Nama : A.A.

Alit Mas Putri Dewanti Nim : 1103005135

Kelas : C

POLITIK HUKUM
DEFINISI POLITIK HUKUM Dibawah ini ada beberapa definisi yang akan disampaikan oleh beberapa ahli : Politik Hukum adalah aktivitas untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan dan cara – cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum dalam masyarakat. (Satjipto Rahardjo) Politik Hukum adalah kebijaksanaan penyelenggara Negara tentang apa yang dijadikan criteria untuk menghukumkan sesuatu ( menjadikan sesuatu sebagai Hukum ). Kebijaksanaan tersebut dapat berkaitan dengan pembentukan hukum dan penerapannya (Padmo Wahjono) Politik hukum sebagai politik perundang – undangan .Politik Hukum berarti menetapkan tujuan dan isi peraturan perundang – undangan . ( pengertian politik hukum terbatas hanya pada hukum tertulis saja.). (L.J Van Apeldorn) Politik Hukum sebagai kegiatan – kegiatan memilih nilai- nilai dan menerapkan nilai – nilai (Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto) Dikutip dari buku PENGANTAR HUKUM INDONESIA oleh R Abdoel Djamali, S.H. , Politik adalah suatu jalan atau kemungkinan untuk memberikan wujud yang sebenarnya kepada apa yang dicita-citakan. Politk dalam arti ini berbeda dengan ilmu politik, sebab ilmu politik menyelidiki sampai berapa jauh batas realisasi yang dapat melaksanakan cita- cita sosial. Ilmu politik juga menyelidiki kemungkinan apa yang dapat dipaai untuk mencapai suatu pelaksanaan yang baik dari cita-cita sosial itu. PELAKSANAAN POLITIK HUKUM Dalam kaitannya dengan ilmu Negara, suatu politik berobjek hokum. Tugasnya meneruskan perkembangan hokum dengan berusaha membuat suatu ius constituendum menjadi pengganti ius constitutum yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat. Politik suatu Negara – biasanya dicantumkan dalam undang- undang dasarnya – dilaksanakan melalui dua segi, yaitu dengan bentuk hukum dan corak hukum tertentu.

Lebih member dukungan dan pengamanan kepada upaya pembangunan untuk mencapai kemakmuran c.aturan hukum yang ditulis terakan dalam suatu undangundang dan berlaku sebagai hokum positif. yaitu aturan. yaitu berlakunya dua system hokum bagi dua kelompok social yang berbeda dalam kesatuan kelompok social atau suatu Negara 3. Tidak Tertulis . Dalam pembangunan dan pembinaan hokum ini akan dilanjutkan usaha untuk : 1.kebiasaan dan hukum kebiasaan Corak hukum dapat ditempuh dengan cara berikut ini : 1. yaitu aturan. ialah disusunnya ketentuan. Dualistis .aturan hukum yang berlaku sebagai hukum yang semula merupakan kebiasaan. ialah sebagai undang. Memantapkan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai 2. IV/MPR/1978 dan dilanjutkan dengan ketetapan MPR No.ketentuan hukum dalam sebuah kitab secara sistematis dan teratur b) Tidak dikodifikasi. yaitu berlakunya satu system hukum bagi setiap orang dalam kesatuan kelompok social atau suatu Negara 2. Yang terakhir ini secara lengkap dinyatakan sebagai berikut : a.Berikut ini bentuk hokum yang dilaksanakan : 1. II/MPR/1983. Pembangunan dan pembinaan hokum dalam Negara hokum Indonesia didasarkan atas pancasila dan UUD 1945 b. sehingga setiap anggota masyarakat dapat menikmati suasana serta iklim ketertiban dan kepastian hokum yang berintikan keadilan 3. yaitu berlakunya bermacam-macam system hokum bagi kelompokkelompok social yang berbeda didalam kesatuan kelompok social atau suatu Negara Suatu perumusan politik hukum yang dinyatakan secara tegas dan bertahap dicantumkan dalam Garis. Menciptakan kondisi yang lebih mantap.Garis besar Haluan Negara menurut ketetapan MPR No.undang saja 2. Dalam bentuk tertulis ini ada 2 macam jalan : a) Kodifikasi. Tertulis. Pembangunan dan pembinaan hokum diarahkan agar dapat : 1. Meningkatkan dan menyempurnakan pembinaan hokum nasional dalam rangka pembaruan hokum dengan antara lain mengadakan kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang. Unifikasi .bidang tertentu dengan memperhatikan kesadaran hokum yang berkembang dalam masyarakat . Pluralistis .

Meningkatkan penyelenggaraan bantuan hokum dan pemberian bantuan hokum bagi lapisan masyarakat yang kurang mampu 5. Meningkatkan prasarana dan sarana yang diperlukan untuk menunjang pembangunan bidang hukum .badan penegak hokum sesuai dengan fungsi dan wewenangnya masing.masing 3.2. Memantapkan kedudukan dan peranan badna. Memantapkan sikap dan perilaku penegak hokum serta kemampuannya dalam rangka meningkatkan citra dan wibawa hokum serta aparat penegak hokum 4.

°n½ff° ° ¾ f°–   ¯f°f½  ¾ °––f ¾ f½ f°––f ¯f¾fff f½f ¯ °¯f ¾f¾f°f ¾ f ¯    f° f°  ½f¾f° ¯f°– °f° f f°     ¯ ¯  °–f° f° ½ °–f¯f°f°  ½f f ½ff ½ ¯ f°–°f° °¯ °nf½f ¯f¯f° n  ff¯½ ¯ f°–°f° f°½ ¯ °ff°¯°ff° f°©f°¾ff°    . ¯f°f½f°f¾ f¾½ ¯ f°–°f°f°– f nf½f   .9 -  I$.9$ f°– f° ¾ nff °–f½ °fff°¾ f–f    f  9 ¯ f°–°f° f° ½ ¯ °ff° ¯ ff¯ - –ff ¯ ° ° ¾f  f¾ff° ff¾½f°nf¾f f°DD  9 ¯ f°–°f° f°½ ¯ °ff°¯ fff°f–f f½f    .f¯ f½f  ¯½ °–f°nff °    D°€f¾  f f°f ¾f ¾¾ ¯ ¯ f– ¾ f½ f°– ff¯  ¾ff°  ¯½¾nfff¾f- –ff   f¾¾ f f°f f¾¾ ¯¯ f– f ¯½¾nff°–  f ff¯ ¾ff° ¯½¾nfff¾f- –ff   9f¾¾  f f°f ¯fnf¯ ¯fnf¯ ¾¾ ¯ ¯ f–  ¯½   ¯½¾nff°–  f  ff¯ ¾ff° ¯½¾nfff¾f- –ff  f ½ ¯¾f° ½ ¯ f°– °fff° ¾ nff  –f¾ f° ff½ nf°¯f° ff¯ f¾  f¾ ¾f ff° - –ff ¯ °   f½f° .9- $. °°–ff° f° ¯ ° ¯½°ff° ½ ¯ °ff° ¯ °f¾°f ff¯ f°–f ½ ¯ ff° ¯ °–f° f°ff f° ¯ °–f ff°  €f¾ ¾ f °€f¾ ¯   f°–   f°–   ° °–f° ¯ ¯½ ff°  ¾f ff°¯f°–  ¯ f°– ff¯¯f¾fff .9$ f° f°©f° °–f°  f½f°.

¯f°f½f°  f° f°½ f°f° f °f  f f°½ ° –f¯¾ ¾f °–f°€°–¾ f°  °f°–°f¯f¾°– ¯f¾°–   . ¯f°f½f° ¾f½ f° ½ f ½ ° –f ¯ ¾ f  ¯f¯½f°°f ff¯ f°–f ¯ °°–ff° nf f°  ff ¯ ¾ f f½ff ½ ° –f ¯   . °°–ff° ½f¾ff°f f° ¾ff°f f°– ½ f° ° ¯ °°©f°– ½ ¯ f°–°f°  f°–¯   . °°–ff° ½ °  °––fff° f°f° ¯ f° ½ ¯ f° f°f° ¯ f–f½¾f°¯f¾ffff°–f°–¯f¯½   .  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful