You are on page 1of 4

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia (Armilawaty et al., 2007). Peningkatan jumlah pasien hipertensi disebabkan karena semakin meningkatnya populasi usia lanjut (Yogiantoro, 2006). Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi seperti penyakit jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun (Armilawaty et al., 2007). Menurut Yogiantoro (2006), tujuan pengobatan antihipertensi yakni menurunkan tekanan darah sebesar <140/90 mmHg dan untuk individu berisiko tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal adalah sebesar <130/80 mmHg, menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler dan menghambat laju penyakit ginjal. Propanolol hidroklorida merupakan obat antihipertensi yang bekerja terhadap reseptor β non selektif, dengan menghambat respon stimulan adrenergik. Propanolol hidroklorida diabsorbsi dengan baik (>90%) dari saluran cerna, tetapi bioavailabilitasnya rendah (tidak lebih dari 50%) serta mempunyai waktu paruh eliminasi yang pendek yakni berkisar antara 2-6 jam. Metabolit aktif dari propanolol adalah 4-hidroksipropanolol, yang mempunyai aktifitas sebagai β blocker (Sutriyo et al., 2004). Melihat waktu paruh propanolol hidroklorida yang cepat sedangkan kadar yang berikatan dengan plasma hanya kurang dari 50% dan dapat diabsorpsi di mukosa mulut, maka propanolol hidroklorida dikembangkan sebagai sediaan buccal mucoadhesive agar kadarnya bertahan lebih lama dalam plasma serta menjaga lokasi penyerapan propanolol hidroklorida yang efektif (Vishnu et al., 2007).

1

. Polimer karbopol dipilih karena merupakan polimer hidrogel yang memiliki kemampuan menghidrasi dan membentuk lapisan gel yang baik dan penting untuk sediaan farmasi lepas lambat... 2006). Penghantaran buccal memberikan administrasi yang menyenangkan dan pemakaiannya dapat dihentikan jika diperlukan (Vishnu et al. 2004). Rute buccal memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan rute oral antara lain menghindari metabolisme presistemik pada saluran gastrointestinal (GI) dan eliminasi first pass hepatik (Alur. 2007). baik karbopol maupun CMC Na bisa digunakan sendiri sebagai polimer karena keduanya bisa membentuk ikatan dengan mukosa buccal. Polimer yang digunakan dalam penelitian pembuatan sediaan buccal mucoadhesive disini adalah karbopol dan CMC Na. 2007). 2010). Pada penelitian ini kedua polimer dikombinasi dengan tujuan untuk mengetahui komposisi kombinasi dan interaksinya agar didapatkan campuran polimer yang dapat mengontrol pelepasan bahan aktif dalam sediaan buccal mucoadhesive secara konstan dalam periode waktu yang diinginkan dan memiliki daya lekat pada tempat absorbsi yang cukup kuat hingga semua atau hampir semua bahan aktif dilepaskan. 2005). Pada dasarnya. Salah satu sistem pelepasan terkendali yang mendapat perhatian adalah sistem penghantaran obat mucoadhesive. . Sistem yang terdiri dari karbopol sebagai polimer lepas lambat menunjukkan pelepasan obat linier (laju pelepasan orde satu) untuk obat dengan perbedaan luas dalam kelarutan dan dosis (Hosmani. Mucoadhesive didefinisikan sebagai kemampuan suatu material melekat pada jaringan biologi untuk periode yang lebih lama. Sistem pelepasan terkendali mengontrol pelepasan obat sehingga mengurangi frekuensi pemberian (Saifullah et al.2 Bentuk sediaan sistem pelepasan terkendali merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk menjaga kadar terapi obat yang terus-menerus dan meningkatkan kepatuhan pasien (Sutriyo et al. Mukosa dari rongga buccal ditemukan menjadi tempat yang paling baik dan mudah dilalui oleh agen terapetik pada sistem penghantaran lokal dan sistemik (Punitha dan Garish.

Lapisan gel tersebut mampu mengontrol pelepasan zat aktif melalui mekanisme difusi dan memiliki ketahanan dalam penghambatan erosi berlebihan dari tablet (Mariageraldrajan. 3. 1. Mengetahui komposisi optimum kombinasi polimer karbopol 940 dan CMC Na untuk menghasilkan kekuatan buccal mucoadhesive dan DE480 (Disolution Efficiency) tablet propanolol hidroklorida yang diinginkan. Pengontrolan pelepasan obat dengan polimer CMC Na dapat membentuk lapisan gel pada permukaan tablet melalui proses hidrasi.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah pengaruh jumlah karbopol 940 dan CMC Na pada DE480 (Disolution Efficiency) tablet propanolol hidroklorida? 3.. Mengetahui pengaruh jumlah karbopol 940 dan CMC Na pada kekuatan buccal mucoadhesive tablet propanolol hidroklorida.3 Alasan pemilihan CMC Na karena merupakan salah satu polimer hidrofilik yang dapat memperlama waktu tinggal sediaan (Chowdary et al. 2007). Sediaan buccal mucoadhesive memerlukan jenis dan jumlah polimer mucoadhesive yang sesuai. Penelitian tentang pengaruh jumlah dan komposisi optimum kombinasi karbopol dan CMC Na diperlukan untuk mengetahui kekuatan buccal mucoadhesive dalam formulasi tablet lepas lambat propanolol hidroklorida melalui rute buccal mucoadhesive. . Bagaimanakah pengaruh jumlah karbopol 940 dan CMC Na pada kekuatan buccal mucoadhesive tablet propanolol hidroklorida? 2. Mengetahui pengaruh jumlah karbopol 940 dan CMC Na pada DE480 (Disolution Efficiency) tablet propanolol hidroklorida. 2.3 Tujuan 1. Berapakah komposisi optimum kombinasi polimer karbopol 940 dan CMC Na untuk menghasilkan kekuatan buccal mucoadhesive dan DE480 (Disolution Efficiency) tablet propanolol hidroklorida yang diinginkan? 1. 2001).

.4 1.4 Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi penggunaan sediaan tablet lepas lambat propanolol hidroklorida melalui rute buccal mucoadhesive.