KESEHATAN REPRODUKSI_

Studi Kualitatif : Pelayanan Rujukan Asfiksia Bayi Baru Lahir di Kabupaten Cirebon [awa Barat

Ella Nurlaella Hadi*

Abstrak Pada tahun 2005, studi penatalaksanaan asfiksia bayi baru lahir (BBL) oleh bidan di desa Kabupalen Cirebon menemukan kematian asfiksia BBL yang dirujuk ke rumah sakit masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang proses rujukan, alur penanganan rujukan kasus asfiksia BBL di RS dan kualitas pelayanan di RSrujukan Kabupaten Cirebon. Untuk itu, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan BdD sudah menangani asfiksia BBL dengan benar, tetapi rujukan sering terlambat karena adanya faktor penghambat dari keluarga (ekonomi dan keputusan merujuk harus melibatkan keluarga besar) dan faktor lingkungan (transportasi di desa terpencil sulit terutama pada malam hari). Disamping, karena penanganan rujukan asfiksia BBL di RS belum optimal, karena masih kurangnya keterampilan pelugas bagian UGD dalam rnanaiemen asfiksia BBL dan tidak tersedianya alat resusitasi neonatus di bagian UGD, padahal prosedur penanganan kasus rujukan pertarna kali di bagian UGD. Kata kunci : Pelayanan rujukan, asfiksia, BBL. Abstract In Cirebon district (2005) research on village midwives's experience in managing birth asphyxia showed mortality of newborns with asphyxia who were re· ferred to the hospitals were still high. This research was aimed to assess referral process, management procedure of referral birth asphyxia cases and quality of care given in the referral hospitals. This study was conducted using qualitative approach focusing on case study method. The result of this study showed that village midwives managed birth asphyxia correctly, but referral of newborn cases was often delayed, because of community factors (finance and delayed decision making by whole family to refer the newborn to the hospitals) and environmental factor (transportation in remote villages was difficult, especially at night. Besides that, referral hospitals were not yet providing adequate emergency care for referral cases of birth asphyxia. These were primarily due to lack of skills in management of birth asphyxia and unavailability of resuscitation device in emergency room. Key words: Referral health services, Asphyxia, newborn.
"Departemen Pendidikan Kasehalan dan IImu Perilaku Fakullas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Gd. 0 Ll 1 FKM UI, Kampus Baru UI Oepok 16424 (e-rnaf: ellanhadi@yahoo.com)

133

s ltu berarti bahwa secara absolut setiap tahun terjadi 100. Selain itu.1. baik dari segi pemanfaatan. Namun.3. diperlukan informasi yang mendalam ten tang pelayanan rujukan kasus asfiksia 134 BBL di Kabupaten Cirebon. mengapa setelah dirujuk ke pelayanan kesehatan dengan fasilitas yang lebih lengkap (RS) bayi justru meninggal? Apakah disebabkan oleh rujukan yang terlambat.f Studi pengalaman Bidan di dalam manajemen asfiksia BBL di Kabupaten Cirebon mendapatkan beberapa kasus bayi yang dirujuk meninggal di RS. Upaya tersebut terbukti banyak membantu para bidan melakukan penatalaksanan gangguan kesehatan pada neonatus. No. dengan hasil kebanyakan hidup.000 kematian neonatal atau setiap menit terjadi tujuh kematian neonatal. lama kerja 5-12 tahun dan rata-rata jumlah persalinan yang ditolong 4-7 persalinanlbulan. dokter umum. 3.f Hal tersebut menimbulkan pertanyaan. Kabag Unit Gawat Oarurat (UGO) dan Kabag Anak RS. atau oleh sebab yang lain? Untuk itu.4. penanganan RS yang terlambat atau karena penanganan di RS yang kurang baik. setiap hari terjadi 10. dengan pendidikan adalah Dl Kebidanan. Penyebab kematian pada masa neonatal dini tersebut adalah asfiksia (44%). Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani akan dirujuk ke rumah sakit. Usia informan ibu bervariasi antara 20-32 tahun. dengan pendidikan: dokter spesialis. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus. sekitar 4 juta di antaranya meninggal pada masa neonatal sebelum mencapai usia 28 hari. 3) klien. Data dikumpulkan dengan menggunakan met ode wawancara mendalam dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara mendalam. Kedua modul terse but telah dibagikan dan dilatihkan kepada seluruh bidan di desa (BdD) di Kabupaten Cirebon. 2) provider yang terdiri dari petugas pelaksana UGD dan Bagian Anak RS. Winong. yang terdiri dari: ibu BBL dengan kasus asfiksia yang dirujuk ke RS dan bayinya mati serta yang bayinya hidup. angka kematian neonatal diperkirakan 20/1000 kelahiran hidup. Untuk menjaga validitas data digunakan triangulasi sumber. Kasie Kesga Dinkes Kabupaten Cirebon dan bidan dl desa (BdD).8 juta kematian balita dan sekitar 99% di antaranya terjadi di negara berkembang. yang meliputi bidan desa yang menolong persalinan dan menangani BBL dengan kasus asfiksia dan dirujuk ke RS yang berakhir dengan kematian bayi dan yang dengan hasil bayi hid up. Kasus asfiksia BBL yang pernah ditangani BdD bervariasi antara 2-3 kasus. Informasi tentang pengalaman menangani kasus rujukan neonatal diambil dad 2 RS yang banyak mendapat rujukan kasus asfiksia BBL. setiap tahun lahir 129 juta bayi.454 kematian bayi sebelum berumur satu bulan dari sekitar 4.2 Oi seluruh dunia. Tersana dan Astanalanggar di wilayah Cirebon Timur.608. dengan lama kerja antara 5-25 tahun.000 kelahiran hidup. D3 kebidanan. infeksi (20%). kelainan kongenital (13%) dan hipotermia (6%). pada periode 2002-2003. dan . alur penanganan rujukan kasus asfiksia BBL dan kualitas pelayanan di RS rujukan Kabupaten Cirebon. HasH Karakteristik Informan Informan penentu kebijakan dan provider terdiri dari petugas rurnah sakit (RS). Selain itu. kualitas.000 bayi yang lahir setiap tahun. walaupun sebelumnya telah mendapatkan penanganan resusitasi oleh bidan di desa. karena guna mendapatkan informasi yang mendalam tentang proses rujukan.5 01 Indonesia.KESMAS. Penelitian di Kabupaten Cirebon menunjukkan 88% kematian neonatal terjadi pada periode neonatal dini ketika bayi berumur 0-7 hari. Angka tersebut jauh lebih besar daripada angka kematian ibu pada tahun yang sarna adalah 307/100. Dukupuntang dan _ Susukan di wilayah Cirebon Barat dan desa Sedong. D3 keperawatan dan SPK. yang diharapkan tercapai pada tahun 2015. kualitas pelayanan rujukan khususnya rumah sakit (RS) masih kurang baik. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. Tujuan keempat dari kesepakatan tersebut (MOG-4) adalah menurunkan angka kematian balita (AKBA) sebesar dua pertiganya dari tahun 1990. Usia provider RS dan Dinkes bervariasi pada kisaran 27-52 tahun. melakukan analisis dan diinterpretasi dengan menggunakan metode analisis isi. di Kabupaten Cirebon masih banyak keluarga yang menolak dirujuk guna mendapatkan pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Sebelum diwawancarai kepada informan diminta persetujuan untuk diwawancara dengan menandatangani formulir informed consent. Tahapan pengolahan data yang dilakukan meliputi langkah-langkah berikut: melengkapi catatan lapangan menjadi transkrip. Informan pada penelitian ini meliputi: 1) penentu kebijakan yang terdiri dari: Kasie Kesga Dinkes Kabupaten Cirebon. informasi juga dikumpulkan dari bidan yang berasal dari desa Palimanan.7 Untuk menanggulangi masalah tersebut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes Rl) dan berbagai lembaga swadaya masyarakat telah rnengembangkan modul Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan modul Penatalaksanaan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir (BBL). Pabuaran. Bidan desa yang pernah menangani kasus rujukan neonatal.J Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) kematian neonatal adalah 36% dari 10. Usia BdD berkisar 27-35 tahun. Oengan demikian. maupun hambatannya. Desember 2008 Pertemuan puncak para pemimpin dunia pada bulan September tahun 2000 menghasilkan kesepakatan yang disebut Millenium Development Goals (MOGs).

Hal yang sarna diungkapkan oleh informan provider RS bahwa kendaraan sering menjadi kendala dalam rnerujuk bayi asfiksia dari desa yang terpencil ke RS. Sebaliknya. Waktu Tempuh dan Transportasi Rujukan Hampir seluruh BdO yang menangani asfiksia BBL melakukan tindakan resusitasi yang meliputi langkah awal dan ventilasi. keputusan tersebut melibatkan orang tua. bahkan tidakjarangketika tiba di RS sudah dalam keadaan meninggal. [enis dan Metode Pengumpulan Data Iumlah 4 4 4 4 2 2 2 2 I orang orang orang orang orang orang orang orang orang Metode Pengumpulan Data Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara Mendalam Mendalam Mendalam Mendalarn Mendalam Mendalam Mendalam Mendalarn Mendalam [enis Data Riwayat bayi dirujuk ke RS Proses Rujukan Alur penanganan bayi di RS Kualitas pelayanan di RS Hambatan dalam rujukan Sumber Data Ibu yang bayinya mati setelah diruj uk ke RS Ibu yang bayinya hidup setelah dirujuk ke RS BdD yg menangani/ merujuk bayi 19 mati di RS BdD yg menangani & merujuk bayi yg hidup di RS Kepala UGD·RS Petugas UGD. walaupun pemah disosialisasikan pada waktu pelaksanaan program Gerakan Sayang Ibu (GSI). tetapi dengan kondisi napas masih megap-megap. Cirebon [umlah 25 orang separuhnya berpendidikan SMA. meskipun sebelumnya telah mendapat pertolongan resusitasi dari BdO. 03 dan S1. keputusan sering rnemakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu. seharusnya dapat mempereepat proses rujukan dan pena135 . kebijakan sistem pelayanan rujukan asfiksia BBL. petani dan sopir. kendaraan masih sering menjadi rnasalah dalam proses rujukan. Proses Rujukan Kasus Asfiksia BBL yang belum stabil. program ambulans desa belum berjalan. Hal ini disebabkan oIeh pada malam hari kendaraan umurn sudah tidak ·ada dan pemilik kendaraan umum pada umumnya adalah orang kota. Pelayanan Rujukan Asfiksia Bayi Baru Lahir Tabell. waktu tempuh dari rumah ke RS di wilayah Barat dan Timur Kabupaten Cirebon berada pada kisaran 15-30 menit. Kebijakan ini. Namun. bidan diwajibkan mendampingi bayi asfiksia ke RS. Keputusan Merujuk BBL Menurut ibu dan BdO yang merujuk bayi yang meninggal. bahkan ada yang memerlukan waktu lebih dari 3 jam.Hadi. tetapi ada sebagian kecil yang memutuskan dalam waktu yang cukup lama. Biasanya. Sumber. Oleh sebab itu. tetapi menurut BdO. petani dan guru SO. Kebijakan Sistem Pelayanan Rujukan Asfiksia BBL Keputusan untuk merujuk bayi ke rurnah sakit tidak berada ditangan kedua orang tua bayi tetapi diputuskan bersama keluarga besar. sedangkan sisanya SO dan SMP kecuali seorang yang berpendidikan S 1. separuh informan ibu suaminya berpendidikan SO. mengizinkan bidan merujuk bayi asfiksia secara langsung ke RS tanpa harus disertai dengan surat rujukan dari puskesmas. paman. terutama pada malam hari. Ienis dan jumlah inform an serta metode pengumpulan data dan jenis data dapat dilihat pada tabel 1. sebagian besar ibu dan keluarga menyetujui bayi yang mengalami asfiksia dirujuk ke RS. ketentuan tersebut tidak berIaku apabila bayi menderita sakit atau dalam keadaan darurat. Perjalanan ke RS tidak memerlukan waktu yang lama. khawatir terjadi apa-apa dengan bayi. Keluhan yang sarna disampaikart oleh inferman dan RS yang mengatakan bayi asfiksia sering dirujuk sudah dalam keadaan berat. seluruh BdO tersebut rnerujuk bayi ke RS.RS KepaJa Bagian Anak RS Petugas Bagian Anak RS Kasie Kesga Dinkes Kab. di samping karena mendengar bayi sudah menangis walaupun napasnya masih megap-megap. Sedangkan suami informan bekerja sebagai pedagang. Oleh sebab itu. Pemyataan yang sarna diungkapkan oleh informan dari Dinkes Kabupaten Cirebon yang mengatakan bahwa di Kabupaten Cirebon. yang tentu saja berakibat buruk bagi bayi dengan kondisi napasnya Menurut informan Dinkes Kabupaten Cirebon. Tindakan resusitasi yang dilakukan hanya mampu membuat bayi merintih. Hasil studi ini menunjukkan bahwa walaupun sebagian besar ibu dan BdO mengatakan keluarga langsung menyetujui bayi dirujuk ke RS. Sebagian ibu tidak bekerja dan sebagian lagi bekerja sebagai pedagang. walaupun ada pula yang lulus SMA. Sebagian kecil ibu dan keluarga ada yang tidak memperbolehkan bayi dirujuk ke RS dengan alasan keuangan dan hari sudah malam. Sebagian besar ibu mengatakan. sedangkan menurut ibu dan BdO yang bayi yang dirujuk hidup pada kisaran 10-60 menit. Apabila memungkinkan. kakak serta adik dari pihak ibu maupun bapak bayi. bibi. bayi sehat tidak boleh dibawa ke luar rumah sebelum tali pusatnya putus karena khawatir diganggu makhluk halus.

A adalah airway dati jalan napas. apabila keadaan sudah Menurut informan Dinkes Kabupaten Cirebon. pihak RS belum B. Bahkan menurut seorang BdD. B adalah breathing. dampingi bayi ke RS. Salah satu dari dua RS yang ada di menilai kualitas pelayanan rujukan di RS belum optimal. dirujuk. yaitu membersihkan jalan napas dengan cara suction. Namun. kakak atau kakak ipar dan bapak atau mertua dari Hasil yang tidak berbeda diungkapkan informan dati ibu bayi. dengan memberikan cairan infus. Hal tersebut terjadi dengan alasan situlanjutnya dikonsultasikan ke dokter spesialis anak. masih banyak petugas RS sakit yang lamtm Iebih tinggi terjadi di RS tersebut. Semua BdD telah mengikuti tetanus neonatorum yang membutuhkan peralatan ti pelatihan manajemen asfiksia BBL. Hal yang dilakukan petugas UGD RS X adalah mengirim ini menunjukkan masih banyak petugas RS yang belum bayi ke bagian Perinatologi karen a di bagian UGD belum memahami cara penanganan asfiksia BBL. penanganan rujukan baru dibuat BdD di RS ketika bayi sudah men. No. penanganan rujukan bayi asfikdisertai oleh uak. Hal tersebut tamTindakan yang dilakukan petugas adalah memberikan paknya tidak menjadi masalah sepanjang BdD ikut menoksigen dan cairan infus dan bila keadaan sudah stabil. sia langsung dilakukan di bagian Perinatologi karena di Meskipun semua BdD ikut mendampingi bayi asfiksia bagian UGD tidak ada peralatannya. Di luasi yang tidak memungkinkan dan BdD ingin bayi sear jam kerja konsultasi harus dilakukan melalui telepon. bat menangani bayi asfiksia dan belum sesuai dengan Berdasarkan penuturan seorang BdD dan ibu yang prosedur yang seharusnya. bayi dikirim ke bagian Perinatologi.RS X. sehingga membahayakan kebayinya meninggal setelahdirujuk ke RS. Hal Sejak tahun 2004.3. karena surat rujukan langsung dibuat oleh pasien lain. bayi akan dikirim ke rumah sakit tipe mengetahui saat harus merujuk.dapat perhatian petugas UGD yang lebih memperhatikan 136 . Keluhan yang sarna dikasusnya jarang. wilayah Barat dan Timur kabupaten Cirebon. bayi dapatkan. TM). bayi selanjutnya dipindahkan ke bagian perinatologi. seperjalan sebagaimana mestinya. tetapi tidak seorangpun BdD yang sudah membuasanya dilakukan oleh dokter dan perawat jaga yang seat surat rujukan. bayi diberi keluarga yang biasa ikut mendampingi bayi adalah bapak obat. Selain itu. X dan meninggal pada keesokan harinya. bayi. Desember 2008 nganan di RS. angka 'kematian rujukan kasus asfiksia BBL jusMenurut BdD. bayi didan Perinatologi. bibi dan nenek dari ibu bayi. Alur penanganan Bayi Asfiksia di Rumah Sakit Selanjutnya dilakukan observasi. dapatkan penanganan dari petugas RS. khususnya staf di bagian Kebidanan Karena dikhawatirkan mengalami hipoterrni. Pihak RS juga ada peralatan resusitasi neonatus. dengan alasan RS penuh atau sarana tidak ada.KESMAS. yang terlebih dahulu harus dibeli oleh keluarganya. Akibatnya. Di bagian perinatolomengakui kemampuan staf yang masih kurang dalam gi bayi diberi oksigen dandihangatkan dengan lampu menangani kasus asfiksia BBL. Penanganan bike RS. semua kasus asfiksia BBL yang ngani oleh dokter dan perawat jaga di bagian UGD dirujuk ke RS tidak dikenai biaya asalkan mempunyai dengan prinsip ABC. dilakukan pemaRS Y telah memberikan pelatihan manajemen asfiksia sangan infus. angka kematian kasus asfiksia BBL yang dirujuk ke pernyataan informan dari Dinkes Kabupaten Cirebon RS cukup tinggi. Oleh sebab Sebagian besar BdD dan ibu bayi yang didukung oleh itu. ada juga yang RS X yang mengatakan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap BdD dilakukan oleh BdD yang merujuk. Bayi yang ketiKebijakan operasional pelayanan yang ada di RS X juka sampai di bagian UGD menangis keras. paman. 3. telah memRS rujukan masih sering merujuk lagi bayi asfiksia yang bentuk tim penanganan kasus rujukan asfiksia BBL. BBL kepada staf. karena belum semua petugas di RS (di bagian UGD dan bagian Anak) telah menKualitas Pelayanan Kasus Rujukan di Rumah Sakit dapatkan pelatihan manajemen asfiksia BBL. seluruh BdD rnendampingi bayi asfiksia yang dibawa ke bagian Perinatologi dan atas dasar konsultasi dirujuknya dengan ditemani oleh keluarga bayi. cepat mungkin mendapatkan pertolongan di RS. penanganan selamatan jiwa bayi yang berakibat pada kematian. karena . Jurnal Kesehalan Masyarakaf Nasional Yol. sehingga mereka yang lebih lengkap. Staf bagian UGD RS X merasakan ketrampilan penanganan bayi asfiksia yang diperolehnya sarankan untuk dibawa ke RS lain karena semua inkudad pelatihan kurang dapat dipraktekkan karena selain bator di RS sedang dipakai. alat yang diperlukan untuk melakukan ungkapkan oleh ibu dan BdD yang merujuk bayi ke RS tindakan tersebut juga tidak tersedia di bagian UGD. Oleh sebab itu. Selanjutnya. gubemur [awa Barat menyediakan yang sarna diungkapkan informan RS Y. Oleh sebab itu. RS X dan karena inkubator penuh. alur penanganan dana Raksa Desa untuk kasus komplikasi kehamilan dan BBL asfiksia di RS terse but adalah pertama-tama ditabayinya._ pertama bayi asfiksia dilakukan di bagian UGD. Surat Menurut BdD yang merujuk bayi ke RS Y. kartu Askes at au surat keterangan tidak mampu (SKdengan cara memberikan oksigen. Apabila bayi penanganan bayi asfiksiayang dirujuk ke RS belum bermengalami asfiksia disertai dengan faktor penyulit. dan C adalah circulation. Anggota dokter jaga dengan dokter spesialis anak. siap melakukan penanganan. stabil. kurang menga dikeluhkan oleh kepala bagian Anak . Namun. pemasangan infus dan oksigen dibidan. yang selangnya dibeli pihak keluarga.

prosedur penanganan kasus rujukan pertama kali dilakukan di bagian UGD. Agar program Dinkes Kabupaten Cirebon dalam menurunkan angka kematian neonatal akibat asfiksia dapat tercapai 137 . Selain itu. perbaikan kualitas pelayanan kegawatdaruratan dengan menmgkatkan kemampuan petugas bagian UGD melalui peIatihan dan memperbaiki prosedur penanganan pasien rujukan mampu menurunkan angka kematian pasien anak rujukan dari 10-18% menjadi 68%. Afrika dan kemampuan petugas bagian UGD yang masih kurang merupakan salah satu penyebab angka kematian anak yang dirujuk ke RS tersebut tinggi. Untuk mengatasi masalah ekonomi dan transportasi rujukan. jika kasus asfiksia berat. Padahal. serta prosedur penanganan kasus rujukan menyebabkan penanganan kasus rujukan asfiksia BBL terlambat. sehingga angka kematian neonatal akibat asfiksia dapat diturunkan lebih besar lagi. Afrika membuktikan. maka BdD akan merujuk bayi ke RS. padahal jumlah staf di bagian Perinatologi sedikit. prosedur penanganan kasus rujukan. sosialisasi dana raksa desa perlu ditingkatkan. tanpa harus disertai dengan surat rujukan dari puskesmas. Kematian bayi asfiksia yang dirujuk ke RS yangmasih tinggi disebabkan oleh penanganan bayi asfiksa di RS rujukan yang belum optimal. disamping menggiatkan kembali program tabulin. setiap pasien rujukan selalu ditangani pertama kali di bagian UGD.U Kemampuan petugas dan ketersediaan alat resusitasi neonatus di bagian UGD. Malawi. berat bayi sangat rendah). Padahal.!" sehingga akan meningkatkan harapan untuk hidup. Selain itu.10 Kesimpulan Bidan di desa sudah meIakukan penanganan asfiksia BBL dengan benar. Kasus asfiksia BBL dapat langsung dirujuk ke RS dengan membawa surat rujukan dad BdD atau BdD langsung mendampingi. Penanganan asfiksia BBL di RS be1um optimal karena belum semua petugas bagian UGD mengikuti pelatihan manajemen asfiksia BBL. alat resusitasi neonatus yang tidak tersedia di bagian UGD.12 menemukan hasil yang sama. Bayi asfiksia yang mencapai RS rujukan Iebih dari 12 jam sejak terjadinya asfiksia berisiko mengalami kematian atau kecacatan hampir 4 kali lebih tinggi daripada bayi asfiksia yang mencapai RS rujukan dalam waktu kurang dari 12 jam. Sejak tahun 2004. Lahore. BdD harus menekankan kepada ibu hamil dan keluarganya kecepatan waktu memutuskan dan menyiapkan rujukan yang penting. Studi di RS Blantyre. ada faktor penyulit (kelainan kongenital. Selain itu. Juga terbukti bahwa prosedur penanganan pasien rujukan di RS Blantyre. Pelayanan Rujukan Asfiksia Bayi Baru Lahir petugas di bagian Perinatologi selain harus melayani bayi sakit di bagian Perinatologi juga harus melayani bayi sehat di bagian Kebidanan. serta prosedur penanganan kasus rujukan harus melalui bagian UGD terlebih dahulu. 14 ada masalah transportasi dan keluarga terlambat memutuskan untuk dirujuk. dan membantu di bagian UGD dan kamar operasi. Kebijakan yang mengharuskan pasien membeli obat atau alat terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan kepada bayi asfiksia dirasakan sangat memberatkan keluarga pasien dan memperlambat waktu penanganan.U dan Malawi (Afrika). Hal ini dimaksudkan agar bayi asfiksia dapat segera ditangani oleh tenaga dan fasilitas kesehatan yang lebih baik dan lebih lengkap dati sebelumnya. tersedia dana reksa desa yang dapat dimanfaatkan oleh ke1uarga yang tidak mampu Saran Perlu upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang asfiksia dan penanganannya sehingga rujukan tidak terlambat. dasolin dan ambulans desa. periu juga melengkapi alat resusitasi neonatus di bagian UGD dan menyederhanakan . yaitu manajemen asfiksia BBL di RS yang tidak optimal. Bayi yang dirujuk akan langsung ditangani oleh petugas RS walaupun BdD belum membuat surat rujukan asalkan BdD mendampingi ke RS.Hadi. Pembahasan Hasil studi ini menunjukkan bahwa apabila penanganan BdD pada kasus asfiksia BBL belum membuat bayi bernapas spontan atau stabil. Untuk itu. Hal tersebut disebabkan oleh ketrampilan petugas yang masih kurang. sehingga keterlambatan penanganan yang berakibat pada kematian dapat dihindari. Penelitian di 8 propinsi Afrika Selatan. petugas di bagian UGD perlu dibekali dengan ketrampilan manajemen asfiksia BBL. tetapi rujukan sering terlambat karena faktor penghambat dari keluarga (keputusan merujuk ke RS yang melibatkan keluarga besar memakan waktu lama dan masalah ekonomi) dan faktor lingkungan (transportasi sulit terutama di desa terpencil pada malam han). sebagai akibat jumlah staf dan alat resusitasi neonatus di RS kurang. Malawi. tetapi cukup dibuat olehBdD. di bagian UGD tidak tersedia alat resusitasi neonatus.1S Keputusan merujuk yang ditentukan oleh keluarga besar mengakibatkan rujukan yang sering terlambat. khususnya kepada ibu hamil yang memiliki komplikasi kehamilan. Hasil studi di RS Anak. Pakistan menunjukkan adanya hubungan antara waktu untuk mencapai RS rujukan dengan risiko kematian bayi asfiksia yang dirujuk. sehingga penanganan menjadi terlambat. BdD harus lebih intensif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil maupun ke1uarganya untuk menyiapkan rujukan. Selama ini pelatihan manajemen asfiksia BBL di tingkat RS hanya diberikan kepada penolong persalinan (bagian Kebidanan) dan petugas di bagian Perinatologi. Oleh sebab itu.

Iawa Barat. The neonatal resuscitation ral South Africa. Djaja Sarimawar. 2005. Oktober 2002. 138 .220·222. Zaichkln J. mortality Bulletin of the World Health Organization. Calverton. The World Health Report 2005: make every mother and child count.3.84(4 ):p.309:p. Afriea. Hugo. 2000. Jakarta: PATH-Puslitbang Survei Demografi to and faellitarors for newborn resuscitation 13. Edueation.KESMAS. Mahmud R. Duarsa.s5-s9. neonatal di Kabupaten Studi autopsi verbal kcmatian Cirebon. 5. 11. U.50(4):p. Journal http://www. No. Thurley. BKKBN. The rnillenium Diunduh dad: regoals and the united nations role. 14. Denson S. B. Depok: N. Molyneux.Kafulatula Eleetronic: training projeet in ruJournal of Rural and bidan di desa dalam manajeStudi IKM Cirebon. Rumah sakit dan instansi terkait per1u memikirkan kebijakan baru untuk menyediakan obat dan a1at yang diperlukan untuk memberikan pertolongan pada kasus kegawatdaruratan tanpa pasien harus membayar dimuka. children reduee impatient Midwifery Women Health. regional and global estimates. 7. Does early referral to tertiary care decrease the mortality related to birth asphyxia? Journal of the College of Physicians and Surgeos Pakistan.314-319.329·334. Hehir D. 2005:5:459. resuscita2006. Mbweza E. Ella N. 2002. 2004. Mulyana Cirebon. Troedsson dan Martines. 2004. Studi kualitatif 9. 3. The referral system. Couper. Neonatal tion. The International Remote Health Research. The United Nations Department development 2.E. WHO. 2006. Damayanti R. British Medieal Journal. 10. 12. Ayubi D. UN Millenium Development of Public Information. Kesehatan Indonesia. WHO. 4. 4th Edition. 8. Bream. Neonatal and perinatal mortality: country. 1994. Maryland.8-l0. Sweeney. 6. Improved triage and emergeney care for in a resource-constrain setting. and American 15. 2005: p. di Kabupaten PATH-Fusat Penelitian Kesehatan FKM UI. Goals (MDG). WHO: 2006. 2002·2003.un. KDW. Depkes RI. Barriers in Malawi.16(3):p. untuk itu peralatan dan kemampuan petugas untuk menangani kasus asfiksia BBL perlu dilengkapi dan ditingkatkan. Desember 2008 maka bantuan dad pihak rumah sakit sangat diperlukan. Kattwinkel. Journal of Perinatology. ORC Macro.22:p. Amerika: American Heart Association Academy of Pediatrics. Jumal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. Perinatal and neonatal health intervenstions search. Robertson. Studi kualitatlf pengalaman men afiksia di Kabupaten FKM VI. 1180·1181. Sultan dan Mag boo!. Daftar Pustaka 1. Depok: PATH·Program Practice and Policy. Depkes RI: 2003. BPS. Soernantri Suharsono. Ahmad. Retnoningsih kematian neonatal E. Niermeyer S.orrg/milleniumgoals/ 3. Hadi. Gennaro S . 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful