No : 02-2011 Juni 2011 Tahun ke III

Buletin

BUTUH 50 TRILIUN RUPIAH
UNTUK BANGUN TANGGUL LAUT

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Jl. Rajawali II No 5A Manukan, Condong Catur Yogyakarta 55283

Email : ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 02-2011

1

Pengantar Redaksi
Pembaca, pada tanggal 5 Juli 2011, lalu , ada yang menarik perhatian kami di Harian Financiele Dagblad. Dalam satu artikelnya , koran terbesar di Belanda, itu membahas tentang upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam menangani banjir Jakarta, termasuk diantaranya tentang rencana pembangunan tanggul laut. Dalam artikel tersebut Financiale Dagblad sempat mewawancari Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, JanJaap Brinkman dan Sawarendro, keduanya anggota konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy. Berita ini tentu saja menunjukan betapa pemerintah dan masyarakat negara Kincir Angin tersebut sangat tertarik dengan rencana penanganan banjir di Jakarta. Perhatian pemerintah Belanda terhadap rencana pembangunan tanggul laut juga ditunjukan dengan kehadiran Ben Knapen, Menteri urusan Eropa & Kerjasama Pembangunan, awal Juli lalu ke Jakarta. Dalam kesempatan itu Ben sempat membahas rencana pembangunan tanggul laut dengan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta. Pertemuan ini juga semakin menunjukan keseriusan pemerintah untuk merealisasikan pembangunan tanggul laut sebagai bagian dari penyelesaian masalah banjir di ibukota. Pembaca, wacana mengenai tanggul laut ini dipastikan akan menarik bagi para pemerhati sistem pengelolaan air di ibukota. Maklum saja, tanggul ini tak hanya dibuat untuk menahan kecenderungan tenggelamnya Jakarta, akan tetapi diharapkan juga bisa memperbaiki sistem tata air di ibukota secara keseluruhan. Teknologi menahan serangan air laut ini menjadi bagian penting dalam perkembangan pengelolaan air di Indonesia. Untuk itulah dalam Buletin ILWI edisi 02 tahun 2011 ini, kami mengangkat masalah tanggul laut ini secara mendalam. Pembaca, selamat membaca buletin ini. Redaksi ILWI

ILWI Buletin No 02-2011

2

IKHTIAR MENCEGAH TENGGELAMNYA IBUKOTA
Sepintas, seolah Jakarta tak akan pernah bisa mengejar ketertinggalannnya dalam menghadapi permasalahan banjir. Ancaman yang disebabkan oleh pemanasan global dan penurunan muka tanah, akan semakin memperparah kondisi dataran Jakarta. Perlu langkah ambisius untuk memutus rantai permasalahan banjir yang semakin panjang ini.

Tanggul laut di Belanda

Selasa awal bulan Juli 2011, Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, terlihat bergegas ke Kantor Kedutaan Belanda, di Jakarta. Biasanya jika Foke, demikian gubernur biasa disebut, berkunjung ke kedutaan negara lain, tentu berkaitan undangan untuk mengikuti seremoni acara tertentu yang dirayakan di kantor kedutaan yang bersangkutan. Tapi, kali ini kedatangan gubernur berkaitan dengan masalah penting. Berhubungan dengan masa depan pembangunan ibu kota. Betapa tidak, di kedutaan Belanda itu Foke telah ditunggu oleh Ben Knapen, Menteri urusan Eropa & Kerjasama pembangunan Belanda. Pembicaraannya, apa lagi kalau tidak berkaitan dengan rencana pembangunan tanggul laut di Jakarta. Kehadiran Ben, tentu saja semakin meyakinkan kita akan dukungan Belanda dalam penanggulangan masalah banjir di ibukota. Sebelumnya Ahmed Aboutaleb, Burgemeester (Wali kota), Rotterdam, Belanda, juga sudah terlebih dahulu melihat-lihat pantai utara Jakarta. Bahkan wali kota yang berdarah Maroko ini, sempat ke Ancol dan melihat area yang digadang-gadang pemerintah provinsi DKI Jakarta akan dibangun tanggul laut raksasa. Sebelum menandatangani Minutes of Agreement (MoA) antara Pemerintah Kota Rotterdam dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Bagi Jakarta kerjasama ini semakin menguatkan dukungan pemerintah Belanda terhadap pembangunan tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jakarta. Akhir tahun lalu negera Kincir Angin tersebut telah membantu memberikan ‘technical assistance’ untuk melakukan kajian/studi pengamanan pantai. Bantuan teknis ini dalam bentuk studi Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS). Kini tim JCDS sedang berjalan untuk melakukan studinya Pada prinsipnya, JCDS mendapat tugas untuk memformulasikan arahan strategis untuk merumuskan bagaimana tanggul laut yang melindungi Jakarta di masa depan. Hampir semua anggota JCDS ini berasal dari Belanda. Mereka bekerjasama dengan beberapa ahli Indonesia yang terlibat didalamnya. Langkah ambisius yang mendapat dukungan Foke, demikian Fauzo Bowo biasa dipanggil, cukup mencengangkan warga ibukota. Betapa tidak, untuk membentengi laut di Utara Jakarta bukanlah perkara yang mudah, baik dari segi sumber daya maupun dana yang harus dikeluarkan. Disamping itu penduduk Jakarta pun belum sepenuhnya yakin kalau bendungan ini bisa membebaskan Jakarta dari banjir. Meski demikian Foke bergeming untuk tetap menjalankan niatnya ini, ia yakin ibukota sangat membutuhkan tanggul raksasa ini.

ILWI Buletin No 02-2011

3

Lantas apakah dengan adanya tanggul raksasa ini Jakarta akan bebas banjir ? Sawarendro, salah seorang anggota tim konsorsium JCDS, menyatakan tanpa tanggul, tidak mungkin Jakarta akan terbebas dari banjir. (lihat wawancara : Tanggul Bagian dari Solusi Banjir). Tanggul laut adalah bagian dari solusi banjir yang harus dilakukan di ibukota. Membentengi Pantura adalah langkah jangka panjang yang mau tidak mau harus ditempuh, sedangkan program jangka pendek dan menengah juga harus tetap berjalan. Seperti diketahui saat ini pun pemerintah masih melanjutkan program-program penanggulangan banjir di Jakarta seperti penyelesaian Banjir Kanal Timur, normalisasi sungai, perbaikan drainase, sosialisasi sistem polder dan lain-lain. Semua program itu harus terus berjalan dan didukung oleh masyarakat. Menyelesaikan masalah banjir Jakarta tak bisa lagi setengah-setengah. Selama ini penyelesaian yang diambil selalu kalah cepat dengan permasalahan yang timbul. Harus ada langkah visioner dan konseptual. Sejak awal, masyarakat atau secara khusus warga Jakarta, harus diberi pengertian bahwa keberadaan tanggul laut itu tidak lantas akan membebaskan ibukota dari masalah banjir. Namun

demikian, tanggul laut merupakan bagian yang penting dari penanggulangan banjir yang harus dilakukan paralel dengan upaya-upaya lain yang harus berjalan beriringan. Tidak hanya usaha-usaha dibidang teknis seperti pembangunan infrastruktur saja, tapi juga upaya non teknis juga harus terus menerus didorong. Ancaman rob, amblesan, serta kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim, perlahan namun pasti akan mengancam wilayah utara Jakarta , bila tidak segera diantisipasi. Diluar tambahan permasalahan itu, sebenarnya Jakarta juga sudah memiliki “tabungan” permasalahan yang belum kunjung bisa diselesaikan. Seperti curah hujan yang tinggi di bagian hulu, perubahan penggunaan lahan yang pesat di daerah aliran sungai, penyempitan badan sungai oleh pemukiman di bantaran sungai, pendangkalan sungai akibat adanya erosi atau sampah, dan sebagainya. Kondisi saat ini saja sudah mampu membenamkan 40 % dari luas Jakarta dikala musim penghujan ekstrim tiba. Apalagi jika ketambahan masalah baru yang semakin hari semakin mengkhawatirkan itu.

Penurunan tanah di Jakarta hingga 2010

ILWI Buletin No 02-2011

4

Penurunan Tanah

cukup mengejutkan. Setidaknya dalam kurun waktu 1997 hingga 2007, telah terjadi penurunan muka tanah 80 - 90 cm. Secara umum laju penurunan tanah berkisar 5-10 cm per tahun di bagian utara Jakarta, yang bervariasi secara spasial maupun temporal. Secara teknis penurunan muka tanah bisa diakibatkan oleh beberapa penyebab. Seperti pengambilan airtanah yang berlebihan, penurunan karena beban bangunan dan timbunan (settlement), penurunan karena adanya proses konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah. Di Jakarta masalah penggunaan air tanah yang berlebihan dipercaya berkontribusi besar dalam menyebabkan penurunan muka tanah di wilayah-wilayah tersebut. Ini tentu saja mengkhawatirkan bagi sebuah kota megapolitan seperti Jakarta ini. Penurunan muka tanah semacam ini tidak hanya akan menyebabkan banjir tetapi juga menimbulkan masalah-masalah lainnya seperti perubahan dan kerusakan struktur bangunan, pembalikan arah aliran saluran drainase dan bisa pula menyebabkan terjadinya rongga/lubang dibawah lantai gedung bangunan. Di bagian utara Jakarta dampak penurunan muka tanah ini benar-benar merisaukan. Bagaimanapun juga, daerah ini yang datarannya kebanyakan sudah berada di bawah permukaan laut, sangat mudah diterabas air laut jika tanahnya terus menerus menurun. Kenyataannya memang tanah di daerah yang berbatasan dengan laut ini terus menerus mengalami penurunan (land subsidence). Semakin hari, perbedaaan ketinggian antara muka tanah dan muka air laut semakin jauh saja. Meski dengan melakukan pengontrolan terhadap penggunaan air tanah saja, penurunan tetap berlangsung walau dengan skala yang lebih kecil, Apalagi tanpa dilakukan pembatasan terhadap penggunaan air tanah.

Contoh penurunan tanah di California, AS
Sumber www.water.usgs.gov

Sumber JWRMS

Fenomena penurunan tanah bukan sekedar wacana untuk menakut-nakuti masyarakat saja. Dibeberapa tempat penurunan tanah terjadi dengan angka yang sangat signifikan. Survei dengan menggunakan GPS (Global Positioning System), yang dilakukan beberapa kali dalam sepuluh tahun terakhir ini menunjukan terjadinya penurunan tanah yang
ILWI Buletin No 02-2011

Rob Serangan dari laut, yang sering disebut sebagai rob, tidak hanya dominasi kota Jakarta. Semarang juga mengalami hal yang sama dengan tingkat keparahan yang lebih. Beberapa wilayah yang berada di Pantura DKI Jakarta diantaranya Kamal Muara, Pluit, Penjaringan,
5

Kalibaru, Cilincing dan Marunda merupakan kawasan yang terkena dampak dari rob. .

merupakan isu internasional yang membutuhkan kemauan bersama antar sesama negara yang berada di permukaan bumi ini untuk mengurangi pemanasan global.
120

Kenaikan muka laut (cm)

100

80

60

40

Skenario bawah Skenario sedang Skenario atas
2025 2050 2075 2100

20

0 2000

Tahun

Sumber JWRMS

Perkiraan kenaikan muka air laut (skenario IPPC).

Kenaikan Muka Air Laut Kedepan masalah juga timbul akibat dari pemanasan global, tinggi permukaan laut akan meningkat. Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dalam prediksinya memperkirakan bahwa kenaikan muka air laut berkisar antara 18 cm sampai 59 cm sampai tahun 2100. Ini tentu juga berpengaruh pada perairan laut Indonesia. Dampak ini lebih terasa pada daerah-daerah yang berbatasan dengan laut, seperti DKI Jakarta. Karena sifat globalnya, penanganan masalah ini harus dilakukan secara global dengan cara menurunkan konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Semua negara di dunia harus bersama-sama berusaha menurunkan konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya di negaranya masing-masing. Isu ini

Sebagai bagian dari negara yang berada di dunia ini, tentu Indonesia harus mengantisipasi segala dampak yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim ini. Dampak utama yang dirasakan adalah kenaikan muka air laut dan meningkatnya intensitas curah hujan di musim penghujan. Jakarta tentu tidak ingin infrastruktur dan permukiman yang telah ada secara perlahan-lahan hilang tergenang air laut. Tiga masalah besar inilah yang akan tambah “merecokin” Jakarta, jika tidak segera diambil tindakan yang sifatnya masif dan sedikit ambisius. Gambar dibawah ini menunjukan bahwa kita harus rela melepas Jakarta secara perlahan-lahan jika tidak antisipatif terhadap ancaman ini.

Sebagian wilayah Jakarta yang akan tenggelam dalam beberapa tahun kedepan

ILWI Buletin No 02-2011

6

Wawancara Sawarendro (JCDS) :

TANGGUL BAGIAN DARI SOLUSI BANJIR
Pemerintah serius merencanakan pembangunan tanggul laut. Bantuan teknis dari Belanda berupa studi Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS),akan memformulasikan bagaimana kelayakan tanggul yang nanti akan dibangun. Pembangunan tanggul ini menjadi momen tepat untuk sekaligus menata sistem tata air di ibukota .

Tanggul laut mengamankan satu wilayah dari ancaman air laut

Hermanto Dardak , Wakil Menteri Pekerjaan Umum, tampak semangat membuka Workhshop Options for Coastal Defense of North Jakarta di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Juni 2011. Apalagi setelah mengetahui bahwa rencananya tanggul tersebut dapat juga dimanfaatkan sebagai jalan sepanjang 50 kilometer yang membentang di sebelah utara Jakarta. “Tanggul itu nantinya diharapkan menjadi tanggul multi-guna, yang mungkin bisa digunakan sebagai jalan tol atau jalur kereta api,” ujar

Jakarta,” ujar Sawarendro, yang menjadi pembicara mewakili JCDS dalam workshop itu. Menurutnya, momen pembangunan tanggul laut ini harus bisa mengurangi kegelisahaan warga ibukota akan terjadi ancaman banjir rob di masa datang. JCDS sendiri tak semata-mata bekerja untuk merencanakan pembangunan tanggul laut saja. Tapi, lebih luas lagi yaitu perencanaan strategis terhadap pertahanan pesisir Jakarta. Dalam workshop yang dihadiri oleh pejabatpejabat di jajaran Kementerian PU, Bappenas, Pemeritah Provinsi DKI Jakarta dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya itu didiskusikan mengenai rencana-rencana strategis yang akan diambil dalam perencanaan pembangunan tanggul tersebut. Pada umumnya peserta workshop menyambut baik inisiatif untuk mulai memikirkan ‘impian’ Jakarta di masa depan dan berharap agar masalah non structural mendapatkan perhatian yang lebih dalam studi lebih lanjut. Untuk mengetahui lebih banyak tentang tanggul laut , Reporter kami mewawancarai Sawarendro beberapa saat setelah acara workshop selesai. Berikut petikan wawancaranya :

mantan Dirjen Bina Marga ini. Wakil Menteri PU Hermanto Dardak memberikan sambutan pada workshop tanggul laut Workshop yang diadakan Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), memang dihela untuk memaparkan opsi-opsi yang mungkin dilaksanakan dalam pembangunan tanggul. “Pembangunan tanggul ini harus terintegrasi dengan pengembangan kota
ILWI Buletin No 02-2011

Apa tujuan penanganan banjir ? Membebaskan wilayah secara mutlak dari bahaya banjir adalah tidak mungkin. Tetap ada kemungkinan suatu kawasan akan tergenang, walaupun frekuensinya mungkin jarang dan genangannya tidak begitu tinggi. Apalagi untuk kawasan Jakarta yang sebagian wilayahnya terletak lebih rendah dari muka air laut atau muka air sungai.
7

Tujuan penanganan banjir agar frekuensi genangan bisa semakin jarang dan masalah yang ditimbulkannya bisa semakin ringan. Jika kondisi semacam ini dapat dimungkinkan, maka warga Jakarta akan lebih tenang beraktivitas. Kenapa harus membangun tanggul raksasa untuk mengatasi banjir, mengapa tidak fokus pada rencana yang sudah ada saja ? Masa depan adalah sesuatu yang sudah pasti akan datang. Tren penurunan muka tanah dan perubahan iklim akan terus berlangsung, dan ini tak terbantahkan. Genangan yang diakibatkan banjir rob akan datang dalam frekuensi yang lebih sering, berlangsung lebih lama dan genangan yang lebih tinggi. Harus ada upaya signifikan untuk mengantisipasi ini. Pembangunan tanggul di Teluk Jakarta adalah rencana jangka panjang, yang perlu dipikirkan dan direncanakan mulai dari sekarang. Sebagai insinyur, kami perlu mempersiapkan dan memikirkan apa yang dibutuhkan di masa yang akan datang. Pelaksanaannya terserah pada pengambil keputusan (politisi), kami mengusulkan apa yang kami rasa baik untuk Jakarta. Namun, sebagaimana yang sering terjadi, keputusan dan urgensi baru dirasakan kalau bencana sudah terjadi. Seperti Pekerjaan Banjir Kanal Timur dilaksanakan lebih 30 tahun setelah direncanakan pada 1973. Dilaksanakan, setelah banjir besar tahun 2007. Untuk program jangka pendek dan menengah dalam penanggulangan banjir di Jakarta tetap harus terus dilaksanakan. Seperti sosialisasi pembangunan sistem polder, normalisasi sungai, perbaikan saluran drainase, penyelesaian BKT dan lain-lain. Diharapkan dalam jangka panjang nantinya perpaduan antara pembangunan tanggul laut dan upayaupaya jangka pendek dan menengah ini mampu mengurangi risiko banjir di ibukota. Apakah tanggul raksasa menyelesaikan masalah banjir Jakarta ? Tanggul laut ini merupakan bagian dari solusi banjir Jakarta. Melihat dan mempertimbangkan situasi yang mungkin terjadi dalam beberapa tahun mendatang, pembangunan tanggul laut memang menjadi pilihan paling masuk akal. Bagaimanapun juga masuknya air laut ke daratan harus dihindari, disamping itu adanya tanggul laut yang dipadukan dengan reklamasi pantai utara akan memberi ruang yang cukup untuk menata sistem tata air Jakarta secara keseluruhan. Sistem tata air yang lebih baik tentu saja akan mengurangi risiko banjir di Jakarta secara keseluruhan. Bagian lain yang juga cukup penting dalam penyelesaian banjir adalah mengurangi dan kemudian menghentikan penggunaan air tanah. Untuk mendukung kebijakan ini, perlu dilakukan pemenuhan kebutuhan air bersih yang menjangkau lebih banyak penduduk. Pola insentif dan disinsentif perlu diterapkan. Kapan rencana tanggul ini mulai menjadi wacana?
ILWI Buletin No 02-2011

Sepengetahuan kami, ide pembangunan tanggul ini sudah pernah disampaikan konsultan Belanda Nedeco pada awal 90 an. Namun karena mungkin belum terlihat urgensinya, ide tersebut belum menarik bagi pejabat dan publik. Sekitar 4 tahun lalu, dalam diskusi-diskusi, terutama dalam diskusi penyusunan Draft RTRW mengemuka pertanyaan apa yang harus dilakukan Jakarta untuk menghadapi penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut. Dari diskusi itu, ide yang pernah ada beberapa waktu lalu itu, mendapatkan tempatnya kembali. Sejak itu diskusi mengenai rencana tanggul laut berlanjut terus. Draft RTRW juga sudah memberikan ruang untuk kemungkinan implementasi tanggul laut ini. Gubernur DKI Jakarta juga cukup antusias dengan ide ini. Bagaiamana kira-kira bentuk tanggul tersebut ? Belum ada detail disainnya. Namun perkiraan, bentuk tanggul laut itu bisa berupa tanggul yang bagian dalam dan tengahnya dibuat dari bahan tanah dan pasir sedangkan bagian luarnya dilindungi dengan batuan . Ada geotekstil yang memisahkan pasir dan bantuan. Lebar atas tanggul diperkirakan sekitar 50 meter. Dengan kemiringan tanggul sekitar 1 : 7 (1 vertikal berbanding 7 horisontal). Karena cukup lebar di atas tanggul bisa sekaligus difungsikan sebagai jalan raya atau jalan kereta api, atau kedua duanya sekaligus. Sebagai jalan raya (tol atau non tol) diperkirakan bisa digunakan 5 jalur atau lebih di masing-masing arah lalu lintas. Bayangkan, anda bisa membuat jalan (tol) yang demikian panjang dan lebar tanpa problematika pembebasan tanah yang selalu menghantui pembangunan infrastruktur jalan selama ini Berapa kira-kira ketinggian dari tanggul tersebut ? Untuk menghitung ketinggian tanggul harus dilakukan analisa secara mendalam. Prinsipnya ketinggian tanggul harus memperhatikan faktor ketinggian air laut pasang, wind setup, storm surge, gelombang laut, amblesan, kenaikan muka air laut (sea level rise), penurunan sisa (residual settlement) dan potensi tsunami. Semua itu harus diperhitungkan secara cermat sehingga tinggi dari tanggul tersebut mampu menahan air yang datang dari arah laut. Sebagai ilustrasi saja, jika tanggul terletak pada kedalaman laut -8 meter, maka diperkirakan level atas tanggul berada di ketinggian 5–6 meter di atas permukaan air laut rata-rata. Jika tanggul ditempatkan pada kedalaman laut -16 meter, maka diperkirakan level atas tanggul berada di ketinggian sekitar 7–8 meter di atas permukaan air laut rata-rata. Bagaimana dengan tingkat keamanan tanggul ? Tanggul merupakan benteng pertahanan dalam menahan air yang akan memasuki kawasan. Karena itu kekuatan benteng ini harus benar-benar diperhatikan. Kemungkinan air yang datang dari laut harus benar8

benar mampu dikelola. Tanggul harus benar-benar kokoh dan tidak mudah mengalami perubahan bentuk. Di Indonesia pembangunan tanggul laut ini dalam skala besar ini memang belum pernah ada, sehingga patokan tingkat keamanan perlu dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan benar. Berbeda dengan di negeri Belanda penggunaaan sistem tanggul ini telah berlangsung beberapa dekade. Di negara Kincir Angin ini tingkat keamanan tanggul disesuaikan dengan kepadatan penduduk dan nilai aset yang hendak dilindungi . Untuk wilayah barat Negeri Belanda dengan kepadatan penduduk dan nilai aset ekonomi yang tinggi, tingkat keamanan tanggul lautnya dilakukan dengan mengacu pada kriteria kala ulang gelombang dan angin 1 per 10.000 tahun. Sedangkan di wilayah yang semakin ke dalam (timur) yang lahannya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, dipersyaratkan tingkat keamanan yang lebih rendah yakni dengan kala ulang sampai 1 per 1250 tahun. Hal ini berhubungan dengan tingkat risiko/ konsekuensi yang muncul jika terjadi keruntuhan /ketidak berfungsian struktur yang ada misalnya keruntuhan tanggul. Maka dari itu, untuk reklamasi Pantura, seyogianya ditetapkan tingkat keamanan dengan kriteria yang sama, terutama untuk struktur tanggul laut di sebelah utara.

Opsi tanggul disesuaikan dengan kebutuhan

Bentuk tanggul bagaimana yang diinginkan JCDS? Rencana tanggul diharapkan tidak menjadi tanggul yang kaku, namun tanggul yang memberikan nilai tambah terhadap kehidupan dan lingkungan, misalnya ruang air yang berada dikelilingi tanggul bisa menjadi sumber air baku, menjadi sumber air yang bisa di masukkan kembali ke dalam tanah (Aquifer Storage Recovery), bisa tempat rekreasi, penahan intrusi dan erosi serta tanggul bisa berfungsi sebagai jalan penghubung Barat-Timur. Manfaat-manfaat tambahan tersebut yang harus didalami, sedemikian tanggul bisa berfungsi multi-guna. Berapa biaya pembangunan sebuah tanggul? Angka lebih tepat, jika disain sudah ada. Disamping itu biaya yang dikeluarkan sangat tergantung dari untuk apa tanggul itu digunakan. Jika tanggul tersebut selain digunakan untuk flood protection juga dimanfaatkan untuk jalan tol, maka untuk membangun tanggul laut di laut Jakarta ini perkiraan saya memerlukan dana sekitar Rp. 50 triliun.

Kekuatan tanggul harus menjadi perhatian

Bagaimana persyaratan kekuatan tanggul ? Kekuatan tanggul didesain dengan kala ulang tertentu (misalnya 1,000–10,000 tahun). Kekuatan tanggul harus memperhitungkan faktor-faktor: • Gempa dan liquefaction • Kestabilan makro dan mikro • Piping • Seepage (rembesan) • Uplift (dorongan ke atas air tanah terhadap konstruksi tanggul) • Pilihan konstruksi tanggul disesuaikan dengan fungsi dan mempertimbangkan keramahan terhadap lingkungan.

Tim JCDS (Sawarendro, Rik Frenkel dan Karel Heynert) mempresentasikan hasil kajian JCDS.

ILWI Buletin No 02-2011

9

JAKARTA COASTAL DEFENCE STRATEGY
Rencana pembangunan tanggul laut akan diintegrasikan dengan pengembangan Ibukota Jakarta. JCDS melakukan pemetaan, perencanaan strategi dan memberikan garis besar mengenai peran pemangku kepentingan dalam merealisasikan rencana ini. Tulisan berikut kami sarikan dari Workshop 28 Juni 2011 di hotel Grand Mahakam

Seperti sudah diketahui efek dari penurunan muka tanah dan perubahan iklim akan membuat sebagian dari Jakarta Utara terendam air dalam 20 sampai 30 tahun lagi. Ini akan berpengaruh langsung terhadap penghidupan jutaan orang yang tinggal dan beraktifitas di daerah itu. Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah RI bekerjasama dengan Belanda melakukan studi Jakarta Coastal Defence Strategy (JSDC). Pemerintah sendiri sebelumnya sudah mempunyai perencanaan strategis dalam menghadapi banjir di daerah pesisir, berupa proyek pemetaan ancaman banjir. Berdasarkan hasil pemetaan ini Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) atas nama pemerintah Indonesia meminta pemerintah Belanda membantu proses perumusan strategi sistem pertahanan pesisir di pantai utara pulau Jawa. Diantaranya termasuk strategi perencanaan untuk pesisir Jakarta ini sebagai langkah awal menuju perumusan yang lebih lengkap dari Master plan untuk daerah pesisir Jakarta. Pemerintah Belanda menyambut baik permintaan pemerintah Indonesia. Satu konsorsium yang terdiri dari konsultan-konsultan Belanda dan beberapa institusi di Indonesia (Pusair PU and ITB) telah dibentuk untuk memformulasikan strategi dan opsi paling realistis dari perencanaan strategis untuk pertahanan pesisir Jakarta, yang disebut dengan JCDS. Tugas dari Tim JCDS ini adalah : • Memetakan keadaan sekarang dan kecenderungannya kedepan • Menentukan strategi yang akan ditempuh • Mengidentifisikan peran-peran yang dapat dilakukan oleh masing-masing stakeholders untuk merealisasikan rencana ini. Beberapa Opsi Strategis Melindungi Jakarta Utara dari melimpasnya air laut adalah tujuan dari strategi pertahanan pesisir. Ini bisa dilakukan melalui penutupan garis pantai, dengan membangun tanggul laut yang dapat melindungi dari masuknya air ke daratan. Tapi, harus diingat bahwa kebanyakan dari sungai-sungai yang ada di Jakarta langsung mengalirkan airnya ke laut. Ini artinya tinggi air di laut mempengaruhi meluap tidaknya air di sungai-sungai di Jakarta. Juga penurunan muka tanah akan berakibat serangan dari laut bisa masuk disepanjang pantai dan juga melalui sungai-sungai itu. Banjir tahun 2007 dan 2008 telah menunjukan
ILWI Buletin No 02-2011

pada kita bahwa daerah pesisir Jakarta, hingga sekitar 5 kilometer dari garis pantai, selalu kewalahan mendapat gelontoran air dari berbagi penjuru. Baik dari hulu-akibat melubernya sungai-, hujan lokal maupun limpasan air laut. Dalam proyek strategi pertahanan banjir di pesisir Jawa, ada beberapa opsi tanggul laut yang bisa dilakukan untuk menghadang banjir di daerah pesisir Jakarta, yaitu pembangunan tanggul : • Opsi 1: On land (di daratan) • Opsi 2: Offshore dengan tetap membuka aliran sungai-sungai utama • Opsi 3:Offshore dengan menutup aliran sungaisungai utama Dalam opsi pertama pengelolaan banjir seperti yang sudah dilakukan dalam proyek pengembangan wilayah Jakarta sekarang ini. Penguatan dan peninggian tanggul di sepanjang garis pantai dan sungai. Untuk Jakarta utara perlu tambahan kolam retensi sebanyak 600 hektar dan penambahan kapasitas pompa sebanyak 200 m3/detik. Untuk opsi pertama gambaran skematiknya seperti gambar berikut.

CFW Future polder area

EBC

WBC

Area of DKI Jakarta

Higher land area

13 Rivers

Dalam opsi ini komponen-komponen infrastuktur utamanya adalah : • Tanggul laut, yang merupakan pengembangan dari tanggul yang ada sekarang. • Dinding sungai, yang merupakan pengembangan dari dinding sungai-sungai utama yang sudah ada. • Beberapa sistem polder, dengan melakukan penambahan sistem polder di Jakarta Utara dengan waduk yang lebih besar. Dalam opsi ini, diperkirakan ada 100-200 ribu orang direlokasi untuk penguatan tanggul dan tambahan ruang retensi. Umumnya, adalah penghuni di bantaran sungai. Lokasi tanggul dan potongan melintang dari tanggul bisa dilihat dalam gambar berikut.

1

Sementara itu dua strategi berikutnya dilakukan dengan mengembangkan daerah Teluk Jakarta sebagai sistem pertahanan banjir di Jakarta utara. Pada opsi kedua ini pembangunan zona pantai Jakarta dilaksanakan secara terintegrasi. Pengelolaan kualitas air bisa dilaksanakan di danau/lagoon. Kegiatan utama yang dilakukan adalah meninggikan tanggul multi-guna yang pelaksanaannya diintegrasikan dengan reklamasi. Perlu tambahan pompa baru dengan kapasitas total 330 m3/s dengan Off shore kolam retensi seluas 750 hektar. Untuk opsi kedua gambar skematiknya seperti dibawah ini :

Sedangkan dalam opsi ketiga, air dari sungaisungai utama akan tertutup, tidak langsung dibuang ke laut lepas. Pembangunan zona pantai Jakarta dilakukan secara terintegrasi, juga akan dibangun sistem jalan tol baru. Dalam opsi ini lebih fleksibel terhadap penurunan tanah. Untuk ini diperlukan pompa baru dengan kapasitas 500 m3/s serta kolam retensi seluas 50 km2 . Sedangkan opsi ketiga bisa dilihat skemanya dalam gambar berikut :

CFW Future polder area

CFW
EBC WBC

EBC
Area of DKI Jakarta Higher land area

Future polder area

WBC

13 Rivers

Area of DKI Jakarta

Higher land area

13 Rivers

Tanggul dibuat di laut dengan tetap membuka aliran sungai-sungai utama (Banjir Kanal Barat, Banjir Kanal Timur dan Cengkareng Drain). Sedangkan komponenkomponen infrastrukturnya adalah: • Tanggul laut, yang merupakan satu tanggul multi-guna yang dibangun di area reklamasi • Tanggul sungai, yang merupakan pengembangan dari tanggul sungai-sungai utama yang ada sekarang ini. • Sistem Polder, dengan meningkatkan kapasitas pemompaan untuk mengalirkan air dari sistem polder di Utara Jakarta dan di lahan reklamasi yang baru, dikombinasikan penyimpanan air yang besar di lepas pantai di Teluk Jakarta. Lokasi pembangunan tanggul dan potongan melintangnya bisa dilihat dalam gambar berikut.

Lokasi pembangunan tanggul dan potongan melintangnya bisa dilihat dalam gambar berikut :

Tanggul laut dengan garis pantai tertutup komponenkomponen infrastrukturnya adalah : • Tanggul laut , merupakan satu tanggul multiguna yang berada di luar teluk Jakarta dengan satu kolam penyimpanan air yang cukup besar

ILWI Buletin No 02-2011

11

Tanggul sungai, tidak harus memperbaiki tanggul-tanggul yang sudah ada di sungaisungai utama yang ada sekarang ini. • Stasiun-stasiun pemompaan, perlu peningkatan kapasitas pemompaan untuk mengalirkan air dari seluruh sistem polder dan aliran sungai di Jakarta ke laut. Dalam opsi pertama pengelolaan banjir mengikuti pendekatan business as usual, seperti pengendalian banjir yang ada sekarang ini, dimana dilakukan penguatan dan peninggian tanggul pada lokasi eksisting garis pantai. Penambahan ruang terbuka biru untuk kolam retensi juga menjadi bagian dari rencana ini. Untuk opsi kedua, tanggul laut diintegrasikan dengan pengembangan daerah reklamasi dengan tetap membuka aliran-aliran sungai utama (Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur) ke arah laut. Sedangkan opsi ketiga adalah dengan membuat tanggul dengan menampung sementara keseluruhan air yang dialirkan oleh semua sungai sungai yang melalui Jakarta dan kemudian di pompakan kelaut. Ketiga opsi ini mempunyai karakteristiknya sendiri. Opsi 1 bisa langsung diterapkan, namun memiliki keterbatasan untuk masa depan apabila land subsidence

terus berlangsung. Opsi 2 memberikan kemungkinan integrasi dengan kegiatan pengembangan reklamasi sedangkan opsi 3 memberikan kemungkinan flaksibilitas yang lebih tinggi apabila land subsidence masih berlangsung lama. Dengan karakternya masing-masing, kombinasi dari masing-masing opsi ini bisa dijalankan dengan melihat kondisi perkembangan ekonomi dan besaran aktual dari penurunan muka tanah di masa depan. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara bertahap, hingga tahun 2040. Bersamaan dengan pengendalian banjir yang berasal dari laut ini, penataan pesisir yang lebih terintegrasi bisa dilaksanakan secara bertahap dengan pengembangan kota yang lain, seperti: • Reklamasi dan pengembangan pelabuhan • Sistem transportasi baru • Sistem perlindungan banjir di pesisir • Penyediaan air bersih • Sanitasi dan pembuangan

Tahap I, 2010 - 2020 Tahap II, 2020 - 2030 Gambar tahapan pembangunan tanggul

Tahap III, setelah 2030

ILWI Buletin No 02-2011

12

Akankah Jakarta tenggelam?
Masalah banjir ibukota rupanya tidak hanya menarik perhatian media massa di tanah air. Media besar Belanda seperti Harian Financieele Dagblad pada tanggal 6 Juli 2011 menampilkan artikel mengenai rencana menghadirkan tanggul laut di Jakarta. Harian ini mengutip sejumlah statement yang dikemukakan oleh Hermanto Dardak (Wakil Menteri PU), Ben Knapen (Menteri bidang Kerjasama Internasional Belanda), Janjaap Brinkman dan Sawarendro sebagai tim JCDS. Juga disebutkan oleh koran tersebut mengenai rencana Pemerintah Belanda untuk memberikan bantuan teknis pembuatan masterplan tanggul di Utara Jakarta.

Buku yang penting bagi Anda yang menganggap serius masalah banjir di Jakarta
Buku ini mengangkat latar belakang persoalan banjir di Jakarta, baik dalam segi sejarah, kondisi geografis, kependudukan, dan sosial budaya. Langkah-langkah penanggulangan banjir yang harus diambil berdasarkan data, konsep, dan sejarah banjir itu sendiri. Buku ini mengupas pula ancaman tenggelamnya kota Jakarta dan konsep pemasangan tanggul laut. Buku yang komprehensif, membahas aspek banjir melalui pendekatan perekayasaan fisik (technical engineering) dan perekayasaan masyarakat (social engineering). Buku yang penting bagi orang-orang yang menganggap serius masalah banjir di Jakarta. Buku dapat Anda peroleh di Toko Buku GRAMEDIA di kota anda. Atau dengan memesan melalui email ke: ilwi@indosat.net.id

ILWI Buletin No 03-2009

13