menemukan suatu campuran kapur dan tanah liat yang akan mengeras dibakar ( Hydroulic Lime ) . padat dan keras. membentuk satu kesatuan massa yang kompak. james Parker (1797) yang meneliti Roman Cement yang berasal dari batu kapur dan batu silica LJ Vicat (Perancis. penulis membuat benda uji berbentuk kubus dengan ukuran 5 cm x 5cm x 5cm sebanyak 5 variasi penambahan aditif dengan 3 benda uji pada setiap umur morta dan umur yang dipakai untuk perencanaan adalah 3.Tentang hubungan antara penambahan Lime Stone terhadap % residu pada material semen PCC (Portland Composite Cement) maka perlu diadakan penelitian lanjutan terhadap adanya pengaruh perbedaan karakteristik type semen Ordinary Portland Cement dengan type Portland Composite Cement terhadap kuat tekan pada mortar dengan adanya optimasi penambahan zat aditif Fly Ash dan Trass pada mutu semen PCC (Portland Composite Cement). hanya sedikit yang diketahui tentang susunan kimiawinya. serta penggunaan tanah liat untuk bangunan oleh orang-orang Assyria dan Babilonia di Timur Tengah. terbukti dengan banyaknya bangunan atau peninggalan sejarah yang menggunakan semen yang masih berdiri sampai sekarang. Saylor ( Amerika Serikat. Sejarah penggunaan semen sebenarnya telah dimulai berabad-abad yang lalu. serta David O. 7. Baru pada akhir abad 17 setelah Revolusi Industri yang bermula dari daratan Eropa.1780) . banyak peneliti dan ilmuwan berusaha mengembangkan proses pembuatan semen dengan metode yang lebih baik. 14. Dari peneliti-peneliti tersebut. Untuk percobaan mortar. 21dan 28 hari. Joseph Aspdin memperoleh hak paten dengan penemuannya mengenai sejenis semen yang didapatkan dari kalsinasi campuran batu kapur dengan tanah liat dan menggiling hasilnya menjadi bubuk halus yang kemudian dikenal dengan nama . Semen berasal dari bahasa latin “ CAEMENTUM ” yang berarti bahan perekat.1850 ). misalnya Piramida dan Sphinx di mesir. Meskipun penggunaan mineral semen telah dilakukan berabad-abad lamanya. Semen merupakan senyawa/zat pengikat hidrolis yang terdiri dari senyawa C-S-H ( Kalsium Silikat Hidrat ) yang apabila bereaksi dengan air akan dapat mengikat bahanbahan padat lainnya.1824). Colloseum dan jaringan – jaringan Aquaduct (pengairan) di romawi.1956) yang ditugaskan untuk membangun sebuah mercu suar di Selat Inggris. Big Bryan (Inggris. tercatat antara lain John Smeaton (Inggris.

Syarat utama kimia dan fisika 2. Sifat – Sifat Semen Sifat fisika dan kimia masing-masing jenis semen memiliki karakteristik yang berbeda-beda yang harus memenuhi syarat kimia dan fisika. 4 buah pabrik semen tanur tegak berdiri di Inggris). Proses ini akhirnya menghasilkan perpanjangan setting time. Mekanisme terjadinya setting dan hardening yaitu ketika terjadi pencampuran dengan air. periode ini disebut Dormant Periode yang terjadi selama 1-2 jam.Al2O3. hilang pijar dan lain-lain. Maka untuk mengatur pengikatan perlu ditambahkan gypsum dan bereaksi dengan 3CaO. . 3H2 O kembali sampai gypsum habis. Syarat mutu tersebut antara lain kandungan senyawa dalam semen Portland. membentuk lapisan etteringete yang akan membungkus permukaan senyawa tersebut.Al2O3. Untuk menjaga tetap terjaminnya mutu semen Portland maka syarat kimia dan fisika harus terus diperhatikan.1 Sifat Fisika a) Pengikatan dan Pengerasan ( Setting Time dan Hardening ). Selain itu tercatat nama seorang ilmuwan I.“ Portland Cement ”. dan selama itu pasta masih dalam keadaan plastis dan mudah dibentuk.C Johnson yang berjasa meletakkan dasar-dasar proses kimia pada pembuatan semen. 3H2 O. Dua puluh tahun setelah hak paten dari Joseph Aspdin. periode ini berakhir dengan pecahnya coating dan reaksi hidrasi terjadi kembali dan initial set mulai terjadi. kehalusan semen. maka akan terjadi air dengan C3 A membentuk 3CaO. barulah semen mulai diproduksi dengan kualitas yang dapat diandalkan (Tahun 1850. Namun karena ada peristiwa osmosis lapisan etteringete akan pecah dan reaksi hidarsi C3A akan terjadi lagi.Al2O3. Peristiwa diatas mengakibatkan reaksi hidarsi tertahan.4. 3H2 O yang bersifat kaku dan berbentuk gel. namun akan segera terbentuk lapisan etteringete kembali yang akan membungkus 3CaO. residu.

Al2 O3. dan reaksi yang terjadi dapat mengahsilkan pengembangan volume sehingga akan terjadi keretakan pada beton.SiO2 terjadi dan menghasilkan C–S–H (3CaO. Reaksi : Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + CO2 + H2O CaCO3 + H2O Ca (HCO3)2 Berbagai macam sulfat umumnya dapat menyerang beton ataupun mortar. 2H2O 3CaO. HCl merubah C4AF menjadi FeCl2 Serangan asam tersebut terjadi karena CO2 bereaksi dengan Ca(OH)2 dari semen yang terhidrasi membentuk kalsium karbonat yang tidak larut dalam air .SiO2) + 6 H2O 2(CaO. Sulfat bereaksi dengan (Ca(OH)2 dan kalsium aluminat hidrat.3Ca 3CaO.2SiO2. reaksi dari 3CaO. Misalnya. 2H2O + Mg(OH) 2 3CaO. yang umumnya serangan asam tersebut yaitu dengan merubah kontruksi-kontruksi yang tidak larut dalam air. lalu proses pengerasan mulai terjadi.6H2 O + 3(Ca SO4.3 H2O + Ca(OH) 2 3CaO.pembentukan kalsium karbonat.3 H2O + Ca(OH) 2 Ca SO4. sebenarnya tidak menimbulkan kerusakan pada beton tetapi proses berikutnya yaitu CO2 dalam air akan bereaksi dengan kalsium karbonat yang larut dalam air. 2H2O) + 2H2O .Selama periode ini beberapa jam.SiO2) + 4 H2O Ca(OH) 2 + MgSO4 + 2 H2O SO4. Reaksi yang terjadi : 2(CaO.Al2 O3. Pada tahap berikutnya terjadi pengikatan konsentrasi C–S–H yang akan menghalangi mobilitas partikel – partikel semen yang akhirnya pasta menjadi kaku dan final setting tercapai. b) Ketahanan Terhadap Sulfat dan asam Beton atau mortar dari Portland semen dapat mengalami kerusakan oleh pengaruh asam dari sekitarnya.2SiO2.SiO2 ) semen dan akan mengisi rongga dan membentuk titik-titik kontak yang menghasilkan kekakuan.

SiO2) + 6H2O 3CaO.Al2 O3 .2SiO2.Al2 O3 + 6H2O + 3CaSO4.Al2 O3 + 6H2O 3CaO. Reaksi tersebut dapat dikemukakan secara sederhana. C2 S memberikan kontribusi yang besar pada perkembangan kuat tekan awal. Panas Hidrasi Panas hidrasi yaitu panas yang dihasilkan selama semen mengalami reaksi hidarsi.c) Kehalusan Kehalusan dapat mewakili sifat-sifat fisika lainnya terutama terhadap kekuatan. Hasil reaksi hidrasi.Al2 O3. C3A mempengaruhi kuat tekan sampai pada umur 28 hari dan selanjutnya pada umur berikutnya pengaruh ini semakin kecil. sedangkan C2S memberikan kekuatan semen pada umur yang lebih lama.6H2O Kalsium aluminat hidrat 3CaO. e). Kuat tekan dipengaruhi oleh komposisi mineral utama.3H2O + Ca(OH)2 3CaO. tobermorite gel merupakan jumlah yang terbesar.3H2O + 3Ca(OH)2 Tobermorite 3CaO. bertambahnya kehalusan pada umumnya akan bertambah pula kekuatan. Kuat tekan dimaksud sebagai kemampuan suatu material untuk menahan suatu beban tekan. jumlah air yang digunakan dan bahan-bahan lain yang ditambahkan. mempercepat reaksi hidarsi begitu pula waktu pengikatannya semakin singkat.SiO2) + 4H2O 2(3CaO.2SiO2.3CaSO4 32H2O ( Trikalsium sulfoaluminat) . sekitar 50% Dari jumlah senyawa yang dihasilkan. Reaksi hidarsi atau reaksi hidrolisis sendiri adalah reaksi yang terjadi ketika mineral-mineral yang terkandung didalam temperature. d) Kuat Tekan ( Compressive Strength ) Kuat tekan merupakan sifat yang paling penting bagi mortar ataupun beton.2H2O 3CaO. sebagai berikut : 2(CaO.

Sebagai sumber utama SO3 yang sering banyak digunakan adalah gypsum. .4CaO. b) Magnesium oksida (MgO) Pada umumnya semua standard semen membatasi kandungan MgO dalam semen Portland. Fe2 O3 6H2O Kalsium Aluminoferrite hidrat Untuk semen yang lebih banyak mengandung C3S dan C3 A akan bersifat mempunyai panas hidrasi yang lebih tinggi.Fe2 O3 + XH2O 3CaO. Karena kalau pemberian retarder terlalu banyak akan menimbulkan kerugian pada sifat expansive dan dapat menurunkan kekuatan tekan.Al2 O3 . c) SO3 Kandungan SO3 dalam semen adalah untuk mengatur/memperbaiki sifat setting time (pengikatan) dari mortar (sebagai retarder) dan juga untuk kuat tekan. 2. karena MgO akan menimbulkan magnesia expansion pada semen setelah jangka waktu lebih daripada setahun. berdasarkan persamaan reaksi sbb : Mg O + H2O Mg (OH) 2 Reaksi tersebut diakibatkan karena MgO bereaksi dengan H2O Menjadi magnesium hidroksida yang mempunyai volume yang lebih besar.Al2 O3 6H2O + 3CaO.4. d) Hilang Pijar (Loss On Ignition) Persyaratan hilang pijar dicantumkan dalam standard adalah untuk mencegah adanya mineral-mineral yang dapat diurai dalam pemijaran.2 Sifat Kimia a) Lime saturated Factor (LSF) Batasan agar semen yang dihasilkan tidak tercampur dengan bahan-bahan alami lainnya.

C2S. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dicampurnya semen dengan bahan-bahan alami lain yang tidak dapat dibatasi dari persyaratan fisika mortar. karena pengukurannya membutuhkan peralatan mikroskopik yang mahal. C4AF) Pada umumnya standard yang ada tidak membatasi besarnya mineral compound tersebut. Tetapi karena C3A bereaksi terhadap sulfat. dimana metamorfosa tersebut dapat menimbulkan kerusakan. C3A . adanya kandungan C3A dalam semen pada dasarnya adalah untuk mengontrol sifat plastisitas adonan semen dan beton. apabila dipakai agregat yang mengandung silkat reaktif terhadap alkali. f) Alkali (Na2O dan K2O) Kandungan alkali pada semen akan menimbulkan keretakan pada beton maupun pada mortar. . Oleh karena itu tidak semua standard mensyaratkannya. g) Mineral compound (C3S. Tetapi ada standard yang mensyaratkan mineral compound ini untuk jenisjenis semen tertentu. Apabila agregatnya tidak mengandung silikat yang reaktif terhadap alkali. maka untuk pemakaian di daerah yang mengandung sulfat dibatasi. maka kandungan alkali dalam semen tidak menimbulkan kerugian apapun. Mineral compound tersebut dapat di estimasi melalui perhitungan dngan rumus. e) Residu tak larut Bagian tak larut dibatasi dalam standard semen.Kristal mineral-mineral tersebut pada umumnya dapat mengalami metamorfosa dalam waktu beberapa tahun. Karena reaksi antara C3A dengan sulfat dapat menimbulkan korosi pada beton. meskipun perhitungan tidak teliti. Salah satu mineral yang penting yaitu C3A. misalnya ASTM untuk standard semen type IV dan type V.

Kuat tekan merupakan kemampuan semen untuk menahan beban yang diberikan. sehingga dari kedua semen diatas ada kelebihan atau keunggulan masing-masing semen tersebut seperti yang terlihat pada table dibawah. Semen PCC merupakan turunan oleh semen OPC (Ordinary Portland Cement) yang bahan baku pembuatannya sama dengan bahan baku OPC (Ordinary Portland Cement) tetapi pada Type semen PCC ditambahkan pula aditif selain Gypsum ada Zat Aditif lain yang ditambahkan yang tidak terdapat pada semen OPC yaitu : Lime stone. 21 dan 28 hari. Ketiga Aditif tersebut mempunyai kontribusi yang sangat-sangat penting sehingga semen type PCC (Portland Composite Cement) mempunyai kualitas yang dihasilkan lebih baik dari semen type OPC (Ordinary Portland Cement). . Besar kecilnya kuat tekan yang diberikan oleh semen merupakan parameter terhadap kualitas semen. Fly Ash dan Trass. 14. Pengaruh kuat tekan dari masing-masing type jenis semen pada tiap-tiap umur rencana dapat dilihat pada table 5. Ada beberapa factor yang mempengaruhi terhadap kuat tekan semen yaitu kehalusan. Analisis terhadap kuat tekan semen dilakukan dengan cara memberikan tekanan terhadap mortar yang telah dilakukan perendaman sebelumnya dengan air kapur selama 3.ITP Tbk.1 – 5. secara umum dapat dilihat adanya perbedaan hasil kuat tekan pada tiap-tiap umur rencana dari masing-masing type jenis semen dan ini membuktikan bahwa type jenis semen mempunyai karakteristik yang berbeda dan sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap kualitas. dan senyawa kimia didalam semen.2.5 SEMEN PCC ( Portland Composite Cement) Semen komposit Portland (PCC) merupakan semen produk terbaru yang dikeluarkan oleh PT. umur rencana. workability.5 dibawah ini. Dari hasil table quality Character type semen OPC dan PCC dibawah ini dapat diketahui data kuantitatif melalui beberapa macam percobaan dengan menggunakan metode-metode yang sesuai dengan beberapa buku pedoman. Pengaruh perendaman adalah untuk mengkondisikan mortar agar senyawa yang terdapat didalam semen stabil. residu. 7. daya dukung atau kuat tekan dari beton yang dihasilkan dan yang terpenting adalah aplikasi atau penggunaan dari type jenis semen tersebut yang terkadang konsumen hanya tinggal menggunakannya saja tanpa memperhatikan type jenis semen tersebut dan pengaplikasikannya.

Kekuatan semen tergantung pada kekuatan mekanik dalam keadaan kaku (set) dan keras.Kuat tekan kedua semen tersebut memiliki perbedaan dari bahan yang digunakan seperti air. Pengukuran waktu pengikatan (setting time) dibagi menjadi 2 yaitu : waktu pengikatan awal (initial set) dan waktu pengikatan terakhir (final set). Air digunakan sebagai mencari data Flow table yang sudah ditentukan. Dengan kebutuhan air setiap sample semen untuk membuat pasat standard (Normal Consistensi / NC) pada percobaan ini yaitu pada type semen PCC sebesar 25. Flow table berfungsi untuk mencari kelecakan atau penyebaran semen yang telah dicampur dengan pasir.63 % dan semen Type OPC sebesar 25. Berikut table Quality character type jenis OPC dan PCC. Tetapi pada waktu pengikatan terakhir (final set) pada type semen PCC waktu pengikatannya lebih cepat bila dibandingkan dengan semen type OPC sebesar 285 menit dan 345 menit. Dari hasil analisa data pengujian dalam penelitian ini dan memperhatikan perkembangan nilai kuat tekan serta pengamatan terhadap karakteristik suatu mortar dengan penggunaan type jenis semen yang berbeda-beda dalam suatu campuran mortar. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Nilai kuat .45 dalam hal ini waktu pengikatan awal dan final masih sesuai dengan syarat yang sudah ditentukan yaitu untuk pengikatan awal minimum selama 45 menit dan pengikatan awal maksimum selama 375 menit. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan Zat Aditif seperti yang terjadi pada type semen PCC (Portland Composite Cement) yang menggunakan Zat Aditif Fly Ash dan Trass dapat meningkatkan kuat tekan pada semen. Penambahan gypsum pada semen akan menghambat waktu pengikatan pada proses pengerasan semen karena gypsum dapat mengatur reaksi antara 3 Cao Al2O3 (C3A) dengan air agar tidak terlalu cepat mengeras. Selain kuat tekan juga ada factor lain yang mempengaruhi kuat tekan pada mortar yaitu setting time. Kekuatan ini disebabkan oleh kohesi partikel-partikel semen dan adhesi terhadap pasir atau agregat lain yang dicampur sebagai adukan. sehingga flow table sangat penting dalam mencari kuat tekan pada semen. Jadi waktu pengikatan pada semen type PCC yaitu pada waktu pengikatan awal (initial set) sebesar 167 menit lebih lama jika dibandingkan dengan semen OPC yaitu sebesar 145 menit.

hal ini terjadi karena Limestone mempunyai bentuk fisik yang mudah halus. kadar SO3. Jika dalam semen mengandung residu yang tinggi maka ekspansi (pemuaian semen) dan keretakan akan mudah terjadi. hilang pijar (LOI). .tekan dari perbandingan Zat Aditif Fly Ash dan Trass (1 : 1) lebih besar nilainya dibandingkan Zat Aditif Fly Ash dan Trass ( 0:1 ) dan Penambahan Zat Aditif Fly Ash dan Trass pada semen PCC (Portland Composite Cement) bisa menggantikan peranannya sebagai klinker dan penambahan klinker pada semen menjadi lebih sedikit / irit bahan baku. sehingga dengan nilai kehalusan tersebut Limestone dapat menutup rongga-rongga yang terdapat didalam semen adapun Semen dengan mutu bagus memiliki residu yang kecil. 2. residu 45 μm dan lain-lain. artinya partikel tersebut kecil dan nantinya akan berpengaruh terhadap setting. Pada type semen PCC (Portland Composite Cement) untuk memperlambat terjadinya proses pembekuan semen maka kedalam semen ditambahkan gypsum sebagai bahan yang akan memperlambat proses pembekuan awal semen (Initial Set) yang terjadi pada umur 3 hari. Penambahan Zat Aditif Limestone dapat berfungsi meningkatkan kuat tekan . Kuat tekan semen juga dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain kehalusan (Blaine).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful