You are on page 1of 4

“Balitaku Harus Sehat”

mengetahui normal-tidaknya perkembangan tubuh anak. Untuk anak yang kurang normal perkembangan tubuhnya akan diklarifikasi oleh petugas kesehatan dari Puskesmas untuk kemudian diberi obatobatan. Para kader itupun menyiapkan tambahan makanan bergizi bagi 41 balita anak-anak warga Kampung Joho. Tak hanya itu. Agar balita sehat, para kader pun menanamkan kebiasaan perilaku bersih. Misalnya mengenalkan dan membiasakan gosok gigi, seperti Rabu 11 Mei. Untuk ini para kader menyiapkan perlengkapan gosok gigi seperti sikat gigi, odol dan gelas untuk berkumur. Harapannya sederhana: dengan dilatih sejak kecil anak akan dapat dan terbiasa menggosok gigi sendiri, juga akan tahu gunanya menggosok gigi. Kepada orang tua balita pun diingatkan: kebersihan tak hanya untuk gigi. Badan, pakaian, tempat tinggal, dan tak kalah pentingnya juga makanan, harus bersih. Semuanya penting bagi kesehatan anak maupun orangtuanya. Dengan tumbuhnya kesadaran dari orangtua tentang kebersihan maka kesehatan anak akan selalu terjaga. Dan itulah dambaan para Kader Sehat.(*)

MED I A I N FO RMASI - KO MUN I KASI AKTI V I TAS PERE MPU AN L I MA D ESA D I BAN TU L “Selama ini terjadi perbedaan

KRIDA
NOMOR 7,TAHUN I EDISI MEI 2011

pemenuhan hak antara kaum laki-laki dan perempuan. Misalnya dalam pemberian upah,”
Indhah Wahyuningsih, Gugus Belajar Gilangharjo, Pandak

GRATIS

DICETAK 15OO EKS

TERBIT BULANAN

DARI REDAKSI
Pembaca, warga di lima desa, sudah lebih dari setengah tahun kami hadir. Tiap bulan kami berbagi berbagai cerita dan berita tentang warga. Kali ini, kami pun hadir untuk berbagi cerita. Dari Gi l angharj o dan Wonolelo, kami ingin berbagi hasil diskusi peserta Gugus Belajar tentang Hak Asasi Perempuan, yang ternyata bel um semua warga mengetahuinya, termasuk masih banyaknya Hak Asasi Perempuan yang belum terpenuhi, bahkan banyak dilanggar. Melalui cerita tentang Mbah Amat, warga Kampung Joho, yang menjadi cerita sampul edi si i ni, kami i ngi n menyampaikan pesan kecil tentang kecintaan terhadap pekerjaan dan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat bagi kita. Tentu ada sejumlah cerita lain. Dan yang jelas, harapan kami adalah semoga kehadiran Krida tetap memberi manfaat. Salam.

Setengah Abad Lebih Berjualan

Terlanjur Sayang Pisang

TIN RATMANTA Joho, Jambidan, Banguntapan Rela dan tulus hati. Inilah yang bisa membuat para Kader Sehat Posyandu Kampung Joho, Jambidan, Banguntapan, yaitu Murtini, Sarjilah, Dwi Haryati dan Ngatini, bertahan untuk terus menjalankan Posyandu. Tiap bulan, di Rabu minggu kedua, mereka selalu siaga dengan tugas rutin melayani kegiatan Posyandu, dibantu petugas kesehatan dari Puskesmas Banguntapan. Rela dan tulus hati demi mencapai keinginan dan tujuan “Balitaku Harus Sehat” para Kader Sehat ini selalu menyempatkan diri bertugas. Meskipun sesungguhnya pekerjaan lain yang harus mereka kerjakan tak sedikit. Di tiap Rabu minggu kedua, mereka melakukan penimbangan anak-anak balita (bawah lima tahun) untuk

FOTO-FOTO TIN RATMANTA

Kader Sehat Kampung Joho, Jambidan

KRIDA
DITERBITKAN OLEH LP3Y (LEMBAGA PENELITIAN PENDIDIKAN DAN PENERBITAN YOGYA) SEBAGAI MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI AKTIVITAS PEREMPUAN LIMA DESA DI BANTUL. PENERBITAN DIDUKUNG THE FORD FOUNDATION. TERBIT PERDANA NOVEMBER 2010

DARI PEMBACA
Tiap Bulan Warga Tanyakan Krida
Kehadiran Krida bermanfaat bagi warga kami. Tiap bulan warga kami selalu menanyakan “mana Kridanya?”, “Ngendi Kridane?”. Kehadiran Krida, sungguh, bisa menambah wawasan warga kami. Yang membaca juga tak hanya ibu-ibu. Bapak-bapak juga. Manfaatnya, antara lain bisa untuk belajar. Misal di desa lain ada kegiatan yang mungkin bisa diterapkan di Kadisoro. Sayang memang belum semua warga mendapat Krida. Mudah-mudahan Krida bisa terus terbit sehingga bisa membantu mendorong warga kami untuk lebih maju. MG Wiranti, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak Terus terbitnya Krida bukan hanya harapan Anda. Kami pun berharap demikian. Agar harapan itu terwujud, tak cukup dengan kerja kami. Yang lebih penting lagi adalah dukungan warga.

FOTO TIN RATMANTA

Mbah Amat Kardi (80), berjualan pisang di Pasar Kotagede

PENANGGUNGJAWAB:
PROGRAM OFFICER PROGRAM WARGA BERMEDIA LP3Y -FF

LAPORAN TIN RATMANTA Joho, Jambidan, Banguntapan sekali macam pekerjaan yang dapat dilakukan oleh ibu-ibu untuk berjualan. Namun, ibu yang satu ini senangnya hanya berjualan pisang. Ngadinem (80), atau lebih dikenal dengan Mbah Amat Kardi, warga Kampung Joho, Jambidan, Banguntapan, Bantul, berjualan pisang sejak usianya belasan tahun hingga kini. Isteri Amat Kardi (85) ini mulai menjadi penjual pisang ketika ia masih harus berjalan kaki membeli pisang mentah di Pasar Pleret lalu menjualnya setelah matang ke Pasar Kotagede. Kemudian bersepeda dengan rute yang sama.

REDAKSI:

KARTINAH RATMANTA, DWI HARYATI, SRI NURYANTI (Jambidan, Banguntapan)¡Ü UMI NARSIH, EMY CAYARANI (Kadisoro, Gilangharjo, Pandak)¡Ü KHULIL KHASANAH, ENI AROFAH, NUR AROFAH (Wonolelo, Pleret)¡Ü V MEI DIANA, ISTRIYANTI (Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro) ¡Ü DWI PUJI ASTUTI (Klisat, Srihardono, Pundong) ¡Ü AGOES WIDHARTONO, DEDI H PURWADI. Pengelola blog : ARUM YUNITA MURWANINGSIH (Joho, Jambidan)

B anyak

ALAMAT REDAKSI: LP3Y, JL KALIURANG KM 13,7, NGEMPLAK, SLEMAN — YOGYAKARTA TELP: 0274-896016 E-MAIL: korankrida@ymail.com SMS REDAKSI: 0813-2878-2156 www.korankrida.blogspot.com
SEBAGIAN BESAR REPORTASE/ARTIKEL MERUPAKAN KARYA WARGA DI LIMA DESA DI BANTUL BERITA KEGIATAN, SURAT, BISA DIKIRIM LANGSUNG KE REDAKSI, via E-MAIL ATAU PERWAKILAN REDAKSI DI MASING MASING DESA. NASKAH BOLEH DITULIS TANGAN, PANJANG
MAKSIMAL 1,5 HALAMAN KUARTO . NASKAH DISERTAI NAMA, ALAMAT, TELEPON

ALBUM WARGA HUT NIKAH 24 tahun menikah, 21 Mei 1987—21 Mei 2011: Sihono-Rohmini, Warungpring RT 02, Mulyodadi, Bambanglipuro. LIHAT JUGA DI HAL 3

Kini ia tak lagi berjalan atau mengayuh sepeda. Untuk membeli pisang mentah di Pasar Pleret, lalu menjual pisang matang di pasar yang sama, Pasar Kotagede, ia diantar-jemput anaknya, Ponijo, naik sepeda motor. Setiap hari ia berjualan hingga pukul 14.00. Berangkat pukul 06.00. Rata-rata ia membawa se-kronjot pisang. Dan jarang jualannya bersisa. Lebih dari setengah abad berjualan pisang tak membuatnya bosan. “Saya terlanjur sayang dengan pisang, maka saya tidak merasa bosan. Saya akan terus berjualan pisang semampu saya,” ujar Mbah Amat atau Ngadinem, kepada Krida yang menemuinya saat ia berjualan di Pasar Kotagede, Senin 16 Mei.

D a r i p en g a l a ma n n y a sebagai penjual pisang, ia pun dengan mudah menyebutkan je nis- jenis pisang yang dijualnya. Dia menyebutkan antara lain pisang raja, pisang Ambon, pisang koja, pisang emas, pisang kapok, pisang sungu, pisang kidang, pisang garaita. Selain soal jenis-jenis pisang nenek tiga cucu (Wiwin Kurniasih, Isni Wulandari dan Dina Puspita) ini juga menceritakan perbedaan cara memeram pisang. Dulu, katanya, memeram pisang dengan memasukkan pisang mentah ke dalam gentong atau
BERSAMBUNG KE HAL 2

2

KRIDA

N O M O R 7 , TAHU N I E D ISI M E I 20 11

N O M O R 7 , TAHU N I E D IS I M E I 20 11

KRIDA

3

Terlanjur… SAMBUNGAN HAL 1
tempayan. Kemudian di atas gentong ditaruh kuali dari tanah liat yang diberi sekam. Sekam kemudian dibakar untuk memanasi bagian dalam gentong. Sekarang, pisang mentah cukup dimasukkan ke dalam kantung plastik kemudian dimasukkanlah sedikit karbit. Namun soal waktu untuk mematangkan, kata Ngadinem, antara dulu dan sekarang sama saja. Satu hari dua malam. Adakah perubahan dari segi penghasilan? Ternyata, menurut nenek yang kini tinggal bersama suami, anak dan ketiga cucunya ini, tak jauh berbeda. Kalau dulu beberapa rupiah, sekarang puluhan ribu rupiah. Namun, nilainya sama saja. Keuntungan yang diraihnya, kadangkadang bisa mencapai Rp 80 ribu per hari. Hasil dari berjualan pisang, kata Mbah Amat, tetap dapat untuk mencukupi kebutuhan seharihari dan sebagian masih bisa disisihkan untuk ditabung. Mengingat usia yang telah lanjut, apakah tak ingin berhenti berjualan? Menjawab pertanyaan Krida, ia berujar,”Kalau saya masih mampu dan kuat, saya ingin terus berjualan. Karena kalau menganggur itu rasanya nglangut. Berjualan, kecuali mendapatkan untung juga merupakan hiburan bagi saya.” Tapi mengenai setianya dia berjualan pisang lebih dari setengah abad, dan tak mau berganti menjual komoditas lain, rupanya tak hanya karena keuntungan yang bisa diraihnya. “Pisang merupakan buah yang sangat bergizi, menyehatkan badan, berdaya guna, dan memberikan keuntungan.” (*)
Miitramedia di Wonolelo: Radio Komunitas Sadewo FM, Telp 0274-48234204; 0857-43551232

Warga Guyangan Wonolelo Tirakatan 5 Tahun Gempa
LAPORAN KHULIL KHASANAH Ploso, Wonolelo, Pleret Tanggal 27 Mei 2006 merupakan tanggal bersejarah bagi Yogya-Jateng, terutama Kabupaten Bantul. Pada tanggal tersebut Yogya – Jateng megalami musibah besar berupa gempa bumi yang menimbulkan kerugian moril maupun material. Banyak hal yang bisa dipelajari dari peristiwa tersebut. Untuk itu di tahun ke-5 peristiwa tersebut warga Dusun Guyangan, Wonolelo, Pleret mengadakan kegiatan tirakatan, yang diadakan Kamis 26 Mei 2011, di rumah Nur Cholis Majid. Tirakatan dihadiri 70 warga terdiri dari 40 perempuan dan 30 laki-laki. Menurut Nur Cholis Majid, kegiatan ini dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi, wahana instropeksi dan membangun masyarakat. Tirakatan diisi amaliah tahlil, pengajian, pemutaran film tentang gempa dan Gunung Merapi. Kegiatan pengajian diisi Ustad H Drs Bagiyono, warga setempat. Dalam ceramahnya Ustad Bagiyono menyampaikan,”sebagai manusia kita harus selalu bersukur dan selalu ingat kepada Allah. Gempa 27 Mei 2006 merupakan ujian bagi umat manusia agar bersabar dan berserah diri kepada-Nya. Dari peristiwa tersebut kita harus berinstropeksi diri dan sadar bahwa kita hanya makhluk yang lemah, tidak boleh sombong.” Menurut salah seorang pemuda warga Guyangan, Suprapto, kegiatan ini sangat bermanfaat, selain bisa bersilaturahmi dengan warga lain, bisa sama-sama berefleksi lebih mendekat diri kita pada Allah. “Dan yang terpenting kita, sadar bahwa kekuasaan dan kebesaran hanya milik Allah, dan tidak sepantasnya jika kita merusak apa yang telah Tuhan ciptakan, dan kita harus menjaga keamanan, ketentraman dan kedamaian bumi ini, karena semua ini hanya merupakan titipan. Jadi jangan sampai kita menyia-nyiakan apalagi merusak apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita,”katanya (*)

Warga Kedungrejo Swadaya Bangun “Gedung” PAUD

Berawal dari Genteng Bocor
LAPORAN KHULIL KHASANAH Plooso,Wonolelo,Pleret

Jalan Sehat Keluarga PKK Desa Jambidan
LAPORAN TIN RATMANTA Joho, Jambidan, Banguntapan Memperingati Hari Keluarga Nasional 15 Mei, PKK Desa Jambidan, Banguntapan, menyelenggarakan Jalan Sehat Keluarga, Minggu 22 Mei. Kegiatan yang diikuti sekitar dua ribu warga Jambidan ini menempuh jarak delapan kilometer. Dilepas Camat Banguntapan Drs Sambudi, dan diiringi pelepasan balon berhadiah, peserta berangkat dari Lapangan Desa Jambidan menuju selatan sampai pertigaan Ponogaran. Kemudian belok ke timur sampai Combongan, berbelok ke utara melewati Kampung Jlamprang. Sampai depan SD II Jambidan peserta berbelok ke barat menuju perempatan Bintaran lalu ke selatan kembali ke Lapangan Jambidan. Untuk memeriahkan suasana, di Lapangan Jambidan digelar pentas musik dengan pembawa acara Hendro Pleret, manajer Radio Komunitas Swadesi, Jambidan. Di panggung diletakkan bermacam hadiah untuk peserta, seperti sepeda, kulkas, televisi, kipas angin dan bermacam lagi. Menurut Kusmaryanti, pengurus PKK Jambidan juga panitia, kegiatan ini kecuali untuk memeriahkan Hari Kesehatan Nasional juga untuk melaksanakan program kerja dari Pokja (Kelompok Kerja) IV PKK Desa Jambidan tentang kesehatan. (*)

HARI Senin Sabtu

JAM
13.00-15.00 16.00-17.00 17.00-18.00 18.00-19.00 19.00-19.30 19.30-21.30 21.30-23.00

ACARA

Campursari Manca/Anak-nak/Nostalgia

Ahad

08.00-09.00 09.00-10.00 10.00-12.00 12.00-13.00 13.00-14.00 16.00-17.00 17.00-18.00 18.00-19.00 19.00-19.30 19.30-21.30 21.30-23.00

Religi/Nasyid Pengajian Live Religi/Nasyid Persada Dangdut Persada+campur Persada New Dangdut Wayang Campursari Siaran PAUD Religi/Nasyid Pengajian Live Religi/Nasyid Persada Dangdut

Desa Wonolelo, Pleret, terdiri dari 8 dusun, dan masing-masing dusun memiliki kelompok Pendidikan Anak Usia Dini ( PA UD ) . Di a nt a r an y a D u s u n Kedungrejo.PAUD Kedungrejo yang dirintis kader posyandu tahun 2007 dinamai PAUD Harapan Putera. Kegiatan PAUD berawal dari kegiatan posyandu yang hanya sebulan sekali. Di saat bersamaan anak-anak diberi kegiatan mewarnai, bermain,bernyanyi dan berdoa. Setelah beberapa bulan berjalan orang tua merasakan bahwa kegiatan ini bermanfaat untuk putra-putri mereka dan meminta supaya frekuensi kegiatan ditambah menjadi seminggu sekali. Setelah berjalan satu tahun, seperti di dusun-dusun lainnya kegiatan PAUD menjadi 3 kali dalam seminggu yaitu Senin, Rabu dan Jumat. Dan kegiatan PAUD ini mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat dan tokoh masyarakat Kedungrejo terutama Kepala Dukuh Winardiharjo. Ini terbukti dengan terbangunnya komunikasi yang baik antara pendidik PAUD Sriyani, Sri Astuti, Sri Suwarni, Sarjiyati, Giyanti dan Endang dengan wali murid, sehingga dalam setiap kegiatan orang tua wali murid bergantian memberikan makanan tambahan pada anak didik yang sekarang berjumlah 25 anak. Yang menjadi perhatian dan keprihatinan adalah, PAUD Harapan Putera ini belum memiliki gedung untuk melaksanaan kegiatan belajar. Pendidik dan pengurus pun sepakat untuk menempati rumah warga sebagai ruang untuk belajar-bermain yaitu di rumah Junaidi yang menjabat Ketua Lembaga, yang kebetulan istrinya (Sriyani) pengelola sekaligus pendidik PAUD. Seiring waktu, rumah kayu berdinding bambu yang sudah menjadi ruang kelas ALBUM WARGA Lanjutan Hal 1 HUT ke-7 ( 23 Mei 2004-2011) Yasiin Nur Abdurrohman, anak Sri Nuryanti, Jlamprang Kidul, Jambidan, Banguntapan.

PAUD, makin rapuh. Dalam cuaca yang tidak menentu, seperti musim hujan, ada beberapa bagian ruangan yang gentengnya bocor. Ini membuat proses belajar-bermain anak-anak terganggu. Kondisi tersebut disampaikan pendidik kepada pengurus PAUD dan kemudian bersepakat untuk mengadakan pertemuan wali murid. Dalam pertemuan tersebut para pendidik menyampaikan kondisi ruang belajar yang bocor di sana-sini sehingga suasana belajar menjadi tidak nyaman. “Keluhan ini ditanggapi positif wali murid, karena menurut mereka kegiatan PAUD ini dapat dirasakan manfaatnya oleh wali murid dan anak-anak,” ujar Giyanti, salah satu pendidik, pada Krida di rumah Junaidi, Minggu 17 April 2011. Dari sinilah kemudian diadakan rembug Dusun yang dihadiri pendidik, pengurus, wali murid, tokoh masyarakat, RT dan dukuh pada 5 April 2011 di gedung PAUD agar masyarakat tahu kondisi tempat anakanak mereka belajar. Pertemuan itu memutuskan bahwa masyarakat akan berswadaya untuk memperbaiki gedung, tanpa mengambil dana yang ada di lembaga, yaitu untuk wali murid iuran sebesar Rp 50.000 ( 25 murid), Kepala Dukuh Winardiharjo berswadaya bambu sesuai kebutuhan untuk perbaikan gedung, sebagian warga menyumbang semen dan pasir. Dari 125 KK terkumpul material untuk pembangunan gedung. Ibu-ibupun tidak ketinggalan. Mereka menyumbangkkan beras, sayur-mayur, lauk dan tenaga untuk memasak. Kerja bakti pertama dimulai 10 april 2011 dan dilanjutkan 17 April 2011 . Selain perbaikan gedung dilakukan pemindahan gedung supaya tidak terpencil, meskipun hanya beberapa meter dari tempat semula, kemudian rencananya akan dibuat ruang guru, aula dan 2 ruang kelas (A dan B). Namun ini sambil jalan mengingat kemampuan warga juga terbatas.

FOTO KHULIL KHASANAH

Warga Dusun Kedungrejo, Wonolelo, Pleret, bergotongroyong membangun gedung PAUD. Bawah: “Gedung” PAUD siap digunakan.

“Untuk kegiatan kerjabakti dilaksanakan setiap malam karena siang hari warga beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing, sehingga semua bisa berjalan dengan baik,” kata Junaidi, Ketua Lembaga, pada Krida disela-sela kerja bakti, Minggu 17 April 2011. Jum’at 29 April 2011, kegiatan PAUD sudah dilaksanakan di gedung baru. Semoga dari ruangan yang baru ini akan melahirkan tokoh-tokoh pembaharu desa masa depan. (*)

Kurnianta-Wiratmi, Joho, Jambidan, Banguntapan. HUT ke-10 (13 Mei 2001-2011), Awang Firmansyah, anak Suprihatin—Julastari, Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro

HUT ke-19 (4 Mei 1992-2011), V Mei Diana Dara Puspita, anak YB Krisno Wibowo-Juwarini, Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro SIAPA DI BULAN JUNI?

Peserta Jalan Sehat PKK Desa Jambidan menyusuri jalan desa, Minggu (22/5). Kanan, hadiah untuk pemenang.

FOTO TIN RATMANTA

HUT ke-4 (26 Mei 2007-2011) Bangkit Happy Dwi Putra, anak Priya Dwi

4

KRIDA

N O M O R 7 , TAHU N I E D IS I M E I 20 11

N O M O R 7 , TAHU N I E D IS I M E I 20 11

KRIDA

5

Sudah Terpenuhikah Hak Asasi Perempuan?
Persoalan Hak Asasi Perempuan (HAP) menjadi topik diskusi peserta Gugus Belajar (sekolah perempuan) di Desa Gilangharjo, Pandak, Kamis 13 Mei dan Gugus Belajar Desa Wonolelo, Pleret, Senin 16 Mei. Berikut catatan Emy Cayarani, warga Kadisoro yang menjadi peserta sekaligus peliput kegiatan Gugus Belajar di Gilangharjo dan Khulil Khasanah, warga Dusun Ploso, Wonolelo, yang mengikuti diskusi Gugus Belajar di Wonolelo.

Ibu-ibu Mulyodadi Latihan Olah Makanan FPRB
LAPORAN ISTRIYANTI Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro MULYODADI, KRIDA— FPRB (Forum Penanggulangan Risiko Bencana) Desa Mulyodadi, Bambanglipuro, tidak hanya mengadakan kegiatan terkait bencana, melainkan menyelenggarakan juga kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan, khususnya di Mulyodadi. Minggu 1 Mei, misalnya, FPRB yang diketuai Barjilan ST mengadakan kegiatan life skill (keterampilan diri) Pengolahan Makanan Tradisional dan Modern di Balai Desa Mulyodadi. Pelatihan ini diikuti 42 ibu-ibu perwakilan dari 14 dusun di Desa Mulyodadi. Tiap dusun mengirim tiga wakilnya. Selama satu hari, mulai pukul 08.00 mereka dilatih mengolah makanan tradisional seperti sagon dan wingko babat dan makanan modern yaitu donking dan busa kepiting wijen. “Pelatihan seperti ini akan berguna bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan juga nantinya untuk usaha mereka,”kata Dra Listi Setyaningsih, bendahara FPRB Desa Mulyodadi dan koordinator acara, kepada Krida, Minggu (1/5). Dari pengamatan Krida, para peserta terlihat sangat antusias mengikuti pelatihan. Secara cermat mereka menyimak penj elasan instruktur sebelum mengolah makanan lalu bersemangat mempraktikkannya. Mereka berharap keterampilan yan mereka dapat nantinya bisa berkembang lagi untuk usaha. “Senang mbak, kan bisa tambah pengalaman dan bisa buat makanan yang tidak seperti biasanya,” kata Warsidah pada Krida (2/5 di rumahnya, Dusun Warungpring. Warsini, tetangga Warsidah, juga menilai pelatihan ini sangat bermanfaat. “Selain kami tambah pengalaman juga meningkatkan keterampilan olah makanan. Nanti kalau ada acara di rumah saya bisa membuat makanan sendiri,”katanya. Bertambahnya pengalaman ibu-ibu akan membuat mereka jadi percaya diri dan semakin

dengan anak-anaknya dan harus memperhatikan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Selain itu mempunyai hak yang sama atas harta bersama, apapaun penyebab perceraian tersebut.” Perempuan juga memiliki hak untuk berkreasi, mengembangkan bakat dan kemampuan serta mengembangkan seni budaya. Belum Terpenuhi Apakah hak asasi perempuan seperti dipaparkan tersebut sudah didapat? Dalam sesi diskusi kelompok yang dipandu Radiyem terungkap bahwa banyak kejadian dan pengalaman yang menunjukkan masih banyak hak perempuan yang dilanggar. Hak dalam pekerjaan, misalnya tidak ada cuti haid, upah perempuan seringkali lebih sedikit dibanding laki-laki dalam pekerjaan yang sama, sulit mendapatkan ijin dari tempat kerja. Hak dalam pendidikan ditunjukkan dengan masih banyaknya orangtua yang lebih mementingkan pendidikan anak laki-lakinya. Dalam kehidupan rumah tangga tak sedikit pendapat istri seringkali diabaikan suami, kepemilikan harta bersama kebanyakan atas nama suami, sebagian besar pekerjaan rumah masih dilakukan istri, peran istri di luar keluarga/di ranah publik masih sangat dibatasi oleh suami. Dalam hukum, masih banyak perempuan belum mendapatkan haknya. Misalnya, saat terjadi penganiayaan terhadap diri mereka, kebanyakan mereka pasrah dan tidak mampu menuntut keadilan untuk diri mereka. Agar hak perempuan bisa terpenuhi, menurut Radiyem, diperlukan berbagai upaya, seperti menumbuhkan forum keluarga agar ada komunikasi yang baik antar-anggota keluarga. . Bagi Mukinem, seorang peserta di Wonolelo, diskusi ini sangat bermanfaat. “Dari kegiatan ini saya bisa mendapatkan pengetahuan yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah dan saya berharap banyak teman-teman lain yang tahu ini agar mereka memahami hak-hak mereka dan akan berupaya untuk memperjuangkannya. Dengan demikian kedudukan perempuan akan membaik,” kata Mukinem. (*)

Sudah terpenuhikah Hak Diskusi Gugus Belajar Desa Wonolelo, Senin (16/5) Asasi Perempuan? Alih-alih bisa istri. Hal ini jelas-jelas membelenggu hak menjawab pertanyaan ini, jangan-jangan, asasi perempuan. Atau dalam kehidupan banyak perempuan yang justru tidak atau sehari-hari bisa ditemui adanya perbedaan belum tahu bahwa ada yang namanya Hak upah 1 HKP (Hari Kerja Perempuan) Asasi Perempuan. dengan 1 HKL (Hari Kerja Laki-laki).” Topik ini menjadi bahan diskusi menarik Pembedaan seperti dikemukakan 14 perempuan dari lima dusun di Desa Indhah, diperkuat contoh oleh salah Gilangharjo, Pandak (Dusun Tegalurung, seorang peserta diskusi dari Dusun Kadekrowo, Jomboran, Karangasem dan Tegalurung, Gilangharjo. “1 hari kerja Kadisoro) pada kegiatan Gugus Belajar di perempuan pada laden dihargai Rp 20 ribu, aula Balai Desa Gilangharjo, Kamis 13 Mei. sedangkan laki-laki dihargai Rp 25 ribu. Topik serupa didiskusikan 20 Padahal kerjanya sama,” katanya. perempuan dari kelompok Perempuan Usaha Kecil (PUK) dan FKKP (Forum Dilindungi Negara Komunikasi Kader Posyandu) Desa Dari pemaparan narasumber, Fauzi, Wonolelo, Pleret, di sekretariat LKP diketahui bahwa perempuan memiliki hak (Lembaga Keuangan Perempuan) Rukun asasi yang dilindungi negara. Hak asasi itu Makmur Santosa, Senin 16 Mei. Diskusi ini seperti termaktub dalam UUD 1945, yakni menghadirkan narasumber Muhammad seperangkat hak yang melekat pada setiap Fauzi SH. individu. “Topik HAP dipilih dengan tujuan supaya Hak asasi tersebut mulai dari hak perempuan-perempuan Desa Wonolelo hidup, hak memilih dan dipilih bagi mengetahui hak-haknya dan dapat perempuan yang sudah dewasa dalam mengupayakan hak-hak tersebut dengan Pemilu, hak kewarganegaraan. Kemudian maksimal. Sehingga, posisi tawar hak atas pendidikan (perempuan berhak perempuan akan kuat. Dengan demikian mendapatkan pendidikan atau pengajaran perempuan dapat berperan aktif di luar di semua jenjang yang sama dengan lakirumah atau di ruang publik,” ujar Puji Astuti, laki). ketua gugus belajar Desa Wonolelo, kepada Hak asasi perempuan yang lain yaitu Krida, di sela-sela kegiatan gugus belajar. hak mendapat pekerjaan (berhak memilih, Menurut ketua gugus belajar Desa dipilih, diangkat, serta mendapat Gilangharjo, Indhah Wahyuningsih, perlindungan khusus dalam melaksanakan pentingnya topik HAP mengingat sejauh ini pekerjaannya seperti cuti haid, cuti hamil, HAP belum terpenuhi, terkadang terabaikan. cuti melahirkan). “Selama ini terjadi perbedaan Dalam rumah tangga, perempuan juga pemenuhan hak antara kaum laki-laki dan mempunyai hak dan tanggungjawab yang perempuan. Misalnya dalam pemberian sama dengan suami atas semua hal yang upah bekerja antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan perkawinan, yaitu berbeda meskipun kerjanya sama,” katanya. hubungan dengan anak, kepemilikan serta Indhah melanjutkan, ”perbedaan pengelolaan harta bersama. pemenuhan hak itu bisa juga dilihat dalam “Apabila putus perkawinan,” kata suatu perusahaan yang mengharuskan jika Fauzi,”perempuan memiliki hak dan ada pasangan suami istri bekerja di satu tanggungjawab yang sama seperti mantan perusahaan salah satu harus mengundursuaminya atas semua hal yang berkenaan kan diri. Dan biasanya yang keluar adalah

FOTO KHULIL KHASANAH

FOTO ISTRIYANTI

Warga Desa Mulyodadi pada Pelatihan Pengolahan Makanan Tradisional di Balai Desa Mulyodadi, Bambanglipuro, Minggu (1/5)

Mardiati, “Pengen coba-coba yang lain mbak. Kan udah bisa yang ini, mau membuat juga lebih pe-de(percaya diri) karena sudah latihan dulu.” Peserta juga berharap pelatihan ini akan terus berlanjut sehingga ibu-ibu bisa terus mengembangkan keterampilan mereka terutama dalam hal pengolahan makanan.(*)

Jalan Santai dan Senam Sehat Mulyodadi,

Berhadiah Sapi, 1.000 Tiket Terjual
Adalah Karang Taruna Sasana Kridaning Arum (KT SKA) Desa Mulyodadi yang mempunyai prakarsa menggelar acara tersebut. Organisasi beranggotakan pemuda-pemudi dari 14 pedukuhan ini bersemangat menggelar acara masal ini setelah pada 2010 sukses mengadakan dua kali pentas kethoprak. Acara jalan santai dan senam yang diikuti berbagai kelompok usia, laki-laki dan perempuan, dengan mayoritas ibu-ibu ini ternyata tidak hanya diikuti warga Desa Mulyodadi. Peserta ada yang dari wilayah Bambanglipuro bahkan sekitar Bantul dan Kulonprogo. Antusias warga begitu tinggi hingga 1.000 tiket pun terjual habis. Senam sehat yang dipandu instruktur diawali dengan Jalan Santai keliling beberapa dusun di Mulyadadi. Peserta dilepas oleh Kasi Kec. Bambanglipuro, Saryanto dan Lurah Desa Mulyodadi Nus Susanto. Dalam sambutannya Saryanto menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat bagus dan untuk meningkatkan kebersamaan warga di Bambanglipuro. “Semoga kegiatan seperti ini akan terlaksana setiap tahun,” katanya. Bagi warga di Bambanglipuro, khususnya Desa Mulyodadi, kegiatan ini sangat bermanfaat. Selain badan sehat, mereka juga terhibur, terutama dengan berbagai hadiah yang menarik, termasuk seekor sapi sebagai hadiah utama. “Ya senang mbak, selain sehat, hiburannya juga meriah. Ya. walaupun gak dapat hadiahnya tapi senang,” kata Ibu Julastari di rumahnya, Warungpring Rt 02, pada Krida. Dan yang hari itu beruntung membawa pulang hadiah sapi yaitu Ibu Sridadi, warga Demangan Dukuh III Wonodoro RT 06, Mulyodadi, Bambanglipuro.(*)

FOTO ISTRIYANTI

Senam Sehat warga Desa Mulyodadi di Lapangan Desa Mulyodadi, Bambanglipuro, Minggu (15/5)

LAPORAN ISTRIYANTI Warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro Minggu pagi 15 Mei 2011 suasana di lapangan Desa Mulyodadi, Bambanglipuro, meriah. Sekitar seribu orang bergerak bersama di sana mengikuti acara Jalan Santai dan Senam Sehat Desa Mulyodadi.

6

KRIDA

N O M O R 7 , TAHU N I E D ISI M E I 20 11

N O M O R 7 , TAHU N I E D IS I M E I 20 11

KRIDA

7

Jaringan Organisasi Komunitas Gagas Pusat Belajar Anggaran
LAPORAN KHULIL KHASANAH Ploso, Wonolelo, Pleret Peran aktif masyarakat, begitupula dengan peran aktif dari kelompok perempuan, dalam perencanaan pembangun an sang at menentukan hasil dari sebuah kebijakan dan penggangaran pemerintahan.Sebenarnya pemerintah sendiri telah menentukan kebijakan agar terbangun sistem perencanaan daerah yang partisipatif termasuk di dalamnya kelompok perempuan dengan adanya UU 25 tahun 2004. Namun jika kita lihat di berbagai daera h d a lam pere nc ana a n da n penganggaran mulai tingkat dusun, desa sampai kabupaten, kelompok-kelompok masyarakat banyak yang belum bisa terlibat, terutama kelompok perempuan. Oleh karena itu, peran aktif masyarakat dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran di Kabupaten Bantul sangat penting. Hal ini agar program-program dan penganggaran dapat berorientasi pada pemenuhan hak warga seperti pendidikan, kesehatan dan hak politik, yang responsif terhadap pengurangan kemiskina n, berperspektif gender dan mempertimbangakan pengurangan resiko bencana. Pemikiran itu mendasari IDEA untuk menggagas “pusat belajar anggaran berdasarkan kebutuhan warga di kabupaten Bantul”. Dari situ, IDEA kemudian mempertemukan kel ompok- kelompok masyarakat Bantul yang terdiri dari Jarak (Jaringan Rakyat) Bantul, Rakom(Radio Komunitas), Media Cetak Koran Warga Krida, Jarpuk (Jaringan Perempuan Usaha Kecil), IMBA (Ikatan Mahasiswa Bantul), dan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) Jumat (27/5), siang hingga sore, di Bantul Teracce, Bantul. Pertemuan ini dihadiri 39 orang, di antaranya 13 perempuan. Kegiatan ini bertujuan untuk membahas adanya pusat belajar anggaran bagi warga Kabupaten Bantul, memetakan isi pusat belajar tersebut, memetakan siapa yang bisa terlibat dan cara mengelola pusat belajar anggaran bagi warga Bantul. Dalam kegiatan ini sebelumnya peserta bersama-sama mereview pemetaan masalah yang sudah dibuat di pertemuan sebelumnya. Kemudian dilanjutkan sharing pengalaman dari Pak Tejo dari Gunungkidul. Dalam pemaparannya Pak Tejo menyampaikan bahwa dalam masyarakat perlu dibentuk sebuah kelompok yang terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat. Walaupun berbeda kepentingan namun kelompok-kelompok ini harus bersama-sama menyamakan persepsi dan berjuang untuk kepentingan bersama agar perencanaan dan pengganggaran pemerintah kabupaten benar-benar sesuai keinginan dan kebutuhan masyarakat. “Hal ini memang tidak mudah, namun bagaimana kiat kita dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan menyinkronkan usulan musrenbang dengan RPJM, selain itu dengan berdialog dengan SKPD-SKPD dan pendekatan dengan anggota Dewan,” ujar Tejo. Yang tak kalah penting, katanya melanjutkan, “Kita perlu mengetahui programprogam yang ada di pemerintah pusat yang bisa diakses warga supaya jika ada kebutuhan masyarakat yang tidak bisa direalisasi pemerintah kabupaten siapa tahu bisa kita dapatkan dari pemerintah propinsi maupun pemerintah pusat.” Kegiatan ini diakhiri dengan membuat kesepakatan bersama dengan membentuk Forum yang beranggotakan kelompokkelompok masyarakat yang ada. Pertemuan sepakat memilih Marjudin dari Rakom Sadewa Wonolelo sebagai koordinator. (*)

5 LKP Bantul dan Jawa Bentuk LKP Sekunder
LAPORAN UMI NARSIH Kadisoro, Gilangharjo, Pandak Lima LKP (Lembaga Keuangan Perempuan) Bantul, yaitu LKP Desa Wonolelo (Pleret), Srihardono (Pundong), Jambidan (Banguntapan), Mulyodadi (Bambanglipuro) dan Gilangharjo (Pandak) bersama Jarpuk Lupus Surabaya, 8 April lalu, menandatangani pendeklarasian pembentukan LKP Sekunder. Pendeklarasian berlangsung di akhir workshop LKP di Hotel Matahari, Jl Parangtritis, Yogyakarta, disaksikan Retno Kustarti dari Asppuk (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil). Workshop itu sendiri selain dihadiri 5 LKP Bantul dan Jarpuk Surabaya, dihadiri LKP/Kopwan dari Ngawi, Semarang, Kudus, Wonogiri, Pacitan, banjarnegara, Banyumas, Sukoharjo dan Surakarta. LKP Sekunder merupakan wadah kerjasama antara koperasi/LKP-LKP yang berada di beberapa daerah/kabupaten. Tujuan pembentukan LKP Sekunder antara lain memetakan persoalan dan potensi LKP, membangun kesepakatan untuk membangun LKP Sekunder Wilayah Jawa, merumuskan sistem dan aturan LKP Sekunder dan merumuskan program kerja LKP. Dengan terbangunnya LKP Sekunder diharapkan berdampak pada terbukanya akses layanan keuangan, LKP menjangkau PUK (Perempuan Usaha Kecil) yang tidak dilayani oleh lembaga keuangan formal dan pemberian kredit diberikan sesuai kebutuhan. Bagi individu atau PUK, LKP Sekunder bisa meningkatkan kapasitas dan makin meningkatnya sinergitas dengan Jarpuk. LKP Sekunder juga diharapkan bisa memecahkan persoalan yang dihadapi LKPLKP antara lain kondisi keanggotaan, kepengurusan, keuangan (permodalan), penegakan aturan, usaha dan administrasi. Selain itu soal hubungan antara LKP dengan Jarpuk dan mitra lain. Simpanan Pokok Rp 5 Juta Pada workshop, peserta berhasil merumuskan konsep, mekanisme dan sistem LKP Sekunder serta menetapkan AD/ART. Salah satu butir dalam AD/ART LKP Sekunder yaitu tentang permodalan. Disebutkan bahwa untuk Simpanan Pokok dari LKP Primer sebesar Rp 5 juta yang bisa diangsur lima kali. Simpanan Wajib LKP anggota Rp 100 ribu/bulan, Simpanan Sukarela minimal Rp 200 ribu, Simpanan Wajib Khusus 1% dari nilai pinjaman yang diterima. Adapun modal penyertaan LKP anggota minimal Rp 1 juta dan modal penyertaan dari Asppuk Jawa Rp 130 juta yang akan diserahkan secara bertahap. (*)

“Kita perlu mengetahui programprogam yang ada di pemerintah pusat yang bisa diakses warga supaya jika ada kebutuhan masyarakat yang tidak bisa direalisasi pemerintah kabupaten siapa tahu bisa kita dapatkan dari pemerintah propinsi maupun pemerintah pusat.”

DOK ASPPUK

Pelatihan Administrasi LKP Sekunder

SUARA PEREMPUA N
Keharmonisan Rumah Tangga Pengaruhi Keberhasilan Anak
Simboook. Simboook.... Panggilan dan jeritan itu keluar dari seorang anak laki-laki kelas VI, yang akan mengikuti ujian nasional SD 10-13 Mei. Sungguh menyentuh hati ketika mendengar panggilan itu. Tak kuasa air mata saya menetes. Masih terngiang di benak kita, baru saja kita memperingati Hari Kartini, sosok yang berjuang memperjuangkan hak dan derajat perempuan agar menjadi perempuan mandiri, logis dan realistis. Sehingga perempuan-perempuan Indonesia menjadi perempuan cerdas dan dapat mendidik putra-putrinya sebagai generasi penerus. Namun ironis ketika ada ibu yang tega meninggalkan anaknya. Padahal si anak sangat membutuhkan kasih sayang dan dampingan seorang ibu. Apalagi di saat-saat ini, dukungan ibu sangat diperlukan untuk

Rubrik ini terbuka bagi perempuan, tua-muda, lajang-berkeluarga, warga Desa Jambidan, Wonolelo, Srihardono,

Mulyodadi dan Gilangharjo, untuk menyampaikan gagasan, uneg-uneg, curhat, tentang persoalan diri maupun lingkungan sosial. Tulisan tidak boleh berisi fitnah, adu domba, memojokkan. Y disampaikan harus fakta (keadaan sesungguhnya). Penulis agar menyertakan nama, alamat lengkap dan nomor telepon. Keberatan untuk pemuatan identitas ang Anda di rubrik ini harus disampaikan di awal disertai alasannya. Redaksi berhak menyunting atau tidak memuat karena pertimbangan tertentu. Tulisan bisa dikirim melalui email ke korankrida@ymail.com, dpurwadi12@yahoo.co.id atau ke perwakilan Krida di masing-masing desa.

Balai Perempuan Kadisoro Ikut Lomba Paduan Suara
LAPORAN EMY CAYARANI Kadisoro, Gilangharjo, Pandak GILANGHARJO, KRIDA – Sebanyak 35 anggota Balai Perempuan (BP) Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Minggu 8 Mei mengikuti lomba paduan suara yang diselenggarakan KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, di Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Lomba yang merupakan bagian acara Temu Kangen Akbar 2011 KPI DIY ini diikuti seluruh cabang KPI di wilayah DIY. Tercatat empat kontingen paduan suara menjadi peserta, yaitu dari Cabang Sleman 1 kontingen, Cabang Kulonprogo 1 Kontingen dan Cabang Bantul 2 kontingen, yaitu BP Kadisoro dan BP Sedayu. Meskipun tidak menjadi juara, ibu-ibu anggota BP Kadisoro mengaku senang. Sebab, mereka bisa terhibur untuk melepas penat dari rutinitas yang dilakukan tiap hari. “Ya, idep-idep refreshing dan cari pengalaman melihat dunia luar,” kata Suratmi, anggota BP Kadisoro. Menurut Sekretaris KPI DIY, Nona, acara ini sebagai sarana silaturahmi ibu-ibu balai perempuan di wilayah DIY. Selain itu untuk saling tukar pikiran ataupun tukar pengetahuan, serta untuk mensosialisasikan lagu mars KPI. (*)

FOTO DEDI H PURWADI

Istriyanti (Warungrping, Mulyodadi, Bambanglipuro) memimpin rapat perencanaan Krida edisi 7/Mei 2011, pada pertemuan di rumah Ibu Umi Narsih, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak. Pertemuan berlangsung Selasa, 17 Mei 2011. Hadir antara lain Tin Ratmanta (Jambidan, Banguntapan), Umi Narsih dan Emy Cayarani (Gilangharjo, Pandak), Khulil Khasanah (Wonolelo, Pleret), Ismay Prihastuti dan Dedi H Purwadi (LP3Y). Rapat edisi Juni direncanakan di rumah Tin Ratmanta, Joho, Jambidan.

membangkitkan semangat belajar dan gairah hidup anaknya. Tidakkah trenyuh melihat anak yang menangis mencari ibunya sampai anak tersebut stres. Sehingga untuk mengerjakan soal ujian nasional pun anak tersebut sudah malas. Mungkin ini bentuk protes terhadap orangtuanya agar diperhatikan. Anak tersebut hanya salah satu dari banyak anak yang menj adi korban dari ketidakharmonisan rumah tangga. Keharmonisan dalam berumah tangga sangat penting untuk membentuk karakter putra-putri yang merupakan amanah Tuhan. Hitam-putihnya aak tergantung bagaimana orangtua mendidik dan mengarahkannya. Saling percaya, saling pengertian dan saling terbuka dalam kehidupan berumahtangga sangat penting untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan berkeluarga. Sosok ayah dan ibu merupakan figur kebanggaan bagi anakanaknya. Janganlah karena keegoisan masingmasing anak menjadi korban.Alangkah baiknya di dalam keluarga, khususnya pasangan suami istri, apabila ada permasalahan dibicarakan

bersama tanpa ketegangan. Jika keharmonisan tercipta maka kehidupan dalam keluarga tersebut akan terasa nyaman, aman dan menyenangkan. Sehingga anak-anak pun akan merasa damai, betah dan selalu merindukan keluarga. Selain itu, yang terpenting bagi pasangan suami istri, janganlah bertengkar di hadapan anak. Ini akan menyebabkan anak bosan tinggal di rumah dan tidak nyaman. Dampaknya buruk bagi perkembangan psikologi anak. Jika ini tak bisa terkendali, anak akan mencari kesenangan dan kebebasan di luar rumah, atau lebih parah lagi...anak bisa stres. Selain menjaga keharmonisan, anak tidak hanya diujo (dituruti apa maunya). Orangtua harus mengarahkan dengan bijaksana. Alangkah baiknya jika orangtua juga jadi teman agar anak bisa terbuka terhadap permasalahan yang dihadapi. Memang, di jaman sekarang, orangtua harus fleksibel. (*) Emy Cayarani, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak