Citizen and Citizenship Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998).

Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context London: Kogan Page A citizen was defined as ‘a constituent member of society’. Citizenship, on the other hand, was said to be ‘a set of characteristics of being a citizen’. And finally, citizenship education, the underlying focal point of the study, was defined as ‘the contribution of education to development of those characteristics of being a citizen’. (Cogan and Derricott, 1998:13) Komentar Warganegara adalah anggota suatu masyarakat. kewarganegaraan adalah seperangkat karakteristik yang terdapat dalam warganegara. Dan pendidikan kewarganegaraan adalah kontribusi pendidikan untuk mengembangkan karakteristik-karakteristik untuk menjadi warganegara.

1

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

DEFINISI PKn Kurikulum 2004 (Depdiknas. 2003:7) Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dan segi agama, sosio kultural, bahasa, usia,dan suku bangsa untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang Undang basar 1945

Civic and Citizenship Education Cogan, J.J. (1999). Developing the Civic Society: The Role of Civic Education. Bandung: CICED. Civic Education “…the foundation course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives”. Citizenship Education or Education for Citizenship “…both these in school experiences as well as out of school or non formal/informal learning which takes place in the family, the religious organization, community organizations, the media, etc which help to shape the totality of the citizen”. (Cogan, 1999:4) Komentar Civic Education adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warganegara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat. Sedangkan Citizenship Education atau Education for Citizenship digunakan sebagai istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan luar sekolah seperti rumah, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, media massa dan lain-lain yang berperan membantu proses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara.

3

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Education (Coogan : 1999 : 4 dalam Budimansyah, Winataputra : 2007 : 10) “ … the kinds of course work taking place within the context of the formalized schooling structure.” Komentar : Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang berlangsung dalam struktur formal di sekolah.

CIVIC EDUCATION NU’MAN SOMANTRI (2005) MenggagasPembaharuan Pendidikan IPS

Istilah Civics dan Education telah muncul dengan nama masing-masing sebagai berikut: a) Kewarganegaraan (1956) b) Civics (1959) c) Kewarganegaraan (1962) d) Pendidikan Kewarga Negaraan (1968) e) Pendidikan Moral Pancasila (1975) f) Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (1994) g) Pendidikan Kewarganegaraan (UU No. 20 Tohun 2003)

5

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Education Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process. (Kerr, 1999:2) Komentar Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran, dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut.

Civic Education Jack Allen,1960, dalam Somantri N.M. 2001: 263 “ Civic Education, property defined, as the product, of the entire program of the school, certainly not simply of the social studies program and assuredly not merely of a course of civics. But civics has an important function to perform, It confronts the young adolescent for the first time in his school experience with a complete view of citizenship functions, as rights and responsibilities in democratic context”. Komentar : PKN didefinisikan sebagai hasil seluruh program sekolah, bukan merupakan program tunggal ilmu-ilmu sosial, dan bukan sekedar rangkaian pelajaran tentang kewarganegaraan. Tetapi kewarganegaraan mempunyai fungsi penting untuk melakukan, yaitu menghadapkan remaja, peserta didik pada pengalaman di sekolahnya tentang pandangan yang menyeluruh terhadap fungsi kewarganegaraan sebagai hak dan tanggung jawab dalam suasana yang demokratis.

7

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Framework for Citizenship Education Quigley, C.N. Buchanan Jr. J.H. & Bahmueller, C.F. eds. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Center for Civic Education: Calabasas.
The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the aims and/or framework for citizenship education. (Quigley, Buchanan Jr., and Bahmueller, 1991). 1. Civic virtues consists of the traits of character, disposition, and commitments necessary for the preservation and improvement of democratic governance and citizenship. Examples of civic virtues are individual responsibility, self-discipline, integrity, patriotism, toleration of diversity, patience and consistency, and compassion for others. Commitments include, a dedication to human rights, equality, the common good, and a rule of law. 2. Civic knowledge covers fundamental ideas and information that learners must know and use to become effective and responsible citizens of a democracy. Civic knowledge normally includes types and systems of government, politics, political institutions and processes and the role of citizens in relation to the governance. 3. Civic skills include the intellectual skills required to understand, compare, explain and evaluate various principles and practices of government and citizenship. They also include the participatory skills that enable citizens to monitor and influence public policies (Quiqley 2000).

Komentar
The Center for Citizenship Education Amerika Serikat mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi dari kebaikan kewarganegaraan, pengetahuan kewarganegaraan, dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan Kewarganegaraan. 1. Kebaikan kewarganegaraan terdiri dari ciri-ciri dari karakter, disposisi, dan komitmen yang penting bagi pemeliharaan dan perbaikan pemerintahan dan kewarganegaraan demokratis. Contoh-contoh dari kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah tanggung jawab individu, disiplin diri, integritas, patriotisme, toleransi dalam keragaman, kesabaran dan konsistensi, dan rasa kasihan untuk yang lain. Komitmen-komitmen termasuk, suatu pengabdian terhadap hak azasi manusia, persamaan, kebaikan umum, dan aturan hukum. 2. Pengetahuan kewarganegaraan meliput gagasan dan informasi pokok bahwa para pelajar harus mengetahui dan terbiasa sebagai warganegara yang efektif dan bertanggung jawab dalam suatu demokrasi. Pengetahuan kewarganegaraan secara normal termasuk jenis-jenis dan sistem dari pemerintah, politik, lembaga politik, dan proses dan peran dari para warganegara dalam hubungannya dengan pemerintah. 3. Keterampilan kewarganegaraan termasuk keterampilan intelektual yang diperlukan untuk memahami, membandingkan, menjelaskan dan mengevaluasi berbagai prinsip dan praktek-praktek dari pemerintah dan kewarganegaraan. Termasuk juga keterampilan berpartisipasi yang memungkinkan warganegara untuk memonitor dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik (Quiqley 2000).

9

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Attributes of Citizenship Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The five attributes of citizenship: 1) a sense of identity, 2) the enjoyment of certain rights, 3) the fulfilment of corresponding obligations, 4) a degree of interest and involvement in public affairs, and 5) an acceptance of basic societal values. All five are conveyed through a wide variety of institutions, both governmental and non governmental, including the media, but they are usually seen as a particular responsibility of the school. Citizenship education, in the broadest sense, is an important task in all contemporary societies. (Cogan and Derricot, 1998: 2-3). Komentar
Secara konseptual, seorang warganegara seyogyanya memiliki lima ciri utama, yaitu: jati diri, kebebasan untuk menikmati hak tertentu, memenuhi kewajiban-kewajiban terkait, tingkat minat dan keterlibatan dalam urusan publik, tingkat dan pemilikan nilai-nilai dasar kemasyarakatan. Kesemuanya disampaikan melalui bermacam institusi, baik pemerintahan maupun nonpemerintahan, termasuk media, tetapi hal tersebut biasanya dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab sekolah. Pendidikan kewarganegaraan, dalam pengertian yang luas, adalah tugas yang penting di dalam semua masyarakat masa ini.

Civic Education NCCS, 1994 Standard Curriculum for Social Studies Washington … the promotion of civic competence which is the knowledge, skill and attitudes required of students to be able to assume the office of citizen (NCCS, 1994:3) Komentar : Bahwa pendidikan kewarganegaraan yang secara tersurat diartikan sebagai pengemban civic competence atau kemampuan sebagai warganegara yang memerlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk berperan serta dalam kehidupan demokrasi

11

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Education Faktor kontekstual yang mempengaruhi definisi dan pendekatan dalam PKn (Kerr : 1999 : 5)
Contextual factors which influence the definition of and approaches to citizenship education are : 1. Historical tradition 2. Geographical position 3. Social-political structure 4. Economic system 5. Global trends Komentar : Faktor-faktor yang mempengaruhi definisi dan pendekatan pendidikan kewarganegaraan adalah : 1. Tradisi historis 2. Letak Geografis 3. Struktur Sosial Politik

4.

Sistem ekonomi

5.

Trend global

Global Trends in Civic Education Patrick, J.J. (1997). ‘Global Trends in Civic Education for Democracy’. ERIC Clearing for Social Studies/Social Science Education, http://www.indiana.edu/ssdc/glotrdig. Patrick (1997) proposed nine global trends that have broad potential for influencing citizenship education in the constitutional democracies of the world. They are: 1) Conceptualising of citizenship education in terms of the three interrelated components of civic knowledge, civic skills and civic virtue. 2) Systematic teaching of core concepts about democratic governance and citizenship. 3) Analysis of case studies by students to apply core concepts or principles. 4) Development of decision-making skills. 5) Comparative and international analysis of government and citizenship. 6) Development of participatory skills and civic virtues through cooperative learning activities. 7) The use of literature to teach civic virtues.

13

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

8) Active learning of civic knowledge, skills and virtues. 9) The connection of content and process in teaching and learning of civic knowledge, skills and virtues.

Komentar : Patrick (1997) mengungkapkan sembilan kecenderungan global yang secara luas biasa berpotensi mempengaruhi pendidikan kewarganegaraan di dalam negaranegara yang menganut faham demokrasi konstitutional. Kecenderungan yang dimaksud adalah: 1. Konseptualisasi pendidikan kewarganegaraan dalam tiga komponenkomponen yang saling berhubungan –pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan dan kebaikan kewarganegaraan. 2. Pengajaran konsep-konsep inti secara sistematis tentang pemerintah dan kewarganegaraan demokratis. 3. Analisa dari studi kasus oleh para siswa untuk menerapkan prinsipprinsip atau konsep-konsep inti. 4. Pengembangan keterampilan pengambilan keputusan. 5. Analisis komparatif dan internasional tentang pemerintah dan kewarganegaraan. 6. Pengembangan keterampilan partisipatoris dan kebaikan kewarganegaraan melalui aktivitas belajar kooperatif. 7. Pemakaian literatur untuk mengajarkan kebajikan-kebajikan kewarganegaraan. 8. Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan dan kebaikan kewarganegaraan. 9. Menghubungkan antara isi dan proses dalam belajar dan mengajar

15

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

pengetahuan, keterampilan, dan kebaikan kewarganegaraan. Global Citizen Louise Douglas. (2002). “Global Citizenship”. Citizenship Update Institute for Citizenship. Tersedia di : www.citizen.org.uk/education/resources/html At Oxfam education we feel that our curriculum for global citizenship is an extremely useful planning tool for teachers wanting to help young people make sense of the world and to develop not only knowledge and understanding but also to skills and attitudes to do so. We see a global citizen as someone who: 1. is aware of the wider world and has a sense of their own roles as a world citizen 2. respects and values diversity 3. has an understanding of how the world works economically, politically, socially, culturally, technologically and environmentally 4. is outraged by social injustice 5. participates in and contributes to the community at a large of levels from the local to the global 6. is willing to act to make the world a more equitable and sustainable place 7. takes responsibility for their actions

Komentar Pada pendidikan Oxfam, kita merasakan bahwa kurikulum untuk kewarganegaraan global telah direncanakan secara ektrem sebagai alat bagi para guru untuk membantu para pelajar memahami dunia dan untuk mengembangkan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman tetapi juga keterampilan dan sikap. Kita memandang warganegara global sebagai orang yang: menyadari dunia secara luas dan mempunyai suatu perasaan dari peranperan mereka sendiri sebagai warga dunia pengakuan terhadap nilai-nilai keberagaman mempunyai satu pemahaman bagaimana dunia bekerja secara ekonomis, politis, sosial, kultural, teknologi dan lingkungan menolak ketidakadilan sosial berpartisipasi dan berperan dalam masyarakat secara luas mulai tingkat lokal sampai global memiliki kemauan untuk bertindak dan membuat dunia sebagai suatu tempat yang patut bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan mereka

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

17

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Global Citizenship

Banks, James A. (2004). Teaching for Multicultural Literacy, Global Citizenship, and Social Justice. (Parts of this paper are adapted from: James A. Banks, “Introduction: Democratic Citizenship Education in Multicultural Societies.” In James A. Banks (Editor). Diversity and Citizenship Education: Global Perspectives (pp. 3-15). San Francisco: Jossey-Bass, 2004; and from James A. Banks, “Teaching Literacy for Social Justice and Global Citizenship,” Language Arts, 81 (1), September 2003, pp. 18-19) Citizenship education should help students develop thoughtful and clarified identifications with their cultural communities and their nationstates. It should also help them to develop clarified global identifications and deep understandings of their roles in the world community. Students need to understand how life in their cultural communities and nations influences other nations and the cogent influence that international events have on their daily lives.

Komentar Pendidikan Kewarganegaraan perlu membantu para siswa mengembangkan pengetahuan dan identifikasi yang jelas tentang masyarakat, budaya dan negara bangsa mereka. Hal tersebut diperlukan untuk menolong mereka dalam mengembangkan identifikasi global dan pemahamanmendalam tentang peran mereka dalam masyarakat dunia. Para siswa perlu memahami bagaimana hidup di dalam masyarakat budaya mereka dan pengaruh satu negara terhadap negara lain serta keyakinan bahwa kejadian internasional itu berakibat pada hidup mereka sehari-hari.

19

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Multidimensional Citizenship Patricia Kubow, David Grossman and Akira Ninomiya Multidimensional citizenship: educational policy for the 21st Century. p.115

Multidimensional citizenship, this term is intended to describe the complex, multifaceted conceptualization of citizenship and citizenship education that will be needed if citizens are to cope with the challenges. (1999:115)

Komentar Kewarganegaraan multidimensional, istilah ini untuk menggambarkan kompleksitas, konseptualisasi bersegi banyak dari kewarganegaraan dan pendidikan kewarganegaraan yang diperlukan warganegara untuk keluar dari tantangan.

Dimension of Multidimensional Citizenship Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The four dimensions embodied in our conceptualization of multidimensional citizenship are personal, social, temporal and spatial. (Cogan and Derricott, 1998:11).

Komentar Dalam pandangan Cogan dan Dericot, kewarganegaraan multidimensional dikonsepsikan atas empat dimensi, yaitu personal, sosial, temporal, dan sjpatial.

21

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Karakteristik Warganegara Abad 21 Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page Eight citizens characteristic
1. the ability to look at and approach problems as a member of a global society 2. the ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society 3. the ability to understand, accept, appreciate and tolerate cultural differences 4. the capacity to think in a critical and systemic way 5. the willingness to resolve conflict and in a non-violent manner 6. the willingness to change one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment 7. the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and 8. the willingness and ability to participate in politics at local, national and international levels. (Cogan and Derricott, 1998:115).

Komentar Karakteristik warganegara abad ke-21 adalah sebagai berikut: 1. kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global 2. kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat 3. kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan-perbedaan budaya 4. kemampuan berpikir kritis dan sistematis 5. memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb 6. kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan 7. kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan 8. kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional.

23

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Bidang Pendidikan Kewarganegaraan Kennedy, K.J. (Ed). (1997). Citizenship Education and the Modern State. London: Falmer Press. Mc Laughlin, T.H. (1992). “Citizenship, Diversity and Education: a Philosophical Perspective”, Journal of Moral Education, 21, 3, 235-50.
Bidang pendidikan kewarganegaraan mencakup berbagai istilah termasuk kewarganegaraan, sipil, ilmu sosial, penelitian sosial, ilmu dunia, masyarakat, penelitian tentang masyarakat, kemampuan hidup dan pendidikan moral. Bidang ini juga berkaitan dengan mata pelajaran-mata pelajaran dalam kurikulum wajib dan kurikulum pilihan, termasuk sejarah, geografi, ekonomi, hukum, politik, penelitian lingkungan, pengajaran nilai-nilai, penelitian agama, bahasa dan sains. Rentang istilah dan hubungannya dengan berbagai mata pelajaran tersebut mendasari luas dan kompleksitas masalah yang dipelajari di bidang ini. Luas dan kompleksitas ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan dari PKn. (Kennedy 1997 dan Mc Laughlin (1992).

Faktor Struktural Yang Mempengaruhi Pkn (Kerr : 1999 : 7) Detailed structure factors in citizenship education, are : 1. Organisation of and responsibilities for education 2. Educational values and aims 3. Funding and regulatory arrangements Komentar : Faktor Struktural yang mempengaruhi PKn adalah : 1. Pengaturan dan tanggung jawab terhadap pendidikan 2. Nilai dan tujuan pendididkan 3. Pengaturan pendanaan dan perundangan

25

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Fungsi PKN Depdiknas, Proyek PKN & BP (2000: 21) Fungsi PKN sebagai berikut : 1. Mengembangkan dan metestarikan nilai moral Pancasila secara dinamis dan terbuka. Dinamis dan terbuka dalam arti bahwa nitai moral yang dikembangkan mampu menjawab tantangan perkembangan yang terjadi datam masyarakat, tampa kehitançian jati din sebagai bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu dan berdaulat; 2. Mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar potitik dan konstitusi negara Kesatuan Republik Indonesia ditandaskan Pancasila dan UUD 1945; 3. Membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antara warganegara dengan negara, antar warga negara dengan sesama warganegara, dan pendidikan pendahuluan bela negara agar mengetahui serta mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajiban sebagai warganegara.

Civic Training Prewitt & Dawson, 1977:141 (dalam Kerr, David. (1999). Citizenship Education: an International Comparison. London: QCA (Qualification and Curriculum authority). We call civics training that part of political education that emphasizes how a good citizen participates in political life of his or her nation. (Prewitt & Dawson, 1977:141 dalam Kerr, David, 1999).
Komentar:

Inti yang dinyatakan pendapat itu, bahwa civic training (PKn) sebagai bagian pendidikan politik menekankan bagaimana menjadi warga negara yang baik dalam arti mampu berpartisipasi dalam kehidupan politik bangsa (sistem politik nasionalnya). (Prewitt & Dawson, 1977:141). (dalam Kerr, David, 1999).

27

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Penekanan Dalam Pendidikan Kewarganegaran (Ace Suryadi : 2004) Empat hal yang harus jadi penekanan dalam Pendidikan kewarganegaran dalam mencapai kompetensi warganegara : 1. Pendidikan Kewarganegaraan bukan merupakan indoktrinasi politik 2. Pendidikan Kewarganegaraan mengembangkan state of mind dalam upaya pembentukan karakter warganegara yang cerdas dan bernalar tinggi 3. Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu proses pencerdasan dengan menekankan pada latihan menggunakan daya nalar dan logika 4. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai laboratorium demokrasi, sikap dan perilaku demokratis yang dikembangkan dengan pembelajaran yang demokratis.

Approaches to Citizenship Education Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER
1. Education ABOUT citizenship focuses on providing students with sufficient knowledge and understanding of national history and the structures and processes of government and political life. 2. Education THROUGH citizenship involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. This learning reinforces the knowledge component. 3. Education FOR citizenship encompasses the other two strands and involves equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. This strand links citizenship education with the whole education experience of students. (Kerr, 1999:15-16).

Citizenship education comprises three approaches:

29

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Pendidikan Kewarganegaraan dikonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan 1. Pendidikan TENTANG kewarganegaraan memusatkan perhatian untuk mempersiapkan para siswa dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang sejarah nasional dan strukturstruktur dan proses-proses dari pemerintah dan kehidupan politik. 2. Pendidikan MELALUI kewarganegaraan menitikberatkan pada pelibatan siswa untuk belajar dengan melakukan (by doing), melalui pengalaman-pengalaman yang aktif, berpartisipasi di sekolah atau masyarakat lokal dan di luar. Proses belajar seperti itu diyakini memiliki potensi untuk menguatkan komponen pengetahuan. Pendidikan UNTUK kewarganegaraan mencakup kedua pendekatan 1) dan 2) yang menitikberatkan pada proses memperlengkapi siswa dengan seperangkat alat (pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan sikap, nilai-nilai dan disposisi-disposisi) yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif dan pantas di dalam peran-peran dan tanggung-jawab mereka dalam kehidupan dewasa mereka. Pendekatan ini mengaitkan pendidikan kewarganegaraan dengan keseluruhan pengalaman pendidikan para siswa.

Komentar

Komponen-komponen Pembelajaran PKn Beyer (1996 : 107) Tiga komponen pembelajaran PKn yang demokratis menurut Beyer. 1. discovering and nurturing voice; 2. developing sonscieusnes; 3. claiming a new awareness. Komentar : Komponen-komponen pembelajaran PKn yang demokratis adalah : 1. menemukan dan memelihara suara; 2. mengembangkan ketelitian 3. mengaku suatu kesadaran baru

31

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Komponen PKn Biggs john (2003) Pend Nilai Moral Dalam dimensi PKn (2006 :154) New Civics yang dikembangkan sekarang di sekolah menyongsong kurikulum KBK adalah pernantapan tiga komponen pokok yaitu: 1) Civic knowledge 2). Civic skill 3). Civic disposition. Komentar : Ketiga aspek diatas merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkàn dari satu aspek pada aspek lainnya.

Approaches to Citizenship Education Citizenship Education: An International Comparison. Kerr, David. (1999). England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship education comprises three approaches: a) Education ABOUT citizenship focuses on providing students with sufficient knowledge and understanding of national history and the structures and processes of government and political life. b) Education THROUGH citizenship involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. This learning reinforces the knowledge component. c) Education FOR citizenship encompasses the other two strands and involves equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. This strand links citizenship education with the whole education experience of students. (Kerr, 1999:15-16)

33

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Komentar : Pendidikan Kewarganegaraan dikonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan 1. Pendidikan TENTANG kewarganegaraan memusatkan perhatian untuk mempersiapkan para siswa dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang sejarah nasional dan strukturstruktur dan proses-proses dari pemerintah dan kehidupan politik. 2. Pendidikan MELALUI kewarganegaraan menitikberatkan pada pelibatan siswa untuk belajar dengan melakukan (by doing), melalui pengalaman-pengalaman yang aktif, berpartisipasi di sekolah atau masyarakat lokal dan di luar. Proses belajar seperti itu diyakini memiliki potensi untuk menguatkan komponen pengetahuan. 3. Pendidikan UNTUK kewarganegaraan mencakup kedua pendekatan (1 dan 2) yang menitikberatkan pada proses memperlengkapi siswa dengan seperangkat alat (pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan sikap, nilai-nilai dan disposisi-disposisi) yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif dan pantas di dalam peran-peran dan tanggung-jawab mereka dalam kehidupan dewasa mereka. Pendekatan ini mengaitkan pendidikan kewarganegaraan dengan keseluruhan pengalaman pendidikan para siswa.

Strategi PembelajaranPKn Seminar Nasional dan Rakernas PKn 2005 Dalam kurikulum 2004, (2003:12) dijelaskan bahwa praktek belajar kewarganegaraan adalah suatu. Inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori kewarganegaraan metalui pengalaman belajar praktek-empirik. Dengan adanya praktek, siswa diberikan latihan untuk belajar secara kontekstuaLSementara menurut A. Kosasih Djahiri adalah benar-benar terkontrol-terkendali menjurus kepada proses “ Penjinakan” (domesticating) potensi dan kehidupan siswa / masyarakat, jadi bukan kearah memberi kemudahan-kelancaran keberhasilan (facilitating) proses internalisasi-personalisasi substansi serta pembinaan dan pengembangan potensi diri kemampuan belajar

35

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Citizenship Education / Education for citizenship Cogan, 1999:4 dalam Disertasi Winataputra, MA both these in-school experiences as well as out-of school of non-formal / informal learning which takes place in The family. The religious organization, community organizations. The media, etc which help to shape The totality of the citizen’ Komentar : Sebagai pengalamam belajar di sekolah dan diluar sekolah seperti di rumah, dalam orgonisasi keagamaan. dalam organisasi kemasyarakatan, melalui media massa dan lain-lain yang berperan membantu peoses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara”

Epistemologi PKN Concluding remarks

CICED, 1999 “Civic Education both as the intellectual and educational endeavors are accete as the main vehicle as well as the essence of education for democracy” Komentar : “Dapat dinilai sebagai landasan dan sekaligus sebagai parameter dasar dalam pengembangan epistemology pendidikan Kewarganegaraan sebagai suatu sistem pengetahuan terpadu”

PKN yang IdeaI di Indonesia Somantri,Nu’man M.(2001 :299) Menyatakan bahwa PKn yang sekiranya akan cocok dengan Indonesia

37

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

adalah sebagai berikut: “Pendidikan Kewarganegaraan adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh pengaruh positip dan pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih siswa untuk berfikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak dein dalam mempersiapkan hidup demokratis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Empat isi Pokok PKN Sapriya & Winataputra. 2004:16 Empat isi Pokok Pendidikan Kewarganegaraan: 1. Kemampuan dasar dan kemampuan kewarganegaraan sebagai sasaran pembentukan.

2. Standar materi kewarganegaraan sebagai muatan kurikulum. 3. Indikator pencapaiun sebagai kriteria keberhasilan pencapaian kemampuan. 4. Rambu—rambu umum pembelajaran sebagai rujukan alternative bagi para guru.

Tujuan Kewarganegaraan Somantri, Endang. Seminar Nasional & Rakernas PKN 2005
“Tujuan utama dan kehendak negara yang memprogramkan pendidikan kewarganegaraan ini adalah untuk mengembangkan warganegara yang mengenal, menerima dan menghayati serta menyadari perannya sebagai pengambil keputusan yang bertanggung jawab yang berkenaan dengan peradaban dan moral dalam kehidupan masyarakat yang demokratis seperti prilakunya diatur oleh pninsip-prinsip moral dalam segala situasi. Secara singkat tujuan yang berfokus pada status kewarganegaraannya adalah untuk

39

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

mengembangkan pribadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap pembentukan suatu masyarakat yang adil dan mampu melindingi orang atau mahluk lain dan kekejaman dan sebagai bangsa yang merdeka dan demokratis. Dibeberapa negara tujuan ini didukung oleh UUD, Ketetapan dan peraturan negara masing-masing. (CICED,:73)”

Tujuan PKn dalam Kurikulum 2004 Arnie Fadjar, 2005:59 Tujuan mata pelajaran PKn dalam kurikulum 2004, adalah memberikan kompetens kepada peserta did dalam hal: 1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam rnenanggapi isu-isu kewarganegaraan; 2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan secara cerdas dalam kegiatan masyarakat. berbangsa. 3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk dan berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia

Hakekat PKn Arnie Fadjar, (2005:56) Secara filosofi, PKn adalah mengkaji bagaimana warganegara bertindak, dalam arti melakukan sesuatu berdasar apa yang diketahui dan dipabami tentang kewarganegaraan yang selanjutnya dapat membuat keputusankeputusan yang cerdas dan bertanggunq jawab dalam menghadapi berbagai masalah baik pribadi masyarakat, bangsa dan negara. PKn pada hakekatnya adalah suatu yang dilakukan untuk belajar disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang telah diorganisasilcan secara timatis dan akademik dengan penekanan pada pengetahuan dan kemampuani dan tentang hubungan warganegara yang diharapkan dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

41

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Strategi pembelajaran PKn Arnie Fadjar, 2005:61
Pembelajaran PKn membekali peserta didik sebagai berikut: 1. Pengetahuan tentang hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang meliputi bidang po1itik pemerintahan, nilai-moral budaya bangsa sebagai identitas bangsa, nasionalisme, ekonomi dan nilai-nilai masyarakat lainnya. 2. Pemahaman terhadap hak dan tanggung jawab sebagai warganegara Indonesia yang memiliki identitas/ jati diri sebagai bangsa Indonesia, 3. Pengayaan sumber belajar, bahwa sumber belajar tidak hanya di dalam kelas dan dan buku teks, melainkan diperkaya dengan pengalaman belajar mandiri dan peserta didik yang relevan, baik di sekolah, keluarga. maupun di masyarakat, yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dan menemukan sendini bagaimana berperan serta dalam lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara dengan menggunakan berbagai media sebagai hasil teknologi. 4. Keteladanan dan nilai-nilai dan prinsip yang dikembangkan dalath PKn melalui sikap dan perilaku sehari-hani, sehingga peserta didik memiliki panutan dalam mewujudkan perilaku yang diharapkan. 5. Hidup bersama deagan orang lain sebagai satu bangsa, bahwa mata pelajaran PKn termasuk dalam rumpun PIPS, menekankan bagaimana manusia sebagai warganegara dapat bekerja sama dengan orang lain, saling menghormati, menghargai

Citizenship Education

David Kerr, 1999

Citizenship Education : an International Comparison.

England: National Foundation for Educational Research-NFER
The citizenship education thematic study is designed to enrich our understanding of citizenship education by examining six key aspects: 1. Curriculum aims, organizations and structure 2. Teaching and learning approaches 3. Teacher specializations and teacher training 4. Use of the textbooks and other resources 5. Assessment arrangements 6. Current and future developments

Komentar: Kelompok Pendidikan studi tematik dirancang untuk memperkaya pemahaman pendidikan kewarganegaraan kita dengan pengujian enam aspek kunci:

43

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

1. 2. 3. 4. 5. 6.

kurikulum tujuan, struktur dan organisasi pengajaran dan pendekatan belajar pelatihan guru dan spesialisasi penggunaan menyangkut buku teks dan sumber daya lain pengaturan penilaian pengembangan sekarang dan yang akan datang

Ciri Negara Hukum Jimly Asshiddiqie (2005 152); Konstitusi & Konstituante, Jokarta MKRI Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting Negara Hukum Yang di sebut The Rule of law, yaitu 1) Supremacy of law 2) Equality before law 3) Due process of law Komentar : Tiga ciri Negara menurut AV Dicey: 1) Supremasi hukum, semua masalah diselesaikan dengan hukum 2) Persamaan dalam hukum dan pemerintahan 3) Asas legalitas, segala tindakan pemerintahan harus berdasarkan UU yang sah

Multidimensional Citizenship

45

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Citizenship For The 21 Century Cogan, JJ.& Derricott, 1998 ; London: Cogan Page Limited.

Thus the central recommendation emerging from this study is that future education policy must be based upon a conception of what we describe as multi dimensional citizenship appropriate to the needs and demeus of the early part 21 century. This conception must permeate all aspects of education, included curriculum and pedagogy, governance and organization, and school community relationships. (Cogan&Derncot,1998:11) Komentar : Rekomendasi yang disampaikan oleh pusat studi adalah masa depan kebijakan Bidang pendidikan, yaitu harus disesuaikan dengan konsepsi dan jenis yang kita sebut multi dimensionaL Konsepsi ini barus menyebar keseluruh áspek pendidikan yang mencakup kurikulum dan pengajaran, pemerintahan, organisasi Pentingnya Pendidikan Democracy Gandal & Finn (1992:2) Dalam Disertasi Winataputra,2001

“Democracy does not teach it self. I the strengths, benefits and responsibilities of democracy are not mode clear to citizens, they will be ill equipped to defend it Komentar : “Demokrasi tidak bisa mengajarkan sendiri, jika kekuatan kemanfaatan, dan tanggung jawab demokrasi tidak dipahami dan dihayati dengan baik oleh warganegara,”

Participation and democratic theory Mansbridge dim Torres (1998:147) Disertasi Winataputra. (2001)

47

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

“...the major fuction of participation in the theory of participatory democracy is_an educative one, educative in a very widest sense Komentar : Bahwa fungsi utama dan partisipasi dalam pandangan teori demokrasi partisipasi dalam arti yang sangat luas bersifat edukatif.

Pengertian Demokrasi Abraham Lincoln & USIS, (1995 :5) Dalam Disertasi Winatapütra. MA The Government from the people by the people for the people

Komentar : Demokrasi adalah suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,untuk rakyat ‘

Pengertian Demokrasi The Advance learner’s Dictionary of current English (Hornby : 261) dalam Winatautra, Budimansya (2007 : 200)
Democracy is 1. Country with principles of government in which all adult citizens share through their ellected repesentatives 2. Country with government which encourage and alows rights of citizeship such as freedo of speech, religion, opinion, and association, the assertion of rule of law, majority rule, accompanied by respect for the rights of minorities

49

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

3. Society in which there is tratment of each other by citizens as equals. Komentar : Bahwa kata demokrasi merujuk pada konsep kehidupan negara atau masyarakat, dimana warganegara turut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakilnya yang dipilih; pemerintahannya mendorong dan menjamin kemerdekaan berbicara, beragama, berpendaat, berserikat, menegakkan rule of law, adanya pemerintahan mayoritas yang menghormati hak-hak kelompok minoritas ; dan masyarakat yang warganegaranya saling memberi perlakuan yang sama.

Syarat Pemerintahan Yang Demokratis Drs. Mustafa Kamal Pasha, B. Ed. Citra karsa mandiri 2002 Syarat untuk terseleggaranya pemerintahan yang demokrasi di bawah rule of the law adalah : 1. Perlindungan konstitusional 2. badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak 3. pemilihan umum yang bebas 4. kebebasan untuk menyatakan pendapat 5. kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi

6. pendidikan kewarganegaraan (civic education)

51

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Education Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. Civic education in a democratic is education in self-government. Self-government means active participation in self-governance, not passive acquiescence in the actions of others. (Quigley and Bahmueller, 1991:3).

Komentar Pendidikan Kewarganegaraan dalam demokrasi adalah pendidikan dalam pemerintahan otonom, Pemerintahan otonom (sendiri) berarti keikutsertaan aktif di dalam pemerintahan sendiri, bukan persetujuan pasif dalam tindakantindakan orang lain.

Ciri Warganegara Indonesia Yang Cerdas Dan Agamis Udin S Winataputra Pelatihan Kerja Calon Instruktur Guru PKn Seluruh Indonesia (1999) Ciri Warganegara Indonesia yang cerdas dan agamis / religius adalah sebagai berikut: 1. Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2. Berfikir kritis-argumentasi dan kreatif 3. Mengemukakan pikiran dan perasaan secara Jernih dan sesuai aturan. 4. Menerima ke-bhineka-an dalam kehidupan. 5. Berorganisasi secara sadar dan bertanggungjawab

Pendidikan Demokrasi Isma’un, 2001.

53

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

dalam Pendidikan Nilai Moral Dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan,(2006: 125) Pendidikan demokrasi dalam PKn dilaksanakan melalui pengembangan pada tiga aspek: 1. Kecerdasan dan daya nalar warganegara (civic mtelligence) baik dimensi rasional,emosional,dan spiritual,maupun social cultural. 2. Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warganegara yang bertanggungjawab (civic responsibility) 3. Kemampuan berpartisipasi warganegara (civic participation) asas dasar tanggungjawab,baik secara individual,secara socia1 sebagai kader pemimpin masa depan yang lebih baik.

Esensi PKn Indonesia Concluding Remark Komperensi CICED 1999. “ The development of democratic ideal, values, norm, knowledge, skill.

Psychologically and socialy facilitating citizens as. Well as society to perform their respects and responsibility as intelligent and society responsible social acters and leaders of society, (1999:4) Komentar : “Pengembangan ide-ide, nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan dan keahlian politik secara psikologi dan fasilitasi umum warganegara sebagai perwujudan rasa hormat dan tanggung jawab masyarakat sebagai pelakupelaku sosial dan pemimpin masyarakat yang cerdas dan bertanggung jawab”

55

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Education in a Democracy Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network Civic education in a democracy is education in self government. Democratic self government means that citizens are actively involved in their own governance; they do not just passively accept the dictums of others or acquiesce the demands of others. (Branson, 1998:3). Komentar Pendidikan kewarganegaraan dalam demokrasi adalah pendidikan untuk mengembangkan dan memperkuat dalam atau tentang pemerintahan otonom (self government). Pemerintahan otonom demokratis berarti bahwa warganegara aktif terlibat dalam pemerintahan sendiri; mereka tidak hanya menerima didikte orang lain atau memenuhi tuntutan orang lain.

Inti PKN adalah Pendidikan Demokrasi Sudarsono, 1999 Dalam Conference CICED, 1999 the ideals and values of democracy and their implementations in daily activities at micro as well as macro levels can be regarded as the heart of civil society’ democracy living should be fostered in order that we should be able to establish a good Indonesian civil society”, ...the existing civic education both for school and for society should be reassessed and redesigned”. Komentar : “dari situ dengan tegas tampak adanya kecendrungan yang kuat untuk menetapkan pendidikan demokrasi sebagal intinya dari pendidikan Kewarganegaraan.

57

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Pendidikan Kewarganegaraan Drs. Musfafa Karnal Pasha ; Citra Karsa Mandiri, 2002 Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil, akan membuahkan sikap mental yang bersifat cerdas, penuh tanggung jawab dengan perilaku sebagai berikut : a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menghayati nilai-nilai Pancasila b. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. c. Bersikap rasional, dinamis dan sadar akan hak-hak dan kewajibannya sebagai warganegara. d. Bersikap professional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara e. Aktif memanfaatkan ilmu dan teknologi serta setia untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan negara.

Conceptions of Character
Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York, NY: Bantam Books
“Good character consists of knowing the good, desiring the good, and doing the good …” (Lickona, 1991:51) Much of the debate about whether and how to teach for character is tied into a debate about what “character” means. Character can refer to: • personality traits or virtues such as responsibility and respect for others • emotions such as guilt or sympathy • social skills such as conflict management or effective communication • behaviours such as sharing or helping, or • cognitions such as belief in equality or problem-solving strategies. Thomas Lickona, describes character as “a reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way. Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behaviour” (Lickona, 1991:51).

Komentar

59

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Menurut Lickona, karakter baik terdiri dari mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik. Sebagian besar perdebatan sekitar apa dan bagaimana mengajar karakter terikat pada suatu debat tentang apa makna "karakter". Karakter dapat mengacu pada: 1. ciri kepribadian atau kebaikan seperti tanggung jawab dan rasa hormat untuk yang lain 2. emosi seperti rasa bersalah atau simpati 3. keterampilan-keterampilan sosial seperti pengendalian konflik atau komunikasi efektif 4. perilaku-perilaku seperti sharing atau membantu, atau 5. pengamatan-pengamatan seperti kepercayaan di dalam persamaan atau strategi memecahkan masalah. Thomas Lickona, menguraikan karakter sebagai "suatu bagian dari disposisi yang dapat merespon terhadap situasi-situasi yang secara moral baik. Karakter mengandung tiga bagian yang saling berhubungan: pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral" (Lickona, 1991:51).

Character Education
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network
Learning activities such as the following tend to promote character traits needed to participate effectively. For example: 1. Civility, courage, self-discipline, persistence, concern for the common good, respect for others, and other traits relevant to citizenship can be promoted through cooperative learning activities and in class meetings, student councils, simulated public hearings, mock trials, mock elections, and students courts. 2. Self-discipline, respect for others, civility, punctuality, personal responsibility, and other character traits can be fostered in school and community service learning projects, such as tutoring younger students, caring for the school environment, and participating in voter registration drives. 3. Recognition of shared values and a sense of community can be encouraged through celebration of national and state holidays, and celebration of the achievements of classmates and local citizens. 4. Attentiveness to public affairs can be encouraged by regular discussions of significant current events. 5. Reflection on ethical considerations can occur when studnts are asked to evaluate, take, and defend positions on issues that involve ethical considerations, that is, issues concerning good and bad, rights and wrong. 6. Civic mindedness can be increased if schools work with civic organizations, bring community leaders into the classroom to discuss issues with students, and provide opportunities for students to observe and/or participate in civic organizations. (Branson,

61

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

1998:15).

Komentar
Aktivitas belajar yang dapat meningkatkan ciri-ciri karakter, dalam hal ini termasuk di dalamnya nation and character building, antara lain adalah: 1. Sopan santun, keperwiraan, disiplin pribadi, ketekunan, kepedulian terhadap kepentingan umum, menghormati orang lain, dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang kooperatif dan di dalam pertemuan-pertemuan kelas, dewan pelajar, simulasi dengan pendengar publik, simulasi pemilu, simulasi sidang pengadilan, dan mahkamah pelajar. 2. Disiplin pribadi, menghormati orang lain, sopan santu, tepat waktu, tanggung jawab pribadi, dan karakterkarakter lainnya dapat dipupuk di sekolah dan proyek-proyek belajar pelayanan masyarakat, seperti membantu mengajari siswa yang lebih muda, merawat lingkungan sekolah, dan partisipasi di dalam kepanitiaan pemilu. 3. Pengenalan terhadap nilai-nilai bersama serta kepedulian terhadap masyarakat sekitar dapat didorong melalui perayaan hari-hari libur nasional dan negara bagian, serta perayaan atas prestasi yang telah dicapai oleh teman sekelas ata warga setempat di sekitarnya. 4. Kepedulian terhadap urusan-urusan publik dapat didorong melalui diskusi-diskusi teratur mengenai pentingnya kejadian-kejadian aktual yang sedang berlangsung. 5. Perenungan mengenai masalah-masalah etis dapat terjadi manakala siswa diminta untuk mengevaluasi, mengambil atau mempertahankan suatu pendapat tentang hal-hal yang melibatkan pertimbangapertimbangan etis, yakni isu-isu mengenai baik buruk, benar salah. 6. Kepekaan kewarganegaraan dapat ditingkatkan jika sekolah-sekolah bekerjasama dengan organisasiorganisasi kemasyarakatan, mengundang para pemuka masyarakat masuk ke kelas untuk mendiskusikan isu-isu yang sedang berkembang dengan para siswa, serta menyediakan peluang bagi siswa untuk mengamati langsung dan/atau berpartisipasi di dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Misi PKN dengan Paradigma yang direvitalisasi Sapriya & Winataputra ; Bindung, Rizki Offset, 2004 “Pendidikan demokrasi mengemban tiga fungsi pokok, yaitu : • Mengembangkan kecerdasan warga negera (civic intelligency); • Membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility)’ • Mendorong partisipasi warganegara (civic participation)

Watak Kewarganeraan

Branson (1999)

63

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Prof, Dr Hj. Ranidar Darwis, M . Pd. (2003:38) Watak Kewarganegaraan yang utama itu adatah a. menjadi anggota masyarakat yang independent b. mematuhi tanggung jawab personal kewarganegaraan di bidang ekonomi dan politik c. menghormati harkat dan martabat kemanusiaan tiap individu d. berpartisipasi dalam urusan—urusan kewarganegaraan secara efektif dan bijaksana e. mengembangkan berfungsinya demokrasi konstitisional secara sehat.

Character Education Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network
Learning activities such as the following tend to promote character traits needed to participate effectively. For example:

 

Civility, courage, self-discipline, persistence, concern for the common good, respect for others, and other traits relevant to citizenship can be promoted through cooperative learning activities and in class meetings, student councils, simulated public hearings, mock trials, mock elections, and students courts. Self-discipline, respect for others, civility, punctuality, personal responsibility, and other character traits can be fostered in school and community service learning projects, such as tutoring younger students, caring for the school environment, and participating in voter registration drives. Recognition of shared values and a sense of community can be encouraged through celebration of national and state holidays, and celebration of the achievements of classmates and local citizens. Attentiveness to public affairs can be encouraged by regular discussions of significant current events. Reflection on ethical considerations can occur when studnts are asked to evaluate, take, and defend positions on issues that involve ethical considerations, that is, issues Anotasi Bibliografi (1104042) Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

65

concerning good and bad, rights and wrong. Civic mindedness can be increased if schools work with civic organizations, bring community leaders into the classroom to discuss issues with students, and provide opportunities for students to observe and/or participate in civic organizations. (Branson, 1998:15).

Komentar
Aktivitas belajar yang dapat meningkatkan ciri-ciri karakter, dalam hal ini termasuk di dalamnya nation and character building, antara lain adalah: 7. Sopan santun, keperwiraan, disiplin pribadi, ketekunan, kepedulian terhadap kepentingan umum, menghormati orang lain, dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang kooperatif dan di dalam pertemuan-pertemuan kelas, dewan pelajar, simulasi dengan pendengar publik, simulasi pemilu, simulasi sidang pengadilan, dan mahkamah pelajar. 8. Disiplin pribadi, menghormati orang lain, sopan santu, tepat waktu, tanggung jawab pribadi, dan karakterkarakter lainnya dapat dipupuk di sekolah dan proyek-proyek belajar pelayanan masyarakat, seperti membantu mengajari siswa yang lebih muda, merawat lingkungan sekolah, dan partisipasi di dalam kepanitiaan pemilu. 9. Pengenalan terhadap nilai-nilai bersama serta kepedulian terhadap masyarakat sekitar dapat didorong melalui perayaan hari-hari libur nasional dan negara bagian, serta perayaan atas prestasi yang telah dicapai oleh teman sekelas ata warga setempat di sekitarnya. 10. Kepedulian terhadap urusan-urusan publik dapat didorong melalui diskusi-diskusi teratur mengenai pentingnya kejadian-kejadian aktual yang sedang berlangsung. 11. Perenungan mengenai masalah-masalah etis dapat terjadi manakala siswa diminta untuk mengevaluasi, mengambil atau mempertahankan suatu pendapat tentang hal-hal yang melibatkan pertimbangapertimbangan etis, yakni isu-isu mengenai baik buruk, benar salah. 12. Kepekaan kewarganegaraan dapat ditingkatkan jika sekolah-sekolah bekerjasama dengan organisasiorganisasi kemasyarakatan, mengundang para pemuka masyarakat masuk ke kelas untuk mendiskusikan isu-isu yang sedang berkembang dengan para siswa, serta menyediakan peluang bagi siswa untuk

mengamati langsung dan/atau berpartisipasi di dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Character Education Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network Character is ultimately who we are expressed in action, in how we live, in what we do – and so the children around us know, they absorb and take stock of what they observe, namely us-we adults living and doing things in a certain spirit, getting on with one another in our various ways. Coles (dalam Branson, 1998:14) Komentar
Pada dasarnya, karakter adalah kepada siapa kita mengekspresikan perbuatan kita, bagaimana kita hidup, apa yang kita kerjakan – dan demikianlah anak-anak di sekitar kita mengetahuinya, merekapun kemudian menyerap dan menyimpan hasil pengamatan mereka, yaitu kita para orang

67

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

dewasa ini hidup dan melakukan sesuatu dengan spirit tertentu, bergaul satu sama lain dengan berbagai cara.

Civic Virtues L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). “Civic Theater for Civic Education”. In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1, 2005 (p.83-108). Civic virtues are the qualities of character and personal skills necessary to make the exercise of citizenship meaningful. Civic virtues give us the capacity to exercise our rights, promote our interests and meet our duties. (L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel, 2005:86).

Komentar Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah kualitas dari karakter dan keterampilan-keterampilan pribadi yang diperlukan untuk kebermaknaan latihan kewarganegaraan. Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan memberikan kepada kita kapasitas untuk berlatih hak-hak kita, mempromosikan minat kita dan kewajiban-kewajiban kita.

69

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Virtues Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. Virtue is the principle of republican government…Virtue in a republic is love of one’s country, that is, love of equality. It is not a moral virtue, not a Christian, but a public virtue. (Montesquieu, 1948, in Quigley and Bahmueller, 1991:11). Komentar Kebajikan adalah prinsip dari pemerintahan republik… kebajikan dalam republik adalah cinta dari negerinya, cinta persamaan. Kebajikan bukanlah suatu kebajikan moral, bukan kebajikan Kristiani, tetapi kabajikan publik.

71

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Civic Virtues
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. In the CIVITAS curriculum framework, civic virtue is described in terms of civic dispositions and civic commitment. 1. Civic dispositions refer to those attitudes and habits of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system. 2. Civic commitments refer to the freely given, reasoned commitments of the citizen to the fundamental values and principles of American constitutional democracy. (Quigley and Bahmueller, 1991:11).

Komentar

Di dalam kerangka kurikulum kewarganegaraan digambarkan dalam komitmen kewarganegaraan.

CIVITAS, kebajikan istilah disposisi dan

1. Disposisi kewarganegaraan mengacu kepada sikap dan kebiasaan-kebiasaan pikiran dari warganegara yang berfungsi bagi sistem demokrasi yang sehat dan kebaikan umum dari. Komitmen kewarganegaraan mengacu kepada kebebasan yang diberikan, komitmen yang rasional dari warganegara terhadap nilai fundamental dan prinsip-prinsip demokrasi konstitutional Amerika.

73

Anotasi Bibliografi (1104042)

Iwan Sukma Nur Ichtiar, S.Pd

Human Rights Education Davies, Lynn. (2000). Citizenship Education and Human Rights Education: Key Concepts and Debates. England: The British Council. Human rights education shall be defined as training dissemination and information efforts aimed at the building of a universal culture of human rights through the imparting of knowledge and skills and the moulding of attitudes. (UN Decade for Human Rights Education Plan of Action). (Davies, 2000:6). Komentar Pendidikan hak azasi manusia seyogyanya didefinsikan sebagai pelatihan dan usaha-usaha informasi yang ditujukan untuk pembangunan suatu kultur universal dari hak azasi manusia melalui pengetahuan dan keterampilan serta penuangan sikap-sikap.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful