No : 01 Tahun II Januari 2010

Buletin

BKT RAMPUNG, TAMATKAH RIWAYAT BANJIR ?
ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Jl. Rajawali II No. 5A Manukan, Condong Catur Yogyakarta 55283 atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Email : ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 01-2010

1

Pengantar Redaksi
Pembaca yang budiman, masalah yang paling dikhawatirkan warga Jakarta diawal tahun adalah hujan yang semakin kerap turun. Hujan dengan intensitas cukup tinggi memang selalu mewarnai aktivitas warga ibukota di bulan Januari dan Februari. Kita tentu saja berharap agar musim hujan kali ini tak terlalu merepotkan. Jangan sampai musim hujan kali ini menimbulkan musibah yang berat bagi warga Jakarta. Beberapa pengalaman yang pernah terjadi, banjir besar biasanya terjadi pada kedua bulan ini. Meski tak setiap tahun banjir besar mendera Jakarta, tapi di bulan-bulan ini memang harus tetap kita waspadai. Apa alasan kita mewaspadai bulan-bulan ini ? Nah, latar belakang tentang perlunya “sedia payung” diawal-awal tahun , yang akan kita bahas dalam Buletin kali ini. Maksud dari mengangkat topik ini tentu saja untuk memberikan masukan yang sedikit ilmiah, berdasarkan pengalaman yang sudah pernah terjadi. Semoga saja dengan membaca Buletin ILWI, kali ini warga Jakarta bisa lebih mewaspadai terjadinya banjir. Masih berkaitan dengan banjir, dalam buletin kali ini juga diangakat tentang bagaimana pengelolaan BKT seharusnya dan pembahasan mengenai sistem polder. Pembaca, selamat menikmati Buletin ILWI, edisi pertama di tahun kedua penerbitannya. Redaksi ILWI

ILWI Buletin No 01-2010

2

HIKAYAT BANJIR TANAH BETAWI
Sejak jaman Belanda, pemerintah yang berkuasa di Jakarta, selalu dipusingkan dengan banjir. Semakin tahun gelombang banjir semakin besar. Kini penyebab banjir semakin kompleks dan merupakan akumulasi dari berbagai persoalan. .

Sungai Ciliwung 1870 (Sumber : Batavia)
Setiap kali musim hujan tiba, Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, bisa jadi ketar-ketir. Maklum, jika air meluap dan menggenangi kawasan ibukota, maka dia lah yang dianggap masyarakat sebagai biang keroknya. Berbagi tudingan muncul, memusingkan kepala. Padahal, jika mau jujur banjir yang sekarang terjadi adalah akumulasi permasalahan salah urus pengelolaan air sejak berpuluh-puluh bahkan juga ratusan tahun yang lalu, dan ini tak mungkin bisa diselesaikan Fauzi, hanya dalam beberapa tahun. Bagi sebagian orang mungkin tidak percaya kalau bencana banjir di Jakarta ini sudah mulai ada sejak jaman Belanda. Beberapa tahun setelah Belanda mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia. Banjir besar pertama kali mereka rasakan tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876. Sering dilanda banjir pemerintah Belanda merasa perlu untuk mulai mengelola air secara serius. Tahun 1918 Pemerintah Belanda mulai membangun bendungan. Saat itu yang dibangun adalah Bendungan Hilir, Jago dan Udik. Selanjutnya karena semakin kompleksnya masalah air yang melimpah, memaksa Pemerintahanan Kolonial membangun Banjir Kanal Barat (BKB), maksudnya agar air yang terkumpul bisa langsung dibuang ke laut. BKB ini, dibangun mulai
ILWI Buletin No 01-2010

dari Pintu Air Manggarai sampai Muara Angke pada tahun 1922. Meski sudah dibangun BKB, bukan berarti persoalan banjir di Jakarta bisa langsung bisa diselesaikan. Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air. Saat pemerintahan beralih ke Republik Indonesia masalah banjir di Jakarta pun tak kunjung bisa diselesaikan. Bulan Februari 1976, hujan deras turun dalam waktu yang cukup lama. Selama tiga hari berturutturut hujan turun nyaris tanpa henti, akibatnya sebagaian Jabodetabek terendam. Jakarta Pusat menjadi lokasi terparah dalam banjir tersebut, lebih 200.000 jiwa diungsikan. Setahun berselang, 19 Januari 1977, Jakarta kembali tergenang. Meski tidak separah tahun sebelumnya, setidaknya 100.000 jiwa diungsikan dalam musibah saat itu. Di era tahun delapan puluhan, persoalan banjir terus berlanjut. Januari 1984, sebanyak 291 Rukun Tetangga (RT) di aliran Sungai Grogol dan Sekretaris terendam. Dampaknya terasa di Jakarta Timur, Barat dan Pusat, jumlah total korban tercatat 8.596 kepala keluarga. 13 Februari 1989, giliran Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan meluap akibat tidak mampu menampung banjir kiriman dari hulu, 4.400 kepala keluarga harus mengungsi.
3

Setelah itu hampir setiap tahun terjadi banjir. Bahkan Tahun 1994, meluapnya Sungai Cipinang dan Sungai Sunter mengakibatkan banjir di daerah Pulo Gadung, Jl. Perintis Kemerdekaan, Kampung Kayu Putih, Komplek Perhubungan Jati Rawamangun, Cipinang Jaya termasuk Jalan Panjaitan. Bahkan Perumahan Sekretaris Negara RI, Jalan Bekasi Timur dan Jatinegara Pulo juga tergenang. Total kawasan yang terkena banjir sekitar 800 hektar. Kedalaman genangan air antara 40 sampai 100 sentimeter. BKB Tak Mampu Menahan Banjir 1996 Dua tahun kemudian, Januari 1996, banjir kembali menggenangi Jakarta, kali ini lebih banyak lagi lahan permukiman yang terendam. Lebih dari 3.000 hektar daerah permukiman sepanjang alur K.Ciliwung, BKB dan kali Anak Ciliwung tergenang. Ini disebabkan hujan yang tiada henti selama dua hari di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Akibatnya Kali Ciliwung penuh air, mengalir ke hilir dan meluap melewati tebing-tebing sungai. Sepertiga dari daerah genangan diperkirakan berada di Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Saat itu debit puncak Pintu Air Manggarai tercatat sebesar 500 - 550 m3/det . Ini berarti dua kali lebih besar daripada debit rencana yang digunakan oleh studi NEDECO tahun 1973. Banjir Kanal Barat (BKB) yang hanya dibuat sesuai banjir rencana, 290 m3/det untuk periode ulang 100 tahun, tak mampu lagi menahan air yang melimpas. Debit banjir yang sangat besar ini sekaligus menjadi indikasi adanya perubahan yang terjadi pada rejim hidrologi Kali Ciliwung karena perubahan pada pemanfaatan lahan di DAS Ciliwung. Kala itu debit banjir mencapai 500 m3/det. Banjir yang terjadi bulan Januari itu , ternyata bukan yang terparah di tahun itu. Sebulan berselang, 10 Februari 1996, curah hujan sebesar 250 mm selama 5 jam kembali membuat Jakarta banjir. Kali ini daerah yang tergenang lebih banyak lagi, sekitar 5.000 hektar daerah permukiman di DKI digenangi air setinggi 1-2 meter. Hujan satu hari itu sama dengan hujan ekstrim dengan periode ulang 100 tahun. Pelajaran yang dapat dipetik dari kedua kejadian banjir ini adalah bahwa kondisi kurang baik di gabungan DAS Sunter-Cipinang sebagai penyebab utama banjir di wilayah bagian timur Jakarta. Upaya pencegahan banjir di bagian timur Jakarta harus diarahkan pada penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh buruknya sistem sungai Sunter-Cipinang. Ini menunjukkan bahwa pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) merupakan komponen utama dalam penyelesaian masalah banjir di wilayah timur Jakarta. Tahun berikutnya, 13 Januari 1997, hujan deras selama 2 hari menyebabkan 4 kelurahan di Jaktim tergenang. Lagi-lagi diakibatkan oleh meluapnya Sungai Cipinang. Sedangkan Januari 1999, banjir kembali menggenangi Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, ribuan rumah terendam, 6 korban tewas, 30.000 jiwa mengungsi.
ILWI Buletin No 01-2010

Banjir 2007
Hulu dan Hilir Hujan Penyebab Banjir Besar 2002 Banjir 2002 puncak banjir disebabkan oleh banjir dari Bogor ditambah dengan hujan yang turun cukup lebat di Jakarta, ini berlangsung dalam beberapa hari. Di awal bulan Januari hujan turun selama sepuluh hari di segitiga Bekasi, Tanjung Priok dan Halim PK. Hujan ini membawa kotoran dan material yang menjadi sedimen di dasar sungai. Meski dengan intensitas yang lebih rendah, hujan masih terus turun pada pertengahan Januari itu. Hingga intensitasnya kembali meningkat tanggal 30 Januari 2002, mencapai 250 mm. Akibatnya daerah-daerah yang berbatasan dengan sungai langsung dibanjiri air yang melimpas. Dalam kejadian banjir ini debit di Pintu air Manggarai mencapai 400 m3/det, lebih rendah dibandingkan debit pada saat banjir 1996. Curah hujan ekstrim terjadi tanggal 2 Februari 2007 dimana kala itu ketinggian Kali Ciliwung mencapai puncaknya. Sampai tanggal 4 Februari banjir menggenangi permukiman seluas 10.000 hektar. Secara umum dampak banjir tahun 2002 ini dua kali lipat dari banjir 1996. Kedalaman genangan pada beberapa tempat bahkan mencapai 4 meter. NEDECO, menyimpulkan bahwa puncak banjir Kali Ciliwung disebabkan oleh hujan lebat di bagian tengah DAS (sepanjang alur Depok-Manggarai) dan menyebabkan banjir dengan periode ulang 20 tahun. 2007 Banjir Tak Kalah Garang Genangan dalam jumlah besar kembali terjadi pada tahun 2007, sekitar 60% wilayah Jakarta mengalami banjir. Sebanyak 150.000 jiwa mengungsi, 1379 gardu induk terganggu, 420.000 pelanggan listrik tertanggu. Banjir ini terjadi karena melimpasnya air di daerah hilir Sungai Ciliwung dan beberapa sungai lainnya. Luapan air pertama kali terjadi tanggal 2 Februari 2007 disebabkan hujan yang sangat lebat di Jakarta. Saat itu ketinggian air di Sungai Ciliwung
4

mencapai sekitar 9,5 meter. Banjir hari itu bukan berasal dari daerah hulu, sebab ketinggian air di Katu Lampa dan Depok tidak mengkhawatirkan. Dua hari kemudian tanggal 4 Februari hujan lebat terjadi daerah hulu, saat itu ketinggian air di Katu Lampa sudah menunjukan tanda-tanda akan meluap. Meski hujan di Jakarta tidak sebesar dua hari sebelumnya, akan tetapi banyaknya air dari daerah hulu tidak mampu ditampung di daerah hilir Ciliwung, saat itu tinggi air mencapai lebih dari 10,5 meter. Banjir pada tanggal 4 Februari tersebut lebih banyak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu Katu Lampa dan Depok. Menurut catatan dari apa yang terjadi, banjir tahun 2002 dan 2007 disebabkan oleh curah hujan ektrim yang turun lebih dari dua hari. Hal ini menyebabkan tinggi muka air Sungai Ciliwung di daerah Manggarai mencapai puncaknya. Sedangkan khusus untuk tahun 2007 sekaligus terjadi kombinasi penyebab banjir akibat hujan di daerah hulu dan dan daerah hilir. Hujan yang turun berbarengan seperti ini membuat saluran-saluran air di Jakarta kewalahan menahan gempuran air. Akibatnya banjir tak bisa terelakan di dataran-dataran yang lebih rendah. Perkiraaan Banjir Masa Datang Diharapkan pada tahun 2010 pembangunan Banjir Kanal Timur sudah bisa diselesaikan dan pengerukan sungai bisa diintensifkan, sehingga sungai

dan saluran untuk membuang air ke laut bisa lebih maksimal dalam bekerja. Jika ini berlangsung dengan baik, maka risiko banjir yang disebabkan oleh curah hujan akan berkurang. Meski demikian potensi banjir masih tetap ada, terutama yang diakibatkan curah hujan yang jatuh di atas Jakarta, apalagi terjadi pada saat masuknya air pasang dari laut. Banyaknya daerah yang berada dibawah permukaan laut, membuat Jakarta kembali tergenang. Hal ini diperparah lagi dengan adanya pemanasan global dimana intensitas curah hujan pada musim penghujan menjadi meningkat, naiknya permukaan laut, serta amblesnya tanah di Jakarta. Saluran-saluran makro yang masih belum optimal menjalankan perannya, juga menjadi hambatan dalam mengatasi banjir. Sampah-sampah yang masih menumpuk dan bangunan-bangunan yang menjorok ke daerah aliran sungai harus terus menerus dihilangkan. Pekerjaan ini juga tak mudah, karena para penghuninya tak mau beranjak begitu saja dari tempat itu. Demikian juga dengan persoalan sampah, kebiasaan membuang sampah kedalam sungai harus benar-benar diubah. Tentunya dengan memberi alternatif tempat pembuangan sampah.Bagiamanapun juga program naturalisasi aliran sungai harus didukung oleh semua pihak.

Bangunan-bangunan yang menjorok ke sungai, mempersempit saluran.

Masih banyak rumah yang menjorok ke aliran sungai

ILWI Buletin No 01-2010

5

Resah Di Bulan Basah
Dua bulan pertama setiap awal tahun, mengharuskan warga Jakarta untuk hati-hati terhadap terjadinya banjir. Tingginya curah hujan,tak memadainya kapasitas saluran dan rendahnya wilayah daratan, menyebabkan air gampang tergenang.

Banjir kerap terjadi di bulan Januari dan Februari
Bagi warga Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, menanti pergantian tahun baru 2010 tak melulu dilalui dengan rasa gembira. Perasaan cemas juga menghantui mereka, bayang-bayang akan terjadinya banjir menjadi penyebabnya. Masih lekat dalam ingatan mereka setiap kali memasuki bulan Januari dan Februari, diawal tahun, hujan lebat selalu merepotkan warga. Genangan air terjadi dimana-mana. Bahkan jika sungai sudah tak mampu lagi menahan limpasan air, banjir tak pelak lagi pasti akan menerjang kota kebanggaan masyarakat Indonesia ini. Dalam catatan sejarah, banjir besar di Jakarta selalu terjadi pada dua bulan pertama di awal tahun ini (lihat : Hikayat Banjir Tanah Betawi). Para pemerhati masalah banjir menyebut bulan-bulan ini sebagai bulan basah.
ILWI Buletin No 01-2010

Di negara yang memiliki dua musim seperti Indonesia, curah hujan sangat mempengaruhi jumlah air yang bisa langsung terserap oleh tanah. Jika klasifikasi hujan tersebut ringan dan sedang biasanya bisa langsung terserap. Meskipun harus melimpas, air tersebut masih mampu ditampung saluran yang ada, untuk dialirkan ke laut. Masalah timbul jika hujan merata turun lebat dan sangat lebat dan dalam waktu yang cukup lama. Tak hanya kemampuan tanah saja yang tak lagi bisa menyerap, saluranpun tak mampu menahan limpasan air. Bahkan saluran berkapasitas besar, makro dan sub makro sering tak mampu menanggung beban air yang terlalu banyak. Akibatnya air akan menggenangi rumah-rumah penduduk yang berada di dataran yang lebih rendah.
6

Ironisnya, banyak wilayah di Jakarta yang posisinya sangat rendah berada di bawah permukaan laut, sehingga air tak mampu lagi bergerak. Perlu waktu beberapa jam, bahkan berhari-hari untuk membuang air tersebut atau membiarkannya terserap kedalam tanah. Kejadian semacam ini terjadi jika hujan dengan kapasitas besar terjadi terus menerus baik di daerah hulu maupun hilir sungai. Curah hujan dapat digolongkan sangat lebat apabila intensitasnya mencapai lebih dari 100 mm per hari.
Klasifikasi Sangat Ringan Ringan Sedang Lebat Sangat Lebat Curah Hujan per hari < 5 mm 6 mm – 20 mm 21 – 50 mm 51 – 100 mm >100 mm

Curah Hujan Bulanan di Selatan Jakarta (Sumber : Jakarta Flood Management Project)
Topografi Jakarta Memperparah Genangan Jakarta dan juga beberapa kota besar lainnya di Indonesia berada pada dataran rendah di daerah pantai (coastal zone). Bahkan 40 % wilayahnya berada dibawah permukaan laut. Akibatnya, jika curah hujan tinggi, air tidak langsung bisa dibuang ke laut, genangan tidak terelakan terjadi di daratan. Terutama di wilayah yang berbatasan dengan pantai. Karena itu, dikala hujan lebat datang Jakarta Utara lah yang paling menjadi bulan-bulanan banjir. Meski demikian, banjir pun dipastikan akan melanda wilayah lain di Jakarta. Utamanya daerah-daerah rendah, yang dilalui oleh luapan air sungai. Masalah banjir, ini menjadi lebih ironis karena masih banyak wilayah di seluruh DKI yang tak memiliki sistem drainase lingkungan yang baik. Hujan yang turun di lokasi tertentu, tak langsung bisa dialirkan ke saluran pembuangan. Ini tentu menyebabkan kawasan tersebut menjadi tergenang dan warga hanya bisa menunggu air tersebut surut terserap tanah. Untuk permasalahan seperti ini memang sulit melakukan tindakan yang cepat untuk menanganinya. Seandainya air yang tergenang dipompakan ke saluran makro, maka air itu akan masuk kembali ke daerah rendah tersebut, karena terlanjur tidak dibuatkan tanggul. Sejauh ini kawasan-kawasan rendah semacam itu, bisa efektif menyelesaikan persoalan banjirnya dengan membuat sistem polder. Seperti yang dilakukan di Belanda (lihat : Pengendali Banjir dengan Sistem Polder). Sistem Polder Belum Memasyarakat Sejauh ini ada 78 lokasi yang gampang sekali mengalami gnangan di Jakarta. Meski yang terbanyak berada di Jakarta Utara, tapi lokasi genangan relatif merata ada di empat wilayah lainnya di DKI Jakarta. Bahkan di Jakarta Selatan juga tak sedikit kawasan yang terganggu genangan jika terjadi hujan yang lumayan lebat di wilayah ini. Seperti daerah Pondok

Di Jakarta hujan dengan klasifikasi sangat lebat memang sering terjadi ini terlihat dalam dalam angka curah hujan bulanan, baik di utara maupun selatan Jakarta. Hujan dengan klasifikasi sangat lebat sering sekali terjadi di Jakarta. Untuk curah hujan dengan intensitas 100 mm, memang harus selalu diwaspadai, karena berpotensi menyebabkan banjir. Apalagi jika berlangsung cukup lama. Sebagai contoh banjir tahun 1996 dan 2002, terjadi karena hujan dengan intensitas 250 mm berlangsung selama 5 jam. Biasanya, hujan dengan intensitas tinggi ini memang paling sering terjadi pada dua bulan pertama, diawal tahun. Sehingga dalam dua bulan inilah ibukota paling sering diterjang banjir. Meski sebelum dan sesudah bulan-bulan itu hujan masih turun, tapi dampaknya tidak sedasyat di kedua bulan itu.

Curah Hujan Bulanan di Utara Jakarta (Sumber : Jakarta Flood Management Project)

ILWI Buletin No 01-2010

7

Sebagian ruas Jalan Sudirman yang tergenang air di kala hujan
Pinang, IKPN Bintaro, Setia Budi Barat, Kalibata dan Tegal Parang. Kejadian banjir di tempat ini tak lepas dari sistem drainase kawasan yang tak berfungsi dengan baik. Apalagi banyak daerah di Jakarta yang terus menerus disedot air tanahnya, sehingga banyak daerah mengalami amblesan (land subsidence).

Ini artinya limpasan air yang terjadi di kawasan yang mengalami penurunan tak bisa lagi dialirkan melalui sistem drainase yang mengandalkan gaya gravitasi dalam mengalirkan airnya. Seharusnya air-air tersebut dikumpulkan terlebih dahulu dalam satu penyimpanan (storage) ,

setelah itu baru dipompakan ke saluran-saluran makro. Sistem pengelolaan air menggunakan sistem polder seperti ini, sangat efektif untuk menanggulangi banjir di kawasan semacam ini. Sayangnya sistem semacam ini belum memasyarakat di Jakarta, memang ada beberapa daerah yang membuat sistem ini. Sayangnya, dibanyak tempat polder yang dibuat tak dirawat secara rutin sehingga tak berfungsi dengan baik.

ILWI Buletin No 01-2010

8

Pengelolaan BKT : Tak Sekedar Urusan Air
Meski belum sempurna Banjir Kanal Timur (BKT) telah berhasil menembus laut. Bagaimana BKT ini akan dikelola ? Ini menjadi pertanyaan penting, mengingat pentingnya peran dari saluran ini. Meski oleh banyak pihak pembangunan BKT dianggap terlambat, tembusnya kanal yang mempunyai panjang hampir 23,6 kilometer ini pantas diapresiasi. Bukan perkara mudah bagi Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta untuk membebaskan tanah selebar seratus meter sepanjang saluran tersebut. Perlu kerja keras dan dana yang tidak sedikit. Belum lagi tantangan dari warga yang tak senang rumahnya dipindahkan atau warga yang merasa tanah yang dibebaskan masih dalam sengketa. Masalahmasalah semacam itu tak bisa dipandang enteng. Meski perjalanan masih panjang, akan tetapi langkah awal yang sangat strategis telah berhasil dilewati. yang sekaligus bisa dijadikan obyek untuk mempercantik ibukota, sebagai satu ibukota yang bisa dibanggakan. Disamping itu kawasan BKT yang cukup luas ini, juga bisa digali potensi ekonominya. Misalnya menjadi pusat rekreasi, pemandangannya bisa dipakai para investor disekitar daerah itu untuk membangun, misalnya, tempat wisata kuliner, pengembangkan olahraga yang berbasis air, dipinggir saluran dibuat jogging track, dan lain-lain. Semua hal tersebut perlu dikembangkan, sehingga banyak keuntungan yang dicapai, diluar sekedar menjadi saluran penyelamat banjir saja. Tentu saja semua hal tersebut harus dilakukan secara terintegrasi sehingga tak menganggu fungsi utama dari keberadaan BKT itu sendiri. Jika ini bisa dilaksanakan dengan baik bukan tidak mungkin kawasan ini menjadi ikon baru dari sebuah kota megapolitan yang modern, bersih dan tertata. Mumpung, masih baru dibangun dan baru akan ditata, sebaiknya Pemda DKI benar-benar mengambil kesempatan ini. Pengelolaan BKT tak bisa diserahkan pada satu instansi saja, karena jika mengganggap BKT adalah satu kawasan, maka banyak pihak yang mempunyai kepentingan terhadap daerah ini. Karena itu pengelolaannya harus benar-benar profesional dan lintas instansi. Banyak pihak yang terlibat disana seperti Dinas Pekerjaan Umum,Dinas Perhubungan, Perindustrian, Perdagangan, Swasta, kelompokkelompok masyarakat dan sebagainya. Pengelola BKT nantinya, harus bisa mengatur dan mengoordinasikan semua pembangunan di kawasan ini secara benar, terarah dan teratur. Karena itu mereka yang dipilih sebagai pengelola, haruslah orang profesional yang bisa bekerja secara efektif. Sehingga dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama BKT bisa menjadi kawasan yang benar-benar tertata dan membanggakan. Masyarakat tidak saja bisa merasakan fungs BKT ini sebagai saluran pembuang air ke laut, akan tetapi juga mendapatkan satu tempat yang indah, teratur dan mempunyai potensi ekonomi yang tinggi. Hal ini bisa dicapai, hanya dengan menyerahkan kawasan ini pada satu sistem pengelolaan yang benar-benar berwawasan kedepan.

Banjir kanal timur
Persoalan berikutnya adalah bagaimana BKT ini harus dikelola ? Apakah nasibnya akan sama dengan saudara tuanya Banjir KanaL Barat (BKB), yang sekarang kondisinya cukup mengenaskan. Walaupun masih berfungsi dengan baik dalam membuang air langsung ke laut, sehari-hari BKB ibarat tempat limbah raksasa, semua limbah cair terkumpul di saluran ini. Dari limbah industri hingga limbah domestik, sama seperti kebanyakan sungai lain yang melalui Jakarta. Akibatnya kondisinya menjadi, kotor, berbau dan tak enak dipandang. Tentu saja kita tidak berharap hal yang sama terjadi pada BKT. Penataan BKT, haruslah lebih bersifat modern layaknya merawat satu kawasan penting yang berada di satu kota metropolitan. Saluran air ini mestinya bisa jadi pemandangan yang menarik bagi warga Jakarta,

ILWI Buletin No 01-2010

9

KLIPING KORAN JAKARTA (14 Juli 2009)

Pengendali Banjir dengan Sistem Polder
Banjir di Jakarta sering mengejutkan. Tinggi air mampu menenggelamkan perumahan. Namun ada perumahan yang bisa mengendalikannya dengan sistem polder.

HULU KE HILIR

Hujan

2000 m + MSL

t0

Evapotranspirasi Evapotranspirasi

Waduk/situ

UPSTREAM (Puncak-Bogor)

t1
MIDDLESTREAM (Bogor-Depok-Jaksel)

Banjir kanal

Sistim polder

Resapan air

t2

.....
DOWNSTREAM (Jaksel-Jakut) Polder

Evaporasi

t3
Pesisir

Gravitasi

t4

Daerah rendah rawan banjir perlu sistem polder
Banjir yang terjadi Februari 2002 benar-benar mengejutkan warga Jakarta, sekitar 10.000 hektar permukiman warga digenangi banjir. Ibukota lumpuh, bahkan dibeberapa tempat kedalaman air hingga empat meter. Korban jiwa yang ditimbulkannya mencapai delapan puluh orang, dengan kerugian ekonomi langsung sekitar Rp. 5,4 triliun. Belum lagi dampak ekonomi yang tidak langsung, diperkirakan mencapai Rp. 4,5 triliun. Banjir dengan skala luas kembali berulang tahun 2007. Meski tak separah tahun 2002, tapi akibat yang ditimbulkannya cukup luas. Setidaknya 60 % wilayah Jakarta digenangi air, 150.000 jiwa warga harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi. Kejadian ini benar-benar merepotkan warga, mereka tak dapat bergerak akibat terjangan banjir. Banjir semacam ini memang semakin kerap mengunjungi kota metropolitan ini, merata hampir di seluruh kota. Maklum, disamping dekat dengan pantai, tinggi muka tanah di daerah ini juga berada dibawah permukaan laut. Akibatnya mengalirkan air secara normal, dengan mengandalkan gravitasi bumi, tak bisa dilakukan di tempat ini. Untuk menyelesaikan masalah banjir di Jakarta memang bukan perkara mudah. Sejak jaman Belanda, pemerintahan kolonial sudah sering diganggu oleh air. Dalam catatan sejarah, Jakarta sudah merasakan banjir
ILWI Buletin No 01-2010

besar pada tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876. Kerepotan mengurusi banjir, tahun 1922 pemerintah Belanda merasa perlu untuk membangun Banjir Kanal Barat. Sayangnya semakin hari, masalah banjir semakin kompleks saja. Penyelesaian yang diambil selalu kalah cepat dengan permasalahan yang muncul. Melihat dari meratanya banjir di Jakarta, ada fenomena yang cukup menarik, yaitu adanya salah satu daerah di Jakarta Utara yang dalam beberapa tahun terakhir ini tak mengalami banjir, sebuah kawasan perumahan elit, Pantai Indah Kapuk. Masyarakat sempat menuding salah satu penyebab banjir adalah karena kawasan perumahan ini meninggikan seluruh lahan di tempat itu sehingga air sama sekali tak bisa masuk. Belakangan memang pendapat itu berhasil ditepis, karena daerah ini menggunakan Sistem Polder dalam usaha pengendalian banjirnya. Bagaimana sebenarnya sitem ini bekerja, sehingga banjir tak pernah lagi menjangkau kawasan ini. “Polder adalah satu daerah tertutup yang tinggi muka airnya selalu dikontrol,” kata Sawarendro, Ketua Indonesia Land reclamation and Water management Institute (ILWI)sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dibidang pengelolaan air dan reklamasi-. Dengan menggunakan sistem ini satu kawasan akan terjaga jumlah airnya meskipun di musim
11

penghujan. Kondisi seperti ini sekaligus membebaskan wilayah tersebut dari ancaman banjir. Disisi lain di saat musim kemarau kawasan polder justru tetap menyimpan air, karena sistem ini mengharuskan tersedianya waduk penahan air. Dengan adanya air tersebut menyebabkan kandungan air tanah di daerah ini masih terjaga di musim kemarau. Bagaimana sistem polder bekerja ? Sistem polder bisa dibuat untuk satu kawasan dengan luasan yang bervariasi dari puluhan hingga ratusan hektar. Kawasan yang berpotensi banjir tersebut diberi batas keliling yang juga berfungsi sebagai tanggul. Jalur yang tidak dapat dilalui air itu berfungsi sebagai batas hidrologi. Dengan adanya tanggul ini air dari daerah lain tidak bisa masuk ke daerah polder. Meski disebelahnya laut atau sungai, yang tinggi muka airnya melebihi dataran yang berada di kawasan polder, daerah tersebut tetap aman dari limpasan air. Dalam kenyataanya, tanggul tersebut bisa dibuat nyaris tak terlihat sama sekali. Karena batas hidrologinya bisa dengan memfungsikan jalan raya dan rel kereta api. Di kawasan perumahan biasanya para pengendara mobil tak pernah tahu bahwa jalan yang mereka gunakan berfungsi sebagai ‘tanggul’.

Meski demikian air tak seluruhnya bisa ditahan, karena disamping kemungkinan air limpasan tentu ada pula air rembesan (seepage) yang masuk ke kawasan tersebut. Air ini juga harus dikelola, karena jika permukaan air disebelah kawasan polder tinggi tentu jumlah air rembesan juga banyak. Ini dapat pula menyebabkan tejadinya genangan. Melalui drainasi bawah tanah (sub surface drain) air dialirkan ke dalam waduk penahan air, yang telah dibuat di kawasan tersebut. Sumber air lain yang bisa menyebabkan banjir di daerah tersebut adalah air hujan. Dalam sistem ini air hujan yang menggenangi permukaan kawasan dialirkan melalui drainasi permukaan ke dalam waduk. Sehingga setinggi apapun curah hujan air tidak sampai tergenang di permukaan kawasan. Karena melalui drainasi permukaan air langsung dialirkan ke waduk. Untuk air yang berasal dari limbah rumah tangga, air tak boleh langsung disalurkan ke waduk. Air limbah harus terlebih dahulu diolah sebelum dialirkan ke waduk. Ini dilakukan untuk menjaga agar waduk tidak tercemar. Setelah diolah air dialirkan langsung ke saluran pemompaan atau ke waduk melalui saluran. Saat musim hujan waduk harus dikontrol ketinggiannya. Jika air sudah melebihi batas toleransi
ILWI Buletin No 01-2010

maka air tersebut harus dialirkan ke laut atau ke saluran makro/sungai. Jika melalui saluran makro/sungai, maka saluran tersebut harus mengalir langsung ke laut. Untuk mengeluarkan air dari kawasan tersebut maka polder mempunyai struktur keluar (outlet structure). Struktur ini berupa pompa air dan bisa juga dilengkapi dengan pintu air. Dengan kontrol seperti ini maka kawasan akan terbebas dari banjir. Jika sistem ini bisa berjalan dengan baik, maka air tak akan membanjiri kawasan tersebut, walaupun tinggi air di sekitar kawasan jauh melebihi tinggi muka tanah di wilayah polder. Dimusim hujan tinggi air terus dimonitor sehingga setiap kali air melebihi ambang batas maka air segera dibuang ke luar. Sistem ini menuntut adanya petugas yang terus menerus memonitor tinggi air, terutama dikala musim hujan. Sehingga kawasan akan terus terbebas dari genangan air. Sedangkan dimusim kemarau pengontrolan relatif lebih longgar, karena ancaman air tak begitu besar. Sebaliknya air yang berada di dalam waduk justru menjadi penyeimbang kandungan air tanah di kawasan tersebut. Waduk penahan air tersebut, juga bisa dijadikan daerah untuk wisata keluarga,bahkan bisa juga untuk pemancingan. Sistem seperti inilah yang banyak digunakan di kota-kota besar di Belanda, termasuk untuk Bandara Schiphol, Amsterdam. Salah satu pelabuhan udara tersibuk di dunia ini memakai sistem polder, karena posisinya yang berada dibawah permukaan air laut. “Sejarah perkembangan sistem ini sendiri sudah ada sejak seribu tahun lalu,” kata Sawarendo. Awalnya ketika para petani di Belanda ingin menggarap lahan pertanian yang mereka miliki, para petani itu mengolah tanah gambut miliknya dengan membuat parit dan kanal. Tapi, kenyataannya sistem drainase kanal terbuka buatan manusia tersebut ternyata memicu penurunan muka tanah (subsidens). Ini tentu mengancam kawasan-kawasan yang berbatasan dengan laut. Karena permukaan tanah yang semakin menurun maka kawasan tepi pantai semakin tenggalam karena dibanjiri air laut. Agar tak terjadi banjir para petani berpikir sederhana yaitu dengan membangun tanggul. Pertama kali bangsa Belanda mengenal tanggul tersebut kirakira 1000 tahun yang lalu. Perlahan-lahan penahan air sistem tanggul tersebut berkembang menjadi sistem polder yang disempurnakan terus menerus serta diperluas penggunaannya. Kini semakin lama sistem polder semakin diakui sebagai suatu solusi untuk menghindari satu kawasan dari bencana banjir. “Di Jakarta sistem seperti ini sangat cocok, karena ancaman penurunan tanahnya juga cukup besar,” ujar lulusan Technische Universiteit Delft, Belanda ini. Karena itu disamping penanggulangan banjir juga harus ada upaya meminimalisasi berkurangnya air tanah di daerah ini. cit/L-1

11

Mengatur Air Masuk dan Keluar
Mencegah air masuk ke kawasan, mengalirkan air permukaan dan rembesan ke waduk, dan menjaga ketinggian air di waduk, adalah prinsip sederhana untuk menjalankan sistem polder. Meski prinsipnya sederhana, tapi dalam pelaksanaan tidak begitu saja bisa diterapkan dengan mudah. Harus ada perhitungan-perhitungan yang cukup cermat untuk membangun kawasan tersebut. Sebagai contoh untuk membuat tanggulnya saja, perlu pertimbangan dan pengukuran yang cermat untuk menentukan tingginya. Untuk itu mesti diketahui seberapa tinggi limpasan air dari luar yang mungkin masuk ke kawasan, berapa besar kekuatan ombak yang mungkin meruntuhkan tanggul, berapa besar soliditas tanah yang bisa menahan tanggul untuk tetap tegak berdiri dan lain-lain. Butuh perhitungan cermat untuk membuat sebuah kawasan polder, yang bisa menjamin bahwa daerah itu akan bebas banjir selama berpuluh-puluh bahkan hingga ratusan tahun yang akan datang. Ada lima elemen penting dalam sebuah sistem porder yaitu adanya tanggul penahan air, kanal atau sungai, stasiun pemompaan air, waduk penahan air, sistem drainasi permukaan dan sistem drainasi bawah tanah. Sungai/Kanal ini digunakan untuk membuang kelebihan air yang ada di dalam kawasan polder. “Jika langsung berbatasan dengan laut, bisa juga airnya langsung dipompakan ke laut,” kata Sawarendro, ahli sistem polder dari ILWI. Air tersebut berasal dari hujan dan rembesan (seepage) yang masuk ke dalamnya. Ini disalurkan ke waduk melalui drainasi sistem drainasi yang ada. Sistem drainase suatu polder terdiri atas sistem drainase permukaan dan drainase bawah-tanah. Drainase permukaan adalah saluran yang menampung pelimpasan air hujan di permukaan tanah. Sedangkan drainase bawah tanah berfungsi untuk menyalurkan air yang berasal dar rembesan air yang terjadi dibawah tanah. Air yang terkumpul di waduk ini harus dikontrol dengan memompanya keluar jika tingginya sudah melebihi toleransi. Air itu dikeluarkan melalui stasiun pemompaan yang ada. Untuk itu di stasiun pemompaan ini harus tetap ada petugas yang menjaga. Jika sewaktu-waktu air melimpas bisa segera dibuang ke luar. Tanggul sendiri posisinya mengelilingi kawasan, yang berfungsi untuk menahan limpasan air yang datang dari daerah lain. Dalam sistem polder tanggul yang dibuat jangan dibayangkan seperti dinding penahan air yang lazim kita lihat. Tanggul bisa berupa jalan yang mengelilingi kawasan tersebut, sehingga secara kasat mata orang tidak tahu bahwa jalan tersebut adalah tanggul penahan air yang akan melimpas ke kawasan tersebut. Sistem polder ini harus ada orang yang mengelolanya secara teratur. Sehingga kontrol terhadap tinggi permukaan air yang berada di kawasan bisa terus menerus dijaga. Para petugas disini ditunjuk oleh para pemangku kepentingan yang berada di kawasan tersebut. Kontrol terhadap sistem polder ini harus dilaksanakan berkelanjutan, selama kawasan ini masih diharapkan untuk terbebas dari masalah banjir. Untuk itu harus diingat jika ingin tetap tinggal di dataran rendah yang mudah tergenang, maka perlu persiapan terus menerus agar dapat ‘survive’ . Salah satu caranya adalah dengan membuat sistem polder.cit/L-1

ILWI Buletin No 01-2010

1

Penanganan Sungai Di Jakarta

TAK SEKEDAR BUTUH REVITALISASI
Belum lagi revitalisasi sungai berjalan dengan baik, tuntutan yang lain mulai muncul. Perbaikan aliran sungai tak hanya terbatas pada peningkatan kuantitas, kualitaspun harus segera diperbaiki. Membuat program yang mendukung, penegakan aturan dan konsistensi menjadi kunci keberhasilan.

Kondisi sungai di Jakarta memang sudah semakin parah, disamping kewalahan menerima limpasan air di musim hujan, kini hanya sedikit bagian (segmen) dari sungai yang bisa dijadikan sumber air oleh PAM Jaya. Secara umum peran sungai tak lagi bisa berjalan sebagaimana mestinya. Oleh warga Jakarta , fungsi sungai justru diubah menjadi jamban dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah raksasa. Kebiasaan warga inilah menjadi awal mula segala permasalahan berkenaan tak berfungsinya sungai dengan baik. Ditambah lagi dengan keberanian warga untuk mendirikan rumah dibantaran-bantaran sungai, yang seharusnya menjadi daerah bebas bangunan. Kondisi ini membuat sungai menjadi kesulitan melaksanakan fungsinya dengan baik. Ini bisa dimengerti karena dengan adanya rumah penduduk yang didirikan secara sembarangan ditepi-tepi sungai, otomatis juga pembangunannnya tidak menuruti aturan yang benar. Tak heran, jika banyak jamban-jamban warga dibangun langsung di atas kali-kali tersebut. Maksudnya, tentu saja agar kotoran dari jamban-jamban itu bisa langsung dibuang ke dalam sungai. Jika hanya satu dua rumah saja mungkin tak begitu mencemari sungai, tapi kalau sudah sepanjang sungai warga membangun jamban, maka pencamaran yang diakibatkannya cukup parah. Kotoran sungai akibat tinja diperkirakan mencapai 6 ton per hari. Belum lagi urusan sampah permukaan, yang dibuang ke sungai jumlahnya juga cukup tinggi sekitar 66 ton per hari. Sepanjang 250 kilometer panjang saluran yang ada di DKI Jakarta, hampir seluruhnya mengalami pencemaran semacam ini. Kondisi ini masih diperparah lagi dengan adanya limbah cair yang dibuang ke aliran sungai, baik itu limbah domestik maupun industri. Permasalahan semacam ini membuat sungai-sungai di Jakarta semakin hari semakin terbebani. Semakin sulit menahan gempuran banjir dan airnya pun semakin tak mungkin untuk diolah sebagai air bersih. Ironisnya sangking jeleknya kualitas air, banyak sungai yang airnya tak bisa digunakan untuk apapun, termasuk menyiram tanaman atau sekedar untuk menyuci mobil. Ini menunjukan bahwa sungai-sungai di Jakarta tak mampu lagi menopang kehidupan warga ibukota ini. Untuk itu perlu ada pembenahan terhadap sungai-sungai di Jakarta secara mendasar. Upaya revitalisasi sungai memang tengah berjalan. Kapasitas saluran yang berkurang menyebabkan air dengan mudah melimpas ke luar sungai di kala musim
ILWI Buletin No 01-2010

penghujan tiba. Upaya pengerukan harus dilakukan secara berkelanjutan dan harus pula diikutin dengan pembebasan lahan-lahan di bantaran sungai. Ini bukan masalah gampang, bertahun-tahun pemerintah DKI berkutat di masalah ini, tapi masalah sosial yang berkaitan dengan penggusuran warga memang selalu akan menanggung biaya dan risiko yang besar. Padahal, meskipun itu bisa dilaksanakan baru sebagian masalah sungai bisa diselesaikan. Yaitu yang berkaitan dengan meningkatkan kembali kapasitas aliran sungai. Masih ada masalah lain, yaitu pengembalian kualitas air agar tidak tercemar berat seperti sekarang ini. Satu-satunya upaya yang harus dilakukan adalah melarang warga dan kalangan industri membuang limbah dan sampah padat ke aliran sungai. Jika ada air kotor yang ingin dibuang harus terlebih dahulu dialirkan ke tempat pengolahan limbah. Memang untuk itu diperlukan investasi yang cukup mahal. Namun bagi Jakarta, hal ini sudah merupakan suatu keharusan. Ini harus segera dilaksanakan di kota ini. Aturan untuk melarang pembuangan sampah padat ke dalam sungai juga harus segera diterapkan. Hukuman harus diberikan pada yang melanggarnya. Akan tetapi, disisi lain pemda juga harus memperbaiki manajemen sistem persampahannya. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan manajemen persampahan yang kompleks, melibatkan seluruh warga masyarakat dari tingkat provinsi, kotamadya, kecamatan, RT/RW dan bahkan rumah tangga. Kita memang agak pesimis usaha-usaha ini bisa dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini memang kita sudah melihat adanya upaya revitalisasi sungai yang lebih menekakankan kepada upaya peningkatan kembali kapasitas aliran sungai. Belakangan memang masalah sungai semakin banyak, persoalan peningkatan kualitas air juga tak bisa dikesampingkan. Untuk itu tampaknya tak cukup hanya revitalisasi, kini Jakarta perlu melakukan “Revolusi” terhadap aliran sungainya.

13