You are on page 1of 6

RINITIS ALERGI

DEFINISI Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulang dengan alergen spesifik tersebut. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.1 ETIOLOGI Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting, pada 20-30% semua populasi dan pada 10-15% anak atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka resiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50%. Peran lingkungan dalam rinitis alergi yaitu alergen yang terdapat di seluruh lingkungan, setelah terpapar akan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. Alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain.1,2 Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas:1 1. Alergen inhalan: masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya debu rumah, tungau, bulu binatang, serta jamur. 2. Alergen ingestan: masuk ke saluran pencernaan berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan, udang. 3. Alergen injektan: masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya injeksi penisilin dan sengatan lebah. 4. Alergen Kontaktan: masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik dan perhiasan. Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran, sehingga memberi gejala campuran, misalnya debu rumah yang memberi gejala asma bronkial dan rinitis alergi.1 PATOFISIOLOGI  Sensitisasi Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses sensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan tertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal ini

triptase. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu histamin. Sel-sel ini kemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan mediator lain seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP). sehingga sel B menjadi aktif dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi dalam darah ini akan terikat dengan sel mast dan basofil dimana kedua sel ini merupakan sel mediator. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3. neutrofil. KLASIFIKASI Berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative ARIA tahun 2000.  Reaksi Alergi Fase Cepat Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit. dapat berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai i jam setelahnya.menyebabkan sel antigen Presenting Cell (APC) akan menangkap alergen yang menempel tersebut. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T helper (Th0). dan mediator lain seperti leukotrien. sel mast. Eosinophilic Derived Protein (EDP). IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit B. IL4. IL5. Reaksi ini disebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat bereaksi terhadap sel endotel postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan sel leukosit seperti eosinofil menempel pada sel endotel. limfosit. IL10. Major basic Protein (MBP). dan makrofag ke dalam mukosa hidung. Kemudian antigen tersebut akan bergabung dengan HLA kelas II membentuk suatu kompleks molekul MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas II. Rangsangan pada ujung saraf sensoris (vidianus) menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Adanya IgE yang terikat ini menyebabkan teraktifasinya kedua sel tersebut.  Reaksi Alergi Fase Lambat Reaksi alergi fase lambat terjadi 4-8 jam setelah fase cepat. IL9. Faktor kemotaktik seperti IL5 menyebabkan infiltrasi sel-sel eosinofil. menurut sifat berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi:1 . prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. basofil. Th0 ini akan diaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APC menjadi Th1 dan Th2. IL13 dan lainnya. dan Eosinophilic Peroxidase (EPO) yang menyebabkan gejala hiperreaktifitas dan hiperresponsif hidung. berkumpulnya darah pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari saluran hidung. Mediator-mediator tersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari anastomosis arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinya edema. Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan hidung.

kulit. yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu Sedangkan untuk tingkat berat ringannya. atau daerah lainnya Timbul masalah pada pembauan Rinore Bersin-bersin Keluar air mata Obstruksi hidung Batuk-batuk Menurunnya fungsi pembauan Sore throat Gejala-gejala yang dapat timbul kemudian antara lain:4 . tutup tempat tidur.  Sedang atau berat. Alergen penyebabnya spesifik. yaitu tepung sari (pollen) dan spora jamur. rinitis alergi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: 1. selimut. tenggorok. hanya ada di negara dengan 4 musim. bersantai. gatal dan lakrimasi)1 2. dan hal-hal lain yang mengganggu. yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu  Persisten. Pteronyssinus. sedangkan komponen alergen di luar rumah berupa pollen atau jamur. jadi dapat ditemukan sepanjang tahun.1 GEJALA DAN TANDA Gejala yang dapat timbul segera setelah terpapar dengan alergen antara lain:4 • • • • • • • • • Gatal pada hidung. yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas. D. yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur. terutama pada orang dewasa dan ingestan. Intermiten. Oleh karena itu nama yang tepat ialah polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada hidung dan mata (mata merah. Penyebab paling sering adalah inhalan. rinitis alergi dibagi menjadi:1  Ringan. Menurut musimnya. tumpukan baju. tanpa variasi musim. mulut. belajar. kecoa dan bulu binatang peliharaan. Rinitis alergi musiman Di Indonesia tidak dikenal rinitis alergi musiman. dll) komponen alergennya terutama berasal dari serpihan kulit dan feses tungau D. Farinae dan Blomia tropicalis. karpet. Alergen inhalan utama ialah alergen dalam rumah (seperti kasur kapuk. berolahraga. bekerja. mata. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial) Gejala pada penyakit ini timbul intermiten atau terus menerus. gangguan aktifitas harian.

Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan cara RAST (Radioimmuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan sitologi hidung tidak memastikan diagnosis. Tes epidermal berupa tes kulit gores (scratch) dengan menggunakan alat penggores dan tes kulit tusuk (skin prick test). pola gejala (hilang timbul. identifikasi faktor predisposisi. 3. Garis ini timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung tersumbat. dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi sepertiga bawah. Pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal. Riwayat keluarga merupakan petunjuk yang cukup penting dalam menegakkan diagnosis pada anak. kondisi lingkungan dan pekerjaan. rinore. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak (5 sel/lapang pandang) menunjukkan kemungkinan alergi. bersin). Karena rinitis alergi seringkali berhubungan dengan konjungtivitis alergi. tetapi berguna sebagai pemeriksaan pelengkap.• • • Fatique dan iritabel Sakit kepala Timbul masalah pada ingatan dan berpikir lambat DIAGNOSIS Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan: 1. Hitung jenis eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan mukosa hidung basah. respon terhadap pengobatan. Ada dua macam tes kulit yaitu tes kulit epidermal dan tes kulit intradermal. Selain dapat . Selain itu. kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu penyakit. Anamnesis Perlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien (seperti hidung tersumbat. Tes intradermal yaitu tes dengan pengenceran tunggal (single dilution) dan pengenceran ganda (Skin Endpoint Titration – SET). Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara in vivo. gatal-gatal pada hidung. 2. menetap) beserta onset dan keparahannya. yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. berwarna pucat dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak. Selain itu. dapat pula ditemukan konjungtivitis bilateral atau penyakit yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media. maka adanya gatal pada mata dan lakrimasi mendukung diagnosis rinitis alergi. Pemeriksaan fisik Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shinner. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi.

Tahapan ini dapat diterapi dengan obat-obatan dekongestan sistemik atau lokal. bersifat selektif mengikat reseptor H1 perifer dan tidak mempunyai efek antikolinergik. yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H1 sel target dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rinitis alergi. 2. Untuk alergi makanan dapat pula dilakukan diet eliminasi dan provokasi atau Intracutaneous Provocative Food Test (IPFT). Antihistamin generasi-1 merupakan obat yang mampu menembus sawar darah otak dan memiliki efek kolinergik. Selain itu. tahapan ini diterapi secara kompetitif dengan imunoterapi. Tahap manifestasi klinis dalam organ target dimana ditandai dengan timbulnya gejala. siproheptadin. sebagai akibat lebih lanjut reaksi Ag-IgE adalah pelepasan histamin sebagai mediator. Antihistamin dibagi menjadi 2 golongan yaitu antihistamin generasi-1 (klasik) dan generasi-2 (non-sedatif). Yang termasuk kelompok ini antara lain adalah dipenhidramin. Sinusitis paranasal PENATALAKSANAAN Terapi rinitis alergi umumnya berdasarkan tahap-tahap reaksi alergi. . Otitis media yang sering residif terutama pada anak-anak 3. Tahap penetrasi alergen ke dalam jaringan subkutan/submukosa menuju IgE pada permukaan sel mast atau basofil.mengetahui alergen penyebab. juga dapat menentukan derajat alergi serta dosis inisial untuk imunoterapi. Pengobatan simptomatis Medikamentosa Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H1. • Tahapan ikatan Ag-IgE di permukaan mastosit/basofil. yaitu: • • Tahap terjadinya kontak antara alergen dengan kulit atau mukosa hidung. Antihistamin generasi-2 tidak mampu menembus sawar darah otak. prometasin. klorfeniramin. Tahapan ini dinetralisir • dengan obat-obatan antihistamin secara kompetitif memperebutkan reseptor H1 dengan histamin. KOMPLIKASI Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah: 1. Polip hidung: beberapa peneliti mendapatkan bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. dapat pula dilakukan tes provokasi hidung dengan memberikan alergen langsung ke mukosa hidung. tahapan ini diterapi dengan penghindaran terhadap alergen penyebab.

Namun pemakaian secara topikal boleh hanya untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. bersin. Pada ibu hamil diberikan diet restriksi (tanpa susu. gatal. dan kacang) mulai trimester ketiga dan selama menyusui. Pengobatan baru lainnya untuk alergi di masa mendatang adalah anti leukotrien. yaitu: 1. 3. dan efek pada SSP minimal. Antihistamin diberikan untuk mengatasi gejala pada respon fase cepat seperti rinore. Pencegahan tersier untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya penyakit alergi dengan penghindaran alergen dan pengobatan. . PENCEGAHAN Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi menjadi 3 tahap. Tindakan yang dilakukan dengan penghindaran terhadap pajanan alergen inhalan dan makanan yang dapat diketahui dengan uji kulit.antiadrenergik. Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai sebagai dekongestan hidung dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin oral atau topikal. Operatif Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat. tetapi tidak efektif untuk mengatasi gejala obstruksi pada hidung pada fase lambat. tindakan pertama adalah mengidentifikasi bayi yang mempunyai resiko atopi. Pencegahan sekunder untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak berupa asma dan pilek alergi yang sudah tersensitisasi dengan gejala alergi tahap awal berupa alergi makanan dan kulit. Pencegahan primer untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini terhadap alergen. anti IgE. Imunoterapi Desensitisasi dan hiposensitisasi: cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. Selain itu kontrol lingkungan dilakukan untuk mencegah pajanan terhadap alergen dan polutan. ikan laut. Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respon lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. dan DNA rekombinan. dan bayi mendapat ASI eksklusif selama 5-6 bulan. Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide bermanfaat untuk mengatasi rinore karena aktifitas inhibisi rereptor kolinergik pada permukaan sel efektor. 2.