SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XlII Agustus

2008

ISSN 1410-2323

KONFLIK ETNIS DAY AK DAN MADURA DI KALIMANTAN BARAT: Kajian dari perspektif Sosiologil) Oleh : Muhamad Aba;)
Abstrak: Dalam sejarah perjalanan relasi antar etnik dihelahan bumi ini selalu diwarnai dengan konflik antar etnik itu sendiri. Konflik berbasis etnis selalu saja mencari akarnya pada persoalan sosial ekonomi dan budaya Perkelahian antar indivindu dengan kekerasan merupakan trigerfactor munculnya kekerasan etnis yang terjadi di Indonesia seperti halnya konflik etnis di Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukan bahwa konflik etnis Dayak dan Madura sudah terjadi kurang lebih 12 kali sejak tahun 1960-an hingga tahun 2000-an. Berbagai studi yang dilakukan oleh para peneliti menunjukan bahwa akar dari semua konflik yang terjadi di Kalimantan Barat tidak bisa dilepaskan dengan persoalan ketidakadilan so sial ekonomi dalam proses-proses pembangunan. Ketidakadilan yang merata menyebabkan relasi sosial antar etnis menjadi terhambat atau berlangsung dalam suasana saling curiga. Nilai-nilai sosial budaya yang menjadi alat perekat dalam interkasi antar etnis menjadi terabaikan sehingga yang muncul adalah kecemburaan antara etnis yang tidak beruntung secara sosial ekonomi terhadap etnis yang secara sosial ekonomi cukup berhasil. Pada tingkat tertentu kemudian mereka mel abel diri 'sebagai mayoritas-minoritas atau penduduk asli-pendatang. Akibatnya, ketika perkelahian antar orang perorang dari etnis yang berbeda yang kebetulan y~ng satu pendatang dan yang lain adalah penduduk asli maka persoalan individu itu dengan mudah menyulut munculnya konflik antar pendatang dan penduduk asli. Kata Kunci : Konflik, etnis, ketidakadilan, sosial ekonomi.

A. PENDAHULUAN Secara umum ada empat kelompok etnik utama di Kalbar yaitu Dayak, Melayu, Cina dan Madura. Dna kelompok etnik pertama merupakan penduduk asli-mayoritas, sedangkan dna kelompok etnik berikutnya merupakan pendatang-minoritas. Dalam sejarahnya, seluruh kelornpok etnik tersebut telah terlibat dalarn persaingan tajam untuk merebut dominasi ekonomi, politik, dan sosio-kultural di satu wilayah yang relatif kurang sumberdaya alanmya itu. Dengan kata lain, hubungan mereka sejak awal memang cenderung konfliktuaL N egara kelihatanya cendemng membiarkan bahkan memanfaatkan hubungan inter-etnik yang konfliktual tersebut. Dalam sejarah kekerasan etnik di Kalimantan Barat, setidalmya ada 3 insiden kekerasan etnik di Kalbar. Pertama, tahun 1967, beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing
I) 2)

Ringkasan Hasil Penelitian
Muhamad Abas, S.Pd., M.Si. adaJah Dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Sejarah, FKJP Universitas Haluoleo.

52

namun semua itu tidak menghalangi kelompok etnik untuk berhubungan dan mengadakan kerjasama. Ada 3 langkah analisis data yang digunakan yaitu pertama. Dalam kaitan itu ada ada empat kriteria unruk menilai keabsahan data yaitu (1) derajat keterpercayaan (2) keteraIihan. belum terjadi kekerasan etnik di antara sesama pendatangminoritas (Cina versus Madura). Kekerasan etnik hanya terjadi di antara kelompok penduduk asli-mayoritas versus pendatang-minoritas. (3) kebergantungan (4) kepastian. Data yang diperoleh dari riga metode tersebut kemudian dilakukan kategorisasi data yang kemudian diikuti dengan pross analisis. jurnaI dan sejenisnya yang reIevan dengan masalah penelirian. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktif dengan pendekatan kualitatif Sebagaimana penelitian kualitatif. data hasil wawancara. dilakukan terhadap para informan terpilih 'dengan menggunakan panduan wawancara. dan Sanggau. etnik). memang tetap ada persaingan yang tajam di antara berbagai kelompok etnik untuk merebut sumberdaya (konflik. Ketiga. di antara penduduk asli-mayoritas versus pendatang-minoritas lainnya (Melayu versus Cina). Dari catatan sejarah ini memmjukan bahwa tidak semua kelompok etnik terlibat dalam kekerasan etnik. (2) wawancara. Landak. Ketiga. B. Kedua. SeeBfa-umumperdamaianetnik cenderung lebih dominan ketimbang kekerasan etnik. Dalam perdamaian etnik. Oleh karena itu tulisan ini berusaha untuk menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan etnik di Kalbar yang berangkat dari satu asumsi bahwa kekerasan antar etnik dan perdamaian etnik merupakan bagian yang integral dati apa yang disebut. penelitian ini akan melakukan kajian dengan menfokuskan pada dua hal yaitu pertama. faktor penyebab terjadinya konflik dengan kekerasan antar etnik Dayak dan madura di Kalimantan Barat. 53 . Misalnya. tetap ada kekerasan individual dan kolektif interetnik. Kedua. tahun 1999 sub-etnik Melayu melakukan etnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas. ada riga metode yang digunakan untuk memperoleh data yaitu (1) kajian pustaka yaitu suatu metode untuk memperoleh data dengan melakukan penelusuran dan kajian atas berbagai buku. yakni di wilayah Sambas. Sejauh ini belum terjadi kekerasan etnik di antara kelompok-kelompok etnik yang sebenarnya merupakan pihak-pihak yang juga potensial. hasil penelitian. beberapa sub-etnik Dayak melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang. kajian pustakan dan pengamatan dibuatkan transkrip. Bengkayang. Landak. Data yang telah ditranskrip kemudian dikategorisasikan berdasarkan masalah atau fokus penelitian. Dalam kaitan itu.relasietnik.SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 terhadap sekelompok Cina yang tinggal di pedalaman. Data yang telah dikategorisasikan kemudian dianalisis dan diinterpretasikan dengan melihat hubungan atau keterkaitan antar elemen. (3) Pengamatan dengan menggunakan panduan pengamatan. tahun 1997. di sekitar perbatasan dengan Malaysia. keberadaan etnik Dayak dan Madura di Kalimantan Barat. Kedua. dan Sanggau.

triangulasi. "aja" yang berarti "asli" atau "pribumi". identitas Dayak lebih merupakan sebuah homogenisasi untuk menunjuk beberapakelompok ·suku yang teridentifikasi sebagai rumpun melayu tua yang mendiami wilayah: 54 . nenek moyang orang Dayak diturunkan dengan "Palangka Bulan" oleh Ranying Hatal1a Langit". mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti. kata Dayak berasal dari bahasa Kenyah. 2006). rambut kehitaman. oleh orang Dayak sendiri. di datah tangkasiang dihulu sungai Malahui di Kalbar dan di puruk Kambang tanahsiang di Hulu Barito. kahayan dan Katingan. Sedangkan Victor King. Sebenarnya. di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting yang terletak di sekitar gunung raya. yaitu "daya" yang berarti "hulu sungai" atau "pedalaman". Victor King juga menduga bahwa kata Dayak mungkin berasaI dari sebuah istiIah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti "perilaku yang tak sesuai atau tidak pada tempatnya". HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Dayak adalah istilah kolektif terhadap sekitar 405 kelompok etnolinguistik yang mendiami pulau Borneo. Disamping teknik pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan dengan cara yaitu memperpanjang keikutsertaan. Karena identitas -seb"agai non-Muslim telah dikonstruksi sebagai bagian dari etnik Dayak di Kalimantan Barat. Dalam tulisan ini. rambut keriting dan bentuk kepala bundar. ketekunan pengamatan. Kita mengenal etnis Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan yang sering diidentikkan sebagai masyarakat primitif yang diberikan label "suku terasing yang perIu diberadabkan". term Dayak merujuk pada penduduk asli Kalimantan yang "non-Melayu" dan "non-Muslim".SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 Derajat keterpercayaan berfungsi melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai. berpendapat bahwa kata Dayak berasal dari bahasa Melayu. Kelompok yang pertama masuk ke kalimnatan adalah kelompok Negroid dan Wedid . Selain itu menurut kepercayaan orang Dayak (Kahariangan). Menuru Sthepanus Djuweng (1999). Berdasarkan bentuk kepala antropolog Kohlbrugge membagi orang Dayak jadi dna. yaitu (1) yang berkepala panjang yang berdiam disepanjang sungai Kapuas yang bennuara disebelah Barat kota Banjannasin. Ada 4 tempat diturunkannya nenek moyang Dayak dengan Palangka Bulan yakni di Tantan Puruk Pamatuan di Hulu sungai Kahayan dan Barito. (2) yang berkepala bulat seperti Dayak Kayan. dan pemerikasaan sejawat melalui diskusi. Orang-orang yang diturunkan tersebut beranak pinak dan akhirnya menyebar keseluruh Kalimantan. Sekilas Tentang Etnik Dayak-Madura Secara etimologis menurut Linlblad (dalam Maunati. Kelompok suku bangsa Dayak berimigrasi dari daerah Yunan di Cina Selatan. Jadilah suku bangsa dayak sebagai penduduk asli pulau Kalimantan. ciri khas bangsa keturunan Negrito adalah tubuh kecil. C.

Etnik Madura merujuk pada kelompok suku yang berasal dari pulau di sebelah utara Jawa Timur. Istilah Dayak juga kerap digunakan untuk menyebut orang-orang asli Kalimantan "non-Melayu" dan "non-Muslim" (abas. Masa perintisan. Kedua. Modang. Pada dasamya. Sejak tahun 1950-an. pada umumnya merupakan kelompok yang tidak berpendidikan. Kayan. Tidak ada catatan resmi mengenai proses migrasi dan jumlah warga Madura yang ada di Kalimantan Barat Tapi ada yang memperkirakan jumlah warga Maduratli Kalimantan Barat sekitar 2. Setelah itu gelombang perpindahan orang Madura mengalami peningkatan. sebagian besar orang Dayak menganut agama Kristen dan Katolik. etnik Dayak terdiri dari beragam suku seperti Than. yang sebagian besar di antaranya (khususuya yang bermukim di pedalaman) kemudian diidentifikasi sebagai etnik Dayak. Bahau. sedangkan di kota Pontianak jumlah warga Madura diperkirakan sekitar 7% dari jumlah penduduk setempat (Abas. Brusu. periode SlUUt (l942~ 1950). Pulau Kalimantan sendiri sebenarnya terdiri atas lebih 400 suku. yaitu periode awal orang Madura bermigrasi ke Kalimantan Barat. ada dua pola pemukiman orang Madura di Kalimantan Barat. kemudian tidak hanya mendiami pulau Madura.Orang Madura yang migrasi ke Kalimantan Barat. Agama dan . Dalam hal pemukiman mereka lebih cenderung mendirikan tempat tinggal bersama dengan sesama migran Madura. Hal ini berbeda dengan etnik Melayu yang identik dengan agama Islam. ia akan disebut dengan istilah "masuk Melayu". periode perintisan (1902-1942). 2002). Identifikasian Dayak dengan label "non-Muslim" terlihat ketika ada orang Dayak yang masuk Islam. Dalam masa ini migrasi orang Madura ke Kalimantan Barat nyaris macet sama sekali.5%. tapi melakukan migrasi ke beberapa temp at b:ingga ke wilayah Kalimantan Barat. Kemudian setelah pengaruh agama luar masuk. Ngaju. Infonnasi awal yang menceritakan migrasi orang Madura. periode keberhasilan (1950). Ketiga. Molah. Hanya sebagian kecil yang memilih Islam. adalah sekitar tahun 1902 menuju ke Ketapang. migrasi swakarsa orang Madura ke Kalimantan Barat semakin lancar.SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 Kalimantan bagian pedalaman. dan lain-lain yang masing-masing memiliki bahasa dan adat istiadatnya sendiri yang satu sarna lain saling berbeda. Itulah sebabnya mereka lebih banyak yang bekerja sebagai pekerja kasar. Hal ini disebabkan oleh sulitnya kondisi pada masa itu. Menurut Sudagung (200 I). Etnik Madura. Punan. Periode surut ditandai dengan masuknya penjajahan Jepang hingga tahun ] 950. proses migrasi orang Madura ke Kalimantan Barat dibagi ke dalam tiga periode yaitu pertama. Migrasi ini didasarkan pada kondisi kehidupan yang suIit di pulau Madura hingga mereka melakukan pelayaran sampai ke Kalimatan Barat. 2001). kepercayaan etnik Dayak secara umum disebut dengan nama Kaharingan (walaupun sistem kepercayaan dan religi antara suku Dayak yang satu dengan Iainnya berbeda). yaitu pola 55 . Hasil penelitian Abas (2002). Lancamya arus migrasi ini disebabkan oleh terbukanya kesempatan kerja tanpa membutuhkan pendidikan apapun.

ada dua pendekatan yang bisa digunakan. khususnya warga asli. perilaku kultural. Ada dua tipe konflik dalam pandangan Weber. 1999). paling tidak. studi tentang pemahaman etnis meneakup pemaharnan terhadap konstruksi-konsrruksi dan dasar pelabelan serta pengidentifikasian yang dikenakan pada diri "kita" dan "mereka". Di Kalimantan Barat. orang Madura memiliki tipe pekerja keras dan hemat. Proses perebutan dominasi ini. Sedangkan di pedesaan. orang Madura lebih cenderung membangun pemukiman secara komunal dan kemudian mendirikan pemukiman bam orang Madura yang terpisah dari pemukiman etnik yang lain. tapi seeara umum merupakan pengalaman yang diteniukan oleh negara-negara bekas jajahan (postcolonial states). menyatakan bahwa konflik sosial dapat terjadi dengan cara yang kompleks dan sangat luas. sehingga pada umumnya mereka berhasil membangun kemapanan ekonomi dibandingkan penduduk asli (Al-Qadrie. konflik etnis yang terjadi didasari oleh perebutan dominasi dalam pandangan dunia (falsafah hidup.SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume ITahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 sisrpan dan pola kelompok. Pertama. Konflik Etnis Dayak dan Madura: Tinjauan Sosiologis Etnisitas merupakan salah satu unsur yang menjadi objek utama kajian ilmu-ilmu sosial. dan terns dikonstruksikan kembali sepanjang kebidupan individulkelompok sesuai dengan situasi sosial yang dihadapi (Rochman. yaitu konflik dalam artian politik (dalam artian luas) dan konflik dalam gagasan dan eita-eita. Dalam memahami etnisitas. wacana etnisitas mengalami proses rekonstruksi sejalan dengan semakin dominannya negara terhadap masyarakat. Pertama. Di Indonesia pascakemerdekaan. terutama Dayak. Menurut Seynour Smith (dalam Giring. diawali oleh proses afinnasi atau internalisasi yang dilakukan oleh individuindividu dalam sebuah etnik terhadap nflai-nilai yang tennuat dalam pandangan 56 . Kedua. fenomena seperti ini bukanlah khas Indonesia. primordialisme. Di perkotaan terdapat kecenderungan orang Madura untuk tinggal bersama. yang menyatakan bahwa identitas etnis mernpakan sesuatu yang bersifat "given". yang semakin lama semakin padat sehingga menimbulkan konsentrasi pemukiman yang tidak teratur. yaitu identitas etnis diinterpretasikan dari berbagai kondisi yang berkaitan. dan kebiasaan-kebiasaan tertentu) antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. konstruktivisme. Paling tidak ada dua alasan utama yang menjadi dasar rekonstruksi waeana etnisitas di negera-negara bekas jajahan. 2. 2004). Max Weber (dalam Sanderson. 2007). dorongan untuk melakukan modernisasi pembangunan di berbagai bidang. Menurut Sudagung. akan ditemukan berbagai faktor yang melingkupinya. Berdasarkan analisis Weber tersebut. tentu saja. Sering ditemukan di mana kasus-kasus yang berbeda melibatkan faktor-fakor yang sarna. adanya obsesi yang berlebihan dari kalangan elite yang berknasa setelah kemerdekaan terhadap ide atau konsep integrasi nasional. Kedua. sosiolog klasik. Dalam melihat hubungan antaretnis dalam sebuah interaksi sosial. 1991). Berkenaan dengan konsepsi konflik.

Banjar. kemudian diserap oleh etnik yang lain dan dianggap sebagai identitas kolektif etnik tersebut. tahun 1999. Penegasan bahwa konflik di kalimantan Barat. pada dasamya konflik antara kedua etnik tersebut adalah mumi konilik yang berIatar belakang konflik suku (etnik) antara warga pribumi dengan pendatang. melahirkan pencitraan yang merupakan representasi pengalaman dari interaksi yang mereka lakukan. (John Bamba. dalam hal ini Dayak dan Madura. Proses afirmasi atau intemalisasi ini berbanding lurus dengan proses negasi terhadap keseluruhan konsepsi pandangan dunia etnik lainnya. Ada beberapa asumsi yang dikemukakan bahwa kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial menjadi penyebab konflik tersebut. juga ditegaskan bersama oleh 15 tokoh dari onnas lima agama di Kalimantan Barat. konflik semakin menjadi kompleks dengan terIibatnya etnik Melayu. Sebagaimana dikatakan oleh Kenneth Boulding.untuk menyesuaikan dill dengan penduduk asli(Dayak dan Melayu). Basil penelitian PSPK (2000) menganalisis bahwa akar konflik DayakMadura adalah adanya stereotip yang bermain dalam pencitraan antara kedua etnik tersebut. Paulus Florus menekankan munculnya stereotip yang terbangun proses sosio-kultural yang terdapat dalam struktur sosial etnik Dayak-Madura. Dalam konteks ini. tindakan. Dari sini kemudian pencitraan negatif muncul oleh satu etnikter hadap etnik yang lain. Asumsi ini semakin kuat dengan terjadinya pembakaran gereja dan sekolah Kristen pada kerusuhan kedua etnik di tahun " 1993 dan 1997. Demikian pula dalam hal interaksi sosial dengan kelompok lain. Banyak yang menduga konflik Dayak -Madura merupakan konflik yang berbau agama. Dengan sendirinya antara dua etnik terbangun polarisasi identitas antara "aku/kami" dan "kamu/mereka".SELAMl IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 dunianya. Padahal di Kalimantan Barat banyak etnik pendatang lain yang juga berhasil secara ekonomi melalui sektor pertanian dan perkebunan. Perilaku kultural (sikap. Namun demikian. bukanlah konflik berlatar belakang agama. seperti etnik Bugis. Namun. dalam hal ini etnik Madura . maka pencitraan yang terbangun akan sangat menentukan pola interaksi terhadap kelompok lainnya itu. Menurut Al-Qadrie (1999) motif ekonomi etnik Dayak yang menjadi akar terjadinya konflik. yakni pada konflik di kabupaten Sambas. mengapa harus orang Madura yang menjadi sasaran pelampiasan. Citra tidak hanya meliputi persepsi tentang fakta. Interaksi sosiaI dan proses sosial yang terjalin di antara keduanya. dan Jawa. orang Dayak diasumsikan tidak mendapatkan keadilan dari sistem yang ada sehingga melampiaskan kejengkelannya terhadap orang Madura. tapi juga mencakup 57 . dan perkataan) yang ditampilkan oleh masing-masing etnik. pada tanggal 11 Februari 1997. di kota Pontianak dan Siantan. Ada juga yang menyatakan ketidakmampuan kaum pendatang. 1999). Anggapan ini didasarkan asumsi bahwa antara keduanya memiliki perbedaan agama. Namun persoalannya. bahwa citra adalah apa yang dipercaya sebagai kebenaran atau bentuk pengetahuan subjektif Perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pencitraan yang dimilikinya.

Pencitraan ini tidak hanya bersifat individual. Selain itu. Terlebih pada masyarakat yang bersifat divers. (dalam jurnal PSPK 2003). Menurut Abas. Pencitraan ini terbangun dari ibudaya carok yang menggambarkan budaya kekerasan orang Madura.SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 tentang nilai terhadap fakta. Dati sinilah kemudian muncul polarisasi "aku/kami" dan "kamu/kalian" yang dianggap berbeda bahkan bertentangan secara sosiokultura1. Interaksi sosial yang intens antara etnik Dayak-Madura membangun pencitraan kolektif oleh masing-masing etnik terhadap etnik lainnya. Orang Dayak yang merasa dirinya ramah dan bersikap terbuka kepada semua pendatang. dihindari dan atau bahkandiklasifikasikan pemah terjadinya dalam periode waktu tertentu dalam interaksi masyarakat. Dalam sosiologi. Bagairnana bentuk dan pola-pola interaksi itu terjalin. melainkan masyarakat membentuk citra secara kolektif yang merupakan pengetahuan kultural yang sama bagi kelompoknya. selain tata tertib yang bersifat nonnatif. Stereotip inilah yang kemudian memicu konflik antar-kedua etnik terus berlanjut. atau beragam-ragam seperti Kalimantan Barat ini. 58 . citra kolektif umumnya mengkonstuksi citra individu. Dari 12 episode konflik massif yang terjadi di antara keduanya menandakan bahwa antara keduanya telah terbaugun stereotip negatif yang tak kunjung hilang. Peneiraan kolektif inilah yang mempengaruhi individu Dayak dan Madura dalam mencitrakan etnik yang lain. dan citra individu dipaksa untuk tunduk pada citra kolektif Pada umumnya. Sebaliknya. Orang Madura sebagai penganut Islam yang taat mencitrakan Dayak yang nonMuslim sebagai orang kafir. mencitrakan orang Madura sebagai etnik yang berkarakter keras. serta bagaimana tata tertib normatifnya itu mengatur. Tata tertib nonnatif mengacu pada proses yang hams terkontruksi dalam perubahan yang terjadi di masyarakat dan hams selalu inheren pada setiap kesadaran organis masyarakat yang akan selalu berkembang. Baik orang Dayak maupun Madura samasarna memelihara dan mempertahankan identitas kultural etnik mereka. konflik adalah bagian dari kenyataan sosial yang senantiasa melekat dalam setiap situasi sosial interaksi antara dua atau lebih individu atau kelompok sosial di masyarakat. orang Dayak berdasarkan persentuhan pengalamannya dengan orang Madura. pencitraan umum yang terbangun terhadap Dayak sebagai masyarakat primitifyang tidak beradab dan tidak kenal aturan ikut mempengaruhi pencitraan orang Madura terhadap Dayak. mempersepsikan orang Madura sebagai kelompok yang tertutup dan emosional. Eskalasi konflik dan meningkatnya konflik pada bentukbentuk yang manifest sederhananya selalu terjadi manakala keseimbangan bentuk-bentuk interaksi itu tidak terjalin. individu dalam suatu kelompok sosial (etnik) memandang kelompok sosial yang lain sesuai dengan pencitraan kolektif kelompoknya. KonfIik itu tidak bisa diingkari.

Abas. Muhamad. Disenasi. Rosda Bandung. Makalah Seminar.. Dahrendorf. 2001. Metodologi Penelitiian Kualitatif. Ralf. Tesis S2 UI. Metodologi Penelitian Kualitatif. apalagi dengan pendekatan represif belaka. 2000. Konjlik Etnis Di Sambas. 1959. Nelralitas Yang Semu " Keterlibatan Aparat Keamanan Dalam Konjlik Etnik di Indonesia. Jakarta. 200 I. Syarif. Muhamad. Muhamad. 1998. DAFTAR PUSTAKA Abas. Dedi Mulyana. Yogyakarta. Hendro. 2002. Korflik: Etnik di Kalimantan Barat. Latar Belakang dan Oampak Sosial Konflik Etnik di Kalimantan Barat tahun 1999. Migrasi Swakarsa Orang Madura di Kalbar. Jakarta. 2001 Mas'oed. S. karena persaingan hidup yang cukup keras. Konflik Etnik Madura dan Dayak: Luka Lama Yang Terkoyak. Jakarta. PSPK. SIMPULAN Kalimantan Barat (Kalbar) adalah daerah yang dihuni oleh berbagai etnik dan sub-etnik yang memiliki kebudayaan yang berbeda. ekonomi. 1994. Konflik yang berlarut-larut tersebut kemudian saling berinterkasi sehingga kemudian setiap persoalan individu dengan mudah meledak rnenjadi persoalan kolektif yang bernuansa etnis. dan dari waktu ke waktu terlibat dalam peperangan seperti banyan Cina dan Dayak. dalam perkembangannya kemudian justru mempertajam dan memperluas relasi yang konfliktual tersebut. lambat laun berubah menjadi benturan etnik. Sejak awal penduduk asli daerah itu memiliki relasi yang konfliktual.. California: Stanford Press. 59 . Oleh karen a itu altematif penyelesaian hams dilakukan secara terintegrasi. maka keharmonisan etnik yang tadinya cukup terbangun dengan baik antar etnis yang ada di Kalimantan Barat. Jakarta. ISAI.SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume FTahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 D. Kedatangan orang-orang Madura ke Kalimantan Barat pada awalnya diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena pada umumnya mereka bekerja disektor informal seperti buruh dan pedagang sektor informal. budaya dan politik. " Sudagung. Burhan Bungin. Mochtar. Benturan atau konflik antar etnis tersebut berdasarkan hasil penelitian ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah stereotipe etnik. Case and Class Conflict in Industrial SOCiety. 2001. Negara Capital dan Demokrasi. dkk. tetapi perlu melibatkan semua elemen masyarakat dengan mengedepankan pendekatan budaya dan sosial eonomi. . Pustaka Pelajar. Alkadri. Penyelesaian konflik antar etnis yang telah membudayadiantara etnis di Kalimantan Barat tidak bisa hanya dipercayakan semata kepada pihak aparat keamanan. Kehadiran migran yang berasal dari kelompok etnik lain. Ragrafindo Jakarta. Namun dalam perkembangan selanjutnya. Edi Patebang dkk. Abas. Artikel Harian Kompas. 2001.

1. Anatomi Konflik Sosial dan Kekerasan Kolektif di Indonesia Selama Menuju Transisi ke Demokrasi. Method and Practice. Qualitative Psychology A Practical Guide to Research Methods. London: Sage. 60 . (1997).SELAMI IPS Edisi Nomor 24 Volume I Tahun XIII Agustus 2008 ISSN 1410-2323 Tadjoeddin. Tiara Wacana Yogya. Silverman. Strauss. P. A & Corbin. London. Spradley. Metode Etnografi (Alih Bahasa oleh Misbah Zulfa v Elizabeth). Qualitative Research: Theory. M. (1997). London: Sage. D.. (2006). Smith. 1. Yogyakarta: PT. tidak dipublikasikan. New Delhi: Sage. (1990). J.Z. Hasil penelitian. A. Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful