Sistem Polder & Tanggul Laut Polder & Tanggul Laut Sistem

Penanganan banjir secara madani di Jakarta
Sawarendro

Indonesian Land Reclamation & Water Management Institute

Sistem Polder & Tanggul Laut
Penanganan banjir secara madani di Jakarta Penulis : Sawarendro Editor : Sawariyanto ; Zulkifli Harahap Diterbitkan oleh ILWI (Indonesian Land Reclamation and Water Management Institute), 2010 Jl, Rajawali II No 5, Manukan, Condong Catur Yogyakarta, 55283 Email : ilwi@indosat.net.id ISBN : 978-602-98077-0-7

Daftar isi
    PRAKATA   1.  BANJIR: CERITA LAMA YANG BELUM KUNJUNG USAI 1.1. Ratusan Tahun Hikayat Banjir Jakarta 1.2. Catatan Hidrologi dan Karakter Cuaca, Saat Banjir Besar 1.3. Prakiraan Banjir Masa Datang   2. BERAGAM MASALAH DAN TANTANGAN JAKARTA 2.1. Fenomena yang Berulang 2.2. Keadaan Geografis 2.3. Muka Tanah Rendah, Air Sulit Bergerak 2.4. Kondisi Sungai di Jakarta 2.5. Hambatan di Sepanjang Saluran 2.6. Tanah Lunak, Penyedotan Air dan Amblesan 2.7. Kenaikan Muka Air Laut 2.8. Keragamaan Fungsi Jakarta 2.9. Kependudukan dan Urbanisasi 2.10. Tata Guna Lahan, Minim Ruang Terbuka Hijau 2.11. Terbatasnya Luas Badan Air 2.12. Kondisi Hidrologi 2.13. Kondisi Hidrogeologi   3. KONSEP KUAT, IMPLEMENTASI LEMAH 3.1. Konsep Studi Terdahulu 3.2. Sistem Tata Air   vi 1 2 9 10 13 14 15 16 17 17 20 21 22 22 24 26 28 30 33 33 43

iii

4. PERUBAHAN PARADIGMA DAN LANGKAH STRATEGIS 4.1. Perubahan Paradigma Pengendalian Banjir 4.2. Partisipasi Sebagai Kunci Sukses 4.3. Bersandar Konsep Terdahulu 4.4. Selaras dengan Sistem Kini dan Rencana Mendatang 4.5. Penyelesaian Tepat Arah, Tepat Lokasi dan Terukur   5. UPAYA NON-TEKNIS: PERLU TEKAD DAN KESADARAN 5.1. Menata Ruang, Mencegah Banjir 5.2. Air Tanah Terbatas: Jangan Terus Disedot 5.3. Waduk: Tambah Jumlah Tambah Kualitas 5.4. Lindungi Bantaran Sungai 5.5. Perlu Ruang Terbuka di Kawasan Permukiman 5.6. Menahan Air dengan Badan Air 5.7. Limbah: Olah Dulu Baru Buang 5.8. Hindari Permukiman Menjorok ke Badan Sungai 5.9. Tahan Air dengan Tanaman 5.10. Lubang Biopori Membantu Menyerap Air   6. UPAYA TEKNIS: OPTIMALISASI KAPASITAS PENYALURAN 6.1. Jaga Kapasitas Saluran Makro 6.2. Penambahan dan Perbaikan Kapasitas Sub-Makro 6.3. Perbaikan Pengaliran Air pada Sistem Mikro 6.4. Pengembangan dan Pembuatan Sumuran/Resapan Air 6.5. Pembuatan Bangunan Penahan Lumpur (Kantong Lumpur) 6.6. Pengembangan Tampungan Setempat 7. DESAIN DAN TEKNIS SISTEM POLDER 7.1. Sejarah Sistem Polder 7.2. Cara Kerja Sistem Polder 7.3. Aspek-aspek Desain Polder 7.4. Polder dan Elemennya  

51 51 53 54 54 55 57 57 59 60 61 63 64 65 67 68 69 73 73 84 84 85 87 88 91 91 92 93 96

iv

8. PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN SISTEM POLDER 8.1. Swadana Menjamin Keberlanjutan 8.2. Organisasi 8.8. Biaya Konstruksi 8.9. Pembiayaan Pemeliharaan dan Operasi 8.10. Biaya Pemeliharaan 8.11. Sumber Pendapatan 8.12. Manfaat yang Didapat 8.13. Efek Sosial Ekonomi   9. REKLAMASI DAN TANGGUL LAUT BAGIAN DARI SOLUSI BANJIR 9.1. Kehidupan di Daerah Delta dan Tantangannya 9.2. Rencana Pulau Reklamasi dan Pembangunan Tanggul Laut 9.3. Desain Reklamasi 9.4. Peningkatan Manfaat Reklamasi Pantura 9.5. Pemantauan Pelaksanaan 9.6. Operasi dan Pemeliharaan yang Berkelanjutan   REFERENSI    

101 102 103 105 106 106 108 108 108 113 113 115 119 122 125 126 129

v

Prakata
 

Banjir Jakarta dan Perubahan Paradigma

Judul berita ‘Jakarta Akan Tenggelam’ dan ‘Pemindahan Ibukota Negara’ dalam beberapa media massa menarik perhatian publik beberapa waktu belakangan ini. Ancaman banjir dan kemacetan lalu lintas menjadi pemacu dan pemicu tertariknya publik untuk menyimak hal tersebut. Kedua ancaman ini (banjir dan kemacetan) sesungguhnya bukan berita baru lagi. Banjir dan kemacetan seolah-olah menjadi hal yang melekat dengan kehidupan Ibukota. Lantas apakah benar Jakarta akan tenggelam dan apakah pemindahan ibukota otomatis menyelesaikan masalah yang ada?   Buku ini lebih fokus membahas penyelesaian masalah banjir dan bagaimana agar Jakarta tidak ‘tenggelam’. Buku ini mengajak pembaca untuk memahami masalah Jakarta dan kemudian menampilkan sejumlah gagasan mengenai penanganan banjir. Hal ini karena apakah Ibukota berpindah tempat atau tidak, tetap saja kita perlu menyelesaikan masalah banjir Jakarta.   Menurut pandangan penulis, kekhawatiran mengenai akan tenggelamnya Jakarta merupakan kekhawatiran yang sah dan benar. Tidak perlu bereaksi dengan ketakutan berlebihan, namun perlu serius mengantisipasinya. Kota-kota di daerah delta dengan topografi rendah dan lapisan tanahnya yang lunak mendapatkan ancaman utama dari dampak perubahan iklim dan penggunaan air tanah. Jakarta bersama dengan kota delta lain menghadapi permasalahan ini.   Sebagian wilayah Jakarta kini berada di bawah permukaan air regional (air laut dan air sungai), yang luasnya diperkirakan akan meningkat. Mengamankan wilayah di bawah permukaan air regional ini, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kita perlu secara terus menerus menyediakan waktu, energi, dan dana untuk bisa bertahan. Perjuangan untuk mengamankan wilayah yang rendah ini adalah perjuangan yang tidak henti-hentinya, never ending struggle. Jika kita tidak melakukan sesuatu, maka kita akan terpaksa melepaskan daratan tempat kita menetap dan beraktivitas ini menjadi lautan. Sebagian wilayah Jakarta bisa tenggelam. Kita tidak ingin demikian karena kita masih ingin tinggal, bekerja, dan hidup di Jakarta. Perjuangan ini meliputi upaya mitigasi dan adaptasi. Mitigasi dalam upaya mengurangi faktor pemicu dari terjadinya perubahan iklim dan penurunan muka tanah. Di sini, pengurangan CO2 dan gas rumah kaca lainnya, serta pengurangan dan penghentian penggunaan air tanah menjadi penting. Di lain sisi, kita perlu memperkuat daya tahan kita untuk bisa mengelola dampak perubahan iklim dan penggunaan air tanah. Kemampuan adaptasi perlu ditingkatkan. Sebagai bagian dari tindakan adaptasi ini, kita perlu memberikan ruang yang lebih luas di daratan kita untuk air (ruang biru) dan untuk vegetasi (ruang hijau).   Masa depan yang ‘menantang’ dengan permukaan laut meningkat, permukaan tanah yang menurun, dan curah hujan dengan intensitas yang lebih tinggi di musim basah, menuntut kita untuk mempersiapkan diri. Diperkirakan muka laut akan berada vi

semakin lebih tinggi dari daratan dan air semakin sering datang pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Akibatnya, ancaman banjr dan genangan akan semakin berat dirasakan di masa depan, terutama untuk wilayah Jakarta Utara. Jika tidak dilakukan sesuatu tindakan, maka pada sebagian kawasan di Jakarta Utara kemungkinan mulai ditinggalkan penduduknya pada 20 – 40 tahun ke depan. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan langkah-langkah yang tegas dan fundamental agar pengembangan Jakarta dapat dilakukan secara berkelanjutan. Perencanaan yang konseptual dan visioner harus segera dilakukan. Pembangunan tanggul laut (sea defence) di Teluk Jakarta adalah salah satu bagian dari rencana ini. Mengintegrasikan rencana reklamasi Pantura dengan tanggul laut dimaksudkan untuk melindungi Kota Jakarta di masa depan.   Rencana reklamasi Pantura perlu dikembangkan secara lebih inovatif sehingga rencana Pantura tidak sekedar dipandang sebagai cara untuk mendapatkan lahan baru dan ekonomi. Reklamasi Pantura sesungguhnya dapat diarahkan agar tidak semata-mata untuk tujuan ekonomi, namun merupakan bagian dari ‘penyelamatan’ kota Jakarta dari ancaman kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah. Reklamasi secara inovatif juga bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan, seperti reduksi banjir, sumber suplai air baku, menghambat intrusi air laut, mencegah abrasi pantai, dan memberikan perlindungan mangrove, sarana rekreasi, pemanfaatan tanggul sebagai infrastruktur transportasi dan manfaat lainnya. Pendekatan yang lebih inovatif dan pemahaman akan manfaat yang lebih luas akan dapat menurunkan resistensi terhadap rencana reklamasi. Reklamasi dan ekologi tidak harus selalu bertentangan. Pengalaman beberapa dekade belakangan ini menunjukkan perdebatan panjang antara kelompok ‘pro-lingkungan’ dengan ‘pro-pembangunan’ tidak menghasilkan sesuatu yang berarti dan tidak mengarah kepada pencerahan. Kepedulian akan lingkungan hidup secara tradisional sempit sudah semakin ditinggalkan. Suatu ideologi yang menyebutkan bahwa keuntungan, pertumbuhan, dan ekosistim yang sehat dapat hidup beriringan telah menggantikannya.   Selain pada aspek teknis, solusi inovatif juga harus diimplementasikan pada sisi finansial dan institusional. Banyak persoalan, termasuk pada masalah banjir, lebih merupakan permasalahan institusional dibandingkan permasalahan teknik, karena penanganan air merupakan proses yang melibatkan berbagai pihak sehingga perlu dibuat jelas peran dari setiap pihak dan aturan main di antara mereka. Peningkatan peran masyarakat dan pendekatan bottom up mewarnai perubahan paradigma dalam pengelolaan air. Sistem polder berbasis masyarakat perlu dikembangkan karena terbukti keberhasilannya dalam menyelesaikan masalah banjir di kawasan rendah.   Buku ini berusaha mengangkat latar belakang persoalan banjir di Jakarta, baik dalam segi sejarah, kondisi geografis, kependudukan, dan sosial budaya. Langkah-langkah penanggulangan banjir yang harus diambil berdasarkan data, konsep, dan sejarah banjir itu sendiri sehingga penanggulangan banjir bisa dilakukan secara terprogram dan tentu saja mengedepankan peranan masyarakat secara kongkrit.   Semoga buku ini bisa menjadi informasi yang berguna bagi siapa pun yang punya perhatian terhadap penanggulangan banjir di Jakarta dan bisa memberikan inspirasi pemikiran baru dalam hal penanggulangan banjir di Jakarta.   Jakarta, September 2010 Sawarendro

vii

Bab

1

Ratusan Tahun Hikayat Banjir Jakarta Catatan Hidrologi dan Karakter Cuaca, Saat Banjir Besar Prakiraan Banjir Masa Datang

BaNJir : CErita LaMa YaNG BELUM KUNJUNG Usai

B

agi warga Jakarta, banjir adalah kisah usang yang belum berujung. Setiap kali musim hujan datang, warga ibukota selalu waswas. Mereka khawatir jika sewaktu-waktu air meluap hingga menggenangi daerah tempat tinggalnya. Bayang-bayang ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh banjir membuat warga menjadi resah. Bertahun-tahun sudah kisah itu selalu berulang. Keresahan ini tak hanya dirasakan golongan masyarakat bawah saja, beberapa kawasan elit pun sudah merasakan sulitnya melakukan aktivitas di kala banjir tiba. Air tak selalu datang saat satu wilayah mengalami hujan lebat saja; dalam cuaca mendung dan sedikit hujan sekalipun bisa saja satu daerah tiba-tiba mengalami banjir. Ini bisa terjadi karena hujan yang terjadi di daerah hulu menyebabkan luapan air yang bergerak ke arah daerah yang lebih rendah. Masyarakat Jakarta menyebut ini sebagai banjir ‘kiriman’.

Warga Jakarta telah merasakan banjir sejak ratusan tahun lalu

Letak Kota Jakarta yang berada di dataran rendah menyebabkan warga ibukota ini tidak bisa menjauh dari masalah air. Apalagi sejarah mencatat bahwa genangan dalam jumlah besar tak hanya terjadi dalam beberapa dekade ini saja. Ratusan tahun lalu banjir juga sudah dirasakan warga Jakarta. Warga di sekitar Sungai Ciliwung mungkin bisa dijadikan salah satu contoh saja, sungai yang usianya ratusan tahun ini, entah sudah berapa kali meluber: dari genangan yang hanya beberapa sentimeter hingga setinggi rumah juga pernah dialami penduduk sekitarnya. Kini tidak hanya sungai Ciliwung yang kewalahan menahan banjir di musim hujan, dua belas sungai lainnya yang membelah kota Jakarta juga sudah mengalami hal yang sama. Begitu air datang dalam jumlah banyak, sungaisungai tersebut tak lagi mampu menyalurkannya ke laut. Akibatnya, tentu saja air menggenang di daerah-daerah yang topografinya relatif lebih rendah di daerah sekitarnya.

Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

1

Gambar 1-1: Warga mengungsi dan resah melihat tinggi muka air yang terus meningkat.

Sialnya, banyak daerah di Jakarta yang posisinya semacam ini, lebih rendah dari permukaan air laut dan air sungai. Inilah yang membuat warga Jakarta harus siap menghadapi banjir rutin di setiap kali musim hujan. Tak ada pilihan, banjir yang terjadi berulang-ulang menyebabkan warga harus sadar bahwa mereka harus selalu siap siaga untuk menghadapinya.

Pembangunan Banjir Kanal Barat pada tahun 1922, langkah fenomenal dari Herman van Breen

1.1. Ratusan Tahun Hikayat Banjir Jakarta

Sejak zaman Belanda, pemerintah yang berkuasa di Jakarta juga telah dipusingkan dengan masalah banjir. Bagi sebagian orang mungkin tidak percaya kalau bencana banjir di Jakarta ini sudah mulai ada sejak zaman Belanda ketika jumlah penduduk Jakarta sebenarnya masih sangat sedikit apalagi jika dibandingkan populasinya saat ini. Dengan niat untuk melakukan perdagangan, orang-orang Belanda mulai mengunjungi Jakarta di abad 16. Tergiur dengan hasil yang lumayan besar, pemerintah kolonial pun semakin menancapkan kukunya di wilayah ini. Akibatnya, segala aspek kehidupan benar-benar diatur oleh pemerintahan kolonial. Beberapa tahun setelah Belanda menguasai Batavia, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di wilayah ini. Banjir besar

2

Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

pertama kali mereka rasakan pada tahun 1621, diikuti banjir pada tahun 1654 dan 1876. Beberapa tahun kemudian, banjir masih terjadi di Jakarta. 1.1.1. Strategi Kolonial Menghadang Banjir Mengutak-atik Sungai Ciliwung bukan hal baru terjadi di ibukota, ini sudah terjadi semenjak awal pemerintah kolonial mendarat di daerah ini. Tak puas dengan kinerja sungai itu, pada tahun 1634, Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal Belanda yang kala itu berkuasa di Batavia, melakukan modifikasi terhadap Ciliwung. Muara sungai tersebut diluruskan dan dilengkapi dengan tanggul-tanggul hingga mencapai pinggiran pantai. Maksudnya, tentu saja agar air yang mengalir bisa lancar tanpa hambatan dan tidak mudah meluap ke sekeliling. Maklum tiga belas tahun sebelumnya, tahun 1621, daerah ini lantak disikat banjir besar. Upaya-upaya untuk memperlancar arus air agar tak tergenang di daratan terus dilakukan oleh pemerintah kolonial, termasuk penggalian Terusan Ammanus menuju ke arah barat ke Kali Angke, dan Terusan Ancol dari Kali Sunter ke Kota, tahun 1647. Ironisnya, genangan besar masih saja terjadi pada tahun 1654 yang menyebabkan Batavia kembali digulung banjir.

Gambar 1-2: Situasi Sungai Ciliwung pada abad ke-18. Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

3

Sejak itu beragam usaha dilakukan para Gubernur Jenderal yang berkuasa, untuk menuntaskan masalah banjir di Batavia, seperti dengan membuat Sungai Mookervaart sebagai alur pembuangan dari Cisadane, pembuatan muara-muara baru sungai, perbaikan-perbaikan tanggul yang rusak dan lain-lain. Beragam perbaikan besar sempat pula dilakukan pada tahun 1854, berbarengan dengan didirikannya Departemen Tata Air dan Bangunan, oleh pemerintah kolonial Belanda. Saat itu usaha-usaha untuk meredam banjir yang mungkin timbul dilakukan dengan lebih terencana. Banjir ternyata tetap tak mau menjauh dari wilayah ini. Ini terbukti pada tahun 1876 ketika warga kembali harus tunggang langgang menyelamatkan nyawa dan hartanya dari bencana banjir. Genangan air benar-benar merepotkan penduduk. Meski demikian, tak ada kata menyerah untuk menghadapi banjir; tampaknya itulah prinsip yang dipegang para penguasa Batavia ketika itu. Segala jurus jitu dikeluarkan guna mengenyahkan banjir dari Jakarta. Salah satu usaha yang tergolong cukup legendaris di Kota Jakarta adalah pembangunan Banjir Kanal Barat (BKB). Pada tahun 1922, proyek kanal ini mulai dibangun dari Pintu Air Manggarai sampai Muara Angke yang maksudnya untuk memotong sungai-sungai yang melintasi kawasan itu dan membuang airnya langsung ke tepi laut. Kanal hasil rancangan Profesor Herman van Breen ini cukup efektif untuk mengurangi risiko banjir. Kendati demikian, bukan berarti persoalan banjir bisa selesai. Ruwetnya menata kota yang semakin besar dan ramai mulai terasa. Bangunan-bangunan yang sebelumnya dianggap mampu mengatasi luapan air tak lagi optimal menghadapi persoalan air yang semakin menumpuk. Tak ayal, Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Kali ini yang terkena dampaknya adalah ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin. Beberapa warga dan petinggi pemerintahan kolonial mulai merasakan bahwa wilayah ini akan sulit melepaskan diri dari bencana banjir. 1.1.2. Meski Merdeka, Banjir Tak Surut Juga Pada bulan Februari 1976 hujan deras turun dalam waktu yang cukup lama. Selama tiga hari berturut-turut hujan turun hampir tanpa henti. Akibatnya sebagian Jabodetabek terendam. Jakarta Pusat menjadi lokasi terparah dalam banjir tersebut, lebih 200.000 jiwa diungsikan. Setahun kemudian, 19 Januari 1977, akibat hujan deras yang terus menerus Jakarta kembali dilanda banjir. Meski tidak separah tahun sebelumnya, setidaknya 100.000 jiwa diungsikan dalam musibah saat itu. 4
Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

Di era tahun delapan puluhan, persoalan banjir terus berlanjut. Januari 1984, sebanyak 291 Rukun Tetangga (RT) di aliran Sungai Grogol dan Sekretaris terendam. Dampaknya terasa di Jakarta Timur, Barat dan Pusat; jumlah korban banjir tercatat 8.596 kepala keluarga. 13 Februari 1989, giliran Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan meluap akibat tidak mampu menampung banjir ‘kiriman’ dari hulu; 4.400 kepala keluarga harus mengungsi. Setelah itu hampir setiap tahun terjadi banjir. Bahkan, pada tahun 1994, meluapnya Sungai Cipinang dan Sungai Sunter mengakibatkan banjir di daerah Pulo Gadung, Jl. Perintis Kemerdekaan, Kampung Kayu Putih, Kompleks Perhubungan Jati Rawamangun, Cipinang Jaya termasuk Jalan Panjaitan. Bahkan perumahan Sekretaris Negara RI, Jalan Bekasi Timur dan Jatinegara Pulo juga tergenang. Total kawasan yang terkena banjir sekitar 800 hektar. Kedalaman genangan air antara 40 sampai 100 sentimeter.

Banjir pada tahun 1996, Debit air mencapai 500 – 550 m3/detik jauh melampaui kapasitas BKB yang hanya 290 m3/detik.

1.1.3. Banjir Era Tahun 90’an, BKB Takmampu Menghadang Dua tahun kemudian banjir kembali menggenangi Jakarta; kali ini lebih banyak lagi lahan permukiman yang terendam. Lebih dari 3.000 hektar daerah permukiman sepanjang alur Kali Ciliwung, Banjir Kanal Barat (BKB) dan Kali Anak Ciliwung tergenang. Ini disebabkan oleh hujan yang tiada henti selama dua hari di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Gambar 1-3: Menanti surutnya banjir. Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

5

Akibatnya Kali Ciliwung penuh air, mengalir ke hilir dan meluap melewati tebing-tebing sungai. Sepertiga dari daerah genangan diperkirakan berada di Jakarta Utara-Timur. Saat itu debit puncak Pintu Air Manggarai tercatat sebesar 500 – 550 m³/detik. Banjir Kanal Barat (BKB) yang hanya mampu menampung debit 290 m³/detik tak mampu lagi menahan air yang melimpas. Debit banjir yang sangat besar ini sekaligus menjadi indikasi adanya perubahan yang terjadi pada rejim hidrologi Kali Ciliwung karena perubahan pada pemanfaatan lahan di DAS Ciliwung. Banjir yang terjadi bulan Januari itu, ternyata bukan yang terparah di tahun itu. Sebulan berselang, 10 Februari 1996, curah hujan sebesar 250 mm selama 5 jam kembali membuat Jakarta banjir. Kali ini daerah yang tergenang lebih banyak lagi, sekitar 5.000 hektar daerah permukiman di DKI digenangi air setinggi 1–2 meter. Hujan satu hari itu sama dengan hujan ekstrim dengan periode ulang 100 tahun. Pelajaran yang dapat dipetik dari kedua kejadian banjir ini adalah bahwa kondisi kurang baik di gabungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sunter–Cipinang merupakan penyebab utama banjir di wilayah bagian timur Jakarta. Upaya pencegahan banjir di bagian timur Jakarta harus diarahkan pada penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh buruknya sistem sungai Sunter–Cipinang. Ini menunjukkan bahwa pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) merupakan komponen utama dalam penyelesaian masalah banjir di wilayah timur Jakarta. Tahun berikutnya, 13 Januari 1997, hujan deras selama 2 hari menyebabkan 4 kelurahan di Jakarta Timur tergenang. Lagi-lagi banjir kala itu diakibatkan oleh meluapnya Sungai Cipinang, saat itu curah hujan tahunan mencapai 924,5 mm. Selanjutnya pada Januari 1999, banjir kembali menggenangi Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, ribuan rumah terendam, 6 korban tewas dan 30.000 jiwa mengungsi.

Curah hujan tahunan 2002 mencapai 2.288,9 mm, jauh melebihi tahun 1997 yang hanya 924,5 mm

1.1.4. Banjir 2002, Hulu - Hilir Diguyur Air Banjir tahun 2002 terjadi pada bulan basah Januari-Februari sebagaimana yang terjadi pada banjir 1996. Perbedaan yang mendasar dari kedua banjir ini adalah bahwa pada banjir 2002 puncak banjir disebabkan oleh banjir dari Bogor ditambah dengan hujan yang turun cukup lebat di Jakarta, ini berlangsung dalam beberapa hari. Di awal bulan Januari hujan turun selama sepuluh hari di segitiga Bekasi, Tanjung Priok dan Halim Perdanakusuma. Hujan ini membawa kotoran dan material yang menjadi sedimen di dasar sungai. Meski dengan intensitas yang lebih rendah, hujan masih terus turun pada pertengahan Januari itu hingga intensitasnya kembali meningkat tanggal 30 Januari 2002, yang mencapai 250 mm. Akibatnya daerah-daerah yang berbatasan dengan
Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

6

sungai langsung dibanjiri air yang melimpas. Dalam kejadian banjir ini debit di Pintu Air Manggarai mencapai 400 m³/detik, lebih rendah dibandingkan debit pada saat banjir 1996. Curah hujan ekstrim terjadi tanggal 2 Februari 2002 yang kala itu ketinggian Kali Ciliwung mencapai puncaknya. Sampai tanggal 4 Februari banjir menggenangi permukiman seluas 10.000 hektar. Secara umum dampak banjir tahun 2002 ini dua kali lipat dari banjir 1996. Kedalaman genangan pada beberapa tempat bahkan mencapai 4 meter. NEDECO menyimpulkan bahwa puncak banjir Kali Ciliwung disebabkan oleh hujan lebat di bagian tengah DAS (sepanjang alur Depok-Manggarai) dan menyebabkan banjir dengan periode ulang 20 tahun. Banjir besar di Jakarta tahun 2002 juga menunjukkan bahwa curah hujan tahunan pada masa itu cukup tinggi. Jika dilihat rata-ratanya mencapai 2.288,9 milimeter. Ini jauh lebih tinggi dari rata-rata curah hujan tahun 1997 yang hanya 924,5 milimeter; juga dibandingkan dengan curah hujan rata-rata tahun 2001.

Gambar 1-4: Tinggi muka air Sungai Ciliwung di Depok dan Manggarai saat banjir 2002. (Sumber: Jakarta Flood Management Project )

1.1.5. Banjir 2007, Katulampa Meluap Genangan dalam jumlah besar kembali terjadi pada tahun 2007. Ketika itu sekitar 60 % wilayah Jakarta mengalami banjir. Sebanyak 140.000 jiwa mengungsi, 1379 gardu induk terganggu, dan 420.000 pelanggan listrik tertanggu. Ironisnya korban jiwa mencapai 80 orang. Ini merupakan banjir terbesar selama tiga abad terakhir. Banjir ini terjadi karena melimpasnya air di daerah hilir Sungai Ciliwung dan beberapa sungai lainnya. Luapan air pertama
Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

7

Gambar 1-5: Sungai meluap, warga hanya bisa menyaksikan

80 orang meninggal dunia, korban banjir pada tahun 2007 paling banyak dalam sejarah Jakarta

kali terjadi tanggal 2 Februari 2007 disebabkan oleh hujan yang sangat lebat di Jakarta. Saat itu ketinggian air di Sungai Ciliwung mencapai sekitar 9,5 meter. Banjir hari itu bukan berasal dari daerah hulu, sebab ketinggian air di Katulampa dan Depok tidak mengkhawatirkan. Dua hari kemudian tanggal 4 Februari hujan lebat terjadi di daerah hulu dan saat itu ketinggian air di Katulampa sudah menunjukkan tanda-tanda akan meluap. Meski hujan di Jakarta tidak sebesar dua hari sebelumnya, akan tetapi banyaknya air dari daerah hulu tidak mampu ditampung di daerah hilir Ciliwung. Saat itu tinggi air mencapai lebih dari 10,5 meter. Banjir pada tanggal 4 Februari 2007 tersebut lebih banyak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu Katulampa dan Depok.

Gambar 1-6: Tinggi muka air Sungai Ciliwung di Katulampa dan Manggarai saat banjir 2007. (Sumber: Jakarta Flood Management Project )

8

Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

Gambar 1-7: Curah hujan di sembilan stasiun di Jakarta (kiri) dan curah hujan di tiga stasiun di Bogor (kanan) (Sumber: Jakarta Flood Management Project )

Sebagai catatan, dalam beberapa kali terjadinya banjir di Jakarta tinggi muka air Katulampa selalu dijadikan acuan. Bendung Katulampa yang berada di hulu (Bogor) aliran sungai Ciliwung ini dibuat pada zaman Belanda sebagai sumber air untuk saluran irigasi dan untuk penggelontoran air di kota-kota di sekitarnya. Jika intensitas hujan tinggi, muka air di tempat ini selalu dipantau selama 24 jam penuh. Hal ini dilakukan agar petugas bisa cepat membuka pintu air di Jakarta, jika memang diperlukan, untuk mengurangi risiko banjir di Jakarta.

Tinggi muka air laut belum berpengaruh terhadap terjadinya banjir 1996, 2002 dan 2007

1.2. Catatan Hidrologi dan Karakter Cuaca, Saat Banjir Besar

Dari beberapa kejadian banjir besar yang terjadi tahun 1996, 2002 dan 2007, ada beberapa catatan yang bisa kita ambil berkaitan dengan masalah hidrologi maupun karakter cuaca. 1. Bulan Januari dan Februari adalah bulan dengan curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir. 2. Banjir di Jakarta sering disebabkan oleh hujan turun dengan kapasitas besar terus menerus. Hujan yang hanya turun sekali biasanya tak sampai membuat Kali Ciliwung melimpas. Masalah timbul, bila hujan besar berikutnya datang dalam selang waktu yang tidak terlalu jauh. Ini terlihat dalam kasus banjir tahun 2002. Curah hujan awal Januari membawa banyak material dan menyebabkan terjadinya sedimentasi di dasar sungai. Akibatnya ketika hujan yang sama kembali muncul tanggal 31 Januari, banjir sulit dielakkan. 3. Tinggi muka air laut tidak mempengaruhi banjir yang terjadi tahun 1996, 2002 dan 2007. Banjir tahun 2002 dan 2007 disebabkan oleh curah hujan ekstrim yang turun lebih dari dua hari. Hal ini menyebabkan tinggi muka 9

Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

air Sungai Ciliwung di daerah Manggarai mencapai puncaknya. Untuk banjir tahun 2007, sekaligus terjadi kombinasi penyebab banjir yakni akibat hujan di daerah hulu dan daerah hilir. 4. Setiap hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di hulu Jakarta perlu diwaspadai karena pergerakan air dari kawasan sekitar 1500 kilometer persegi akan bergerak ke laut, melewati Jakarta. Jika terhambat tentu saja akan menyebabkan banjir di Jakarta, terutama di daerah yang wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Melihat kecenderungan statistik hidrograf, amblesan dan kenaikan muka air laut, diprediksi kejadian banjir masih akan berulang dan kemungkinan situasi lebih buruk bisa terjadi

Gambar 1- 8: Air hujan dari kawasan seluas 1500 km² menuju ke laut melalui Jakarta. (Sumber : Jakarta Flood Management Project)

1.3. Prakiraan Banjir Masa Datang

Jakarta, dan juga beberapa kota besar lainnya di Indonesia, berada pada dataran rendah di daerah pantai (coastal zone). Selain itu, wilayah Jakarta juga dilalui sungai yang mempunyai daerah tangkapan (catchment area) luas. Akibatnya, daerah ini menjadi rentan genangan pada waktu musim hujan. Banjir yang berulang di daerah perkotaan yang padat penduduknya menyebabkan beragam persoalan seperti ketidaknyamanan, kemacetan, gangguan kesehatan, kehilangan harta benda, terhambatnya kegiatan ekonomi dan sebagainya. Akankah banjir seperti ini akan terulang kembali di masa datang? 10
Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

Melihat kondisi yang ada serta kecenderungan statistik hidrograf, bisa diprediksi bahwa kejadian semacam itu akan berulang. Bahkan kondisinya bisa lebih buruk jika memperhitungkan penurunan muka tanah yang terjadi dan kenaikan muka air laut. Seperti diketahui, setiap tahun, muka tanah di Jakarta terus menerus mengalami penurunan. Masih ditambah lagi permasalahan laju pertambahan penduduk, urbanisasi, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus berlangsung. Ini tentu menyebabkan kerugian akibat banjir terus meningkat. Dengan selesainya Banjir Kanal Timur (BKT) dan diintensifkannya pengerukan sungai, maka risiko banjir yang disebabkan oleh curah hujan di bagian hulu akan terkurangi, namun potensi banjir masih tetap ada terutama yang diakibatkan curah hujan yang jatuh di atas Jakarta dan masuknya air pasang dari laut. Semakin berkembangnya permukiman dan berkurangnya rasio badan air akan dapat meningkatkan potensi banjir di DKI Jakarta. Hal ini ditambah lagi dengan amblesnya tanah di Jakarta dan adanya pemanasan global yang membawa dampak naiknya permukaan laut dan meningkatnya intensitas curah hujan pada musim penghujan. Aspek-aspek tersebut di atas perlu diantisipasi pula dalam hubungannya dengan siklus astronomi pasang tertinggi air laut yang berulang setiap 18,6 tahun.

Banjir: Cerita Lama yang Belum Kunjung Usai

11

Bab

2

Fenomena yang Berulang Keadaan Geografis Muka Tanah Rendah, Air Sulit Bergerak Kondisi Sungai di Jakarta Hambatan di Sepanjang Saluran Tanah Lunak, Penyedotan Air dan Amblesan Kenaikan Muka Air Laut Keragamaan Fungsi Jakarta Kependudukan dan Urbanisasi Tata Guna Lahan, Minim Ruang Terbuka Hijau Terbatasnya Luas Badan Air Kondisi Hidrologi Kondisi Hidrogeologi

BEraGaM MasaLah DaN taNtaNGaN JaKarta
Akumulasi permasalahan menyebabkan semakin beratnya tantangan Jakarta dalam menghadapi banjir
ika kita melihat dari sejarah yang sudah diuraikan di atas, banjir sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda, hampir empat abad yang lalu. Ini artinya di saat jumlah penduduk Jakarta masih sedikit, banjir pun sudah terjadi di Jakarta. Dalam dekade terakhir, ternyata banjir semakin sering dialami. Melihat kecenderungan banjir di Jakarta yang semakin sering serta semakin banyak kawasan yang tergenang, memberikan indikasi bahwa penyebab banjir semakin beragam. Ironisnya satu dan lain penyebab saling menguatkan sehingga potensi terjadinya genangan semakin besar. Dari mulai permasalahan urbanisasi, pembuangan limbah, parahnya kondisi sungai, institusional hingga dampak pemanasan global. Ini bisa dilihat dalam gambar dibawah ini.

J

Gambar 2-1: Banjir dan aspek terkait Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

13

Mekanisme sistem mikro, sub-makro Akumulasi permasalahan dari beragam aspek membuat tantangan dalam menghadapi banjir yang akan datang menjadi lebih berat lagi. Permasalahan dan makro yang tidak memadai terus menerus bertambah sementara penyelesaian yang diambil masih membuat air mudah meluap
terbatas. Untuk itu sebelum melangkah lebih jauh perlu dilakukan identifikasi permasalahan banjir tersebut. Uraian berikut akan menampilkan situasi umum yang mengarah pada permasalahan banjir yang terjadi di Jakarta.

2.1. Fenomena yang Berulang

Melihat beberapa kali banjir di Jakarta, banjir selalu didahului oleh melubernya air dari saluran-saluran yang ada. Secara sederhana ini bisa diartikan bahwa fungsi saluran yang ada tidak memadai; baik itu saluran drainase yang berasal dari perumahan maupun saluran-saluran yang lebih besar seperti sungai dan kanal. Secara umum banjir di Jakarta disebabkan oleh tiga mekanisme, yaitu : • sistem makro: air dari hulu yang dibawa melalui sungai yang meluap ; • sistem sub-makro: banjir yang disebabkan oleh tertahannya air hujan di bagian kota yang lebih rendah, umumnya di daerah yang garis konturnya di bawah MSL (Mean Sea Level) +6.0 m ; • sistem mikro: banjir di jalanan kota yang diakibatkan oleh tersumbatnya saluran/got oleh sampah yang menumpuk atau kapasitas saluran yang tidak memadai. Pada mekanisme banjir sistem makro, banjir disebabkan oleh meluapnya air sungai akibat debit air melebihi kapasitas daya tampung sungai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut: • perubahan tata guna lahan ; • tumbuhnya permukiman di bantaran dan badan sungai ; • pembuangan limbah di sungai ; • pengendapan sedimen di dasar sungai, terutama di mulut sungai ; • tetumbuhan liar di pinggir sungai ; • terdapat beberapa belokan sungai (meander) di bagian hilir. Khusus untuk daerah utara Jakarta mekanisme banjir sistem sub-makro terutama disebabkan oleh wilayahnya lebih rendah dari muka air laut atau muka air sungai. Daerah seperti ini tidak dapat membuang air secara gravitasi. Banjir/genangan pada daerah ini menjadi parah apabila hujan lebat dan pasang tinggi datang secara bersamaan.

14

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Gambar 2-2: Fenomena genangan di Jakarta.

Meningkatnya permukaan air laut dan amblesan, mengakibatkan masalah banjir rob menjadi isu dominan di masa datang

Faktor yang berpengaruh terhadap banjir/genangan di daerah ini adalah: • tidak terdapatnya tanggul (dinding pelindung) yang menyekat daerah rendah tersebut dari tingginya air sungai dan air laut ; • berkurangnya tempat retensi air karena perubahan peruntukan ; • tidak memadainya kapasitas pompa yang ada ; • buruknya operasi dan pemeliharaan sistem polder. Sedangkan mekanisme banjir sistem mikro terutama disebabkan kapasitas saluran yang terbatas atau tereduksi kapasitasnya akibat beberapa hal: • pembuangan sampah ke saluran/got ; • kapasitas gorong-gorong yang tidak mencukupi ; • berkurangnya tempat parkir air (detention) yang menyebabkan lonjakan debit air yang memasuki saluran-saluran publik. Selain itu, dengan meningkatnya permukaan air laut dan penurunan muka tanah, maka permasalahan banjir rob tersebut diprediksi akan menjadi isu yang semakin dominan pada masa yang akan datang.

2.2. Keadaan Geografis

Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata hampir 7 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi 6º121 Lintang Selatan dan 106º481 Bujur Timur. Luas wilayah Propinsi DKI Jakarta terdiri dari daratan seluas 662 km² dan lautan seluas 6.998 km². Terdapat pula sekitar 27 buah sungai/saluran/ kanal yang digunakan untuk berbagai kegiatan. Di sebelah utara membentang pantai dari barat sampai ke timur sepanjang kurang lebih 35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal. Sementara di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan wilayah
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

15

administrasi propinsi Jawa Barat, sebelah barat dengan wilayah Propinsi Banten sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Wilayah administrasi propinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kotamadya dan satu Kabupaten Administratif yaitu Kotamadya Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Sekitar 40 % wilayah Jakarta di bawah ketinggian permukaan air laut dan/atau permukaan air sungai. Untuk wilayah ini pembuangan air secara alamiah (gravitasi) tidak dimungkinkan

2.3. Muka Tanah Rendah, Air Sulit Bergerak

Lazimnya memang permukaan air laut lebih rendah dari dataran sehingga air yang mengalir dari hulu dengan mudah bisa dialirkan ke laut dengan mengandalkan gaya gravitasi. Jika kondisi suatu wilayah seperti ini, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana air limpasan bisa langsung masuk ke sungai dan dialirkan segera ke laut. Akan tetapi, dibeberapa daerah di Jakarta air sulit bergerak secara alamiah dengan mengikuti gaya gravitasi. Ini disebabkan karena topographi Jakarta yang rendah dan datar yang sekitar 40 % dari wilayahnya berada pada ketinggian di bawah permukaan air laut dan/atau permukaan air sungai. Karena itu secara alamiah tidak dimungkinkan untuk mengalirkan air secara gravitasi. Harus ada upaya lain untuk mengangkat air sehingga bisa dibuang ke sungai atau ke laut. Oleh karenanya pembuangan air dari kawasan rendah ini harus dibantu dengan pemompaan yang dilengkapi dengan tempat penampungan air sementara (waduk). Di daerah semacam ini memang perlu tambahan energi untuk mengenyahkan air dari wilayahnya.

Gambar 2-3: Limpasan air laut dan banjir rob isu dominan di masa datang.

16

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Karena berbagai hal, kemampuan sungai hanya separuh dari kapasitas desain awalnya

2.4. Kondisi Sungai di Jakarta

Kecenderungan menunjukkan bahwa jumlah sungai dan saluran di Jakarta cenderung menurun. Hanya, intervensi yang luar biasa yang dapat menambah jumlah saluran dengan luas yang berarti. Ini terlihat ketika rencana Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Sejarah mencatat bahwa akibat pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya jumlah permukiman, perkantoran dan pusat perdagangan banyak daerah yang kehilangan anak-anak sungai yang melintas di atasnya. Kini yang masih tersisa adalah 13 sungai, termasuk tiga kanal buatan ; Banjir Kanal Barat (BKB), Banjir Kanal Timur (BKT) dan Cengkareng Drain. Sayangnya kondisi ke-13 sungai ini kini sangat memprihatinkan dengan tingkat sedimentasi dan pengangkutan sampah yang tinggi. Akibatnya, jika curah hujan cukup tinggi terjadi di hulu, permukaan air sungai dengan cepat meningkat, yang pada gilirannya luapan air sungai akan mengancam daerah rendah di Jakarta terutama daerah Jakarta Utara. Kapasitas sungai yang telah berubah menjadi berkisar separuh dari kapasitas desain awalnya mengakibatkan sungai tidak mampu menampung air di kala musim hujan tiba dengan intensitas yang cukup tinggi. Apalagi jika di hulu dan hilir hujan turun secara serentak. Perawatan sungai terutama pengerukan mulut sungai dan pengurangan pembuangan sampah ke sungai akan membantu menjaga kapasitas debit sungai. Kondisi sungai-sungai ini menentukan ketinggian muka air sungai dan kemungkinan limpasannya.

2.5. Hambatan di Sepanjang Saluran

Urbanisasi di Jakarta pada dekade terakhir juga membawa berbagai macam permasalahannya. Dari masalah sosial yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup hingga masalah pencemaran yang mengurangi kualitas lingkungan. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, sering kali masyarakat, dan terkadang bekerjasama dengan oknum aparat, menerabas segala aturan yang sudah ada. 2.5.1. Kapasitas Saluran yang Tidak Memadai Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kapasitas dari saluran yang ada di Jakarta sudah tidak memadai. Kapasitas yang tidak cukup umumnya bersumber pada saluran yang kurang dalam atau kurang lebar. Ini menyebabkan air tak mampu dialirkan secara optimal dan cenderung melimpas ke luar badan sungai. Di samping itu keberadaan bangunan-bangunan fisik pendukung infrastruktur lainnya sering juga malah mempersempit aliran seperti jembatan dan goronggorong. Pilar-pilar penahan struktur jembatan memakan tempat sehingga harus mengambil bagian yang seharusnya menjadi tempat untuk air mengalir. Hal
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

17

yang sama juga terjadi karena adanya gorong-gorong yang menyempit, yang menyebabkan terjadinya hambatan pada aliran yang lewat.

Rumah yang menjorok ke sungai, kabel telepon dan listrik, pipa air yang melintas saluran mengurangi kapasitas saluran

2.5.2. Permukiman dan Utilitas Sepanjang Sungai Beragamnya strata ekonomi masyarakat Jakarta berdampak pula pada keragaman permukiman yang mereka miliki. Dari rumah mewah yang berada di kawasan Pondok Indah hingga rumah-rumah seadanya di pinggiran kali di banyak sungai di Jakarta. Untuk membuat agar daerah aliran sungai bersih dari rumah-rumah penduduk ternyata sulit untuk diupayakan. Hal ini terbukti dengan tumbuhnya permukiman liar di sepanjang sungai. Bahkan pada beberapa lokasi permukiman liar tersebut menjorok ke badan saluran atau sungai. Bangunan-bangunan tersebut tentu saja mengambil jatah aliran air yang mengalir di saluran, terutama di kala musim hujan. Banyaknya permukiman yang ada di sekitar sungai akan menambah jumlah endapan di saluran tersebut karena akan banyak material yang terbuang atau dibuang ke aliran sungai. Ini tidak saja mempersempit daerah aliran sungai, tetapi juga membahayakan warga yang tinggal di rumah tersebut. Foto pada Gambar 2-4 berikut mewakili kasus tipikal bagaimana pemukiman yang menjorok ke badan saluran/sungai tersebut telah menghambat aliran. Di samping permukiman yang menjorok ke daerah aliran sungai, hambatan lain yang mempengaruhi lancarnya arus adalah jaringan utilitas yang melintas saluran. Jaringan utilitas yang melintasi saluran seperti kabel-kabel telepon dan listrik, pipa dan sebagainya. Ini sangat mengganggu aliran, apalagi jika jaringan tersebut menjadi tempat tersangkutnya material atau sampah yang ada di aliran sungai.

Gambar 2-4: Permukiman yang menjorok di kali krukut dan kali mampang.

18

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Bertahun-tahun, jutaan warga membuang sampah di saluran, baik di saluran drainase lingkungan maupun di sungai

2.5.3. Pembuangan Limbah Padat pada Saluran Pembuangan limbah padat ke saluran drainase merupakan masalah yang serius dalam sistem drainase perkotaan. Sampah atau limbah padat terbawa oleh arus, baik di permukaan atau secara melayang di tengah aliran. Sementara itu sebagian lainnya mengendap di dasar saluran. Dalam kasus seperti ini, kapasitas efektif saluran drainase akan berkurang. Kebiasaan membuang sampah di saluran sudah bertahun-tahun terjadi, tidak saja di sungai-sungai, bahkan di saluran drainase perkotaan juga dipenuhi oleh sampah. Ironisnya, yang membuang sampah ke saluran ini tidak hanya warga yang tidak mau direpotkan oleh masalah mengenyahkan sampahnya saja, tetapi juga para petugas kebersihan. Beberapa petugas penyapu jalan masih ada yang membuang tumpukan sampahnya ke dalam saluran. Kita tidak bisa membayangkan jika jutaan masyarakat Jakarta masih saja membuang sampahnya ke dalam saluran. Limbah padat ini terdiri dari plastik, kertas, tekstil dan bahan-bahan organik. Memang pemerintah berusaha untuk memindahkan dan mengangkut sampah-sampah tersebut dari saluran. Akan tetapi proses pemindahannya dari saluran masih kalah cepat dengan limbah padat yang datang. Akibatnya tentu saja saluran dipenuhi oleh sampah. Ketika hujan lebat datang, sungai tidak lagi efektif mengalirkan air limpasan. Gambar 2-5: berikut menunjukkan contoh hambatan pada aliran akibat dari tumpukan sampah dan limbah.

Gambar 2-5: Limbah padat yang terjaring di Sudetan Grogol—Sekretaris & outlet saluran Utan Kayu Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

19

Akibat amblesan diperkirakan dalam 20 tahun ke depan daratan Jakarta turun 60 – 100 cm, ini artinya efektifitas struktur penahan banjir (tanggul dan pompa) juga akan berkurang

Tanah yang lunak, dikombinasikan dengan penyedotan air tanah yang terus menerus mengakibatkan land subsidence (amblesan). Penurunan muka tanah di Jakarta berkisar antara 3–5 cm per tahun. Di beberapa tempat ada penurunan yang lebih besar, tetapi lebih merupakan proses konsolidasi setempat yang terjadi akibat penambahan beban, misalnya penimbunan jalan. Dengan kecepatan penurunan (land subsidence rate) seperti ini maka tinggi muka tanah akan menurun sebesar 60 cm – 100 cm dalam waktu 20 tahun. Ini berarti bahwa efektifitas dari struktur penahan banjir (tanggul dan pompa) akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Agar tetap mampu untuk melakukan proteksi terhadap banjir maka diperlukan investasi baru lagi. Semakin tinggi tingkat penurunan muka tanah, semakin sering frekuensi perbaikan struktur penahan banjir harus dilakukan.

2.6. Tanah Lunak, Penyedotan Air dan Amblesan

Gambar 2-6: Kontur penurunan muka tanah tahun 1978 - 1995.

Untuk mengurangi dampak penurunan muka tanah ini, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penyedotan air tanah secara bertahap dan pada akhirnya nanti harus dilarang sama sekali. Memang tidak mudah untuk melarang masyarakat atau kalangan industri memakai air tanah karena akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan industrinya. Akan tetapi pembatasan penggunaan air tanah harus terus dilakukan. 20
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Kebijakan untuk meningkatkan terus tarif air tanah yang dipakai masyarakat dan industri perlu dijalankan secara konsisten. Karena pada akhirnya nanti orang-orang akan memperhitungkan nilai keekonomisan penggunaan air tanah. Meski demikian pemerintah harus pula menanggung konsekuensi dari kebijakan itu yaitu dengan memperluas distribusi penyediaan air perpipaan dengan harga yang terjangkau. Dengan demikian prinsip insentif terhadap pemakai air perpipaan dan disinsentif terhadap pemakai air tanah bisa benarbenar terlaksana. Jika ini bisa dilaksanakan maka penurunan muka tanah di Ibukota berangsur-angsur bisa berkurang.

Skenario sedang IPCC memprediksi sampai tahun 2100 kenaikan muka air laut berkisar 6 mm per tahun

2.7. Kenaikan Muka Air Laut

Akibat pemanasan global, tinggi permukaan laut akan meningkat. Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dalam prediksinya memperkirakan bahwa kenaikan muka air laut berkisar 6 mm per tahun sampai tahun 2100. Ini tentu juga berpengaruh pada perairan laut Indonesia. Dampak ini lebih terasa pada daerah-daerah yang berbatasan dengan laut, seperti DKI Jakarta.

Gambar 2-7: Perkiraan kenaikan muka air laut (skenario IPPC).

Karena sifat globalnya, penanganan masalah ini harus dilakukan secara global dengan cara menurunkan konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Semua negara di dunia harus bersama-sama berusaha menurunkan konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya di negaranya masing-masing. Isu ini merupakan isu internasional yang membutuhkan kemauan bersama antar sesama negara yang berada di permukaan bumi ini untuk mengurangi pemanasan global.
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

21

Sebagai bagian dari negara yang berada di dunia ini, tentu Indonesia harus mengantisipasi segala dampak yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim ini. Dampak utama yang dirasakan adalah kenaikan muka air laut dan meningkatnya intensitas curah hujan di musim penghujan. Jakarta tentu tidak ingin infrastruktur dan permukiman yang telah ada secara perlahan-lahan hilang tergenang air laut.

Laju urbanisasi tinggi, Jakarta tak mampu mencukupi berbagai prasarana dan sarana yang memadai

2.8. Keragamaan Fungsi Jakarta

Sebagai satu kota besar yang dihuni oleh berbagai lapisan masyarakat, Ibukota memiliki fungsi yang cukup banyak seperti tempat perdagangan, pusat pemerintahan, industri dan fungsi lainnya. Fungsi yang banyak tersebut akan memberikan potensi yang besar bagi peningkatan pendapatan propinsi. Dilihat dari sisi ekonomis ini tentu saja bertempat tinggal di Jakarta jelas lebih dapat memberikan pendapatan bagi warganya. Ini bisa dimaklumi karena banyak kesempatan yang bisa diraih di kota ini. Disisi lain, akibat berbagai macam fungsi Jakarta tersebut salah satunya ialah memberikan daya tarik urbanisasi yang besar bagi warga luar untuk mengadu nasib ke Ibukota. Urbanisasi yang besar tentu akan menimbulkan berbagai macam permasalahan sosialnya. Pemerintah harus menyediakan sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, perumahan, air bersih dan sarana lain. Sayangnya pemerintah tidak sanggup untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan itu; ini akibat terlalu banyaknya masyarakat yang hijrah ke ibukota. Ketidakcukupan penyediaan sarana dan ancaman terlampauinya daya dukung lingkungan berdampak pada ketidakteraturan dan ketidaknyamanan. Ketidakteraturan ini berwujud dalam kesemrawutan lalu lintas, timbulnya banjir dan genangan, tumbuhnya permukiman di bantaran kali, kurangnya oksigen dan udara segar serta degradasi lingkungan lainnya. Untuk itu harus ada langkah-langkah yang harus dilakukan agar fungsi-fungsi itu tidak terpusat di Jakarta saja. Pemerintah DKI perlu duduk bersama dengan pemerintah daerah tetangga untuk bisa bekerjasama. Bersama mereka pemda DKI melakukan distribusi fungsi-fungsi yang ada agar tekanan sosial dan lingkungan bisa dikelola dengan baik.

Awal kemerdekaan penduduk Jakarta tidak sampai 1 juta jiwa, 2010 mencapai 9,6 juta jiwa

2.9. Kependudukan dan Urbanisasi

Di zaman Belanda pertumbuhan jumlah penduduk di Batavia (sebutan Jakarta ketika itu) tidak secepat seperti zaman pemerintahan Republik Indonesia ini. Tahun 1650 jumlah penduduk hanya sekitar 12 ribu jiwa, hingga tahun 1920 penduduk Jakarta juga baru mencapai 300 ribu jiwa. Setelah zaman
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

22

kemerdekaan, Jakarta yang ditetapkan sebagai ibukota negara mulai didatangi orang dengan bermacam-macam kepentingan. Ibarat gula yang dikerubungi semut, penduduk Jakarta meluber hingga ke pinggiran kota.

Gambar 2-8: Pertumbuhan penduduk Jakarta

Bertempat tinggal dan mencari nafkah di Jakarta memang masih menjadi daya tarik orang untuk datang ke Jakarta. Ini terbukti dengan cepatnya pertumbuhan penduduk di DKI Jakarta. Tahun 1948, DKI Jakarta dengan luas 661,52 km2 (66.152 ha) dihuni oleh 1,2 juta jiwa, tahun 1973 jumlah penduduknya melesat hingga 5 juta jiwa. Memasuki era tahun 80-an, pertumbuhan penduduk Jakarta masih cukup tinggi dan mencapai sekitar 2,42 %. Sedangkan dalam dekade berikutnya 1990–2000 pertumbuhan penduduk relatif menurun hanya 0,16 %. Bahkan di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan terdapat kecenderungan populasi yang menurun masing-masing sebesar –2,01 % dan –0,69 % per tahun pada kedua periode waktu tersebut. Sebaliknya pertumbuhan penduduk terbesar terjadi di wilayah Jakarta Timur (1,35 %). Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan penduduk DKI Jakarta cenderung bergerak menuju ke arah timur DKI Jakarta seperti diperlihatkan pada Tabel 2-1. Memasuki tahun 2000 penduduk Jakarta terus bertambah secara signifikan, hingga tahun 2005 penduduk Jakarta berkisar 8,9 juta jiwa, tahun 2010 diperkirakan mendekati 9,6 juta jiwa. Ini menunjukan bahwa semakin hari
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

23

Jakarta semakin disesaki oleh penduduk, terutama kaum urban yang tertarik tinggal di Ibukota ini. Urbanisasi yang cepat tanpa perbaikan prasarana drainase juga merupakan penyebab utama terjadinya banjir di Jakarta. Di beberapa lokasi, sistem drainase tidak mampu untuk menampung pertambahan aliran yang disebabkan oleh pertambahan koefisien aliran permukaan (run off) yang terutama disebabkan oleh perubahan tata guna lahan.
Tabel 2-1: Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk 1971 – 2010 Tahun 1971 1980 1990 2000 2006 2010 Sumber : Badan Pusat Statistik Jumlah (Jiwa) 4.576.020 6.503.449 8.259.266 8.385.839 8.600.000 9.600.000 Laju Pertumbuhan 4,7 % 2,7 % 0,15 % 7,57 % 1,65 %

Dijejali bangunan, ruang terbuka hijau jumlahnya turun drastis sejak awal tahun 70’an

2.10. Tata Guna Lahan, Minim Ruang Terbuka Hijau
Jakarta Utara 15.400,990 ha Jakarta Selatan 14.572,980 ha

Jakarta Barat 112.614,980 ha Jakarta Timur 18.772,990 ha Jakarta Pusat 4.789,990 ha

Gambar 2-9: Proporsi luas wilayah kotamadya.

24

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Wilayah DKI Jakarta seluas 66.152 hektar terbagi atas lima kotamadya. Kotamadya terluas adalah Kotamadya Jakarta Timur (18,7 ribu ha), yang terkecil adalah Kotamadya Jakarta Pusat (4,7 ribu ha); proporsi lengkapnya dapat dilihat pada grafik yang diberikan pada Gambar 2-9. Menurut proporsinya, penggunaan lahan di DKI Jakarta adalah untuk perumahan 64,16 % (42,44 ribu ha), industri 5,7 % (3,79 ribu ha), perkantoran 11,28 % (7,46 ribu ha), taman 1,5 % (1 ribu ha), lainnya 17,59 % (11,64 ribu ha) sebagaimana yang terlihat pada Tabel 2-2.
Tabel 2-2: Luas Tanah dan Penggunaan per Kotamadya Kotamadya Jenis Penggunaan Lahan tahun 2006 Perumahan 10.428,44 13.351,00 2.755,69 7.464,16 8.119,97 321,35 42.440,61 44.196,11 43.788,57 44.052,27 44.414,00 Industri 236,08 972,44 165,74 185,44 1.744,80 275,17 3.579,67 3.559,00 4.417,87 4.259,60 3.764,98 Perkantoran & Pergudangan 1.757,50 1.997,55 1.123,73 1.228,70 1.259,89 92,70 7.460,85 8.262,38 7.445,85 7.341,88 7.174,63 Taman 190,91 262,14 248,60 189,23 116,61 0 1.007,49 1.084,89 914,69 800,91 1.009,56 Lainnya 1.960,07 2.189,87 496,24 3.547,47 2.978,73 491,78 11.664,16 9.049,62 9.584,40 9.696,23 9.788,81 Luas Tanah 14.537,00 18.773,00 4.790,00 12.615,00 14.220,00 1.181,00 66.152,00 66.152,00 66.152,00 66.152,00 66.152,00

Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kep. Seribu Jumlah (2006) 2005 2004 2003 2002

Sumber : Jakarta Dalam Angka 2007

Perubahan tata guna lahan di Jakarta terjadi cukup drastis dalam dekade belakangan ini sebagaimana terlihat dalam Gambar 2-10 berikut. Dalam gambar ini terlihat lahan hijau yang drastis mengalami penurunan dalam kurun waktu 30 tahun.

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

25

Gambar 2-10: Tata guna lahan DKI pada tahun 1972 (kiri) dan 30 tahun kemudian (kanan)

Jika mengacu pada Undang-Undang Penataan Ruang (UUPR) No. 26 Tahun 2007, maka ruang terbuka hijau (RTH) yang disyaratkan adalah 30 % dari total luas wilayah, dengan perincian 20 % ruang publik dan 10 % sisanya milik perorangan atau swasta. Dari 30 % yang diminta itu hingga kini Jakarta baru memiliki lahan RTH sebanyak 9,79 %. Untuk mencapai angka yang ditetapkan oleh undang-undang tersebut tentu tidak mudah. Dengan melihat angka yang tertera dalam tabel di atas, butuh kerja keras untuk bisa menambah luas RTH di Ibukota. Apalagi jika harus berhadapan dengan kepentingan bisnis yang dianggap lebih menarik, daripada urusan taman atau hutan kota.

Di Jakarta rasio badan air (waduk dan sungai) berkisar 2,8 %, jauh dari kondisi ideal

2.11. Terbatasnya Luas Badan Air

Banyaknya orang yang ingin bertempat tinggal dan banyaknya institusi yang ingin membangun perkantoran atau pusat perdagangan di wilayah ini membuat perburuan terhadap tanah di Jakarta menjadi ramai. Setiap jengkal tanah berusaha dikuasai; ini tentu saja membuat nilai ekonomis lahan-lahan yang ada di Jakarta menjadi tinggi. Lahan-lahan kosong banyak digunakan untuk mendirikan bangunan. Kebutuhan lahan untuk penyerapan air pun tidak terpikirkan, apalagi untuk mengalokasikannya. Akibatnya, luberan air bergerak ke sana kemari karena terbatasnya badan air yang tersedia.

26

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Luas badan air dibandingkan dengan daerah tangkapan (waterbody ratio) di wilayah Jakarta berkisar 2.8 % (2002). Angka ini sudah termasuk luas wilayah untuk badan sungai dan saluran. Nilai koefisien ini sangat rendah, akibatnya, tak perlu menunggu hujan di daerah hulu (upstream), hujan yang jatuh di Jakarta saja sudah cukup untuk menggenangi kota ini. Sebagaimana benda lainnya, air hujan membutuhkan ruang untuk ‘berdiam’. Jika tidak diberi tempat yang cukup, maka air hujan akan menempati ruangruang lain seperti menggenangi rumah, perkantoran, pusat perdagangan dan infrastruktur lainnya. Tabel 5-1 mengidentifikasikan waterbody ratio yang diperlukan untuk kawasan rendah. Di Jakarta tercatat sejumlah sungai/kanal seperti yang tertera dalam Tabel 2-3.
Tabel 2-3: Nama panjang dan luas sungai/saluran/kanal Sungai/Kanal Ciliwung Krukut Mookervaart Kali Angke Kali Pesanggrahan Sungai Grogol Kali Cideng Kalibaru Makmur Cipinang Sunter Cakung Buaran Kalibaru Cengkareng Drain Jati Kramat Cakung Drain Ancol Banjir Kanal 7.600 3.800 11.200 8.300 380.000 19.000 672.000 240.700 27.350 37.250 20.700 7.900 464.950 1.080.250 414.000 158.000 Panjang (km) 46.200 28.750 7.300 12.810 27.300 23.600 17.800 Luas (ha) 1.155.000 172.500 233.600 538.020 351.900 165.200 284.810

Sumber : BPS, Jakarta dalam Angka 2003 Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

27

Selain sungai dan kanal, juga terdapat situ dan waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara. Keberadaan tempat penampungan air sementara membuat muka air di sungai/saluran tidak meningkat tajam saat curah hujan tinggi. Dengan air yang berada di dalamnya waduk ini sangat baik sebagai tempat penyerapan air atau menyimpan kebutuhan air saat musim hujan berlalu.

2.12. Kondisi Hidrologi

Perencanaan, pelaksanaan, dan pengoperasian struktur bangunan air, baik untuk penyediaan air baku maupun untuk pengendalian banjir, selalu didasarkan pada data hidrologi kawasan. Data hidrologi merupakan kumpulan statistik dari pencatatan dalam rentang waktu yang cukup panjang, yang idealnya lebih dari 20 tahun. Data hidrologi ini meliputi data ketinggian curah hujan harian, intensitas hujan, fluktuasi muka air/debit sungai atau saluran, di samping data lainnya. Data hidrologi yang dikemukakan di atas tersebut berasal dari hasil pencatatan stasiun hujan, stasiun iklim dan dari stasiun pencatat fluktuasi muka air. Pada tahap perencanaan, data hidrologi berguna untuk merencanakan dimensi saluran baik untuk saluran pembawa (conveyance channel) atau untuk saluran drainase (drainage channel). Dalam tahap pelaksanaan, yang perlu mendapat perhatian ialah mengenai bulan kering, bulan basah, dan perkiraan periode banjir di kemudian hari yang dapat membahayakan keselamatan orang maupun struktur dan infrastruktur yang ada di lokasi pekerjaan. Di dalam tahap operasional data hidrologi berguna untuk menentukan pola pengoperasian buka-tutup pintu air, penggelontoran sampah kota, penggelontoran endapan sedimen, pengaturan operasi waduk, situ dan lain sebagainya. 2.12.1. Genangan dan Curah Hujan Di negara yang memiliki dua musim seperti Indonesia, curah hujan sangat mempengaruhi jumlah air yang bisa langsung terserap oleh tanah. Jika klasifikasi hujan tersebut ringan dan sedang biasanya bisa langsung terserap. Meskipun harus melimpas, air tersebut masih mampu ditampung saluran yang ada, untuk dialirkan ke laut. Masalah timbul jika hujan merata turun lebat dan sangat lebat. Tak hanya kemampuan tanah saja yang tak lagi bisa menyerap, saluran pun tak mampu menahan limpasan air. Bahkan saluran berkapasitas besar, makro dan submakro sering tak mampu menanggung beban air yang terlalu banyak. Akibatnya, air akan menggenangi rumah-rumah penduduk yang berada di dataran yang lebih rendah. 28
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Tabel 2-4: Klasifikasi curah hujan harian Klasifikasi Sangat ringan Ringan Sedang Lebat Sangat lebat Curah hujan / hari (24 jam) < 5 mm 5 mm-20 mm 21-50 mm 51-100 mm > 100 mm

Jika melihat kecenderungannya, bulan Januari dan Februari adalah saatnya curah hujan mencapai puncaknya. Beberapa banjir besar terjadi pada kedua bulan tersebut seperti yang terjadi di tahun 2002 dan tahun 2007 lalu. Banjir di Jakarta memang bukan semata-mata akibat curah hujan di daerah tersebut. Air yang berasal dari hulu (selatan) lebih banyak berperan dalam mengenangi Jakarta. Data statistik menunjukkan, curah hujan bulanan di daerah hulu lebih tinggi dibandingkan daerah hilir (utara). Dalam diagram yang ditunjukkan pada Gambar 2-11 bisa dilihat bahwa curah hujan di selatan selalu lebih tinggi setiap bulannya dibandingkan hujan di utara.

Gambar 2-11: Curah hujan bulanan di utara dan selatan Jakarta. (Sumber: Jakarta Flood Management Project.)

Dari studi terdahulu sudah dilakukan penghitungan hubungan intensitas hujan dan durasi hujan untuk beberapa periode ulang (return period). Hasil yang diperoleh dari studi tersebut banyak digunakan untuk mendukung proses desain bangunan air. NEDECO menunjukkan hujan harian pada beberapa periode ulang dalam Tabel 2-5.
Tabel 2-5: Hujan Harian (NEDECO 1973) Lokasi Stasiun Pengamatan Tanah Abang Cengkareng Pasar Minggu Tanjung Priok 1996 hujan maksimum 2002 hujan maksimum Periode ulang 1-50 thn (mm) 1-100 thn (mm) 231 221 180 248 255 244 200 274

1-10 thn (mm) 174 167 140 187

250 mm dalam waktu 5 jam 250 mm dalam waktu 5 jam

Sumber : Studi NEDECO pada tahun 1973 dan 2002 Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

29

Akibat jumlah sungai berkurang, debit air sungai yang ada jauh diatas kapasitasnya

2.12.2. Debit Sungai Dalam musim penghujan debit air sungai di Jakarta semakin lama semakin besar. Salah satu penyebabnya adalah karena semakin berkurangnya saluransaluran makro yang membawa air ke laut. Sebelum abad ke-19 banyak terdapat sungai yang mengaliri kampung-kampung di Jakarta, tapi semakin bertambah usia ibukota sungai-sungai kecil itu sedikit demi sedikit menghilang. Akibatnya, kota sebesar ini, kini hanya bertumpu kepada 13 sungai yang masih ada sekarang. Dampak yang dirasakan adalah meningkatnya debit sungai tersebut di kala musim penghujan tiba. Berdasarkan data dari beberapa studi terdahulu (NEDECO 1973, JICA 1991, WJEMP Pusat 3-10) diperoleh hasil penghitungan debit aliran dan hubungannya dengan periode ulang banjir selama bulan Januari dan Februari 2002 (NEDECO 2002) sebagaimana terlihat pada Tabel 2-6.
Tabel 2-6: Debit Aliran dan Periode Ulang Sungai Ciliwung Pesanggrahan Sunter Cipinang Krukut Sumber : NEDECO 2002 Debit aliran (m³/dt) 400 150 50 90 60 Periode ulang (tahun) 20 25 5 50 5

2.12.3. Hidrograf Kebanyakan daerah tangkapan air dari sungai-sungai yang melewati kota Jakarta berbentuk memanjang, sehingga hidrograf banjir cenderung cepat, tajam dan terjadi dalam waktu yang singkat. Kondisi tersebut diperburuk dengan adanya kecenderungan perubahan penggunaan lahan di kawasan resapan yang telah berubah menjadi kawasan permukiman dan kawasan terbangun lainnya sehingga aliran air permukaan menjadi lebih besar.

2.13. Kondisi Hidrogeologi

Salah satu data atau informasi penting untuk perencanaan pengendalian banjir dan pengembangan kota adalah data atau informasi mengenai keadaan hidrogeologi. Peta hidrogeologi dan peta resapan wilayah DKI Jakarta, bisa dijadikan pedoman untuk pengembangan permukiman dan juga pengembangan waduk dan situ, sebagai tempat penampungan air sementara. 30
Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

Dari beberapa peta hidrogeologi diketahui bahwa muka air tanah di wilayah Jakarta Utara cukup tinggi sehingga penerapan sumur resapan tidak akan berfungsi pada wilayah ini. Sebaliknya, untuk wilayah selatan dapat dikembangkan untuk permukiman dengan low-density atau open space. Hal ini dimaksudkan agar peresapan air tanah bisa berlangsung dengan efektif sehingga cadangan air tanah untuk penduduk DKI Jakarta bisa lebih terjamin dan berkesinambungan (sustainable).

Beragam Masalah dan Tantangan Jakarta.

31

Bab

3

Konsep Studi Terdahulu Sistem Tata Air

KoNsEP KUat, iMPLEMENtasi LEMah
Konsep penanggulangan banjir di Jakarta sudah ada sejak zaman Belanda
emerintah dengan bantuan berbagai pihak, sudah sejak lama merencanakan konsep-konsep penanggulangan banjir di ibukota. Harapannya tentu saja agar perencanaan penanggulangan banjir ini nantinya benar-benar bisa diterapkan dan secara signifikan bisa mengurangi dampak banjir di kawasan ini. Akan tetapi seperti yang kita lihat sekarang, penyelesaian genangan masih di bawah harapan publik. Padahal jika dirunut ke belakang beragam konsep penyelesaian banjir telah dirumuskan; jika dilihat secara teknis konsep-konsep itu cukup memadai. Ironisnya, dengan berbagai sebab, konsep-konsep itu sering tidak jalan bahkan konsep yang hampir mirip sering dicetuskan kembali dengan formulasi yang sedikit berbeda. Ini artinya secara teknis, konsep terdahulu memang sudah cukup memadai.

P

3.1. Konsep Studi Terdahulu

Evaluasi terhadap terjadinya banjir sudah kerap dilakukan, baik oleh pemerintah maupun konsultan asing, yang bekerjasama dengan negara-negara tertentu. Belanda dan Jepang adalah negara yang sering memberikan bantuan dalam studi mengenai banjir ini. Keterlibatan Belanda tentu cukup membantu karena mereka terkait dengan sejarah panjang negeri ini. Banyaknya konsep yang dibuat tidak lantas bisa menyelesaikan permasalahan. Implementasi konsep-konsep tersebut sangat lemah dan cenderung lambat bergerak. Ini tentu saja disebabkan oleh berbagai kendala yang tak mudah seperti masalah sosial, sumber daya manusia, dana dan sebagainya. Sebagai contoh sistem polder dan waduk yang dianggap efektif menyelesaikan permasalahan banjir di satu kawasan ternyata sudah mulai digerakkan sejak 1965. Sayangnya hingga saat ini belum banyak kawasan yang menggunakan sistem ini. Padahal, jika sistem ini bisa dibuat dengan baik, didukung dengan institusi pengelola yang berkelanjutan, niscaya sistem ini mampu mengatasi banjir, serta menghindari warga dari kerugian. Hal yang sama juga bisa dilihat dalam implementasi pembangunan BKT; walaupun pembangunan ini telah 33

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

diusulkan NEDECO tahun 1973 akan tetapi realisasinya baru terjadi tahun 2010.

Sistem penanggulangan banjir di Belanda menginspirasi gagasan Herman van Breen

3.1.1. Konsep Profesor Van Breen Sebenarnya di zaman pemerintahan Belanda telah ada banyak konsep dan upaya yang dilakukan untuk menanggulangi banjir, baik yang bersifat temporer spasial maupun yang bersifat luas dengan memperhitungkan kegunaan dalam jangka panjang. Jika dihitung-hitung, jutaan gulden sudah digelontorkan pemerintahan Hindia Belanda untuk mengatasi banjir di Batavia ini. Dalam masa pemerintah kolonial, Profesor Herman van Breen tergolong yang paling aktif mencari solusi persoalan banjir di Jakarta. Ide-idenya cemerlang. Sebagai orang Belanda, seringkali dia mengacu pada penyelesaian yang pernah diterapkan di Negeri Kincir Angin tersebut. Meski meniru, konsep yang ditawarkan bukan sekedar menjiplak begitu saja tetapi selalu disesuaikannya dengan kondisi daerah ini. Satu contoh adalah ketika dia merencanakan sistem tata air di Rawa Menteng pada lembah Kali Cideng di daerah Kampung Lima dan Rawa Tanah Tinggi. Daerah ini tergenang di kala hujan. Untuk mengeringkan daerah tersebut di musim hujan, van Breen memilih menggunakan pompa-pompa air, mirip seperti yang dilakukan di banyak tempat di Belanda. Padahal, sebenarnya untuk mengeluarkan air dari tempat itu sudah cukup dengan menggunakan pintu air. Alasan van Breen, menggunakan pompa bisa lebih cepat, dan nyamuk malaria tak sempat berkembang biak. Masuk akal, karena diawal abad XIX daerah ini sudah mulai banyak penduduknya. Tahun 1918 dia kembali merencanakan satu konsep yang lebih strategis dalam menanggulangi banjir. Konsepnya adalah berusaha mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota. Untuk itu perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota. Saluran kolektor yang dibangun itu (kini dikenal dengan nama Banjir Kanal Barat-BKB) memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai dan bermuara di kawasan Muara Angke. Alasan penetapan Manggarai sebagai titik awal ialah karena pada saat itu wilayah ini merupakan batas selatan kota yang relatif aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan sistem pengendalian aliran air di musim hujan. BKB ini sendiri mulai dibangun tahun 1922. Untuk mengatur debit aliran air ke dalam kota, banjir kanal ini dilengkapi beberapa pintu air. Dengan adanya BKB, beban sungai di utara saluran kolektor relatif terkendali.

34

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

Karena itu, alur-alur tersebut, serta beberapa kanal yang dibangun kemudian, dimanfaatkan sebagai sistem makro drainase kota guna mengatasi genangan air di dalam kota. Hingga sekarang kanal ini masih diandalkan untuk mengurangi beban banjir di Jakarta. Setidaknya warga di sebelah barat ibukota sangat terbantu dengan adanya saluran ini. Beberapa kali kanal ini mengalami penyempurnaan, seperti pembuatan turap, pengerukan, pelebaran dan lain-lain. 3.1.2. Minim Konsep Masa Peralihan Di penghujung masa penjajahan Belanda, energi pemerintahan kolonial seolaholah sudah habis. Resesi ekonomi dunia di tahun 1930’an dan perang dunia Kedua membuat perhatian beralih ke lain hal sehingga tidak terlihat adanya rencana dan aksi-aksi yang bersifat teknis dalam penanggulangan banjir di Jakarta. Termasuk pada saat Jepang menguasai Indonesia. Di awal pemerintahan Republik Indonesia penanggulangan banjir juga belum banyak menjadi perhatian. Maklum kala itu penguasa lebih banyak memberikan perhatian dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok. Jika ada kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan upaya penanggulangan banjir sifatnya hanya lokal dan bersifat spoaradis, seperti pengerukan dan perbaikanperbaikan kanal. Karena jumlah penduduk masih tergolong sedikit, maka masih banyak lahan yang bisa dipakai untuk pertanian. Pada awal tahun 50’an pemerintah masih mengucurkan bantuannya untuk dana pembangunan saluran irigasi di Jakarta seperti perbaikan irigasi di Kalideres sepanjang 5.500 meter. Pada masa-masa ini yang menonjol justru aksi-aksi yang sifatnya gotong royong warga yang dengan kesadaran sendiri masyarakat membangun saluransaluran di daerah sekitarnya untuk mengurangi dampak banjir di kawasan masing-masing. Gotong royong seperti ini kerap dilakukan warga di sekitar daerah Tanah Abang, Kebayoran Lama, Grogol, Kebon Sirih dan berbagai wilayah lainnya yang berpotensi banjir. 3.1.3. Kopro 1965, Sistem Polder Setengah Hati Pemerintah mulai serius menangani banjir Jakarta pada pertengahan tahun 60-an. Saat itu pemerintah meyakini bahwa penanganan banjir di Ibukota haruslah mempunyai konsep yang jelas agar bisa dijadikan acuan dan sekaligus 35

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

dipahami oleh masyarakat berkenaan dengan langkah apa yang akan dilakukan pemerintah.

Pada tahun 1965 beberapa sistem polder dibangun, namun lemahnya institusional pengelola menyebabkan sistem tak berfungsi dengan baik

Pada 11 Februari 1965, satuan tugas khusus (satgas) dibentuk oleh Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. Satgas yang dibentuk melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 29 Tahun 1965 diberi nama Komando Proyek Pencegahan Banjir (Kopro Banjir) DKI Jakarta sebagai badan yang khusus menangani masalah banjir di Ibukota. Satgas itu bertugas untuk membantu Pemerintah Daerah Khusus Jakarta dalam mengatasi masalah banjir yang tertuang dalam Rencana Pengembangan untuk Jakarta Raya. Strategi yang ditempuh Kopro Banjir ini merupakan pengembangan konsep yang disusun oleh van Breen. Dalam implementasinya, konsep ini disesuaikan dengan Pola Induk Tata Pengairan DKI Jakarta yang ada pada saat itu. Dengan demikian, dalam pelaksanaannya, Kopro Banjir cenderung mengedepankan sistem polder dengan waduk dan pompa sebagai elemen utamanya. Beberapa proyek yang dilaksanakan pada saat itu meliputi pembangunan waduk, polder dan sodetan. Pembangunan waduk meliputi Waduk Setia Budi, Waduk Pluit, Waduk Tomang danWaduk Grogol. Untuk pembangunan polder meliputi Polder Melati, Polder Pluit, Polder Grogol, Polder Setia Budi Barat, dan Polder Setia Budi Timur. Sedangkan untuk sodetan adalah Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan. Di samping itu ada juga pembuatan gorong-gorong di Jalan Sudirman dan rehabilitasi terhadap beberapa sungai di Jakarta. Dalam perjalanannya konsep yang ditawarkan tak sepenuhnya bisa berjalan. Sistem polder yang dibuat, terkesan tidak komprehensif dan tidak didesain untuk dapat berjalan secara berkelanjutan. Akibatnya, hampir tak ada lagi sistem polder yang berfungsi secara memadai.

Setelah banjir besar pada Februari 1970 bantuan teknis diberikan oleh pemerintah Belanda atas permintaan pemerintah Indonesia

3.1.4. NEDECO 1973: Berharap pada Kanal Timur Tahun 1970 banjir besar melanda Jakarta Pusat, dan tidak tanggung-tanggung, kawasan Monas sebagai simbol kota Jakarta terendam air. Soeharto, Presiden RI saat itu merasa perlu untuk langsung meninjau ke lokasi banjir. Kejadian ini membuat pemerintah semakin berusaha mencari jalan keluar untuk mencari solusi banjir di Jakarta. Termasuk dengan bekerjasama dengan pihak-pihak asing. Setelah banjir besar pada Februari 1970, bantuan teknis diberikan oleh Pemerintah Belanda atas permintaan Pemerintah Indonesia. The Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta oleh Netherlands Engineering Consultants (NEDECO) 1973 merupakan hasil dari inisiatif tersebut. Pengendalian banjir didefinisikan oleh NEDECO 1973 sebagai mengalihkan

36

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

NEDECO merekomendasikan rehabilitasi sistem drainase yang ada untuk penyaluran runoff secara efisien

banjir dari sungai-sungai dan mencegahnya mengalir ke dalam wilayah kota. Drainase ini diartikan sebagai upaya evakuasi aliran permukaan pada saat hujan lebat yang terjadi di wilayah kota tersebut untuk bisa mengalir dengan lancar ke dalam saluran pengalihan banjir. NEDECO 1973 merekomendasikan rehabilitasi sistem drainase yang ada untuk penyaluran run off secara efisien, dan upaya-upaya yang spesifik untuk mengendalikan banjir. Upaya pertama dalam pengendalian banjir adalah usulan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), dari sungai Cipinang ke arah timur, sebagai penampung dan pengalih banjir dari sungai-sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung. Selain itu direkomendasikan pelebaran saluran Banjir Kanal Barat (BKB) pada titik belokan ke utara ke sungai Angke di Pesing untuk menampung banjir dari sungai Grogol dan Sekretaris. Pada daerah di antara BKB dan BKT direkomendasikan untuk dibangun sistem polder (empolderment) untuk mengatasi masalah banjir di berbagai area terisolasi yang mengalami proses penurunan tanah. Berdasarkan Masterplan NEDECO 1973, Jakarta dibagi menjadi 6 zona drainase yang sebagian besar meliputi daerah dataran rendah di Jakarta. Peta dari pembagian zona tersebut diperlihatkan di dalam Gambar 3-1.

Gambar 3-1: Zona drainase menurut Master Plan NEDECO 1973 Konsep Kuat, Implementasi Lemah

37

Masterplan ‘Pengendalian Banjir dan Sistem Drainasi DKI Jakarta’ diharapkan bisa selesai tahun 1985. Padahal hingga tahun 2010, yang terealisasi masih jauh dari harapan, sekitar 50 % dari masterplan tersebut. Ini adalah salah contoh dalam tataran realisasi yang sangat jauh dari target yang ingin didapatkan. Sebenarnya apa yang tersurat dalam perencanaan ini sudah tergolong cukup ideal sebagai upaya penanggulangan banjir. Di sana disebutkan ada 24.000 hektar lahan yang bisa diamankan dari banjir, termasuk oleh BKT. Kanal itu direncanakan akan memotong sungai-sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung.

Gambar 3-2: Pelaksanaan pembangunan BKT, sudah diusulkan sejak 1973

BKB dan BKT akan berhasil jika diikuti perbaikan dan pembangunan sistem drainasi yang baik

3.1.5. JICA 1991: Perlu Pengubahan Pola Penggunaan Lahan Sesudah Belanda dengan NEDECO-nya, Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 1991 juga melakukan studi. Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta – Masterplan Study yang dilakukan JICA adalah studi mengenai drainase perkotaan. Studi ini mengamati bahwa laju pertambahan penduduk yang sangat pesat di Jakarta telah mengakibatkan bertambahnya beban drainase dan risiko banjir di dalam kota. Studi ini juga menekankan bahwa proyek-proyek seperti BKB dan BKT, yang dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi sungai-sungai utama Jakarta, akan berhasil apabila perubahan pola penggunaan lahan akibat proses urbanisasi yang sangat cepat tersebut disertai dengan pembangunan sistem drainasenya sendiri yang layak. Oleh karena itu tujuan studi ini meliputi perumusan master
Konsep Kuat, Implementasi Lemah

38

plan drainase, sanitasi, dan pembangunan saluran limbah (sewerage) seluruh kota untuk tahun 2010. JICA (1991) juga mengidentifikasi kawasan banjir dan solusi untuk mengatasinya. Seperti, jembatan dengan tinggi bebas yang tidak mencukupi, juga diidentifikasi sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir. Disamping itu kurang besarnya kapasitas aliran dan saluran drainase yang ada masih menjadi penyebab utama melubernya air. Usulan pemecahan masalah banjir telah disampaikan pada saat itu, yaitu perbaikan dan peningkatan saluran drainase yang ada, perbaikan persilangan dengan jembatan dan pembangunan stasiun pompa. Berdasarkan Master Plan JICA 1991, Jakarta juga dibagi ke dalam 6 zona. Pembagian ke dalam 6 zona dengan pertimbangan bahwa saluran yang secara hidrolik terhubung akan dikembangkan sebagai satu sistem dan secara praktis pembagian zona tersebut merupakan pembagian zona berdasarkan alur sungai.

Kejadian banjir 1996 menunjukkan ketidakmampuan sistem drainase kota mengalirkan air dengan debit puncak ke Teluk Jakarta

3.1.6. NEDECO 1996: Polder Sebagai Bagian dari Solusi Banjir Pada dua bulan pertama tahun 1996, di Jakarta terjadi dua kali banjir besar. Yang pertama terjadi pada bulan Januari sebagai akibat hujan lebat di daerah hulu Sungai Ciliwung. Banjir kedua terjadi di bulan Februari yang diakibatkan curah hujan yang sangat tinggi di Jakarta. Kejadian ini, terutama banjir yang kedua, menunjukkan ketidakmampuan sistem drainase kota untuk mengalirkan air dengan debit puncak ke Teluk Jakarta. Pada Juni 1996, NEDECO melakukan kegiatan yang disebut Jakarta Flood Control Advisory Mission. Pekerjaan yang dilakukan adalah perumusan rencana tindak (action plan) untuk mitigasi bencana banjir di wilayah Jabotabek. Misi ini menggarisbawahi cara pendekatan perlindungan banjir yang diusulkan dalam NEDECO sebelumnya dan didasarkan pada dua hal di bawah ini: • pengalihan banjir ke dalam saluran banjir ; • perbaikan drainase kota dengan jalan pembersihan atau peningkatan saluran-saluran kota dan membuat sistem drainase polder dengan pemompaan. Kawasan polder yang ditentukan di sini merupakan kawasan rendah yang tidak memungkinkan air drainase mengalir secara gravitasi. Daerah polder harus terisolasi dan dilindungi dari daerah sekitarnya dengan membangun tanggul atau pembatas sepanjang pinggiran polder. Dalam sistem ini kelebihan air hujan ditampung pada lokasi tertentu kemudian dipompa ke laut atau sungai

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

39

Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project merupakan rencana dari studi JICA 1997, hingga kini proyek itu belum terlaksana

yang terdekat. Area dengan garis kontur tanah lebih rendah +6 meter di atas permukaan air laut dipilih untuk pembentukan polder di masa datang. NEDECO 1996 melihat bahwa strategi proteksi banjir seperti tersebut di atas relevan dengan kondisi yang berlangsung selama ini. Fokus utama rekomendasi mencakup empat (4) hal: • membangun BKT ; • melanjutkan pemeliharaan sungai melalui pengerukan dan penambahan kapasitas sungai-sungai besar ; • melanjutkan pembuatan polder di kawasan cekungan rendah yang baru karena meningkatnya proses tanah ambles ; • melaksanakan pembangunan secara bertahap waduk penampung Halim. 3.1.7. JICA 1997: BKB dan Cengkareng Drain Andalan di Barat JICA 1997 merupakan studi manajemen air secara luas di wilayah Jabotabek. Studi pengendalian banjir ini mengikuti pendekatan logis yang dirumuskan oleh studi NEDECO (1973). Studi ini mempertimbangkan BKB dan Cengkareng Drain sebagai bagian kunci dalam upaya menanggulangi banjir di bagian barat Jakarta. Penyebab banjir di bagian tengah Jakarta disebabkan oleh banjir dari sungai-sungai Ciliwung, Krukut dan Cideng. Tujuan dari studi ini termasuk perumusan masterplan untuk pengendalian banjir sebagai bagian dari manajemen air sungai secara keseluruhan. Studi ini merumuskan sejumlah upaya penanganan. 1. Pembangunan saluran banjir yang terdiri dari dua lajur terowongan di bawah Kota Bogor yang padat penduduknya, masing-masing panjangnya sekitar 1000 meter, untuk menyalurkan air dari sungai Ciliwung ke Cisadane. 2. Perbaikan Pintu Air Manggarai untuk menambah kapasitas menjadi 360 m3/detik. JICA 1997A terdiri dari detail desain untuk proyek drainase perkotaan di Jakarta. Rancangan terinci ini berlandaskan pada studi kelayakan yang dilakukan oleh JICA pada tahun 1991 untuk Cengkareng Barat, Sepak, Bojong, dan wilayah Meruya. Proyek ini mencakup rancangan terinci seluas 38 km² dan terdiri dari dua area sub-drainase, yaitu Cengkareng Barat dan Meruya. Rencana Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project adalah merupakan hasil dari studi JICA 1997. Proyek ini belum dilaksanakan karena belum ada kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan semua pihak yang berkepentingan

40

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

dalam proyek ini termasuk masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah hilir sungai Cisadane untuk melaksanakannya. 3.1.8. JICA 1997 A: Fokus pada Kawasan Cengkareng dan Meruya Studi JICA (1997A) yang merupakan kelanjutan dari studi JICA (1991) menekankan pada perubahan tata guna lahan yang terjadi akibat dari urbanisasi yang cepat di kawasan Cengkareng bagian barat, Kali Sepak dan kawasan Meruya. Seperti diketahui perkembangan Jakarta Barat hingga ke arah Tangerang cukup pesat dalam tahun-tahun tersebut. Terutama setelah dibangunnya pelabuhan udara internasional Soekarno–Hatta. Dalam studi tersebut JICA menyelesaikan Study on Detailed Design for Urban Drainage Project in the City of Jakarta, yang merupakan studi untuk Zona 1 (salah satu zona dalam Studi JICA 1991) yang mencakup wilayah kurang lebih 38 km². Kawasan ini termasuk dua wilayah sub-drainase yaitu Cengkareng Barat (36,71 km²) dan kawasan Meruya (1,27 km²). 3.1.9. SAPI 2004: Tak Cukup Hanya Aspek Teknis Special Assistance for Project Implementation (SAPI 2004) dimulai pada tahun 2003. Studi SAPI ini berfokus pada upaya untuk menjinakkan banjir di bagian tengah kota Jakarta yang menggabungkan upaya teknis dengan aspek sosial. Kompleksnya permasalahan banjir di DKI tidak bisa diselesaikan dengan upaya-upaya teknis belaka. Banyaknya warga yang bertempat tinggal di Jakarta tentu punya pengaruh yang cukup besar; ini harus dilihat aspek sosialnya. Studi ini menekankan pada perbaikan BKB, termasuk Pintu Air Manggarai, Kali Ciliwung Bawah, dan Bendung Pasar Baru di Kali Cisadane. Lingkup studi ini termasuk kajian atas kapasitas saluran saat ini, persiapan dari desain dasar dan rencana pelaksanaan, dan penyelidikan terhadap dampak pelaksanaan proyek dan dampak sosial yang mungkin timbul. 3.1.10. WJEMP 2004: Perlu Mitigasi Teknis Western Java Environmental Management Project (WJEMP) adalah studi yang didanai oleh Bank Dunia untuk penanganan masalah lingkungan. Berkaitan dengan permasalahan tata air di Jakarta ada dalam WJEMP Pusat 3–10 dan WJEMP DKI 3–9. WJEMP Pusat 3-10 memiliki lingkup kerja untuk wilayah Jabodetabek. Serangkaian tindakan mitigasi yang menyangkut perbaikan sungai (dredging), situ/danau dan pembuatan OSD (On site Storm Detention) merupakan bagian dari rekomendasi studi WJEMP Proyek Pusat 3-10 ini. Dalam studi ini wilayah DKI Jakarta dibagi menjadi 8 zona drainase. Batas zona drainase tersebut bukan alur sungai seperti pada pembagian zona menurut
Konsep Kuat, Implementasi Lemah

41

Master Plan JICA 1991 tetapi sedapat mungkin lebih mempertimbangkan batasan daerah aliran sungai (DAS). Peta dari zona-zona ini dapat dilihat dalam Gambar 3-3. Sedangkan ruang lingkup penelitian WJEMP DKI 3-9 hanya mencakup wilayah DKI Jakarta. Studi ini berfokus pada saluran mikro dan sub-makro yang mengingatkan tentang perlunya melakukan mitigasi yang bersifat teknis dalam menghadapi banjir. Beberapa rekomendasinya adalah pengurangan genangan di 78 daerah rawan genangan di DKI, perlunya pemetaan melalui sistem informasi geografis untuk sistem drainase di Jakarta dan perbaikan institusi dan operasi pemeliharaan.

Gambar 3-3: Pembagian zona menurut Studi WJEMP Pusat 3-10

3.1.11. Jakarta Flood Management (2007) : Prihatinkan Drainase Setelah banjir Jakarta pada 2007, atas permintaan pemerintah Indonesia, pemerintah Belanda memberikan bantuan teknis. Bantuan teknis ini meliputi pembuatan hazard/flood map dan sejumlah usulan penanggulangan non-teknis lainnya. Studi ini menggarisbawahi permasalahan kurang terpeliharanya drainase lingkungan dan minimnya sistem pengelolaan sampah di masyarakat. Masyarakat diharapkan untuk lebih berperan aktif dalam penanggulangan banjir. Ini bisa dilakukan dengan mengikutsertakan warga dalam mengelola lingkungannya masing - masing ; misalnya mengurangi kebiasaan membuang 42
Konsep Kuat, Implementasi Lemah

sampah di kali yang akan menyebabkan kapasitas kali berkurang dan aliran air juga terhambat. Untuk itu diperlukan sistem pengelolaan sampah tersendiri sehingga warga tak lagi membuang sampah ke sungai.

Beberapa sungai besar, BKB, BKT dan Cengkareng Drain menjadi tulang punggung untuk mengalirkan air ke laut

3.2. Sistem Tata Air

Dalam sistem tata air DKI Jakarta, saluran makro yang menjadi tulang punggung dalam mengalirkan air ke laut adalah beberapa sungai dan kanal buatan seperti: BKB, Cengkareng Drain, dan BKT. Sungai-sungai tersebut berasal dari kawasan Bogor dan Tangerang yaitu saluran Mookervart, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Ciliwung, Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung. Gambar 3-4 menunjukkan sungai-sungai yang melintasi Jakarta. Sebagian sungai ini berada di bawah pengawasan Pemda DKI Jakarta dan sebagian yang lain di bawah pengawasan Pusat (Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane) sebagaimana terlihat pada Gambar 3-5. Mookervart sendiri merupakan saluran sodetan dari kali Cisadane ke Kali Angke sebelum adanya Cengkareng Drain. Di samping itu masih ada saluran yang merupakan sisa sungai dan saluran kecil lainnya, yang berfungsi untuk mengumpulkan curah hujan. Banjir Kanal Barat (BKB) atau Western Banjir Canal (WBC) sepanjang 16,5 km telah dibangun untuk mengalihkan aliran banjir 100 tahunan dari 5 sungai (Krukut, Cideng, Kali Baru Barat, Kali Bata dan Ciliwung). Pada tahun 1983 Cengkareng Flood Way (CFW) sepanjang 7 km telah selesai dan berfungsi untuk mengalihkan banjir 100 tahunan dari saluran Mookervart, sungai Angke, Pesanggrahan dan kali Grogol. Di saat yang sama Cakung Drain sepanjang 10 km juga telah selesai dibangun untuk mengalihkan banjir 100 tahunan dari kali Cakung Lama di bagian timur Jakarta. Sedangkan awal tahun 2010, meski masih belum sempurna, BKT telah berhasil menembus laut. Saluran sepanjang 23,6 km itu dibangun untuk mengalihkan banjir 100 tahunan sungai–sungai yang berada di bagian timur Jakarta (Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung) menuju Teluk Jakarta. Bagaimanapun juga tembusnya BKT ini merupakan terobosan besar dalam upaya penanggulangan banjir di Ibukota. Betapa tidak, kanal yang sudah direncanakan dari tahun 1973 dan diharapkan bisa diselesaikan tahun 1985 ini pembangunannya baru menunjukan hasil tahun 2010. Lebih dari 30 tahun sejak perencanaannya, warga Jakarta baru bisa melihat air mengalir di kanal itu.

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

43

Gambar 3-4: Sungai-sungai yang melalui Jakarta (Sumber : WJEMP Study)

Sulitnya pembangunan BKT ini disebabkan oleh besarnya dana yang harus dialokasikan ditambah lagi pembebasan lahan yang harus dilakukan juga cukup luas dan melibatkan banyak pemilik lahan. Dengan demikian, pelaksanaannya terus menerus tertunda, sampai akhirnya tahun 1996, NEDECO melakukan pra study kelayakan terhadap berbagai jenis pilihan konstruksi dan trase rencana pembangunan BKT. Kini BKT benar-benar sudah terealisasi sebagai bagian dari sistem tata air di Jakarta, yang dalam hal ini BKT diandalkan bersama “saudara tuanya” BKB diandalkan untuk menjadi tulang punggung dalam mengalirkan air langsung ke laut. Di samping tentu saja masih terdapat beberapa sungai lain yang juga mengalirkan air langsung ke laut.

44

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

Ada kawasan yang bisa mengandalkan gaya gravitasi, disisi lain ada pula kawasan yang pengaliran airnya melalui mekanisme sistem polder

Gambar 3-5: Skema sistem sungai/saluran makro

3.2.1. Konsep Sistem Tata Air Kini

Gambar 3-6: Konsep dasr pengendalian banjir Jakarta Konsep Kuat, Implementasi Lemah

45

Gambar 3-6 memberikan gambaran konsep dasar pengendalian banjir Jakarta yang dikenal selama ini. Meski demikian, konsep tersebut perlu diperbaharui karena implementasi yang berupa sistim polder seyogianya tidak hanya dilakukan pada wilayah tengah utara (lihat gambar), namun harus meliputi wilayah yang ketinggian permukaan tanahnya sudah berada di bawah permukaan air laut atau air sungai.

Menahan air sebanyak mungkin di Selatan (Puncak-Bogor), memperbanyak waduk di tengah dan membangun sistem polder di utara

3.2.2. Konsep Sistem Tata Air Mendatang Konsep sistem tata air mendatang tidak hanya mengandalkan upaya teknis saja, upaya non teknis dan konservasi harus lebih berperan. Ini artinya pemerintah tak lagi harus menjadi ‘pemain tunggal’ dalam usaha penanggulangan masalah banjir. Untuk itu konsep sistim tata air mendatang harus mengikuti beberapa prinsip penanganan seperti yang terlihat dalam sistem hulu-ke-hilir (upstream to downstream) yang terlihat dalam Gambar 3-7. Prinsip pertama ialah air yang datang dari selatan lebih dahulu sedapat mungkin ditahan oleh vegetasi di dataran tinggi di selatan (Puncak). Kemudian sedapat mungkin disimpan pada waduk dan situ yang terdapat di Bogor, Depok dan Jakarta Selatan. Jika memang masih ada air yang harus dialirkan, maka air akan mengalir melalui BKB, BKT dan Cengkareng Drain. Sayangnya kapasitas Cengkareng Drain masih belum memadai. Oleh karena itu, selayaknya direncanakan suatu kanal baru di sebelah barat Jakarta (Cengkareng Drain 2) yang akan mengalirkan air dari Kali Pesanggrahan menuju ke laut dengan muara di sekitar Kali Dadap dekat Bandara SukarnoHatta. Di samping itu, karena penurunan muka tanah (landsubsidence) dan kenaikan muka air laut (sea level rise), maka wilayah Jakarta yang berada di bawah permukaan laut dan permukaan air sungai juga akan semakin luas. Konsekuensinya adalah implementasi sistim polder akan meluas, terutama ke sebelah barat. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana mengelola banjir yang terjadi di Jakarta Utara yang wilayahnya hanya memiliki rasio badan air yang sangat rendah? Dengan rasio badan air yang rendah ini akan sulit untuk ’membebaskan’ Jakarta Utara dari genangan dan banjir. Oleh karena itu, rencana pengembangan Pantura harus diintegrasikan dengan pola penanganan banjir di Jakarta.

46

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

Gambar 3-7: Sistem upstream to downstream

Reklamasi bisa dimanfaatkan untuk peningkatan rasio badan air, penambahan ruang terbuka hijau, peningkatan kualitas sumber air tawar dan sebagainya

3.2.3. Reklamasi Kesempatan Memperbaiki Sistem Keseluruhan Di tengah masyarakat berkembang opini bahwa pengembangan reklamasi Pantai Utara (Pantura) akan berdampak negatif terhadap lingkungan, terutama terhadap peningkatan risiko banjir. Namun sesungguhnya pengembangan Pantura justru bisa dipakai sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem tata air di DKI Jakarta secara keseluruhan. Kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah menjadi isu penting saat ini dan di masa datang. Dengan demikian, perlu dilakukan penanganan khusus terhadap Pantura karena pentingnya kawasan ini. Di samping itu, pengembangan kawasan ini juga memberikan efek positif lainnya seperti rasio badan air secara keseluruhan bisa meningkat dan sumber air baku yang relatif bersih lebih mudah didapat. Untuk itu pengembangan Pantura nantinya harus benar-benar terintegrasi dengan rencana sistem tata air yang sudah ada di DKI Jakarta sehingga hasil yang didapat bukan membuat sistem yang ada sekarang ini menjadi lebih buruk akan tetapi malah menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan pengembangan reklamasi, sistem tata air Jakarta di masa mendatang dapat mengikuti konsep seperti Gambar 3-8. 47

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

Gambar 3-8: Sistem tata air Jakarta mendatang

3.2.4. Sistem Sub-makro Sebagaimana telah dijelaskan pada bab terdahulu bahwa ancaman genangan bersumber dari tiga sebab: pasang air laut, hujan yang jatuh di atas wilayah Jakarta dan limpasan air hujan yang datang dari hulu (Jabodetabek). Pengendalian banjir di wilayah Jakarta yang diakibatkan oleh penyebab pertama dan kedua ini dilakukan dengan pengindentifikasian sub-makro sistem (untuk pembuatan sistem polder) yang ada di wilayah Jakarta. Batas-batas wilayah sub daerah tangkapan air (sub-catchtment) dari masing masing sub-makro sistim dan arah aliran yang ada serta yang diinginkan harus diidentifikasi. Bebarapa studi terdahulu telah mengidentifikasi beberapa permasalahan dan situasi di sejumlah sub-makro sistem. Meskipun demikian belum semua sub-makro sistem wilayah di DKI terpetakan secara jelas. Berdasarkan hasil studi terdahulu dan pengalaman penulis sebagai praktisi, pembagian sub-makro sistim wilayah DKI Jakarta dapat ditunjukkan dalam Gambar 3-9. Pembagian sub-makro sistem dilakukan dengan mengacu dan melakukan penyesuaian terhadap pendekatan konsep pengendalian banjir Jakarta yang dianut selama ini dan secara konsisten mengikuti alur pikir yang telah dikembangkan dalam Masterplan 1973. 48
Konsep Kuat, Implementasi Lemah

Gambar 3-9: Konsep pembagian sub-makro (sistem polder) di wilayah Jakarta

Dalam alur pikir ini, air yang berasal dari hulu akan dialirkan ke laut melalui BKB dan BKT, sedangkan wilayah bawah di utara kedua banjir kanal ini menjadikan sistim polder sebagai sistim pengendalian banjirnya. Namun, dengan memperhatikan landsubsidence yang menyebabkan semakin banyak wilayah Jakarta yang akan berada di bawah permukaan air laut dan sungai, maka wilayah implementasi sistim polder akan menjadi lebih luas.

Konsep Kuat, Implementasi Lemah

49

Bab

4

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis Partisipasi Sebagai Kunci Sukses Bersandar Konsep Terdahulu

Selaras Sistem Kini dan Rencana Mendatang

Penyelesaian Tepat Arah, Tepat Lokasi dan Terukur

PErUBahaN ParaDiGMa DaN LaNGKah stratEGis
Dalam hal anggaran, sumber daya dan organisasi, pemerintah kesulitan menghadapi banjir dan masalah banjir

M

engapa banjir Jakarta tidak kunjung bisa diselesaikan? Pertanyaan ini sudah bertahun-tahun belum terjawab. Pemerintah bukan tanpa upaya dalam menyelesaikan permasalahan banjir. Saluran sudah dikeruk, kanal-kanal baru telah dibangun, tetapi banjir tetap saja menjadi bagian dari penderitaan yang harus dirasakan warga Jakarta, setiap kali musim penghujan datang. Gubernur DKI gregetan menjawab pertanyaan wartawan setiap kali ditanya mengenai banjir, apalagi umumnya media selalu menyorot orang nomor satu di ibukota ini menjadi orang yang paling bertanggungjawab terhadap kejadian banjir. Tudingan itu memang tidak selalu benar karena gubernur yang sedang menjabat sudah mendapat warisan yang berkenaan dengan kronisnya masalah sistem tata air terutama dikaitkan dengan persoalan banjir. Jika memang masalahnya cukup pelik dan tidak bisa diuraikan hingga saat ini, pertanyaan selanjutnya adalah apa sudah benar langkah yang dilakukan selama ini? Perlu ditimbang-timbang bagaimana langkah selanjutnya agar penyelesaian masalah banjir lebih tepat sasaran, cepat, dan efisien. Karena terlihat dalam beberapa puluh tahun belakangan ini langkah yang dilakukan terkesan kalah cepat dibandingkan masalah yang datang.

Amblesan dan kenaikan muka air laut menambah berat tantangan DKI Jakarta dalam menghadapi banjir

4.1. Perubahan Paradigma Pengendalian Banjir

Pengalaman selama ini di Indonesia, atau di negara lain yang mempunyai kemiripan permasalahan banjir, menunjukkan bahwa pemerintah memiliki keterbatasan kemampuan menghadapi persoalan banjir dan pengelolaan air. Keterbatasan ini terutama dalam wujud keterbatasan dana dan sumber daya manusia yang dimiliki. Di sisi lain persoalan/tantangan semakin berat. Lokasi Jakarta yang berada pada dataran rendah yang secara kontinyu mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis

51

air laut, yang disebabkan oleh pemanasan global, merupakan dua ancaman/ tantangan besar yang harus dihadapi saat ini dan dimasa yang akan datang.

Upaya penanggulangan banjir secara struktural dengan mengandalkan peran pemerintah saja, tak lagi efektif

Di samping itu, persoalan urbanisasi yang meningkatkan jumlah penduduk, yang otomatis juga memerlukan lahan untuk bekerja dan bertempat tinggal, menambah daftar tantangan yang ada. Akibatnya ruang untuk penyerapan air semakin terbatas. Banyak di antara mereka mengambil lahan di tempat yang sebenarnya menjadi daerah yang harus bebas dari permukiman, seperti bantaran sungai dan waduk. Dengan tantangan yang sedemikian dan kenyataan yang ada, upaya penanggulangan banjir secara struktural, dengan mengandalkan peran pemerintah saja, tak lagi efektif dilakukan karena persoalan yang muncul dipastikan akan lebih cepat dibandingkan tindakan penyelesaian yang mungkin bisa dilakukan. Karena itu harus ada perubahan paradigma yang dengan paradigma ubahan ini pemerintah tak lagi menjadi satu-satunya pemain dalam penanggulangan banjir. Komponen masyarakat dan bisnis yang memiliki aset dan penghidupan di kawasan yang potensial terjadi banjir harus lebih berperan dan disertakan sebagai pemangku kepentingan dalam mengelola air. Merekalah yang secara langsung menderita kerugian jika terjadi banjir dan secara langsung pula mendapatkan kenikmatan jika banjir bisa tertanggulangi. Seluruh pemangku kepentingan dan beneficiaries; mereka yang mendapatkan kenikmatan dari tertanggulanginya banjir, harus menjadi subyek dalam penanggulangan banjir dan pengelolaan air ini.

Gambar 4-1: Banjir selalu merepotkan warga

52

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis

Keharusan untuk lebih melibatkan berbagai kalangan di luar pemerintah juga senapas dengan demokratisasi dan otonomi daerah yang dalam hal ini proses pengambilan keputusan selalu didasarkan pada aspirasi masyarakat. Dengan ini pendekatan dari atas ke bawah (top down) yang selama ini dilakukan dalam pengelolaan banjir harus dikurangi. Konsekuensi dari lebih mengedepankan peran masyarakat adalah lebih mendengarkan lagi apa kemauan dan keinginan mereka. Pendekatan yang digunakan adalah dari bawah ke atas (bottom up) sehingga kebijakan yang diambil merupakan solusi bersama.

Penanggulangan banjir harus merupakan langkah menuju ke penyelesaian yang permanen

Dengan kemampuan yang terbatas, pemerintah seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator dengan memberi gagasan-gagasan dan garis besar tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana rencana itu bisa dijalankan. Sedangkan masyarakat berpartisipasi di tingkat mikro dan sub-makro. Prinsipnya, warga mengelola genangan yang mungkin terjadi di kawasan mereka. Dengan proses seperti ini, diharapkan setiap tindakan penanggulangan banjir merupakan langkah menuju ke penyelesaian yang permanen dan dengan pelibatan pemangku kepentingan (stakeholders); proses semacam ini akan mendorong tercapainya penyelesaian yang berkelanjutan (sustanaible solution). Dengan cara seperti ini maka ketahanan kelompok-kelompok masyarakat dalam menanggulangi banjir di daerahnya bisa terus menerus dipelihara dan dikembangkan.

Harus ada perubahan paradigma, dimana masyarakat sendirilah yang harus aktif mengelola potensi banjir di wilayahnya

4.2. Partisipasi Sebagai Kunci Sukses

Secara sadar atau tidak, penduduk Jakarta telah memilih untuk tinggal di dataran rendah yang rawan banjir. Dalam kondisi yang demikian, ancaman banjir akan terus ada dan masyarakat bersama pemerintah harus terus berupaya dan berpikir dalam perjuangan tanpa henti bersama air (in a never ending struggle with the water). Investasi di bidang pengelolaan banjir membutuhkan dana yang besar. Pengoperasian dan pemeliharaan yang tak memadai berkaitan erat dengan masalah terbatasnya anggaran dan sumber daya manusia. Pembangunan infrastruktur banjir yang tidak disertai dengan operasi dan pemeliharaan yang jelas akan mengakibatkan infrastruktur banjir ini berumur pendek dan tidak berfungsi efektif. Akibatnya akan mengancam keberlanjutan penanggulangan banjir. Masyarakat harus aktif mengelola daerahnya agar banjir lebih bisa dihindari. Pengalaman yang ada menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan air tak semata-mata disebabkan oleh ketidakmampuan teknis, tetapi lebih sering

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis

53

disebabkan oleh tak memadainya kebijakan dan lemahnya institusi yang bertugas untuk operasi dan pemeliharaannya. Jika melihat penyebaran penduduk di daerah Jabodetabek, kegiatan masyarakat justru lebih cenderung terkonsentrasi di kawasan yang potensial mengalami banjir. Disatu sisi, hal ini memberikan dampak yang kurang menguntungkan yakni kejadian banjir mengakibatkan kerugian dan penderitaan lebih banyak orang. Namun pada sisi lain, dengan konsentrasi ini akan tersedia potensi yang berupa lebih banyak orang yang dapat menanggulangi dan membiayai upaya penanggulangan banjir ini.

Dengan paradigma ubahan ini pemerintah tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam penanggulangan banjir

4.3. Bersandar Konsep Terdahulu

Seperti sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya, untuk menangani banjir Jakarta sudah cukup banyak konsep yang dibuat. Sayangnya, usulan-usulan yang telah ada tak diikuti dengan membuat acuan tindakan apa yang perlu dan siapa yang harus melakukan sehingga tak banyak pengaruh yang signifikan terhadap upaya penanggulangan banjir. Akibatnya, meski beberapa ide telah dirumuskan puluhan tahun yang lalu, hingga kini nyaris tak terlihat dampaknya secara signifikan. Sebagai contoh, jika merunut konsep yang sudah ada, maka usulan perlunya pembuatan sistem polder sudah ada sejak tahun 1965 dan saat itu pula telah ada beberapa polder yang segera dibangun. Sayangnya, hingga saat ini kebanyakan sistem polder itu tak lagi bisa berjalan dan hanya di beberapa lokasi saja yang sistem poldernya bisa berjalan baik.

4.4. Selaras dengan Sistem Kini dan Rencana Mendatang

Dalam bagian terdahulu sudah ditegaskan bahwa Jakarta telah memiliki rencana sistem tata air baik untuk saat ini maupun di masa yang akan datang. Dengan menganggap bahwa apa yang sudah direncanakan itu adalah kondisi ideal yang mungkin dilakukan maka dalam implementasi pengembangannya harus mengacu pada rencana sistem tata air tersebut. Kanal-kanal buatan dan sungai-sungai yang sudah ada tetap menjadi saluran makro utama untuk mengalirkan air ke laut. Upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana agar kanal dan sungai tersebut bisa berperan maksimal di kala musim hujan dan bagaimana pula mengangkat air secara kontinyu dari daerah yang berada di bawah permukaan saluran tersebut. Meski kelihatannya sederhana, tentu dalam kenyataannya bukan perkara gampang.

54

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis

Di samping itu, memanfaatkan secara optimal infrastruktur banjir yang sudah ada harus menjadi bagian dalam merumuskan langkah ke depan. Ada sungai, kanal, waduk, saluran drainase kota dan sebagainya yang selama ini memang menjadi tulang punggung Jakarta dalam mengalirkan air. Semua infrastrukstur tersebut jangan lagi diganggu, malah harus ditingkatkan perananannya dan sebisa mungkin menambah jumlahnya sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa kebijakan seringkali mengikat semua wilayah, padahal situasi dan kondisinya tidak selalu sama

4.5. Penyelesaian Tepat Arah, Tepat Lokasi dan Terukur

Untuk efektifnya implementasi penanggulangan banjir, perencanaan yang dilakukan haruslah tepat arah dan tepat lokasi. Kebijakan yang diambil jangan sampai menjadi tidak berguna saat diimplementasikan. Sebagai contoh, dalam membuat sumur resapan, prinsipnya adalah untuk menahan air dengan mempermudah penyerapan oleh tanah. Dalam kenyataannya kebijakan ini tak bisa diterapkan di daerah Jakarta Utara yang wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Di wilayah ini, penggalian sampai kedalaman sekitar satu meter saja sudah menemukan muka air tanah. Ini artinya sumur resapan yang dibuat tak efektif lagi, bahkan justru bisa mencemari air tanah. Berbeda halnya jika aturan pembuatan sumur resapan itu dilakukan pada daerah yang berada di selatan atau di hulu. Tentu fungsinya sebagai tempat penyerapan air benarbenar bisa dilaksanakan. Secara umum memang lokasi-lokasi yang berkaitan dengan pemunculan aliran air bisa menjadi pertimbangan dalam membuat perlakuan yang tepat di daerah tersebut. Di bagian hulu selalu bisa diusahakan sebagai tempat penahan air hujan supaya tidak langsung mengalir ke sungai. Untuk itu strategi yang diambil adalah berkaitan dengan usaha-usaha untuk mempermudah penahanan air yang mengalir agar lebih banyak, jika tidak semuanya, terserap ke dalam tanah. Untuk bagian tengah penekanan fungsinya adalah sebagai penyimpan air sehingga air yang disimpan selain terserap ke lapisan tanah juga diharapkan bisa dimanfaatkan pada musim kemarau. Sedangkan pada bagian hilir, karena di daerah ini biasanya paling banyak terjadi genangan, fungsi penanggulangan yang dilaksanakan adalah membuang air sesegera mungkin dari daerah yang padat penduduk ke sungai untuk seterusnya dibuang ke laut. Untuk daerah yang paling rendah atau hilir ini perlu pula dibuat prioritas tempat-tempat mana saja yang harus terlebih dahulu digenangi jika air yang melimpas, seperti; waduk, lahan kosong, tempat parkir dan lainnya.

Perubahan Paradigma dan Langkah Strategis

55

Bab

5

Menata Ruang, Mencegah Banjir Air Tanah Terbatas: Jangan Terus Disedot Waduk: Tambah Jumlah Tambah Kualitas Lindungi Bantaran Sungai Perlu Ruang Terbuka di Kawasan Permukiman Menahan Air dengan Badan Air Limbah: Olah Dulu Baru Buang Hindari Permukiman Menjorok ke Badan Sungai Tahan Air dengan Tanaman Lubang Biopori Membantu Menyerap Air

UPaYa NoN tEKNis : PErLU tEKaD DaN KEsaDaraN

S

ecara umum terdapat dua upaya pokok dalam pengendalian banjir yaitu upaya yang bersifat teknis dan upaya non-teknis. Upaya teknis adalah upaya yang berkaitan dengan pembangunan prasarana teknis dalam menanggulangi banjir serta akibat yang ditimbulkannya. Di antaranya adalah pembuatan banjir kanal, tanggul, waduk, perbaikan saluran drainase mikro maupun makro, normalisasi sungai, pembuatan kolam tampungan setempat (on site detention storage-OSD), pembuatan waduk penampung air banjir di hulu (flood retention basin), dan sebagainya. Sedangkan non-teknis lebih kepada pencegahan banjir yang ditekankan pada mengatasi penyebab banjir. Antara lain ialah mengurangi laju banjir melalui perbaikan kondisi lahan di bagian hulu sungai serta penyadaran masyarakat. Termasuk dalam upaya penyadaran masyarakat adalah mengajak warga untuk ikut memelihara kondisi sungai dan saluran dengan tidak membuang sampah dan limbah ke badan air. Usaha-usaha yang bersifat non-teknis ini lebih menekankan pada usulan kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah DKI dan partisipasi aktif dari masyarakat dalam menanggulangi banjir di daerah ini. Bentuk kerjasama tersebut diharapkan terjalin pada bidang-bidang pengelolaan sampah dan limbah padat, penyelesaian masalah permukiman yang menjorok ke badan saluran/sungai dan pengembangan penampungan air setempat (on site detention storage).

Pemecahan masalah banjir haruslah merupakan bagian dari pengelolaan wilayah aliran sungai

5.1.Menata Ruang, Mencegah Banjir

Penanganan banjir merupakan suatu pekerjaan yang kompleks yang tidak bisa dilakukan secara terpenggal-penggal atau bagian per bagian. Pekerjaan ini menuntut pendekatan yang integral karena menyangkut berbagai aspek. Aspek fisik meliputi karakteristik sungai, tata guna lahan, dan tingkah laku sosial ekonomi masyarakat di wilayah itu. Semuanya ini saling mempengaruhi dan berdampak langsung terhadap tata air. 57

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

Untuk itu, pendekatan pemecahan masalah banjir haruslah merupakan bagian dari pengelolaan wilayah aliran sungai (river basin management). Ini dilakukan karena aliran sungai itu merupakan suatu sistem jaringan tersendiri yang karena manfaat sungai sebagai sumber air adalah multi guna, maka potensi konflik (conflict of interest) menjadi sangat besar. Untuk itu, penggunaan lahan di sekitar aliran sungai harus benar-benar diatur agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Perlakuan yang salah terhadap sistem tata air bisa mengakibatkan bencana

Dari aspek tata ruang, aliran sungai merupakan bagian atau unsur dari ruang yang perlu mendapatkan tempat dan perlakuan yang semestinya oleh masyarakat, sebagaimana halnya dengan jaringan infrastuktur pada umumnya seperti jalan raya, jaringan drainase, sanitasi, dan jaringan utilitas lainnya. Perlakuan yang salah terhadap sistem tata air bisa mengakibatkan bencana, seperti banjir, krisis air bersih atau bahkan juga kekeringan. Pengaturan wilayah perlu dilakukan sedemikian agar tidak timbul masalah banjir dan sekaligus di sisi lain agar air sebagai sumber air baku dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dari pengaturan tata ruang, khususnya dalam konteks tata ruang wilayah sungai yang juga mencakup kawasan perkotaan, pengendalian banjir dan pemanfaatan air secara garis besar seyogianya mengikuti pedoman berikut. 1. Di bagian hulu, fungsinya sebagai penahan (retention) air hujan supaya air tidak langsung mengalir ke sungai, tapi masuk sebagian ke dalam tanah, untuk menjadi bagian air tanah. Untuk itu, pemanfaatan ruangnya bisa sebagai hutan, perkebunan atau untuk tanaman keras/pelindung. 2. Di bagian tengah,fungsinya sebagai penyimpan air (storage), artinya air hujan atau air sungai ditahan sementara. Ini dilakukan untuk menyimpan air pada saat musim hujan, dan dimanfaatkan pada saat musim kemarau, serta sekaligus juga sebagai pengisi air tanah.Untuk itu pemanfaatan ruangnya bisa sebagai waduk, situ, empang, kolam, embung, badan sungai dan bantaran sungai. 3. Di bagian hilir, fungsinya sebagai genangan dan memerlukan pembuang air (drainage). Genangan air hujan yang ada di kawasan urban dialirkan melalui saluran drainase ke badan sungai dan terus ke laut. Untuk itu pemanfaatan ruangnya adalah sebagai saluran drainase, badan sungai, bantaran sungai, tempat penyimpan air.

58

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

DKI Jakarta yang secara geografis terletak di kawasan hilir, pemanfaatan ruang dalam rangka pengendalian banjir bisa dalam beberapa bentuk seperti badan sungai, bantaran sungai, kolam penampung air, polder, dan sebagainya. Meski demikian penanganan banjir di kawasan hilir perlu didukung dengan penanganan yang memadai di kawasan tengah dan kawasan hulu sehingga air yang mengalir ke arah hilir tidak terlalu banyak lagi. Bagaimanapun juga, jika air yang masuk ke Jakarta sudah dalam debit yang besar, pasti akan mempersulit daerah ini dalam menanganinya. Karena itu penataan tata ruang di daerah hulu, di luar DKI Jakarta, juga harus menjadi perhatian.

Perlu insentif bagi pengguna air perpipaan (PAM) dan desinsentif bagi pengguna air tanah

5.2. Air Tanah Terbatas: Jangan Terus Disedot

Seperti sudah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tanah lunak yang dikombinasikan dengan penyedotan air tanah secara terus menerus akan mengakibatkan land subsidence (amblesan). Penurunan muka tanah tidak bisa dibiarkan terus menerus dan harus ada upaya pencegahan. Jika ini tidak dilakukan akan mengakibatkan muka tanah di DKI Jakarta semakin jauh beda tingginya di bawah muka air laut dan muka air sungai. Usaha untuk mengurangi risiko penurunan permukaan ini adalah dengan mengurangi penggunaan air tanah. Jika air tanah terlampau banyak disedot maka tekanan air tanah akan menurun drastis dan tekanan antar butiran tanah menjadi meningkat. Tanah memadat dan mengisi rongga yang ditinggalkan oleh air yang disedot. Proses pemampatan (penciutan volume) ini mengakibatkan tanah di atasnya mengalami penurunan. Untuk itu, guna menghindari penurunan muka tanah ini perlu ada aturan mengenai pembatasan penggunaan air tanah yang antara lain ialah dengan mengenakan pajak/retribusi yang tinggi bagi masyarakat yang menggunakan air tanah. Sementara itu bagi masyarakat yang menggunakan sumber lain, seperti air perpipaan (PAM) justru mendapat insentif sehingga dapat mendorong warga untuk tidak menggunakan air tanah. Untuk memaksimalkan penggunaan air melalui pipa semacam ini, pemerintah daerah perlu mendorong agar distribusi air bersih ini bisa terus menerus ditingkatkan sehingga masyarakat lebih mudah dan murah mendapatkan air perpipaan dari PAM. Tak hanya masyarakat, industri, baik yang berskala kecil maupun besar, juga harus mengurangi penggunaan air tanah. Selama ini, kelompok ini justru menyedot air dengan jumlah yang sangat banyak. Ini tentu sangat mengganggu kandungan air yang berada di dalam tanah.

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

59

Gambar 5-1: Perlu memperbanyak waduk dan meningkatkan kualitas

5.3. Waduk : Tambah Jumlah Tambah Kualitas

Kegunaan situ atau waduk adalah untuk menahan aliran air permukaan (run off) supaya tidak langsung masuk ke sungai-sungai. Dengan demikian, waduk atau situ ini berfungsi untuk mengurangi besarnya luapan air dan bahaya banjir. Di samping itu, waduk dan situ pada saat kemarau berfungsi sebagai tempat cadangan air. Keberadaan waduk atau situ tersebut diharapkan dapat meresapkan airnya ke dalam tanah. Ini tentu saja akan menambah cadangan air tanah yang pada gilirannya dapat dipakai untuk kepentingan domestik penduduk di daerah hilir. Beberapa waduk yang ada konstruksinya sangat mengkhawatirkan Potensi pengembangan waduk diharapkan terjadi di kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Namun kendalanya adalah masalah pembebasan lahan di samping masalah pendanaan. Sedangkan di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat lebih sedikit lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan situ dan waduk. Dalam pengembangan dan pemanfaatan situ perlu juga diperhatikan mitigasi terhadap bencana yang ditimbulkannya. Kasus jebolnya Situ Gintung di Tangerang pada 27 Maret 2009 menjadi pelajaran berharga. Dalam kejadian tersebut setidaknya seratus orang harus kehilangan nyawa. Berdasarkan kejadian tersebut ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian. Pertama pemeliharaan situ dan yang kedua adalah membebaskan daerah-daerah yang rawan di sekitar situ/waduk. Di samping harus memperhatikan aspek mitigasi, pembangunan waduk sebaiknya juga dimanfaatkan secara ekonomi. Adanya waduk atau danaudanau buatan bisa dijadikan tempat rekreasi warga. Jika ini dipandang sebagai 60
Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

satu nilai tambah, tentu akan memberikan keuntungan yang hasilnya bisa dijadikan pemasukan bagi pemerintah daerah setempat. Pemanfaatan danau-danau buatan sebagai tempat rekreasi, tentu menjadi alternatif yang bagus bagi masyarakat Jakarta dalam mencari tempat hiburan. Menjadikannya tempat taman bermain dan rekreasi akan membuat waduk menjadi lebih terjaga keamanannya. Karena warga setempat akan merasakan manfaat dari keberadaan situ tersebut. Efek positifnya, masyarakat akan merasa perlu untuk selalu memperhatikan kondisi waduk tersebut.

Gambar 5-2: Tanggul Situ Gintung sebelum dan sesudah jebol

Sebagian penghuni bantaran sungai ternyata memiliki izin bertempat tinggal

Bantaran sungai bermanfaat untuk menampung luapan air pada saat permukaan air sungai naik. Dengan adanya luapan air sungai yang naik hingga ke bantaran sungai, maka kecepatan dan ketinggian air banjir menjadi lebih rendah sehingga daya rusaknya menjadi berkurang pula. Di beberapa lokasi sungai, keberadaan bantaran sungai ini perlu diamankan dalam arti dilindungi dari kemungkinan dijadikannya bantaran sungai ini sebagai tempat pendirian perumahan atau bangunan liar. Meski pada akhirnya nanti mereka-mereka inilah yang paling sengsara jika kelak terjadi banjir, tetapi keberadaan bangunan liar ini juga sangat mengancam warga lain karena bangunan mereka ini akan menahan dan mempersempit limpasan air yang seharusnya mengalir di daerah aliran sungai bersangkutan. Masalah yang muncul adalah sekarang ini sudah terlanjur banyak hunian liar yang terbangun di kawasan tersebut (encroachment) sehingga pada saat akan dibebaskan timbul masalah untuk pemindahan dan penempatan para eks penghuni liar tersebut. 61

5.4. Lindungi Bantaran Sungai

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

Permasalahan semakin kompleks ketika diketahui sebagian penduduk memiliki izin untuk tinggal di tempat itu. Pada keadaan demikian, persoalan teknis dan sosial berpadu dengan permasalahan hukum. Sesungguhnya, di dalam garis sepadan sungai tidak diperbolehkan adanya bangunan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 Tahun 1993 bisa dijadikan acuan dalam penetapan garis sepadan sungai. Dalam kaitannya dengan upaya pemerintah DKI untuk memperluas ruang terbuka di Ibukota, bantaran sungai dapat dijadikan sebagai tempat pembangunan lapangan olahraga dan taman terbuka. Dengan dikaitkannya upaya ini dengan kepentingan umum, penolakan dari penduduk setempat tidak akan begitu kuat. Pun, pengawasan dan pemeliharaan akan datang dari dua pos anggaran: taman dan olahraga. Selain itu, bantaran ini juga dapat dipinjamkan kepada petani sayur mayur selama musim kemarau.

GS

GS

GS

GS

Gambar 5-3: Peraturan sempadan sungai tanpa tanggul kondisi luar dan dalam kota.

GS

GS

GS

GS

Gambar 5-4: Sempadan sungai dengan tanggul kondisi luar dan dalam kota.

62

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

5.5. Perlu Ruang Terbuka di Kawasan Permukiman

Kebanyakan bangunan perumahan di DKI Jakarta, terutama pada perumahan kumuh, bentuknya lebih dominan dalam formasi horisontal atau hanya terdiri dari satu tingkat saja. Dari segi tata ruang tentu sangat boros dalam hal pemakaian lahan. Akibatnya ruangan terbuka yang berguna untuk aliran udara dan resapan air hujan menjadi terbatas.

Sistem blok dapat menjadi alternatif pengganti rumah susun

Untuk mengatasi ini salah satunya solusi adalah dengan membangun pola perumahan dengan sistem blok bertingkat. Sebenarnya sudah ada pola pembangunan rumah susun tapi kelemahannya adalah rumah susun yang ada terlalu tinggi dan jumlah unit rumah yang kelewat banyak. Dari segi ruang, memang menghemat penggunaan lahan, akan tetapi masalah atau dampak sosial yang ditimbulkan dari kelompok keluarga yang menghuni rumah susun itu cukup besar. Ada beberapa studi yang melaporkan sisi negatif dari pembangunan rumah susun. Karena itu alternatif lainnya adalah pembangunan rumah dengan sistem blok. Contoh sistem blok di sini dimaksudkan adanya gabungan 3 buah rumah disusun dua lantai, jadi dalam satu blok bangunan terdiri dari 6 buah rumah. Dengan demikian space atau ruang terbuka menjadi lebih banyak dan lay out bangunan bisa lebih tertata dengan baik. Dari aspek hidrologis, pola ini juga lebih menguntungkan karena dengan adanya ruang terbuka yang lebih luas maka kemungkinan terjadinya resapan air menjadi lebih besar pula. Penataan ruang seperti ini bisa berpengaruh terhadap pengurangan dampak bahaya banjir.

Gambar 5-5: Contoh perencanaan pembangunan sistem blok. Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

63

Gambar 5-6: Rumah tidak terlalu padat dan antara rumah ada ruang kosong.

5.6. Menahan Air dengan Badan Air

Dengan memperhatikan bahwa permukaan tanah di sebagian wilayah Jakarta telah berada di bawah permukaan air laut dan permukaan air sungai, maka mitigasi non-struktural (adaptasi) terhadap risiko banjir dan genangan seyogianya diarahkan pada pemberian ruang tambahan untuk air dan penyesuaian kehidupan yang lebih akrab dengan air. Proporsi ruang untuk air dalam rencana kala ulang curah hujan tertentu ditampilkan dalam Tabel 5-1. Berdasarkan Tabel ini, untuk dapat mengendalikan banjir/genangan dengan kala ulang 5 tahun untuk saluran drainase, 25 tahun untuk waduk, dan 100 tahun untuk sungai, maka rasio badan air untuk saluran drainase, waduk, dan sungai mencapai (2,3 % + 5,5 % + 2,1 %) = 9,9 %.
Tabel 5-1: Rasio badan air Kala Uuang T = 2 thn T = 5 thn T = 10 thn T = 25 thn T = 50 thn T = 100 thn Waduk d=2m 2,0 % 3,5 % 4,5 % 5,5 % 6,5 % 7,5 % Saluran drainase d = 1,5 m 2,0 % 2,3 % 2,4 % 2,9 % 2,9 % 3,0 % Sungai d=6m 0,8 % 0,9 % 1,2 % 1,5 % 1,8 % 2,1 % Total 4,8 % 6,7 % 8,1 % 9,9 % 11,2 % 12,6 %

d = kedalaman tampungan 64
Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

5.7. Limbah: Olah Dulu Baru Buang

Tidak terkelolanya limbah dengan baik akan memperparah masalah banjir dan kondisi lingkungan. Saluran-saluran drainase menjadi tersumbat dan kualitas air di saluran menurun. Pembuangan air limbah langsung ke badan sungai akan menambah buruk kualitas air sungai sehingga mengancam tingkat kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar saluran-saluran terbuka.

Manajemen pengolahan sampah sebisa mungkin dilakukan di lingkungan terkecil

Pada saat ini, di hampir di seluruh tempat di DKI Jakarta, masyarakat membuang limbah cair rumah tangga dan bahkan industrinya langsung ke sungai. Kegiatan ini ditambah dengan kebiasaan sebagian besar lapisan masyarakat yang membuang sampahnya langsung ke sungai yang akan memperburuk kualitas air sungai. Pemecahan masalah sampah dengan hanya penempatan lokasi-lokasi pembuangan sampah saja tidak akan memecahkan masalah ini secara tuntas. Sampah yang dibuang tanpa diolah akan mengakibatkan sampah yang semakin menggunung. Yang diperlukan sekarang ini adalah selain lokasi pembuangan sampah yang aman juga manajemen pengolahan sampah sehingga lingkungan tidak tercemar.

Gambar 5-7: Pengambilan sampah yang terlambat Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

65

Gambar 5-8: Tumpukan sampah di saluran drainase Pedongkelan dan Pintu Karet BKB

Pengolahan sampah menjadi kompos harus sudah bisa dilaksanakan pada skala kawasan, bisa di tingkat desa atau kecamatan. Jika masyarakat sendiri tak bisa mengelolanya bisa juga diserahkan kepada pihak swasta. Untuk itu pemilahan sampah harus dilakukan di tingkat rumah tangga. Pengelompokannya dilakukan dengan membagi sampah yang akan dijadikan kompos dan yang akan didaur ulang. Selain itu, untuk memperbaiki kualitas air sungai, maka setiap pembuangan limbah baik dari rumah tangga maupun industri tidak boleh dibuang langsung ke dalam sungai. Air kotor semacam ini harus terlebih dahulu dialirkan ke tempat pengolahan limbah. Setelah itu barulah dibuang ke laut. Memang untuk itu diperlukan investasi yang cukup mahal. Namun bagi Jakarta hal ini sudah merupakan suatu keharusan. Beberapa studi pengolahan limbah untuk Jakarta ini telah dilakukan (antara lain Studi JICA tahun 1991). Sampah dapat dikategorikan dalam 2 jenis yaitu sampah darat dan sampah sungai. Sampah darat adalah yang termasuk dalam limbah padat bersumber dari masyarakat yaitu sampah yang berasal dari daerah permukiman, kawasan komersial, pasar dan zona industri. Pengelolaan sampah darat yang kurang memadai menimbulkan penumpukan sampah di saluran-saluran drainase mikro/sub-makro dan akhirnya akan sampai ke alur sungai dan menjadi ‘sampah sungai’. 66
Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

Kondisi ideal yang harus dicapai adalah tidak ada lagi sampah yang masuk ke sungai. Keadaan ini dapat dicapai dengan cara teknis dan cara non-teknis. Cara teknis bisa dilakukan dengan pengkondisian sungai dan bantaran sungai yang bisa membuat masyarakat kesulitan untuk membuang sampah ke sungai. Sedangkan cara non-teknis melalui pendidikan, penyuluhan, penegakan peraturan. Tindakan ditekankan pada pengelolaan sampah darat dan pencegahan agar sampah tidak masuk ke badan sungai. Kaitan dengan tata ruang dalam rangka manajemen persampahan di sini adalah penentuan atau pemilihan lokasi di tiap kecamatan dan kotamadya yang relatif aman digunakan untuk pembuangan serta sekaligus tempat pengolahan sampah.

Pendatang yang berpenghasilan rendah cenderung menempati hunian yang tak layak

5.8. Hindari Permukiman Menjorok ke Badan Sungai

Laju urbanisasi yang tinggi di kota-kota besar khususnya di DKI Jakarta adalah salah satu penyebab adanya permukiman yang menjorok ke badan saluran/sungai. Para pendatang yang sebagian besar berpendidikan rendah dan berpenghasilan kurang, tidak mampu menyewa atau membeli tempat hunian yang layak di kota. Dengan demikian, mereka memakai lahan-lahan yang seharusnya tidak untuk ditempati seperti daerah sempadan sungai, jalur kereta api, kolong jembatan layang dan sebagainya.

Gambar 5-9: Permukiman yang menghambat aliran Sungai Ciliwung Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

67

Limbah rumah tangga yang dihasilkan oleh pemukiman yang menjorok ke badan saluran/sungai cenderung untuk dibuang langsung ke badan air. Akumulasi dari limbah yang dibuang ke badan air tersebut bersama-sama dengan limbah yang datang dari hulu, akan menghambat aliran dan mempercepat pengendapan di alur sungai dan di muara sehingga pada saat banjir air akan meluap ke kanan kiri saluran/sungai. Diperlukan peraturan yang jelas dan tegas serta penegakan hukum untuk menertibkan pemukiman yang menjorok ke badan air, tanpa mengabaikan hak sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di pemukiman tersebut.

5.9. Tahan Air dengan Tanaman

Untuk menahan air dan mengurangi koefisien air yang mengalir dipermukaan (run off) perlu dilakukan konservasi di aliran sungai. Jika terjadi peningkatan curah hujan hujan harus ada usaha untuk mengeleminir jumlah air yang langsung terbuang ke sungai. Peresapan air ke dalam tanah harus dilakukan sebaik mungkin. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan penghijauan dan penanaman di sekitar sungai. Penanaman tepi-tepi sungai dengan pepohonan akan mengurangi jumlah air yang langsung mengalir ke daerah aliran sungai. Akar-akar tanaman akan terlebih dahulu menyerap air-air yang melintas di sekitar pohon yang ada sehingga air tertahan terlebih dahulu sebelum masuk ke sungai. Di sisi lain di saat musim kemarau, keberadaan air yang diserap oleh pohon-pohon tersebut justru menjaga debit air sungai agar tidak turun secara drastis.

Gambar 5-10: Penghijauan tepi sungai

68

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

Usaha untuk menahan air melalui konsevasi ini sebaiknya diupayakan secara maksimal. Salah satu caranya adalah dibuat berselang seling antara tanaman dengan cekungan kecil untuk menahan air (tracering upstream). Dengan cara seperti ini air yang di dalam tracing itu bisa terserap sebelum masuk ke sungai.

5.10. Lubang Biopori Membantu Menyerap Air

Gambar 5-11: Semakin sempit lahan untuk bisa menyerapkan air

Biopori upaya paling mudah yang bisa dilakukan warga

Di musim hujan air harus sebanyak mungkin ditahan dan diserapkan ke tanah. Tidak hanya melalui waduk, tempat parkir air dan hutan-hutan buatan saja. Di halaman rumah-rumah penduduk air juga harus ditahan. Jika secara teknis tidak memadai untuk dibangun sumur resapan di halaman rumah, maka dalam skala lebih kecil membuat lubang-lubang biopori dapat dilakukan.

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

69

Biopori adalah lubang yang terbentuk di dalam tanah akibat organisma yang ada di dalamnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan berisi udara dan di kala musim penghujan bisa menjadi tempat penyerapan air. Pembuatan lubang biopori sangat mudah. Di halaman rumah dibuat lubang-lubang dengan diameter sekitar 10 cm sampai 30 cm dan berbentuk silendris. Kedalamannya bisa mencapai 1 meter, tapi bagi daerah yang air tanahnya gampang dijangkau, kedalaman lubang biopori itu jangan mencapai muka air tanah agar air tanah tidak tercemar. Dalam setiap lubang tersebut diisi daun-daun kering (sampah organik) sehingga lubang-lubang itu tertutup kembali. Meski sudah tertutup kembali lubang-lubang tadi tetap akan bisa menahan air, karena di antara daun-daun tersebut masih terdapat celah yang cukup banyak untuk menyimpan air. Lubang biopori ini bisa dibuat sebanyak mungkin di halaman rumah warga, tergantung luas halaman rumah yang tersedia. Di samping cara membuatnya cukup mudah dampak yang ditimbulkannya juga cukup menguntungkan. Banyak air yang tidak terbuang begitu saja, mengalir sebagai air permukaan, melainkan tertahan dan meresap ke dalam tanah.

Gambar 5-12: Pembuatan biopori

70

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

Akan tetapi, sebelum membuat lubang biopori ini ada hal penting lain yang perlu diperhatikan. Biasanya air talang disalurkan ke riol yang tertanam yang kadang-kadang satu saluran dengan saluran buang air cucian di dapur. Air ini banyak mengandung lemak yang walaupun sudah dilarutkan oleh sabun akan tetap ada sedikit lemak yang masih bisa menempel di dalam saluran buang. Kalau selama ini lemak ini akan digelontor oleh air hujan, tidak demikian halnya jika air talang itu telah dialihkan ke lubang biopori. Penggelontoran lemak dan kotoran lain tidak terjadi lagi yang lama kelamaan akan membuat saluran buntu akibat penebalan timbunan lemak di permukaan dalam saluran (mirip dengan penimbunan lemak di dalam pembuluh darah). Kalau berencana akan menggunakan lubang biopori, antisipasilah kemungkinan pemindahan saluran air cucian di dapur ke tempat yang terbuka agar tidak menyulitkan ketika harus dilakukan pembongkaran saluran ini jika terjadi kebuntuan.

Upaya Non Teknis : Perlu Tekad dan Kesadaran

71

Bab

6

Jaga Kapasitas Saluran Makro Penambahan dan Perbaikan Kapasitas Sub-Makro Perbaikan Pengaliran Air pada Sistem Mikro Pengembangan dan Pembuatan Sumur Resapan Pembuatan Bangunan Penahan Lumpur (Kantong Lumpur) Pengembangan Tampungan Setempat

UPaYa tEKNis : oPtiMaLisasi KaPasitas PENYaLUraN

M

eski upaya non-teknis tak bisa dikesampingkan, yang sering menjadi perhatian masyarakat luas justru upaya teknis dari pengendalian banjir itu sendiri. Membangun kanal tambahan, meningkatkan kapasitas saluran, memperbaiki sistem drainase adalah sebagian dari upaya teknis yang sering dituntut masyarakat. Bagi kebanyakan orang, perbaikan yang berkaitan dengan upaya teknis diyakini bisa cepat mengurangi dampak banjir. Sejatinya, pengoptimalan upaya pengendalian banjir adalah dengan menjalankan secara bersama-sama upaya teknis dan upaya non-teknis sekaligus. Upaya teknis yang dimaksudkan adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan sistem yang ada dalam membuang air genangan yang disebabkan oleh hujan setempat maupun air kiriman yang berasal dari hulu.

Membuang air dari satu kawasan jangan sampai merugikan kawasan lainnya

6.1. Jaga Kapasitas Saluran Makro

Jika air sudah terlanjur menggenangi sebuah kawasan dalam jumlah yang banyak, pemikiran yang paling pragmatis adalah bagaimana membuang banjir tersebut ke luar dari wilayah tersebut. Di beberapa tempat memang ada warga yang berpikiran bahwa yang paling penting adalah air tidak menggenangi wilayah mereka, jika harus menggenangi daerah lain bagi mereka tidak menjadi masalah. Atau paling tidak daerah lain itu harus sama-sama mengalami banjir. Tentu penyelesaian seperti ini bukan menjadi tujuan karena yang dicari adalah menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh sehingga tak ada warga lain yang dirugikan. Untuk itu prinsip yang harus dilakukan adalah bagaimana mengalihkan kelebihan air itu ke sebuah saluran yang kemudian akan membawa air itu menuju ke laut. Ini juga bukan masalah mudah mengingat banjir di Jakarta yang antara lain disebabkan oleh: • lokasi DKI Jakarta yang sebagian berupa dataran rendah di sepanjang pantai ;

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

73

• •

curah hujan harian rata-rata yang mencapai 115 mm terjadi sekali dalam 2 tahun ; di beberapa sungai yang melintas kawasan Jakarta aliran banjir yang datang dari hulu terjadi dengan cepat.

Sebagai ibukota seharusnya Jakarta memenuhi syarat sebagai sebuah kota megapolitan yang menarik bagi investor, pekerja dan wisatawan. Untuk itu daerah permukiman, zona industri, kawasan perdagangan, tempat rekreasi, dan lalu lintas seharusnya dibuat relatif terbebas dari banjir. Secara statistik, genangan kecil dan dalam waktu singkat harus diupayakan hanya akan terjadi rata-rata sekali dalam dua sampai lima tahun. Untuk kawasan kota yang terletak pada ketinggian lebih dari +6,0 m di atas permukaan laut persyaratan tersebut dapat dipenuhi dengan pembangunan sistem drainase yang baik. Untuk kawasan yang lebih rendah terutama di kawasan padat bangunan yang penduduknya cukup padat, permasalahannya lebih rumit karena untuk menampung hujan yang turun di kawasan itu saja drainasenya tak cukup memadai, apalagi masih ditambah banjir yang datang dari hulu. Karena itu, pengendalian banjir untuk daerah dataran rendah di perkotaan, di samping upaya drainase setempat, juga harus dilakukan upaya untuk mencegah datangnya banjir dari luar. Pengendalian banjir tersebut secara prinsip dapat dilakukan sebagai berikut: • pembangunan waduk penampung banjir di hulu sungai sehingga dapat menahan luapan air agar tidak bersamaan memasuki hilir sungai ; • pembangunan tanggul penahan banjir atau tanggul (floodwall atau flood dike) di sepanjang alur sungai yang melintas di wilayah Jakarta sampai ke muara dan juga di sepanjang pantai. Kawasan kota Jakarta terpotong oleh sungai-sungai dan pada saat hujan sehingga, karena elevasinya yang rendah, daerah di antara sungai-sungai tersebut tidak dapat membuang kelebihan air itu secara gravitasi. Untuk membuang kelebihan air tersebut diperlukan waduk penampungan dan stasiun pompa sendiri ; • pembangunan saluran pengalih banjir di sekeliling daerah dataran rendah. Ini dibuat untuk membuang air banjir yang datang dari hulu langsung ke laut. Pembuatan saluran pengalih banjir ini tergolong efektif seperti yang dilakukan oleh van Breen dalam membangun saluran pengalih BKB. Maksud pembangunan kanal ini adalah untuk memotong air dari Kali Ciliwung, Kali Baru Barat, Kali Cideng, Kali Krukut, Kali Grogol, Kali Sekretaris, Kali Angke, dan Pesanggrahan, untuk dikumpulkan dalam satu saluran banjir 74
Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

kanal, serta langsung dibuang ke laut. Saat baru dibangun setidaknya daerah perkotaan dengan luas sekitar 2.500 hektar berhasil dibebaskan dari genangan banjir. Adanya saluran pengalih banjir sepanjang 18,2 kilomter ini benar-benar sangat terasa manfaatnya. Kini setelah sekitar 90 tahun kemudian, BKB tentu tak mampu menahan sendirian genangan air dalam jumlah banyak di Jakarta. Untuk itu diperlukan upaya lain untuk mengalihkan banjir di kawasan Jakarta. Dalam studi Master Plan Pengendalian Banjir Jakarta, pada tahun 1973, Netherland Engineering Consultant (NEDECO), mengusulkan untuk membangun Banjir Kanal Timur (BKT). Saluran ini dimaksudkan untuk membantu membebaskan kawasan timur Jakarta dari banjir yang datang dari sungai-sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung. Harapannya, BKT ini akan membebaskan kawasan timur dan utara Jakarta seluas kira-kira 15.401 hektar dari genangan dan banjir. Meski belum sempurna BKT telah menembus laut di awal tahun 2010.

Desain BKB untuk melindungi 2.500 hektar, kini ‘dipaksa’ melindungi 7.500 hektar permukiman.

6.1.1. Profil Banjir Kanal Barat Jika saat pertama kali dibuat BKB hanya mampu melindungi 2.500 ha kini bebannya semakin berat, sekarang saluran ini diperkirakan bisa melindungi kawasan pemukiman hingga seluas 7.500 hektar. Saluran pengalih banjir ini sendiri dimulai dari Pintu Air Manggarai, karena itu Pintu Air Manggarai dapat dimanfaatkan untuk menggelontor Kali Ciliwung. Di samping itu, jika Kali Ciliwung meluap dapat pula digunakan sebagai outlet darurat untuk membuang air limpasannya. Kapasitas air yang bisa dibuang mencapai 80 m3/detik ke hilir (anak Kali Ciliwung). Desain saluran Banjir Kanal Barat (BKB), pada waktu itu, didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut: • saluran pengalih banjir direncanakan untuk mampu mengalirkan air banjir dengan periode ulang 100 tahun (Q100) ; • pada prinsipnya trase memanjang BKB harus sedekat mungkin dengan daerah dataran rendah yang tidak dapat dikeringkan secara gravitasi. Akan tetapi karena topografi daerah tidak beraturan maka hal ini tidak selalu bisa dipenuhi. Pada beberapa kawasan di selatan BKB terutama pada pertemuan antara sungai dengan BKB perlu diurug agar dapat mengalirkan air ke BKB ; • trase vertikal dan potongan melintang ditentukan oleh beberapa pertimbangan, dan yang terpenting adalah kapasitas pengangkutan sedimen sepanjang alur saluran harus memadai. Apabila persyaratan ini tidak bisa dipenuhi maka pengurangan kapasitas angkut sedimen harus

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

75

berlokasi pada suatu tempat yang di situ pengerukan sedimen lebih mudah, misalnya di sekitar muara. Karakteristik dari BKB pada awal perencanaan dapat dilihat pada Tabel 6-1.
Tabel 6-1: Karakteristik Utama Banjir Kanal Barat Jarak *) (km) 0 1:1,5 4,2 1:1,5 9,89 1:1,5 12,1 1:2 18,2 Catatan : *) jarak 0 = Pintu air Manggarai **) dipengaruhi muka air laut 28.00 0,00025 525 **) 17.00 0,00033 370 **) 17.00 0,00033 370 + 4.0 13.5 0,00033 290 + 4.0 Kemiringan Lebar dasar saluran (m) Kemiringan dasar Saluran (m) Q100 (m3/dt) Muka air (PP+)

BKB sendiri, yang semakin lama semakin dituntut untuk bisa melaksanakan fungsinya secara maksimal, terus menerus mengalami perbaikan. Di antaranya adalah dengan memperkuat dinding-dinding saluran. Diharapkan dengan adanya perkuatan dinding saluran ini, sedimentasi akibat gerusan air terhadap dinding saluran bisa dikurangi sehingga kemampuan kanal untuk mengalirkan air bisa lebih maksimal.

Puluhan tahun ditunggu, meski masih jauh dari sempurna, awal 2010 BKT tembus ke laut juga

6.1.2. Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) Tujuan utama dari pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) adalah untuk melindungi bagian timur kawasan kota Jakarta dari banjir akibat dari meluapnya Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jatikramat, dan Kali Cakung. Di samping mengendalikan banjir, salah satu tujuan pembangunan BKT adalah untuk keperluan transportasi sungai untuk mengurangi tekanan transportasi jalan raya di daerah tersebut. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, BKT pertama kali diusulkan oleh NEDECO (1973) melalui Study of Master Plan
Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

76

for Drainage and Flood Control of Jakarta yang setelah itu beberapa studi lain memperkuat usulan pembangunan BKT ini. Dalam realisasinya panjang BKT adalah 23,575 km, ini hampir sama persis dengan rencana panjang saluran oleh NEDECO, 1973, yaitu sekitar 23,6 km.

Gambar 6-1: BKT akhirnya tembus sampai laut awal 2010

Gambar 6-2: Banjir Kanal Timur Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

77

Keberadaan BKT sendiri, di samping untuk melindungi 15.401 hektar lahan di Jakarta bagian timur dan utara, diharapkan juga di sepanjang koridor BKT bisa dimanfaatkan sebagai kawasan industri, pergudangan, dan prasarana konservasi air. Konservasi air sangat penting di DKI Jakarta mengingat terlalu minimnya luas permukaan air dibandingkan dengan luas wilayah secara keseluruhan. BKT juga mampu melayani sistem drainase dari wilayah seluas 20.700 hektar. Proyek pembangunan BKT sendiri dibiayai oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah Pusat melalui Departemen Pekerjaan Umum bertugas melaksanakan pembangunan fisik senilai Rp. 2,5 triliun sedangkan pemerintah provinsi menggelontorkan jumlah uang yang sama dengan yang dikeluarkan Pusat untuk menebus pembebasan lahan warga.

Untuk mengurangi beban BKB perlu ada sodetan antara BKTBKB

6.1.3. Sodetan BKT-BKB

Gambar 6-3: Beberapa opsi rencana sodetan Kali Ciliwung –BKT (Sumber: BBWSCC)

78

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

BKB yang mulai dikerjakan tahun 1920 kini usianya telah hampir mendekati satu abad. Dalam kurun waktu selama itu kondisi DKI Jakarta sudah jauh berubah. Penduduk yang jauh lebih padat dan lahan yang terisi lebih banyak bangunan menyebabkan kapasitas BKB tak mampu lagi menampung limpasan di kala musim hujan tiba terutama pada saat bulan-bulan basah Januari dan Februari. Untuk ke depannya perlu bantuan dari BKT untuk mengurangi beban dari BKB. Karena itu diperlukan adanya sodetan antara BKB dan BKT. Sodetan itu paling cocok adalah dibuat antara Kali Ciliwung (berhubungan dengan BKB) dan Kali Cipinang (berhubungan dengan BKT). Dengan bantuan sodetan ini maka beban dari BKB akan banyak berkurang. 6.1.4. Perbaikan Pintu Air Pintu air adalah bagian yang penting dalam mengontrol tinggi air di saluran karena fungsinya menahan atau mengeluarkan air yang ada di saluran. Jika musim hujan dan air dari hulu melimpah maka keberadaan pintu ini sangat krusial, apakah harus dibuka atau tetap ditutup, tergantung kebutuhan dan bahaya yang ditimbulkan jika air terus dibiarkan memenuhi saluran. Ironisnya, sering sekali pintu-pintu tak berfungsi di kala benar-benar diperlukan. Akibatnya aliran air menjadi tidak terkontrol. Hal ini tentu saja memperbesar kemungkinan terjadinya bencana. Karena itu perlu adanya tindakan perawatan yang sifatnya rutin terhadap pintu-pintu air yang ada. Perawatan ini harus dilakukan seminggu sekali. Pertama-tama harus dipastikan bahwa bagian-bagian pintu tetap dalam kondisi lengkap, tidak ada yang hilang atau rusak. Pintu hidrolik perlu dilihat apakah bisa berjalan atau tidak, agar lancar maka perlu perawatan rutin. Di samping itu, bagian bidang pintu yang mungkin mengalami karat harus dilakukan pengecatan agar tidak mengalami korosi. Untuk mengurangi besarnya aliran banjir dari kali Ciliwung ke kawasan perdagangan dan perkantoran di kota Jakarta, aliran banjir tersebut dibagi ke BKB, saluran Jalan Surabaya dan ke Kali Ciliwung Lama. Bangunan pembagi aliran tersebut adalah Pintu Air Manggarai. Bangunan ini memiliki 3 pintu pengontrol aliran yang 2 pintu utama mengalihkan aliran banjir ke BKB dan 1 pintu air kecil (di sebelah kanan pintu utama) mengalirkan air banjir ke saluran di Jalan Surabaya. Di kompleks pintu air Manggarai terdapat 1 pintu lagi yang mengalirkan air ke kali Ciliwung Lama (Ciliwung Hilir). 79

Ironisnya, sering sekali pintupintu tak berfungsi dikala diperlukan

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

Gambar 6-4: Pintu Air Manggarai dan Karet Pada elevasi PP +0,75 m (kondisi normal), pintu air ke Kali Ciliwung Lama dibuka 25 cm untuk memelihara aliran di Kali Ciliwung Lama. Dua buah pintu utama dibuka untuk menggelontor limbah padat dan sampah. Pada saat debit air kecil, operator pintu hanya membuka 1 pintu utama dengan bukaan terbatas dan pada saat puncak musim kemarau operator hanya membuka 1 pintu utama setinggi 30 cm saja. Pembukaan pintu air ke kali Ciliwung Lama sampai ketinggian 1 meter menjadi tanggung jawab penjaga pintu. Pembukaan pintu lebih dari 1 meter akan menyebabkan banjir di beberapa daerah di hilir. Pada kasus ini keputusan membuka pintu berada ditangan Kepala Dinas PU DKI Jakarta. Untuk membuka pintu lebih dari 1,50 meter pintu hanya boleh dilakukan atas perintah dari Gubernur DKI Jakarta.

Gambar 6-5: Pintu Outlet ke Kali Ciliwung Lama dilihat dari hulu pintu air

80

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

Selain Pintu Air Manggarai, terdapat satu pintu lagi di sepanjang BKB yaitu Pintu Air Karet, dekat instalasi penjernihan air di Pejompongan. Tujuan pembangunan pintu air ini adalah untuk mengatur ketinggian air di sebelah hulu pintu air pada elevasi PP +4.0 meter. Pintu Air Karet juga berfungsi sebagai outlet untuk penggelontoran saluran BKB di sebelah hilirnya. Pintu Air Istiqlal di Ciliwung Pintu air di kompleks mesjid Istiqlal berada di Kali Ciliwung Lama, di sebelah hilir Pintu Air Manggarai. Di bangunan ini terdapat 3 pintu air dengan 2 pintu air dengan lebar masing-masing 3,30 meter mengapit 1 pintu air utama dengan lebar 6 meter. Pengoperasian pintu air dimulai pada saat muka air mencapai PP +3,5 meter sampai PP +4,0 meter. Pada saat muka air lebih tinggi dari PP +4,0 meter maka seluruh pintu air harus dibuka. Di dalam kompleks masjid ini, Kali Ciliwung Lama bercabang ke barat mengalir di sepanjang Jalan Juanda, Jalan Gajah Mada, Jalan Tangki dan Jalan Pasar Ikan. Sedangkan yang ke timur mengalir sepanjang Jalan Pos, Jalan Gunung Sahari dan terus mengalir ke laut melalui pintu air Marina. Kedua aliran sungai Ciliwung ini mengalir melalui kawasan perkantoran.

Pengerukan mulut-mulut sungai di Jakarta belum dilakukan secara sistematis

6.1.5. Pengerukan dan Pelebaran Sungai Salah satu penyebab banjir di Jakarta adalah semakin tidak memadainya kemampuan sungai untuk mengalirkan/membuang langsung air ke laut. Tidak saja karena jumlah sungai yang dianggap kurang dibandingkan banyaknya air yang melimpas di kala musim penghujan tiba, akan tetapi berkurangnya kapasitas sungai juga menambah parah dampak dari limpasan air. Dalam 30-40 tahun terakhir ini tidak terjadi pengerukan yang sistematis di mulut-mulut sungai di Jakarta, sedangkan proses erosi di bagian hulu (upstream) terus berlangsung dan membawa sedimen ke laut. Tumpukan sedimen ini menyebabkan pendangkalan yang selanjutnya menyebabkan kenaikan muka air di sungai. Dampaknya ialah kapasitas tampung sungai berkurang sehingga akan lebih banyak air meluap dari badan sungai yang pada gilirannya akan menyebabkan perluasan daerah banjir dan meningkatnya permasalahan banjir. Dengan melakukan pengerukan terhadap tumpukan sedimen ini maka bisa diharapkan muka air di sungai akan menurun dan masalah banjir bisa berkurang. Pada mulut-mulut sungai terdapat tumpukan sedimen setebal 3-4 meter.

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

81

pengerukan

Gambar 6-6: Tipikal kondisi mulut sungai dan profil memanjang dasar sungai di muara

Beberapa analisis menunjukkan bahwa pengerukan sedimen di mulut sungai cukup efektif untuk menurunkan muka air di sungai pada saat debit air puncak. Pengerukan sedimen setebal sekitar 3 m dapat menurunkan muka air di sungai sampai 1 m.

Pengerukan sedimen setebal 3 meter bisa menurunkan muka air sungai sampai 1 meter

Proses erosi di hulu telah terjadi pada masa lalu, kini, dan masih akan terjadi di masa datang. Proses sedimentasi di mulut sungai yang terjadi dalam proses yang lebih cepat dipengaruhi oleh kecepatan alir air yang rendah dan proses flokulasi (pertemuan air tawar dan air asin yang menyebabkan bertambah beratnya partikel sedimen). Karena proses sedimentasi masih akan terus berlangsung, maka perawatan di mulut sungai dengan melakukan pengerukan secara berkala merupakan suatu keharusan.
(m)

(m)

Gambar 6-7: Tipikal efek pengerukan sedimen terhadap penurunan muka air sungai

82

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

Perawatan secara berkala dalam periode 2-5 tahun sangat dianjurkan. Pengerukan ini diharapkan tidak hanya dilakukan di mulut-mulut sungai besar, namun juga pada kanal dan saluran-saluran yang kapasitas alirnya telah mengalami penurunan akibat pengendapan lumpur. Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan Pemerintah Belanda telah melakukan proyek percontohan pelaksanaan pengerukan dengan menggunakan Floating Bulldozer (FB) di beberapa tempat di DKI seperti Saluran Kali Mati dan Kali Pademangan di Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara dan saluran-saluran lainnya. Alat ini terbukti bekerja cukup efektif, terutama untuk saluran di lokasi-lokasi yang padat penduduk yang sedimennya tidak bisa diambil dengan alat secara langsung dari pinggir saluran. Dengan sistem ini pengerukan dapat dilakukan tanpa merusak tanaman atau pohon yang ada di sepanjang saluran karena proses bongkar muat sedimen dilakukan di suatu lokasi kosong atau di atas jembatan yang telah dipilih dan disurvei sebelumnya. Pengerukan di bawah jembatan pun dapat dilakukan asal jembatan tersebut masih mempunyai ruang bebas sekitar 50 cm di atas air sehingga FB dan operatornya dapat bergerak di bawahnya. Sistem pengerukan ini pertama kali dilakukan di Indonesia tahun 2009 padahal di negeri asalnya, Belanda, telah digunakan sejak 20 tahun yang lalu. Sesuai dengan namanya floating bulldozer yang berarti buldoser terapung, alat ini digunakan untuk mendorong material sedimen dari dasar saluran ke arah lokasi di saluran yang terjangkau oleh excavator.

Gambar 6-8: Pembersihan sedimen dengan Floating Buldozer Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

83

6.2. Penambahan dan Perbaikan Kapasitas Sub-Makro

Termasuk dalam cakupan sub-makro ini adalah waduk atau situ yang ada dalam suatu kawasan. Jumlah waduk yang ada di Jakarta memang tidak memadai. Beberapa waduk juga sudah tak berfungsi lagi, ada yang rusak dan bahkan ada yang dijadikan rumah penduduk atau kawasan perdagangan. Di samping itu kapasitas waduk yang sudah ada juga terus menerus berkurang karena banyaknya sedimen dan semakin kecilnya area tangkapan waduk. Karena itu perlu ada perbaikan kapasitas waduk dengan cara pengerukan maupun perluasan. Di samping itu, hunian-hunian yang memperkecil kapasitas waduk harus dibebaskan. Waduk-waduk yang sudah tidak aktif lagi harus kembali dibenahi agar bisa dipergunakan lagi. DKI Jakarta tak hanya bisa mengandalkan waduk yang telah ada, penambahan jumlah waduk juga harus dilakukan sehingga rasio badan air bisa lebih ditingkatkan.

6.3. Perbaikan Pengaliran Air pada Sistem Mikro Sampah dan pembangunan yang serampangan sering menutup aliran drainase lingkungan

Gambar 6-9: Genangan di Jalan Sudirman akibat drainase tidak lancar

84

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

Saluran pembuangan/drainase (sistem mikro) lingkungan termasuk yang cukup rumit permasalahan di Ibukota. Tidak lancarnya saluran ini dalam membawa air ke saluran sub-makro menjadi penyebab utama timbulnya genangan di satu kawasan. Berkenaan dengan sistem mikro ini ada beberapa penyebab yang membuat limpasan air berpotensi tertahan di satu wilayah tersebut. Pertama, dalam satu daerah ada yang tidak mempunyai saluran drainase sama sekali. Akibatnya, ketika hujan lebat air hanya mengalir di lorong-lorong di selasela rumah penduduk. Biasanya ini terdapat di daerah padat penduduk dengan banyak bangunan liar sehingga pembangunannya terkesan asal-asalan saja. Kedua adalah banyaknya sistem drainase lingkungan yang tidak berfungsi sama sekali. Saluran mikronya ada tapi dalam keadaan sudah ‘mati’, air tak bisa lagi bergerak ke mana-mana. Hal ini biasanya terjadi, di samping karena memang lemahnya kemauan warga dalam memelihara saluran tersebut, juga karena ketidaktahuan masyarakat terhadap suatu drainase dilingkungannya, terutama bagi warga baru. Bisa juga karena warga yang akan membangun rumah tidak cermat melihat drainase yang sudah ada; akibatnya saluran tersebut tak lagi ada gunanya. Sedangkan yang ketiga, dan yang paling banyak dialami warga Jakarta, adalah semakin kecilnya kapasitas drainase lingkungan. Ini menyebabkan kemampuan mengalirkan air drainase tersebut sangat kecil, akibatnya jika hujan lebat turun kemampuannya mengalirkan tak memadai. Ini akibat semakin sempitnya saluran dan semakin tebalnya sedimen yang ada di dasarnya. Karena itu, perlu ada perawatan rutin untuk menjaga kapasitas saluran drainase.

6.4. Pengembangan dan Pembuatan Sumur Resapan Kawasan yang mempunyai muka air tanah dangkal tak perlu membuat sumur resapan.

Pengembangan resapan air, bukan hanya dalam bentuk waduk dan situ, tapi bisa juga dalam bentuk sumur-sumur resapan yang berbentuk lubanglubang sumuran kecil namun dibangun massal dalam skala kota. Misalnya di lingkungan perumahan, pertokoan, jaringan drainase jalan, taman, tempat/ lapangan olah raga, dan lain-lain. Dengan adanya lubang-lubang sumuran ini diharapkan sebagian air dapat meresap ke dalam tanah dan menambah cadangan air tanah. Ukuran sumur ini tidak perlu terlalu lebar, cukup misalnya 1 × 2 meter dengan kedalaman 2 atau 3 meter, dengan diberi perkuatan dinding beton atau lainnya.

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

85

Sumuran tersebut diberi berpori dan dasarnya tetap berupa tanah dan diberi saringan, sehingga air hujan dapat meresap ke dalam tanah dan menjadi air tanah. Kawasan-kawasan yang bisa dikembangkan sumur resapan untuk masa depan, antara lain adalah: • perumahan (pada halaman rumah) ; • halaman pertokoan, mall, supermarket ; • tempat parkir terbuka ; • tempat rekreasi terbuka ; • halaman fasilitas pendidikan: SD, SMP, SMA, Universitas ; • sepanjang tepi dan median jalan ; • lapangan: taman, lapangan sepak bola, golf, stadion, Monas (dalam jalur lintasan tertentu) ; • pemerintahan: halaman kantor kelurahan, kecamatan, kotamadya. Bila di seluruh wilayah DKI Jakarta bisa diterapkan kebijakan ini, maka volume air hujan yang bisa ditahan dan meresap ke dalam tanah akan bertambah dan akan menambah cadangan air tanah. Tapi, harus pula diingat bahwa semakin ke utara pembuatan sumur perasapan semakin tidak disarankan karena muka air tanah sudah semakin tinggi. Jadi buat daerah yang muka air tanahnya kurang dari lima meter diminta untuk tidak membuat sumur resapan.

Gambar 6-10: Contoh lahan yang menggunakan sumur resapan. 86
Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

Pembuatan sumur resapan ini harus dipaksakan di pembangunan pengembangan baru dengan jalan menjadikan pembuatan sumur resapan ini sebagai bagian dari persyaratan pemberian IMB. Terutama untuk daerah yang mendekati ke arah hulu. Dengan demikian air lebih banyak lagi yang bisa tertahan sebelum mengalir ke arah hilir. Untuk memasyarakatkan sumur peresapan ini Jakarta bisa meniru Yogyakarta. Di kota gudeg itu hampir semua warganya menggunakan sumur peresapan, sehingga saluran-saluran drainase tidak begitu kewalahan menampung air limpasan.

Pembuangan lumpur bisa menjadi isu sosial apabila tidak dirancang dari awal

6.5. Pembuatan Bangunan Penahan Lumpur (Kantong Lumpur)

Sebagaimana tertera dalam berbagai laporan, tingkat pelumpuran sungai-sungai di wilayah DKI Jakarta cukup tinggi. Proses pelumpuran ini menyebabkan sungai menjadi semakin dangkal dan menyebabkan permukaan air sungai menjadi cepat meninggi dan air melimpas. Untuk mencegah dan mengurangi besarnya lumpur yang mengendap di dasar sungai perlu dibuat bangunan penahan lumpur pada lokasi-lokasi tertentu. Untuk wilayah DKI Jakarta ini perlu ada studi mengenai kemungkinan dibangunnya tempat-tempat kantong lumpur ini, sekaligus dirancang pula tempat pembuangan lumpurnya. Pembuangan lumpur bisa menjadi isu sosial apabila tidak dirancang dari awal, karena lokasi pembuangan lumpur ini akan bertambah terus secara kumulatif, dan tentunya memerlukan ruang khusus untuk itu.

Gambar 6-11: Sedimentasi bisa ditahan sebelum masuk ke waduk atau ke sungai Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

87

Pembuangan lumpur ini (sediment disposal) perlu dirancang dari awal. Ada beberapa alternatif untuk itu: • ditimbun di tempat-tempat genangan air yang bukan merupakan tempat parkir air ; • dibuang ke tempat untuk reklamasi pantai dengan memperhatikan aspek lingkungan ; • didahului dengan treatment dapat dimanfaatkan untuk pembuatan/ peninggian infrastruktur, misalnya jalan raya.

OSD harus menjadi prasyarat dalam pembangunan satu kawasan

6.6. Pengembangan Tampungan Setempat

Ketika suatu wilayah dikembangkan maka proporsi permukaan yang kedap air seperti atap dan perkerasan beton akan bertambah. Di sisi lain, permukaan yang dapat menyerap air dan memungkinkan adanya infiltrasi seperti lapangan rumput dan kebun menjadi berkurang. Perubahan ini menambah kuantitas maupun laju aliran air hujan yang mengalir. Pada hampir semua keadaan, penambahan aliran air permukaan akan mengakibatkan terlampauinya kapasitas tampung saluran drainase sehingga terjadi genangan dan banjir yang mengganggu. Kolam penampung setempat (on-site stormwater detention-OSD) pada wilayah yang luas dapat membatasi pertambahan debit pada saluran drainase. Studi pengendalian banjir WJEMP DKI 3-9 (2004) telah mengeluarkan laporan berjudul ‘Kriteria Perencanaan OSD’ yang berisi pertimbangan dan kriteria desain untuk pembangunan OSD di lingkungan perkotaan, khususnya DKI Jakarta. Laporan ini berisi kajian ulang atas informasi, latar belakang, aspek sipil, hidrologi, desain hidrolik dan pemeliharaan OSD. Pada tingkat strategi pengendalian banjir di masa yang akan datang, pembuatan fasilitas OSD ini harus menjadi prasyarat dalam pembangunan baru maupun pembangunan kembali suatu kawasan.

Kelayakan sistem drainase harus dipenuhi pengembang

Pengembang suatu daerah harus menyerahkan rencana konsep drainase air hujan (Stormwater Drainage Concept Plan-SDCP). Rencana tersebut harus menunjukkan dengan jelas kelayakan sistem drainase yang diusulkan dan hubungannya dengan sistem sub-makro dan makro yang ada. Trase aliran air, baik aliran bawah tanah maupun aliran permukaan, ukuran dan lokasi dari OSD harus masuk dalam rencana tersebut. OSD harus serasi dengan lingkungan yakni luas tampungan dan debit harus sesuai dengan jenis tampungan yang dibangun. OSD tidak ditempatkan pada

88

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

jalur aliran sungai tetapi berada di luar aliran sungai (offstream). Sistem tampungan penahan air ini dimaksudkan untuk mengendalikan aliran dari suatu kawasan pengembangan dan perlu dipelihara secara teratur. Pembangunan OSD harus mendapat dukungan penuh dan partisipasi dari masyarakat karena: • OSD terletak di tengah-tengah permukiman masyarakat sehingga masyarakat perlu dilibatkan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan ; • OSD hanya diperlukan dalam kondisi musim hujan sehingga pada saat musim kemarau OSD dapat digunakan untuk kepentingan lain oleh masyarakat di sekitarnya, misalnya untuk tempat rekreasi ; • OSD harus dikelola secara terpadu dengan pengelolaan banjir dan sistem drainase yang ada di daerah tersebut.

Upaya Teknis : Optimalisasi Kapasitas Penyaluran

89

Bab

7

Sejarah Sistem Polder Cara Kerja Sistem Polder Aspek-aspek Desain Polder Polder dan Elemennya

DEsaiN DaN tEKNis sistEM PoLDEr
Berjuang menghadapi banjir tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah karena keterbatasan kemampuan
da tiga masalah utama dalam pengelolaan air, yakni air yang terlalu banyak, air yang terlalu sedikit, dan air bermutu buruk. Di musim hujan jumlah air melimpah sehingga terjadi banjir. Di sisi lain di saat musim kemarau minimnya persedian air mengakibatkan terjadinya kekeringan. Masalah lain, terutama di Jakarta, seandainya air ada di sungai atau waduk, mutunya juga sangat rendah. Jangankan untuk dikonsumsi manusia, untuk menyiram tanaman juga tak layak. Dengan sistem polder hal tersebut bisa ditangani secara lebih terintegrasi. Sistem polder bukanlah penghadang banjir yang semata-mata hanya menjaga satu kawasan terbebas dari banjir. Sistem ini mengelola lingkungannya agar bersahabat dengan air. Di musim hujan tidak tergenang sementara itu di musim kemarau air yang tersimpan di waduk bisa mencegah penurunan drastis muka air tanah di kawasan tersebut. Di samping, itu kualitas air yang masuk ke dalam waduk dapat lebih mudah dikontrol sedemikian rupa sehingga risiko terjadinya pencemaran bisa dikurangi. Secara sosial, waduk juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi Sistem polder yang baik tidak hanya membebaskan satu kawasan dari ancaman banjir saja, akan tetapi juga menjadikannya satu daerah yang ramah lingkungan yang konservasi air lebih terjaga, pembuangan limbah lebih terkelola, dan bisa menjadi tempat cadangan air untuk menyiram tanaman saat musim kering.

A

Polder adalah suatu daerah tertutup yang tinggi muka airnya diatur secara secara buatan (artificial). Sistem polder ini berasal dari Negeri Belanda dan telah memiliki riwayat panjang. Keberhasilannya juga sudah teruji; saat ini sekitar 65 % dari Negeri Belanda akan banjir jika tidak ada sistem polder. Jika sekarang kita melihat sistem polder ini di negeri Belanda maka kita melihat suatu sistem yang tertata dan teratur. Tak ada yang menyangka bahwa hal ini

7.1. Sejarah Sistem Polder

Desain dan Teknis Sistem Polder

91

bisa terjadi akibat pengembangan sistem lahan dan air yang berangsur-angsur sejak seribu tahun yang lalu. Sistem polder ini diawali ketika para petani yang selalu memberi patok terhadap lahan gambut garapannya. Mereka mengolah tanah gambut tersebut dengan membuat parit dan kanal. Tapi, kenyataannya sistem drainase kanal terbuka buatan manusia tersebut ternyata memicu penurunan level tanah (subsidens). Ini mengancam kawasan delta. Kawasan delta akan menjadi delta yang tenggelam’ jika manusia tidak membuat pelindung banjir dan tindakantindakan pengelolaan air. Agar tak terjadi banjir para petani berpikir sederhana yaitu dengan membangun tanggul. Pertama kali bangsa Belanda mengenal tanggul tersebut kira-kira 1000 tahun yang lalu. Sejak itu pula, tanggul dan sistem polder disempurnakan dan diperluas penggunaannya. Semakin lama sistem polder semakin diakui sebagai suatu solusi untuk menghindari satu kawasan rendah dari bencana banjir. Dengan sistem ini, suatu kawasan bisa bertahan dari bahaya banjir berkat penerapan teknologi maju, alokasi anggaran yang memadai serta kewaspadaan organisasional yang permanen. Pengalaman pengembangan polder yang diperoleh Negeri Belanda mulai dimanfaatkan oleh negara-negara lain yang memiliki fitur lahan yang sama. Melihat kecenderungan meningkatnya muka air laut pada masa mendatang maka banyak negara akan berusaha menyiasati hal itu. Menggunakan sistem polder dianggap merupakan pilihan yang efektif untuk mengamankan permukiman dan aset umum dari banjir di daerah pantai.

Mengontrol tinggi muka air waduk adalah prinsip kerja sistem polder

7.2. Cara Kerja Sistem Polder

Polder adalah suatu daerah tertutup (dengan bantuan tanggul) yang tinggi muka airnya sengaja dikontrol dengan menggunakan pompa. Dengan menggunakan sistem ini satu kawasan akan terjaga jumlah airnya meskipun di musim hujan. Kondisi seperti ini sekaligus ‘membebaskan’ wilayah tersebut dari ancaman banjir. Dengan sistem ini daerah yang muka tanahnya berada di bawah permukaan air laut pun bisa terbebas dari banjir di saat musim hujan. Tak hanya itu, kandungan air tanah di sekitar kawasan juga bisa terjaga di saat musim kemarau tiba. Bagaimana sistem polder bekerja? Sistem polder bisa dibuat untuk satu kawasan dengan luas bervariasi dari puluhan hingga ribuan hektar. Kawasan yang berpotensi banjir tersebut diberi batas keliling yang juga merupakan

92

Desain dan Teknis Sistem Polder

batas hidrologi. Air dari daerah lain tidak bisa masuk ke daerah polder. Meski demikian air tak seluruhnya bisa ditahan karena ada air yang berasal dari rembesan (seepage) dan air yang berasal dari hujan yang turun di kawasan tersebut. Air-air ini harus dikelola secara benar agar tidak menyebabkan banjir di dalam kawasan itu sendiri. Dalam suatu polder muka air terbuka dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan dan tinggi muka air di dalam polder tidak sama dengan muka air regional yang ada, seperti muka air laut atau muka air sungai. Apabila muka air sebelah luar secara permanen berada di atas level polder sebelah dalam, genangan hanya dapat dihindarkan dengan memompakan air yang berlebih keluar dari polder bersangkutan.

Sistem polder ini harus merupakan pengelolaan tata air yang berkelanjutan dengan basis partisipasi masyarakat

7.3. Aspek-aspek Desain Polder

Desain elemen polder dikatakan bagus tidak hanya berkaitan dengan segi estetis saja, akan tetapi juga harus dilihat dari segi keamanan, daya guna dan dana yang dikeluarkan. Mungkin tidak sulit membuat desain polder menjadi indah dalam segi fisik, tapi apakah bentuk yang enak dilihat itu cukup kuat mengamankan penghuninya itulah yang menjadi pertanyaan. Karena itu pembangunan polder dikatakan berhasil jika desainnya baik dan tidak berdampak negatif pada lingkungan sekitar. Sebelum merencanakan desain polder diperlukan beberapa data. Seperti data survei dan penyelidikan hidrologis, geologis, hidrolik, dan bidang-bidang terkait lainnya. Semua data yang masuk haruslah didasarkan survei dan penyelidikan yang benar-benar sahih; sampel yang diambil juga harus benar-benar mewakili lokasi secara keseluruhan. Data ini akan membentuk kondisi batas (boundary condition) untuk desain polder tersebut. Setelah data tersebut didapat lalu dilakukan analisis tentang bagaimana desain yang tepat untuk pembuatan polder berdasar data tersebut. Setelah itu dilakukan evaluasi atas perencanaan desain tersebut dengan maksud untuk mengetahui apakah perencanaan tersebut dianggap sudah cukup memadai atau belum. Untuk sistem pengelolaan air didesain berdasarkan pada persamaan keseimbangan air. 7.3.1. Tujuan Utama Secara sederhana pembuatan sistem polder bertujuan untuk pengendalian banjir. Akan tetapi, dalam mendesain sistem polder sasaran yang ingin dicapai tidak hanya sebatas itu. Ada tiga tujuan utama yang mendasari pembuatan desain dari sistem polder yaitu:

Desain dan Teknis Sistem Polder

93

• • •

Perlindungan terhadap banjir didesain berdasarkan standar yang disesuaikan secara lokal

untuk menciptakan suatu kawasan rendah yang rawan banjir menjadi daerah yang relatif terkontrol dari banjir dan genangan, yang akan memberikan kenyamanan dalam mempergunakan lahan sesuai peruntukannya ; lebih menjamin keberlanjutan (sustainability) sistem pengelolaan tata air dengan peran yang lebih besar diberikan pada partisipasi masyarakat ; untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, terutama peningkatan kualitas air.

7.3.2. Hakikat Keselamatan Secara sederhana, pembuatan pertahanan banjir didasarkan pada muka air tertinggi yang diketahui. Berdasarkan angka tersebutlah didesain pertahanan banjir. Akan tetapi, untuk sistem polder tingkat keselamatannya tegantung pada nilai ekonomis kawasan layanan sistem polder bersangkutan: apakah berada di kawasan perumahan, pertokoan, industri, pertanian dan lain-lain. Tingkat keselamatannya berdasarkan frekuensi kelebihan banjir/penggenangan dengan periode ulang yang diketahui. Di Negeri Belanda, desain polder ini diharuskan mampu menahan kondisi hidrolik ekstrim, yang kemungkinan terjadinya dengan kala ulang 10.000 tahun. Karena itu standar yang diterapkan cukup tinggi. Artinya, polder yang dibuat harus tahan terhadap kondisi terparah tersebut yang kemungkinan kejadiannya pada periode yang panjang. Standar yang tinggi ini merupakan hasil analisis biaya-manfaat (cost benefit) yang menyeluruh. Selama bertahun-tahun, beberapa negara menggunakan pendekatan dan tingkat keselamatan yang serupa dengan yang dipraktekkan di Negeri Belanda. Untuk wilayah dengan nilai ekonomis dan risiko yang lebih rendah seperti pertanian dan kehutanan polder didesain dengan tingkat keamanan yang lebih rendah yaitu dengan menggunakan tingkat kejadian banjir/penggenangan yang lebih rendah, dengan frekuensi antara 1/4.000 sampai 1/1.250 per tahun. Ini tidak mutlak berarti bahwa periode ulang kejadian menjadi 4.000 sampai 1.250 tahun sekali. Dalam segi ekonomis dan risiko memang dampak yang ditimbulkan untuk kawasan pertanian ini tidak seserius wilayah yang berpenghuni padat. Seluruh biaya dikaitkan dengan biaya pembangunan dan biaya pemeliharaan sistem pertahanan banjir. Sedangkan manfaatnya dijabarkan dari nilai ekonomis yang berupa mata pencaharian dan harta-benda seperti manusia, perumahan, industri, aset umum, dan sebagainya. Dengan demikian, standar keamanan ini merupakan tingkat optimum ekonomis dan finansial.

94

Desain dan Teknis Sistem Polder

Jika Jakarta mempunyai sistem pertahanan banjir yang baik maka kerugian yang diakibatkan oleh banjir bisa dikurangi. Jika dihitung secara cermat kerugian Jakarta setiap kali banjir bisa mencapai angka yang cukup besar. Sebagai contoh, banjir pada Februari 2002 saja mengakibatkan kerugian mencapai US$ 1,1 miliar; ini mencakup kerugian langsung maupun tidak langsung. Pertimbangan analisis biaya-manfaat layak dilakukan untuk mendapatkan standar dalam pertahanan banjir. Harus diingat bahwa suatu pertahanan banjir dibuat untuk menyediakan keselamatan menyeluruh. Karena itu pembuatan sistem pengendalian banjir harus terkait dengan berbagai aspek, seperti ekonomi, lingkungan dan sosial. 7.3.3. Tingkat Keselamatan untuk Polder Perkotaan di Jakarta Standar yang berlaku di banyak negara tak harus diikuti oleh negara lain. Di Jakarta, polder perkotaan yang berukuran sedang dan kecil dapat diimplementasikan untuk lingkungan perumahan, gedung-gedung dan infrastruktur. Perlindungan terhadap banjir dan genangan haruslah didesain berdasarkan standar yang telah disesuaikan secara lokal. Kondisi batasnya sama sekali berbeda dengan Negeri Belanda. Tinggi puncak tanggul dan dimensi elemen-elemen strukturalnya dijabarkan dari standar-standar lokal ini. Akan tetapi, saat ini belum tersedia standar (standar keselamatan) untuk desain polder di Jakarta. Oleh sebab itu, tingkat keselamatan berikut dapat dijadikan sebagai acuan untuk implementasi desain polder perkotaan.
Tabel 7-1: Tinggi Keselamatan untuk Polder Perkotaan Elemen Polder Tanggul sungai/laut Waduk Stasiun Pompa Air Culverts Saluran Periode Ulang (tahun) 25-100 10-25 10-25 5-10 5 Tinggi Jagaan (m) 0 0,5 0,3-0,5

Desain dan Teknis Sistem Polder

95

Batas polder tidak mesti berbentuk tanggul, bisa jalan raya atau rel kereta api

7.4. Polder dan Elemennya

Polder adalah kawasan tertutup yang dibatasi oleh tanggul. Batas daerah polder tak mesti berbentuk tanggul, namun bisa berupa jalan raya, jalan kereta api, dan lain sebagainya. Jalur itu tidak dilalui air dan berfungsi sebagai batas hidrologi. Tidak ada air yang masuk ke dalam polder dari luar kawasan. Hanya air yang berasal dari hujan dan rembesan (seepage) yang masuk ke dalamnya. Jika air sudah melebihi batas toleransi, maka air tersebut harus dialirkan ke luar kawasan. Untuk itu polder mempunyai struktur keluar (outlet structure), bisa berbentuk pompa atau pintu air. Ini dimaksudkan untuk mengatur tinggi muka air di dalam waduk. Air yang memenuhi waduk dipompakan keluar, ke laut atau ke saluran makro yang nantinya mengalir ke laut. Kontrol seperti inilah yang menyebabkan kawasan tersebut ‘terbebas’ dari banjir.

Gambar 7-1: Elemen sistem polder

Gambar 7-2: Tipikal sistem polder

96

Desain dan Teknis Sistem Polder

Gambar 7-3: Stasiun pompa dan waduk

Untuk dapat menjalankan fungsinya secara efektif, polder dilengkapi dengan sejumlah elemen

Sistem polder bisa menjadi solusi terhadap problem banjir/genangan di daerah rendah yang airnya tidak bisa dialirkan secara gravitasi ke sungai atau ke laut. Dalam hal seperti ini, sistem polder berfungsi sebagai sistem pengendali banjir (flood control) untuk daerah perkotaan. Untuk dapat menjalankan fungsinya secara efektif, polder dilengkapi dengan sejumlah elemen: • tanggul/dinding penahan limpasan air ; • sungai/kanal ; • waduk ; • saluran internal ; • pompa dengan/tanpa pintu air. Elemen-elemen ini bekerja dalam dua sistem besar, yaitu sistem perlindugan banjir dan sistem pengelolaan air internal. 7.4.1. Perlindungan Banjir/Tanggul Desain tanggul disesuaikan dengan kondisi muka air laut di wilayah tersebut. Yang paling penting adalah keberadaan tanggul tersebut akan mampu melindungi wilayah itu dari bahaya kebanjiran akibat muka air tinggi dari luar kawasan (sungai atau laut). Penentuan tinggi tanggul harus dilakukan secara bertanggungjawab dengan berbagai pertimbangan. Persyaratan hychodynamic dan tuntutan ekologi harus benar-benar dipenuhi. Penentuan tinggi adalah proses yang paling penting dalam desain tanggul.

Desain dan Teknis Sistem Polder

97

Gambar 7-3: Tanggul yang dipergunakan sebagai jalan raya

Tinggi tanggul tergantung dari kondisi air pasang, kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh angin (wind setup), perubahan permukaan air laut akibat perbedaaan tekanan udara (storm surge), penurunan muka tanah (land subsidence), kenaikan muka air laut (sea level rise) akibat perubahan iklim, kemungkinan terjadinya tsunami dan lain-lain. Meskipun beban angin juga sering menerpa tanggul, tetapi beban yang disebabkan oleh air adalah yang paling banyak menyebabkan kegagalan konstruksi. Ini yang perlu diperhatikan, termasuk dampak akibat perubahan iklim yang menyebabkan meningkatnya permukaan air laut. Di samping itu, faktor turunnya permukaan tanah yang terus berlangsung harus juga diperhatikan. Karena itu tinggi tanggul harus diperhitungkan secara sistematis dengan memperhatikan semua parameter tersebut. 7.4.2. Sistem Drainase Sistem drainase suatu polder terdiri atas sistem drainase permukaan dan drainase bawah-tanah. Sistem ini dilengkapi dengan dua waduk, yaitu waduk penahan air (retention basin) dan waduk pemompaan (pump basin). Khusus untuk waduk pemompaan dilengkapi pula dengan stasiun pompa. Drainase permukaan adalah saluran yang menampung pelimpasan air hujan yang terjadi di permukaan tanah. Di samping drainase permukaan ada juga drainase bawah tanah (sub-surface drain). Fungsinya adalah untuk menjaga muka air dengan menyalurkan air yang berasal dari curah hujan dan rembesan ke dalam tanah yang masuk ke wilayah polder. 98
Desain dan Teknis Sistem Polder

Sistem drainase bawah tanah ini terdiri atas saluran ulir berpori, yang biasanya dibalut dengan serat sintetik atau sabut kelapa sebagai filter agar tanah tak masuk ke dalam saluran. Setelah itu ditanam dengan ditutupi (dilapisi) kerikil untuk mengurangi hambatan aliran masuk hidroliknya. Untuk setiap jarak 300 meter harus dibuat sumuran untuk keperluan inspeksi dan pemeliharaan. Air yang dibawa oleh saluran bawah tanah dan air yang dibawa saluran permukaan sama-sama dialirkan ke waduk. Jika air di dalam waduk telah mencapai ketinggian tertentu maka air yang ada di dalamnya dipompakan ke luar. Waduk pemompaan berfungsi untuk menyimpan sementara volume buangan musim kemarau sebelum buangan tersebut dipompakan keluar. Saat musim penghujan, air yang berada di waduk pemompaan akan melimpas. Limpasan air ini akan ditampung di dalam waduk penahan air. Kapasitas (volume) waduk penahan air ini dari segi desainnya berkorelasi dengan kapasitas pompa. Untuk waduk penahan air ukuran kecil maka kapasitas kemampuan stasiun pompanya harus lebih besar karena air yang di dalam waduk lebih cepat penuh dan harus segera dipompakan ke luar. Sedangkan jika kapasitas waduk besar maka kemampuan stasiun pompa bisa lebih kecil karena lebih banyak volume air yang bisa ditahan dulu di dalam waduk. Dalam gambar berikut diperlihatkan hubungan antara kapasitas pompa dan ukuran waduk penahan air.

Gambar 7-3: Hubungan antar waduk penahan air dengan kapasitas pompa Desain dan Teknis Sistem Polder

99

Bab

8

Swadana Menjamin Keberlanjutan Organisasi Biaya Konstruksi Pembiayaan Pemeliharaan dan Operasi Sumber Pendapatan Manfaat yang Didapat Efek Sosial Ekonomi

PENGELoLaaN DaN PEMBiaYaaN sistEM PoLDEr
Efektifitas sistem polder sangat dipengaruhi oleh efektifitas institusi pengelolanya
alam menghadapi banjir ada dua pilihan bagi warga perkotaan yang berada di kawasan rendah: tetap menetap atau berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Jika menetap maka harus bisa hidup bersahabat dengan air selama bertempat tinggal di kawasan rendah itu. Untuk itu mereka harus mengelola air tersebut secara kontinyu. Agar dapat bertahan dalam perjuangan untuk hidup bersama air seperti ini maka dibutuhkan pengelolaan polder yang berkelanjutan. Masyarakat sendiri harus mengambil peran. Berjuang menghadapi banjir tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah karena pemerintah mempunyai kemampuan yang terbatas pada organisasi dan anggaran. Karena itu pilihannya adalah memberi peran yang lebih besar kepada masyarakat. Jika paradigmanya bahwa masyarakat harus lebih banyak berperan seperti itu, maka konsekuensi berikut akan menyertai: • dalam perencanaan, desain, dan implementasi pendekatan yang dilakukan sifatnya dari bawah ke atas ; • meningkatkan peran serta masyarakat dalam proses konsultasi publik ; • pemerintah sebatas menetapkan petunjuk dan bertindak sebagai fasilitator saja (diusahakan peran pemerintah tak terlalu banyak) ; • pendanaan ditanggung oleh seluruh pemangku kepentingan ; • organisasi pengelolaan polder yang independen dan kuat. Dengan pengelolaan polder semacam ini masyarakat bisa langsung terlibat dan sekaligus merasakan keterlibatannya dalam pengendalian banjir di kawasannya. Salah satu masalah penanganan banjir di Jakarta adalah orangorang yang menjadi korban banjir tidak memiliki akses atau pengaruh terhadap perencanaan, penerapan, pemeliharaan dan operasional. Sehingga mereka lebih memilih untuk pasrah saja jika banjir datang. Apatisme berlangsung karena ketidakjelasan peran yang harus dilakukan.

D

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

101

Perjuangan menangani air secara terus menerus membutuhkan sumber finansial yang berkelanjutan

Hal ini juga harus menjadi perhatian para pengembang yang membangun perumahan di Jakarta. Mereka juga wajib untuk membangun instutional penanggulangan banjir di kawasan pengembangan perumahan tersebut, dimana institusional yang dibangun harus terus berlanjut meskipun para pengembang tidak lagi membangun rumah di daerah tersebut. Dalam rencana pengembangan perumahan keberadaan institusional pengelolaan air harus menjadi pertimbangan oleh pemerintah daerah dalam memberi izin prinsip. Demikian juga jika pengembang sudah meninggalkan kawasan tersebut, keberlanjutan institusional itu, menjadi pertimbangan pemerintah daerah untuk menilai kondite dari pengembang tersebut.

Masalah teknis sering bukan persoalan utama, masalah utamanya sering terletak pada institusi pengelolaannya

8.1. Swadana Menjamin Keberlanjutan

Pengalaman menunjukkan bahwa masalah persiapan teknis bukan menjadi persoalan utama dalam pengendalian banjir, tetapi masalah utamanya sering terletak pada institusi pengelolaannya. Tak memadainya institusi, dengan kurangnya pendanaan sebagai salah satu simtonnya, menyebabkan operasi dan pemeliharaan infrastruktur penanggulangan banjir tidak berjalan dengan baik. Tindakan mitigasi banjir yang dibuat selalu ketinggalan dengan peningkatan masalah banjir.

Gambar 8-1: Sketsa waduk dan stasiun pemompaan dalam sistem polder

102

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

Gambar 8-2: Drainase permukaan dalam sistem polder

Organisasi pengelola harus sederhana dan efektif dalam menjalankan fungsinya

Perjuangan menangani air secara terus menerus membutuhkan sumber finansial yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, peran publik dibutuhkan untuk terlibat dalam ikut menangani masalah pengelolaan air pada tingkatan lokal. Pengelolaan yang diinginkan tentu harus berkelanjutan, karena itu pendekatan dan penyelesaiannya bersifat swadana. Diharapkan peran pemerintah dapat dikurangi pada pengelolaan di tingkat sistem tata air mikro dan sub-makro. Jika rakyat setempat dimintai pendapat dan dilibatkan, keinginan untuk bekerja sama dan membayar juga akan meningkat. Hal ini membuka jendela kesempatan baru untuk menyelesaikan masalah-masalah pengelolaan air dengan cara mulus dan mengutamakan mufakat.

8.2. Organisasi

Organisasi pengelolaan air seyogianya bukanlah organisasi yang rumit dengan strukur organisasi yang panjang. Organisasi ini haruslah strategis dan efektif dalam menjalankan fungsinya. Tipikal organisasi pengelolaan polder (polder board) dapat dibedakan dalam dua tingkatan: • perwakilan para pemangku kepentingan (tingkatan strategis) ; • pelaksana harian. Dalam mengawali organisasi polder, perlu diingatkan agar setiap orang harus mengenal betul prinsip prinsip sistim polder. Organisasi pengelolaan air yang ada dalam komunitas masyarakat (LSM) bisa menjadi cikal bakal pembentukan organisasi pengelola polder.
Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

103

Penerima manfaat harus memberikan kontribusi dan berhak untuk ikut menentukan. Prinsip ini dikenal dengan prinsip benefit-pay-say

Mereka yang mendapatkan manfaat dari sistem polder ikut mengelola dan membiayai operasi dan pemeliharaan infrastruktur penanggulangan banjir ini. Penerima manfaat harus memberikan kontribusi dan berhak untuk ikut menentukan. Prinsip ini dikenal dengan prinsip benefit-pay-say. Organisasi ini cukup banyak menaungi anggota yang dalam hal ini ialah mereka yang bertempat tinggal di kawasan tersebut. Sebagai ilustrasi jika wilayah yang mendapat manfaat di Jakarta sekitar 500 hektar, dan rata-rata kepadatan penduduk 15.000 per 100 hektar, diperkirakan jumlah warga yang mendiami sekitar 75.000 orang atau 20.000 rumah tangga. Perwakilan Pemangku Kepentingan (Tingkatan Strategis) Mereka ini adalah perwakilan organisasi pada tingkatan strategis yang dipilih oleh setiap anggota kelompok pemangku kepentingan. Pembentukan tipikal organisasi dan pengelolaan polder internal adalah sebagai berikut: • perwakilan masyarakat desa/kecamatan ; • perwakilan pemerintah daerah/instansi ; • perwakilan komunitas bisnis/sektor swasta ; • perwakilan pakar independen dan masyarakat madani. Tugas-tugas organisasi tingkatan strategis biasanya terdiri atas: • menentukan kebijakan pengelolaan air publik ; • mengawasi kegiatan-kegiatan lapangan ; • memilih, mencalonkan, dan menunjuk ketua/anggota resmi organisasi pengelolaan polder ; • menentukan kewajiban-kewajiban, hak, kaidah-kaidah dan peraturan (berdasarkan hukum), dan lain-lain. Tingkat Dewan Pengurus Sedangkan dalam pelaksanaannya kegiatan harian pengelolaan polder diarahkan oleh dewan pengurus. Anggota dewan pengurus dapat berbentuk komposisi berikut : • ketua/pelaksana harian ; • bagian administrasi/keuangan ; • bagian pompa dan waduk ; • bagian tanggul/jalan dan saluran. Salah satu contoh otorita polder disajikan dalam gambar berikut. Para anggotanya dipilih dan berasal dari masyarakat setempat. Organisasi ini bekerja sebagai satu perusahaan semi-publik sehingga laba bukanlah tujuan akhir. Akuntabilitas dan transparansi publik dilakukan melalui penyebaran

104

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

rencana induk, pelaporan kegiatan dan lain-lain. Publik perlu diberitahukan tentang segala rencana berkaitan dengan pengelolaan polder sehingga mereka juga mengetahui peran apa yang dibutuhkan dari mereka.

Gambar 8-3: Tipikal organisasi polder

8.3. Biaya konstruksi

Sudah ditegaskan bahwa sistem polder ini adalah satu sistem penanggulangan banjir yang dibuat untuk terus menerus membebaskan kawasan rendah dari bahaya banjir. Karena itu, tidak hanya pembangunan konstruksinya saja yang menuntut kualitas yang baik, operasi dan pemeliharaannya juga harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Untuk itu, dalam memprediksi biaya yang harus dikeluarkan maka harus diperhitungkan rencana pembiayaan yang komprehensif yang meliputi biaya konstruksi dan biaya operasi serta pemeliharaan. Perhitungan biaya inilah yang nantinya dijadikan pertimbangan, seberapa besar biaya yang harus dilakukan dan manfaat yang akan didapat. Di bawah ini ditampilkan ilustrasi pembiayaan untuk lahan seluas 500 hektar dengan acuan harga tahun 2009. Tentu saja ilustrasi ini tidak bisa dijadikan patokan benar karena kenyataannnya di lapangan kondisi satu daerah dengan
Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

105

Dalam sistem polder yang digunakan dalam jangka panjang, membutuhkan biaya pemeliharaan dan biaya operasional

daerah lain pasti berbeda. Perbedaan ini tentu juga akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan.
Tabel 8-1: Biaya Konstruksi Komponen Biaya Stasion pompa (6 m /det) Konstruksi dam Pengerukan waduk Pembebasan lahan waduk (2% area, sharing pemanfaatan ) Peningkatan tanggul dan dinding penahan Perbaikan drainase Total biaya konstruksi
3

Rp (miliar) 30 3 20 100 10 10 173

Dalam perhitungan di atas diasumsikan pembebasan lahan sebesar Rp. 1.000.000 per meter persegi yang menggunakan lahan publik dan sharing pemanfaatan. Juga diasumsikan bahwa kawasan tersebut memerlukan lahan 2% dari keseluruhan daerah layanan polder, untuk dijadikan waduk.

8.4. Pembiayaan Pemeliharaan dan Operasi

Dalam satu sistem polder, yang akan digunakan dalam jangka waktu panjang, tentu dibutuhkan biaya pemeliharaan dan biaya operasional. Biaya pemeliharaan dikeluarkan untuk memelihara konstruksi, waduk, pompa dan saluran darinase sedangkan biaya operasional adalah dana yang dikeluarkan untuk menggaji para petugas yang menjalankan fungsi polder dan biaya lain untuk operasi polder (misalnya energi untuk pompa). Besarnya biaya pemeliharaan dan operasional ini sangat tergantung luas kawasan polder. Tentu saja kawasan yang lebih luas lebih mahal biayanya dibandingkan dengan kawasan yang relatif kecil karena ini berkaitan dengan konstruksi banyak saluran drainase, luas, dan jumlah waduk serta jumlah kapasitas pompa air yang harus dipelihara.

8.5. Biaya Pemeliharaan

Jika biaya konstruksi dikeluarkan satu kali diawal-awal pembangunan sistem polder, maka biaya pemeliharaan dan operasional dilakukan secara rutin. Hal ini untuk menjamin sistem bisa terus bekerja tanpa mengalami gangguan dan daerah terus menerus terbebas dari banjir. Aspek pemeliharan dan operasional ini sering kali diabaikan sehingga sistem tidak lagi bisa berjalan dengan sempurna. Dengan luasan seperti ilustrasi di atas maka rata rata biaya pemeliharaan bisa dilihat dalam tabel berikut. Biaya ditetapkan berdasarkan persentase terhadap biaya investasi, pemeliharaan di tampilkan dalam biaya rata-rata per tahun. Di 106
Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

dalam prakteknya biaya pemeliharaan akan kecil pada awal-awal tahun dan menjadi lebih tinggi pada tahun berikutnya. 8.4.2. Biaya Operasional Biaya operasional ini meliputi tenaga kerja dan biaya energi. Untuk kawasan seluas 500 hektar, dibutuhkan sekitar 20 anggota tim pemeliharaan dengan gaji rata-rata Rp. 2 juta per bulan. Ini termasuk para penjaga pompa dan pintu air. Dalam setahun total gaji untuk pemeliharaan rata-rata Rp. 520 juta.
Tabel 8-2: Biaya pemeliharaan Komponen Biaya Stasion pompa (6 m³/s)- pek. Sipil Stasion pompa (6 m³/s)- installasi Konstruksi dam Pengerukan waduk Pembebasan lahan waduk (2 % area, sharing pemanfaatan ) Peningkatan tanggul dan dinding penahan Perbaikan drainase TOTAL BIAYA Rp (miliar) 15 15 3 20 100 10 10 Perawatan (%) 0.5 4.0 1.0 0.2 0.2 1.0 0.5 Rp (Juta) 75 600 30 40 200 100 50 1.095

Dilihat dari angkanya biaya operasional dan pemeliharaan tidak terlalu mahal dibandingkan kerugian yang timbul akibat banjir

Biaya energi (listrik) operasional pompa, adalah biaya yang digunakan untuk memompakan air yang berlebih (sekitar 15 juta m3 per tahun). Asumsi yang diambil adalah energi yang dikeluarkan untuk memompakan air dengan perbedaan ketinggian air sekitar 5 m. Biaya konsumsi energi berkisar Rp 250 juta. Total biaya operasi dan pemeliharaan per tahun untuk satu wilayah polder dengan daerah layanan sekitar 500 hektar adalah Rp. 1,845 miliar. Dilihat dari angkanya memang biaya yang dikeluarkan ini kelihatan mahal, tetapi jika dilihat dari kerugian yang ditimbulkan dan keamanan yang diberikan, angka itu tidak terlalu banyak. Apalagi lahan sekitar 500 hektar bisa diisi ribuan rumah, perkantoran, pusat-pusat perdagangan dan lain-lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Jadi kalau ditanggung penghuni kawasan, per penghuni jatuhnya menjadi kecil. Ini sesuai dengan prinsip survive: harus sama-sama berjuang terus menerus menghadapi banjir.

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

107

Biaya operasi dan pemeliharaan harus ditanggung oleh mereka yang menerima manfaat

8.5. Sumber Pendapatan

Seperti sudah diterangkan, untuk menjamin operasi polder yang berkelanjutan maka biaya untuk operasi dan pemeliharaan harus ditanggung oleh para pemangku kepentingan yang memperoleh manfaat dari terhindarnya wilayah mereka dari banjir dan genangan. Pemangku kepentingan berupa penduduk, pemilik pertokoan, industri dan perusahaan. Dengan asumsi jumlah keluarga dalam wilayah polder sekitar 20.000 keluarga maka beban pembiayaan untuk operasi dan pemeliharaan yang dibebankan ke setiap rumah tangga berkisar Rp 92.200 per tahun atau hanya Rp.7.700 per bulan. Sangat kecil nilainya untuk sebuah keamanan dan kenyamanan. Bandingkan untuk satu kompleks yang terdiri atas 110 keluarga, biaya yang dibutuhkan untuk pengangkutan sampah dapat mencapai Rp 20.000 per bulan! Selanjutnya, kontribusi penduduk disesuaikan dengan kemampuan bayar dari warga dan kenikmatan yang diperoleh dari tidak adanya genangan di wilayah tersebut. Kontribusi bisa dilakukan bersamaan dengan pembayaran listrik. Jumlah rekening listrik juga bisa dijadikan indikator kemampuan bayar dari warga. Karena biasanya orang dengan pendapatan tinggi mengkonsumsi listrik lebih besar.

8.6. Manfaat yang Didapat

Kesediaan berkontribusi untuk pembiayaan sistim polder sangat tergantung dari besarnya kontribusi dan manfaat yang diperoleh. Manfaat berwujud dalam bentuk terhindarnya kawasan dari kerugian yang diakibatkan oleh banjir dan genangan. Kerugian itu meliputi: • kerugian langsung (rumah dan harta) ; • kerugian tidak langsung (gangguan produktifitas) ; • kerugian sosial dan kesehatan.

8.7. Efek Sosial Ekonomi

Adanya sistem polder dalam satu kawasan di DKI Jakarta akan memberikan berbagai dampak sosial dan ekonomi secara signifikan bagi masyarakat. Efek ini cepat atau lambat akan mengubah tatanan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi bagi wilayah yang terbebas dari ancaman banjir tersebut. Energi dan harta yang hampir tiap tahun dihabiskan dan terbuang akibat banjir juga akan jauh berkurang. 108
Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

8.7.1. Kontribusi bagi Pertumbuhan Ekonomi Adanya satu kawasan yang dilindungi oleh sistem polder akan mengurangi risiko penurunan nilai aset dan pengurangan angka kemiskinan. Sebagian wilayah Jakarta yang telah berada di bawah permukaan air laut dan permukaan air sungai akan semakin sering mengalami genangan di masa depan jika tidak dilakukan tindakan-tindakan penanggulangan. Penurunan muka tanah (land subsidence) akan mengakibatkan daerah genangan meluas dan lebih dalamnya genangan. Meluasnya kawasan banjir dan semakin banyaknya orang yang menjadi korban banjir tentu saja akan menambah kerugian material dan immaterial.

Satu kawasan yang dilindungi oleh sistem polder akan mengurangi risiko penurunan nilai aset akibat banjir.

Ironisnya, sebagian wilayah genangan tersebut didiami oleh masyarakat yang tergolong miskin atau rentan untuk menjadi golongan miskin. Kerugian terhadap aset yang dimiliki akan menggiring mereka menjadi lebih miskin. Terbebasnya kelompok masyarakat seperti ini dari bencana banjir tentu akan membuat mereka memiliki ruang dan waktu yang lebih banyak dalam meningkatkan taraf ekonominya. Di samping kerugian aset bisa dihindari, mereka juga memiliki waktu yang lebih leluasa untuk melaksanakan kegiatannya karena waktu yang seharusnya dihabiskan untuk mengurusi dan bersiap-siap menghadapi banjir bisa berkurang. Di samping itu pemanfaatan ruang yang mereka miliki juga menjadi lebih bernilai ekonomi karena terbebas dari banjir. 8.7.2. Kesehatan dan Efek Tehadap Pendapatan Masyarakat Miskin Dengan penanganan sistim polder, kondisi kesehatan mayarakat akan menjadi meningkat. Pada waktu banjir dan genangan terjadi, air sering terkontaminasi dengan bakteri patogen. Banjir dan genangan akan menyebarkan penyakit seperti diare, kolera, tiphus, hepatitis A dan penyakit kulit. Penyakit ini terutama akan menyentuh masyarakat dengan penghasilan rendah yang berdiam di wilayah rendah dan tidak memiliki makanan, sanitasi dan perawatan kesehatan yang cukup. Biasanya masyarakat yang termasuk golongan ini umumnya tidak memiliki kontrak kerja yang baik. Ini berarti bahwa apabila mereka sakit dan tidak dapat bekerja akan mengakibatkan penurunan pendapatan yang berarti. 8.7.3. Efek Terhadap Akses Pasar, Produktifitas dan Penyerapan Tenaga Kerja Masih lekat dalam ingatan kita, ketika banjir 2007 akses jalan tol ke Bandara Soekarno-Hatta terganggu akibat banjir yang menggenangi salah satu ruasnya. Akibatnya, pergerakan orang ke bandara mengalami gangguan yang cukup

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

109

parah. Warga tak bisa mencapai bandara yang paling sibuk di Indonesia ini, kegiatan ekonomi menjadi sangat terganggu. Kerugian cukup besar akibat jalur transportasi terendam yang mengakibatkan gangguan logistik dan meningkatnya biaya transportasi yang harus ditanggung oleh konsumen. Kegiatan ekonomi terganggu dan tingkat produktifitas menurun. Inilah akibat yang ditimbulkan jika banjir sampai mengganggu transportasi, produktifitas menurun dan otomatis penyerapan tenaga kerja berkurang. Di sana-sini akan banyak terlihat orang yang tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali hanya menunggu banjir segera surut. 8.7.4. Peningkatan Kesadaran di Masyarakat Seperti sudah ditegaskan sebelumnya bahwa penyelesaian masalah banjir tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Kompleks dan banyaknya masalah yang berkaitan dengan banjir membuat pemerintah daerah tidak akan sanggup menyelesaikan permasalahan sendiri. Perlu ada keterlibatan pemangku kepentingan lain untuk mendukung dalam menyelesaikan masalah ini. Sistim polder yang berbasis masyarakat serta didukung pembiayaan yang bersifat swadana akan menjadi contoh yang baik dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat. Kesadaran dan kebersamaan masyarakat menjadi pilar penting dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang terjadi berkenaan dengan genangan air dalam satu kawasan. Kontrol sosial dan partisipasi yang ada akan memberikan kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan lain seperti sanitasi, persampahan, pengolahan air limbah. Jika sistem ini bisa berjalan dengan baik pemerintah tidak perlu lagi terlalu banyak campur tangan dalam urusan penanganan banjir dalam satu wilayah tertentu. 8.7.5. Kegiatan Usaha Kecil dan Menengah Sebagian kegiatan investasi dan perawatan sistim polder dapat melibatkan usaha kecil dan menengah. Banyak pekerjaan yang bisa melibatkan mereka seperti pembangunan tanggul, drainase, pengerukan waduk dan sebagainya. Semua bisa melibatkan para pengusaha kecil dan menengah di kawasan tersebut. Ini mendorong kemandirian bagi para pengusaha kecil yang terlibat. Hanya konstruksi rumah pompa dan instalasi alat pompa membutuhkan kemampuan kontraktor besar. Dengan demikian, di dalam sistem polder ini sendiri sudah tercipta kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan menimbulkan kegiatan ekonomi baru tersebut. Ini mendorong kemandirian bagi para pengusaha kecil yang terlibat. Hanya konstruksi rumah pompa dan instalasi 110

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

alat pompa membutuhkan kemampuan kontraktor besar. Dengan demikian, di dalam sistem polder ini sendiri sudah tercipta kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan menimbulkan kegiatan ekonomi baru. 8.7.6. Ekologi dan Kualitas Air Efek ekologi dan kualitas air pada sistim polder ini dipengaruhi oleh sistim tertutup dari sistim polder ini. Peningkatan kualitas air dapat dilakukan dengan pengontrolan terhadap tingkat polutan air yang memasuki waduk retensi yang dengan ini air limbah yang masuk ke waduk harus diolah terlebih dahulu sehingga tidak terlalu tercemar. Kondisi air di kawasan nantinya akan jauh berbeda dengan kondisi air di sungai-sungai atau waduk di wilayah Jakarta lainnya. Peningkatan sanitasi dan pengelolaan limbah akan dapat meningkatkan kualitas ekologi di wilayah polder bersangkutan. Air waduk yang terserap ke dalam tanah juga tidak lagi mencemarkan kualitas air tanah. Bahkan waduk tersebut bisa juga dijadikan tempat wisata, seperti pemancingan yang akan membantu biaya operasi dan pemeliharaan sistem polder yang bersangkutan.

Pengelolaan dan Pembiayaan Sistem Polder

111

Bab

9

Kehidupan di Daerah Delta dan Tantangannya Rencana Pulau Reklamasi dan Pembangunan Tanggul Laut Desain Reklamasi Peningkatan Manfaat Reklamasi Pantura Pemantauan Pelaksanaan

rEKLaMasi DaN taNGGUL LaUt BaGiaN Dari soLUsi BaNJir
Diprediksi hingga tahun 2020 sekitar 75 % penduduk dunia tinggal di kawasan pantai
ebanyakan kota besar di dunia berada di garis pantai. Bertetangga dengan laut banyak memberikan keuntungan ekonomi, salah satu penyebabnya adalah akses transportasi bisa lebih mudah dijangkau. Perdagangan jauh lebih bergairah di dataran rendah ini. Inilah yang menyebabkan orang jauh lebih tertarik untuk tinggal di dataran rendah daripada di wilayah pegunungan. Diprediksi hingga tahun 2020 sekitar 75% penduduk dunia tinggal di kawasan pantai. Kebanyakan dari mereka itu berada dari bibir pantai sampai ke tempat yang jauhnya mencapai 60 kilometer ke daratan. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kecenderungan ini akan berubah. Kecenderungan ini menghadirkan masalah lain. Keterbatasan ruang menjadi masalah yang harus dicarikan solusinya. Warga yang semakin berjejal hidup dikota-kota di tepi pantai dan didaerah delta ini membuat ruang untuk hidup, bekerja, dan rekreasi semakin sempit. Sedangkan pada saat yang sama ada kebutuhan untuk melindungi dan meningkatkan nilai lingkungan. Dengan keterbatasan ruang ini, sesungguhnya tersedia tiga solusi yang mungkin untuk dilaksanakan: • optimalisasi pemanfaatan dalam tiga (3) dimensi ; • pemanfaatan ruang ruang di daerah hulu; • pengembangan ke arah laut. Pilihan atas 3 solusi ini atau kombinasi diantaranya dimungkinkan.

K

Pengembangan ke laut diarahkan agar tercapainya fleksibilitas integrasi antara daratan di laut dengan air di daratan lama dan baru (hasil reklamasi)

Solusi pengembangan ke arah laut diarahkan agar tercapainya fleksibilitas integrasi antara daratan di laut dengan air di daratan lama dan di daratan baru (hasil reklamasi) sembari meningkatkan beberapa nilai tambah yang lain.

Di samping memberikan sejumlah harapan dan potensi pengembangan, tinggal di daerah delta akan menghadapi sejumlah tantangan. Dari urbanisasi dengan

9.1. Kehidupan di Daerah Delta dan Tantangannya

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

113

Disamping menjadi muara sungaisungai, Kawasan Pantura juga menjadi muara permasalahan yang tidak terselesaikan di hulu

permasalahan turunannya sampai dengan permasalahan penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut. Mengembangkan potensi yang ada dan sekaligus mengendalikan potensi kerusakan adalah tantangan Jakarta sebagai daerah delta. Kawasan Pantura yang merupakan tempat bermuara sungai-sungai juga menjadi muara permasalahan yang tidak terselesaikan di bagian hulu. Rencana reklamasi, yang mengundang perhatian besar masyarakat, sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan pencipta masalah baru. 9.1.1. Pengembangan Pantura Jika kita mau mengoptimalkan Pantura maka potensi untuk lebih memajukan Jakarta akan sangat memungkinkan mengingat beberapa keuntungan yang akan diraih. Tidak hanya menguntungkan dalam konteks lokal dan regional saja; dalam persaingan ditingkat global Jakarta pun bisa lebih berkompetisi dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Beberapa potensi pengembangan yang bisa diraih:

Reklamasi bisa menjadi bagian dari solusi dan bukan pencipta masalah baru

Posisi Pantura dalam konteks lokal • akan meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Jakarta Utara secara keseluruhan melalui revitalisasi daratan yang disubsidi kegiatan reklamasi ; • mengurangi beban lalu lintas di pusat kota ; • pengembangan ke utara akan mengurangi tekanan ke selatan Jakarta sebagai wilayah resapan air ; • dapat menambah luasan kawasan tertata. Posisi Pantura dalam konteks regional • dapat mengurangi tekanan ke daerah resapan di hulu (Depok/Bogor); • dapat menjadi pusat pertumbuhan baru untuk mendorong ekonomi Jabodetabekpunjur ; • dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan air (kualitas dan kuantitas) dan penanggulangan banjir ; • penataan dapat menjadi salah satu solusi mengatasi bottle neck tata air di kawasan utara untuk mengurangi banjir di kawasan. Posisi Pantura dalam konteks global • dapat meningkatkan daya saing Jakarta sebagai service city ; • dapat membantu menyejajarkan posisi Jakarta dalam konteks sistem perkotaan global.

114

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

Daerah pesisir tempat tanah dan laut bertemu sering menimbulkan masalah lingkungan yang kompleks

9.1.2. Pengendalian Potensi Kerusakan Daerah pesisir tempat tanah dan laut bertemu sering menimbulkan masalah lingkungan yang lumayan kompleks. Dalam rangka pemanfaatan dan penciptaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan lingkungan pesisir harus dikelola secara sistematis. Pilihan melakukan reklamasi memang harus diterima sebagai usaha pengembangan yang juga mendukung perbaikan kualitas pesisir. Karena itu manajemen pesisir (coastal management) perlu diterapkan dengan sungguhsungguh. Menejemen pesisir bertujuan untuk mengefektifkan pemanfaatan daerah pesisir, meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, dan peningkatan kondisi lingkungan. Potensi kerusakan yang berwujud dalam fenomena penurunan muka air tanah dan muka tanah, perluasan daerah genangan, abrasi dan erosi, sedimentasi, intrusi air laut, polusi air dan udara, harus menjadi pertimbangan. Persoalan lain yang berhubungan dengan pemanfatan lahan, air permukaan dan air tanah juga perlu diperhitungkan.

Manejemen pesisir untuk mengefektifkan pemanfaatan daerah pesisir, meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, dan peningkatan kondisi lingkungan

9.2. Rencana Pulau Reklamasi dan Pembangunan Tanggul Laut

Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya bahwa permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan (land subsidence) yang disebabkan oleh pengambilan air tanah. Disisi lain, fenomena global juga menunjukkan bahwa permukaan air laut terus meningkat sebagai akibat pemanasan global. Untuk mengantisipasi hal ini perlu dilakukan perencanaan yang konseptual dan visioner. Salah satu dari upaya ini adalah dengan melaksanakan reklamasi dan pembangunan tanggul laut. Ini dilakukan untuk melindungi Kota Jakarta di masa depan.Pelaksanaan reklamasi dan pembangunan tanggul diarahkan agar sejalan dengan sistem tata air yang sudah ada di DKI Jakarta. Untuk bisa melaksanakan proyek reklamasi secara benar dan tepat arah, memang perlu dilakukan perhitungan dan pertimbangan yang cermat, baik dalam hal ekonomi, lingkungan, sosial bahkan juga dalam segi hukum. Dengan demikian, kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat, bisa memperbaiki kondisi lingkungan yang telah ada dan secara hukum tidak melanggar aturan. 9.2.1. Lokasi dan Zona pulau Reklamasi Jika mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) 54, Tahun 2008, tentang Tata Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur, maka reklamasi bisa dilakukan hingga kedalaman –8 meter di bawah permukaan laut. Reklamasi Pantura dapat dilakukan hingga mencapai jarak 200 m (untuk zona P2 dan P5) dan 300 m (untuk zona P3) dari pantai diukur pada waktu air laut surut.

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

115

Bentuk pulau reklamasi harus didesain dengan mengacu pada aspek keamanan dan perlindungan lingkungan

9.2.2. Bentuk Pulau Reklamasi Bentuk pulau reklamasi harus didesain dengan mengacu pada aspek keamanan dan perlindungan lingkungan. Pelaksanaan reklamasi dan pengembangan tanggul harus mempertimbangkan kondisi fisik yang ada sekarang yang akan berpengaruh pada pola reklamasi dan tanggul yang akan dibangun. Beberapa aspek fisik itu perlu dijadikan pertimbangan dalam pelaksanaan reklamasi. • ada 3 aliran sungai yang mempunyai debit yang cukup besar: Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat, dan Banjir Kanal Timur. Menurut studi JICA 1997, Cengkareng Drain dan Banjir Kanal Barat memiliki debit lebih dari 500 m³/detik dan Banjir Kanal Timur memiliki debit 390 m³/detik untuk kala ulang rencana 100 tahun ; • terdapat pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi tempat keluar masuknya transportasi kapal dan beberapa infrastruktur penting lainnya, seperti PLTU Muara Karang ; • Jakarta mengalami land subsidence dan sea level rise yang terus belangsung. Selama ini sering disebut ada 40 % wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut dan permukaan air sungai. Akibat land subsidance dan sea level rise maka luas lahan yang berada di bawah permukaan air laut akan semakin besar. Diperkirakan sekitar 10–20 tahun ke depan sekitar 50 % dari daerah Jakarta akan berada di bawah permukaan air laut dan permukaan air sungai. 116
Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

Dengan memperhatikan amblesan dan kenaikan muka laut, sistem polder akan terimplementasikan secara lebih efektif dengan membangun tanggul laut

9.2.3. Opsi Tanggul Laut dan Tahapan Implementasi Dengan memperhatikan penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut, sistem polder akan terimplementasikan secara efektif dengan membangun tanggul laut di utara Jakarta. Beberapa opsi tanggul laut yang mungkin untuk diterapkan: • opsi 1: Tanggul laut diintegrasikan dengan reklamasi Pantura ; • opsi 2: Tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi ; • opsi 3: Tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi kecuali Tanjung Priok ; • opsi 4: Tanggul laut menghubungkan antar pulau di kepulauan seribu. Dengan beberapa pertimbangan, terutama pembiayaan, pelaksanaan tanggul laut tersebut dapat dilakukan secara bertahap. Opsi 1 merupakan opsi yang paling mungkin untuk dilaksanakan dalam 20 tahun ke depan menimbang bahwa opsi ini membutuhkan pembiayaan yang relatif lebih kecil dan pelaksanaan bisa dilakukan dengan kontribusi sektor publik dan privat. Opsi 2, 3 atau opsi 4 merupakan opsi yang dapat diimplementasikan dalam kurun waktu yang lebih panjang dan bisa diintegrasikan dengan pembangunan tanggul di provinsi Banten dan provinsi Jawa Barat. Pelaksanan opsi 1 tanggul laut dapat diimplementasikan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa aspek terkait. Daerah reklamasi dapat dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu kawasan sebelah barat Banjir Kanal Barat (BKB), kawasan tengah, dan kawasan timur (Tanjung Priok ke arah timur). Sistem tanggul dimulai dari bagian barat sampai bagian tengah kawasan reklamasi pada kedalaman -8 m. Di Tanjung Priok dihadapi kesukaran untuk membuat tanggul di kedalaman -8 m karena adanya transportasi kapal-kapal. Oleh karenanya, tanggul diarahkan ke selatan menuju ke existing coast line pada kawasan timur ( pelabuhan Tanjung Priok). Alternatif lain, bisa dibuat

Tanggul laut yang diintegrasikan dengan reklamasi Pantura, yang paling mungkin untuk dilaksanakan dalam 20 tahun

Gambar 9-2: Tanggul laut diintegrasikan dengan reklamasi Pantura dan tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

117

Gambar 9-3: Tanggul laut berada di luar wilayah reklamasi.kecuali Tanjung Priok dan tanggul laut menghubungkan antar pulau di Kepulauan Seribu.

tanggul yang dipasang mengelilingi Tanjung Priok dengan menggunakan lock, yang mengatur transportasi kapal pada ketinggian air yang berbeda. Namun dalam 20 tahun ke depan kemungkinan lebih baik dibuat ‘terbuka’ seperti sekarang, menimbang penggunaan lock membutuhkan biaya yang lebih besar dan proses handling kapal dapat menghadapi keterlambatan. Dengan sistem tanggul harus diperhatikan keamanannya. Jangan sampai keruntuhan/kegagalan fungsi tanggul di suatu tempat berakibat banjir di wilayah yang luas. Sistem tanggul dan gate harus diletakkan sedemikian rupa sehingga akibat kegagalan struktur suatu tanggul dapat dilokalisir. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan sistim yang handal dan optimal. Selain itu, perlu adanya tahapan-tahapan dengan memperhatikan beberapa hal seperti bagaimana dengan Cengkareng Drain dan Banjir Kanal Barat (BKB) yang kapasitas sungainya cukup besar. Pada tahap pemikiran kini, kedua sungai tersebut sementara ini masih harus dibuka dengan opsi dapat ditutup di kemudian hari (menggunakan gate) jika pertimbangan dan evaluasi mengarah ke ‘penutupan’.

Keamanan tanggul laut harus diperhatikan, jangan sampai kegagalan fungsi di suatu tempat berakibat banjir di wilayah yang luas

Urutan implementasi perlu diperhatikan dengan benar dalam pengembangan Pantura: • reklamasi dilakukan oleh pengembang dengan arahan yang jelas, terutama pada desain tanggul laut di sebelah utara pada masing-masing pulau ; • pembuatan tanggul laut di antara pulau reklamasi pada kedalaman –8 meter ; • Cengkareng Drain dan Banjir BKB masih tetap dibuka sambil menunggu perlakuan yang tepat kepada kedua sungai tersebut ;
Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

118

Dalam pelaksanaan reklamasi ada dua sistem utama, sistem polder dan sistem urugan (fill)

• •

penempatan gate ditentukan berdasarkan studi yang lebih rinci. Dengan pembuatan tanggul dan gate sebagian kawasan dengan demikian sudah tertutup dari pengaruh air laut. Waduk Pluit bisa dihubungkan dan tetap menjadi bagian dari retensi atau sebagai tempat pengolahan air limbah. Hal tersebut harus dipelajari lebih detail lagi karena kawasannya cukup luas untuk menambah retensi (ada sekitar 80 ha).

9.2.4. Sistem Reklamasi Di dalam pelaksanaan reklamasi, dikenal dua sistem utama. Yang pertama adalah dengan menggunakan sistim polder yakni sistem tertutup yang wilayah reklamasinya dilindungi dengan sea defence atau tanggul dengan pengelolaan air yang independen. Sedangkan yang kedua adalah sistim urugan (fill) yang dengan ini permukaan tanah ditimbun sedemikian rupa sehingga mencapai suatu ketinggian yang memungkinkan pengelolaan air di wilayah reklamasi dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Sistim polder mensyaratkan kelengkapan beberapa elemen utamanya seperti tanggul (laut/sungai), waduk (retention basin), stasion pompa, sistem drainase, sub-surface drain dan sistem penggelontoran yang relatif sama dengan penjelasan sistem polder yang ada pada bab sebelumnya. Sedangkan pada sistem gravitasi tidak diperlukan penggunaan stasion pompa karena pembuangan air dilakukan secara gravitasi. Penggunaan waduk juga tidak sepenting pada penerapan sistim polder. Pilihan antara kedua sistem ini secara umum ditentukan dengan mempertimbangkan faktor: • ketersediaan bahan urugan ; • dampak terhadap lingkungan (drainase, lingkungan dan morpologi) ; • fleksibiltas (dengan memperhatikan amblesan, kenaikan muka air laut, efek psikologis, perawatan dan biaya).

9.3. Desain Reklamasi

Dalam melakukan desain reklamasi perlu dipertimbangkan kebutuhan yang diinginkan, kondisi lingkungan, dan biaya yang tersedia. Kebutuhannya adalah untuk keperluan apa dilakukan reklamasi ini. Dalam hal ini tentu saja dalam rangka berintegrasi dengan pembangunan tanggul laut dalam upaya mengurangi risiko banjir di Jakarta terutama akibat amblesan dan kenaikan muka air laut. Di samping itu, adanya reklamasi diharapkan akan dapat memperbaiki sistem tata air Jakarta secara keseluruhan. Perbaikan itu bisa berupa penambahan badan air, tersedianya pasokan air tawar yang lebih berkualitas, meningkatkan jumlah penyerapan air ke dalam tanah dan lain-lain. 119

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

Pulau reklamasi seyogianya didesain dengan siklus masa layanan selama minimal 50 tahun

Desain yang dibuat juga harus memperhatikan kondisi lingkungan yang ada saat ini. Jangan melakukan reklamasi jika ternyata hanya menambah rusak kondisi lingkungan saat ini. Sebisa mungkin dengan adanya reklamasi lingkungan sekitar menjadi jauh lebih baik. Sedangkan yang terakhir tentu saja masalah dana yang tersedia. Keterbatasan anggaran menjadi pertimbangan seberapa luas reklamasi akan dilakukan. 9.3.1. Masa Layanan Pulau reklamasi seyogianya didesain dengan siklus masa layanan (design life cycle) selama minimal 50 tahun. Ini artinya setidaknya selama jangka waktu 50 tahun itu, reklamasi bisa berfungsi dengan baik. Setelah melewati tahun tersebut maka perlu direkondisi dan dievaluasi secara menyeluruh daerah reklamasi tersebut. Bisa saja masa layanan itu lebih panjang dari 50 tahun akan tetapi biaya investasi awal yang dikeluarkan menjadi membengkak. Meningkatnya jumlah investasi awal bukan selalu berarti tidak ekonomis, bisa saja menjadi efektif jika dikaitkan dengan kebutuhan dan hasil yang didapat selama waktu tersebut. Menentukan waktu pelayanan ini sangat tergantung analisis antara biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang akan didapat. Angka 50 tahun merupakan angka yang kerap digunakan juga dalam disain infrastruktur lain (misalnya pelabuhan). 9.3.2. Desain dan Tingkat Keamanan Tanggul Laut Tanggul merupakan benteng pertahanan dalam menahan air yang akan memasuki kawasan, karena itu kekuatan benteng ini harus benar-benar diperhatikan. Kemungkinan air yang datang dari laut harus benar-benar mampu dikelola. Tanggul harus benar-benar kokoh dan tidak mudah mengalami perubahan bentuk. Di negeri Belanda penggunaaan sistem tanggul ini telah berlangsung beberapa dekade. Di negara Kincir Angin ini tingkat keamanan tanggul disesuaikan dengan kepadatan penduduk dan nilai aset yang hendak dilindungi. Untuk wilayah barat Negeri Belanda dengan kepadatan penduduk dan nilai aset ekonomi yang tinggi, tingkat keamanan tanggul lautnya dilakukan dengan mengacu pada kriteria kala ulang gelombang dan angin 1 per 10.000 tahun. Sedangkan di wilayah yang semakin ke dalam (timur) yang lahannya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, dipersyaratkan tingkat keamanan yang lebih rendah yakni dengan kala ulang sampai 1 per 1.250 tahun. Hal ini berhubungan dengan tingkat risiko/ konsekuensi yang muncul jika terjadi keruntuhan /ketidak berfungsian struktur yang ada, misalnya

120

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

Ketinggian tanggul harus memperhatikan faktor air laut pasang, wind setup, storm surge, gelombang laut, amblesan, sea level rise, residual settlement dan potensi tsunami

keruntuhan tanggul. Maka dari itu, untuk reklamasi Pantura, seyogianya ditetapkan tingkat keamanan dengan kriteria yang sama, terutama untuk struktur tanggul laut di sebelah utara. Ketinggian tanggul harus memperhatikan faktor ketinggian air laut pasang, wind setup, storm surge, gelombang laut, amblesan, kenaikan muka air laut (sea level rise), penurunan sisa (residual settlement) dan potensi tsunami. Semua itu harus diperhitungkan secara cermat sehingga tinggi dari tanggul tersebut mampu menahan air yang datang dari arah laut. 9.3.3. Limpasan Limpasan air yang melalui tanggul diperkenankan sampai batas-batas tertentu. Batasan air limpasan sebesar maksimal 5 liter per detik per meter panjang tanggul mungkin bisa dijadikan acuan. Meski demikian, limpasan yang lebih dari itu juga masih diperbolehkan sepanjang dapat ditunjukkan bahwa sistem penanggulangan banjir (flood control) lainnya masih bisa menanggulanginya. Sistem flood control yang dimaksud ialah seperti pompa dan kolam retensi mempunyai kapasitas yang memadai untuk menanggulangi limpasan air yang terjadi. 9.3.4. Kekuatan Kekuatan tanggul dan perlindungan pesisir didesain dengan kala ulang tertentu (misalnya 1,000-10,000 tahun). Kekuatan tanggul harus memperhitungkan faktor-faktor: • gempa dan liquefaction ; • kestabilan makro dan mikro ; • piping ; • seapage (rembesan) ; • uplift (dorongan ke atas air tanah terhadap konstruksi tanggul). Pilihan konstruksi tanggul disesuaikan dengan fungsi dan mempertimbangkan keramahan terhadap lingkungan. Pilihan hard structure (tanggul dengan batuan) mungkin merupakan keharusan untuk proteksi tanggul di kedalaman –8 m dan secara transisi menuju ke soft structure (tanggul tanah, pengisian pasir atau bukit berpasir) pada bagian pantai lama yang telah terlindungi oleh pulau reklamasi. 9.3.5. Risiko Banjir dan Tindakan Mitigasi Pada prinsipnya pembangunan daerah reklamasi baru harus tidak memberikan tambahan risiko banjir bagi daerah di hulunya. Jika terdapat potensi kenaikan

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

121

Pembangunan daerah reklamasi baru harus tidak memberikan tambahan risiko banjir bagi daerah di hulunya

muka air di hulu sungai maka tindakan mitigasi harus dilakukan. Tindakan mitigasi dapat berupa: • melakukan pengerukan di mulut sungai ; • pelebaran kanal/sungai ; • peninggian tanggul di wilayah yang berpotensi mendapatkan kenaikan muka air sungai. Khusus untuk Reklamasi Pantura, maka pelaksanaannya harus mempertimbangkan konsep sistem tata air yang berlaku di DKI Jakarta saat ini, maupun rencana sistem tata air mendatang.

9.4. Peningkatan Manfaat Reklamasi Pantura

Selama ini rencana reklamasi Pantura terlalu terfokus, setidaknya yang terdapat di media, pada penciptaan lahan baru dan ekonomi. Manfaat lainnya kurang dikedepankan. Reklamasi Pantura sesungguhnya dapat diarahkan agar tidak semata-mata untuk tujuan ekonomi, namun merupakan bagian dari upaya ’penyelamatan’ kota Jakarta dari ancaman kenaikan muka air laut dan penurunan tanah serta peningkatan kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan, seperti: • mereduksi banjir ; • suplai air baku dengan memanfaatkan kawasan retensi sebagai tempat cadangan air permukaan ; • menghambat intrusi air laut dengan menggunakan sistem storage dan recovery, tekanan air tawar meningkat dan mengurangi intrusi air laut ; • sebagai sarana rekreasi ; • tanggul laut juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi di utara Jakarta, untuk mengurangi beban lalu lintas di dalam kota Jakarta.

Tanggul laut bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, untuk mengurangi beban lalu lintas di dalam kota Jakarta

Khusus untuk yang terakhir ini pengembangan jalan tol menjadi opsi untuk sumber pembiayaan konstruksi, operasi dan perawatan struktur tanggul laut dan jalan. Jika pengembangan reklamasi berlanjut ke arah barat (Tangerang) maka jalan ini bisa diteruskan ke arah barat di atas tanggul laut reklamasi Tangerang. Demikian juga ke arah timur, ada beberapa konsep jalan yang menghubungkan Cikarang – Tanjung Priok. Tanggul laut dapat menjadi multifungsi. Jika semua ini dikedepankan, masyarakat dapat melihat manfaat yang lebih luas dari reklamasi Pantura. Pemahaman akan manfaat yang lebih luas dari reklamasi Pantura akan dapat menurunkan resistensi masyarakat karena sejumlah potensi perbaikan bisa diwujudkan di kawasan Pantura.

122

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

Gambar 9-5: Jalan di atas tanggul di Belanda.

9.4.1. Tata Ruang Pelaksanaan reklamasi di Pantura pada prinsipnya bisa dijadikan kesempatan untuk menata ruang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, baik dilihat dari ekonomis, lingkungan, maupun sosial. Penataan ruang kawasan reklamasi ini jauh lebih mudah dibandingkan dengan memperbaiki tata ruang di daerah lain di Jakarta. Ini disebabkan oleh daerah yang baru direklamasi merupakan lahan kosong yang penggunaanya benar-benar bisa diatur dan direncanakan dengan baik. Tata ruang yang baik di daerah reklamasi akan berimbas manfaatnya ke daerah-daerah sekitar. Sebagai contoh adalah kebutuhan untuk menyediakan badan air: dengan adanya daerah baru yang direklamasi, maka rasio badan air di daratan bisa ditingkatkan. 9.4.2. Perlindungan Hutan Bakau Pembangunan daerah reklamasi baru bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi hutan bakau dan kehidupan flora dan fauna yang hidup di kawasan bakau. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan: • perlindungan terhadap erosi dan gelombang ; • tingkat salinity ; • kebersihan air.

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

123

Banyaknya pertumbuhan bangunan baru justru mempersempit lahan-lahan terbuka yang bisa dijadikan ruang terbuka hijau

Gambar 9-6: Reklamasi harus dapat memberikan perlindungan terhadap bakau.

9.4.3. Akses Pantai untuk Publik Salah satu permasalahan masyarakat di Jakarta adalah sedikitnya tempat-tempat hiburan berbiaya murah. Di banyak daerah di Indonesia salah satu tempat hiburan yang digolongkan bertarif murah adalah di pantai. Sayangnya banyak perumahan dan industri yang berada di bibir pantai di Pantura Jakarta. Akibatnya warga kesulitan mencari hiburan di tepi pantai. Dengan adanya kawasan reklamasi ini diharapkan perencanaan terhadap keberadaan pantai untuk kepentingan publik bisa langsung dialokasikan sehingga lebih banyak daerah pantai yang bisa menjadi terbuka untuk umum. 9.4.4. Ruang Terbuka Hijau Konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi dan perluasan pembangunan dalam satu kota besar seperti Jakarta ini adalah semakin banyak bangunan baru yang didirikan baik untuk perumahan, perkantoran, atau pusat-pusat perdagangan. Ironisnya pesatnya pertumbuhan bangunan-bangunan baru justru mempersempit lahan-lahan terbuka yang bisa dijadikan ruang terbuka hijau (RTH). Undang-undang Tata Ruang mengindikasikan bahwa 30 % dari luas wilayah harus diperuntukkan bagi RTH. Untuk DKI Jakarta mendapatkan angka itu bukan hal yang mudah, bayangkan 30 % itu berarti lebih luas dari kotamadya yang terbesar yaitu Jakarta Timur. Pada kawasan reklamasi ini sejak dini bisa ditetapkan luas lahan terbuka hijau secara proporsional. 124
Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

9.4.5. Rasio Badan Air (Waterbody Ratio) Dalam kaitan dengan penanggulangan banjir Jakarta secara keseluruhan disyaratkan tersedianya rasio badan air yang memadai. Idealnya untuk satu kawasan dianjurkan untuk menerapkan waterbody ratio dalam bentuk waduk dan danau seperti yang tertera dalam Tabel 5-1. Di kawasan reklamasi, badan air itu dapat difungsikan untuk: • penampungan sementara ketika hujan ; • persediaan air untuk beberapa kebutuhan harian (sumber air minum) ; • sumber air yang mungkin untuk di kembalikan ke dalam aquifer (aquifer storage recovery) ; • untuk tempat hidupnya beberapa flora dan fauna ; • rekreasi.

9.5. Pemantauan Pelaksanaan

Jika dalam penjelasan di atas sudah bisa dipahami bahwa pembangunan tanggul laut dan reklamasi Pantura bisa dijadikan solusi untuk mengurangi potensi bencana banjir di Jakarta secara keseluruhan, maka perlu pula diperhatikan bagaimana pelaksanaannya agar tidak meningkatkan risiko di daratan. Dalam pelaksanaan reklamasi dan pembuatan tanggul ada beberapa pertimbangan yang harus diikuti dengan tertib. 9.5.1. Mencegah Pencemaran dan Sedimentasi Pada masa konstruksi beberapa kemungkinan terjadinya pencemaran di sekitar daerah reklamasi perlu diantisipasi. Pencemaran yang potensial adalah peningkatan kekeruhan atau kandungan benda padat tersuspensi (suspended solid). Kekeruhan ini bisa berpotensi mengganggu kehidupan flora dan fauna dan peningkatan sedimentasi di mulut sungai. Sedimentasi ini berpotensi menaikkan tinggi muka air di sungai dan menggenangi daerah-daerah di sekitarnya. Jika dibiarkan terus menumpuk pada saat pelaksanaan reklamasi, maka risiko terjadinya banjir di Jakarta akan meningkat. 9.5.2. Memantau Dampak Pelaksanaan Reklamasi Pelaksanaan reklamasi membutuhkan pemantauan agar proses yang terjadi dapat dikelola dengan baik dan kemungkinan terjadinya dampak negatif dapat dihindari atau diminimalkan agar tujuan pengelolaan pesisir (coastal management) bisa tercapai. Sejumlah parameter yang perlu dipantau: • perubahan morfologi ; • abrasi dan erosi ; • sedimentasi ; • tinggi muka air tanah dan tinggi muka tanah ;
Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

125

• kuantitas pemompaan air tanah dan tata guna lahan ; • kondisi sosial ekonomi masyarakat. Sistim pemantauan dilengkapi dengan sistim pangkalan data (data base) yang menghimpun perkembangan/perubahan dari bermacam parameter. 9.5.3. Prediksi dan Tindakan Koreksi yang Cepat dan Tepat Berdasarkan pemantauan, sejumlah kondisi daerah pesisir dan lingkungannya dapat diprediksi. Dengan melakukan evaluasi dapat ditentukan tindakan yang tepat yang harus dilakukan agar tujuan pengelolaan pesisir ini bisa berada dalam jalur yang benar. Dalam kejadian tertentu, kemungkinan tindakan koreksi bisa diambil dalam stadium yang lebih dini sehingga langkah yang dilakukan bisa lebih cepat dan tepat sasaran. Hal ini juga dilakukan untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak banjir yang terjadi di daratan Jakarta. Evaluasi dan pemutakhiran prediksi harus dilakukan secara berkala.

9.6. Operasi dan Pemeliharaan yang Berkelanjutan

Kawasan reklamasi dan tanggul laut harus bertahan lama sesuai umur yang sudah direncanakan. Dalam periode itu kawasan reklamasi dan tanggul harus benar-benar aman bagi orang-orang yang tinggal di kawasan itu, terutama aman dari banjir dan terjangan air laut. Untuk sampai dengan target yang diinginkan maka operasi dan pemeliharaannya harus dilakukan secara berkelanjutan. 9.6.1. Pengelolaan Sistem Tata Air Pengelolaan sistim tata air dilakukan dengan menganut sistim pengelolaan air yang berkelanjutan. Oleh karenanya operasi dan pemeliharaan harus direncanakan dan kelembagaan mandiri yang melibatkan para pemangku kepentingan perlu diciptakan untuk lebih menjamin keberlangsungan. Dalam sistem pengelolaan tata air, pelibatan pihak-pihak yang berkepentingan sangat penting demi keefektifan pemeliharaan dan operasi. Para pemangku kepentingan (stakeholders) biasanya bisa cepat mengetahui permasalahan yang timbul di kawasannya dan dapat turut serta memutuskan pengambilan tindakan yang diperlukan. Di samping itu, semua permasalahan berkaitan dengan sistem tata air di kawasan tersebut bisa diselesaikan langsung tanpa melalui birokrasi yang berbelit-belit. 9.6.2. Air Bersih Seperti diketahui masih banyak warga Jakarta yang mengandalkan air tanah untuk kebutuhan air bersihnya. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berkembang 126
Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

secara terus menerus. Sebagaimana diketahui bahwa Jakarta tersusun oleh lapisan tanah lunak sebagai hasil dari proses sedimentasi. Tanah yang lunak, dikombinasikan dengan penyedotan air tanah yang terus menerus, mengakibatkan land subsidence (amblesan). Penurunan muka tanah di Jakarta ini berakibat semakin tingginya risiko banjir dan genangan. Selain itu, ini berarti bahwa keefektifan struktur penahan banjir (tanggul dan pompa) akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Untuk mengurangi dan kemudian menghentikan proses landsubsidence (penurunan muka tanah ini), maka penyediaan air bersih untuk kawasan baru reklamasi Pantura tidak diperkenankan menggunakan air bawah tanah. Penyediaan air bersih harus dilakukan dengan cara-cara yang ramah lingkungan dan mengarah kepada sustainable solution. 9.6.3. Pengelolaan Limbah dan Sampah Seperti sudah dijelaskan dalam Subbab 5.7 yaitu tentang perlunya pengelolaan limbah sebagai salah satu upaya non-teknis penanggulangan banjir, maka untuk kawasan reklamasi pun upaya ini harus dilakukan sejak awal. Sebagai satu kawasan baru tentu lebih mudah untuk membuat aturan dan membuat infrastruktur yang berkaitan dengan pengelolaan limbah. Limbah cair yang berasal dari rumah tangga, gedung harus terlebih dahulu diolah sebelum dibuang ke waduk dan saluran. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas air permukaan yang ada di waduk dan saluran tidak tercemar sehingga jika diserap oleh tanah, air ini tidak akan mencemari air tanah. Di samping itu, fauna yang ada di dalam waduk atau saluran tidak mati akibat keracunan. 9.6.4. Pengerukan Sedimentasi di Mulut Sungai Sedimentasi di mulut sungai akan memberikan dampak kenaikan muka air di hulu sungai. Pengembang kawasan reklamasi dan pemerintah provinsi perlu menentukan target ketinggian (level) dari dasar sungai di mulut-mulut sungai yang berdekatan dengan daerah reklamasi. Tindakan pengerukan dilakukan apabila batas toleransi ketebalan sedimen telah dilewati. Batas toleransi kenaikan level sedimen di muara sungai berkisar 1 m. Tanggungjawab pemeliharaan (pengerukan) terhadap mulut-mulut sungai dimasukkan dalam kesepakatan pengembang dan pemeritah.

Reklamasi dan Tanggul Laut Bagian Dari Solusi Banjir

127

rEfErENsi
Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa, Robert Adhi KSP, Grasindo, 2010 Basin Water Resources Planning - Volume III,Ciliwung-Cisadane Strategic Management Plan , DHV, Delft Hydraulics and Witteveen & Bos , 2003 Comprehensive Study on Water Management Plan in JABOTABEK , JICA, 1997 Detailed Design for Urban Drainage Project in the City of Jakarta, JICA, 1997a Draft RTRW DKI Jakarta 2010 – 2030, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2010 Drainage principles and applications. Lecture notes of the international course on land drainage, Ritzema, H.P. (ed), ILRI Publication No.16, Wageningen, the Netherlands, 1994 Dry and safe, how to make it, Sawarendro M.Sc and Thijs Visser M.Sc, Witteveen Bos Engineering Consultants, the Netherlands Dutch Assistance with non-structural measures Jakarta Flood Management, Partner for water, 2007 Flood Survey in DKI Jakarta ,PCI February, 2002 Flood Management in Selected Basins, Study by DHV, Delft Hydraulics and Mott Macdonald, 2005 Gagalnya Sistem Kanal, Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, Restu Gunawan, Penerbit Buku Kompas, 2010 Hydrology and water management of deltaic areas, Volker, A, Dutch Ministry of Transport, Public Works and Watermanagement, CUR-report 93-5, Gouda, the Netherlands, 1993 JABOTABEK Water Resources Management Study (JWRMS) by IWACO, DHV, DELFT Hydraulics and TNO Delft ,1994 Jakarta Flood Control Advisory Mission, NEDECO, JFCAM, 1996 Land Drainage, Smedema, L.K. and D.W. Rycroft, Batsford, London, UK, 1983

129

Man-made lowlands, history of water management in the Netherlands Ven, G.P. van de, ICID, the Netherlands, 1993 Master Plan for Drainage and Flood Control, NEDECO, 1973 Polder en Dijken (in Dutch), Kley, J. van der, and H.J. Zuidweg Agon Elsevier, Amsterdam, the Netherlands, 1969 Polderlands, Wagret, P, Methuen, London, UK, 1972 Polders In: Developments in hydraulic engineering, Volume 5 (P. Novak ed), Luijendijk, J., E. Schultz and W.A. Segeren, Elsevier, London, UK,1988 Polders of the World, International Symposium, ILRI, Wageningen, the Netherlands, 1982 Quick Reconnaissance Study Flood JABODETABEK 2002, NEDECO, 2002 Special Assistance for Project Implementation for Ciliwung-Cisadane River Flood Control Project (SAPI-2004), JICA, 2004 Study on Comprehensive Water Management Plan in Jabotabek, JICA, 1997 Success factors in self-financing local water management, NWP, the Netherlands, 2000 The Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta – Master Plan Study, JICA, 1991 Waterbeheersing van de Nederlandse Droogmakerijen (in Dutch), Schultz E, PhD-thesis, Delft University of Technology, Delft, the Netherlands, 1992

130

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful