Dasar-Dasar Hukum Pidana

BAB I

A. PENGERTIAN HUKUM PIDANA Merumuskan hukum pidana ke dalam rangakaian kata untuk dapat memberikan sebuah pengertian yang komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hukum pidana adalah sangat sukar. Namun setidaknya dengan merumuskan hukum pidana menjadi sebuah pengertian dapat membantu memberikan gambaran/deskripsi awal tentang hukum pidana. Banyak pengertian dari hukum pidana yang diberikan oleh para ahli hukum pidana diantaranya adalah sebagai berikut: W.L.G. Lemaire Hukum pidana itu itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusankeharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukum itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut.1 Simons Menurut Simons hukum pidana itu dapat dibagi menjadi hukum pidana dalam arti objek tif atau strafrecht in objectieve zin dan hukum pidana dalam arti subjektif atau strafrecht in subjectieve zin. Hukum pidana dalam arti objek tif adalah hukum pidana yang berlaku, atau yang juga disebut sebagai hukum positif atau ius poenale.2 Simons merumuskan hukum pidana dalam arti objek tif sebagai:

P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1984), h. 1-2. 2 Ibid, h. 3.

1

1

Bab I. Hukum Pidana 1. Keseluruhan larangan dan perintah yang oleh negara diancam dengan nestapa yaitu suatu pidana apabila tidak ditaati; 2. Keseluruhan peraturan yang menetapkan syarat-syarat untuk penjatuhan pidana, dan; 3. Keseluruhan ketentuan yang memberikan dasar untuk penjatuhan dan penerapan pidana.3 Hukum pidana dalam arti subjektif atau ius puniendi bisa diartikan secara luas dan sempit, yaitu sebagai berikut: 4 1. Dalam arti luas: Hak dari negara atau alat-alat perlengkapan negara untuk mengenakan atau mengancam pidana terhadap perbuatan tertentu; 2. Dalam arti sempit: Hak untuk menuntut perkara-perkara pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana terhadap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang. Hak ini dilakukan oleh badan-badan peradilan. Jadi ius puniendi adalah hak mengenakan pidana. Hukum pidana dalam arti subjektif (ius puniendi) yang merupakan peraturan yang mengatur hak negara dan alat perlengkapan negara untuk mengancam, menjatuhkan dan melaksanakan hukuman terhadap seseorang yang melanggar larangan dan perintah yang telah diatur di dalam hukum pidana itu diperoleh negara dari peraturanperaturan yang telah ditentukan oleh hukum pidana dalam arti objek tif (ius poenale). Dengan kata lain ius puniendi harus berdasarkan kepada ius poenale. W.F.C. van Hattum Hukum pidana adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturanperaturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya, dimana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap peraturanperaturannya dengan suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman.5 Moeljatno Hukum pidana adalah bagian daripada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk:

3 4

Sudarto, Hukum Pidana I, (Semarang: Yayasan Sudarto, 1990), h. 9. Ibid, h. 10. 5 P.A.F. Lamintang, Op.Cit., h. 2.

2

h. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan. 8 Ibid. 6 7 Moeljatno. Hukum pidana sesungguhnya adalah hukum sanksi (het straf-recht is wezenlijk sanctie-recht). dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. 6. Hukum pidana memberikan sanksi yang bengis dan sangat memperkuat berlakunya norma-norma hukum yang telah ada. Asas-asas Hukum Pidana. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan. 2. Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang diancamkan pada larangan perbuatan yang dilanggarnya.6 Van Kan Hukum pidana tidak mengadakan norma-norma baru dan tidak menimbulkan kewajiban-kewajiban yang dulunya belum ada. 3 . Hanya norma-norma yang sudah ada saja yang dipertegas. 5. 4. h. h. 1. 3.8 Hazewinkel-Suringa Hukum pidana adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandung larangan dan perintah atau keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana (sanksi hukum) bagi barang siapa yang membuatnya. (Jakarta: Rineka Cipta.9 Adami Chazawi Hukum pidana itu adalah bagian dari hukum publik yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang: 1. 2. (1982). 1991).Dasar-Dasar Hukum Pidana 1. Tetapi tidak mengadakan norma baru. Azas-azas Hukum Pidana. h. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut. yaitu dengan mengadakan ancaman pidana dan pemidanaan. Ibid. yang dilarang. Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan dengan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif maupun pasif/negatif) tertentu yang disertai dengan ancaman sanksi berupa pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu.7 Pompe Hukum pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa seharusnya dijatuhi pidana dan apakah macamnya pidana itu. 9 Andi Hamzah.

Sejauhmana hukum (pidana) adat tercakup atau berperan mempengaruhi hukum pidana yang telah diatur dalam perundang-undangan. Kanter dan S. Perumusan ini mencakup juga hukum (pidana) adat.10 Menurut E. Kenyataan masih berlakunya hukum adat di Indonesia sampai saat ini tidak dapat dipungkiri. (Jakarta: PT. masih/tidaknya hukum adat diakui oleh undang-undang negara. h. Hukum Pidana 3. 2002). menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya. maupun kepada sejauh mana hukum (pidana) adat masih dianggap sejalan atau ditolerir oleh falsafah Pancasila dan undang-undang yang berlaku. penjatuhan pidana dan pelaksanaan pidana demi tegaknya hukum yang bertitik berat kepada keadilan.11 bahwa hukum pidana adat pun yang tidak dibuat oleh negara atau political authority masih mendapat tempat dalam pengertian hukum pidana. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1. 1982). Sianturi. 15-16. dengan demikian maka perumusan hukum pidana adalah bagian dari hukum positif yang berlaku di suatu negara dengan memperhatikan waktu. hanya dalam beberapa hal ada pengecualian.R. maka hakim sebagai figur utama untuk Adami Chazawi. tempat dan bagian penduduk. Dengan demikian sebenarnya asas legalitas masih tetap dianut atau dipertahankan. Kanter dan S. terhadap yang disangka dan didakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan. banyak tergantung kepada penghargaan nilai-nilai luhur yang merupakan kesadaran hukum masyarakat (setempat).Y. 10 4 . Hakim). penuntutan. serta ketentuan-ketentuan mengenai hak dan cara penyidikan. RajaGrafindo Persada. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Sianturi. Ketergantungan yang disebut terakhir adalah merupakan pembatasan mutlak terhadap penerapan hukum (pidana) adat.Bab I. serta bertujuan mengadakan keseimbangan di antara pelbagai kepentingan atau keadilan. (Jakarta: Alumni AHM. Menentukan pula bilamana dan dalam hal apa pelaku pelanggaran tersebut dipertanggungjawabkan.Y.PTHM. h. Jaksa. yang memuat dasar-dasar dan ketentuan-ketentuan mengenai tindakan larangan atau tindakan keharusan dan kepada pelanggarnya diancam dengan pidana. Hukum adat tumbuh dan berakar dalam kesadaran dan pergaulan hidup masyarakat. Dalam hal terdapat pertentangan antara hukum (pidana) adat dengan undang-undang yang berlaku. 11 E.R. 2. Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya Polisi. serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya negara menegakkan hukum pidana tersebut.

h. negara dan pribadi.12 Dari beberapa pendapat yang telah dikutip tersebut dapat diambil gambaran tentang hukum pidana. Lamintang. tidak boleh menolak memberi keadilan.13 2. 2. Hukum pidana materiil yaitu semua ketentuan dan peraturan yang menunjukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah merupakan tindakan-tindakan yang dapat dihukum. h. 5 . Lihat halaman 1. disebut juga dengan hukum pidana yang abstrak. Larangan untuk melakukan suatu perbuatan. siapakah orangnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindakan-tindakan tersebut dan hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap orang tersebut. Syarat-syarat agar seseorang dapat dikenakan sanksi pidana.Dasar-Dasar Hukum Pidana menyelesaikan suatu pertikaian/perkara banyak memegang peranan. b.. Hukum pidana yang dikodifikasikan (gecodificeerd) dan hukum pidana yang tidak dikodifikasikan (niet gecodificeerd) 12 13 Ibid. Hukum pidana dalam arti objek tif dan hukum pidana dalam arti subjektif. bahwa hukum pidana setidaknya merupakan hukum yang mengatur tentang: 1. Op. Hakim mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Sanksi pidana apa yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang (delik). karena itu hakim sebagai manusia yang arif dan bijaksana. yang bertanggung jawab kepada Tuhan. 14 P. Hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara konkrit. 16.A.. PEMBAGIAN HUKUM PIDANA Hukum pidana dapat dibagi/dibedakan dari berbagai segi. 3. Hakim wajib mencari dan menemukan hukum.F. B. 10.14 3. Hukum pidana materiil dan hukum pidana formil Menurut van Hattum: a. antara lain sebagai berikut: 1. Hakim dianggap mengenal hukum. 4. Cara mempertahankan/memberlakukan hukum pidana. Biasanya orang menyebut jenis hukum pidana ini sebagai hukum acara pidana.cit.

4. sedangkan hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi orang-orang tertentu saja misalnya bagi anggota Angkatan Besenjata. E. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). 11.F.15 6. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.Y. Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tidak tertulis16 Hukum adat yang beraneka ragam di Indonesia masih diakui berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila.R. UU (drt) No.Bab I. UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. h. Hukum adat 15 16 Ibid. dan peraturan lainnya yang di dalamnya mengandung sanksi berupa pidana. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak. UU No. b.A. UU (drt) No. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer. Hukum pidana bagian khusus itu memuat/mengatur tentang Kejahatan-kejahatan dan Pelanggaran-pelanggaran. baik yang terkodifikasi maupun yang tidak terkodifikasi. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.Cit. b.. 31 Tahun 1999 jo. Hukum pidana bagian umum (algemene deel) dan hukum pidana bagian khusus (bijzonder deel) a. h. Hukum Pidana a. Hukum pidana bagian umum ini memuat asas-asas umum sebagaimana yang diatur di dalam Buku I KUHP yang mengatur tentang Ketentuan Umum. Kanter dan S. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana khusus bijzonder strafrecht) van Hattum dalam P. seperti UU Tindak Pidana Korupsi (UU No. 6 . UU No. Lamintang menyebutkan bahwa hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi setiap orang (umum). 5. UU No. 17-19. Hukum pidana yang dikodifikasikan misalnya adalah: Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Op. Hukum pidana yang tidak dikodifikasikan misalnya berbagai ketentuan pidana yang tersebar di luar KUHP. 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. Sianturi. ataupun merupakan hukum pidana yang mengatur tindak pidana tertentu saja misalnya tindak pidana fiskal.

17 Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh Pemerintah Negara Pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara. h. mungkin sekali hal ini berpengaruh dalam menafsirkan pasal-pasal dari KUHP. ternyata masih dibuka jalan untuk memberlakukan delik adat. Sedangkan hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh Pemerintah Daerah yang berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di dalam wilayah hukum pemerintahan daerah tersebut. 7 . Duduk perkara pada garis besarnya ialah. 12. 1 Drt Tahun 1951. akan tetapi dengan tidak mengesampingkan asas legalitas dikenal juga hukum pidana tidak tertulis sebagai akibat dari masih diakuinya hukum yang hidup di dalam masyarakat yaitu yang berupa hukum adat. Adami Chazawi. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana lokal (plaatselijk strafrecht) Hukum pidana umum atau hukum pidana biasa ini juga disebut sebagai hukum pidana nasional. Nomor: 14/Pid/1971 tentang tindak pidana adat Persetubuhan di luar kawin. Pasal 284 KUHP. Hukum pidana lokal dapat dijumpai di dalam Peraturan Daerah baik tingkat Propinsi.Dasar-Dasar Hukum Pidana pada umumnya tidak tertulis.18 17 18 Ibid. Tertuduh telah dinyatakan bersalah melakukan delik kesusilaan berdasarkan pasal 5 ayat 3 b Undangundang No. walaupun dalam arti yang terbatas. h. 1 Drt Tahun 1951 jo. tidak ada hukum adat kebiasaan (gewoonterecht) dalam rangkaian hukum pidana.. tetapi sekiranya di desadesa daerah pedalaman di Indonesia ada sisa-sisa dari peraturan kepidanaan yang berdasar atas kebiasaan dan yang secara konkrit.Cit. Menurut Wirjono. Ini resminya menurut Pasal 1 KUHP. 13. Contohnya adalah: Putusan pengadilan Negeri Poso tanggal 10 Juni 1971. Berpedoman pada Pasal 5 ayat 3 b Undang-undang No. 7. Dengan demikian sistim hukum pidana di Indonesia mengenal adanya hukum pidana tertulis sebagai diamanatkan di dalam Pasal 1 KUHP. Op. bahwa terdakwa dalam tahun 1969-1970 di kampung Lawanga kecamatan Poso kota secara berturut-turut telah melakukan persetubuhan di luar kawin dengan E yang akhirnya menyebabkan E tersebut hamil dan melahirkan anak. Kabupaten maupun Pemerintahan Kota.

Asas-asas Hukum Pidana. pemeriksaan dan penyitaan pemerintah daerah berikut alat-alat kekuasaannya terikat kepada ketentuan yang diatur di dalam UU No. Hukum pidana internasional adalah hukum pidana yang dibuat. Hukum pidana internasional yang bersumber pada Persetujuan London (8-8-1945) yang menjadi dasar bagi Mahkamah Militer Internasional di Neurenberg untuk mengadili penjahat-penjahat perang Jerman dalam perang dunia kedua. hukum pidana masih juga dapat dibedakan antara hukum pidana nasional dan hukum pidana internasional (hukum pidana supranasional).F.Bab I. b. h.20 C. Pompe menyatakan bahwa yang dititikberatkan oleh hukum pidana dalam pertumbuhannya pada waktu sekarang adalah kepentingan umum. h. 14. Adami Chazawi.Cit. Lamintang. Dalam melakukan penahanan. Op. Hukum Pidana Penjatuhan hukuman seperti yang diancamkan terhadap setiap pelanggar dalam peraturan daerah itu secara mutlak harus dilakukan oleh pengadilan. yang ditugaskan untuk memperhatikan kepentingan rakyat. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.37. Hubungan hukum yang ditimbulkan oleh perbuatan orang dan menimbulkan pula dijatuhkannya pidana. kepentingan masyarakat.. 1985). dengan fungsi sebagai ketentuan yang harus ditaati oleh setiap orang di dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan untuk menjamin ketertiban hukum.21 P. di situ bukanlah suatu hubungan koordinasi antara yang bersalah dengan yang dirugikan. melainkan hubungan itu bersifat subordinasi dari yang bersalah terhadap pemerintah. seperti: a.19 Selain itu atas dasar wilayah berlakunya hukum. tawanan perang. (Jakarta: Ghalia Indonesia.. Konvensi Palang Merah 1949 yang berisi antara lain mengenai korban perang yang luka dan sakit di darat dan di laut.A. SIFAT HUKUM PIDANA Hukum pidana mempunyai dua unsur pokok yang berupa norma dan sanksi. maka hubungan hukum yang ada dititikberatkan kepada kepentingan umum. 20 19 8 . 21 Bambang Poernomo. Op. diakui dan diberlakukan oleh banyak atau semua negara di dunia yang didasarkan pada suatu konvensi internasional. penduduk sipil dalam peperangan. berlaku dan menjadi hukum bangsa-bangsa yang harus diakui dan diberlakukan oleh bangsa-bangsa di dunia.Cit. h. 12.

Op.22 Pemangku ius puniendi ialah negara sebagai perwakilan masyarakat hukum. 23. Penuntutan menurut hukum pidana itu tidak digantungkan kepada keinginan dari orang yang telah dirugikan oleh suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh orang lain. h. 22 9 .A. Apabila diperinci sifat hukum publik dalam hubungannya dengan hukum pidana. Penuntutan seseorang (yang telah melakukan suatu tindakan yang terlarang) tidak tergantung kepada perseorangan (yang dirugikan).24 3.Cit. Op. 3..Cit. Suatu tindak pidana itu tetap ada. 8. h. 24 P. Orang pribadi itu dapat menjadi pihak penuntut perdata dalam perkara pidana khususnya dalam hal ganti kerugian. h. h.Y. Lihat E. Tetapi ini tidak berarti bahwa hukum pidana tidak memperhatikan kepentingan orang pribadi.25 Hukum publik adalah hukum yang mengatur kepentingan publik (masyarakat umum). Op.. Kanter dan S. Adalah tugas hukum pidana untuk memungkinkan manusia hidup bersama. Di situ terjadi hubungan antara pelanggar hukum publik hukum pidana dalam hal dapatnya dipidana (strafbaarheid) suatu perbuatan pada umumnya tetap ada walaupun dilakukan dengan persetujuan orang yang menjadi tujuan perbuatan itu. 23 Andi Hamzah. 2.Dasar-Dasar Hukum Pidana Hazewinkel-Suringa tegas mengatakan bahwa hukum pidana itu termasuk hukum publik. 25 Andi Hamzah. maka akan ditemukan ciri-ciri hukum publik yaitu: 1. dan penuntutannya tidak tergantung kepada mereka yang dirugikan oleh perbuatan yang dapat dipidana itu.Cit. Hak subjektif penguasa ditimbulkan oleh peraturan-peraturan hukum pidana objektif atau hukum pidana positif.. Biaya penjatuhan pidana dipikul oleh negara sedangkan pidana denda dan perampasan barang menjadi menjadi penghasilan negara. Mengatur hubungan antara kepentingan negara atau masyarakat dengan orang perseorangan. 13. 2.. Kedudukan penguasa negara adalah lebih tinggi dari orang perseorangan.F.23 Sifat hukum pidana sebagai hukum publik antara lain dapat diketahui berdasarkan: 1.R. melainkan pada umumnya negara/penguasa wajib menuntut seseorang tersebut. Sianturi. Lamintang.Cit. Op. walaupun tindakannya itu telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari korbannya. 4. 6. Dengan perkataan lain orang perseorangan disubordinasikan kepada penguasa.

Para ahli ini berpendapat. Lemaire dan Utrecht. 28 Bambang Poernomo. 1969). FUNGSI/TUJUAN HUKUM PIDANA Tirtaamidjaya menyatakan maksud diadakannya hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat. melainkan norma hukum pidana itu telah ada sebelumnya pada bagian hukum lainnya dan juga sudah ada sanksinya. Hukum Pidana Menurut Wirjono Prodjodikoro.Cit. Logeman. melainkan pada kepentingan-kepentingan umum.27 D. (Bandung: Eresco.26 Namun ada beberapa sarjana yang tidak sependapat bahwa hukum pidana bersifat hukum publik. Sifat ini dapat dilihat pada hukum pidana. 11. melainkan kewenangan instansi Kejaksaan sebagai alat pemerintah. ada beberapa tindak pidana yang hanya dapat diajukan ke pengadilan atas pengaduan (klacht) dari orang yang diganggu kepentingannya. 26 10 . Sianturi.R. hukum pidana dapat dinyatakan merupakan hukum publik. yang in concreto langsung dirugikan. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. sanksi tersebut sudah tidak seimbang lagi. bahwa justru tidak selalu penguasa wajib menuntut suatu tindak pidana tertentu karena dipersyaratkan harus ada "pengaduan" dari pihak yang dirugikan atau yang terkena tindak pidana. Op.Bab I. Manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupannya yang berbeda-beda terkadang mengalami pertentangan antara satu dengan yang lainnya. 27 E. penuntutan seorang penipu tidak tergantung kepada kehendak orang yang ditipu.Y..28 Secara umum hukum pidana berfungsi untuk mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. Hal ini didasarkan kepada hubungan hukum yang diatur di dalam hukum pidana titik beratnya tidak berada pada kepentingan individu.. 25. h. yang dapat menimbulkan kerugian atau mengganggu kepentingan orang lain. Hanya pada suatu tingkatan tertentu.Cit. Op. yaitu dalam hal penerapan hukum pidana pada hakekatnya tidak tergantung kepada kehendak seorang individu. seperti Van Kan. 23. sehingga dibutuhkan sanksi yang lebih tegas dan lebih berat yang disebut sebagai sanksi (hukuman) pidana. misalnya tindak pidana penghinaan dan perzinahan. Agar tidak menimbulkan kerugian dan mengganggu kepentingan orang lain Wirjono Prodjodikoro. bahwa hukum pada pokoknya tidak mengadakan kaedah-kaidah (norma) baru. hal ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak bersifat hukum publik. h. Paul Scholten. Kanter dan S. h. Misalnya dalam hal terjadinya tindak pidana penipuan. melainkan diserahkan kepada pemerintah sebagai wakil dari kepentinan umum. Alasan lainnya yang dikemukakan untuk memperkuat pendapat mereka ialah. Hanya saja sebagai kekecualian.

Hasil pemeriksaan ulang menyatakan Mauriac mati dengan bunuh diri. yaitu: 1. Peletak dasarnya adalah Markies van Beccaria yang menulis tentang "Dei delitte edelle pene" (1764). Dengan demikian diharapkan akan terjamin hak-hak 29 Bambang Poernomo. Aliran klasik Menurut aliran klasik (de klassieke school/de klassieke richting) tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi individu dari kekuasaan penguasa (Negara). h. Penduduk tidak tahu pasti perbuatan mana yang dilarang dan beratnya pidana yang diancamkan karena hukumnya tidak tertulis. Rousseau dan Montesquieu turut menuntut agar kekuasaan Raja dan penguasa-penguasanya agar dibatasi oleh hukum tertulis atau undang-undang. yang menganggap Jean Calas tidak bersalah membunuh anaknya. 11 . sehingga ia tidak bisa berbuat sekehendak hatinya. dan selanjutnya pemuka-pemuka masyarakat seperti J.Cit.J. karena anaknya itu terdapat mati di rumah ayahnya. Di dalam tulisan itu menuntut agar hukum pidana harus diatur dengan undang-undang yang harus tertulis. 24. sehingga Voltaire mengecam putusan pengadilan itu. Pada zaman sebelum pengaruh tulisan Beccaria itu. sampai terjadi peristiwa yang menggemparkan rakyat seperti di Perancis dengan kasus Jean Calas te Toulouse (1762) yang dituduh membunuh anaknya sendiri bernama Mauriac Antoine Calas.29 Oleh karenanya mereka menghendaki agar diadakan suatu peraturan tertulis supaya setiap orang mengetahui tindakan-tindakan mana yang terlarang atau tidak.Dasar-Dasar Hukum Pidana dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka hukum memberikan aturan-aturan yang membatasi perbuatan manusia. Op. Proses pengadilan berjalan tidak baik.. apa ancaman hukumannya dan lain sebagainya. Masyarakat menjadi gempar karena putusan itu. hukum pidana yang ada sebagian besar tidak tertulis dan di samping itu kekuasaan Raja Absolute dapat menyelenggarakan pengadilan yang sewenangwenang dengan menetapkan hukum menurut perasaan dari hakim sendiri. Di dalam pemeriksaan Calas tetap tidak mengaku dan oleh hakim tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana mati dan pelaksanaannya dengan guillotine. yang ternyata tuntutan untuk memeriksa kembali perkara Calas itu dikabulkan. Masyarakat tidak puas. Berkenaan dengan tujuan hukum pidana (Strafrechtscholen) dikenal dua aliran tujuan dibentuknya peraturan hukum pidana. Semua peristiwa yang diabadikan itu adalah usaha untuk melindungi individu guna kepentingan hukum perseorangan.

Y. baik bagi orang yang melakukan kejahatan maupun bagi masyarakat sendiri (politik kriminil). 34 Sudarto... Kanter dan S. 11-12.. Op.Cit. mengenai sebab-sebab yang mendorong dilakukan kejahatan (etiologi kriminil) serta pidana yang bermanfaat. Op. 56. 33 E. akan melahirkan kepastian hukum serta dapat menghindarkan masyarakat dari kesewenang-wenangan. Hukum Pidana manusia dan kepentingan hukum perseorangan. Sianturi. oleh karena itu fungsi hukum pidana juga sama dengan fungsi hukum pada umumnya. 12 . perkembangan hukum pidana harus memperhatikan kejahatan serta keadaan penjahat.Y. Bambang Poernomo. Kanter dan S.R.. Peraturan tertulis itu akan menjadi pedoman bagi rakyat.Cit. Menurut aliran klasik. Aliran modern Aliran modern (de moderne school/de moderne richting) mengajarkan tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi masyarakat terhadap kejahatan.31 2. Fungsi yang umum Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari hukum. 32 Ibid.33 Berikut ini disebutkan pula beberapa pendapat yang dikemukakan tentang fungsi/tujuan hukum pidana: Menurut Sudarto fungsi hukum pidana itu dapat dibedakan sebagai berikut:34 1.R. h. 56. Sejalan dengan tujuan tersebut. Op. Pengaruh kriminologi sebagai bagian dari social science menimbulkan suatu aliran baru yang menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk memberantas kejahatan agar terlindungi kepentingan hukum masyarakat. Sianturi. Pengikut-pengikut ajaran ini menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk menjamin kepentingan hukum individu.Bab I. 25. 30 31 E.Cit.30 Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (individu) yang oleh undang-undang hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana harus dijatuhkan pidana. Op. h. h.Cit.32 Kriminologi yang objek penelitiannya antara lain adalah tingkah laku orang perseorangan dan atau masyarakat adalah salah satu ilmu yang memperkaya ilmu pengetahuan hukum pidana. yaitu untuk mengatur hidup kemasyarakatan atau untuk menyelenggarakan tata dalam masyarakat. penjatuhan pidana dikenakan tanpa memperhatikan keadaan pribadi pembuat pelanggaran hukum. h.

(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Dalam hal ini perlu diingat pula. Hukum Pidana. 2003). Fungsi yang khusus Fungsi khusus bagi hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya (rechtsguterschutz) dengan sanksi yang berupa pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang terdapat pada cabang hukum lainnya. sebagai bagian dari hukum publik hukum pidana berfungsi: 1. namun jika terjadi pelanggaran terhadap larangan dan perintahnya justru mengenakan perlukaan (menyakiti) kepentingan (benda) hukum si pelanggar. bahwa sebagai alat social control fungsi hukum pidana adalah subsidair. kemerdekaan. kepentingan hukum atas tubuh. apabila mekanisme penegakan hukum lainnya yang lebih ringan telah tidak berdaya guna atau sudah sebelumnya dipandang tidak cocok. yang bermakna bahwa hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan hukum (misalnya: nyawa. harta benda. kepentingan hukum terhadap harga diri dan nama baik. dan lain sebagainya. Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen). kepentingan hukum terhadap rasa susila. Berkaitan dengan hal ini menurut Jan Remmelink. h. pertama-tama nyata. mengenai bagaimana cara pidana itu harus dikenakan. Dapat dikatakan bahwa hukum pidana itu memberi aturan-aturan untuk menaggulangi perbuatan jahat. 15. Terhadap tindak pidana harus dimunculkan reaksi yang adil. misalnya kepentingan hukum terhadap hak hidup (nyawa). 35 13 .Dasar-Dasar Hukum Pidana 2. bahwa sanksi yang tajam pada asasnya hanya akan dijatuhkan. Adami Chazawi menyebutkan bahwa. Lihat Jan Remmelink. dan reaksi hukum pidana harus setimpal secara layak atau proporsional dengan apa yang sesungguhnya diperbuat oleh pelaku tindak pidana.35 artinya hukum pidana hendaknya baru diadakan (dipergunakan) apabila usaha-usaha lain kurang memadai. kehormatan). yaitu: a. Melindungi kepentingan hukum dari perbuatan atau perbuatanperbuatan yang menyerang atau memperkosa kepentingan hukum tersebut Kepentingan hukum yang wajib dilindungi itu ada tiga macam. Dalam sanksi pidana itu terdapat suatu tragic (suatu yang menyedihkan) sehingga hukum pidana dikatakan sebagai „mengiris dagingnya sendiri‟ atau sebagai „pedang bermata dua‟. kepentingan hukum akan hak milik benda.

tindakan yang justru melanggar kepentingan hukum pribadi yang mendasar bagi pihak yang bersangkutan. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban umum. Menurut Jan Remmelink hukum pidana (seharusnya) ditujukan untuk menegakkan tertib hukum. Manusia satu persatu di dalam masyarakat saling bergantung. 16-17. negara bisa bertindak sewenang-wenang jika tidak diatur dan dibatasi sedemikian rupa. Kekuasaan yang sangat besar ini. yaitu kekuasaan yang berupa hak untuk menjalankan pidana dengan menjatuhkan pidana yang menyerang kepentingan hukum manusia atau warganya ini hanya dimiliki oleh negara dan diatur di dalam hukum pidana itu sendiri terutama di dalam hukum acara pidana. Kepentingan hukum negara (staatsbelangen).Cit. Hukum Pidana b.. dilakukan oleh negara dengan tindakan-tindakan yang sangat tidak menyenangkan. dan lain sebagainya. h. misalnya dengan dilakukan penangkapan.36 c. Op. Mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka negara melaksanakan fungsi perlindungan atas kepentingan hukum.Bab I.37 3. h. Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschappelijke belangen). 38 Ibid. pemeriksaan sampai kepada penjatuhan sanksi pidana kepada pelakunya. 14 . Ibid. ketertiban berlalu-lintas di jalan raya. 21. sehingga pengaturan hak dan kewajiban negara mutlak diperlukan. agar negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan melindungi kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana dengan sebaik-baiknya. h.38 Kekuasaan negara yang sangat besar dalam rangka menegakkan dan melindungi kepentingan hukum itu dapat membahayakan dan menjadi bumerang bagi warganya. Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara menjalankan fungsi perlindungan atas berbagai kepentingan hukum Dalam mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi. melindungi masyarakat hukum. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan keselamatan negara. dan sebagainya. 2. kepentingan hukum terhadap martabat kepala negara dan wakilnya. 20. kepentingan hukum terhadap negara-negara sahabat. kepentingan mereka dan relasi antar mereka ditentukan dan dilindungi oleh 36 37 Adami Chazawi. penahanan.

Akan tetapi dalam satu segi. tanpa dengan sengaja menimbulkan penderitaan. namun ini tidak berarti bahwa ancaman pidana akan ditiadakan. 41 42 15 .Dasar-Dasar Hukum Pidana norma-norma. h. walaupun juga pidana itu mempunyai fungsi yang lain dari pada menambah penderitaan. 14–15. dihaluskan. misalnya perlakuan acuh tak acuh dan kehilangan status atau penghargaan sosial.. hukum pidana itu membentuk normanorma dan pengertian-pengertian yang diarahkan kepada tujuannya sendiri. Penjagaan tertib sosial ini untuk bagian terbesar sangat tergantung pada paksaan. ketenangan. Ia menunjuk pidato Menteri Kehakiman Belanda Modderman yang antara lain menyatakan bahwa ancaman pidana itu harus tetap merupakan suatu ultimum remidium.M. dan harus menjaga jangan sampai terjadi obat yang diberikan lebih jahat daripada penyakit.41 Selanjutnya Van Bemmelen menyatakan. namun memiliki fungsi pelayanan ataupun fungsi sosial. Op. diperkuat dan dikenakan kepada pelanggar norma tersebut. karena seluruh bagian hukum menentukan peraturan untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum.. artinya kalau bagian lain dari hukum itu sudah tidak cukup untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum. Ini semua tidak dikatakan dengan melupakan bahwa penjatuhan pidana dalam prakteknya masih juga merupakan sarana kekuasaan negara yang tertajam yang dapat dikenakan kepada pelanggar. melalui tertib hukum negara yang melengkapi penataan sosial. (Bandung: Binacipta. van Bemmelen. Op.40 Van Bemmelen menyatakan. Namun jika menyangkut hal yang lebih penting. 1979). akan muncul sanksi. bahwa hukum pidana itu sama saja dengan bagian lain dari hukum. Menjadi jelas bahwa dalam pemahaman di atas hukum pidana bukan merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. h. 55.Cit. yaitu menilai tingkah laku para pelaku yang dapat dipidana.39 Menurut Van Bemmelen. Ibid. Sedapat mungkin dibatasi. Hukum Pidana 1. Tujuan utama semua bagian hukum adalah menjaga ketertiban. barulah hukum pidana diterapkan. h. sanksi (hukum). h. yaitu dalam hukum pidana dibicarakan soal penambahan penderitaan dengan sengaja dalam bentuk pidana.42 39 40 Jan Remmelink. hukum pidana menyimpang dari bagian hukum lainnya. Andi Hamzah. Jika norma-norma tidak diataati. kadangkala yang berbentuk informal. 9 -10. J.Cit. bahwa hukum pidana itu merupakan ultimum remidium (obat terakhir).. kesejahteraan dan kedamaian dalam masyarakat. tetapi selalu harus mempertimbangkan untung dan rugi ancaman pidana itu. 10. Setiap ancaman pidana ada keberatannya.

N. h.Cit.Cit. KUHP yang sekarang berlaku di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17-8-1945 mendapat perubahan-perubahan yang penting berdasarkan Undang-undang No. akan tetapi asas-asas dan dasar filsafatnya tetap sama. Sudarto. yang nama aslinya adalah Wetboek van Strafrecht voor nederlandsch indie (W. melainkan diadakan penyimpangan-penyimpangan menurut kebutuhan dan keadaan tanah jajahan Hindia Belanda dulu.I. Tempat untuk menemukan hukum.Bab I.S).43 Sumber hukum merupakan asal atau tempat untuk mencari dan menemukan hukum. Pasal 1 berbunyi: “Dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden RI tertanggal 10 Oktober 1945 No. berbentuk undang-undang dan kodifikasi. 1 Tahun 1942 (Undang-undang Pemerintah RI. sebuah Titah Raja (Koninklijk Besluit) tanggal 15 Oktober 1915 No. 2 menetapkan.v. Yogyakarta).S. ini merupakan copie (turunan) dari Wetboek van Strafrecht Negeri Belanda. KUHP atau W. Op. bahwa peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942”.v. yang selesai dibuat tahun 1881 dan mulai berlaku pada tahun 1886 tidak seratus persen sama. 43 44 Bambang Poernomo. h. Negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon hampir seluruhnya tidak mengenal hukum pidana dalam bentuk kodifikasi dan hanya sebagian kecil negara-negara itu yang mempunyai kodifikasi hukum pidana.. Hukum Pidana E. Sumber utama hukum pidana Indonesia adalah hukum yang tertulis Induk peraturan hukum pidana positif adalah KUHP. 33 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918. para ahli hukum pidana telah memikirkan agar hukum pidana dapat “pasti” dan “adil” sehingga timbullah bentuk-bentuk hukum pidana yang dirumuskan dalam undang-undang dan atau kitab undang-undang (kodifikasi). Menurut Sudarto sumber hukum pidana Indonesia adalah sebagai berikut:44 1. 15 -19.v. 22. Namun hal ini tidak berarti hukum pidana yang ada di setiap negara di dunia. Ini berarti bahwa teks resmi (yang sah) untuk KUHP kita adalah Bahasa Belanda.. disebut dengan sumber hukum dalam arti formil. Op. SUMBER HUKUM PIDANA Kebutuhan masyarakat atas hukum pidana semakin nyata dan untuk keperluan itu. 16 .

yang tersebar dalam peraturan perundangundangan hukum pidana lainnya.I. 1 Tahun 1946 itu berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Hukum pidana adat Di daerah-daerah tertentu dan untuk orang-orang tertentu hukum pidana yang tidak tertulis juga dapat menjadi sumber hukum pidana. Sudah tentu perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kedua pemerintahan yang saling bermusuhan itu tidak sama.Dasar-Dasar Hukum Pidana Sementara itu Pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1945 kembali lagi ke Indonesia.v. yang diserahkan oleh Menteri Kehakiman Belanda bersama 17 . 73 Tahun 1958 (L. No. yaitu peraturan-peraturan pidana yang tidak dikodifikasikan. Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) M. Namun harus disadari bahwa hukum pidana tertulis tetap mempunyai peranan yang utama sebagai sumber hukum. Hal ini sesuai dengan asas legalitas yang tercantum dalam Pasal 1 KUHP.v. 2. hal ini didasarkan kepada Undang-undang Darurat No. Guna melenyapkan keadaan yang ganjil ini. 1958 No. 127) yang antara lain menyatakan bahwa UU R. (KUHP).T. sehingga hal ini seolah-olah atau pada hakekatnya telah menimbulkan dua buah KUHP yang masing-masing mempunyai ruang berlakunya sendiri-sendiri. dengan demikian di dalam lapangan hukum pidana telah ada unifikasi.N. 1 Tahun 1951 (L. misalnya dengan Staatblad 1945 No. Dengan masih berlakunya hukum pidana adat (meskipun untuk orang dan daerah tertentu saja) maka sebenarnya dalam hukum pidana pun masih ada dualisme. maka dikeluarkan UU No. Dengan demikian perubahan-perubahan yang diadakan oleh Pemerintah Belanda sesudah tanggal 8 Maret 1942 dianggap tidak ada.N. Jadi boleh dikatakan ada dualisme dalam KUHP (peraturan hukum pidana). adalah penjelasan atas rencana undang-undang pidana.I. 3. Hukum adat yang masih hidup sebagai delik adat masih dimungkinkan menjadi salah satu sumber hukum pidana.N. v. setelah mengungsi selama zaman pendudukan Jepang (1942-1945) juga mengadakan perubahan-perubahan terhadap W. Sumber hukum pidana yang tertulis lainnya adalah peraturan-peraturan pidana yang diatur di luar KUHP.S. 135 tentang ketentuan-ketentuan sementara yang luar biasa mengenai hukum pidana Pasal 570. KUHP itu merupakan kodifikasi dari hukum pidana dan berlaku untuk semua golongan penduduk. 1951-9) Pasal 5 ayat 3 sub b.

v. h.S.v. (1) 45 18 .T. 46 Barda Nawawi Arief. Jadi bertolak dari asas legalitas dalam pengertian yang formal. 73-74. (4) Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa.v. Konsep KUHP Baru bertolak dari pendirian bahwa sumber hukum yang utama adalah undang-undang (hukum tertulis). Belanda tahun 1886.I.v.S. Hukum Pidana dengan Rencana Undang-undang itu kepada Parlemen Belanda.Bab I. Konsep memperluas perumusannya secara materiil dengan menegaskan bahwa ketentuan dalam Pasal 1 ayat (1) itu tidak mengurangi berlakunya "hukum yang hidup" di dalam masyarakat. (Perkembagan Penyusunan Konsep KUHP Baru).v. Belanda tahun 1886 dapat digunakan pula untuk memperoleh penjelasan dari pasal-pasal yang tersebut di dalam KUHP yang sekarang berlaku. Dalam menetapkan sumber hukum atau dasar patut dipidananya suatu perbuatan.T.S.N.s. (Jakarta: Kencana. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 145 ayat (1) Konsep. Berlakunya hukum yang hidup di dalam masyarakat itu hanya untuk delik-delik yang tidak ada bandingnya (persamaannya) atau tidak telah diatur di dalam undang-undang. untuk Hindia Belanda. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan.v. Dengan demikian. Namun berbeda dengan asas legalitas yang dirumuskan di dalam KUHP (WvS) selama ini. Konsep juga masih memberi tempat kepada sumber hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai dasar menetapkan patut dipidananya suatu perbuatan. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana.) ini yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1918 itu adalah copy dari W. Oleh karena itu M. Hindia Belanda (W. di samping sumber hukum tertulis (UU) sebagai kriteria/patokan formal yang utama. W. (2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi. RUU ini pada tahun 1881 disahkan menjadi UU dan pada tanggal 1 September 1886 mulai berlaku. dari W. M. 2008).46 Pasal 1 Konsep KUHP Baru berbunyi: Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan. masih disebut-sebut dalam pembicaraan KUHP karena KUHP ini adalah sebutan lain dari W.S.v.

untuk memberikan dasar hukum yang mantap mengenai berlakunya hukum pidana adat.. Adalah suatu kenyataan bahwa di beberapa daerah di tanah air. yang hidup dan diakui sebagai hukum di daerah yang bersangkutan. nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat setempat masih tetap dilindungi untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu.. Ketentuan ini merupakan pengecualian dari asas bahwa ketentuan pidana diatur dalam peraturan perundang-undangan. akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil. Diakuinya tindak pidana adat tersebut untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu. bahwa embrio atau cikalbakal dari pokok pemikiran tetap diakuinya eksistensi/berlakunya hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai salah satu sumber hukum pidana itu sebenarnya sudah cukup lama dan tersebar di beberapa produk legislatif. bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut pikiran hakim melampaui hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas. bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana.. Hal ini berarti bahwa standar. 75. Dalam hal ini hakim dapat menetapkan sanksi yang berupa “Pemenuhan Kewajiban Adat” setempat yang harus dilaksanakan oleh pembuat tindak pidana. 1951 " .Cit.… Bahwa. maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah. Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-Undang No. yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak yang terhukum…. yang menentukan bahwa pelanggaran atas hukum itu patut dipidana. Op. maka hal tersebut mendapat pengaturan secara tegas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini. Penjelasan Pasal 1 ayat (3) Konsep KUHP Baru menyebutkan. Keadaan seperti ini tidak akan menggoyahkan dan tetap menjamin pelaksanaan asas legalitas serta larangan analogi yang dianut di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 47 48 Penjelasan Buku I angka 3 Konsep KUHP Baru Tahun 2006/2007. h. antara lain dapat dilihat sebagai berikut: 48 1. 47 Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa menurut Konsep KUHP Baru sumber hukum pidana itu adalah sumber hukum tertulis (undang-undang) dan sumber hukum tidak tertulis yang hidup di masyarakat.Dasar-Dasar Hukum Pidana Diakuinya tindak pidana atas dasar hukum yang hidup dalam masyarakat atau yang sebelumnya dikenal sebagai tindak pidana adat adalah untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. 19 .. Barda Nawawi Arief menyebutkan. masih terdapat ketentuan-ketentuan hukum yang tidak tertulis. Barda Nawawi Arief. 1 Drt.

mengadili. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 16 ayat (1): Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa.. tetapi hanya melanjutkan dan mengimplementasikan kebijakan/ide yang sudah ada. mengikuti. terdakwa dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi 10 tahun penjara.49 49 Ibid... h.. dengan pengertian bahwa hukuman adat yang…." Dalam pasal tersebut digunakan istilah "aturan hukum" (RECHT) yang tentunya lebih luas pengertiannya dari sekadar aturan "undangundang" (WET). kecuali karena aturan hukum yang sudah ada dan berlaku terhadapnya. 20 .. bahwa dengan bertolak dari kebijakan perundang-undangan nasional seperti dikemukakan di atas (Undangundang No. 1 /Drt/ 1951 dan Undang-undang Kekuasaan Kehakiman). Pasal.. Pasal 25 ayat (1): Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Selanjutnya disebutkan. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas.Bab I.. Hukum Pidana maka…. dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 77. Bahkan kebijakan/ ide perumusan asas legalitas secara material pernah pula dirumuskan sebagai "kebijakan konstitusional" di dalam Pasal 14 ayat (2) UUDS'50 yang berbunyi: "Tiada seorang jua pun boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi hukuman.. karena dapat berbentuk "hukum tertulis" maupun "hukum tidak tertulis". tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa diganti seperti tersebut di atas.. 28 ayat (1): Hakim wajib menggali." 2. dapat dikatakan bahwa perluasan asas legalitas secara materiil di dalam konsep sebenarnya bukanlah hal baru. UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times