TUGAS MATA KULIAH

HUKUM ISLAM

“SEJARAH

PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM”

UNIVERSITAS PADJADJARAN Nama : Fauzi Rahman NPM : 110110100373

1

SEJARAH PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM Dalam menyusun sejarah pembentukan dan pembinaan hukum (fiqh) Islam. yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syekh Muhammad Khudari Bek dalam bukunya. al-Madkhal al-Fiqhi al-'Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H. Periode sejak munculnya Majalah al-Al-Akam al-'Adliyyahsampai sekarang. Apabila ayat AlQur'an tidak turun ketika ia menghadapi suatu masalah. sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul. Periode awal. Ia membagi periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode. Cara kedua. Periode Kedua Masa al-Khulafa' ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad ke-l H. Sumber hukum Islam ketika itu adalah Al-Qur'an. Pada periode ini. Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. Istilah fiqh dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal ketika itu. dikalangan ulama fiqh kontemporer terdapat beberapa macam cara. yaitu: 1. ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang sama. dan 6. Cara pertama. Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode. Dua diantaranya yang terkenal adalah cara menurut Syekh Muhammad Khudari Bek (mantan dosen Universitas Cairo) dan cara Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar fiqh Islam Universitas Amman. dan 2. maka ia. Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al'Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H. Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265]) sampai sekarang. 5. Secara lengkap periodisasi sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa adalah sebagai berikut. Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang 2 . kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW. pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam bukunya.Tarikh at-Tasyri' al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum Islam). Yordania). 2 Periode para sahabat besar. dengan bimbingan Allah SWT menentukan hukum sendiri. Periode pertama Masa Rasulullah SAW. Ia setuju dengan pembagian Syekh Khudari Bek sampai periode kelima. yaitu: [1] 1. Periode berkembangnya mazhab dan munculnya taklid mazhab. 4. tetapi ia membagi periode keenam menjadi dua bagian. 3. Periode sahabat kecil dan thabi'in.

maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah ditinggalkan Rasulullah SAW.[3] Dalam keadaan seperti ini. tidak mengherankan jika ulama Irak banyak menggunakan logika dalam berijtihad. bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin berkembang karena perbedaan budaya di masing-masing daerah. [4] 3 . Madrasah alHijaz dikenal sangat kuat berpegang pada hadits karena mereka banyak mengetahui haditshadits Rasulullah SAW. Artinya. Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits(madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra'yu. Di samping itu. bukan teori. yaitu golongan Khawarij dan Syi’ah. baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada mereka terbatas. Sampai timbulnya segi-segi kelemahan pada akerajaan Arab yakni pada awal abad ke II H. Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz danMadrasah alMadinah. setelah ia wafat. Oleh sebab itu. para sahabat besar melihat bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam masyara'at tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an atau sunnah Rasulullah SAW. Ulama Hijaz (Hedzjaz) berhadapan dengan suku bangsa yang memiliki budaya homogen. Kedua aliran ini menganut prinsip yang berbeda dalam metode ijtihad.menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. dibandingkan dengan yang dihadapi Madrasah alHijaz. periode ini dimulai dengan bersatunya pendapat jumhur Islam pada Mu’awiyah bin Abu Sufyan. masih tetap ada yang menyembunyikan perselisihan dan tipu daya terhadap Mu’awiyah dan keluarganya. sedangkan ulama Irak berhadapan dengan masyara'at yang relatif majemuk. ketentuan hukum bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja. Oleh karena itu tahun 41 Hijriyah disebut ‘amul jama’ah (tahun persatuuan Islam) hanya saja benih perselisihan politik tidak padam. sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan beragam. rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi. Pada periode ketiga ini pengaruh ra'yu (ar-ra'yu. Ketika itu para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan itu. di samping kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat sederhana dan pemecahannya tidak banyak memerlukan logika dalam berijtihad. pemikiran tanpa berpedoman kepada Al-Qur'an dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena ulamaMadrasah al-hadits juga mempergunakan ra'yu dalam fiqh mereka. Mereka itu dua golongan. Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh di zaman Rasulullah SAW. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. yaitu bersifat aktual. di Irak muncul pula fiqh Syiah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh Ahlusunnah wal Jama'ah (imam yang empat). para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. Ditambah lagi. Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah atau sendiri. sedangkan Madrasah ar-ra'yu dikenal dengan sebutan Madrasah alIraq dan Madrasah al-Kufah. tidak merambat kepada kasus lain secara teoretis. Oleh sebab itu. Sedangkan Madrasah alIraq dalam menjawab permasalahan hukum lebih banyak menggunakan logika dalam berijtihad. Periode Ketiga Periode ini dimulai dari pemerintahan Mua’wiyah bin Abu Sufyan tahun 41 Hijiriyah.

sedangkan sebelum periode ini. Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada dalam mazhab daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam mazhabnya untuk melakukan ijtihad. Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taklidserta ta'assub (fanatisme) mazhab. Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar. dan 3. hal ini pun. yaitu Mazhab Hanafi. memperluas atau meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masing-masing. Munculnya buku-buku fiqh yang disusun oleh masing-masing mazhab. tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat mazhab secara jumud (konservatif). Pertentangan antara Madrasah alhadits dengan Madrasah ar-ra'yu semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra'yu dalam berijtihad. karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain. Lebih jauh. Mesir. Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqh. Mazhab Maliki. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. Periode Kelima Pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup. Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari. Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan beberapa penyebab yang menjadikan tertutupnya pintu ijtihad pada periode ini. sehingga hukum fiqh yang diterapkan hanyalah hukum fiqh mazhabnya. bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama. Munculnya sikap ta'assub madzhab (fanatisme mazhab imamnya) di kalangan pengikut mazhab. Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara' dalam menetapkan hukum. yaitu sebagai berikut: 1. Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini. Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ulama semakin berkembang. bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab. guru besar fiqh di Universitas al-Azhar. Periode Keenam Pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah pada tahun 1286 H. Periode Ketujuh Sejak munculnya Majalah al-Ahkam al.'Adliyyahsampai sekarang. membuat umat Islam mencukupkan diri mengikuti yang tertulis dalam buku-buku tersebut. yaitu: 4 . seperti yang diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah. 2. para hakim yang ditunjuk oleh penguasa adalah ulama mujtahid yang tidak terikat sama sekali pada suatu mazhab.Periode Keempat Pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 H. Dipilihnya para hakim yang hanya bertaqlid kepada suatu mazhab oleh pihak penguasa untuk menyelesaikan persoalan. khususnya mazhab yang empat. Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab.

tidak hanya ulama fiqh. Memilih pendapat terkuat dari berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan. Munculnya Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi. dengan syarat bahwa pendapat itu lebih tepat dan sesuai. baik bidang perdata. pembentukan dan pengembangan hukum Islam tersebut. Pada abad ke-19 muncul berbagai pemikiran di kalangan ulama dari berbagai negara Islam untuk mengambil pendapat-pendapat dari berbagai mazhab serta menimbang dalil yang paling kuat diantara semua pendapat itu. di samping memerlukan waktu yang lama. sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai mazhab dan sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat. tidak harus mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang ada. Oleh sebab itu. tetapi juga dari para sahabat dan thabi'in. Untuk mencapai tujuan ini dibentuklah sebuah panitia kodifikasi hukum perdata. seperti bidang kedokteran dan sosiologi. maupun ketatanegaraan. Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majalahal-Ahkam al'Adliyyah dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan diterapkan di pengadilan. maka pada tahun 1333 H pemerintah Turki Usmani menyusun kitab hukum keluarga (al-Ahwal asy-Syakhsiyyah) yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat mazhab. tetapi dengan melakukan ijtihad kembali ke sumber aslinya. Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam. hukum fiqh menjadi lebih akomodatif jika dibandingkan dengan hukum fiqh dalam kitab berbagai mazhab. pemerintah Turki Usmani berpendapat bahwa harus ada satu kitab fiqh/hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan. Setelah berhasil dengan penyusunan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah. [6] Ali Hasaballah. Menurutnya. Bersumber dari berbagai pendapat atas pendapat terkuat dari berbagai mazhab. 2. ahli fiqh dari Mesir. Akan tetapi.1. 5 . mazhab. dan Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh 3. menurutnya. pidana. Pengambilan pendapat dilakukan tidak saja dari mazhab yang empat. sesuai dengan kebutuhan zaman. ijtihad jama'i (kolektif) harus dikembangkan dengan melibatkan berbagai ulama dari berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian. tetapi juga ulama dari disiplin ilmu lainnya. Pada tahun 1286 H panitia ini berhasil menyusun hukum perdata Turki Usmani yang dinamai dengan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah yang terdiri atas 1. para penguasa di negeri-negeri Islam yang tidak tunduk di bawah kekuasaan Turki Usmani mulai pula menyusun kodifikasi hukum secara terbatas. mengatakan bahwa upaya penerapan hukum Islam di berbagai neqara Islam semakin tampak. yaitu Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.851 pasal.

kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang muslim. VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan.Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian ahli sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah. atau yang lebih dikenal dengan VOC. Karena itu disamping menjalankan fungsi perdagangan. Mataram dan Cirebon. Kerajaan ini dikenal dengan nama Samudera Pasai. lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak. Sebagai sebuah organisasi dagang. yaitu: Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC. Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di setiap kesultanan tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang telah berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu. Berkembangnya komunitas muslim di wilayah itu kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam pertama di Tanah air pada abad ketiga belas. kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate serta Tidore. Aceh Timur. VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka jalankan. Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan nusantara. Akibatnya. Ia terletak di wilayah Aceh Utara. gerakan dakwah itu kemudian membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak. Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17. penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. atau pada sekitar abad ketujuh dan kedelapan masehi. Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan Malaka. 6 . VOC dapat dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah nusantara kemudian menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Dalam kenyataannya. dinyatakan bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam. Hal ini sangat dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan VOC sebagai perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. Secara perlahan. Kesultanan-kesultanan tersebut sebagaimana tercatat dalam sejarah. Dan kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan nusantara. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka bawa. dapat dicatat beberapa “kompromi” yang dilakukan oleh pihak VOC. Kaitannya dengan hukum Islam. itu tentu saja kemudian menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku.

Gowa dan Bone. Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik Hukum yang Sadar. mereka menyadari bahwa Islam adalah suatu kekuatan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan. yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan hukum Belanda. ia belum diterima oleh hukum adat setempat). — Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945) Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir dengan lahirnya apa yang disebut dengan Piagam Jakarta. Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 kemudian membentuk komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di Jawa dalam memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan. Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama yang terlatih di masjid-masjid atau pengadilan-pengadilan Islam. Kalimat kompromi paling penting Piagam Jakarta terutama ada pada 7 . seperti di Semarang. Abikusno Tjokrosujoso menyatakan bahwa. Scholten van Oud Haarlem. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium Freijer. Bila ingin disimpulkan. Pemerintah Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang agama. Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang tidak ada perubahan berarti bagi posisi hukum Islam selama masa pendudukan Jepang di Tanah air. Cirebon.Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat. selama tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum. masa pendudukan Jepang lebih baik daripada Belanda dari sisi adanya pengalaman baru bagi para pemimpin Islam dalam mengatur masalah-masalah keagamaan. — Pada tahun 1925. yang intinya perkara perdata sesama muslim akan diselesaikan dengan hakim agama Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan tidak ditentukan lain oleh sesuatu ordonasi. Namun bagaimanapun juga. lembaga-lembaga dan kebiasaan pribumi dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka. Belanda menjalankan kebijakan politik yang memperlemah posisi Islam. — Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje. Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942. Kebijakan pemerintah Belanda telah memperlemah posisi Islam. Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam di bawah subordinasi dari hukum Belanda. Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. Ketika pasukan Jepang datang. dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische Staatsregeling (yang isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement). maka upaya pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah sebagai berikut : — Pada pertengahan abad 19.

Demikian pula dengan batang tubuhnya. Namun bagaiamana dalam tataran aplikasi? Lagi-lagi faktor-faktor politik adalah penentu utama dalam hal ini. sangat sulit untuk dikatakan sebagai konstitusi yang menampung aspirasi hukum Islam. Majlis ini dibubarkan melalui Dekrit Presiden yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli 1959. Kartosuwirjo sesungguhnya telah memproklamirkan negara Islamnya pada tanggal 14 Agustus 1945. Konstitusi RIS sendiri jika ditelaah. di periode ini. Pengejawantahan kesimpulan akademis ini hanya sekedar menjadi wacana jika tidak didukung oleh daya tawar politik yang kuat dan meyakinkan. Hal penting terkait dengan hukum Islam dalam peristiwa Dekrit ini adalah konsiderannya yang menyatakan bahwa “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni menjiwai UUD 1945” dan merupakan “suatu kesatuan dengan konstitusi tersebut”. atau dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. bahkan menurut Anwar Harjono lebih dari sekedar sebuah “dokumen historis”. Hal lain yang patut dicatat di sini adalah terjadinya beberapa pemberontakan yang diantaranya “bernuansakan” Islam dalam fase ini. status hukum Islam tetaplah samar-samar. Dari beberapa pertempuran. Indonesia memasuki masa-masa revolusi (1945-1950). Menurut Muhammad Yamin kalimat ini menjadikan Indonesia merdeka bukan sebagai negara sekuler dan bukan pula negara Islam.kalimat “Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Yang paling fenomenal adalah gerakan DI/TII yang dipelopori oleh Kartosuwirjo dari Jawa Barat. Tetapi ketika kontrol RI terhadap wilayahnya semakin merosot akibat agresi Belanda. Hal ini tentu saja mengangkat dan memperjelas posisi hukum Islam dalam UUD. yang bahkan dipengaruhi oleh faham liberal yang berkembang di Amerika dan Eropa Barat. Selama hampir lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Namun delapan bulan sebelum batas akhir masa kerjanya. hingga akhirnya tidak lama setelah Linggarjati. Isa Ashary mengatakan. kejadian mencolok mata sejarah ini dirasakan oleh umat Islam sebagai suatu ‘permainan sulap’ yang masih diliputi kabut rahasia…suatu politik pengepungan kepada cita-cita umat Islam. lahirlah apa yang disebut dengan Konstitusi Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Namun ia melepaskan aspirasinya untuk kemudian bergabung dengan Republik Indonesia. Majelis yang terdiri dari 514 orang itu kemudian dilantik oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1956. maka UUD 1945 dinyatakan berlaku sebagai konstitusi Republik Indonesia yang merupakan satu dari 16 bagian negara Republik Indonesia Serikat. Belanda ingin kembali menduduki kepulauan Nusantara. Dengan berlakunya Konstitusi RIS tersebut. terutama setelah diproklamirkannya Negara boneka Pasundan di bawah kontrol Belanda. dimana ia kemudian mendirikan negara-negara kecil yang dimaksudkan untuk mengepung Republik Indonesia. samasekali tidak menegaskan posisi hukum Islam sebagaimana rancangan UUD 1945 yang disepakati oleh BPUPKI. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan Periode Revolusi Hingga Keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1950. Menyusul kekalahan Jepang oleh tentara-tentara sekutu. Perjuangan mengganti UUD Sementara itu kemudian diwujudkan dalam Pemilihan Umum untuk memilih dan membentuk Majlis Konstituante pada akhir tahun 1955. Mukaddimah Konstitusi ini misalnya. serta rumusan Deklarasi HAM versi PBB. ia 8 . Pada akhirnya. Berbagai perundingan dan perjanjian kemudian dilakukan. Belanda berhasil menguasai beberapa wilayah Indonesia.

Mohammad Dahlan. namun lagi-lagi ketidakjelasan batasan “perhatian” itu membuat hal ini semakin kabur.14/1970. Meskipun hukum Islam adalah salah satu kenyataan umum yang selama ini hidup di Indonesia. Meskipun gagal. Kita dapat melakukan langkah-langkah pembaruan. yang mengakui Pengadilan Agama sebagai salah satu badan peradilan yang berinduk pada Mahkamah Agung. upaya ini kemudian dilanjutkan dengan mengajukan rancangan hukum formil yang mengatur lembaga peradilan di Indonesia pada tahun 1970. Hal ini kemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk mengompilasikan hukum Islam di bidang-bidang tertentu.000 korban tewas itu. Hal ini ditunjukkan oleh K. Sementara kaum muslim di era ini perlu sedikit merunduk dalam memperjuangkan citacitanya. Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada bulan Februari 1988. dan bukan atas dasar apa yang mereka sebut dengan “kesadaran teologis-politis”nya. untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita. 14 Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan.H. dan atas dasar itu Tap MPRS tersebut membuka peluang untuk memposisikan hukum Islam sebagaimana mestinya. dan menginstruksikan penyebarluasannya kepada Menteri Agama. 9 . menurut sebagian peneliti. Namun pemicu konflik yang berakhir di tahun 1962 dan mencatat 25. namun upaya-upaya untuk mempertegasnya tetap terus dilakukan. seorang menteri agama dari kalangan NU. Lalu bagaimana dengan hukum Islam? Meskipun kedudukan hukum Islam sebagai salah satu sumber hukum nasional tidak begitu tegas di masa awal Orde ini. Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde Baru Mungkin tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa Orde Lama adalah eranya kaum nasionalis dan komunis. Hukum Islam di Era Reformasi Upaya kongkrit merealisasikan hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata di era ini. Soeharto sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu. hukum Islam telah berlaku secara langsung sebagai hukum yang berdiri sendiri. Dengan UU ini. terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Dengan demikian. Salah satu buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Nomor 11 Tahun 2002.pun memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1948. dengan sendirinya menurut Hazairin. Dan peran hukum Islam di era inipun kembali tidak mendapatkan tempat yang semestinya. dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam. yang mencoba mengajukan Rancangan Undang-undang Perkawinan Umat Islam dengan dukunagn kuat fraksi-fraksi Islam di DPR-GR. lebih banyak diakibatkan oleh kekecewaan Kartosuwirjo terhadap strategi para pemimpin pusat dalam mempertahankan diri dari upaya pendudukan Belanda kembali. di era reformasi ini. Upaya ini kemudian membuahkan hasil dengan lahirnya UU No.

di era reformasi ini. Salah satu buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Nomor 11 Tahun 2002. dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam. Hukum Islam di Era Reformasi Upaya kongkrit merealisasikan hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata di era ini. Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada bulan Februari 1988. Dengan demikian. terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat melakukan langkah-langkah pembaruan. Hal ini kemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk mengompilasikan hukum Islam di bidangbidang tertentu. untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita. Soeharto sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu. dan menginstruksikan penyebarluasannya kepada Menteri Agama. 10 .Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. 14 Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful