You are on page 1of 22

1

ORIENTALIS DAN PANDANGANNYA
TERHADAP ALQUR’AN
Oleh : Fakhrie Hanief
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an – menurut Al-Qur’an – menempati multifungsi yang fital bagi
pembinaan dan pembimbingan hidup dan kehidupan manusia. Tidak sedikit ayat Al-
Qur’an yang menginformasikan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk (ىﺪھ), pemberi
peringatan (ىﺮﻛذ), tolok ukur pemisah (نﺎﻗﺮﻓ) antara yang hak dan yang batil,
penawar (ءﺎﻔﺷ), dan pelajaran yang berisi solusi-solusi yang jitu bagi seluruh umat
manusia dalam semua lapangan dan aspek kehidupan (ﺔﻈﻋﻮﻣ), Allah berfirman pada
surah Yunus ayat 57:
ﻣ`ﺆ`ﻤﹾﻠﻟ ﹲﺔﻤ`ﺣﺭﻭ ﻯﺪ`ﻫﻭ ﹺﺭﻭ`ﺪ'ﺼﻟﺍ ﻲﻓ ﺎﻤﻟ ٌﺀﺎﹶﻔﺷﻭ `ﻢﹸﻜ`ﺑﺭ `ﻦﻣ ﹲﺔﹶﻈﻋ`ﻮﻣ `ﻢﹸﻜ`ﺗَﺀﺎﺟ `ﺪﹶﻗ `ﺱﺎ`ﻨﻟﺍ ﺎﻬ'ﻳﹶﺃ ﺎﻳ ﲔﹺﻨ
Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
1
Di samping itu, sebagaimana telah dimaklumi bahwa Al-Qur’an adalah
sumber ajaran Islam yang pertama dan utama, kitab yang dipandang paling suci oleh
kaum muslimin, dan memang kitab inilah yang menjadi sumber potensi aqidah hidup;
kuatnya umat berpegang teguh kepada kitab ini akan kuat pula potensi mereka.
Al-Qur’an pun sedari masa dia masih dalam proses penurunannya kepada
Rasul Muhammad SAW sampai kini dan masa akan datang sepanjang kehidupan
duniawi ini menjadi bahan studi yang tidak akan habis-habisnya, studi Al-Qur’an,
tidak saja dilakukan oleh pemeluk agama Islam yang mengimani Al-Qur’an tetapi
juga oleh pihak-pihak di luar Islam termasuk dari kalangan orientalis. Malah yang
disebut terakhir, dalam fakta sejarah ternyata begitu gencar melakukan studi dan
1
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain Al-Malik
Fahd li Thiba’at Al-Mushhaf Asy-Syarif, Madinah Munawwarah, t.th., hlm. 315.
2
dengan amat berani melakukan analisa-analisa tajam dan komentar terhadap kitab
suci umat Islam. Karya-karya tulis mereka tak terhitung jumalahnya, dan yang
menarik yaitu ada sisi yang positif di samping sisi negatif yang sangat perlu diketahui
secara kritis terutama oleh kalangan akademik umat Islam tak terkecuali para
mahasisiwa IAIN. Jangankan sisi yang negatif, terhadap sisi yang positf pun seorang
muslim haruslah waspada. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar bersikap
dengan hati-hati dalam menerima suatu informasi termasuk informasi ilmiah dalam
bentuk apapun dari pihak ornag yang fasik terlebih-lebih lagi kalau datangnya dari
orang yang non-muslim. Firman Allah SWT pada surah Al-Hujurat ayat 6:
ﺍﻮ`ﺤﹺﺒ`ﺼ`ﺘﹶﻓ ¸ﺔﹶﻟﺎﻬﺠﹺﺑ ﺎﻣ`ﻮﹶﻗ ﺍﻮ`ﺒﻴﺼ`ﺗ ﹾﻥﹶﺃ ﺍﻮ`ﻨ`ﻴﺒﺘﹶﻓ ﹴﺈﺒﻨﹺﺑ `ﻖﺳﺎﹶﻓ `ﻢﹸﻛَﺀﺎﺟ ﹾﻥﹺﺇ ﺍﻮ`ﻨﻣﺁ ﻦﻳﺬﱠﻟﺍ ﺎﻬ'ﻳﹶﺃ ﺎﻳ `ﻢ`ﺘﹾﻠﻌﹶﻓ ﺎﻣ ﻰﹶﻠﻋ
ﲔﻣﺩﺎﻧ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Masuknya ‘Ulumul Qur’an” dalam paket kurikulum di semua fakultas
perguruan tinggi Islam adalah suatu perkembangan yang menggembirakan. Karena
di antara tujuan dipelajarinya Ulumul Qur’an adalah agar para mahasiswa mampu
menanggapi secara kritis dan objektif ilmiah sekaligus untuk menolak isu-isu negatif
terhadap Al-Qur’an yang dilontarkan oleh berbagai pihak. Al- Ustadz Abdul Wahhab
Abdul majid Gazlaan mengatakan:
, ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﻡﻮﻠﻋ ﺪﺋﺍﻮﻓ ﻦﻣ · , ﻪﻴﻠﻋ ﺕﺩﺭﻭ ﱴﻟﺍ ﺕﺎﻬﺒﺸﻠﻟﺍ ﺔﻓﺮﻌﻣ , ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ , ﺓﺪﻳﺪﻋ ﺡﺍﻮﻧ ﻦﻣ
ﺎﻬﻌﻓﺩﻭ .
`
2
Abdul Wahhab Abdul Majid Gazlaan, Al-Bayaan fie Mabaahits Min ‘Ulumil Qur’an, Kuliah
Ushuluddin Jaami’ah Al-Azhar, Mesir, t.th., hlm. 32.
3
Terdapat beberapa pandangan dan sikap orientalis yang bersifat negatif
terhadap Al-Qur’an yang termuat dalam karya-karya tulis mereka. Dan lebih lanjut
tidak sedikit karya-karya tulis mereka yang dijadikan literatur/referensi untuk tulisan-
tulisan ilmiah di berbagaia perguruan tinggi di dunia ini yang sudah barang tentu di
antaranya terkonsumsi juga oleh para mahasiswa. Penulis memandang perlu
mengungkapkan beberapa contoh pandangan dan sikap orientalis dimaksud, dan
penulis mencoba mengetengahkannya dalam makalah ini dengan dilengkapi tinjauan
mengenai beberapa aspek tertentu walaupun secara singkat.
B. Orientalis dan Motivasi Orientalisme
Orientalis adalah “ahli tentang soal-soal Timur, yaitu segala sesuatu
mengenai negeri-negeri Timur, terutama negeri-negeri Arab dan Islam. Yaitu tentang
kebudayaannya, keagamaannya, peradabannya, kehidupannya dan lain-lainnya dari
bangsa dan negeri Timur”,
3
sedangkan orientalisme adalah kegiatan penyelidikan
para orientals, ahli ketimur-an di Barat tentang agama-agama di Timur, khususnya
agama Islam – ini dalam pengertiannya sedara sempit, namun secara luas kegiatan itu
berkaitan langsung dengan hal-hal yang menyangkut bangsa-bangsa di dunia Timur
(orient) beserta lingkungannya, sehingga meliputi seluruh bidang kehidupan dan
sejarahnya.
4
Secara analistis, orientalisme dibedakan atas:
1. Keahlian mengenai wilayah Timur,
2. Metodologi dalam mempelajari masalah ketimuran,
3. Sikap ideologis terhadap masalah ketimuran khususnya terhadap dunia
Islam.
5
Sebenarnya ruang lingkup yang digarap oleh para orientalis amat luas,
terutama sejak penghujung abad ke-19 sampai kini, hingga walau bagaimanapun
3
Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten, CV Faizan, Surabaya, 1970, hlm. 11.
4
H. A. Mannan A. Buchari, LC., Menyingkap Tabir Orientalisme, Sekolah Tinggi Ilmu
Tarbiyah (STIT) Al-Jami’, Banjarmasin, 1996, hlm. 9-10.
5
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 1993, hlm.
55.
4
bangsa-bangsa Timur boleh juga berterima kasih atas kegiatan, karya dan
kesungguhan mereka. Hanyasannya dalam bidang keagamaan terdapat hal-hal yang
negatif di samping yang positif hingga membangkitkan reaksi dari para pemeluk
agama, terutama agama Islam.
Sikap kaum orientalis terhadap Islam khususnya pada masa-masa lampau itu
dapat dapat dipahami bila disadari bahwa tempat berpijak dalam menyoroti agama
Islam dan dunia Islam adalah: pertama,kedudukannya sebagai sarjana Kristen;
kedua, kedudukannya sebagai sarjana ateis ataupun free-thinkers.
6
Anutan itu
menimbulkan bias-bias – yang disadari atau tidak – terhadap hasil-hasil pandangan
mereka, dan tak bisa ditutup-tutupi, karena nampak sekali termuat dalam karya-karya
tulis mereka.
Menurut M. Natsir Arsyad, para orientalis, memegangi lima dogma, yaitu
sebagai berikut:
Pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan sistematik antara Barat yang
rasional, maju, manusiawi dan superior, dengan Timur yang sesat, irasional,
terbelakang, dan inferior. Bahwa hanya orang kulit putihlah (Eropa an Amerika)
yang benar-benar manusia (manusia penuh), sedangkan orang-orang Asia dan
Afrika yang berkulit hitam dan berwarna, cuma setengah-manusia (dan setengah-
hewan).
Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada
teks-teks klasik/kuno, dan ini lebih diutamakan ketimbang bukti-bukti nyata dari
masyarakat Timur yang real dan kongkret.
Ketiga, Timur dianggap begitu lestari dan mandek, seragam dan tidak
sanggup mendefenisikan dirinya. Tugas Baratlah untuk mandefenisikan apa
sesungguhnya Timur itu, dengan cara yang sangat digeneralisasi. Dan ini semua
dianggap cukup “objektif”.
Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang patut ditakuti
(ingat “bahaya kuning”, “gerombolan Mongol”, “bahaya coklat”, dan lainnya),
atau sesuatu yang perlu ditaklukkan (dengan riset, atau kalau mungkin dengan
penjajahan mentah-mentah).
Kelima, untuk Islam dan umatnya : Al-Qur’an bukanlah wahyu ilahi
melainkan hanyalah buku karangan Muhammad yang merupakan gabungan
6
H. M. Joesoef Sou’yb, Orientakisme dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985, hlm. v.
5
unsur-unsur agama Yahudi, Kriten, dan tradisi Arab pra-Islam. Dan kesahihan dan
otentisitas semua hadis harus diragukan.
7
H. A. Mannan A. Buchari, LC. mengemukakan bahwa tujuan gerakan
orientalis secara umum, antara lain adalah:
1. Menghalangi bangsa Dunia Barat agar tidak memeluk Islam;
2. Menghancurkan dan melemahkan kekuatan Islam dan kesatuan umatnya;
3. Prolog untuk menjajah dunia Islam dengan membantu imperialisme dan
kolonialisme serta menyalahartikan makna jihad;
4. Memisahkan kaum muslimin dari pokok-pokok ajaran Islam dan mengacaukan
serta menjauhkannya dari ajaran sumber aslinya (Al-Qur’an san As-Sunnah).
5. Mengekspoitir dan merampas kekayaan Dunia Islam dan balas dendam terhadap
kekalahan mereka di abad pertengahan (Perang Salib).
8
Sedangkan Dr. Mushtafa As-Siba’i mengklasifikasikan tujuan orientalisme
kepada tiga katagori, yakni:
1. Tujuan ilmiah terselubung ( ﻮﺒﺸﻣ ﻲﻤﻠﻋ فﺪھ ه )
2. Tujuan keagamaan dan politik (ﺔﯿﺳﺎﯿﺴﻟاو ﺔﯿﻨﯾﺪﻟا فاﺪھﻷا)
3. Tujuan ilmiah murni dan objektif (ﺔﺼﻟﺎﺧ ﺔﯿﻤﻠﻋ فاﺪھأ)
9
Gerakan orientalis melahirkan karya-karya ilmiah yang didasarkan kepada
hasil-hasil eksplorasi, penelitian dan sebagainya yang nampaknya dari format luar
demi kepentingan ilmu belaka, padahalnya terdapat motif-motif jahat mereka. Dan
ditujukan untuk mendatangkan atau menanamkan keraguan (ﻚﯿﻜﺸﺘﻟا) di kalangan
umat Islam dan non-muslim, antara lain terhadap:
1. Kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dan wahyu yang menjadi sumber
ajarannya, (baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits). Mayoritas orientalis mengingkari
kenabian Rasulullah yang mendapat wahyu dari Allah. Pengingkaran terhadap
7
M. Natsir Arsyad, Seputar Al-Qur’an, Hadits & Ilmu, Al-Bayan, Bandung, 1992, hlm. 114-
115.
8
H. A. Mannan A. Buchari, LC., op cit, hlm. 5.
9
Dr. Mushthafa As-Siba’i, Al-Istisyraaq wal Mustasyriquun, Al-Maktabul Islamy, Beirut,
1979, hlm. 20.
6
kenabian ini selanjutnya diikuti dengan pengingkaran terhadap Al-Qur’an yang
dibawa oleh Nabi yang berasal dari Allah SWT. Kemudian pengingkaran itu
sampai kepada penolakan akan agama Islam sebagai agama murni samawi dari
Allah. Mereka berpandangan dan menjual pandangan ini yaitu agama Islam itu
hanyalah perpanjangan agama Yahudi dan Kristen. Diantara orientalis kelas berat
yang berpandangan demikian adalah Orientalis Yahudi yang bernama Goldziher
dan Joseph Schacht.
2. Urgensi Fiqih Islam. Orientalis mempropagandakan pandangan mereka bahwa
Fiqih Islam sebenarnya pengembangan lanjutan dari hukum positif yang hidup di
dunia Barat.
3. Kemampuan bahasa Arab untuk mengikuti perkembangan iptek. Mereka
mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang miskin.
4. Ketinggian nilai pusaka-pusaka peninggalan kemajuan Islam, sehingga umat
Islam tidak memiliki rasa percaya kepadanya semua malah diharapkan agar umat
Islam tidak berkeyakinan mantap terhadap aqidahnya. Apabila umat lemah aqidah
hidupnya, maka longgarlah ukhuwah islamiyah dan wihdatul ummahnya; untuk
ini dihidup-suburkan jiwa nasionalisme dan qabilahisme yang pernah subur di
masa Jahiliyah. Dan akhirnya mudahlah umat Islam ini dikuasai dan ditundukkan
dengan senjata kemajuan kebudayaan-kebudayaan Barat.
10
Beberapa bentuk usaha orientalis
Untuk mencapai tujuan-tujuan orientalisme di atas, ada sejumlah bentuk
usaha yang mereka lakukan dengan gigih, antara lain:
1. Mengarang buku-buku dalam berbagai topik bahasan mengenai Islam dan dunia
Islam termasuk mengenai Nabi dan Al-Qur’an. Buku-buku ini jelas berisi
penyimpangan-penyimpangan yang besar yang dilakukan secara sengaja dan
sistematis, baik berupa perubahan-perubahan teks otentik ajaran Islam dan
interpretasinya yang keliru dan atau dikelirukan., maupun pemutar-balikkan fakta-
fakta sejarah yang sesungguhnya dengan cara yang halus dan berbumbu sehingga
nampak logis.
10
Ibid, hlm. 20-25.
7
2. Menerjamahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa bangsa Barat seperti bahasa Latin
dan Inggris. Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Latin yang boleh dibilang
terjemahan pertama dalam bahasa ini adalah terjemahan karya seorang orientalis
berkebangsaan Inggris bernama Robert Uff Ceytone yang dibantu oleh Herman
Uff Delmatiy pada tahun 1143 M. Sedangkan terjemahan pertama dalam bahasa
inggris adalah terjemahan oleh orientalis berkebangsaan Skotlandia bernama
Alexander Ross pada tahun 1649 M. Kemudian disusul oleh terjemaham Al-
Qur’an, sebuah karya orientalis kenamaan George Sale, diterbitkan di London,
paling populer dan terlaris serta disebarluaskan dengan besar-besaran sejak tahun
1734 M dengan nama The Kuran or The Kuran of Muhammad. Terjemahan Sale
ini didasarkan pada karya-karya para mufassir Muslim, khususnya Al-Baidhawy
dan disertai catatan-catatan penjelasan.
a. Memadukan kesatuan berpikir untuk menyerang Islam.
b. Menyalahkan dan menjelekkan Al-Qur’an.
c. Untuk mengkristenkan umat Islam secara massal.
11
3. Menerbitkan dan menyebarkan majalah-majalah yang memuat uraian-uraian
seperti disebutkan pada point 1 di atas secara gratis ke tengah-tengah masyarakat
Islam di berbagai negara dan bangsa. Di antara majalah yang populer adalah The
Muslim World yang diterbitkan oleh para orientalis di Amerika di bawah
pimpinan Zwei-mer yang penerbitannya sejak tahun 1911 dan sampai sekarang
masih diterbitkan di bawah pimpinan redaksi K. Cragg.
4. Melaukukan misi-misi kemanusian seperti pendirian rumah-rumah sakit, lembaga-
lembaga pendidikan formal maupun non-formal, rumah-rumah pengasuhan anak-
anak yatim dan orang miskin, dan lain sebagainya. Aktivitas kebanyakannya
bergandengan erat dengan misi Kristenisasi yang bergerak secara internasional
dan menjarah ke dunia Islam.
5. Mengisi rubrik-rubrik yang termuast di koran-koran dengan tulisan-tulisan yang
menggiring masyarakat pembacanya untuk menerima informasi-infornasi yang
11
H. A. Mannan A. Buchari, LC., op cit, hlm. 34.
8
tidak benar mengenai Islam. Malah tidak jarang pers di negeri Islam tertentu
dibeli oleh mereka.
6. Menyelenggarakn forum-forum ilmiah seperti seminar, kongres, dan sejenisnya
yang tujuannya tidak lain adalah untuk menjajakan konsep-konsep dan visi-visi
orientalis.
7. Menyusun dan menerbitkan ensiklopedia-ensiklopedia Islam dalam berbagai
bahasa. Bergabung dalam tim penyusun ensiklopedia ini tokoh-tokoh orientalis
yang notabene mempunyai sikap antipati berat sekali terhadap Islam.
Ensiklopedia yang dicetak dengan oplag yang sangat banyak disebarkan ke
berbagai perpustakaan di dunia termasuk perpustakaan-perpustakaan perguruan
tinggi Islam di Indonesia yang tidak jarang oleh para mahasiswa – dengan rasa
bangga – dijadikan referensi dalam tulisan-tulisan mereka.
8. Mengirim pakar-pakar keilmuan, sarjana-sarjan orientalis yang sudah senior untuk
memberikan studium-general dan sejenisnya ke perguruan-perguruan tinggi dan
lembaga-lembaga ilmiah lainnya di seluruh dunia, termasuk ke perguruan-
perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Perlu ditandaskan bahwa selain motif-motif yang bersifat negatif, ada juga di
antara mereka – para orientalis – yang tampaknya tidak punya pretensi apa-apa,
melainkan semata ingin mengkaji, meneliti, dan mendalami Islam secara ilmiah dan
objektif dan dengan tekun toleransi serta kejujuran untuk mengetahuinya.
Umpamanya saja, Gustav Le Bon, seorang filosof materialis yang menulis buku
Peradaban Islam.
Bahkan diantaranya ada yang tergolong orientalis kelas gajah yang beroleh
hidayah Allah SWT lalu menyatakan diri memeluk agama Islam, sesudah benar-
benar menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan segenap potensinya mempelajari
Islam. Misalnya, Dr. Roger Garaudy adri Prancis (yang telah melakukan
pengembangan intelektual dan ruhaniah ke berbagai paham dan agama, bahkan
sempat hinggap ke sarang komunisme), Prof. Abdullah Karim Germanus dari
Hongaria, Dr. Et Diniet dari Prancis namun mukmin di Aljazair dan mengubah
namanya menjadi Nasruddin Diniet. Begitu pula Prof. Umar Baron von Ehrwnfles
9
dari Australia, Marger Marcus (Yahudi New York yang lantas berganti nama
menjadi Maryam Jamilah, pengikut militan gerakan “Jamaah Islam” pimpinan Abu’l
A’la al-Mawdudi),Prof. Vincent Monteil dari Prancis, Prof. Fritjhof Schuon dari
Swiss, Omar F. Abdalla dari Amerika Serikat, dan Prof. Hamid Algar dari Inggris.
12
Menurut Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Jakarta, paling tidak ada
tiga periode yang dilalui orientalisme yakni: (1) masa sebelum meletusnya Perang
Salib, di saat umat Islam berada dalam zaman keemasannya (650-1250 M); (2) masa
Perang Salib sampai masa pencerahan di Eropah; dan (3) masa pencerahan di Eropa
sampai sekarang.
13
Dalam kurun tiga periode ini diakui bahwa pandangan orientalis
terhadap Islam dan dunia Islam bergerak menuju simbol positif. Pada awal abad ke-
20, para orientalis telah banyak menulis secara ilmiah objektif, setelah sebelumnya
sejumlah besar buku ditulis dengan sikap bahwa “Islam tetap merupakan musuh
bebuyutan yang ditakuti dan terkadang dikagumi” dan “hal-hal yang ditulis itu
hampir semuanya bersifat apologetik dan polemik, terkadang bahkan hampir
merupakan hal-hal yang tidak senonoh serta cabul”.
14
Kendati demikian, isu-isu yang
dikumandangkan oleh para orientalis haruslah tetap diwaspadai dengan kritis. Betul
pada era abad ke-20 aktivitas dan karya mereka cenderung bersifat ilmiah dan
objektif, namun dimaklumi bahwa pada era modern pasca renaissance, orientalisme
tidak bisa dipisahkan dari kolonialisme dan gerakan kristenisasi.
Dalam hubungan ini patut dilihat lebih cermat mengenai karakteristik
orientalisme:
1. Orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan sangat erat
hubungannya dengan kolonial Barat. ...fenomena orientalisme berkaitan erat
dengan kolonialisme. Di mana ada kolonialisme di situ ada orientalisme. ...
2. Orientalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat
dengan gerakan kristenisasi. Hal ini terbukti dengan semakin membengkaknya
jumlah kaum Nasrani yang menspe-sialisasikan diri dalam sekolah kepasturan
untuk mengkaji kitab-kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Kemudian
mereka dipersiapkan secar khusus, bekerja sama dengan orientalis Yahudi untuk
12
M. Natsir Arsyad, op cit, hlm. 119.
13
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, op cit, hlm. 55-58.
14
W. Montgomery Watt, Pengantar Studi Al-Qur’an, Terjemahan: Taufik Adnan, CV
Rajawali, Jakarta, 1991, hlm. 273.
10
mempelajari tentang bahasa Arab, Islam dan kaum muslimin, dengan tujuan yang
beragam. Antara lain untuk mempelajari dan memehami secara mendalam
masalah-masalah yang mungkin dapat digunakan sebagai mengotori citra Islam,
menumbuhkan perselisihan dan pertentangan di kalangan sesama umat Islam
(pertikaian masalah mazhab dan masalah furu’iyah) serta menumbuhkan perasaan
ragu terhadap ajaran Islam dan berusah keras memurtadkan umat Islam. ...
3. Orientalisme merupakan kajian gabungan yang mesra antara kolonialisme dengan
gerakan kristenisasi, yang validitas ilmiah dan objektivitas tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara mutlak, terutama dalam kajian tentang Islam. ...
4. Orientalisme merupakan bentuk kajian yang dianggap paling potensial dalam
politik dunia Barat untuk melawan Islam dan kaum muslimin.
15
Demikianlah pembicaraan sekilas tentang orientalis dan orientalisme.
Selanjutnya akan dibicarakan secara khusus tentang sikap dan pandangan orientalis
terhadap Al-Qur’an.
C. Sikap dan Pandangan Orientalis terhadap Al-Qur’an
Orientalis – baik yang berbicara maupun yang tidak berbicara mengenai Al-
Qur’an amat banyak dan sulit untuk dibilang jumlahnya. Mengingat banyaknya
jumlah mereka, maka hanya sebagian yang dikutipkan dalam makalah ini, namun
diyakini telah mewakili pandangan-pandangan mereka, dan khusunya mereka yang
berbicara mengenai Al-Qura’an dapat dikatakn senada saja atau dalam lingkaran
yang sama dan fokus yang sama yakni untuk menudingkan ketidak-benaran Al-
Qur’an yang tinjauannya dari beberapa segi.
1. Washington Irving
Dia (1783-1859 M) seorang sarjana hukum dan dapat diploma yang pernah
mewakili Amerika Serikat di Spanyol dengan jabatsn Minister Resident, banyak
meninggalkan karya-karya di antaranya The Alhambra dan Life of Muhamet and His
Succcesors. Dalam karyanya yang disebut terakhir, dia mengemukakan
pandangannya mengenai nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an. Dia tidak
menyangsikan kualitas intelektual Nabi malah memujinya, tetapi ternyata apa yang ia
katakan ini hanya sebagai premis pengantar untuk premis yang lebih besar yaitu
15
H. A. Mannan A. Buchari, LC., op cit, hlm. 12-13.
11
kesimpulan terhadap Al-Qur’an yang katanya penuh kekurangan, kekaburan dan
kekeliruan. Irvin mengatakan: ‘kualitas intelektualnya (Muhammad) luar biasa tanpa
dapat disangsikan. Ia memiliki pemahaman yang cepat, ingatan yang kuat, imajinasi
yang terang.”
16
Selanjutnyha Irving berkata mengenai AL-Qur’an:
Dia (Muhammad) sendiri jelas dan berulang kali menolak untuk melakukan
sesuatu mukjizat kecuali mukjizat satu-satunya baginya ialah Al-Qur’an; yang
oleh keistemewaannya yang tiada dapat ditandingi masa itu, yang dikatakan
diterimanya melalui wahyu, ia pun menyatakannya mukjizat terbesar [the greatest
of miracles].
Di sini marilah kita mengemukakan beberapa observasi mengenai dokumen
terkenal itu. Selagi kaum muslimin fanatik, begitu juga kaum ulama [the most
learnad doctors of the faith] berikhtiar membuktikan berasal dari wahyu ilahi
dengan mengemukakan gaya dan susunna bahasanya yang tiada taranya, dan
Muhammad itu sendiri adalah buta huruf; tetapi kritikus yang teliti menyatakan
paduan keindahan dan kekeliruan, tanpa metode ataupun aransemen, penuh oleh
kekaburan[obscurities], ketiadaan ujung pangkal [incobAerencies] kelewat
berulang-ulang [repetions], versi-versi palsu dari kisah-kisah Alkitab
(falseversions of scriptural strories), dan pertentangan-pertentangan secara
langsung (direct contradictions).
17
2. George Sale
Dia termasuk orientalis Barat ynag menguasai bahasa Arab dengan baik,
karenanya dia memiliki modal untuk menerjamahkan Al-Qur’an dan dia termasuk
pula orientalis Barat yang mengakui dengan jujur akan keindahan bahasa Al-Qur’an,
antara lain katanya: “Di seluruh dunia diakui bahwa Al-Qur’an tertulis dalam bahasa
Arab dengan gaya bahasa yang paling tinggi, paling murni...diakui sebagai standar
bahasa Arab...dan tidak dapat ditiru oleh pena manusia.”
18
Sale menyerang Al-
Qur’an melalui karyanya, terjamahan Al-Qur’an yang berjudul The Kuran or The
Kuran of Muhammad, yang disebarluaskan sejak abad XVII te[atnya tahun 1734 M.
16
H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 108.
17
Ibid, hlm. 124.
18
M. Hashem, Kekaguman Dunia terhadap Islam, Pelita, Bandung, t.th., hlm. 43.
12
Dalam pengantar karyanya ini yang diberi judul Preliminary Discourse dia banyak
melontarkan dakwaan dan tuduhan, antara lain dikatakannya:
Qur’an bukan wahyu dan bukan mukjizat. Di dalam Qur’an banyak sekali
kekeliruan dan satu sama lain saling kontradiksi. Kebanyakan isinya dicukil dari
ajaran Yahudi, tidak hanya dalam pokok-pokok masalahnya saja, tetapi dalam
pembagian dan pengaturan serta susunan surat dan ayat-ayatnya. Dalam Qur’an
banyak sekali pengulangan dan cerita dongeng-dongeng kuno.. ...Muhammad
tidak lain adalah pengarang Qur’an itu sendiri, rancangannya dibantu orang lain.
Ini adalah masalah yang tidak diragukan lagi dan telah disepakati oleh semua
orang, karena tidak adanya protes atau usulan dari para sahabatnya.
19
Demikianlah Sale dengan pendapatnya yag menunjukkan bahwa dia seorang
yang berpandangan sangat dangkal; dia mengabaikan aspek sejarah yang
sesungguhnya atau barangkali berusaha merubah sejarah agar sesuai dengan
seleranya, sale betul-betul buta mengenai sejarah Nabi Muhammad Saw yang tidak
belajar dan mempelajari kitab suci Yahudi.
3. Theodore Noldeke (1836-1930 M)
Orientalis yang satu ini adalah orientalis berkebangsaan jerman, lahir di
Hamburg dari keluarga yang terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan. Ia mendalami
bahasa-bahasa Semit seperti bahasa Suryani, Arab dan Parsi. Pada tahun 1856 ia
mencapai gelar doktor, setelah ia menyempurnakan studinya di Leipzig, Wina,
Leiden dan Berlin.
20
Mengenai Al-Qur’an ia mengemukakan pendapatnya:
Kita bahkan kurang bergairah menyaksikan keterlaluan banyak khayali (the
grossness of imagination), kekurangan logika (the luck of logic), kemiskinan
pemikiran yang tak dapat dibantah (the undeniable poverty of thought), dan
banyak hal lainnya di alam Al-Qur’an itu; tetapi semua itu bukanlah efek-efek
bagi pihak yang mendengarkan Muhammad pada masa dulu itu, teristemewa pada
saat perhatian mereka itu terpaku pada satu tujuan. Bahkan semuanya itu
terpandang baru bagi mereka, tergetar oleh kengerian dan kegembiraan
mendengarka neraka dan surga; maka bagi orang yang banyak berpikiran
sederhana serupa itu, kelemahan penalaran dalam Al-Qur’an itu tidaklah
kelihatan, karena tekanan tentang soal-soal neraka dan surga itu berpengaruh kuat.
19
H. A. Mannan A. Buchari, LC., op cit, hlm.35.
20
Drs. H. Abidin Ja’far, LC., Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, CV Bina Usaha,
Yokyakarta, 1987, hlm. 95.
13
Apalagi mereka itu cuma mendengarkan kepingan demi kepingan dari waktu ke
waktu. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dikatakan wahyu itu diteriam di dalam tempo
lebih dari 20 tahun, dan dengan sendirinya, monotoni yang kita rasakan tidaklah
kentara bagi orang pada masa itu....
21
4. Philip K. Hitti (lahir tahun 1886)
Asal Lebanon dan menjadi warga negara Amerika Serikat. Lulusan American
University Beirut dan mencapai gelar doktor pada Universitas Columbia tahun 1915.
Dia seorang dosen dan sekaligus ketua Dirasat Syarqiyyah serta termasuk staf ahli
tidak tetap untuk urusan Timur Tengah di Departemen Luar Negeri Amerika
Serikat.
22
Dia berpendapat mengenai Al-Qur’an:
Dibanding dengan Bible, ketidakpastian pada ayat Al-Qur’an sedikit sekali.
Versi resmi yang pertama dan terakhir dari Al-Qur’an itu dibanding 19 tahub
sesudah Muhammad wafat. (Compared to the Bible, the Koran offers but few
textual uncertainties. The firts, final and only canonized version of the Koran was
collated nineteen years efter the death of Muhammad). Hal itu disebabkan karena
tokoh-tokoh yang hafal Al-Qur’an makin berkurang karena pertempuran yang
terus menerus (di luar Arabia). Dari ayat-ayat yang ditulis pada himpunan pelepah
tamar an kepingan-kepingan batu putih dan dari hafalan-hafalan ingatan, maka
naskah – yang mula-mula dan tidak resmi itu – disusun kembali. Kemudian
seluruh naskah lainnya itu dimusnahkan. Al-Qur’an yang memiliki 6.239 ayat,
atau 77.934 kata, atau 323.621 huruf itu diawasi senantiasa dengan hati-hati.....Al-
Qur’an itu bukan hanya merupakan jantung agama, penuntun kepada kerajaan
Samawi, tetapi juga ikhtisar ilmu dan dokumen politik, berisikan himpunan
hukum untuk kerajaan di bumi...
23
21
Ibid, hlm.127.
22
Drs. H. Abidin Ja’far, LC., Ibid, hlm. 102; dan (b). Dr. Mushthafa As-Siab’i, op cit, hlm.
33.
23
H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 130.
14
5. Tor Andrae
Prof. Dr. Tor Andrae, orientalis berkebangsaan Jerman ini membicarakan
panjang lebar tentang Al-Qur’an sebagai himpunan wahyu dengan membahas
pengertian wahyu dal hal-hal yang berkaitan dengan wahyu, misalnya dia
mengatakan:
And too much credit should not be given to the traditional descriptions of the
manner of the Prophet’s revelations. ... The genuineness of the revelations can and
must also be interpreted in the deeper sense. (Tidklah terlampau banyak nilai yang
bisa diberikan kepada uraian-uraian yang sudah merupakan tradisi selama ini
mengenai wahyu yang diterima sang Nabi itu. ... Kemurnian wahyu itu bisa, dan
bahkan mesti dipahamkan dalam pengertian yang lebih men-dalam.)
“Muhammad nampaknya termasuk tipe ‘mendengar suara’ (auditory type).
Wahyu yang diterimanya itu didiktekan kepadanya oleh suatu suara yang dia
atributkan kepada Malaikat Jibril. (Mohammed apparently belonged to the
auditory type. His revelations werre dictated to him by a voice which he attributet
to the angle Gabriel). Pembuktian atas kemurnian wahyu yang diterimanya itu
dikemukakan Muhammad dalam Surah Al-Qiamah, 75: 16-19. ... Justru sang Nabi
itu tidaklah menggerkakan lidahnya dengan sengaja membentuk lebih dulu kata-
kata yang akan diucapkan malaikat. Tapi dengan tenang dan diam, dia menantikan
bacaan malaikat,dengan jaminan kalimat-kalimat Ilahi itu akan tetap membekam
di dalam ingatannya; Surah Al-A’la, 87: 6-8.
24
6. Sir Hamilton A.R. Gibb
Kelahiran Iskandariyah, Mesir. Dia salah seorang orientalis terkemuka,
malah ﻲﻗﺮﺸﺘﺴﻣ ﺮﺒﻛأ ﻦﯾﺮﺻﺎﻌﻤﻟا اﺮﺘﻠﺠﻧا yang menjadi salah seoraang anggota Lembaga
Bahasa Arab di Mesir dan tim penulis Ensiklopedi Islam. Dia sangat mahir menulis
bahasa Arab baik dari segi sastra dan tata bahasanya, ddemikian juga kefashihannya
dalam berbahasa Arab, dia termasuk oerintalis yang sangat produktif sehingga
karya-karya tulis banyak sekali, antara lain: 1) مﻼﺳﻹا ﻖﯾﺮط ; 2) ﻲﻓ ﺔﺜﯾﺪﺤﻟا تﺎھﺎﺠﺗﻻا
مﻼﺳﻹا ; 3) ﻲﺑﺮﻐﻟا ﻊﻤﺘﺠﻤﻟاو مﻼﺳﻹا ; 4) يﺪﻤﺤﻤﻟا ﺐھﺬﻤﻟا.
25
Gibb antara lain berpendapat
mengenai Al-Qur’an:
24
Ibid, hlm. 131-132.
25
(a). Drs. H. Abidin Ja’far, LC., op cit, hlm. 86; dan (b). Dr. Mushthafa As-Siab’i, op cit,
hlm. 31.
15
“Apakah Al-Qur’an itu dituliskan sepenuhnya pada masa hidup Muhammad.,
hal itu masih merupakan satu soal, karena keterangan-keterangan tradisional
saling bertentangan. Tapi tanggapan yang umum diterima adalah bahwa
pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an itu dibuat pertama kalinya berlangsung
beberapa tahun sesudah Muhammad wafat, dikumpulkan dari kepingan-kepingan
parkamen, catatan pada batu tipis dan pada pelepah-pelepah tamar dan lainnya,
beserta dari hafalan-hafalan seseorang. Karena itulah, boleh jadi, terdapat
ketidaksamaan serta hubungan-hubungan yang ganjil pada Surah-surah yang
panjang….. Naskah-naskah itu ditulis dalam tulisan Arab yang belum sempurna,
hingga untuk membacanya diperlukan bantuan para Huffadz. Guna mengatasi itu,
maka Orthography (ilmu ejaan) dikembangkan dan disempurnakan pada masa
belakangan guna memungkinkan untuk membaca dan memahami naskah-naskah
tua itu. (Orthography berasal dari Orthographia dalam bahasa Grik, yakni ilmu
tentang menuliskan kata maupun kalimat dengan huruf-huruf yang lebih tepat,
hingga berlangsung perkembangan bentuk-bentuk huruf dalam penulisan).
Menjelang penghujung abad pertana hijriyah, naskah yang kita miliki sekarang ini
telah mantap. Sekalipun demikian terdapat perbedaan tentang cara
membunyikannya, karena dialek Mekkah pada masa Muhammad itu sedikit
berbeda dengan dialek-dialek lainnya.
Dalam hal itu tampak beralasan sekali untuk menyatakan bahwa tidak ada
perubahan material terjadi, hingga bentuk dan isi yang asli dari uraian-uraian
Muhammad itu terpelihara dengan amat teliti sekali. Memang variasi kecil
tentang cara dan membunyikannya terdapat sampai kini dan masalah itu dihadapi
kalangan muslim dengan jalan kompromi, dikenal dengan ragam-qiraat. Dulunya
sepuluh ragam tetapi kini hanya diakui tujuh ragam-qiraat. Bentuk penulisan sama
tetapi cara membunyikannya sedikit berbeda. Pihak umum boleh
membunyikannya menurut salah satu di antara Qiraat yang tujuh itu. Tapi lambat
laun, karena perkembangan dari waktu ke waktu, maka ada di antara qiraat itu
sudah tidak umum digunakan lagi. Apalagi pada abad kita sekarang ini; (sebagai
akibat pencetaakan naskah asli Al-Qur’an itu, yang berasal dari Constatinopel dan
dari Kairo), maka satu jenis qiraat saja lebih umum digunakan dewasa ini dalam
dunia Islam.
26
7. Goldziher
Orientalis Yahudi ini berkebangsaan Hongaria. Sikap permusuhannya
terhadap Islam sangat terkenal. Dr. Mushthafa As-SibaiI memasukkan orientalis ini
26
H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 135-136.
16
sebagai orientalis yang sangat berbahaya ( ﻦﯿﻗﺮﺸﺘﺴﻤﻟا ﺮﻄﺧأ ﻦﻣ ﻦﯾﺮﺻﺎﻌﻤﻟا ).
27
Dia menulis
mengenai Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dia menyoroti Al-Qur’an dengan uraian yang
panjang lebar, misalnya dalam karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab yang berjudul: (1) ﺔﻌﯾﺮﺷو ةﺪﯿﻘﻋ; (2) ا ﺐھاﺬﻣ ﺦﯾرﺎﺗ ﻲﻣﻼﺳﻹا ﺮﯿﺴﻔﺘﻟ . Dalam buku
pertama antara lain dia menyatakan bahwa perubahan tabiat pribadi Muhammad
telah mempengaruhi uslub bahasa Al-Qur’an, bentuk dan sastranya. Pada periode
Mekkah tutur katanya bernada keras dan pedas, namun pada periode Madinah
semangat kenabian kentara dalam menyampaikan wejangan-wejangannya.
28
Sedang
pada bukunya yang kedua di berpendapat:
ﺕﺍﺀﺍﺮﻘﻟﺍ ﻑﻼﺘﺧﺍ ﻥﺇ ﻞﻜﺸﻟﺍﻭ ﻂﻘﻨﻟﺍ ﻡﺪﻋ ﻦﻣ ﺔﺑﺎﺘﻜﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﺖﻧﺎﻛ ﺎﻣ ﱃﺇ ﻊﺟﺮﻳ
`'
“Sesungguhnya adanya perbedaan qiraat Al-Qur’an disebabkan oleh karena
tulisan Al-Qur’an tidak memakai titik dan harakat”.
8. W. Montgomery Watt
Dia seorang mahaguru pada Universitas Edinburgh, Skotlandia. Sebuah
karyanya yang besar dan popular berjudul Muhammad, Prophet and Statesman.
Dalam kata pengantar buku ini, penulisnya menyatakan bahwa buku tersebut
merupakan ikhtisar dari dua buah buku tebal karyanya terdahulu yang berjudul
Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina. Watt berpendapat terhadap pribadi
Muhammad SAW secara positif, tetapi sikapnya terhadap Al-Qur’an berbalik arah
negatif. Dia mengatakan dalam bukunya ini:
Mengatakan Muahammad itu seorang jujur janganlah ditarik kesimpulan
bahwa dia itu teliti dalam berbagai kepercayaan. … Kepercayaan Muhammad
bahwa wahyu-wahyu itu daaing dari Allah tidaklah mencegahnya untuk
menyusun sendiri bahannya dan selanjutnya memperbaikinya dengan jalan
penghapusan ataupun penambahan. Terdapat petunjuk di dalam Al-Qur’an, bahwa
Allah membikin dia (Muhammad) itu lupa akan sebagian ayat. Dan studi yang
ketat terhadap naskah membikin hampir pasti bahwa ada kata-kata dan kalimat-
27
Dr. Mushthafa As-Siab’i, op cit, hlm. 31.
28
Prof. Ahmad Muhammad Jamal, Membuka Tabir Upaya Orientalis Dalam Memalsukan
Islam,
29
Dr. Abdul Jalil Syalaby, Al-Islam wal Mustasyriquun, Darusy- Sya’bi, Kairo, t.th., hlm. 61.
17
kalimat yang ditambahkan. Tambahan-tambahan serupa itu memang bukanlah
komposisi Muhammad sendiri.
30
Pada bagian lain buku itu, dia mengatakan: “Qur’an bukan wahyu, tapi
merupakan kumpulan hasil khayalan yang diada-ada, kemudian Qur’an hanya
bersandar kepada kisah-kisah yang diambil dari sebagian agama Yahudi dan
Nasrani.
31
Dia juga menulis buku yang berjudul Islamic Revelation in The Modern
World dan Free will and Predestinatin in Early Islam, kedua buku inilah yang
membuat dia lebih terkenal. Di samping itu terdapat karya-karya yang lain yaitu
Bell’s Introduction to the Qu’an. Buku yang disebutkan terakhir ini telah
diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pengantar Studi Al-Qu’an
(Penyempurnaan atas karya Richard Bell) dalam buku ini Watt berpandangan lebih
maju mengenai Al-Qur’an ketimmbang pandangannya dalam bukunya yang
terdahulu. Malah Watt dalam beberapa hal berbeda dengan gurunya ini, seperti yang
dia katakana sendiri; “… pada butir-butir tertentu saya tidak dapat menerima teori-
teorinya tentang Al-Qur’an.”
32
Richard bell mengikuti jejak sarjana-sarjana Eropa
pendahulunya dalam mengemukakan bahwa Al-Qur’an merupakan buah karya
Muhammad. Tetapi Watt mengakui bahwa Al-Qur’an adalah dari Allah,
hanyasannya Muhammad berperanan melakukan perbaikan dengan penghapusan dan
penambahan.
33
9. Dr. Maurice Bucaille
Dia ini seorang sarjana dan ahli bedah (chirurg). Orientalis ini belajar bahasa
Arab kemudian mempelajari Al-Qur’an dan selanjutnya dia melangkah
membicarakan soal autentisitas teks Al-Qur’an, yang antara lain dengan tegas
dikatakan olehnya: :Qur’an tidak merupakan fatwa-fatwa beliau. Qur’an adalah
30
H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 133.
31
H. A. Mannan A. Buchari, LC., op cit, hlm.38.
32
W. Montgomery Watt, op cit, hlm. v.
33
(a) W. Montgomery Watt, Ibid, hlm. vi; dan (b) H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 133.
18
wahyu Ilahi. … Qur’an tetap menjadi buku yang pokok dan tak dapat dipersoalkan
lagi tentang kebenarannya.
34
Di samping itu perlu dikemukakan bahwa orientalis berkebangsaan Perancis
ini telah melakukan suatu studi mendalam di mana dia membandingkan ayat-ayat
Bible dengan Sains Modern dan membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan Sains
Modern, kemudian membuktikan betapa ayat-ayat Bible itu berlawanan dengan
penemuan-penemuan ilmiah an sebaliknya, ayat-ayat Al-Qur’an itu memperlihatkan
keselarasan senantiasa dengan penemuan-penemuan ilmiah, sehingga hal itu sangat
menakjubkan, mengingat ayt-ayat Al-Qur’an disampaikan oleh Nabi Besar
Muhammad SAW pada abad ke-7 Masehi. Penemuannya ini dituangkannya dalam
sebuah buku yang cukup populer yang berjudul La Bible, La Coran et La Science.
35
Berdasarkan kenyataan yang menakjubbkan yang ditemukannya, Dr. Maurice
Bucaille mengungkapkan pendapatnya dan pengakuannya tentang kitab suci AL-
Qur’an: “Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi Muhammad adalah
Nabi terakhir.”
36
Dan juga dikatakannya: “Keaslian yang tidak dapat disangsikan lagi
telah memberi kepada Al-Qur’am itu suatu kedudukan istimewa di antara kitab-kitab
suci, kedudukan itu khusus bagi Al-Qu’an, dan tidak tertandingi oleh Penjanjian
Lama dan Perjanjian Baru.
37
Demikianlah beberapa orientalis dan pandangan mereka mengenai Al-
Qur’an. Sebenarnya masih banyak yang lain, namun apa yang dikemukakan di atas
cukuplah untuk bahan analisa kita.
D. Seulas Tinjauan
Amat menarik bahasan-bahasan yang dikemukakan para orientalis mengenai
Al-Qur’an seperti yang diungkapkan di atas. Sebagian dirasakan menyakitkan hati
34
Dr. Maurice Bucaille, La Bible, La Coran et La Science, Bible, Qur’an dan Sains Modern,
Alih bahasa: Prof. Dr. H. M. Rasjidi, Bulan Bintang, Jakarta, 1993, hlm. 282 & 286.
35
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. H. M. Rasjidi dan
dijadikan salah satu sumber pustaka dalam Mata Kuliah ‘Ulumul Qur’an’. Buku ini terdiri dari 6
bagian pembahasan pokok, di antaranya berjudul Qur’an dan Sains Modern yang meliputi tujuh bab.
36
Dr. Maurice Bucaille, op cit, hlm. v.
37
H. M. Joesoef Sou’yb, op cit, hlm. 138.
19
orang-orang muslim. Karena tuduhan mereka tidak kepalang tanggung menyatakan
Al-Qur’an sebagai kitab bukan wahyu Ilahi dan hanya karya Muhammad dan
pembantu-pembantunya. Walaupun demikian terdapat juga pandangan-pandangan
dari mereka yang bersifat objektif ilmiah, tetapi harus tetap dilihat secara kritis.
Hampir semua orientalis menyoroti Al-Qur’an tidak terlepas dari sorotan
mereka terhadap pribadi Nabi SAW sebagai penyampai Al-Qur’an kepada umat
manusia. Sehingga bisa dikatakan bahwa Nabi Muahammad SAW dan Al-Qur’an
adalah fokus utama mereka dalam menyoroti agama islam. Ada tuduhannya pertama-
tama ditujukan kepada Nabi SAW untuk dijadikan premis menghantam Al-Qur’an,
tetapi sebaliknya ada pula yang menuduh isu negatif atas Al-Qur’an untuk dijadikan
premis menyudutkan pribadi luhur Muhammad SAW. Suatu contoh, Irving memuji
kualitas intelektual Nabi Besar Muhammad SAW yang luar biasa. Tetapi hal itu
dimaksudkan sebagai premis belaka atau “dasar” bagi pendapatnya dan agar orang
lain juga sependapat dengan dia tentang ketidak-autentikan Ak-Qur’an sebagai
wahyu yang berasal dari Allah. Contoh lain, sikap Goldziher tentang tabiat pribadi
Nabi yang berpengaruh – katanya – terhadap uslub bahasa Al-Qur’an.
Di samping itu perlu juga kita catat bahwa pandangan orientalis dari abad ke
abad ternyata mengalami kemajuan objektif. Misalnya kita lihat dari Irving ke Philip
K. Hitti dan terus ke Tor Andrae sampai kepada orientalis yang tergolong mutakhir
yakni Maurice Bucaille. Mereka sebagian betul-betul melakukan studi Al-Qur’an,
namun dipandang masih di permukaan, mereka tidak mungkin memasuki
pendalaman roh Al-Qur’an karena mereka hanya mengagumi tetapi sama sekali tidak
mempercayainya. Studi Al-Qur’an yang mereka lakukan hanyalah sebatas penelitian
ilmiah yang belum bisa dikatagorikan tadabbur Al-Qur’an. Dan yang namanya hasil
penelitian ilmiah boleh jadi mengalami kemajuan dari masa ke masa, di samping
makin luas dan mendalam suatu penelitian ilmiah itu semakin terjadi perkembangan
pendapat, sebagai akibat yang wajar dan logis.
20
Mereka belum bisa dikatakan telah memenuhi tuntutanayat 82 surah An-Nisa:
ﺍﲑﺜﹶﻛ ﺎﹰﻓﺎﹶﻠﺘ`ﺧﺍ ﻪﻴﻓ ﺍﻭ`ﺪﺟﻮﹶﻟ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹺﺮ`ﻴﹶﻏ ﺪ`ﻨﻋ `ﻦﻣ ﹶﻥﺎﹶﻛ `ﻮﹶﻟﻭ ﹶﻥﺁ`ﺮﹸﻘﹾﻟﺍ ﹶﻥﻭ`ﺮ`ﺑﺪﺘﻳ ﺎﹶﻠﹶﻓﹶﺃ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran
itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya.
Karenanya para orientalis hanya menemukan sejumlah kontradiksi
berdasarkan logika mereka yang asas pijaknnya sangat jauh dari jiwa Al-Qur’an.
Misalnya Irving dengan bernafsu sekali menyebutkan bahwa Al-Qur’an dipenuhi
dengan direct contradictions dan demikian pula Noldeke mengatakan bahwa Al-
Qur’an adalah sebuah karya yang bersifat the lack of logic dan the undeniable
poverty of thought maksudnya kekurangan logika dan kemiskinan pemikiran yang
tak dapat dibantah adanya.
Mereka dalam membuat suatu kesimpulan, banyak didasarkan pada dasar-
dasar yang keliru, tetapi begitulah gaya mereka berbuat dengan sengaja untuk
menyesatkan pemahaman-pemahaman orang lain, dimana mereka dengan apik
menatanya dan membumbui argumen-argumen yang sepertinya sangat logis.
Goldziher – sebagai contoh – melakukan telaah terhaap realitas sosialisasi qiraah al-
Qur’an yang variatif. Dia berkesimpulan bahwa penyebab terjadinya variasi qiraah
dikarenakan teks Al-Qur’an yang pertama di masa Abu Bakar ra tidak memiliki
simbol-simbol baca yang baik yakni titik dan harakat. Kesimpulan ini sesungguhnya
menunjukkan kebodohan Goldziher dan atau jeleknya motivasi studinya; dia
mengabaikan riwayat-riwayat yang kuat dan akurat mengenai variasi qiraah yang
dilegalisasi oleh Rasul. Dia senang memakai riwayat yang syaazzah. Hal ini
dikatakan oleh Dr. Abdul jalil Syalabi:
ﺮﻬﻳﺯ ﺪﻟﻮﺟ ﻚﺴﲤ ﺪﻗﻭ ﺕﺍﺀﺍﺮﻘﻟﺍ ﻥﺃ ﻦﻣ ﻪﳘﻭ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ ﻼﻴﻟﺩ ﺎﻫﺩﺭﻭﺃ ﺓﺫﺎﺷ ﺕﺎﻳﺍﻭﺮﺑ ﺔﻘﻳﺮﻃ ﻦﻋ ﺕﺄﺸﻧ
ﺎﻬﻄﻘﻧ ﻡﺪﻋﻭ ﺔﺑﺎﺘﻜﻟﺍ .
·8
38
Dr. Abdul Jalil Syalaby, op cit, hlm. 63.
21
E. Penutup
Simpulan-simpulan penting nampaknya perlu dicantumkan pada bagian
penutup ini:
1. Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Al-Qur’an adalah fokus sorotan
orientalis dalam mengkaji Islam dan Dunia Islam, sejak di awal munculnya
orientalisme sampai sekarang;
2. Target minimal orientalisme adalah memberikan atau menanamkan tasykik di
kalangan umat Islam maupun non-muslim;
3. Sikap dan pandangan positif dari seorang orientalis harus tetap dicermati
dengan sikap kritis objektif. Termasuk dalam hal ini karya-karya tulis mereka
dalam bentuk buku-buku ilmiah, ensiklopedi, dan lain-lain perlu
dipertimbangkan dengan sangat hati-hati untuk dijadikan literatur dan
referensi.
22
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Khadim Al-Haramain Asy-Syarifain Al-
Malik Fahd li Thiba’at Al-Mushhaf Asy-Syarif, Madinah Munawwarah, t.th.
Arsyad, M. Natsir, Seputar Al-Qur’an, Hadits & Ilmu, Al-Bayan, Bandung, 1992.
As-Siba’i, Mushthafa, Al-Istisyraaq wal Mustasyriquun, Al-Maktabul Islamy, Beirut,
1979.
Bucaille, Maurice, La Bible, La Coran et La Science, Bible, Qur’an dan Sains
Modern, Alih bahasa: Prof. Dr. H. M. Rasjidi, Bulan Bintang, Jakarta, 1993.
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 1993.
Gazlaan, Abdul Wahhab Abdul Majid, Al-Bayaan fie Mabaahits Min ‘Ulumil Qur’an,
Kuliah Ushuluddin Jaami’ah Al-Azhar, Mesir, t.th.
Ja’far, Abidin, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, CV Bina Usaha,
Yokyakarta, 1987.
Jakub, Ismail, Orientalisme dan Orientalisten, CV Faizan, Surabaya, 1970.
Jamal, Ahmad Muhammad, Membuka Tabir Upaya Orientalis Dalam Memalsukan
Islam.
M. Hashem, Kekaguman Dunia terhadap Islam, Pelita, Bandung, t.th
Mannan A. Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
(STIT) Al-Jami’, Banjarmasin, 1996.
Sou’yb, Joesoef, Orientakisme dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985.
Syalaby, Abdul Jalil, Al-Islam wal Mustasyriquun, Darusy- Sya’bi, Kairo, t.th.