You are on page 1of 11

PENGUKURAN JUMLAH ERITROSIT, LEUKOSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Arif Dwi Jayanto : B1J010113 :I :4 : Farda Komarudin

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Darah adalah matriks cairan dan merupakan jaringan pengikat

terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas. Sel-sel darah dapat dibedakan menjadi eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (keping darah). Plasma darah tersusun atas 90% air, 7-8 % protein (albumin, globulin), 1 % elektrolit dan sisanya 1-2% berbagai zat makanan seperti glukosa, asam amino, lipid dan vitamin, intermediet metabolit seperti piruvat dan laktat, limbah nitrogen seperti urea dan asam urat, gas-gas seperti CO2 dan O2, garamgaram mineral dan hormon. Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam %. B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah memberikan ketrampilan pada mahasiswa tentang cara pengambilan darah hewan, mengetahui perbedaan bentuk sel darah pada berbagai hewan, serta cara melekukan perhitungan sel darah merah dan putih dan Hb pada hewan.

II. MATERI DAN METODE A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah haemometer, hemositometer, mikrosentrifuse haemotokrit, pipet kapiler, pipet isap, mikroskop, haemotokrit reader, spuit dan hand counter. komparator, batang pengaduk, mikroskop. Bahan yang digunakan adalah darah hewan coba (ikan, ayam dan mencit), larutan Hayem, larutan Turk, larutan 0,1 N HCL, lancet dan akuades. B. Metode Menghitung jumlah leukosit : 1. 2. 3. Darah hewan coba diisap dengan mikropipet sampai pengenceran 10 kali, kemudian ujungnya dibersihkan dengan kertas isap. Larutan Turk diisap yang telah dituangkan terlebih dahulu dalam tabung reaksi, sampai angka 11. Pipa karet (yang dipakai untuk menghisap) diambil dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk dan dikocok selama 2 menit. 4. 5. 6. 7. Dibuang beberapa tetes (1-2 tetes), kemudian tetes berikutnya digunakan untuk perhitungan. Disiapkan bilik hitung, diteteskan cairan dalam pipet sehingga cairan dapat masuk ke dalam bilik hitung. Diamati dengan menggunakan mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat. Dihitung semua leukosit yang terdapat di dalam bujur sangkar pojok. Jadi jumlah bujur sangkar yang dihitung menjadi 416 = 64 bujur sangkar dengan sisi masing-masing mm. Menghitung jumlah eritrosit : 1. 2. Darah hewan coba diisap dengan mikropipet sampai pengenceran 10 kali, kemudian ujungnya dibersihkan dengan kertas isap. Larutan Hayem diisap yang telah dituangkan terlebih dahulu dalam tabung reaksi, sampai angka 101.

3.

Pipa karet (yang dipakai untuk menghisap) diambil dari pipet, kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk dan dikocok selama 2 menit.

4. 5. 6. 7.

Di buang beberapa tetes (1-2 tetes), kemudian tetes berikutnya digunakan untuk perhitungan. Disiapkan bilik hitung, diteteskan cairan dalam pipet sehingga cairan dapat masuk ke dalam bilik hitung. Diamati dengan menggunakan mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat. Dihitung semua eritrosit yang terdapat di dalam bujur sangkar kecil dengan sisi 1/20. Jadi jumlah bujur sangkar yang dihitung 80.

Mengukur kadar Hb dengan metode Sahli : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tabung sahli diteteskan 0,1 larutan HCL hingga batas 10. Darah hewan coba diisap dengan pipet isap hingga skala 20l. Darah diteteskan dengan segera ke tabung haemometer yang telah berisi HCL. Pipet dibilas beberapa kali dengan larutan HCL tersebut. Larutan HCL dan darah diaduk dengan batang pengaduk. Tabung diletakkan pada komparator yang memiliki warna pembanding, setelah sekitar satu menit, diteteskan akuades ke campuran darah tadi. Dibandingkan warnanya dengan warna pembanding, setelah sesuai penetesan dihentikan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Tabel 1.Hasil pengukuran jumlah eritrosit, leukosit dan kadar hemoglobin pada hewan uji Sampel Darah Mencit Ikan Ayam Kelompok 1 2 3 4 5 6 Leukosit(sel/mm3) 43.800 33.800 14.625 14.625 394.800 39.950 Eritrosit(sel/mm3) 3.250.000 3.250.000 425.000 425.000 198.500 1.835.000 Kadar Hb/(g/dl) 11,8 11 2,8 2,6 6 7

Perhitungan kelompok 4 sampel darah ikan: Jumlah Eritrosit : E1= 15 E2= 18 E3= 17 E4= 16 E5= 19 Eritrosit = 5.000 x (E1 + E2 + E3 + E4 + E5) = 5.000 x (15 + 18 + 17 + 16 + 19) = 5.000 x 85 = 425.000 sel/mm3 Jumlah Leukosit : L1= 134 L2= 156 L3= 144 L4= 151 Leukosit = L/64 x 160 x10 = 25 L = 25 x (L1 + L2 + L3 + L4) = 25 x (134 + 156+ 144 + 151) = 25 x 585 = 14.625 Kadar Hb = 2,6 g/dl B. Pembahasan Darah merupakan jaringan pengikat yang umumnya mempunyai komposisi plasma darah dan sel-sel darah. Plasma terdiri dari 0,10% gas, 90% air;

7-8% protein, 1% elektrolit dan sisanya (1-2%) adalah zat lain. Sel-sel darah berbeda-beda, korpuler berkembang dalam jaringan retikuler organ-organ pembentukan darah dan masuk ke dalam aliran darah sebagai sel-sel matang. Selsel darah dapat dibedakan menjadi eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (keping darah). Eritrosit merupakan tipe sel darah yang jumlahnya paling banyak, berbentuk lonjong dan berinti kecuali pada mammalia. Ukuran eritrosit berbeda pada setiap spesies. Eritrosit berbentuk oval dengan diameter 7-20 m (Lagler et al., 1977). Menurut Soetrisno (1981), darah memiliki fungsi antara lain : 1. Mengangkut zat-zat makanan dari saluran pencernaan ke dalam jaringan. 2. Mengangkut oksigen (O2) dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru. 3. Mengangkut metabolis dari jaringan ke alat sekresi. 4. Mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke organ target. 5. Memelihara keseimbangan air dalam tubuh. 6. Mempertahankan suhu tubuh karena panas jenisnya yang tinggi. 7. Memelihara pH jaringan dan cairan tubuh. 8. Membantu pertahanan tubuh terhadap bermacam-macam penyakit. Eritrosit pada burung dan ikan berbentuk elips dan mempunyai inti. Organ pembentuk sel darah merah pada bangsa burung adalah sumsum tulang belakang, di samping lien (APA INI) juga menghasilkan sel darah merah dalam jumlah sedikit (Soetrisno, 1981). Warna merah pada eritrosit berasal dari hemoglobin dimana kandungan Hb pada burung sekitar 15-18 gm/100 ml darah dan pada ikan sekitar 6-11 gm/100 ml darah. Eritrosit pada ayam dapat hidup selama 28-38 hari. Eritrosit berfungsi untuk mentranspor O2 ke sel leukosit, memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel yang semuanya mampu bergerak pada keadaan tertentu (Delman dan Ester, 1992). Menurut Yuwono (2001), eritosit pada mamalia dapat hidup selama 120 hari. Bentuk eritrosit pada mamalia, burung dan ikan berbeda-beda. Sel darah mamalia tidak mempunyai inti dan juga tidak memiliki organel lain seperti mitokondria. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit antara lain ketinggian tempat, status makanan, iklim, keadaan fisiologis, umur, jenis kelamin,

keadaan sekitar dan keadaan patologis. Sementara jumlah leukosit dalam darah bervariasi menurut umur, jenis kelamin dan keadaan fisiologis Menurut Soetrisno (1987), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan dan partus. Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Sel darah putih berperan dalam melawan infeksi. Untuk (tidak boleh diawal kalimat) melaksanakan fungsinya dalam menanggapi suatu zat kimia umpan, leukosit akan keluar melalui dinding kapiler di area terjadinya kerusakan jaringan. Bila telah bebas dalam jaringan, mereka akan mulai dengan fagositosis. Leukosit merupakan salah satu pertahanan tubuh yang utama terhadap infeksi. Leukosit atau sel-sel darah putih bukan merupakan komponen yang tetap dalam darah dan sel-sel darah putih bermigrasi ke jaringan dimana sel-sel darah putih dapat melakukan berbagai fungsi. Berdasarkan jenis granula dalam sitoplasma dan bentuk intinya, sel darah putih digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu granulosit dan agranulosit. Leukosit granulosit memiliki 2 jenis granula, yaitu granula spesifik dan granula azurofilik. Golongkan granulosit ialah neutrofil, eosinofil dan basofil. Agranulosit tidak memiliki memiliki granula spesifik. Limfosit dan monosit termasuk dalam kelompok agranulosit. Leukosit terlibat dalam pertahanan selular dan humoral dari organisme terhadap materi asing (Junqueira et al., 1997). Trombosit berasal dari megakaryosit yaitu sel-sel yang terdapat di dalam sumsum tulang belakang. Trombosit berbentuk oval dengan diameter 2-4 m. Trombosit memegang peranan penting pada proses koagulasi darah, sehingga mencegah kehilangan darah bila ada pembuluh darah yang rusak (Soetrisno, 1981). Haemoglobin merupakan senyawa organik yang kompleks terdiri atas 4 pigmen porfirin merah yang mengandung atom Fe dan globulin yang merupakan protein globuler (terdiri atas 4 asam amino). Haemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihaemoglobin. Haemoglobin bertanggungjawab terhadap transport oksigen dan karbondioksida dalam darah. Peningkatan kadar

haemoglobin akan diikuti oleh peningkatan kadar hematokrit (Maheswaran et al., 2008). Berdasarkan hasil praktikum didapat jumlah leukosit pada ikan sebesar 14.625 sel/ml. Hal ini berbeda dengan pernyatan Moyle dan Cech (2001) yang menyatakan bahwa jumlah leukosit pada sel darah ikan adalah 20.000-150.000 sel/mm3. Menurut Ville et al., (1988), perbedaan ini ada karena pada dasarnya jumlah leukosit dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain makanan, aktivitas, zat kimia dan kondisi stress. Menghitung jumlah eritrosit dan jumlah leukosit menggunakan hemositometer. Menghitung kadar Hb menggunakan haemometer dan pengukuran hematokrit menggunakan hematokrit reader. Pengenceran eritrosit digunakan larutan hayem sedangkan pengenceran leukosit digunakan larutan turk (Soetrisno, 1981). Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%). Nilai hematokrit atau volume sel packed adalah suatu istilah yang artinya persentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Mengukur kadar hematokrit darah hewan uji digunakan tabung mikrohematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA (Etil Diamin Tetra Acetid Acid) yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total. Angka hematokrit adalah persentase jumlah eriotrosit per unit volume pada darah. Nilai hematokrit normal untuk orang dewasa berkisar dari 35-50 tergantung jenis kelamin. Seseorang yang mempunyai angka hematokrit 40, maka 40% dari volume darah adalah sel sedang sisanya adalah plasma. Hematokrit darah ditentukan dengan memutar darah dalam tabung berkalibrasi. Kalibrasi ini langsung menyatakan besar persentase sel. Persentase darah semakin besar berarti semakin besar angka hematokrit (Soetrisno, 1981). Volume darah dipengaruhi oleh empat faktor yaitu ekspresi ginjal, permukaan trans kapiler, produksi sel darah merah dan pertukaran cairan melewati ephithelium. Volume darah dapat turun (berkurang) karena penyakit

anemia (pendarahan yang hebat). Jumlah eritrosit sendiri dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian dan keadaan stress (Soetrisno, 1981). Organisme yang terserang penyakit akan terjadi perubahan pada nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan sel darah putih. Pemeriksaan darah (hematologis) dapat digunakan sebagai indikator tingkat keparahan suatu penyakit. Studi hematologis merupakan kriteria penting untuk diagnosis dan penentuan kesehatan ikan (Alamanda et al., 2007).

KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. Eritrosit dan leukosit memiliki ciri ciri yang berbeda dan dapat dihitung menggunakan alat dan metode tertentu. Menghitung haemositometer, 3. jumlah eritrosit kadar dan Hb jumlah leukosit menggunakan dan menghitung menggunakan hemometer,

pengukuran hematokrit menggunakan hematokrit reader. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit adalah aktivitas, jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian dan keadaan stress, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit adalah jenis kelamin, umur, aktivitas, kondisi lingkungan dan infeksi.

DAFTAR REFERENSI Alamanda, I.E., N.S. Handajani, dan A. Budiharjo. 2007. Penggunaan Metode Hematologi dan Pengamatan Endoparasit Darah untuk Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di Kolam Bididaya Desa Mangkubumen Boyolali. Biodiversitas, 8(1): 34-38. Delman, H.D dan M.B. Ester. 1992. Buku Teks Histologi Veterinner I. UI Press, Jakarta. Junqueira, D. C. 1997. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta. Lagler K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R. Passino. 1977. Ichtiology Second Edition. Jhon Willey and Sons, New York. Moyle, P.B. and J.J. Cech. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th. Prentice, Inc. London. Paulsen, D. F. 2000. Histology and Cell Biology 4th Edition. Mc Graw Hill, New York. Maheswaran. R, Devapaul, A, Mularidharan. S, Velmurugan. B, Ignacinuthu. S. 2008. Hematological Studies of fresh water fish, Chlarias batrachus (L.) exposed to mercuric chloride. Inational Journal of Integrative Biology janan disingkat tambah volume nomor berapa n nomor halaman contoh 2(1): 49-54. Soetrisno, P.E. 1981. Diktat Fisiologi Ternak. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ville, C.A, W.F.J. Walker and R.D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Penerbit Erlangga, Jakarta. Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.