PUSTAKA BOKASHI JERAMI Pendahuluan

Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industry, serta limbah pertanian dan perkebunan. Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik. Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua material orgaengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku pengomposan.

.

5. dan meningkatkan kemampuan menahan air. 3. Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek: Aspek Ekonomi : 1. 2. dan jumlah panen) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya merangsang granulasi. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan Aspek bagi tanah/tanaman: 1. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur. 6. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya Aspek Lingkungan : 1. . lebih berat. 4. memperbaiki aerasi tanah. 7. 8. lebih segar. dan S. P. 1980). dan lebih enak. nilai gizi. Aktivitas mikroba tanah juga d iketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. Meningkatkan kesuburan tanah Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah Meningkatkan aktivitas mikroba tanah Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Mengurangi volume/ukuran limbah 3.Manfaat Kompos Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah 2. misal: hasil panen lebih tahan disimpan.

70o C. oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. 2009. Hasil penelitian Handayani. limbahlimbah pertanian. dll. namun kadar fosfor tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan NPK. Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap. yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Pemberian kompos akan menambah bahan organik tanah sehingga meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan memengaruhi serapan hara oleh tanah. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan Hortikultura. Dasar-dasar Pengomposan Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan. Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase (kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu (Saccharum officinarum L) meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan setelah tiga bulan pengaplikasian dibandingkan degan yang tanpa kompos. dan diameter dari batang. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. menjadi lebih baik dibandingkan dengan NPK. limbah-limbah agroindustri. misalnya: limbah organik rumah tangga. caisin (Brassica oleracea). berdasarkan hasil uji Duncan. kertas. Mikrobamikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik . kalium. namun tidak ada peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor. Selama tahap-tahap awal proses. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang ditelitinya ketika itu. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o . sampah-sampah organik pasar/kota. dan sulfur. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. limbah pabrik kertas. Bahan organik yang sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang. tanduk. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan pupuk anorganik tidak memberikan efek apapun pada pertumbuhan bibit. Penelitian Abdurohim. dan rambut. mengingat media tanam subsoil merupakan media tanam dengan pH yang rendah sehingga penyerapan hara tidak optimal. pupuk cacing (vermicompost) memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik pada pertumbuhan bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. limbah pabrik gula. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik. namun diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam tebu. yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. menunjukkan bahwa kompos memberikan peningkatan kadar Kalium pada tanah lebih tinggi dari pada kalium yang disediakan pupuk NPK. Proses Pengomposan Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah dicampur. limbah pabrik kelapa sawit. tinggi. 2008. dan sebagainya. kotoran/limbah peternakan.Beberapa studi telah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan pertumbuhan tanaman. walau tanah dalam keadaan masam. Indikatornya terdapat pada diameter batang.

asam valerat. puttrecine). Skema Proses Pengomposan Aerobik Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Setelah sebagian besar bahan telah terurai.menjadi CO2. uap air dan panas. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan. maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik. Namun. yaitu pembentukan komplek liat humus. proses ini tidak diinginkan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut. asam butirat. amonia. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. dan H2S. Proses anaerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap. dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. karena selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap. seperti: asam-asam organik (asam asetat. Gambar profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan . Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan.

Untuk menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus. dsb). rayap.109. maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. atau bahkan mati. misalnya menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman. Umumnya.105 Proses pengomposan tergantung pada : 1. ranting. semut. masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi. 1991) atau dengan menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen. pindah ke tempat lain. 105 108. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai. Karakteristik bahan yang dikomposkan 2.Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan Kelompok Organisme Mikroflora Mikrofanuna Makroflora Makrofauna Organisme Bakteri. maka organisme tersebut akan dorman. terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu. mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat. kutu. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. Apabila kondisinya sesuai. Apabila rasio C/N terlalu tinggi.106 104 . Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain: Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. dll Jumlah/gr kompos 109 . 104 . Aktivator pengomposan yang dipergunakan 3. . ampas tebu. Kapang Protozoa Jamur tingkat tinggi Cacing tanah. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Metode pengomposan yang dilakukan Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Aktinomicetes.

Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembaban). maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benihbenih gulma. akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman). Apabila aerasi terhambat. akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. volume udara berkurang. secara temporer atau lokal. Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%. Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos.60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Porositas Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Apabila kelembaban di bawah 40%. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob).5 sampai 7. proses pelepasan asam. hara akan tercuci. . Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen.Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Kelembaban 40 . Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap.4. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5.60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Temperatur yang berkisar antara 30 . sedangkan produksi amonia dari senyawasenyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Sebagai contoh. aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.8 hingga 7. Apabila rongga dijenuhi oleh air. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup.

Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. yaitu: 1.0 43 – 66oC Strategi Mempercepat Proses Pengomposan Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Cu. Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak. Menggabungkan strategi pertama dan kedua. Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. Secara umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing). Logam-logam berat seperti Mg. 2. .Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan.0 54 -60Oc Konsentrasi oksigen tersedia > 5% Ukuran partikel Bulk Density pH Suhu 1 inchi 1000 lbs/cu yd 5. 3. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan. Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan.5 – 8. Nickel.5 – 9. Zn. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang. 1992) Kondisi Rasio C/N Kelembaban Konsisi yang bisa diterima 20:1 s/d 40:1 40 – 65 % Ideal 25-35:1 45 – 62 % berat > 10% bervariasi 1000 lbs/cu yd 6. metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan.

Sebagai contoh. Menggunakan Aktivator Pengomposan Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan. Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). SuperDec. Cytopaga sp. yaitu: Trichoderma pseudokoningii. Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah mengabungkan dua strategi di atas. maupuan kapang/cendawan. Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang bersamaan. baik bakeri. ActiComp. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan. Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Karakteristik bahan yang akan dikomposkan. SuperDec. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan kascing. Stardec.Memanipulasi Kondisi Pengomposan Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. OrgaDec. aktinomicetes. dan lain-lain. BioPos. EM4. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan. Promi. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan: 1. kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Promi. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. . Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba. Namun. dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Saat ini dipasaran banyak sekali beredar aktivatoraktivator pengomposan. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah. misalnya :Green Phoskko(GP-1). seperti kotoran ternak. Trichoderma harzianum. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pengomposan. rasio C/N yang optimum adalah 25-35:1. Pholyota sp. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah. OrgaDec. Starbio.

Sekop o Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya 3. Tingkat kesulitan pembuatan kompos Pengomposan secara aerobik Peralatan Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos. Masker o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya . 3.½ m. Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai. Terowongan udara (Saluran Udara) o Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara o Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu o Dimensi : panjang 2m.2. Saringan/ayakan o Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai o Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan o Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar 5. Berikut disajikan peralatan yang digunakan. Garpu/cangkrang o Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah 4. Sarung tangan o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan 9. Sepatu boot o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya 8. tinggi ½ m o Sudut : 45o o Dapat dipakai menahan bahan 2 – 3 ton 2. lebar ¼ . Timbangan o Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan o Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan 7. Termometer o Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan o Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat o Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah 6. 4. 1.

Komposter type Rotary Kiln. sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos 3. menggunakan proses pembalikan bahan dan mengontrol aerasi dengan cara mengayuh pedal serta memutar aerator ( exhaust fan). Pembalikan o Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan. o Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1. meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan. Penyiraman o Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu kering (kelembaban kurang dari 50%).Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang lebih maju dan modern. berfungsi dalam memberi asupan oksigen ( intensitas aerasi). Komposter type Rotary Klin di pasaran terdapat dengan kapasitas 1 ton setara 3 m3 hingga 2 ton atau setara 6 m3 bahan sampah. Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan 2.75m. Tahapan pengomposan 1. suhu serta membalik bahan secara praktis. Penggunaan komposter Biophoskko disertai aktivator kompos Green Phoskko (GP-1) telah mampu meningkatkan kerja penguraian bahan organik(dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari saja. memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan. serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil. o Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan. . misalnya. menjaga kelembaban. Pengecil Ukuran o Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah. Pemilahan Sampah o Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Penyusunan Tumpukan o Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan. 5. meratakan pemberian air. 4.

Penyaringan o Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses. 5. o Kontrol proses produksi kompos 1. 3. 2.Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan. o Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru. Monitoring Temperatur Tumpukan Monitoring Kelembaban Monitoring Oksigen Monitoring Kecukupan C/N Ratio Monitoring Volume . sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu. maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh. Pengemasan dan Penyimpanan o Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan kebutuhan pemasaran. 4. 6. suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan. udara (O2). 3. sedangkan jika sebelum diperas sudah keluar air. maka tumpukan terlalu basah oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan. 8. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik. Jasad renik membutuhkan air. berwarna coklat tua atau kehitaman. o Pada saat itu tumpukan telah lapuk. o Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal. 7. Proses pengontrolan Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah: 1. 2. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari. o Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air. Pematangan o Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari.

o Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan. Toharisman. E. Bogor. Purwono. 17 Februari 2005. A. 2008.). Improvig Soil Fertility Through Organic Recycling. sebuah prosiding. Mutia.Mutu kompos 1. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah. o Tidak larut dalam air. Institut Pertanian Bogor. Isroi. sebuah skripsi. tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya. 2005. C. 1980. Dalam IPB Repository diunduh 13 Juni 2010. o Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah. Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L. 2003. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut : o Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah. Handayani. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman 3. dan o Tidak berbau. Bogor. . diunduh 13 Juni 2010. Gaur. Present Status of Composting and Agricultural Aspect. o Nisbah C/N sebesar 10 – 20. 2. in: Hesse. Literatur        Abdurohim. Oim. R. dan Sarwono. sebuah skripsi. New Delhi. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Makalah. FAO of United Nation. P. meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi. 2009. Rohendi. Compost Technology. Dalam IPB Repository. D. 2008. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. 1991. (ed). Dalam Buletin Agronomi. KOMPOS. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta. Guntoro Dwi. Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara Dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur.

Hal tersebut sangat wajar karena pupuk alami semacam bokashi biasanya memang mengandung unsur hara dalam dosis kecil. Suhu adonan dicek setiap 5 jam sekali. Sejumlah petani di beberapa daerah bahkan telah mulai melirik jenis pupuk lain sebagai pengganti pupuk kimia buatan yang biasa digunakan. bahan baku bokashi tersedia melimpah dan bahkan seringkali dianggap sebagai limbah sehingga kerap dihargai sangat murah.Cara pembuatan bokashi jerami. Cara pembuatan bokashi jerami. sekam dan dedak sampai merata 3. Di Jepang. Siram adonan dengan larutan EM 4 sampai kandungan air adonan mencapai 50 % atau bila adonan dikepal air tidak menetes dari adonan. Padahal bila mau. Air (20 liter) Cara pembuatan : 1. Gula pasir (5 sendok makan) 5. Pertahankan suhu adonan 40-50 o C. Adonan digundukkan di atas ubin kering dengan ketinggian 15-20 cm kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Salah satu jenis pupuk yang dapat menggantikan kehadiran pupuk kimia buatan adalah bokashi. serbuk gergajian. Tingginya harga pupuk kimia buatan dan kelangkaan pupuk di sejumlah wilayah saat ini sangat meresahkan para petani. Bahan-bahan tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang mempercepat proses fermentasi. 4. dan bila kepalan dilepas adonan akan megar. Larutkan EM4 dan gula kedalam air 2. 1. Dedak (1 bagian) 3. namun lengkap unsur makro dan mikronya. Campur jerami. Sekam (20 bagian) 4. Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam. bila suhu lebih . dipotong sepanjang 5-10 cm (20 bagian) 2. Selain itu bokashi juga terbukti meningkatkan kesuburan serta produktifitas tanaman meski efek ini baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun penggunaan. Banyak petani di negeri sakura memilih bokashi untuk lahan pertaniannya dikarenakan bokashi dapat memperbaiki struktur tanah yang sebagian besar telah menjadi keras akibat penggunaan pupuk kimia terus-menerus. Jerami. 5. Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective microorganism (EM). kotoran hewan dan lain-lain. EM4 (5 semdok makan) 6. Penggunaan EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik. Bahan : 1. Cara Pembuatan Bokashi cukup mudah dibuat sendiri. Belum diketahui dengan jelas mengapa petani di Indonesia enggan menggunakan bokashi. jerami. bokashi telah digunakan sejak tahun 80-an.

Bahan-bahan organik lainnya dapat dibuat bokashi dengan campuran bahan serta cara membuat seperti diatas. Pada tanag sawah pemberian bokahi dilakukan pada saat pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 1 bulan. Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam. bokashi telah digunakan sejak tahun 80-an. Seminggu kemudian bibit siap ditanam. Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective microorganism (EM). Setelah 4 hari bokashi selesai terfermentasi dan dapat digunakan sebagai pupuk. Banyak petani di negeri sakura memilih bokashi untuk lahan pertaniannya dikarenakan bokashi dapat memperbaiki struktur tanah yang sebagian besar telah menjadi keras akibat penggunaan pupuk kimia terus-menerus. Hal tersebut sangat wajar karena pupuk . Setelah bokashi disebar. Cara Penggunaan Bokashi dapat disebar merata di atas permukaan tanah dengan dosis 3-4 genggam /meter persegi. 6. semprotkan 2 cc EM4/Liter air ke dalam tanah. Kemudian tanah dicangkul atau dibajak.dari 50 o C karung penutup dibuka lalu adonan dibolak-balik kemudian kembali ditutup. Untuk tanaman buah-buahan. Bahan-bahan tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang mempercepat proses fermentasi. jerami. Pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih banyak. Di Jepang. bokashi disebar merata di permukaan tanah/perakaran tanaman. untk mencampurkan bokashi. Dapat pula dibuat bokashi ekspres (matang dalam 24 jam) dengan komposisi bahan sbb: 2. Penggunaan EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik. serbuk gergajian. Penyiraman dengan EM 4 (2 cc EM4/Liter ) dilakukan tiap 2 minggu sekal Membuat Bokashi 18 05 2009 12 Votes Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang telah difermentasikan”. Bokashi jadi (20 bagian) Jerami/daun kering/sekam/serbuk gergaji atau bahan lain yang dapat difermentasi (20 bagian) Dedak (2 bagian) Gula pasir (5 sendok makan) Air (20 liter) Cara membuat sama dengan di atas. kotoran hewan dan lain-lain. Selain itu bokashi juga terbukti meningkatkan kesuburan serta produktifitas tanaman meski efek ini baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun penggunaan.

Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi . dll) .Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing. Potong sampah basah (3-5 cm). 1 kg per 10 liter air . Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm.EM-4 1 liter . Aplikasi: Untuk tanaman tahunan semisal karet.Air bersih 200 liter . dan lainnya. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air. kecuali jika menggunakan sekam 2. lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari. air tidak keluar dan bila kepalan dibuka. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotorandedak. Tandanya. 5.Dedak/bekatul 50 kg .Pupuk Bokashi 1.Hijauan daun (secukupnya) .EM-4 1 liter . pupuk bokashi siap digunakan. sapi. sapi. Syam Asinar Radjam : (http://dusunlaman.Terasi 1 kg . A. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam. jerami. sekam. bila campuran dikepal.Gula pasir 1 kg .net/?p=143) 2. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi. sisa sayuran. Bokashi Cair a) Bahan: . ayam. coklat. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul.Hijauan daun 200 kg (hijauan daun. adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %.Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing. 6. adonan tidak buyar. Setelah satu minggu. dll) . gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. 7. ayam.Air secukupnya Tahapan Pembuatan: 1.alami semacam bokashi biasanya memang mengandung unsur hara dalam dosis kecil.Larutan gula pasir. Bokashi Padat Bahan: . 4. hingga rata 3. dll) . namun lengkap unsur makro dan mikronya.

gula. 5. yaitu campuran gula 250 g dilarutkan dalam air 1 liter. Aplikasi: 1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. 4. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air 3. sekam dan dedak sampai merata 3. isi drum dengan air lagi hingga hampir penuh. Larutkan EM4 dan gula kedalam air 2. 4. bokashi siap digunakan (Oleh: Beben) 4. Pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih banyak. aduk terus 4 s/d 5 kali.Tahapan Pembuatan: 1. aduk terus hingga merata lalu tutup rapat. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter. Jerami. siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit. Dedak (1 bagian) 3. b) cari.25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan. lakukan hingga hari ke 5. Pupuk kandang dihaluskan 2. Drum ditutup rapat. Kemudian tanah dicangkul atau dibajak. 5. masukan ke dalam drum pupuk kandang 30 kg. aduk sampai tercampur. lalu tutup lagi. dipotong sepanjang 5-10 cm (20 bagian) 2. wadah kosong drum pertamina yang besar ukuran 200 liter. pupuk kandang. EM4 isi drum dengan air hingga setengahnya. siapkan bahan-bahannya : air. a) Bahan : 1. Pada tanag sawah pemberian bokahi dilakukan pada saat . 6. Setelah 4 hari bokashi selesai terfermentasi dan dapat digunakan sebagai pupuk. Gula pasir (5 sendok makan) 5. bila suhu lebih dari 50 o C karung penutup dibuka lalu adonan dibolak-balik kemudian kembali ditutup. Selanjutnya. setiap pagi akan muncul busa gelembung udara hasil proses fermentasi. Sekam (20 bagian) 4. buatkan molase. Air (20 liter) Cara pembuatan : 1. Adonan digundukkan di atas ubin kering dengan ketinggian 15-20 cm kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. pastikan tidak bolong bawahnya. Pertahankan suhu adonan 40-50 o C. Suhu adonan dicek setiap 5 jam sekali. dan bila kepalan dilepas adonan akan megar. Campur jerami. Bokashi dapat disebar merata di atas permukaan tanah dengan dosis 3-4 genggam /meter persegi. tuangkan ke dalam drum molase tadi beserta EM4 1 liter. Bokashi Jerami 4. EM4 (5 semdok makan) 6. untk mencampurkan bokashi. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari. Siram adonan dengan larutan EM 4 sampai kandungan air adonan mencapai 50 % atau bila adonan dikepal air tidak menetes dari adonan.

adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Bokashi jerami sangat baik untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. dibuat larutan dari EM4. 2. . dedak 0. Inkubasikan selama 48 jam. bokashi disebar merata di permukaan tanah/perakaran tanaman. Cara pembuatan 1. bahan jerami. jerami 10 kg (bisa juga rumput/tanaman kacangan) (ukuran 5-10 cm). Seminggu kemudian bibit siap ditanam.5 kg dan sekam 10 kg. 3. sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering. EM4 2 sendok makan (10 ml). Penyiraman dengan EM 4 (2 cc EM4/Liter ) dilakukan tiap 2 minggu sekali 4. 4. 2. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah. semprotkan 2 cc EM4/Liter air ke dalam tanah. bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. setelah 4 hari karung goni dapat dibuka. . 6. 3.pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 1 bulan. 5. 4. Setelah bokashi disebar. Untuk tanaman buah-buahan. bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. b) Bahan: 1. molase/gula dan air dengan perbandingan 1 ml: 1 g: 1 liter air. Molase atau gula 2 sendok makan (10 g) dan air secukupnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful