BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Serangan jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia maupun di
Indonesia. Data dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 1,5 juta orang pertahun di dunia
meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah.
1
Di Amerika Serikat, setiap tahun
lebih dari 300.000 serangan jantung terjadi dengan tingkat kelangsungan hidup biasanya lebih
rendah dari 10° untuk kejadian di luar rumah sakit dan lebih rendah dari 20° untuk kejadian
di rumah sakit.
2

Untuk pasien dengan serangan jantung, tingkat kelangsungan hidup dan hasil
neurologis adalah rendah, meskipun resusitasi awal yang tepat, melibatkan Resusitasi Jantung
Paru (RJP), deIibrilasi dini dan penatalaksanaan yang tepat pasca serangan jantung
memberikan kelangsungan hidup dan hasil neurologis yang lebih baik. Menurut American
Heart Association (AHA) bahwa rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan
tindakan resusitasi jantung paru, karena bagi penderita yang terkena serangan jantung,
dengan diberikan RJP segera maka akan mempunyai kesempatan yang amat besar untuk
dapat hidup kembali.
3
Dari penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup turun
10-15° untuk setiap menit serangan jantung tanpa pemberian RJP.
4,5

Resusitasi Jantung Paru (RJP) mula dipopulerkan pada abad ke 20 oleh Peter SaIar
pada tahun 1960 di Perhimpunan Tahunan Medis Maryland. Dia dan teman-temannya juga
menghasilkan video pelatihan pada 1962 yang berjudul 'The Pulse oI LiIe¨ yang pada
mulanya dipraktekkan pada seekor anjing dan kemudian digunakan untuk menyelamatkan
seorang anak. Pada tahun 1970, teknik RJP dipromosikan kepada masyarakat untuk
mempelajarinya.
6
Penerapan prosedur RJP yang selama ini berlaku secara universal ternyata bukan
solusi yang terbaik untuk menyelamatkan korban yang mengalami serangan jantung secara
tiba-tiba. Oleh karena itu, para ahli terus melakukan upaya perbaikan untuk memperoleh cara
yang paling eIektiI dalam resusitasi jantung paru. Pada tahun 2010, American Heart
Association (AHA) mengeluarkan suatu panduan RJP yang terbaru bagi menggantikan
panduan RJP edisi tahun 2005.
7
Resusitasi Jantung Paru (RJP) biasanya di pelajari oleh dokter, perawat dan para
medis lainya, akan tetapi di Amerika, RJP di pelajari oleh orang-orang yang bertugas di
publik (keramaian orang), seperti satpam, polisi, petugas stasiun dan pekerja publik lainnya.
Setiap tahun RJP menolong ribuan nyawa di Amerika Serikat. Lebih dari 5 juta warga
Amerika mendapat pelatihan RJP dari American Heart Association dan American Red Cross
Course.
8

1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan reIerat ini adalah untuk mengetahui tentang deIinisi, indikasi, Iase-
Iase, prosedur resusitasi jantung paru otak dan pembaharuan mengenai teknik-teknik
resusitasi jantung paru otak.

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Resusitasi atau reanimasi mengandung arti harIiah 'menghidupkan kembali¨
dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung
berlanjut menjadi kematian biologis.
9

Resusitasi Jantung Paru adalah prosedur kegawatdaruratan medis yang dilakukan
dalam upaya secara manual untuk memelihara Iungsi otak sampai langkah-langkah lebih
lanjut diambil untuk mengembalikan sirkulasi darah dan pernapasan spontan pada orang yang
terkena serangan jantung.
6

2.2 Anatomi dan fisiologi
Sistem sirkulasi terdiri dari tiga komponen dasar :
1. Jantung berIungsi sebagai pemompa terhadap tekanan terhadap darah untuk
menimbulkan gradient tekanan yang diperlukan agar darah dapat mengalir ke jaringan
.
2. Pembuluh darah berIungsi sebagai saluran untuk mengarahkan dan mendistribusikan
darah dari jantung keseluruh bagian tubuh dan kemudian mengembalikannya ke
jantung.
3. Darah berIungsi sebagai medium transportasi tempat bahan bahan yang akan
disalurkan dilarutkan atau diendapkan.
10

Anatomi dan Fisiologi Saluran PernaIasan

Saluran pernaIasan udara mulai dari hidung hingga mencapai paru adalah : hidung,
Iaring, laring, trakhea, bronkhus dan bronkhiolus.

Saluran pernaIasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran mukosa
yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung udara tersebut disaring,
dihangatkan dan dilembabkan. Kemudian udara mengalir ke Iaring menuju laring.
Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otak dan
mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang berbentuk seperti sepatu kuda
yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior agak pipih dan letaknya tepat
didepan esoIagus.
10


Bronkhus utama kanan dan kiri tidak simetris, yang kanan lebih pendek, lebih lebar
dan merupakan kelanjutan trakhea. Cabang utama bronkhus kanan dan kiri bercabang lagi
menjadi bronkhus lobaris dan bronkhus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus
menjadi bronkhus yang ukurannya semakin kecil yang berakhir menjadi bronkhiolus
terminalis.
10

Oksigen pada proses pernaIasan dipindahkan dari udara luar ke dalam jaringan dan
stadium pertama ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan keluar paru.
Transportasi masuknya campuran gas yang keluar masuk paru terdiri dari beberapa
aspek
10
, yaitu:
a. DiIusi gas antara alveolus dan kapiler paru, dan antara darah sistemik dan sel
jaringan.
b. Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi
udara dalam alveolus.
c. Reaksi kimia dan Iisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.
Stadium yang ketiga adalah respirasi sel, yaitu saat dimana metabolit dioksida untuk
mendapatkan energi dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah metabolisme sel
dan dikeluarkan oleh paru-paru.

Aspek anatomi jantung
Jantung adalah organ berotot berongga dengan ukuran sekepalan. Jantung terletak di
rongga thoraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum atau tulang dada disebelah anterior
dan vertebra (tulang punggung) disebelah posterior. Jantung terdiri dari empat ruang, yaitu
atrium kanan dan atrium kiri, serta ventrikel kanan dan kiri.
Jantung berdenyut pada :
Orang dewasa 60 80 kali per menit
Anak anak (2 10 tahun) 60 -140 kali per menit
Bayi ( · 1 tahun) 85 - 200 kali per menit
Kelainan pada sistem kerja jantung ÷ perubahan irama jantung
- Bradiaritmia · 60 kali / menit
- Takiaritmia ~ 100 kali / menit








Kenyataan bahwa jantung terletak antara dua struktur tulang, sternum dan vertebra,
memungkinkan kita secara manual mendorong darah keluar dari jantung apabila jantung
tidak memompa secara eIektiI dengan menekan sternum secara berirama. Manuver ini
menekan jantung antara sternum dan vertebra, sehingga darah diperas keluar seolah olah
jantung sedang berdenyut. Kompresi jantung eksternal ini sering berIungsi sebagai tindakan
penyelamatan nyawa sampai terapi yang sesuai dapat diberikan untuk memulihkan Iungsi
normal jantung.
11

Walaupun menyelamatkan nyawa, tekanan local intensiI yang diterapkan ke sternum
selama kompresi jantung manual kadang kadang menyebabkan iga patah. Namun, metode
RJP yang tradisional ini mungkin akan segera diganti dengan metode baru yang lebih aman
apabila peralatan yang diperlukan tersedia.
11

Asal denyut jantung
Bagian bagian jantung secara normal berdenyut dengan teratur. Kontraksi atrium
(sistolik atrium) diikuti oleh kontraksi ventrikel (sistolik ventrikel) dan selama diastolic
empat rongga mengalami relaksasi. Denyut jantung berasal dari system penghantar jantung
yang khusus dan menyebar melalui system ini kesemua bagian miokardium. Struktur yang
membentuk system penghantar adalah simpul sinoatrial (simpul SA), lintasan antar simpul di
atrium, simpul atrio ventikular ( simpul AV), berkas His, cabang cabangnya, dan system
purkinje.
Berbagai bagian system penghantar, dan pada keadaan abnormal, bagian bagian
miokardium mampu mengeluarkan listrik spontan. Meskipun demikia, simpul SA secara
normal mengeluarkan listrik paling cepat, depolarisasi menyebar dari sini ke bagian lain
sebelum mengeluarkan listrik secara spontan. Karena itu, simpul SA merupakan pacu jantung
normal, kecepatannya mengeluarkan listrik menentukan Irekuensi denyut jantung.
11

Aktivitas Listrik Jantung











Kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang dihantarkan
sepanjang membrane sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi secara ritmik, akibat adanya

impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung sendiri: suatu kemampuan yang disebut
'autorhytmicity¨. SiIat ini dimiliki oleh sel khusus otot jantung. Terdapat dua jenis khusus sel
otot jantung, yaitu: sel kontraktil dan sel otoritmik. Sel kontraktil melakukan kerja mekanis,
yaitu memompa dan sel otoritmik mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan
potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja.

Berbeda dengan sel saraI dan sel otot rangka yang memiliki potensial membrane
istirahat yang mantap. Sel-sel khusus jantung tidak memiliki potensial membrane istirahat.
Sel-sel ini memperlihatkan aktivitas 'pacemaker¨ (picu jantung), berupa depolarisasi lambat
yang diikuti oleh potensial aksi apabila potensial membrane tersebut mencapai ambang tetap.
Dengan demikian, timbulkah potensial aksi secara berkala yang akan menyebar ke seluruh
jantung dan menyebabkan jantung berdenyut secara teratur tanpa adanya rangsangan melalui
saraI.
11
Fisiologi siklus jantung ventrikel kiri memompa darah ke aorta melalui katup
semilunaris aorta, dari aorta darah akan dialirkan menuju arteri kemudian ke jaringan melalui
cabang kecil arteri (arteriola), dari arteriola kemudian menuju ke venula. Kemudian akan
melalui vena darah akan dialirkan ke atrium kanan, dari atrium kanan darah menuju ventrikel
kanan melalui katup trikuspidalis, dari ventrikel kanan kemudian darah dipompa menuju
arteri pulmonalis melewati katup semilunaris pulmonalis. Dari arteri pulmonalis ke pulmo.
Dari pulmo darah keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari atrium kiri kemudian
menuju ventrikel kiri melalui katup bicuspidalis atau mitralis. Demikian seterusnya darah
akan mengalir melalui siklus tersebut.
12
PatoIisiologi
RJP digunakan pada orang-orang dalam serangan jantung dalam rangka untuk
mengoksidasi darah dan mempertahankan curah jantunguntuk menjaga organ vital agar tetap
hidup. Sirkulasi darah dan oksigenasi diperlukan untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Otak dapat mengalami kerusakan setelah aliran darah berhenti selama sekitar 4 menit dan
kerusakan permanen setelah sekitar 7 menit. Biasanya jika aliran darah berhenti selama 1
hingga 2 jam, sel-sel tubuh mati. Oleh karena itu, RJP biasanya hanya eIektiI jika dilakukan
dalam waktu 7 menit dari penyumbatan aliran darah. Hati juga cepat kehilangan kemampuan
untuk mempertahankan irama normal. Setelah serangan jantung, RJP yang eIektiI
memungkinkan oksigen yang cukup untuk mencapai otak untuk menunda kematian, dan
memungkinkan jantung untuk tetap responsive terhadap upaya deIibrilasi.
6
2.3 Tujuan Resusitasi 1antung Paru
Tujuan dari tindakan Resusitasi Jantung Paru adalah untuk
O Mengembalikan Iungsi pernaIasan dan atau sirkulasi pada henti naIas (respiratory
arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana Iungsi tersebut gagal
total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila
kedua Iungsi tersebut bekerja kembali
O Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (naIas)
O Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (Iungsi jantung) dan ventilasi
(Iungsi pernaIasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami henti jantung atau henti
naIas melalui Cardio Pulmonary Resuciation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru
(RJP).

Resusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal
jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernaIasan atau sirkulasi yang
tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang mungkin untuk hidup lama tanpa
meninggalkan kelainan di otak.
2.4 Indikasi
Resusitasi Jantung Paru (RJP) harus dilakukan segera pada setiap orang yang tidak
sadar dan ditemukan nadi tidak berdenyut.
2
Indikasi RJP diklasiIikasikan kepada 2, yaitu:
A. Henti Napas
Henti napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya
serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh
benda asing, tesengat listrik, tersambar petir, serangan inIark jantung, radang epiglotis,
tercekik (suIIocation), trauma dan lain-lainnya
13
.
Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke
otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas
mendapat pertolongan segera maka pasien akan teselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau
terlambat akan berakibat henti jantung
13
.
B. Henti Jantung
Henti jantung primer (cardiac arrest) ialah ketidak sanggupan curah jantung untuk
memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat balik
normal, kalau dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian atau
kerusakan otak. Henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu tidak
termasuk henti jantung
13
.
Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh Iibrilasi ventrikel atau takikardi tanpa
denyut (80-90°), kemudian disusul oleh ventrikel asistol (¹10°) dan terakhir oleh disosiasi
elektro-mekanik (¹5°). Dua jenis henti jantung yang terakhir lebih sulit ditanggulangi
karena akibat gangguan pacemaker jantung. Fibirilasi ventrikel terjadi karena koordinasi
aktivitas jantung menghilang.
Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis Iemoralis, radialis)
disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping,
apnu), dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar
9
.
Pengiriman O
2
ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb),
saturasi Hb terhadap O
2
dan Iungsi pernapasan. Iskemi melebih 3-4 menit pada suhu normal
akan menyebabkan kortek serebri rusak menetap, walaupun setelah itu dapat membuat
jantung berdenyut kembali.
2.5 Kontraindikasi
Kontraindikasi mutlak untuk RJP adalah bila ada perintah 'do-not-resuscitate (DNR)¨
atau instruksi lanjutan yang menunjukkan keinginan seseorang untuk diresusitasi dalam hal
serangan jantung.
2

Kontraindikasi relatiI untuk melakukan RJP mungkin timbul bila dokter berhak
merasa bahwa intervensi medis akan sia-sia, walaupun hal ini jelas sebuah masalah yang
kompleks yang merupakan dalam penelitian aktiI.
2

2.6 Langkah - langkah yang harus diambil sebelum memulai resusitasi jantung paru
(R1P)
a. Penentuan Tingkat Kesadaran ( Respon Korban )
Dilakukan dengan menggoyangkan korban. Bila korban menjawab, maka ABC dalam
keadaan baik. Dan bila tidak ada respon, maka perlu ditindaki segera.
b. Memanggil bantuan (call for help)
Bila petugas hanya seorang diri, jangan memulai RJP sebelum memanggil bantuan
b. Posisikan Korban
Korban harus dalam keadaan terlentang pada dasar yang keras (lantai, long board).
Bila dalam keadaan telungkup, korban dibalikkan. Bila dalam keadaan trauma, pembalikan
dilakukan dengan ¨Log Roll¨
c. Posisi Penolong
Korban di lantai, penolong berlutut di sisi kanan korban
d. Pemeriksaan Pernafasan
Yang pertama harus selalu dipastikan adalah airway dalam keadaan baik
- Tidak terlihat gerakan otot napas
- Tidak ada aliran udara via hidung
Dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lihat, dengan dan rasa
Bila korban bernapas, korban tidak memerlukan RJP
e. Pemeriksaan Sirkulasi
Pada orang dewasa tidak ada denyut nadi carotis
Pada bayi dan anak kecil tidak ada denyut nadi brachialis
Tidak ada tanda tanda sirkulasi
Bila ada pulsasi dan korban pernapas, napas buatan dapat dihentikan. Tetapi bila ada pulsasi
dan korban tidak bernapas, napas buatan diteruskan. Dan bila tidak ada pulsasi, dilakukan
RJP.

Henti Napas
Pernapasan buatan diberikan dengan cara :
a. Mouth to Mouth Ventilation
Cara langsung sudah tidak dianjurkan karena bahaya inIeksi (terutama hepatitis, HIV) karena
itu harus memakai ¨barrier device¨ (alat perantara). Dengan cara ini akan dicapai konsentrasi
oksigen hanya 18 °.

Tangan kiri penolong menutup hidung korban dengan cara memijitnya dengan jari
telunjuk dan ibu jari, tangan kanan penolong menarik dagu korban ke atas.
Penolong menarik napas dalam dalam, kemudian letakkan mulut penolong ke atas
mulut korban sampai menutupi seluruh mulut korban secara pelan pelan sambil
memperhatikan adanya gerakan dada korban sebagai akibat dari tiupan napas
penolong. Gerakan ini menunjukkan bahwa udara yang ditiupkan oleh penolong itu
masuk ke dalam paru paru korban.
Setelah itu angkat mulut penolong dan lepaskan jari penolong dari hidung korban. Hal
ini memberikan kesempatan pada dada korban kembali ke posisi semula.
c. Mouth to Stoma
Dapat dilakukan dengan membuat Krikotiroidektomi yang kemudian dihembuskan udara
melalui jalan yang telah dibuat melalui prosedur Krikotiroidektomi tadi.
d. Mouth to Mask ventilation
Pada cara ini, udara ditiupkan ke dalam mulut penderita dengan bantuan Iace mask.
e. Bag Valve Mask Ventilation ( Ambu Bag)
Dipakai alat yang ada bag dan mask dengan di antaranya ada katup. Untuk mendapatkan
penutupan masker yang baik, maka sebaiknya masker dipegang satu petugas sedangkan
petugas yang lain memompa.







Gbr. Bag Valve Mask

f. Flow restricted Oxygen Powered Ventilation (FROP)
Pada ambulans dikenal sebagai ' OXY Viva '. Alat ini secara otomatis akan memberikan
oksigen sesuai ukuran aliran (Ilow) yang diinginkan.

Bantuan jalan napas dilakukan dengan sebelumnya mengevaluasi jalan napas korban apakah
terdapat sumbatan atau tidak. Jika terdapat sumbatan maka hendaknya dibebaskan terlebih
dahulu.

2.7 Fase Resusitasi 1antung Paru Otak (R1PO)
Resusitasi jantung paru otak dibagi menjadi 3 Iase diantaranya
14
:
1. FASE I : Tunjangan Hidup Dasar (Basic LiIe Support) yaitu prosedur pertolongan
darurat mengatasi obstruksi jalan naIas, henti naIas dan henti jantung, dan
bagaimana melakukan RJP secara benar.
Terdiri dari :
(airway) . menjaga jalan naIas tetap terbuka.
B (breathing) . ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat.
C (circulation) . mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru.
2. FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (dvance Life Support), yaitu tunjangan
hidup dasar ditambah dengan :
D (drugs) . pemberian obat-obatan termasuk cairan.
E (EKG) : diagnosis elektrokardiograIis secepat mungkin setelah dimulai KJL,
untuk mengetahui apakah ada Iibrilasi ventrikel, asistole atau agonal
ventricular complexes.
F (fibrillation treatment) . tindakan untuk mengatasi Iibrilasi ventrikel.
3. FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).
G (Gauge) . Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara
terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.
H (Head) . tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraI dari
kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah
terjadinya kelainan neurologic yang permanen.
H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan Iungsi susunan
saraI pusat yaitu pada suhu antara 30° 32°C.
H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah
manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya
berdasarkan perikemanusiaan.
I (Intensive care) . perawatan intensiI di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi :
trakheostomi, pernaIasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran
pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kefang
14
.
2.8 Prosedur R1PO
Pada dasarnya resusitasi jantung paru terdiri dari 2 elemen: kompresi dada dan mulut-
ke-mulut (mouth-to-mouth) napas buatan
8
.
Sebelum menolong korban, hendaklah menilai keadaan lingkungan terlebih dahulu:

. pakah korban dalam keadaan sadar?
2. pakah korban tampak mulai tidak sadar, tepuk atau goyangkan bahu korban dan
bertanya dengan suara keras 'pakah nda baik-baik safa?`
3. pabila korban tidak berespon, mintalah bantuan untuk menghubungi rumah sakit
terdekat, dan mulailah RJP.

A. Bantuan Hidup Dasar
Merupakan prosedur pertolongan darurat tentang henti jantung dan henti napas serta
bagaimana melakukan RJP yang benar sampai ada bantuan datang
8
. Caranya ialah:
1. Airway (1alan Napas)
Posisikan korban dalam keadaan terlentang pada alas yang keras (ubin), bila diatas kasur
selipkan papan
8
. Periksa jalan napas korban sebagai berikut :
- membuka mulut korban
- masukkan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah)
- lihat apakah ada benda asing, darah, (bersihkan)

Pada korban tidak sadar, tonus otot menghilang, sehingga lidah akan menyumbat
laring. Lidah dan epiglottis penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak
sadar. Lidah yang jatuh kebelakang(drop), menutpi jalan napas
8
.

- Letakkan tangan penolong diatas kening korban dan tangan yang lain didagu
korban , tengadahkan/dongakkan kepala korban (Head tilt - chin liIt).

- Jika kita mencurigai adanya patah atau Iraktur tulang leher/servikal, maka
pakai cara 'jaw trust¨, lalu buka jalan napas.

2. Breathing (Pernapasan)
Untuk menilai pernapasan korban dilakukan 3 cara:
- Look: lihat gerakan dada apakah mengembang atau tidak.
- Listen: dengarkan suara napas korban ada atau tidak
- Feel: rasakan hembusan napas korban pada mulut/hidung ada atau tidak.

Jika tidak ada maka dapat dilakukan napas buatan mulut ke mulut atau mulut ke sungkup,
atau mulut ke hidung atau mulut ke lubang trakheostomi sebanyak 2 kali
(9)
.

Saat memberi napas buatan, pastika dada korban mengembang yang menandakan bahwa
bantuan napas adekuat.
3. Circulation (Sirkulasi buatan)
Nilai sirkulasi darah korban dengan menilai denyut arteri besar (arteri karotis, arteri
Iemoralis).
- Apabila terdapat denyut nadi maka berikan pernapasan buatan 2 kali.
- Apabila tidak terdapat denyut nadi maka lakukan kompresi dada sebanyak 30
kali.

Posisi kompresi dada, dimulai dari melokasi proc. Xyphoideus, dan tarik garis ke cranial 2
jari diatas proc. Xyphoideus, dan lakukan kompresi pada tempat tersebut.

Kemudian berikan 2 kali napas buatan dan teruskan kompresi dada sebanyak 30 kali. Ulangi
siklus ini sebanyak 5 kali.
Kemudian cek nadi dan napas korban, apabila:
- Tidak ada napas dan tidak ada nadi : teruskan RJP sampai bantuan datang
- Terdapat nadi tetapi tidak ada napas: mulai lakukan pernapasan buatan
- Terdapat nadi dan napas: korban membaik.

R1P pada bayi dan anak :
Pada anak dipakai satu tangan, sedangkan untuk bayi hanya dipakai ujung jari
telunjuk dan tengah. Ventrikel bayi dan anak kecil terletak lebih tinggi dalam rongga dada,
jadi tekanan harus dilakukan di bagian tengah tulang dada.

B. Bantuan Hidup Lanjut
Terdiri atas Bantuan hidup dasar ditambah langkah-langkah:
D (Drugs): Pemberian obat-obatan.
Obat-obat tersebut adalah:
Epinefrin
EpineIrin merupakan prototype obat kelompok adrenergic. EpineIrin bekerja pada
semua reseptor adrenergic : u
1
, u
2
, µ
1
dan µ
2 .
Pada umumnya pemberian epineIrin
menimbulkan eIek mirip stimulasi saraI adnergik. Ada beberapa perbedaan karena
neurotransmitter pada saraI adrenergic adalah NE. EIek yang paling menonjol adalah eIek
terhadap jantung, otot polos pembuluh darah dan otot polos lain.
Farmakodinamika :
O Pembuluh darah
EIek vascular epineIrin terutama pada arteriol kecil dan sIingter prekapiler, tetapi vena
dan arteri besar juga dipengaruhi. Pembuluh darah kulit, mukosa dan ginjal mengalami
konstriksi karena dalam organ-organ tersebut reseptor u dominan. Pembuluh darah otot
rangka mengalami dilatasi oleh epineIrin dosis rendah, akibat aktivasi reseptor µ
2
yang
mempunyai aIinitas lebih besar pada epineIrin dibandingkan dengan reseptor u .
O Arteri koroner
EpineIrin meningkatkan aliran darah koroner. Di satu pihak epineIrin cenderung
menurunkan aliran darah koroner karena kompresi akibat peningkatan kontraksi otot jantung,
dan karena vasokonstriksi pembuluh darah koroner akibat eIek reseptor u. Di lain pihak
epineIrin relative memperpanjang waktu diastolic pada denyut jantung yang lebih cepat
meningkatkan tekanan darah aorta, dan menyebabkan dilepaskannya adenosine suatu
metabolit yang bersiIat vasodilator, akibat peningkatan kontraksi jantung dan konsumsi
oksigen miokard; resultante dari semua ini adalah peningkatan aliran darah koroner.
Autoregulasi metabolic merupakan Iactor yang dominan, sehingga hasil akhirnya adalah
vasodilatasi dan peningkatan aliran darah koroner. Tetapi, eIek epineIrin ini tidak bermanIaat
pada iskemia miokard, karena peningkatan aliran darah tidak dapat mengimbangi
bertambahnya kebutuhan akibat peningkatan kerja miokard, sehubungan dengan eIek
langsung EpineIrin.
O Jantung
EpineIrin mengaktivasi reseptor µ
1
di otot jantung, sel pacu jantung dan jaringan
konduksi. Ini merupakan dasar eIek inotropik dan kronotropik positiI epineIrin pada jantung.
EpineIrinneIrin mempercepat depolarisasi Iase 4, yakni depolarisasi lambat sewaktu diastole,
dari nodus sino-atrial (SA) dan sel otomatik lainnya, dengan demikian mempercepat Iiring
rate pacu jantung dan merangsang pembentukan Iocus ektopik dalam ventrikel. Dalam nodus
SA, epineIrinneIrin juga menyebabkan perpindahan pacu jantung ke sel yang mempunyai
Iiring rate lebih cepat. EpineIrin mempercepat konduksi sepanjang jaringan konduksi, mulai
dari atrium ke nodus atrioventrikular (AV), sepanjang berkas his dan serat purkinje sampai ke
ventrikel. EpineIrin juga mengurangi blok AV yang terjadi akibat penyakit, obat atau
aktivitas vagal. Selain itu epineIrin memperpendek periode reIrakter nodus AV dan berbagai

bagian jantung lainnya. EpineIrin memperkuat kontraksi dan mempercepat relaksasi. Dalam
mempercepat denyut jantung dalam kisaran Iisiologis, epineIrin memperpendek waktu
sistolik tanpa mengurangi waktu diastolic. Akibatnya curah jantung bertambah, tetapi kerja
jantung dan pemakaian oksigen sangat bertambah, sehingga eIisiensi jantung (kerja
dibandingkan dengan pemakaian oksigen) berkurang. Dosis epineIrin yang berlebih
disamping menyebabkan tekanan darah naik sangat tinggi, juga menimbulkan kontraksi
ventrikel premature, diikuti takikardia ventrikel dan akhirnya Iibrilasi ventrikel.
O Tekanan darah
Pemberian epineIrin pada manusia secara SK atau secara IV lambat menyebabkan
kenaikan tekanan sistolik yang sedang dan penurunan diastolic. Tekanan nadi bertambah
besar tetapi tekanan darah rata-rata (mean arterial pressure) jarang sekali menunjukkan
kenaikan yang besar. Resistensi periIer berkurang akibat kerja epineIrin pada reseptor µ
2
di
pembuluh darah otot rangka, dimana aliran darah bertambah. Karena kenaikan tekanan darah
tidak begitu besar, reIlex kompensasi vagal yang melawan eIek langsung epineIrin terhadap
jantung yang tidak begitu kuat. Dengan demikian, denyut jantung, curah jantung, curah
sekuncup dan kerja ventrikel meningkat akibat stimulasi langsung pada jantung dan
peningkatan aliran balik vena. Biasanya eIek vasodilatasi epineIrin mendominasi sirkulasi;
kenaikan tekanan sistolik terutama disebabkan oleh peningkatan curah jantung.
Pada pasien dengan henti jantung akibat Iibrilasi ventrikel, disosiasi elektromekanik atau
asistole, resusitasi kardiopulmoner dapat dibantu dengan obat. EpineIrinneIrin merupakan
obat yang penting. EIektivitasnya tampak akibat eIek vasokonstriksinya melalui reseptor u.
EpineIrin dan u
1
agonis lainnya meningkatkan tekanan diastolic, memperbaiki aliran darah
koroner dan membantu mempertahankan aliran darah otak selama resusitasi. Diperkirakan
eIek epineIrin pada reseptor µ di jantung menyebabkan Iibrilasi ventrikel menjadi lebih
sensitive untuk konversi ke ritme normal pada kardioversi elektrik, tetapi ternyata tidak
terbukti pada uji dengan hewan coba. Dosis optimal epineIrin pada pasien dengan henti
jantung tidak diketahui, tetapi American heart association menganjurkan 0,5 1,0 mg
EpineIrin HCl ( untuk berat badan 70 kg ) IV setiap 5 menit. Setelah diperoleh ritme jantung,
perlu diobati aritmia, hipotensi atau syok yang ada.
NATRIUM BIKARBONAT
Penting untuk melawan metabolik asidosis yang biasanya timbul beberapa menit
setelah henti jantung, diberikan iv dengan dosis awal yang dianjurkan yaitu 1 mEq/kgBB,
baik berupa bolus ataupun dalam inIus atau sebagai dosis awal dapat diberikan 1 ampul 50 ml
(7,5°) yang mengandung 44,6 mEq ion Na. Bila gas darah belum dapat ditentukan, Na
Bikarbonat dapat diberikan ½ dosis awal setiap 10 menit. Biasanya dibutuhkan 150 250
mEq untuk mengatasi asidosis metabolic pada henti jantung. Begitu sirkulasi spontan yang
eIektiI tercapai, pemberian harus dihentikan karena bisa terjadi metabolik alkalosis,
takhiaritmia dan hiperosmolalitas. Bila belum ada sirkulasi yang eIektiI maka ulangi lagi
pemberian dengan dosis yang sama. Asidosis metabolik harus segera diperbaiki oleh karena
dapat menyebabkan vasodilatasi, kebocoran kapiler, deplesi otot jantung dan penurunan
ambang terjadinya Iibrilasi.


SULFAT ATROPIN
Mengurangi tonus vagus memudahkan konduksi atrioventrikuler dan mempercepat
denyut jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling berguna dalam mencegah 'arrest¨ pada
keadaan sinus bradikardi sekunder karena inIark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis
yang dianjurkan ½ mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam interval 5 menit
sampai tercapai denyut nadi ~ 60 /menit, dosis total tidak boleh melebihi 2 mg kecuali pada
blok atrioventrikuler derajat 3 yang membutuhkan dosis lebih besar.
Obat ini digunakan bila sudah terjadi sirkulasi spontan.
LIDOKAIN
Injeksi Lidokain adalah larutan yang dibuat dari Lidokain Hidroklorida dengan
penambahan asam klorida P dalam air untuk injeksi atau dari lidokain hidroklorida dalam air
untuk injeksi. Kadar lidokain HCl C
14
H
22
N
2
O.HCl tidak kurang dari 96,0 ° dan tidak lebih
dari 105,0 °. Penggunaan terapi lidokain hanya digunakan untuk pengobatan aritmia
ventrikel, terutama diruang perawatan intensiI. Lidokain eIektiI terhadap aritmia ventrikel
yang disebabkan oleh inIark miokard akut, bedah jantung terbuka dan dialisis.
Interaksi obat lidokain dimana µ bloker dapat mengurangi aliran darah hati pada
penderita penyakit jantung dan akan menyebabkan penurunan kecepatan metabolisme
lidokain dan meningkatkan kadarnya dalam plasma. Obat-obat yang bersiIat basa dapat
menggantikan lidokain dari ikatannya pada u 1 acid glocoprotein. Kadar Lidokain plasma
meninggi pada penderita yang menerima simetidin. Mekanisme interaksi ini kompleks, dan
selama pemberian simetidin perlu penyesuaian sengan dosis lidoikain. Lidokain memperkuat
eIek suksinilkolin.
Lidokain meninggikan ambang Iibrilasi dan mempunyai eIek antiaritmia dengan cara
meningkatkan ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama diastole. Pada dosis terapeutik
biasa, tidak ada perubahan bermakna dari kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik, atau
periode reIrakter absolut. Obat ini terutama eIektiI menekan iritabilitas sehingga mencegah
kembalinya Iibrilasi ventrikel setelah deIibrilasi yang berhasil, juga eIektiI mengontrol
denyut ventrikel prematur yang mutlti Iokal dan epineIrinsode takhikardi ventrikel. Dosis 50-
100 mg diberikan iv sebagai bolus, pelan-pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat dilanjutkan
dengan inIus kontinu 1-3 mg.menit, biasanya tidak lebih dari 4 mg.menit, berupa lidocaine
500 ml dextrose 5 ° larutan (1 mg/ml).
ISOPROTENEROL
Obat ini yang juga dikenal sebagai isopropilonorepineIrinneIrin, isopropilarterenol
dan isoprenalin, merupakan amin simpatomimetik yang kerjanya paling kuat pada semua
reseptor µ, dan hampir tidak bekerja pada reseptor u. Curah jantung meningkat karena eIek
inotropik dan kronotropik positiI langsung dari obat. Pada dosis isoprotenerol yang biasa
diberikan, peningkatan curah jantung umumnya cukup besar untuk mempertahankan atau
meningkatkan tekanan sistolik tetapi tekanan rata-rata menurun.
Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat karena complete
heart block). Ia diberikan dalam inIus dengan jumlah 2 sampai 20 mg/menit (1-10 ml larutan
dari 1 mg dalam 500 ml dectrose 5 °), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai
kira-kira 60 kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang tidak berhasil diatasi
dengan Atropine.

PROPANOLOL
Suatu beta adrenergic blocker yang eIek anti aritmianya terbukti berguna untuk kasus-
kasus takhikardi ventrikel yang berulang atau Iibrilasi ventrikel berulang dimana ritme
jantung tidak dapat diatasi dengan Lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang
sampai total 3 mg, dengan pengawasan yang ketat.
EFEDRIN
Seperti halnya dengan epineIrin, eIedrin bekerja pada reseptor u
1
µ
1
dan µ
2
. EIek
periIer eIedrin melalui kerja langsung dan melalui pelepasan NE endogen. EIek
kardiovaskuler eIedrin menyerupai eIek epineIrin tetapi berlangsung kira-kira 10 kali lebih
lama. Tekanan sistolik meningkat dan biasanya juga tekanan diastolik serta tekanan nadi
membesar. Peningkatan tekanan darah ini sebagian disebabkan oleh vasokonstriksi, tetapi
terutama oleh stimulasi jantung yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan curah
jantung. Denyut jantung mungkin tidak berubah akibat reIleks kompensasi vagal terhadap
kenaikan tekanan darah. Aliran darah ginjal dan viseral berkurang, sedangkan aliran darah
koroner, otak dan otot rangka meningkat. Dosis yang diberikan 10 20 mg / 70 kg .
KORTIKOSTEROID
Sekarang lebih disukai kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl prednisolon sodium
succinate atau 1 mg/kgBB dexamethasone IosIat) untuk pengobatan syok kardiogenik atau
shock lung akibat henti jantung. Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-
100 mg methyl prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada
komplikasi paru seperti pneumonia post aspirasi, maka digunakan dexamethason IosIat 4-8
mg tiap 6 jam.
DOBUTAMIN
Dobutamin menimbulkan eIek inotropik yang lebih kuat daripada eIek kronotropik
dibandingkan isoprotenerol. Hal ini mungkin disebabkan karena resistensi periIer yang
relative tidak berubah (akibat vasokonstriksi melalui reseptor u
1
diimbangi oleh vasodilatasi
melalui reseptor µ
2
) sehingga tidak menimbulkan reIlex takikardi atau karena reseptor u
1
di
jantung menambah eIek inotropik obat ini. Pada dosis yang menimbulkan eIek inotropik yang
sebanding, eIek dobutamin dalam meningkatkan automatisitas nodus SA kurang dibanding
isoprotenerol, tetapi peningkatan konduksi AV dan intraventrikular oleh ke-2 obat ini
sebanding. Dengan demikian, inIuse dobutamin akan meningkatkan kontraktilitas jantung
dan curah jantung, dan hanya sedikit meningkatkan denyut jantung sedangkan resistensi
periIer relative tidak berubah.
Kontraindikasi :
Obat ini mempercepat konduksi AV, maka sebaiknya dihindarkan pada Iibrilasi
atrium. Tekanan darah dan denyut jantung dapat sangat meningkat selama pemberian
dobutamin. Bila ini terjadi, kurangi kecepatan inIuse obat. Seperti obat inotropik lainnya,
dobutamin dapat memperluas ukuran inIark miokard dengan meningkatkan kebutuhan
oksigen miokard. Pemberian lebih dari beberapa hari dapat menimbulkan toleransi.

Dosis :
· Dosis : 2,5 -10 µg/ kg/ menit dengan cara titrasi
· Maksimum : 20 µg/ kg/ menit
DOPAMIN
Precursor NE ini mempunyai kerja langsung pada reseptor dopaminergik dan
adrenergic, dan juga melepaskan NE endogen. Pada kadar rendah, dopamine bekerja pada
reseptor dopaminergik D
1
pembuluh darah, terutama di ginjal, mesentrium dan pembuluh
darah koroner. Stimulasi reseptor D
1
menyebabkan vasodilatasi melalui aktivitas
adenilsiklase. InIuse dopamine dosis rendah akan meningkatkan aliran darah ginjal, laju
Iiltrasi glomerulus dan ekskresi Na
¹
. Pada dosis yang sedikit lebih tinggi, dopamine
meningkatkan kontraktilitas miokard melalui aktivitias adrenoreseptor µ
1
. dopamine juga
melepaskan NE endogen yang menambah eIeknya pada jantung. Pada dosis rendah sampai
sedang, resistensi periIer total tidak berubah. Hal ini mungkin karena dopamine mengurangi
resistensi arterial di ginjal dan mesentrium dengan hanya sedikit peningkatan di tempat-
tempat lain. Dengan demikian dopamine meningkatkan tekanan sistolik dan tekanan nadi
tanpa mengubah tekanan diastolic (mungkin sedikit meningkat). Akibatnya dopamine
terutama berguna untuk keadaan curah jantung rendah disertai dengan gangguan Iungsi
ginjal, misalnya syok kardiogenik dan gagal jantung yang berat. Pada kadar yang tinggi
dopamine menyebabkan vasokonstriksi akibat aktivasi reseptor u
1
pembuluh darah. Karena
itu bila dopamine digunakan untuk syok yang mengancam jiwa, tekanan darah dan Iungsi
ginjal harus dimonitor. Reseptor dopamine juga terdapat dalam otak, tetapi dopamine yang
diberikan secara IV tidak menimbulkan eIek sentral karena obat ini sukar melewati sawar
darah otak.
Dosis :
· Dosis : 2 - 20 µg/kg/menit
· InIuse ditingkatkan sampai tekanan arteri meningkat dan adanya urine Ilow.
· Biasa diberikan secara titrasi : 400 mg dopamine / 500 cc dekstrose / NaCl 0,9°
800 µg/ml
· Dosis dopamine 1 - 2 µgr/kg/menit menyebabkan :
· Vasodilatasi renal
· Vasodilatasi mesentrik
· Tanpa meningkatkan tekanan darah
· Dosis 2 -10 µg/kg/menit menyebabkan :
· Inotropik dan eIek vasodilatasi
· Meninggikan cardiac output
· Takikardi
· Dosis 10 - 20 µg/kg/menit menyebabkan :

· Vasokonstriksi
E (EKG): Diagnosis elektrokardiograIis untuk mengetahui adanya Iibrilasi ventrikel dan
monitoring.
F: (Fibrilation Treatment)
Gambaran EKG pada Ventrikel Fibrilasi ini menunjukan gelombang listrik tidak teratur baik
amplitudo maupun Irekuensinya.

Terapi deIinitiInya adalah syok electric (DC-Shock) dan belum ada satu obatpun yang dapat
menghilangkan Iibrilasi.

Tindakan deIibrilasi untuk mengatasi Iibrilasi ventrikel. Elektroda dipasang sebelah kiri
putting susu kiri dan di sebelah kanan sternum atas.
C. Bantuan Hidup terus-menerus
G (Gauge) . Tindakan selanjutnya adalah melakukan monitoring terus-menerus terutama
system pernapasan, kardiovaskuler dan system saraI.
H (Head) . tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraI dari kerusakan
lebih lanjut, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen.
H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan Iungsi susunan saraI pusat yaitu
pada suhu antara 30° 32°C.
H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang
mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.
I (Intensive care) . perawatan intensiI di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi,
pernaIasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan,
dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kefang.
2.9 Perbedaan Panduan R1P 2005 dan 2010
Setelah mengevaluasi berbagai penelitian yang telah dipublikasi selama lima tahun
terakhir AHA mengeluarkan Panduan RJP 2010. Fokus utama RJP 2010 ini adalah kualitas
kompresi dada. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Panduan RJP 2005 dengan RJP
2010.
16,17,18



1. Bukan lagi ABC, melainkan CAB
W AHA 2ô1ô (new)
"A change in the 2ô1ô AHA Cuidelines for CPR and ECC is to reccomend the initiation of
chest compression before ventilation."
W AHA 2005 (old)
"1he sequence of adult CPR began with opening of the airway, checking for normal
breathing, and then delivering 2 rescue breaths followed by cycles of 3ô chest
compressions and 2 breaths."
Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC: Airway,
Breathing, Ciculation (Chest Compression) yaitu buka jalan naIas, bantuan pernaIasan, dan
kompresi dada. Pada saat ini, prioritas utama adalah Circulation baru setelah itu tatalaksana
diIokuskan pada Airway dan selanjutnya Breathing. Satu-satunya pengecualian adalah hanya
untuk bayi baru lahir (neonatus), karena penyebab tersering pada bayi baru lahir yang tidak
sadarkan diri dan tidak bernaIas adalah karena masalah jalan naIas (asIiksia). Sedangkan
untuk yang lainnya, termasuk RJP pada bayi, anak, ataupun orang dewasa biasanya adalah
masalah Circulation kecuali bila kita menyaksikan sendiri korban tidak sadarkan diri karena
masalah selain Circulation harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir memberikan
bantuan falan nafas.
2. Tidak ada lagi Look, Listen, and Feel
· AHA 2010 (new)
'Look, listen, and Ieel Ior breathing was removed Irom the sequence Ior assessment oI
breathing aIter opening the airway. The healthcare provider brieIly checks Ior breathing when
checking responsiveness to detect signs oI cardiac arrest. AIter delivery oI 30 compressions,
the home rescuer opens the victim`s airway and delivers 2 breaths.¨
· AHA 2005 (old)
'Look, listen, and Ieel Ior breathing was used to assess breathing aIter the airway was
opened.¨
Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah Bertindak bukan
Menilai. Telepon ambulan segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernaIas
dengan baik (gasping). Percayalah pada nyali Anda. Jika Anda mencoba menilai korban
bernapas atau tidak dengan mendekatkan pipi Anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja.
Tapi tetap saja sang korban tidak bernaIas dan tindakan look listen and Ieel ini hanya akan
menghabiskan waktu.
3. Tidak ada lagi Resque Breath
· AHA 2010 (new)
'Beginning CPR with 30 compressions rather than 2 ventilations leads to a shorter delay to
Iirst compression¨
Rescue breath adalah tindakan pemberian napas buatan sebanyak dua kali setelah kita
mengetahui bahwa korban henti napas (setelah Look, Listen, and Feel). Pada AHA 2010, hal
ini sudah dihilangkan karena terbukti menyita waktu yang cukup banyak sehingga terjadi
penundaan pemberian kompresi dada.
4. Kompresi dada lebih dalam lagi
W AHA 2010 (new)
"1he adult sternum should be depressed at least 2 inches (5 cm)"

· AHA 2005 (old)
"1he adult sternum should be depressed 11/2 to 2 inches (approximately 4 to 5 cm)."
Pada pedoman RJP sebelumnya, kedalaman kompresi dada adalah 1 ½ - 2 inchi (4 5
cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk melakukan kompresi dada dengan
kedalaman minimal 2 inchi (5 cm).
5. Kompresi dada lebih cepat lagi
W AHA 2010 (new)
"It is reasonable for lay rescuers and healthcare providers to perform chest compressions
at a rate of at least 1ôôx/min."

W AHA 2005 (old)
"Compress at a rate of about 1ôôx/min."

AHA mengganti redaksi kalimat disini sebelumnya tertulis: tekan dada sekitar 100
kompresi/ menit. Sekarang AHA merekomendasikan kita untuk kompresi dada minimal 100
kompresi/ menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik.
6. Hands only CPR
W AHA 2010 (new)
"Hands-Only (compression-only) bystander CPR substantially improves survival following
adult out-of-hospital cardiac arrests compared with no bystander CPR."

AHA mendorong RJP seperti ini pada tahun 2008. Dan pada pedoman tahun 2010 pun
AHA masuh menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands Only CPR
pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan terbesar adalah: apa yang
harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan mereka dan
korban yang bukan dewasa? AHA memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini,
namun ada saran sederhana disini: berikan Hands Only CPR, karena berbuat sesuatu lebih
baik daripada tidak berbuat sama sekali.

7. Pengaktivasian Emergency Response System (ERS)
W AHA 2010 (new)
"Check for response while looking at the patient to determine if breathing is absent or not
normal. Suspect cardiac arrest if victim is not breathing or only gasping."

W AHA 2005 (old)
"Activated the emergency response system after finding an unresponsive victim, then
returned to the victim and opened the airway and checked for breathing or abnormal
breathing."
Pada pedoman AHA yang baru, pengaktivasian ERS seperti meminta pertolongan orang
di sekitar, menelepon ambulans, ataupun menyuruh orang untuk memanggil bantuan tetap
menjadi prioritas, akan tetapi sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesadaran dan ada
tidaknya henti naIas (terlihat tidak ada naIas/ gasping) secara simultan dan cepat.

8. 1angan berhenti kompresi dada
W AHA 2010 (new)
"1he preponderance of efficacy data suggests that limiting the frequency and duration of
interruptions in chest compressions may improve clinically meaningful outcomes in
cardiac arrest patients."
Setiap penghentian kompresi dada berarti menghentikan aliran darah ke otak yang
mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan
beberapa kompresi dada untuk mengalurkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk
terus melakukan kompresi selama kita bisa atau sampai alat deIibrilator otomatis datang dan
siap untuk menilai keadaan jantung korban. Jika sudah tiba waktunya untuk pernapasan dari
mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali melakukan kompresi dada. Prinsip Push
Hard, Push Fast, Allow complete chest recoil, and Minimize Interruption masih ditekankan
disini. Ditambahkan dengan Avoiding excessive ventilation.
9. Tidak dianjurkan lagi Cricoid Pressure
· AHA 2010 (new)
'The routine use of cicoid pressure in cardiac arrest is not recommended.`
· AHA 2005 (old)
'Cricoid pressure should be used only if the victim is deeply unconscious, and it usually
requires a third rescuer not involved in rescue breaths or compressions.`
Cricoid pressure dapat menghambat atau mencegah pemasangan jalan naIas yang lebih
adekuat dan ternyata aspirasi tetap dapat terjadi walaupun sudah dilakukan cricoid pressure.
Cricoid pressure merupakan suatu metode penekanan tulang rawan krikoid yang dilakukan
pada korban dengan tingkat kesadaran sangat rendah, hal ini pada pedoman AHA 2005
diyakini dapat mencegah terjadinya aspirasi dan hanya boleh dilakukan bila terdapat
penolong ketiga yang tidak terlibat dalam pemberian naIas buatan ataupun kompresi dada.
10. Pemberian Precordial Thump
· AHA 2010 (new)
'The precordial thump should not be used for unwitnessed out-of-hospital cardiac arrest.
The precordial thump may be considered for patients with witnessed, monitored, unstable JT
(including pulseless JT) if a defibrillator is not immediately ready for use, but it should not
delay CPR and shock delivery.`
· AHA 2005 (old)
'No recommendation was provided previously.¨
Pada beberapa kasus dilaporkan bahwa precordial thump dapat mengembalikan irama
ventricular tachyarrhytmias ke irama sinus. Akan tetapi pada sejumlah besar kasus lainnya,
precordial thump tidak berhasil mengembalikan korban dengan ventricular Iibrillation ke
irama sinus atau kondisi Return oI Spontaneous Circulation (ROSC). Kemudian terdapat
banyak laporan yang menyebutkan terjadinya komplikasi akibat pemberian precordial thump
seperti Iraktur sternum, osteomyelitis, stroke, dan bahkan bisa mencetuskan aritmia yang
ganas pada korban dewasa dan anak-anak. Pemberian precordial thump boleh
dipertimbangkan untuk dilakukan pada pasien dengan VT yang disaksikan, termonitor, tidak
stabil, dan bila deIibrilator tidak dapat disediakan dengan segera. Dan yang paling penting
adalah precordial thump tidak boleh menunda pemberian RJP atau deIibrilasi.

2.10 Panduan R1P 2010
Pedoman AHA untuk RJP tahun 2005 menekankan pentingnya kompresi dada yang
berkualitas tinggi.Studi yang telah diterbitkan sebelum dan sejak tahun 2005 telah
menunjukkan bahwa:
i. Kualitas kompresi dada terus memerlukan perbaikan, meskipun pelaksanaan Pedoman
2005 memberikan kualitas yang lebih baik dan kelangsungan hidup yang lebih besar.
ii. Terdapat variasi yang cukup besar dalam kelangsungan hidup dari serangan jantung di
luar rumah sakit di seluruh system layanan medis darurat (EMS)
iii. Sebagian besar korban serangan jantung di luar rumah sakit tidak mendapatkan RJP
dari saksi kejadian.
Perubahan yang direkomendasikan dalam Pedoman AHA 2010 untuk RJP adalah untuk
mengatasi masalah di atas dan juga membuat rekomendasi untuk memperbaiki hasil dari
serangan jantung melalui penekanan baru pada perawatan pasca serangan jantung.

Pedoman ini juga merekomendasikan perubahan dalam urutan BLS (Basic LiIe Support)
dari langkah A-B-C (Airway-Breathing-Chest Compression) kepada C-A-B (Chest
Compression-Airway-Breathing)untuk orang dewasa, anak-anak dan bayi (tidak termasuk
bayi baru lahir). Ini karena sebagian besar serangan jantung terjadi pada orang dewasa, dan
tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi dari semua usia pasien yang dilaporkan memiliki
ritme awal ventrikel Iibrilasi (VF) atau pulseless ventrikular takikardia (VT). Pada pasien ini,
elemen-elemen awal yang penting dari BLS adalah kompresi dada dan deIibrilasi dini.
Dalam urutan ABC, kompresi dada sering tertunda sementara responden membuka
saluran udara untuk memberikan pernapasan mulut ke mulut, mengambil alat pembatas, atau
mengumpulkan dan merakit peralatan ventilasi. Dengan mengubah urutan ke CAB,
penekanan dada akan dimulai lebih cepat dan keterlambatan dalam ventilasi harus minimal
(yaitu hanya waktu diperlukan unutk memberikan siklus pertama 30 kompresi dada, atau
sekitar 18 detik, ketika 2 penyelamat hadir untuk resusitasi bayi atau anak, penundaaan akan
lebih pendek). Kebanyakan korban serangan jantung di luar rumah sakit tidak menerima CPR
dari saksi. Mungkin ada banyak alasan untuk ini, tapi satu hambatan mungkin urutan ABC,
yang dimulai dengan prosedur yang penyelamat menemukan yang paling sulit, yaitu,
membuka jalan napas dan memberikan napas. Dimulai dengan kompresi dada mungkin
mendorong lebih penyelamat untuk memulai RJP. Bagaimanapun, kebanyakan penyedia
layanan kesehatan, bekerja dalam tim, dan anggota tim biasanya melakukan tindakan BLS
secara bersamaan. Misalnya, satu penyelamat segera memulai penekanan dada sementara
penyelamat yang lain mendapat deIibrillator eksternal otomatis (AED) dan panggilan untuk
membantu, dan ketiga membuka jalan napas penyelamat dan menyediakan ventilasi.

Perubahan penting dan penekanan poin yang berterusan dari Pedoman 2005 adalah:
O IdentiIikasi segera serangan jantung mendadak berdasarkan penilaian
ketidaksadaran dan tidak adanya pernapasan normal
O 'Look, Listen and Feel¨ dihapus dari algoritma BLS
O Hanya kompresi dada terus menerus ditengah dada untuk penyelamat awam yang
tidak terlatih

O Urutan perubahan kompresi dada sebelum penyelamatan naIas (CAB bukan ABC)
O Penyedia pelayanan kesehatan terus melakukan RJP sampai kembalinya sirkulasi
spontan atau penghentian upaya resusitasi
O Meningkatkan Iocus pada metode untuk memastikan bahwa RJP berkualitas tinggi
(tingkat kompresi yang memadai dan dalam) dilakukan.
Rantai Survival
Rantai survival bagi korban serangan jantung mendadak menurut Pedoman AHA
2010 adalah seperti berikut
16
:
1. IdentiIikasi segera dan aktivasi

Aktivasi emergensi yang cepat dan inisiasi RJP memerlukan identiIikasi
serangan jantung dengan cepat. Korban tidak berespon dan napas tidak ada atau
dalam keadaan tidak normal. Napas sekarat kadang dikelirukan dengan napas normal.
Deteksi nadi saja tidak bisa dipercayai. Akibatnya, tim penyelamat harus memulakan
RJP segera jika korban tidak responsive dan tidak bernapas atau tidak bernapas secara
normal (yaitu, terengah-engah). Instruksi 'lihat, dengar dan rasakan napas¨ tidak lagi
dianjurkan.
2. Kompresi dada

Inisiasi kompresi dada yang eIIektiI merupakan aspek Iundamental dari
resusitasi henti jantung. RJP meningkatkan peluang hidup korban dengan memberikan
sirkulasi kepada jantung dan otak. Penyelamat harus melakukan kompresi dada untuk
semua korban serangan jantung, tidak kira ketrampilan, karakteristik korban ataupun
sumberdaya yang tersedia.
Penyelamat harus Iocus pada pemberian RJP yang berkualitas tinggi:
O Memberikan penekanan dada pada kadar yang memadai (setidaknya
100/menit)
O Memberikan penekanan dada pada kedalaman yang memadai
O Orang dewasa: kedalaman kompresi minimal 2 inci (5cm)
O Bayi dan anak: kedalaman sedikitnya sepertiga anterior-posterior(AP)
diameter dada atau sekitar 1 inci pada bayi dan sekitar 2 inci pada
anak.
O Membiarkan dada mundur (chest recoil) sepenuhnya setelah masing-
masing kompresi dada
O Meminimalkan gangguan dalam kompresi
O Menghindari ventilasi berlebihan

3. Jalan napas dan ventilasi

Membuka jalan napas dengan head tilt-chin liIt atau jaw thrust yang diikuti
oleh napas bantuan dapat meningkatkan oksigenasi dan ventilasi. Namun, manuver
tersebut secara teknikal dapat menantang dan memerlukan interupsi terhadap
kompresi dada terutama untuk penyelamat yang tunggal dan tidak terlatih. Dengan
demikian, penyelamat yang tidak dilatih akan memberikan kompresi saja(Hands-
Only). Ventilasi harus disediakan jika korban memiliki kemungkinan tinggi penyebab
serangan oleh asIiksia (pada anak, bayi atau korban tengelam). Setelah jalan napas

terbuka, penyedia pelayanan kesehatan dapat memberikan penapasan setiap 6 hingga
8 detik dan kompresi dada dapat diteruskan tanpa interupsi.

4. DeIibrilasi
Peluang korban bertahan hidup berkurang dengan meningkatnya interval antara
serangan dan deIibrilasi. Jadi, deIibrilasi awal tetap menjadi landasan terapi untuk
ventrikel Iibrilasi dan ventricular takikardi. Strategi masyarakat dan rumah sakit
harus bekerja secara agresiI untuk mengurangi interval antara serangan dan
deIibrilasi.




Rantai Survival. Link dalam rantai ini adalah: IdentiIikasi segera dan
aktivasi, RJP dini, DeIibrilasi segera, bantuan hidup lanjut eIektiI dan
perawatan pasca serangan jantung terpadu
2.11 Teknik R1P berdasarkan Panduan R1P 2010
Resusitasi jantung paru yang penuh dan standar terdiri dari 3 langkah, kompresi dada,
jalan napas, dan napas bantuan (CAB). Diketahui bahwa pernapasan buatan tidak lagi
direkomendasikan untuk penyelamat awam, dengan demikian, penyelamat awam harus
melakukan 'compression-only CPR (COCPR)¨. Bagaimanapun, tenaga kesehatan harus
melakukan semua 3 komponen RJP (kompresi dada, jalan napas dan napas bantuan).

Untuk orang dewasa yang tidak sadar, RJP dimulai menggunakan 30 kompresi dada.
Lakukan head tilt-chin liIt manuver untuk membuka jalan napas dan menentukan jika korban
bernapas. Sebelum mulai ventilasi, singkirkan obstruksi jalan napas dengan melihat di mulut
korban apakah ada bendasing memblokir jalan napas korban. RJP dengan adanya hasil
sumbatan jalan napas tidak eIektiI dalam ventilasi atau oksigenasi dan dapat menyebabkan
hipoksemia memburuk.
a. Kompresi dada
Tumit satu tangan ditempatkan pada tulang dada pasien, dan tangan yang lain
ditempatkan di atas tangan sebelumnya. Siku diekstensikan dan penyelamat mencondongkan
tubuhnya di atas pasien. Penyelamat menekan ke bawah, menekan dada minimal 2 inci. Dada
dilepaskan dan dibiarkan untuk mundur (recoil) sepenuhnya. Kompresi dada diberikan
setidaknya 100 kali/menit.
Dengan tangan tetap di tempat, kompresi diulangi 30 kali pada kecepatan 100kali
permenit. Hal penting untuk diingat ketika melakukan kompresi dada selama RJP dengan
menekan cepat dan keras. Penyelamat harus diingatkan untuk tidak bersandar pada pasien
antara kompresi, karena hal ini mencegah 'chest recoil¨ dan memperburuk aliran darah.

Setelah 30 kompresi, 2 napas diberikan. Dari catatan, pasien harus menerima
kompresi terus menerus selama ventilasi diberikan 8-10 kali permenit. Seluruh proses ini
diulang sampai kembali nadi atau pasien dipindahkan ke perawatan deIinitive.
Ketika dilakukan dengan benar, RJP bisa sangat melelahkan bagi penyedia. Jika
mungkin, unutk memberikan RJP yang konsisten, berkualitas tinggi dan mencegah kelelahan
operator atau cedera, penyedia baru harus mengintervensi setiap 2-3 menit.
Untuk COCPR (RJP tanpa napas buatan), penyedia memberikan kompresi dada pada
kadar 100kali permenit dengan 38-51mm (1-1,5in) tanpa jeda. Pemberian kompresi berlanjut
sampai kedatangan proIessional medis atau sampai penyelamat lain telah siap untuk
melanjutkan kompresi.
Pemberian kompresi dada. Perhatikan tangan tumpang tindih ditempatkan pada tengah

sternum, dengan lengan penyelamat diperpanjang. Penekanan dada harus diberikan pada
kecepatan 100 kali permenit.
b. Ventilasi
Jika pasien tidak bernapas, 2 ventilasi yang diberikan melalui mulut penyedia atau
kantong-katup-mask (BVM).

Teknik mulut ke mulut dilakukan sebagai berikut:
O Lubang hidung korban dijepit tertutup unutk membantu supaya kedap udara.
O Penyedia menempatkan sepenuh mulutnya ke atas pasien
O Penyedia memberikan napas sekitar 1 detik dengan kekuatan yang cukup untuk
membuat dada korban naik.

Ventilasi mulut ke mulut eIektiI ditentukan oleh pengamatan kenaikan dada selama masing-
masing pernapasan. Kegagalan untuk mengamati naiknya dada menunjukkan segel mulut
tidak memadai atau adanya oklusi jalan napas. Seperti dicatat, 2 embusan napas tersebut
harus diberikan secara berurutan setelah 30 kompresi. Ketika napas selesai, kompresi diulang
lagi. Jika tersedia, perangkat penghalang ( masker atau pelindung wajah) harus digunakan.
Umumnya, penyedia layanan kesehatan menggunakan BVM, yang memaksa udara ke
dalam paru-paru ketika tas diperas. Beberapa alat tambahan dapat digunakan dengan BVM,
termasuk saluran udara oroIaringeal dan nasoIaring.
Teknik jalan napas BVM atau invasive dilakukan sebagai berikut:
O Penyedia memastikan segel ketat antara masker dan wajah pasien.
O Tas diperas dengan satu tangan selama kurang lebih 1 detik, memaksa setidaknya
500ml udara ke dalam paru-paru pasien.
O Selanjutnya, penyedia memeriksa denyut nadi karotis atau Iemoralis. Jika pasien tidak
memiliki nadi, compresi dada dimulai.

2.12 Post prosedur R1P
Komplikasi
- Melakukan kompresi dada dapat mengakibatkan patahnya rusuk atau tulang dada, meskipun
insiden Iraktur dianggap rendah.
- Pernapasan buatan menggunakan metode ventilasi invasive sering dapat mengakibatkan
insuIlasi lambung. Hal ini dapat menyebabkan muntah, yang selanjutnya dapat menyebabkan
sumbatan jalan napas atau aspirasi. Masalah dihilangkan dengan memasukkan saluran
invasive yang mencegah udara masuk ke kerongkongan.
2.13 Bantuan Hidup Dasar Pediatric
Urutan Bantuan Hidup Dasar untuk Penyelamat Awam
Pedoman ini menggambarkan serangkaian keterampilan sebagai langkah-langkah
yang berbeda digambarkan dalam algoritma BLS Pediatrik, tetapi mereka harus dilakukan
secara bersamaan bila ada lebih dari 1 penolong.
Keamanan penyelamat dan korban
Selalu pastikan bahwa daerah tersebut aman untuk anda dan korban. Meskipun
penyediaan RJP membawa resiko teoritis penyakit menular, resiko untuk penyelamat sangat
rendah.
Menilai kebutuhan RJP
Untuk menilai perlunya RJP, penyelamat awam harus mengasumsikan bahwa
serangan jantung hadir jika korban tidak responsive dan tidak bernaIas atau hanya terngah-
engah.
Periksa respon
Dengan lembut tekan korban dan bertanya dengan keras, 'Apakah anda baik-baik
saja?¨panggil nama anak itu jika tahu. Jika anak responsive, ia akan menjawab,
memindahkan atau mengerang. Cepat periksa untuk melihat apakah anak mengalami cedera
atau kebutuhan bantuan medis.
Jika anda sendirian dan anak bernapas, biarkan anak untuk menelpon system
tanggap darurat, namun segera kembali dan memeriksa kondisi ulang pasien. Anak dengan
distress pernapasan sering menganggap posisi patensi jalan napasyang mempertahankan dan
mengoptimalkan ventilasi.
Biarkan anak dengan gangguan pernapasan untuk tetap dalam posisi nyaman. Jika
anak tidak responsive, maka berteriak minta tolong.
Periksa pernapasan
Jika Anda melihat bernapas teratur, korban tidak perlu CPR. Jika tidak ada bukti
trauma, giliran anak ke sisi (posisi pemulihan), yang membantu mempertahankan jalan napas

paten dan menurunkan resiko aspirasi.Jika korban tidak responsiI dan tidak bernapas (atau
hanya terengah-engah), mulailah CPR. Terkadang korban yang membutuhkan CPR akan
tergagap, yang mungkin disalahartikan sebagai bernapas. Perlakukan korban dengan
terengah-engah seolah-olah ada tidak bernapas dan mulai CPR. Pelatihan Iormal serta "tepat
waktu" pelatihan, seperti yang disediakan oleh operator sistem tanggap darurat, harus
menekankan bagaimana mengenali perbedaan antara terengah-engah dan pernapasan normal;
penyelamat harus diinstruksikan untuk memberikan CPR bahkan ketika korban tidak
responsiI telah sesekali terengah-engah.
Mulai kompresi dada.
Selama serangan jantung, kompresi dada berkualitas tinggi menghasilkan aliran
darah ke organ-organ vital dan meningkatkan kemungkinan ROSC. Jika bayi atau anak tidak
responsiI dan tidak bernapas, berikan 30 kompresi dada. Berikut ini adalah karakteristik RJP
berkualitas tinggi:
· Dada kompresi tingkat yang tepat dan kedalaman. "Dorong cepat": mendorong pada tingkat
minimal 100 tekanan per menit. "Dorong keras": mendorong dengan kekuatan yang cukup
untuk menekan setidaknya sepertiga anterior-posterior (AP) diameter dada atau kira-kira 1
inci V2 (4 cm) pada bayi dan 2 inci (5 cm) pada anak-anak. Kedalaman kompresi yang tidak
memadai adalah common32-34 bahkan oleh penyedia layanan kesehatan.
· Biarkan dada mundur selesai setelah kompresi masing-masing untuk memungkinkan
jantung untuk mengisi dengan darah.
· Minimalkan interupsi penekanan dada.
· Hindari ventilasi berlebihan.
Untuk hasil terbaik, memberikan kompresi dada pada, perusahaan surIace.
Untuk bayi, penyelamat tunggal (baik awam penyelamat atau penyedia layanan
kesehatan) harus kompres sternum dengan 2 jari ditempatkan tepat di bawah garis
Intermammary. Jangan kompres selama xiIoideus atau tulang rusuk. Penyelamat harus
kompres setidaknya sepertiga kedalaman dada, atau sekitar 4 cm (1,5 inci).
Untuk seorang anak, awam penyelamat dan penyedia layanan kesehatan harus kompres
bagian bawah sternum setidaknya sepertiga dari dimensi AP dada atau sekitar 5 cm (2 inci)
dengan tumit 1 atau 2 tangan. Jangan tekan pada xiIoideus atau tulang rusuk. Tidak ada data
untuk menentukan apakah metode 1-atau 2-tangan menghasilkan kompresi yang lebih baik
dan hasil yang lebih baik. Dalam sebuah penelitian anak cebol, tekanan kompresi dada lebih
tinggi diperoleh dengan kelelahan penyelamat kurang dengan teknik 2-tangan. Karena anak-
anak dan penyelamat datang dalam semua ukuran, penyelamat dapat menggunakan 1 atau 2
tangan untuk kompres dada anak. Apapun yang Anda gunakan, pastikan untuk mencapai
compres yang memadai dan mendalam dengan rilis selesai setelah kompresi masing-masing.
Penyelamat kelelahan dapat menyebabkan tingkat kompresi yang tidak memadai,
kedalaman, dan mundur. Kualitas kompresi dada mungkin memburuk dalam hitungan menit
bahkan ketika penyelamat menyangkal merasa lelah. Karena itu Penyelamat harus memutar
peran kompresi kira-kira setiap 2 menit untuk mencegah kelelahan kompresi dan penurunan
kualitas dan tingkat kompresi dada. Data terakhir menunjukkan bahwa ketika perangkat
umpan balik digunakan dan kompresi eIektiI, beberapa tim penyelamat mungkin dapat eIektiI
masa interval 2 menit. Pertukaran harus dicapai secepat mungkin (idealnya dalam waktu
kurang dari 5 detik) untuk meminimalkan gangguan dalam penekanan dada.

Hasil resusitasi pada bayi dan anak-anak terbaik jika penekanan dada dikombinasikan dengan
ventilasi (lihat di bawah), tetapi jika penyelamat tidak terlatih dalam memberikan ventilasi,
atau tidak dapat melakukannya, awam penyelamat harus melanjutkan dengan penekanan dada
("Hands-only "atau kompresi-hanya RJP) sampai bantuan tiba.

Buka Airway dan Berikan ventilasi
Untuk penyelamat tunggal rasio kompresi-ke-ventilasi 30:2 dianjurkan. Setelah set
awal 30 kompresi, membuka jalan napas dan memberikan 2 napas. Pada bayi atau anak tidak
responsiI, lidah bisa menyumbat saluran udara dan mengganggu ventilasi. Buka jalan napas
menggunakan memiringkan kepala-dagu manuver angkat untuk korban baik luka-luka dan
tidak luka tersebut.
Untuk memberikan napas pada bayi, gunakan mulut ke mulut-dan-hidung teknik; untuk
memberi napas kepada seorang anak, menggunakan teknik mulut ke mulut. Pastikan napas
eIektiI (yaitu, dada meningkat). Setiap napas harus mengambil sekitar 1 detik. Jika dada tidak
naik, reposisi kepala, membuat segel yang lebih baik, dan coba lagi. Mungkin diperlukan
untuk memindahkan kepala anak melalui berbagai posisi untuk memberikan patensi jalan
napas dan pernapasan yang optimal eIektiI.
Pada bayi, jika Anda memiliki kesulitan membuat segel eIektiI atas mulut dan
hidung, cobalah salah mulut ke mulut atau mulut ke hidung-ventilasi. Jika Anda
menggunakan teknik mulut ke mulut, mencubit hidung ditutup. Jika Anda menggunakan
teknik mulut ke hidung, menutup mulut. Dalam kedua kasus pastikan dada meningkat ketika
Anda memberikan napas.

Pediatric chain survival
2.14 Resusitasi neonates
Langkah awal

Langkah-langkah awal resusitasi adalah untuk memberikan kehangatan dengan
menempatkan bayi di bawah sumber panas radiasi, posisi kepala dalam posisi "sniIIing"
untuk membuka jalan napas, membersihkan jalan napas jika perlu dengan semprotan atau
kateter isap, pengeringan bayi, dan merangsang pernapasan. Penelitian terbaru telah meneliti
beberapa aspek langkah-langkah awal. Studi ini diringkas di bawah ini.

Kontrol suhu

Bayi prematur sangat rendah berat lahir (·1500 gram) cenderung menjadi hipotermia
meskipun penggunaan teknik tradisional untuk mengurangi kehilangan panas. Untuk alasan
ini teknik pemanasan tambahan dianjurkan (misal, prewarming ruang bersalin sampai 26 ° C,
meliputi bayi dalam plastik pembungkus (makanan atau medis kelas, plastik tahan panas),
menempatkan bayi pada kasur eksotermik, dan menempatkan bayi bawah panas radiasi suhu
bayi harus. dimonitor karena sedikit, tapi dijelaskan risiko hipertermia saat teknik ini
digunakan dalam kombinasi. teknik lain untuk menjaga suhu selama stabilisasi bayi di ruang
bersalin telah digunakan (misalnya, prewarming linen, pengeringan dan lampin,
menempatkan bayi kulit ke kulit dengan ibu dan menutupi baik dengan selimut) dan
direkomendasikan, tetapi mereka belum dipelajari khusus Semua prosedur resusitasi,.
termasuk intubasi endotrakeal, kompresi dada, dan penyisipan inIus, dapat dilakukan dengan
mengendalikan temperatur-intervensi di tempat.

Bayi yang lahir dari ibu demam telah dilaporkan memiliki insiden yang lebih tinggi
depresi pernapasan perinatal, kejang neonatal, dan cerebral palsy dan peningkatan risiko
kematian. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa hipertermia selama atau setelah
iskemia dikaitkan dengan perkembangan cedera otak. Menurunkan suhu mengurangi
kerusakan saraI. Hipertermia harus dihindari. Tujuannya adalah untuk mencapai
normothermia dan menghindari hipertermia iatrogenik.

Algoritma resusitasi neonatus
Kompresi dada

Penekanan dada diindikasikan untuk detak jantung yang ·60 per menit meskipun
ventilasi yang memadai dengan oksigen tambahan selama 30 detik. Karena ventilasi adalah
tindakan yang paling eIektiI dalam resusitasi neonatal dan karena penekanan dada mungkin
untuk bersaing dengan ventilasi yang eIektiI, penyelamat harus memastikan bahwa ventilasi
dibantu sedang disampaikan secara optimal sebelum memulai penekanan dada.

Kompresi harus disampaikan pada sepertiga bagian bawah sternum dengan kedalaman
sekitar sepertiga dari diameter anterior-posterior dada. Dua teknik telah dijelaskan: kompresi
dengan 2 ibu jari dengan jari-jari melingkari dada dan mendukung kembali (teknik 2 jempol

tangan-melingkari) atau kompresi dengan 2 jari dengan tangan kedua pendukung belakang.
Karena 2 ibu jari-teknik tangan melingkari dapat menghasilkan puncak yang lebih tinggi
sistolik dan tekanan perIusi koroner daripada teknik 2-jari, 2 jempol tangan melingkari-teknik
dianjurkan untuk melakukan kompresi dada pada bayi baru lahir. 2-jari mungkin lebih baik
ketika akses ke umbilikus diperlukan selama penyisipan kateter umbilikalis, meskipun adalah
mungkin untuk mengelola 2 ibu jari-melingkari teknik tangan pada bayi diintubasi dengan
berdiri penyelamat di kepala bayi, sehingga memungkinkan akses yang memadai ke
umbilikus.

Kompresi dan ventilasi harus dikoordinasikan untuk menghindari pengiriman simultan.
Dada harus diizinkan untuk reexpand penuh selama relaksasi, tapi jempol penyelamat tidak
harus meninggalkan dada. Harus ada rasio 3:1 kompresi untuk ventilasi dengan 90 kompresi
dan 30 napas untuk mencapai sekitar 120 kejadian per menit untuk memaksimalkan ventilasi
pada tingkat yang dicapai.
Obat-obatan

Obat jarang ditunjukkan dalam resusitasi bayi baru lahir. Bradikardia pada bayi baru
lahir biasanya merupakan hasil dari inIlasi paru-paru yang tidak memadai atau hypox emia-
mendalam, dan membangun ventilasi yang memadai adalah langkah yang paling penting
menuju mengoreksi itu. Namun, jika denyut jantung tetap ·60 per menit meskipun ventilasi
yang memadai (biasanya dengan intubasi endotrakeal) dengan 100° oksi ¬ gen dan kompresi
dada, administrasi epinephrine atau ekspansi volume, atau keduanya, dapat diindikasikan.
Jarang, buIIer, suatu antagonis narkotika, atau vasopressor mungkin berguna setelah
resusitasi, tetapi ini tidak dianjurkan di ruang bersalin.

Rate dan Dosis EpineIrin Administrasi

EpineIrin dianjurkan untuk diberikan secara intravena. Telah direkomendasikan bahwa
dosis awal epineIrin diberikan melalui tabung endotrakeal, karena dosis dapat diberikan lebih
cepat daripada ketika rute intravena harus ditetapkan. Namun, studi hewan yang
menunjukkan eIek positiI dari dosis epineIrin endotrakeal yang digunakan jauh lebih tinggi
daripada yang saat ini dianjurkan dan satu studi hewan yang digunakan saat ini dosis yang
dianjurkan melalui tabung endotrakeal menunjukkan tidak berpengaruh. Mengingat
kurangnya data yang mendukung untuk epineIrin endotrakeal, rute IV harus digunakan
sesegera akses vena didirikan.

Dosis IV yang direkomendasikan adalah 0,01-0,03 mg / kg per dosis. Tinggi IV dosis
tidak dianjurkan karena hewan dan pediatrik penelitian menunjukkan hipertensi berlebihan,
penurunan Iungsi miokard, dan Iungsi neurologis buruk setelah pemberian dosis IV di kisaran
0,1 mg / kg. Jika rute endotrakeal yang digunakan, dosis 0,01 atau 0,03 mg / kg kemungkinan
akan eIektiI. Oleh karena itu, pemberian IV dari 0,01-0,03 mg / kg per dosis adalah rute
disukai.

BAB III
KESIMPULAN
1. Reusitasi jantung paru adalah usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah
suatu episode henti jantung dengan bantuan pernapasan dan kompresi dada.
2. Indikasi dilakukan RJP adalah henti napas dan serangan jantung
3. Fase-Iase pada RJP adalah Bantuan Hidup Dasar, Bantuan Hidup Lanjut dan Bantuan
terus-menerus.
4. Prosedur RJP terbaru adalah C-A-B, kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas
buatan.
5. Prosedur RJP dapat diterapkan pada bayi, anak dan dewasa.
6. Komplikasi RJP adalah Iraktur tulang iga dan insuIlasi lambung.