No : 02-2010 May 2010

Buletin

WATERFRONT CITY
Ho Chi Minh City

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Kompleks Rawa Bambu I Jl. D/12A, Pasar Minggu Jakarta Selatan atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Email : ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 02-2010

1

Pengantar Redaksi
Pembaca yang budiman, di negara kita hampir semua kota-kota besar dibelah oleh aliranaliran sungai. Oleh penduduk kota sungai-sungai tersebut dimanfaatkan untuk beragam fungsinya. Sayangnya, kebanyakan masyarakat kota nyaris tidak ada yang memanfaatkan sungai tersebut sebagai pemadangan yang enak dilihat. Mereka malah menempatkan sungai “seolaholah” hanya sebagai bagian belakang dari rumahnya saja. Akibatnya tentu saja sungai hanya menjadi pelengkap penderita bagi masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan negatif warga melengkapi penderitaannya, menjadikan tempat sampah raksasa, toilet, tempat pembuangan limbah cair dan sebagainya. Inilah yang memperburuk kondisi sungai. Pembaca, dalam edisi kali ini kami mengajak untuk sama-sama bermimpi tentang nikmatnya hidup, jika kita bisa menjadikan sungai sebagai pemandangan yang indah di depan beranda rumah kita. Bahasan sudah tentu harus dimulai dengan kondisi centang perenangnya sungai-sungai yang kita miliki. Hasil reportase kami tentang kondisi Sungai Saigon di Ho Chi Minh City, Vietnam menjadi pelengkap sekaligus pembandingnya. Kita berharap satu saat nanti sungaisungai yang kita miliki bisa lebih baik dari yang ada saat ini. Pembaca, dalam kesempatan ini kami juga menampilkan beberapa tulisan berkaitan dengan kondisi beberapa situ di Jakarta. Dimana nantinya bisa jadi pertimbangan untuk segera “mengamankannya” . Akhir kata kami ucapkan selamat membaca Buletin ILWI

Redaksi ILWI

ILWI Buletin No 02-2010

2

Laporan dari Ho Chi Minh City dan berbagai kota di Indonesia

MENUJU WATERFRONT CITY
Paradigma yang menempatkan sungai sebagai bagian belakang dari rumah, menuai persoalan. Secara psikologis warga seolah-olah menyembunyikan keberadaan sungai, karena hanya menggunakannya sebagai tempat pembuangan belaka. Sungai sebagai bagian depan kota, harus segera dibudayakan.

. Kali Code, Yogyakarta Belakangan ini Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang berusaha menata Kali Code. Sungai yang membelah Kota Yogyakarta ini dianggap belum layak pandang, masih kumuh dan terkesan jorok. Padahal, selama ini pemda bukan tanpa usaha untuk menata kawasan ini. Mengutak-ngatik kawasan Kali Code sudah dilakukan bertahun-tahun, hasilnya bukan tak ada. Meski masih sederhana, perumahan ditepi sungai sudah mulai tertata, tempat-tempat duduk santai banyak dibangun di pinggir sungai. Bahkan sudah ada rumah susun yang dibangun ditepian sungai, sebagai solusi untuk memindahkan keluarga yang tinggal disekitar kali tersebut. Berbagai upaya yang sudah dilakukan tampaknya masih belum sebanding jika dibandingkan dengan kondisi kawasan secara keseluruhan. Kebiasaan menempatkan sungai dibelakang rumah-rumah penduduk, tak hanya membuat sungai tak enak untuk dipandang, akan tetapi secara psikologis juga membuat warga menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah cair. Akibatnya sungai semakin kotor dan tak menarik untuk dipandang. sebagai halaman depan rumah maupun kantor-kantor instansi pemerintah maupun swasta. Jika harus menilai, kondisi di kawasan Kali Code masih jauh lebih baik. Apalagi jika melihat kondisi drainase yang masih jelek dan jauh dari tertata. Jalan Juanda (Dago), yang merupakan urat nadi perekonomian, mendadak berubah jadi sungai di kala hujan deras mengguyur kota kembang ini. Air bergerak liar, karena tak memadainya saluran air. Sungai Musi, Palembang Kondisi yang sama juga terjadi di Musi, sungai dengan lebar lebih dari 500 meter yang terletak di Palembang, Ibukota Sumatera Selatan. Kota yang identik dengan asal Kerajaan Sriwijaya ini, terus berkembang dan membangun selama beberapa tahun belakangan ini. Pusat-pusat perdagangan tumbuh bak jamur di musim hujan, sayangnya pembangunan yang terjadi justru mengingkari keberadaan sungai yang justru menjadi ikon kota empek-empek ini. Rumah, gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan “sepakat” untuk membelakangi sungai. Akibatnya sungai yang sangat berpotensi sebagai daya tarik pariwisata itu berangsur-angsur menurun pamornya. Sama dengan kebanyakan sungai lainnya di Indonesia, Musi hanya menjadi bagian belakang dari bangunan yang berguna untuk tempat pembuangan barang-barang yang tak terpakai lagi tanpa ada keharusan untuk merawatnya. Di Jakarta, tak perlu dibahas lagi, kondisi sungai di kota kebanggan masyarakat Indonesia ini sudah masuk dalam tahap mencemaskan. Baik dari segi kualitas, kegunaan, apalagi masalah kepantasan untuk dilihat. Warga Jakarta telah terlebih dahulu menempatkan sungai dibelakang dari rumah-rumah mereka. Karena itu, segala akibat dari penempatan “posisinya” seperti mulai dirasakan masyarakatnya. Banjir, kualitas air yang jelek, pemandangan yang tak elok, merupakan sebagian akibat yang ditimbulkannya. Sungai Krueng Aceh Harapan pengelolaan sungai yang lebih baik ternyata ada di provinsi paling barat di Indonesia. Sungai Krueng Aceh, yang terkenal saat terjadinya bencana tsunami tahun 2004 lalu, kini jauh lebih tertata. Pemerintah daerah setempat sudah banyak membangun taman-taman di sekitar kawasan sungai. Kali yang lumayan lebar tersebut, menjadi tontonan gratis bagi warga yang sekedar duduk-duduk
3

Kali Code, Yogyakarta

Sungai Cikapundang, Bandung Permasalahan itu tak hanya terjadi di Yogyakarta, di Bandung juga mengalami hal yang sama, Sungai Cikapundung yang mengaliri jantung kota, kondisinya sangat mengenaskan. Tak terlihat adanya pemandangan yang indah di sana. Air kotor mengalir begitu saja, kadang-kadang tersendat dibagian tertentu karena ada bangunan yang menjorok ke tengah sungai. Hampir tidak ada yang menempatkan sungai

ILWI Buletin No 02-2010

di areal taman. Kondisi ini didukung oleh belum terlalu tercemarnya aliran sungai tersebut. Bahkan dibeberapa bagian sungai ada sebagian tempat yang dijadikan daerah wisata kuliner, dimana sambil menyantap hidangan pengunjung bisa menikmati gemercik suara air di sungai. Indahnya Sungai Krueng Aceh ini didukung oleh kesadaran warga untuk menjadikan sungai berada tepat di depan rumahnya. Sehingga secara psikologis warga juga merasa perlu untuk menjaga keindahan sungai tersebut. Meskipun demikian tidak semua warga melakukan hal semacam itu, dibeberapa bagian ada juga rumah atau tempat usahanya membelakangi sungai. Tampaknya hal ini perlu menjadi perhatian Pemda Banda Aceh, agar situasi semacam itu tak meluas. Bagaimanapun juga Sungai Krueng Aceh ini relatif berbeda dengan kebanyakan sungai lain di Indonesia.

benar menjadi obyek wisata, banyak wisatawan yang berkunjung ke sungai ini sekedar untuk mencicipi makanan yang ada di restoran-restoran sekitar daerah tersebut. Bahkan ada pula kapal-kapal yang disulap menjadi restoran terapung di sungai ini.

Restoran terapung di malam hari di Sungai Saigon

Rumah-rumah, pusat perbelanjaan dan perkantoran di sekitar kawasan ini menempatkan Sungai Saigon sebagai pemandangan utamanya. Kondisi ini tentu membuat warga setempat ogah menjadikan sungai sebagai bagian belakang dari halaman mereka. Warga sekitar sungai juga merasa bertanggungjawab untuk ikut serta menjaga kebersihan dan keindahan sungai.
Sungai Krueng Aceh

Belajar dari Ho Chi Minh Di negara-negara maju sungai memang tak lagi menjadi tempat pembuangan sampah dan segala macam limbah. Air yang mengalirinya juga relatif lebih jernih. Sehingga orang-orang yang melihat alirannya terhibur dengan pemandangan yang indah, jauh dari kotor. Tapi, untuk membandingkan sungai-sungai di Indonesia dengan sungai-sungai di negara Eropa tentu tidak adil, karena beberapa negara maju telah mengelola sungainya dalam jangka waktu ratusan tahun.
Taman di tengah kota Ho Chi Minh (Saigon)

Saigon sendiri kini bukan lagi menjadi ibukota, karena ibukota Vietnam “bersatu” adalah Hanoi dan sejak itu Saigon berganti nama menjadi Ho Chi Minh City (HCMC). Walaupun secara formal telah berganti nama, sebagian penduduk masih lebih menyukai nama Saigon untuk menyebut kota yang terletak dekat delta Sungai Mekong ini. Kota ini kini menjadi kota yang berkembang pesat.
Taman di tepi Saigon river

Untuk dijadikan perbandingan mungkin lebih baik disandingkan dengan Sungai Saigon, yang mengaliri kota Ho Chi Minh, yang dahulu menjadi ibukota dari Vietnam Selatan. Di sana sungai benarILWI Buletin No 02-2010 4

Taman di tepi Saigon river

Taman di pinggir Sungai Mahakam, Samarinda

Walaupun cepat berkembang dengan kegiatan perekonomiannya, kota ini dengan waterfront city nya dan taman-taman kota yang cukup banyak masih memberikan suasana yang asri bagi penduduk dan pelancong yang kian banyak berkunjung ke kota ini.

Kesempatan Menata BKT Bagiamanapun juga beberapa kota besar di Indonesia harus mulai menata sungai-sungainya, indahnya Sungai Saigon memang pantas membuat kita iri. Untuk memperbaiki sungai-sungai yang sudah terlanjur kotor dan padat penduduk memang bukan perkara mudah, akan tetapi tetap harus menjadi target untuk segera bisa direalisasikan. Kesempatan emas untuk menata jalur air yang baik, bisa didapat untuk Banjir Kanal Timur (BKT). Tahun 2010 ini BKT sudah berhasil tembus hingga ke laut, kini saatnya memanfaatkan momen awal untuk menata kanal ini secara menyeluruh. Sehingga nantinya BKT, tak hanya berfungsi sebagai banjir kanal saja, akan tetapi bisa menjadi satu kawasan yang indah, terawat dan mempunyai nilai ekonomis, lingkungan dan rekreasi yang tinggi. Sekali lagi sebaiknya segeralah menata BKT ke arah yang benar, agar kelak tak bernasib sama dengan saudara tuanya Banjir Kanal Barat (BKB).

Taman di tengah kota Ho Chi Minh (Saigon)

Sungai Mahakam, Samarinda Sedikit memberikan harapan, adalah penataan dipinggir Sungai Mahakam di kota Samarinda. Di sebagian pinggir sungai Mahakam tersebut tersedia cukup taman dan ruang bermain.

Banjir Kanal Timur (BKT)

Taman di pinggir Sungai Mahakam, Samarinda

ILWI Buletin No 02-2010

5

MENCEGAH BANJIR, MENATA RUANG
Semakin banyak kota-kota besar di Indonesia yang tidak mampu menahan banjir. Tanah dan saluran drainase, tak mampu lagi menyerap dan mengalirkan air dengan cepat. Penataan ruang yang serampangan menjadi awal penyebabnya. .

Tahun ini banjir terjadi lebih “merata” di banyak kota di Indonesia. Tidak hanya di ibukota, banjir juga melanda kota-kota seperti Pati, Cilacap, Bandung, Bogor bahkan Muaraenim dan Ogan ilir di Sumatera Selatan. Kejadian ini menunjukan bahwa ancaman banjir tak hanya meresahkan warga Jakarta, beberapa kota lainnya di Indonesia juga merasakan ancaman yang sama. Hujan lebat dengan intensitas di atas 100 milimeter per hari, dengan durasi yang cukup panjang, tak jarang membuat beberapa sungai dan kanal tak mampu mengalirkan air hingga ke laut. Jika genangan ini terjadi di Jakarta, mungkin bisa “dimaklumi”, disamping posisinya yang berada dibawah permukaan laut, ibukota sudah banyak sekali mengalami “keterlanjuran”. Terlanjur padat penduduknya, bantaran sungai terlanjur dijadikan permukiman, sistem drainase terlanjur tidak tertata, warga terlanjur terbiasa membuang sampah di sungai, konservasi terlanjur diabaikan dan lain-lain. Singkatnya, perlu energi dan tekad yang kuat untuk memperbaiki sistem tata air di DKI. Ironisnya belakangan fenomena banjir ini ternyata tidak hanya menjadi ‘monopoli’ wilayah rendah di pesisir pantai saja. Wilayah yang terletak ratusan meter di atas permukaan laut pun mulai merasakan pahitnya banjir , Bandung dan Bogor, merupakan contohnya. Tidak hanya itu,beberapa kota yang penduduknya relatif kurang padat juga mengalami kebanjiran, seperti Pati, Cilacap dan Muaraenim. Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan, kenapa kota-kota lain tidak belajar dari keadaan ruang Jakarta yang sudah serba kebablasan itu ? Mengapa wilayah/kota lain yang sesungguhnya lebih mudah untuk menata dirinya, sepertinya tetap ingin membawa dirinya masuk ke situasi keterlanjuran itu. Padahal telah dipahami bersama bahwa melakukan koreksi terhadap keterlanjuran membutuhkan ongkos yang lebih mahal. Dengan iklim tropis bercurah hujan tinggi, kita mendapatkan rahmat dan sekaligus potensi bencana jika kita tak mampu mengelolanya. Karena itu perlu upayaupaya yang tepat dalam mengelola sumber daya air. Didalam pengendalian sumber daya air ini pelaksanaan konservasi air, pemanfaatannya dan penanggulangan
ILWI Buletin No 02-2010

daya rusak air telah diamanatkan oleh Undang-Undang untuk dilakukan secara berbarengan. Berawal dari Penataan Kota Dengan iklim yang makin tidak ramah dimana permukaan air laut semakin meningkat, serta terjadinya penurunan muka tanah yang diakibatkan oleh pengambilan air tanah, maka tantangan perencana kota untuk mengurangi risiko banjir semakin lebih berat. Perlu konsep yang jelas, tegas, bahkan sedikit lebih berani dan ambisius, untuk mendapatkan hasil yang optimal. Prinsipnya, pengendalian daya rusak air dilakukan melalui tindakan mitigasi dan adaptasi yang dapat menurunkan potensi terjadinya bencana. Tindakan mitigasi diarahkan untuk mencegah terjadinya banjir dan genangan yang disebabkan oleh limpasan air sungai yang berasal dari hulu, genangan yang berasal dari curah hujan setempat dan limpasan air laut (rob). Sedangkan tindakan adaptasi diarahkan untuk memberi ruang tambahan untuk air dan menciptakan kehidupan harmonis dengan air. Secara umum ada dua kegiatan pokok yang harus dicermati yaitu upaya yang bersifat teknis dan upaya non teknis. Dalam hal penataan ruang, yang perlu diperhatikan adalah tersedianya badan sungai/saluran, rasio badan air untuk situ/waduk, sumur resapan dan lahan terbuka hijau yang memadai. Dalam setiap perkembangan dan pembangunan satu kota, hampir bisa dipastikan lahan terbuka dan badan air sering menjadi korban. Sehingga ketika kota itu berkembang, keberadaan badan air baik berupa situ/waduk maupun sungai, sangat tidak memadai. Beberapa kota besar di Indonesia mempunyai rasio badan air dibawah 5 % padahal kebutuhan idealnya berkisar antara 10 sampai 15 %. Untuk itu, terutama untuk kota yang belum kebablasan, penetapan keberadaan badan air ini harus dipertegas sejak awal. Penataan sumber daya air, terutama untuk wilayah rendah, seyogianya menjadi basis penataan ruang. Untuk daerah kota di pesisir, sistem polder bisa merupakan solusi yang tepat. Ada komponen institusional yang melekat pada sistim polder ini sehingga bisa lebih menjamin keberlanjutan. Sistem polder semacam ini sangat ramah lingkungan jika dikelola dengan baik dalam nuansa waterfront city.
6

Untuk masa yang akan datang, mengandalkan pemerintah saja dalam menanggulangi banjir, tak lagi bisa menyelesaikan permasalahan. Pemerintah dipastikan akan kelabakan. Problem yang muncul dapat lebih cepat datangnya dibanding dengan solusi yang dijalankan. Peran masyarakat harus dikedepankan. Pelibatan masyarakat yang sangat diperlukan adalah dalam upaya-upaya non teknis. Seperti tidak membangun rumah di bantaran sungai, tidak membuang sampah di saluran makro dan mikro, pengaturan pembangunan rumah, koservasi (Daerah Aliran Sungai) DAS dan lain-lain. Sistem pembangunan rumah harus ditata sehingga bisa bersahabat dengan air. Sering penataan dilakukan setelah ‘bencana’ terjadi. Ini tidak hanya monopoli orang Indonesia. New Orleans menata ruangnya kembali setelah terkena Katrina di tahun 2005, Belanda menata tata air nya kembali dengan memberikan ruang untuk tanggul, setelah bencana besar 1953 yang menelan ribuan jiwa.

Senantiasa ada kesempatan untuk memperbaiki ruang. Namun jika dilakukan lebih cepat, maka hasilnya pasti lebih baik. Semakin lambat dilakukan biaya dan pengorbanan yang harus dibayar akan semakin besar.

Tata ruang memberikan ruang memadai untuk air

ILWI Buletin No 02-2010

7

Banjir Sungai Citarum

BANJIR DAN KONDISI CITARUM
Realitanya kondisi DAS Citarum tidak sebanding dengan banyaknya manfaat yang diperoleh dari Sungai Citarum. Sangat memprihatinkan. Ke depan harus ada perhatian yang lebih serius untuk menanggulangi kondisi kritis di DAS ini.

Bendung Walahar

Kondisi aliran di sebelah hilir Bendung Walahar

Kondisi aliran di sebelah hilir jalan TOL Cikampek

Banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum pertengahan Maret 2010 dipicu oleh naiknya permukaan air Waduk Ir H Djuanda, Jatiluhur. Dalam sepekan, luapan air Sungai Citarum merendam 9.561 rumah di 27 desa/ kelurahan di sembilan kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Banjir juga merendam 817 hektar tanaman padi usia 1-100 hari. (Kompas 24 Maret 2010) . Banjir ini tentu agak diluar kelaziman, karena menurut kebiasaan maupun data hidrologi pada dekade tahun sebelumnya, bulan Maret bukanlah merupakan periode hujan besar tetapi merupakan periode akhir musim penghujan dan menjelang musim kemarau. Menurut informasi di media, kondisi banjir terparah justru terjadi pada tanggal 23 Maret. Pada waktu itu debit aliran sungai yang keluar dari Bendung Walahar mencapai 1.600 m3/detik. Sebagai gambaran, photo-photo diatas penulis ambil pada tanggal 26 Maret. Debit sungai pada waktu tersebut menurut Operator bendung di lapangan telah turun menjadi hanya sebesar 800 m3/det (separuh dari waktu banjir tersebut), dan muka airnya sudah surut sekitar 1 m lebih rendah. Dengan melihat dampak yang ditimbulkan banjir tersebut, dimana banyak kerugian material dan non-material yang dialami warga, penulis ingin memberikan sedikit gambaran mengenai Sungai Citarum dari mulai potensi yang kita manfaatkan dan kondisinya pada saat ini. Tidak semua orang menyadari betapa banyaknya manfaat yang telah kita ambil dari Sungai Citarum dan sangat tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan untuk merawat sumber daya alam tersebut. Potensi yang dimanfaatkan Sungai Citarum terletak di propinsi Jawa Barat dengan luas daerah aliran sungai (DAS) sekitar 7.000

km2, batas DAS tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Sungai ini membentang dari bagian hulu di Gunung Wayang Kabupaten Bandung dan mengalir ke arah Utara yang bermuara di Tanjung Kabupaten Karawang. Batas antara dataran tinggi dan dataran rendah terletak di Waduk Jatiluhur. Bagian hilir dari waduk ini merupakan dataran rendah yang merupakan daerah pesawahan dan merupakan lumbung padi di Jawa Barat (daerah dimana sekarang terendam air). Curah hujan di kawasan ini relatif cukup tinggi yaitu sekitar 2.300 mm/tahun yang menghasilkan debit rata-rata di muara sungai sekitar 5,7 miliar m3/tahun.

DAS Citarum

Waduk Jatiluhur

Waduk Cirata

Waduk Saguling

Daerah Aliran Sungai Citarum

Di aliran sungai ini terdapat 3 buah bendungan besar yang terletak secara seri dari mulai Bendungan Saguling dengan tampungan sekitar 3.000 juta m3 di
8

bagian paling hulu, kemudian Bendungan Cirata dengan tampungan sekitar 2.200 juta m3, dan terakhir Bendungan Jatiluhur dengan tampungan sekitar 1.000 m3. Ketiga bendungan tersebut juga menghasilkan daya listrik sebesar 5.000 Giga WattHour atau sebesar 5 milyar KWH/tahun, suatu potensi yang sangat besar. Selain itu aliran air Citarum juga digunakan untuk mengairi daerah irigasi sekitar 300.000 ha. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai sumber air minum bagi Kabupaten dan Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Karawang dan DKI Jakarta. Kondisi DAS Kondisi DAS sungai Citarum tidaklah sebanding dengan apa yang telah kita manfaatkan. Kondisinya sungguh sangat memprihatinkan, hal ini dapat dilihat dari data erosi yang dilansir oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Kondisi erosi di daerah tangkapannya sebagian besar tergolong kritis dan sangat kritis. Kondisi ini mengindikasikan bahwa telah terjadi kerusakan hutan di daerah hulu Sungai Citarum. Menurut Dinas Kehutanan kerusakan tersebut diakibatkan oleh penebangan illegal, penjarahan, perambahan dan okupasi. Data ini merupakan data tahun 2001, yang mungkin saja kondisinya pada saat ini sudah jauh lebih parah lagi ?

akan mengakibatkan menurunnya tingkat resapan air dan menambah laju erosi.

Kondisi daerah hulu Citarum

Kondisi diatas diperparah lagi oleh banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbahnya langsung ke sungai dengan tidak memenuhi baku mutu yang telah ditentukan oleh Pemerintah. Beberapa minggu yang lalu, salah satu stasium TV swasta menyiarkan kondisi kualitas air di Sungai Citarum. Dari pantauan tersebut terihat banyak sekali pabrik yang membuang limbah cair dalam keadaan hitam pekat dan suhu yang sangat tinggi langsung dialirkan kedalam sungai. Penutup Dari uraian diatas terlihat betapa banyaknya manfaat yang telah kita ambil atau manfaatkan dari Sungai Citarum, tetapi kita kurang bisa memelihara dan menjaga kondisi sungai tersebut. Kondisinya dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Hal ini harus kita sadari dan berusaha untuk memperbaikinya. Karena semua dampak yang ditimbulkan, masyarakatlah yang akan terkena dampaknya. Semoga kondisi Sungai Citarum ke depan menjadi lebih baik, sehingga jangan sampai banjir yang lebih parah dapat terjadi di masa yang akan datang.
Dedi Waryono, pemerhati sumber daya air

Rata-rata erosi di DAS Citarum

Gambar berikut yang juga dilansir oleh Dinas Kehutanan menunjukan perubahan tata ruang di bagian hulu DAS Citarum. Beberapa wilayah telah berubah menjadi areal ladang dan juga permukiman. Hal ini
ILWI Buletin No 02-2010 9

Situ-situ di daerah Jabodetabek, keberadaan dan pemanfaatannya

EVALUASI TERHADAP SITU-SITU DI DAERAH JABODETABEK
Jebolnya tanggul Situ Gintung setahun silam memberi pelajaran banyak pihak. Pemerintah langsung melakukan evaluasi terhadap situ-situ yang ada di Jabodetabek. Pedongkelan merupakan situ yang tergolong rawan.

Bencana jebolnya tanggul Situ Gintung pada tanggal 26 Maret 2009, mengakibatkan banjir bandang mirip tsunami ke arah hilir. Korban jiwa mencapai 100 orang meninggal dan 300 bangunan mengalami kehancuran.

beberapa konsultan Belanda di Indonesia untuk merumuskan suatu petunjuk dalam hal inspeksi terhadap danau kecil (situ-situ) yang ada disekitar wilayah Jabodetabek. Tim membuat suatu pedoman untuk menginventarisir risiko pada situ-situ di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Tim juga memberikan panduan cepat dan sederhana untuk penilaian keselamatan terhadap waduk dan situ serta memberikan saran tentang langkah-langkah yang mendesak yang harus segera diambil. Kegiatan yang dilakukan Langkah-langkah yang diambil untuk penanggulangan keamanan darurat agar lebih efisien disajikan dalam suatu panduan dimana dilakukan penilaian keamanan situ-situ dilandaskan oleh potensi risiko bagi wilayah sekitarnya. Tim melakukan kegiatan inspeksi lapangan untuk dapat melakukan penyeleksian data. Pengumpulan data-data yang telah ada, didapat dari berbagai sumber. Tujuan dari pengumpulan data tersebut untuk menghasilkan selengkap mungkin ikhtisar semua situ-situ di wilayah Jabodetabek dan secara sistematis untuk mendapatkan daftar situ-situ yang yang ada. Pada proyek Situ Situ Safety Inspection (S3I) ini, penerapan data-data yang tersedia adalah dengan mencocokkan satu sama lain dan membuat database yang konsisten dari situ-situ tersebut, serta disepakati oleh beberapa pihak/stakeholder. Panduan yang diberikan disusun berdasarkan beberapa analisa yang perlu dilakukan, seperti analisa bendungan (Dam Break Analysis), analisa limpasan air (overtopping) dan analisa kestabilan lereng (slope stability analysis). Analisa bendungan (dambreak) dilakukan dengan tujuan untuk menilai konsekuensi jika terjadi kegagalan bendungan. Angka bahaya diungkapkan sedemikian rupa sehingga angka bahaya tinggi berarti jika bendungan mengalami kegagalan akan berpotensi berbahaya bagi keselamatan manusia disekitarnya, dan angka bahaya rendah berarti kegagalan bendungan diperkirakan tidak akan berakibat kepada jatuhnya korban jiwa. Klasifikasi tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini:.

Lokasi Situ Gintung dilihat dari udara

Tanggul Situ Gintung yang mengalami kerusakan Peristiwa itu membuat banyak orang tersentak, dan mulai menyadari bahwa ada ancaman dari situ atau waduk. Oleh pemerintah momentum ini digunakan untuk mengevaluasi keberadaan situ-situ yang lain. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan pemerintah Belanda membentuk suatu tim yang terdiri dari

ILWI Buletin No 02-2010

10

Danger zone for residential area
3

2.5

Water depth [m]

2

Analisa limpasan air (overtopping) yang menggunakan curah hujan-limpasan dan hidrolik model (misalnya SOBEK) dapat dilakukan untuk meninjau adanya limpasan air yang berpotensi terhadap mekanisme kegagalan bendungan. Prioritas Tim melakukan analisa untuk beberapa situsitu yang ada, dan salah satu situ yang mendapatkan perhatian lebih adalah Situ Pedongkelan di perbatasan Jakarta dan Depok. Dari hasil evaluasi, situ ini mendapatkan prioritas tinggi untuk segera diambil tindakan.

1.5

1

0.5

0 0 1 2 3 Velocity (m/s) 4 5 6 7

Velocity [m/s]

Grafik kriteria untuk daerah padat penduduk

Sebagian dari lokasi situ Pedongkelan

Tubuh bendungan yang berfungsi sebagai akses jalan, terlihat ada retakan di tengah badan jalan

Tampak bagian hulu dari situ Pedongkelan, batang-batang bamboo dijadikan perkuatan penahan dinding batu kali pada tubuh bendungnya

Situasi bagian hilir di sisi kanan tubuh bendungan

Konstruksi saluran pembuangan, bangunan pelimpah dan pintu air

Ujung dari saluran dilihat dari arah hilir

Daerah tangkapan air di Situ Pedongkelan berlokasi di daerah aliran sungai Ciliwung, dengan luasan area tersebut adalah 369 hektar, sedangkan luas dari Situ Pedongkelan adalah 11.9 hektar. Sebagai bagian dari analisa situ, dilakukan penyelidikan tanah yang dapat mendukung proses pemodelan geoteknik. Penyelidikan tanah dilakukan untuk mendapatkan klasifikasi dan parameter tanah yang akan digunakan untuk analisa kestabilan lereng. Dalam penyelidikan tanah ini digunakan alat Piezocone/CPTu, yaitu alat sondir yang dapat melakukan pengetesan tanah dan tekanan air pori. Pengeboran tanah juga dilakukan hingga kedalaman 20 meter untuk menentukan klasifikasi tanah pada daerah tersebut. Hasil penyelidikan tanah menunjukkan bahwa tanah di lokasi berupa tanah lempung setebal kurang lebih 4 meter dengan warna coklat kemerahan. Lapisan
ILWI Buletin No 02-2010

tanah paling bawah setebal 8 meter mempunyai deskripsi tanah pasir batuan dengan warna abu—abu. Dari geoteknik analisa dengan menggunakan program MStab, diidentifikasikan bahwa pada keadaan normal angka keamanan didapat 1.3, sedangkan pada saat keadaan reservoir penuh di musim hujan angka keamanan menjadi 1.1. Karena itu saat normal dianggap masih dalam tahap memenuhi persyaratan, akan tetapi pada saat musim hujan termasuk kedalam kategori kritis.

11

Peta risiko dari Dam Break Analysis Oleh karenanya, tim inspeksi memandang bahwa kondisi bendungan memerlukan penanganan khusus dikarenakan beberapa aspek kekurangan yang tidak sesuai dengan batasan-batasan kriteria aman untuk keselamatan bendungan termasuk rumah-rumah di bagian hilir dan tubuh bendungnya.
Disarikan dari tulisan Josephine Setyarini, anggota tim S3I

Sedang dalam penulisan

ILWI Buletin No 02-2010

12

ILWI Buletin No 03-2009