Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat

EFEKTIVITAS AGENS ANTAGONIS TRICHODERMA SP PADA BERBAGAI MEDIA TUMBUH TERHADAP PENYAKIT LAYU TANAMAN TOMAT Muhammad Taufik Program Studi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Jur. Budidaya Pertanian, Faperta Unhalu
ABSTRAK Penyakit layu yang disebabkan oleh patogen tular tanah Fusarium sp pada tomat selalu menjadi masalah yang serius karena dapat mengurangi hasil tanaman sampai 100%. Pengendalian yang paling sering digunakan oleh petani adalah menggunakan fungisida dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan Trichoderma sp. untuk mempertahankan produksi tanaman tomat dan mempelajari kemampuan agens antagonis yang ditumbuhkan pada berbagai media. Penelitian disusun berdasarkan pola rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga total unit perlakuan adalah 16. Perlakuan yang dicobakan adalah T0 (kontrol/tanpa Trichoderma sp.), T1 (Trichoderma sp. + Media jagung), T2 (Trichoderma sp. + Media beras) dan T3 (Trichoderma sp. + Media dedak). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kejadian penyakit, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bunga, jumlah buah dan bobot buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. terbukti dapat mempertahankan kehilangan hasil tanaman tomat dan media yang cukup baik digunakan adalah media dedak (T3) yang memberikan bobot buah 980,36 g. Kata Kunci : Fusarium sp, Agen antagonis, Trichoderma sp, media

PENDAHULUAN Di Sulawesi Tenggara, total luas tanam tanaman tomat sebesar 911 ha dengan produksi 15,12 ku/ha (BPS, 2005). Namun budidaya tanaman tomat dikalangan petani pada umumnya mengalami kendala-kendala yang dapat menyebabkan tingkat produksi tanaman tomat rendah secara kuantitas dan kualitas. Kendala-kendala tersebut antara lain infeksi patogen penyebab penyakit. Penyakit yang sering ditemui pada tanaman tomat diantaranya adalah penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium sp. dan bakteri Ralstonia solanacearum (layu bakteri). Kedua jenis patogen ini adalah soil-borne disease (patogen tular tanah) yang dapat mematikan tanaman tomat sehingga produksi menjadi fuso. Kehilangan hasil oleh R. solanacearum dapat mencapai lebih dari 60%-100% (Gunawan et al. 1996; Asrul 2003). Sementara kerugian akibat infeksi patogen Fusarium sp. pada tanaman tomat juga tidak sedikit. Berdasarkan data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (1997) intensitas serangan Fusarium sp dapat mencapai 25% - 50% di Kalimantan Tengah.

240

tidak berwarna. banyak ditemukan di dalam tanah dan jika ditumbuhkan pada media biakan akan membentuk tiga macam spora yaitu mikrokonidium. jika tanaman yang sakit tersebut dipotong dekat pangkal batang atau dikelupas dengan pisau akan terlihat suatu cincin berwarna coklat dari berkas pembuluh.5-5. berukuran 6-15 µm x 2. disebabkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti kompetisi. Mikrokonidium banyak dihasilkan dalam berbagai kondisi. Semangun. Menurut Sinaga (1986) dalam Djaya et al. bentuknya lonjong atau bulat bersel satu dan tidak berwarna. 1991). Untuk itu. alternatif pengendalian yang ditawarkan adalah penggunaan agens hayati seperti Trichoderma sp. mikoparasit. dan Gliocladium sp. Phytium aphanidermatum. Akumulasi pestisida yang tinggi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan bahkan ke tingkat konsumen. Klamidospora berukuran 7-11 µm. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian adalah menguji 241 . Pada serangan berat. Gejala awal dari penyakit ini ialah terjadinya pemucatan daun dan tulang daun. antibiosis atau parasitik langsung dan mikoparasitik ( Driesche dan Bellows 1996). diikuti dengan merunduknya tangkai daun yang lebih tua.33 µm x 3. induksi ketahanan tanaman. berdinding tebal dan dihasilkan di dalam makrokonidium atau miselium yang telah tua (Sastrahidayat. 5 Nopember 2008 Fusarium sp. Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii.5-4 µm. (2003) bahwa jamur Trichoderma sp. makrokonidium dan klamidospora. dapat menghambat pertumbuhan cendawan Fusarium oxysporum. Klamidospora dibentuk sebagai respon terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai yang bertujuan mempertahankan kelangsungan hidup patogen. Mekanisme agens antagonis cendawan termasuk Trichoderma sp. gejala tersebut juga terdapat pada tanaman bagian atas (Sastrahidayat. terhadap patogen adalah kompetisi. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan agens antagonis adalah menumbuhkannya/memperbanyak pada media yang tepat. Semangun.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. Trichoderma sp. Makrokonidium lebih jarang ditemukan. Metode pengendalian yang sering dilakukan oleh para petani yaitu penggunaan bahan pestisida sintetik yang melebihi dosis anjuran dan digunakan secara terus-menerus sehingga mengakibatkan akumulasi pestisida di tanah. dan berukuran 25. bentuknya lurus atau bengkok seperti sabit. Kadang-kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun. kebanyakan bersekat dua atau tiga. bersel satu atau dua. Pemanfaatan cendawan antagonis merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan penyakit layu. 1991). adalah salah satu cendawan antagonis yang dapat menekan atau menghambat perkembangan patogen tanaman.5 µm. 1990. antibiosis. Pada tahap selanjutnya tanaman menjadi kerdil dan merana. 1990.

pipa. aplikasi Trichoderma sp. Provinsi Sulawesi Tenggara.Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat keefektifan Trichoderma sp. erlenmeyer. Setiap unit terdapat 15 tanaman sehingga secara keseluruhan terdapat 240 tanaman. Selain itu. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cawan petri. kertas label. pada berbagai media tumbuh dalam menekan patogen yang menginfeksi tanaman tomat. Rancangan Penelitian Penelitian disusun berdasarkan pola rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga total unit perlakuan adalah 16. tanah. pupuk kandang. kantong plastik. beras. diperoleh dari Laboratorium BPTPH. jarum ose. T1 = Trichoderma sp. + Media jagung T2 = Trichoderma sp. biakan murni cendawan Trichoderma sp. pacul. dan alat tulis menulis. Bertempat di Laboratorium dan Kebun Percobaan BPTPH Kecamatan Konda. dan aquades. + Media beras T3 = Trichoderma sp. Kabupaten Konawe Selatan. pasir. Bahan-bahan yang digunakan adalah benih tomat. kemudian diperbanyak pada cawan petri yang berisi media PDA. beras dan dedak dilakukan dengan cara masing-masing media direndam selama 24 jam lalu dicuci kemudian dikukus sampai lunak.. Inokulum cendawan Trichoderma sp. + Media dedak Pelaksanaan Penelitian Biakan Murni Cendawan Trichoderma sp. Pada tahap akhir media tersebut disterilkan dalam autoklaf pada suhu 100-121 0C selama 15 menit.) METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai April tahun 2006. Adapun perlakuan yang diberikan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut: T0 = kontrol (tanpa Trichoderma sp. 242 . Beras dan Dedak Pembuatan media jagung. Setelah itu. Pembuatan Media Jagung. media PDA. autoklaf. timbangan analitik. alkohol 70%. aluminium foil. dedak. jagung.). dapat mengoptimalkan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill. lampu bunsen. masing-masing media ditimbang 100g dan dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas yang sebelumnya telah dimasukan pipa untuk membentuk mulut kantong sehingga dapat ditutup dengan kapas dan aluminium foil.

ditambahkan ke dalam 25 kg pupuk kandang. Jumlah Bunga dan buah Pengamatan jumlah bunga dilakukan dengan cara menghitung pertumbuhan bunga tanaman yang dimulai 5 minggu setelah 243 . penyiangan gulma-gulma yang tumbuh dan pengendalian hama yang terdapat pada tanaman tomat. Setelah itu dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 50 g per lubang tanam. tanah dibalik menggunakan pacul dan selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar 1 m dan panjang 10 m sesuai dengan denah penelitian. tumbuh merata. beras dan dedak) dimasukkan cendawan Trichoderma sp. selanjutnya dicampur secara merata kemudian disimpan selama 1 hari. pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Pada masing-masing media (jagung. Setelah itu. Penanaman dan Pemeliharaan Bibit tomat yang telah berumur 21 hari dipindahkan ke lahan penanaman yang telah dibuat lubang tanam dengan jarak antar lubang tanam adalah 40 x 70 cm. dengan diameter kurang lebih 5 mm yang telah diperbanyak dalam media PDA. Benih tomat yang akan dijadikan sebagai tanaman uji terlebih dahulu disemaikan selama 21 hari pada wadah yang berisi tanah. Aplikasi Trichoderma sp. dilakukan seminggu sebelum tanam dengan cara 10 g Trichoderma sp. Persiapan Lahan dan Persemaian Lahan yang akan digunakan sebagai tempat penanaman terlebih dahulu disemprot dengan herbisida untuk membunuh gulma-gulma yang tumbuh. Aplikasi cendawan Trichoderma sp. Pengamatan Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman meliputi : Tinggi Tanaman dan Jumlah Cabang Untuk pengamatan pertumbuhan tanaman ditentukan sebanyak 7 tanaman pada setiap petak yang terdiri atas 15 tanaman.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. 5 Nopember 2008 Perbanyakan Cendawan Trichoderma sp. Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan cara mengukur mulai dari pangkal batang di atas permukaan tanah sampai tajuk tanaman tertinggi yang dilakukan setiap minggu setelah penanaman. Media diinkubasikan selama 7-14 hari dan tiap hari media tersebut digoyangkan agar pertumbuhan cendawan Trichoderma sp. Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman.

dan 4 minggu setelah aplikasi (MSA) dan berpengaruh tidak nyata pada umur 3 MSA. maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf kepercayaan 95%. bunga. rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan T3 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan T2 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan T1 dan T0 dengan rata-rata tinggi tanaman terendah.00 cm) meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan T2. Bunga. Pengamatan jumlah buah dilakukan 3 minggu setelah adanya bakal buah yang terbentuk. Jumlah Cabang. berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah cabang.). T2. dan T3) tidak berbeda nyata dan hanya berbeda nyata dengan kontrol. berpengaruh sangat nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman tomat pada umur 1. 2. buah dan bobot buah (Tabel 2). Pada umur dua MSA. Apabila diantara perlakuan berpengaruh nyata. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tinggi Tanaman Tomat Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Trichoderma sp. Buah dan Bobot Buah Tanaman Tomat Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Trichoderma sp. T1 dan perlakuan kontrol (T0 = tanpa Trichoderma sp. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada umur tiga MSA terdapat pada perlakuan T3 (51. Meskipun demikian adanya 244 .Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat penanaman. Analisis Data Data dianalisis dengan analisis sidik ragam (uji F). sedangkan rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada umur empat MSA masih terdapat pada perlakuan T3 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan T2 dan T1 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan T0 yang memberikan rata-rata tinggi tanaman terendah. ratarata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan T3 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan T2 dan T1tetapi berbeda nyata dengan perlakuan T0 yang memberikan rata-rata tinggi tanaman terendah. Bobot Buah Pengamatan bobot buah dilakukan dengan cara menimbang buah tomat pada setiap tanaman sampel dengan menggunakan alat penimbang. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada umur satu MSA. Rata-rata tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah cabang pada setiap perlakuan (T1.

+ Media dedak) sedikit lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.50 50. semua perlakuan berbeda nyata dengan kontrol dan perlakuan T3 (Trichoderma sp. + Media dedak) BNJ 0. Rata-Rata Tinggi Tanaman Tomat Umur 1.05 Pengamatan jumlah bunga dan buah tertinggi masih terdapat pada perlakuan T3 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan T2 dan T1 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan T0 yang memberikan rata-rata jumlah bunga dan buah terendah. + Media dedak) sedikit lebih baik dibanding dengan perlakuan Trichoderma lainnya.89 Tinggi Tanaman (cm) Minggu II 22.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. Patogen terbawah tanah seperti Fusarium.05 Keterangan: Minggu I 18.04 b 24. dan 4 Minggu Setelah Aplikasi (MSA) yang Diberi Perlakuan Trichoderma sp. mampu menekan penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium. Diduga cendawan Trichoderma sp. Tabel 1.40 b 55. mampu menghambat pertumbuhan patogen.19 ab 25.24 ab 29. Perlakuan Trichoderma T0 (tanpa Trichoderma sp. + Media jagung) T2 (Trichoderma sp. Hal yang sama ditunjukkan pada pengamatan bobot buah.08 Minggu III 39.93 ab 62.61 48. 5 Nopember 2008 kecenderungan bahwa perlakuan T3 (Trichoderma sp.53 tn 47. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma yang ditumbuhkan pada berbagai jenis media dapat mempertahankan produksi tanaman tomat dibandingkan dengan kontrol yang hanya diberi pupuk kandang tanpa Trichoderma sp. + Media beras) T3 (Trichoderma sp. 3.47 a 5. 2.00 Minggu IV 50.12 Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada BNJ0.54 c 22.18 a 9.50 ab 27. Phytium dan penyebab penyakit layu lainnya telah dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya bahwa penambahan Trichoderma sp.00 a 2.29 b 26.36 ab 57. 245 .) T1 (Trichoderma sp.

) T1 (Trichoderma sp.21a 19.21a 7.85 Σ Buah 8. (2003) bahwa aplikasi jamur antagonis Trichoderma sp.11ab 19.71a 5.52 Bobot Buah (g) 725.05 Menurut Baker et al.Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat Tabel 2. Buah dan Bobot Buah Tanaman Tomat Perlakuan Trichoderma T0 (tanpa Trichoderma sp.07% pada 3 hari setelah inokulasi. dapat berarti bahwa dengan adanya Trichoderma sp. jumlah buah.82a 2. Bunga. Berdasarkan hasil uji lanjut tinggi tanaman.36b 947. Ditambahkan oleh Sastrahidayat (1992).05 Keterangan: Σ Cabang 4. + Media beras) T3 (Trichoderma sp.36a 100. bunga dan bobot buah lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol. menghasilkan enzim ß – (1-3) glukanase dan kitinase yang menyebabkan eksolisis pada patogen sehingga menyebabkan hancurnya dinding sel cendawan Fusarium. Pengamatan in vitro Djaya et al.78b 16. Lebih lanjut diuraikan oleh Djaya et al.50a 974. bahwa jamur antagonis mempunyai kemampuan mikoparasit yaitu hifa Trichoderma sp. Hal ini membuktikan bahwa cendawan antagonis Trichoderma sp. jumlah buah.14 Σ Bunga 12. + Media jagung) T2 (Trichoderma sp. (2003).64a 980. tumbuh melilit hifa patogen dan menghasilkan enzim lysis yang dapat menembus dinding sel dan menghasilkan zat antibiotic yaitu gliotoksin dan viridin.68a 7. bahwa Trichoderma sp.86 Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada BNJ0. dapat digunakan untuk mengendalikan cendawan patogen. + Media dedak) BNJ 0. Tinggi tanaman. Laporan dari Talanca et al.11a 18.98b 7.61b 16. maka perkembangan patogen dapat dihambat dan ditekan sehingga tanaman terhindar dari serangan patogen tersebut maka dengan demikian tanaman dapat tumbuh lebih baik.36ab 21.Rata-Rata Jumlah Cabang. (1986) Trichoderma sp. bunga dan bobot buah menunjukkan bahwa pemberian cendawan antagonis berbeda sangat nyata bila dibandingkan dengan kontrol T0. 246 . (2003) setelah patogen mati nampak bahwa cendawan antagonis tumbuh terus menutupi permukaan koloni cendawan patogen. mampu menekan atau menghambat pertumbuhan cendawan Fusarium sampai 56.25a 7.

Sementara pada kontrol tidak ada penambahan atau perlakuan Trichoderma sp. menstimulasi dormansi propagul patogen serta menghasilkan efek fungistasis bagi patogen tular tanah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Trichoderma sp. dapat menguraikan bahan organik dalam tanah menjadi bahan makanan yang mudah diserap oleh tanaman. Hal yang sama telah dilaporkan oleh Affandi et al. Diduga tingginya bobot buah pada tanaman tomat yang diberi perlakuan Trichoderma sp. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Trichoderma sp. Sesuai dengan data pada Tabel 1 dan 2 bahwa perlakuan kontrol (T0) mengalami perkembangan pertumbuhan seperti jumlah cabang dan bobot buah yang lebih rendah dibandingkan perlakuan T1. ditemukan berasosiasi dengan lingkungan tersebut sehingga keberadaanya memainkan peranan kunci dalam proses dekomposisi.99% pada umur 87 hari setelah tanam dibanding dengan kontrol (tanpa pemberian jamur antagonis). Dugaan ini didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya seperti oleh Cook dan Baker (1983) melaporkan bahwa Trichoderma sp. 5 Nopember 2008 seminggu sebelum pemberian jamur patogen Fusarium sp. sebagai pengurai bahan organik sehingga mampu menyediakan nutrisi yang cukup bagi pertumbuhan tanaman tomat. terutama karena kemampuannya dalam mendegradasi senyawasenyawa yang sulit terdegradasi seperti lignosellulosa. dapat menekan intensitas serangan penyakit busuk batang jagung masing-masing sebesar 4. ditambahkan lagi bahwa bahan organik yang diaplikasikan ke dalam tanah dapat sebagai sumber nutrisi mikroorganisme antagonis sehingga mampu meningkatkan aktivitas agens antagonis. hanya dengan penambahan pupuk kandang sehingga ketersediaan nutrisi yang dapat langsung diserap oleh tanaman tomat lebih rendah dibandingkan pada tomat yang diberi Trichoderma sp.36 g.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan. terbukti dapat mempertahankan kehilangan hasil tanaman tomat dan media yang cukup baik digunakan adalah media dedak (T3) yang memberikan bobot buah 980. Hal ini terjadi karena pada perlakuan T0 tidak ada faktor yang membantu menghambat atau menekan perkembangan patogen yang ada di sekitar perakaran tanaman menjadi terganggu meskipun tanaman tidak mengalami kematian atau kelayuan. dan T3. (2001) bahwa beberapa cendawan yang berasosiasi dengan proses degradasi serasah di lingkungan mangrove.20% pada umur 80 hari setelah tanam dan 19. T2. 247 .

Giyanto. Usaha Nasional. Uji keefektifan mikroorganisme antagonis dan bahan organik terhadap layu fusarium (Fusarium oxysporum) pada tanaman tomat. Asrul. St. Diversitas dan visualisasi karakter jamur yang berasosiasi dengan proses degradasi erasah di lingkungan mangrove. Djaya A. The nature and practice of biological control of plant pathogens. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. APS Press The American Phytopathological Society. ITP an International Thomson Publishing Company. terbukti dapat mempertahankan kehilangan hasil tanaman tomat dan media yang cukup baik digunakan adalah media dedak (T3) yang memberikan bobot buah 980. Pengaruh perlakuan benih tomat dengan pseudomonas putida terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). 1: 39-52. M. Cook RJ. 1983.. 6-8 Agustus 2003. Biological Control of Plant Pathogens.A. 2005. St. I. Ilmu Penyakit Tumbuhan. DAFTAR PUSTAKA Affandi. 1996. dan Marsiah. Cook. Nimatuzahroh. 2001. 2003. Chapman & Hall. 1991. R. 1986. Gadjah Mada University Press.J. H. Jurnal Penelitian Medika Ekstra. Bandung. dan Baker K. Yogyakarta.. 248 ..B. 2003. 2 No. dan Garret SO. Surabaya. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Biological Control. Kendari Baker KF. 1992. Paul.. Mulya R. 6-8 Agustus 2003. Bandung.Muhammad Taufik : Efektivitas Agens Antagonis Tricoderma Sp pada Berbagai Media Tumbuh Terhadap Penyakit Layu Tanaman Tomat KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Trichoderma sp. SOC. Minnesota.. Minnesota. Supriyanto A. American Phytopath. Paul. Semangun.36 g. Badan Pusat Statistik. Vol. 538p Sastrahidayat.F.R.. Driesche RG and Bellows JR TS. Statistik 2005..

Pengendalian penyakit busuk batang jagung secara hayati dengan jamur Trichoderma. Prosiding Kongres XVII dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. 50-54p..H. A. 2003.. 249 . 6-8 Agustus 2003. dan Mas’ud S. Bandung. 5 Nopember 2008 Talanca. Wakman W.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful