BAB 1 PENDAHULUAN Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga saat ini masih dianggap sebagai suatu

fenomena gunung es, dimana yang tampak hanyalah sebagian kecil saja dari kejadian yang sebenarnya. Meskipun tidak sedikit wanita yang melaporkan tindak KDRT kepada polisi, namun banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa kekerasan merupakan masalah pribadi. Pemahaman inilah yang menyebabkan kasus KDRT dapat berlangsung dengan “aman” dan terjadi berulang. Fenomena kekerasan pada perempuan dan anak akhir-akhir ini banyak menjadi sorotan setelah di berlakukannya UU anti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yaitu UU No. 23 tahun 2004. 1,2 Fakta menunjukkan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup besar bagi wanita sebagai korban pada umumnya. World Health Organization (WHO) dalam World Report pertamanya mengenai “Kekerasan dan Kesehatan” di tahun 2002, menemukan bahwa antara 40 hingga 70 persen perempuan yang meninggal karena pembunuhan, umumnya dilakukan oleh mantan atau pasangannya sendiri. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) memperlihatkan pada tahun 2003 telah terjadi 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 2.703 di antaranya adalah kasus KDRT, dengan korban terbanyak adalah istri, yaitu 2.025 kasus (75%). Tindakan kekerasan terhadap perempuan terus meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun. Tindakan KDRT skala nasional tahun 2008 mencapai 35.398 kasus dan meningkat menjadi 43.000 kasus di tahun 2009. Dan dibandingkan tahun 2009, kasus KDRT pada tahun 2010 meningkat sekitar 6,25%. 1,3 KDRT yang dilakukan khususnya terhadap perempuan oleh pasangannya maupun oleh anggota keluarga dekatnya, sering menjadi permasalahan yang tidak diangkat ke permukaan. Meskipun masyarakat menyadari bahwa kekerasan terhadap perempuan dapat berlangsung setiap saat, fenomena KDRT terhadap perempuan diidentikkan dengan sifat permasalahan ruang privat.2 Pengungkapan kasus KDRT amat memerlukan bantuan dokter di dalamnya. Pengetahuan dokter diperlukan untuk dapat mengidentifikasi tanda-tanda fisik maupun psikologis dari korban yang telah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Karakteristik luka dari korban yang mengalami KDRT seperti bentuk-bentuk luka 1

oleh karena benda tumpul, benda tajam (goresan atau tikaman) atau karena panas hendaknya dapat dibedakan dengan tepat. Kekerasan-kekerasa tersebut dapat menimbulkan tanda atau pola pada kulit yang disebabkan oleh senjata penyebab luka. Selain itu, luka-luka pada KDRT juga biasanya mempunyai pusat distribusi tertentu pada tubuh. Selain akibat fisik yang ditimbulkan oleh pelaku KDRT, akibat non fisik (psikologis) seperti Post traumatic stress disorder (PTSD) maupun pengaruhnya bagi produktivitas korban dalam lingkungannya tidak dapat dielakkan. 4 Sosialisasi terhadap pemberlakuan UU No.23 tahun 2004 kepada masyarakat pada umumnya dan perempuan khususnya mutlak diperlukan. Sebagai korban KDRT, mereka memiliki hak-hak yang diatur dalam undang-undang tersebut. Adapun ketentuan pidana penjara atau denda terhadap pelaku KDRT diatur dalam BAB VIII mulai dari pasal 44 – 53. Terdapat dua pasal yang mengatur tentang hukuman minimal dan maksimal dari pelaku KDRT yaitu pasal 47 dan 48. Untuk membuktikan adanya kasus kekerasan dalam rumah tangga, terdapat alat-alat bukti yang dianggap sah oleh KUHAP, yang diatur dalam pasal 184 meliputi keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.5 Pengaruh negatif dari KDRT beraneka ragam dan bukan hanya bersifat hubungan inti keluarga, tetapi juga terhadap anggota lain dalam keluarga yang ada di dalamnya. Dalam hal luka serius fisik dan psikologis yang langsung diderita oleh korban perempuan, keberlangsungan dan sifat endemis dari KDRT akhirnya membatasi kesempatan perempuan untuk memperoleh persamaan hak dalam bidang hukum, sosial, politik dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Terlepas dari viktimisasi perempuan, KDRT juga mengakibatkan retaknya hubungan keluarga dan anak-anak yang kemudian dapat menjadi sumber masalah sosial. 2,3 Melalui tulisan ini, diharapkan dapat memberikan penjelasan dan pengertian mengenai KDRT itu sendiri, mengenai kompetensi yang harus dimiliki dokter untuk membantu penyidikan pada kasus KDRT, serta mengenai hukuman yang ditetapkan dalam UU bagi pelaku kasus KDRT.

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Undang-Undang no. 23 tahun 2004 adalah undang-undang yang mengatur mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan yang melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.5,6 Undang-undang ini menjelaskan beberapa istilah penting seperti:5,6 1. Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah jaminan yang diberikan oleh Negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. 2. Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga. 3. Perlindungan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. 4. Perlindungan sementara adalah perlindungan yang langsung diberikan oleh kepolisian dan/atau lembaga sosial atau pihak lain, sebelum dikeluarkannya penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. 5. Perintah Perlindungan adalah penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan untuk memberikan perlindungan kepada korban. Adapun pengertian rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi:5,6 1. Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri). 2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf (1) karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan).

3

Dapat terjadi dalam hubungan dalam gender yang sama dan berlainan. 86. psikologis/emosional dan seksual. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau Domestic Violence adalah suatu penyalahgunaan secara fisik. 4 Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) umumnya dilakukan oleh suami.8 CDC Atlanta dan Komite Nasional (1998) pencegahan trauma di Amerika Serikat menggunakan istilah kekerasan oleh mitra dekat (Intimate partner violence) yang mencakup di dalamnya kekerasan dalam rumah tangga. bekas istri dan bekas pacar. Kekuatan fisik dan kekuasaan harus dilihat dari segi pandang yang luas mencakup tindakan atau penyiksaan secara fisik.36% dari 4 . ancaman. trauma dan hal-hal yang berbahaya yang mencakup kekerasan fisik. perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma. dengan korban terbanyak adalah istri. pasangan. seksual.81% kasus kekerasan yang dialami perempuan adalah KDRT dan 77.3. Pola sikap ini ditandai oleh adanya penyalahgunaan kekuatan dan kontrol/pengawasan oleh seseorang kepada orang lain yang masih memiliki hubungan yang dekat. kelainan perkembangan atau perampasan hak.25%. Kekerasan oleh mitra dekat adalah ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap mitra dekat yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan kematian. kasus KDRT pada tahun 2010 ini meningkat sekitar 6.7 2. kerugian psikologis. seksual dan kurang perhatian (neglected).3 Dibandingkan tahun 2009.703 di antaranya adalah kasus KDRT.1999). Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (pekerja rumah tangga). Lembaga non pemerintah Mitra Perempuan mencatat sepanjang tahun 2005. Sebanyak 2. yaitu 2.3. Yang dimaksud dengan mitra adalah suami atau istri. kematian. yang dimaksud dengan kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan. memperlihatkan pada tahun 2003 telah terjadi 5.025 kasus (75%). psikis/emosi.934 kasus kekerasan terhadap perempuan. atau psikologis terhadap seseorang. atau anggota keluarga yang lain dalam suatu rumah tangga. atau tindakan terhadap diri sendiri.7 Menurut BPKP 2004.2 Insiden Catatan awal tahun 2004 yang dilansir oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Menurut WHO (WHO. ekonomi. dating partner/pacar.

3 2. Budaya yang mempunyai peran gender yang kaku. komflik bersenjata. yang mengaitkan keperkasaan pria dengan dominasi dan kendalinya terhadap wanita. Adapun faktor pencetus terjadinya kekerasan adalah:7 a) Faktor individu: Menurut survey di Amerika Serikat mereka yang mempunyai risiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga adalah: 1) Wanita yang single. 2) Berumur 17 – 28 tahun. ekonomi dan politis seperti riwayat kekerasan. kekerasan terhadap perempuan meningkat hamper 100% yaitu menjadi 14. Selama tahun 2004. kemiskinan. Data juga mengungkapkan. 3) Mempunyai partner dengan sifat memiliki dan cemburu berlebihan. psikologis.22%).01%). bercerai atau ingin bercerai. rata-rata mereka adalah penduduk perkotaan yang memiliki akses dengan jaringan relawan dan memiliki pengetahuan memadai tentang KDRT. KDRT juga dilakukan oleh mantan suami (3. Kekerasan terhadap perempuan sebagai korban terbanyak dari tindak kekerasan dalam rumah tangga sangat dipengaruhi oleh ketimpangan gender. sosial.15%).020 kasus dibanding tahun sebelumnya yang cuma 7.08%).kasus itu pelakunya adalah para suami. Selain suami. dan pacar/teman dekat (9. Apalagi angka-angka tersebut hanya didapatkan dari jumlah korban yang melaporkan kasusnya ke 303 organisasi peduli perempuan. 5 .11 Kunci utama untuk memahami KDRT dari perspektif gender adalah untuk memberikan apresiasi bahwa akar masalah dari kekerasan tersebut terlrtak pada kekuasaan hubungan yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan yang terjadi pada masyarakat yang didominasi oleh pihak laki-laki. dimana kasus yang tampak hanyalah sebagian kecil saja dari kejadian yang sebenarnya. Angka-angka di atas harus dilihat dalam konteks fenomena gunung es. namun dipengaruhi pula oleh beberapa faktor risiko dan faktor protektif. orang tua atau mertua serta saudara (6. majikan (0.787 kasus.9 Tindakan kekerasan terhadap perempuan terus meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.3 Faktor Pencetus Kekerasan dalam rumah tangga dapat timbul sebagai akibat dari kombinasi dan interaksi multifaktorial antara faktor biologis.

5) Sedang hamil. serta tidak menghargai peran wanita.4) Ketergantungan obat atau alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat itu. 3) Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas. 6 . anak diwajibkan tunduk pada orang tua. sehingga kekerasan terhadap anak kerap terjadi.4 Siklus KDRT Kekerasan dalam rumah tangga biasanya terjadi mengikuti suatu siklus tertentu. Menurut Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Erlangga Masdiana. 2) Permintaan maaf: pelaku menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada korban. tidak boleh mendebat sepatah katapun. c) Faktor masyarakat: 1) Urbanisasi dan kesenjangan pendapatan di antara penduduk kota. Sebagai contoh. Hal ini dikarenakan pada umumnya korban KDRT menganggap bahwa kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya merupakan kekhilafan sesaat. Sehingga KDRT biasanya terjadi dalam pola berikut ini:11 1) Tindak kekerasan/pemukulan: pelaku melakukan kekerasan terhadap pasangannya. Ideologi dan kultur itu juga muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu. 4) Masyarakat keluarga ketergantungan obat. Faktor terpenting adalah soal ideologi dan culture (budaya). kekerasan itu sangat dipengaruhi ideologi dan pemahaman budaya masyarakat setempat. 2) Kemiskinan. 3) Lingkungan dengan frekuensi kekerasan dan kriminalitas tinggi. dimana perempuan cenderung dipersepsikan sebagai orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. perempuan dianggap orang nomor dua dalam rumah tangga sehingga memiliki hak yang kurang dibanding lakilaki. zaman dulu. 2) Kurang ada keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dipengaruhi oleh multifactor.12 2. Di hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. b) Faktor keluarga: 1) Kehidupan keluarga yang kacau tidak saling mencintai dan menghargai.

berusaha memaklumi dan mencoba untuk mengerti. yaitu:5. serta berusaha menganggap bahwa kekerasan timbul akibat kekhilafan yang bersifat sesaat.5 Bentuk-Bentuk KDRT Menurut UU No 23 tahun 2004. 7 . ketakutan ditinggal dan sakit hati atas perlakuan pasangannya.3) Bulan madu: pelaku menunjukkan sikap mesra kepada pasangannya. ada beberapa bentuk kekerasan dalam rumah tangga. pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual meliputi: Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. 2. seolaholah tidak pernah melakukan kekerasan. sehingga ketika pelaku meminta maaf dan bersikap mesra lagi harapan tersebut terpenuhi untuk sementara waktu. Dari pola ini dapat diperhatikan bahwa hubungan antara perempuan dan pasangannya selalu diliputi oleh rasa cinta. 3) Kekerasan seksual Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual. 2) Kekerasan psikis Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. rasa tidak berdaya. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.6. 4) Konflik: periode mesra akan berakhir ketika terjadi konflik yang kemudian membawa pelaku untuk melakukan kekerasan lagi. Rasa cinta dan sayang kepada pasangan. dan seterusnya. Hal inilah yang menyebabkan KDRT biasanya berulang. harapan dan teror. sehingga hal ini menimbulkan rasa terancam pada korban bahwa setiap saat ia mungkin dianiaya lagi. Korban juga berharap bahwa pasangannya akan berubah menjadi baik.7 1) Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. hilangnya rasa percaya diri. hilangnya kemampuan untuk bertindak. jatuh sakit atau luka berat.

memukul. perawatan.13. hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya. melarang istri mengunjungi saudara maupun teman-temannya. 4) Secara Ekonomi 8 . Kekerasan psikis ini. Menurut Mun’in A (1997).Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga termasuk penghinaan. kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik. komentar-komentar yang merendahkan. penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. menjambak rambut. Selain itu. mengancam akan dikembalikan ke rumah orang tuanya. menendang. melukai dengan senjata. meningkatkan rasa takut. Di sisi lain. rasa sakit. atau cacat pada tubuh istri hingga menyebabkan kematian. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. dan sebagainya. apabila sering terjadi maka dapat mengakibatkan istri semakin tergantung pada suami meskipun suaminya telah membuatnya menderita.4) Penelantaran rumah tangga Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya.18 1) Secara Fisik Kekerasan fisik adalah suatu tindakan kekerasan yang mengakibatkan luka. dan lain-lain. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. Kekerasan dalam rumah tangga mencakup: menampar. 3) Secara Seksual Kekerasan seksual adalah suatu perbuatan yang berhubungan dengan memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau bahkan tidak memenuhi kebutuhan seksual istri.Kekerasan dapat terjadi dalam bentuk pemaksaan dan penuntutan hubungan seksual. kekerasan seksual. kekerasan psikologis/emosional. kekerasan psikologis juga dapat memicu dendam dihati istri. 2) Secara Psikologis Kekerasan psikologis adalah suatu tindakan penyiksaan secara verbal yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri. menyundut dengan rokok. dan kekerasan ekonomi.

Adanya sikap posesif terhadap korban ataupun perilaku mengisolasi korban dari dunia luar dapat dilihat sebagai tanda awal KDRT.mengambil harta istri. Korban menjadi pendiam. menuntut istri memperoleh penghasilan lebih banyak.6. Korban biasanya tampak depresi. perlu diketahui cirriciri khusus luka akibat kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga. Itulah mengapa mereka cenderung menutupi penderitaan fisik dan psikologis yang dilakukan pasangannya. Sebagai contoh. dan tidak mengijinkan istri untuk meningkatkan karirnya. termasuk pegawai rumah sakit. suami menyembunyikan gajinya.Karakteristik 9 . 2. atau tidak memberi uang belanja sama sekali.6 Pemeriksaan Fisik Pada Korban KDRT Banyak wanita menganggap kekerasan dalam rumah tangga sebagai suatu hal yang tabu. tidak memberi uang belanja yang mencukupi. Untuk membedakannya. Mereka akan cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya. Kontak mata biasanya buruk. leher baju yang tinggi.Kekerasan ekonomi adalah suatu tindakan yang membatasi istri untuk bekerja di dalam atau di luar rumah untuk menghasilkan uang dan barang. Kekerasan terjadi berupa tidak memberi nafkah istri. kulit kepala dapat menunjukkan tanda-tanda kekerasan. sementara suami tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.1 Karakteristik Luka Orang yang mendapat siksaan fisik dari pasangannya tak jarang mengalami cedera. Korban juga akan mencoba untuk menyembunyikan atau menutupi luka-lukanya dengan memakai riasan wajah tebal. atau kecelakaan umum. Mereka umumnya tak ingin orang sekitarnya melihat tanda-tanda kekerasan pada diri mereka. Korban harus diperiksa secara menyeluruh untuk memeriksa dengan teliti tanda-tanda kekerasan yang pada umumnya tersembunyi. melarang istri bekerja atau membiarkan istri bekerja untuk dieksploitasi. Perhatikan perubahan sikap korban.4 2. sangat takut pada pengunjung/pasien lainnya dan yang merawatnya. Sebagian suami juga tidak memberikan gajinya pada istri karena istrinya berpenghasilan. rambut palsu atau perhiasan. Hanya saja mereka cenderung menutupinya dengan mengatakan bahwa luka tersebut akibat terjatuh. termasuk membiarkan istri yang bekerja untuk dieksploitasi.

5) Perdarahan subkonjungtiva yang diduga karena adanya perlawanan yang kuat antara korban dengan pelaku. dan jumlah darah yang keluar ke dalam jaringan sekitar. luka gores minimal. 3) Kuku yang tergores. meliputi kekuatan kekerasan tumpul yang diterima oleh kulit. atau bekas tali yang terbakar. kerapuhan pembuluh darah. Bentuk luka dapat karena benda tumpul. Bentukan-bentukan tersebut sering tampak pada lengan atas bagian dalam dan area-area yang tidak terlihat waktu pemeriksaan fisik.2 Bentuk-Bentuk Luka Adanya bentukan luka memberi kesan adanya kekerasan. berupa luka memar.luka yang disebabkan oleh adanya KDRT. kepadatan vaskularisasi jaringan. Bentukan luka merupakan tanda. 2) Memar Beberapa faktor mempengaruhi perkembangan luka memar. Adanya luka memar yang sirkuler ataupun yang linier memberi kesan adanya penganiayaan.4 1) Kekerasan Tumpul Kekerasan tumpul yang melukai kulit merupakan luka yang paling sering terjadi. terutama pada ekstremitas. Luka memar yang digunakan untuk identifikasi umur dan penyebab luka. tidak selalu menunjukkan kesamaan warna pada tiap orang dan tidak 10 . lecet dan luka goresan. cetakan atau pola yang timbul dengan segera di bawah epitel oleh senjata penyebab luka. Luka memar parallel dengan sentral yang bersih memberi kesan adanya penganiayaan dari objek linear. bilur. 4) Luka lecet. dan penganiayaan dengan sol atau hak sepatu akan menyebabkan luka memar pada korban yang ditendang. luka bekas sundutan rokok yang terbakar. 2. Adanya bekas tamparan dengan bentukan jari juga harus dicatat. Luka memar sirkuler dengan diameter 1 – 1. biasanya menunjukkan gambaran sebagai berikut:4 1) Luka bilateral. benda tajam (goresan atau tikaman) atau karena panas. 2) Luka pada banyak tempat.6. Penganiayaan dengan menggunakan ikat pinggang atau kawat menyebabkan luka memar yang datar.5 cm dengan tekanan ujung jari mungkin terlihat sama dengan bentuk penjambretan.

2) Scratch marks Bentuk ini superficial dan memanjang. tetapi untuk mendapatkan waktu yang spesifik sulit. Dua tipe terakhir mungkin berhubungan dengan domestic violence. kedalamannya sama dengan kedalaman kuku. Meskipun warna memar kuning. atau hitam dapat terjadi kapan saja dalam waktu 1 jam setelah trauma sebagai resolusi dari memar. Beberapa petunjuk dasar tentang penampakan luka memar sebagai berikut: a. Beberapa bentukan gigitan ini sulit untuk dikenali. Sedangkan Manual strangulation (throttling) biasanya menggunakan tangan. ungu. Bentukan ini terjadi karena wanita yang menjadi korban berkuku panjang. dan masih banyak lagi gambaran yang dapat dikenali karena lokasi anatomi dari gigitan dan pergerakan tidak tetap pada kulit. seperti kabel telepon atau tali jemuran. Memar dengan gradasi warna kuning umurnya lebih dari 18 jam. Waktu merah. misalnya penampakan memar semisirkuler yang non spesifik. 5) Strangulasi Hanging. atau manual adalah 3 tipe dari strangulasi (penjeratan). Ligature strangulation (garroting) merupakan bentuk strangulasi dengan menggunakan tali. c. b. 4) Bekas Kuku Ada 3 macam tanda bekas kuku yang mungkin terjadi. dan tampak lebih menyeramkan. Gambaran warna merah tidak dapat digunakan untuk memperkirakan umur memar. Bentuknya seperti koma atau setengah lingkaran. 11 . 3) Claw marks Bentukan ini terjadi ketika kulit terkoyak.dapat berubah dalam waktu yang sama antara satu orang dengan orang lain. ligature.4 1. Ligature strangulation (garroting) dan Manual strangulation (throttling). atau hijau merupakan indikasi luka yang lama. luka lecet. yaitu sebagai berikut:4 1) Impression marks Bentukan ini merupakan akibat patahnya kuku pada kulit. atau luka lecet memar. 3) Bekas Gigitan Merupakan bentuk luka lain yang sering ada pada domestic violence. bisa tunggal atau kombinasi. biru. coklat.

Petugas kepolisian melaporkan luka tidak tampak pada 62% wanita. Hampir 50% dari para korban mengalami perubahan suara dari disfonia sampai afonia. 3.dilakukan dengan tangan depan sambil berdiri atau berlutut di depan tenggorokan korban. 5. Lokasi dan luas bervariasi dengan posisi pelaku (depan atau belakang) dan apakah korban atau pelaku menggunakan satu atau dua tangan. memar ataupun bekas tali yang terbakar pada 16% sisanya. laporan menunjukkan bahwa beberapa korban dengan keadaan awal ringan. Area dari luka memar dan eritema sering terlihat bersama. Petechiae pada konjungtiva terlihat sama banyaknya dengan petechiae pada daerah jeratan. Luka memar tunggal atau area eritematous sering terlihat pada ibu jari pelaku. Tanda (misalnya pola seperti gelombang kabel telepon. ikat pinggang. dan tanda 12 . seperti jalinan pita dari tali) dapat memberi kesan korban telah dicekik. dispneu. sepanjang mandibula. odinofagia. 4. bagian atas dagu. lengan ataupun menggunakan alat (kabel listrik. Dengan catatan. hiperventilasi. dan apneu dilaporkan atau ditemukan. Pada Ligature strangulation. Sifat dan sudut pola ini diperlukan untuk membedakan penggantungan dengan Ligature strangulation. dan di bawah area supraklavikula. tali. hal ini akan mengaakibatkan luka lecet pada dagu korban dan tangan pelaku. Menyerupai lipatan kulit. seperti wajah dan daerah periorbita. 2. 6. Ligature mark terlihat dari halus sampai keras. 7. peralatan mandi). Strack dan McLane melakukan penelitian pada 100 wanita yang dilaporkan mengalami pencekikan oleh pasangan mereka dengan tangan kosong. berkelompok pada bagian samping leher. dapat meninggal dalam waktu 36 jam setelah strangulasi. penekanan dari penjeratan biasanya horizontal pada level yang sama dengan leher. Disfagia. Pada Manual strangulation korban sering merendahkan dagunya dalam upaya melindungi leher. Pada leher mungkin ditemukan goresan dan luka lecet dari kuku korban atau kombinasi dari luka yang dibuat oleh pelaku dan korban. luka tampak minimal pada 22% dan luka yang signifikan seperti warna merah. Pada ligature strangulation sering tampak petechiae.

Terdapatnya luka yang 13 .6. 8. tetapi kemudian memukul kepala bagian belakang. 2. Lebih dari 50% luka disebabkan karena kekerasan pada kepala dan leher. leher.4 Luka lecet yang banyak atau luka memar pada tempat yang berbeda sering terjadi memperkuat kecurigaan adanya domestic violence. patah tulang hidung. 4. payudara dan perut). Trauma pada maxillofacial termasuk luka pada mata dan telinga. bokong. 5. tungkai bawah. defekasi. atau langsung di depan telinga. keseleo. Luka pada wajah dilaporkan pada 94% korban domestic violence. Peta tubuh dapat membantu penemuan fisik adanya kekerasan termasuk dengan memperhatikan kemungkinan tanda-tanda kekerasan pada daerah-daerah yang tersembunyi. Keluhan lainnya termasuk kehilangan kesadaran. Luka lain yang umum ada termasuk luka memar pada punggung. Termasuk luka pada bagian ulnar dari tangan dan telapak tangan (yang mungkin digunakan untuk menahan serangan). dislokasi sendi. mual dan kehilangan ingatan. di atas kartilago thyroid. Tempat luka yang umum adalah daerah yang biasanya tertutup oleh pakaian (misalnya dada. Luka pada domestic violence biasanya sentral. sebagai berikut:4 1. dan kepala bagian belakang (yang disebabkan karena korban membungkuk untuk melindungi diri). luka pada jaringan lunak. tenggorokan dan genitalia juga tempat yang sering mengalami perlukaan. muntah yang tidak terkontrol. Pelaku laki-laki menghindari untuk menyerang wajah. orbita dan zygomaticomaxillary complex. penekanan cenderung vertical dan berbentuk seperti air mata. Luka karena perlawanan. dan atau luka memar dari pergelangan tangan atau lengan bawah dapat mendukung adanya tanda dari korban untuk menangkis pukulan pada wajah atau dada. misalnya patah tulang. dengan simpul pada daerah tengkuk. 3. di bawah dagu. kehilangan pendengaran. 2.penjeratan biasanya di bawah kartilago thyroid dan sering tulang hyoid patah. 6. Wajah. Pada penggantungan. Tulang hyoid biasanya masih utuh. dan patah pada mandibula.3Distribusi Luka Luka-luka pada KDRT biasanya mempunyai distribusi tertentu.

dan merasa takut kehilangan pekerjaan.4 2. dan keinginan untuk bunuh diri. nyeri yang tidak dapat dijelaskan. lebih banyak waktu dihabiskan untuk mencari bantuan psikolog ataupun psikiater.4 Kekerasan Selama Kehamilan Kekerasan umumnya meningkat selama kehamilan.7 Akibat Kekerasan Kekerasan terhadap perempuan menimbulkan berbagai dampak yang merugikan. serta kekurangan gizi. mengalami rasa tidak berdaya. mengalami stres pasca trauma. Kekerasan selam kehamilan dapat membawa dampak yang fatal bagi ibu maupun janin.banyak dengan tahap penyembuhan yang bervariasi memperkuat dugaan adanya KDRT yang berulang. tekanan mental. dan anak berpotensi untuk melakukan kekerasan pada pasangannya apabila telah menikah 14 . Beberapa bukti dari luka genital seperti hematom vagina.4 2. Adanya darah yang mengering dan semen juga harus dicatat.6. luka lecet kecil pada vagina.5 Penganiayaan Seksual Penganiayaan seksual merupakan salah satu bentuk KDRT yang kerap terjadi. atau benda asing pada rectovagina. dapat diajukan untuk menentukan kekerasan seksual. Pasien juga dapat memperlihatkan trauma pada genitalia. Luka-luka kekerasan yang terjadi selama kehamilan biasanya terdapat pada bagian payudara atau perut. Penganiayaan seksual dilaporkan oleh 33% . Perlu diindentifikasi pula adanya penyakit menular seksual yang dapat diduga akibat kekerasan seksual. atau kelahiran prematur. seperti aborsi spontan yang tidak dapat dijelaskan. Dampak kekerasan terhadap pekerjaan perempuan adalah kinerja menjadi buruk. Dampak kekerasan terhadap perempuan itu sendiri adalah: mengalami sakit fisik. Bagi korban penganiayaan seksual perlu dilakukan pemeriksaan untuk menemukan bukti penganiayaan seksual jika diindikasikan oleh gambaran klinik. mengalami depresi. keguguran. menurunnya rasa percaya diri dan harga diri. Dampaknya bagi anak adalah: kemungkinan kehidupan anak akan dibimbing dengan kekerasan. anak dapat mengalami depresi. mengalami ketergantungan pada suami yang sudah menyiksa dirinya.4 2.46% wanita yang mengalami kekerasan fisik. peluang terjadinya perilaku yang kejam pada anak-anak akan lebih tinggi.6.

kemampuan realisasi dan cuti sakit bertambah. perdarahan pervaginam berat. Berbagai akibat kekerasan tersebut dikelompokkan sebagai berikut:11 1. misalnya depresi. yang beresiko terhadap ibu dan janin (abortus. c) Trauma fisik dalam kehamilan. b) Trauma fisik berat: memar berat luar/dalam. b) Efek terhadap produktivitas. termasuk sepsis. disfungsi seksual. atau mengisolasikan dan menarik diri.15 Selain itu. e) Meningkatnya resiko terhadap kesakitan. gangguan makan. 2. sulit tidur. misalnya mengakibatkan berkurangnya kontribusi kepada masyarakat. d) Kehamilan yang tak diinginkan dan kehamilan dini akibat perkosaan atau kebebasan dalam mengikuti KB. kecacatan. PMS. 3. anemia. tertular PMS. b) Pengaruh psikologis terhadap anak karena menyaksikan kekerasan. patah tulang. rasa rendah diri. misalnya gangguan ginekologis. Akibat Nonfisik a) Gangguan mental. ketagihan alkohol dan obat. HIV/AIDS atau komplikasi kehamilan. infeksi. mimpi buruk. aborsi spontan. misalnya kelak cenderung melakukan kekerasan terhadap pasangannya. yang dapat diikuti dengan tindakan aborsi. ketakutan dan cemas. 15 .karena anak mengimitasi perilaku dan cara memperlakukan orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh orang tuanya. c) Kekerasan terhadap perempuan di lingkungan sekolah dapat mengakibatkan putus pendidikan karena terpaksa keluar sekolah. kelelahan kronis. pembunuhan atau bunuh diri. infeksi saluran kencing. dan kehamilan prematur. dan gangguan pencernaan. KDRT juga menambah resiko jangka panjang untuk terjadinya gangguan kesehatan lainnya sebagai dampak dari KDRT itu sendiri. Pengaruh Terhadap Masyarakat a) Bertambahnya biaya pemeliharaan kesehatan untuk akibat fisik/nonfisik dari kekerasan terhadap perempuan. kenaikan berat badan ibu tidak memadai. BBLR). Akibat Fisik a) Kematian akibat kekerasan fisik.

6 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengenal istilah kekerasan dalam rumah tangga.1 Hak-Hak Korban Berdasarkan UU ini. Perlindungan dari pihak keluarga. korban juga berhak untuk mendapatkan pelayanan demi pemulihan korban dari: a. d. Pasal-pasal ini hanya mengatur sanksi pidana penjara atau denda dan sanksi lebih ditujukan untuk penjeraan (punishment). diharapkan adanya perlindungan hukum bagi anggota keluarga khususnya perempuan. layanan-layanan darurat bagi korban serta kompensasi. yang berarti hanya terbatas pada kekerasan fisik. kepolisian. atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. 2) Pasal 285 – 296 yang mengatur perkosaan dan perbuatan cabul. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis. KUHP hanya mengatur secara terbatas ruang lingkup kekerasan dalam rumah tangga.8. terutama bila dilihat dari dampak kekerasan terhadap korban yang semestinya dikenakan penerapan sanksi yang berbeda. Padahal bentuk kekerasan dalam rumah tangga memiliki tingkat kekerasan yang beragam. dari segala tindak kekerasan dalam rumah tangga. yang mana membuat dilema tersendiri bagi korban.8 Undang-Undang yang Berkaitan dengan KDRT Dengan telah disahkan Undang-Undang No. b.6 a. Penganganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban. KUHP tidak mengenal lingkup rumah tangga. lembaga sosial. KUHP tidak mengatur alternatif hukuman kecuali hanya pidana penjara. 2. 16 .23 tahun tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang terdiri dari 10 bab dan 56 pasal. e. sebagai berikut:14 1) Pasal 351 – 356 KUHP mengatur penganiassyaan. pengadilan. KUHP tidak mengatur hak-hak korban. Selain itu. kejaksaan.2. belum sepenuhnya mengakomodir segala bentuk kekerasan seksual. Pelayanan bimbingan rohani. c. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. korban berhak mendapatkan:5. advokat. Tenaga kesehatan.

Pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerjasama program pelayanan yang mudah diakses korban. Penyediaan aparat.8.3 Kewajiban Masyarakat Undang-undang ini juga menyebutkan bahwa setiap orang yang mendengar. b. d. Pembimbing rohani. melihat. keluarga dan teman korban. 2. Memberikan perlindungan bagi pendamping. b. Memberikan perlindungan kepada korban.8. pemerintah dan pemerintah daerah dapat melakukan upaya: a. 2. Penyediaan ruang pelayanan khusus (RPK) di kantor kepolisian. dan edukasi tentang kekerasan dalam rumah tangga. Relawan pendamping. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif gender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standard dan akreditasi pelayanan yang sensitive gender. Maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan secara langsung kekerasan 17 . Namun. c. Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang kekerasan dalam rumah tangga. b. maka yang berlaku adalah delik aduan. c. d. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. d. pekerja sosial dan pembimbing rohani. atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upayaupaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk:15 a. Untuk itu pemerintah harus:15 a. Memberikan pertolongan darurat. Menyelenggarakan komunikasi informasi. untuk pengelenggaraan pelayanan terhadap korban. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. saksi.2 Kewajiban Pemerintah Melalui Undang-Undang ini pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Selain itu. Mencegah berlangsungnya tindak pidana. c. tenaga kesehatan.b. c. untuk kejahatan kekerasan psikis dan fisik ringan serta kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi antar suami istri. Pekerja sosial.

melainkan hanya mengatur batas hukuman maksimal.5. atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi. mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurangkurangnya selama 4 minggu terus-menerus atau 1 tahun tidak berturut-turut. sedangkan korban dengan luka sedang dapat merupakan hasil dari tindak penganiayaan (pasal 351 (1) atau 353 (1)). wali. Lama waktu penjara dan juga besarnya denda berbeda-beda sesuai dengan tindak kekerasan yang dilakukan. baik ringan. gugur atau matinya janin dalam kandungan. 12.8. Namun. Korban dengan luka berat (pasal 90 KUHP) dapat merupakan hasil dari tindak pidana 18 . penganiayaan yang menimbulkan luka.4 Ketentuan Pidana pada Pelaku Ketentuan pidana penjara atau denda diatur dalam BAB VIII mulai dari pasal 44 – 53. Meskipun demikian. bab mengenai ketentuan pidana sempat dipermasalahkan karena tidak menentukan batas hukuman minimal.dalam rumah tangga kepada kepolisian.000” 2.000 atau denda paling banyak Rp. 300. pengasuh atau anak yang bersangkutan.000. Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan ringan (pasal 352 KUHP). pelaku KDRT dapat juga dijerat dengan KUHP terutama tentang penganiayaan.000. Sehingga dikhawatirkan seorang pelaku dapat hanya dikenai hukuman percobaan saja. Pasal 47: “Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan pidana penjara paling lama 20 tahun atau denda paling sedikit Rp. Dalam proses pengesahan UU ini. sedang. Dalam hal korban adalah seorang anak. ada 2 pasal yang mengatur mengenai hukuman minimal dan maksimal yakni pasal 47 dan pasal 48. Dalam hal ini. Pasal 48: “Dalam hal perbuatan kekerasan seksual yang mengakibatkan korban mendapatkan luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali.000. 25.000.000 dan denda paling banyak Rp. 500. Kedua pasal tersebut mengatur mengenai kekerasan seksual. 2. laporan dapat dilakukan oleh orang tua.000” Selain itu.15 1. korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak kepolisian. maupun berat.

353. Pasal 354 1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain. tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. dihukum karena menganiaya berat. 3) Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya. 70. 340. 19 Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua Jika perbuatan itu menjadikan luka berat. 184). dihukum penjara selamalamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.16.00 selama-lamanya lima tahun. 356. ia dihukum penjara selamalamanya sembilan tahun.penganiayaan dengan akibat luka berat (pasal 351 (2) atau 353 (2)) atau akibat penganiayaan berat (pasal 354 (1) atau 355 (1)).00. 53. 53.17 Pasal 351 1) 2) 3) 4) 5) Pasal 352 1) Selain daripada apa yang tersebut dalam pasal 353 dan 356. selama-lamanya tujuh tahun. Pasal 353 1) Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu dihukum penjara selama-lamanya empat tahun. Hukuman ini boleh ditambah dengan sepertiganya. 487). . dia dihukum penjara Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum (KUHP 37. 487). bila kejahatan itu dilakukan terhadap orang yang bekerja padanya atau yang ada di bawah perintahnya. sengaja. (KUHP 90). 2) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum. 2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat. (KUHP 37. (KUHP 90. 355. si tersalah dihukum penjara Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya. 4. (KUHP 90).4. dengan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun.500. (KUHP 37. si tersalah dihukum penjara selamalamanya tujuh tahun. (KUHP 338).500. 184. 352. 351-2). 338. maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan sebagai penganiayaan ringan.

Dengan demikian keadaan yang terletak di antara luka ringan dan luka berat adalah keadaan yang dimaksud dengan luka sedang. (KUHP 91. Umumnya yang dianggap sebagai hasil dari penganiayaan ringan adalah korban dengan “tanpa luka” atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya/yang tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu. 90. (KUHP 92. istrinya (suaminya) atau anakanya. 487). Berdasarkan ketentuan dalam KUHP. Lukaluka tersebut dimasukkan ke dalam kategori luka ringan atau luka derajat satu. Pasal 356 Hukuman yang ditentukan dalam pasal 351. 2) Jika perbuatan itu menyebabkan kematian orangnya. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun. 356. atau yang menimbulkan bahaya maut. 37. 338. 354 dan 355 dapat ditambah sepertiganya: 1) Jika si tersalah melakukan kejahatan itu kepada ibunya. 357). bapaknya yang sah. 353. (KUHP 35.17 20 . yaitu: jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. yang menyebabkan kehilangan salah satu panca indera. 3) Jika kejahatan itu dilakukan dengan memakai bahan yang merusakkan jiwa atau kesehatan orang. 340. KUHP pasal 90 telah memberikan batasan tentang luka berat. si tersalah dihukum penjara selama-lamanya lima belas tahun. 336. yang menimbulkan cacat berat (verminking). 37. penganiayaan ringan adalah penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan. 351-2. 307). si tersalah dihukum penjara selama-lamanya sepuluh tahun. yang mengakibatkan terjadinya keadaan lumpuh. terganggunya daya pikir selama empat minggu atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. 211.2) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya. 356. 2) Jika kejahatan itu dilakukan kepada seorang pegawai negeri pada waktu atau sebab ia menjalankan pekerjaan yang sah. (KUHP 35. 351-3. (KUHP 37. Pasal 355 1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu. 353. 487). yang menyebabkan seseorang terus-menerus tidak mampu untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian. 316).

keterangan seorang saksi korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah. Adapun alat-alat bukti yang sah menurut KUHAP. 3) Surat Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 187 KUHAP dimaksudkan adalah surat-surat yang dibuat oleh pejabat-pejabat resmi yang berbentuk berita acara. yang karena persesuaiannya. surat keterangan ataupun surat yang lain yang mempunyai hubungan dengan perkara yang sedang diadili. yang menyebutkan “Keterangan ahli ialah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlakukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Sebagai syarat mutlak dalam menentukan dapat atau tidaknya suatu surat dikategorikan sebagai suatu alat bukti yang sah ialah bahwa surat-surat itu harus dibuat di atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah. kejadian atau keadaan. akte. yang diatur dalam pasal 184 adalah sebagai berikut:18 1) Keterangan saksi Menurut pasal 1 butir 26 KUHAP yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri. disebutkan bahwa “petunjuk” adalah perbuatan. 4) Petunjuk Alat bukti petunjuk dalam KUHAP ditentukan dalam pasal 188. maupun dengan tindak pidana itu sendiri.8.2.5 Pembuktian Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga Sebagai salah satu alat bukti yang sah. baik antara yang satu dengan yang lain. dicantumkan dalam pasal 1 butir 27 KUHAP yang menyatakan: “Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa yang ia dengar. 21 . Sedangkan pengertian umum keterangan saksi. ia lihat sendiri. ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu” 2) Keterangan ahli Pengertian umum dari keterangan ahli ini dicantumkan dalam pasal 1 butir 28 KUHAP. apabila disertai dengan suatu alat yang sah lainnya. menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. dan ia alami sendiri.

masyarakat.korban sering merasa ragu-ragu untuk melaporkan ke polisi. yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti benda bukti.5) Keterangan terdakwa Alat bukti keterangan terdakwa didapatkan pada urutan terakhir dari alat-alat bukti yang ada dan uraiannya terdapat dalam pasal 189 KUHAP.6 Kendala dalam KDRT Menghadapi kasus KDRT yang insidennya makin meningkat dari tahun ke tahun masih memiliki berbagai hambatan. mengingat kekerasan terjadi di dalam rumah tangganya sendiri. KDRT masih dianggap sebagai suatu hal yang privat dan korban sering merasa malu untuk melaporkan karena dianggap merupakan aib keluarga. 22 . Korban juga merasa pelaku adalah tulang punggung keluarga. Dinyatakan bahwa keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di siding tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.8. Hambatan muncul dari berbagai pihak termasuk korban. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. dan penyelenggara hokum itu sendiri. Korban kurang paham bahwa perbuatan pelaku adalah merupakan tindak pidana. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang dalam bagian kesimpulan.17 2. Belum tersosialisasinya UU No. 23 tahun 2004 terhadap para penegak hukum dan masyarakat menyebabkan pengertian akan perlindungan terhadap korban KDRT masih sangat minimal.6 Di samping itu. Adanya dilemma batin pada korban antar keinginan untuk melapor dengan rasa sayang terhadap pelaku sering menyebabkan tenggang waktu antara kejadian dengan saat korban melakukan ke polisi cukup lama. Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah yang termasuk ke dalam keterangan ahli sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan. sehingga apabila dilaporkan maka tidak ada yang membiayai korban/keluarga untuk kelangsungan hidupnya. sehingga bekas luka atau hasil Visum et repertum tidak mendukung.

2. dokter sebaiknya juga mempersiapkan si korban atau orang tuanya bila ia masih belum cukup umur. sebaiknya segera laporkan kejadian ke Polisi.19-21 Umumnya korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik/pejabat kepolisian. Mengingat korban tentunya berada dalam suasana perasaan yang panic. Korban perlu disosialisasikan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu mengajukan permintaan visum et repertum untuk korban hidup. ketakutan maupun depresi.17. bingung. agar dapat dilakukan pemeriksaan serta saksi atau pendamping perawat wanita dan pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup yang tenang.8. Korban hendaknya segera melapor dan segera melakukan Visum agar bekas luka masih jelas sesuai keadaan awal. Surat permintaan visum et repertum harus dibawa sendiri oleh pihak pengusut bersama-sama korban ke rumah sakit. melalui titipan atau melalui pos. Sedangkan pada korban dengan luka sedang dan berat akan datang ke dokter atau rumah sakit sebelum melapor ke penyidik. perlu segera dikumpulkan bukti-bukti dan data saksi. Untuk kasus kekerasan seksual.18 23 . Bahwa permintaan harus diajukan secara tertulis. tidak dibenarkan minta secara lisan. korban perlu diberikan penguatan dan pendampingan agar korban kuat menghadapi masalah. Untuk memperkuat pembuktian dalam kasus KDT ini. untuk dapat memeriksa korban. selain adanya surat permintaan visum et repertum.7 Menemukan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak6 Bila mengalami maupun menemukan kasus kekerasan dalam rumah tangga. sehingga mereka datang dengan membawa serta surat permintaan visum et repertum.

Yang bersangkutan datang tanpa membawa Surat Permintaan Visum dari kepolisian. 9 Desember 2010 ke ruang Forensik Klinik RSUP Sanglah pukul 13. usia 25 tahun. Tangan korban juga disulut rokok sebanyak satu kali oleh suaminya. penampilan umum baik. b. beralamat di Jalan Pulau Aru no 5 Denpasar. •−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−− Pemeriksaan Luka: 24 . tampak tenang. inisial FM. Kejadian ini terjadi 2 hari sebelum pemeriksaan dilakukan. dengan keadaan umum baik. c. Kejadian ini terjadi di mobil saat korban pergi bersama suami dan anaknya. meminta dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya. sikap selama pemeriksaan membantu. datang dalam keadaan sadar diantar oleh teman perempuannya pada hari Kamis. Pakaian rapi. sekitar 4 kali dalam dua tahun terakhir. Pada korban dilakukan pemeriksaan: •−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−− Pemeriksaan Fisik: Tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh milimeter air raksa. pernapasan dua puluh empat kali per menit.30 WITA. tanpa robekan. korban juga sudah sering mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya. Korban datang dengan kesadaran baik. Yang bersangkutan meminta dilakukan pemeriksaan pada dirinya dengan maksud untuk mendapatkan keterangan medis terhadap luka-lukanya. denyut nadi delapan puluh dua kali per menit. Suami pasien marah karena korban mencurigai suaminya memiliki selingkuhan. Yang bersangkutan mengaku bahwa wajahnya ditinju berkali-kali oleh suaminya.1 Hasil Pemeriksaan Pada pemeriksaan ditemukan: a. Sebelumnya. 3.BAB III LAPORAN KASUS Seorang wanita.

11cm dari siku. Foto luka-luka pasien: 25 . 5cm dari garis pertengahan depan. ukuran 3cmx2cm 3) Pengelupasan kulit ari pada lengan atas kanan bagian luar. ukuran 3cmx2cm. warna kemerahan.dasar luka kemerahan 4) Luka memar pada lengan bawah kanan bagian dalam. ukuran garis tengah luka 1cm.1) Luka memar pada kelopak atas mata kanan. warna biru keunguan. berbentuk bulat. 8cm dari garis pertengahan depan. 2cm dari sudut mata. 2.5cm dari badan alis. 10cm dari pergelangan tangan. ukuran 2cmx1cm 2) Luka memar pada pipi kanan. berwarna coklat kekuningan.

26 .

27 .

pemaksaan. psikologis. Pasien mengatakan ia hanya mengenal dekat suaminya selama 6 bulan lalu mereka langsung menikah. Dua hari setelah kejadian. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). korban berpergian bersama suami dan anaknya. seksual. Suami korban marah. Korban mengatakan ia sudah sering berkelahi dengan suaminya karena masalah wanita idaman lain. Ia hanya diijinkan keluar rumah jika ada saudara.BAB IV PEMBAHASAN Berdasarkan keterangan korban. Korban dan suami terlibat pertengkaran didalam mobil karena korban bertanya perihal hubungan suaminya dengan wanita idaman lain. Semenjak 2 tahun menikah. Korban sering dipukul oleh suaminya bila suaminya marah. Saat korban ingin menyelamatkan anaknya. suami korban memukul bagian wajah korban lalu menyulut tangan korban dengan rokok. kemudian menghentikan mobilnya. korban memutuskan untuk datang ke bagian Forensik RSUP Sanglah untuk memperoleh Surat Keterangan Medis. korban telah mendapatkan kekerasan sebanyak kira-kira 4 kali. Korban mengatakan suaminya kerap berperilaku mencurigakan seperti sering pergi sendirian dan marah jika ditanya pergi kemana. Kini korban memiliki 1 orang anak laki-laki berusia 1 tahun. selain menyebabkan luka-luka pada 28 . Menurut korban. Korban mengaku dirinya jarang diijinkan keluar rumah oleh suaminya. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang no. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. atau perampasan kemerdekaan yang melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Korban mengakui bahwa karena kejadian ini. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Korban pada kasus ini memiliki resiko untuk menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Dua hari sebelum melapor ke bagian Forensik RSUP Sanglah. korban telah menikah dengan suaminya selama 2 tahun. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. suaminya memiliki pribadi yang keras dan temperamental.

Saat menceritakan masalahnya pada pemeriksa. Lebih dari 50% luka disebabkan karena kekerasan pada kepala dan leher. 29 . korban juga merasa ketakutan dan was-was akan berulangnya kejadian seperti ini di kemudian hari.dirinya. pada pipi kanan dan pada lengan kanan bawah.2 Pemeriksaan Keadaan Umum Korban Korban datang dengan kesadaran baik. Saat korban datang mengenakan kaos hitam bahan katun polos dan celana panjang jeans berwarna biru. 4. 4. Surat Keterangan Medis yang diperoleh korban tidak memiliki kekuatan untuk digunakan dalam proses peradilan sebab tanpa disertai jaminan hukum. penampilan bersih. dan pernafasan 20 kali permenit. Luka pada kekerasan dalam rumah tangga biasanya memiliki distribusi sentral. leher. pasien sesekali menangis. yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan/atau pemeriksaan bedah mayat. Keadaan umum jasmaniah baik. Wajah. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga paling banyak terjadi dalam bentuk kekerasan tumpul yang salah satunya dapat berupa luka memar. sikap selama pemeriksaan kooperatif. Keterangan ini diinginkan oleh pasien untuk memiliki bukti tertulis mengenai keadaannya saat meminta surat keterangan tersebut. Oleh karena itu korban meminta Surat Keterangan Medis agar ia memiliki bukti mengenai kekerasan yang dilakukan suaminya padanya. denyut nadi 82 kali permenit. Hal tersebut dibenarkan oleh pasal 133 KUHAP dimana permintaan keterangan ahli dilakukan secara tertulis.3 Pemeriksaan Luka Pada korban didapatkan luka memar pada kelopak mata kanan atas. 4. rambut cukup rapi. Gambaran keadaan pasien saat pertama kali datang tampak tenang. tenggorokan dan genitalia juga tempat yang sering mengalami perlukaan.1 Prosedur Medikolegal Yang bersangkutan datang ke bagian Forensik Klinik RSUP Sanglah dengan maksud untuk memeriksakan keadaan dirinya dan meminta keterangan tertulis dari dokter. Pasien datang tanpa membawa Surat Permintaan Visum dari pihak kepolisian sehingga pasien hanya berhak mendapat keterangan berupa Surat Keterangan Medis.

namun dipengaruhi pula oleh beberapa faktor risiko dan faktor protektif. kekerasan dalam rumah tangga juga berdampak pada psikologis. Saat pemeriksaan didapatkan pula suasana perasaan depresif. Korban juga termasuk dalam kategori umur yang rentan menjadi korban yaitu umur 17-28 tahun. Pada korban. Selain itu. Pada korban juga ditemukan pengelupasan kulit ari akibat dari sundutan rokok dimana menurut teori. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada korban berupa luka lecet dan memar. ekonomi dan politis seperti riwayat kekerasan. psikologis. 30 . Sesuai dengan pasal 352 KUHP. Hal ini sesuai dengan pedoman diagnosis Post Traumatic Stress Disorder dalam PPDGJ-III. biasanya menunjukkan gambaran luka bekas sundutan rokok yang terbakar. sosial. Pada korban ditemukan timbulnya perasaan takut dan was-was apabila kejadian tersebut terulang lagi. konflik bersenjata. Hal ini sesuai dengan temuan pada korban. yang tidak mengakibatkan penurunan fungsi organ tertentu. suasana di dalam rumah tangga yang cenderung kurang rasa cinta dan komunikasi serta sering dibumbui pertengkaran dan rasa saling curiga menyebabkan lebih berisiko terjadinya KDRT dalam rumah tangga korban. 4. yang terlihat saat pasien sesekali menangis saat menceritakan masalahnya. risiko KDRT ini dapat diakibatkan oleh karena perilaku suaminya yang posesif dan protektif. serta tidak mengakibatkan hambatan dalam melakukan pekerjaan maupun jabatan atau mata pencahariannya. Korban juga mengatakan sejak sekitar 1 tahun yang lalu sering teringat kembali akan perilaku kekerasan yang dilakukan suaminya tersebut.Luka pada wajah dilaporkan pada 94% korban kekerasan rumah tangga. kemiskinan. korban termasuk dalam penganiayaan ringan.4 Faktor Pencetus Terjadinya KDRT Kekerasan dalam rumah tangga dapat timbul sebagai akibat dari kombinasi dan interaksi multifaktorial antara faktor biologis. Perilaku posesif dari suaminya ini dapat menempatkan korban pada posisi lemah dan dibawah kekuasaan suaminya. dimana luka pada korban berpusat pada wajah.3 Aspek Psikologis Menurut teori juga dikatakan selain berdampak pada fisik. karakteristik luka yang disebabkan oleh adanya KDRT. 4.

BAB V PENUTUP 2. Bila kejadian terulang kembali. Korban yang bersangkutan merupakan korban dari tindak pidana penganiayaan ringan seperti yang diatur dalam pasal 352 KUHP. Lukaluka tersebut dimasukkan ke dalam kategori luka ringan atau luka derajat satu. Kepada mahasiswa kedokteran diharapkan mampu menguasai prosedur pemeriksaan pada kasus kekerasan dalam rumah tangga 2. disarankan pada korban untuk melaporkan ke pihak yang berwajib. Luka-luka pada korban ini tergolong ke dalam luka ringan. 3. 5. ditemukan tanda kekerasan fisik. Dimana berdasarkan ketentuan dalam KUHP. penganiayaan ringan adalah penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan.9 Simpulan Berdasarkan pembandingan antara tinjuan pustaka dan contoh kasus yang didapat maka dapat diketahui bahwa korban FM.2 Saran Saran yang dapat diberikan antara lain: 1. perempuan berumur dua puluh lima tahun. Umumnya yang dianggap sebagai hasil dari penganiayaan ringan adalah korban dengan “tanpa luka” atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya/yang tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu. Hendaknya korban mendapat penguatan dan pendampingan baik dari keluarga dan sahabat agar korban kuat menghadapi masalah. 31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful