ERITROSIT ( Sel Darah Merah) Fungsi utama eritrosit adalah untuk pertukaran gas yang membawa oksigen dari

paru menuju ke jaringan tubuh dan membawa karbondioksida (CO₂) dari jaringan tubuh ke paru. Eritrosit tidak mempunyai inti sel tetapi mengandung beberapaorganel dalam sitoplasma. Sitoplasma dalam eritrosit berisi hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe) sehingga dapat mengikat oksigen. Eritrosit berbentuk bikonkaf dan berdiameter 7-8 mikron. Bentuk bikonkaf tersebut menyebabkan eritrosit bersifat fleksibel sehingga dapat melewatipembuluh darah yang sangat kecil dengan baik. Bentuk eritrosit pada mikroskop biasanya tampak bulat berwarna merah dan dibagian tengahnya tampak lebih pucat, atau disebut (central pallor) diameter 1/3 dari keseluruhan diameter eritrosit. Eritrosit berjumlah paling banyak diantara sel-sel darah lainnya. Dalam satu milliliter darah terdapat kira-kira 4,5 – 6 juta eritrosit, oleh sebab itu darah berwarna merah. Eritrosit normal berukuran 6 – 8 Nm atau 80 – 100 fL (femloliter). Bila MCV kurang dari 80 fL disebut (mikrositik) dan jika lebih dari 100fL disebut (makrositik). Kelainan Eritrosit Kelainan eritrosit dapat digolongkan menjadi : 1) Kelainan berdasarkan ukuran eritrosit Ukuran normal eritrosit antara 6,2 – 8,2 Nm (normosit) Kelainan berdasarkan ukuran: a) Makrosit Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu, dijumpai pada defisiensi vitamin B₁₂ atau asam folat. Penyebab lainnya adalahkarena rangsangan eritropoietin yang berakibat meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan dengan retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan. b) Mikrosit Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini didapatkan pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia defisiensi besi. c) Anisositosis Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan ini ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia gizi. 2) Kelainan berdasarkan berdasarkan bentuk eritrosit a) Ovalosit Eritrosit yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang dari dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya ovalositosis herediter. b) Sferosit Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membrane eritrosit. c) Schistocyte Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih tua. Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi ginjal. d) Teardrop cells (dacroytes)

dan hemopoeisis ekstrameduler. hepatitis pada neonatal. Sel ini sulit ditemukan karena distribusinya jarang. atrofi lien. sferositosis congenital. Terjadi pada hemogfobinopati. anemia sideroblastik. b) Hiperkromia Warna tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT. Terjadi pada anemia hemolitik. berwarna biru tua. Terjadi pada anemia defisiensi besi. Cara menghitung jumlah eritrosit . g) Sickle cells (Drepanocytes) Eritrosit yang berbentuk sabit. h) Stomatocyte Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum tulang lainnya. thallasemia. f) Acantocyte / Burr cells Eritrosit mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia hemolitik. i) Target cells Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. anemia megaloblastik. Terjadi pada anemia hemolitik mikroangiopati. Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Anisokromasia umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan anemia penyakit kronis. mengandung pollimer rantai beta Hb A. bila pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. anemia hemolitik. warna ungu dengan pewarnaan wright. b) Kristal Bentuk batang lurus atau bengkok. 4) Kelainan berdasarkan benda inklusi eritrosit a) Basophilic stipping Suatu granula berbentuk ramping / bulat. defisiensi glutsthione. hemangioma hati. e) Pappenheimer bodies Berupa bintik. Terjadi pada anemia hemolitik. d) Howell-jouy bodies Bentuk bulat. anemia hemolitika. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik. penyakit hati. post operasi.Berbentuk seperti buah pir. e) Blister cells Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah. d) Polikromasia Eritrosit berwarna merah muda sampai biru. Tarjadi pada alkoholisme akut. nukleosis infeksiosa. 3) Kelainan berdasarkan warna eritrosit a) Hipokromia Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal sehingga tampak lebih pucat. c) Heinz bodies Benda inklusi berukuran 0. sferosis herediter. Dijumpai pada hiposplenisme. berwarna biru tua atau ungu. keganasan. anemia hemolitika.0 Nm. thallasemia dan pada infeksi menahun. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet / brillian cresyl blue. Terdapat duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. c) Anisokromasia Adanya peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. jumlahnya satu atau dua mengandung DNA. dengan pewarnaan brilliant cresyl blue yang Nampak berwarna biru. thalasemia mayor. sirosis alkoholik.2 -22. Terjadi pada reaksi transfusi. anemia sel sickle.

2 s/d 5.5 g Asam asetat glacial 33.5 g Aquadest add 200 ml b) Larutan gowers. leukemia. Peningkatan eritrosit Polisitemia vena Hemokonsentrasi Dehidrasi Penyakit kardio vaskuler Nilai indeks eritrosit Mean Corpuscular Volume (MCV). Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC). Nilai normal jumlah eritrosit : Laki-laki : 4. infeksi kronis.5 dan larutan pengencer sampai tanda 101 Mengisi kamar hitung Menghitung jumlah sel dengan menggunakan mikroskop perbesaran sedang atau 40x Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil. terdiri dari : Natrium sulfat 12. menggambarkan kandungan hemoglobin rata-rata dalam tiap eritrosit.Prinsip “ darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis “ Larutan pengencer yang digunakan : a) Larutan hayem. menggambarkan volume rata-rata eritrosit. sehingga sangat tidak teliti hasilnya.4 juta/ml Kesalahan-kesalahan pada hitung eritrosit yaitu pada menghitung jumlah eritrosit memakai lensa objektif kecil yaitu perbesaran 10x. 1) 2) 3) 4) • • a) b) 1) 2) 3) . menggambarkan rata-rata kandungan hemoglobin.6 s/d 6. dan hidrasi berlebihan.3 ml Aquadest add 200 ml Cara menghitung : Mengisi pipet eritrosit Darah dihisap sampai garis tanda 0.5 g Mercury chloride 0. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH). terdiri dari: Natrium sulfat 5 g Natrium chloride 0.2 juta/ml Wanita : 4. Akibat eritrosit yang berlebih dan kekurangan eritrosit : Penurunan eritrosit Kehilangan darah (perdarahan) Anemia.