PROSEDUR TETAP TRANSPORTASI PASIEN KE RUMAH SAKIT Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit.

Serangkaian tugas harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih oleh pihak rumah sakit. A. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi Tindakan di bawah ini harus diperhatikan dalam mempersiapkan pasien yang akan ditransport: 1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway), pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. 2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans.Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. Kelalaian mengunci alat dengan sempurna pada kedua ujung usungan bisa berakibat buruk saat ambulans bergerak. 3. Posisikan dan amankan pasien. Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Bukan berati bahwa pasien harus ditransport dengan posisi seperti itu. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal, ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. 4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri. 5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung. 6. Melonggarkan pakaian yang ketat. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun, jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya, termasuk memperbaiki pakaian pasien. 7. Periksa perbannya. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. 8. Periksa bidainya. Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada

Salah satufactor yang menentukan keberhasilan penanggulangan pasien gawat darurat adalah faktor Transportasi. bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit. Jika barang pasien telah Anda bawa. cedera. stroke. Pengertian Transportasi dalam hal ini tidak hanya sekedarmengangkut penderita ke suatu rumah sakit saja.tempatnya.karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Naikkan barang-barang pribadi. tetapi bagaimana kita dapatmengangkut penderita dari tempat kejadian ke rumah sakit yang sesuai dengan cepatdan aman. memeriksa perban dan bidai. fungsi motorik. pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya. Jika dompet. rasa nyeri. menenangkan pasien. Tenangkan pasien. dan sensasinya 9. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan. perawatan atas cedera yang ada. pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. kehilangan orang tua. 10. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. Dengan demikian tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa . tas. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. tapi juga karena merasa tiba-tiba dipisahkan dari anggota keluarga dan teman-temannya. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. faserumah sakit. 11.mulai dari tempat kejadian sampai kerumah sakit yang dapat member therapyparipurna. atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta. keributan. dsb. dll. biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di ruang pasien. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal. maka tahap persiapan. melonggarkan pakaian. atau mungkin diperlukan rujukan dari suatu rumah sakit ke rumah sakitlain yang mempunyai kemampuan tenaga dan fasilitas yang lebih tinggi. Tidak hanya karena diikat dengan tali pengaman yang kuat atau karena berada dalam ruangan yang sempit. koper. kebingungan. ) atau kasus non bedah ( misal : status asmatikus. dan pengumpulan informasi oleh Anda akan menimbulkan kesan pengalaman yang menakutkan bagi pasien anak. Ingatan akan kejadian tabrakan. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. TRANSPORTASI PENDERITA GAWAT DARURAT Penderita gawat darurat dapat berupa kasus bedah ( misal : trauma gawatabdomen. Keadaan penderita diharapkan menjadi lebih baik pada setiap tahap penanggulangan. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. )Penanggulangan penderita gawat darurat dilakukan pada fase pra rumah sakit.Ada beberapa hal yang merupakan factor pendukung keberhasilan transportasipenderita gawat darurat yang meliputi : Akses Komunikasi Stabilitasi Sarana transportasi Respon timePrinsip utama dalam penanggulangan penderita gawat darurat adalah janganmembuat penyakit / cidera penderita men jadi lebih parah ( Do not further harm ). Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien.

KEBIJAKAN: Sarana transportasi terdiri dari: 1. Apabila system pre hospital telah terbentuk. TUJUAN: Memindahkan penderita/korban bencana dengan penderita/korban ke sarana kesehatan yang memadai.maka dapat dilakukan : Penilaian assessment sekaligus resusitasi terhadap problem yang mengancam jiwa penderita ( ABCDE ). Peralatan medis dan non medis. sebelum dilakukantransportasi maka penderita gawat darurat harus dilakukan stabilisasi agar penderitaselamat selama transportasi sampai ke rumah sakit tujuan dengan kondisi yang stabil (ABCDE tidak semakin memburuk ). . misal : Mempertahankan kelancaran jalan nafas / airway Member therapy oksigen Member bantuan ventilasi mekanik TRANSPORTASI PASIEN / HELPER SAAT KEADAAN BENCANA PENGERTIAN: Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit. StabilisasiMerupakan tindakan yang harus dilakukan terhadap penderita gawat darurat agarkondisi penderita ( ABCDE ) tidak semakin buruk atau meninggalkan cacat dikemudian hari. Serangkaian tugas harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih oleh pihak rumah sakit.Masyarakat awam atau awam khusus diharapkan mampu melakukan : Bantuan hidup dasar ( Basic Life Support ) Mengatasi perdarahan eksternal Memasang pembalut dan bidai Memilih sarana transportasi yang sesuaiApabila yang datang ke tempat kejadian adalah tim gawat darurat ( Ambulan 118 ). Kendaraan pengangkut (ambulance) aman tanpa memperberat keadaan 2. menentukan rumah sakit penerima penderita dan memberikan informasimengenai kondisi penderita kepada rumah sakit yang akan dituju sehingga rumah sakit tersebut dapat memberikan tenaga dan sarana yang diperlukan.Dengan demikian tidak terjadi keterlambatan penanggulangan penderita di Unit GawatDarurat. maka tim gawat darurat ( Ambulan 118 )yang mendatangi penderita gawat darurat ditempat kejadian dapat melakukan stabilisasi. Didalam penanggulangan penderita trauma.transportasi merupakan salah satu factor yang menentukan keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat. Stabilisasi dilakukan secara optimal sesuai dengankemampuan tenaga dan sarana yang tersedia ditempat kejadian.

Perawatan luka dan cedera lain yang diperlukan harus segera diselesaikan.Memasukkan pasien ke dalam ambulance 5. Jika dicurigai adanya cedera spinal. yang kedua setinggi pinggang atau panggul. dan seluruh balut serta bidai harus diperiksa sebelum pasien diletakkan di alat pengangkut pasien. Pasien sakit atau cedera harus distabilkan agar kondisinya tidak memburuk. 3. . Petugas (medis/paramedis) 4. Keadaan luka PROSEDUR: Memindahkan pasien ke ambulans 1. Alat angkut (carrying device) pasien harus memiliki tiga tali pengikat untuk menjaga posisi pasien tetap aman. Pemindahan pasien ke ambulans dilakukan dalam 4 tahap berikut : . Tekanan Darah 4. Patah tulang telah difiksasi b. Gangguan pernafasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi. Kadang-kadang digunakan empat tali pengikat di mana dua tali disilangkan di dada. Obat-obatan life saving dan life support. Pernafasan 3. Perdarahan telah dihentikan 3. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merawat pasien dengan cedera yang sangat buruk atau korban yang telah meninggal.Stabilisasi pasien untuk dipindahkan. misalnya pada keadaan lokasi yang berbahaya atau pasien yang memerlukan prioritas tinggi maka proses pemindahan pasien harus didahulukan sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan dan penanganan emergensi diselesaikan. 8. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk transportasi penderita/korban bencana adalah: a.Pemilihan alat yang digunakan untuk mengusung pasien. dan menjaga privasi. . Yang pertama diletakkan setinggi dada. Pada prinsipnya. Sebelum Diangkat: 1. kapanpun seorang pasien dikategorikan dalam prioritas tinggi. Penyelimutan pasien membantu menjaga suhu tubuh. . melakukan prosedur penanganan emergensi di tempat dia terbaring. 7. Kesadaran 2. Selama perjalanan harus dimonitor : 1. 2. dan yang ketiga setinggi tungkai. memeriksa kondisinya. segera transpor dengan cepat. benda yang menusuk harus difiksasi. Luka-luka telah ditutup 4. Pada saat ambulans datang anda harus mampu menjangkau pasien sakit atau cedera tanpa kesulitan. Denyut nadi 5. Pada beberapa kasus tertentu. 6.3. 4.Memindahan pasien ke ambulans . mencegah paparan cuaca. kepala harus distabilkan secara manual dan penyangga leher (cervical collar) harus dipasang dan pasien harus diimobilisasi di atas spinal board. dan kemudian memindahannya ke ambulans. 2. 9.

Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung. 2. letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. 4. . 5.maka disyaratkan untuk menggunakan tali kekang yang dapat mencegah pasien tergelincir ke depan jika ambulans berhenti mendadak. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. 6. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. 7. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. fungsi motorik. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada tempatnya. Melonggarkan pakaian yang ketat. Amankan posisi tandu di dalam ambulans. Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal. Jika penderita/korban tidak mungkin diangkut dengan tandu misalnya pada penggunaan spinalboard dan hanya bisa diletakkan di atas tandu/usungan ambulans (ambulance stretcher). Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung. pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Posisikan dan amankan pasien. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway). Lakukan pemeriksaan menyeluruh. termasuk memperbaiki pakaian pasien. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. 8. Periksa bidainya. Periksa perbannya. Selama pemindahan ke ambulans. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi 1. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya.10. sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri. ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. 3. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans. dan sensasinya.

10. pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Gabungkan informasi tambahan pasien. dan beri tahu perkiraan waktu kedatangan Anda. Tenangkan pasien. Periksa ulang perban dan bidai.bukan di ruang pasien. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi. Lanjutkan perawatan medis emergensi selama dibutuhkan. dan lakukan hal lain yang diperlukan termasuk mencatat temuan baru dari usaha pemeriksaan awal (initial assesment) pasien. Bicaralah dengan pasien. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan. memeriksa perban dan bidai. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. 1.9. maka Anda dapat mulai mencari informasi baru dari pasien. Peningkatan denyut nadi secara tiba-tiba misalnya. lakukan resusitasi. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Catat vital sign dan laporkan perubahan yang terjadi pada anggota staf bagian emergensi segera setelah mencapai fasilitas medis. Adalah hal yang sangat membantu jika Anda memang secara rutin selalu meletakkan . tas. 13. Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan Anda. Pastikan bahwa UGD mengetahui adanya henti jantung. 4. Beri tahu pengemudi untuk menjalankan ambulans lagi setelah memastikan bahwa henti jantung telah teratasi. 3. Beberkan informasi hasil pemeriksaan dan penanganan pasien yang sudah Anda lakukan. 5. biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi . Bercakap-cakap terkadang berguna untuk menenangkan pasien yang ketakutan. Naikkan barang-barang pribadi. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. menenangkan pasien. tapi kendalikan emosi Anda. 7. pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. dapat menandakan syok yang dalam. maka prosedur tersebut harus dilanjutkan selama perjalanan ke rumah sakit. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. Jika terdapat tanda-tanda henti jantung. atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta. 11. koper. 6. Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan monitor terus vital sign. Lakukan penilaian ulang vital sign setiap 5 menit untuk pasien tidak stabil dan setiap menit untuk pasien stabil. Jika pasien sudah sadar dan Anda telah mempertimbangkan bahwa perawatan emergensi selanjutnya tidak akan terganggu. 2. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. melonggarkan pakaian. berikan dukungan emosional. Pertahankan pembukaan jalan nafas. Jika dompet. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit. beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. Jika usaha bantuan hidup (life support) telah dimulai sebelum memasukkan pasien ke dalam ambulans. Jika barang pasien telah Anda bawa. maka tahap persiapan. bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit. minta pengemudi untuk menghentikan ambulans sementara Anda melakukan Resusitasi dan memberikan AED (defibrilator). 12. Perawatan Pasien selama Perjalanan.

Korban yang tingkat kegawatannya tinggi dan beresiko mati. Komunikasikan rencana untuk mengangkat dan mengangkut dengan rekan anda. 7. Sebelum mengangkat penderita perlu memperhatikan beberapa hal seperti berapa berat objek. 3. Petugas evakuasi harus membekali diri dengan segala keperluan pribadi serta membekali diri dengan membawa alat dan obat untuk pertolongan pertama. Petugas lapangan menilai tingkat kegawatan korban untuk korban luka ringan dan sedang di beri pertolongan pertama di tempat kejadian atau pos kesehatan lapangan. Jika benda-benda berharga pasien dipercayakan penuh pada penjagaan anda. Menentukan skalasi bencana . Minta diri untuk meninggalkan rumah sakit. sehingga rumah sakit dapat mempersiapkan diri. 2. Beritahu setiap perubahan kondisi pasien yang telah Anda amati. lebih baik ditinggalkan terlebih dahulu. PROSEDUR: 1. Memindahkan Pasien Ke Unit Gawat Darurat : Dampingi staf UGD bila dibutuhkan dan berikan laporan lisan atas kondisi pasien Anda. Menyampaikan hasil survey awal ke rumah sakit. siapkan laporan perawatan pra rumah sakit.jumlah korban. 1.1. bantalan keras di antara matras pelbet (cot) dan punggung pasien yang memiliki resiko tinggi mengalami henti jantung. . Korban luka berat segera dievakuasi ke RS rujukan wilayah/RS Polri / RS TNI terdekat. Segera setelah Anda tidak lagi menangani pasien. sisa SDM dan akses jalan menuju lokasi bencana. 2. Mendahulukan korban yang masih bernyawa dan kemungkinan besar dapat diselamatkan. 5. Korban yang memerlukan perawatan lebih lanjut dapat dievakuasi ke pusat rujukan melalui jalan darat/sungai/laut/udara sesuai sarana yang dimiliki. KEBIJAKAN 1. 2. 2. luas wilayah. 3. EVAKUASI KORBAN BENCANA PENGERTIAN Memindahkan korban/penderita bencana dari lokasi bencana ke tempat yang lebih aman dan mengusahakan penderita/korban yang masih bernyawa untuk dapat diselamatkan. Korban luka ringan dan sedang diperlakukan sama seperti masyarakat umum. Memindah Dan Mengangkat Penderita/Korban : 1. 4. 6..sarana dan prasarana yang tersisa. Bertanyalah kepada dokter atau perawat UGD apakah layanan anda masih dibutuhkan. Serahkan barang-barang pribadi pasien ke pihak rumah sakit. segera serahkan kepada staf UGD yang bertanggung jawab. TUJUAN Menyelamatkan nyawa penderita/korban yang masih hidup dan memindahkan penderita/korban yang sudah tidak bernyawa. 3. apakah memerlukan bantuan tambahan dalam mengangkat dsb.jenis penyakit. 4.

o Hindari berputar ketika menjangkau. jangan berputar atau membuat gerakan lain selain mengangkat. o Ketika mengangkat. Pada saat mengangkat penderita. 4. o Hindari menjangkau lebih dari 15-20 inchi di depan tubuh anda. Pada saat mendorong atau menarik penderita. jika memungkinkan gunakan kursi tangga daripada tandu. jangan mengkompensasi. Diantaranya: o Lebih baik dorong daripada tarik. o Jaga beban dekat dengan tubuh anda. Diantaranya: o Jaga punggung tetap dalam posisi lurus/ terkunci. dorong atau tarik dari posisi berlutut. o Hindari menjangkau yang berkepanjangan ketika diperlukan usaha yang besar 5. Semakin jauh beban dari tubuh anda. Kaki harus kokoh. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. Diantaranya: o Posisikan kaki dengan baik. Pada saat menjangkau penderita. o Ketika mengangkat. o Hindari bersandar ke sisi manapun. o Jaga garis tarikan melalui pusat tubuh anda dengan menekuk lutut. bukan punggung anda untuk mengangkat. o Hindari mendorong atau menarik melebihi kepala. o Jaga punggung tetap lurus/terkunci. semakin besar kemungkinan anda cedera. Jaga punggung anda tetap lurus dan terkunci. jika memungkinkan. Usaha untuk berbelok atau berputar ketika mengangkat merupakan penyebab utama cedera. o Ketika membawa penderita pada tangga. o Jika beban dibawah pinggang. menapak pada permukaan dan diposisikan sepanjang lebar bahu. gunakan kaki anda. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera.3. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. o Ketika mengangkat dengan satu tangan. o Jaga beban sedekat mungkin dengan tubuh anda. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful