DISTOSIA BAHU

A. PENDAHULUAN Yang dimaksud dengan distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai adanya hambatan kemajuan dalam persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan dalam 18 jam. Penyebab distosia dapat dibagi dalam 3 golongan besar, yaitu : 1. Distosia karena kekuatan-kekuatan yang mendorong anak tidak memadai, yaitu : Kelainan his merupakan penyebab terpenting dan tersering dari distosia, Kekuatan mengejan kurang kuat, misalnya kelainan dinding perut, seperti luka parut baru pada dinding perut, diastase muskulus rektus abdominis ; atau kelainan keadaan umum ibu seperti sesak napas atau adanya kelelahan ibu, 2. Distosia karena adanya kelainan letak janin atau kelainan fisik janin, misalnya presentasi bahu, presentasi dahi, presentasi muka, presentasi bokong, anak besar, hidrosefal, dan monstrum, 3. Distosia karena adanya kelainan pada jalan lahir baik bagian keras (tulang), seperti adanya panggul sempit, kelainan bawaan pada panggul maupun bagian yang lunak seperti adanya tumor-tumor baik pada genitalia interna maupun pada visera lain di daerah panggul yang menghalangi jalan lahir.

B. EPIDEMIOLOGI Angka kejadian distosia bahu tergantung pada kriteria diagnosa yang digunakan. Insidensi distosia bahu sebesar 0,2-0,3% dari seluruh persalinan vaginal presentasi kepala. Apabila distosia bahu didefinisikan sebagai jarak waktu antara lahirnya kepala dengan lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik, maka insidensinya menjadi 11%. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan pervaginam untuk melahirkan bahu harus dilakukan manuver khusus seperti traksi curam bawah dan episiotomi. Gross, dkk (1987) Dengan menggunakan kriteria diatas menyatakan bahwa dari 0.9% kejadian distosia bahu yang tercatat direkam medis, hanya 0.2% yang memenuhi kriteria diagnosa diatas. Presentase kejadian distosia bahu diperkirakan 0,2% - 0,6% dari semua persalinan pervaginam (Baskett & Allen, 1995). Insidensi dapat meningkat dengan adanya peningkatan ukuran badan bayi dan hampir mendekati 1 : 100 kelahiran di masyarakat eropa yang akan berbeda di masyarakat lain. Insiden 2% akan meningkat pada persalinan bayi besar, 3% jika berat lahir

bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior. kepala yang sudah dilahirkan akan tidak dapat melakukan putar paksi luar. . PATOFISIOLOGI DAN ETIOLOGI Setelah kelahiran kepala. bahu posterior berada di cekungan tulang sacrum atau di sekitar spina ischiadica. maka bahu posterior dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan tulang pubis. dengan ekstensi kepala mengambil waktu lebih lama daripada biasanya. kegagalan bahu untuk “melipat” ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul D. Apabila bahu berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak memasuki pintu atas panggul. ketika kepala dilahirkan. Dorongan pada saat ibu meneran akan menyebabkan bahu depan (anterior) berada di bawah pubis. dan memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior untuk memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari foramen obturatror. maka bahu memasuki panggul dalam posisi oblik. GAMBARAN KLINIS Pada mekanisme persalinan normal. dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antara bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign). Ketika kepala melakukan putaran paksi luar.(2) Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul. Dalam keadaan demikian. akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Selain itu wanita yang pernah melahirkan bayi distosia bahu yang mengakibatkan cedera pada janin. Bahu posterior memasuki panggul lebih dahulu sebelum bahu anterior.  Biasanya ada kelahiran kepala yang perlahan. pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala. memiliki resiko yang lebih besar untuk sekuele distosia bahu pada kehamilannya yang berikutnya C.(5)  Biasanya ada perlambatan kemajuan turunnya kepala pada kala II yang ditandai dengan kesulitan dalam melahirkan bahu.>4000 gr (Hansmann dan Hincker).

infeksi. Adanya lingkaran diuterus. kepala masuk lagi ke vagina dan kepala terlihat tidak mampu bergerak. G. PENANGANAN Diperlukan seorang asisten untuk membantu. apabila didiagnosis dan di terapi dengan memadai. Untuk mengendorkan ketegangan yang menyulitkan bahu posterior masuk panggul tersebut. dapat dilakukan episiotomy yang luas. Komplikasi perinatal/fetal : trauma persendian (fraktur klavikula dan humerus). dan hipoksia yang dapat menyebabkan kerusakan permanen di otak. Bahu posterior yang belum melewati pintu atas panggul akan semakin sulit dilahirkan bila dilakukan tarikan pada kepala. Fraktur tulang pada umumnya dapat sembuh sempurna tanpa sekuele.(5) Persalinan distosia bahu mempunyai komplikasi yang cukup serius. komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan akibat laserasi jalan lahir. DIAGNOSIS BANDING     Tali pusat yang sangat pendek. . Disamping perlunya asisten dan pemahaman yang baik tentang mekanisme persalinan. posisi McRobert. Simfisiolisis atau diathesis dengan atau tanpa “transient femoral neuropathy”. atau posisi dada-lutut. Jangan melakukan tarikan atau dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah masuk ke panggul. E. tetapi sekuele dapat terjadi pada 50% kasus. Presentasi rangkap (kepala dan tangan). perdarahan post-partum. Terbagi 2. Kepala kecil yang lahir dengan serviks yang belum membuka lengkap. fistula rectovaginal. dan rupture uteri. trauma medulla oblongata dan trauma pleksus brachialis F. Dorongan pada fundus juga tidak diperkenankan karena semakin menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan beresiko menimbulkan ruptura uteri. yaitu : 1. Komplikasi maternal : trauma jalan lahir. episiotomy ataupun atonia uteri. Sekali kepala lahir. Dislokasi tulang servikalis yang fatal juga dapat terjadi akibat melakukan tarikan dan putaran pada kepala dan leher. sehingga bersegeralah minta bantuan. cedera pleksus brachialis. KOMPLIKASI Komplikasi distosia bahu pada janin adalah fraktur tulang (klavikula dan humerus). Cedera pleksus brachialis dapat membaik dengan berjalannya waktu. Pada ibu.

Langkah tersebut akan melahirkan bahu anterior. Setelah bahu anterior dilahirkan.(6) Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut : 1. Sementara itu lakukan tarikan pada kepala janin ke arah posterokaudal dengan mantap. Setelah kepala lahir akan terjadi penurunan pH Arteria Umbilikalis dengan laju 0. setiap ahli obstetri harus dapat mengerjakan minimal langkah berikut :     Dorongan fundus uteri secara tepat sangat penting artinya. memutar simphysis pubis ke arah kepala ibu hamil. hasilnya akan makin baik. pada bayi yang sebelumnyatidak mengalami hipoksia tersedia waktu antara 4-5 menit untuk melakukan manuver melahirkan bahu sebelum terjadi cedera hipoksik pada otak. memfleksikan kedua paha sehingga lutut menjadi sedekat mungkin ke dada. dkk tahun 1983 dan selanjutnya William A Mc Robert mempopulerkannya di University of Texas di Houston. langkah selanjutnya sama dengan . Mintalah asisten menekan suprasimphysis ke arah posterior menggunakan pangkal tangannya untuk menekan bahu anterior agar mau masuk di bawah simphysis. Dilakukan episiotomy luas sehingga jalan lahir tidak terlalu menghalangi pertolongan persalinan bahu dan badan. Mulut dan hidung sebaiknya dibersihkan dan jika dapat diberikan oksigen yang cukup.(5) Makin pendek waktu melahirkan bahu. Kemudian lakukan episiotomy yang cukup lebar. Hindari tarikan yang berlebihan karena akan mencederai pleksus brachialis. Gabungan episiotomy dan posisi McRobert akan mempermudah bahu posterior melewati promontorium dan masuk ke dalam panggul. Manuver McRobert dimulai dengan memosisikan ibu dalam posisi McRobert. mengurangi sudut inklinasi tulang pelvis dan membebaskan bahu depan dari cengkraman simphysis pubis. Kepala ditarik curam ke bawah sambil di atas simphysis dilakukan tekanan sehingga bahu depan bebas masuk pintu atas panggul. Ternyata penarikan paha ke arah badan menyebabkan : sacrum bertambah lurus. Manuver McRobert Teknik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik. Karena dugaan distosia bahu sulit ditentukan. yaitu ibu telentang.keberhasilan pertolongan persalinan dengan distosia bahu juga ditentukan oleh waktu. dan rotasikan kedua kaki ke arah luar (abduksi).04 unit/menit. Dengan demikian.

os sacrum menjadi lebih lurus(7) 2.pertolongan persalinan presentasi kepala.(7) .(5) Gambar 3 : manuver McRobert(7) Gambar 4 : dengan McRobert. Manuver ini cukup sederhana. Tekanan ringan pada suprapubik (Manuver Masanti) Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan traksi curam bawah pada kepala janin. aman dan dapat mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat ringan sampai sedang.

Gambar 5 : manuver rubin II → Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah. Menggoyang-goyang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan pada abdomen ibu.Gambar 2 : tekanan pada suprapubik(7) 3. bahu anak yang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga diameter bahu mengecil dan membebaskan bahu anterior yang terjepit. (2). Tindakan ini untuk melakukan abduksi kedua bahu anak sehingga diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari simphysis pubis. Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian ditekan kedepan kearah dada anak. Manuver Rubin Terdiri dari 2 langkah : (1). 4. Manuver Wood .

tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin. Melahirkan bahu belakang Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin dan kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan mempertahankan posisi fleksi siku. lengan posterior dilahirkan. untuk memutar bahu bayi dan mengurangi diameter bahu)” maka bahu anterior yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. 5. Gambar 6 : Manuver Wood Gambar 7 : melahirkan bahu belakang .Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara “crock screw (Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada bahu anterior ke arah sternum bayi.

Hanya dibutuhkan satu asisten untuk melakukan penekanan suprapubik sementara traksi ke bawah dilakukan pada kepala janin. sendi sakroiliaka menjadi terbatas mobilitasnya. Kosongkan kandung kemih bila penuh. 2) Lakukan episiotomy luas (mediolateral) untuk memperluas ruangan posterior.LANGKAH PENATALAKSANAAN DISTOSIA BAHU a. Pasien menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan kedua lututnya.6. Pada manuver ini. Pada saat ini dilakukan upaya untuk melakukan traksi ringan. teknik pelahiran bahu belakang dan melahirkan dengan posisi merangkak. . The American College of Obstetrician Merekomendasikan langkah-langkah berikut ini untuk penatalaksanaan distosia bahu dengan urut-urutan bergantung pada pengalaman dan pilihan masing-masing operator : 1) Panggil bantuan (mobilisasi asisten. Posisi Merangkak Manfaat posisi merangkak didasarkan asumsi fleksibilitas sendi sakroiliaka bisa meningkatkan diameter sagital pintu atas panggul sebesar 1-2 cm dan pengaruh gravitasi akan membantu bahu posterior melewati promontorium. 2) melakukan manuver McRobert dengan tekanan supra pubik. anestesiolog. Segera setelah lahir bahu anterior. bahu posterior dilahirkan terlebih dahulu dengan melakukan tarikan kepala ke arah atas dengan hati-hati. H. Biasanya dengan manuver tersebut janin dengan distosia bahu sudah dapat dilahirkan. LANGKAH . Pada posisi terlentang atau litotomi. Sedangkan fraktur klavikula merupakan pilihan terakhir. Asuhan Persalinan Normal 2008 1) melakukan episiotomy. Manuver Zavanelli Mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak dilahirkan melalui SC. 3) Penekanan suprapubik dilakukan pada saat awal oleh banyak dokter karena alasan kemudahannya. direkomendasikan manuver Corkscrew Woods. memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior sesuai dengan PPL yang sudah terjadi. lahirkan bahu posterior dengan tarikan perlahan ke arah bagian bawah dengan hati-hati 7. dan dokter anak). membuat kepala anak menjadi fleksi dan secara perlahan mendorong kepala kedalam vagina dan yang terakhir lakukan seksio sesaria darurat dengan anestesi lokal (+ ketamin drip). Namun jika bahu tidak lahir. b.

hal ini biasanya sulit dilakukan. yang termasuk teknik ini adalah fraktur klavikula dan manuver Zavanelli . 6) Pelahiran lengan belakang dapat dicoba. Namun. langkah-langkah berikut dapat dicoba : 5) Manuver Corkscrew Woods.4) Manuver McRobert memerlukan dua asisten. Manuver-manuver di atas biasanya dapat mengatasi sebagian besar kasus distosia bahu. tiap asisten memegangi satu tungkai dan memfleksikan paha ibu ke arah abdomen. tapi jika lengan belakang dalam posisi ekstensi sempurna. 7) Teknik-teknik lain sebaiknya dilakukan bila manuver-manuver lain telah gagal. bila manuver ini gagal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful