BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tubuh memerlukan bahan bakar untuk menyediakan energi untuk fungsi organ dan pergerakan badan. Faktor yang mempengaruhi eliminasi urin adalah pertumbuhan dan perkembangan, sosiokultural, psikologis, kebiasaan seseorang, tonus otot, intake cairan dan makanan, kondisi penyakit, pembedahan, pengobatan, pemeriksaan diagnostik dan lain-lain. Kebanyakan masyarakat sering mengabaikan keinginannya untuk berkemih. Padahal sikap seperti itu dapat menyebabkan masalahmasalah yang berhubungan dengan eliminasi urin, seperti retensi urin, inkontinensia urin, dan enurisis.

1.2 Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada pasien sesuai dengan manajemen kebidanan menurut Helen Varney. 2. Tujuan Khusus Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Tn. ”G” dengan urolitiasis diharapkan, mahasiswa mampu : a. melakukan pengkajian data b. menganalisa data c. mendiagnosa keperawatan d. mengidentifikasi kebutuhan segera e. merumuskan suatu tindakan yang komprehensif f. melaksanakan suatu tindakan sesuai rencana g. mengevaluasi pelaksanan asuhan kebidanan

1.3 Manfaat Penulisan a. Bagi klien Agar mereka mengetahui bahwa urolitiasis merupakan masalah dalam tubuh,

b. .4 Cara Pengumpulan Data a. Bagi institusi Sebagai bahan kepustakaan bagi yang membutuhkan asuhan kebidanan dan perbandingan pada penanganan kasus urolitiasis. Observasi Melakukan pengamatan langsung dan pemeriksaan fisik pada pasien. c. Wawancara Wawancara langsung dengan pasien b. 1. Bagi penulis Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan teori manajemen kebidanan menurut Helen Varney dalam praktek kebidanan.karena dapat mempertinggi resiko infeksi. Studi dokumentasi Melengkapi data sesuai format yang ada c.

2. . ureter.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urin 1. otot dorongan untuk berkemih juga akan berkurang. Jika ada gangguan tonus. Ureter mengalirkan urin ke bledder. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urin. sehingga ia tidak dapat berkemih dengan menggunakan pot urine 5. Sosiokultural Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat tertutup dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat kemih pada lokasi terbuka 3. ureter. Psikologis Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih 4. Tonus otot Eliminasi urin membutuhkan tonus otot bledder. Sehingga urin dapat keluar dengan baik 2. Kebiasaan seseorang Misalnya seseorang hanya bisa berkemihdi toilet.1 Definisi Eliminasi urin adalah pengeluaran cairan proses pengeluaran ini sangat tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi seperti ginjal. kandung kemih dan uretra. otot abdomen dan pelvis untuk berkontraksi. Pertumbuhan dan perkembangan Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran urin pada orang tua volume bledder berkurang demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga akan lebih sering. bledder dan uretra. Dalam bledder urin di tampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian di keluarkan melalui uretra. Eliminasi urin adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh yang berupa cairan yang tergantung dari fungsi ginjal.BAB II TINJAUAN PUSTAKA KEBUTUHAN ELIMINASI URIN 2.

Pemeriksaan diagnostik Intravenus pyelogram dimana pasien di batasi intake sebelum prosedur untuk mengurangi output urin. Urge inkontinensia yaitu inkontinensia yang terjadi saat klien terdesak ingin berkemih. tertawa b. antikolinergik dan anti hipertensi menimbulkan retensi urin. Inkontinensia urin Adalah ketidakmampuan otot spinkter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urin. 8. cola (mengandung kafein) dapat meningkatkan pembuangan dan ekskresi urin 7.6. 2. kopi. Kondisi penyakit Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urin karena banyaj cairan yang di keluarkan melalui kulit.3 Masalah-masalah Eliminasi Urin 1. 10. coklat. Retensi urin Merupakan penumpukan urin dalam bladder dan ketidak mampuan bladder untuk mengosongkan kandung kemih. Ada 2 jenis inkontinensia a. Intake cairan dan makanan Alkohol menghambat Anti Diuretik Hormon (ADH) untuk meningkatkan pembuangan urin. Pengobatan Penggunaan diuretik menigkatkan output urin. hal ini terjadi akibat infeksi saluran kemih bagian bawah . Peradangan dan iritasi organ kemih menimbulkan retensi urin. Stres inkontinensia yaitu stres yang terjadi pada saat tekana intra abdomen meningkat seperti pada saat batuk. 2. teh. Normalnya adalah 250-400 ml. Penyebab distensi bladder adalah urin yang terdapat dalam bladder melebihi dari 400 ml. 9. Pembedahan Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urin akan menurun.

melalui medulla spinalis di hantarkan ke pusat pengontrol . mycturi. 5. stres dan wanita hamil 2. Urinary suppresion Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urin secara tiba-tiba. trauma dan struktur uretra. Polyuria (Diuresis) Produksi urin melebihi normal. biasanya terjadi pada cystitis.4 Perubahan pola berkemih 1. Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250-450 cc (pada oprang dewasa) dan 200-250 cc (pada anakanak). Biasanya terjadi pada anak-anak atu pada oarang jompo. 4. Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urin yang dapat menimbulkan rangsangan. 3. Frekuensi Meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat. tanpa peningkatan intake cairan misalnya pada pasien DM. Dysuria Rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi saluran kemih. 2. Enurisis Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang di akibatkan tidak mempunyai mongontrol spinter eksterna.3. Urgensy Perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang. Proses ini di mulai dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang saraf-saraf sensorik dalam dinding vesika urinaria (bagian reseptor).5 Proses Berkemih Berkemih (mictio. Anuria (urin kurang dari 100 ml/24 jam). voiding atau urination) adalah proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). olyguria (urin : 100-500 ml/24 jam) 2.

berkemih yang terdapat di korteks serebral. 2. Larutan organik urea. dan uric acid b. kalium(potasium). kemudian otak memberikan impuls/rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris di daerah sakral.6 Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Eliminasi Sistem tubuh yang berperan dalma terjadinya proses eliminasi urin adalah ginjal. Melalui nefron urin disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal. Larutan anorganik Natrium (sodium). kandung kemih. Komposisi urin 1. Dalam kandung kemih terdapat beberapa lapisan jaringan otot yang paling dalam. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak 2. berfungsi menampung urine. memanjang di tengah. dan melingkar yang disebut sebagai detrusor. dan uretra 1. amonia. Kandung kemih Kandung kemih (buli-buli bladder) merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus. Ginjal berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh serta penyaring darah untuk di buang dalam bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menahannya agar tidak bercampur dengan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. dan fosfor. kreatin. klorida. magnesium. Pada dasar kandung kemih terdapat lapisan tengah jaringan otot . berfungsi untuk mengeluarkan urine bila terjadi kontraksi. Ginjal Ginjal merupakan organ retroperitoneal (di belakang selaput perut) terdiri atas ginjal sebelh kanan dan kiri tulang punggung. Larutan (4%) a. Air (96%) 2. Pada bagian ginjal terdapat nefron (berjumlah kurang lebih satu juta) yang merupakan unit dari struktur ginjal. serta terjadi koneksasi otot detrusor dan relaksasi otot sfingter internal. kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih. sulfat.

2 cm. 3. uretra memiliki panjang 3. antara lain : pengambilan urin biasa. Biasanya di gunakan untuk . Selaput (membran) dan bagian yang berongga (ruang). pengambilan uri steril. 2. dimulai dari meatus uretra hingga ginjal. berukuran panjang 13.7 – 16. dan terdiri atas tiga bagian. Akibat dari rangsangan ini. dan pengumpulan selama 24 jam. yang terus menerus akan menjadikannya media yang baik untuk pertumbuhan beberapa patogen. Meskipun mikroorganisme secara normal tidak ada yang bisa melewati uretra bagian bawah. yaitu buang air kecil.7 – 6.7 Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Urin 1. Fungsi uretra pada wanita berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria. yaitu prostat. Pengambilan urin biasa merupakan pengambilan urin dengan mengeluarkan urin secara biasa.berbentuk lingkaran bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi menjaga saluran antara kandung kemih dan uretra. Rangsangan ini dapat menyebabkan terjadinya kontraksi otot detrusor dan kendurnya sfingter. Sistem parasimpatis menyalurkan rangsangan motoris kandung kemih dan rangsangan penghalang ke bagian dalam otot lingkar. uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urin dan sistem reproduksi. otot lingkar menjadi kendor dan terjadi kontraksi sfinter bagian dalam sehingga urine tetap tinggal dalam kandung kemih.2 cm dan hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian luar tubuh Saluran perkemihan dilapisi oleh membran mukosa. Pengumpulan urin untuk bahan pemeriksaan Cara pengambilan urin tersebut. pada keadaan patologis. Pada wanita. Uretra Uretra merupakan organ yang berfungsi menyalurkan urine ke bagian luar. sehingga uretra dapat menyalurkan urine dari kandung kemih ke luar tubu. membran mukosa ini. Penyaluran rangsangan ke kandung kemih dan rangsangan motoris ke toto lingkar bagian dalam di atur oleh sistem simpatis. a.

c. Persiapan Alat dan Bahan : 1. Pengambilan urin selama 24 jam merupakan pengambilan urin yang di kumpulkan dalam waktu 24 jam. ginjal. bertujuan untuk mengetahui jumlah urin selama 24 jam dan mengukur berat jenis. 5. atau saluran kemih lainnya. Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan 7. Botol penampung beserta penutup 2. Etiket khusus Prosedur kerja (untuk pasien mampu buang air kecil sendiri) 1. Cuci tangan 2. serta mengetahui fungsi ginjal. Hal tersebut di lakukan untuk menampung urin dan mengetahui kelainan dari urin (warna dan jumlah) . Menolong Buang Air Kecil denagn Menggunakan Urineal Tindakan membantu pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri di kamar kecil di lakukan dengan menggunakan alat penampung (urineal). maka bantu untuk buang air kecil. Kemudian anjurkan menampung urin ke dalam botol 6. Pengambilan urin steril merupakan pengambilan urin dengan menggunakan alat steril. Cuci tangan 3. asupan dan output. di lakukan dengan kateterisasi yang bertujuan mengetahui adanya infeksi pada uretra. Keluarkan urin.pemeriksaan kadar gula dalam urin. maka anjurkan pasien untuk buang air kecil dan biarkan urin yang pertama keluar dahulu. Bagi pasien yang mampu untuk buang air kecil sendiri. kemudian tampung ke dalam botol. dan lain-lain b. Bagi pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan di lakukan 4. kehamilan.

bau. pembesaran skrotum 5. adanya pembesaran skrotum 3. distensi bladder. gejala dari perubahan berkemih c. tenderness. tenderness. bising usus b. kepekatan 4. pembesaran ginjal. dan bau b. lesi. sistostomi f. keadaan atropi jaringan vagina c. Pengkajian 1. NGT d. oral. kejernihan. vaginitas atropi c. eritrosit. Abdomen : Pembesaran. kultur urin : leukosit. dan pH . pola berkemih b. Intake dan output cairan a. pelebaran pembuluh darah vena. Pemeriksaan genetalia laki-laki : adanya pengeluaran dari meatus uretra. Pemeriksaan fisik a. pembesaran abdomen. Genetalia wanita : implamasi. cateter bag. bising usus. glukosa. kebiasaan minum di rumah c. nyeri tekan. makanan. adanya lesi. Abdomen : distensi bladder. Pemeriksaan diagnostik a. nodul. pemeriksaan urin : warna. Riwayat keperawatan a. lesi. nodul. output urin dari urinal. nyeri abdomen. intake : cairan infus. karakteristik urin : warna kejernihan. Pemeriksaan fisik a. adanya sekret dari meatus.ASUHAN KEPERAWATAN MENURUT TEORI A. faktor yang mempengaruhi berkemih 2. Genetalia wanita : Inflamasi. tenderness. adanya lesi. drainage ureterostomy. Genetalia laki-laki : Kebersihan. adanya kelainan abdomen yang lain b. kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam) b. kaji perubahan volume urin untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan e. adanya sekret dari meatus.

Gangguan pola eliminasi urin : inkontinensia Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu mengontrol dalam pengeluaran urin.B. Inkontinensia b. Spasme bladder c. Klien berkemih dalam keadaan rileks Intervensi dan rasional 1. Infeksi saluran kemih e. Trauma pelvic d. Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urin c. Kemungkinan berhubungan dengan : a. menghindari minum e. Monitor keadaan bladder setiap 2 jam Rasional : membantu mencegah distensi/ komplikasi 2. sering ke toilet d. Keinginan berkemih yang segera c. Klien dapat mengontrol pengeluaran urin setiap 4 jam b. Setiap berkemih kurang dari 100 ml atau lebih dari 550 ml Tujuan yang di harapkan a. Tingkatkan aktifitas dengan kolaborasi dokter/ fisioterapi Rasional : meningkatkan kekuatan otot ginjal dan fungsi bladder 3 Kolaborasi dalam bladder training Rasional : menguatkan otot dasar pelvis 4. Gangguan neuromuskuler b. Spasme bladder f. Hindari faktor pencetus inkontinensia urin seperti cemas Rasional : mengurangi/ menghindari inkontinensia . Diagnosa Keperawatan 1. Trauma medulla spinalis Kemungkinan data yang di temukan : a.

Pembedahan e. Ukur intake dan output cairan setiap 4 jam Rasional : memonitor keseimbangan cairan 3. Infeksi saluran kemih f. Berikan cairan 2000 ml/hari dengan kolaborasi Rasional : menjaga defisit cairan . Obstruksi mekanik b. Tidak tuntasnya pengeluaran urin b. tindakan lainnya Rasional : meningkatkan pengetahuan dan di harapkan pasien lebih kooperatif 2. Hipertropi prostat d. Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan dan kateterisasi Rasional : mengatasi faktor penyebab 6. Pembedahan besar abdomen Tujuan yang di harapkan : a. Trauma d. Jelaskan tentang pengobatan. Pembesaran prostat c. Monitor keadaan bladder setiap 2 jam Rasional : menentukan masalah 2. Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam b. Retensi urin Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara tuntas Kemungkinan berhubungan dengan : a. Kehamilan Kemungkinan di temukan data : a. Tanda dan gejala retensi urin tidak ada Intervensi dan rasional 1.5. Distensi bladder c. penyebab. Kanker e. kateter.

catat warna. cuci tangan 2. kateterisasi terbagi . anjurkan pasien untuk berkemih 7. sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Lakukan relaksasi ketika duduk berkemih Rasional : relaksasi pikiran dapat meningkatkan kemampuan berkemih 8. setelah selesai. tisu Prosedur kerja 1.4. Kolaborasi dalam pemasangan kateter Rasional : mengeluarkan urin Persiapan alat dan bahan 1. lepas pakaian bawah pasien 5. urineal 2. Melakukan Kateterisasi Kateterisasi merupakan tindakan memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi. rapikan alat 8. pasang alas urineal di bawah glutea 4. pasang urineal di bawah glutea/ pinggul atau di antara kedua paha 6. Kaji dan monitor analisis urin elektrolit dan berat badan Rasional : membantu memonitor keseimbangan cairan 6. Kurangi minum setelah jam 6 malam Rasional : menjaga nokturia 5. cuci tangan. sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. pengalas 3. Dalam pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya. dan jumlah produksi urine 3. Ajarkan teknik latihan dengan kolaborasi dokter/ fisioterapi Rasional : menguatkan otot pelvis 9. Lakukan latihan pergerakan Rasional : meningkatkan fungsi ginjal dan bladder 7. eliminasi. jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan di lakukan 3.

Perlak dan alasnya 8. Untuk mengeluarkan urine residual Tipe indwelling 1. Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesik 4. Belgkok 10.menjadi dua tipe indikasi. sampiran prosedur kerja (pada perempuan) 1. yaitu tipe intermitent (straight kateter) dan tipe indwelling (falley kateter) Indikasi Tipe Intermitent 1. urineal bag 11. Retensi akut setelah trauma uretra 3. Larutan pembersih antiseptik (kapas sublimat) 6. obstruksi uretra 4. Pinset anatomi 9. inkontinensia dan disorientasi berat Persiapan alat dan bahan 1. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan . Tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi 2. Cedera tulang belakang 5. Sarung tangan steril 2. Obstruksi aliran urine 2. Cuci tangan 2. Degenerasi neuromuskular secara progresif 6. Minyak pelumas / jelly 5. post op uretra dan struktur disekitarnya (Tur – P) 3. Spuit yang berisi cairan 7. Kateter steril (sesuai dengan ukuran dan jenis) 3. Duk steril 4.

5 – 5 cm) atau hingga urine keluar 10. Pasang duk steril 7. asupan (2. hal 79 – 103) . Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dari atas ke bawah (+ 3 kali hingga bersih) 8.3. Aziz Alimul. 2006 Jilid 2. Cuci tangan (Kebutuhan Dasar Manusia. Setelah selesai. lalu asupan pelan-pelan sambil anjurkan untuk tarik napas. sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi ke arah samping 12. Bersihkan bagian dalam 9. isi balon dengan cairan akuades atau sejenisnya dengan menggunakan spuit untuk yang dipasang tetap. Rapikan alat 13. Kateter diberi minyak pelumas pada ujungnya. tarik kembali sambil pasien disuruh napas dalam 11. Pasang perlak / alas 5. Bila tidak dipasang tetap. Buka labia mayor dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Atur ruangan 4. Gunakan sarung steril 6.

Laboratorium Pada pemeriksaan urin di dapatkan hematuria.Meskipun kalkulus ginjal dapat terbentuk dimana saja dari saluran perkemihan batu ini paling umum ditemukan pada pelvis dan kalik ginjal. dan bila terjadi obstruksi yang lama akan menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Pielografi intravena Dapat melihat besarnya batu. Sistoskopi Dapat membantu pada keadaan-keadaan yang meragukan di dalam buli-buli. 4. 6. terutama untuk batu yang tidak tembus sinar.paling umum oksalat Ca²+ dan fosfat Ca²+.UROLITIASIS 1. menghilangkan obstruksi 2. Pielografi retrograd Dilakukan terutama pada jenis batu yang radiolusen 3. mengobati infeksi 3.Batu ginjal dapat tetap asimtomatik sampai keluar ke dalam ureter dan atau aliran urin terhambat. 5. Pengertian Urolitiasis merupakan batu ginjal atau (kalkulus) adalah bentuk deposit mineral. Ultra-sonografi Dapat melihat bayangan batu baik di ginjal maupun di dalam buli-buli. dan adanya tanda-tanda obstruksi urin. menghilangkan rasa nyeri .namun asam urat dan kristal lain jaga pembentuk batu. 2. Diagnosis Diagnosis batu saluran kencing dapat di tegakkan dengan beberapa cara: 1.bila potensial untuk kerusakan ginjal adalah akut. Penatalaksanaan Tujuan pengelolaan batu saluran kencing adalah: 1. letaknya dan adanya tanda-tanda obstruksi. Gambaran klinis 2. 3.

Mencari latar belakang terjadinya batu 6. Teori terbentuknya batu antara lain: . Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi. Analisis batu 5. langkah-langkah yang dapat di ambil adalah sebagai berikut: 1. besar batu 2. infeksi dan rasa nyeri 4. Prognosis Prognosis batu saluran kencing tergantung dari faktor-faktor antara lain: 1. sehingga prognosis menjadi jelek. mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi. Patogenesis Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtomatik. Mengusahakan pencegahan terjadi rekurensi 4. lokasinya dan besarnya batu 2. adanya obstruksi Makin besar batu makin jelek prognosisnya. adanya infeksi 4. Untuk mencapai tujuan ini. Menentukan adanya akibat-akibat batu saluran kencing: rasa nyeri obstruksi di sertai perubahab-perubahan pada ginjal infeksi adanya gangguan fungsi ginjal 3. Diagnosis yang tepat mengenai adanya batu. 5.4. Menghilangkan obstruksi. letak batu 3. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal.

santin. Teori supersaturasi Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti sistin.santin. Teori berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat. c. Dengan menghilangnya faktor-faktor yang mempengaruhi kalkuligenesis serta pengaturan jenis makanan dan minuman terhadap penderita-penderita yang telah di ketahui jenis batunya. pirofosfat. asam urat. magnesium. asam dan garam urat. Teori inti matriks Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansia organik sebagai inti. 6. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya batu saluran kencing harus di lihat faktor-faktor yang ikut berperan mempengaruhi kalkuligenesis. . sedangkan pada urin yang bersifat alkali akan mengendap garam-garam fosfat d. sitrat.polifosfat. Teori presipitasi-kristalisasi Perubahan pH urin akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin. Substansia organik ini terutama terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu. Analisis batu untuk mengetahui jenis batu dapat membantu dalam langkah pencegahan terjadinya rekurensi. Pada urin yang bersifat asam akan mengendap sistin.a. kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu. terjadinya batu saluran kencing dan kemungkinan terjadinya rekurensi akan dapat di cegah. b. asam mukopolisakarid akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing.

Bagi pasien Hendaklah pasien bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam melakukan asuhan keperawatan dapat dilakukan dengan baik dan teliti. Evaluasi tanggal 17 Juli 2009 sedikit berjalan baik.1 Kesimpulan Asuhan keperawatan pada Tn. Bagi mahasiswa Mahasiswa dapat melaksanakan teori manajemen keperawatan dalam praktek keperawatan. Bapak merasa sakit saat BAK dan sulit keluar kemudian pasien dibawa ke Bapelkes RSD Jombang tanggal 12 Juli 2009.BAB III PENUTUP 3. 3. . ”G” dengan urolitiasis sehubungan dengan gangguan kebutuhan eliminasi urin. 2.2 Saran 1. Pasien masuk melalui UGD dipindah di Paviliyun Mawar .

Rencana Asuhan Keperawatan. Tarwoto. Jakarta Potter Perry. Kebutuhan Dasar Manusia Salemba Medika. 2006. 2001. Salemba Medika : Jakarta . EGC : Jakarta Rahardjo Pudji. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Alimul. 2003. Kebutuhan Dasar Manusia.DAFTAR PUSTAKA Marilyn. 1999. Aziz. hal 167 Wartonah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful