hendaknya seorang guru dalam proses belajar mengajarkan hal-hal pokok pada setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. Tidak terlalu banyak mengajarkan ilmu kepada anak-anak karena hal itu akan merusak kemajuan otak mereka.161 faktor penghalang.

Berbagai macam tugas perlu diberikan dalam membantu anak membangun pengetahuan tentang dunia. penting sekali bahwa guru tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah tetapi dinalar dengan baik. 160 . Pendidikan bertujuan mengembangkan pemikiran anak.317 13. bahan-bahan seperti: air.318 14. proyeksi dan pratikum membantu anak menjelajahi sifat-sifat dunianya. tugas guru adalah menanyakan secara halus bagaimana anak sampai pada kesimpulan yang keliru itu dan mendorong mereka berpikir lebih jauh. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimilki siswa. Oleh karena itu. hlm. Di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Artinya. pasir. ketika anak-anak mencoba memecahkan masalah. dan krayon sangat membantu anak membangun konstruksi (luar dan dalam). guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri.. 15. Ibid. tetapi memberi mereka tugas yang khusus dirancang untuk membimbing mereka menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri. Meskipun demikian.162 efektif. penalaran merekalah yang lebih penting daripada jawabannya. oleh karena itu dalam mengajar guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. batu bata. Agar bermakna. Tugas guru adalah menunjukkan 317 318 Ibid. Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar menghafal. Selanjutnya.

pengetahuan awal. 2005). 49 Ibid. hlm.163 hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang diketahui siswa.320 319 320 Asri Budianingsih. . Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta.319 16. karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. kemampuan berpikir. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan.

konsep belajar menurut Jean 164 . yaitu: mendekatkan diri pada Allah dan mampu mengaktualisasikan potensi diri demi kemaslahatan bersama (sebagai khalifah). afektif.BAB V PENUTUP A. Sedangkan. Selain itu. Sedangkan. dan psikomotorik tanpa melibatkan aspek spiritual di dalamnya. Belajar dalam pandangan Barat (Non Islam) hanya memperhatikan aspek kognitif. Konsep belajar menurut pandangan Islam adalah proses pencarian pengetahuan dengan mengoptimalkan potensi (fitrah) yang termanifestasikan dalam perbuatan demi terbentuknya Insan Kamil. dalam Islam sangat memperhatikan adanya aspek spiritual dalam proses belajar. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas mengenai konsep belajar Islam (khususnya Ibnu Khaldun) dan konsep belajar Barat (khususnya Jean Piaget). Konsep belajar menurut pandangan Barat (Non-Islam) adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku yang dilakukan secara sadar. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. konsep belajar menurut Ibnu Khaldun adalah suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. karena dengan adanya aspek spiritual tersebut dapat membuat peserta didik mencapai tujuan hidup.

psikomotorik dalam belajar. dan psikomotorik tanpa melibatkan aspek spiritual dalam belajar. dalam pemberian materi tentang Shalat. Sedangkan.165 Piaget adalah merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral). 3. Sedangkan. Misalnya. Adapun komparasi (perbandingan) antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget adalah:Ibnu Khaldun memandang bahwa konsep belajar merupakan suatu proses mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Awalnya guru hanya menyampaikan makna tentang Shalat. setelah peserta didik . selain memperhatikan aspek kognitif. di antaranya adalah: Mengajarkan pengetahuan secara berangsur-angsur dan sedikit demi sedikit. afektif. proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. di Barat hanya melibatkan aspek kognitif. Maksudnya adalah apabila peserta didik telah menguasai suatu ilmu pengetahuan (materi awal). juga melibatkan adanya aspek spiritual. Aplikasi konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. baru diberikan pengetahuan yang lain (materi baru atau materi selanjutnya). Komparasi (perbandingan) antara konsep belajar Islam dan Barat (NonIslam) di antaranya: Dalam Islam. Jean Piaget memandang bahwa konsep belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (peristiwa mental bukan peristiwa behavioral). afektif. 2. proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.

Saran . 3. Sebagai seorang pendidik diharapkan memahami konsep-konsep belajar secara mendalam guna menciptakan proses pendidikan sesuai dengan yang diharapkan sehingga menghasilkan anak didik yang cerdas dan dapat mencapai insan kamil. 4.166 memahami makna tentang Shalat.Saran 1. baru kemudian disampaikan materi tentang rukun-rukun Shalat B. . 2. Tidak memandang bahwa semua konsep belajar yang ditawarkan Barat akan membawa pengaruh buruk karena pastilah di dalamnya ada hal-hal positif yang dapat kita ambil sehingga akan menciptakan suasana belajar yang ideal. dengan begitu akan menciptakan suasana belajar yang ideal karena materi yang telah disampaikan akan dapat diserap dengan baik oleh peserta didik. Tidak memandang bahwa konsep belajar dalam Islam merupakan konsep belajar yang ideal. Seorang pendidik diharapkan mengetahui dan memahami tahap-tahap perkembangan peserta didik dan memberikan materi sesuai dengan kemampuan peserta didik tersebut. karena pastilah di dalamnya ada hal-hal yang perlu dibenahi agar sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman sehingga pendidikan dalam Islam tidak dipandang ketinggalan zaman.

terj. Yogyakarta: Pusat Latihan. Mengislamkan Ilmu-Ilmu Sosial. 1997. 1994. Bagader (ed. Al-Jumbulati. Jakarta: Rineka Cipta. Dilema Kaum Muslim. diakses 28 Februari 2008) Ancok dan Suroso. . 2002. Abror. Abdur Rahman. Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi. 1995. Penelitian dan Pengembangan Masyarakat-PLP2M. Riwayat. diakses 25 Februari 2008) Baali. Jakarta: PT. Jean Piaget (http: // www. 1995. Cet. Fuad dan Ali Wardi. Karya Ilmiah Ibnu Khaldun (http: // www. Tiara Wacana. Muhammad Naquib. Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi Agama) . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Mizan. Perbandingan Pendidikan Islam. Eddi S. Com. 167 . 1991. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rineka Cipta. 1993. Anwar Wahdi Hasi dan Muchtar Zoerni. Al-Faruqi. 1985. Jakarta: Rineka Cipta. Surabaya: PT. Geoogle. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum).1986. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. 1991. 2001. Geoogle. terj. Arikunto. Allasmaji.Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 2003. Muchtar Efendi Harahab. Bina Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara. Saiful Muzani. 2.DAFTAR RUJUKAN Abdullah. Syamsuddin. Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial.). Yogyakarta: PT. dalam Abubakar A. Psikologi Pendidikan. terj. Com. Sebuah Pendekatan Psikologi Islami. Artikel Wikipedia Indonesia. Malik. Psikologi Belajar. Cet. Islam dan Filsafat Sains. Al-Attas . Arifin. 12. Suharsimi. Jakarta: Pustaka Firdaus. M. Ismail Raji. Solo: Era Intermedia. Fiqih Tafakur dari Perenungan Menuju Kesadaran. Ahmadi. Mansuruddin dan Ahmadie Thaha. Abu dan Widodo Supriyono. Terj. Ali dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi. Hariyadhi dan Lukman Hakiem. Badri.

Budianingsih. Ibn.T. Jakarta: Pustaka Firdaus. Methode Research I. Ilmu Laduni Dalam Perspektif Teori Belajar Modern. Oemar. Strategi Belajar mengajar (Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama). Lexy. Belajar dan Membelajarkan. Citra Media. Jakarta: C. Syaiful Bahri. dkk. Psikologi Pendidikan. 2007. SPA-Teamwork. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Afsed. Mudjib. . Asri. Cet 20. . Cet. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Yogyakarta: Pustaka pelajar. Terj.V. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Kajian Operasionalnya. Rineka Cipta.168 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Mustaqim dan Abdul Wahib. Sutrisno. Rajawali Pers. Djamarah. Jakarta: P. Bandung: Trigenda Karya. Matt.V. Hamalik. Moleong. Teori-Teori Psikologi (Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku. Jarvis. 1993. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim – Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. 2004. Psikologi Perkembangan. 1996. Harits. Yogyakarta. Kupper. Proses Belajar Mengajar. 2004. Muhaimin dan M. Bumi Aksara. Metodologi Penelitian Kualitatif. 1987. Muqaddimah Ibn Khaldun. Terj. 2007. Melton Putra. Margareth. Busyairi. 1991. 2000. dan Pikiran Manusia). Bandung: P. Hadi. Remaja Rosdakarya. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Perasaan. 2000. Khaldun. Mulkhan. Desmita. Bandung: PT. Bandung: Penerbit Nusamedia dan Penerbit Nuansa. Ahmadie Thoha. Jakarta: PT.A. Ke-6. 2006. Jakarta: PT. Belajar dan Pembelajaran. 1993. Yogyakarta: Sipress. Surabaya: C. Jakarta: Rineka Cipta. Remaja Rosdakarya Offset.T. Adam dan Jesieca Kupper. Teori Belajar dan Pembelajaran. 2003.

Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat. II. Ahmad. Saefuddin. Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI) Suatu perambahan Langkah-langkah. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK. Bandung: Alabeta. M. M. Nata. Konsep dan makna Pembelajaran. Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Rineka Cipta. Teori dan Praktik Kependidikan. Cet. Jakarta: Minaret.al. Nurhadi. Conjectures and Reputations: The Growth of Scientific Knowledge. A. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. 2005. 1994. Studi Tentang Landasan Kependidikan: Jurnal. Citra Kampus Religius Urgensi Dialog Konsep Teoritik-Empirik Dengan Konsep Normatif Agama. 2004. Mujamil. Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan. Samuel. Surabaya: PT. Saiful. Islam dan Dunia. Filsafat. Bandung: Tarsito. 2005. Yogyakarta: Kanisius.T. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Psikologi Pendidikan. 1987. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset. Poedjawijatna. 1991. Jakarta. Jakarta: Gaya Media Pratama.. Pidarta. 1990. Jakarta: PT. 1991.169 Nadwi. Psikologi Pendidikan Untuk Para Pendidik dan Calon Pendidik. Bandung: Mizan. dalam Amin Husni et. Bandung: Angkasa. cet ke-6. Bandung: Alfabeta. 2005. Jakarta: Penerbit Erlangga. Winarno. Surachmad. Sudjana. Sugiyono. Malang: Universitas Islam Negeri Malang. Nana. Soemanto. et. Wasty. Sadali. Suparno. 1968. Qomar. Soeitoe. 1998. .1999. Filsafat Pendidikan Islam. Sagala. Rineka Cipta. Popper. 2006. New York: Harper & Row Publisher. Karl R. Metode Penelitian Administrasi. Paul. 1986. al. Bina Ilmu. Jakarta: P. 1991. Epistemologi Pendidikan Islam Dari Metode Rasional hingga Metode Kritik. 2005. Sulaiman. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Teknik. Abu Hasan Ali. Abuddin. Fathiyyah Hasan. Jakarta: Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Marsudi Fitro. Bandung: Pustaka Bani Quraisi. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. Muhibin. Bandung: P. Geoogle. Semarang: P. 2003. Jakarta: Kalam Mulia. Jakarta: PT. Surya. Psikologi Belajar. 2004. cet. Metodologi Penelitian. Remaja Rosdakarya. Karya Toha Putra. Gramedia.T.170 Suriasumantri. diakses 25 September 2007) Zaini. Sumadi. Wibowo. Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT. 1995. dkk. . Syah. 1989. Muhammad. Com. Jakarta: Cemerlang. Jakarta: Rajawali Pers. 1997. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Jujun S. Filsafat Pendidikan Islam. Abd. 2008. Sjahminan dan Muhaimin. . . Logos Wacana Ilmu. 1991. Qur’an Hadits. Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam. Suryabrata. Jakarta: P. Cet 2. Zuhairini. Wiji. Zaini.2002. Psikologi Pendidikan. 2006. Raja Grafindo Persada. Malang: Universitas Negeri Malang. Suwarno. 1988. ke-14. dkk. cet ke-3. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia. Wadud. Belajar dari Ibnu Khaldun (http: // www. Sutiah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 1999. 4. Undang-Undang Republik Indonesia No. Jakarta: Kalam Mulia.T. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.T. Ilmu Dalam Perspektif. Syahminan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 .

.

Lampiran I Gambar Ibnu Khaldun .

Lampiran II Gambar Jean Piaget .

RIWAYAT HIDUP Nadyana Rizqi.Malang. pada tahun 2004 dan lulus pada tahun 2008. MA (Madrasah Aliyah) di Al-Ma’arif Singosari dan lulus tahun 2004. Choiril Anam dan Farida. 29 Desember 1985. Bertempat tinggal di Jalan Tumapel 44 Singosari . . lahir di Malang. Kemudian melanjutkan S-1 pada fakultas Tarbiyah. jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. MTs (Madrasah Tsanawiyah) di Al-Ma’arif Singosari dan lulus tahun 2001. Putri pertama dari H. Menempuh pendidikan SDI (Sekolah Dasar Islam) di Al-Ma’arif 02 Singosari dan lulus tahun 1998.

5. BAB II.2008 Proposal dan Judul Skripsi 27 . (0341) 551354 Faksimile (0341) 572533 Malang 61544 BUKTI KONSULTASI Dosen Pembimbing NIP Nama Mahasiswa NIM Fakultas Jurusan Judul Skripsi : Drs.04 . Djunaidi Ghony NIP. Gajayana 50 Telp.2008 Revisi BAB IV. BAB II. Dekan Fakultas Tarbiyah Prof.2008 ACC Keseluruhan Malang.02 .PdI : 150 215 385 : Nadyana Rizqi : 04110196 : Tarbiyah : Pendidikan Agama Islam : Konsep Belajar Dalam Pandangan Islam dan Barat (NonIslam) serta Aplikasinya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Komparasi antara Konsep Belajar “Ibnu Khaldun”) Hal Yang Dikonsultasikan Tanda Tangan No. Dr. BAB VI 28 . BAB VI 01 .03 . 1. M.2008 Revisi BAB I. 4. H. 02 April 2008 Mengetahui.04 .DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. BAB V. BAB III 26 . BAB V. Baharuddin. 150 042 031 . Tanggal 09 . BAB V.M. H. 3. BAB VI 02 .2008 BAB I. BAB III 01 . 6.02 . 2.03 .03 .2008 Revisi BAB IV.2008 BAB IV. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful