You are on page 1of 11

KEMAS - Volume 3 / No.

2 / Januari - Juni 2008

KEBIASAAN MAKAN FAST FOOD, KONSUMSI SERAT DAN STATUS OBESITAS PADA REMAJA PUTRI
Rina Risnaningsih *), Oktia Woro KH **)

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang tingginya kejadian obesitas pada remaja baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa putri di SMP Negeri I Comal Pemalang yang berjumlah 462 siswa. Jumlah sampel adalah 75 siswa yang diperoleh dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan pengukuran langsung. Dari hasil penelitian disimpulkan, (1) ada hubungan positif antara kebiasaan makan fast food dengan status obesitas pada siswa putri SMP Negeri 1 Comal Pemalang, hal ini berarti bahwa semakin tinggi kebiasaan makan fast food maka risiko mengalami obesitas semakin tinggi pula, terbukti dari koefisien korelasi Kendal Tau sebesar 0,592 dengan p value = 0,0001, (2) ada hubungan negatif antara konsumsi serat dengan kegemukan pada siswa putri SMP Negeri 1 Comal Pemalang, hal ini berarti bahwa semakin tinggi konsumsi serat maka risiko untuk mengalami obesitas semakin rendah, terbukti dari koefisien korelasi Kendal tau sebesar -0,703 dengan p value 0,0001 Kata Kunci : Kebiasaan makan fast food, konsumsi serat, status obesitas

PENDAHULUAN Obesitas pada saat ini merupakan permasalahan yang muncul di dunia, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikan sebagai epidemik global. Prevalensi meningkat tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jumlah penduduk obesitas di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data SUSENAS tahun 1989-1999, prevalensi obesitas di Indonesia naik menjadi 5 kali lipat selama 10 tahun. Di daerah perkotaan dari 1,1% meningkat menjadi 5,3% di daerah pedesaan naik dari 0,76% menjadi 4,1%. Peningkatan prevalensi obesitas perlu di waspadai karena obesitas memicu timbulnya penyakit degeneratif. Dalam data Nasional Obesity Forum disebutkan bahwa kegemukan saat ini menyumbang

*) Alumni Jurusan IKM FIK Universitas Negeri Semarang **) Staf Pengajar pada Jurusan IKM FIK Universitas Negeri Semarang

185

59% normal. . Makanan di restoran fast food di tawarkan dengan harga yang terjangkau kantong mereka. Untuk pria dikatakan gemuk bila terjadi kelebihan berat 20% dari berat ideal. aktivitas fisik. Penyebab obesitas adalah faktor genetik. Fast food umumnya mengandung kalori. Obesitas dipengaruhi oleh pola makan. dan faktor psikologis. 1997:347).26% mengalami gizi kurang dan 59. konsumsi energi yang berlebihan dan kebiasaan makan yang salah. Kehadiran fast food dalam industri makanan di Indonesia bisa mempengaruhi pola makan kaum remaja di kota. Obesitas berhubungan dengan kelebihan berat badan dari pada berat badan yang diinginkan. Orang China mengkonsumsi 20% lebih banyak energi di bandingkan dengan orang Amerika Serikat tetapi ternyata angka kegemukan di Amerika Serikat 25% lebih tinggi di bandingkan dengan orang China (Moore. Penelitian di Semarang menunjukan dari 1730 remaja di ketahui 20% menderita obesitas dan 9% overweight (Depkes. Akan tetapi. Dipilihnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Comal sebagai populasi dengan pertimbangan. sekolah ini merupakan salah satu SMP favorit yang ada di kota Pemalang dengan lokasi yang strategis karena berada ditengah kota. 18.000 kematian/tahun (Depkes. Makanan siap saji atau fast food umumnya mempunyai kandungan protein tinggi. Obesitas (kegemukan) merupakan refleksi ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. 2004:2).97% siswa SMP Negeri I Comal mengalami obesitas. faktor genetik. Selain itu. tetapi miskin serat. Mary Courtney. aktivitas fisik. faktor bakat atau keturunan masih dinilai memiliki andil terhadap timbulnya obesitas.Rina Risnaningsih. 1997:16). psikologis. Disamping faktor kelebihan konsumsi energi. sosial ekonomi dan 186 ..Kebiasaan Makan Fast Food. dan untuk wanita lebih dari 15% (Lisdiana. tetapi rendah serat kasar. servisnya cepat dan jenis makananya memenuhi selera). Perubahan pola makan tersebut di picu oleh faktor fisiologis. vitamin A. siswa SMP Negeri I Comal berasal dari seluruh penjuru kota Pemalang dan berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi. khususnya bagi remaja tingkat menengah keatas. Dari data observasi yang diperoleh 21. penemuanpenemuan sementara hasil penelitian di China menunjukkan bahwa kegemukan lebih berkaitan dengan jenis pangan yang dikonsumsi. Kebiasaan makan fast food juga merupakan salah satu penyebab obesitas apabila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak diimbangi oleh konsumsi serat yang cukup.. dimana energi yang berlebihan tersebut disimpan di dalam tubuh sebagai lemak sehingga akibatnya dari waktu ke waktu tambah berat. 2001:79). kadar lemak. gula dan sodium (Na) yang tinggi. Gejala kegemukan atau obesitas adalah berlebihnya berat badan seseorang dari berat badan ideal. Secara umum dapat dikatakan bahwa kegemukan adalah dampak dari konsumsi energi yang berlebihan. sosial budaya. Restoran fast food merupakan tempat yang tepat untuk bersantai. Di Jawa Tengah khususnya di Semarang diduga angka prevalensi obesitas juga mengalami kenaikan seperti yang terjadi di kota-kota besar lainnya. 2004:121). 2004:2). (Andang Gunawan. asam askorbat. kalsium dan folat (Ali Khomsan. Oktia Woro Kh hingga 300.

tetapi karena sebagian tidak dapat diserap. Energi yang berlebihan tersebut disimpan dalam tubuh sebagai lemak sehingga dari waktu ke waktu bertambah berat. sejumlah 75 siswa yang dihitung dengan menggunakan rumus dari Azrul Azwar . walaupun orang tersebut banyak makannya. lambung.1997:15). Apabila serat sedikit dalam makanan . Fast food sering dijadikan kambing hitam penyebab penyakit jantung.KEMAS .Juni 2008 kesibukan orang tua yang menyebabkan remaja lebih suka makan diluar rumah yang praktis dan siap saji. maupun di usus (Lisdiana. Fast food umumnya juga miskin akan sayur. hamburger atau steak. Perlu diingat bahwa fast food adalah juga makanan bergizi tinggi. Yang menyebabkan fast food dianggap negatif adalah karena ketidakseimbangannya. Apabila serat banyak dalam makanan. 2001:56).Volume 3 / No. gudeg. Fast food (makanan cepat saji) adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap di santap. kalaupun ada sayurnya terbatas pada selada yang tidak banyak 187 mengandung vitamin dan mineral karena selada sekelas dengan kubis (Andang Gunawan. Hal ini dengan mudah bisa kita lihat dari besarnya porsi daging ayam atau burger yang disajikan. Meskipun serat makanan merupakan bagian yang dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia. 1999: 1). hipertensi. tetapi sebagian dapat diuraikan dalam usus besar oleh mikroflora. Menurut Lisdiana (1997:15). tetapi bukan berarti serat tidak berguna bagi manusia. serat makanan adalah bagian dari makanan yang berasal dari tumbuhan (nabati) yang tidak dapat diuraikan oleh enzim-enzim pencernaan. kegemukan dan sebagainya. cocok bagi mereka yang selalu sibuk (Dina Agoes Sulistijani. Kebiasaan makan siap saji yang berlebihan tanpa diimbangi konsumsi serat dapat berakibat konsumsi energi yang berlebihan. Setelah zat-zat gizi makanan nabati diserap oleh usus maka terdapat sisa yang tidak dapat dicerna. Disamping itu aktivitas fisik yamg kurang dari remaja juga dapat mengakibatkan masukan kalori dalam tubuh berlebihan. maka semua sumber kalori tersebut dapat diserap. Sebagai sampel adalah sebagian siswa putri di SMP N I Comal Pemalang. Serat berfungsi menghalanghalangi penyebaran zat-zat gizi seperti karbohidrat. Selain itu. Bagian inilah yang disebut serat yang akhirnya tertinggal didalam usus besar. rendang. nasi rames. dan protein. maka orang itu tidak akan mudah menjadi gemuk (Simamora. Orang lalu menjadi gemuk. lemak. Kebiasaan makan tersebut bila tidak diluruskan dapat mengakibatkan munculnya masalah gizi karena ketidak seimbangan konsumsi makan. penyumbatan pembuluh darah. METODE Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa putri di SMP Negeri I Comal Kabupaten Pemalang tahun ajaran 2005/2006 sejumlah 462 siswa. Seperti fried chiken . Kalori dalam tubuh tersebut akan disimpan juga dalam bentuk lemak. 1996:66). pengolahan dan penyiapannya lebih mudah dan cepat. 2 / Januari . Serat membantu pencernaan baik ketika di mulut. Mudahnya memperoleh aneka jenis makanan jadi dan makanan siap saji di pasaran memang memudahkan tersediannya variasi pangan sesuai selera dan daya beli.

kelas 8 diambil 22 siswa dan kelas 9 diambil 21 siswa sebagai responden sehingga jumlah keseluruhan responden adalah 75 siswa putri. Dari 13 jenis makanan yang tercantum pada tabel di atas. 8 dan 9 kemudian dari tiap kelas tersebut diambil sampel yang disesuaikan dengan proporsi jumlah siswa pada tiap kelas yaitu 15 % dari tiap srata. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik stratified random sampling. setelah dilakukan penskoran diperoleh gambaran bahwa sebagian siswa memiliki kebiasan makan fast food yang rendah dan sebagian lagi dalam kategori tinggi. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah variabel kebiasaan makan fast food dan konsumsi serat yang menjadi penyebab status obesitas. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat konsumsi seratnya masih tergolong rendah. didapat jumlah sampel dari kelas 7 diambil 32 siswa. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut. . Terlihat dari tabel 3 di atas. faktor psikologis dan aktivitas fisik dan dikendalikan dalam kriteria inklusi dan eksklusi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.Rina Risnaningsih. Terlihat dari tabel 2 di atas. Yang dimaksud srata adalah pembagian tiap kelas dari kelas 7. namun masih ada 9 siswa atau 12% yang memiliki kebiasan makan fast food dalam kategori sedang dan 29 siswa atau 38. Berdasarkan data hasil pengisian formulir tersebut. sebanyak 37 siswa atau 49. (2) Hubungan antara konsumsi serta dengan status obesitas pada remaja putri di SMP N I Comal Pemalang. hampir semua siswa terbiasa mengkonsumsi fast food dari Fried chiken sampai es krim.. Oktia Woro Kh dan Prihartono Joedo. 188 .3% memiliki tingkat konsumsi serat kurang dari 20 gram/hari dalam kategori rendah.Kebiasaan Makan Fast Food. persentase tertinggi yang dikonsumsi adalah siomai hingga mencapai 73 siswa (97%) dan persentase terendahnya adalah steak daging yang dikonsumsi oleh 64 siswa (64%). Instrumen yang digunakan adalah timbangan injak dan mikrotoa untuk menentukan status obesitas serta formulir kuesioner food frequency dan formulir recall 24 jam untuk mengukur kebiasaan makan fast food dan konsumsi serat pada responden dimana pengukuran dilakukan selama 3 hari. Setelah dihitung. genetik. Terlihat dari tabel 1.3% memiliki kebiasaan makan fast food yang rendah. sebanyak 40 siswa atau 53. 2) Konsumsi Serat Pengukuran konsumsi serat oleh siswa SMP Negeri 1 Comal Pemalang dapat dilihat dari hasil pengisian formulir recall 24 jam selama 3 hari. Dilihat dari jenis fast food yang biasa dikonsumsi oleh sebagian besar siswa dapat dilihat pada tabel 2 berikut. Penyebab status obesitas lain yang tidak diteliti atau yang termasuk dalam variabel pengganggu adalah status menstruasi.7% dalam kategori tinggi. HASIL 1) Kebiasaan Makan Fast Food Kebiasaan makan fast food pada siswa putri SMP Negeri 1 Comal dapat dilihat dari hasil pengisian formulir food frequency . Analisis data menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk mengetahui : (1) Hubungan antara kebiasaan makan fast food dengan status obesitas pada remaja putri di SMP N I Comal Pemalang..

4) Hubungan Kebiasaan Makan Fast Food dengan Konsumsi Serat Tabel 1 Gambaran Kebiasaan Makan Fast Food Skor Kriteria Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 37 9 29 75 Persentase 49. selebihnya 41 siswa atau 54. 3) Status Obesitas Berdasarkan data pengukuran menunjukkan bahwa sebagian besar siswa putri SMP Negeri 1 Comal Pemalang tergolong obesitas.Juni 2008 selebihnya 8 siswa atau 10.0 38.7% memiliki % BBI > 120% dalam kategori obesitas.0 100 Interval massa/hari gr/hari < 20 20 < gr/hari < 25 25 < gr/hari Jumlah 189 .3 10.3% memiliki %BBI kurang dari 120% dalam kategori tidak obesitas. Terlihat dari tabel 4 di atas.7% pada interval 20-25 gr/hari dalam kategori sedang dan 27 siswa atau 36% tingkat konsumsi seratnya melebihi 25 gr/hari dalam kategori tinggi.3 12.7 100 Skor < 22 22 < Skor < 44 44 < Skor Jumlah Tabel 2 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Daftar Fast Food yang Biasa Dikonsumsi Siswa Daftar Fast Food Fried chicken Steak daging Mie bakso Siomai Mie instant Mie goreng Mie ayam Kentang goring Soto Gulai Donat Frekuensi 69 48 71 73 72 71 69 60 71 67 65 68 69 % 92 64 95 97 96 95 92 80 95 89 87 91 92 Soft drink Es krim Tabel 3 Gambaran Konsumsi Serat Kriteria Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 40 8 27 75 Persentase 53. sebanyak 34 siswa atau 45. 2 / Januari . Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4 berikut.7 36.KEMAS .Volume 3 / No.

592 dengan p value = 0.3 6 100 Rendah Sedang 7 87.7 7 100 Sedang Sedang Tinggi 2 100 2 100 Rendah 2 7.0 23 100 Rendah 1 14.0 3 13.7 5 83. Berdasarkan kedua analisis korelasi di atas.0 2 100 190 .703 dengan p value = 0.7 100 Interval % BBI < 120% > 120% Jumlah Tabel 5 Hubungan Kebiasan Makan Fast Food dan Konsumsi Serat dengan status obesitas Status Obesitas Kebiasaan makan Konsumsi Tidak f % Obesitas fast food serat obesitas F % f % Rendah 1 16.4 25 92. menunjukkan bahwa obesitas pada siswa dipengaruhi oleh kebiasaan makan fast food yang tinggi dan tidak diimbangi dengan konsumsi serat yang tinggi pula.0001 yang berarti ada korelasi negatif konsumsi serat dengan status obesitas. Terlihat pada tabel 5 di atas. 6) Hubungan Kebiasaan Makan Fast Food dengan Status Obesitas Berdasarkan hasil korelasi kendal tau diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. yang berarti semakin tinggi kebiasaan makan fast food justru konsumsi seratnya rendah dan sebaliknya semakin rendah kebiasaan makan fast food semakin tinggi konsumsi seratnya.6 27 100 Tinggi Sedang Tinggi 1 50.0001 yang berarti ada korelasi positif kebiasaan makan fast food dengan status obesitas.3%) mengalami Tabel 4 Gambaran Status Obesitas Responden Penelitian Kriteria Tidak obesitas Obesitas Frekuensi 34 41 75 Persentase 45.Kebiasaan Makan Fast Food.5 1 12. ..Rina Risnaningsih.632 dengan p value = 0.05 atau ada hubungan antara kebiasaan makan fast food dengan konsumsi serat.. Oktia Woro Kh Dari hasil korelasi Kendal Tau diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.5 8 100 Tinggi 20 87. 7) Hubungan Konsumsi Serat dengan Status Obesitas Berdasarkan hasil korelasi kendal tau diperoleh koefisien korelasi sebesar -0.0001 < 0. 1 50.3 6 85. dari 6 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food rendah namun memiliki konsumsi serat yang rendah ternyata 5 siswa di antaranya (83.3 54. Hal ini dapat dilihat dari tabulasi silang hubungan antara kebiasaan makan fast food dan konsumsi serat dengan status obesitas pada tabel 5 berikut.

0001.KEMAS .7% mengalami kegemukan.Juni 2008 obesitas. Dari data tersebut menunjukan bahwa kebiasaan makan fast food tinggi dan konsumsi serat rendah lebih banyak mengalami obesitas. 2 / Januari .Volume 3 / No. Dari 27 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food tinggi dan mengkonsumsi serat rendah ternyata 25 siswa di antaranya (92. Dari 23 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food rendah dan mengkonsumsi serat yang tinggi sebanyak 20 siswa (87%) tidak mengalami obesitas. Dari 7 siswa yang memiki kebiasaan makan fast food sedang namun konsumsi seratnya tergolong rendah ternyata 6 siswa di antaranya atau 85. yang berarti hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kebiasaan makan 50 40 30 20 10 0 37 29 9 Jumlah Rendah Sedang Tinggi Kebiasaan M akan Fast Food Gambar 1 Diagram Batang Kebiasaan Makan Fast Food 50 40 Jumlah 30 20 10 0 Rendah Sedang Tingkat Konsumsi Serat Tinggi 8 27 40 Gambar 2 Diagram Batang Tingkat Konsumsi Serat 191 .6%) mengalami obesitas.592 dengan p value = 0. Hal ini membuktikan bahwa rendahnya konsumsi serat menyebabkan kegemukan. PEMBAHASAN Berikut ini akan dibahas satu persatu dari variabel-variabel yang telah diteliti hádala sebagai berikut : 1) Hubungan Kebiasaan Makan Fast Food dengan Status Obesitas Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan korelasi Kendal tau antara kebiasaan makan fast food dengan status obesitas diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.

gula dan sodium (Na) juga tinggi. Oktia Woro Kh fast food dengan status obesitas diterima. Kandungan gizi yang tidak seimbang ini bila terlanjur menjadi pola makan secara terus menerus akan berdampak negatif pada keadaan gizi para remaja yang cenderung mengarah pada obesitas.. mie instan. frekuensi tersering adalah 8 kali sedangkan frekuensi rata-rata 1-2 kali/minggu.Rina Risnaningsih. donat. sebaliknya dari 37 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food rendah ternyata 28 siswa atau 75. mie goreng. Hal ini membuktikan bahwa obesitas yang dialami siswa salah satunya karena kebiasaan makan fast food yang tinggi. Dalam penelitiannya juga memberikan kesimpulan bahwa jumlah kalori fast food yang dikonsumsi berpengaruh terhadap kejadian obesitas dan semakin banyak konsumsi fast food maka semakin tinggi kejadian obesitas.6%. gulai. vitamin A. Jenis-jenis makanan tersbut mengandung kalori tinggi. Banyaknya jenis fast food yang dikonsumsi ternyata berpengaruh terhadap terjadinya obesitas. Penelitian lain Ida Ayu Eka Padmiari dan Hamam Hadi (2001). memberi kesimpulan bahwa prevalensi obesitas pada anak-anak SD di Denpasar cukup tinggi. mie bakso. kadar lemak. tetapi rendah serat kasar.7% tidak mengalami obesitas. asam askorbat.. soto. mie ayam. yaitu semakin banyak jenis fast food yang dikonsumsi maka semakin tinggi kejadian obesitas. frekuensi kunjungan ke restoran fast food sebagian besar memilki frekuensi kunjungan ke restoran fast food minimal sekali dalam seminggunya. soft drink dan es krim. yaitu 13.7% di antaranya mengalami obesitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dikakukan Khomsiyah Kartika Dewi (1998). 50 40 Jumlah 30 20 10 0 Kurus Normal Status Obesitas Gemuk 9 37 29 Gambar 3 Diagram Batang Status Obesitas Responden Penelitian 192 . Semakin sering frekuensi fast food akan berpengaruh terhadap keadaan gizinya. Dari 29 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food yang tinggi tersebut ternyata 26 siswa atau 89. Fast food yang biasanya dikonsumsi oleh remaja putri di SMP Negeri 1 Comal Pemalang sangat beragam seperti fried chicken. . siomai. Berdasarkan hasil uji chi square menunjukan ada hubungan anatar konsumsi fast food dengan status gizi pada remaja. Dari 75 siswa yang diteliti ternyata 29 siswa memiliki kebiasaan makan fast food yang tinggi.Kebiasaan Makan Fast Food. Jenis fast food yang sering dikonsumsi adalah fried chicken. kalsium dan folat.

lemak serta garam. kesibukan kerja yang tinggi dan promosi produk pangan trendi ala barat serta dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. pengolahan dan penyiapannya lebih mudah dan cepat.0001. cocok bagi mereka yang selalu sibuk. yang berarti hipotesis yang menyatakan ada hubungan negatif antara konsumsi serat dengan kegemukan diterima.05). Dari data yang diperoleh sebanyak 40 siswa yang konsumsi seratnya tergolong rendah ternyata 36 siswa di antaranya (90%) mengalami kegemukan.Volume 3 / No. Menurut Dina Agus Sulistijani (1999: 1). hamburger atau steak. 2 / Januari . Pilihan tersebut merupakan pilhan responden karena umunya mereka membeli menu fast food di restorn fast food merupakan paket yang biasanya terdiri dari fried chicken dan soft drink. Hal ini berarti bahwa semakin rendah konsumsi serat merupakan risiko bagi siswa terjadi kegemukan.693 dengan p value = 0. sebaliknya dari 27 siswa yang mengkonsumsi serat dalam kategori tinggi memiliki tubuh yang normal. garam asam folat dan riboflavin. Perubahan gaya hidup dalam konsumsi pangan atau pola makan ini terutama dipicu oleh perbaikan atau peningkatan pendapatan.Juni 2008 Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ikasari (2004).9% dan soft drink sebesar 64. Hasil penelitian lain oleh Emy Shinta Dewi (2000) memberikan temuan bahwa ada hubungan negatif sangat signifikan antara konsumsi serat dengan status gizi. Utamanya fast food namun tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran. 193 Sependapat dengan Ali Khomsan (2004). fast food (makanan cepat saji) merupakan makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap. Jenis makanan ini tidak terlalu merugikan kesehatan selama tidak dijadikan menu sehari-hari. tinggi kalori. Data tersebut menunjukkan bahwa obesitas yang dialami siswa salah satunya juga dipengaruhi oleh rendahnya konsumsi serat makanan. Namun demikian makanan cepat saji. kurang serat.KEMAS . Dalam penelitiannnya dikemukakan bahwa meningkatnya konsumsi lemak serta . Mudahnya memperoleh aneka jenis makanan jadi dan makanan siap saji di pasaran memang memudahkan tersediannya variasi pangan sesuai selera dan daya beli. Selain itu. 2) Hubungan Konsumsi Serat dengan Status Obesitas Hasil uji korelasi Kendal tau antara konsumsi serat dengan obesitas diperoleh koefisien korelasi sebesar -0. Lain halnya jika makanan tersebut dikonsumsi secara terus menerus dapat menyebabkan kegemukan. Jenis fast food yang dikonsumsi pada kelompok kasus dan kontrol adalah adalah fried chicken atau ayam tepung sebesar 52. zat besi. salah satu faktor kegemukan (obesitas) adalah pola makan. Dari hasil uji chi square menunjukan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal frekuensi konsumsi fast food antara kelompok kasus dan kontrol. umumnya tidak cukup mengandung vitamin C. seperti fried chiken. Hal ini berarti bahwa responden yang biasa mengkonsumsi fast food 0-1 kali seminggu dibandingkan responden yang mengkonsumsi fast food lebih dari 2 kali seminggu memiliki risiko yang sama untuk kemungkinan menderita gizi lebih (P>0. Dampak dari arus globalisasi yang paling nyata terlihat pada penduduk di perkotaan adalah gaya hidup konsumsi pangan termasuk gaya hidup dalam memilih tempat makan dan jenis pangan yang dikonsumsi.7%. frekuensi responden dalam mengkonsumsi fast food pada kelompok kasus dan kontrol paling banyak adalah 0-1 kali/minggu.

sebanyak 25 siswa aatu 92. Hal ini mendukung pula pendapat Andang Gunawan (2001:56). seperti jus buah. Berdasarkan data yang diperoleh dari 27 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food tinggi dan mengkonsumsi serat makanan yang rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi serat merupakan hal yang penting bagi tubuh terutama bagi yang memiliki kebiasaan makan fast food. 53.6% mengalami obesitas. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan antara lain: (1) Sebagian besar responden yaitu 54.703 dengan p value 0.0001 (5) Ada hubungan negatif antara konsumsi serat dengan kegemukan pada siswa putri SMP Negeri 1 Comal Pemalang.7% (41 responden) mengalami obesitas.7% (8 responden) termasuk dalam kriteria konsumsi sedang. (4) Ada hubungan positif antara kebiasaan makan fast food dengan status obesitas pada siswa putri SMP Negeri 1 Comal Pemalang. 38. terbukti dari koefisien korelasi Kendal tau sebesar -0. (3) Berdasarkan konsumsi serat. Fast food selama ini sering dijadikan kambing hitam penyebab penyakit jantung. terbukti dari koefisien korelasi Kendal Tau sebesar 0. (2) Berdasarkan kebiasaan makan fast food .. kalaupun ada sayurnya terbatas pada selada yang tidak banyak mengandung vitamin dan mineral karena selada sekelas dengan kubis. kegemukan dan sebagainya. Beberapa jenis fast food biasanya harus dimasak dan disiapkan beberapa jam sebelumnya. 49. hal ini terbukti dari data yang berhasil dihimpun ternyata dari 6 siswa yang memiliki kebiasaan makan fast food rendah dan konsumsi serat rendah ternyata 5 siswa di antaranya (83. hal ini berarti bahwa semakin tinggi konsumsi serat maka risiko untuk mengalami obesitas semakin rendah.592 dengan p value = 0.Rina Risnaningsih. Meskipun kebiasaan makan fast food rendah namun konsumsi seratnya juga rendah juga berdampak pada obesitas. Fast food umumnya juga miskin akan sayur.7% (29 responden) termasuk dalam kriteria tinggi. sayuran segar.3%) mengalami obesitas.0001 194 . Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa kegemukan siswa lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan makan fast food yang tinggi dan tidak diimbangi dengan konsumsi serat yang tinggi. penyumbatan pembuluh darah. 10. Oktia Woro Kh kurangnya konsumsi serat akan meningkatkan risiko gizi lebih atau obesitas.. Hal ini dengan mudah bisa dilihat dari besarnya porsi daging ayam atau burger yang disajikan.3% (37 responden) termasuk dalam kriteria rendah. 38. hal ini berarti bahwa semakin tinggi kebiasaan makan fast food maka risiko mengalami obesitas semakin tinggi pula. 12% (9 responden) termasuk dala kriteria sedang. hipertensi. Fast food yang menyebabkan dianggap negatif adalah karena ketidak seimbangannya. .3% (40 responden) termasuk dalam kriteria konsumsi rendah. Fast food pada dasarnya merupakan makanan bergizi tinggi. yang menegaskan perlunya mengimbangi makanan fast food dengan lebih banyak makanan segar dan bergizi.Kebiasaan Makan Fast Food.7% (29 responden) termasuk dalam kriteria konsumsi tinggi.

Lisdiana. Dina Agoes Sulistijani. Waspada Terhadap Kelebihan daan Kekurangan Gizi. 2001. Semarang. Simamora. Skripsi FKM UNDIP. Skripsi FKM UNDIP. 2 / Januari . Ida Ayu Eka Padmiari dan Hamam Hadi. Konnsumsi Fast Food Sebagai Faktor Resiko Obesitas Pada Anak SD. 2003. terutama yang berkaitan dengan fast food dan konsumsi serat. Jakarta: Trubus Agriwidya. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Sehat dengan Menu Berserat. Isriati Semarang . 2004. Penelitian di Denpasar Bali. Ikasari. 1997. Khomsiyah Kartika Dewi. Andang Gunawan. oleh karena itu disarankan kepada siswa untuk meningkatkan konsumsi serat guna mengimbangi kebiasaan makan fast food yang selama ini dilakukan untuk menguragi risiko obesitas. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Emy Shinta Dewi. 2001. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Terapi Diet dan Nutrisi. Bandung: Pionir Jaya DAFTAR PUSTAKA Ali Khomsan 2004. Hubungan Konsumsi Lemak Dan Serat Dengan Status Gizi (Tinjauan Masalah Kecenderungan Obesitas Di SD Hj. Batam: Binarupa Aksara. Skripsi FKM UNDIP Semarang. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Waspasda Obesitas .Juni 2008 SARAN Saran yang dapat diberikan berdasarkan pada hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan fast food pada siswa putri di SMP Negeri 1 Comal tergolong tinggi sehingga berisiko terhadap kegemukan.Volume 3 / No. Pola Konsumsi Fast Food Dan Status Gizi Remaja Pengunjung Beberapa Restoran Fast Food di Semarang. 195 . Pedoman Umum Gizi Seimbang untuk Remaja. oleh karena itu disarankan kepada siswa untuk mengubah kebiasaan makan sehat dan mengurangi kebiasaan makan fast food. Departemen Kesehatan RI. 1997. Pedoman Hidup Sehat. 2000. Semarang. Food Combining.KEMAS . 1996. (3) Bagi Institusi Pendidikan atau sekolah yang bersangkutan disarankan menambah materi tentang Gizi seimbang. 1998. Mary Courtney. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: Hipokrates. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat ———— 2004. Kebiasaan Konsumsi Fast Food dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Gizi Lebih (Studi Kasus di SMU I Kota Semarang). (2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi serat pada siswa putri di SMP Negeri 1 Comal tergolong rendah sehingga beresiko terhadap kegemukan. Moore. Ungaran: Trubus Agriwidya. 1997. Azrul Azwar dan Joedo Prihartono. 2002.