ASKEP TRAUMA KEPALA

Disusun oleh : Suryo aji ( 3c )

AKADEMI KEPERAWATAN YAKPERMAS BANYUMAS JL.Raya jompo kulon,Sokaraja,Banyumas 2011

1

Berat • • • Etiologi    Kecelakaan. laserasi. atau hematoma intrakranial. SKG 9 – 12 Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang Dapat mengalami fraktur tengkorak. tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. tidak ada fraktur cerebral. dari 24 jam. (Suriadi & Rita Yuliani. hematoma. Juga meliputi kontusio serebral. Minor • • • 2. anak dengan ketergantungan. dan mobil. Cedera akibat kekerasan. 2 . jatuh. Sedang • • • 3. SKG 13 – 15 Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 Tidak ada kontusio tengkorak. Kecelakaan pada saat olah raga. menit.Pengertian Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala. SKG 3 – 8 Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda. 2001) Klasifikasi Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG): 1.

Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. pembengkakan otak menyebar. atau karena kena lemparan benda tumpul. dan hipotensi. hiperkarbia. seperti badan mobil atau tanah. atau dua-duanya. laserasi substansi alba. Sebagai akibat. pergeseran otak atau hernia. semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial. kerusakan otak hipoksia. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak. Cedera primer. batang otak. 3 . Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler.Patofisiologis Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. yang terjadi pada waktu benturan. mungkin karena memar pada permukaan otak. cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung. cedera robekan atau hemoragi. dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi. yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar. seperti trauma akibat pukulan benda tumpul. serta vasodilatasi arterial.

otot dan vaskuler Terputusnya kontinuitas jaringan tulang Jaringan otak rusak (kontusio. Perub. Dispnea 4. Obstruksi jln.Pathway Trauma kepala Ekstra kranial Tulang kranial Intra kranial Terputusnya kontinuitas jaringan kulit. fungsi otak Gangg. nafas Kompresi medula oblongata Mesesenfalon tertekan Resiko injuri Immobilisasi Resiko gangg. kesadaran Cemas Kurangnya perawatan diri 4 . integritas kulit Gangg. laserasi) Gangguan suplai darah Resiko infeksi Iskemia Hipoksia Perubahan perfusi jaringan Nyeri -Perubahan outoregulasi -Odem cerebral -Perdarahan -Hematoma Kejang Perubahan sirkulasi CSS Gangg. nafas 3. nafas 2. Bersihan jln. Henti nafas 5. persepsi sensori Resiko tidak efektifnya jln. Neurologis fokal Peningkatan TIK Girus medialis lobus temporalis tergeser Mual – muntah Papilodema Pandangan kabur Penurunan fungsi pendengaran Nyeri kepala Defisit Neurologis 1. Pola nafas Herniasi unkus Resiko kurangnya volume cairan Tonsil cerebelum tergeser Gangg.

Manifestasi Klinis ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ ♦ Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih Kebungungan Iritabel Pucat Mual dan muntah Pusing kepala Terdapat hematoma Kecemasan Sukar untuk dibangunkan Bila fraktur. BT) Rotgen Foto CT Scan MRI Penatalaksanaan Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut: 5 . CT. Komplikasi • • • • Hemorrhagie Infeksi Edema Herniasi Pemeriksaan Penunjang     Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin.A. leukosit. mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

sering muntah. Berikan terapi intravena bila ada indikasi. 3. Anak diistirahatkan atau tirah baring. makan-minum. kejang. dan reaksi dari pemberian obat. efek samping. 5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas seharihari di rumah. 6. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu. Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial. 8. 5. dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas fisik. termasuk menurunnya kesadaran. seperti gangguan alat pengaman. Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi. Pembedahan bila ada indikasi. 4. Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi. Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual. mempertahankan jalan nafas selama kejang. demam. 4. Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan. dan perubahan bicara. 7. 2. Aktivitas bermain. 6 . Profilaksis diberikan bila ada indikasi. 3. Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri.1. Observasi 24 jam 2. 7. Pemberian obat-obat analgetik. 8. Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan sudip lidah. perubahan gaya berjalan. kebutuhan kebersihan personal. Rencana Pemulangan 1. Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan. 6.

7 . f. Pengkajian 1. ataksik) b. Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik  hemiparesis/plegia. hipestesia. kekuatan otot. biot. status kesadaran saat kejadian. aldosteron : retensi natrium dan cairan. riwayat e. inkontinensia. otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial. posisi saat kejadian. pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian. penyebab trauma. anestesi. rasa baal. hiperventilasi. Sistem respirasi : suara nafas. Riwayat kesehatan: waktu kejadian. adanya refleks batuk. Retensi urine. nyeri. 2. refleks menelan. pola nafas (kusmaull. Fungsi saraf kranial  trauma yang mengenai/meluas ke batang Fungsi sensori-motor  adakah kelumpuhan. Sistem saraf :   Kesadaran  GCS. gangguan gerak volunter. Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK c. Pemeriksaan fisik a. Jika pasien sadar  tanyakan pola makan?   Waspadai fungsi ADH. gangguan diskriminasi suhu. konstipasi. cheyene stokes. hiperalgesia. Sistem pencernaan  Bagaimana sensori adanya makanan di mulut. d. Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan  disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis. ROM. mudah tersedak.  kejang. kemampuan mengunyah.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A.

Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial. 6. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi. Intervensi Keperawatan 1. 9. Tujuan: Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas. Breathing. dan pernafasan dalam batas normal. Diagnosa Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah: 1. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala. Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala. jalan nafas bersih. adanya sekresi. 4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah. 8. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.g. 3. Intervensi: − Kaji Airway. B. dan meningkatnya tekanan intrakranial. 2. 7. Psikososial  data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas. gangguan fungsi pergerakan. Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas. 8 . Circulasi. dan meningkatnya tekanan intrakranial. adanya sekresi. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial. gangguan fungsi pergerakan. 5. Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.

gunakan sentuhan therapeutic. dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir. ciptakan lingkungan yang tenang. − Kaji status pernafasan kedalamannya. Intervensi: − Tinggikan posisi kepala 15 – 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis. Tujuan: Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat. rangsangan nyeri. usaha dalam bernafas. hindari percakapan yang emosional. fleksi (harus bersamaan). Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra. 2. kesadaran tidak menurun.− Kaji anak. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial. rotasi kepala. pembalikan posisi dari samping ke samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher). prosedur (peningkatan lendir atau suction. − Hindari tangisan pada anak. perkusi). − Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya  peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher. − Bila akan memiringkan anak. valsava meneuver. − Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. 9 . apakah ada fraktur cervical dan vertebra. harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan. − Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 – 30 derajat. − Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver. − Pemberian oksigen sesuai program.   tekanan pada vena leher.

− Pemberian − − − − − obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program. bila perlu pemakaian pelembek tinja Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan untuk memudahkan BAB. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran. Kaji adanya konstipasi. membersihkan tempat tidur. sehari-hari dan demonstrasikan. yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. makan – minum. dan pemenuhan nutrisi. Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi. mengenakan pakaian. seperti bagaimana cara memandikan 10 . dan kebersihan perseorangan. Perawatan kateter bila terpasang. buang air besar dan kecil dapat dibantu. BAK dan BAB. tubuh anak bersih. tempat tidur bersih. Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi Libatkan orang tua dalam perawatan anak dan jelaskan hal-hal karena dapat meningkatkan edema serebral. Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan Monitor intake dan out put. tidak ada iritasi pada kulit. − − − − anak. 3. Lakukan kateterisasi bila ada indikasi. Tujuan: Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan berat badan. Intervensi: − Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas.

menurunnya refleks. kurangnya respon terhadap nyeri. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah. Berikan analgetik sesuai program. Intervensi: − Kaji status neurologis anak: perubahan kesadaran. membran mukosa. 5. 6. integritas kulit baik. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial. dan Berikan cairan intra vena sesuai program. protokol. dan tanda-tanda vital dalam batas normal. ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine. dan nilai elektrolit dalam batas normal. Intervensi: − − − Kaji intake dan out put. Tujuan: Anak terbebas dari injuri. aktivitas pergerakan menurun.4. Tujuan: Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan anak tidak mengeluh nyeri. Intervensi: 11 . Nyeri berhubungan dengan trauma kepala. Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab. dan kejang. − − − − Kaji tingkat kesadaran dengan GCS Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai dengan Berikan istirahat antara intervensi atau pengobatan. perubahan pupil. Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit.

serangannya. 7. lamanya. . Tujuan: Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal. Berikan sentuhan terapeutik. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala. termasuk kaku kuduk. Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri. sakit kepala. catat lokasi nyeri. Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur. muntah dan kenjang. nafas cepat atau lambat. lakukan distraksi dan relaksasi. Kurangi rangsangan. Pemberian obat analgetik sesuai dengan program. berkeringat dingin. 8. tidak ada pus dari luka. Intervensi: − − − − Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur yang akan Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anak. − − − − − Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri. Tujuan: Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang yang ditandai dengan tidak gelisah dan orang tua dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi dan aktif dalam perawatan anak. Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan perasaan. Intervensi: − − − − Kaji adanya drainage pada area luka. iritabel. Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati. dan tujuannya. 12 dilakukan. peningkatan nadi. Kaji tanda dan gejala adanya meningitis. Gunakan komunikasi terapeutik.− Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri. demam. leukosit dalam batas normal.

Lakukan “back rub” setelah mandi di area yang potensial dan kondisi anak.9. Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh. menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri. Intervensi: − − − − − Lakukan latihan pergerakan (ROM). 13 . Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai dengan kebutuhan Kaji area kulit: adanya lecet. Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.

Suzanne CS & Brenda GB. 2000. Jakarta: CV Sagung Seto. 1999. Volume II. Edisi 3. Buku Ajar Medikal Bedah. Pendekatan Holistik. Jakarta: EGC. 2. Keperawatan Kritis. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Asuhan Keperawatan Pada Anak. 14 . 4. Jakarta: EGC. Edisi I. Suriadi & Rita Yuliani. Hudak & Gallo. Jakarta: EGC. Edisi 8. Cecily LB & Linda AS. 3. 2001. Volume 3.DAFTAR PUSTAKA 1. 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful