No : 01-2011 Februari 2011

Buletin

GEMPURAN LAHAR DINGIN MENGHANCURKAN SUNGAI

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Kompleks Rawa Bambu I Jln. D No.12, Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520 atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Email : ilwi@indosat.net.id

JAKARTA MEMASUKI ERA TANGGUL LAUT

ILWI Buletin No 01-2011

1

Pengantar Redaksi
Pembaca yang budiman, kami kembali lagi menyapa Anda di tahun 2011 ini. Tahun baru, dimana harapan-harapan baru juga kita gantungkan di tahun ini. Semoga di tahun ini banyak kemajuan yang bisa kita capai, baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai satu bangsa. Ada beberapa kejadian menarik di pengujung tahun 2010. Salah satunya adalah bencana memilukan, meletusnya Gunung Merapi, yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Disamping banyak merugikan harta benda bagi warga setempat, malapetaka ini juga membawa korban jiwa. Lebih dari tiga ratus jiwa harus meregang nyawa. Kita turut berduka atas kejadian itu. Pembaca yang budiman, masih berkaitan dengan meletusnya Merapi, buletin kali ini membahas bagaimana sungai-sungai di kaki gunung tersebut berantakan akibat gelontoran lahar dingin yang dikeluarkannya. Menarik, karena ratusan kubik material yang dimuntahkannya harus melalui aliran sungaisungai tersebut di kala musim hujan tiba. Sungai yang tidak didesain untuk menahan aliran laha dingin ini tentu saja porak poranda. Pembaca, disamping lahar dingin, kami juga mengangat tema menarik yang kami sebut era baru Jakarta dalam menanggulangi banjir. Bekerjasama dengan Belanda, pemerintah mulai merencanakan pembangunan tanggul laut untuk mengurangi risiko banjir Jakarta dalam beberapa tahun ke dapan. Bagaiamana rencananya bisa disimak dalam tulisan kami. Akhir kata, Selamat membaca Buletin ILWI edisi 01 tahun 2011 ini. Redaksi ILWI

ILWI Buletin No 01-2011

2

ALIRAN RAKSASA MENGHANCURKAN SUNGAI
Secara teknis sungai-sungai tidak akan mampu menahan luapan lahar dingin. Tidak hanya menghancurkan jembatan dan rumah, alur sungai juga berubah akibat keganasan air yang bercampur material Merapi. Sulit mengantisipasi bencana ini dengan cepat.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana awal tahun 2011, ruas jalan Magelang di sekitar Jembatan Kali Putih, sudah mulai ditempatkan tiang-tiang pancang dengan panjang 12 meter. Pemasangan tiang pancang ini merupakan babak baru dari upaya pemerintah untuk mengeleminir dampak lahar dingin, yang memang mulai mengganggu perekonomian warga di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu. Pemasangan tiang pancang ini memang tidak serta merta bisa membebaskan jalan Magelang dari ganasnya lahar dingin. Akan tetapi, setidaknya bisa mengurangi jumlah material yang merangsek ke jalanjalan raya. Banyaknya material yang meluber hingga ke badan jalan tidak hanya mengganggu pergerakan para pengguna jalan, tapi sangat membahayakan bagi orang yang sedang lalu-lalang di atasnya. Tidak hanya air dan pasir saja yang melintas ruas jalan tersebut, batu-batu koral juga melaju dengan cepat tatkala hujan mengguyur hulu sungai yang berada di kaki Gunung Merapi ini. Lebih dari itu batu dengan ukuran super gede, sebesar truk, juga mampu menerabas sungai hingga melintasi ruas jalan
ILWI Buletin No 01-2011

Magelang. Dengan adanya tiang pancang ini tentu kita berharap bahaya akibat gelindingan material semacam ini bisa dikurangi. Sejauh ini, akibat letusan Gunung Merapi awal November 2010 lalu, Kali Putih lah yang terlihat mengalami kerusakan paling parah akibat hantaman lahar dingin. Meski masih banyak sungai-sungai lain yang terkena dampak lahar dingin, tapi kuantitas material yang cukup tinggi sangat membebani sungai ini. Akibatnya beberapa dusun yang berada di kirikanan sungai hancur berantakan. Banjir lahar dingin tak hanya mampu menerjang Jembatan Kali Putih, Desa Jumoyo, Magelang, akan tetapi juga menyebabkan aktivitas warga kacau balau. Ratusan warga Dusun Gempol, Ngipik, Randukuning, Gebayan, Sabrangkali, Tegalsari dan Seloiring lari tunggang lenggang akibat dasyatnya aliran material yang melalui daerah itu. Beberapa fasilitas umum dan sekolah rusak, selain itu pertokoan yang berada disekitar itu lumpuh karena tidak bisa melakukan aktivitas, akibat melubernya material hingga menutup sebagaian dari toko-toko tersebut. Selain itu setidaknya ada tiga
3

jembatan yang melintasi Kali Putih, hancur berantakan. Jembatan-jembatan itu terdapat di Dusun Cirahan, Dusun Cibayan dan Dusun Sabrangkali.

Merapi tahun 2010, sekitar 130 juta meter kubik material dimuntahkan.

Pasir dikeruk dari badan sungai Banjir ini tidak hanya memaksa kali untuk terus melebar, akan tetapi juga bisa memaksa kali berbelok arah. Bagi penduduk yang sudah berpuluhpuluh tahun berada di sekitar Desa Jemoyo tentu tidak pernah menyangka kalau banjir lahar dingin ini, mampu merontokan rumahnya. Selama ini meskipun musim hujan besar, jarang sekali air meluber hingga melewati talud-talud yang sudah ada. Apalagi jika sampai melampaui jembatan besar, seperti yang ada di ruas Jalan YogyakartaMagelang ini. Hampir mustahil rasanya. Dampak dari air yang melewati badan jalan tersebut, menyebabkan sebagian jalan tergerus akibat dihantam aliran air bercampur material dari Merapi. Terjangannya menyebabkan jalan yang seharusnya mempunyai lebar 14 meter itu, menjadi hanya menyisakan separuhnya saja, 7 meter, serta tergerus dengan kedalaman 5 meter. Untuk sungai-sungai lain yang berhulu di Merapi juga harus meningkatkan kewaspadaan yang tinggi, karena masih banyak material yang tertahan di puncak gunung dan belum meluncur ke bawah.

Tumpukan batu di tepi sungai Meskipun selama beberapa hari belakangan ini, ancaman lahar dingin lebih dramatis terlihat di sebelah Barat Gunung Merapi, utamanya di Kali Putih, bukan berarti ancaman itu tidak ada di sebelah Timur, antara Sleman dan Kabupaten Klaten. Daerah ini juga rawan terjadi banjir lahar dingin. Ini disebabkan sekitar 40 % dari komposisi endapan Merapi diperkirakan akan melewati Kali Gendol dan menyusuri Kali Prambanan.

Aliran sungai yang menyempit Menurut Subandriyo, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian, Yogyakarta, akibat letusan Gunung
ILWI Buletin No 01-2011

Jalan Yogya-Magelang menjadi satu jalur Seperti diketahui, awan panas yang meluncur dari Merapi saat erupsi sebagaian besar terjadi disekitar hulu Kali Gendol. Bisa dibayangkan jumlah material yang menumpuk di Puncak Merapi yang merupakan hulu kali tersebut. Sedangkan 60 % sisa material yang berada di atas gunung diperkirakan akan menyebar ke 10 sungai yang berhulu disana. Memang dalam beberapa hari belakangan ini ancaman di sebelah Timur masih belum sebesar di Barat, karena hujan lebih banyak turun disisi Barat Gunung Merapi.

4

Timbunan material Merapi mengapit aliran air Meski demikian, kerawanan itu sudah terlihat dengan putusnya 6 buah jembatan yang melintasi Kali Opak. Jika intensitas hujan sama dengan di hulu Kali Putih bukan tak mungkin Jalan Yogyakarta – Klaten akan bernasib sama dengan kondisi Jalan YogyakartaMagelang. Ini mengingat ruas jalan tersebut juga dilintasi oleh Kali Opak. Untuk itu memang pemerintah perlu mengantisipasinya dengan memaksimalkan kapasitas sungai yang ada. Jika ditotal sudah sekitar 29 jembatan yang hancur akibat ganasnya lahar dingin Merapi. Mengapa

ini bisa terjadi? Padahal lahar dingin yang meluncur diperkirakan belum mencapai 20 % dari material yang ada di puncak Merapi. Salah satu penyebabnya , dalam membangun jembatan asumsi pembangunan yang digunakan adalah setiap kali meletus akan menghasilkan material lahar dingin sekitar 1,4 juta meter kubik. Akan tetapi pada kenyataannnya letusan kali ini mengeluarkan lahar dingin mencapai seratus kali lipatnya. Salah satu jembatan yang putus adalah yang menghubungkan Kecamatan Dukun dan Sawangan, Magelang. Jembatan dengan panjang 150 meter dan lebar 5 meter itu ambruk karena penyangga yang berada dibagian tengahnya roboh tergerus air dan material. Akibat dari jatuhnya jembatan yang sudah berusia 35 tahun ini sekitar 15 desa di Kecamatan Sawangan terisolasi. Jembatan yang rusak juga terjadi Boyolali, di Kali Juweh dan Kali Apu. Seperti banyak jembatan lain yang dilalui lahar dingin, pondasi jembatan ini pun tak kuat menahan gelontoran material, sehingga tergerus didasarnya. Kondisi yang sama juga terjadi di beberapa tempat di Kabupaten Klaten.

Gelombang air sungai Kali Code yang semakin mendekati rumah warga

ILWI Buletin No 01-2011

5

Warga memasang tumpukan karung pasir Sedangkan bagi penduduk Yogyakarta lahar dingin juga cukup meresahkan, terutama di daerah aliran Kali Code, ini disebabkan oleh banyaknya warga yang bertempat tinggal di sepanjang aliran itu. Meski penduduk telah memasang tumpukan-tumpukan pasir di dalam karung, tetap saja aliran sungai yang disertai material dari Gunung Merapi membahayakan warga setempat. Jika hujan turun dengan sangat lebat, terlihat jelas bahwa dataran-dataran yang berada disekitar sungai sudah berada dibawah aliran air yang melewati kali tersebut. Memang tidak banyak juga usaha untuk memaksimalkan kemampuan sungai-sungai tersebut, karena seperti biasa kebanyakan sungai di Indonesia, bantaran sungai-sungai tersebut tidak sedikit yang sudah didirikan bangunan. Jika ingin benar-benar aman, tentu saja sejak sekarang sudah harus memindahkan warga di sekitar areal sungai tersebut. Tapi, upaya ini tentu saja tidak mudah, permasalahannya akan sama dengan upaya merelokasi warga di Kali Putih Melihat kondisi kerusakan yang sudah terjadi hingga saat ini, untuk menyelamatkan warga memang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu di Merapi dan berjarak sekitar 20-30 kilometer harus segera dikosongkan. Apalagi dibulan-bulan dimana curah hujan cukup tinggi seperti di bulan Januari maupun bulan Februari. Untuk Kali Putih radius 300 meter dari aliran sungai harus menjadi perhatian. Mengingat banyaknya material yang melalui sungai ini.

Batu besar di tengah sungai Bagaimana seharusnya menindaklanjuti peringatan ini? Seperti lazimnya kebanyakan DAS di Indonesia, untuk memindahkan warga yang berada di sekitar daerah itu bukan perkara mudah. Apalagi jika sifatnya mendesak semacam ini, dimana ancaman keselamatan nyata-nyata sudah ada di depan mata. Jika warga lengah sedikit saja artinya mereka harus mempertaruhkan keselamatannya seandainya gulungan lahar dingin merengsek kediaman mereka. Dalam beberapa kondisi, sudah terlihat dimana beberapa rumah hancur berantakan diterjang banjir lahar dingin. Untuk tujuh dusun yang mengalami kerusakan cukup parah, di Kecamatan Salam, Magelang, memang harus segera direlokasi. Ini mengingat kondisi dusun itu yang sudah porak poranda, dimana ketinggian pasir yang menimbun daerah tersebut mencapai 3 – 4 meter.

Rumah korban lahar dingin

Dam penahan material Merapi Pemerintah setempat sebenarnya sudah bertindak cepat dengan mengosongkan dusun-dusun tersebut, akan tetapi untuk merelokasi penduduk setempat masih memerlukan waktu lagi. Ini bisa dimaklumi karena perlu berbagai pertimbangan untuk
6

ILWI Buletin No 01-2011

melakukan relokasi, diantaranya kesediaan warga untuk dipindahkan dan ketersediaan lahan relokasi. Untuk melakukan relokasi memang membutuhkan kerjasama berbagai pihak, karena ini menyangkut keamanan, dana dan keinginan warga. Tak hanya di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, saja warga harus bertarung keras melawan dasyatnya lahar dingin, di Desa Gondosuli, Kecamatan Muntilan masyarakatnya juga ketar-ketir. Ini disebabkan oleh luapan air dan material berasal dari Gunung Merapi yang melalui Sungai Pabelan. Akibat banjir lahar , dua rumah yang berada dipinggiran sungai roboh akibat terjangan lahar dingin. Kini sungai tersebut telah banyak tertimbun material, karena itu penduduk setempat meminta pemerintah untuk segera menormalisasi aliran sungai tersebut. Jika normalisasi ini tidak segera dilakukan bisa dipastikan aliran sungai ini bisa menyimpang kemana-mana sehingga membahayakan rumah-rumah penduduk.

Normalisasi juga perlu dilakukan di Kali Putih, salah satu yang terpenting harus dilakukan adalah segera mengeruk sungai itu dari material yang tertimbun. “Dengan memperdalam palung dan mengeruk material vulkanik di sungai, kami berharap banjir ahar dingin tetap berada di alur sungai,” kata Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU). Yang akan dilakukan adalah memperdalam sungai hingga 6 meter dan membangun Jembatan Bailey di atas aliran. Melihat dasyatnya hantaman banjir lahar dingin yang dapat menghancurkan banyak jembatan. Pemerintah perlu melakukan inventarisasi, bukan saja terhadap jumlah jembatan yang ambruk akan tetapi juga jembatan yang masih bisa dipertahankan. Ini penting, setidaknya harus ada upaya maksimal untuk mempertahankan agar jembatan yang masih ada bisa bertahan dan tentu saja harus aman. Seperti Jembatan Ngepos, yang ada di Kabupaten Srumbung, Magelang,

Satu rumah warga di Jumoyo yang berangsur-angsur hilang akibat lahar dingin jembatan yang melintasi Kali Putih ini kondisinya sungguh mengkhawatirkan. Untuk mempertahankan
ILWI Buletin No 01-2011 7

jembatan ini agar bisa dipergunakan mungkin bisa juga dilakukan dengan memasang tiang pancang. Sehingga material yang melewatinya bisa tertahan.

Cemas melihat air yang terus meninggi Pelurusan aliran yang melalui jembatan ini juga perlu dilakukan, agar hantaman material tak terlalu kuat menabrak jembatan. Jika sebelumnya mengalir lewat sisi tepi barat maka akan diubah dengan mengalirkannya melewati tengah sungai. Beberapa batu besar juga dipasang di depan fondasi yang sudah mulai tergerus air ini, dengan maksud agar kekuatan aliran tak terlalu keras menghantam pondasi Jembatan Ngepos yang memang sudah sekarat .

Secara keseluruhan memang harus ada upaya penanggulangan sekaligus penataan yang sifatnya cepat dan segera dilakukan. Meski terlambat musibah melubernya lahar dingin ini, harus pula dijadikan kesempatan untuk menata ulang kawasan-kawasan yang rawan bencana lahar dingin. Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah, sudah meminta Pemkab Magelang, untuk segera menata ulang tata ruang di Kecamatan Salam, Muntilan dan Mungkid. Keinginan gubernur ini memang harus segera ditindaklanjuti, bagaimanapun juga masih ada kesempatan untuk mengurangi jumlah korban akibat lahar dingin. Berbagai pihak berkompeten meyakini bahwa lahar dingin dari Merapi ini bisa berlangsung 23 tahun. Untuk itu tidak ada kata terlambat untuk penataan ruang yang lebih baik. Dengan segera melakukan penataan ruang yang lebih teratur maka keberlanjutan atas keselamatan warga bisa lebih terjamin. Bagaimanapun juga pembangunan tembok penahan dan tiang pancang hanya efektef untuk jangka pendek. Di Kabupaten Magelang meski tidak separah 7 dusun tersebut, masih banyak daerah lain yang terancam lahar dingin. Setidaknya ada 45 desa dan enam kecamatan, yang tergolong rawan bencana.

Puncak Merapi masih menyimpan ratusan juta material vulkanik

ILWI Buletin No 01-2011

8

JAKARTA MEMASUKI ERA TANGGUL LAUT
Jakarta mulai merencanakan pembangunan tanggu laut. Dengan bantuan Belanda melakukan kajian terhadap pengamanan pantai. Nota kerjasama pun ditandatangani dengan Walikota Rotterdam

Workshop awal Jakarta Coastal Defense Strategy (JCDS)

Apabila tidak ada aral melintang minggu kedua bulan Februari 2011 ini Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta dan Ahmed Aboutaleb, Walikota Rotterdam, Belanda akan mengadakan pertemuan di Jakarta. Pertemuan ini dalam rangka program 'Sister City' 2011-2012, dimana kegiatan ini merupakan kelanjutan program yang sama atau periode 2008-2010. Kerjasama kali ini akan fokus terhadap manajemen air. Kedatangan Aboutaleb, kali ini akan dimanfaatkan untuk mendapatkan masukan dari pemerintah Kota Rotterdam di Belanda menangani masalah banjir. "Wilayah Belanda ada di bawah permukaan laut, sehingga Belanda memiliki pengalaman dan ahli menangani manajemen air saat menghadapi banjir dan badai," kata Fauzi Bowo. Bagi DKI Jakarta, kedatangan Aboutaleb ini tentu memiliki arti penting mengingat belakangan ini memang pemerintah provinsi mulai menggadanggadang rencana pembangunan tanggul laut di utara Jakarta. Kesempatan bertemu Aboutaleb seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menimba ilmu sebanyakbanyaknya tentang strategi penanggulangan banjir. Pembangunan tanggul laut ini tampaknya tak bisa lagi dielakan oleh Jakarta, mengingat 40 % wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan
ILWI Buletin No 01-2011

sungai, serta masalah penurunan permukaan tanah (land subsidence). Kondisi ini tak hanya menyebabkan Jakarta terancam kebanjiran akibat hujan saja, akan tetapi ancaman terjadinya rob semakin menjadi kenyataan. Apalagi dalam beberapa tahun ke depan, perubahan iklim global juga akan mengakibatkan kenaikan muka laut. Rencana pembangunan tanggul laut ini terus bergulir, apalagi pemerintah Belanda memberikan technical assistance untuk melakukan kajian/studi pengamanan pantai melalui Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS). Menurut Fauzi Bowo, dalam menghadapi ancaman rob Pemerintah DKI telah melakukan tindakan dengan memperbaiki dan meninggikan tanggul disepanjang Pantai Utara Jakarta. “Penyelesaian dengan cara ini merupakan penyelesaian jangka pendek dan JCDS akan lebih fokus dalam memformulasikan penyelesaian jangka panjang”. JSDC rencananya akan memberikan opsi pembangunan tanggul laut kepada pemerintah provinsi. Sejauh ini memang sudah ada beberapa wacana tentang opsi pembangunan tanggul laut di Jakarta utara. Diantaranya adalah tanggul laut diintegrasikan dengan reklamasi pantai utara Jakarta, tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi, tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi kecuali Tanjungpriok dan
9

tanggul laut menghubungkan antarpulau di Kepulauan Seribu. “JCDS akan melakukan pengkajian tentang opsi mana nanti yang dianggap paling mungkin dilaksanakan,” ujar Sawarendro, salah seorang anggota konsorsiun JCDS. Kajian yang dilakukan JCDS ini dengan melalui proses Triple-A yaitu Atlas, Agenda dan Aturan main. Pembuatan atlas dimaksudkan untuk menampilkan keadaan/situasi yang ada sebanyak mungkin dalam gambar dan grafik. Agenda bertujuan untuk memberikan rencana strategis dan Aturan Main dimaksudkan untuk memberikan gamabaran siapa yang berbuat apa Untuk mematangkan rencana itu JCDS mengadakan 'Workshop Draft Atlas' di Jakarta, Selasa, 1 Februari 2011. Dalam workshop itu dikemukakan bahwa pada periode 1974-2010, peneliti ITB Heri Andreas mengemukakan adanya penurunan permukaan tanah hingga 4,1 meter, di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara. Wilayah lain seperti Cengkareng Barat mengalami penurunan 2,5 meter, Daan Mogot 1,97 meter, Ancol 1,88 meter (titik pantau di area wisata Ancol), Cempaka Mas 1,5 meter, Cikini 0,80 meter, dan Cibubur 0,25 meter. Untuk menghentikan penurunan tanah ini dibutuhkan waktu yang lama. Di Osaka Jepang dan Amerika Serikat sudah sejak lama melarang warganya mengambil air tanah untuk menghindari land subsidance. Di Jakarta, hingga saat ini kebijaksanaan semacam itu belum bisa dilaksanakan secara tegas. Meskipun nantinya bisa dilaksanakan tetap saja kondisi muka tanah di Jakarta rawan terhadap banjir. Rencananya hasil pemetaan dan pengamatan pantai Jakarta yang dilakukan JCDS ini akan dijadikan rujukan pembangunan tanggul laut raksasa. Menurut Sawarendro, penyelesaian banjir dalam jangka panjang ini dirasakan keperluan untuk membangun tanggul laut dan membuat sistim polder dalam skala yang lebih luas. Sistim polder dengan skala luas ini akan membutuhkan waduk (tempat retensi air) yang cukup luas yang sulit diimplementasikan pada wilayah daratan karena keterbatasan lahan. Oleh karenanya pengembangan sistim polder ke arah laut menjadi pilihan yang rasional. Dalam workshop itu juga, Pitoyo Subandrio, Direktur Sungai dan Pantai, Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio mengatakan, pembuatan tanggul menjadi penting karena ancaman pemanasan global dan penurunan permukaan tanah (land subsidence). Hal ini harus menjadi pertimbangan utama, dimana nantinya menjadi tanggung jawab pemerintah dan swasta. Sedangkan Hermanto Dardak, Wakil Menteri PU, mengatakan bahwa sebaiknya tanggul laut itu nantinya bisa dimanfaatkan sebagai jalan tol. Sehingga bisa meringankan beban sarana transportasi di Jakarta.

Memang dibeberapa negara tanggul laut semacam itu bisa dijadikan tempat prasarana transportasi baik berupa jalan maupun rel kereta api. Belum ada rencana pasti sepanjang apa nanti kira-kira tanggul laut ini akan dibangun, akan jika melihat peta Jakarta, kemungkinan akan terbentang dari perbatasan dengan Tangerang di sebelah barat dan Bekasi di sebelah timur. Jika mengacu jarak kedua daerah tersebut maka kira-kira panjang tanggul laut ini nantinya bisa mencapai 35 kilometer. Jika bentang tanggul laut itu menjadi jalan tol, akan cukup berpengaruh untuk mengurangi beban lalu lintas di utara Jakarta. Melihat dari panjangnya tanggul laut yang mungkin dibangun maka sudah barang tentu akan menghabiskan biaya yang cukup besar. Untuk membangun tanggul laut tersebut, pembiayaannya dapat dilakukan dengan pola Public Private Partnersip. Jalan untuk pembangunan tanggu laut ini memang masih panjang. Untuk itu kerjasama intensif dengan pemerintah Belanda yang memang punya pengalaman banyak dalam pengelolaan air perlu untuk ditingkatkan. Sementara itu untuk lebih memahami permasalahan banjir Jakarta, sebelum menandatangani MOU dengan Gubernur DKI, pada Minggu pagi tanggal 6 Pebruari 2011, Ahmed Aboutaleb, melakukan kunjungan ke kawasan Pantai Utara Jakarta (Ancol, Sunda Kelapa dan kawasan kota lama). Pada kunjungan tersebut Walikota Rotterdam yang berdarah Maroko ini mendapat penjelasan mengenai situasi Jakarta dan ancaman banjir rob di Jakarta Utara. Pada kesempatan tersebut, Ahmed Aboutaleb juga melihat tanggul laut yang dibangun oleh pihak Belanda di wilayah Ancol. Wilayah ini sebelumnya sering tergenang banjir rob dan sejak dibangunnya tanggul tersebut banjir rob tidak terjadi lagi.

Biurgemeester (Walikota) Rotterdam (kiri) melihat tanggul di kawasan Ancol

ILWI Buletin No 01-2011

10

TELAH TERBIT
Sebuah buku yang membahas secara komprehensif masalah banjir di Jakarta
Buku ini mengangkat latar belakang persoalan banjir di Jakarta, baik dalam segi sejarah, kondisi geografis, kependudukan, dan sosial budaya. Langkah-langkah penanggulangan banjir yang harus diambil berdasarkan data, konsep, dan sejarah banjir itu sendiri. Buku ini mengupas pula ancaman tenggelamnya kota Jakarta dan konsep pemasangan tanggul laut. Buku yang komprehensif, membahas aspek banjir melalui pendekatan perekayasaan fisik (technical engineering) dan perekayasaan masyarakat (social engineering). Buku yang penting bagi orang-orang yang menganggap serius masalah banjir di Jakarta.

Buku dapat anda peroleh di Toko Buku GRAMEDIA dan GUNUNG AGUNG di kota anda. Atau dengan memesan langsung melalui email ke: ilwi@indosat.net.id Dan kami akan mengirimkannya ke alamat anda Harga buku Rp 65,000

ILWI Buletin No 03-2009