You are on page 1of 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS (DM

)
A. Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi/Pengertian Diabetes Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner and Suddart, 2002 : 1220). Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Arif Mansjoer, 2001 : 580). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Diabetes Melitus adalah peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah. 2. Epidemiologi/Insiden kasus (Suyono, 2001)  Diabetes Melitus Tipe 1 (DM Tipe 1) Kekerapan DM Tipe 1 di negara barat + 10% dari DM Tipe 2. Di negara tropik jauh lebih sedikit lagi. Gambaran kliniknya biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balik. Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.  Diabates Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) DM Tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah umur 30 dengan catatan pada dekade ketujuh kekerapan diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih tinggi daripada rata-rata orang dewasa.  Diabetes Melitus Tipe Lain Ada beberapa tipe diabetes yang lain seperti defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati,

1

karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM.  Diabetes Melitus Gestasional Diabetes Melitus Gestasional adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar. 3. Penyebab/Faktor Predisposisi (Arif Mansjoer, 2001 : 580) Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel beta pulau Langerhans akibat proses autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) disebabkan oleh kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmapuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel beta pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa. 4. a.    b. Komplikasi diabetes melitus Akut : Koma hipoglikemia Ketoasidosis Koma hiperosmolar nonketotik Kronik :  Makroangiopati , mengenai pembuluh darah besar ; pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.  Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil ; retinopati diabetik, nefropati diabetik.    Neuropati diabetik Rentan infeksi seperti : TB paru, ginggivitis, dan ISK. Kaki diabetik.

2

suhu menurun Glukosa intrasel Pbentukan ATP terganggu Lemah Risiko infeksi Intoleransi aktivitas Penyakit Autoimun (genetik) Penyakit Autoimun (Genetik) Insufisiensi insulin DM Tipe I Glukoneogenesis Cadangan lemak & Protein Penggunaan glukosa otot & hati Produksi glukosa hati Hiperglikemia Keseimbangan kalori (-) BB menurun Glukosuria Diuresis osmotik Hiperosmolalitas darah polidipsi Polifagi poliuria Ketidakseimbangan nutrisi > Kebutuhan Dehidrasi Risk kekurangan vol cairan 3 Haus . gaya hidup. gaya hidu Usia.5. riwayat klg DM. sesibilitas nyeri. Patofisiologi terjadinya penyakit Obese. Pola makan >> Obese. pola makan >> Komplikasi vaskuler Resistensi insulin DM Tipe II Kurang Informasi Kurang taat thd diet Kurang pengetahuan anxietas Riwayat klg DM. makrovas Gangren Nefropati Mikrovas Retinopati Neoropati Parastesia. usia.

koma bahkan kematian. Pada diabetes tipe ini terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Badan keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti hiperventilasi. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. Diabetes Tipe II. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu retensi insulin dan gangguan sekresi insulin. ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Hipereglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. namun pada penderita defisiensi insulin. Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan ke dalam urine.PENJELASAN Diabetes Tipe I. Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (Poliuria) dan rasa haus (polidipsia). akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urine (Glukosuria). Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut. Disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan). Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (Polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi lain). proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turun menimbulkan hiperglikemia. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. terjadi suatu 4 . napas bau aseton dan bila tidak ditangani akan mengakibatkan perubahan kesadaran.

Ciri-ciri klinis dari DM tipe II ini yaitu awitan terjadi pada segala usia. biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis dengan penurunan berat badan yang baru saja terjadi.rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. kecuali bila dalam keadaan stres atau menderita infeksi. 5 . Ciri-ciri klinis dari DM Tipe I ini yaitu awitan terjadi pada segala usia. biasanya bertubuh gemuk pada saat didiagnosis. Gejala klinis Gejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan sering kencing terutama malam hari. 7. 6. harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin. tetapi biasanya pada usia muda (<30 tahun). etiologi mencakup faktor genetik. Tipe II : Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin dependent diabetes mellitus atau NIDDM). b. untuk mengatasi retensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. Tipe I : Diabetes Melitus tergantung insulin (Insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM). imunologi atau lingkungan misalnya virus. komplikasi akut hiperglikemi : ketoasidosis diabetik. herediter atau lingkungan. biasanya diatas 30 tahun. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes yang utama adalah : (Brunner and Suddarth) a. Namun demikian jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin. cenderung mengalami ketosis jika tidak memiliki insulin. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. etiologi mencakup faktor obesitas. komplikasi akut : sindrom hiperosmoler nonketotik). Pada penderita toleransi glukosa terganggu. banyak makan serta berat badan yang turun dengan cepat. Retensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. ketosis jarang terjadi. sering memiliki antibodi terhadap insulin meskipun belum pernah mendapatkan terapi insulin. maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II.

kesemutan pada jari tangan dan kaki. gatal-gatal. Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan. Kalau hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan. polifagia. Jika keluhan dan gejala khas. mereka mengetahui adanya diabetes karena pada saat periksa kesehatan ditemukan kadar glukosa darahnya tinggi. tablet. gatal. mata kabur dan impotensia pada pasien pria. ditemukannya pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang >200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. insulin Tabel Perbedaan antara DM Tipe 1 dengan DM Tipe 2 8. baik pada 2 pemeriksaan yang berbeda ataupun 6 . lemas. cepat lapar. olahraga. Nama lama Umur (th) Keadaan klinik saat diagnosis Kadar insulin Berat badan Pengobatan DM Tipe 1 DM Juvenil Biasa <40 Berat Tak ada insulin Biasanya kurus Insulin. dan berat badan turun. diet. Untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Umumnya hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang baru satu kali saja abnormal belum cukup untuk diagnosis klinis DM. polidipsia. gairah seks menurun. penglihatan jadi kabur. pemeriksaan TTGO diperlukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Diagnosis Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan dengan adanya gejala khas DM berupa poliuria.Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah. olahraga DM Tipe 2 DM dewasa Biasa >40 Ringan Insulin cukup/tinggi Biasanya gemuk/normal Diet. serta pruritus dan vulvae pada pasien wanita. luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg. Gejala lain yang mungkin dikemukakan oleh pasien adalah kesemutan. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa pernah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM.

Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin dan mineral). dan diminum selama / dalam waktu 5 menit  Diperiksa glukosa darah 1 (satu) jam dan 2 (dua) jam sesudah beban glukosa  Selama pemeriksaan.8 mmol/L)  Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 g karbohidrat (2 jam postprandial/pp) > 200 mg/dl (11. pasien makan seperti biasa Kegiatan jasmani sementara cukup. 1996 : 593). tidak terlalu banyak Pasien puasa semalam. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai. Cara pemeriksaan TTGO : (Arif Mansjoer. 9. Therapi/tindakan pengobatan A. pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok WHO merekomendasikan pengambilan sampel 2 jam sesudah konsumsi glukosa yaitu : (Brunner and Suddarth. Penyuluhan Edukasi DM adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan bagi penderita DM dengan tujuan merubah prilaku pasien untuk meningkatkan pemahaman tentang penyakitnya.adanya 2 hasil abnormal pada saat pemeriksaan yang sama. 3. B. 2. 2001 : 581) Tiga hari sebelum pemeriksaan. selama 10-12 jam Glukosa darah puasa diperiksa  Diberikan glukosa 75 gram.1 mmol/L)  Glukosa plasma puasa/nuchter >140 mg/dl (7. Perencanaan makanan (Diet) Penatalaksanaan nutrisi pada diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut : 1. 2002 : 1225)  Glukosa plasma sewaktu/random > 200mg/dl (11.1 mmol/L). Memenuhi kebutuhan energi. 7 . dilarutkan dalam air 250 ml. (Suyono.

Biguanid Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai dibawah normal. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan : Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik 8 . Klorpropamid kurang dianjurkan pada kaedaan insufisiesi renal dan orang tua karena risiko hipoglikemia yang berkepanjangan. Inhibitor α glukosidase Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim α glukosidase didalam saluran cerna. demikian juga glibenklamid. Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan berat badan normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.  Menurunkan ambang sekresi insulin. Preparat yang ada dan aman adalah metformin. 5.4. Pada pasien dengan berat lebih (IMT 27-30). dapat dikombinasi dengan obat golongan sulfonilurea. sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial. obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara :  Menstimulasi pengelepasan insulin yang tersimpan. berupa: Obat Hipoglikemik Oral Sulfonilurea. Untuk orang tua dianjurkan preparat dengan waktu kerja pendek (tolbutamid. Glikuidon juga diberikan pada pasien DM dengan gangguan fungsi ginjal atau hati ringan. glikuidon). Farmakologis. C. 1. Obat ini dianjurkan untuk pasien gemuk (Indek Masa Tubuh/IMT >30) sebagai obat tunggal.  Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. 2.

Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik Hiperglikemia dengan asidosis laktat  Gagal dengan kombinasi obat hipoglikemik oral (OHO) dosis hampir maksimal Stres berat (Infeksi sitemik. Apabila tidak terdapat sediaan insulin campuran tersebut atau 9 . IMA.  Efek samping yang lain berupa reaksi imun terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin. Dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap permukaan kulit. insulin terbagi menjadi empat jenis. Cara penyuntikan insulin o Insulin umumnya diberikan dengan suntikan dibawah kulit (subkutan). dengan perbandingan dosis yang tertentu. o Terdapat sediaan insulin campuran (Mixed Insulin) antara insulin kerja pendek dan kerja menengah. yakni : Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) Insulin kerja pendek (short acting insulin) Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) Insulin kerja panjang (long acting insulin) Insulin campuran tetap (premixed insulin) Efek samping terapi insulin  Efek samping utama dari terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. o Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena secara bolus atau drip. operasi besar. stroke)  Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali  Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat  Kontraindikasi atau alergi tarhadap OHO Jenis dan lama kerja Insulin Berdasarkan lama kerja.

Manfaat Olahraga bagi Diabetisi :  Mengendalikan kadar glukosa darah  Menurunkan kelebihan berat badan (mencegah kegemukan)  Membantu mengurangi stres  Memperkuat otot dan jantung  Meningkatkan kadar kolesterol ‘baik’ (HDL)  Membantu menurunkan tekanan darah E.  Pakailah krim khusus untuk kulit yang kering. lalu keringkan dengan baik terutama dicelah jari kaki. tetapi hindari pemakaian pada celah jari kaki. Perawatan dirumah. sejauh sterilitas penyimpanan terjamin. ganti kaos kaki setiap hari.  Potonglah kuku secara hati-hati dan jangan terlalu dalam.diperlukan perbandingan dosis yang lain. semprit insulin dan jarumnya dapat dipakai lebih dari satu kali oleh diabetisi yang sama.  Hindari penggunaan air panas atau bantal pemanas. D.  Bersihkan dan cuci kaki setiap hari.  Jangan menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan kalus. o Apabila diperlikan. luka lecet . cara penyuntikan maupun cara penyinpanan insulin harus dilakukan dengan benar. gunakan cermin untuk melihat telapak kaki dan celah jari kaki.  Pakailah kaos kaki yang pas bila kaki terasa dingin . sebagai seorang diabetesi sering mengalami gangguan sirkulasi pada kaki sehingga mudah terkena infeksi bakteri dan jamur sehingga perlu perawatan kaki. apakah terdapat kalus. 10 . bula. demikian pula mengenai rotasi tempat suntik. dapat dilakukan pencampuran sendiri antara kedua jenis insulin tersebut. o Lokasi penyuntikan. Perawatan tersebut meliputi :  Hentikan kebiasaan merokok  Periksa jari kaki dan celahnya setiap hari.

tanda: Takikardi dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas.jenis kelamin. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. pendidikan/pekerjaan. alasan dirawat keluhan utama riwayat kesehatan sebelum sakit riwayat kesehatan Semarang riwayat kesehatan keluarga. Jangan berjalan tanpa alas kaki. alamat.  Periksa bagian dalam sepatu setiap hari sebelum memakainya . letih.status.  Periksa dini rutin ke dokter dan periksa kaki anda setiap kali kontrol walaupun ulkus/gangren telah sembuh. agama. tonus otot menurun. Biodata Identitas pasien yaitu : (nama. rujukan) Keluarga yang menemani atau bertanggungjawab. Kram oto. sulit bergerak/berjalan. Riwayat Kesehatan aktivitas/ istirahat gejala: lemah.  Pakailah sepatu dari kulit yang cocok untuk kaki. Letargi/disorientasi. Alasan masuk rumah sakit c. b. umur. Pengkajian a. ganguan tidur/istirahat. periksa adanya benda asing.  Hindari trauma yang berulang. koma Penurunan kekuatan otot. Sirkulasi gejala: 11 . A.

tanda: ansietas. dan kesemutan pada ekstremitas. dan kemerahan. Kulit panas. bau busuk (infeksi) abdomen keras. penyembuhan yang lama tanda: takikardia perubahan tekanan darah postural. ISK baru/ berulang Nyeri tekan abdomen diare tanda: urine.adanya riwayat hipertensi. Bising usus lemah dan menurun. Eliminasi: gejala: perubahan pola berkemih (poliuri). peka rangsang. IM akut klaudikasi. Makanan/cairan: gejala hilang napsu makan mual/muntah 12 . adanya asites. nokturia. pucat. bola mata cekung. Integritas ego: gejala: stres. kesulitan berkemih (infeksi). tergantung pada orang lain masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi. hipertensi nadi yang menurun/tak ada disritmia krekels. DVJ (GJK). Ulkus pada kaki. Rasa nyeri/ terbakar. poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi hipovalemia berat) urine berkabut. encer. kering. kuning. kebas.hiperaktif (diare).

letargi. Pernapasan : gejala merasa kekurangan oksigen. parestesia. haus tanda kulit kering/bersisik.tidak Penurunan mengikuti berat diet. Pembesaran tiroid (peningkatan kebtuhan metabolic dengan peningkatan gula darah). Gangguan memori (baru. 13 . Gangguan penglihatan tanda disorientasi. stupor/koma (tahap lanjut). Nyeri/ kenyamanan: gejala abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat) tanda wajah meringis dengan palpitasi. hari/minggu. masa lalu). engantuk. turgor jelek kekakuan/distensi abdomen. Bau halitosis/manis. kebas kelemahan pada otot. bau buah (napas aseton) Neurosensori: gejala pusig/pening sakit kepal kesemutan. tampak sangat berhati-hati. muntah. batuk dengan atau tanpa spuntum purulen (tergantung adanya infeksi/ tidak) tanda lapar udara batuk. badab lebih peningkatan dari periode masukan beberapa glukosa/karbohidrat. dengan/tanpa sputum prulen (infeksi). kacau mental refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma) aktivitas kejang (tahap lanjut DKA).

Frekuensi pernapasan Keamanan: gejala kulit kering. b. 14 .diaforesis kulit rusak. e. haluaran urine tepat secara individu. ulkus kulit tanda demam. kesulitan orgasme pada wanita. Gangguan keseimbangan nutrisi berhubungan dengan ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glokosa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemak) c. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia). Intoleran aktivitas berhubungan dengan penurunan energi metabolik. Tujuan: memperbaiki cairan/elektrolit dan keseimbangan asam basa. Kriteria hasil : mendemonstrasikan hidrasi yang adekuat yang dibuktikan oleh tanda vital stabil. gatal. Rencana Tindakan • Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia). 3. kadar elektrolir normal. nadi perifer dapat diraba. lesi/ulserasi menurnuya kekuatan umum/rentang gerak parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam) seksualitas: gejala rabas vagina (cenderung infeksi) masalah impoten pada pria. Diagnosa keperawatan a. turgor kulit dan pengisian kapiler baik. Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi dan perubahan pada sirkulasi. d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi. 2.

cairan pengganti. pantau masukan dan pengeluaran. 4. akan menyebabkan pola dan frekuensi warna kulit dan pernapasan akan mendekati normal. 9. catat hal-hal yang dilaporkan seperti disertasi lambung 12. suhu. memberikan hasil pengkajian yang mual. muntah dan 9.Tindakan/ intervensi Mandiri perubahan TD ortostatik. memberikan perkiraan kebutuhn akan terhadap keadaan 2. ukur berat badan setiap hari/ 8. 7. pengguanaan otot bantu napas. 5. fungsi ginjal. tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkan rasa nyaman. dan keefektifan dari terapi yang diberikan. kelembabannya. terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memperbaiki cairan pengganti. pengisian kapiler. pemanasan terhadap dapat pasien yang lebih berlebihan lanjut edema. hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardi. atau volume sirkulasi yang adekuat. catat adanya 1. 3. kaji nadi perifer. perubahan mental dapat berhubungan teratur. menghindari akan menimbulkan kehilangan cairan dengan glukosa yang tinggi atau yang rendah 15 (hiperglikemia atau peningkatana berat badan. frekuensi dan kualitas pernapasan. demam dengan kulit yang kemerahan. mempertahankan sirkulasi. 11. 8. adanya periode apnea dan munculnya 3. dan sianosis 4. 5. paru-paru berbau keton. merupakan cairan 7. koreksi hiperglkemia dan asidosis 6. turgor kulit. catat berat jenis urine. observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat. 10. nyeri abdomen. Kussmaul atau pernapasan yang Mandiri Rasional 1. pola napas seperti adanya pernapasan 2. indikator dari tingkat dehidrasi. dan membran mukosa. dan adanya distensi pada vaskuler. mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratoris ketoasidosis. pertahankan untuk cairan paling sedikit 2500ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan. nadi tidak 10. pantau tanda-tanda vital. hidrasi/volume memberikan 6. kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi. kaji perubahan mental/ sensori. .

berikan bikarbonat bila pH kurang dari 7.0 6. diberikan dengan hati-hati untuk membantu mempebaiki asidosis pada adanya hipotensi atau syok. pasang atau pertahankan kateter urine agar tetap terpasang. plasma. pantau seperti pemeriksaan laboratorium (Ht). 6. menekompresi lambung dan dapat menghilangkan muntah. memberikan haluaran urine terutama jika neuropati menimbulkan kemih (retensi inkontenensia) 3. 1. penurunan perfusi berkembangnya normal salin atau setengah normal Kolaborasi salin dengan atau tanpa dektrosa. dan elektrolit yang abnormal. serebral. 5.hipoglikemia). asidosis. 4. berikan terapi sesuai dengan indikasi. pasang selang NGT dan lakukan penghisapan sesuai dengan indikasi. Kolaborasi 1. plasma ekspander (pengganti) kadang dibutuhkan jika kekurangan tersebut mengancam kehidupan atau tekanan darah sudah tidak dapat kembali normal dengan usaha-usaha rehidrasi yang telah dilakukan. Kalium. pengukuran terhadap yang tepat/akurat otonom kantung pengukuran gangguan urine/ BUN/Kreatinin. atau dekstran. 16 . tipe dan jumlah dari cairan tergantung Albumin. lain melalui IV dan/atau melalui oral 2. hipoksia. Natrium. • Gangguan keseimbangan nutrisi berhubungan dengan ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan penggunaan glukosa oleh jaringan mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemak) Tujuan: memperbaiki metabolisme abnormal. 5. 4. osmolaritas darah. berikan kalium atau elektrolit yang sesuai indikasi. mengkaji tingkat hidrasi. kalium harus ditambahkan pada IV (segera aliran urine adekuat) untuk mencegah hipokalemia. Hematokrit pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual. 3. 2.

hipoglikemia mungkin akan terjadi tanpa memperlihatkan perubahan tingkat kesadaran. pemberian makanan melalui oral akan lebih baik jika pasien sadar an fungsi gastrointestinal baik. Tindakan/ intervensi Mandiri sesuai dengan indikasi 2. yang lebih padat sesuai dengan yang dapat ditoleransi. 5. kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang. mengidentifikasi 3. pusing. meningkatkan rasa keterlibatannya. Libatkan keluarga pencernaan makan ini sesuai indikasi. Jika pasien dalam keadaan koma. sempoyongan. metabolisme terjadi dan (gula karbohidrat darah akan tetap mulai pasien pada informasi kepada kebutuhan (termasuk absorpsi dan 1. Observasi tanda-tanda hipoglikemia. Seperti perubahan tingkat kesadaran. memberikan nutrisi pasien. kulit lembab/dingin. mual. Timbang berat badan setiap hari atau 1. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung (distensi atau ileus paralitik) 4. karena berkurang sementara diberikan insulin maka Hipoglikemi dapat terjadi. nyeri abdomen/perut kembung. 4. hiperglikemia dan elektrolit dengan segera jika 5. mengkaji pemasukan makanan yang makan pasien dan bandingkan dengan 2. termasuk keluarga untuk memahami kebutuhan kebutuhan 7. dapat dimasukkan dalam perencanaan makan. pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. analisa di tempat tidur terhadap gula 17 . Auskultasi bising usus. Kolaborasi 1. catat adanya 3. lapar peka rangsang. Da selanjutnya terus yang dapat dihabiskan Rasional Mandiri adekuat utilasinya) kekurangan dari dan dan penyimpangan terapeutik. sakit kepala. Tentukan program diet dan pola makanan pasien.Kriteria hasil : berat badan stabil atau penambahan kearah rentang biasa. 7. Identifiikasi makanan yang disukai/ dikehendaki etnik/kultural. cemas. 6. jika makanan yang disukai pasien mengupayakan pemberian makanan 6. muntahan makanan yang belum sempat dicerna. Berikan makanan cairan yang mengandung zat makanan (nutrient) pasien sudah dapat mentoleransinya melalui pemberian cairan melalui oral. denyut nadi cepat .

berikan obat metaklopramid (reglan). 5. dekstrosa dan setengah salin normal. dapat bermanfaat dalam mengatasi gejala yang berhubungan otonom dengan yang neuropati 4. 3. 6. mempengaruhi saluran cerna.Kolaborasi 1. diet kira-kira karbohidrat. kompleks karbohidrat (seperti jagung. insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa kedalam sel. tetrasiklin. buncis. 7. berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode IV secara intermiten atau secara kontinyu. dll) menurunkan kadar glukosa/ kebutuhan insulin. dan darah lebih akurat 9menunjukkan keadaan saat dilakukan pemeriksaan). lakukan 2. yang selanjutnya meningkatkan pemasukan melalui oral dan absorps zat makanan. berikan lemak tambahan. larutan glukosa ditambahkan setelah 60% 5. misalnya 4. 18 . 7. 3. berikan larutan glukosa. gula darah menurun perlahan dengan penggantian cairan dan terapi insulin terkotrol. pH. insulin dan cairan mebawa gula darah kira0kira 250 mgg/dl. dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisis pasien. brokoli. menurunkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan rasa kenyang. wortel. sangat barmanfaat dalam perhitungan makanan 6. pantau HCO3. 2. seperti glukosa darah. laboratorium. gandum. lakukan konsultasi dengan ahli diet. 20% protein dan 20% dalam penataan makan/pemberian pemeriksaan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “finger stick”. aseton.

Catatan: pasien DM wanita . sputum purulem. Pertahankan teknik aseptik pada kateter foley. dan sebagainya). Ajarkan pasien wanita saluran kemih. Lakukan pengobatan melalui IV sesuai indikasi. Mandiri RASIONAL Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang telah mencetuskan keadaan kemerahan. prosedur invasive (seperti pemasangan infus. adanya pus pada luka. pemberian kuman. Pasien koma mungkin memiliki untuk membersihkan daerah perinealnya dari resiko yang khusus jika terjadi retensi urin pada depan kearah belakang setelah eliminasi. urine ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi warna keruh atau berkabut. akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan parineal dengan baik. 19 saat awal dirawat. obat intravena dan memberikan perawatan pemeliharaan.Resiko infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi dan perubahan pada sirkulasi. TINDAKAN/INTERVENSI Mandiri Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam. biasanya nosokomial. Tujuan : Mencegah komplikasi Kriteria Hasil : Dapat mencegah atau menurunkan risiko infeksi. Pasang kateter atau lakukan perawatan Mengurangi resiko terjadinya infeksi Kadar glukosa yang tinggi dalam darah Mencegah timbulnya infeksi silang melakukan cuci tangan yang baik pada semua (infeksi nosokomial). Tingkatan upaya pencegahan dengan orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.

Posisikan pasien pada posisi semiFowler. jaga kulit tetap kering. Lakukan perubahan posisi dan anjurkan pasien sadar dan kooperatif. menurunkan resiko terjadinya aspirasi.lansia merupakan kelompok utama yang paling beresiko terjadi infeksi saluran kemih/vagina. Auskultasi bunyi nafas. infeksi. Memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang. Edema baru (bunyi krekels) mungkin sebagai akibat dari pemberian cairan yang terlalu cepat/berlebihan atau GJK. sesuai penghisapan lendir pada jalan nafas dengan menggunakan keperluannya. Berikan tisu dan tempat sputum pada tempat lainnya. Berikan perawatan kulit dengan teratur Sirkulasi perifer bisa tgerganggu yang dan sungguh-sungguh. Bantu pasien untuk melakukan higiene Menurunkan risiko terjadinya penyakit yang mudah sputum dijangkau atau sekret untuk yang penampungan Mengurangi penyebaran infeksi. linen terjadinya kerusakan pada kulit/iritasi kulit dan kering dan tetap kencang (tidak berkerut). Ronki mengindikasikan adanya akumulasi sekret yang mungkin berhubungan dengan pneumonia atau bronkitis (mungkin sebagai pencetus dari DKA). steril Membantu dalam memventilasikan pasien untuk batuk efektif / napas dalam jika semua daerah paru dan memobilisasi sekret. Lakukan Mencegah agar sekret tidak statis dengan terjadinya peningkatan terhadap resiko infeksi. masase daerah tulang menempatkan pasien pada peningkatan resiko yang tertekan. teknik 20 .

Anjurkan untuk makan dan minum mulut/gusi. (kira-kira 3000 ml/hari jika tidak kontraindikasi) ada mencegah urine yang statis dan membantu dalam mempertahankan pH/keasaman urine.oral. Menurunkan kemungkinan terjadinya Meningkatkan aliran urine untuk adekuat (pemasukan makanan dan minuman) infeksi. organisme dari sistem organ Kolaborasi Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan indikasi. Untuk mengidentifikasi organisme sehingga dapat memulih/memberikan terapi antibiotik yang terbaik. Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis. Berikan obat antibiotik yang sesuai. 21 . yang menurunkan pertumbuhan bakteri dan pengeluaran tersebut.

berpindah tempat sebagainya. menimbulkan kelelahan. tekanan darah sebelum/sesudah melakukan ditoleransi secara fisiologis. Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri ditoleransi pasien. frekwensi pernafasan dan aktivitas. Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat Mencegah kelelahan yang berlebihan. dan kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang positif sesuai dengan aktivitas yang dapat 22 . Pasien akan dapat melakukan lebih banyak pada setiap kegiatan. Kriteria Hasil : Menunjukkan adanya perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Buat jadwal perencanaan meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang mungkin sangat lemah.• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan energi metabolik. Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup / tanpa diganggu. Tingkatkan partisipasi pasien dalam yang dapat ditoleransi. TINDAKAN / INTERVENSI Mandiri Diskusikan dengan pasien kebutuhan RASIONAL Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk akan aktivitas. Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi. Pantau nadi. Tujuan : Mengidentifikasi/ membantu penanganan terhadap penyebab/ penyakit yang mendasarinya.

Kriteria Hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. TINDAKAN / INTERVENSI Mandiri Ciptakan lingkungan saling percaya selalu ada untuk pasien. Pengetahuan tentang faktor pencetus dapat membantu untuk menghindari kambuhnya serangan tersebut. seperti teknik demonstrasi dan yang ulang. perawatan diri. dan pengobatannya yang dapat dipahami. dengan mendengarkan penuh perhatian. Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama pasien dengan prinsip-prinsip yang dipelajari. hubungan antara insulin dengan kadar gula darah yang tinggi.• Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis. -Komplikasi penyakit akut dan kronis 23 Kesadaran tentang apa yang terjadi . dan diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil Pilih berbagai strategi belajar. pasien. -Rasional terjadinya serangan ketoasidosis. Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan. keterampilan biarkan Penggunaan cara yang berbeda tentang memerlukan mengakses informasi meningkatkan pencerapan pasien pada individu yang belajar. keterampilan baru ini kedalam rutinitas rumah Diskusikan topik-topik utama seperti : -Apakah kadar glukosa normal itu dan Memberikan pengetahuan dasar dimana bagaimana hal tersebut dibandingkan dengan pasien dapat membuat pertimbangan dalam kadar gula darahpasien. gabungkan mendemonstrasikan sakit sehari-hari. RASIONAL Menanggapi dan memperhatikan perlu bagian dalam proses belajar. tipe DM yang dialami memilih gaya hidup.

akan tetapi dapat menyebabkan ketidak nyamanan pada saluran cerna. Pemahaman tentang semua aspek yang Tinjau ulang program pengobatan digunakan obat meningkatkan penggunaan yang meliputi awitan. Serat dapat memperlambat absorpsi makanan glukosa yang akan menurunkan fruktasi kadar gula dalam darah. Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet Diskusikan tentang rencana diet. 24 . dengan pasien atau keluarga. dan mempengaruhi absorpsi vitamin/mineral. Dengan melibatkan orang terdekat/sumber untuk pasien. puncak dan lamanya dosis tepat. flatus meningkat. Melakukan pemeriksaan gula darah diri Demonstrasikan cara pemeriksaan gula sendiri 4 kali atau lebih pada setiap harinya darah dengan mengunakan “finger stick” dan memungkinkan fleksibilitas dalam perawatan beri kesempatan pasien kembali. ginjal/hipertensi. program. untuk diri. perencanaan makan. akan membantu pasien dalam merencanakan penggunaan makanan tinggi serat dan cara makan/mentaati untuk melakukan makan di luar rumah. Mengidentifikasikan pemahaman dan kebenaran dari prosedur atau masalah potensial Tinjau kembali pemberian insulin oleh dapat terjadi (seperti penglihatan. pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika dapat mencegah / mengurangi perkembangan glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dL. bila disesuaikan dalam perhitungan dosis yang dibuat selama evaluasi rawat inap : jumlah dan jadwal aktivitas fisk biasanya. mendemonstrasikan dalam neurosensori perubahan dan perawatannya dan mencegah/mengurangi fungsi awatan komplikasi tersebut. Algoritme dosis dibuat.meliputi gangguan penglihatan (retinopati). meningkatkan kontrol kadar gula darah Instruksikan dengan lebih ketat (mis 60-150) mg/dL) dan komplikasi jangka panjang. daya ingat. yamg masuk insulin yang diserapkan. membantu pasien untuk lebih konsisten terhadap perubahan kardiovaskuler.

Informasi ini akan meningkatkan pepengendalian terhadap DM dan dapat sangat Diskusikan factor-faktor yang memegang menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis. seperti latihan (aerobik dan versus isometric). injeksi harus menghindari kelompok otot yang akan digunakan untuk aktivitas (mis. pembedahan penyakit dengan lebih baik dan pemeriksaan gula darah setiap hari. aktivitas. Berikan kesempatan pada dapat ditentukan pasien untuk mendemonstrasikan prosedur tersebut. daerah abdomen lebih dipilih dari pada paha atau lengan insulin. Lihat Nikotin mengkonstruksi pembuluh darah kecil dan absorpsi insulin diperlambat selama Tinjau ulang pengaruh rokok pada pembuluh darah ini mengalami konstriksi . waktu dan meningkatkan perawatan diri/kemandiriannya. stress. waktunya Waktu latihan tidak boleh bersamaan dengan kerja puncak insulin.pasien sendiri dan perawatan terhadap peralatan dan sebagainya) sehingga solusi alternative yang digunakan. peranan dalam control DM tersebut. tersebut (nis menentukan daerah penyuntikan dan cara menyuntik atau penggunaan alat suntik pompa kontinu) Membantu dalam menciptakan gambaran nyata keadaan pasien untuk melakukan control Tekankan pentingnya mempertahankan penyakitnya dosis obat. penggunaan insulin. diet. Anjurkan pasien untuk menghentikan merokok. untuk pemberian insulin kembali aturan “sick day” Buat jadwal latihan/aktivitas yang teratur Makanan kudapan harus diberikan sebelum atau dan identifikasi hubungan dengan penggunaan selama latihan sesuai kebutuhan dan rotasi insulin yang perlu menjadi perhatian. Dapat meningkatkan deteksi dan pengobatan lebih awal dan sebelum melakukan jogging atau berenang) untuk mencegah percepatan ambilan 25 . tertentu. perasaan/sensasi dan peristiwa dalam hidup.

instruksi dengan cetakan besar. sakit kepala. Alat Bantu adaptif telah dikembangkan 5 tahun terakhir untuk membantu individu dengan Susun alat bantu penglihatan ketika gangguan penglihatan DM-nya sendiri dengan diperlukan. pusing. Anjurkan penggunaan stoking dengan bahan serat alamiah. dan perubahan mental) dan jelaskan penyebabnya. ganggren. lebih kecil pada keadaan darurat. diaforesis pucat. tremor. jaringan kalus dan jaringan tanduk. Perubahan dalam penglihatan dapat terjadi secara perlahan dan lebih sering pada Tekankan pentingnya pemeriksaan pasien yang mengontrol DM. letargi. lapar. lemah. mencegah/mengurangi kejadiannya. peka rangsang. taki kardia. Dapat mempercepat masuk kedalam pusat-pusat sistem kesehatan dan perawatan Tekankan pentingnya penggunaan dari yang sesuai dengan akibat komplikasi yang gelang bertanda khusus. Demonstrasikan cara pemeriksaan kaki tersebut. pengukur glukosa darah sekali sentuh Diskusikan mengenai fungsi seksual dan jawab semua pertanyaan pasien atau orang terdekat. tersebut. Sering kali terjadi impoten (mungkin gejala pertama dari serangan DM 26 . masalah yang matasecara teratur terutama kepada pasien yang mungkin terjadi termasuk perubahan dalam telah mengalami DM tipe 1 selama 5 tahun atau ketajaman lebih. Mencegah/mengurangi komplikasi yang berhubungan dengan neuropati perifer dan/atau Instruksikan pentingnya pemeriksaan gangguan sirkulasi terutama selulitis. mis memperbesar garis skala pada lebih efektif. inspeksi sepatu yang ketat dan perawatan kuku. secara rutin pada kaki dan perawatan kaki dan amputasi. jarum insulin.Identifikasi gejala hipogleukimia (mis. penglihatan dan mungkin berkembang kearah retinopati dan kebutaan.

perubahan gaya hidup dan Identifikasi sumber-sumber yang ada di meningkatkan penerimaan atas diri sendiri. pasien atau orang terdekat. nyeri saluran kemih. Membantu untuk mengontrol proses penyakit dengan lebih ketat dan mencegah Diskusikan pentingnya untuk melakukan eksaserbasi DM. pilek. dan munculnya keton pada urine. pada perubahan kadar gula darah. Intervensi segeral dapat mencegah perkembangan komplikasiyang lebih serius atau Lihat kembali tanda/gejala yang komplikasi yang mengancam kehidupan. menggunakan obat-obat yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan/dokter atau tidak boleh menggunakan obat tanpa resep. gejala flu. penyembuhan penyakit yang lama. Mengendalikan relaksasi dan pengendalian terhadap respons stres yang dapat Demonstrasikan teknik penanganan stres. memerlikan evaluasi secara medis seperti demam. bila ada. mengalihkan perhatian. urine keruh/berwarna pekat.Produktivitas mungkin mengandung gula atau berinteraksi dengan obat-obatan yang Rekomendasikan untuk tidak digunakan/diresepkan. bimbingan seimbangan glukosa/insulin Dukungan jontinu biasanya penting untuk menopang masyarakat. perubahan sensori (nyeri/kesemutan) pada ekstremitas bawah. membantu untuk membatasi peristiwa ketidak seperti latihan napas dalam. menurunkan perkembangan evaluasi secara teratur dan jawab pertanyaan komplikasi sistemik. 4. imajinasi. Evaluasi Diagnosa 27 Evaluasi .

definisi dan klasifikasi 2005-2006 28 .Resiko kekurangan cairan S : klien sudah tidak mengeluh tidak nyaman karena terlalu sering kencing (poliuria). berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia). A : masalah teratasi. O : intake cairan klien adekuat (1000cc/hari). A : masalah teratasi sebagaian Intoleran aktivitas P : lanjutkan intervensi (rawat luka klien) berhubungan S : klien sudah tidak mengeluh lemah lagi. A : masalah teratasi Ansietas berhubungan P:dengan S : klien sudah tidak mengeluh sulit tidur. P:nutrisi S : klien mengatakan urinenya sudah tidak keruh lagi. Resiko infeksi berhubungan dengan S : klien sudah tidak mengeluh nyeri akibat kadar glukosa tinggi dan perubahan pada sirkulasi. penggunaan glokosa oleh jaringan A : masalah teratasi mengakibatkan peningkatan P : metabolisme protein/lemak). O : klien sudah mulai dapat tidur dengan tenang. O : luka klien sudah mulai membaik. A : masalah teratasi.diagnosa keperawatan. O : klien sudah dapat beraktivitas secara normal. luka infeksi. kurangnya informasi DAFTAR PUSTAKA Nanda . Gangguan keseimbangan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin ( penurunan ambilan dan O : urine klien normal. P:- dengan penurunan energi metabolik.

Djuanda A. 2006. Setiati. Simadibrata. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Djuanda S.. Setiyohardi. Jakarta. 1993 http://www. Jilid II.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Doenges E.( diakses tanggal 5 Oktober 2009) 29 . Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. editor. Edisi Kedua.. Edisi IV. Hamzah M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Alwi. Jakarta: FKUI ..medicastore.. Aisah S.com/nutrafor/isi.Jakarta:EGC Sudoyo. Marilynn dkk.