You are on page 1of 4

MEDI A I NFO RMASI - KO MUNI KASI AKTI VI TAS PEREMPUAN L I MA DESA DI BANTUL

KRIDA
NOMOR 1, TAHUN I EDISI NOVEMBER 2010

“...lebih

enak ikut LKP. Lebih ringan bunganya daripada bank plecit‖

Warsidah, anggota LKP Sida Makmur Warungpring, Mulyodadi

GRATIS

DICETAK 15OO EKS

TERBIT BULANAN

DARI REDAKSI
Pembaca, banyak kegiatan, terutama ekonomi, yang dikerjakan perempuan di desa. Namun, sangat sedikit dari kegiatan itu yang diketahui masyarakat luas. Krida hadir sebagai sarana menginformasikan kegiatan itu, terutama kegiatan ekonomi para perempuan di lima desa di Bantul (Jambidan di Banguntapan, Srihardono di Pundong, Wonolelo di Pleret, Mulyodadi di Bambanglipuro dan Gilangharjo di Pandak). Krida juga hadir dengan harapan agar warga, terutama perempuan, mempunyai media untuk mengkomunikasikan apa yang mereka kerjakan. Untuk itu, wargalah, terutama perempuan, yang menjadi tulang punggung Krida. Pendeknya, mereka yang mempunyai kegiatan, mereka pula yang mengabarkannya, melaluiKida. Tentu,K r i d a terbuka pula bagi laki-laki warga desa untuk menyumbangkan informasi,dengan prioritas mengenai kegiatan perempuan di desanya. Semoga kehadiran Krida bermanfaat. Salam. ALBUM WARGA
NIKAH :Siti Muzayyanah (Ploso, Wonolelo, Pleret) dengan Zainudin (Bedukan, Pleret). Akad nikah Kamis, 25 November 2010, pukul 10.00 di Ploso, Wonolelo, Pleret

Zuniyati (29) menjajakan dagangannya di jalan desa Desa Wonolelo, Pleret, Bantul, Minggu (21/11)

FOTO KHULIL KHASANAH

Bingkisan Lebaran Pengikat Pelanggan
LAPORAN KHULIL KHASANAH Ploso, Wonolelo, Pleret

b i n g k is a n sebagai bentuk perhatian terhadap pelanggan sekaligus mengikat pelanggan agar tak berpaling tak hanya bisa dilakukan perusahaan atau pedagang besar. Pedagang sayur keliling pun bisa. Contoh untuk itu adalah Zuniyati, perempuan kelahiran Dusun Purworejo, Wonolelo, Pleret, Bantul, 26 Maret 1981 dari perkawinan Ibu Ponirah dan Bapak Wagi min (almarhum). Perempuan yang kini tinggal bersama suami di Guyangan, Kedungpring,

Memberi

Wonolelo, Pleret, ini bisa dibilang sebagai penyedia lapangan kerja untuk dirinya walaupun hanya menempuh pendidikan sampai SLTP (di MTsN Wonokromo). Dan kerja yang dibukanya didasari kejelian melihat peluang. Ini juga sebagai solusi yang dipilihnya mengatasi himpitan ekonomi yang sulit dan tidak cukup jika hidup sekedar mengandalkan penghasilan suami. Dengan modal paspasan, Mbak Yuni – panggilan ini lebih dikenal di Wonolelo – mengawali usaha sebagai pedagang sayuran keliling tujuh tahun

lalu (2003). Saat itu Mbak Yuni melihat bahwa warga Wonolelo kesulitan jika ingin belanja kebutuhan sehari-hari karena Wonolelo jauh dari pasar. Jika warga ingin berbelanja harus menempuh jarak sekitar kurang lebih 5 sampai 7 kilometer. Setiap pa gi dia menjajakan sayur-mayur dengan sepeda motor Crystal-nya mengelilingi Desa Wonolelo. Dari profesinya, ibu dari Denta (anak pertama) ini memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp. 40.000Rp 50.000/hari.
BERSAMBUNG KE HAL 2

2

KRIDA

N O M O R 1 , T AHU N I ED ISI N O V E M BER 2 01 0

LKP Sida Makmur Warungpring Geser Bank Plecit
LAPORAN ISTRIYANI & V. MEI DIANA Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro

MULYODADI, KRIDA— Keberadaan LKP (Lembaga Keuangan Perempuan) Sida Makmur di Dusun Warungpring, Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro ternyata sangat membantu perempuan pengusaha kecil di dusun ini. Warga, khususnya perempuan pengusaha kecil, kini tidak lagi tergantung kepada bank plecit (rentenir), sebab LKP menyediakan pinjaman kredit dengan bunga jauh lebih rendah. Di LKP warga pun bisa memiliki simpanan melalui simpanan pokok dan wajib, serta akan mendapat bagian SHU (Sisa Hasil Usaha) di akhir tahun. Sebelum LKP Sida Makmur ini berdiri tahun 2007, banyak warga Dusun Warungpring yang memanfaatkan bank plecit untuk modal usaha. Tetapi setelah LKP berdiri warga Dusun Warungpring beralih dari bank plecit dan bergabung menjadi anggota LKP Sida Makmur. ―Ya sangat berbeda, lebih enak ikut LKP daripada bank plecit. Bank plecit

bunganya lebih banyak. Bank plecit 5%, sedangkan LKP hanya 1%,‖ ujar Ketua LKP Sida Makmur, Ibu Warsini, kepada Krida, Sabtu (20/11) di rumahnya, Dusun Warungpring. Salah seorang warga Warungpring yang juga menjadi anggota LKP, Ibu Warsidah, mengakui hal itu. ―Ya lebih enak ikut LKP. Lebih ringan bunganya, jadi lumayan tidak banyak mengurangi uang sehari-sehari,‖ katanya. Untuk menjadi anggota LKP Sida Makmur, perempuan pengusaha di dusun ini harus mempunyai simpanan pokok. Semula Rp 10.000. Tetapi sekarang sudah naik menjadi Rp 50.000. Sedangkan simpanan wajib dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000/bulan. Lima Kelompok Usaha LKP Sida Makmur dikelola oleh Ibu Warsini selaku ketua, Ibu Yuni sebagai sekretaris, Ibu Indarni selaku bendahara. Adapun Humas dijabat Ibu Murjiah dan Ibu Tri Wahyuni. Sebagai pengawas yaitu Ibu Sarjiah serta Ibu Santi. Anggota LKP Sida Makmur yang

pernah berjumlah 117 orang sekarang tinggal 115 orang. Dua anggota meninggal dunia. Untuk kedua anggota ini dibebaskan dari kewajiban mengembalikan pinjaman atau diputihkan. Perjalanan LKP ini terbilang cukup baik, terbukti dengan adanya pertemuan rutin yang dilakukan tiap bulan setiap tanggal 25-30. Pertemuan berlangsung lima kali per bulan disesuaikan lima kelompok usaha anggota yaitu dagang pasar, warung, ternak, campuran (penjahit, produksi tempe), dan produksi emping melinjo. Meskipun dalam pengelolaannya dapat dikatakan baik, kendala tetap muncul yaitu adanya anggota yang ―macet‖ kurang lebih 5 orang. ―Karena mereka belum punya uang. Ada yang dua bulan, ada yang tiga bulan belum ngangsur,‖ kata Ibu Warsini Meskipun 5 orang, hal itu juga bisa menghambat kelancaran alur keuangan serta bisa mempengaruhi anggota lainnya. Tapi, menurut Ibu Warsini, pengurus belum menemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya. (*)

Bingkisan Lebaran …
SAMBUNGAN HAL 1

Walaupun sebagai pedagang sayuran keliling, namun ibu dari dua anak ini tetap menyelesaikan pekerjaan rumah (yang sampai saat ini masih dipahami oleh kebanyakan orang sebagai pekerjaan perempuan) sebelum pergi ke pasar. ―Saya bangun jam empat pagi untuk mema s a k, men cu ci da n menyelesaikan pekerjaan lainnya . Jam setengah enam baru pergi ke pasar kulakan sayur-mayur, untuk dijual keliling desa sampai jam satu siang,‖ katanya kepada Krida, Sabtu (20/11), saat berjualan di Dusun Ploso. Pascagempa 26 Mei 2006 lalu, masuklah sejumlah LSM (Lembaga Swada ya Mas ya raka t) ke D esa Wonolelo, di anta ranya adalah ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) dengan dukungan lembaga donor Ford Foundation. Dengan pendampingan ASPPUK perempuan Kedungpring membentuk kelompok perempuan pengusaha yang kemudian difasilitasi membentuk Koperasi Perempuan Rukun Makmur Santosa.

Kehadira n koperasi ters ebut dirasakan manfaatnya oleh Mbak Yuni. Ia merasa lebih tertolong untuk mengembangkan usahanya. Hal ini bisa dilihat perkembangan usahanya dari tahun ke tahun. Dagangan Mbak Yuni lebih banyak dan lebih lengkap. Sepeda motor yang dipakainya pun telah ganti dengan yang lebih bagus. Hal yang menarik dari perjalanan istri Sudiro ini adalah ketika dia hamil muda (sering kurang enak badan dan saat hamil tua ketika ia sudah merasa kerepotan) dia ditemani suaminya dalam menjajakan dagangannya. Hal ini dilakukan agar sang suami tahu di mana tempat kulakan, siapa saja yang menjadi langganan serta berapa harga dagangan yang biasa dijual, supaya ketika Mbak Yuni melahirkan usahanya bisa tetap dijalankan. Menurut dia, kalau libur terlalu lama akan banyak pelanggan yang kecewa. Jika ini dibiarkan, dia akan kehilangan banyak pelanggan. Sementara di masamasa sekarang ini sangat sulit untuk kembali merintis lapangan kerja, dan

Mbak Yuni tidak ingin hal ini menimpa dirinya. Mbak Yuni ingin semua pelanggannya merasa senang dan puas. Dua tahun terakhir perempuan berw a ja h bula t ini tela h bis a memberikan bingkisan untuk para pelanggan setianya. Mbak Yuni membagi-bagi bingkisan berupa jilbab dan jajanan lebaran. Ini poin bagi Mbak Yuni. Ternyata dengan cara ini banyak pelanggan yang enggan berpaling darinya. Namun di sisi lain Mbak Yuni juga sering menemui kendala dalam usahanya. ―Pendapatan saya berkurang jika hujan karena banyak pelanggan yang malas untuk keluar rumah, kalau a d a y a n g h a j a t a n (mantu,supitan,selapanan bayi) serta saat hari libur, karena kalau hari libur banyak pelanggan yang berpergian dengan keluarga,‖ katanya. Untuk mengatasi itu, terutama di saat hujan, Zuniyati atau Mbak Yuni menerapkan layanan dari pintu ke pintu. Dengan cara ini pelanggan dimudahkan, dagangannya tetap terjual. (*)

N O M O R 1 , T AHU N I ED ISI N O V E M BER 2 01 0

KRIDA

3

Dengar Cerita Grameen Bank di Training Penguatan LKM
LAPORAN ENY AROFAH Ploso, Wonolelo, Pleret

WONOLELO,KRIDA— Paskagempa di Bantul 2006, banyak lembaga keuangan bermunculan, baik yang didirikan LSM ataupun pemerintah di sejumlah desa, di antaranya di Desa Wonolelo, Pleret. Untuk penguatan lembaga ke-uangan tersebut dan peningkatan kapasitas pengelola serta pengurus, dilakukan Training Penguatan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) selama dua hari, 13 dan 14 November, di Bantul Terrace, Bantul. Pelatihan dua hari ini diikuti 25 peserta, laki-laki dan perempuan,

termasuk perwakilan Kelompok Peternak, perajin dan Kelompok Usaha Bersama dari Desa Wonolelo, Pleret dan Desa Mulyodadi, Bambanglipuro. Pelatihan yang diselenggarakan YP2SU (Yayasan Peningkatan dan Pengembangan Sumberdaya Ummat) bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, UNDP, dan SC-DRR (Safer Communities Through Disaster Risk Reduction) ini diisi oleh Bapak Wawan Andriyanto SH dari YP2SU dan Ibu Ekantini Puji Basuki dari KSU GEMI. Pada hari pertama pelatihan, Pak Wawan bercerita tentang Prof. Muhammad Yunus pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang bisa me-

ningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat di sana paska bencana badai siklon Bhola yang menewaskan sekitar 500 ribu jiwa dan menghancurkan rumah – rumah warga. Grameen Bank berhasil, kata Pak Wawan, karena 16 sumpahnya yang di antaranya berbunyi : ―Kesejahteraan harus kami bawa kepada keluarga kami, kami tidak akan pernah hidup di rumah yang asal – asalan, kami akan menanam sayuran sepanjang tahun, selama masa tanam kami akan menanam sebanyak mungkin tanaman, kami harus mendidik anak – anak kami untuk mandiri‖. (*)

Dari Pertemuan Perempuan Nasabah Kredit Perumahan Kadisoro

Bunga Naik, Nasabah Tetap Bertambah
LAPORAN EMY CAYARANI Kadisoro, Gilangharjo, Pandak

GILANGHARJO,KRIDA – Minggu siang pertengahan Oktober lalu pendapa serbaguna Balai Manunggal Dusun Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, dipenuhi sekitar 150 warga, hampir semua perempuan. Sekitar 120 di antaranya perempuan nasabah kredit perumahan dari lembaga swadaya Perkreditan Perumahan Dusun (PPD) Kadisoro yang dibentuk setahun pascagempa 2006. Selebihnya anggota Balai Perempuan Kadisoro. Hari itu mereka mengadakan pertemuan dengan pengurus PPD terutama untuk mendengar laporan perkembangan lembaga dan membicarakan sejumlah kebijakan. Pada kesempatan itu seluruh pengurus, yaitu Fx Sutrisno (ketua), Riwanti (bendahara), Mujirah (sekretaris) dan Dwiko (pengawas) hadir. Tampak pula Okti, pengurus KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) Yogyakarta. Dalam laporannya, Ketua PPD, Fx Sutrisno, menyampaikan bahwa dari modal dana awal Rp 330 juta yang berasal dari program Jejaring Ford Foundation untuk membantu pembangunan maupun perbaikan rumah pascagempa, kini setelah tiga tahun menjadi Rp 331.032.100.

―Penambahan modal ini berasal dari jasa dan denda bagi yang terlambat membayar angsuran. Denda keterlambatan pembayaran angsuran dikenakan jika pembayaran lewat tanggal 10 tiap bulannya,‖ kata Fx Sutrisno. Dari 0,1% Jadi 0,3% Ketua PPD menjelaskan pula tentang naiknya jasa pinjaman atau bunga dari semula 0,1% per satu juta rupiah pinjaman menjadi 0,3%. ―Waktu masih didampingi oleh KPI, selama satu tahun segala kebutuhan administrasi dibantu KPI. Setelah tidak didampingi KPI lagi segala kebutuhan administrasi harus ditanggung sendiri oleh PPD. Agar housing tetap berjalan, maka jasa dinaikkan jadi 0,3% per sejutanya. Ini antara lain untuk kebutuhan penambahan modal, motret rumah yang akan diperbaiki, foto copy berkas-berkas, ATK, transport, pertemuan,‖ ujarnya. Dengan kenaikan jasa pinjaman itu pula, kata Fx Sutrisno, PPD bisa membeli perlengkapan kantor sederhana. Kini, setelah tiga tahun PPD telah memiliki 6 kursi, 2 meja dan lemari untuk berkas-berkas. Sebelumnya, pelayanan bagi peminjam dan yang akan membayar angsuran dilakukan secara lesehan. Menjawab pertanyaan seorang warga mengenai kapan kebijakanmenaikkan jasa, karena dia me-

ngaku tidak mengetahui, Sekretaris PPD Mujirah mengemukakan kenaikan dan besarnya kenaikan bunga hasil rembug warga, khususnya nasabah, pada tahun 2008. ―Itu ada dalam notulen. Silakan dilihat. Untuk jasa dan denda, ini juga bisa dibaca dalam surat perjanjian bermeterai,‖ kata Mujirah. Penjelasan Mujirah dan Fx Sutrisno dikuatkan Okti dari KPI. Bertambah Meskipun bunga dinaikkan, jumlah peminjam kredit perumahan di PPD Dusun Kadisoro tidak menyusut. Jika pada awal 2008 jumlah peminjam sebanyak 68 orang, pada Oktober 2010 tercatat sudah mencapai 156 orang atau meningkat 226%. Peminjam adalah perempuan dari delapan RT. Adapun besar pinjaman maksimal Rp 10 juta. Ini untuk calon peminjam yang belum memiliki rumah. Angsuran dibayarkan maksimal 48 bulan. Keterlambatan pembayaran angsuran, seperti ditulis dalam pasal 12 Anggaran Rumah Tangga PPD Dusun Kadisoro, dikenai denda 0,5% dari jumlah pinjaman. Jika terlambat mengangsur diberi tenggang waktu 3 bulan namun harus melunasi kewajiban membayar 2X denda ditambah 3Xbunga. (*)

Habis Pelatihan Terbitlah Krida
LAPORAN ISTRIYANTI Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro

MULYODADI, KRIDA— Di akhir Oktober lalu, tepatnya Minggu (31/10), Pelatihan Jurnalistik Warga Bermedia yang diselenggarakan LP3Y sejak Juni 2010 ditutup. Pada penutupan yang berlangsung di pendapa rumah Bapak Sarjono, Kepala Dukuh Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, ini diadakan evaluasi dan perencanaan tindak lanjut. Penutupan dihadiri enam peserta pelatihan, semua perempuan, yaitu dari Warungpring, Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro (1 orang), Kadisoro, Gilangharjo, Pandak (2 orang), Joho, Jambidan, Banguntapan (1 orang), Ploso, Wonolelo, Pleret (2 orang), fasilitator dan staf LP3Y dan 2 orang dari Radio Komunitas Sadewa, Desa Wonolelo, Pleret. Dalam evaluasi masing-masing anggota menyampaikan pesan, kesan dan manfaat selama mengikuti pelatihan, serta masalah yang dihadapi seperti kendala yang ditemui yaitu waktu berbenturan dengan kegiatan peserta di desa, tempat yang terlalu jauh, usia anggota. Namun, dengan mengikuti pelatihan ini peserta bisa lebih tahu tata cara menulis berita, mengenal lebih dalam kejurnalistikan, bisa belajar komputer dan lebih percaya diri meliput berita.

FOTO DEDI H PURWADI

Peserta pelatihan (dari kiri) Kartinah, Emy Cayarani dan Umi Narsih menerima penghargaan buku foto .

Berbekal pelatihan, peserta akan menerbitkan koran warga yang diedarkan di lima desa peserta. Media cetak yang dikelola peserta pelatihan ini akan diterbitkan bulanan. Adapun isi koran yaitu seputar kegiatan perempuan di lima desa, terutama kegiatan ekonomi. Untuk merencanakan penerbitan, peserta yang kemudian menjadi pengelola atau redaksi koran warga bersepakat bertemu sekali sebulan tiap hari Minggu pada minggu ke-3. Krida Pada kesempatan itu, Bapak Slamet Riyadi dari LP3Y mengatakan, penutupan pelatihan ini merupakan awal terbentuknya koran warga bernama Krida yang dijadwalkan terbit perdana akhir November 2010. Penerbitan Krida dibantu LP3Y. Sebelum acara selesai diserahkan

Persiapan penerbitan perdana Krida, Minggu (21/11), di rumah Khulil Khasanah, Ploso, Wonolelo, Pleret.

sertifikat dan penghargaan kepada tiga peserta yang rajin mengikuti pelatihan dengan kehadiran minimal 3 kali dari 9 pertemuan, yaitu Ibu Kartinah (Joho, Jambidan), Ibu Emi Cayarani (Kadisoro), dan Ibu Umi Narsih (Kadisoro).(*)

KRIDA
DITERBITKAN OLEH LP3Y (LEMBAGA PENELITIAN PENDIDIKAN DAN PENERBITAN YOGYA) SEBAGAI MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI AKTIVITAS PEREMPUAN LIMA DESA DI BANTUL. PENERBITAN DIDUKUNG THE FORD FOUNDATION. TERBIT PERDANA NOVEMBER 2010

DARI PEMBACA
Semoga Jadi Momentum Perubahan
Kebutuhan masyarakat akan informasi dapat diibaratkan sebagai kebutuhan primer tingkat dua setelah pemenuhan kebutuhan papan, sandang dan pangan. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu media untuk memfasilitasi warga dalam mengakses informasi. Media informasi yang dapat digunakan di antaranya radio komunitas, mading, papan informasi, koran warga dan lain-lain. Berkaitan dengan koran warga yang digagas LP3Y dengan melibatkan warga lima dusun di Kabupaten Bantul tentunya menjadi suatu terobosan menarik agar potensi dan informasi lokal dapat diketahui warga masyarakat lain. Bertepatan dengan terbitnya koran warga yang bernama koran Krida, saya mengucapkan selamat atas penerbitan perdananya. Semoga terbitnya koran warga ini dapat menjadi batu loncatan sekaligus menjadi momentum bagi sebuah perubahan di tengah-tengah masyarakat. Untuk ke depannya, saya berharap agar Krida dapat semakin berbobot baik tampilan maupun isi. Memang tidak mudah untuk membuat sebuah karya tulis. Namun semuanya diperlukan sebuah latihan yang intens untuk menghasilkan sesuatu yang berbobot. Akhirnya, saya berharap semoga tim Krida dapat menjaga konsistensinya dalam menulis. Semoga dengan itu kita dapat membantu warga masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi.
Marjudin, SPdI Ploso, Wonolelo, Pleret, Bantul; staf pendiri Writing Leadership Center dan editor berita di website Suara Komunitas untuk DIY

PENANGGUNGJAWAB:
PROGRAM OFFICER PROGRAM WARGA BERMEDIA LP3Y-FF

REDAKSI:
KARTINAH RATMANTA, DWI HARYATI (Joho, Jambidan, Banguntapan) ●UMI NARSIH, EMY CAYARANI (Kadisoro, Gilangharjo, Pandak)●KHULIL KHASANAH, ENI AROFAH, TRI BASKORO (Wonolelo, Pleret)● V MEI DIANA, ISTRIYANTI (Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro) ● SRI RAHAYU, DWI PUJI ASTUTI (Klisat, Srihardono, Pundong)●AGOES WIDHARTONO, DEDI H PURWADI ALAMAT REDAKSI: LP3Y, JL KALIURANG KM 13,7, NGEMPLAK, SLEMAN— YOGYAKARTA TELP: 0274-896016 E-MAIL: korankrida@ymail.com SMS REDAKSI: 0813-2878-2156 SEBAGIAN BESAR REPORTASE/ARTIKEL MERUPAKAN KARYA WARGA DI LIMA DESA DI BANTUL

BERITA KEGIATAN, SURAT, BISA DIKIRIM LANGSUNG KE REDAKSI, via E-MAIL ATAU PERWAKILAN REDAKSI DI MASING-MASING DESA. NASKAH BOLEH DITULIS TANGAN, PANJANG MAKSIMAL 1,5 HALAMAN KUARTO . NASKAH DISERTAI NAMA, ALAMAT, TELEPON

Terima kasih. Semoga harapan Anda bisa terwujud. Upaya untuk itu tentu tak bisa lepas dari dukungan Anda dan para pembaca, warga di lima desa. Kami menunggu kontribusinya.