LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA THORAX (Pneumothorax/Hematothorax) DENGAN PEMASANGAN BULLOW DRAINAGE DI RUANG BEDAH

F RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

OLEH : SUBHAN NIM :010030170.B

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2003
1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA THORAX (PENUMOTHORAX/HEMATOTORAX) DENGAN PEMASANGAN BULLOW DRAINAGE DI RUANG BEDAH F RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

I. KONSEP DASAR A. Pengertian Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994). Hematotorax adalah tedapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan. Pneumotorax adalah terdapatnya udara dalam rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps. B. Anatomi 1. Anatomi Rongga Thoraks Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi oleh : - Depan : Sternum dan tulang iga. - Belakang : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis). - Samping : Iga-iga beserta otot-otot intercostal. - Bawah - Atas Isi :

: Diafragma : Dasar leher.

Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.

2

Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluhpembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

Gambar Rongga Thoraks :

Jantung & perikardium Trakea Oesophagus Lung Saraf vagus Aorta Sal. Torasika Left

Sternum Saraf frenikus Vena Kava Superior Right lung

Vertebra

3

rongga pleura. = bising napas tak terdengar = nadi cepat/lemah anemis / pucat = poto toraks 15 .Close pneumotoraks punksi .nyeri bernapas . Pleura meningkat terus Tek.bising napas berkurang/hilang .sesak napas yang progresif (sukar bernapas/bernapas berat) asimetris/adanya jejas atau trauma . udara bisa masuk (pneumothorax) Terjadi perdarahan : Karena tekanan negative intrapleura intersititium. Patofisiologi Trauma tusuk dada kanan Mengenai rongga toraks sampai intercostal. Terjadi robekan Pemb.torakotomi Tek.di diikuti kolaps kapiler kecil-kecil dan (perdarahan jaringan pemb.di = ringan kurang 300 cc ---. Darah - terdapat luka pada WSD .bunyi napas sonor/hipersonor .Open penumothorax .Kerusakan integritas kulit 4 .C.Tension pneumotoraks pasang drain = berat lebih 800 cc -----.darah jaringan paru-paru.800 cc -----.35 % tertutup = sesak napas yang progresif = nyeri bernapas / pernafsan = sedang 300 . Pleura meningkat terus mendesak paru-paru (kompresi dan dekompresi ) pertukaran gas berkurang .poto toraks gambaran udara lebih ¼ dari rongga torak bayangan WSD/Bullow Drainage = pekak dengan batas jelas/tak jelas. perarahan intraalveolar Maka udara luar akan terhisap masuk ke atelektasi) Rongga pleura (sucking wound) tahanan perifer pembuluh paru naik (aliran darah turun) .

Perubahan kenyamanan : Nyeri . perawatan WSD harus di perhatikan.Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan Pergeseran mediatinum - Inefektif bersihan jalan napas 5 .Gangguan mobilitas fisik .Ketidak efektifan pola pernapasan . .Resiko terhadap infeksi .- nyeri pada luka bila untuk bergerak.

b. sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. E. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. b. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. dan pengganti verband 2 hari sekali. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : Penetapan slang. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. Photo toraks (pengembangan paru-paru). Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. 6 . Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. c. c. Slang diatur se-nyaman mungkin. Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup). Pemeriksaan Penunjang : a. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. sebelum penderita jatuh dalam shoks.D. WSD dapat berarti : a. Penatalaksanaan 1. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. b. 2.

Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 800 cc. ∫ ∫ Latihan napas dalam. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. keadaan pernapasan.2 jam setelah operasi dan setiap 1 . ∫ Perhatikan banyaknya cairan. tekanan darah. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. warna muka. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. f. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. ∫ Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. coba merubah posisi pasien dari terlentang.20 menit selama 1 . atau memberi tahanan pada slang. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. Mendorong berkembangnya paru-paru. atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. ∫ e. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. slang bengkok atau alat rusak. ∫ Perlu sering dicek. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 . perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. jangan batuk waktu slang diklem. melakukan pernapasan perut. denyut nadi. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan.2 jam selama 24 jam setelah operasi. d. harus dilakukan torakotomi. 7 . keluhan pasien. keadaan cairan. ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah.- Pergantian posisi badan.

Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage. observasi. h. Pemeriksaan penunjang  Bila pneumotoraks < 30% atau hematotorax ringan continues suction unit. c. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. b.  Bila pneumotoraks > 30% atau hematotorax sedang (300cc) drainase untuk cavum pleura dengan WSD. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow Tidak ada pus dari selang WSD. bila : a. dengan memakai sarung tangan. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . misal : slang terlepas. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada. 8 .g. 3. X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) Diagnosis fisik : (300cc) terap simtomatik. Dinyatakan berhasil. a. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.  Pada keadaan pneumotoraks yang residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi  Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi. b. botol terjatuh karena kesalahan dll. 3) Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher. dengan dainjurkan melakukan drainase drainage.

Expectorant.. Komplikasi 1. Terapi : a. 3. Antibiotika. tension penumototrax penumotoraks bilateral emfiema 9 . b. c. 2. F. Analgetika.4.

5. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. 7. Hipotensi. makanan tertentu. Dan Keluhan. Riwayat penyakit sekarang. Pemeriksaan Fisik : 1. Pengobatan terakhir. lemah Pucat. Terdapat retraksi klavikula/dada. berkurang/menghilang. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas. Sistem Pernapasan : ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ Sesak napas Nyeri. 10 . 3. Pengkajian : Point yang penting dalam riwayat keperawatan : 1. Riwayat penyakit dahulu. Sistem Kardiovaskuler : ∫ ∫ ∫ ∫ Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk. Pengalaman pembedahan. 3. hematotraks (redup) ∫ Pada asukultasi suara nafas menurun. Umur : Sering terjadi usia 18 . 2. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.II. Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani . Pengambangan paru tidak simetris. bising napas yang Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas. 4. 6. Takhikardia. Sistem Persyarafan : ∫ Tidak ada kelainan. Alergi terhadap obat.30 tahun. KONSEP KEPERAWATAN A. ∫ ∫ ∫ 2. batuk-batuk. Hb turun /normal. B.

Sistem Muskuloskeletal . ∫ Tidak ada kelainan. Hb mungkin menurun (kehilangan darah). Sistem Pencernaan : ∫ Tidak ada kelainan.Integumen. 6. 9. pingsan. pleural. 7. Sistem Sosial / Interaksi. Toraksentesis : menyatakan darah/cairan. Saturasi O2 menurun (biasanya). Pemeriksaan Diagnostik : 10. Kulit pucat. ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ Diagnosa Keperawatan : 11 . gelisah. Sistem Perkemihan.4. Sistem Endokrine : ∫ ∫ Terjadi peningkatan metabolisme. Ada luka bekas tusukan benda tajam. bingung. Pa O2 normal / menurun. 8. berkeringat. atau adanya kripitasi sub kutan. Kelemahan. ∫ Tidak ada hambatan. 5. Spiritual : ∫ Ansietas. ∫ Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area Pa Co2 kadang-kadang menurun. Terdapat kelemahan. ∫ ∫ ∫ ∫ Kemampuan sendi terbatas. sianosis.

7. Resiko terhadap infeksi b/d tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma. Kerusakan integritas kulit b/d trauma mekanik terpasang bullow drainage. G.1. Potensial Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. 6. Obsservasi fungsi pernapasan. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. 5. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. Intervensi : a. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Berikan posisi yang nyaman. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. 3. 4. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. Gangguan mobilitas fisik b/d ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. catat frekuensi pernapasan. Intevensi Keperawatan : 1. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan 12 . Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. b. meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal. Tujuan : Pola pernapasan efektive. Balik ke sisi yang sakit. Kriteria hasil : ∫ ∫ ∫ Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. 2.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. Tak adanya paru gelembung menunjukkan ekpsnsi kepatuhan lengkap/normal atau slang buntu. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area dapat pleural menurun. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. 2) Periksa batas cairan pada botol penghisap. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. Jelaskan R/ pada klien tentang apa etiologi/faktor diharapkan terhadap pencetus dapat rencana adanya sesak atau kolaps paru-paru. 4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal.hipoksia. 13 . e. d. R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. 3) Observasi gelembung udara botol penempung. yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.2 jam : 1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural. f. R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan. bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. c. cek setiap 1 . R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Pengetahuan yang klien mengembangkan teraupetik. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik. Pertahankan perilaku tenang. pertahankan pada batas yang ditentukan.

Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. Alirkan akumulasi dranase bela perlu. pernapasan. R/ Pengetahuan yang diharapkan klien akan membantu rencana mengembangkan teraupetik. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. g. Fisioterapi dada. R/ Posisi tak tepat. ∫ ∫ ∫ ∫ Pemberian antibiotika. Konsul photo toraks. pernapasan. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : 1) Dengan dokter. Klien nyaman. radiologi dan fisioterapi. atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Intervensi : a. terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. Tujuan : Jalan napas lancar/normal Kriteria hasil : ∫ ∫ ∫ Menunjukkan batuk yang efektif. 14 kepatuhan terhadap . perbaikan kondisi klien atas R/Mengevaluasi pengembangan parunya. 2.yakinkan slang tidak terlipat. 5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada. Pemberian analgetika.

tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. d. ∫ ∫ Pemberian expectoran. 3) Tahan napas selama 3 .b. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. f. radiologi dan fisioterapi. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter. menyebabkan frustasi. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.5 mulut. e. keluarkan sebanyak mungkin melalui meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. 2) Lakukan pernapasan diafragma. R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan klien : tindakan untuk menurunkan hidrasi yang viskositas adekuat. Pemberian antibiotika. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. yang mengarah pada atelektasis. c. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus. Ajarkan sekresi mempertahankan detik kemudian secara perlahan-lahan. 4) Lakukan napas ke dua . 1) Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. upaya batuk klien. R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. 15 . R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif.

misal waktu tidur. Intervensi : a. b. R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. ∫ Pasien tidak gelisah. 1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.∫ ∫ Fisioterapi dada. belakangnya dipasang bantal kecil. sehingga akan mengurangi nyerinya. Konsul photo toraks. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman . 3. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang. R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. R/ Akan melancarkan peredaran darah. Kriteria hasil : ∫ ∫ Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi. menevaluasi perbaikan kondisi klien atas R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan pengembangan parunya. 2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase. sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi. 16 . Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.

d. Kolaborasi denmgan dokter. Observasi tingkat nyeri. dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. nyerinya. dan respon motorik klien. e. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. sehingga nyeri akan berkurang. 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. pemberian analgetik. R/ Pengetahuan yang akan Dan klien dirasakan dapat membantu membantu rencana mengurangi teraupetik. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri. Serta setiap 1 .2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 . mengembangkan kepatuhan terhadap 17 .2 hari. R/ Analgetik memblok lintasan nyeri.c.

Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan.M. (1997). (1999) Keperawatan Kritis. Doegoes. Diagnosa Keperawatan. 18 .(1995). A. C. L. RI.J. (1999).M. Ilmu Bedah. (1989).D. Jakarta : Pusdiknakes. Depkes. Hudak. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Pusponegoro. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. L.

Pubis inferior dekstra b. S Usia Pendidikan Pekerjaan Agama : 38 tahun : D III : swasta : Islam : SBY siswa Alamat Nyeri pada dada kiri P. nyeri seperti cekit-cekit pada pada lokasi pantat tersebut kanan yang bekas dirasakan bertambah bila dibuat gerak. Nama laki Usia Agama Status SMA Alamat Data Medik Tanggal masuk : 9-02-2002 Jam Masuk Tanggal pengkajian Diagnosa Medik : 07. SOETOMO SURABAYA 1. M : LakiNama orang tua : Tn.LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA THORAX (PENUMOTHORAX/HEMATOTORAX) DENGAN PEMASANGAN BULLOW DRAINAGE DI RUANG BEDAH F RSUD Dr. disamping itu juga nyeri dirasakan daerah benturan/jatuh dari sepeda motor R. PENGKAJIAN a. nyeri pada dada kiri terutama tempat pemasangan slang. 19 .11 sinestra posterior Penumotoraks paru kiri post terpasang WSD CF R.00 WIB : CF Costae 10.00 WIB : 11-02-2002 jam 10. Keluahan utama : SBY : 16 tahun : Islam : Jenis kelamin Identitas : Tn. telah dilakukan tindakan pemasangan slang pada dadai kiri akibat trauma jatuh dari sepeda motorr Q.

pergerakan terbatas dilakukan pemeriksaan foto.00 pindah ruangan bedah F untuk mendapat perawatan dan observasi lanjut. tidak mual dan muntah kemudian dipersipkan untuk dilakukan pemasangan slang pada dada kiri jam 10. dibawa ke IRD dalam keadaan sadar. lauk. Untuk mengatas ha terebut di bawa ke IRD RSDS untuk mendapatkan itndakan dan pengobatan. lab kemudian dilaksanakan pemasangan slan guntuk mengurangi sesaknya. sesak kencing sulit. klien tidak pernah mengalami penyakit yang berat sehingga perlu opname 4. 1 dan sayuran) yang di kali Dipasang dower produksi 20 konsistensi kateter .00 2.pinggang kanan S. Riwayat Penyakit Sekarang Klien datang ke rumah sakit dengan diantar keluarganya dalam keadaan sadar tidak mual dan muntah nyeri.00 jatuh dari sepeda motor. tanggal 9-02-2002 jam 07. sediktis-sedikit pauk seperti disajikan 2 Pola Eliminasi keluarganya BAB lancar perhari. Tanggal 10. pinggang terasa sakit sehingga kurang dapat bergerak secara leluasa seperti sebelum sakitnya. Riwayat Penyakit Dahulu Kilen tidak pernah menggalami kecelakaan yang sama sebelumnya. 3. Pola Aktifitas Sehari –hari (Activity Daily Living) N O Uraian 1 Pola Nutrisi Aktivitas sehari-hari rumah Rumah sakit Makan 3 kali perhari Mulai minum seadanya (nasi. klien merasa sesak. T .

Sosial / Interaksi Dukungan keluarga : aktif. puas terhadap jenis kelaminnya Peran Senang terhadap perannya. Spiritual Konsep tentang penguasa kehidupan : Allah 21 . hematuria BAB belum masalah Kadang-kadang pada dada kirinya disaat dilap 2 oleh kai (3-4 jam tidur siang) tersakit/nyeri dan malam (7-8 jam) tidur. dipotong 2-3 dengan keluarganya kuku tiap 1 menggunakan sabun sehari 5 Pola Aktifitas minggu Kegiatan mengikuti kegiatan sehari-hari Klien program terlentang di kepala o tidur dengan agak 6 Ketergantungan sekolahannya ditinggikan 45 Tidak pernah (rokok. Tidak ada obat) 5.lembek. sanggup melaksanakan perannya sebagai pelajar. Psikososial a. BAK 3 Pola Istirahat/tidur Tidak ada 350 cc/6 jam. puas dengan status dan posisinya dalam keluarga. kali Klien 4 Pola Hygiene Personal Mandi perhari mandi. Harapan klien terhadap penyakit yang sedang dideritanya : Klien mengharapkan cepat sembuh dan dapat melaksanakan kembali tugasnya sebagai seorang pelajar SMA kelas II. reaksi saat interaksi kooperatif dan ada kontak mata. b. kuning. Kosep diri Identitas Status klien dalam keluarga : anak.

nyeri pada dada kiri dan bertambah bil adibuat gerak Obyektif : Pernafasan vesikuler. Pengkajian Sistem  Keadaan umum Klien tampak lemah TTV = suhu 37.Sumber kekuatan/harapan disaat sakit membaca kitab suci Klien yakin bahwa : Allah Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : penyakitnya dapat disembuhkan dan menganggap bahwa penyakitnya ini hanya cobaan dari Allah 6. nadi 96 kali/mnt. sputum (-). refelsk fisiologis (+).2 oC. isokhor 3 mm/3mm. tensi 130/80. tidak ditemukan ronchii dan wheezing pada lapang paru basal kanan dan kiri.  Sistem Cardiovaskuler Subyektif : Obyektif : Denyut nadi 96 kali/menit. retraksi intercostals dan klavikula (-). refleks pupil positif. RR 28 X/menit . tensi 130-80 mmHg  Sistem Pulmonal Subyektif : sesak nafas. tanpa bantuan oksigen. terpasang infuse RL. terpasang WSD produksi 30 cc.  Sistem Neurosensori Subyektif : Obyektif : GCS (V 5 M 6 E 4). ekspansi paru sebelah kiri agak kurang/tidak simteris lemah. refleks patologis (-)  Sistem Musculoskeletal Subyektif : tangan dan kaki kiri dapat digerakkan secara 22 . tidak terdengar stridor.

lancar (+) hematuria  Sistem digestif Subyektif : perut terasa tegang. adanya jejeas pada pinggang (-). Kekuatan otot +5/+5 +2/+5. vulnus abrasion (-) terpadang infuse RL pada tangan kanan. pada pinggang kanan hanya bisa digerakkan tetapi tidak bisa diangkat Obyektif : kaki kanan dapat digerakkan tapi tidak bias diangkat. kentut (+). BLR (-).aktif tanpa bantuan. warna kuning kemerah ada endapan. karena terasa sakit pda pinggang kanan bekas benturan. floading punksi (-) 7.bekuan darah. pada pengukuran lingkar perut didapatkan pembesaran 2 cm. tonus otot baik. BAK terpasang dower kateter produksi 350 cc/6 jam. jejas flank (-)  Sistem genitourinaria Subyektif : telah dipasang slang kencing Obyektif : pola eliminasi.. grosss 23 . mukosa licin. Flank mass (-). minum sedikit-sedikit Obyektif : distensi (+). terasa kembung. RT (TSA licin. Data penunjang .

39 : 28.5) Sedimen urine : Eritrosit : keruh Lukosit : 7-10 plp Epitel Kristal Hasil foto Thoraks ditemukan adanya pnumotoraks BFO/BOF tidak ada kelainan Femur tidak ada kelainan Pelvis didapatkan CF ramus pelvis 8.89 mg/dl (1. Terapi Pengobatan : Infus RL “ D 5% 2. perawatan bedrest puasa 24 . warna. Penatalaksanaan a.3 – 11.Hasil Laboratorik Tanggal 9 pebruari 2002 Hb Leukosit PCV : 13.1 mg%) (150 – 300 X 109/l ) ( 0.8 mg% (11.3 X 109/l ) Analisa Gas Darah BUN : 13 mg/dl (10-30) Kreatinin serum : 0.42 ) Trombosit : 328 X 109/l : 0.38-0.2 Dower kateter.4 – 15. produksi Control foto BD-18-20 cm H2O Head up 30o Obs tanda-tanda akut abdomen Injesi : : 0-2 plp :- Kuman : + Kedacillin 3x1 gr b.8 X 109/l (4.

menurun suhu 37 oC. terpadang slang WSD nyeri produksi 30 cc. serotonin. terpasang infuse RL pada tangan infeksi kiri Klien mengatakan apakah penyakit saya bisa sembuh. sekitar luka tidak ada tanda. kapan alat ini bisa dilepas. dan klavikula DS : adanya luka tempat Luka tindakan pemasangan slang pada pemsangan alat dada kiri Invasive pada DO : terpasang WSD tubuh mulai tanggal 09-022002 produksi 30 cc. Port d’entry terpasang dower kateter (gross hematuria). nyeri tekan . Wh -/-. Pertahanan leukosit 28.3 X 109/l ).penekanan jaringan sekitar tanda infeksi.11. Rh -/-. ekspansi paru terbatas ekspansi paru baik.11 Masalah CF Disintegritas jaringan (saraf perifer) Terjadi pagositosis Klien tampak (neutrophyl. pada limphossit) dan kerja zat oservasi di dapatkan biokimia tubuh (bradikin.9.3 – 11. tidak ada retraksi interkostal kanan. Hg prostaglandin.8 X 109/l nonspesifik/primer (4. CF costae 10. Sonor +/+. data tensi 130 / 80 mm. eosinophil. Analisa Data Data Data Subyektif : Klien mengatakan sekarang kadang terasa sakit pada dada kiri dan bertambah bila dibuat gerakl Etiologi Tindakan invasi ostae 10. menyeringai. suhu 37 0c Nadi 96 RR leukotrin) 28 X/ml . retraski kiri +. dx. Kapan pindah dari ruang bedah F Tanggal 11-02-2002 akan dilakukan foto dada Pengetahuan dan pengalaman kurang tentang penyakit dan penatalksanaannya Kurang informasi Ketidaktahuan (penyakit dan perawatannya) nyeri infeksi Pengetahuan 25 .

Perubahan kenyamanan ( Nyeri) b/d trauma jaringan sekunder pemasangan WSD. Perencaaan 1.CF costae 10. Defisit 5. pemasangan kateter. Kriteria hasil : ∫ ∫ Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri. Risiko terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan tindakan invasive WSD. 6. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri RASIONAL 1. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah 26 . 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan sekunder pemasangan WSD Tujuan : Nyeri berkurang/hilang. ∫ Pasien tidak gelisah.11 Terpasang WSD dan observasi dan konservatif Tingkat pendidikan SMA dankeluarga D III ekonomi Diagnosa keperawatan : kecemasan 1. dan 2. Kecemasan berhubungan dengan ketidaktahuan penyakit dan kurangnya infromasi II. INTERVENSI a. infuse). Risiko pengetahuan impormasi diri yang tentang berhubungan proses dengan dan penyakit penatalaksanaan perawatan terjadi berhubungan dengan imobilisasi proses dampak sekunder daari trauma pelvis komplikasi berhubungan dengan perjalanan penyakitnya. Kurangnya kuranganya 4.

3. yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.tidak ada tanda-tanda infeksi (pemasanagn infuse. sehingga akan mengurangi nyerinya. Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Tujuan : tidak terjadi infeksi selama Kriteria hasil : . sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi. infuse). Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. pemberian analgetik (katrasik 3x1 amp) e. 4.Ajarkan Relaksasi : i. Tehniktehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka. 5. 5. dan respon motorik klien.2 hari. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri. dan kateter) 27 . pemasangan kateter. ii. Observasi tingkat nyeri. ii. WSD. i. Kolaborasi dengan dokter. sehingga nyeri akan berkurang. 2. Serta setiap 1 .2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 . Risiko terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan tindakan invasive WSD. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman . menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Analgetik memblok lintasan nyeri. dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.nonfarmakologi dan non invasif. 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. d. misal waktu tidur. belakangnya dipasang bantal kecil. Akan melancarkan peredaran darah. Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. c. Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. b. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

tentang faktor ini membantu infuse. Infeksi yang entifikasi tanda-tanda diketahui secara dini mudah terjadinya infeksi pada diatasi sehingga tidak terjadi pemasangan kateter. Id a). Klien dan keluarga dapat bekerja sama danlam perawatan dan tindakan INTERVENSI 28 . Antibiotika penghambat klien dan berspketrum luas. Id insiden infeksi entifikasi factor pendukung dan e).TTV normal (suhu 36-37oC) . c). hidup dan menghindari d).secara klien untuk mengubah pola aseptic dan antiseptic. K olaborasi dalam pemberian antibotika kedacillin 3 x 1 gram 6..000. La kukan perawatan luka d). RASIONAL a). b). Kriteria hasil : Klien memperlihatkan peningkatan tingkah pengetahuan mengenai perawatan diri. serta kebersihan c).Leukosit 8. 1). A diperlukan untuk mencegah njurkan klien dan penyebaran infeksi keluarga ikut menjaga kebrsihan sekitar luka dna pemasangan alat. perluasan infeksi. Pengetahuan pada pemasangan WSD. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kuranganya impormasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan. kateter. Dapat membantu lingkungan serta tehnik menurunkan kontak infeksi mencuci tangan sebelum nosokomial.000-10. keluarga dalam peningkatan pertahanan tubuh e). Tujuan : klien mengetahui pengetahuan imformasi tentang penyakitnya 2). tindakan. WSD dan infus. Perilaku yang b).

d) Dorong klien atau orang terdekat untuk menyatakan takut atau masalah. kesulitan bernafas. jawab pertanyaan secara nyata. d) kesempatan memperbaiki konsepsi / ansietas. kelemahan. e) Jelaskan pada klien dan keluarga bahwa perlu pengawasan dan observasi ketat berhubungan dengan pemasanangan WSD. 29 . demam. lingkungan. Memberikan untuk kesalahan peningkatan e) Kooperatif keluarga dank lien terjalin setelah ada penjelasan yang diterima.kaji potensial interaksi dengan obat lain. kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama. c) Jelaskan pemberian dosis obat. c) Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi klien. b) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawatan. nyeri dada. nyeri dan sesak RASIONAL a) Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu. b) Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut. media yang terbaik bagi klien. frekuensi pemberian.INTERVENSI a) Kaji kemampuan klien untuk belajar mengetahui masalah. contoh hemoptisis.

R : 24 X/m.10 Mengobservasi ekspansi paru. T 130/80. 13.00 WIB S : nyeri masih kadang-kadang dirasakan terutama pada tempat pemasangan Slang.pada lapang basal paru Mengobservasi tanda-tanda akut abdomen. ronchii (-) pada lapang basal paru Mengatur posisi klien : head up 30o/semi fowler Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (+). Wh -/.00 Mengkaji tanda-tanda vital : S : 37. nyeri bertambah bila dibuat gerak Kebutuhan istirahat tercukupi Klien mersa enak dengan posisi setengah duduk O: Masih terpadang WSD Tanda infeksi (-) Kien tampak lebih tenang A : Masalah teratasi sebagian P : Rencana tetap. Kondisinya bertambah nyaman dengan psosisi setengah duduk Tampak klien lebih tenang 30 .III. stridor(-). sonor. nadi 112 Mengkaji bersihan jalan nafas : sputum (-).00 11. retraksi (-). Injeksi novalgin 1mpul per-IV Memonitor tingkat nyeri 11.05 11. memasang lingkar perut dengan ketegangan bertambah 2 cm. PELAKSANAAN DAN EVALUASI Evaluasi Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan sekunder pemasangan WSD Jam Implementasi 09. distensi (+) Mengidentifikasi tingkat nyeri skala 2/3 12.00 Tanggal 11 Juli 2001. Ronchi (-). dilanjutkan I Melanjutkan intervensi Menghobservasi tanda-tand aakut abdomen Membantu pelaksanaan foto thoraks control hasil (+) E.

slang terfiksasi) Memonotir adanya infeksi (phlebitis pada pemasangan infuse). T 130/80. pemasangan kateter.Risiko terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan tindakan invasive WSD. infuse). 09. nadi 112 mengkolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan ulang leukosit 10. nadi 96 kai/mnt. Intake minum sedikitsedikit.10 Mengobservasi adanya tanda/gejala infeksi loka dan sistemik Merwat luka pada pemasangan WSD secara septic dan antiseptic (luka merah. P : pertahankan intervensi I Melanjutkan intervensi Melakukan kolaborasi dalam pemeriksaan ulang leukosit Kolaborasi dengan Dr. tidak odema. urology tentang tindakan lanjut E Dr urology menyarakan untuk kasusnya cukup dengan konservatif membersihkan sekitar pemasangan dower katetr dang and A : Masalah tidak terajdi 31 .00 09. tidak pernah panas O : tanda klinis hipertermia (-) Suhu 37oC.30 penisnya Memeberikan suntikan kedacillin 1 gram per IV Mengukur TTV Mengkaji tanda-tanda vital : S : 37.R : 24 X/m. Jam Implementasi Evaluasi 09.00 S : badan hangat.

00 a) Implementasi Mengidentifikasi Evaluasi kemampuan klien S : klien dan keluarga mau mengerti dan bekerja sama kelemahan. lingkungan.30 secara nyata. demam.00 tentang Memberi penjelasan bahwa tindakan lanjutnya adalan pemberian dosis obat. diharapkan dan alasan pengobatan dan tindkan lainnya pernafasan dan fungsi paru-parunya yang diperlukan seperti control foro dada . contoh c) bernafas. Jam 10. O: . kerja yang observasi terutama perkembangan pada daerah dada. media yang terbaik bagi klien. kesulitan keluarga gejala yang harus dilaporkan keperawatan.25 Memberi penjelasan pad aklien dan hemoptisis. 32 . frekuensi pemberian. nyeri dada.keluarag dank lien dapat menyebutkan kembali tentang perawatan dan pelaksanaan yang diperlukan A : Masalah teratasi sebagian P : . Memberi penjelasan 12. e) bahwa perlu Jelaskan pada klien dan keluarga pengawasan dan observasi ketat nyeri dan dianjurkan secara mandiri berhubungan dengan pemasanngan WSD. b) 10.Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kuranganya impormasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan. d) Memberi kesemapatan E pada Klein dan keluarga mau bersabar dan menunggu Klien dan keluarga dapat melaksanakan tindakan yang keluarga untuk bertanya dan menjawab pertanyaan keoutusan dokter yang merawat 13.lanjutkan I dlam perawatan dan pengobatan untuk belajar mengetahui masalah.

sesak 33 .

34 .5oC A. nadi 88 x/mnt.TGL 12/02/ s2002 1 DX EVALUASI S Klien mengetakan nyeri yang dirasakan kadang-kadang datang tetapi tidak mengganggu isitrahat Nyeri dirasakan terutama saat gerak pada tempat pemasangan slang dan tarik nafas. RR 24 x/mnt. gross hematuria (-) Tensi 130/80 mmHg. O klien pada posisi semifowler Klien tidak tampak nyeringai atau tenang A Masalah tertasi sebagian P Pertahankan intervsni sesuai dengan program I Melanjutkan intervnsi yang diprogramkan Mencatatat hasil produksi WSD <5 cc E Rencana pindah ICU untuk observasi lanjut S Klien merasa selama ini tidak panas hanya summer. suhu 37. kateter (-) produksi 400 cc. keluar keringat O Tanda-tanda infeksi pada pemasangan slang WSD (-). Masalah teratasi P Pertahankan intervensi I Melanjutkan dan empertahnkan intervensi Memasang kembali infuse RL pada tangan kanan klien tetesan lancar E Infeksi tidak terjadi 2. infuse (bengkak).

Maslah tertasi sebagian P Lanjutkan ntervensi I Melanjutkan intervensi MMeberi penjelasan bahwa pindah ke ICu karena harus mendapatkan observasi ketak tentang pernafasan dan alat yang dipasang slang WSD Ruang ICU merupakan tempat observasi yan baik dan diserti alat-alat yang canggih untuk membantu observasi dan tindakan lanjut. E Klien dan keluarga mengerti dan mau bekerja sama dalam tindakan tersebut. 35 .3 Infuse berjalan lancar S Klien dan keluarga bertanya bagaimana dengan hasil pemeriksaan foto dadanya Dan kapan kira-kira akan dipindahkan dari ruangan ini O Hasil konsul dari urology hanya bersifat konservatif Rencana pindah ke ICU untuk observasi lanjut pada thoraksnya A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful