KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Disusun Oleh Kelompok 2: -Faishal Jamaluddin -Yeriko Lumingkewas -Tika

Universitas Komputer Indonesia
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Ilmu Komunikasi

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan karuniaNya, penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang berjudul “Kekerasan dalam rumah tangga” dengan tepat waktu tanpa halangan suatu apapun. Diharapkan makalah ini dapat memberikan wawasan kepada pembaca tentang bagaimana kehidupan dunia prostitusi di Indonesia saat ini. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa 2. Dra. Nuri Sitti Nurachmah, selaku dosen Ilmu Sosial Budaya Dasar. 3. Pihak lain yang telah mendukung sehingga terselesaikannya makalah ini. Bagaimanapun telah berusaha membuat makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun tidak ada kesempurnaan dalam karya manusia. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penyusun harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Mudah-mudahan sedikit yang penyusun sumbangkan ini, akan dicatat oleh Allah SWT dan akan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Bandung, 10 Oktober 2011

Penyusun

.............................................................................................................................. Kekerasan Terhadap Perempuan.............................................................................................................................. 1 B............................................................................................. KESIMPULAN DAN SARAN ...........15 III................................................... 5 B...................... Faktor-faktor yang mendorong terjadi tindak kekerasan dalam Rumah tangga....ii DAFTAR ISI Kata Pengantar .............. Kesimpulan ....................... 9 E..........6 C............................. 17 ..................................... 5 A..... PENDAHULUAN........................................................... Saran ............................................................................................... 16 B............................... 16 A.... Issu tentang kekerasan dalam rumah tangga... i Daftar Isi ...................... 1 A..................................................................................................................................... PEMBAHASAN ................... 4 II................. Bentuk-bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan........................................ 11 F.................................................................. Tujuan .......................... Dampak Kekerasan Terhadap Kesehatan Reproduksi............................................................ Implikasi keperawatan yang dapat diberikan untuk menolong kaum perempuan dari tindak kekerasan dalam rumah tangga..................................................................................... ii I.. 8 D.......................................................................................................... Latar Belakang.....

iii .

terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga tersebut. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia. Dengan demikian. PENDAHULUAN A. mewujudkan keutuhan dan kerukunan tersebut. Negara Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dijamin oleh Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945.1 I.2 Tindakan penganiayaan terhadap perempuan banyak terjadi dewasa ini terutama kekerasan dalam rumah tangga atau singkatnya KDRT diatur dalam UU No. tentram. aman. maka orang yang melakukan atau yang mengabaikan itu diancam dengan pidana. dan dalam BAB XX tentang penganiayaan yaitu pasal 351-358. Keutuhan dan kerukunan Untuk rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol. setiap orang dalam lingkup rumah tangga dalam melaksanakan hak dan kewajibannya harus didasari oleh agama. Latar Belakang Tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang atau diwajibkan undang-undang yang apabila dilakukan atau diabaikan. yang pada akhirnya da-pat terjadi kekerasan . Hal ini perlu terus ditumbuhkembangkan dalam rangka membangun keutuhan rumah tangga. 23 tahun 2004. sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah tangga. dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga.1 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana buku II mulai pasal 104-488 mengatur tentang kejahatan.

melindungi korban. Sebagai akibatnya tidak hanya dialami oleh istri saja tetapi anak-anak jaga ikut mengalami penderitaan Untuk mencegah. . sehubungan dengan banyaknya kasus kekera-san. dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga. seksual. diperlukan pengaturan tentang tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga secara tersendiri. terutama kekerasan dalam rumah tangga. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan. walaupun secara umum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah diatur mengenai penganiayaan dan kesusilaan serta penelantaran orang yang perlu diberikan nafkah dan kehidupan. psikis. terutama kekerasan dalam rumah tangga. Perkembangan dewasa ini menunjukkan bahwa tindak kekerasan secara fisik. perlindungan. dan penelantaran rumah tangga pada kenyataannya terjadi sehingga dibutuhkan perangkat hukum yang memadai untuk menghapus kekerasan dalam rumah tangga.Pembaruan hukum tersebut diperlukan karena undang-undang yang ada belum memadai dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum masyarakat.2 dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidak-adilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tersebut. Pembaruan hukum sangat diperlukan. Kekerasan dalam rumah tangga biasa disebut sebagai Hidden crime yang telah memakan cukup banyak korban dari berbagai kalangan masyarakat. negara dan masyarakat wajib melak-sanakan pencegahan. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan disebabkan oleh berbagai faktor. khusus-nya tentang perempuan. adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap marta-bat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi. dan penindakan pelaku sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Oleh karena itu.

UU 8/1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. pekerja sosial. tenaga kesehatan. sudah saat-nya dibentuk Undang-Undang tentang Peng-hapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga yang diatur secara komprehensif. antara lain: UU 1/1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Perubahannya. UU 7/1984 tentang 28 Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women). atau pembimbing rohani untuk melindungi korban agar mereka lebih sensitif dan responsif terhadap kepen-tingan rumah tangga yang sejak awal diarahkan pada keutuhan dan kerukunan rumah tangga. dan UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia. serta sekaligus memberikan pendidi-kan dan penyadaran kepada masyarakat dan aparat bahwa segala tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan. dan tegas untuk melindungi dan berpihak kepada korban. selain mengatur ihwal pencegahan dan perlindungan serta pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu. juga mengatur secara spesifik kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dengan unsur-unsur tindak pidana yang berbeda dengan tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam KUHP. jelas. Undang-Undang ini. Undang-Undang ini juga mengatur ihwal kewajiban bagi aparat penegak hukum.3 Undang-Undang tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga ini terkait erat dengan beberapa peraturan perundang-undangan lain yang sudah berlaku sebelumnya. Berdasarkan pemikiran tersebut. UU 1/1974 tentang Perkawinan. . relawan pendamping.

e. Tujuan Umum: mampu memahami secara menyeluruh tentang tindak kekerasan dalam rumah tangga dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi perempuan serta implikasi keperawatan yang dapat diberikan. Dapat menjelaskan dampak tindak kekerasan pada istri terhadap kesehatan reproduksinya. Dapat mengimplikasikan peran perawat dalam melakukan pendampingan korban tindak kekerasan dalam rumah tangga . 2. c. Tujuan Khusus: a. Dapat mengidentifikasi bentuk tindakan kekerasan dan kategori pada istri dalam rumah tangga. d.4 B. Memperoleh persepsi istri terhadap tindakan kekerasan yang dialaminya. b. Tujuan 1. Dapat menjelaskan faktor-faktor yang mendorong terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Termasuk didalamnya ancaman. atau pe-rampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. maupun psikologis terhadap perempuan. dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Tindakan ini seringkali dikaitkan dengan penyiksaan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan yang dekat. Di samping itu. seksual. Kekerasan Terhadap Perempuan Komnas Perempuan (2001) menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang berakibat atau kecenderungan untuk mengakibatkan kerugian dan penderitaan fisik. Kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-undang RI no. sedangkan . Tindakan kekerasan fisik. dimana laki-laki adalah superior dan perempuan inferior sehingga laki-laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. pemaksaan maupun secara sengaja mengkungkung kebebasan perempuan. seksual.5 II. Hal ini menjadikan perempuan tersubordinasi. seksual. pemaksaan. psikologis. Tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga terjadi dikarenakan telah diyakini bahwa masyarakat atau budaya yang mendominasi saat ini adalah patriarkhi. PEMBAHASAN A. terdapat interpretasi yang keliru terhadap stereotipi jender yang tersosialisasi amat lama dimana perempuan dianggap lemah. dan psikologis dapat terjadi dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. baik perempuan dewasa atau anak perempuan dan remaja. 23 tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Tindakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk kekerasan yang seringkali terjadi pada perempuan dan terjadi di balik pintu tertutup.

Kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadinya karena faktor dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana istri di persepsikan orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. Saat ini dengan berlakunya undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga disetujui tahun 2004. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur. memukul. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan Menurut Undang-Undang No. meludahi. menendang. memukul/melukai dengan senjata. 1997.1997. dipukul. gigi patah atau bekas luka lainnya. Suara APIK. Keluarga dan masyarakat dapat ikut mencegah dan mengawasi bila terjadi kekerasan dalam rumah tangga (http://kompas.com). dan sebagainya. umumnya lebih kuat. muka lebam. jatuh sakit atau luka berat. B. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar. Kultur di masyarakat suami lebih dominan pada istri. menarik rambut (menjambak).6 laki-laki.com). . istri harus nurut kata suami. maka tindak kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya urusan suami istri tetapi sudah menjadi urusan publik. masyarakat tidak boleh ikut campur (http://kompas. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sciortino dan Smyth. bila istri mendebat suami. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : 1. Hal ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu. menyudut dengan rokok. ada tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi. bahwa menguasai atau memukul istri sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat superior laki-laki terhadap perempuan.

padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. 2006). hilangnya rasa percaya diri. memaksa selera seksual sendiri. perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. 4. tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. hilangnya kemampuan untuk bertindak.com. rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Kekerasan ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. mengisolir istri dari dunia luar. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri. memaksa melakukan hubungan seksual. bahkan menghabiskan uang istri (http://kompas..7 2. Kekerasan seksual Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya. Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. . komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri.menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. mengancam atau . 3. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan.

sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita.8 C. 5. dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. 4. Faktor-faktor yang mendorong terjadi kekerasan Strauss A. Wanita sebagai anak-anak konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum. diterima sebagai pelanggaran hukum. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masya-rakat dan keluarga. mengakibatkan keleluasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. 3. 2. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja. yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: 1. maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya. menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami. sehingga penyelesaian kasusnya sering . Pembelaan atas kekuasaan laki-laki Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak.

Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga. . Moore dan Toubia (1995) juga menyatakan bahwa perempuan yang tinggal dengan pasangan yang suka melakukan tindak kekerasan menunjukkan masalah-masalah ginekologis yang lebih berat ketim-bang dengan yang tinggal dengan pasangan/suami normal .9 ditunda atau ditutup. Namun. Selain itu. Rasa takut. D. Menurut Suryakusuma (1995) efek psikologis penganiayaan bagi banyak perempuan lebih parah dibanding efek fisiknya. penelitian yang dilakukan oleh Rance (1994) yang dikutip oleh Heise. Dampak kekerasan terhadap kesehatan reproduksi. Moore dan Toubia (1995) kekerasan dan dominasi laki-laki dapat membatasi dan membentuk kehidupan seksual dan reproduksi perempuan. Istri yang teraniaya sering mengisolasi diri dan menarik diri karena berusaha menyembunyikan bukti penganiayaan mereka. bahkan problem gineko-logis ini bisa berlanjut dalam rasa sakit terus menerus. letih. kelainan stress post traumatic. serta gangguan makan dan tidur merupakan reaksi panjang dari tindak kekerasan. cemas. Selanjutnya penelitian yang dilakukan di Norwegia oleh Schei dan Bakketeig (1989) yang dikutip oleh Heise. laki-laki juga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tentang alat kontrasepsi yang dipakai oleh pasangannya. tidak jarang akibat tindak kekerasan terhadap istri juga mengakibatkan kesehatan reproduksi terganggu secara biologis yang pada akhirnya mengakibatkan terganggunya secara sosiologis. Sehubungan dengan dampak tindak kekerasan terhadap kehidupan seksual dan repro-duksi perempuan.

pusing.10 Tindak kekerasan terhadap istri perlu diungkap untuk mencari alternatif pemberdayaan bagi istri agar terhindar dari tindak kekerasan yang tidak semestinya terjadi demi terwujudnya hak perempuan untuk memperoleh kesehatan reproduksi yang sehat. persalinan lama.go. perempuan akan mengalami penyulit persalinan seperti hilangnya kontraksi uterus. terbelakang mental. emosi dan ekonomi keluarga. persalinan imatur dan bayi meninggal dalam rahim. Tindak kekerasan juga berakibat mempengaruhi cara berfikir korban. cenderung curiga (paranoid). misalnya tidak mampu berfikir secara jernih karena selalu merasa takut. nyeri haid. ketidakmampuan mendapatkan orgasme. gangguan fisik. persalinan dengan alat bahkan pembedahan. dapat mengalami penurunan libido. Dampak lain yang juga mempengaruhi kesehatan organ reproduksi istri dalam rumah tangga diantaranya adalah perubahan pola fikir. Istri yang menjadi korban kekerasan memiliki masalah kesehatan fisik dan mental dua kali lebih besar dibandingkan yang tidak menjadi korban termasuk tekanan mental. sulit mengambil keputusan. Pada saat bersalin. tidak bisa percaya kepada apa yang terjadi. Pada saat hamil.id).depkes. Di seluruh dunia satu diantara empat perempuan hamil mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh pasangannya. akibat tindak kekerasan yang dialaminya. terinfeksi penyakit menular (www. Dampak terhadap pola fikir istri. Hasil dari kehamilan dapat melahirkan bayi dengan BBLR. dapat terjadi keguguran / abortus. Perempuan terganggu kesehatan reproduksinya bila pada saat tidak hamil mengalami gangguan menstruasi seperti menorrhagia. bayi lahir cacat fisik atau bayi lahir mati. . hipomenorrhagia atau metrorhagia bahkan wanita dapat mengalami menopause lebih awal.

Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi.11 Dampak terhadap ekonomi keluarga. keadaan pasca trauma dan rendahnya kepercayaan diri. Hal ini berdasarkan sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. kepindahan. menimpa tidak saja perempuan yang tidak bekerja tetapi juga perempuan yang mencari nafkah. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah di artifikasi oleh pemerintah Indonesia. Issu tentang kekerasan dalam rumah tangga. percobaan bunuh diri. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undangundang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’. E. Istri dapat mengalami depresi. biaya tak terduga untuk hunian. kehilangan kendali ekonomi rumah tangga. Dampak terhadap status emosi istri. Seperti terputusnya akses ekono-mi secara mendadak. penyalahgunaan / pemakaian zat-zat tertentu (obat-obatan dan alkohol). kecemasan. Isu penindasan terhadap wanita terus menerus menjadi perbincangan hangat. kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undang-undang No 7 tahun 1984. pengobatan dan terapi serta ongkos perkara. . Dampak lain dari tindakan kekerasan meskipun tidak selalu adalah persoalan ekonomi. Salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perjuangan penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak.

dimana konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum. dimana posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya. perjuangan perempuan Indonesia. Keempat yaitu faktor wanita sebagai anak-anak. terutama yang tergabung dalam Jaringan Advokasi Kebijakan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (JangkaPKTP). Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak. Pada tanggal tersebut. faktor beban pengasuhan anak dimana istri yang tidak bekerja. yang merupakan gabungan LSM perempuan se-Indonesia. . membuahkan hasil disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menjadi UU. mengakibatkan keleluasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Kelompok mencoba mengidentifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yaitu pertama faktor pembelaan atas kekuasaan laki-laki dimana laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita. dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. dimana diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi perempuan untuk bekerja mengakibatkan perempuan (istri) ketergantungan terhadap suami. Kelima faktor orientasi peradilan pidana pada laki-laki.12 Tanggal 22 September 2004 merupakan tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. faktor Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi. Kedua. diterima sebagai pelanggaran hukum. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga. Ketiga.

Lahirlah kebodohan secara sistematis pada masyarakat. Seperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan. sistem kapitalisme mengabaikan kesejahteraan seluruh umat manusia. dan merajalelanya perilaku kolusi dan korupsi pada semua lini pemerintahan. sehingga perilakupun berada pada derajat sangat rendah. Sistem ekonomi kapitalistik menitikberatkan pertumbuhan dan bukan pemerataan. telah menumbuh-suburkan perilaku penyimpangan seksual seperti homoseksual. . dan kemerosotan pemikiran masyarakat. Pembangunan negara yang diongkosi utang luar negeri. Dari sisi sosial-budaya. Dari sisi pendidikan. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan. dan lain lain. termasuk munculnya KDRT. sehingga kapitalisasi pendidikan hanya berpihak pada orangorang berduit saja. Dari sisi ekonomi misalnya. dipicu ketidakpuasan dalam hal ekonomi. Dari sisi hukum.13 Penerapan sistem itu telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan asasi manusia. ketiadaan sanksi yang tegas dan membuat jera pelaku telah melanggengkan kekerasan atau kejahatan di masyarakat. Ini akibat rendahnya kesadaran pemerintah dalam penanganan pendidikan. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. kebebasan berperilaku dan seks bebas. gaya hidup hedonistik yang melahirkan perilaku permisif. menggejalanya kebodohan telah memicu ketidak-pahaman sebagian masyarakat mengenai dampak-dampak kekerasan dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku santun. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. lesbianisme dan hubungan seks disertai kekerasan. pelaku perzinaan yang malah dibiarkan. Banyak kasus KDRT menimpa keluarga miskin. telah meremukkan sendi-sendi perekonomian bangsa.

Menurut pasal 11 UU PKDRT. pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga dan menurut pasal 12 ayat (1) menyelenggarakan advokasi dan sosialisasi tentang kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi tanggung jawab pemerintah. agar bila terjadi KDRT. dibutuhkan penerapan hukum yang menyeluruh oleh negara. Kekerasaan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan sanksi diyat. kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki. tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. Kekerasaan dalam rumah tangga. ia dapat memperbaiki nasibnya karena telah mengetahui hak-haknya. sosialisasi perlu. sebagai upaya pencegahan. seperti perlindungan sementara dan perintah perlindungan. terutama bagi para pihak yang berpotensi melakukan KDRT. nyatanya.14 Untuk persoalan ini. Bagi pihak yang mungkin menjadi korban KDRT. Sebab. sosialisasi dan advokasi kekerasan dalam rumah tangga masih minim. suami diwajibkan berbuat baik kepada istri. bahkan di kalangan aparat penegak hukum masih timbul berbagai persepsi. Sehubungan dengan banyaknya hal baru dalam UU PKDRT yang tidak ditemukan dalam UU lain. pastilah timpang. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apalagi memahami UU PKDRT. diperlukan pendidikan dan pelatihan yang memadai bagi aparat penegak hukum dan pekerja sosial untuk menyamakan persepsi. kalau hanya dilihat dari istri harus mengabdi kepada suami. diperlukan sosialisasi yang memadai bagi masyarakat luas. . Padahal dalam Islam. juga adanya tindak pidana berupa jenis kekerasan lain di luar kekerasan fisik. Namun. Disinilah letak penting tegaknya hukum yang tegas dan menyeluruh. Di samping itu. Kalau tidak akan terjadi ketimpangan. Sebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran.

perlindungan yang diatur dalam UU PKDRT hanya akan berupa law in book (teori) belaka. Merekomendasikan tempat perlindungan seperti crisis center. diperlukan harmonisasi peraturan perundang-undangan yang tidak sejalan dengan napas kesetaraan gender. pem-bentukan dan proses kelompok serta pelayanan rehabilitasi. Implikasi keperawatan yang dapat diberikan untuk menolong kaum perempuan dari tindak kekerasan dalam rumah tangga adalah : 1. 2. supremasi hukum harus ditegakkan. seperti kekerasan ekonomi dan kekerasan sosial. F. dan pencegaha tertier melalui pelatihan/pendidikan. Selain itu. sedangkan dalam law in action (praktik) akan sulit terwujud. modifikasi lingkungan sosial budaya dan pembinaan spiritual. upaya pencegahan sekunder dengan penerapan asuhan keperawatan sesuai permasalah-an yang dihadapi klien. . Penegakan hukum UU PKDRT tidak akan terlepas dari penegakan hukum pada umumnya. Perawat berperan penting dalam upaya membantu korban kekerasan diantaranya melalui upaya pencegahan primer terdiri dari konseling keluarga. agar peraturan perundangundangan bisa saling mendukung dan tidak saling bertentangan. supaya UU PKDRT dapat dirasakan efektivitasnya. Apabila negara tidak dapat menciptakan supremasi hukum. dan meningkatkan lingkungan sosial yang memungkinkan.15 UU PKDRT perlu direvisi pada bagian-bagian yang rancu dan perlu penambahan jenis kekerasan. Memberikan pendampingan psikologis dan pelayanan pengobatan fisik korban. Oleh karena itu. shelter dan one stop crisis center. Disini perawat dapat berperan dengan fokus meningkatkan harga diri korban. memfasilitasi ekspresi perasaan korban. antara lain dengan merevisi UU Perkawinan.

Fenomena gunung es KDRT mulai terungkap setelah undang-undang KDRT tahun 2004 diberlakukan. Mengadakan pelatihan mengenai perlindungan pada korban tindak kekerasan dalam rumah tangga sebagai bekal perawat untuk mendampingi korban. dan verbal serta penelantaran rumah tangga. 3. psikis. 4. melakukan pendamping-an. Dampak tindak kekerasan pada istri terhadap kesehatan reproduksi dapat mempengaruhi psikologis ibu sehingga terjadi gangguan pada saat kehamilan dan bersalin. serta setelah melahirkan dan bayi yang dilahirkan. Tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan jenis kejahatan yang kurang mendapat perhatian dan jangkauan hukum pidana. Melatih kader-kader (LSM) untuk mampu menjadi pendampingan korban kekerasan. melakukan perawatan fisik korban dan merekomendasikan crisis women centre.16 3. seksual. Memberikan pendampingan hukum dalam acara peradilan. wanita sebagai anak-anak. Bentuk kekerasannya dapat berupa kekerasan fisik. beban pengasuhan anak. 5. KESIMPULAN 1. III. dan orientasi peradilan pidana pada laki-laki. Implikasi keperawatan yang harus dilakukan adalah sesuai dengan peran perawat antara lain mesupport secara psikologis korban. 2. Faktor yang mendorong terjadinya tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga yaitu pembelaan atas kekuasaan laki-laki. KESIMPULAN DAN SARAN A. 5. diskriminasi dan pembatasan bidang ekonomi. dimana KDRT yang sebelumnya masalah privacy manjadi masalah publik ditandai laporan kasus KDRT semakin meningkat setiap tahunnya . 4.

mendampingi dan memulihkan kondisi psikisnya. Meningkatkan peran perawat untuk ikut serta menangani kasus KDRT dan menekan dampak yang terjadi pada kesehatan repsoduksinya dengan memfasilitasi setiap Rumah Sakit memiliki ruang perlindungan korban KDRT. B. SARAN Dengan disahkan undang-undang KDRT. . pemerintah dan masyarakat lebih berupaya menyadarkan dan membuka mata serta hati untuk tidak berdiam diri bila ada kasus KDRT lebih ditingkatkan pengawasannya.17 dan pelaku mendapat hukuman pidana walaupun saat ini kultur Indonesia masih dominasi laki-laki.

Kekerasan Rumah Tangga Bukan Lagi Urusan Suami Istri. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Bagi Wanita. Diambil pada tanggal 26 Oktober 2006 dari http://www.depkes. Komnas Perempuan (2002).co.depkes. Menggunakan Hak Asasi Manusia Untuk Kesehatan Maternal dan Neunatal: Alat untuk Memantapkan Hukum. (2007).org/wiki/Kekerasan WHO. (2006). Jakarta: Ameepro. Sekilas Tentang Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.com/ Kompas. dan Standar Pelayanan. ____ . Diambil pada tanggal 25 Maret 2007 dari http://kompas.id. (2006). Diambil pada tanggal 25 Maret 2007 dari www. RI. Kebijakan. Kes. Wikipedia. Jakarta: Dep. Kompas. (2007).id.detik.go. Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan Indonesia. (2006).depkes. Dari www.18 DAFTAR PUSTAKA __________.com. Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dipengaruhi Faktor Idiologi. .go. Diambil pada tanggal 26 oktober 2006 dari http://kompas.com. (2010).id. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. http://www.wikipedia. http://id.

19 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful