NOMOR 5, TAHUN I EDISI MARET 2011

MEDI A I NFORMASI - KOMUNI KASI AKTI VI TAS PEREMPUAN LI MA DESA DI BANTUL
DARI REDAKSI

Perbedaan gender antar laki
laki dan permpuan sampai
sekarang masih menjadi perde-
batan di tengah masyarakat.
Persoalan ini dibahas para
perempuan di gugus belajar
Gilangharjo dan Mulyodadi.
Selain berita tersebut, Krida
kali ini menyuguhkan profil Iin
Narniyati, perempuan yang
pandai dalam membaca pelu-
ang untuk berwirausaha.
Kabar baik kami sampaikan
pada para pembaca Krida yang
setia. Mulai edisi ini, Krida
menambah rubrik baru, Suara
Perempuan.Isi nya t ent ang
curahan hati para perempun.
Bisa tentang dirinya, bisa ten-
tang lingkungan atau kehidupan
sosial di sekitarnya.
Rubrik Suara Perempuan
diharapkan menjadi ruang un-
tuk berdiskusi dan berbagi,
sebab pembaca pun di -
persilakan mengomentari atau
mendiskusikannya, di rubrik
yang sama.
Itu sebagian kabar yang
dapat kami sajikan di edisi ke
lima ini. Semoga apa yang kami
sampaikan dapat bermanfaat.
Salam.

LAPORAN
KHULIL KHASANAH
Ploso, Wonolelo, Pleret
Pr of esi t i dak d i t ent ukan
ber dasar kan j eni s kel ami n
seseorang, tetapi tergantung
seseorang tersebut memilih dan
menj alani profesi. I ni yang
diterapkan Iin Narniyati (33), warga
Dusun Kedungrejo, Desa Wonolelo,
Pleret.
Perempuan kel ahi r an 6
November 1977 yang dipanggil Iin
oleh penduduk desa Wonolelo ini
memilih montir sebagai profesi.
“ Awal nya, saya hanya
membantu melayani penjualan
bensin, oli, solar dan mengamati
suami saat bekerja,‖ tutur anak
keenam dari 10 bersaudara ini.
Bersama suami, Abdul Gofur
(43), mulai 2002 dia membuka
usaha bengkel dan BBM di sebuah
kios desa di dusun Guyangan,
Wonol el o. Pekerj aan monti r
dilakukan suaminya.
Melihat seringkali terjadi
antrian panjang di bengkelnya Iin
tergerak untuk mencoba membantu
suami mengat asi persoal an
tersebut.
“Saya mulai dari membantu
menambal ban, nge-tap oli,
berlanjut ke pasang kampas dan
lainnya. Ini saya lakukan dari
melihat suami, kemudian mencoba,
terus bertanya pada suami dan
akhirnya terbiasa. Maklum saya
bukan dari STM, tapi saya di SMU.
SMU Negeri Pleret. Sehingga untuk
bisa mbengkel saya harus belajar
dari suami,‖ ujar ibu dari seorang
anak, Ira Sofiyatul Mu’rifah (9), ini
kepada Krida, Jumat siang, 18
Februari.
Dengan bantuan Iin yang
lambat laun bisa mbengkel,
pelanggan bisa lebih terlayani.
Pelanggan pun banyak, terlebih
karena letak bengkelnya strategis,
ongkos tak terlalu mahal,
pel ayanan bai k. Menur ut
Sekretaris Koperasi Wanita LKP
Rukun Makmur Santosa ini,
penghasilan bersih bengkelnya
bisa mencapai Rp 500 ribu- Rp
700 ribu per hari.
Kerja mbengkel sempat
dihentikannya, yaitu saat dia
hamil tua sampai anaknya
berumur kurang lebih satu
set engah t ahun. ―Namun
setelah anak saya bisa disambi
saya kembali membantu
kerjaan suami saya,” ujar Iin.
Gempa, Roboh, Pindah
Iin ―Montir‖ Narniyati
Karena Antrian Panjang...
TERBIT BULANAN
GRATIS DICETAK 15OO EKS

ALBUM WARGA
LAHIR
Muhammad Irfan Harun, Minggu
Pon 6 Maret 2011 di RS Rajawali
Citra, Jl Pleret, Jambidan. Berat
33 kg, panjang 50 cm. Anak ke-2
Untoro – Hartatik (Perusahaan
Harun Mebel), Ploso RT 04,
Wonolelo, Pleret.

.
LIHAT JUGA DI HAL 3
“yang paling penting tidak
malu dalam melakukan
pekerjaan apapun,
asalkan halal‖
Iin Narniyati, pemilik bengkel,
Wonolelo, Pleret
KRIDA
BERSAMBUNG KE HAL 2
FOTO KHULIL KHASANAH
Iin Narniyati, di bengkelnya, Kedungrejo, Wonolelo, Pleret , Jumat (18/2),
usaha. Menurut isteri Abdul Ghofur itu, ―Untuk
mengatasi masalah itu (menurunnya
penghasilan – red) saya juga melayani
penggilingan beras dan jagung. Alhamdulillah,
sampai hari ini punya beberapa langganan
tetap.‖
Di sisi lain, banyaknya usaha penggilingan padi
keliling di dusunnya tak dianggap sebagai
pesaing. Justru membantu memperlancar
bisnis solarnya. Iin mengaku mempunyai
beberapa pelanggan solar. ―Per orang, dalam
sehari membeli 15-20 liter,‖ ujarnya.
“Yang paling menggembirakan,” katanya
menyambung soal pembel i sol ar
itu,‖walaupun bengkel saya tutup saat saya
tinggal ke sawah ataupun mencari jerami
untuk empat sapi saya, para pelanggan solar
itu mau mengambil sendiri.‖
Hal itu, lanjutnya, bisa terjalin karena
sudah ada modal saling percaya satu dengan
lainnya. ―Sebagai ungkapan terima kasih,
saya pun memberikan bingkisan lebaran
untuk mereka. Walaupun tidak mahal, tapi ini
tidak dilihat dari harga tapi nilai persaudaraan
yang telah kita jalin,‖ katanya.
Tentang bermacam pekerjaan yang
dilakukannya, Iin berprinsip, ―apapun
bisa kita lakukan asal ada niat dan
kemauan. Dan yang paling penting
tidak malu dalam melakukan pekerjaan
apapun itu, asalkan halal.‖ (*)







Usaha bengkel di Guyangan tak
bertahan lama. Gempa besar yang
mengguncang Bantul pada 27 Mei 2006
merobohkan kios desa Wonolelo. Termasuk
kios bengkel Iin.
Tak putus asa, Iin memindahkan
tempat usahanya ke rumah di Dusun
Kedungrejo yang merupakan dusun paling
utara di Desa Wonolelo.
Awalnya, masih banyak pelanggan
yang mau datang ke bengkelnya. Namun,
lambat laun pelanggan berkurang.
“Karena rumah saya di ujung desa,
lama-lama banyak pelanggan yang
mengeluh kejauhan jika harus ke sini
(Kedungrejo-red). Berangsur-angsur
banyak langganan yang pindah ke
bengkel-bengkel yang menempati jalan
strategis, sehingga penghasilan saya
pun turun drastis,‖ tutur Iin.
Ii n yang semul a membantu
mbengkel, di tempat baru justru menjadi
tenaga pokok. Ia menjadi montir utama.
―Terutama setelah banyak bengkel di
Wonolelo dan suami menekuni profesi
l ai n, yai t u si nso kayu ( usaha
penggergajian kayu),‖ katanya.
Meski penghasilan dari bengkel
menurun, Iin tak melepaskan pekerjaan
sebagai mont i r dan menut up
bengkelnya. Ia malah menambah jenis
Hasil Tak Seberapa, Tetap Bersyukur
2 KRIDA NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
LAPORAN EMY CAYARANI
Kadisoro, Gilangharjo, Pandak

Bahagia dan senang. Itulah yang
diucapkan Sarini (42), salah satu
pedagang jajanan di depan SD
Muhammadiyah Kadisoro I, Gilangharjo,
Pandak.
Meskipun diakuinya hasil berjualan
jajanan tidak begitu banyak, ia merasa
gembira. ―Karena saya bisa memperoleh
penghasilan untuk membantu ekonomi
keluarga,‖ ujarnya saat ditemui Krida di
tempatnya berjualan, Sabtu (19/3).
Ibu dari dua anak, Rino
Sulistyo (18) dan Yeni
Suli styani ngsi h (7), i ni
mengatakan, awalnya ia
buruh buruh thutuk emping.
Karena pekerjaan ini tidak
bisa disambi ia berjualan es
gabus dan es pisang.
D i a m e n g a m b i l
dagangan dari juragan, lalu
me n j u a l n y a d e n g a n
keunt ungan yang di a
tentukan sendiri. Misalnya,
dari juragan dia ambil
dengan harga Rp 400 dia
menjualnya Rp 500. Ia bisa
memetik untung Rp 100 per biji.
Namun, katanya, dari berjualan es dia
hanya mendapat penghasilan sekitar Rp
6.000 per hari.
Ia berpikir untuk mencari usaha lain.
Yang penghasilannya lebih besar, tentu.
Dari pengalaman berjualan es, istri
Sihono (41) ini kemudian sejak 2009
memilih jualan siomay goreng dan tireng
(pati goreng) yang bahan utamanya dari
tepung kanji.
Dia menjajakan dagangannya pukul
09.00 hingga 10.00. Suaminya, juga
menjual jajanan serupa. Hanya saja,
Sihono, suami Sarini, menjajakannya
berkeliling di Siyangan dan Pandak. Jika
pagi menjual siomay, sore menjual tireng.
Penghasilan pasangan suami-istri
warga Banyudono, Gilangharjo, Pandak ini
dari berjualan siomay goreng dan tireng
sekitar Rp 70 ribu per hari. Dikurangi modal
untuk membeli bahan dagangan (kanji,
saos dan minyak) sekitar Rp 30.000,
pendapatan bersih keduanya Rp 40 ribu
per hari.
“Ya tidak seberapa. Tapi tetap saya
syukuri. Dari usaha ini saya juga bisa
nyekolahake anak,” ujar Sarini, seraya
menyebutkan bahwa anak pertamanya ia
sekolahkan di salah satu SMK swasta di
Bantul.
Bagi Sarini, bisa menyekolahkan
anaknya amat disyukuri. Sebab, baginya
pendidikan anak dan kesehatan harus
dinomorsatukan.
Hanya saja, dengan penghasilan
harian yang tak seberapa itu, terkadang
Sarini sedih apabila banyak tetangga yang
punya hajatan.
Sudah menjadi kebiasaan dan tradisi,
jika ada yang hajatan mau tak mau ia harus
nyumbang. Tapi, katanya, apa mau dikata
karena itu merupakan bentuk kepedulian
sosial terhadap sesama juga. (*)
Karena Antrian Panjang SAMBUNGAN HAL 1
FOTO KHULIL KHASANAH
FOTO EMY CAYARANI
Sarini, menjual tireng di depan SD Muhammadiyah Kadisoro, Gilangharjo
ujar ibu dua anak, Tita Pintasari Putri
Ramadhani dan Taufik Sunu Nurcahyono,
ini saat ditemui Krida di rumahnya, akhir
Desember 2010.
Modal usaha ini, kata Dwi, merupakan
bantuan dari Kelurahan Gilangharjo. Modal
sebesar Rp 3 juta tersebut untuk
kelompoknya. Bantuan modal sebesar itu
masing-masing Rp 1 juta untuk pengolahan
sampah organik dibuat menjadi pupuk
organik dan Rp 2 juta untuk pengolahan
sampah anorganik yang dibuat menjadi
kerajinan.
Dalam membuat kerajinan berbahan
baku limbah plastik kemasan, istri Murdianto
itu dibantu seorang tenaga kerja. Bahan
baku disetor oleh tetangga, ibu-ibu yang
sebelumnya membuat kerajinan seperti Dwi.
Bahan baku bisa berupa lembaran maupun
yang sudah berbentuk cacahan, yang
dihargai Rp 10.000 per kilogram.
Sampah atau limbah plastik ini sebelum
digunakan terlebih dahulu dicuci sampai
bersih kemudian dijemur. Selanjutnya, untuk
jenis lembaran yang tipis dipintal dan
dianyam untuk dibuat dompet. Jenis
lembaran yang tebal, seperti plastik
kemasan cairan pewangi pakaian, dipotong-
potong lantas disatukan dengan dijahit
menjadi lembaran panel untuk dibuat tas.
Adapun plastik cacahan digunakan untuk
pengisi lembaran dompet atau tempat tisu.
Untuk pengerjaan kerajinan limbah
plastik ini Dwi memanfaatkan sebuah mesin
jahit miliknya ditambah satu mesin jahit milik
kelompok dan sebuah mesin pinjaman.
Produk olahan limbah plastik ini selain
dijual di sanggarnya, terutama untuk
melayani tamu dari luar negeri, juga
dititipkan di sebuah toko di daerah
Gambiran, Yogyakarta.
Menurut Dwi, omset usahanya tidak
tentu. ―Tergantung pada order dari tamu
luar negeri yang akan berkunjung,‖
katanya, seraya menambahkan bahwa
minimal dia meraih omset Rp 300 ribu
per bulan.
Adapun harga produk kerajinan dari
sanggar Kreasi Limbah Plastik
Bersenandung ini bervariasi. Tergantung
bentuk dan ukuran. Untuk dompet,
misalnya, dihargai Rp 25 ribu- Rp 30
ribu per buah.
Meskipun omset tidak begitu besar,
istri seorang laden tukang (pembantu
tukang bangunan) ini mengaku bangga
dengan pekerjaannya. ―Saya bangga
karena perempuan pun bisa berkarya,‖
ujarnya.
Selain itu, tentu saja, dia ikut
menyelamatkan bumi dari polusi. (*)






LAPORAN EMY CAYARANI
Kadisoro, Gilangharjo, Pandak

Di Dusun Bebekan RT 02, Kadekrowo,
Gilangharjo, Pandak, Bantul, sampah bukan
sesuatu yang menjijikkan. Di sini, jika
dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga
memiliki nilai ekonomi, sampah merupakan
sumber keuangan bagi sebagian kaum ibu.
Dwi Khasanah (33) adalah salah
seorang warga Kadekrowo yang mengolah
sampah sehingga menjadi sumber
pemasukan. Sejak satu setengah tahun
lalu, tepatnya Juli 2009, dia memulai
usaha membuat kerajinan dari hasil
olahan limbah plastik kemasan di Kreasi
Limbah Plastik Bersenandung di
rumahnya.
Awal perkenalannya dengan usaha
mengolah limbah plastik adalah ketika
dia mengikuti pelatihan pengolahan
limbah plastik di Sanggar Giri Gino
Guno di Bebekan, Kadekrowo, selama
satu minggu. Di pelatihan itu, dia dan
sejumlah perempuan tetangganya dilatih
membuat kompos dari limbah organik
dari dapur dan memanfaatkan limbah
anorganik, khususnya plastik bekas
kemasan.
Pelatihan ini menginspirasi Dwi dan
ibu-ibu tetangganya untuk membuat
kerajinan berbahan dasar limbah plastik
bekas kemasan.
Ibu-ibu yang pernah mengikuti pelatihan
itu lalu membentuk kelompok pengelola
kerajinan limbah plastik. Terbentuklah
beberapa kelompok.
Namun, yang bertahan tinggal Dwi
Khasanah. Yang lain mandeg karena
merasa kurang telaten untuk membuat
kerajinan. Mereka memilih untuk menyetor
limbah plastiknya saja, dalam bentuk
cacahan, ke Dwi.
“Saya bertahan karena saya senang
membuat kerajinan dari limbah plastik ini,‖
Di Kadekrowo, Limbah Plastik Jadi Kerajinan Cantik
3
KRIDA NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
ULANG TAHUN
Zuniyati, pedagang sayur keliling,
Guyangan, Wonolelo, Pleret. Ulang tahun
ke-30, Sabtu Pon 26 Maret 2011. Semoga
dagangan tambah laris...
ULANG TAHUN
Muhammad Emillul Fata, ulang tahun
ke 8, Jumat Pahing 25 Maret 2011. Putra
pertama Taslip Sulaiman-Khulil
Khasanah, Ploso RT 04, Wonolelo, Pleret.
NIKAH
Dewi Indra Widiyawati SKepNers (putri
Daroni-Sri Wahyuni), Somenggalan
RT 06, Dukuh Joho, Jambidan,
Banguntapan dengan Kristanto
(Marsono-Sri Supatmi), Dk Patoman RT
02, Desa Krikilan, Bayat, Klaten. Akad
nikah, Minggu Kliwon 13 Maret 2011 di
Somenggalan RT 06, Jambidan,
Banguntapan.
NIKAH
Wahyuni (putri Suhardi-Hartini),
Purworejo, Wonolelo, Pleret dengan
Widiyanto (putra Hadi Sumarto), Desa
Ngampon, Pleret. Akad nikah Minggu 20
Maret di Purworejo, Wonolelo, Pleret
NIKAH
Surantini, Kepuh, Mulyodadi,
Bambanglipuro dengan Waryanto,
Warungpring RT 02, Mulyodadi,
Bambanglipuro. Akad nikah Minggu
Kliwon 13 Maret 2011 di Kepuh,
Mulyodadi, Bambanglipuro.

SIAPA DI BULAN APRIL?
KIRIM VIA SMS ke 0813-2878-2156 atau
email ke korankrida@ymail.com
GRATIS TIS!

Lanjutan ALBUM WARGA
FOTO EMY CAYARANI
Karya DWI Khasanah hasil daur ulang plastik bekas kemasan
nama istri. Tetapi, jika suatu saat dijual minta
persetujuan suami. Sedangkan tabungan atas
nama pribadi.
Karena bisa dikatakan 70 persen laki-laki
menjadi tulangpunggung keluarga dan 30 persen
merupakan wanita mandiri, peserta menganggap
wajar jika kekayaan keluarga atas nama suami.
Lalu, bagaimana dengan pengambil
keput usan dal am kel uarga? Pesert a
menyimpulkan biasanya perempuan tidak berani
mengambil keputusan sendiri. Perempuan atau
istri tergantung pada pendapat suami. Sehingga
segala sesuatunya harus dimintakan persetujuan
suami. Tapi, dalam hal untuk sosial, misalnya
nyumbang atau untuk takziyah, biasanya istri
mengambil keputusan sendiri tanpa minta
persetujuan suami.
Salah kaprah
Usai diskusi dan presentasi, Radiyem
menjelaskan mengenai perbedaan gender
dengan kodrat. Sebab, selama ini terjadi salah
kaprah.
“ . R G U D W ” N D W D 5 D G L \ H P “ $ G D O D K V H V X D W X
sifat yang tidak bisa ditukar atau diubah. Misal,
seorang wanita hamil, menstruasi, menyusui,
tidak bisa digantikan oleh laki- O D N L ‖
Adapun gender, katanya, merupakan
anggapan orang, masyarakat, yang bisa
G L S H U W X N D U N D Q ― 0 L V D O Z D Q L W D P H P D V D N E L V D
digantikan laki-laki. Jabatan presiden, gubernur,
bupati, bisa diganti atau diduduki perempuan.
Pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan bisa
dikerjakan laki-laki. Intinya, kalau kodrat adalah
sesuatu yang datang dari Yang Maha
. X D V D ‖ X M D U JX U X JX JX V E H O D M D U L W X
Adanya berbagai pertanyaan serta masukan
dari peserta gugus belajar menambah hidup
di skusi. Suasana bel aj ar pun j adi
menyenangkan, meskipun santai.
25 Orang di Mulyodadi
Sehari setelah di Gilangharjo, Sabtu (19/3),
kegiatan gugus belajar bulanan diselenggarakan
perempuan war ga Desa Mul yodadi ,
Bambanglipuro. Kali ini gugus belajar yang
diketuai Muntiningsih (warga Dusun Ngentak)
diselenggarakan di rumah Tugiyem di Dusun
Plumutan.
Kegiatan kali ini dihadiri 25 orang perempuan
dari seluruhnya 42 anggota perwakilan 14 dusun
se Desa Mulyodadi. Tiap dusun diwakili tiga
orang.
Dipandu Suyatmi, kegiatan belajar kali ini
serupa di Gilangharjo, yaitu membahas
persoalan gender. Materi tentang ini
disampaikan guru gugus, Radiyem.
Seperti di Gilangharjo, dalam diskusi
kelompok mereka juga memetakan tiga topik
yaitu peran di keluarga, penguasaan kekayaan
dan pengambilan keputusan.
Berdasarkan pengalaman sehari-hari, mereka
menggambarkan bahwa peran bapak yaitu
bekerja mencari nafkah, membantu pekerjaan
ibu, beraktivitas di masyarakat dan istirahat.
Peran dan pekerjaan istri, yaitu mengerjakan
pekerjaan rumah tangga seperti memasak,
mencuci, membersihkan rumah, usaha yang
bisa menambah penghasilan keluarga,
mendampingi anak dalam belajar dan istirahat.
Adapun anak, belajar, sekolah, membantu
orangtua dan bermain.
Soal pengambilan keputusan di keluarga,
peserta sependapat bahwa sebaiknya
merupakan keputusan bersama dan risikonya
ditanggung bersama. Sedangkan tentang
penguasaan kekayaan, seharusnya apa yang
menjadi kekayaan keluarga merupakan milik
bersama, harta suami juga harta istri dna
keluarga.
Dari diskusi ini Radiyem menyimpulkan
bahwa seharusnya tidak ada perbedaan di
dalam keluarga antara laki-laki dan
S H U H P S X D Q ― ` L V X D W X N H O X D U JD K D U X V D G D
kerjasama yang baik dan yang terpenting
D G D O D K N R P X Q L N D V L ‖ N D W D Q \ D
Di akhir kegiatan, peserta bersepakat
mengadakan pertemuan April di rumah
Kuswandari, Dusun Tulasan.(*)

3 H U V R D O D Q J H Q G H U P H Q M D G L W R S L N G L V N X V L
S D G D N H J L D W D Q J X J X V E H O D M D U G L ` H V D
* L O D Q J K D U M R 3 D Q G D N G D Q ` H V D
0 X O \ R G D G L % D P E D Q J O L S X U R
S H U W H Q J D K D Q 0 D U H W $ S D \ D Q J
G L G L V N X V L N D Q E H U L N X W O D S R U D Q ( P \
& D \ D U D Q L G D U L . D G L V R U R * L O D Q J K D U M R
G D Q , V W U L \ D Q W L G D U L : D U X Q J S U L Q J
0 X O \ R G D G L

Menyenangkan, tambah pengalaman dan
banyak teman. Itulah kesan Ristiyani, salah satu
peserta, usai mengikuti kegiatan gugus belajar
di Balai Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul,
Jumat sore 18 Maret.
Pertemuan gugus belajar saat itu
merupakan yang keenam. Kegiatan yang
difasilitasi Asppuk ini berlangsung sekali
sebulan, dua jam setiap pertemuan.
Gagasannya, gugus belajar sebagai sarana
untuk menambah ilmu pengetahuan dan
pengalaman, serta sebagai media silaturahmi
antarperempuan warga se kelurahan
Gilangharjo yang terdiri dari 15 pedukuhan.
Tak hanya upaya meningkatkan ekonomi
keluarga yang dibicarakan, dan kemudian diikuti
pelatihan, yang dibicarakan.
Mengawali pertemuan pada Jumat 18 Maret
itu, Ristiyani dan 16 perempuan lain dipandu
guru gugus Radiyem mereview materi yang
telah dipelajari. Mereka menyebutkan antara lain
masalah kesehatan reproduksi, perempuan
berjaringan/berorganisasi, pemanfaatan sampah
berkaitan dengan gerakan lingkungan bersih
dan sehat, dan membangun kapasitas
perempuan sehingga berani mengambil
keputusan berkaitan dengan ekonomi keluarga
dan persamaan hak dengan laki-laki.
Selesai merevieuw, peserta yang terdiri dari
perwakilan Dusun Kadisoro (4 orang),
Karangasem (2), Karanggede (1), Jomboran (2),
Daleman (2) dan Kadekrowo (6) berdiskusi
kelompok mengenai pemahaman gender. Topik
ini dibagi menjadi tiga, yaitu pembagian peran
pekerjaan, kekayaan keluarga dan pengambilan
keputusan dalam keluarga.
Hasil diskusi kelompok berdasarkan
pengalaman sehari-hari peserta dipresentasikan
lalu dibicarakan bersama difasilitasiguru gugus.
Dari diskusi peserta menyimpulkan bahwa
dalam pembagian peran pekerjaan di keluarga
ternyata perempuanlah yang paling banyak
menyerahkan waktunya untuk keluarga,
meski pun t i dak ada at ur an at au
perjanjian/kesepakatan. Ini kebiasaan yang
sudah turun temurun. Ini bisa dikatakan sebagai
pemiskinan terhadap perempuan, sebab
perempuan tak hanya diposisikan sebagai
kanca wingking yang harus bekerja mulai
bangun tidur sampai mau tidur lagi.
Untuk topik kekayaan keluarga, menyangkut
tanah, rumah atau kendaraan, menurut peserta
biasanya diatasnamakan suami. Perhiasan atas
4 KRIDA NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
Perempuan Gilangharjo dan Mulyodadi Membincang Gender
% H N H U M D 0 X O D L % D Q J X Q 7 L G X U
+ L Q J J D 0 D X 7 L G X U / D J L
KRIDA 5 NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
Gender
Sifat yang dilekatkan kepada laki-laki maupun
perempuan oleh masyarakat. Pensifatan ini berbeda-
beda dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat yang
lain, dari kelas sosial-ekonomi berbeda, dari bangsa ke
bangsa, dari suku ke suku. Sifat ini bisa dipertukarkan.
Perempuan bisa emosional, laki-laki juga bisa.
Perempuan bisa keibuan, laki-laki juga tak sedikit yang
bersifat keibuan. Perempuan juga tak sedikit yang
perkasa, sebaliknya banyak lelaki yang lemah. Berpikir
rasional tak hanya laki-laki, perempuan juga. Perempuan
dicap sebagai makhluk emosional, laki-laki rasional, itu
sifat yang dilekatkan oleh masyarakat. Itu perbedaan
gender namanya! Perempuan urusannya dapur, sumur,
kasur, laki-laki urusannya ekonomi, politik,
kemasyarakatan, itu juga gender. Perempuan reresik
omah. Urusan perempuan adalah rumah, domestik. Itu
juga gender. Cap. Ngurus dapur, reresik, sangat bisa
dilakukan laki-laki. Jadi? Bukan kodrat!
Kodrat
Sifat yang melekat secara biologis dan tidak bisa
dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Secara
permanen tidak berubah. Ketentuan Tuhan. Manusia laki-
laki adalah manusia yang memiliki atau bersifat berikut;
laki-laki adalah manusia yang mempunyai jakun
(kalamenjing), punya penis, memproduksi sperma, kumis
dan jenggot. Perempuan, adalah jenis manusia yang
memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk
melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki vagina,
mempunyai alat menyusui.
Kodrat perempuan sesungguhnya adalah menstruasi,
mengandung/hamil, melahirkan dan menyusui (laki-laki hanya
bisa membantu memberi susu)! Membesarkan, mengasuh dan
mendidik anak? Bukan kodrat perempuan, karena laki-laki pun
sangat bisa melakukan tugas ini.
Apa dampak Perbedaan Gender?
Kenyataan, perbedaan gender telah melahirkan berbagai
ketidakadilan gender, baik bagi kaum laki-laki, maupun
terutama terhadap kaum perempuan.
Contohnya? Perempuan dianggap tidak penting diikutkan dalam
pembuatan kebijakan pembangunan dan keputusan politik (dari
tingkat negara sampai RT, bahkan keluarga), jadi sasaran
kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (bangun
subuh, ngurus anak, siapkan sarapan, bikin kopi, ngantar-jemput
sekolah, belanja, siapkan masak makan siang, makan malam,
reresik omah, umbah-umbah, cari nafkah juga atau ke sawah,
sampai menjelang tidur malam), upah kerja perempuan lebih
rendah meskipun beban kerja sama, dan banyak lagi.
Sumber: diolah dari buku Analisis Gender dan Transformasi
Sosial, Mansour Fakih, 1996.
Perempuan di Dapur, Gender atau Kodrat?
3 H U H P S X D Q Z D U J D ` H V D * L O D Q J K D U M R E H U G L V N X V L G D Q P H P S U H V H Q W D V L N D Q K D V L O
G L V N X V L N H O R P S R N W H Q W D Q J J H Q G H U S D G D N H J L D W D Q J X J X V E H O D M D U G L % D O D L ` H V D
* L O D Q J K D U M R 3 D Q G D N - X P D W * X J X V E H O D M D U G L L N X W L S H V H U W D G D U L H Q D P
G X V X Q G L ` H V D * L O D Q J K D U M R \ D L W X G D U L . D G L V R U R . D U D Q J D V H P . D U D Q J J H G H
- R P E R U D Q ` D O H P D Q G D Q . D G H N U R Z R
)2 72` ( ` ,+ 3 8 5: $ ` ,
Selain tentang simpanan, LKP juga
mengharapkan tiap bulan diadakan
pertemuan di masing-masing kelompok
KPUK (Kelompok Perempuan Usaha
Kecil). Jika ada permasalahan, maka
dal am per t emuan bul anan i ni
permasalahan dapat dimusyawarahkan
dan diatasi.
Ketiga hal tersebut, kata pengurus
LKP, tak lain untuk mencapai penilaian
yang baik menuju koperasi yang sehat.

Lomba RT Sehat
Pada pertemuan yang berlangsung
hampir tiga jam (19.30-21.30) itu warga
juga berembug soal persiapan menghadapi
Lomba RT Sehat. Lomba ini untuk
menyambut Hari Kartini 2011 di Kadisoro.
Ada empat aspek yang dinilai pada
lomba RT Sehat.
Pertama, Rumah Sehat. Dengan
jumlah poin 30, indikator penilaian meliputi
air bersih, jamban, Saluran Pembuangan
Air Limbah (SPAL), pembuangan sampah,
ventilasi dan pencahayaan, bebas jentik.
Kedua, PHBS (Pola Hidup Bersih dan
Sehat). Jumlah poin 30. Indikator
penilaiannya yaitu cuci tangan dengan
sabun, makan bergizi seimbang dan
menggunakan gar am beryodi um,
melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak
merokok, kebiasaan gosok gigi dan
sarapan.
Ketiga, Program Lingkungan Unggulan
dengan poin 20. Adapun indikator penilaian
yaitu bukti pel aksanaan program,
administrasi, peran serta warga, target dna
pencapaian.
Keempat, Administrasi (10 poin).
Indikator penilaiannya yakni peta wilayah,
data fasilitas sanitasi (sumur, jamban,
SPAL, kandang), data balita, data ibu
hamil, data ibu menyusui, data peserta
KB, PHBS dan Toga.

Racun Tikus dan Promosi
Sebelum pertemuan diakhiri semua
dibagi racun tikus. Gratis. Ini ada
hubungannya dengan mewabahnya
leptospirosis (penyakit yang ditimbulkan
oleh kencing tikus).
Di Kadi soro tel ah digalakkan
pemberantasan tikus baik di sawah
maupun rumah secara serentak. Bahkan,
kalau warga mau membawa tikus mati
atau hidup ke tempat dinas Bupati Bantul
akan diberi uang Rp 500/ekor.
Di ujung acara, arisan RT pun digelar
diikuti penyampaian laporan keuangan
oleh bendahara.
Tentang kehadiran Sutarno dari Mitra
Husada Yogya, tak lain untuk promosi obat
dan sabuk (korset) magnetik. Rupanya banyak
juga warga yang membeli obat/param kocok
dan korset yang ditawarkan Sutarno. (*)





LAPORAN UMI NARSIH
Kadisoro, Gilangharjo, Pandak

GILANGHARJO, KRIDA— Pertemuan RT
(Rukun Tetangga) bisa untuk keperluan
macam-macam. Contohnya pada
pertemuan bulanan perempuan warga RT
06 Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul,
Selasa 15 Maret malam.
Acara di rumah Umi Narsih – yang
juga redaksi Krida untuk Gilangharjo – ini
agak lain dari biasanya. Kali ini tidak cuma
diisi arisan dan rembug warga. Sebab,
selain tingkat kehadiran warga yang lebih
tinggi dari biasanya, mencapai 80%,
pertemuan dihadiri dua pengurus koperasi
perempuan LKP Lestari Kadisoro, yakni
Sartini dan Susi Wahyuningsih, serta
Sutarno dari Mitra Husada Yogyakarta.
Kehadiran Sartini dan Susi untuk
menj elaskan perubahan mengenai
Simpanan Wajib dan Simpanan Pokok di
koperasi perempuan LKP Lestari.
Perubahan ini, merupakan kesepakatan
lima LKP pada pertemuan Jarpuk
(Jaringan Perempuan Usaha Kecil)
Bantul.
Mengenai Simpanan Wajib, kata Susi
dan Sartini, yang standar sebesar Rp
10.000/bulan. Di Kadisoro Simpanan
Wajib masih Rp 3.000/bulan. Untuk
menerapkan itu pengurus masi h
memi ki rkannya, j adi bel um bi sa
diberlakukan.
Kemudi an, Si mpanan Pokok
standarnya Rp 100.000. Berhubung
Simpanan Pokok di LKP Lestari masih Rp
50.000, maka perlu disetarakan dengan 4
LKP lainnya menjadi Rp 100.000.
Mengenai ini, pengurus memberi
keringanan dengan cara mengangsur 10
kali mulai April 2011.


6 KRIDA NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
PERENCANAAN EDISI MARET
Anggota Redaksi Krida merencanakan isi Krida edisi
5/Maret pada rapat di rumah Khulil Khasanah,
Ploso,Wonolelo, Pleret, Sabtu (19/3) siang. Pada rapat
yang dipandu Khulil ini hadir Tin Ratmanta (Joho,
Jambidan, Banguntapan), Emy Cayarani dan Umi
Narsih (Kadisoro, Gilangharjo, Pandak), Nur Arofah
(Wonolelo, Pleret), Istriyanti (Warungpring, Mulyodadi,
Bambanglipuro), Ismay Prihastuti dan Dedi H Purwadi
(LP3Y). Salah satu keputusan rapat yaitu menambah
rubrik baru, Suara Perempuan. Selain itu, seperti biasa
pada akhir rapat, merembug siapa yang akan menjadi
tuan rumah rapat perencanaan edisi berikut ditutup
makan siang.
FOTO: DEDI H PURWADI
KOREKSI
Pada Krida edisi Februari 2010 hal 5 terdapat
kekeliruan penulisan dalam boks berjudul
6 INFORMASI MANAJEMEN INFORMASI
DESA. Dalam contoh tertulis ...Gilangharjo,
Kecamatan Bambanglipuro. Seharusnya
...Gilangharjo, Kecamatan Pandak.
Kepada pembaca, kami mohon maaf.
Redaksi
Pertemuan Perempuan Warga RT di Kadisoro
Dari Koperasi, Racun Tikus hingga Promosi
miliki. Namun seandainya ada pekerjaan
yang bisa memberikan penghasilan cukup
dan waktu longgar alangkah itu akan lebih
baik.
Dengan adanya tulisan ini kami
berharap pembaca bisa memberikan saran
agar kita perempuan-perempuan bisa tetap
berorganisasi, menambah wawasan dan
tetap bisa membantu perekonomian
keluarga. (*)
Ulil (Wonolelo, Pleret)


Bagaimana Agar
Perempuan Bisa
Tetap Berorganisasi?

Hidup di masa ini serba sulit, terutama
perekonomian keluarga. Perempuan yang
awalnya hanya sebagai penunjang dalam
perekonomian keluarga namun saat ini
justru kebanyakan perempuanlah yang
menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini
yang menjadi alasan mengapa perempuan
tidak memiliki banyak waktu untuk
berorganisasi dan menambah wawasan
bagi mereka.
Keadaan ini dirasakan oleh kelompok
FKKP (Forum Komunikasi Kader Posyandu)
Desa Wonolelo. Tahun 2007 s/d 2010,
anggota FKKP sangat giat berorganisasi
dan dalam mengikuti pelatihan-pelatihan
yang dilaksanakan oleh berbagai pihak
(Pemerintah, LSM, dan Organisasi
Masyarakat). Namun di tahun ini banyak
anggota yang sulit untuk diutus ke pelatihan-
pelatihan maupun untuk datang ke
pertemuan.
Mereka mengatakan alasan di
antaranya mencari jerami untuk sapi
mereka dan untuk dijual, selain itu ada
yang harus derep (membantu panen
orang agar dapat imbalan gabah) ,
mendreng (jualan keliling), bikin emping
dan kerja di pabrik.
Sedangkan untuk mencari jerami dan
derep mereka harus pergi ke wilayah di
luar Wonolelo sehingga memakan waktu
setengah hari bahkan lebih, sedangkan
untuk kerja di pabrik membutuhkan waktu
sehari penuh, sehingga waktu mereka
sangat kecil untuk bisa menghadiri
pertemuan-pertemuan ataupun pelatihan-
pelatihan.
Memang kita tidak bisa memaksa
p e r e mp u a n - p e r e mp u a n h a r u s
berorganisasi, karena sebenarnya
perempuan yang telah memiliki aktivitas
menandakan bahwa perempuan tersebut
telah berdaya dan telah mampu
mengembangkan sumber daya yang ia
SUARA PEREMPUAN
Rubrik ini terbuka bagi perempuan, tua-muda, lajang-berkeluarga, warga Desa Jambidan, Wonolelo, Srihardono, Mulyodadi dan Gilangharjo, untuk
menyampaikan gagasan, uneg-uneg, curhat, tentang persoalan diri maupun lingkungan sosial. Tulisan tidak boleh berisi fitnah, adu domba, memojokkan. Yang
disampaikan harus fakta (keadaan sesungguhnya). Penulis agar menyertakan nama, alamat lengkap dan nomor telepon. Keberatan untuk pemuatan identitas
Anda di rubrik ini harus disampaikan di awal disertai alasannya. Redaksi berhak menyunting atau tidak memuat karena pertimbangan tertentu. Tulisan bisa
dikirim melalui email ke korankrida@ymail.com, dpurwadi12@yahoo.co.id atau ke perwakilan Krida di masing-masing desa.
Anggota BKM Wonolelo Ikuti Pelatihan Pengorganisasian
7 KRIDA NOMOR 5, TAHUN I EDI SI MARET 2011
Ingin mengomentari, memberi sa-
ran, berpendapat, tentang tulisan
ini? Silakan tulis dan kirim via email
ke korankrida@ymail.com atau
dpurwadi12@yahoo.co.id, atau
SMS ke 0813-2878-2156. Cantumkan
nama, alamat Anda.
LAPORAN KHULIL KHASANAH
Ploso, Wonolelo, Pleret

WONOLELO, KRIDA – Sebanyak lima orang
anggota BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat)
Desa Wonolelo, Pleret, empat di antaranya
perempuan, yaitu Khulil Khasanah (koordinator),
Musirah, Giyanti, Ernawati dan Marwanto, pada
19 dan 20 Maret mengikuti pelatihan
Pengorganisasian dan Jejaring untuk BKM di
desa-desa Kecamatan Pleret dan Kecamatan
Pundong. Pelatihan berlangsung di Balai Desa
Wonokromo, Pleret.
Di Balai Desa Wonokromo anggota BKM
Wonolelo bergabung dengan anggota BKM dari
Desa Wonokromo, Pleret, Bawuran, Segoroyoso
serta BKM dari tiga desa di Kecamatan Pundong,
yaitu Desa Srihardono, Panjangrejo dan
Seloharjo. Jumlah seluruh peserta 20 orang,
delapan di antaranya perempuan.
Tujuan pelatihan, kata Yanan Zaqi Candra,
Senior Fasilitator Tim Bantul 3, untuk
meningkatkan kapasitas BKM agar mampu
memaksimalkan peran dan fungsinya, sekaligus
mampu menjalin kerjasama dengan berbagai
pihak dan membentuk Forum BKM tingkat
Kecamatan. ―Untuk membangun BKM yang kuat,
berdaya dan mampu menjalin kerjasama dengan
banyak pihak maka perlu dilakukan pembekalan

B K M y a n g
di b ent uk ol eh
m a s y a r a k a t
merupakan wadah
pelaksana program
P N P M u n t u k
me n a n g g u l a n gi
k emi sk i nan di
ma s i n g - ma s i n g
desa.
“Sebagai BKM
ni r l ab a dal am
penanggul anagan
kemiskinan, BKM
m e r u p a k a n
organisasi tanpa
menghitungkan laba
dan bertugas membangun kepedulian berbagai
pihak terutama di wilayah desa. BKM merupakan
agen perubahan sosial mewakili aspirasi
masyarakat sesuai tujuan pembangunan untuk
menjadikan masyarakat lebih maju dan lebih
mandiri dalam memecahkan persoalan
kemiskinan, BKM tidak bisa bekerja sendiri untuk
itu dibutuhkan kerjasama dan saling belajar antar
BKM, ― ujar Zaqi.
Selama pelatihan peserta mendapatkan materi
antara lain Mendorong Perubahan Melalui Forum
BKM, Pengorganisasian Masyarakat sebagai
Basis Pengembangan Forum BKM dan
Membangun Kerjasama.
Di akhir pelatihan peserta menyusun
Rencana Tindak Lanjut berupa pembentukan
Forum BKM Kecamatan Pleret dan Pundong
dengan menunjuk pengurus. Terpilih sebagai
pengurus di antaranya H. Macrus dari
Wonokromo (koordinator), Khulil Khasanah dari
Wonolelo (Sekretaris Jenderal) dan Riyadi
sebagai Bendahara.
Selain itu disepakati akan ada koordinasi
pada 22 April 2011 agar tercapai kerjasama
yang solid yang dimulai dari 8 BKM. (*)


Pelatihan Pengorganisasian BKM di Balai Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, 19-20
Maret 2011
gembira oleh semua kelompok.
Namun, untuk waktunya belum bisa
ditentukan. Menurut Nurma, ia akan berbicara dulu
dengan warga yang akan dikunjungi agar nantinya
anggota jaringan bisa bertemu langsung dengan
warga. Sampai menjelang akhir Maret acara ini
belum terlaksana.(*)


DARI PEMBACA
Memudahkan Penyampaian Informasi
Hadirnya Krida memberi informasi kepada warga dengan
mudah, warga cukup di rumah. Jadi, bukan cuma pen-
gurus/orang tertentu yang tahu, tapi semua warga bisa tahu kare-
na warga berhak tahu.
Lewat Krida semoga bisa memberi spirit untuk menciptakan
kemajuan di masing-masing desa, terutama di lima desa.
Umi
Kadisoro, Gilangharjo, Pandak

Perlu Tambah

Kehadiran Krida bisa membantu, juga untuk sosial-
isasi koperasi perempuan dan juga untuk info-info
yang penting di warga.
Jumlahnya kalau bisa ditambah karena
masih banyak yang belum dapat Krida.
Pokoknya, saya mendukung dan se-
nang dengan adanya Krida.
Sumartini
Joho, Jambidan, Banguntapan




DITERBITKAN OLEH LP3Y (LEMBAGA PENELITIAN PENDIDIKAN
DAN PENERBITAN YOGYA) SEBAGAI MEDIA INFORMASI DAN
KOMUNIKASI AKTIVITAS PEREMPUAN LIMA DESA DI BANTUL.
PENERBITAN DIDUKUNG THE FORD FOUNDATION.
TERBIT PERDANA NOVEMBER 2010

PENANGGUNGJAWAB:
PROGRAM OFFICER PROGRAM WARGA BERMEDIA LP3Y-FF
REDAKSI:
KARTINAH RATMANTA, DWI HARYATI, SRI NURYANTI (Jambidan,
Banguntapan)●UMI NARSIH, EMY CAYARANI (Kadisoro, Gilangharjo,
Pandak)●KHULIL KHASANAH, ENI AROFAH, NUR AROFAH (Wonolelo,
Pleret)● V MEI DIANA, ISTRIYANTI (Warungpring, Mulyodadi,
Bambanglipuro) ● SRI RAHAYU, DWI PUJI ASTUTI (Klisat, Srihardono,
Pundong)●AGOES WIDHARTONO, DEDI H PURWADI
ALAMAT REDAKSI:
LP3Y, JL KALIURANG KM 13,7, NGEMPLAK, SLEMAN—
YOGYAKARTA
TELP: 0274-896016
E-MAIL: korankrida@ymail.com
SMS REDAKSI: 0813-2878-2156

SEBAGIAN BESAR REPORTASE/ARTIKEL MERUPAKAN KARYA
WARGA DI LIMA DESA DI BANTUL

BERITA KEGIATAN, SURAT, BISA DIKIRIM LANGSUNG KE
REDAKSI, via E-MAIL ATAU PERWAKILAN REDAKSI DI
MASING-MASING DESA. NASKAH BOLEH DITULIS
TANGAN, PANJANG MAKSIMAL 1,5 HALAMAN KUARTO .
NASKAH DISERTAI NAMA, ALAMAT, TELEPON


mertua.
Tak hanya mendengar pemaparan materi
dari pendamping, pada pertemuan kelompok
yang menemukan masalah yang menyangkut
KDRT menyampaikannya kemudian persoalan
tersebut dibicarakan bersama untuk mencari
solusinya.
Selain mendiskusikan masalah KDRT, pada
pertemuan ini peserta diajak bersama-sama
menengok warga korban erupsi Merapi untuk
memberikan dorongan semangat dalam
menghadapi musibah. Ajakan ini disambut
LAPORAN TIN RATMANTA
Joho, Jambidan, Banguntapan

JAMBIDAN, KRIDA — Meskipun sudah berlalu
hampir tiga tahun, anggota jaringan perempuan
yang didampingi Rifka Annisa Yogya yang
dibentuk pada program pascagempa Bantul
2007-2008 masih rutin berkumpul.
Jaringan ini terdiri dari enam kelompok, yaitu
kelompok dari Kedungpring (Desa Wonolelo,
Pl er et ), War ungpr i ng ( Mul yodadi ,
Bambanglipuro), Kadisoro dan Krekah
(Gilangharjo, Pandak), Klisat (Sirhardono,
Pundong) dan Joho (Jambidan, Banguntapan).
Adapun ketua jaringan yaitu Susi.
Para anggota jaringan ini berkumpul dua
bulan sekali. Tempatnya bergiliran dari desa ke
desa. Terakhir, jaringan ini mengadakan
pertemuan di rumah Kartinah Ratmanta di Joho
(Jambidan), Minggu 20 Februari. Yang menjadi
tuan rumah adalah kelompok Sakinah.
Pada pertemuan di Joho hadir 25 perempuan
yaitu dari kelompok Sakinah sebagai tuan rumah,
kelompok dari Wonolelo, Krekah dan Kadisoro
(Gilangharjo) dan dari Klisat (Srihardono).
Sebagai pendamping yaitu Nurmawati SE dari
Rifka Annisa.
Mengawali diskusi, Nurmawati memberikan
materi tentang upaya menuju keluarga yang
bahagia dan sejahtera lahir maupun batin. Selain
itu ia menyampaikan penjelasan tentang KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan
solusinya karena kekerasan itu ternyata
bentuknya bermacam-macam, selain kekerasan
fisik juga kekerasan psikis, ekonomi juga
seksual.
Soal kekerasan dalam rumah tangga ini
penting dibahas, karena ternyata para anggota
jaringan mengungkapkan seringnya terjadi
konflik dalam rumah tangga apalagi dengan
Temu Duabulanan Bahas KDRT
KRIDA
4 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
A. Kekerasan Fisik
Menampar, memukul, menarik rambut, menyundut dengan rokok, melukai dengan senjata,
mengabaikan kesehatan istri, dsb
B. Kekerasan Psikis
Menghina, komentar-komentar merendahkan dan melukai harga diri, tidak mengijinkan istri atau
membatasi untuk mengunungi saudara maupun teman, mengancam akan mengembalikan istri ke
rumah orangtuanya, mengancam akan menceraikan, memisahkan istri dari anak-anaknya, dll
C. Kekerasan Seksual
Pengisolasian istri dari kebutuhan batin/biologis, pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang
tak dikehendaki atau tidak disetujui istri, pemaksaan hubungan seksual ketika istri sedang tidak
menghendaki, istri sedang sakit atau menstruasi, memaksa istri berhubungan seks dengan orang
lain, memaksa jadi pelacur, dsb
D. Kekerasan Ekonomi
Tidak memberi nafkah kepada istri, memanfaatkan ketergantungan istri secara ekonomi untuk
mengontrol kehidupan istri, membiarkan istri bekerja untuk kemudian penghasilannya dikuasai
suami.
Kekerasan terhadap istri merupakan tindak pidana ( pasal 351 jo 356 ayat 1 KUHP )
APA AKIBAT KDRT?
KDRT menyebabkan perempuan/istri berada dalam keadaan yang menyakitkan; tidak tenang, kehilangan
kepercayaan kepada suami, kehilangan rasa percaya diri, pendiam, tremor, dan akibat-akibat lain. Secara fisik,
KDRT bisa menyebabkan istri menderita penyakit tertentu, kerusakan organ reproduksi dan bahkan penyakit
menular seksual.
Sumber: Kekerasan dalam Rumah Tangga, Rifka Annisa 1997