You are on page 1of 9

Budidaya Tanaman Gambir (Uncaria gambia Roxb) Tanaman gambir (Uncaria gambia Roxb) merupakan tanaman daerah tropis.

Taman ini telah dibudidayakan semenjak beberapa abad di daerah paling basah di Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan ujung barat pulau Jawa. Gambir mempunyai nama yang berbeda di beberapa daerah, seperti gambee (Aceh), gambe (Nias), gambie (minang), suku kubu gimbir (suku kubu), santun (jawa), Bima dengan Tagambe (Bima), Gembeh (Flores) dan kelare (suku dayak). A. Biologi Tanaman gambir Klasifikasi botani tanaman gambir adalah sebagai berikut : Kerjaan : Plantae Division : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Gentianales Suku : Rubiaceae Marga : Uncaria Spesies : U. Gambir Nama Binomial : Uncaria gambir Roxb B. Morfologi Tanaman Gambir Tanaman gambir merupakan tumbuhan menjalar sebangsa kopi-kopian (keluarga Rubiaceae). Tanaman perdu, tinggi 1-3 m. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, warna cokelat pucat. Daun tunggal, berhadapan ,bentuk lonjong, tepi bergerigi, pangkal bulat, ujung meruncing, panjang 8 - 13 cm, lebar 4-7 cm, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk lonceng, di ketiak daun, panjang kurang 5 cm, mahkota 5 helai berbentuk lonjong, warna ungu. Buahnya berbentuk polong semu berpenampang hingga 2 cm dan penuh dengan biji-bijian halus yang berukuran 1-2 mm. Pada bagian luarnya terdapat sayap yang memungkinkan biji gambir tersebar karena angin. Di dalam inti biji terdapat calon akar (radicula), calon batang (cauliculus) dan daun lembaga (cotyledone). C. Varietas Unggul Tanam Gambir Hasil studi yang telah dilakukan dibeberapa lokasi sentra produksi gambir, bahwa secara morfologi telah ditemukan 3 tipe/varietas gambir yang sudah mendapat surat Keputusan dari Menteri Pertanian yakni a. Varietas Udang

Dengan SK Mentan Nomor 115/Kpts/SR.20/2/2007, tanggal 20 Februari 2007, dengan ciriciri morfologi tanaman adalah sebagai berikut : Bobot daun perlembar 1,62 g, panjang daun 10,2 - 14,2 cm, lebar daun 6,1 - 8,0 cm, tebal daun 0,25 mm - 0,50 mm, warna daun hijau tua, warna pucuk coklat kemerahan, bentuk daun ovalis, panjang ruas batang 30 -40 cm, warna batang abu-abu, bentuk batang bulat/silindris,jumlah ruas/batang 5 -9 buah, rasa daun sepatsepat masis, aroma daun khas aroma gambir, diameter bunga 1,0 -1,2 cm, warna hijau kemerahan, warna tabung mahkota bunga kemerahan, bentuk bunga bulat, panjang tangkai bunga 3,3-3,8 cm, bobot bunga/buah 1,28 -1,96 g, buah berbentuk polong, bobot buah 2,1 3,0 g, panjang polong 3,20 - 3,56 cm, jumlah bungan/tangkai 5 -9 buah, jumlah polong/tangkai 53,4 55,10 buah, jumlah benih perpolong 405 -465 biji, panjang tangkai polong 1,10 -1,40 cm, diameter polong 2,50 mm dan daya kecambah 60 - 70%. Produksi getah gambir/ha 1002,17 kg dan produksi daun umur 5 tahun per pohon 5,73 kg. Produksi daun /ha 14.317 kg. Jumlah daun / cabang (umur 5 tahun) 5 -9 pasang. Mutu dari varietas ini diperlihatkan dengan indikator dari rendemennya 6,5 - 7,0 % dan kadar katechin 60,42 - 65, 15 % dan ketahanan varietas ini dari lingkungan adalah baik untuk lahan marginal dan kering. b. Varietas Cubadak Dengan SK Mentan Nomor 117/Kpts/SR.20/2/2007, tanggal 20 Februari 2007, dengan ciriciri morfologi tanaman adalah sebagai berikut : Bobot daun perlembar 1,54 g, panjang daun 9,6 - 19,1 cm, lebar daun 6,3 - 9,2 cm, tebal daun 0,20 mm - 0,25 mm, warna daun hijau tua, warna pucuk hijau muda, bentuk daun ovalis, panjang ruas batang 30 -40 cm, warna batang abu-abu, bentuk batang bulat/silindris,jumlah ruas/batang 5 -9 buah, rasa daun sepat-sepat masis, aroma daun khas aroma gambir, diameter bunga 1,0 -1,6 cm, warna bunga sampai hijau muda, warna tabung mahkota bunga hijau muda - hijau, bentuk bunga bonggol - bulat, panjang tangkai bunga 3,4- 4,1 cm, bobot bunga/buah 1,10 -1,81 g, buah berbentuk polong, bobot buah 2,0 - 2,6 g, panjang polong 3,45 - 3,74 cm, jumlah bunga/tangkai 5 -9 buah, jumlah polong/tangkai 50,45 - 54,51 buah, jumlah benih perpolong 285 - 340 biji, panjang tangkai polong 0,90 -1,00 cm, diameter polong 2,40 mm dan daya kecambah 60 - 70%. Produksi getah gambir/ha 905,13 kg dan produksi daun umur 5 tahun per pohon 5,57 kg. Jumlah daun / cabang (umur 5 tahun) 5 -9 pasang. Mutu dari varietas ini diperlihatkan dengan indikator dari rendemennya 6,06 - 6,50 % dan kadar katechin 61,74 - 70,89 % dan ketahan varietas ini dari lingkungan adalah baik untuk lahan marginal dan kering. c. Varietas Riau

Dengan SK Mentan Nomor 116/Kpts/SR.20/2/2007, tanggal 20 Februari 2007, dengan ciriciri morfologi tanaman adalah sebagai berikut : Bobot daun perlembar 1,38 g, panjang daun 10,7 - 17,17 cm, lebar daun 6,2 - 8,6 cm, tebal daun 0,20 mm - 0,35 mm, warna daun hijau hingga hijau tua, warna pucuk coklat kemerahan, bentuk daun oblongus, panjang ruas batang 30 - 50 cm, warna batang abu-abu kecoklatan, bentuk batang bulat/silindris, jumlah ruas/batang 5 -9 buah, rasa daun sepat-sepat masis, aroma daun khas aroma gambir, diameter bunga 1,0 -1,2 cm, warna bunga sampai hijau hingg hijau muda, warna tabung mahkota bunga hijau, bentuk bunga bonggol - bulat, panjang tangkai bunga 2,1 - 5,5 cm, bobot bunga/buah 1,10 -1,85 g, jumlah bungan/tangkai 5 -9 buah, buah berbentuk polong, bobot buah 2,0 - 2,9 g, panjang polong 2,89 - 3,78 cm, jumlah polong/tangkai 54,48 - 64,25 buah, jumlah benih perpolong 334 - 430 biji, panjang tangkai polong 0,80 -0,90 cm, diameter polong 2,47 mm dan daya kecambah 60 - 70%. Produksi getah gambir/ha 803,00 kg dan produksi daun umur 5 tahun per pohon 5,35 kg. Produksi daun /ha 13.383,33 kg.Jumlah daun / cabang (umur 5 tahun) 5 -11 pasang. Mutu dari varietas ini diperlihatkan dengan indikator dari rendemennya 5,50 - 6,0 % dan kadar katechin 63,34 - 70,23 % dan ketahan varietas ini dari lingkungan adalah baik untuk lahan terlindung. D. Syarat Tumbuh Tanaman Gambir Tanaman gambir dapat tumbuh pada jenis tanah, mulai dari tingkat kesuburan rendah hingga kesuburan tinggi. Di Sumatera kebayakan tanaman gambir tumbuh atau dibudidayakan pada jenis tanah Ultisol dengan derajat keasaman tanah berkisar antara pH 4,5 hingga 5,5. topografi lahan yang sesuai mulai pada daerah datar hingga bergelombang dengan tingkat kemiringan 25%. Ketinggian tempat tumbuh tanaman gambir mempunyai spectrum yang cukup luas mulai dari ketinggian 50 hingga 1.100 m diatas permukaan laut. Ketinggian tempat yang paling sesuai adalah antara 200 sampai 800 m diatas permukaan laut. Tanaman gambir membutuhkan sebaran hujan yang merata sepanjang tahun yaitu dengan rata-rata curah hujan lebih dari 200 mm/bulan atau total curah hujan pertahun berkisar antara 3000 3500 mm. suhu dibutuhkan antara 20 - 36o serta dengan tingkat kelembapan 70 hingga 80%. Pertumbuhan tanaman gambir akan lebih baik pada daerah yang memiliki ruang terbuka (100 %) atau dengan naungan maksimum sekitar 10%. Bila diusahakan pada lokasi yang lebih banyak naungan akan mengurangi rendemen getah. E. Pedoman Teknis Budidaya 1. Pembibitan Tanaman gambir dapat diperbanyak dengan dua cara, yaitu vegetatif dan generatif.

Perbanyakan vegetatif , yaitu dengan cara menggunakan stek dari bagian tanaman. Cara ini hanya dapat untuk menghasilakn bibit dalam jumlah terbatas dan hasilnya belum begitu sempurna. Perbanyakan bibit gambir untuk tujuan budidaya yang lebih luas, masih dipakai cara generatif, yaitu dengan menggunakan biji. Cara ini cukup murah biayanya dan mudah dilaksanakan di tingkat petani. Bahan tanaman - Kebutuhan benih setiap hektar pertanaman gambir 16 kali kebutuhan normal, karena daya kecambahnya di bawah 60%. - Kebutuhan bibit untuk 1 hektar dengan jarak tanam 2 x 2 m adalah 2.500 batang, maka diperlukan benih 16 x 2.500 = 40.000 biji. - Kemungkinan hidup pada tingkat pembibitan 50%, pada tingkat pemindahan ke polybag 50%, tingkat lapangan 50%, dan untuk sulaman 50%. - Jadi ada 4 tingkatan terjadi pengurangan bibit masing-masing tingkat 50% = (1/2x4), jadi 1/16 x 40.000 = 2.500 tanaman hidup di kebun. Persiapan benih - Benih atau biji dari pohon gambir yang tumbuh di kebun yang tidak pernah dipanen daunnya. - Buah yang diambil telah masak fisiologis yang dicirikan dengan warna polong kuning kecoklatan atau sudah ada 1 atau 2 polong yang pecah, dipetik langsung dijemur dengan panas matahari 2 -3 hari. - Wadah tempat penjemuran perlu ditutup dengan kain kasa atau dijemur di dalam kertas amplop. Agar buah yang pecah bijinya tidak terbang. - Biji yang berwarna terang coklat dianggap baik, sedangkan yang berwarna hitam gelap dibuang, bila ada biji yang belum lepas dari kulit buahnya, supaya dilepaskan dengan tangan. - Setelah benih yang terkumpul dirasa cukup, dilakukan seleksi ulang, benih yang baik siap untuk disemai. Persemaian dan pelumpuran - Dicari lokasi persemaian dekat dengan sumber air, untuk memudahkan mengairi atau penyiraman. - Lokasi yang memenuhi syarat dibersihkan dan diolah, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 1 m dan panjang tergantung kebutuhan, tinggi 30 cm. - Antara bedengan dengan bedengan yang lain dibat selokan selebar 30 - 50 cm - Bedengan yang telah siap, dilapisi dengan lumpur setebal 1-3 cm agar benih tidak masuk terlalu jauh ke dalam tanah, di samping itu untuk melengketkan benih supaya tidak hanyut

atau diterbangkan angin. - Bedengan diberi peteduh dari daun alang-alang atau daun kelapa yang tinggi di bagian timur dan rendah di bagian barat, kemudian dipagar dengan plastik hitam untuk melindungi bibit dari gannguan hewan liar. - Untuk 10 mg benih (2 kotak korek api), diperlukan persemaian 4 s/d 6 m2. Penebaran benih - Bedengan yang telah diberi lumpur dibasahi sambil dilicinkan dengan cara menggosokgosok tangan ke permukaan lumpur. - Benih yang telah disiapkan ditabur dengan ayakan langsung lengket di permukaan lumpur . Pengairan dan penyiraman - Setelah benih ditabur, selokan diari terus menerus atau digenangi, kecuali bila hari hujan. - Bila tidak bisa diari, dilakuakn penyiraman dengan sprayer sesering mungkin agar tanah tetap lembap. Pemeliharaan - Setelah penaburan benih, permukaan bedengan disemprot dengan pestisida untuk mengatasi semut-semut yang akan merusak bibit. - Setelah benih tumbuh, dilakukan penyiangan, supaya tidak terjadi persaingan bibit dengan gulma. Pemindahan bibit ke polybag - Bibit sudah dapat dipindahkan ke polybag umur 2 bulan dan telah mempunyai 2 - 4 pasang daun. - Polybag yang telah diisi tanah lapisan atas (humus) dicampur dengan pupuk kandang, disusun dan diberi naungan dengan daun alang-alang/daun kelapa. - Pemindahan bibit dengan sekop kecil, jangan dicabut, bibit dengan tanah yang terbawa oleh bibit ditanam ke dalam polybag. - Bibit di polybag disemprot dengan atonik sampai basah, baik tanaman maupun tanahnya, supaya bibit yang baru dipindahkan tidak stagnasi. Pemeliharaan bibit dalam polybag - Selama di polybag, bibit disemprot dengan pestisida cukup 1 kali saja, setelah penyemprotan dengan atonik. - Penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari dan penyiangan gulam. - Setelah berumur 1 bulan, naungan dikurangi 25% dan 15 hari berikutnya menjadi 50%, seterusnya 15 hari kemudian tidak ada naungan lagi. - Setelah bibit berumur 6 -7 bulan, sudah dapat dipindahkan kelapangan.

2. Penanaman Bibit ditanam dalam lobang tanam berukuran 30 x 30 x 30 cm, yang sudah dpersiapkan sebelunnya dengan jarak tanam 1 - 2 meter, kemudian diberikan perlindungan dengan menggunakan daun kelapa sampai tanaman tahan terhadap sinar matahari, agar pertumbuhannya baik. 3. Pemupupukan Tanaman gambir tidak memerlukan pemupukan yang intensif seperti halnya tanaman pangan. Selain pemberian pupuk dasar yang dilakuakn pada awal penanaman, pemberian pupuk cukup dilakukan setiap enam bulan. Bnyaknya pupuk yang akan diberikan sebaiknya disesuaikan dengan kandungan hara tanah yaitu melalui analisis tanah dilaboraturium. Secara umum dosis pupuk yang diperlukan adalah seperti tabel berikut. Salah satu hasil penelitian nenunjukan bahwa pemberian pupuk NPK 15 : 15 : 15 sebanyak 200 kg/ha/pohon/panen memberikan hasil yang lebih tinggi, hal ini dapat dilihat pada table berikut : 4. Pemeliharaan Penyiangan perlu dilakukan dua kali setahun. Untuk pemupukan dapat digunakan ampas daun sisa pengempaan yang ditaburkan di sekitas tanaman. Untuk mempertahankan produktivitasnya, perlu diberikan pupuk kandang. Pembentukan struktur tanaman yang tidak beraturan dilakukan dengan pemangkasan pada tanaman. Pemangkasan meja adalah membuang semua cabang dan ranting pada ketinggian >1 meter dipangkas, sehingga terlihat permukaan pangakasan horizontal dan rata seperti meja (pangkas cabang primer). Pankas bersih adalah pankas cara petani, diman semua cabang dan ranting yang mati dibuang, sehingga terlihat bersih dari cabang dan ranting yang non produktif. Pangkas meja menghasilakan produksi gambir kering 735,25 kg/ha lebih tinggi 40,93 % dari pangkas bersih ala petani yang menghasilkan 521,70 kg/ha Pada penanaman kecil-kecilan, gambir biasanya bebas dari penyakit dan hama yang serius. Akan tetapi pada penanaman monokultur yang luas-luas, serangan hama ulat dan kumbang telah dilaporkan terjadi. Satu macam kutu dapat menyebabkan tumbuhnya perbungaan yang luar biasa besarnya, dan juga menyerang daun(Lemmns et al.,1999). Kusuma et al., (1993) di dalam Ermiati (2004) menunjukkan bahwa bagian tanaman gambir yang diserang hama biasanya adalah daunnya, di mana daun menjadi berlobang -lobang dan rusak, sehingga produksi getah menjadi berkurang. Sedangkan serangan hama yang berbahaya adalah jenis penghisap yang mengakibatkan pucuk muda atau titik tumbuh menjadi kering dan mati, akibatnya pertumbuhan cabang menjadi terhenti sehingga tanaman menjadi kerdil dan tidak rimbun.

Hama yang sering ditemui pada tanaman gambir adalah lundi (larva kumbang dalam tanah) dan ulat daun, hama ulat : Glypodes psittacus, Oreta extensa, hama kepik : Helopeltis sumateranus Roepke, Hyalopeplus, Tingganan ganbir; dan hama belalang : Sinjatu. 5. Panen Pada umur 12 -14 bulan tanaman gambir tingginya sudah mencapai 1.5 - 1,8 meter. Panen gambir dilakukan dengan cara memangkas dapat dilakukan pada umur 1,5 tahun atau lebih tergantung tingkat pertumbuhan tanaman. Selanjutnya panen dapat dilakukan 2 -3 kali setahun (4 -6 bulan). Tanaman gambir dapat produktif samapi 20 tahun, tatapi pada umumnya hanya selama 10 -12 tahun. Apabila pertumbuhan baik, tanaman dapat menghasilkan 5 kg daun + ranting muda sekali panen per tanaman. Tanda-tanda tanaman sudah dapat dipanen, yaitu : 1. Daun sudah berwarna hijau muda/tua/kuning/ coklat dan apabila dirasakan dengan tangan sudah agak keras. 2. Ranting berwarna hijau kecoklat-coklatan dan coklat muda. 3. Daun bila diremas sedikit saja dengan tangan sudah mengeluarkan getah 6. Pasca Panen Semua daun yang dipetik harus segera diolah, sebab setelah 24 jam akan berkurang getahnya. Untuk itu jumlah daun yang dipetik harus disesuaikan dengan kemampuan untuk mengolah. 1. Bahan Bahan yang digunakan adalah daun gambir dan carian perebus. Cairan perebus ini berasal dari filtrat daun gambir hasil perebusan ke 2 dan digunakan sebagai perebus gambir segar. a. Peralatan 1. Tungku dan wajan perebus. Alat ini digunakan untuk merebus daun gambir sehingga dapat diektrak getahnya. 2. Kapuk. Alat ini berupa keranjang dari rotan atau kulit kayu yang digunakan sebagai kemasan daun gambir yang sedang direbus. 3. Sapik. Sapik adalah alat tradisional untuk memeras getah tanaman. Alat ini dapat memuat 40 kg daun gambir setiap kali pemerasan. 4. Palu. Alat ini digunakan untuk memasakan baji pada alat sapik. Palu ini sangat berat, yaitu 15 - 20 kg. 5. Peraku tanam. Alat ini berupa wadah dari kayu untuk menampung cairan hasil pemerasan daun gambir. 6. Peraku panjang. Alat ini digunakan untuk solidifikasi getah gambir sehingga berupa pasta. 7. Cupak. Alat ini terbuat dari potongan bambu dan digunakan untuk mencetak pasta gambir.

8. Ambung. Alat ini berupa keranjang dari rotan untuk membawa daun gambir dari kebun ke tempat pengolahan. 9. Alat pres semi mekanis. Alat ini memeras gambir dengan kombinasi pres hidrolik dan pres ulir. Dianjurkan menggunakan pres hidrolik (dongkrak) berkekuatan 50 ton. 10. Ketel pengukus. Alat ini dugunakan untuk menampung filtrat hasil pemerasan daun gambir. Ember dan baskom dapat digunkan sebagi wadah penampung filtrat. 11. Alat pengering. Alat ini digunkan untuk mengeringkan gambir. Berbagai jenis alat pengering dapat digunakan untuk mengeringkan gambir. 12. Cetakan. Cetakan dapat berupa tabung silinder, atau gelang. Cara pembuatan 1. Cara pengolahan gambir secara tradisional telah diperbaiki dengan mengenal ketel pengukus, alat perenas semi mekanis, dan alat pengering. Cara semi mekanis ini memberikan hasil yang lebih baik. 2. Pengukusan. Daun dikukus dengan uap panas selama 30 - 60 menit. 3. Pemerasan. Daun yang baru dikukus, dan masih sangat panas dimasukkan kedalam silinder alat peras, kemudian dipres dengan tekanan sampai 50 ton. Tekanan dinaikan secara pelan pelan. Hasil perasan di tampung dengan ember atau baskom plastik. 4. Pengentalan, filtrat dipindahkan ke wadah yang bermulut lebar yang tahan karat, misalnya baskom plastik atau bak kayu keras yang dipermukaanya licin, filtrat dibiarkan selam semalaman sehingga mengeras menjadi pasta gambir. 5. Penirisan. Pasta dibungkus dengan kain yang kuat kemudian ditindih dengan beban (batu, atau coran semen) selam 5 - 10 jam, hasil penirisan serupa adonan kue dapat dibentuk. 6. Pencetakan. Pasta yang sudah ditiriskan dicetak dengan silinder bambu, gelang dari alumunium, atau dipotong - potong berbentuk persegi (panjang 2 cm, lebar 2 cm dan tebal 0,5 cm) 7. Pengeringan. Gambir yang telah dicetak, dijemur dengan sinar matahari. Pada malam hari atau pada saat tidak tersedia panas matahari, gambir yang masih basah dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air di bawah 17%. Mutu Gambir Mutu gambir sangat ditentukan oleh proses pengolahan getah gambir dan mutu daun gambir. Pada proses pengolahan getah gambir, ketelitian pemetikan daun, kebersihan peralatan pengolah, lingkungan pengempaan dan tempat penjemuran serta pengaruh curah hujan dapat mempengeruhi mutu gambir. Selain itu umur juga berpengaruh terhadap rendemen getah yang dihasilakan. Daun gambir

muda lebih kaya akan kandungan catchin sehingga untuk menghasilkan gambir yang lebih baik mutunya dapat digunakan daun yang lebih muda.